Anda di halaman 1dari 38

1

SKENARIO 3
PERUT KEMBUNG
Seorang pria, 40 tahun, datang ke dokter dengan keluhan perut kembung disertai dengan
muntah, nyeri perut, tidak bisa buang ingin dan tidak bisa buang air besar sejak 3 hari yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik terlihat distensi abdomen, pemeriksaan colok dubur didapatkan
tonus sphincter ani baik, ampula kolaps, serta tidak di temukan feses, lender dan darah. Untuk
memastikan diagnosis dilakukan pemeriksaan radiologi foto polos abdomen dan BNO 3 posisi.
Kemudian dokter merencanakan untuk melakukan tindakan operasi. Pasien bersedia dilakukan
tindakan operasi karna tidak bertentangan dengan ajaran islam.






















2

Kata Sulit:
1. Foto polos abdomen: foto di daerah abdomen untuk melihat daerah gastrointestinal track.
2. Distensi abdomen: proses peningkatan tekanan abdominal sehingga menekan dinding
perut.
3. Ampula kolaps: kolaps nya reseptor untuk equilibrium dinamis
4. BNO: prosedur pemeriksaan radiografi pada pemeriksaan abdomen.
5. Tonus sphincter ani: kekuatan kontraksi m. sphincter ani
Pertanyaan
1. Mengapa tidak bisa buang angin dan buang air besar?
2. Mengapa terjadi distensi abdomen?
3. Mengapa ampula kolaps?
4. Mengapa penegakan diagnosis harus dengan foto polos abdomen?
5. Mengapa di lakukan operasi?
6. Mengapa pasien bisa kembung dan disertai muntah?
7. Mengapa dilakukan BNO 3 posisi?
8. Mengapa dilakukan pemeriksaan colok dubur?
Jawaban
1. Karena ada sumbatan atau obstruksi di GIT menyebabkan makanan dan udara hasil
penguraian makanan tersebut tidak bisa keluar sehingga tidak bisa buang angina dan
buang air besar
2. Karena terjadi akumulasi cairan dan gas di proksimal obstruksi.
3. Karna terjadi obstruksi jadi ampula tidak digunakan sehingga kolaps
4. Karena bertujuan untuk melihat ada tidak nya kelainan pada GIT, khususnya untuk
melihat ada tidaknya udara.
5. Karna ada obstruksi dan mengganggu aktivitas seperti tidak bisa BAB sehingga di
lakukan operasi.
6. Karena ada obstruksi di GIT menyebabkan udara di GIT tidak bisa keluar sehingga
kembung kemudian gaster meregang dan merangsang n.vagus sehingga muntah.
7. Karena bertujuan untuk melihat ada tidak nya kelainan pada GIT, khususnya untuk
melihat ada tidaknya udara. BNO 3 posisi yaitu pada abdomen AP supine, abdomen AP
setengah duduk, dan abdomen LLD.
8. Untuk mengetahui ada tidak nya feses.







3

Hipotesis
Hernia
Adhesi
Intususepsi
Bolus ascaris
Batu empedu
Volvulus
Pasca operasi
Tumor
Benda asing, dll


Obstruksi akumulasi cairan dan gas di bagian proksimal obstruksi
Bagian atas obstruksi bagian bawah obstruksi

Distensi abdomen ampula kolaps


n.vagus terangsang


muntah








4

SASARAN BELAJAR
LI 1. Memahami dan menjelaskan saluran gastrointestinal bawah
LO 1.1. makroskopis
LO 1.2. mikroskopis
LI 2. Memahami dan menjelaskan obstruksi ileus
LO 2.1. definisi
LO 2.2. etiologi
LO 2.3. klasifikasi
LO 2.4. patofisiologi
LO 2.5. manifestasi
LO 2.6. pemeriksaan
LO 2.7. diagnosis dan diagnosis banding
LO 2.8. penatalaksanaan
LO 2.9. komplikasi
LO 2.10. pencegahan
LO 2.11. prognosis
LO 2.12. epidemiologi
LI 3. Memahami dan menjelaskan operasi menurut pandangan islam












5

LI 1. Memahami dan menjelaskan saluran gastrointestinal bawah
LO 1.1. makroskopis
USUS HALUS
A. DUODENUM
Panjangnya 12 jari ataun 25 cm, melengkung seperti huruf C
Dibagi menjadi 3 bagian :
- Pars superior duodeni
- Pars descendens duodeni
- Pars inferior duodeni, dapat dibedakan : pars horizontalis & ascendens
Lengkung antara pars superior dan descendens duodeni disebut flaxura duodeni
superior
Lengkung antara pars descendens dan inferior duodenia disebut flexurs duodeni
inferior
Permulaan duodenum yang melebar disebut bulbus duodeni
Akhir duodenum disebut flexura duodenojejunalis
Pada duodenum akan bermuara :
- Ductus pancreaticus accessories/minor (Santorini, tidak selalu ada) dan letaknya
lebih ke oral. Bagiannya yang menonjol disebut papilla duodeni minor
- Ductus pancreaticus major (Wirsungi) serta ductus choledochus letaknya lebih ke
anal. Bagiannya yang menonjol disebut papilla duodeni major
- Papilla yang meluas ke cranial sebagai plica longitudinalis duodeni
- Di dalam dinding papilla duodeni major terdapat suatu rongga disebut ampulla
yang dindingnya terdapat suatu otot yaotu m.sphincter Oddi, yang melingkar. Bila
berkontraksi dapat menutup muara bersama dutus tersebut.

www.imaios.com

6



B. JEJUNUM DAN ILEUM
Terletak pada region umbilikalis
2/3 proximal usus halus merupakan jejunum, 3/5 distal merupakan ileum.
Diameter jejunum cenderung lebih besar daripada ileum
Mesentrium jejunum cenderung lebih tebal daripada ileum
Ciri ileum :
- arcade lebih banyak tingkatnya,
- vasa recta lebih banyak,
- plica sirkulares lebih jarang, dan
- ukuran lebih kecil
Ciri Jejunum :
- Arcade lebih sedikit tingkatannya
- Vasa cecta lebih banyak
- Plica sirkulares lebih padat
- Ukuran lebih besar
Arteriae : berasal dari cabang A.mesentrica superior, cabang-cabangnya membentuk
anyaman yaitu arcade jejunalis dan ilei
A.ileocolica menuju bagian bawah ileum
Vena : senama dengan arterinya
Inervasi : simpatis dan parasimpatis berasal dari NX dari plexus mesentericus
superior



www.studyblue.com

USUS BESAR (COLON)
Dapat dibagi menjadi :
Colon ascenden: sebelah kanan, naik dari caudal ke cranial, dimulai dari caecum (usus
buntu). Pada ujung caecum bermuara bangunan kecil berupa pipa menyerupai cacing
disebut processus (appendix) vermiformis
7

Colon transversum: berjalan dari kanan ke kiri. menyilang abdomen di regio umbilicalis
dari flexura coli dextra sampai flexura coli sinistra. Colon transversum membentuk
lengkungan berbentuk huruf U. Pada saat colon transversum mencapai lien akan
melengkung ke bawah membentuk flexura coli sinistra untuk menjadi colon descendens.
Colon descenden: berjalan dari cranial ke caudal, taenia libera terletak di ventra, taenia
omentalis di lateral, dan taenia mesocolica di medial. Terbentang dari flexura coli sinistra
sampai apertura pelvis superior. Colon descendens menempati kuadran kiri atas dan
bawah. Colon descendens diperdarahi oleh arteri dan vena mesenterica inferior dan
dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis nervi splanchnici pelvici melalui plexus
mesenterica inferior.
Colon sigmoideum: berbentuk seperti huruf S. Mulai dari apertura pelvis superior dan
merupaka lanjutan colon descendens. Colon ini tergantung ke bawah ke dalam cavitas
pelvis dalam bentuk sebuah lengkung. Colon sigmoideum beralih ke rectum di depan os
sacrum. Diperdarahi oleh cabang dari arteri mesenterica inferior dan disarafi oleh saraf
simpatis dan parasimpatis dari plexus hypogastricus inferior.
pada kolon terdapat taenia :
- taenia mesocolica : perlekatan alat penggantung dibelakang
- taenia omentalis : perlekatan omentum majus di depan
- taenia libera : dinding kaudal tidak ada alat yang melekat
taenia ini, berkas stratum longitudinal karen alebih pendek dari stratum circulare,
mengakibatkan stratum circulare berlipat-lipat. Lipatan keluar disebut haustra dan lipatan
ke dalam disebut plica semilunaris
lekuk diantara haustra disebut incisura.
Pada colon ascendens, taenia libera terletak ventral , taenia omentalis terletak lateral dan
taenia mesocolica terletak medial
Colon descendens berjalan dari cranial ke caudal. Taenia libera terletak di ventral, taenia
omentalis di lateral dan taenia mesocolica di medial

CAECUM
- Pada region ileaca dextra
- Dibagian bawah terdapat juncture ileocolica tempat bermuaranya ileum
- Panjang sekitar 6 meter
- Dilengkapi valvula ileocolica yang terdiri dari labium superius dan inferius. Kedua
labium dibentuk oleh lipatan stratum circular eke ventral dan dorsal bersatu
membentuk frenulum.
- Disebelah oral lipatan, stratum circulare menebal dan membentuk suatu sfingter yang
mengatur masuknya isi usus ke dalam colon
- Terdapat appendix vermiformis, yaitu :
o Bentuk seperti cacing dengan panjang 8-13cm
o Ada beberapa tipe :
Post caecalis : dibelakang caecum
Descending atau pelvic type : dibewah ileum terminalis
Subcaecalis : dibawah caecum
Ante ilei : di depan ileum terminalis
Post ilei : di belakang ileum terminalis
o Terletak di region iliaca dextra
8

o Mempunyai penutup peritoneum yang lengkap pada bagian bawah mensenterium
usus halus, disebut dengan mesoappendix
o Pada orang hidup dapat ditemukan 2 tipe :
Mobile type : bisa berubah-ubah dapat ditemukan semua tipe
Fixed type : tetap dapat ditemukan bila ujung appendix pada peritoneum dan
type retrocaecal
o Cara pemeriksaan appendix vermiformis, yaitu dengan cara menarik garis antara
umbilicus dengan SIAS dextra kemudian dibagi tiga. Titik sepertiga lateral adalah
letak appendix disebut dengan titik Mc.Burney.




