Anda di halaman 1dari 26

KASUS 1

Topik : Kasus Kulit Kelamin Peran emolien ceramide pada pengobatan dermatitis atopik
Tanggal (kasus) : 31 September 2013 Persenter : dr. Amelia Fitriati Masputra
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Helen Morista Endryani
dr. Yuli Astutiandriani Palasara
Tempat presentasi : RST dr. R. Hardjanto
Objektif presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : Pasien anak balita laki-laki, usia 5 tahun mengalami kemerahan di muka dan badan
Tujuan : mengetahui definisi dermatitis atopik, ceramide dan emolien. Manfaat terapi emolien ceramide
Bahan bahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas : Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Data pasien : Nama : An. N Nomor Registrasi : 447263
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosa/ Gambaran Klinis :
Peran emolien ceramide dalam pengobatan dermatitis atopik
2. Riwayat Pengobatan : 5 hari sebelumnya
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit
Pasien mengeluh terdapat kemerahan pada bayi sejak bayi tapi hanya dibiarkan. Selain itu juga kulit si anak terasa kering dan terasa gatal.
Pasien juga sering pilek dan terkadang sakit mata. Sekarang keluhan dirasakan makin bertambah kemerahan bertambah hingga ke leher dan
badan. Dan kemerahan terasa panas dan bengkak. Riwayat anak minum susu formula sejak umur 8 bulan dan sudah tidak asi lagi.
4. Riwayat Keluarga :
Riwayat asma pada keluarga. Tidak ada yang memiliki keluhan yang sama
5. Riwayat Pekerjaan :

6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN) :
Pasien tinggal di rumah bersama ayah dan ibunya beserta satu orang kaka. Suaminya bekerja sebagai pegawai swasta. Ibu bekerja
sebagai ibu rumah tangga. Pasien tinggal di daerah yang cukup nyaman dan bersih
7. Riwayat imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) :
Dikatakan riwayat imunisasi pasien lengkap hingga 9 bulan
Daftar Pustaka (diberi contoh, MEMAKAI SISTEM HARVARD,VANCOUVER, atau MEDIA ELEKTRONIK) :
1,Chamlin SL, Frieden IJ, Williams ML, Chren MM. Effects of atopic dermatitis on young American children and their families.
Pediatrics. 2004;114(3):607611.
2. Leon H. Kircik, MD. Nonsteroidal Treatment of Atopic Dermatitis in Pediatric Patients with a Ceramide-dominant Topical Emulsion
Formulated with an Optimized Ratio of Physiological Lipids. New York. 2011
3. Andrews. Disease of The Skin Clinical Dermatology. Eight Edition. W.B.Saunders Company, London, 1990.
4. . Java, Harper, Arnold. Text Book of Pediatric: Dermatology Volume 2. Second Edition., 2006.
5. Carbone A, Siu A, Patel R. Pediatric atopic dermatitis: a review of the medical management. Ann Pharmacother. 2010;44(9): 14481458.
HASIL PEMBELAJARAN
1. Dermatitis atopik adalah peradangan pada kulit yang lebih sering muncul pada bayi dan anak kurang dari 12 tahun, dimana tanda dan
gejalanya sangat khas yaitu pemerahan pada kulit yang disertai gatal dan nyeri kadang-kadang bengkak, sifatnya kronis/ menahun.
Penyakit ini dialami oleh sekitar 10-20% anak. Resiko seorang bayi atau anak menderita dermatitis atopik antara lain dipengaruhi oleh:
Salah satu atau kedua orang tuanya menderita alergi atau dermatitis, memiliki jenis kulit kering atau sensitif dan Faktor lingkungan,
seperti bahan kimia industri, makanan olahan atau benda asing lainnya. Dermatitis Atopik lebih sering muncul di wajah, siku, lutut,
tangan dan bagian tubuh lainnya.
2. Ceramide adalah mikrostruktur dari intraseluler lipid yang berperan penting sebagai pelindung kulit. Emolien adalah bahan yang
digunakan untuk mencegah atau mengurangi kekeringan, sebagai perlindungan bagi kulit. Dari hasil penelitian
3. Pada dermatitis atopik terjadi perubahan karakteristik kulit normal. Biasanya gejalanya ditanndai dengan pruritus yang merupakan keluhan
utama, xerosis (kulit kering), keratosis pilaris, ichthosis vulgaris, pitriasis alba dan dannie morgan skinfold. Kulit penderita dermatitis
atopik selain kering juga rentan infeksi ini disebabkan karena gangguan fungsi sawar (barrier). Gangguan tersebut disababkan antara lain
pleh gangguan fungsi berkeringat, terjadinya trans epidermal water loss (TEWL) dan perubahan lemak kulit. Pengobatan dermatitis atopik
dapat berupa pemberian pengobatan yang berupa sistemik atau berupa topikal. Terapi sistemik dengan antihistamin, kortikosteroid,
interferon, cycloporin, tacrolimus, antibiotika dan fototerapi.
Terapi topical untuk mengatasi manifestasi kulit yg terjadi seperti pemberian emolien dan kortikosteroid topikal. kulit kering disebabkan
penurunan kandungan air pada lapisan korneum yang dapat menyebabkan deskuamasi dari corneocytes dan terjadi peningkatan asam
lemak bebas serta penurunan ceramide. Dan beberapa penelitian timbulnya kulit kering pada dermatitis karena perubahan kadar ceramide.
Berdasarkan hal ini maka maka ceramide dianggap sebagai faktor penting terjadinya kulit kering penderita dermatitis atopik.
Pengobatan menggunakann emolien dapat meningkatkan kandungan air pada lapisan kkorneum sehingga mencegah kulit kering yang
merupakam pennyebab rasa gatal pada dermatitis. Emolien akan membentuk lapisan yang berminyak pada permukaan lapisan korneum
yang akan mencegah pennguapan air (TEWL). Air yang akan menguap akan terhalang oleh emolien sehingga air tersebut akan menngisi
celah- celah yang kosong diantara corneocytes selain itu emolien juga akan meresap ke lapisan atas lapisan korneum sehingga menyerupai
fungsi lemak intraseluler yang pada deramatitis atopik kadarnya berkurang. Selain itu emolien mempunyai efek tidak langsung sebagai
antiinflamasi yang berguna untuk mengatasi dermatitis atopik. Sebaiknya emolien diberikan setelah mandi karena kadar air pada lapisan
korneum tinggi bila diberikan emolien maka selaput berminyak tersebut dapat mencegah penguapan air. Paling sedikit diberikan 2 kali
sehari. Bila diberikan ke seluruh tubuh biasanya anak- anak membutuhkan kurang lebih 250-500 gram emolien perminggu.

