Anda di halaman 1dari 7

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi dan Fisiologi Sistem HepatoBillier
Empedu disekresikan oleh sel-sel hepar, disimpan dan dipekatkan di dalam vesika
biliaris,kemudian dikeluarkan ke dalam duodenum. Ductus biliaris hepatis terdiri atas ductus
hepatis destra dan sinistra, ductus hepatis comunis, ductus choledochus, vesica biliaris dan
ductus cysticus. (Snell, 2006)
A. Ductus hepaticus
Ductus hepaticus dextra dan sinistra keluar dari lobus hepatis dextra dan sinistra pada
port hepatis. Keduanya bersatu membentuk ductus hepatis comunis. Panjang ductus hepatis
comunis sekitar 1,5 inchi (4 cm) dan berjalan turun di pinggir bebas omentum minus. Ductus
ini bergabung dengan ductus cysticus dari vesica billiaris yang ada di sisi kanannya
membentuk ductus choledochus. (Snell, 2006)


B. Ductus Choledochus
Panjang ductus choledochus sekitar 3 inchi (8 cm). Pada bagian perjalanannya, ductus ini
terletak pada pinggir bebas kanan omentum minus, di depan foramen epiploicum. Di sini
ductus choledochus terletak di depan pinggir kanan venae portae bawah hepatis dan pada sisi
kanan arteri hepatica. Pada bagian kedua perjalanannya, ductus terletak di belakang pars
duodenum di sebelah kanan arteri gastroduodenalis. Pada bagian ketiga perjalanannya,
ductus terletak di dalam sulcus yang terdapat pada facies posterior caput pancreatis. Di sini
ductus choledochus bersatu dengan ductus pankreaticus. (Snel, 2006)
Ductus chodedochus berakhir di bawah dengan menembus dinding medial pars
descendens duodenum kira-kira di pertengahan panjangnya. Biasanya ductus choledochus
bergabung dengan ductus pankreatikus, dan bersama-sama bermuara ke dalam ampula kecil
di dinding duodenum, yang disebut ampula hepatopankreatica (ampula vater). Ampula ini
bermuara pada lumen duodenum melalui sebuah papila kecil, yaitu papila duodeni major.
Bagian terminal kedua ductus beserta ampula dikelilingi oleh serabut otot sirkular yang
disebut musculus sphinter ampullae (sphincter oddi) (Jong, 2003)
2


Gambar 1. Ductus choledocus (Common bile duct) dan Spincter Oddi

(Jong, 2003)

C. Vesica Biliaris (Kandung Empedu)
Vesica biliaris adalah sebuah kantong berbentuk buah pir yang terletak pada permukaan
bawah hepar. Vesica biliaris mempunyai kemampuan menyimpan empedu sebanyak 30-50
ml, serta memekatkan empedu dengan cara mengabsorpsi air. Vesica biliaris terdiri atas
fundus, corpus, dan collum. Fundus vesica biliaris berbentuk bulat dan biasanya menonjol di
bawah margo inferior hepar, penonjolan ini merupakan tempat fundus bersentuhan dengan
dinding anterior abdomen setinggi ujung cartilago costalis IX dextra. Corpus vesica biliaris
terletak dan berhubungan dengan fascies visceralis hepar dan arahnya ke atas, belakang dan
kiri. Colum vesica biliaris melanjutkan diri sebagai ductus cysticus, yang berbelok ke dalam
omentum minus dan bergabung dengan sisi kanan ductus hepaticus komunis untuk
membentuk ductus choledochus (Snell, 2006)

3


Gambar 2. Vesica Biliaris Terdiri Atas Fundus, Corpus dan Colum (Snell, 2006)


Vesica biliaris berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu. vesica biliaris
mempunyai kemampuan untuk memekatkan empedu dan untuk membantu proses ini,
mukosa vesica biliaris mempuyai lipatan-lipatan permanen yang saling berhubungan
sehingga permukaan tampak seperti sarang tawon Sel-sel toraks yang terletak pada
permukaan mukosa mempunyai banyak vili. Empedu dialirkan ke duodenum sebagai akibat
kontraksi dan pengosongan parsial vesica biliaris. Mekanisme ini diawali dengan masuknya
makanan berlemak ke dalam duodenum. Lemak menyebabkan pengeluaran hormon
kolesistokinin dari tunica mucosa duodenum. Lalu hormon masuk ke dalam darah dan
menimbulkan kontraksi vesica biliaris. Pada saat yang bersamaan otot polos yang terletak
pada ujung distal ductus choledochus dan ampula relaksasi, sehingga memungkinkan
masuknya empedu yang pekat ke dalam duodenum. Garam-garam empedu di dalam cairan
empedu penting untuk mengemulsikan lemak di dalam usus serta membantu pencernaan dan
absorbsi lemak (Snell, 2006)
Vesica biliaris mendapat perdarahan dari arteri cystica, cabang arteri hepatica dextra
dan vena cystica yang mengalirkan darah langsung ke vena porta. Cairan limfa mengalir ke
nodus cysticus yang terletak dekat colum vesicae biliaris. Dari sini, pembuluh limfa berjalan
ke nodi hepatici dengan berjalan sepanjang perjalanan arteri hepatica communis dan
4

