Anda di halaman 1dari 5

Perjalanan Jaras Visual dan Proses Pembentukan Benda oleh Indera Penglihatan

Proses Visual Mata


Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan
menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal, pupil dapat
dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika sedang konstriksi
maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil pada iris yaitu
papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan papillary dilator yang terdiri dari
sel-sel epitelial kontraktil yang telah termodifikasi. Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai
myoepithelial cells.
Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan melebarkan pupil
sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki mata. Kontraksi dan dilatasi pupil terjadi pada
kondisi dimana intensitas cahaya berubah dan ketika kita memindahkan arah pandangan kita
ke benda atau objek yang dekat atau jauh. Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki
mata, pembentukan bayangan pada retina bergantung pada kemampuan refraksi mata.
Beberapa media refraksi mata yaitu kornea (n=1.38), aqueous humour (n=1.33), dan
lensa (n=1.40). Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa hanya
berfungsi untuk menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada benda yang
dekat dan jauh. Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan mencapai retina,
tahap terakhir dalam proses visual adalah perubahan energi cahaya menjadi aksi potensial
yang dapat diteruskan ke korteks serebri. Proses perubahan ini terjadi pada retina.
Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan sensory retina.
Pada pigmented retina, terdapat selapis sel-sel yang berisi pigmen melanin yang bersama-
sama dengan pigmen pada koroid membentuk suatu matriks hitam yang mempertajam
penglihatan dengan mengurangi penyebaran cahaya dan mengisolasi fotoreseptor-
fotoreseptor yang ada. Pada sensory retina, terdapat tiga lapis neuron yaitu lapisan
fotoreseptor, bipolar dan ganglionic. Badan sel dari setiap neuron ini dipisahkan oleh
plexiform layer dimana neuron dari berbagai lapisan bersatu. Lapisan pleksiform luar berada
diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic sedangkan lapisan pleksiformis dalam terletak
diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic.
Setelah aksi potensial dibentuk pada lapisan sensori retina, sinyal yang terbentuk akan
diteruskan ke nervus optikus, optic chiasm, optic tract, lateral geniculate dari thalamus,
superior colliculi, dan korteks serebri. Gambaran jaras penglihatan yang telah dijelaskan
sebelumnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.1. Jaras Penglihatan

Serabut penglihatan juga melalui beberapa daerah yang lebih primitiv di otak, yaitu :
1. Dari traktus optikus menuju nukleus suprachiasmatik di hipotalamus, untuk pengaturan
irama sirkadian yang menyinkronisasikan berbagai perubahan fisiologi tubuh dengan
siang dan malam.
2. Menuju nuklei pretektalis di otak tengah, untuk mendatangkan gerakan reflex mata agar
mata dapat difokuskan ke arah objek yang penting dan untuk mengaktifkan reflex pupil
terhadap cahaya.
3. Menuju kolikulus superior, untuk mengatur pergerakan arah kedua mata yang cepat.
4. Menuju nukleus geniculatum lateralis ventralis pada thalamus dan daerah basal otak
sekitarnya, untuk membantu mengendalikan beberapa fungsi sikap tubuh

Jadi jaras penglihatan secara kasar dapat dibagi menjadi sistem primitif untuk otak
tengah dan dasar otak depan, serta sistem baru untuk penjalaran sinyal penglihatan secara
langsung ke dalam korteks penglihatan yang terletak di lobus occipitalis. Pada manusia,
sistem baru bertanggung jawab untuk persepsi seluruh aspek bentuk penglihatan, warna, dan
penglihatan sadar lainnya. Sebaliknya pada banyak hewan primitif, bentuk penglihatan
bahkan dideteksi oleh sistem yang lebih primitif, yaitu dengan menggunakan kolikulus
superior dengan cara yang sama seperti hewan mamalia menggunakan korteks penglihatan.

