Anda di halaman 1dari 9

Andayanis Andayanis

Kamis, 20 Februari 2014


Penentuan Kadar Kafein dalan Sampel Teh Penentuan Kadar Kafein dalan Sampel Teh
Dosen Pengampu : Dra.Rini, S.Si, M.Si
TUGAS KIMIA ANALITIK I
PENENTUAN KADAR KAFEIN DALAM SAMPEL TEH

DISUSUN OLEH :
NAMA : ANDAYANIS
NIM : 1205120800
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
UNIVERSITAS RIAU
2013
BAB I
ISI
Titrasi reduksi oksidasi (redoks) adalah suatu penetapan kadar reduktor atau
oksidator berdasarkan atas reaksi oksidasi dan reduksi dimana reduktor akan teroksidasi
dan oksidator akan tereduksi.
anda yani s anda yani s
Ikuti
0
Lihat profil lengkapku
Mengenai Saya
2014 (1)
Februari (1)
Penentuan Kadar
Kafein dalan
Sampel Teh
Arsip Blog
0

More

Next Blog Create Blog

Sign In
converted by Web2PDFConvert.com
Dasar dari cara iodometri adalah reaksi kesetimbangan dari iodium dan iodide
I
2
+ 2e 2I
-

dengan demikian 1 grol I
2
= 2 grek.
Titrasi dengan iodometri dapat dibagi menjadi 2 cara :
1. Cara langsung
Iodimetri merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat
reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan
penambahan larutan baku berlebihan. Kelebihan iodin dititrasi kembali dengan
menggunakan larutan tiosulfat. (Saragih,-)
Reduktor + I
2
2I
-
Na
2
S
2
O
3
+ I
2
NaI + Na
2
S
4
O
6
2. Cara tidak langsung
Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang
bersifat oksidator seperti besi III, tembaga II. Zatzat ini akan mengoksidasi iodida yang
ditambahkan membentuk iodin. Iodin yang terbentuk ditentukan dengan menggunakan
larutan baku natrium tiosulfat. (Saragih,-)
Oksidator + KI I
2
+ 2e
I
2
+ Na
2
S
2
O
3
NaI + Na
2
S
4
O
6
Dalam hal ini iodide sebagai perediksi diubah menjadi iodium. Iodium yang
terbentuk dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Cara iodometri digunakan untuk untuk
menentukan zat pengoksidasi, misalnya penentuan zat oksidator H
2
O
2
. Pada oksidator
ini ditambahkan larutan KI dan asam sehingga akan terbentuk iodium yang kemudian
dititrasi dengan Na
2
S
2
O
3
.
Reaksi :
H
2
O
2
+ KI + HCl I
2
+ KCl + 2H
2
O
Pembakuan Larutan Na
2
S
2
O
3

Pembakuan Larutan Na
2
S
2
O
3
dengan Larutan Baku KIO
3
, Percobaan ini
menggunakan metode titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana mula-mula
iodium direaksikan dengan iodida berlebih, kemudian iodium yang terjadi dititrasi dengan
natrium thiosulfat. Larutan baku yang digunakan untuk standarisasi thiosulfat sendiri
adalah KIO
3
dan terjadi reaksi:
Oksidator + KI I
2

I
2
+ 2Na
2
S
2
O
3
2NaI + Na
2
S
4
O
6
Natrium tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang
tinggi, namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat, karena
sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena alasan-alasan lainnya.
Karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai larutan baku standar
primer.
Pembakuan larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan menggunakan
kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar primer, atau
converted by Web2PDFConvert.com
dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai larutan standar sekundernya.
Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini
harus distandarkan terlebih dahulu oleh kalium iodat yang merupakan standar primer.
Larutan kalium iodat ini ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna larutan menjadi
bening. Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodida, larutan berubah menjadi coklat
kehitaman. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah
memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium iodida
berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. Reaksinya adalah sebagai
berikut :
IO
3
-
+ 5I
-
+ 6H
+
3I
2
+ 3H
2
O
Indikator yang digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator amilum
0,5%. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan
agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi
untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal
ini disebabkan sifat I2 yang mudah menuap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga
hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya
sangat jelas. Penggunaan indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang
terjadi pada saat titik akhir titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang
digunakan. Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air, sehingga
umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi.

BAB II
PEMBAHASAN
1. ALAT DAN BAHAN
Alat Bahan
converted by Web2PDFConvert.com
1. Buret 50 mL
2. Beaker glass
3. Neraca analitik
4. Spatel
5. Gelas ukur
6. Labu takar 500 mL
7. Labu takar 250 mL
8. Pipet volume 25 mL
9. Gelas arlogi
10. Batang pengaduk
11. Erlenmeyer
12. Pipet ukur 5 mL
13. Botol tertutup
1. Na
2
S
2
O
3
2. Na
2
O
3
3. Air suling
4. I
2
5. KI
6. H
2
SO
4
2N
7. Amilum
8. As
2
O
3
9. NaOH 1N
10. Garam dapur
11. Label
2. CARA KERJA
Pembuatan Larutan NaS
2
O
3
0,005 N
1. 0,6205 gram NaS
2
O
3
ditimbang dalam gelas arloji pada neraca analitik
2. Dimasukkan ke dalam gelas beaker kemudian dilarutkan dengan 50 ml aquades dan
ditambahkan 10, g Na
2
CO
3.
3. Larutan diaduk hingga homogen dan dipindahkan ke dalam labu ukur 500 mL.
4. Larutan lalu diencerkan dengan air suling bebas CO
2
sampai volume larutan 500 mL
5. Simpan dalam botol yang tertutup dan diberi label.
Pembuatan Larutan KIO
3
0,005 N
1. 0,0891 gram kristal KIO
3
ditimbang dengan gelas arloji pada neraca analitik.
2. Dilarutkan dengan aquades kemudian dipindahkan ke dalam labu takar 500 mL.
3. Ditambahkan aquades sampai tepat pada tanda 500 mL.
Pembuatan Larutan H
2
SO
4
2N 100 mL
1. Disiapkan labu ukur 100 mL yang telah diisi aquades + volumenya.
2. H
2
SO
4
pekat (36N) dipipet dan dimasukkan ke dalam labu ukur yang telah
disiapkan lewat dinding.
3. Ditambahkan aquades sampai tanda 100 mL kemudian dikocok.
converted by Web2PDFConvert.com
Standarisai NaS
2
O
3
0,005 N dengan KIO
3
0,005 N
1. Dipipet 25 mL KIO
3
0,005 N dan dimasukkan dalam Erlenmeyer.
2. Ditambahkan 2 gram KI yang bebas iodat dan 5 mL H
2
SO
4
2N.
3. Larutan ditirasi dengan Natrium Thiosulfat yang akan ditentukan normalitasnya.
4. Saat warna kuning hampir menghilang, titrasi dihentikan dan ditambahkan indicator
amilum.
5. Titrasi dilanjutkan sampai warna biru larutan tepat hilang.
6. Dihitung normalitas NaS
2
O
3.
Penentuan Kadar Iodat pada Garam Dapur
1. Ditimbang 25 gram garam.
2. Ditambahkan aquades dengan volume 125 mL.
3. Ditambahkan 2 gram KI yang bebas iodat.
4. Ditambahkan 5 mL asam sulfat 2N.
5. Dititrasi dengan larutan Natrium Thiosulfat yang telah diketahui normalitasnya.
6. Saat warna kuning iodium hampir hilang, titrasi dihentikan dan ditambahkan indicator
amilum.
7. Titrasi dilanjutkan sampai warna biru larutan tepat hilang
8. Dihitung kadar iodum dalam garam dapur.
3. HASIL PENGAMATAN
Sebelum ditambahkan indicator, larutan KIO
3
berwarna bening. Setelah ditambahkan
H
2
SO
4
, larutan menjadi berwarna kuning. Saat warna kuning hilang, ditambahkan
indicator kanji, dan pemberian indicator kanji, larutan menjadi berwarna biru. Setelah
warna biru larutan titrat hilang, titrasi dihentikan. Volume titran dicatat sebagai vol. titrasi.
Perhitungan.
Hasil titrasi Na
2
S
2
O
3
0,005 N dengan KIO
3
0,005 N:
Vol. titrasi 1 : 25 ml
Vol. titrasi 2 : 25,8 ml
Vol. titrasi 3 : 24,6 ml
Vol. titrasi rata rata : 25,133 ml
KIO
3
= Na
2
S
2
O
3
converted by Web2PDFConvert.com
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
25 ml . 0,005 N = 25,133 ml . N
2
0,125 = 25,133 . N
2
N
2
= 0,0049 N
Jadi normalitas dari Na
2
S
2
O
3
pada titrasi iodometri ini adalah 0,0049 N
sampel
Volume Titrasi (ml) Kadar
Iodium I II II Rata-rata
I 6,3 6 6 6,1 42,64 ppm
II 0,2 0,4 - 0,3 2,097 ppm
III 1,7 2 1,9 1,87 13,073 ppm
Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang
bersifat oksidator seperti besi III, tembaga II. Zatzat ini akan mengoksidasi iodida yang
ditambahkan membentuk iodium. Iodium yang terbentuk ditentukan dengan
menggunakan larutan baku natrium tiosulfat. Cara iodometri dapat digunakan untuk
menentukan kadar iodium dalam garam. Pada oksidator/ garam ini ditambahkan larutan
KI dan H
2
SO
4
sebagai asam sehingga akan terbentuk iodium yang kemudian dititrasi
dengan Na
2
S
2
O
3
dan dapat ditentukan kadarnya. Namun, sebelumnya, larutan Na
2
S
2
O
3
ini harus dibakukan atau distandarisasi terlebih dahulu. Pembakuan larutan natrium
tiosulfat dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan
iod sebagai larutan standar primer, atau dengan kalium permanganate. Namun pada
percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses pembakuan natrium tiosulfat adalah
kalium iodat standar. Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam
proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu oleh kalium iodat yang merupakan
standar primer. Larutan kalium iodat ini ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna
larutan menjadi bening. Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodida, larutan berubah
menjadi kuning kecoklatan. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut
adalah memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium
iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. Reaksinya adalah
sebagai berikut :
IO
3
-
+ 5I
-
+ 6H
+
3I
2
+ 3H
2
O
Untuk senyawa yang memiliki potensial reduksi yang rendah dapat direaksikan
converted by Web2PDFConvert.com
secara sempurna dalam suasana asam. Indikator yang digunakan dalam metode ini adalah
indikator kanji (amilum) yang dapat membentuk senyawa absorpsi dengan iodium yang
dititrasi dengan larutan Natrium Tiosulfat. Penambahan amilum yang dilakukan saat
mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan
menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi
harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I
2
yang mudah menguap. Pada
titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru
mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas. Titik akhir titrasi iodometri ialah apabila
warna biru telah hilang.
BAB III
PENUTUP
Dari percobaan tersebut, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Untuk standarisasi Na
2
S
2
O
3
dengan larutan KIO
3
digunakan titrasi dengan
metode iodometri karena Na
2
S
2
O
3
dapat dioksidasi oleh KIO
3
dengan
penambahan KI dan asam sulfat.
2. Larutan Na
2
S
2
O
3
digunakan sebanyak 25,133 ml untuk titrasi 25 ml CaCO
3.
Titik
akhir titrasi terjadi saat larutan titrat kehilangan warna biru.
3. Penentuan kadar iodium dalam garam dilakukan dengan metode iodometri karena
iodium akan dihasilkan dari reaksi redoks oleh Na
2
S
2
O
3
. Kadar Iodium garam I
adalah 42,64 ppm, garam II adalah 2,097 ppm dan garam III memiliki kadar
iodium 13,073 ppm. Sehingga, garam I adalah garam yang memiliki kadar iodium
converted by Web2PDFConvert.com
Diposkan oleh anda yanis di 07.36
paling banyak.
Daftar Pustaka
Saragih, S., Iodometri dan Iodimetri,
http://www.scribd.com/doc/23569314/Iodometri-Dan-Iodimetri, 12
Desember 2013.
Satuan Acara Praktikum Kimia Analitik (Semester II), Politeknik Kesehatan
Denpasar Jurusan Analis Kesehatan 2012
Siregar, K. 2010. Titrasi Oksidasi Reduksi.
http://khairunnisasiregar.wordpress.com/2010/ 11/05/titrasi-oksidasi-reduksi/
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia
Press. Jakarta
Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI. Jakarta
Rekomendasikan ini di Google
Tidak ada komentar: Tidak ada komentar:
Poskan Komentar Poskan Komentar
converted by Web2PDFConvert.com
Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Masukkan komentar Anda...
Beri komentar sebagai: Select profile...
Publikasikan Publikasikan Pratinjau Pratinjau
Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.
converted by Web2PDFConvert.com