www.aboutcancer.com


RECTUM
9

Menempati bagian posterior cavitas pelvis superior dan merupakan lanjutan colon sigmoideum
dan berjalan ke bawah turun di depan os sacrum, meninggalkan pelvis dengan menembus
diaphragma pelvis. Melanjutkan diri sebagai canalis analis di dalam perineum.



id.medicine.ucsf.edu

PERDARAHAN
ARTERI
Aorta abdominalis bercabang menjadi :
1. A.coeliaca
a. A. gastric sinistra
b. A.lienalis
c. A. hepatica communis
- A. hepatica propria
- A. gastric dextra
- A. gastroduodenalis :
A. gastroduodenalis dextra
A. pancreaticoduodenalis superior (memperdarahi duodenum superior dan
caput pancreas bagian atas)
2. A. mesenterica superior
a. A. colica media (ke cranial di sebelah ventral pancreas masuk ke dalam mesocolon
transversum 2/3 proximal menuju ke colon transversum dan memperdarahinya
b. A. pancreaticoduodenalis inferior (memperdarahi pancreas dan duodenum)
c. A. colica dextra (member cabang-cabang ke colon ascendens)
d. Aa. Jejenalis (masuk ked alma mesenterium member cabang-cabang ke jejunum,
jumlah 12-15, setiap arteri akan membelah menjadi dua dan bersatu dengan arteri
yang berdekatan membentuk arcade, kemudia bercabang lagi dan bersatu membentuk
arcade 2,3,4)
e. A. ileocolica (pergi ke kanan caudal member cabang ke colon ascendens dan ileum)
- Ramus superior (beranastomosis dengan A.colica dextra)
- Ramus inferior :
A. caecalis anterior
10

A. caecalis posterior, bercabang lagi menjadi A. appendicularis
3. A. renalis
4. A. mesenterica inferior
a. A. colica sinistra (pergi ke kiri dan member cabang-cabang ke ramus ascendens : 1/3
distal colon transversum, flexura coli sinistra, ramus descendens memperdarahi
bagian atas colon descendens)
b. A. sigmoidea (member cabang-cabang ke colon descendens bagian bawah dan colon
sigmoideum)
c. A. hemorrhoidalis superior (rectalis superior) (memberi cabang-cabang ke dorsal
rectum dan anus)
Cabang-cabang a. colica media, a. colica dextra, aa. Jejenalis, aa.ileae, a. colica sinistra
dan a. sigmoidea berhubungan satu sama lain menjadi A.marginalis (Drummon),
sehingga terjadi lengkung-lengkung disebut arcades

VENA
1) V. mesenterica inferior
2) V. mesenterica superior : menerima darah balik dari :
- V. ileocolica
- Vv. Jejenalis
- Vv. Pancreaticoduodenalis (bersatu dulu dengan v. gastroepiploica dextra ke v.
mesenterica superior)
- V. gastroepiploica dextra
- Vv. Ileae
- V. colica dextra
- V. colica media
3) V. lienalis (bersatu dengan v. mesenterica superior menjadi V.portae)

PERSARAFAN
Oleh saraf otonom, yaitu :
a. Simpatis
Dikenal sepasang n.Splachnicus major dan minor dextra dan sinistra. Melewati crus
media dan intermedia pars lumbalis diafragmatica yang berpangkal di truncus
coeliacus
Serabut postganglionnya mengikuti a.mesenterica superior serta cabang-cabangnya
dan dari chorda posterior membentuk plexus mesentericus superior
Plexus mesentericus inferior di bentuk oleh neurit-neurit sel-sel yang ada di dalam
ganglion mesentericum inferius serta serabut-serabut rr.Visceralis plexus pudenda
Sifat simpatis efferent yang membawa impuls yang menyebabkan penghambatan
sekresi kelenjar, vasokonstriksi pembuluh darah, relaksasi pada otot-otot dinding
vesica felea, ventriculus dan usus.
b. Parasimpatis
N. vagus (X) sinistra
N.Vagus (X) dextra
- Menembus diafragma di belakang esophagus (chorda posterior)
11

- Menuju langsung ke pangkal truncus coeliacus dan plexus coeliacus untuk
menginervasi : intestinum tenue dan crassum, gaster, 2/3 colon transversum,
lien, pancreas, hepar
- 1/3 lateral colon transversum, colon desendens, colon sigmoid diinervasi oleh
sacral 2,3,4 (pusat parasimpatis)

LI 1.2. mikroskopis
Dinding usus halus dibagi kedalam empat lapisan :
1. Tunica Serosa. Tunica serosa atau lapisan peritoneum, tak lengkap di atas duodenuma,
hampir lengkap di dalam usus halus mesenterica, kekecualian pada sebagian kecil, tempat
lembaran visera dan mesenterica peritoneum bersatu pada tepi usus.
2. Tunica Muscularis. Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunica muscularis usus
halus. Ia paling tebal di dalam duodenum dan berkurang tebalnya ke arah distal. Lapisan
luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum circulare. Yang terakhir
membentuk massa dinding usus. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe
terletak diantara kedua lapisan otot.
3. Tela Submucosa. Tela submucosa terdiri dari dari jaringan ikat longgar yang terletak
diantara tunica muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak di
bawah mukosa. Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh
limfe. Di samping itu, di sini ditemukan neuroplexus meissner.
4. Tunica Mucosa. Tunica mucosa usus halus, kecuali pars superior duodenum, tersusun dalam
lipatan sirkular tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Masing-masing
lipatan ini ditutup dengan tonjolan, villi.

Usus halus ditandai oleh adanya tiga struktur yang sangat menambah luas permukaan dan
membantu fungsi absorpsi yang merupakan fungsi utamanya:
1. Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang dinamakan
valvula koniventes (lipatan kerckringi) yang menonjol ke dalam lumen sekitar 3 ampai 10
mm. Lipatan-lipatan ini nyata pada duodenum dan jejenum dan menghilang dekat
pertengahan ileum. Adanya lipatan-lipatan ini menyerupai bulu pada radiogram.
2. Vili merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya sekitar 4 atau
5 juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Villi panjangnya 0,5 sampai 1 mm (dapat dilihat
dengan mata telanjang) dan menyebabkan gambaran mukosa menyerupai beludru.
3. Mikrovili merupakan tonjolan menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 pada
permukaan luar setiap villus. Mikrovilli terlihat dengan mikroskop elektron dan tampak
sebagai brush border pada mikroskop cahaya.

Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya. Akan tetapi,
ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja. Lapisan otot longitudinal usus besar
tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia koli. Taenia bersatu
pada sigmoid distal, dengan demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang
lengkap. Panjang taenia lebih pendek daripada usus, hal ini menyebabkan usus tertarik dan
berkerut membentuk kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat di
12

sepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus
halus dan tidak mengandung villi atau rugae. Kriptus lieberkn (kelenjar intestinal) terletak
lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus

DUODENUM
Usus 12 jari, panjang 25 cm
Epitel berlapis sel silindris dengan
mikrovili membentuk striated
borders
Kel Brunner nyata, didalam sub
mukosa
Di lamina propria mengandung
kelenjar intestinal
Lamina propria juga mengandung
serat serat jaringan ikat halus dengan
sel retikulum , jaringan limfoid difus
dan atau limfonoduli
Banyak tonjolan mirip jari yang disebut vili
atlas di fiore histologi
Serosa tak sempurna, sebagian diganti adventisia
Tempat bermuara duktus empedu dan pankreas

JEJENUM-ILEUM
Tidak ada kelenjar duodenal ( brunner ) yang hanya terbatas pada bagian atas duodenum
Dibagian akhir ileum terdapat kumpulan plaque peyeri dengan interval tertentu
Didalam lumen terdapat vilus
Epitel berlapis silindris dengan mikrovili dan sel goblet
Tampak sebuah limfonodulus meluas dari lamina propria mukosa ke dalam submukosa ,
menerobos mukosa muskularis disekitarnya
Villi jari paling besar
Central lacteal berkembang sempurna, absorbsi maksimal
Sel sel ganglion parasimpatis pleksus mienterikus terlihat didalam jaringan ikat diantara
lapisan otot polos sirkular (dalam) dan longitudinal (luar) muskularis eksterna
Di ileum terdapat sel khusus yang berfungsi untuk transport antigen dari lumen usus ke
lapisan bawah folikel limfoid, disebut Epitel asosiasi folikel (FAE)





13





Verasika.blogspot.com









Eleshmeraa.blogspot.com
USUS BESAR (KOLON DAN MESENTRIUM)
Kolon memiliki lapisan epitel,jaringan ikat, dan otot polos pada dindingnya seoerti pada
usus halus
Di mukosa terdiri atas sel epitel selapis silindris, kelenjar intestinal , lamina propria dan
muskularis mukosa.
Di submukosa dibawahnya mengandung sel dan jaringan ikat berbagai pembuluh darah
dan saraf
Tampak kedua lapisan otot polos di muskularis eksterna.
Serosa (peritoneum viseral dan mesentrium menutupi daerah kolon transversum dan
kolon sigmoid.
Kolon tidak memiliki plika sirkularis dan vili, akibatnya permukaan lumen tampak licin.
Didalam lamina propria dan submukosa dinding kolon dapat dijumpai limfonduli
berbagai ukuran.
Lapisan sirkular dalam utuh , sedangkan lapisan longitudinal luar terbagi dalam tiga
untaian besar memanjang yang disebut taenia koli
Sel ganglion parasimpatis pleksus saraf mientericus (auerbach) terdapat diantara kedua
lapisan otot muskularis eksterna
Kolon transversum dan kolon sigmoid melekat ke tubuh oleh mesentrium
14

