Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN

Abses otak (abses cerebri) adalah suatu proses pernanahan yang terlokalisir di
antara jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai macam variasi bakteri,
fungus dan protozoa. Biasanya tumpukan nanah ini mempunyai selubung yang
disebut sebagai kapsul. Tumpukan nanah tersebut bisa tunggal atau terletak beberapa
tempat di dalam otak.
Abses otak timbul karena ada infeksi pada otak. Infeksi ini dapat berasal dari
bagian tubuh lain, menyebar lewat jaringan secara langsung atau melalui pembuluh
darah. Infeksi juga dapat timbul karena ada benturan hebat pada kepala, misalnya
pada kecelakaan lalu lintas. Pada beberapa sumber dikatakan bahwa abses otak dapat
terjadi tanpa faktor atau dari sumber yang tidak diketahui.
Organisme penyebab abses otak yang paling sering adalah dari golongan
Streptococci. Kebanyakan bakteri ini tidak membutuhkan oksigen dalam hidupnya
(anaerobik). Bakteri Streptococci ini seringkali berkombinasi dengan bakteri
anaerobik lainnya seperti Bacteriodes, Propinobacterium dan Proteus. Beberapa jenis
jamur yang berperan terhadap pembentukan abses otak antara lain Candida, Mucor,
dan Aspergilus.
Walaupun kemajuan dalam hal diagnostik dan antibiotika cukup pesat saat ini.
Insiden abses otak tidak terlihat menurun dan kenyataannya masih banyak dijumpai
kasus ini di dalam masyarakat. Diagnosa dan pengelolaan abses otak tetap masih
merupakan tantangan, walaupun dengan kemajuan-kemajuan dalam hal cara
diagnostik radiologis dengan memakai CT Scan kepala dan didapatkannya berbagai
antibiotika yang bekerja luas, angka kematian masih tetap tinggi, antara 40% atau
lebih. Maka pengenalan dini dari suatu abses otak sangat memegang peranan penting
di dalam pengelolaannya.


2
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Nn. D
No RM : 914391
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta / 21-08-1990
Umur : 23 Tahun
Alamat : Perum Puri Buana
Kelurahan : -
Kecamatan : -
Suku : Sunda
Warga Negara : Indonesia
Status Perkawinan : Belum menikah
Agama : -
Pekerjaan : Cleaning Service

II. ANAMNESIS
Diambil dari autoanamnesis pada Rabu tanggal 11 Juni 2014 pukul 13.30 di
Ruang Inap lantai 5, kamar 508 RSUD Budhi Asih
Keluhan Utama : Demam terus menerus sejak 3 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien wanita 23 tahun datang ke IGD RSUD Budhi Asih dengan
keluhan demam sejak 3 hari (28 mei 2014) sebelum masuk Rumah Sakit.
Demam dirasakan terus menerus, terutama pada malam hari. Awalnya
demam dirasa naik turun namun kemudian dirasa terus-menerus setelah 1
hari terakhir. Pasien juga mengeluh sakit kepala (+), mual (+), muntah (+)
10 x berisi makanan. Mimisan (-) bintik kemerahan (-) gusi berdarah (-)
BAB dan BAK normal.
Nyeri kepala dirasakan berdenyut. Nyeri kepala dirasakan tiap hari dan
semakin lama bertambah sakit. Sebelumnya hanya sakit kepala saja,
namun keesokan harinya pasien mengeluh pandangannya ganda (+).
3
Nyeri kepala dirasakan sepanjang hari, sehingga membuat pasien sulit
tidur dimalam hari.
Pasien mengaku pernah kejang 1x saat dirumah sakit, kejang
berlangsung kurang dari 3 menit. Setelah kejang pasien tertidur.
Nafsu makan dirasakan menurun, karena pasien mengeluh selalu mual
dan muntah setiap diisi makanan. Pasien merasa berat badannya menurun
namun tidak pernah menimbang.
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama seperti ini. Riwayat
penyakit hipertensi dan diabetes tidak ada. Riwayat sakit maag tidak ada.
Riwayat penyakit demam thypoid tidak ada. Dikatakan pasien tidak
pernah menjalani operasi.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga pasien yang pernah mengalami keluhan
serupa. Riwayat hipertensi dan diabetes disangkal.
Riwayat kebiasaan :
Pasien merupakan seorang cleaning service di perusahaan swasta di
daerah halim. Pasien mengaku sering berhubungan seksual secara aktif
dengan pasangannya. Riwayat berganti-ganti pasangan disangkal. Pasien
mempunyai kebiasaan merokok. Pasien dapat menghabiskan 1 bungkus
rokok/hari. Pasien mengaku tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan
terlarang maupun suntikan.
Alergi :
Pasien tidak memiliki riwayat alergi baik makanan ataupun obat-
obatan.