KASUS 2
Topik : Kasus THT Pengaruh terapi steroid intranassal pada pasien rhinitis alergika
Tanggal (kasus) : 15 Juli 2014 Persenter : dr. Amelia Fitriati Masputra
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Helen Morista Endryani
dr. Yuli Astutiandriani Palasara
Tempat presentasi : RST dr. R. Hardjanto
Objektif presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : pasien remaja usia 16 tahun yang sering mengeluhkan pilek
Tujuan : mengetahui definisi rhinitis Alergi, gejala dan manfaat terapi steroid intranasal
Bahan bahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas : Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Data pasien : Nama : sdri. R Nomor Registrasi : 463529
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosa/ Gambaran Klinis :
Rhinitis Alergika
2. Riwayat Pengobatan :
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit
Pasien mengeluh pilek sudah sejak 3 hari yang lalu. Keluhan sering disertai bersin- bersin pada pagi hari terutama jika udara sedang dingin.
Keluhaan dirasakan sering kambuhan. Kadang disertai dengan gatal pada daerah hidung tenggorokan dan daerah sekitar mata. Hidung
mampet dan sering keluar lendir bening dari hidung. Batuk berdahak.
4. Riwayat Keluarga :
Bibi memiliki riwayat asma
5. Riwayat Pekerjaan :
Pasien seorang pelajar SMA
6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN) :
Pasien tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya beserta satu orang adik yang masih SD. Rumah pasien berada di pinggir jalan.
Ayahnya bekerja di perusahaan swasta. Ibunya sebagai ibu rumah tangga. Disekeliling rumahnya masih ada perkarangan hijau.
Biasanya pasien beranngkat ke sekolah menggunakan motor. Dan terkadang jarang mennggunakan masker.
7. Riwayat imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) :
Daftar Pustaka (diberi contoh, MEMAKAI SISTEM HARVARD, VANCOUVER, atau MEDIA ELEKTRONIK) :
1. Bousquet. Visual Analog Scales Can Assess the Severity of Rhinitis Graded according to ARIA guidelines. (2007).University Hospital
and INSERM U454, Montpellier, France.367-72.
2. Demoly P. WHO Recommendation In The Treatment of Allergic Rhinitis. (2001). Dalam : Simposium Current and Future Approach in
The Treatment of Allergic Rhinitis. Jakarta,:2-3
3. Durham S.R; Mechanisms and treatment of allergic rhinitis, in Rhinology Scott-Browns Otolaryngology 6th Ed, edited by Mackay I.S,
Bull T.R.(2006).Butterworth Heinemann, Oxford.1-16
HASIL PEMBELAJARAN
1. Rinitis alergi (RA) merupakan reaksi inflamasi pada mukosa hidung akibat reaksi hipersensitivitas tipe 1 yang diperantarai oleh adanya
lg E (Gell & Comb tipe I) ditandai dengan trias gejala yaitu bersin-bersin, rinore encer, obstruksi nasi dan disertai juga oleh gejala lain
seperti gatal pada hidung, mata, tenggorok, dan telinga. Meskipun RA bukan suatu penyakit yang mengancam jiwa namun secara
signifikan berdampak pada penurunan kualitas hidup penderitanya, penurunan produktivitas kerja, prestasi di sekolah, gangguan dalam
fungsi psikologis seperti depresi dan sosial dan telah menghabiskan biaya besar untuk pengobatan karena gejalanya yang berulang.
Sehingga dalam penanganan rinitis alergi perlu mempertimbangkan biaya pengobatan dan kualitas hidup penderita
2. Pada penderita RA, terjadi pelepasan mediator dan sitokin seperti histamin, leukotrien, prostaglandin, Platelet Activating Factor (PAF)
dan akumulasi sel inflamasi, menyebabkan mukosa hidung mengalami edema dan inflamasi kronik, yang akan menyebabkan rinore dan
obstruksi nasi. Pada keadaan ini pergerakan silia dan kualitas sekret terganggu menyebabkan transpor mukosiliar nasal terganggu dan
menimbulkan menumpukan sekret. Gejala utama dari rhinitis alergi adalah hidung tersumbat, bersin, pilek, hidung gatal, atau tiba-tiba
terjadi mimisan, lebih parahnya sakit kepala, pusing, dan dapat mempengaruhi aktivitas bahkan prestasi dan kinerja kerja.
3. Penanganan rinitis alergi pada dasarnya adalah mengatasi gejala rinitis alergi akibat Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) dan Reaksi
Alergi Fase Lambat (RAFL). Penanganan medikamentosa dengan pemberian antihistamin dan dekongestan belum sepenuhnya
memuaskan dan sering terjadi kekambuhan karena hanya mengatasi RAFC adalah dengan steroid. .Karena pemakaian jangka panjang
pada steroid oral memiliki efek yang merugikan seperti osteoporosis, gangguan axis hipotalamus pituitary adrenal yang mengganggu
perkembangan sehingga diperlukan pengobatan yang lebih aman yaitu penggunaan steroid intranasal Pengobatan terapi steroid
intranasal dapat menurunkan RAFC dan RAFL, menurunkan edema, inflamasi kronik dan memulihkan cedera epitel, sehingga epitel
silia dapat berfungsi kembali menjadi normal, memulihkan aliran mukosiliar hidung ,mengantarkan sekret ke nasofaring,
mengembalikan fungsi drainase dan ventilasi menjadi normal. Secara tidak langsung dapat memperbaiki gejala klinik dan
meningkatkan kualitas hidup penderita. Pengaruh steroid intranasal terhadap transpor mukosiliar pada penderita RA sangat bermanfaat
dalam mengetahui perkembangan pengobatan. Hal ini menjadi dasar perlunya dilakukan sehingga dapat meminimalkan biaya
pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh terapi steroid intranasal pada
rinitis alergi pada aspek transpor mukosiliar, perbaikan klinis dan kualitas hidup
4. Steroid intranasal yang umum digunakan (nama generik/merek):
1. Budesonide/rhinocort aqua
2. Fluticasone propionate/ flonasse
3. Mometasone furoate/ nasonex
4. Triamcinolone acetonide/ nasacort aq
5. Ciclesonide/ omnaris
6. Fluticasone furoate/ veramyst
7. Flunisolide/ nasarel
Biasanya steroid nasal digunakan untuk yang mengidap rhinitis alergi persisten sedang sampai berat. Semua steroid intranasal merupakan
golongan obat yang sangat aman dan memiliki efek samping yang sistemik yang angat sedikit. Efek samping yang paling umum dari steroid
intranasal meliputi iritasi lokal, rasa terbakar dan perih pada mukosa hidung.
KASUS 3
Topik : Kasus Penyakit Kandungan dan Ginekologi Pengaruh penyakit Asma Bronchiale dalam Kandungan
Tanggal (kasus) : 13 Agustus 2014 Persenter : dr. Amelia Fitriati Masputra
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Helen Morista Endryani
dr. Yuli Astutiandriani Palasara
Tempat presentasi : RST dr. R. Hardjanto
Objektif presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : pasien perempuan, usia 20 tahun mengalami sesak nafas
Tujuan : mengetahui definisi asma brochiale, dampak dalam kehamilan, dan penatalaksanaan asma pada kehamilan
Bahan bahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas : Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Data pasien : Nama : Ny. H Nomor Registrasi : 470321
Data utama untuk bahan diskusi :
8. Diagnosa/ Gambaran Klinis :
Asma Bronchiale dalam Kehamilan
9. Riwayat Pengobatan :
10. Riwayat Kesehatan/ Penyakit
Pasien mengeluh sesak nafas sejak 3 jam yang lalu. Keluahan disertai bengek. Keluhan disertai dengan batuk dan pilek. Diketahui pasien
sedang hamil 2 bulan sebelumnya sudah pernah diuap juga untuk meringankan sesak napasnya. Mual dan muntah juga dialami oleh pasien.
Menurut pengakuan pasien tidak ada perdarahan ataupun kulit menjadi biru
11. Riwayat Keluarga :
Riwayat anggota keluarga memiliki asma (ibu)
12. Riwayat Pekerjaan :
Ibu rumah tangga
13. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN) :
Pasien bekerja di rumah. Suami pasien bekkerja sebagai pegawai swasta. Ini merupakan kehamilan yang pertama. Pasien baru
menikah sekitar 1 tahun.
14. Riwayat imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) :
Daftar Pustaka (diberi contoh, MEMAKAI SISTEM HARVARD,VANCOUVER, atau MEDIA ELEKTRONIK) :
1. Elkayam U. Pulmonary disease, In: Gleicher N,Gall SA, Sibai BM, Elkayam U, Galbarth RM, Sarto GE, Eds. Principales and Practice of
medical therapy in pregnancy. 2
nd.
California Appleton & Lange; 1992, p 733-56
2. Sundaru H, Asma Bronkial. Dalam: Suyono S, Waspadji S, Lesmana L,Alwi I Setiani S, Sundaru H, Djojoningrat D, Suhardjono, Sudoyo
AW, Bahar A, Mudjadid E. Eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid II. Edisi 2. Jakarta : Balai Penerbit UI; 2001. hal. 21-32.
3. DombrowskI MP. Asthma in Pregnancy. In: Ransom SB, DombrowskiMP, McNeeley SG, Moghissi KS, Munkarah AR. Eds. Practical
strategies in obstetrics and gynecology. Philadelphia: W.B. Saunders Company; p. 369-79.
4. Frezzo T,McMahon CL, Pergament e. Asthma and pregnancy. 2002; 9 Available from http://www.fetal-exposure.org/ASTHMA. Accessed
on: 15/12/2006
5. Canadian medical asociatiton. Asthma in pregnancy. 1999; 161 (90111) Available from http://www.cmaj.ca/cgi/content/ full/ 161/ 11-
suppl-s51. Accessed on: 15/12/2006.