Fisiologi Mata
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang
memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan
objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di tengkorak, yaitu rongga
orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa yang kuat untuk mempertahankan
bentuknya, suatu sistem lensa untuk memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan
suatu sistem sel dan saraf yang berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan
informasi visual ke otak.
Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor peka cahaya karena
adanya iris, suatu otot polos tipis berpigmen yang membentuk struktur seperti cincin di dalam
aqueous humour. Lubang bundar di bagian tengah iris tempat masuknya cahaya ke bagian
dalam mata adalah pupil. Iris mengandung dua kelompok jaringan otot polos, satu sirkuler
dan yang lain radial. Karena serat-serat otot memendek jika berkontraksi, pupil mengecil
apabila otot sirkuler berkontraksi yang terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah
cahaya yang masuk ke mata. Apabila otot radialis memendek, ukuran pupil meningkat yang
terjadi pada cahaya temaram untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk.
Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina, harus dipergunakan
lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa
sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina dikenal sebagai
akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Otot
siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior.
Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi
otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat
untuk penglihatan dekat. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk
penglihatan jauh, sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk
penglihatan dekat.



Mekanisme Penglihatan
Mata mengubah energi dalam spekturm yang dapat dilihat menjadi potensial aksi di
nervus optikus. Panjang gelombang cahaya yang dapat dilihat berkisar dari 397 nm sampai
723 nm. Bayangan benda di sekitar difokuskan di retina. Berkas cahaya yang mencapai retina
akan mencetuskan potensial didalam sel kerucut dan batang. Impuls yang timbul di retina
dihantarkan ke korteks serebrum, untuk dapat menimbulkan kesan penglihatan.
Manusia dapat melihat benda karena adanya cahaya. Cahaya yang ditangkap mata
berturut-turut akan melalui kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreus humor, dan retina.
Lensa mata berfungsi memfokuskan cahaya yang terpantul dari benda-benda yang terlihat
sehingga menjadi bayangan yang jelas pada retina. Cahaya ini akan merangsang fotoreseptor
untuk menyampaikan impuls ke saraf penglihatan dan berlanjut sampai lobus oksipitalis pada
otak besar.
Cahaya yang masuk melalui kornea diteruskan ke pupil. Pupil merupakan lubang
bundar anterior di bagian tengah iris yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata.
Pupil membesar bila intensitas cahaya kecil (bila berada di tempat gelap), dan apabila berada
di tempat terang atau intensitas cahayanya besar, maka pupil akan mengecil. Yang mengatur
perubahan pupil tersebut adalah iris. Iris merupakan cincin otot yang berpigmen dan tampak
di dalam aqueous humor, karena iris merupakan cincin otot yang berpigmen, maka iris juga
berperan dalam menentukan warna mata. Setelah melalui pupil dan iris, maka cahaya sampai
ke lensa. Lensa ini berada diantara aqueous humor dan vitreous humor, melekat ke otototot
siliaris melalui ligamentum suspensorium. Fungsi lensa selain menghasilkan kemampuan
refraktif yang bervariasi selama berakomodasi, juga berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke
retina. Apabila mata memfokuskan pada objek yang dekat, maka otot-otot siliaris akan
berkontraksi, sehingga lensa menjadi lebih tebal dan lebih kuat. Dan apabila mata
memfokuskan objek yang jauh, maka otototot siliaris akan mengendur dan lensa menjadi
lebih tipis dan lebih lemah. Bila cahaya sampai ke retina, maka selsel batang dan selsel
kerucut yang merupakan sel-sel yang sensitif terhadap cahaya akan meneruskan sinyalsinyal
cahaya tersebut ke otak melalui saraf optik. Bayangan atau cahaya yang tertangkap oleh
retina adalah terbalik, nyata, lebih kecil, tetapi persepsi pada otak terhadap benda tetap tegak,
karena otak sudah dilatih menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal.




DAFTAR PUSTAKA

Lionel Ginsberg. 2008. Neurologi. Jakarta : Erlangga
Ganong, W. F. 2000. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
Sherwood. 2007. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC
Junqueira, C.L. 2007. Histologi Dasar Teks & Atlas. Jakarta : EGC