Anda di halaman 1dari 9

Perhitungan Jumlah Bakteri

13RabuFEB 2013

POSTED BY ANITAMUINA IN LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
2 KOMENTAR
Bakteri dapat ditemukan di mana-mana, seperti di rongga mulut, sela-sela
gigi, tanah, sisa-sisa makanan yang sudah basi dan untuk memperolehnya,
biasanya dibiakkan di dalam cawan petri yang berisi nutrisi atau medium.
Koloni yang tumbuh pada media agar dapat dilihat secara visual dan dihitung.
Secara kuantitatif koloni bakteri dapat dihitung dengan cara menghitung
populasinya secara umum atau dengan kata lain menghitung seluruh sel
bakteri yang ada dalam media termasuk sel yang mati, dan menghitung sel
bakteri hidup dengan menggunakan teori pendekatan (dizzideepinsohard,
2008).
Menurut Jutono, dkk (1980) ada 2 cara perhitungan jumlah mikrobia yaitu
perhitungan secara langsung (direct method) dan secara tidak lengsung
(indirect method).
1. Perhitungan secara langsung
Perhitungan jumlah mikrobia secara langsung, dipakai untuk menentukan
jumlah mikrobia keseluruhan baik yang mati maupun yang hidup. Ada
beberapa cara perhitungan antara lain:
1. Menggunakan cara pengecatan dan pengamatan mikrospis
Pada cara ini mula-mula dibuat preparat mikroskopik pada gelas benda,
suspensi bahan atau biakan mikrobia yang telah diketahui vulumenya
diratakan di atas gelas benda pada suatu luas tertentu setelah itu preparat
dicat dan dihitung jumlah rata-rata sel tiap petak atau tiap bidang
pemandangan mikroskop. Luas bidang pemandangan mikroskop dihitung
dengan mengukur garis tengahnya. Jadi jumlah mikrobia yang terdapat pada
gelas benda seluruhnya dapat dihitung, sehingga dapat diperoleh jumlah
mikrobia tiap cc bahan atau cairan yang diperiksa (Jutono dkk, 1980).
1. Menggunakan filter membrane (miliphore filter)
Suspensi bahan mula-mula disaring sejumlah volume tertentu kemudian
disaring dengan filter membrane yang telah disterilkan terlebih dahulu.
Dengan menghitung jumlah sel rata-rata tiap kesatuan luas pada filter
membran dapat dihitung jumlah sel dari volume suspensi yang disaring
(Jutono dkk, 1980).
1. Menggunakan counting chamber
Perhitungan ini dapat menggunakan haemacytometer, Petroff-Hausser
Bacteria Counter, dan alat-alat lainnya yang sejenis. Dasar perhitungannya
ialah dengan menempatkan 1 tetes suspensi bahan atau biakan mikrobia
pada alat tersebut, ditutup dengan gelas penutup kemudian diamati dengan
mikroskop dengan perbesaran sesuai besar kecilnya mikrobia. Dengan
menentukan jumlah sel rata-rata tiap petak (ruangan) yang telah diketahui
volumenya dan alat tersebut dapat ditentukan jumlah sel mikrobia tiap cc
(Jutono dkk, 1980). Perhitungan jumlah organisme uniseluler dalam suspensi
dapat ditentukan secara mikroskopik dengan menghitung individu sel dalam
volume yangs angat kecil secara akurat. Seperti perhitungan yang biasanya
dilakukan dengan mikroskop khusus (slide) yang dikenal dengan counting
chamber. Counting chamber terdiri dari kotak-kotak teratur yang telah
diketahui areanya, yang disusun dari liquid film dimana telah diketahui
kedalamannya dan dapat dibedakan antara slide dan cover slip. Akibatnya
volume dari cairan yang dituangkan tiap kotak dengan pasti volumenya dapat
diketahui. Seperti perhitungan langsung yang dikenal dengan total cell
count merupakan perhitungan yang meliputi sel hidup dan sel yang tidak
hidup, sejak ini pada kasus bacteria yang tidak dibedakan dengan
pengamatan mikroskopik (Stainer, 1986).
2. Perhitungan secara tidak langsung
Perhitungan mikrobia secara tidak langsung, dipakai untuk menentukan
jumlah mikrobia keseluruhan baik yang mati maupun yang hidup atau hanya
menentukan jumlah mikrobia yang hidup saja. Untuk menentukan jumlah
mikrobia yang hidup dapat dilakukan setelah suspensi bahan atau biakan
mikrobia diencerkan beberapa kali dan ditumbuhkan dalam medium dengan
cara tertentu tergantung dari macamnya bahan dan sifat mikrobianya (Jutono
dkk, 1991).
Ada beberapa cara perhitungan antara lain:
1. Menggunakan sentrifuge
Caranya ialah 10 cc biakan cair mikrobia disentrifuge dengan menggunakan
sentrifuge yang biasa digunakan untuk menentukan jumlah butir-butir darah.
Kecapatan dan waktu sentrifugasi harus diperhatikan. Setelah ditentukan
volume mikrobia keseluruhan maka dapat dipakai untuk menentukan jumlah
sel-sel mikrobia tiap cc, yaitu dengan membagi volume mikrobia keseluruhan
