Anda di halaman 1dari 11

KELOMPOK 10 | 2012

1 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK


1. Konduksi Tunak Dimensi Satu
Konduksi merupakan perpindahan kalor dari suatu sistem ke sistem lain tanpa terjadi
perpindahan molekul. Perpindahan kalor secara konduksi dibagi menjadi dua, yaitu: kondisi
steady (tunak) dan un-steady (tak tunak). Pada kondisi tunak, tidak terjadi perubahan terhadap
fungsi waktu. Berbeda dengan kondisi tak-tunak, keadaanya berubah dalam fungsi waktu.
Misalkan, jika suatu bola yang sudah dipanaskan mengalami perubahan suhu, maka diperlukan
beberapa waktu sebelum suhu benda itu berada kembali pada keadaan seimbang. Keadaan ini
dapat disebut keadaan tunak.
Jika ada perbedaan suhu dalam suatu benda dan terjadi perpindahan energi dari suhu tinggi
ke suhu rendah, maka dapat kita katakan bahwa energi tersebut berpindah secara konduksi atau
hantaran dan juga lajunya berbanding dengan gradien suhu normal :
x
T
A
q
c
c
~
Jika dimasukkan konstanta proporsionalitas (proporsionality constant) atau tetapan
kesebandingan, maka :
x
T
kA q
c
c
=
(Persamaan 2)
Dimana q adalah laju perpindahan kalor dan
x
T
c
c
merupakan gradien suhu kearah
perpindahan kalor. Konstanta k disebut konduktivitas atau hantaran termal benda. Pada
persamaan diberikan tanda minus agar memenuhi hukum kedua termodinamika, yaitu kalor
mengalir ke tempat yang lebih rendah dalam skala suhu. Persamaan 1 disebut sebagai hukum
Fourier tentang konduksi kalor.

KELOMPOK 10 | 2012


2 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK

Gambar 1. Bagan Arah Aliran Kalor
Satuan dari k adalah watt per meter persegi per derajat Celcius.
2.1 Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh
Pada kenyataannya, peristiwa perpindahan kalor tidak berlangsung hanya dengan satu
jenis saja, tetapi berlangsung pada dua atau tiga jenis perpindahan kalor sekaligus.
Contohnya perpindahan kalor yang terjadi pada heat exchanger dimana kalor mengalir dari
fluida A (konveksi), menembus bahan (konduksi), dan selanjutnya melalui fluida B
(konveksi).
Perhatikan dinding datar seperti pada gambar 1 dimana pada satu sisinya terdapat
fluida panas A dan pada sisi lainnya terdapat fluida B yang lebih dingin. Perpindahan kalor
dinyatakan oleh:













KELOMPOK 10 | 2012


3 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK







(a) (b)
Gambar 2. Perpindahan Kalor menyeluruh melalui dinding datar

)
Proses perpindahan kalor dapat digambarkan dengan jaringan tahanan seperti pada
gambar 1 (b). Perpindahan kalor menyeluruh dihitung dengan jalan membagi beda suhu
menyeluruh dengan jumlah tahanan termal:


(Persamaan 3)
di mana nilai
hA
1
menyatakan tahanan konveksi. Aliran kalor menyeluruh sebagai hasil
gabungan proses konduksi dan konveksi bisa dinyatakan dengan koefisien perpindahan
kalor menyeluruh, U yang dapat dirumuskan dengan persamaan:


di mana A adalah luas bidang aliran kalor, sesuai dengan persamaan (3), maka koefisien
perpindahan kalor menyeluruh adalah:


(Persamaan 4)








KELOMPOK 10 | 2012


4 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK

Gambar 3. Analogi tahanan untuk silinder bolong dengan kondisi batas konveksi

Untuk silinder berlubang yang terkena lingkungan konveksi di permukaan bagian
dalam dan luarnya, T
A
dan T
B
adalah suhu kedua fluida. Dalam hal ini, luas bidang konveksi
tidak sama untuk kedua fluida. Luas bidang ini tergantung dari diameter tabung dan tebal
dinding.