kemudian ke nodi coelici. Persarafan di vesica biliaris terdiri atas saraf simpatis dan
parasimpatis yang membentuk pleksus coeliacus (Snell, 2006)
Secara fisiologi, empedu dihasilkan oleh hepatosit dan sel-sel duktus sebanyak 500-
1500 mL/ hari. Sekresi aktif garam empedu ke dalam canaliculus bilier dipengaruhi oleh
volume empedu. Na
+
dan air mengalir secara pasif untuk meningkatkan isoosmolaritas.
Lechitin dan kolesterol memasuki canaliculus pada laju tertentu yang berhubungan dengan
output garam empedu. Bilirubin dan sejumlah anion organik lainnya (esterogen,
sulfobromopthalen, dll) secara aktif disekresikan oleh hepatosit melalui sistem transport
yang berbeda dengan garam empedu. Diantara makan, empedu disimpan di vesica biliaris,
dimana empedu terkonsentrasi pada hingga 20%/ jam. Na
+
dan HCO
3
-
atau Cl
-
secara aktif
ditransport dari lumennya selama absorpsi (Soedoyo, 2007)
Ada tiga faktor yang meregulasi aliran empedu yaitu : sekresi hepatik, kontraksi vesica
biliaris, dan tahanan spincter choledochal. Dalam keadaan puasa, tekanan di ductus
choledocus adalah 5-10 cm H
2
O dan empedu yang dihasilkan di hati disimpan di dalam
vesica biliaris. Setelah makan, vesica biliaris berkontraksi, spincter relaksasi dan empedu di
alirkan ke dalam duodenum dengan adanya tekanan di dalam duktus yang terjadi secara
intermiten yang melebihi tahanan spincter. Saat berkontraksi, tekanan di dalam vesica
biliaris mencapai 25 cm H
2
O dan di dalam ductus choledocus mencapai 15-20 cm H
2
O.
Cholecystokonin (CCK) adalah stimulus utama untuk berkontraksinya vesica biliaris dan
relaksasi spincter. CCK dilepaskan ke dalam aliran darah dari mukosa usus halus.
(Soedoyo, 2007)

5


Gambar 3. Fisiologi Pengeluaran Empedu

(Soedoyo, 2007)

D. Ductus Cysticus
Panjang ductus cysticus sekitar 1,5 inchi (4 cm) dan menghubungkan colum vesica
biliaris dengan ductus hepatis comunis untuk membentuk ductus choledochus.. Biasanya
ductus cysticus berbentuk huruf S dan berjalan turun dengan jarak yang bervariasi pada
pinggir bebas kanan omentum minus. Tunica mukosa ductus cysticus menonjol untuk
membentuk plica spiralis yang melanjutkan diri dengan plica yang sama pada colum vesica
biliaris. Plica ini umumnya dikenal sebagi valvula spiralis. Fungsi valvula spiralis adalah
untuk mempertahankan lumen terbuka secara konstan (Snell, 2006)

6


Gambar 4. Ductus cysticus bersatu dengan ductus hepatis comunis membentuk
ductus choledocus (Soedoyo, 2007)


E. Komposisi Empedu
1. Garam Empedu
Asam empedu berasal dari kolesterol. Asam empedu dari hati ada dua macam yaitu :
Asam Deoxycholat dan Asam Cholat.
Fungsi garam empedu adalah (Mark, 2004)
1. Menurunkan tegangan permukaan dari partikel lemak yang terdapat dalam makanan,
sehingga partikel lemak yang besar dapat dipecah menjadi partikel-partikel kecil
untuk dapat dicerna lebih lanjut.
2. Membantu absorbsi asam lemak, monoglycerid, kolesterol dan vitamin yang larut
dalam lemak.
Garam empedu yang masuk ke dalam lumen usus oleh kerja kuman-kuman usus
dirubah menjadi deoxycholat dan lithocholat. Sebagian besar (90 %) garam empedu
dalam lumen usus akan diabsorbsi kembali oleh mukosa usus sedangkan sisanya akan
dikeluarkan bersama feses dalam bentuk lithocholat. Absorbsi garam empedu tersebut
terjadi disegmen distal dari ilium. Sehingga bila ada gangguan pada daerah tersebut
misalnya oleh karena radang atau reseksi maka absorbsi garam empedu akan terganggu.
(Bardirman, 2008)

2. Bilirubin
7

Hemoglobin yang terlepas dari eritrosit akan pecah menjadi heme dan globin. Heme
bersatu membentuk rantai dengan empat inti pyrole menjadi bilverdin yang segera
berubah menjadi bilirubin bebas. Zat ini di dalam plasma terikat erat oleh albumin.
Sebagian bilirubin bebas diikat oleh zat lain (konjugasi) yaitu 80 % oleh glukuronide. Bila
terjadi pemecahan sel darah merah berlebihan misalnya pada malaria maka bilirubin yang
terbentuk sangat banyak. (Prince, 2005)


DAFTAR PUSTAKA

Snell RS. Anatomi Pankreas. Dalam: Hartanto H, dkk. Anatomi klinik untuk mahasiswa
kedokteran. Jakarta: EGC, 2006. h. 309-318.
Jong WD. Tumor Pankreas. Dalam: Hartanto H, dkk. Buku ajar ilmu bedah. Jakarta: EGC, 2003.
h. 602-606.
Soedoyo A. Tumor Pankreas. Dalam: Padmomartono S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta:
Pusat Penerbitan, 2007. h. 492-494.
Mark H. Cancer of Pankreas. In: Michele F. Merck manual of medical information. US: Home
edition, 2004.p. 704-705.
Price A. Kanker Pankreas. Konsep klinis dan proses penyakit. Jakarta: EGC, 2005. h. 507-509.