Anda di halaman 1dari 6

NAMA : RENDI FIRDIAN INDRAWANDINATA

NIM : 0802364
PRODI : SURVEI PEMETAAN DAN INFORMASI GEOGRAFI - UPI

Pengertian Batimetri, Peta, dan Peta Batrimetri
Batimetri (dari bahasa Yunani: , berarti "kedalaman", dan , berarti "ukuran")
adalah ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai
samudra atau danau. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief lantai atau dataran
dengan garis-garis kontor (contour lines) yang disebut kontor kedalaman (depth contours atau
isobath), dan dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi permukaan.
Awalnya, batimetri mengacu kepada pengukuran kedalaman samudra. Teknik-teknik awal
batimetri menggunakan tali berat terukur atau kabel yang diturunkan dari sisi kapal.
Keterbatasan utama teknik ini adalah hanya dapat melakukan satu pengukuran dalam satu
waktu sehingga dianggap tidak efisien. Teknik tersebut juga menjadi subjek terhadap
pergerakan kapal dan arus.







Contoh Gambar Peta
Sebuah peta adalah representasi dua dimensi dari suatu ruang tiga dimensi. Syarat-syarat peta :
peta harus rapi dan bersih, peta tidak boleh membingungkan, peta harus mudah dipahami, dan
peta harus memberikan gambaran yang sebenarnya. Fungsi pembuatan peta : menyeleksi data,
memperlihatkan ukuran, menunjukkan lokasi relative, dan memperlihatkan bentuk. Unsur-
unsur peta : judul, legenda/ keterangan, tanda arah / Orientasi, skala, inset, sumber dan Tahun
pembuatan peta, simbol dan warna, dan proyeksi peta.
Klasifikasi peta menjadi dua jenis, yakni : pertama, peta umum, adalah peta yang manampilkan
bentuk fisik permukaan bumi suatu wilayah. Contoh : Peta jalan dan gedung wilayah DKI
Jakarta. Kedua, peta khusus, peta yang menampakkan suatu keadaan atau kondisi khusus suatu
daerah tertentu atau keseluruhan daerah bumi. Contohnya adalah peta persebaran hasil
tambang, peta curah hujan, peta pertanian perkebunan, peta iklim, dan lain sebagainya. Selain
itu, pembagian peta meliputi peta luas adalah peta yang menggambarkan suatu daerah yang
luas seperti peta dunia, peta daerah amerika utara, peta benua, peta samudera, peta kutub
utara dan kutub selatan, dsb. Peta sempit, adalah peta yang hanya menampilkan sebagian kecil
suatu area. Contoh peta sempit yaitu peta desa atau pedesaan, peta kota atau perkotaan, peta
gorong-gorong kampung, peta gedung, denah rumah, dan lain sebagainya.
Berbagai macam dan jenis warna peta (organisasi.org.htm ) beserta artinya / arti warna pada
peta, warna laut hijau : 0 - 200 meter dpl / ketinggian, kuning : 200 - 500 meter dpl / ketinggian,
coklat muda : 500 - 1500 meter dpl / ketinggian, coklat : 1500 - 4000 meter dpl / ketinggian,
coklat berbintik hitam : 4000 - 6000 meter dpl / ketinggian, coklat kehitam-hitaman : 6000
meter dpl lebih / ketinggian. Warna darat : biru pucat : 0 - 200 meter / kedalaman, biru muda :
200 - 1000 meter / kedalaman, biru : 1000 - 4000 meter / kedalaman, biru tua : 4000 - 6000
meter / kedalaman, biru tua berbintik merah : 6000 meter lebih / kedalaman.




Contoh Gambar Peta Batrimetri
Peta batimetri sendiri dapat diartikan Peta yang menggambarkan bentuk konfigurasi dasar laut
dinyatakan dengan angka-angka kedalaman dan garis-garis kedalaman. Peta batimetri ini dapat
divisualisasikan dalam tampilan 2 dimensi (2D) maupun 3 dimensi (3D). Visualisasi tersebut
dapat dilakukan karena perkembangan teknologi yang semakin maju, sehingga penggunaan
komputer untuk melakukan kalkulasi dalam pemetaan mudah dilakukan. Data batimetri dapat
diperoleh dengan penggunaan teknik interpolasi untuk pendugaan data kedalaman untuk
daerah-daerah yang tidak terdeteksi merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan. Teknik
interpolasi yang sering digunakan adalah teori Universal Kriging dan teori IRFK (Intrinsic
Random Function of Order K) (David et al., 1985 dalam Defilmisa, 2003 ).
Bentuk-Bentuk Dasar Laut
Berdasarkan historyofindonesia.blogspot.com, relief dasar laut tidak begitu besar variasinya
dibandingkan dengan relief daratan. Hal ini disebabkan karena lemahnya erosi dan sedimentasi.
Relief dasar laut terdiri dari bentukan-bentukan berupa : Trog adalah daerah ingressi di laut
yang bentuknya memanjang dan biasanya palung laut itu sangat sempit dan dalam. Contohnya,
Palung Mindanau (10.830 meter), Palung Sunda (7.450 meter), dll. Basin terjadi karena akibat
dari tenaga tektonik dan merupakan laut Ingressi dan biasanya bentuknya bulat. Contohnya,
Lubuk Sulu, Lubuk Banda, etcetera.Gunung laut adalah gunung yang kakinya ada di dasar laut.
Kadang-kadang puncak gunung laut muncul tinggi sampai di atas permukaan laut. Contohnya,
Gunung Krakatau (Indonesia), Maona Loa (Hawai), dll. Punggung laut merupakan satuan atau
deretan bukit di dalam laut. Contohnya, Punggung Laut Sibolga. Drempel adalah punggung laut
yang memisahkan dua bagian laut atau dua laut yang dalam. Contohnya, Ambang Laut Sulu,
Ambang Laut Sulawesi, Ambang Laut Gibraltar, dll. Selain dari yang dijelaskan diatas, secara
umum dasar laut terdiri atas empat bagian. Pembagian ini dimulai dari bagian daratan menuju
ke tengah laut : Continental Shelf adalah dasar laut yang berbatasan dengan benua. Di dasar
laut ini sering ditemukan juga lembah yang menyerupai sungai. Lembah beberapa sungai yang
terdapat di Continental Shelf ini merupakan bukti bahwa dulunya Continental Shelf merupakan
bagian daratan yang kemudian sekarang tenggelam di dasar laut. Continental Slope biasanya
terdapat di pinggir Continental Shelf. Daerah Continental Slope bisa mencapai kedalaman tidak
lebih dari 1.500 meter di bawah permukaan laut dengan sudut kemiringan biasanya kurang
lebih 5 derajat. Deep Sea Plain meliputi 2/3 dari dasar laut dan terletak pada kedalaman lebih
dari 1.500 meter di bawah permukaan laut. Biasanya relief di daerah ini bervariasi, mulai dari
yang rata sampai pada puncak vulkanik yang menyembul di atas permukaan laut dan biasanya
sebagai pulau yang terisolasi.





Model relief dasar laut
Dasar Laut Perairan Indonesia
Kondisi morfologi dasar laut Indonesia mempunyai perbedaan mencolok antara kawasan barat
dan kawasan timur. Laut Jawa yang merupakan sistem Paparan Sunda (Sunda Shelf)
mempunyai kedalaman dasar laut rata-rata 130 meter, sedangkan Laut Flores dan Laut Banda
yang merupakan laut tepi mempunyai kedalaman lebih 5000 meter. Karakteristik laut dan
samudra secara umum didasarkan pada kedalaman dasar laut yang dengan mudah dapat
diamati dari nilai garis kontur peta batimetri. Untuk sistem samudra terdapat hubungan empiris
yang memperlihatkan hubungan antara kedalaman dan umur pembentukannya. Makin tua
umur samudra serta proses-proses geologi yang berjalan, akan makin dalam dasar laut
tersebut.
Dari kenampakkan fisiografi wilayah laut Indonesia maka dapat ditafsirkan secara geologi
bahwa perkembangan tektonik antara Indonesia bagian barat dan bagian timur mempunyai
perbedaan. Indonesia bagian barat terdiri dari beberapa pulau-pulau besar di mana antara
pulau satu dengan lainnya dipisahkan oleh laut dangkal serta mempunyai tatanan tektonik yang
lebih sederhana apabila dibandingkan dengan Indonesia bagian timur yang terdiri dari
sederetan pulau pulau berbentuk busur lengkung dengan perbedaan bentuk relief yang sangat
menonjol dan dipisahkan oleh laut dalam, yang mempunyai palung-palung dalam dan
pegunungan yang tinggi sehingga mempunyai tatanan tektonik lebih rumit.
Metode Penentuan Batimetri
1. Metode Akustik
Berdasarkan khakharothen.multiply.com, metode akustik yang dapat digunakan antara lain
: pertama, sidescan sonar, sistem sonar dapat diartikan sebagai penentuan posisi dengan
metode akustik (acoustic location). Sidescan sonar merupakan alat untuk mendapatkan
gambaran permukaan dasar perairan dengan menggunakan gelombang bunyi. Pada dasar
laut yang datar sempurna semua energi dipantulkan dari sesor sonar dan tidak ada sinyal
yang terekam. Dalam faktanya, dasar laut tidak rata sempurna. Ketidakteraturan seperti
bebatuan dan riak-riak air karena pantulan (backscatter) dari energi akustik, dan sistem
dapat menyediakan informasi secara kasar keadaan dasar laut. Kedua, sub-bottom profiling
merupakan suatu sistem untuk mengidentifikasi dan mengukur variasi dari lapisan-lapisan
sedimen yang ada di bawah permukaan air serta menggunakan energi pantulan untuk
mengumpulkan informasi lapisan-lapisan sedimen di bawah dasar permukaan air (tampilan
muka sedimen bawah air). Ketiga, single-beam echosounder merupakan alat ukur
kedalaman air yang menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan penerima sinyal
gelombang suara.
Sistem batimetri dengan menggunakan single beam secara umum mempunyai susunan:
transciever (tranducer/reciever) yang terpasang pada lambung kapal atau sisi bantalan pada
kapal. Sistem ini mengukur kedalaman air secara langsung dari kapal penyelidikan.
Transciever yang terpasang pada lambung kapal mengirimkan pulsa akustik dengan
frekuensi tinggi yang terkandung dalam beam (gelombang suara) secara langsung
menyusuri bawah kolom air. Energi akustik memantulkan sampai dasar laut dari kapal dan
diterima kembali oleh tranciever. Transciever terdiri dari sebuah transmitter yang
mempunyai fungsi sebagai pengontrol panjang gelombang pulsa yang dipancarkan dan
menyediakan tenaga elektris untuk besar frekuensi yang diberikan.
Terakhir dengan multi-beam echosounder, merupakan alat untuk menentukan kedalaman
air dengan cakupan area dasar laut yang luas. Prinsip operasi alat ini secara umum adalah
berdasar pada pancaran pulsa yang dipancarkan secara langsung ke arah dasar laut dan
setalah itu energi akustik dipantulkan kembali dari dasar laut (sea bed), beberapa pancaran
suara (beam) secara elektronis terbentuk menggunakan teknik pemrosesan sinyal sehingga
diketahui sudut beam. Dua arah waktu penjalaran antara pengiriman dan penerimaan
dihitung dengan algoritma pendeteksian terhadap dasar laut tersebut. Dengan
mengaplikasikan penjejakan sinar, sistem ini dapat menentukan kedalaman dan jarak
transveral terhadap pusat area liputan. Multi-Beam Echosounder dapat menghasilkan data
batimetri dengan resolusi tinggi ( 0,1 m akurasi vertikal dan kurang dari 1 m akurasi
horisontalnya).
2. Satelit Altimetri
Dikutip dari geodesy.gd.itb.ac.id.htm, secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga
objektif ilmiah jangka panjang yaitu: mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume
dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global.
Dalam konteks geodesi, objektif terakhir dari misi satelit altimetri tersebut adalah yang
menjadi perhatian. Begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dengan mengaplikasikan
teknologi Satelit Altimetri, sehingga teknologi ini mulai menjadi trend baru dalam dunia
science dan rekayasa geodesi kelautan, oceanografi, dan bidang-bidang ilmu terkait lainnya.
Satelit Altimetri diperlengkapi dengan pemancar pulsa radar (transmiter), penerima pulsa
radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi. Pada sistem ini, altimeter radar
yang dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa gelombang elektromagnetik (radar)
kepermukaan laut. Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan diterima
kembali oleh satelit.
Informasi utama yang ingin ditentukan dengan satelit altimetri adalah topografi dari muka
laut. Hal ini dilakukan dengan mengukur ketinggian satelit di atas permukaan laut dengan
menggunakan waktu tempuh dari pulsa radar yang dikirimkan kepermukaan laut, dan
dipantulkan kembali ke satelit. Dari data rekaman waktu tempuh sinyal kita dapat
menentukan posisi vertikal permukaan laut, topografi muka laut (SST), Undulasi Geoid,
Topografi es, lokasi dan kecepatan arus laut. Dari data amplitudo gelombang pantul kita
dapat memperoleh informasi mengenai kecepatan angin sepanjang permukaan groundtrack
satelit, dan batas laut serta es. Sementara itu dari data bentuk dan struktur muka
gelombang pantul kita dapat melihat tinggi gelombang, panjang gelombang dominan,
informasi termoklin, dan kemiringan lapisan es.
Pemanfaatan Batimetri Pada Bidang Kelautan dan Perikanan
Peta batimetri dalam aplikasinya memiliki banyak manfaat dalam bidang kelautan antara lain
penentuan jalur pelayaran yang aman, perencanaan bangunan pinggir pantai, pendeteksian
adanya potensi bencana tsunami di suatu wilayah, dan pertambangan minyak lepas pantai.
Selain itu, peta batimetri diperlukan untuk mengetahui kondisi morfologi suatu daerah
perairan. Kondisi laut yang sangat dinamis sehingga, peta batimetri harus selalu di update
dengan perubahan dan perkembangan kondisi perairan tersebut (Nurjaya, 1991).
Sedangkan untuk bidang perikanan khususnya perikanan budidaya, Peta Batimeri dibutuhkan dalam
menentukan lokasi potensi untuk perikanan budidaya laut yang akan dikembangkan pada suatu daerah
sebagai parameter pembatas dalam menentukan lokasi potensi budidaya. Kriteria umum lokasi perairan
yang dapat digunakan untuk budidaya laut adalah 7-30 meter (keramba jaring apung) dan 1-4 meter.







Konsep Survei Batrimetri

Kondisi Batrimetri Kab. Kapuas