dengan volume rata-rata tiap sel mikrobia (Suriawiria, 1985).
1. Berdasarkan kekeruhan
Dasar penentuan cara ini ialah jika seberkas sinar dilakukan pada suatu
suspensi mikrobia maka makin pekat (keruh) suspensi tersebut, makin besar
intensitas sinar yang diabsorbsi sehingga intensitas sinar yang diteruskan
makin kecil (Jutono dkk, 1980). Untuk perhitungan jumlah bakteri
berdasarkan kekeruhan digunakan alat-alat seperti photoelectric turbidimeter
electrophotometer, spectrophotometer, nephelometer, dan alat-alat lain yang
sejenis. Alat-alat ini menggunakan sinar monokromatik dengan panjang
gelombang tertentu (Dwijoseputro, 1990).
1. Menggunakan perhitungan elektronik (electronic counter)
Alat ini dapat untuk menentukan beribu-ribu sel tiap detik secaa tepat. Prinsip
kerjanya alat ini adanya gangguan-gangguan pada aliran ion-ion yang
bergerak diantara 2 elektroda. Penyumbatan sementara oleh sel mikrobia
pada pori sekat yang terdapat diantara kedua elektroda sehingga terputusnya
aliran listrik. Jumlah pemutusan aliran tiap satuan waktu dihubungkan dengan
kecepatan aliran cairan yang mengandung mikrobia adalah ukuran jumlah
mikrobia dalam cairan tersebut.
1. Berdasarkan analisa kimia
Cara ini didasarkan atas hasil analisa kimia sel-sel mikrobia. Makin banyak
sel-sel mikrobia, makin besar hasil analisa kimianya secara kuantitatif.
1. Berdasarkan berat kering
Terutama digunakan untuk penentuan jumlah jamur benang, misalnya dalam
industri mikrobiologi. Kenaikkan berat kering suatu mikrobia diiringi dengan
kenaikkan sintesa dan volume sel-sel dapat menentukan jumlah mikrobia
1. Menggunakan cara pengenceran
Cara ini dipakai untuk menentukan jumlah mikrobia yang hidup saja. Dasar
perhitungannya ialah mengencerkan sejumlah volume tertentu suatu suspensi
bahan atau biakan mikrobia secara bertingkat.
1. Menggunakan cara Most Probable Number (MPN)
Metode ini dilakukan pengenceran dengan beberapa kali ulangan, secara
matematik hasilnya dapat untuk menentukan kemungkinan besar jumlah
mikrobia yang terdapat dalam suspense.
1. Berdasarkan jumlah koloni (Plate count)
Cara ini yang paling umum digunakan untuk perhitungan jumlah mikrobia.
Dasarnya ialah membuat suatu seri pengenceran bahan dengan kelipatan 10
(Jutono dkk, 1980).
Menurut Jutono (1980), tidak semua jumlah bakteri dapat dihitung. Ada
beberapa syarat perhitungan yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Jumlah koloni tiap petridish antara 30-300 koloni, jika memang tidak ada
yang memenuhi syarat dipilih yang jumlahnya mendekati 300.
2. Tidak ada koloni yang menutup lebih besar dari setengah luas petridish,
koloni tersebut dikenal sebagai spreader.
3. Perbandingan jumlah bakteri dari hasil pengenceran yang bertururt-turut
antara pengenceran yang lebih besar dengan pengenceran sebelumnya,
jika sama atau lebih kecil dari 2 hasilnya dirata-rata, tetapi jika lebih
besar dari 2 yang dipakai jumlah mikrobia dari hasil pengenceran
sebelumnya.
4. Jika dengan ulangan setelah memenuhi syarat hasilnya dirata-rata.
Dalam perhitungan jumlah mikroorganisme ini seringkali digunakan
pengenceran. Pada pengenceran dengan menggunakan botol cairan terlebih
dahulu dikocok dengan baik sehingga kelompok sel dapat terpisah.
Pengenceran sel dapat membantu untuk memperoleh perhitungan jumlah
mikroorganisme yang benar. Namun pengenceran yang terlalu tinggi akan
menghasilkan lempengan agar dengan jumlah koloni yang umumnya relatif
rendah (Hadioetomo, 1990).
Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni yang terbentuk pada
cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana jumlah terbaik
adalah antara 30 sampai 300 sel mikrobia per ml, per gr, atau per cm
permukaan (Fardiaz, 1992). Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah
sehingga semakin banyak jumlah pengenceran yang dilakukan, makin sedikit
sedikit jumlah mikrobia, dimana suatu saat didapat hanya satu mikrobia pada
satu tabung. Inkubasi dilakukan selama 2 x 24 jam karena jumlah mikrobia
maksimal yang dapat dihitung, optimal setelah masa tersebut yaitu akhir
inkubasi. Selama masa inkubasi, sel yang masih hidup akan membentuk
koloni yang dapat dilihat langsung oleh mata (Waluyo, 2004).
Tabel 1. Hasil Perhitungan Bakteri secara Langsung
Suspensi bakteri Faktor pengenceran Jumlah bakteri
Tanah 10
-4
4,25 x 10
9