Serosa merupakan bagian terluar , menutupi kolon transversum dan kolon sigmoid , tetapi
kolon ascendens dan descendens letaknya retroperitoneal dan lapisal luar permukaan
posteriornya adalah tunika adventitia


blogkputih.wordpress.com
APPENDIKS
Epitel berlapis dengan banyak sel goblet
Lamina propria dibawahnya mengandung kelenjar intestinal (kripti lieberkuhn) dan
mukosa muskularis
Kelenjar intestinal pada appendiks kurang berkembang , lebih pendek dan berjauhan
letaknya
Jaringan limfoid difus didalam lamina propria sangat banyak dan sering terlihat sampai
ke submukosa
Submukosa sangat vaskuler dan banyak pembuluh darah
Sel sel ganglion parasimpatis pleksus mienterikus terlihat didalam jaringan ikat diantara
lapisan otot polos sirkular (dalam) dan longitudinal (luar) muskularis eksterna
Lapisan terluar adalah serosa
15


Atlas di Fiore histologi hal 207
REKTUM
Epitel permukaan lumen dilapisi sel sel silindris dengan sel goblet
Kelenjar intestinal , sel lemak dan sebaran limfonoduli didalam lamina propria serupa
dengan yang ada di kolon, namun kelenjar yang ada lebih panjang dan rapat dan terutama
terdiri atas sel goblet
Dibawah lamina propria terdapat mukosa muskularis otot polos
Sel sel ganglion parasimpatis pleksus mienterikus terlihat didalam jaringan ikat diantara
lapisan otot polos sirkular (dalam) dan longitudinal (luar) muskularis eksterna
Tunika adventitia menutupi bagian rektum dan serosa menutupi sisanya. Banyak
pembuluh darah terlihat di submukosa dan adventitia

ANAL CANAL
Mukosa berganti dengan kulit.
Tunika mukosa membentuk 5-10 lipatan longitudinal (columna analis Morgagni)
Columna Morgagni terbentuk dari lipatan mukosa, sub mukosa dan beberapa serat otot
polos
Ujung distal columna analis dihubungkan oleh lipatan mukosa berbentuk bulan sabit
kecil, valvula analis.
Valvula analis membentuk sejumlah resesus kecil disebut sinus analis atau Kriptus
Morgagni.
Valvula dan sinus analis membentuk garis bergelombang linea pectinata
Lapisan otot sirkular muskularis eksterna bertambah tebal di bagian atas liang anus dan
membentuk sfingter ani interna.
Dibagian bawah liang anus sfingter ani diganti oleh otot rangka yaitu sfingter ani
eksterna.
16

Diluar sfingter ini terdapat muskulus levator ani. Lapisan longitudinal muskularis
eksterna menipis dan hilang di jaringan
ikat sfingter ani eksterna.








Atlas histologi di Fiore
LI 2. Memahami dan menjelaskan obstruksi ileus
LO 2.1. definisi
Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan
ke distal atau anus karena ada sumbatan/hambatan yang disebabkan kelainan dalam lumen usus,
dinding usus atau luar usus yang menekan, atau kelainan vaskularisasi pada suatu segmen usus
yang menyebabkan nekrosis segmen usus tersebut..
LO 2.2. etiologi
1. Adhesi
Adhesi umumnya berasal dari rangsangan peritoneum akibat peritonitis setempat atau
umum, atau pasca operasi. Adhesi dapat berupa perlengketan dalam bentuk tunggal maupun
multiple dan dapat setempat maupun luas. Sering juga ditemukan adhesi yang berbentuk pita.
Pada operasi perlengketan dilepaskan dan pita dipotong agar pasase usus pulih kembali
Adhesi yang kambuh mungkin akan menjadi masalah besar. Setelah berulang 3x, resiko
kambuhnya menjadi 50%. Pada kasus seperti ini diadakan pendekatan konservatif karena
walaupun pembedahan akan memperbaiki pasase, obtruksi kemungkinan beasar akan
kambuh lagi dalam waktu singkat.

2. Hernia inkarserata
Obstruksi akibat hernia inkarserata pada anak dapat di kelola secara konseratif dengan
posisi tidur Trendelenburg. Jika tidak berhasil dalam waktu 8 jam, harus dilakukan
herniotomi segera. Bila terdapat suatu defek pada dinding rongga perut, maka akibat tekanan
intraabdominal yang meninggi, suatu alat tubuh dapat terdorong keluar melalui defek itu.
Misalnya : sebagian lambung dapat terdesak keluar ke rongga perut melalui suatu defek pada
diafragma masuk ke dalam rongga dada. Hernia yang tidak tampak dari luar disebut internal
hernia. Ditemukan lebih banyak ekterna hernia, yaitu yang tampak dari luar seperti hernia
umbilical, hernia inguinal, dan hernia femoral.
17

Jika liang hernia cukup besar maka isi usus dapat didorong masuk lagi dan disebut
reponibel, jika tidak dapat masuk lagi disebut incarcerata. Pada keadaan ini terjadi
bendungan pembuluh-pembuluh darah yang disebut dengan strangulasi. Akibat gangguan
sirkulasi darah akan terjadi kematian jaringan setempat yang disebut infark. Hernia yang
menunjukkan strangulasi pembuluh darah dan tanda-tanda incarcerata akan menimbulkan
gejala-gejala ileus.

3. Askariasis
Kebanyakan cacing askariasis hidup diusus halus bagian yeyenum, jumlahnya biasanya
mencapai puluhan hingga ratusan ekor. Obstruksi dapat terjadi di berbagai tempat diusus
halus, tetapi biasanya diileum terminal yang lumennya paling sempit. Cacing menyebabkan
terjadinya kontraksi local dinding usus yang disertai dengan reaksi radang setempat yang
tampak dipermukaan peritoneum.
Obstruksi usus oleh cacing askaris paling sering ditemukan pada anak karena hygiene
kurang sehingga infestasi cacing terjadi berulang. Lumen usus halus anak lebih sempit
disbanding usus halus orang dewasa, sedangkan ukuran cacing sama besar. Obstruksi
umumnya disebabkan oleh gumpalan padat yang terdiri atas sisa makanan dan puluhan ekor
cacing yang mati atau hampir mati akibat pemberian obat cacing.
Anak dapat menderita serangan kolik tanpa henti jika obstruksinya total. Terjadi muntah
sewaktu kolik, dan kadang keluar cacing dari mulut atau anus. Perut kembung, dan peristaltis
terlihat sewaktu kolik. Umumnya mengalami demam.
Pada pemeriksaan perut dapat diraba masa tumor yang berupa gumpalan cacing, masa
tidak berbatas jelas dan mungkin dapat digerakkan. Kadang, masa teraba seperti kantong
nelayang yang penuh cacing. Penderita biasanya mengeluh nyeri perut apa bila ditekan.

Parsial Lengkap
Penyebab Masa terdiri atas gumpalan
cacing yang dikompresi oleh
spasme usus, masih dapat dilalui
oleh gas dan cairan
Masa terdiri atas cacing yang mati
dan makanan, tidak dapat dilalui oleh
gas dan cairan
Keadaan umum Baik Sakit berat
Nyeri Kolik hilang timbul kolik
cacing
Kolik terus menerus
Muntah Pada permulaan Terus menerus
Pemeriksaan perut Masa diperut berubah tempat,
bentuk dan gerakan seperti
cacing, nyeri sedikit
Gembung, peristaltic terlihat, massa
sukar diraba, mungkin nyeri
setempat jelas
Foto RO Cacing mungkin kelihatan
sedikit gambaran obstruksi
dengan batas cairan
Gambaran obstruksi dengan batas
cairan banyak, cacing jarang terlihat

18




4. Invaginasi
Invaginasi atau intususepsi sering ditemukan pada anak dan agak jarang pada orang muda
dan dewasa. Invaginasi pada anak biasanya bersifat idiopatik. Kebanyakan ditemukan pada
usia 2-12 bulan, dan lebih banyak pada anak laki-laki. Serangan rhinitis atau infeksi saluran
nafas sering kali mendahului terjadinya invaginasi. Invaginasi umumnya berupa intususepsi
ileosekal yang masuk dan naik kekolon asendens serta mungkin sampai keluar dari rectum.
Invaginasi dapat menyebabkan nekrosis iskemik pada bagian usus yang masuk dengan
komplikasi perforasi dari peritonitis. Anamnesis memberikan gambaran yang cukup
mencurigakan bila bayi yang sehat dan eutrofis sekonyong-konyong mendapat serangan nyeri
perut. Anak tampak gelisah dan tidak dapat ditenangkan, sedangkan di antara serangan
biasanya anak tidur tenang karena sudah capai sekali.
Serangan klasik terdiri atas nyeri perut, gelisah sewaktu serangan kolik, biasanya keluar
lender campur darah per anum yang berasal dari intususeptum yang tertekan, terbendung, atau
mungkin sudah mengalami strangulasi. Anak biasanya muntah sewaktu serangan, dan pada
pemeriksaan perut dapat teraba masa yg biasanya memanjang dengan batas jelas seperti sosis.

Invaginatum yang masuk jauh dapat ditemukan pada pemeriksaan colok dubur, ujung
invaginatum teraba seperti porsio uterus pada pemeriksaan vaginal sehingga dinamai
pseudoporsio atau porsio semu. Jarang ditemukan invaginatum yang sampai keluar dari
rektum. Keadaan tersebut harus dibedakan dari prolapsus mukosa rektum, pada invaginasi
didapatkan invaginatum bebas dari dinding anus, sedangkan prolapsus berhubungan secara
sirkuler dengan dinding anus.
Disebut juga intussusceptio. Biasanya pada anak, bagian oral (proksimal) usus menerobos
masuk ke dalam rongga bagian anal (distal) seperti suatu teleskop. Ada beberapa jenis
bergantung pada lokasinya :
enterika : usus halus masuk ke dalam usus halus
entero-colics : ileum masuk ke dalam coecum atau colon, jenis ini paling sering
ditemukan
colica : usus besar masuk ke dalam usus besar
prolapsus ani : rektum keluar melalui anus
Bagian dalam disebut intussusceptium, sedang bagian luar yang melingkarinya
intussusceptum. Mesentrium yang mengandung pembuluh darah intussusceptium akan ikut
tertarik dan pembuluh darah akan terjepit hingga terjadi gejala-gejala ileus. Penyebab
terjadinya pada anak-anak adalah ketidakseimbangan kontraksi otot usus-usus, adanya
jaringan limfoid yang berlebihan (terutama sekitar perbatasan bagian ileo-cekal) dan
antiperistaltik kolon melawan peristaltik ileum. Pada orang dewasa disebabkan karena adanya
dinding tumor yang menonjol/bertangkai (polip) dan oleh gerakan peristaltik didorong ke
bagian distal dan dalam gerakan ini dinding usus ikut tertarik.