Dalam hal ini, perpindahan kalor menyeluruh dinyatakan dengan persamaan


(Persamaan 5)
Sesuai dengan jaringan termal, besaran A
o
dan A
i
merupakan luas permukaan dalam
dan luar tabung dalam. Koefisien perpindahan kalor menyeluruh dapat didasarkan atas
bidang dalam atau luar tabung, sehingga persamaannya menjadi:


(Persamaan 6)


(Persamaan 7)




2.2 Hukum Fourier
Dalam perhitungan laju perpindahan kalor secara konduksi, digunakan hukum Fourier.
Hukum ini menunjukan bahwa waktu rata-rata perpindahan kalor melalui media sebanding
dengan gradien suhu dan daerah yang dilalui kalor tersebut.



KELOMPOK 10 | 2012


5 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK
dimana q merupakan laju perpindahan kalor (W atau J/s), A luas penampang yang tegak
lurus arah arus kalor (m
2
), dan

adalah gradien suhu perpindahan kalor (


o
C/m), serta k
adalah konduktivitas termal benda atau media yang mengaliri kalor tersebut (W/m
o
C),
konduktivitas termal ini akan dijelaskan lebih lanjut. Tanda negatif pada persamaan tersebut
menunjukan bahwa kalor mengalir dari tempat yang bersuhu lebih tinggi ke suhu yang lebih
rendah.
Penggunaan dari hukum ini dapat dilakukan dalam dua bentuk yang equivalen, yaitu
integral dan diferensial. Dengan bentuk integral, perhitungan dilakukan ketika sistem berada
pada keadaan tunak (steady). Bentuk integral hukum Fourier adalah

) (


dengan syarat bahwa nilai k sama pada T
2
dan T
1
. Jika konduktivitas termal berbuah
menurut hubungan linear dengan suhu, maka persamaan kalor dapat diubah menjadi

[(

)]
(Persamaan 8)
Untuk bentuk diferensial, hukum Fourier dilihat dari aliran atau fluks energi pada
daerah tertentu saja (local heat flux,

). Bentuk ini menghitung jumlah energi yang


mengalir melalui permukaan yang sangat kecil per satuan waktu. Panjang

diperoleh dari
jumlah fluks energi yang mengalir per satuan waktu, dan arahnya didapat dari vektor tegak
lurus terhadap permukaan. Persamaan vektor ini dapat ditulis sebagai



(Persamaan 9)

2.3 Sistem Tanpa Sumber Kalor
Dengan mengaplikasikan persamaan Fourier, pada dinding datar berlaku persamaan
( ) ( )
(

+
A
=
2
1
2
2 1 2
0
2
T T T T
x
A k
q
|

(Persamaan 10)

KELOMPOK 10 | 2012


6 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK
Jika dalam sistem teradapat lebih dari satu macam bahan (komposit), aliran kalor dapat
ditulis
A k
x
A k
x
A k
x
T T
q
C
C
B
B
A
A
A
+
A
+
A

=
4 1

(Persamaan 11)
Untuk geometri lainnya, penurunan persamaannya dapat dilihat pada buku Perpindahan
Kalor edisi keenam (dapat juga dilihat di Lampiran)..
2.4 Sistem Dengan Sumber Kalor
Pada beberapa proses perpindahan kalor, misalnya pada reaktor nuklir, konduktor
listrik, maupun sistem reaksi kimia, terdapat situasi di mana kalor dibangkitkan dari dalam.
Pada dinding datar dengan sumber kalor berlaku persamaan
w
T
k
L q
T + =
2
2
0


(Persamaan 12)
Untuk geometri lainnya, persamaan yang digunakan dapat dilihat pada buku Perpindahan
Kalor edisi keenam (dapat juga dilihat di Lampiran).
2. Konduksi Tunak Dimensi Rangkap
3.1 Faktor Bentuk Konduksi
Faktor bentuk konduksi merupakan suatu besaran yang digunakan dalam mengoreksi
perpindahan kalor konduksi pada media atau bahan dengan bentuk geometri tertentu. Dalam
sistem dua dimensi, dimana terlibat hanya dua batas suhu, kita dapat mendefinisikan faktor
bentuk konduksi (conduction shape factor) S sehingga:

(Persamaan 13)
Pada sistem tiga dimensi digunakan faktor bentuk yang berbeda-beda dalam
menghitung aliran kalor pada bagian-bagian bahan, yaitu pada bagian sudut, dinding dan
tepi. Jika semua dimensi-dalam lebih besar dari seperlima tebal dinding, maka:

dimana A adalah luas dinding bahan, L tebal dinding, dan D panjang tepi bahan.
3.2 Metode Penyelesaian Masalah
a. Analisis Matematik

KELOMPOK 10 | 2012


7 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK
Pada metode ini, persamaan Laplace diselesaikan dengan cara pemisahan
variabel dan kunci dari metode ini adalah bahwa persamaan diferensial dapat
dianggap mempunyai bentuk hasil perkalian :
T = XY di mana X = X(x) dan Y = Y(y)
Untuk menetapkan bentuk fungsi X dan Y, diterapkan kondisi batas.
Sebagai contoh, pada plat siku-empat yang memiliki tiga sisi plat berada pada
suhu tetap T
1
dan satu sisi lagi berada pada distribusi gelombang sinus.
Kondisi batasnya :
1
T T = pada y = 0
1
T T = pada x = 0
1
T T = pada x = W
1
sin T
W
x
T T
m
+ =
t
pada y = H
Gambar 4. Plat Siku Empat
Sehingga didapat penyelesaian akhirnya yaitu :
( )
( )
1
sin
/ sinh
/ sinh
T
W
x
W H
W y
T T
m
+ |
.
|

\
|
=
t
t
t

Sekarang apabila kita perhatikan perangkat kondisi batas berikut:
1
T T = pada y = 0
1
T T = pada x = 0

1
T T = pada x = W
T = T
2
pada y = H

KELOMPOK 10 | 2012


8 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK
Dengan menggunakan kondisi batas tersebut, penyelesaiannya persamaan
tersebut menjadi suatu bentuk dari deret sinus Fourier. Maka bentuk akhir dari
persamaan tersebut menjadi :

=
+
+
=

1
1
1 2
1
) / sinh(
) / sinh(
sin
1 ) 1 ( 2
n
n
W H n
W y n
W
x n
n T T
T T
t
t t
t

(Persamaan 14)
b. Analisis Grafik

Gambar 2. Bagan menunjukkan unsur untuk analisis bujur sangkar kurvlinier aliran kalor 2
dimensi
Perhatikan sistem dua dimensi sebagaimana terlihat pada gambar 2, tampak
permukaan bagian dalam berada pada suhu T
1
, dan bagian luar pada T
2
. Kita ingin
menghitung perpindahan kalor. Garis-garis alira kalor dan isoterm membentuk
berkas-berkas garis lengkung kurvilinear sebagaimana terlihat pada gambar 5.1b.
Aliran kalor melintasi bagian-bagian kurvilinear ini diberikan oleh hukum Fourier,
dengan mengandaikan satu satuan kedalaman bahan:
y
T
x k q
A
A
A = ) 1 (
(Persamaan 5)
Aliran kalor ini sama untuk semua bagian dalam jalur aliran kalor, dan aliran
kalor total ialah jumlah dari aliran kalor dalam semua jalur. Jika bahan ini dibuat
sedemikian rupa, sehingga y x A = A , maka aliran kalor akan sebanding dengan T
melintas unsur itu. Selanjutnya, karena aliran kalor harus konstan, maka T melintas

KELOMPOK 10 | 2012


9 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK
masing-masing unsur harus pula sama dalam jalur aliran-kalor yang sama. Jadi, T
melintas unsur dibeerikan oleh:
N
T
T
menyeluruh
A
= A
(Persamaan 6)
di mana N adalah banyaknya jenjang suhu antara permukaan dalam dan luar.
Selanjutnya, aliran kalor melalui setiap jalur harus sama karena tidak tergantung dari
dimensi x dan y, kalau keduanya ini dibuat sama. Jadi, perpindahan kalor total
dapat ditulis:
) (
1 2
T T k
N
M
T k
N
M
q
menyeluruh
= A =
(Persamaan 7)

di mana M adalah jumlah jalur aliran kalor. Sehingga, untuk menghittung
perpindahan kalor, kita hanya perlu menggambarkan bujursangkar kurvilinear ini,
dan menghitung banyaknya tambahan suhu dan jalur aliran kalor. Namun, kita
peerlu teliti dalam menggambarkannya, supaya x y, daan garia-garis tegak lurus.
Ketelitian metode ini semata-mata bergantung dari ketelitian menggambarkan
bujur sangkar kurvilinear ini, dan menghitung banyaknya tambahan suhu dan jalur
aliran kalor. Namun, sketsa yang kasar pun bisa membantu kita dalam
memperkirakan suhu yang terdapat di dalam benda. Metode grafik yang disajikan ini,
terutama hanyalah mempunyai nilai sejarah saja. Namun, dapat menunjukkan
hubungan antar jalur aliran kalor dan isoterm. Metode ini banyak berguna dalam
menyelesaikan soal-soal praktis.
c. Analisis Numerik
Bila situasi yang dihadapi dibatasi kondisi geometri yang sedemikian rupa,
sehingga penyelesaian tersebut semakin kompleks dan sulit, maka pendekatan yang
tepat adalah pendekatan numerik dengan dasar sebagai berikut.
- Terdapat benda dua dimensi yang terbagi atas sejumlah increment besarnya (arah x
dan y). Makin kecil increment-nya maka pendekatan terhadap distribusi suhu juga
semakin baik.

KELOMPOK 10 | 2012


10 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK
- Pada kondisi itu tersebut diberikan titik-titik node, dengan m sebagai pertambahan
arah x, sedangkan n sebagai pertambahan arah y.
- Penentuan suhu tiap titik digunakan persamaan 1 (tabel 8 lampiran) sebagai kondisi
penentu.
- Secara umum, dengan menggunakan persamaan-persamaan pada tabel 8, didapatkan
aproksimasi beda berhingga sebagai berikut:
1, 1, , , 1 , 1 ,
2 2
2 2
0 (27)
( ) ( )
m n m n m n m n m n m n
T T T T T T
x y
+ +
+ +
+ =
A A

(Persamaan 8)
jika x = y
1, 1, , 1 , 1 ,
4 = 0 (28)
m n m n m n m n m n
T T T T T
+ +
+ + +

Jika ada unsur pembangkitan kalor maka persamaannya menjadi
1, 1, , , 1 , 1 ,
2 2
2 2
0 (29)
( ) ( )
m n m n m n m n m n m n
T T T T T T
q
x y k
+ +
+ +
+ + =
A A

(Persamaan 9)
jika x = y
2
1, 1, , 1 , 1 ,
( )
4 = 0 (30)
m n m n m n m n m n
q x
T T T T T
k
+ +
A
+ + + +

Jika benda padat berada dengan perumukaan datar dalam kondisi batas konveksi dan
jika x = y, maka suhu permukaan harus dihitung dengan cara yang berbeda:
( )
, 1, , 1 , 1
1
2 2 0 (31)
2
m n m n m n m n
h x h x
T T T T T
k k
+
A A | |
+ + + =
|
\ .

(Persamaan 10)
- Jika benda padat berada dalam kondisi batas konveksi pada bagian sudut maka
, 1, , , 1
, ,
( ) ( ) (32)
2 2 2 2
m n m n m n m n
m n m n
T T T T y x x y
k k h T T h T T
x y


A A A A
= +
A A

(Persamaan 11)
jika x = y
( )
, 1, , 1
2 1 2 0 (33)
m n m n m n
h x h x
T T T T
k k

A A | |
+ + =
|
\ .

.


KELOMPOK 10 | 2012


11 PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI TUNAK