Susu 10
-3
9,95 x 10
11

Tabel 2. Perhitungan Jumlah Bakteri Tanah secara Tidak Langsung
Pengenceran
Koloni bakteri
Rata-
rata
Jumlah
bakteri Keterangan A B
10
-3
Spreader Spreader -

-
10
-4
36 Spreader
36 x
10
-4

36 x
10
4

Warna :
kuning,
putih
Bentuk
koloni :
irreguler,
sirkuler,
curled,
toruloid
10
-5
5 66
66 x
10
-5


Warna :
putih susu
Bentuk
koloni :
sirkuler,
rhizoid,
amoeboid,
irreguler
10
-6
80 300
80 x
10
-6


Warna :
krem
Bentuk
koloid :
sirkuler
Tabel 3. Perhitungan Jumlah Bakteri Susu secara Tidak Langsung
Pengenceran
Koloni bakteri
Rata-
rata
Jumlah
bakteri Keterangan A B
10
-3
56 Spreader
56 x
10
-3

56 x
10
3

Warna : putih
susu & krem
Bentuk koloni
: rhizoid,
irreguler,
myceloid
10
-4
76 Spreader
76 x
10
-4


Warna : putih
susu
Bentuk koloni
: sirkulair
10
-5
11 Spreader -

Warna : putih
susu
Bentuk koloni
: circular
10
-6
107 10
107
x 10
-6


Warna : krem
Bentuk koloid
: circular &
rhizoid
Perhitungan jumlah bakteri secara langsung digunakan rumus jumlah rata-
rata bakteri dihitung dengan hand counter atau koloni counter, angka 25
diperoleh dari banyaknya petak dalam hemositometer yakni perkalian antara
panjang dan lebarnya 5 x 5, sedangkan untuk faktor pengenceran adalah
merupakan pengenceran yang digunakan saat percobaan. Pada perhitungan
bakteri secara langsung menggunakan pengenceran bakteri 10
-3
untuk bakteri
susu atau 10
-4
untuk bakteri tanah karena dalam pengenceran tersebut bakteri
yang ada dalam medium dapat dihitung, populasinya tidak padat dan juga
tidak sedikit. Populasi bakteri yang padat dapat mempersulit perhitungan
karena bakteri yang ada tumpang tindih dan polulasi yang sedikit kurang
mewakili jumlah bakteri yang ada secara keseluruhan. Jadi pengenceran
tersebut antara suspensi yang diambil dari pengenceran terdahulu untuk
diencerkan kembali, jumlah bakteri yang ada lebih memencar satu sama lain
dan mudah dihitung. Bakteri susu dengan pengenceran 10
-3
setelah
penghitungan didapat hasil 9,95 x 10
11
mm
3
dan untuk bakteri tanah dengan
pengenceran 10
-4
dengan penghitungan didapat hasil 4,25 x 10
9
mm
3
.
Perhitungan jumlah bakteri secara langsung memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihannya, adalah waktunya yang digunakan singkat,
penghitungannya lebih mudah, tidak membutuhkan bahan yang banyak.
Sedangkan kekurangannya adalah tidak dapat membedakan sel hidup dan
mati dan sel yang berukuran kecil sulit dilihat dengan mikroskop.
Perhitungan jumlah bakteri secara tidak langsung dilakukan dengan metode
plate count, yakni hanya sel yang hidup yang dihitung dalam metode ini.
Prinsipnya yaitu pengenceran dalam tiap konsentrasi diinokulasikan dalam
medium agar dipetri dengan cara spread. Perhitungan jumlah bakteri ini
digunakan pengenceran 10
-3
,10
-4
,10
-5
,10
-6
lalu dibandingkan jumlah koloni dari
tiap konsentrasi pengenceran sehingga dengan mengikuti perhitungan dan
persyaratan plate count akan didapatkan jumlah bakteri yang ada. Beberapa
syarat perhitungan dengan menggunakan metode ini adalah :
1. Tidak ada spreader.
2. Jumlah koloni mulai dari 30-300.
3. Perbandingan jumlah bakteri antara pengenceran yang lebih besar dengan
pengenceran yang lebih kecil :
A. Jika 2, hasil perhitungan dirata-rata.
B. Jika 2, dipakai hasil pengenceran yang sebelumnya.
Dari hasil perhitungan jumlah bakteri tanah secara tidak langsung, didapatkan
bahwa pada pengenceran 10
-3
koloni bakteri A dan koloni B mengalami
spreader. Pada pengenceran 10
-4
koloni A berjumlah 36 sedangkan koloni B
spreader sehingga diperoleh jumlah bakteri sebanyak 36 x 10
4
dengan
berwarna putih dan bentuk koloni irreguler, sirkuler, curled, dan toruloid.
Pada pengenceran 10
-5
koloni A berjumlah 5 dan koloni B berjumlah 66 koloni
yang berwarna putih susu dan berbentuk sirkuler, rhizoid, amoeboid,
irreguler. Pada pengenceran 10
-6
koloni A berjumlah 80 dan koloni B
berjumlah 300 yang berwarna krem dan berbentuk sirkuler. Pada
perhitungan jumlah bakteri susu secara tidak langsung, didapatkan bahwa
pada pengenceran 10
-3
koloni bakteri A berjumlah 56 sedangkan bakteri
koloni B mengalami spreader tetapi diperoleh jumlah bakteri sebanyak 56 x
10
3
dengan warna koloni putih susu dan krem dan berbentuk rhizoid, irreguler
dan myceloid.