5. Volvulus
Kebanyakan volvulus dibagian ileum, didarahi arteri ileosekalis dan mudah mengalai
strangulasi. Gambaran klinis merupakan gambaran ileus obstruksi tinggi dengan atau tanpa
gejals dan tanda stangulasi.
19

Volvulus di usus halus agak jarang ditemukan. Disebut pula dengan torsi dan merupakan
pemutaran usus dengan mesenterium sebagai poros. Usus melilit/memutar sampai 180-360
derajat. Volvulus dapat disebabkan oleh mesentrium yang terlalu panjang, yang merupakan
kelainan kongenital pada usus halus, pada obstisipasi yang menahun, terutama pada sigmoid,
pada hernia inkarcerata, usus dalam kantong hernia menunjukkan tanda-tanda torsi; pada
tumor dalam dinding usus atau tumor dalam mesentrium. Akibat volvulus terjadi gejala-
gejala strangulasi pembuluh darah dengan infark dan gejala-gejala ileus.

6. Kelainan kongenital
Kelainan kongenital dapat berbetuk stenosis dan atresia. Setiap cacat bawaan sebagian
saluran cerna akan menyebabkan obstruksi setelah bayi mulai menyusui. Kelainan-kelainan
ini disebabkan oleh tidak sempurnanya kanalisasi saluran pencernaan dalam perkembangan
embrional dan keadaan ini dapat terjadi pada usus dimana saja.
Stenosis juga dapat terjadi akibat penekanan, misalnya oleh pankreas anulare atau oleh
atresia jenis membran dengan lubang ditengahnya.
Atresia ialah buntu sama sekali dengan tanda-tanda obstruksi total sedangkan stenosis
hanya merupakan penyempitan dengan gejala-gejala obstruksi yang tidak total. Atresia
adalah gangguan pasase usus yang kongenital dapat berbentuk stenosis dan atresia, yang
dapat disebabkan oleh kegagalan rekanalisasi pada waktu janin berusia 6-7 minggu. Kelainan
bawaan ini dapat juga disebabkan oleh gangguan aliran darah lokal pada sebahagian dinding
usus akibat desakan, invaginasi, volvulus, jepitan, atau perforasi usus masa janin. Daerah
usus yang tersering mengalaminya adalah usus halus.
Pankreas anulare menyebabkan obstruksi usus halus diduodenum bagian kedua. Gejala
dan tanda seperti itu juga ditemukan pada atresia atau malrotasi usus. Bayi yang mengalami
gangguan pasase lambung akibat kelainan bawaan memiliki perut buncit, tetapi buncit ini
tidak tegang, kecuali bila ada perforasi.

7. Radang kronik
Setiap radang kronik, terutama morbus Crohn, dapat menyebabkan obstruksi karena
udem, hipertrofi, dan fibrosis yang biasanya terjadi pada penyakit kronik.

8. Tumor
Proses keganasan terutama karsinoma ovarium, dan kolon dapat menyebabkan obstruksi
usus. Obstruksi ini terutama disebabkan oleh kumpulan metastasis diperitoneum atau di
mesenterium yang menekan usus.

9. Tumpukan sisa makanan
Ditemukan pada orang yang pernah mengalami gasterektomi, biasanya terjadi pada
daerah anastomosis. Dapat terjadi setelah makan banyak sekali buah-buahan yang
mengandung banyak serat sehingga terjadi obstruksi ileum terminal.

10. Kompresi duodenum oleh arteri
Arteri mesenterika superior dapat mengempa bagian ketiga duodenum atau pars
horizontalis. Duodenum dapat terjepit dalam sudut antara arteria tersebut dengan aorta.

11. Pankreas Annulare
20

Pankreas anulare menyebabkan obstruksi usus halus di duodenum bagian duodenum bagian
kedua. Gejala dan tanda sama seperti pada atresia atau malrotasi usus. Pankreas anulare
merupakan kelainan kongenital yang jarang ditemukan. Penyakit ini disebabkan oleh
kelainan pada perkembangan bakal pankreas sehingga tonjolan dorsal dan ventral melingkari
duodenum bagian kedua akibat tidak lengkapnya pergeseran bagian ventral. Keadaan ini
menyebabkan obstruksi duodenum dan kadang disertai atresia juga. Penyakit ini pada
awalnya sering tidak ditemukan gejala dan baru ditemukan pada saat dewasa.

12. Batu empedu yang masuk ke ileus
Inflamasi yang berat dari kantong empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu ke
duodenum atau usus halus yang menyebabkan batu empedu masuk ke traktus
gastrointestinal. Batu empedu yang besar dapat terjepit di usus halus, umumnya pada
bagian ileum terminal atau katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi

LO 2.3. klasifikasi

Ileus obstruksi di klasifikasikan menjadi:
1. ILEUS MEKANIK
a. Berdasarkan Lokasi Obstruksi
Letak Tinggi: Bila mengenai usus halus (dari gaster sampai ke ileum terminal)
Letak Rendah: Bila mengenai usus besar (dari ileum terminal sampai anus)
b. Berdasarkan sifat sumbatan
Partial obstruction: Terjadi sumbatan sebagian lumen.
Simple obstruction: terjadi sumbatan total yang tidak disertai terjepitnya
pembuluh darah. Biasanya terjadi pada obstruksi usus yang disebabkan oleh
tumor atau askaris.
Strangulated obstruction: Terjadi jepitan pembuluh darah sehingga terjadi
iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren yang ditandai
dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari jaringan gangren.
Biasanya terjadi pada obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi,
adhesi, dan volvulus.
21

c. Berdasarkan kecepatan timbul (speed of onset):
Akut: dalam hitungan jam
Kronik: dalam hitungan minggu
Kronik dengan serangan akut

2. ILEUS NEUROGENIK
a. Adinamik/Ileus Paralitik: Ileus timbul karena adanya lesi saraf (terjepit, peritonitis
umum) sehingga terjadi paralisis yang berakibat ileus paralitik.
b. Dinamik/Ileus Spastika: Ileus terjadi karena rangsangan saraf, keracunan, histeri,
neurasteni, sehingga timbul kenaikan rangsang terlalu kuat saraf parasimpatik di
tunika muskularis yang berkontraksi bersamaan dimana normalnya bergantian
yang berakibat spasme dan makanan tidak bisa menuju distal.

3. ILEUS VASCULAR
Ileus yang berhubungan dengan penyakit jantung, karena adanya thrombus/embolus pada
pembuluh darah sehingga timbul iskemik, gangren, nekrosis, bisa juga perforasi.

Berdasarkan penyebabnya ileus obstruktif dibedakan menjadi tiga kelompok:
a. Lesi-lesi intraluminal, misalnya fekalit, benda asing, bezoar, batu empedu.
b. Lesi-lesi intramural, misalnya malignansi atau inflamasi.
c. Lesi-lesi ekstramural, misalnya adhesi, hernia, volvulus atau intususepsi.
LO 2.4. patofisiologi

Perubahan patofisiologi utama pada ileus obstruktif dapat dilihat pada Gambar-2.3.
Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas
yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan
natrium dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran
cerna setiap hari, tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan
cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan
utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel
yang mengakibatkan syokhipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan
dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan
penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek local peregangan
usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai
absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk
menyebabkan bakteriemia (Price & Wilson, 1995).
Segera setelah timbulnya ileus obstruktif pada ileus obstruktif sederhana, distensi timbul tepat
proksimal dan menyebabkann muntah refleks. Setelah ia mereda, peristalsis melawan obstruksi
timbul dalam usaha mendorong isi usus melewatinya yang menyebabkan nyeri episodik kram
dengan masa relatif tanpa nyeri di antara episode. Gelombang peristaltik lebih sering, yang
timbul setiap 3 sampai 5 menit di dalam jejunum dan setiap 10 menit di didalam ileum. Aktivitas
peristaltik mendorong udara dan cairan melalui gelung usus, yang menyebabkan gambaran
auskultasi khas terdengar dalam ileus obstruktif. Dengan berlanjutnya obstruksi, maka aktivitas
peristaltik menjadi lebih jarang dan akhirnya tidak ada. Jika ileus obstruktif kontinu dan tidak
22

diterapi, maka kemudian timbul muntah dan mulainya tergantung atas tingkat obstruksi. Ileus
obstruktif usus halus menyebabkan muntahnya lebih dini dengan distensi usus relatif sedikit,
disertai kehilangan air, natrium, klorida dan kalium, kehilangan asam lambung dengan
konsentrasi ion hidrogennya yang tinggi menyebabkan alkalosis metabolik. Berbeda pada ileus
obstruktif usus besar, muntah bisa muncul lebih lambat (jika ada). Bila ia timbul, biasanya
kehilangan isotonik dengan plasma. Kehilangan cairan ekstrasel tersebut menyebabkan
penurunan volume intravascular, hemokonsentrasi dan oliguria atau anuria. Jika terapi tidak
diberikan dalam perjalanan klinik, maka dapat timbul azotemia, penurunan curah jantung,
hipotensi dan syok




























LO 2.5. manifestasi klinis
1. Obstruksi usus halus
a. Obstruksi sederhana
Pada obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak, yang
jarang menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri abdomen
bervariasi dan sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian atas.
Obstruksi bagian tengah atau distal menyebabkan kejang di daerah periumbilikal atau
nyeri yang sulit dijelaskan lokasinya. Kejang hilang timbul dengan adanya fase bebas
Ileus
Obstruktif
Akumulasi gas dari cairan didalam
lumen setelah proksimal dari letatak
obstruksi
Distens Proliferasi bakteri
yang berlangsung
cepat
Kehilangan H2O
dan elektrolit
Volume ECF Tekanan intralumen
Iskemia dinding usus
Iskemia dinding usus
Kehilangan cairan menuju ruang
peritonium
Pelepasan bakteri dan toksin dari usus yang nekrotik
ke dalam peritoneum dan sirkulasi sistemik
Peritonitis septikemia Syok
Hipovolemik
23

keluhan. Muntah akan timbul kemudian, waktunya bervariasi tergantung letak
sumbatan. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang dihasilkan semakin fekulen.
Obstipasi selalu terjadi terutama pada obstruksi komplit.
b. Obstruksi disertai proses strangulasi
Kira-kira sepertiga obstruksi dengan strangulasi tidak diperkirakan sebelum dilakukan
operasi. Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan
nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi atau
hernia.
Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi maka diperlukan tindakan operasi segera untuk
mencegah terjadinya nekrosis usus.

2. Obstruksi usus besar
Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat sumbatan
biasanya terasa di daerah epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus menunjukkan
adanya iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan timbul sesuai dengan
nyeri. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum obstruksi komplit. Muntah
timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal mampu mencegah refluks. Bila
terjadi refluks isi kolon terdorong ke dalam usus halus, akan tampak gangguan pada usus
halus. Muntah fekal akan terjadi kemudian. Pada keadaan valvula Bauchini yang paten,
terjadi distensi hebat dan sering mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya
paling tinggi dan dindingnya yang lebih tipis.
Beberapa gejala dapat diklasifikasikan menjadi 2 tipe: obstruksi usus halus (tinggi ataupun
rendah), dan obstruksi usus besar.
1. Obstruksi usus halus tinggi: biasanya diawali dengan muntah-muntah hebat, dan dapat
menyebabkan dehadrasi dengan cepat. Distensi biasanya minimal, dan pada pemeriksaan
radiografi, hanya dapat ditemukan sedikit dilatasi usus halus
2. Obstruksi usus halus rendah: gejala yang dominan adalah nyeri, ditambah dengan distensi
sentral. Biasanya tidak langsung terjadi muntah-muntah. Pada radiografi, terlihat dilatasi
multipel dari usus halus.
3. Obstruksi usus besar: distensi menjadi gejala yang dominan. Nyeri dirasakan tidak terlalu
hebat; muntah dan dehidrasi merupakan gejala klinis yang terjadi beberapa hari setelah
onset. Pada radiografi, terlihat dilatasi dari colon proximal dari tempat obstruksi. Usus
halus dapat dilatasi apabila terdapat valvula ileocaecal incompetent.
(Bailey & Love, 2013)
Terdapat 4 tanda kardinal gejala ileus obstruktif
Nyeri abdomen
Muntah
Distensi
Kegagalan buang air besar atau gas(konstipasi).
Gejala ileus obstruktif tersebut bervariasi tergantung kepada :
Lokasi obstruksi
Lamanya obstruksi
Penyebabnya
Ada atau tidaknya iskemia usus

24

Gejala selanjutnya yang bisa muncul termasuk dehidrasi, oliguria, syok hypovolemik,
pireksia, septikemia, penurunan respirasi dan peritonitis. Terhadap setiap penyakit yang dicurigai
ileus obstruktif, semua kemungkinan hernia harus diperiksa.
Nyeri abdomen biasanya agak tetap pada mulanya dan kemudian menjadi bersifat kolik.
Ia sekunder terhadap kontraksi peristaltik kuat pada dinding usus melawan obstruksi. Frekuensi
episode tergantung atas tingkat obstruksi, yang muncul setiap 4 sampai 5 menit dalam ileus
obstruktif usus halus, setiap 15 sampai 20 menit pada ileus obstruktif usus besar. Nyeri dari ileus
obstruktif usus halusl demikian biasanya terlokalisasi supraumbilikus di dalam abdomen,
sedangkan yang dari ileus obstruktif usus besar biasanya tampil dengan nyeri intaumbilikus.
Dengan berlalunya waktu, usus berdilatasi, motilitas menurun, sehingga gelombang peristaltik
menjadi jarang, sampai akhirnya berhenti. Pada saat ini nyeri mereda dan diganti oleh pegal
generalisata menetap di keseluruhan abdomen. Jika nyeri abdomen menjadi terlokalisasi baik,
parah, menetap dan tanpa remisi, maka ileus obstruksi strangulata harus dicurigai.
Muntah refleks ditemukan segera setelah mulainya ileus obstruksi yang memuntahkan
apapun makanan dan cairan yang terkandung, yang juga diikuti oleh cairan duodenum, yang
kebanyakan cairan empedu. Setelah ia mereda, maka muntah tergantung atas tingkat ileus
obstruktif. Jika ileus obstruktif usus halus, maka muntah terlihat dini dalam perjalanan dan terdiri
dari cairan jernih hijau atau kuning. Usus didekompresi dengan regurgitasi, sehingga tak terlihat
distensi. Jika ileus obstruktif usus besar, maka muntah timbul lambatdan setelah muncul distensi.
Muntahannya kental dan berbau busuk (fekulen) sebagai hasil pertumbuhan bakteri berlebihan
sekunder terhadap stagnasi. Karena panjang usus yang terisi dengan isi demikian, maka muntah
tidak mendekompresi total usus di atas obstruksi.
Dehidrasi umumnya terjadi pada ileus obstruktif usus halus yang disebabkan muntah
yanbg berulang-ulang dan pengendapan cairan. Hal ini menyebabkan kulit kering dan lidah
kering, pengisian aliran vena yang jelek dan mata gantung dengan oliguria. Nilai BUN dan
hematokrit meningkat memberikan gambaran polisitemia sekunder. Hipokalemia bukan
merupakan gejala yang sering pada ileus obstruktif sederhana. Peningkatan nilai potasium,
amilase atau laktat dehidrogenase di dalam serum dapat sebagai pertanda strangulasi, begitu juga
leukositosis atau leukopenia. Pada ileus obstruksi usus besar juga menimbulkan sakit kolik
abdomen yang sama kualitasnya dengan sakit ileus obstruktif usus halus, tetapi intensitasnya
lebih rendah. Keluhan rasa sakit kadang-kadang tidak ada pada penderita lanjut usia yang pandai
menahan nafsu. Muntah-muntah terjadi lambat, khususnya bila katup ileocaecal kompeten.
Muntah-muntah fekulen paradoks sangat jarang. Riwayat perubahan kebiasaan berdefekasi dan
darah dalam feses yang baru terjadi sering terjadi karena karsinoma dan divertikulitis adalah
penyebab yang paling sering. Konstipasi menjadi progresif, dan obstipasi dengan ketidakmapuan
mengeluarkan gas terjadi. Gejala-gejala akut dapat timbul setelah satu minggu
Distensi pada ileus obstruktif derajatnya tergantung kepada lokasi obsruksi dan makin
membesar bila semakin ke distal lokasinya. Gerkakan peristaltic terkadang dapat dilihat. Gejala
ini terlambat pada ileus obstruktif usus besar dan bisa minimal atau absen pada keadaan oklusi
pembuluh darah mesenterikus.
Konstipasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konstipasi absolut ( dimana feses dan gas
tidak bisa keluar) dan relatif (dimana hanya gas yang bisa keluar). Kegagalan mengerluarkan gas
dan feses per rektum juga suatu gambaran khas ileus obstruktif. Tetapi setelah timbul obstruksi,
usus distal terhadap titik ini harus mengeluarkan isinya sebelum terlihat obstipasi. Sehingga
dalam ileus obstruktif usus halus, usus dalam panjang bermakna dibiarkan tanpa terancam di
usus besar. Lewatnya isi usus dalam bagian usus besar ini memerlukan waktu, sehingga mungkin
25

tidak ada obstipasi, selama beberapa hari. Sebaliknya, jika ileus obstruktif usus besar, maka
obstipasi akan terlihat lebih dini. Dalam ileus obstuksi sebagian, diare merupakan gejala yang
ditampilkan pengganti obstipasi.
Dehidarasi umumnya terjadi pada ileus obstruktif usus halus yang disebabkan muntah yanbg
berulang-ulang dan pengendapan cairan. Hal ini menyebabkan kulit kering dan lidah kering,
pengisian aliran vena yang jelek dan mata gantung dengan oliguria. Nilai BUN dan hematokrit
meningkat memberikan gambaran polisitemia sekunder.
Hipokalemia bukan merupakan gejala yang sering pada ileus obstruktif sederhana.
Peningkatan nilai potasium, amilase atau laktat dehidrogenase di dalam serum dapat sebagai
pertanda strangulasi, begitu juga leukositosis atau leukopenia.
Pireksia di dalam ileus obstruktif dapat digunaklan sebagai petanda :
1. Mulainya terjadi iskemia
2. Perforasi usus
3. Inflamasi yang berhubungan denga penyakit obsruksi

Sangat penting untuk membedakan antara ileus obstruktif dengan strangulasi dengan
tanpa strangulasi, karena termasuk operasi emergensi. Penegakan diagnosa hanya tergantung
gejala kilnis. Sebagai catatan perlu diperhatikan:
1. Kehadiran syok menandakan iskemia yang sedang berlansung
2. Pada strangulasi yang mengancam, nyeri tidak pernah hilang total
3. Gejala-gejala biasanya muncul secara mendadak dan selalu berulang
4. Kemunculan dan adanya gejala nyeri tekan lokal merupakan tanda yang sangat
penting, tetapi, nyeri tekan yang tidak jelas memerlukan penilaian rutin.

Pada ileus obstruktif tanpa strangulasi kemungkinan bisa terdapat area dengan nyeri
tekan lokal pada tempat yang mengalami obstruksi; pada srangulasi selalu ada nyeri tekan lokal
yang berhubungan dengan kekakuan abdomen.
5. Nyeri tekan umum dan kehadiran kekakuan abdomen/rebound tenderness
menandakan perlunya laparotomy segera.
6. Pada kasus ileus obstruktif dimana nyeri tetap ada walaupun telah diterapi
konservatif, walaupun tanpa gejala-gejala di atas, strangulasi tetap harus didiagnosa.
Ketika srangulasi muncul pada hernia eksternal dimana benjolan tegang, lunak, ireponibel, tidak
hanya membesar karena reflek batuk dan benjolan semakin membesar.

Macam
ileus
Nyeri Usus Distensi Muntah
borborigmi
Bising usus Ketegangan
abdomen
Obstruksi
simple
tinggi
++
(kolik)
+ +++ Meningkat -
Obstruksi
simple
rendah
+++
(Kolik)
+++ +
Lambat,
fekal
Meningkat -
Obstruksi
strangulasi
++++
(terus-
menerus,
++ +++ Tak tentu
biasanya
meningkat
+
26

terlokalisir)
Paralitik + ++++ + Menurun -
Oklusi
vaskuler
+++++ +++ +++ Menurun +

LO 2.6. pemeriksaan
ANAMNESIS
Gejala Utama:
Nyeri-Kolik
o Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilikus
o Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik.
Muntah
o Stenosis Pilorus : Encer dan asam
o Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan
o Obstruksi kolon : onset muntah lama.
Perut Kembung (distensi)
Konstipasi
o Tidak ada defekasi
o Tidak ada flatus

PEMERIKSAAN
Inspeksi : Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi, yang mencakup kehilangan
turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen harus dilihat adanya distensi,
parut abdomen, hernia dan massa abdomen. Terkadang dapat dilihat gerakan peristaltik usus
yang bisa bekorelasi dengan mulainya nyeri kolik yang disertai mual dan muntah. Penderita
tampak gelisah dan menggeliat sewaktu serangan kolik (Sabiston, 1995; Sabara, 2007)

Palpasi : Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau
nyeri tekan, yang mencakup defance musculair involunter atau rebound dan
pembengkakan atau massa yang abnormal (Sabiston, 1995; Sabara, 2007).

Auskultasi :Pada ileus obstruktif pada auskultasi terdengar kehadiran episodik gemerincing
logam bernada tinggi dan gelora (rush) diantara masa tenang. Tetapi setelah beberapa hari
dalam perjalanan penyakit dan usus di atas telah berdilatasi, maka aktivitas peristaltik
(sehingga juga bising usus) bisa tidak ada atau menurun parah. Tidak adanya nyeri usus
bisa juga ditemukan dalam ileus paralitikus atau ileus obstruksi strangulata (Sabiston,
1995).
Bagian akhir yang diharuskan dari pemeriksaan adalah pemeriksaan rektum dan pelvis. Ia
bisa membangkitkan penemuan massa atau tumor serta tidak adanya feses di dalam kubah
rektum menggambarkan ileus obstruktif usus halus. Jika darah makroskopik atau feses
postif banyak ditemukan di dalam rektum, maka sangat mungkin bahwa ileus obstruktif
didasarkan atas lesi intrinsik di dalam usus. Apabila isi rektum menyemprot; penyakit
Hirdchprung.
27

Radiologi : Pemeriksaan sinar-X bisa sangat bermanfaat dalam mengkonfirmasi diagnosis ileus
obstruktif serta foto abdomen tegak dan berbaring harus yang pertama dibuat. Adanya
gelung usus terdistensi dengan batas udara-cairan dalam pola tangga pada film tegak sangat
menggambarkan ileus obstruksi sebagai diagnosis. Dalam ileus obstruktif usus besar
dengan katup ileocaecalis kompeten, maka distensi gas dalam kolon merupakan satu-satunya
gambaran penting. Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi-peritonitis.
Barium enema diindikasikan untuk invaginasi, dan endoskopi disarankan pada kecurigaan
volvulus
Dapat pula ditemukan :
1. Ileus obstruksi letak tinggi :
Dilatasi di proximal sumbatan (sumbatan paling distal di ileocecal junction)
dankolaps usus di bagian distal sumbatan.
Coil spring appearance
Herring bone appearance
Air fluid level yang pendek-pendek dan banyak (step ladder sign)

2. Ileus obstruksi letak rendah :
Gambaran sama seperti ileus obstruksi letak tinggi
Gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi abdomen Air
fluid level yang panjang-panjang di kolon. Sedangkan pada ileus paralitik gambaran
radiologi ditemukan dilatasi usus yang menyeluruhdari gaster sampai rectum.
ditemukan dilatasi usus yang menyeluruhdari gaster sampai rectum.








Gambar 2.10 Step ledder sign
(Nobie, 2009)

BNO 3 posisi : pemeriksaan radiografi pada daerah abdomen khususnya untuk melihat kelainan
yang ada di tractus digestivus. Posisi AP untuk melihat ada atau tidaknya penebalan / distensi
pada kolon yang disebabkan massa atau gas, posisi setengah duduk untuk menampakan udara
bebas di bawh diaphragm dan LLD untuk memperlihatkan air fluid level atau udara bebas
BNO 3 POSISI
1. ABDOMEN AP
Posisi Pasien : Pasien supine diatas meja pemeriksaan, MSP tubuh berada di pertengahan
meja. kedua tangan diatur lurus disamping tubuh dan kedua kaki diatur lurus.
Posisi Objek : aturlah kaset agar batas atas kaset pada diafragma, batas bawah pada simfisis
pubis dan crista iliaca berada dipertengahan. Pelvis TIDAK mengalami rotasi (terlihat dari
kedua SIAS berjarak sama dikedua sisinya)
28

CR : vertikal tegak lurus ke kaset, pusat sinar diatur sejajar dengan crista iliaca
FFD : 100 cm
Lakukan eksposi saat pasien tahan nafas setelah ekspirasi penuh (aba-abanya : buang
nafas.. tahan!!! atau tahan nafas!!! lalu ekspos.)


2. ABDOMEN SETENGAH DUDUK
Posisi Pasien : pasien duduk diatas meja pemeriksaan dengan menempatkan MSP tubuh
sejajar kaset, kedua tangan lurus disamping tubuh dan kedua kaki diatur lurus.
Posisi Objek : kaset berada dibelakang tubuh pasien, aturlah kaset dengan batas atas
procxypoid dan batas bawahnya simfisis pubis, pelvis dan shoulder TIDAK mengalami
rotasi.
CR : horisontal tegak lurus ke kaset, pusat sinar diatur sejajar dengan crista iliaca
(umbilikus)
FFD : 100 cm
jangan lupa memakai grid
Lakukan eksposi saat pasien tahan nafas setelah ekspirasi penuh (aba-abanya : buang
nafas.. tahan!!! atau tahan nafas!!! lalu ekspos.)
3. ABDOMEN LLD
Posisi Pasien : Pasien tidur miring ke sisi kiri, kedua genue ditekuk (difleksikan), kedua
tangan diletakkan ditas kepala
Posisi Objek : aturlah kaset agar batas atas kaset pada diafragma, batas bawah pada simfisis
pubis dan crista iliaca berada dipertengahan. kaset berada dibelakang punggung.
CR : horizontal sejajar kaset, pusat sinar diatur sejajar dengan crista iliaca.
FFD : 100 cm
Lakukan eksposi saat pasien tahan nafas setelah ekspirasi penuh (aba-abanya : buang
nafas.. tahan!!! atau tahan nafas!!! lalu ekspos.)
Laboratorium: Leukositosis, dengan pergeseran ke kiri, biasanya terjadi bila terdapat
strangulasi, tetapi hitung darah putih yang normal tidak menyampingkan strangulasi.
Peningkatan amilase serum kadang-kadang ditemukan pada semua bentuk ileus obstruktif,
khususnya jenis strangulasi.
PEMERIKSAAN LAIN
COLOK DUBUR
Umumnya dilakukan dengan sikap litotomi, dapat ditunjang dengan alat anoskop atau
sigmoidoskop. Posisi yang nyaman untuk pasien adalah posisi Sims, yaitu pasien tidur terlentang
pada sisi kiri dengan kedua lutut ditekuk. Buli-buli harus dikosongkan dahulu agar tidak terdapat
penilaian yang keliru.
1. Inspeksi pada daerah perianal dan sakrokoksigeal. Dapat dijumpai:
Lesi anal, dan perianal, seperti prolapse hemoroid, yang biasanya dijumpai pada arah
pukul 4,7,11 dan berwarna livid.
Prolaps rectum, dengan lipatan mukosa melingkar konsentris dan berwarna merah
29

Fisura ani, yang berupa lesi di anal-kanal yang nyeri bila ditekan biasanya dijumpai
arah pukul 6 dan disertai dengan skin tag
Kondoloma akuminata atau kondiloma lata
2. Memasukan jari telunjuk bersarung tangan yang telah dilumuri pelumas dengan lembut
melalui anus
Pada laki-laki dapat digunakan titik acuan berupa kelenjar prostat disebelah ventral
Pada perempuan titik acuan serviks uteri disebelah ventral
3. Penilaian terhadap:
Tonus sfingter ani: jari telunjuk terjepit menunjukan kontraksi sfingter ani
Reflex bulbokavernosus: memencet glans penis
Ampula rectum: menganga seperti pada peritonitis atau kolaps seperti pada ileus
obstruktif
Mukosa dinding rectum: dinilai dengan melingkar memutar jari telunjuk menurut arah
jarum jam dan melawan arah jarum jam. Hemoroid interna tidak teraba, polip rektuk
teraba licin lunak dan mungkin bertangkai, karsinoma teraba keras berbenjol dan tidak
teratur
LO 2.7. diagnosis dan diagnosis banding
Diagnosis ileus obstruktif tidak sulit, salah satu yang hampir selalu harus ditegakkan atas dasar
klinik dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, kepercayaan atas pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan radiologi harus dilihat sebagai konfirmasi dan bukan menunda mulainya terapi yang
segera.
Diagnosis Banding
Ileus obstruksi harus dibedakan dengan:
1. Carcinoid gastrointestinal
2. Penyakit Crohn
3. Intussuscepsi pada anak
4. Divertikulum Meckel
5. Ileus meconium
6. Volvulus
7. Infark Myocardial Akut
8. Malignansi, Tumor Ovarium
9. TBC Usus
10. Ileus paralitik

LO 2.8. penatalaksanaan

Non-Farmako
Pre medikasi operasi dan tindakan operasi
Bila telah diputuskan untuk tindakan operasi, ada 3 hal yang perlu:
a. Berapa lama obstruksinya sudah berlangsung.
b. Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya, baik sebagai akibat obstruksinya
maupun kondisi sebelum sakit.
c. Apakah ada risiko strangulasi.
30

Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. Pada obstruksi ileus yang ditolong dengan
cara operatif pada saat yang tepat, angka kematiannya adalah 1% pada 24 jam pertama,
sedangkan pada strangulasi angka kematian tersebut 31%. Pada umumnya dikenal 4 macam
(cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus.
a. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana
untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi,
jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
b. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang melewati bagian usus
yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
c. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya
pada Ca stadium lanjut.
d. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus
untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,
invaginasi strangulata, dan sebagainya.
Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik
oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca
sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi
usus dan anastomosis.

Persiapan-persiapan sebelum operasi:
1. Pemasangan pipa nasogastrik. Tujuannya adalah untuk mencegah muntah,
mengurangi aspirasi dan jangan sampai usus terus menerus meregang akibat
tertelannya udara (mencegah distensi abdomen).
2. Resusitasi cairan dan elektrolit. Bertujuan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang
hilang dan memperbaiki keadaan umum pasien.
3. Pemberian antibiotik, terutama jika terdapat strangulasi.

Operasi:

Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ vital berfungsi secara
memuaskan. Kalau obstruksi disebabkan karena hernia skrotalis, maka daerah tersebut harus
disayat. Kalau tidak terpaksa harus dilakukan penyayatan abdomen secara luas. Perincian
operatif tergantung dari penyebab obstruksi tersebut. Perlengketan dilepaskan atau bagian yang
mengalami obstruksi dibuang. Usus yang mengalami strangulasi dipotong.
Tergantung dari etiologi masing-masing :
Adhesi: pada operasi, perlengketan dilepaskan dan pita dipotong agar pasase usus pulih
kembali.
Hernia inkarserata: dapat dilakukan Herniotomi untuk membebaskan usus dari jepitan.
Neoplasma: operasi berupa pengangkatan tumor. Pada tumor jinak pasase usus harus
dipulihkan kembali, sedangkan pada tumor ganas sedapat mungkin dilakukan reseksi
radikal.
Askariasis: jika terdapat obstruksi lengkap, atau jika pengobatan konservatif tidak
berhasil dapat dilakukan operasi dengan jalan enterotomi untuk mengeluarkan cacing,
tapi apabila usus sudah robek, atau mengalami ganggren dilakukan reseksi bagian usus
yang bersangkutan.
31

Carsinoma Colon: operasi dengan jalan reseksi luas pada lesi dan limfatik regionalnya.
Apabila obstruksi mekanik jelas terjadi, maka diperlukan persiapan Colostomi atau
Sekostomi.
Divertikel: reseksi bagian colon yang mengandung divertikel dapat dikerjakansecara
elektif setelah divertikulitis menyembuh. Dapat dianjurkan untuk menempatkan
colostomy serendah mungkin, lebih disukai dalam colon desendens, atau colon
sigmoideum. Untuk memungkinkan evaluasi melalui colostomy dan mencegah
peradangan lebih lanjut pada tempat abses. Reseksi sigmoid biasanya dilakukan dengan
cara Hartman dengan colostomy sementara. Cara ini, dipilih untuk menghindari resiko
tinggi gangguan penyembuhan luka anastomosis yang dibuat primer dilingkungan
radang. Prosedur Hartman jauh lebih aman karena anastomosis baru dikerjakan setelah
rongga perut dan lapangan bedah bebas kontaminasi dan radang.
Volvulus: pada volvulus sekum dilakukan tindakan operatif yaitu melepaskan volvulus
yang terpelintir dengan melakukan dekompresi dengan sekostomi temporer, yang juga
berefek fiksasi terhadap sekum dengan cara adhesi.Jika sekum dapat hidup dan tidak
terdistensi tegang, maka detorsi dan fiksasi sekum di qudran bawah bisa dicapai.Pada
volvulus sigmoid jika tidak terdapat strangulasi, dapat dilakukan reposisi sigmoidoskopi.
Cara ini sering meniadakan volvulus dini yang diikuti oleh keluarnya flatus. Reposisi
sigmoidodkopi yang berhasil pada volvulus dapat dicapai sekitar 80% pasien. Jika
strangulasi ditemukan saat laparatomi, maka reseksi gelung sigmoideum yang
gangrenous yangdisertai dengan colostomi double barrel atau coloctomi ujung bersama
penutup tunggal rectum (kantong Hartman) harus dilakukan.
Intusussepsi: sebelum dilakukan tindakan operasi, dilakukan terlebih dahulu dengan
reduksi barium enema, jika tidak ada tanda obstruksi lanjut atau perforasi usus halus.Bila
reduksi dengan enema tidak dapat dilaksanakan maka dilakukan operasi berupa eksplorai
abdomen melalui suatu insisi transversal pada quadran kanan bawah. Intusussepsi
tersebut kemudian direduksi dengan kompressi retrograde dari intusussepsi secara hati-
hati. Reseksi usus diindikasikan bila usus tersebut tidak dapat direduksi atau usus tersebut
ganggren.Intervensi bedah untuk obstruksi usus pasca bedah harus direncanakan bila
pasien mempunyai bukti obstruksi gelung tertutup atau lengkap atau untuk kecurigaan
volvulus dengan gangren usus. Varian obstruksi usus pasca bedah yang lebih parah ini
bisa karena herniasi interna melalui cacat mesentrium atau karena perlekatan padat,
keadaan yang tak mungkin beresolusi spontan. Pada pasien demikian, tanpa peritonitis
dengan demam, nyeri tekan lepas dan leukositosis sering tampil.

Pasca Bedah:
Suatu problematik yang sulit pada keadaan pasca bedah adalah distensi usus yang masih
ada. Pada tindakan operatif dekompressi usus, gas dan cairan yang terkumpul dalam lumen usus
tidak boleh dibersihkan sama sekali oleh karena catatan tersebut mengandung banyak bahan-
bahan digestif yang sangat diperlukan. Pasca bedah tidak dapat diharapkan fisiologi usus
kembali normal, walaupun terdengar bising usus. Hal tersebut bukan berarti peristaltik usus telah
berfungsi dengan efisien, sementara ekskresi meninggi dan absorpsi sama sekali belum baik.
Sering didapati penderita dalam keadaan masih distensi dan disertai diare pasca bedah.
Tindakan dekompressi usus dan koreksi air dan elektrolit serta menjaga keseimbangan asam basa
darah dalam batas normal tetap dilaksanakan pada pasca bedahnya. Pada obstruksi yang lanjut,
apalagi bila telah terjadi strangulasi, monitoring pasca bedah yang teliti diperlukan sampai
32

selama 6 7 hari pasca bedah. Bahaya lain pada masa pasca bedah adalah toksinemia dan sepsis.
Gambaran kliniknya biasanya mulai nampak pada hari ke 4-5 pasca bedah. Pemberian
antibiotika dengan spektrum luas dan disesuaikan dengan hasil kultur kuman sangatlah penting.

Farmako
OBAT ANTIEMETIK
Antagonis reseptor H1
Antagonis reseptor muskarinik
Antagonis reseptor dopamin
Antagonis reseptor serotonin
Cannabinoid
Steroid
Antagonis reseptor H1
Cinnarizine, cyclizine, dimenhydrinate, promethazine
Tidak dapat digunakan utk mual-muntah krn rangsangan pada CTZ
Efektif utk mabuk kendaraan dan mual-muntah krn rangsangan pada lambung
Diberikan sebelum timbul gejala mual-muntah
Puncak antiemetik : 4 jam, bertahan selama 24 jam
KI : wanita hamil trimester I (kec. Promethazine)
Antagonis reseptor muskarinik
Hyoscine
Untuk mual-muntah krn gangguan labirin dan rangsangan lokal di lambung
Tidak dapat digunakan utk mual muntah krn rangsangan pada CTZ
Puncak antiemetik : 1-2 jam
ES : drowsiness, mulut kering, penglihatan kabur, retensi urin
Antagonis reseptor dopamin
Metoklopramid
- Bekerja di CTZ
- P.o., T1/2 4 jam, ekskresi via urine
- ES : krn blokade reseptor dopamin di SSP gangguan pergerakan pada anak2
dan dewasa muda, mengantuk, fatigue/lemah
- Stimulasi release prolaktin galaktore dan gangguan menstruasi
- Efek pada motilitas usus diare

Domperidone
- Antagonis reseptor D2
- Antiemetik untuk vomitting postoperatif dan akibat kemoterapi kanker
- ES : diare
33


Phenothiazine
- Neuroleptik : chlorpromazine, prochlorperazine, trifluoperazine dpt sebagai
antiemetic
- Triethylperazine hny sbg antiemetic
- Dapat digunakan utk vomitting krn rangsangan pada CTZ
- Tidak efektif utk muntah krn rangsangan di lambung
- Cara kerja antagonis reseptor D2 di CTZ, menghambat reseptor histamin dan
muskarinik
- Pemberian p.o., rektal, atau parenteral
Antagonis serotonin
Serotonin (5-hidroksitriptamin) a direlease oleh CNS atau lambung a transmitter emesis
Antagonis serotonin : ondansetron, granisetron
Sangat baik utk terapi mual-muntah akibat obat sitotoksik
Pemberian p.o, injeksi IV pelan, infus
T1/2 5 jam
ES : sakit kepala, gangguan GIT
Cannabinoid
Nabilone derivat cannabinol sintetik menurunkan muntah krn rangsangan pada CTZ
Pemberian : p.o, absorpsi baik
T1/2 120 menit, ekskresi via urine dan feses
ES : jarang, a. l. drowsiness, dizziness, mulut kering, perubahanmood, hipotensi postural,
halusinasi, dan reaksi psikotik
Steroid
Dosis tinggi, dpt digunakan sendiri atau kombinasi dgn obat lain
Glukokortikoid deksametason dan metilprednisolon
Mekanisme kerja blm diketahui
Sinergisme dg ondansetron
MOTILITAS GIT
1. MENINGKATKAN PERGERAKAN :
PENCAHAR
TANPA EFEK PENCAHAR
PENCAHAR
BULK LAXATIVE meningkatkan volume residu padat yg tidak diabsorpsi
OSMOTIC LAXATIVE meningkatkan jumlah air
FAECAL SOFTENER mengubah konsistensi faeces
STIMULANT PURGATIVE meningkatkan motilitas dan sekresi
34

Bulk Laxative
Metilselulose, sterculia, agar, bran, ispaghula husk
Polimer polisakarida a tidak dapat dipecah
Mekanisme kerja a menahan air di lumen usus merangsang peristaltis a beberapa hari
ES : ringan


Osmotic Laxative
Pencahar salin dan laktulosa cairan yg absorpsinya jelek meningkatkan volume
cairan di lumen bowel mempercepat transfer makanan ke usus halus massa yg
sangat besar masuk kolon distensi ekspulsi faeces
Pencahar salin garam MgSO4 dan Mg(OH)2
Laktulosa disakarida semisintetik fruktosa dan galaktosa bakteri di kolon
fermentasi asam laktat dan asam asetat osmotik laksatif
Efek baru timbul 1 2 hari
Faecal Softener
Docusate sodium
Menghasilkan feses yg lebih lumak
Efek stimulan laksatif lemah
Stimulant Purgative
Bisacodyl, sodium picosulfat, preparat senna
Meningkatkan peristaltis dengan cara stimulasi mukosa usus
ES : kram abdomen, jangka panjang atonia colon
Bisacodyl p.o. atau suppositoria efek laksan 15-30 menit
Sodium picosulfat p.o.
Preparat senna dosis tunggal efek laksan dalam 8 jam
OBAT YG MENINGKATKAN MOTILITAS GIT
DOMPERIDONE
Antagonis reseptor D2 a antiemetic
Memblok adrenoreseptor a-1 dan menurunkan efek relaksannya a menurunkan tekanan
sfingter esofagus bawah a meningkatkan motilitas GIT
Tidak menstimulasi sekresi asam lambung
Digunakan untuk gangguan pengosongan lambung dan refluks esofagitis kronis
ES : hiperprolaktinemia
METOKLOPRAMID
Efek sentral antiemetic
35

Efek lokal percepatan pengosongan lambung tanpa menstimulasi sekresi asam
lambung
Efeknya kecil pada motilitas usus bag. Bawah
Digunakan untuk refluks gastroesofagus dan gangguan pengosongan lambung
Tidak dapat digunakan untuk ileus paralitik
CISAPRIDE
Menstimulasi release ACh pada pleksus myenterik di GIT bag. Atas
Digunakan utk refluks esofagitis dan gangguan pengosongan lambung
Tidak mempunyai efek antiemetic
ES : diare, kram abdomen, takikardi (jarang)

LO 2.9. komplikasi

Jika pengobatan tertunda, dehidrasi dan mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit
dapat mempersulit pengobatan, atau dehidrasi dapat berkembang menjadi syok hipovolemik,
yang sering fatal. Pengobatan tertunda secara signifikan dapat meningkatkan morbiditas dan
mortalitas. Usus dapat menjadi berlubang, kadang-kadang melalui titik lemah yang sudah ada
(divertikulum), yang dapat mengakibatkan peritonitis . abses perut , luka pecah
(dehiscence), sepsis , dan infeksi pasca operasi dapat terjadi. Pada 5% sampai 42% dari kasus,
usus kecil dapat menjadi terjepit dan suplai darah berkurang serius (Khan). Hal ini dapat
menyebabkan gangren dan nekrosis berikutnya jaringan usus, komplikasi yang sangat serius
dengan tingkat kematian yang tinggi.
Komplikasi mungkin termasuk atau dapat menyebabkan:
Elektrolit (kimia darah dan mineral) ketidakseimbangan dehidrasi , Lubang (perforasi) pada usus
infeksi, Penyakit kuning (menguningnya kulit dan mata), Jika obstruksi blok suplai darah ke
usus, dapat menyebabkan infeksi dan kematian jaringan (gangren).

Risiko kematian jaringan terkait dengan penyebab penyumbatan dan berapa lama telah
hadir. Hernia, volvulus, dan intususepsi membawa risiko gangren yang lebih tinggi.
Pada bayi yang baru lahir, ileus paralitik yang menghancurkan dinding usus (necrotizing
enterocolitis) adalah mengancam nyawa dan dapat menyebabkan infeksi darah dan paru-paru

LO 2.10. pencegahan
Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial merupakan upaya pencegahan pada orang-orang yang belum
memiliki faktor risiko terhadap ileus obstruktif. Biasa dilakukan dengan promosi kesehatan atau
memberikan pendidikan kesehatan yang berkaitan ileus obstruktif atau dengan melakukan
penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam menjaga
kesehatannya oleh kemampuan masyarakat.

Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya mempertahankan orang yang agar
tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer berarti mencegah
36

terjadinya ileus obstruktif. Upaya pencegahan ini dimaksudkan untuk mengadakan pencegahan
pada masyarakat. Pencegahan primer yang dilakukan antara lain :
a) Bergaya hidup sehat dengan cara menjaga diri dan lingkungannya
b) Dengan meningkatkan asupan makanan bergizi yang meningkatkan daya tahan tubuh
c) Diet Serat. Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi serat dan
insidens timbulnya berbagai macam penyakit. Hasil penelitian membuktikan bahwa diet
tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian penyakit saluran pencernaan.
d) Untuk mencegah hernia, hindari angkat berat, yang meningkatkan tekanan didalam perut
dan mungkin memaksa satu bagian dari usus untuk menonjol melalui daerah rentan
dinding perut.



Pencegahan sekunder
dilakukan terhadap ileus obstruktif adalah dengan cara mendeteksi secara dini, dan
mengadakan penatalaksanaan medik untuk mengatasi akibat fatal ileus obstruktif

Pencegahan tertier
untuk mengurangi ketidakmampuan, mencegah kecacatan dan menghindari komplikasi
yang dapat memperparah keadaan. Tindakan perawatan post operasi serta melakukan
mobilitas/ambulasi sedini mungkin.

LO 2.11. prognosis
Obstruksi usus halus yang tidak mengakibatkan strangulasi mempunyai angka kematian 5
%. Kebanyakan pasien yang meninggal adalah pasien yang sudah lanjut usia. Obstruksi usus
halus yang mengalami strangulasi mempunyai angka kematian sekitar 8 % jika operasi dilakukan
dalam jangka waktu 36 jam sesudah timbulnya gejala-gejala, dan 25 % jika operasi diundurkan
lebih dari 36 jam. Pada obstruksi usus besar, biasanya angka kematian berkisar antara 1530 %.
Perforasi sekum merupakan penyebab utama kematian yang masih dapat dihindarkan.

LO 2.12. epidemiologi

Obstruksi usus halus menempati sekitar 20% dari seluruh pembedahan darurat, dan
mortalitas dan morbiditas sangat bergantung pada pengenalan awal dan diagnosis yang tepat.
Hernia strangulata adalah salah satu keadaan darurat yang sering dijumpai oleh dokter bedah dan
merupakan penyebab obstruksi usus terbanyak. Mc Iver mencatat 44% dari obstruksi mekanik
usus disebabkan oleh hernia eksterna yang mengalami strangulasi.
Walaupun di negara berkembang seperti di Indonesia, adhesi bukanlah sebagai penyebab utama
terjadinya obstruksi usus. Penyebab tersering obstruksi usus di Indonesia, adalah hernia, baik
sebagai penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun obstruksi usus strangulasi (63%).
Adhesi pasca operasi timbul setelah terjadi cedera pada permukaan jaringan, sebagai akibat
insisi, kauterisasi, jahitan atau mekanisme trauma lainnya. Dari laporan terakhir pasien yang
telah menjalani sedikitnya sekali operasi intra abdomen, akan berkembang adhesi satu hingga
lebih dari sepuluh kali. Obstruksi usus merupakan salah satu konsekuensi klinik yang penting. Di
negara maju, adhesi intraabdomen merupakan penyebab terbanyak terjadinya obstruksi usus.
37

Pada pasien digestif yang memerlukan tindakan reoperasi, 30-41% disebabkan obstruksi usus
akibat adhesi. Untuk obstruksi usus halus, proporsi ini meningkat hingga 65-75%.

LI 3. Memahami dan menjelaskan operasi menurut pandangan islam
Perlakuan operasi menurut syariat hukumnya mubah yang bertujuan untuk kemaslatan hidup
disamping memberikan dorongan hidup dan lepas dari najis,dampak negatif pada tubuh dan
ancaman kematian serta merubah sunnatullah.

Firman Allah, Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-
olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Al-Maidah: 32).

Colok dubur dalam islam
Semua harus dilandasi dengan takwa dan rasa takut kepada Allah, Allah Taala menyebutkan
dalam firman-Nya surat al-Anam ayat 119:

(padahal) sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu.
Kecuali apa yang terpaksa.













38






DAFTAR PUSTAKA
Biley & Loves . Short Practice of Surgery Ed: 26th by Norman S. Williams , Christopher JK
Bulstrode (Editor), P. Ronan O'Connell(Editor)
Ganiswara, SG, Setiabudy, R, Suyatna, FD, dkk, (2006), Farmakologi Dan Terapi, Edisi 5, Gaya
Baru, Jakarta
https://www.mdguidelines.com/intestinal-obstruction

http://www.suara-islam.com/index.php
Price, SA ., Wilson, LM . 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol 1. Ed.
6. Jakarta : EGC.
Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi vol.2 . Ed. 7. Jakarta : EGC. 648-649
Sjamsuhidajat r, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC,2003.
Sofwan, Achmad. 2014. Tractus Digestivus. Fakultas Kedokteran YARSI