HASIL PEMBELAJARAN
1. Asma Bronkiale (AB) merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai sehari-hari dengan ditandai oleh adanya obstruksi bronkial yang
difus namun reversible baik secara spontan ataupun melalui pengobatan. Di Amerika Serikat insiden asma bronkial pada kehamilan berkisar
antara 0.5 sampai 1.0 % dari seluruh kehamilan. Angka abortus, partus dan prematurus maupun kematian pada ibu atau janin umumnya
tidak mengalami peningkatan pada ibi-ibu yang mendapat control AB dengan baik, sementara ibu hamil dengan serangan AB yang berat
merupakan suatu problema yang serius dengan angka abortus partus prematurus serta angka kematian ibu dan anak yang meningkat.
2. Pengaruh kehamilan pada pasien asma

Pada seorang wanita hamil terdapat perubahan-perubahan fisiologis pada beberapa organ-organ tubuh wanita tersebut akibat
kehamilannya. Perubahan-perubahan fisiologis yang diketahui berpengaruh terhadap perjalanan AB antara lain perubahan-
perubahan berupa membesarnya uterus, elevasi diafragma, hormonal perubahan-perubahan pada mekanik paru-paru dan
lain-lain.Sejak implantasi blastokist pada endometrium uterus akan terus membesar sesuai umur kehamilan. Pada akhir bulan
ke tiga uterus sudah cukup besar dan umumnya sudah sebagian tersembul ke luar rongga pelvis mengisi rongga perut untuk
selanjutnya terus membesar perlahan-lahan mendesak usus ke atas dan kesamping sehingga pada trimester terakhir
kehamilan uterus sudah mencapai daerah setinggi hati. Hal ini banyak berhubungan dengan meningkatnya tekanan
intrabdominal.Perubahan-perubahan hormonal yang terjadi saat kehamilan dan persalinan menyangkut banyak jenis hormon-
hormon, tetapi yang diketahui ada kaitannya langsung atau tidak langsung terhadap perjalanan AB baru beberapa jenis.

Hormon Masa Kehamilan
Progesteron
Yang kadarnya meningkat pada masa kehamilan mempunyai efek langsung terhadap pusat pernapasan (respiratory center) mentebabkan
peningkatan frekuensi pernapasan (respiratory rate), sehingga menyebabkan hiperventilasi. Progesteron juga bersifat smooth muscle
relaxan terhadap otot-otot polos usus, genitourinarius, dan diduga pada otot-otot bronkus.
Estrogen
Kadarnya meningkat saat kehamilan, terutama trimester ketiga. Pecora dan kawan-kawan membuktikan estrogen mempunyai efek
menurunkan diffusing capacity dari CO2 pada paru-paru dan diduga ini terjadi sebagai akibat meningkatnya asam mukopolisakarida
perikapiler.
Kortisol
Kadarnya meningkat pada kehamilan, diduga sebagai akibat klirens kortisol yang menurun, bukan karena sekresinya yang meningkat. Sehngga
waktu paruhnya akan memanjang. Dan pemberian preparat steroid pada masa kehamilan harus disesuaikan dengan keadaan ini.
3.Pengaruh Asma Bronkial Terhadap Kehamilan
Pada ibu-ibu hamil yang menderita AB, insiden hiperemis, perdarahan, toksemia gravidarum, induksi persalinan dengan komplikasi dan
kematian ibu secara bermakna lebih sering terjadi dibandingkan dengan ibu-ibu hamil tanpa penyakit AB. Hal ini dapat diduga erat
hubungannya dengan obat-obat anti asma yang diberikan selama kehamilan ataupun akibat efek langsung daripada memberatnya asma.
Hal yang sangat penting diperhatikan didalam penatalaksanaan AB pada ibu-ibu hamil ialah disamping untuk keselamatan ibunya sendiri
adalah juga untuk keselamatan janin. Oksigenasi pada janin hendaknya dipertahankan supaya adekuat, obat-obatan hendaknya dipilih yang
bias menjamin keselamatan janin didalam kandungan.
Pengaruh Obat-obatan Anti Asma Terhadap Kehamilan
Bermacam-macam obat-obatan yang dipakai didalam penatalaksanaan AB. Sebagian diantaranya tidak mempunyai pengaruh yang merugikan
terhadap kehamilan, namun sebagian lagi diantaranya dapat memberikan pengaruh yang sebaliknya sehingga pemakaiannya harus hati-hati dan
hanya atas indikasi-indikasi tertentu saja.
Golongan Xanthin
Golongan yang luas dipakai adalah aminofilin dan teofilin. Cara kerja kedua jenis obat ini adalah sebagai bronkodilator yang langsung bekerja
pada otot-otot bronkus dengan jalan menghambat kerja enzim fosfodisterase. Aminofilin dan teofilin merupakan obat yang cukup aman bagi
ibu hamil dengan AB. Pada dosis terapeutik tidak terbukti bahwa obat-obat ini berbahaya pada ibu atau janin bahkan pada beberapa penelitian
dapat ditunjukkan adanya penurunan yang bermakna daripada insidens respiratory distress syndrome pada bayi-bayi dari ibu yang mendapat
aminoflin dibandingkan dengan yang tidak.
Golongan simptomatik
Obat-obatan dari golongan ini adalah adrenalin, efedrin, isoprenalin, terbutalin, salbutamol, orsiprenalin dan sebagainya. Obat-obat ini
bekerja sebagai anti asma melalui perangsangan terhadap reseptor simpatis. Respetor simpatis ada 2 A dan B. Reseptor ini tersebar di seluruh
tubuh, ada organ yang hanya memiliki 1 jenis reseptor, misalnya jantung, respetor B1, otot-otot bronkus reseptor B2, pembuluh darah respetor
A, arteriol kulit, mukosa, dan otak, respetor A, dan adapula organ-organ yang memiliki lebih dari 1 repseptor.
Adrenalin
Selain merangsang reseptor B1 dan B2 juga merangsang reseptor A, sehingga selain merangsang bronkus, obat ini pula merangsang jantung,
pembuluh darah dan lain-lain. Untuk mencegah efek samping, maka dianjurkan untuk mempergunakan dosis terkecil yang masih memberikan
dilatasi bronkus yang optimal. Selain itu obat ini juga memberikan efek kontriksi pembuluh darah mukosa bronkus, sehingga mengurangi
edema dan kongesti saluran nafas. Adrenalin juga menyebabkan penurunan sementara perfusi uterus yang menyebabkan fetal distress.
Pemakaian pada umur kehamilan dibawah 4 bulan harus dihindari karena ditemukan kasus-kasus malformasi janin, tetapi belum diketahui
secara pasti.
Efedrin
Farmakodinamik efedrin mirip adrenalin, namun mulai kurang dipakai karena efek bronkodilatornya kurang kuat. Pada dosis terapi sering
memberikan efek samping yang jelas. Pada kasus-kasus dengan kehamilan, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat ini mengganggu
kehamilan sehingga digolongkan aman untuk dipakai.
Obat-obat Beta Agonis
Seperti halnya terbutalin, orsiprenalin, heksoprenalin, salbutamol dan lain-lain mempunyai efek stimulasi terhadap adrenoseptor B2. Obat-obat
golongan ini bekerja dengan meningkatkan siklik AMP melalui perangsangan reseptor B2 yang terdapat pada membran otot polos bronkus.
Dengan perangsangan ini maka aktifitas enzim adenisiklase meningkat sehingga perubahan-perubahan ATP menjadi siklik AMP bertambah.
Belum diketahui efeknya terhadap janin, tetapi obat ini cukup aman dipakai pada kehamilan.
Akibat perangsangan pada reseptor B2 oleh obat ini, dapat menyebabkan relaksasi otot-otot uterus, sehingga menyulitkan jalannya persalinan,
ataupun atonia uteri, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai pada hamil tua, saat inpartu ataupun masa nifas.
Sodium Kromoglikat
Cara kerja obat ini dengan menghambat pelepasan mediator humoral daripada sel mast, sehingga baik mencegah serangan asma. Obat ini tidak
menyebabkan kelainan pada janin ataupun ibu, sehingga nampaknya tidaklah berbahaya. Namun demikian pemakaian pada ibu-ibu hamil
datanya belum cukup banyak.
Kortikosteroid
Kortikosteroid bukan merupakan bronkodilator. Obat-obat ini umumnya digunakan pada AB yang berat. Kortikosteroid memiliki efek anti
alergi dan anti inflamasi juga dapat meningkatkan otot polos bronkus yang refrakter terhadap stimulanadrenoseptor B2.
Pada kehamilan kadar kortisol lama ibu meningkat, dan hanya sebagian kecil saja yang melewati plasenta ke dalam sirkulasi janin dan segera
perubahan menjadi bentuk inaktif. Prednisone dan prednisolon menembus plasenta dalam kadar yang sangat kecil kira-kira 1/10 kadar
plasma ibu, dan hal ini konsisten dengan penemuan-penemuan bahwa sangatlah jarang terjadi supresi pertumbuhan kelenjar adrenal janin pada
ibu-ibu hamil yang mendapat obat ini.
Antihistamine, Ekspektoran dan Antibiotika
Walaupun secara langsung bukan sebagai obat asma, namun sering digunakan pada penderita-penderita
AB.Dipenhidramin, tripilinamin, feniramin, klorfeniramin, fenilefrin merupakan obat-obat yang dapat dipergunakan secara aman pada
ibu-ibu hamil.
Ekspektoran terkecuali yang mengandung yodium juga aman dipakai. Diantara antibiotik, penisilin merupakan obat obat yang paling aman
pada kehamilan. Eritromisin belum banyak diteliti, namun beberapa hasil penelitian yang ada ternyata juga aman dipakai,
sedangkan tetrasiklin hendaknya jangan dipakai karena terbukti dapat menyebabkan kerusakan pada gigi, hati dan tulang dari janin.
Pengaruh obat-obat pertolongan persalinan terhadap asma bronkial
Beberapa jenis obat-obatan yang sering dipergunakan di dalam pertolongan persalinan secara farmakologis mempunyai potensi untuk
mempengaruhi perjalanan AB.
Prostaglandin
Merupakan obat yang dapat dipergunakan untuk mengadakan induksi abortus pada kasus-kasus abortus terapiutis, induksi persalinan, induksi
haid dan lain-lain sehubungan dengan khasiatnya dapat menyebabkan kontraksi dari otot-otot polos dari uterus. Prostaglandin
F2alfa dan E2 juga mempunyai efek sebagai bronkokonstriktor sehingga berakibat meningkatkanpulmonary resistance, sehingga memperberat
Asma, oleh karena itu pemakaian obat ini pada penderita AB akan berbahaya sehingga patut dihindari.
Obat-obat anestesi
Anestesia sering-sering diperlukan pada berbagai macam kasus ginekologik maupun obstetrik, Dietil eter mempunyai efek bronkodilatasi
namun sangat iritatif terhadap mukosa bronkus sehingga dapat menyebabkan bronkokorea yang berlebihan,sedangkan sikopropan dapat
menyebabkan bronkospasmus. Nitrous oksid dan halotan mempunyai efek bronkolitik sehingga dalam hal ini obat tersebut merupakan obat-
obat pilihan. Disamping itu anestesi epidural, saddle block,pudendal bock ataupun anestesi lokal dapat digolongkan sebagai cara anestesi yang
aman untuk penderita-penderita AB.

Penatalaksanaan Asma Bronkial pada kehamilan
Pada dasarnya penatalaksanaan Ab pada kehamilan tidaklah berbeda dengan penatalaksanaan AB pada umumnya, namun di dalam beberapa
hal peru perhatian-perhatian khusus yang menyangkut keselamatan ibu dan janin, utamanya di dalam pemilihan obat-obat yang akan
dipergunakan dan mencegah penyakitnya berlarut-larut untuk mencegah kemungkinan terjadinya hipoksia pada anak.
Penderita Rawat Jalan
Penderita dengan serangan AB yang ringan dapat dirawat sebagai penderita rawat jalan. Hal yang paling penting pada penderita-penderita ini
adalah mencegah supaya serangan AB jangan timbul dan jangan menjadi berat, sehingga di dalam hal ini sangat perlu mengidentifikasi serta
mengeliminir faktor-faktor presipitasi seperti infeksi saluran nafas, inhalasi alergen, bahan-bahan iritatif, stress emosional dan
sebagainya. Sodium kromoglikat dapat merupakan obat obat yang terpilih di dalam usaha pencegahan ini disamping eliminasi faktor-faktor
presipitrasi.
Pada serangan AB yang ringan , teofilin peroral atau rektal dapat merupakan pilihan atau kalau perlu aminofilin intravenous 250 500 mg
secara bolus pelan-pelan atau isopreterinol inhalasi atau nebulizer, atau adrenalin subkutan 0,2-0,5 ml yang dapat diulang dalam 15 sampai
30 menit kemudian.
Pada penderita steroid dependent asthma, prednisone, prednisolon merupakan obat yang terpilih. Beklometason dipropionatperiinhalasi juga
dapat diberikan untuk menggantikan prednisone atau untuk mengurangi kebutuhan terhadap prednisone.
Penderita Rawat Inap
Diperuntukkan penderita dengan Ab yang berat atau status asthmaticus. Diberikan aminofilin IV 250-500 mg secara bolus pelan-pelan,
kemudian dilanjutkan dengan pemberian aminoflin perinfus IV dengan dosis 0,9 mg/kg BB/hari. Hidrokortison sodium suksinat diberikan 100-
200 mg IV/4-6 jam, oksigen melalui kateter hidung, cairan dan elektrolit yang cukup dan eliminasi faktor-faktor presipitasi.
Apabila perlu ditambahkan dengan obat-obat golongan beta agonis dalam hal ini yang telah banyak dipergunakan pada kasus dengan
kehamilan adalah terbutalin peroral 2.5 5 mg/8 jam.
Pada penderita Ab yang inpartu perlu mendapat pengobatan dan pengawasan seksama, karena sangat sering AB yang semula ringan menjadi
berat saat inpartu, atau pada saat kehamilan AB tidak pernah menyerang, saat inpartu AB menyerang.
Penatalaksanaan sesuai dengan berat ringannya AB, dengan pengawasan yang seksama terhadap perkembangan penyakit. Dalam keadaan ini
perlu diingat bahwa obat-obat adrenalin dan beta agonis mempunyai efek yang tidak menguntungkan sehingga pemakaiannya harus dihindari.
Perhatian khusus perlu pula diberikan terhadap penderita-penderita dengan riwayat steroid dependent asthma yang inpartu. Diperlukan
pemberian kortikosteroid eksogen yang adekuat, yang maksudnya memberikan konsentrasi yang cukup dari hormon ini untuk
menghadapi stres pada saat partus, dan mencegah eksaserbasi AB inpartu. Untuk maksud ini, sejak dimulainya inpartu diberikan hidrokortison
100 mg intramuskuler setiap 8 jam selama 24 jam atau lebih sesuai keadaan.



KASUS 4
Topik : Kasus Jiwa depresi dan cemas pada pasien penyakit jantung koroner
Tanggal (kasus) : 19 Juni 2014 Persenter : dr. Amelia fitriati Masputra
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Helen Morista Endryani
dr. Yuli Astutiandriani Palasara
Tempat presentasi : RST dr. R. Hardjanto
Objektif presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : pasien Laki-laki, usia 47 tahun, mengeluh nyeri dada sebelah kiri
Tujuan : mengetahui definisi, gejala-gejala, dan tatalaksana gangguan depresi dan cemas pada pasien jantung koroner
Bahan bahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas : Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Data pasien : Nama : Tn.S Nomor Registrasi : 463347
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosa/ Gambaran Klinis :
Depresi dan cemas pada pasien penyakit jantung koroner (CAD)
2. Riwayat Pengobatan : Pasien sudah berobat ke dokter klinik sebelumnya.
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit
Pasien mengeluh nyeri dada sebelah kiri hilang timbul sejak 3 jam yang lalu. Keluhan nyeri dada menjalar hingga ke punggung. Selain itu
pasien juga merasakan sesak nafas, mudah sekali berkeringat, mual dan muntah 1-2 x/hari. Pasien merasakan susah tidur dan kepala terasa
pusing. Demam dan penurunan kesadaran disangkal. Dalam melakukan aktivitas tidak terganggu. Tidur menggunakan 1 bantal. Pasien
riwayat penyakit jantung, hipertensi, hiperkolesterol dan merokok 1 bungkus/hari. Pasien juga sudah merasakan bosan minum obat oleh
sebab itu pasien jarang kontrol penyakitnya kecuali sedang kambuh. Obat hipertensinya pun jarang diminum
4. Riwayat Keluarga :
Orang tua riwayat hipertensi
5. Riwayat Pekerjaan :
Pasien adalah pegawai swasta
6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN) :
Pasien adalah pegawai swasta dan memiliki seorang istri yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dan memiliki 2 orang anak yang
pertama sedang menempuh pendidikan SMA dan anak ke dua menempuh pendidikan SMP.
7. Riwayat imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) :
Daftar Pustaka (diberi contoh, MEMAKAI SISTEM HARVARD,VANCOUVER, atau MEDIA ELEKTRONIK) :
1. Jeff CH, Christopher MC, James LJ. The relationship between depression, anxiety, and cardiovascular outcomes in patients with acute
coronary syndromes. Neuropsychiatric Disease and Treatment. 2010; 6: 123-36.
2. David EN. Acute coronary syndrome. In: David EN, Neil RG, editors. Cardiology.1st ed. London: Elseiver; 2005. p. 44-5

3. Leo P, George T, Jianping Z, Marc P, Kathleen F, Wei J. Depression and heart disease: what do we know, and where are we headed?
Cleveland Clinical Journal of Medicine. 2009; 76: 59-70.Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A .

4. Yelizaveta S, Sermsak L, Jose RM. The impact of depression in heart disease. Curr Psychiatry Rep. 2010; 12: 255-64.
5. Urooj Z, Manuel PY, Daichi S, Gemma V, Matthew MB, William C, dkk. Anxiety is a better predictor of platelet reactivity in coronary
artery disease patients than depression. European Heart Journal. 2010; 31: 1573-82.

HASIL PEMBELAJARAN
1. Depresi dan cemas sering terjadi pada pasien dengan sindrom koroner akut maupun penyakit kardiovaskuler lainnya. Meskipun
prevalensinya cukup tinggi, kedua kondisi psikiatrik ini sering tidak disadari oleh petugas kesehatan dan tidak mendapatkan penanganan
selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Hal ini tentu dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Baik depresi maupun cemas
dihubungkan dengan timbulnya dampak kardiovaskuler yang buruk bagi penderita serangan jantung akut. Depresi telah lama diketahui
sebagai salah satu faktor risiko mayor terjadinya penyakit jantung. Cemas berhubungan dengan meningkatnya risiko infark miokard baik
nonfatal maupun fatal (berakhir dengan kematian).

2. Penyakit jantung koroner yang terdiri dari angina tak stabil dan infark miokard yang merupakan kondisi klinis yang berat dan
mengancam nyawa. Kedua kondisi ini menggambarkan adanya iskemia mendadak pada miokard akibat hilangnya aliran darah ke otot
jantung, sehingga menyebabkan berhentinya suplai oksigen bagi sel-sel jantung.3 Sindrom koroner akut. menunjukkan suatu spektrum
klinis yang luas dari derajat keparahan suatu iskemia miokard, mulai dari angina tak stabil yang didefinisikan sebagai iskemia yang tidak
sampai menimbulkan jejas pada miokard, hingga infark miokard yang berarti adanya iskemia yang berakibat pada kematian sel-sel jantung.
faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain: hipertensi, hiperlipidemia, diabetes, gaya hidup yang pasif, dan Merokok.
Penyebab utama terjadinya sindrom koroner akut adalah adanya ruptur plak aterosklerotik. Predisposisi terjadinya ruptur plak aterosklerotik
ini lebih banyak ditentukan oleh komponen instrinsik plak, dibandingkan dengan derajat penonjolan plak kearah lumen pembuluh darah
coroner.
Sindrom koroner akut biasanya ditandai dengan nyeri angina yang memiliki karakteristik khas, yakni: berlangsung lebih dari 20 menit,
berupa rasa berat atau tertekan atau sensasi seperti terbakar pada dada sebelah kiri yang dapat menjalar ke sisi medial lengan kiri, ke leher
hingga rahang, serta punggung. Lama serangan, derajat rasa nyeri yang timbul serta adanya gejala autonom seperti: berkeringat dingin,
pucat, mual dan sesak nafas menunjukkan derajat iskemia yang terjadi.
Pasien-pasien yang diduga mengalami sindrom koroner akut harus dievaluasi dengan elektroardiogram (EKG) 12-lead. Gambaran EKG
akan menunjukkan adanya iskemia miokard berupa: perubahan pada segmen ST, inversi gelombang T, serta Bundle Branch Block (BBB).
Tidak jarang EKG memberikan gambaran yang normal terutama pada serangan pertama, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan EKG serial
untuk memantau setiap perubahan/perkembangan suatu iskemia miokard. Penatalaksanaan akut suatu sindrom koroner akut meliputi:
pemberian oksigen, aspirin, beta-adrenergic blocking agent, high dose lipid lowering agent, antikoagulan seperti heparin, demikian pula
nitrogliserin, dan atau morfin sulfat untuk gejala-gejala yang tidak kunjung membaik. Obat anti trombotik yang lebih agresif seperti
clopidogrel dan atau platelet glycoprotein antagonist juga digunakan secara luas pada penyakit ini

3. Sekitar 15-27% pasien dengan penyakit jantung (termasuk di dalamnya pasien dengansindrom koroner akut) menderita sindrom depresi
mayor. Jumlah tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan populasi umum yang hanya sekitar 4%-5%.1 Sebagian besar pasien
mengalami gejala subsindromal, sehingga sering tidak dikenali oleh petugas kesehatan dan tidak mendapatkan penanganan yang baik.
Depresi dapat timbul sebagai reaksi sementara terhadap adanya penyakit jantung, namun tidak jarang juga bersifat kronis dan rekuren.
Sertraline Antidepressant Heart Attack Randomized Trial (SADHART) (2009) menemukan bahwa diantara pasien yang menderita sindrom
koroner akut yang datang ke rumah sakit dengan gejala depresi mayor, 94% telah mengalami depresi lebih dari satu bulan, 61% telah
mengalami depresi lebih dari enam bulan dan lebih dari separuh pernah mengalami episode depresi mayor sebelumnya. Sejumlah penelitian
menunjukkan bahwa depresi merupakan salah satu faktor risko independen untuk muncul dan berkembangnya suatu penyakit jantung
koroner. Pasien dengan sindrom depresi mayor memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami serangan infark miokard baik
yang bersifat fatal maupun tidak fatal, serta mengalami kematian mendadak dibandingkan dengan pasien yang tidak menderita depresi.
Sebuah studi meta-analisis (2007) terhadap 28 studi longitudinal yang melibatkan hampir 80.000 pasien menyimpulkan bahwa mood
depresi secara signifikan meningkatkan risiko timbulnya beragam penyakit kardiovaskuler, dan pasien yang secara klinis telah terdiagnosis
menderita gangguan depresi mayor memiliki risiko yang paling besar untuk mengalami penyakit kardiovaskuler.
Pada pasien dengan riwayat penyakit jantung, depresi juga merupakan salah satu faktor risiko independen (selain merokok, hipertensi,
hiperlipidemia dan diabetes) morbiditas dan mortalitas. Depresi meningkatkan risiko terjadinya infark miokard yang tidak fatal sebanyak 4
kali lipat, pasca terjadinya suatu episode angina tak stabil. Prevalensi gangguan cemas pada populasi dengan penyakit jantung cukup tinggi,
yakni antara 28% sampai 44% pada kelompok usia yang lebih muda. Pada kelompok usia yang lebih tua, prevalensi gangguan cemas
diperkirakan antara 14% sampai 24%. Pasien dengan penyakit jantung koroner yang stabil memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan populasi umum, dengan prevalensi antara 16% sampai 42%.

4. MEKANISME YANG MENDASARI HUBUNGAN ANTARA DEPRESI DAN CEMAS DENGAN ISKEMIA MIOKARD
Mekanisme fisiologi:
a. Aktivitas dan agregasi platelet
b. Inflamasi
c. Variabilitas denyut jantung
d. Peningkatan katekolamin
e. Disfungsi endotel
Pengobatan depresi dan cemas pada pasien penyakit jantung koroner
A. Antidepresan: lini pertama nya adalah sentraline dan citalopram
B. Benzodiazepin: efektif krn menurunkan level katekolamin dan mengurangi resistensi pembuluh darah koroner
C. Psikoterapi
D. Latihan dan rehabilitasi jantung
Pasien dengan penyakit jantung obat yg rutindiberikan seperti aspirin, clopidogrel, warfarin, ace-inhibitor, dan nitrat tidak berhubungan dengan
efek psikiatrik.
Pengobatan hiperkolesterolemia dengan statin menyebabkan timbulnya gejala depresi bahkan perilaku bunuh diri. Namun sejumlah penelitian
menolak kenyataannya penggunaan statin dalam jangka panjang justru berhubungan dengan perbaikan kondisi psikososial pasien. B- bloker
seperti propanolol diketahui bermanfaat dalam pengobatan cemas dan agresi



KASUS 5
Topik : Kasus medikolegal visum et repertum (VeR) dan penetuan derajat luka
Tanggal (kasus) : 25 Januari 2014 Persenter : dr. Amelia Fitriati Masputra
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Helen Morista Endryani
dr. Yuli Astutiandriani Palasara
Tempat presentasi : RST dr. R. Hardjanto
Objektif presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : pasien seorang perempuan berusia 15 tahun, mengeluh ditampar oleh tetangga
Tujuan : mengetahui apa itu VeR dan cara menentukan derajat luka
Bahan bahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas : Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos
Data pasien : Nama : Sdr. F Nomor Registrasi : 410856
Data utama untuk bahan diskusi :
8. Diagnosa/ Gambaran Klinis :
Trauma tumpul pada wajah
9. Riwayat Pengobatan :
10. Riwayat Kesehatan/ Penyakit
Pasien mengeluh wajahnya ditampar tetangga ketika jalan mau ke rumah temannya. Pasien merasa tidak melakukan hal yang dapat
menyinggung tetanggannya tersebut hanya sedang memainkan handphone saja. Kejadian dirasakan tiba- tiba dan bekas tamparan tidak
meninggalkan bekas dan hanya terasa nyeri. Keluhan seperti penurunan kesadaran dan membalas pukulan disangkal.
11. Riwayat Keluarga :
12. Riwayat Pekerjaan :
Pasien adalah murid kelas 3 SMP
13. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN) :
Pasien tinggal bersama orang tua dan kedua kakaknya.
14. Riwayat imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) :
Daftar Pustaka (diberi contoh, MEMAKAI SISTEM HARVARD,VANCOUVER, atau MEDIA ELEKTRONIK) :
1. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Indonesia. Pedoman teknik pemeriksaan dan interpretasi luka
dengan orientasi medikolegal atas kecederaan. Jakarta, 2005.
2. Afandi D. Visum et repertum pada korban hidup. Jurnal Ilmu Kedokteran. 2009;3(2):79-84.
3. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 1997.
4. Herkutanto. Peningkatan kualitas pembuatan visum et repertum (VeR) kecederaan di rumah sakit melalui pelatihan dokter unit gawat
darurat (UGD). JPMK. 2005;8(3):163-9.


HASIL PEMBELAJARAN
1. Pendahuluan
Visum et Repertum (VeR) merupakan salah satu bantuan yang sering diminta oleh pihak penyidik (polisi) kepada dokter menyangkut
perlukaan pada tubuh manusia. Visum et Repertum (VeR) merupakan alat bukti dalam proses peradilan yang tidak hanya memenuhi
standar penulisan rekam medis, tetapi juga harus memenuhi hal-hal yang disyaratkan dalam sistem peradilan. Data di beberapa rumah
sakit menunjukkan bahwa jumlah kasus perlukaan dan keracunan yang memerlukan VeR pada unit gawat darurat mencapai 50-70%.
Dibandingkan dengan kasus pembunuhan dan perkosaan, kasus penganiayaan yang mengakibatkan luka merupakan jenis yang paling
sering terjadi, dan oleh karenanya penyidik perlu meminta VeR kepada dokter sebagai alat bukti di depan pengadilan.
2. Pengadaan Visum et Repertum
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis
terhadap seseorang manusia baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah
sumpah dan untuk kepentingan peradilan.
Rumusan yang jelas tentang pengertian VeR telah dikemukakan pada seminar forensik di Medan pada tahun 1981 yaitu laporan tertulis
untuk peradilan yang dibuat dokter berdasarkan sumpah atau janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan dokter, yang memuat
pemberitaan tentang segala hal atau fakta yang dilihat dan ditemukan pada benda bukti berupa tubuh manusia yang diperiksa dengan
pengetahuan dan keterampilan yang sebaik-baiknya dan pendapat mengenai apa yang ditemukan sepanjang pemeriksaan tersebut.

Menurut Budiyanto et al, dasar hukum VeR adalah sebagai berikut:
Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan
dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Penyidik yang dimaksud adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a,
yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik tersebut adalah penyidik tunggal bagi pidana umum, termasuk pidana yang
berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena VeR adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan
kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta VeR, karena mereka hanya mempunyai
wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP.

Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik adalah sanksi pidana. Pasal 216 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja tidak
menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula
barangsiapa dengan sengaja mencegah,menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam
dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

3. Dalam praktik sehari-hari, korban perlukaan akan langsung ke dokter baru kemudian dilaporkan ke penyidik. Hal tersebut membawa
kemungkinan bahwa surat permintaan visum et repertum korban luka akan datang terlambat dibandingkan dengan pemeriksaan
korbannya. Sepanjang keterlambatan tersebut masih cukup beralasan dan dapat diterima maka keterlambatan itu tidak boleh dianggap
sebagai hambatan pembuatan VeR. Sebagai contoh, adanya kesulitan komunikasi dan sarana perhubungan, overmacht (berat lawan)
dan noodtoestand (darurat).

4. Struktur Visum et Repertum
Unsur penting dalam VeR yang diusulkan oleh banyak ahli adalah sebagai berikut :
1. Pro Justitia
Kata tersebut harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian VeR tidak perlu bermeterai.
2. Pendahuluan
Pendahuluan memuat: identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan pukul diterimanya permohonan VeR, identitas dokter yang
melakukan pemeriksaan, identitas subjek yang diperiksa : nama, jenis kelamin, umur, bangsa, alamat, pekerjaan, kapan dilakukan
pemeriksaan, dan tempat dilakukan pemeriksaan.
3. Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)
Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati, terutama dilihat dan ditemukan pada korban atau benda
yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan sistematis dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal. Deskripsinya juga
tertentu yaitu mulai dari letak anatomisnya, koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah badan, ordinat adalah
jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang terdekat), jenis luka atau cedera, karakteristik serta ukurannya. Rincian
tersebut terutama penting pada pemeriksaan korban mati yang pada saat persidangan tidak dapat dihadirkan kembali.
Pada pemeriksaan korban hidup, bagian pemberitaan terdiri dari:
a. Pemeriksaan anamnesis atau wawancara mengenai apa yang dikeluhkan dan apa yang diriwayatkan yang menyangkut tentang
penyakit yang diderita korban sebagai hasil dari kekerasan/tindak pidana/diduga kekerasan.
b. Hasil pemeriksaan yang memuat seluruh hasil pemeriksaan, baik pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan penunjang lainnya. Uraian hasil pemeriksaan korban hidup berbeda dengan pada korban mati, yaitu hanya uraian
tentang keadaan umum dan perlukaan serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidananya (status lokalis).
c. Tindakan dan perawatan berikut indikasinya, atau pada keadaan sebaliknya, alasan tidak dilakukannya suatu tindakan yang
seharusnya dilakukan. Uraian meliputi juga semua temuan pada saat dilakukannya tindakan dan perawatan tersebut. Hal tersebut
perlu diuraikan untuk menghindari kesalahpahaman tentang tepat/ tidaknya penanganan dokter dan tepat/tidaknya kesimpulan yang
diambil.
d. Keadaan akhir korban, terutama tentang gejala sisa dan cacat badan merupakan hal penting untuk pembuatan kesimpulan
sehingga harus diuraikan dengan jelas. Pada bagian pemberitaan memuat 6 unsur yaitu anamnesis, tanda vital, lokasi luka pada
tubuh, karakteristik luka, ukuran luka, dan tindakan pengobatan atau perawatan yang diberikan.

4. Kesimpulan
Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari fakta yang ditemukan sendiri oleh dokter pembuat
VeR, dikaitkan dengan maksud dan tujuan dimintakannya VeR tersebut. Pada bagian ini harus memuat minimal 2 unsur yaitu jenis luka
dan kekerasan dan derajat kualifikasi luka. Hasil pemeriksaan anamnesis yang tidak didukung oleh hasil pemeriksaan lainnya,
sebaiknya tidak digunakan dalam menarik kesimpulan. Pengambilan kesimpulan hasil anamnesis hanya boleh dilakukan dengan penuh
hati-hati. Kesimpulan VeR adalah pendapat dokter pembuatnya yang bebas, tidak terikat oleh pengaruh suatu pihak tertentu. Tetapi di
dalam kebebasannya tersebut juga terdapat pembatasan, yaitu pembatasan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, standar profesi dan
ketentuan hukum yang berlaku. Kesimpulan VeR harus dapat menjembatani antara temuan ilmiah dengan manfaatnya dalam
mendukung penegakan hukum. Kesimpulan bukanlah hanya resume hasil pemeriksaan, melainkan lebih ke arah interpretasi hasil
temuan dalam kerangka ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.
5. Penutup
Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat dengan mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan
atau dibuat dengan mengucapkan sumpah atau janji lebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan serta dibubuhi tanda tangan
dokter pembuat VeR.

Penentuan Derajat Luka
Salah satu yang harus diungkapkan dalam kesimpulan sebuah VeR perlukaan adalah derajat luka atau kualifikasi luka.Dari aspek
hukum, VeR dikatakan baik apabila substansi yang terdapat dalam VeR tersebut dapat memenuhi delik rumusan dalam KUHP.1
Penentuan derajat luka sangat tergantung pada latar belakang individual dokter seperti pengalaman, keterampilan, keikutsertaan dalam
pendidikan kedokteran berkelanjutan dan sebagainya.
Suatu perlukaan dapat menimbulkan dampak pada korban dari segi fisik, psikis, sosial dan pekerjaan, yang dapat timbul segera, dalam
jangka pendek, ataupun jangka panjang. Dampak perlukaan tersebut memegang peranan penting bagi hakim dalam menentukan
beratnya sanksi pidana yang harus dijatuhkan sesuai dengan rasa keadilan. Hukum pidana Indonesia mengenal delik penganiayaan yang
terdiri dari tiga tingkatan dengan hukuman yang berbeda yaitu penganiayaan ringan (pidana maksimum 3 bulan penjara), penganiayaan
(pidana maksimum 2 tahun 8 bulan), dan penganiayaan yang menimbulkan luka berat (pidana maksimum 5 tahun). Ketiga tingkatan
penganiayaan tersebut diatur dalam pasal 352 (1) KUHP untuk penganiayaan ringan, pasal 351 (1) KUHP untuk penganiayaan, dan
pasal 352 (2) KUHP untuk penganiayaan yang menimbulkan luka berat. Setiap kecederaan harus dikaitkan dengan ketiga pasal
tersebut. Untuk hal tersebut seorang dokter yang memeriksa cedera harus menyimpulkan dengan menggunakan Bahasa awam,
termasuk pasal mana kecederaan korban yang bersangkutan.
Rumusan hukum tentang penganiayaan ringan sebagaimana diatur dalam pasal 352 (1) KUHP menyatakan bahwa penganiayaan
yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai
penganiayaan ringan. Jadi bila luka pada seorang korban diharapkan dapat sembuh sempurna dan tidak menimbulkan penyakit atau
komplikasinya, maka luka tersebut dimasukkan ke dalam kategori tersebut.
Selanjutnya rumusan hukum tentang penganiayaan (sedang) sebagaimana diatur dalam pasal 351 (1) KUHP tidak menyatakan apapun
tentang penyakit. Sehingga bila kita memeriksa seorang korban dan didapati penyakit akibat kekerasan tersebut, maka korban
dimasukkan ke dalam kategori tersebut Akhirnya, rumusan hukum tentang penganiayaan yang menimbulkan luka berat diatur dalam
pasal 351 (2) KUHP yang menyatakan bahwa Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun. Luka berat itu sendiri telah diatur dalam pasal 90 KUHP secara limitatif. Sehingga bila kita
memeriksa seorang korban dan didapati salah satu luka sebagaimana dicantumkan dalam pasal 90 KUHP, maka korban tersebut
dimasukkan dalam kategori tersebut.

Luka berat menurut pasal 90 KUHP adalah :
jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut;
tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian;
kehilangan salah satu panca indera;
mendapat cacat berat;
menderita sakit lumpuh;
terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

KUMPULAN
PORTOFOLIO


Disusun oleh:
dr. Amelia Fitriati MAsputra

Pembimbing:
dr. Helen Morista Endryani
dr. Yuli Astutiandriani Palasara


INTERNSIP BALIKPAPAN
RST dr. R. Hardjanto
SEPTEMBER 2013 AGUSTUS 2014