Anda di halaman 1dari 38

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal yang penting bagi setiap orang. Dalam kondisi
sehat, orang dapat berpikir dan melakukan segala aktifitasnya secara optimal dan
menghasilkan karya-karya yang diinginkannya. Orang akan selalu berusaha dalam
kondisi sehat, bila kesehatan seseorang terganggu, maka mereka akan melakukan
berbagai cara untuk dapat mengembalikan kesehatannya seperti semula. Salah
satunya adalah dengan cara berobat pada sarana-sarana pelayanan kesehatan yang
tersedia. Upaya penyembuhan tersebut perlu didukung dengan sarana pelayanan
kesehatan yang baik dan harus dengan didasari dengan suatu sistem pelayanan
medis yang baik pula dari sarana pelayanan kesehatan tersebut.
Dewasa ini sistem pelayanan medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
sebagai penyembuh banyak diperbincangkan masyarakat, dan penilaian serba
positif terhadap profesi kesehatan mulai luntur dikarenakan dalam upaya
penyembuhan yang dilakukan tenaga kesehatan tidak semuanya sesuai yang
diinginkan oleh pasien, yaitu kesembuhan. Dalam praktek kedokteran sering
terjadi kesalahan yang dapat menimbulkan suatu tindak pidana, misalnya saja
kesalahan diagnosis dan kesalahan dalam melakukan operasi, seperti yang lebih
dikenal dengan istilah malpraktek.
Sorotan masyarakat yang cukup tajam atas jasa pelayanan kesehatan oleh
tenaga kesehatan, khususnya dengan terjadinya berbagai kasus yang menyebabkan
ketidakpuasan masyarakat memunculkan isu adanya dugaan malpraktek medis
yang secara tidak langsung dikaji dari aspek hukum dalam pelayanan kesehatan,
karena penyebab dugaan malpraktek belum tentu disebabkan oleh adanya
kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.




2

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang perlu kita ketahui bersama
adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan malpraktek dan pelayanan kesehatan?
2. Bagaimana Malpraktek dalam bidang Hukum dan Administrasi?
3. Bagaimana Pembuktian malpraktek dibidang pelayanan kesehatan?
4. Bagaimana Malpraktek ditinjau dari segi etika dan hukum?
5. Bagaimana Aspek hukum malpraktek?
6. Bagaimnana Asumsi masyarakat terhadap malpraktek?
7. Bagaimana Upaya pencegahan malpraktik dalam pelayanan kesehatan?
8. Bagaimana Malpraktek Dalam Perspektif Hukum Islam?
9. Bagaimana malpraktek menurut hukum di Indonesia?
10. Bagaimana Issue Malpraktek Pelayanan Kesehatan?


C. Tujuan
Adapun beberapa tujuan dari penyusunan makalah kami ini yaitu pembaca
mampu memahami diantaranya :
1. Definisi dari malpraktek dan pelayanan kesehatan.
2. Malpraktek Dibidang Hukum dan Administrasi
3. Pembuktian malpraktek dibidang pelayanan kesehatan
4. Malpraktek ditinjau dari segi etika dan hokum
5. Aspek hukum malpraktek
6. Asumsi masyarakat terhadap malpraktek
7. Upaya pencegahan malpraktik dalam pelayanan kesehatan
8. Malpraktek Dalam Perspektif Hukum Islam
9. Malpraktek menurut hukum di Indonesia
10. Issue Malpraktek Pelayanan Kesehatan




3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Malpraktek
Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan praktik
mempunyai arti pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktik berarti
pelaksanaan atau tindakan yang salah.
Dalam kamus bahasa medis Malpraktik adalah prilaku atau praktek medis
(Kedokteran/Keperawatan) yang dilakukan dengan salah (keliru) dan melanggar
keetisan dan undang-undang, yang mana dalam menjalankan profesionalnya itu
menimbulkan cedera pada pasien atau kerugian fatal lainya. ( M. Dachlan. Y Al-
Barry, Yustina Akmalia, S.Kp, A. Rahman Usman ; Kamus Istilah Medis.
Definisi malpraktik profesi kesehatan adalah kelalaian dari seseorang
dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu
pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan
terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama
(Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California,
1956). Pengertian malpraktik medik menurut WMA (World Medical
Associations) adalah Involves the physicians failure to conform to the standard of
care for treatment of the patients condition, or a lack of skill, or negligence in
providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to the
patient (adanya kegagalan dokter untuk menerapkan standar pelayanan terapi
terhadap pasien, atau kurangnya keahlian, atau mengabaikan perawatan pasien,
yang menjadi penyebab langsung terhadap terjadinya cedera pada pasien).
Ada dua istilah yang sering dibiearakan secara bersamaan dalam kaitannya
dengan malpraktik yaitu kelalaian dan malpratik itu sendiri. Kelalaian adalah
melakukan sesuatu dibawah standar yang ditetapkan oleh aturan/hukum guna,
melindungi orang lain yang bertentangan dengan tindakan-tindakan yaag tidak
beralasan dan berisiko melakukan kesalahan (Keeton, 1984 dalam Leahy dan
Kizilay, 1998).
Malpraktik adalah kegagalan seorang profesional (misalnya, dokter dan
perawat) untuk melakukan praktik sesuai dengan standar profesi yang berlaku
4

bagi seseorang yang karena memiliki keterampilan dan pendidikan (Vestal, K.W,
1995).
Dalam suatu kasus di California tahun 1956 Gumawadi (1994)
mendifinisikan malpraktik adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat
untuk menerapkan tingkat keterampilan dan pengetahuannya di dalam
memberikan pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang
lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka
dilingkungan wilayah yang sama.
Malpraktek adalah kelalaian dari seorang dokter/perawat untuk
menerapkan tingkat keterampilan dan pengetahuannya didalam memberikan
pelayanan pengobatan/perawatan terhadap seorang pasien, yang lazim diterapkan
dalam mengobati dan merawat orang sakit/terluka dilingkungan wilayah yang
sama. (Yulianus, Malpraktek 2003)

B. Definisi Pelayanan Kesehatan
Pelayanan merupakan suatu aktivitas atau serangkaian alat yang bersifat
tidak kasat mata (tidak dapat diraba), yang terjadi akibat interaksi antara
konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan
pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan persoalan konsumen
(Gronroos, 1990 dalam Ratminto dan Winarsih, 2005).
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah pengunaan fasilitas pelayanan
yang disediakan baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh
petugas kesehatan ataupun bentuk kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan
tersebut yang didasarkan pada ketersediaan dan kesinambungan pelayanan,
penerimaan masyarakat dan kewajaran, mudah dicapai oleh masyarakat,
terjangkau serta bermutu (Azwar, 1999).

C. Malpraktek Dibidang Hukum
Untuk Malpraktik Hukum Atau Yuridical Malpractice Dibagi Dalam 3
Kategori Sesuai Bidang Hukum Yang Dilanggar, Yakni Criminal Malpractice,
Civil Malpractice Dan Administrative Malpractice.
5

1. Criminal Malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice
manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni :
a. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan
perbuatan tercela.
b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa
kesengajaan (intensional), kecerobohan (reklessness) atau kealpaan
(negligence).
a) Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional) misalnya
melakukan euthanasia (pasal 344 kuhp), membuka rahasia jabatan
(pasal 332 kuhp), membuat surat keterangan palsu (pasal 263 kuhp),
melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 kuhp).
b) Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya
melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent.
c) Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang
hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien,
ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan operasi.
Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah
bersifat individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan
kepada orang lain atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan.
2. Civil malpractice
Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil malpractice
apabila tidak melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya
sebagaimana yang telah disepakati (ingkar janji). Tindakan tenaga kesehatan
yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi
terlambat melakukannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
6

Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau
korporasi dan dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius
liability.dengan prinsip ini maka rumah sakit/sarana kesehatan dapat
bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya (tenaga
kesehatan) selama tenaga kesehatan tersebut dalam rangka melaksanakan
tugas kewajibannya.
3. Administrative Malpractice
Dokter dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala
tenaga perawatan tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu
diketahui bahwa dalam melakukan police power, pemerintah mempunyai
kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan, misalnya
tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan profesinya
(surat ijin kerja, surat ijin praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga
perawatan. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang
bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hokum administrasi.

D. Malpraktek Administrasi
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa malpraktek administrasi
(administrative malpractice) adalah apabila perawat, dalam hal ini dokter (
pemberi jasa pelayanan kesehatan ) telah melanggar hukum administrasi.
Pelanggaran tehadap hukum administrasi tersebut antara lain seperti dokter tidak
mempunyai Surat Izin Kerja, Surat Izin Praktek, atau melanggar batas
kewenangan tenaga keperawatan.
Aspek Hukum Administrasi dalam Penyelenggaraan Praktik Kedokteran
Setiap dokter/dokter gigi yang telah menyelesaikan pendidikan dan ingin
menjalankan praktik kedokteran dipersyaratkan untuk memiliki izin. Izin
menjalankan praktik memiliki dua makna, yaitu:
(1) izin dalam arti pemberian kewenangan secara formil (formeele bevoegdheid)
(2) izin dalam arti pemberian kewenangan secara materiil (materieele
bevoegdheid).
7

Secara teoritis, izin merupakan pembolehan (khusus) untuk melakukan
sesuatu yang secara umum dilarang. Sebagai contoh: dokter boleh melakukan
pemeriksaan (bagian tubuh yang harus dilihat), serta melakukan sesuatu (terhadap
bagian tubuh yang memerlukan tindakan dengan persetujuan) yang izin semacam
itu tidak diberikan kepada profesi lain.
Pada hakikatnya, perangkat izin (formal atau material) menurut hukum
administrasi adalah:
a. Mengarahkan aktivitas artinya, pemberian izin (formal atau material) dapat
memberi kontribusi, ditegakkannya penerapan standar profesi dan standar
pelayanan yang harus dipenuhi oleh para dokter (dan dokter gigi) dalam
pelaksanaan praktiknya.
b. Mencegah bahaya yang mungkin timbul dalam rangka penyelenggaraan
praktik kedokteran, dan mencegah penyelenggaraan praktik kedokteran oleh
orang yang tidak berhak.
c. Mendistribusikan kelangkaan tenaga dokter/ dokter gigi, yang dikaitkan
dengan kewenangan pemerintah daerah atas pembatasan tempat praktik dan
penataan Surat Izin Praktik (SIP).
d. Melakukan proses seleksi, yakni penilaian administratif, serta kemampuan
teknis yang harus dipenuhi oleh setiap dokter dan dokter gigi.
e. Memberikan perlindungan terhadap warga masyarakat terhadap praktik yang
tidak dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi tertentu.
Dari sudut bentuknya, izin diberikan dalam bentuk tertulis, berdasarkan
permohonan tertulis yang diajukan. Lembaga yang berwenang mengeluarkan izin
juga didasarkan pada kemampuan untuk melakukan penilaian administratif dan
teknis kedokteran. Pengeluaran izin dilandaskan pada asas.asas keterbukaan,
ketertiban, ketelitian, keputusan yang baik, persamaan hak, kepercayaan,
kepatutan dan keadilan. Selanjutnya apabila syaratsyarat tersebut tidak terpenuhi
(lagi) maka izin dapat ditarik kembali. Telah terjadi beberapa perubahan mendasar
yang berkaitan dengan perizinan di dalam UUPK, yaitu:
8

a. Digunakan terminologi Surat Tanda Registrasi (STR) yang diterbitkan oleh KK,
sebagai pengganti terminologi Surat Penugasan (SP).
b. Untuk mendapatkan STR pertama kali dilakukan uji kompetensi oleh organisasi
profesi (dengan sertifikat kompetensi).
c. Surat Tanda Registrasi (STR) diberikan oleh KKI dan berlaku selama lima
tahun serta dapat diperpanjang melalui uji kompetensi lagi.
d. Masa berlaku SIP sesuai STR. Dengan kata lain, bila masa berlaku STR sudah
habis maka SIP juga habis.
Sebagai implementasi dari UUPK, telah dikeluarkan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1419/MENKES/PER/X/2005 tentang Penyelenggaraan Praktik
Dokter dan Dokter Gigi untuk menata lebih lanjut masalah perizinan, termasuk
aturan peralihan yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang
mungkin timbul.

E. Pembuktian Malpraktek Dibidang Pelayanan Kesehatan
Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat
dilakukan dengan dua cara yakni :
1. Cara langsung oleh taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur
adanya 4 d yakni :
a. Duty (kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian tenaga dokter dengan pasien, dokter
haruslah bertindak berdasarkan:
a) Adanya indikasi medis
b) Bertindak secara hati-hati dan teliti
c) Bekerja sesuai standar profesi
d) Sudah ada informed consent.
b. Dereliction of duty (penyimpangan dari kewajiban)
Jika seorang dokter melakukan tindakan menyimpang dari apa yang
seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut
standard profesinya, maka dokter dapat dipersalahkan.
c. Direct cause (penyebab langsung)
d. Damage (kerugian)
9

Dokter untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal
(langsung) antara penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang diderita
oleh karenanya dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela diantaranya., dan
hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. Hasil (outcome) negatif tidak
dapat sebagai dasar menyalahkan dokter. Sebagai adagium dalam ilmu
pengetahuan hukum, maka pembuktiannya adanya kesalahan
dibebankan/harus diberikan oleh si penggugat (pasien).
2. Cara tidak langsung
Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien,
yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil
layanan perawatan (doktrin res ipsa loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat
diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi kriteria:
a. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila dokter tidak lalai
b. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab dokter
c. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain
tidak ada contributory negligence.
Di dalam transaksi teraputik ada beberapa macam tanggung gugat,
antara lain:
1. Contractual liability
Tanggung gugat ini timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban
dari hubungan kontraktual yang sudah disepakati.
Di lapangan pengobatan, kewajiban yang harus dilaksanakan adalah
daya upaya maksimal, bukan keberhasilan, karena health care provider
baik tenaga kesehatan maupun rumah sakit hanya bertanggung jawab atas
pelayanan kesehatan yang tidak sesuai standar profesi/standar pelayanan.
2. Vicarius liability
Vicarius liability atau respondeat superior ialah tanggung gugat yang
timbul atas kesalahan yang dibuat oleh tenaga kesehatan yang ada dalam
tanggung jawabnya (sub ordinate), misalnya rumah sakit akan bertanggung
gugat atas kerugian pasien yang diakibatkan kelalaian perawat sebagai
karyawannya.
3. Liability in tort
10

Liability in tort adalah tanggung gugat atas perbuatan melawan hokum
(onrechtmatige daad).
Perbuatan melawan hukum tidak terbatas haya perbuatan yang
melawan hukum, kewajiban hukum baik terhadap diri sendiri maupun
terhadap orang lain, akan tetapi termasuk juga yang berlawanan dengan
kesusilaan atau berlawanan dengan ketelitian yang patut dilakukan dalam
pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda orang lain ( hogeraad 31
januari 1919 ).

F. Malpraktek Ditinjau Dari Segi Etika Dan Hukum
Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di
media masa. Namun, sampai kini, belum ada yang tuntas penyelesaiannya.
Tadinya masyarakat berharap bahwa uu praktik kedokteran itu akan juga
mengatur masalah malpraktek medik. Namun, materinya ternyata hanya mengatur
masalah disiplin, bersifat intern.
Walaupun setiap orang dapat mengajukan ke majelis disiplin kedokteran,
tetapi hanya yang menyangkut segi disiplin saja. Untuk segi hukumnya, undang-
undang merujuk ke kuhp (kitab undang-undang hukum pidana) bila terjadi tindak
pidana. Namun, kalau sampai diajukan ke pengadilan tetap terkatung-katung tidak
ada kunjung penyelesaiannya, lantas apa gunanya?
Di negara yang menganut sistem hukum anglo-saxon, masalah dugaan
malpraktik medik ini sudah ada ketentuan di dalam common law dan menjadi
yurisprudensi. Walaupun indonesia berdasarkan hukum tertulis, seharusnya tetap
terbuka putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap menjadi
yurisprudensi.
Dan karena masyarakat semakin sadar terhadap masalah pelayanan
kesehatan, dpr yang baru harus dapat menangkap kondisi tersebut dengan
berinisiatif membentuk undang-undang (UU) tentang malpraktik medik, sebagai
pelengkap UU praktik kedokteran.
Bagaimana materinya, kita bisa belajar dari negara-negara yang telah
memiliki peraturan tentang hal tersebut. Harapan masyarakat, ketika mereka
merasa dirugikan akibat tindakan medis, landasan hukumnya jelas. Sedangkan di
11

pihak para medis, setiap tindakannya tidak perlu lagi dipolemikan sepanjang
sesuai undang-undang.
Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang
pengguna yang berbeda dari istilah itu.
1. Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas.
Moralitas adalah ha-hal yang menyangkut moral, dan moral adalah sistem tentang
motivasi, perilaku dan perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk.
2. Franz magnis suseno menyebut etika sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi
usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat fundamental : bagaimana
saya harus hidup dan bertindak ? Peter singer, filusf kontemporer dari australia
menilai kata etika dan moralitas sama artinya, karena itu dalam buku-bukunya ia
menggunakan keduanya secara tertukar-tukar.
3. Bagi sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari
lingkungan budaya tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan tenaga
kesehatan lainnya etika berarti kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan
(ekspekatasi) profesi dan amsyarakat, serta bertindak dengan cara-cara yang
profesional, etika adalah salah satu kaidah yang menjaga terjalinnya interaksi
antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar, jujur, adil, profesional dan
terhormat.
4. Bagi eksekutif puncak rumah sakit, etika seharusnya berarti kewajiban dan
tanggung jawab khusus terhadap pasien dan klien lain, terhadap organisasi dan
staff, terhadap diri sendiri dan profesi, terhadap pemrintah dan pada tingkat akhir
walaupun tidak langsung terhadap masyarakat. Kriteria wajar, jujur, adil,
profesional dan terhormat tentu berlaku juga untuk eksekutif lain di rumah sakit.
5. Bagi asosiasi profesi, etika adalah kesepakatan bersamadan pedoman untuk
diterapkan dan dipatuhi semua anggota asosiasi tentang apa yang dinilai baik dan
buruk dalam pelaksanaan dan pelayanan profesi itu.

Malpraktek meliputi pelanggaran kontrak ( breach of contract), perbuatan
yang disengaja (intentional tort), dan kelalaian (negligence). Kelalaian lebih
mengarah pada ketidaksengajaan (culpa), sembrono dan kurang teliti. Kelalaian
bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, selama tidak sampai
12

membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat
menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum de minimis noncurat lex, hukum
tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele (hukumonliine.com, 17 april
2004).
Ketidaktercantuman istilah dan definisi menyeluruh tentang malpraktek
dalam hukum positif di indonesia, ambiguitas kelalaian medik dan malpraktek
yang berlarut-larut, hingga referensi-referensi tentang malpraktek yang masih
dominan diadopsi dari luar negeri yang relevansinya dengan kondisi di indonesia
masih dipertanyakan, semuanya merupakan pe-er besar bagi pemerintah.
Barangkali inovasi cerdas pemerintah guna menangani kasus malpraktek dan
sengketa medik adalah lahirnya ruu praktik kedokteran. Akan tetapi, benarkah
demikian? Dalam beberapa pasal, ruu praktik kedokteran memang memberikan
kepastian hukum bagi dokter sekaligus perlindungan bagi pasien.
Secara substansial, ruu yang terdiri dari 182 pasal ini memuat pasal-pasal
yang implisit dengan teori-teori pembelaan dokter yang umumnya digunakan
dalam peradilan. RUU praktek kedokteran memungkinkan sebuah sistem untuk
meregulasi pelayanan medis yang terstandardisasi dan terkualifikasi sehingga
probabilitas terjadinya malpratek dapat dieliminasi seminimal mungkin. Dengan
dicantumkannya peraturan pidana dan perdata serta peradilan profesi tenaga
medis, harapan perlindungan terhadap pasien dapat terealisasi.

G. Aspek Hukum Malpraktek
Hukum itu mempunyai 3 pengertian, sebagai sarana mencapai keadilan,
yang kedua sebagai pengaturan dari penguasa yang mengatur perbuatan apa yang
boleh dilakukan, dilarang, siapa yang melakukan dan sanksi apa yang akan
dijatuhkan (hukum objektif). Dan yang ketiga hukum itu juga merupakan hak.oleh
karenanya penegakan hukum bukan hanya untuk medapatkan keadilan tapi juga
hak bagi masyarakat (korban).
Sehubungan dengan hal ini, adami chazawi juga menilai tidak semua
malpraktik medik masuk dalam ranah hukum pidana. Ada 3 syarat yang harus
terpenuhi, yaitu
1. Sikap bathin dokter (dalam hal ini ada kesengajaan/dolus atau culpa).
13

2. Syarat dalam perlakuan medis yang meliputi perlakuan medis yang
menyimpang dari standar tenaga medis, standar prosedur operasional, atau
mengandung sifat melawan hukum oleh berbagai sebab antara lain tanpa str atau
sip, tidak sesuai kebutuhan medis pasien.
3. Syarat akibat, yang berupa timbulnya kerugian bagi kesehatan tubuh yaitu luka-
luka (Pasal 90 KUHP) atau kehilangan nyawa pasien sehingga menjadi unsure
tindak pidana.

Selama ini dalam praktek tindak pidana yang dikaitkan dengan dugaan
malpraktik medik sangat terbatas. Untuk malpraktek medik yang dilakukan
dengan sikap bathin culpa hanya 2 pasal yang biasa diterapkan yaitu pasal 359
(jika mengakibatkan kematian korban) dan pasal 360 (jika korban luka berat).
Pada tindak pidana aborsi criminalis (pasal 347 dan 348 kuhp). Hampir
tidak pernah jaksa menerapkan pasal penganiyaan (pasal 351-355 kuhp) untuk
malpraktik medik.
Dalam setiap tindak pidana pasti terdapat unsure sifat melawan hukum
baik yang dicantumkan dengan tegas ataupun tidak. Secara umum sifat melawan
hukum malpraktik medik terletak pada dilanggarnya kepercayaan pasien dalam
kontrak teurapetik tadi.
Dari sudut hukum perdata, perlakuan medis oleh dokter didasari oleh suatu
ikatan atau hubungan inspanings verbintenis (perikatan usaha), berupa usaha
untuk melakukan pengobatan sebaik-baiknya sesuai dengan standar profesi,
standar prosedur operasional, kebiasaan umum yang wajar dalam dunia
kedokteran tapi juga memperhatikan kesusilaan dan kepatutan.perlakuan yang
tidak benar akan menjadikan suatu pelanggaran kewajinban (wan prestasi).
Ada perbedaan akibat kerugian oleh malpraktik perdata dengan malpraktik
pidana. Kerugian dalam malpraktik perdata lebih luas dari akibat malpraktik
pidana. Akibat malpraktik perdata termasuk perbuatan melawan hukum terdiri
atas kerugian materil dan idiil, bentuk kerugian ini tidak dicantumkan secara
khusus dalam uu. Berbeda dengan akibat malpraktik pidana, akibat yang
dimaksud harus sesuai dengan akibat yang menjadi unsure pasal tersebut.
14

Malpraktik kedokteran hanya terjadi pada tindak pidana materil (yang
melarang akibat yang timbul,dimana akibat menjadi syarat selesainya tindak
pidana). Dalam hubungannya dengan malpraktik medik pidana, kematian,luka
berat, rasa sakit atau luka yang mendatangkan penyakit atau yang menghambat
tugas dan matapencaharian merupakan unsure tindak pidana.
Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik
kedokteran maka ia hanya telah melakukan malpraktik etik. Untuk dapat menuntut
penggantian kerugian karena kelalaian maka penggugat harus dapat membuktikan
adanya suatu kewajibanbagi dokter terhadap pasien, dokter telah melanggar
standar pelayananan medik yang lazim dipergunakan, penggugat telah menderita
kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya.
Terkadang penggugat tidak perlu membuktikan adanya kelalaian tergugat.
Dalam hukum dikenal istilah res ipsa loquitur (the things speaks for itself),
misalnya dalam hal terdapatnya kain kasa yang tertinggal di rongga perut pasien
sehingga menimbulkan komplikasi pasca bedah. Dalam hal ini dokterlah yang
harus membuktikan tidak adanya kelalain pada dirinya.

H. Asumsi Masyarakat Terhadap Malpraktek
Maraknya malpraktek di indonesia membuat masyarakat tidak percaya lagi
pada pelayanan kesehatan di indonesia. Ironisnya lagi, pihak kesehatan pun
khawatir kalau para tenaga medis indonesia tidak berani lagi melakukan tindakan
medis karena takut berhadapan dengan hukum. Lagi-lagi hal ini disebabkan
karena kurangnya komunikasi yang baik antara tenaga medis dan pasien. Tidak
jarang seorang tenaga medis tidak memberitahukan sebab dan akibat suatu
tindakan medis. Pasien pun enggan berkomunikasi dengan tenaga medis mengenai
penyakitnya. Oleh karena itu, departemen kesehatan perlu mengadakan
penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat tentang bagaimana kinerja seorang
tenaga medis.
Sekarang ini tuntutan professional terhadap profesi ini makin tinggi. Berita
yang menyudutkan serta tudingan bahwa dokter telah melakukan kesalahan
dibidang medis bermunculan.
15

Di negara-negara maju yang lebih dulu mengenal istilah makpraktek medis
ini ternyata tuntutan terhadap tenaga medis yang melakukan ketidaklayakan dalam
praktek juga tidak surut. Biasanya yang menjadi sasaran terbesar adalah dokter
spesialis bedah (ortopedi, plastic dan syaraf), spesialis anestesi serta spesialis
kebidanan dan penyakit kandungan.
Di indonesia, fenomena ketidakpuasan pasien pada kinerja tenaga medis
juga berkembang. Pada awal januari tahun 2007 publik dikejutkan oleh
demontrasi yang dilakukan oleh para korban dugaan malpraktik medis ke polda
metro jaya dengan tuntutan agar polisi dapat mengusut terus sampai tuntas setiap
kasus dugaan malpraktek yang pernah dilaporkan masyarakat.
Tuntutan yang demikian dari masyarakat dapat dipahami mengingat sangat
sedikit jumlah kasus malpraktik medik yang diselesaikan di pengadilan. Apakah
secara hukum perdata, hukum pidana atau dengan hukum administrasi. Padahal
media massa nasional juga daerah berkali-kali melaporkan adanya dugaan
malpraktik medik yang dilakukan dokter tapi sering tidak berujung pada
peyelesaian melalui sistem peradilan.
Salah satu dampak adanya malpraktek pada zaman sekarang ini
(globalisasi)
saat ini kita hidup di jaman globalisasi, jaman yang penuh tantangan, jaman yang
penuh persaingan dimana terbukanya pintu bagi produk-produk asing maupun
tenaga kerja asing ke indonesia. Kalau kita kaitkan dengan dunia medis, ada
manfaat yang didapat, tetapi banyak pula kerugian yang ditimbulkan. Manfaatnya
adalah seiring mesuknya jaman globalisasi, maka tidak menutup kemungkinan
akan kehadiran peralatan pelayanan kesehatan yang canggih.
Hal ini memberikan peluang keberhasilan yang lebih besar dalam
kesembuhan pasien. Akan tetapi, banyak juga kerugian yang ditimbulkan.
Masuknya peralatan canggih tersebut memerlukan sumber daya manusia yang
dapat mengoperasikannya serta memperbaikinya kalau rusak. Yang menjadi
sorotan disini adalah dalam hal pengoperasiannya.
Coba kita analogikan terlebih dahulu, dengan masuknya peralatan-
peralatan canggih tersebut, maka mutu pelayanan kesehatan harus ditingkatkan.
Namun, yang terjadi saat ini adalah banyak tenaga medis yang melakukan
16

kesalahan dalam pengoperasian peralatan canggih tersebut sehingga menimbulkan
malpraktek. Jelas sekali bahwa ketergantungan pada peralatan pelayanan
kesehatan ini dapat menghambat pelayanan kesehatan. Untuk menindaklanjuti
masalah ini, agar tidak sampai terjadi malpraktek, perlu adanya penyuluhan
kepada tenaga pelayanan kesehatan mengenai masalah ini.
Kemudian, perlu adanya penyesuaian kurikulum pendidikan dengan
perkembangan teknologi. Satu hal yang lebih penting lagi adalah perlu adanya
kesadaran bagi para tenaga medis untuk terus belajar dan belajar agar dapat
meningkatkan kemampuannya dalam penggunaan peralatan canggih ini demi
mencegah terjadinya malpraktek. Hal ini dapat direalisasikan dengan adanya
penyuluhan yang disebutkan tadi. Selain pembahasan dari sisi peralatan tadi, juga
perlu dipikirkan masalah eksistensi dokter indonesia dalam menghadapi
globalisasi. Seperti yang disebutkan sebelumnya, di jaman globalisasi ini
memberikan pintu terbuka bagi tenaga kesehatan asing untuk masuk ke indonesia,
begitu pula tenaga kesehatan indonesia dapat bekerja diluar negeri dengan mudah.
Namun, apabila tidak ada tindakan untuk mempersiapkan hal ini, dapat
menimbulkan kerugian bagi tenaga kesehatan kita. Bayangkan saja, tidak menutup
kemungkinan apabila seorang tenaga medis yang kurang mempersiapkan dirinya
untuk berkiprah di negeri orang, dikarenakan ilmunya yang masih minim serta
perbedaan kurikulum di negeri yang ia tempati, terjadilah malpraktek.
Hal ini tidak saja mencoreng nama baik tenaga edis tersebut tersebut,
tetapi juga nama baik dunia kesehatan indonesia. Yang jelas, kami sangat
berharap akan peran dari pemerintah pada umumnya dan peran dari departemen
kesehatan pada khususnya untuk mempersiapkan tenaga kesehatan indonesia
dalam menghadapi era globalisasi saat ini.

I. Upaya Pencegahan Malpraktik Dalam Pelayanan Kesehatan
1. Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga bidan
karena adanya mal praktek diharapkan para bidan dalam menjalankan
tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:
17

a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya,
karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan
perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis).
b. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
d. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
e. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala
kebutuhannya.
f. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat
sekitarnya.
2. Upaya menghadapi tuntutan hukum
Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan
sehingga bidan menghadapi tuntutan hukum, maka tenaga bidan
seharusnyalah bersifat pasif dan pasien atau keluarganyalah yang aktif
membuktikan kelalaian bidan.
Apabila tuduhan kepada bidan merupakan criminal malpractice, maka
tenaga bidan dapat melakukan :
a. Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/
menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak
menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada, misalnya bidan mengajukan
bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja, akan tetapi merupakan risiko
medik (risk of treatment), atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak
mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam
perumusan delik yang dituduhkan.
b. Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan
atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal
tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau
melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung jawaban,
dengan mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya
paksa.

18

Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya bidan menggunakan jasa
penasehat hukum, sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan
kepadanya.
Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana bidan digugat
membayar ganti rugi sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan
dalil-dalil penggugat, karena dalam peradilan perdata, pihak yang mendalilkan
harus membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain pasien atau
pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat
(bidan) bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat.
Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah,
utamanya tidak diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa
loquitur), apalagi untuk membuktikan adanya tindakan menterlantarkan
kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung antara
menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage),
sedangkan yang harus membuktikan adalah orang-orang awam dibidang
kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan tenaga kebidanan.
Di indonesia terdapat ketentuan informed consent yang diatur antara
lain pada peraturan pemerintah no 18 tahun 1981 yaitu:
1. Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak sepenuhnya menentukan
apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak
melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan kemauan pasien,
walaupun untuk kepentingan pasien sendiri.
2. Semua tindakan medis (diagnostic, terapuetik maupun paliatif)
memerlukan informed consent secara lisan maupun tertulis.
3. Setiap tindakan medis yang mempunyai resiko cukup besar,
mengharuskan adanya persetujuan tertulis yang ditandatangani pasien,
setelah sebelumnya pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang
perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta resikonya.
4. Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan
persetujuan lisan atau sikap diam.
5. Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik
diminta maupun tidak diminta oleh pasien. Menahan informasi tidak
19

boleh, kecuali bila dokter/bidan menilai bahwa informasi tersebut dapat
merugikan kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat
memberikan informasi kepada keluarga terdekat pasien. Dalam
memberikan informasi kepada keluarga terdekat dengan pasien, kehadiran
seorang bidan/paramedic lain sebagai saksi adalah penting.
6. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang
direncanakan, baik diagnostic, terapuetik maupun paliatif. Informasi
biasanya diberikan secara lisan, tetapi dapat pula secara tertulis (berkaitan
dengan informed consent).

J. Malpraktek Dalam Perspektif Hukum Islam
Kasus dugaan Malpraktek merupakan akibat yang timbul dalam sengketa
antara dokter dengan pasien/sengketa medik, yang mana pasien melakukan
tuntutan/ gugatan kepada dokter yang mengobatinya karena merasa dirugikan.
Kerugian yang dialami pasien berupa cidera atau cacat permanen bahkan
kematian, hal tersebut diduga sebagai akibat tindakan dokter dan atau rumah sakit
yang telah berlaku lalai. Kerugian yang diderita pasien disebabkan oleh adanya
kelalaian/kesalahan dari dokter yang sering disebut dengan Malpraktek Medik.[3]
Sebagai salah satu contoh, yaitu akibat kesalahahan yang dilakukan oleh
dokter di Rumah Sakit Ciremai di Cirebon, yang menyebabkan Ny. Muzayanah
meninggal dunia. Hal ini disebabkan karena dokter salah dalam melakukan
transfusi darah. Sehingga kasus ini dikategorikan ke dalam kasus Malpraktek.[4]
Dari contoh kasus di atas, yang diduga sebagai Malpraktek. Di sini kami
dari Kelompok 1 (Satu) perlu untuk memberikan definisi tentang Malpraktek dari
berbagai sudut pandang.
Mengenai Malpraktek, terdapat berbagai batasan yang dapat ditelusuri.
Secara leksikal, Malpraktek merupakan frase dari dua kata yaitu Mala dan
Praktek. Mala dapat berarti:
1. Kotor, cemar, noda, penyakit.
2. Tanda larangan yang mempunyai kekuatan magis (di Timor).
3. Buruk, tidak normal. Contoh: Malapraktek (praktek yag buruk), Malagizi (gizi
yang tidak baik).
20

Sedangkan kata praktek mempunyai arti, yaitu:
1. Pelaksanaan secara nyata apa yang disebutkan dalam teori.
2. Pelaksanaan pekerjaan.
3. Perbuatan melakukan teori.
Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai batasan Malpraktek
Medik menurut Black, maka akan diuraikan unsur-unsur yang ada pada istilah
terminologi tersebut. Malpraktek secara harfiah berarti bad practice, praktek
yang jelek atau praktek buruk. Hal ini berkaitan dengan bagaimana praktek
pelaksanaan ilmu dan teknologi medik itu. Singkatnya mengenai praktek
penerapan ilmu dan teknologi kedokteran, praktek profesi medik dan profesi
tersebut mengandung ciri-ciri khusus.
Bila hal ini dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan, maka ketentuan pasal 50 ayat (1) menyebutkan bahwa tenaga
kesehatan menyelenggarakan/melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan bidang
keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan.
Ketentuan pasal 50 ayat (1) dikaitkan dengan pasal 56 ayat (1) UU No. 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan dan pasal 29 ayat (23) UU tentang Praktik
Kedokteran serta dikaitkan dengan istilah (terminologi), istilah Malpractice yang
secara harfiah diterjemahkan dengan Bad practice adalah sarat dengan
permasalahan how to practice the medical science and technology. Ini sangat
erat hubungannya dengan sarana kesehatan yaitu konkretnya melakukan praktek,
subyek atau orang yang melaksanakan praktek, dapat juga meliputi instansi medis.
Hal tersebut tidak terlepas dari ciri-ciri profesi yang melaksanakan praktek
pelaksanaan profesi ilmu dan teknologi medik tersebut. lebih jelasnya
menyangkut ijin praktek itu sendiri. Ini berarti ketentuan pasal 50 ayat (1) itu
dalam pelaksanaannya tidak mungkin terlepas dari etik profesi medik yang diatur
dalam KODEKI dan lafal sumpah dokter yang diatur dalam PP No. 26 Tahun
1960. Demikian permasalahannya mencakup etik dan hukum.
Sedangkan Prof. Hermein Hadiati Koeswadji, S.H., memilih istilah
maltreatmen sebagai istilah yang lebih dekat pada pengertian kesalahan/kelalaian
dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, karena
menurut Prof. Hermein Hadiati Koeswadji, S.H bahwa maltreatment secara
21

harfiah diterjemahkan dengan bad treatment , atau wrong or skillfull
treatment. Dalam hal ini ada 2 (dua) pihak, yaitu di satu pihak subyek yang
melaksanakan treatment dan di lain pihak obyek/subyek yang menjadi sasaran
treatment. Sehingga permasalahannya menjadi how to treat the patient yaitu
bagaimana dokter memperlakukan (dalam arti mengupayakan kesembuhan)
pasiennya.
Mr. L.D Vorstman yang merumuskan Malpraktek Medik atas pendapat
Prof. Hector Treub dan juga atas perumusan Komisi Aanprakelijkheid dari
KNMG (IDI-nya Belanda), yaitu: Seorang dokter melakukan kesalahan profesi
jika ia tidak melakukan pemeriksaan, tidak mendiagnosa, tidak melakukan sesuatu
atau tidak membiarkan sesuatu yang oleh dokter yang baik pada umumnya dan
dengan situasi kondisi yang sama, akan melakukan pemeriksaan dan diagnosa
serta melakukan atau membiarkan sesuatu tersebut.
Para dokter dianggap melakukan suatu kesalahan profesi (Malpraktek,
beroesfout) apabila dalam menjalankan profesinya tidak memenuhi Standar
Profesi Kedokteran, hal ini disebut juga Kuntfout.
Sedangkan Standar Profesi Kedokteran menurut rumusan Leenen adalah
sebagai berikut:
1. Berbuat secara teliti/seksama (Zorvuildig handelen) dikaitkan dengan
culpa/kelalaian. Bila seorang dokter yang bertindak onvoorzichteh, tidak
teliti, tidak berhati-hati, maka ia memenuhi unsur kelalaian; bila ia sangat
tidak hati-hati ia memenuhi culpa lata.
2. Sesuai ukuran ilmu medik (volgens de medische standaard).
3. Kemampuan rata-rata (average) dibanding kategori keahlian medik yang sama
(gemiddelde bewaamheid van gelijke medische categorie).
4. Situasi dan kondisi yang sama (gelijke omstandigheden).
5. Sarana upaya (middelen) yang sebanding/proporsional (azas proporsionalitas).
(met middelen die in redelijke verhouding staan) dengan tujuan konkret
tindakan/perbuatan tersebut (tot het concreet handelingsdoel). Di Belanda
apabila ada dugaan Malpraktek yang dilakukan oleh dokter maka kelima unsur
dari standar ini harus dipakai untuk menguji apakah suatu perbuatan medik
22

merupakan Malpraktek atau tidak, hal tersebut juga dilakukan oleh Hakim di
Indonesia dalam menangani kasus dugaan Malpraktek selama ini.
Dalam Hukum kedokteran dikenal adanya 4 (empat) unsur Malpraktek
medik, yaitu:
1. Adanya duty (kewajiban) yang harus dilaksanakan;
2. Adanya dereliction of that duty (penyimpangan kewajiban);
3. Terjadinya damage (kerugian);
4. Terbuktinya direct causal relationship (berkaitan langsung) antara pelanggaran
kewajiban dengan kerugian.
Apabila ada dugaan Malpraktek maka harus dapat dibuktikan adanya
keempat unsur di atas yang dilakukan dokter dalam menangani pasien. Dalam
pembuktian itu dipakai lima unsur standar profesi kedokteran yang dirumuskan
Leenen.
Dari beberapa pengertian Malpraktek di atas, bahwa kerugian yang
dialami seorang pasien baik berupa cacat tubuh atau bahkan kematian adalah
diakibatkan oleh perbuatan seorang dokter yang mengandung unsur
kesalahan/kelalaian dengan dibuktikan oleh keempat unsur sebagaimana
dijelaskan di atas.
Dalam Hukum Islam (fiqh) perbuatan yang mengakibatkan kepada
kematian atau cacat tubuh/pelukaan terhadap anggota tubuh, akan tetapi perbuatan
tersebut karena faktor kesalahan atau ketidak sengajaan pelakunya, dalam Hukum
Pidana Islam (fiqh jinayat) adalah termasuk ke dalam Jinayah Khoto, yaitu Qotl
al-Koto (pembunuhan karena kesalahan) dan pelukaan karena kesalahan. Dengan
demikian dampak hukum kedua jarimah ini adalah berupa Diyat dan Kafarat
Dalam hukum Pidana Islam, yang termasuk dalam Jarimah Diyat dan
Kafarat adalah:
1. Pembunuhan dengan sengaja yang mendapatkan pemaafan dari keluarga
korban,
2. Pembunuhan semi sengaja,
3. Pembunuhan karena kesalahan.
4. Menyebabkan orang luka karena kelapaan (kesalahan).
23

Ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan tindak pidana pembunuhan karen
kesalahan antara lain Al-Quran Surat An-Nisa ayat 92 dan 93:
Artinya : 92. dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin
(yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)[334], dan Barangsiapa
membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan
seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat[335] yang diserahkan
kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh)
bersedekah[336]. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada Perjanjian
(damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar
diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan
hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya[337],
Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk
penerimaan taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi
Maha Bijaksana 93. dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan
sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka
kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. [334]
Seperti: menembak burung terkena seorang mukmin. [335] Diat ialah
pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa
atau anggota badan. [336] Bersedekah di sini Maksudnya: membebaskan si
pembunuh dari pembayaran diat. [337] Maksudnya: tidak mempunyai hamba;
tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya
untuk dimerdekakan. menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut
itu adalah sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba
sahaya.
Dalam jarimah pembunuhan karena kesalahan terdapat unsur-unsur yang
dapat membedakan dengan jarimah yang lainnya. Unsur-unsur tersebut yaitu:
1. Adanya perbuatan yang menyebabkan kematian.
2. Terjadinya perbuatan itu karena kesalahan, dan
3. Adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan kesalahan dan kematian
korban.

24

Azas legalitas pada pembunuhan tidak sengaja yaitu surat an-Nisa ayat 92
dan Hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud yang berbunyi:

)
Artinya: Rasulullah saw. bersabda: Pada diyat pembunuhan karena
kekeliruan adalah dua puluh unta hiqqoh, dua puluh unta Jadzaah, dua puluh
unta binti makhadl, dua puluh unta binti labun dan dua puluh unta banu
makhadl. (H.R. Tirmidzi).[9]
Berdasarkan ayat dan hadits Nabi di atas maka sanksi pokok pembunuhan
karena tersalah adalah diyat dan kafarat. Sedangkan hukuman penggantinya
adalah puasa dan tazir, dan hukuman tambahannya adalah hilangnya hak waris
dan hak mendapat wasiat.

K. Malpraktek Menurut Hukum Di Indonesia
Menurut UU RI No. 23 Tahun 1992
Pasal 15
1. Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil
dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
2. Tindakan medis tertentu, sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 hanya dapat
dilakukan:
a. Berdasarkan indikasi medis yangmengharuskan diambilnya tindakan
tersebut.
b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk
itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan
pertimbangan tim ahli.
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau
keluarganya.
d. Pada sarana kesehatan tertentu.
Pasal 32
4. Pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau
ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.
25

Pasal 34
1. Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh hanya dapat dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan
dilakukan di sarana kesehatan tertentu.
Pasal 35
1. Transfusi darah hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.
Pasal 36
1. Implan obat dan atau alat kesehatan ke dalam tubuh manusia hanya dapat
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu.
Pasal 37
1. Bedah plastik dan rekonstruksi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang mempunyai keahlian dan kewenangan itu dan dilakukan di sarana
kesehatan tertentu.
Pasal 53
1. Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
2. Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi
standar profesi dan menghormati hak pasien.
Pasal 70
1. Dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan dapat dilakukan bedah
mayat untuk penyelidikan sebab penyakit dan atau sebab kematian serta
pendidikan tenaga kesehatan.
2. Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang
berlaku dalam masyarakat.

Menurut UU RI No. 29 Tahun 2004
Pasal 29
26

1. Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia
wajib memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter
gigi.
Pasal 36
Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia
wajib memiliki surat izin praktik.
Pasal 41
1. Dokter atau dokter gigi yang telah mempunyai surat izin praktik dan
menyelenggarakan praktik kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
wajib memasang papan nama praktik kedokteran.
Pasal 45
1. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh
dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
Pasal 46
1. Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib
membuat rekam medis.
Pasal 48
1. Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib
menyimpan rahasia kedokteran.
Pasal 50
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak:
a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.
b. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional.
c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya.
d. Menerima imbalan jasa.
Pasal 51
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai
kewajiban:
a. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien.
27

b. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan.
c. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia.
d. Melakukan pertolongan darurat atau dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya.
e. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
atau kedokteran gigi.
Pasal 52
Pasien dalammenerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:
a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 45 ayat 3.
b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.
c. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhanmedis.
d. Menolak tindakan medis.
e. Mendapatkan isi rekammedis.
Pasal 53
Pasien dalammenerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai
kewajiban:
a. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya.
b. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi.
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan.
d. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

SANKSI PIDANA
KUHP 359
Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara
selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.
KUHP 360
28

1. Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum
dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan
selam-lamanya satu tahun.
2. Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa
sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan
jabatannya atau pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman penjara
selamalamanya sembilan bulan atau hukuman kurungan selamalamanya enam
bulan atau hukuman denda setinggi-tingginya Rp.4500,-
KUHP 361
Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam melakukan
sesuatu jabatan atau pekerjaan, maka hukuman dapat ditambah dengan
sepertiganya dan sitersalah dapat dipecat dari pekerjaannya, dalam waktu mana
kejahatan itu dilakukan dan hakim dapat memerintahkan supaya keputusannya itu
diumumkan.
UU RI No. 23 Tahun 1992
Pasal 80
1. Barangsiapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu
hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15
ayat 1 dan ayat 2, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima puluh juta
rupiah)
Pasal 81
1. Barangsiapa yang tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja:
a. Melakukan transplantasi organ dan atau jaringan tubuh sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34 ayat 1.
b. Melakukan implan alat kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
ayat 1.
c. Melakukan bedah plastik dan rekonstruksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 37 ayat 1. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.140.000.000,- (seratus
empat puluh juta rupiah).
Pasal 82
29

1. Barangsiapa yang tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja:
a. Melakukan pengobatan dan atau perawatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32 ayat 4.
b. Melakukan transfusi darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat 1.
c. Melakukan implan obat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat 1.
d. Melakukan pekerjaan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63
ayat 1.
e. Melakukan bedah mayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat 2.
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau
pidana denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah).
UU RI No. 29 Tahun 2004
Pasal 75
1. Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29 ayat 1 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau
denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
Pasal 76
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran
tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp.
100.000.000,- (seratus juta rupiah)
Pasal 79
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling
banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau dokter gigi
yang:
a. Dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 41 ayat 1.
b. Dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 46 ayat 1.
c. Dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e.

30

SANKSI PERDATA
KUH Perdata 1366
Setiap orang bertanggung jawab tidak saja atas kerugian yang disebabkan karena
perbuatannya, tetapi juga atas kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau
kurang hati-hatinya.
KUH Perdata 1367
Mengatur tentang kewajiban pemimpin atau majikan untuk mengganti kerugian
yang disebabkan oleh kelalaian yang dilakukan oleh anak buah atau
bawahannya.
KUH Perdata 1370
Dalam hal pembunuhan (menyebabkan matinya orang lain) dengan sengaja atau
kurang hati-hatinya seseorang, maka suami dan istri yang ditinggalkan, anak atau
orang tua korban yang biasanya mendapat nafkah dari pekerjaan korban,
mempunyai hak untuk menuntut suatu ganti rugi, yang harus dinilai menurut
kedudukannya dan kekayaan kedua belah pihak serta menurut keadaan.
KUH Perdata 1371
Penyebab luka atau cacatnya suatu anggota badan dengan sengaja atau kurang
hati-hati, memberikan hak kepada korban, selain penggantian biaya-biaya
penyembuhan, juga menuntut penggantian kerugian yang disebabkan oleh luka
atau cacat tersebut.

UU RI No. 23 Tahun 1992
Pasal 55
1. Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang
dilakukan tenaga kesehatan.
2. Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 80 (lihat sanksi pidana)
Pasal 81 (lihat sanksi pidana)
Pasal 82 (lihat sanksi pidana)

UU RI No.29 Tahun 2004
31

Pasal 75 (lihat sanksi pidana)
Pasal 76 (lihat sanksi pidana)
Pasal 79 (lihat sanksi pidana)

SANKSI ADMINISTRATIP
UU RI No. 29 Tahun 2004
Pasal 66
1. Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan
dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat
mengadukan secara tertulis kepada Ketua Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia.
2. Pengaduan sekurang-kurangnya harus memuat:
a. Identitas pengadu
b. Nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan waktu
tindakan dilakukan.
c. Alasan pengaduan.
3. Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 tidak
menghilangkan hak setiap orang untuk melaporkan adanya dugaan tindak
pidana kepada pihak yang berwenang dan atau menggugat kerugian perdata ke
pengadilan.
Pasal 67
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia memeriksa dan memberikan
keputusan terhadap pengaduan yang berkaitan dengan disiplin dokter dan dokter
gigi.
Pasal 69
1. Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia mengikat
dokter, dokter gigi dan Konsil Kedokteran Indonesia.
2. Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa dinyatakan tidak
bersalah atau pemberian sanksi disiplin.
3. Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 dapat berupa:
a. Pemberian peringatan tertulis.
b. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik.
32

c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi.

PERMENKES RI No.1419/MENKES/PER/X/2005
Pasal 24
1. Menteri, Konsil Kedokteran Indonesia, Pemerintah Daerah, dan organisasi
profesi melakukan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan peraturan ini
sesuai dengan fungsi, tugas dan wewenang masing-masing.
2. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diarahkan
pada pemerataan dan peningkatan mutu pelayanan yang diberikan oleh dokter
dan dokter gigi.
Pasal 25
1. Dalam rangka pembinaan dan pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
dapat mengambil tindakan administratip terhadap pelanggaran peraturan ini.
2. Sanksi administratip sebagaimana dimaksud ayat 1 dapat berupa peringatan
lisan, tertulis sampai pencabutan SIP.
3. Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota dalam memberikan sanksi administratip
sebagaimana dimaksud ayat 2 terlebih dahulu dapat mendengar pertimbangan
organisasi profesi.
Pasal 26
Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota dapat mencabut SIP dokter dan dokter gigi:
1. Atas dasar keputusan MKDKI
2. STR dokter atau dokter dicabut oleh Konsil Kedokteran Indonesia.
3. Melakukan tindak pidana.
Pasal 27
1. Pencabutan SIP yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota wajib
disampaikan kepada dokter dan dokter gigi yang bersangkutan dalam waktu
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal keputusan
ditetapkan.
2. Dalam hal keputusan dimaksud pada ayat 1 tidak dapat diterima, yang
bersangkutan dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Dinas Kesehatan
33

Provinsi untuk diteruskan kepada Menteri Kesehatan dalam waktu 14 (empat
belas) hari setelah keputusan diterima.
3. Menteri setelah menerima keputusan sebagaimana dimaksud ayat 2
meneruskan kepada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
paling lambat 14 (empat belas) hari.
Pasal 28
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota melaporkan setiap pencabutan SIP
dokter dan dokter gigi kepada Menteri Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia
dan Dinas Kesehatan Provinsi, serta tembusannya disampaikan kepada organisasi
profesi setempat.

L. Issue Malpraktek Pelayanan Kesehatan
Tindakan malpraktik medik adalah salah satu cabang kesalahan di dalam
bidang professional. Tindakan malpraktik medik yang melibatkan para dokter dan
tenaga kesehatan lainnya banyak terdapat jenis dan bentuknya, misalnya kesilapan
melakukan diagnosa, salah melakukan tindakan perawatan yang sesuai dengan
pasien atau gagal melaksanakan perawatan terhadap pasien dengan teliti dan
cermat.Di beberapa negara maju seperti United Kingdom, Australia dan Amerika
Serikat, kasus malpraktik medik juga banyak terjadi bahkan setiap tahun
jumlahnya meningkat. Misalnya, di negara Amerika Serikat pada tahun 1970-an
jumlah kasus malpraktik medik meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan
tahun-tahun sebelumnya dan keadaan ini terus meningkat hingga pada tahun
1990-an. Keadaan di atas tidak jauh berbeda dengan negara Indonesia, dalam
beberapa tahun terakhir ini kasus penuntutan terhadap dokter atas dugaan adanya
malpraktik medik meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Sejak 2006 hingga 2012, tercatat ada 183 kasus kelalaian medik atau bahasa
awamnya malpraktek yang terbukti dilakukan dokter di seluruh Indonesia.
Malpraktek ini terbukti dilakukan dokter setelah melalui sidang yang dilakukan
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Akibat dari
malpraktek yang terjadi selama ini, sudah ada 29 dokter yang izin prakteknya
dicabut sementara. Ada yang tiga bulan, ada yang enam bulan.
34


Hingga Januari 2013 jumlah pengaduan dugaan malpraktik ke konsil
kedokteran Indonesia atau KKI tercatat mencapai 183 kasus. Jumlah tersebut
meningkat tajam dibanding tahun 2009 yang hanya 40 kasus dugaan malpraktik.
Bahkan kasus-kasus ini pun tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan hanya
berakhir di tengah jalan, tanpa adanya sanksi atau hukuman kepada petugas
kesehatan terkait. Dari 183 kasus malpraktek di seluruh Indonesia itu, sebanyak
60 kasus dilakukan dokter umum, 49 kasus dilakukan dokter bedah, 33 kasus
dilakukan dokter kandungan, dan 16 kasus dilakukan dokter spesialis anak.
Siasanya di bawah 10 macam-macam kasus yang dilaporkan. Selain itu, ada enam
dokter yang diharuskan mengenyam pendidikan ulang. Artinya, pengetahuan
dokter kurang sehingga menyebabkan terjadinya kasus malpraktek. Mereka
kurang dalam pendidikannya sehingga ilmu yang didapatkan itu kurang
dipraktekn atau terjadi penyimpangan dari standar pelayanan atau penyimpangan
dari ilmu yang diberikan. Maka, dia wajib sekolah lagi dalam bidang tertentu. Di
samping kasus malpraktek, beberapa kasus lain yang juga ikut menjerat dokter ke
ranah pidana hingga pencabutan izin praktek di antaranya soal komunikasi dengan
pasien, ingkar janji, penelantaran pasien, serta masalah kompetensi dokter.
Malpraktek Medis Paling Heboh di Dunia
Bangun Ketika Dioperasi Pria dari Virginia Barat ini mengaku terbangun
dari Pingsannya ketika dioperasi dan merasakan setiap sayatan dari pisau bedah
yang dilakukan tim dokter ketika mengoperasi, yang menyebabkan mengalami
trauma selama dua minggu kemudian, Sherman Sizemore kemudian mengajukan
tuntutan ke Rumah Sakit Umum Raleigh Beckley, W.Va., Jan 19, 2006 untuk
operasi penyelidikan dan menentukan penyebab nya ia terbangun. Tetapi pada
saat operasi, dia dilaporkan mengalami fenomena yang dikenal sebagai yg
menyebabkan kematirasaan kesadaran sebuah negara di mana seorang pasien
bedah dapat merasakan sakit, tekanan atau kegelisahan saat operasi, tetapi tidak
dapat bergerak atau berkomunikasi dengan dokter. Tim Dokter Telah melukai pria
73 tahun tersebut dengan pengalaman yang terjaga selama operasi tetapi tidak
dapat bergerak atau menjerit kesakitan.
35


Bedah jantung yang salah Dua bulan setelah dua kali operasi bypass
jantung untuk menyelamatkan hidupnya, pelawak dan mantan Pembawa acara
Saturday Night Live Cast, Dana Carvey mendapat berita bahwa ahli bedah
jantung yang telah mengoperasi salah artery. Butuh waktu lagi untuk
mengoperasi, dan memperbaiki kesalahan yang mengancam membunuh pria 45
tahun itu. Dia kemudian menuntut rumah sakit U$D 7,5 juta. Carvey kemudian
membawa perkara ke pengadilan. Dia mengatakan, ahli bedah telah melakukan
kesalahan fatal. Ini seperti mengeluarkan ginjal yang salah. Ada kesalahan yang
besar, demikian seperti dikutip People Magazine
Salah mencangkok jantung dan paru-paru, sehingga meninggal Tragis
menimpa Jsica Santilln, pasien 17 tahun, imigran Meksiko. Dia meninggal 2
minggu setelah menerima cangkok jantung dan paru-paru dari orang lain dengan
golongan darah berbeda. Dokter di Duke University Medical Center gagal
memeriksa kompatibilitas sebelum operasi dimulai. Santilln yang memiliki jenis
darah O, telah menerima organ dari tipe donor A. Setelah operasi transplantasi ke
dua untuk memperbaiki kesalahan, Jesica malah menderita kerusakan otak dan
komplikasi lain hingga meninggal. Padahal Santilln sudah tiga tahun datang ke
Amerika Serikat untuk mencari perawatan jantung dan paru-paru. Transplantasi
jantung dan paru-paru oleh Dokter Ahli Bedah Rumah Sakit di Universitas Duke
di Durham diharapkan akan memperbaiki kondisi ini, namun bukan kesehatan
diraih, tapi kematian.
Operasi testis yang salah Seorang Veteran Air Force Benjamin Houghton
mengalami gangguan salah satu testisnya. Dia mengeluh sakit dan mengalami
penurunan mentalitas dari testis sebelah kiri. Oleh sebab itu dokter memutuskan
untuk menjadwalkan operasi, untuk membuang salah satu testisnya karena takut
ada kanker. Ternyata apa yang dibuang oleh dokter keliru. Dia justru membuang
testis yang sehat, yakni sebelah kanan. Benjamin Houghton dan Istrinya kemudian
mengajukan ganti rugi sebesar U$D 200 ribu karena kesalahan fatal tersebut

36

Pasca operasi logam tertinggal di dalam Donald Church memiliki tumor
di perut ketika dia berobat ke dokter ahli bedah di Universitas Washington
Medical Center di Seattle pada bulan Juni 2000. Ketika dia kembali, tumor sudah
tidak ada namun sebuah logam retractor ketinggalan di dalam perut lelaki 49
tahun itu. Dokter mengakui kesalahan karena meninggalkan logam retractor
sepanjang 13 Inci di dalam perut. Untungnya, dokter mampu mengangkat
retractor tersebut. Masalahnya, paska pengangkatan, Donald mengalami kesakitan
jangka panjang akibat kesalahan tersebut. Rumah sakit setuju untuk membayar
ganti rugi sebesar U$D 97 ribu.
Seharusnya Operasi Otak tetapi justru Jantung yang di opreasi Joan
Morris (nama samaran) adalah perempuan 67 mengakui ke rumah sakit untuk
belajar namun kesalahannya fatal, karena telah mengambil pasien yang salah yang
harusnya dioperasi otak malah dioperasi jantungya. Saat pasien sudah di meja
operasi selama satu jam. Dokter telah membuat torehan -torehan di dada, artery,
alur dalam sebuah tabung dan snaked atas ke dalam hatinya (prosedur dengan
risiko perdarahan, infeksi, serangan jantung dan stroke). Saat telepon berdering
dan dokter dari departemen lain ditanya apa yang anda lakukan dengan pasien
saya? tidak ada yang salah dengan jantungnya ! . Kardiolog yang bekerja pada
wanita itupun memeriksa grafik, dan melihat bahwa dia telah membuat kesalahan
yang hebat. Kajian ini dibatalkan, dan dia kembali ke kamar itu dalam kondisi
stabil
Operasi Otak Salah Hingga 3 Kali Dalam Setahun Untuk yang ketiga
kalinya pada tahun yang sama, dokter di RS Rhode Island telah mengoperasi salah
satu sisi kepala pasien. Kejadian yang terbaru terjadi Nov 23 2007. perempuan 82-
an tahun suatu operasi untuk menghentikan pendarahan otak dan tengkorak nya. J
neurosurgeon di rumah sakit memulai mengoperasi pengeboran sisi sebelah kanan
kepala pasien, meskipun sebuah CT scan menunjukkan perdarahan di sebelah kiri,
menurut laporan setempat. Para penduduk melaporkan kesalahan, setelah mana
menutup lubang sebelah kiri dari kepala pasien. Pasien tersebut dalam kondisi
yang baik pada hari Minggu

37

Echoes kasus dari kesalahan yang sama Februari lalu, di mana yang berbeda
adalah dokter mengoperasi pada salah satu sisi kepala pasien. Dan terakhir
Agustus, pria 86 tahun meninggal tiga minggu setelah seorang ahli bedah di
Rumah Sakit Rhode Island mengooperasikan secara tidak sengaja di salah satu
samping kepalanya.
Salah Amputasi Kaki Mungkin ini adalah kasus yang paling terkenal yakni
kasus kesalahan pemotongan kaki di Tampa (Florida) terhadap pria 52 tahun
Willie King, saat prosedur pemotongan pada Februari 1995. Akibat kesalahan
fatal rumah sakit tersebut di cabut licensi nya selama 6 bulan dan denda 10.000
US$ dan membayar 900.000 US$ terhadap Willie King dan terakhir tim operasi
membayar juga 250.000 US$ terhadap King
Kesalahan Mengeluarkan Ginjal Yang Sehat Louis Park, Minnesota, pasien
yang dirujuk ke Rumah Sakit Park Nicollet Metodhist karena memiliki tumor
yang diyakini menjadi kanker. Namun, dokter salah mendiagnosa dan membuang
ginjal yang sehatnya Penemuan ini dilakukan pada hari berikutnya ketika
diperiksa oleh tim patologi dan tidak menemukan bukti dari segala kejahatan,
kata Samuel Carlson, MD dan pimpinan Park Nicollet Chief Medical Officer.
Yang berpotensi kanker, ginjal tetap utuh dan berfungsi. Untuk privasi dan
permintaan keluarga, tidak ada rincian tentang pasien.
Bedah Jantung Yang Salah Dua bulan setelah dua kali operasi bypass jantung
yang diduga untuk menyelamatkan hidupnya, pelawak dan mantan Pembawa
acara Saturday Night Live cast anggota Dana Carvey mendapat berita : ahli bedah
jantung yang telah mem bypassed salah artery. Butuh waktu lain operasi darurat
untuk menghapus blockage yang mengancam membunuh pria 45 tahun, pelawak
dan ayah dua anak. Menuntut US $ 7,5 juta Carvey membawa perkara terhadap
rumah sakit tersebut, dengan mengatakan ahli bedah telah melakukan kesalahan
fatal Ini seperti mengeluarkan ginjal yang salah. Ada kesalahan yang besar,
demikian seperti dikutip People Magazine


38

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Malpraktek merupakan gambarang awal tentang dasar-daras resiko yang
harus dihindari oleh petugas kesehatan. dimana malpraktek kerena kesalahan
standar prosedur operasional pelayanan kesehatan sehingga pasien atau klien
disini mengalami kerugian yang membuatnya terluka, bahkan meninggal dunia.
Telah banyak peraturan terkait malpraktek dari segi hukum islam maupun
hukum Indonesia.
Kasus Malpraktek masih saja terjadi dari tahun ketahun, dikarnakan masih
adanya tenaga kesehatan yang kurang professional dalam proses diagnosis
penyakit maupun pelayanan kesehatan yang kurang.

B. Saran
Muda-mudahan materi kami ini mampu memberikan gambaran
pemahaman mengenai malpraktek, dan kiranya pembaca terkhusus dibidang
kesehatan mampu meminimalisir terjadinya malpraktek.

Anda mungkin juga menyukai