III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital :
o Tekanan Darah : 120/70 mmHg
o Nadi : 78x/menit
4
o Pernapasan : 16x/menit
o Suhu : 36,1C
Tinggi Badan : -
Berat Badan : -
Status Generalis :
Kepala : normosephali, rambut warna hitam, distribusi merata, tidak mudah
dicabut.
Wajah : simetris
Mata : edem palpebra -/-, sklera ikterik -/- , konjungtiva anemis (-),
pupil bulat isokor(+/+), reflek cahaya langsung +/+, reflek cahaya
tidak langsung +/+, lagofthalmus -/+ , exotropia -/+
Telinga : normotia, tampak adanya serumen.
Hidung : tampak tidak ada deformitas, sekret -/-, tidak tampak adanya
deviasi septum.
Mulut : bibir tidak kering dan tidak sianosis, kebersihan mulut tampak
cukup baik.
Leher : trakea tampak berada ditengah, tidak tampak adanya massa di leher,
tidak teraba pembesaran kelenjar KGB
Thorax :
Paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada retraksi pada dinding dada
Palpasi : Vocal fremitus sama kuat kanan dan kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : dalam batas normal
5
Palpasi : dalam batas normal
Perkusi : dalam batas normal
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, Murmur (-),
Gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Abdomen datar
Palpasi : teraba supel, hepar limpa tidak teraba membesar,
nyeri tekan tidak ada
Perkusi : dalam batas normal
Auskultasi : Bising Usus (+) normal
Kulit : ikterik (-), pucat dan sianosis (-)
Ekstrimitas : Akral hangat, edema (-)/(-), CRT < 3 detik
Status Neurologis
Kesadaran :
Kualitatif : composmentis
Kuantitatif : GCS E
4
M
6
V
5

Tanda Rangsang Meningeal :
Kaku kuduk : -
Laseque : -
Kerniq : -
Brudzinky I : -
Brudzinsky II : -
Pupil : bulat, isokor, 3mm, RCL +/+ RCTL +/+
Nervus Cranialis :
N . I : tidak dilakukan pemeriksaan
N. II : kesan baik
6
N. III, IV, VI :
Kedudukan bola mata : orthoposisi / exotropia
Pergerakan bola mata : bebas ke segala arah
Nasal : +/+
Temporal : +/+
Nasal atas : +/+
Temporal atas : +/+
Nasal bawah : +/+
Nystagmus : -/-
N. V
Cabang motorik : baik / baik
Cabang sensorik N.V
I
Oftalmikus : baik / baik
Cabang sensorik N.V
II
Maksilaris : baik / baik
Cabang sensorik N.V
III
Mandibularis : baik / baik
N. VII
Motorik
Menutup mata : baik / tidak menutup sempurna (lagofthalmus)
Menangkat alis : baik / tidak simetris
Mengerutkan dahi : baik / baik
Sudut Mulut : baik / baik
Lipatan nasolabial : baik / baik
Sensorik
2/3 pengecapan lidah : tidak dilakukan pemeriksaan
Kesan: Parese N. VII perifer
N. VIII
Vestibular : kesan baik
Vertigo : -
Nystagmus : -
Koklearis : kesan baik
7
Tes Rinne :
Tes Weber : tidak dilakukan pemeriksaan
Scwabach :
N. IX X
Motorik : arcus faring simetris, uvula di tengah
Sensorik : baik
N. XI
Mengangkat bahu : baik / baik
Menoleh : baik / baik
N. XII
Pergerakan lidah : baik / baik
Tremor : -/-
Atrofi : -/-
Fasikulasi : -/-
Sistem Motorik
o Tonus Normal Normal
o Kekuatan :
Ekstremitas Atas (Proksimal-Distal) 5555 5555
Ekstremitas Bawah (Proksimal-Distal) 5555 5555

Sistem Sensorik : kesan baik
Refleks
Fisiologis :
Biceps : +/+
Triceps : +/+
Patologis :
Babinsky : -/-
Chaddock : -/-
Fungsi Koordinasi : kesan baik
Sistem Otonom
Miksi : Baik
Defekasi : Baik
Fungsi Luhur : tidak ada kelainan
8
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan 31/5 1/6 3/6 4/6 6/6 7/6 Normal
Hemoglobin 9.8 9.1 8.6 12.3 12.4 11.5 15.5
Hematokrit 29 27 27 38 37 35 47
Trombosit 355 307 268 250 227 150 440
Leukosit 3.8 6.2 3.5 11.9 6.1 3.6 11
GDS 104 131 <110
Na+ 139 135 155
K+ 4.2 3.6 5.5
Cl- 104 98 - 109
MCV 76 74 78 80 78.2 80 - 100
MCH 26 25.2 24.2 26.2 26.0 26 - 34
MCHC 342 34.1 31.7 32.8 33.3 32 - 36
RDW 18.9 17.5 19.5 22.1 17.9 <14
Anti HIV Reaktif
CD4 13.8% 30 60 %
CD4 Absolut 151 410 1590
cell/ul

Pemeriksaan CT Scan
9

Hasil : Telah dilakukan CT Scan kepala potongan axial tanpa kontras.
Tampak lesi hipodens dengan efek massa parietalis kanan dan kiri:
Pasca kontras tampak penyangatan sentral terutama kanan
Midline deviasi ke kiri
Sulci gyri dan ventrikel kanan sempit
Sela tursica: bentuk, ukuran baik
Klasifikasi plexus: pineal
Infra tentorial baik
Kesan : Lesi hipodens biparietalis: abses: torch?

Pemeriksaan rontgen thorax





10



Hasil:

V. RESUME
Pasien wanita 23 tahun datang ke IGD dengan keluhan demam sejak 3
hari sebelum masuk Rumah Sakit. Demam dirasa naik turun namun kemudian
dirasa terus-menerus setelah 1 hari terakhir. Pasien juga mengeluh nyeri
kepala berdenyut yang dirasakan tiap hari semakin lama semakin bertambah
sakit, diplopia (+), kejang (+) 3menit, mual (+), muntah (+) 10x berisi
makanan. Pasien merasa berat badannya menurun namun tidak pernah
menimbang. Pasien mengaku sering berhubungan seksual secara aktif dengan
pasangannya. Pasien mempunyai kebiasaan merokok 1 bungkus/hari. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal, status
generalisata dalam batas normal. Status neurologis didapatkan kesadaran
kualitatif: composmentis, kuantitatif : GCS E
4
M
6
V
5.
Terdapat kelainan pada N
III, IV, VI berupa lagoftalmos dan esotropia. Kelainan pada N VII berupa
parese N VII perifer. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia
mikrositik (Hb: 9,8 MCV: 76), Anti HIV: reaktif, CD4 absolut: 151 cell/ul.
Pada CT Scan didapatkan kesan lesi hipodens biparietalis (abses: torch?)


VI. DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja
o Diagnosis Klinis : Cephalgia
Parese N. VII Sinistra perifer
o Diagnosis Topis :
o Diagnosis Etiologi : Abses Serebri
o Diagnosis Patologi : Idiopatik

VII. TATALAKSANA
11
Non Medikamentosa :
- Edukasi kepada pasien mengenai penyakitnya dan tatalaksana yang akan
dilakukan serta prognosis penyakitnya
- Anjurkan untuk mengonsumsi obat teratur dan rutin untuk kontrol
Medikamentosa :
- Ikalep (Asam valproate) 250mg 1 x 1
- Asam folat 1 x 1

VIII. PROGNOSIS
Ad Vitam : bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad Fungsionam : bonam

12
BAB III
ANALISA KASUS

Dari anamnesis didpapatkan keluhan yang dirasakan pasien berupa bengong
pada saat-saat tidak tentu tanpa disadari. Dapat dipikirkan bahwa pada pasien ini
didapatkan kelainan pada sistem sarafnya terutama kejang atau epilepsi.sesuai dengan
pernyataan yang menyatakan epilepsi adalah gangguan otak yang ditandai dengan
kecenderungan untuk menghasilkan suatubangkitan epilepsi dimana bangkitan
epilepsi adalah sebuah kejadian sementara dari tanda-tanda atau gejala karena
kelainan atau berlebihannya aktivitas saraf otak.
Dari klasifikasi epilepsi sendiri yang terderi atas kejang parsial, kejang umum
dan kejang yang tidak dapat digolongkan pasien ini mengalami kejang umum absens
karena keluhan pasien berupa hilangnya kesadaran secara singkat tetapi tonus postural
pasien tidak hilang.
Sebelumnya pasien sudah pernah mengalami hal ini lebih dari satu kali. Pasien
juga sudahpernah mengonsumsi obat selama 2 tahun untukkeluhan pasien sampai
akhirnya pasien bebas dari keluhannya. Epilepsi merupakan penyakit yang dapat
terkontrol apabila respon terhadap pengobatan baik, namun hal ini tidak menutup
kemungkinan untuk munculnya kembali keluhan suatu saat nanti.
Penyebab epilepsi bermacam-macam dan pada pasien ini kemungkinan
idiopatik dan juga trauma karena dinyatakan perah ada riwayat pasien terjatuh dari
tempat tidur sebelum usia pasien 3 tahun atau sebelum serangan pertama muncul.
Walaupun begitu pada pasien ini belum tentu juga karena trauma karena trauma yang
terutama dapat menyebabkan epilepsi adalah apabila trauma terjadi pada masa
perinatal atau dihubungkan dengan fraktur depresi cranium atau intraserebar atau
subdural hematoma. Pada pasien ini belum ada data yang lengkap
Pada pemeriksaan fisik dan neurologis pasien ini tidak ditemukan kelainan
karena pada epilepsi yang terjadi saat bangkitan adalah adanya ketidakseimbangan
yang terjadi antara perangsangan dan penghambatan dalam peningkatan tiba-tiba dari
13
muatan listrik pada jaringan sel neuron di kortikal hingga pada saat pemeriksaan fisik
tidak ditemukan kelainan.
Salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam membantu diagnosis
epilepsi pada pasien ini adalah electroencephalogram (EEG). Pada pasien ini
didapatkan hasil EEG yang normal tetapi hal ini tidak berarti bahwa pasien tidak
memiliki epilepsi, karena perekaman EEG adalah hasil dari aktiitas otak saat itu juga,
apabila saat perekaman pasien tidak sedang mengalami bangkitan maka biasanya
hasil EEG akan tampak kelainan.