Pada pengenceran 10
-4
pada petridish didapat jumlah koloni
bakteri A sebanyak 76 sedangkan koloni B mengalami spreader yang
berwarna putih susu dan berbentuk circulair. Pada pengenceran 10
-5
koloni A
berjumlah 11 dan koloni B mengalami spreader dengan warna putih susu
berbentuk circular. Pada koloni A jumlah koloni sebanyak 107 dan koloni B
berjumlah 10 yang berwarna krem dan berbentuk circular dan rhizoid.
Perhitungan jumlah bakteri secara tidak langsung memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihannya adalah dapat digunakan untuk isolasi dan
identifikasi bakteri, bakteri yang dihitung adalah bakteri yang hidup.
Sedangkan kekurangannya adalah perhitungannya kurang akurat karena ada
kemungkinan beberapa sel bertumpuk, ada kemungkinan terjadi spreader,
waktu yang dibutuhkan cukup lama, bahan yang digunakan relatif banyak.
Pada percobaan ini spreader terjadi karena pengenceran suspensi tanah yang
kurang encer sehingga bakteri yang terikut masih sangat banyak sehingga
tidak bisa dihitung dan harus diencerkan lagi. Selain faktor pengenceran,
kualitas dari bahan juga dapat menyebabkan spreader, kualitas bahan yang
jelek dapat menyebabkan banyaknya mikrobia yang ada sehingga karena
faktor pengencerannya kurang bakteri yang diinokulasikan ke dalam petridish
menjadi bertumpuk sehingga tidak dapat dihitung jumlahnya dan mengalami
spreader.
Perhitungan jumlah bakteri secara langsung maupun secara tidak langsung
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni :
1. Faktor pengenceran, semakin tinggi pengenceran suatu suspensi maka
akan semakin sedikit jumlah bakteri yang dikandung atau tidak ada sama
sekali
2. Temperatur dan pH, berkaitan dengan pertumbuhan bakteri pada suhu
dan pH optimum
3. Komposisi medium, medium yang digunakan untuk penanaman harus
sesuai dengan bakteri yang akan dihitung
4. Segi teknis yaitu Alat yang digunakan dan tingkat ketelitian dalam
penghitungan.
DAFTAR PUSTAKA
Dizzideepinsohard. 2008. Laporan Praktikum Mikrobiologi
Farmasi.http://anitamanulang.blog.com/laporan-praktikum-mikrobiologi-
farmasi.html/27 Maret 2011.
Dwidjoseputro, D. 1990. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta
Fardiaz, S. 1992. Mikirobiologi Pangan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Jutono, J., Soedarsono, S., Hartadi, S., Kabirun, S., Suhadi, D., Soesanto.
1980. Pedoman Praktikum Mikrobiologi Umum. Departemen Mikrobiologi
Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.
Hadioetomo, R. 1990. Mikrobiologi Dasar-Dasar Dalam Praktek. Gramedia.
Jakarta.
Stainer, R.Y. 1986. The Microbial World. Prentice Hall. Englewood Cliffs. New
Jersey.
Suriawiria, U. 1985. Pengantar Mikrobiologi Umum. Penerbit Angkasa.
Bandung.
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang.