Anda di halaman 1dari 6

ijtihad dalam istinbatul hukmi

1.PENDAHULUAN
Keperluan kepada ijtihad kontemporari adalah suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan pada hari
ini. Bukan hanya umtuk menjawab persoalan-persoalan baru yang sentiasa timbul tetapi juga untuk
menilai kembali ijtihad para fuqaha terdahulu memandangkan suasana dan persekitaran hidup sudah
berubah.
Secara mudah ijtihad boleh disifatkan sebagai penyelidikan ilmiah yang serius dan berwibawa.
Secara praktikalnya ia bermula sejak zaman Rasulullah lagi, hal ini dilakukan oleh baginda sendiri
sewaktu wahyu lewat turun bagi menyelesaikan persoalan-persoalan yang memerlukan
penyelesaian segera atau dilakukan oleh para sahabat baginda bagi menghadapi masalah yang
berlaku sewaktu mereka berada jauh daripada baginda Rasulullah s.a.w.
Mengikut para fuqaha lagi, sekurang-kurangnya ada dua tujuan atau objektif kepada ijtihad yang
dilakukan pada zaman Rasulullah itu. Pertamanya untuk melatih para sahabat berijtihad agar
apabila Rasulullah s.a.w. wafat nanti mereka tidak lagi merasa susah untuk melakukannya.
Keduanya ialah untuk memberi jawaban yang segera kepada masyarakat dalam menghadapi
persoalan yang berkenaan. Karena tanpa jawaban yang segera seperti itu orang ramai akan membina
persepsi sendiri. Mereka mungkin merasa sukar untuk mengubah persepsi itu kalau nantinya
diperlukan.
Hanya apabila Rasulullah s.a.w. wafat barulah ijtihad ini secara teori dan praktikalnya diterima
sebagai sumber hukum. Bagaimanapun para sahabat berbeda pendapat dan mempunyai
kecenderungan yang berbeda-beda antara satu sama lain dalam mentafsirkan apa itu ijtihad dan
bagaimana sepatutnya digunakan dalam menentukan hukum. Perbedaan pendapat ini kemudiannya
menghasilkan berbagai aliran di kalangan mereka dalam melihat persoalan berkenaan. Ada aliran
yang lebih konservatif dan ada yang lebih liberal. Ada yang bersifat lebih formal dan ada pula yang
bersifat lebih objektif.
2. PERMASALAHAN
Dari beberapa pernyataan diatas, maka kami sebagai pemakalah dapat memetakan berbagai
permasalahan sebagai berikut :
1.Apa itu pengertian dan dan dasar hukum ijtihad?
2.Tumbuhnya ijtihad serta sebab munculnya
3.Ruang lingkup dan syarat ijtihad.
4.Hukum dan masa berlakunya ijtihad.
5.Dalil-dalil ijtihadi.
6.Macam-macam ijtihad
7.Fungsi Ijtihad
3. PEMBAHASAN
1. Pengertian Ijtihad dan Dasar hukumnya
Ijtihad secara bahasa berasal dari kata jahada yang berarti kemampuan. Menurut istilah ijtihad
adalah sebuah usaha dengan mengerahkan semua kemampuan dalam menggali hukum-hukum
syar’i untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis.1 Ijtihad dilakukan setelah
Nabi Muhammad wafat sehingga tidak bisa langsung menanyakan pada beliau tentang suatu
hukum.
Sedangkan menurut Ibnu Hajib ijtihad adalah pengerahan segenap kemampuan yang dilakukan oleh
seorang ahli fiqih untuk mendapatkan suatu tahap dugaan kuat terhadap adanya sebuah ketetapan
syari’at.2
Ijtihad adalah salah satu sendi syari’at yang besar dan dalil-dalil untuk itu cukup banyak. Didalam
al qur’an banyak ayat yag mendesak menggunakan pikiran dan mengharuskan menmgambil i’tibar,
seperti firman Allah surat Al hasyr ayat 2 3:
Selain itu ada juga ayat yang secara terbuka menyatakan pengakuanya terhadap prinsip ijtihad
dengan menggunakan metode qiyas, seperti surat an nisa’ ayat 105 :
Kata Arokallahu pada ayat diatas mencakup penetapan hukum berdasarkan nash dan yang
berdasarkan proses penetapan hukum dari hukum yang ditetapkan langsung dari nash.
2. Tumbuhnya Ijtihad serta sebab munculnya
Telah menjadi bagian dari kasih Allah bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam
keadaan sia-sia. Sifat dan kasih Allah itu terinfestasi pada dikirimkannya Rosul yang
menyampaikan kabar gembira dan peringatan karena rahma-Nya kepada manusia. Allah
mengalkhiri rangkaian kerosulan dengan nabi SAW dan nabi berijtihad dalam banyak masalah
keduniaan dan keagamaan. Jika ijtihad Rosul sesuai dengan kehendak Allah maka wahyu turun
untuk menguatkanya dan jika tidak maka wahyupun datang menjelaskan cara yang benar dalam
masalah tersebut. Diantara ijtihad beliaua adalah keizinan beliaua bagi orang yag mengajukan
alasan dan tertingggal dalam perang tabuk dan Allah menjelaskan yang benar kepada nabi dengan
firman-Nya yaitu surat at taubah : 44.
Ketika wilayah islam menjadi semakin luas karena terjadinya penaklkan daerah baru, maka
muncullah kasus-kasus dan peristiwa baru yang tidak ada nash yang menjelaskan ketentuan
hukumnya namun memerlukan penyelesaian4. Metode mereka dalam menyelesaikan masalah yang
tidak ada nashnya adalah pertama mereka mencari jawaban dari kitab Allah, jika tidak menemukan
jawaban maka mereka mencari dalam sunnah Rosul. Dan jika tetap tidak berhasil maka mereka
mengumpulkan orang muhajirin dan anshor yang ahli dalam menggunakan ra’yi serta terpercaya.
Apabila mereka sependapat mengenai sesuatu maka pendapat itu ditetapkan sebagai keputusan
hukum yang sah. Tetapi ijma’ seperti ini tidak berlangsung lama. Mereka akhirnya terpisah-pisah
dan menyebar setelah memperluas wilayah taklukan khususnya setelah wafatnya Umar ra. Berbagai
peperangan dan wilayah tempat tinggal mereka telah memperjauh jarak antara mereka dengan
lingkungan mereka menjadi berbeda-beda. Mereka sering berhadapan dengan peristiwa hukum
yang tidak ada penjelasanya dalam al qur’an dan hadis. Hal demikian memaksa mereka untuk
membandingkanya dengan sebahagian ketetapan hukum syari’at yang telah dikenal serta mencari
ketetapan hukumnya melalui ijtihad terutama menyangkut dengan perbedaan pendapat yang
bersumber dari dalil-dalil.
Ijtihad para sahabat bukanlah hanya sekedar keinginan tanpa pertimbangan, melainkan merupakan
hasil dari sebuah nalar yaitu mewujudkan maslahat dan menghindari mafsadat. Setelah sahabat
datanglah masa tabi’in. Mereka ini belajar fiqih kepada sahabat sampai selesai, mereka ikuti dasar-
dasar dan cara-cara sahabatdalam beristidlal. Disamping itu pula para tabi’in juga mempelajari
dalam bidang apa saja para sahabat memelihara maslahat. Mereka juga berbeda pendapat mengenai
memelihara dan mempertimbangkan maslahat tersebut. Ijtihad pada masa tabi’it tabi’in adalah
ijtihad mutlak yaitu ijtihad yang didasarkan pada nalar dan pembahasan serta berusaha keras untuk
menemukan sisi kebenaran tanpa terikan pada pendapat seorang mujtahid lainnya kecuali pendapat
itu merupakan pendapoat seorang sahabat yang diduga bersumber dari sunnah Rosul.
Metode pertama dipimpin oleh imam abu Hanifah. Penggunaan ra’yi yang begitu besar itu adalah
disebabkan karena kota Irak belum lama mengalami kemajuan dalam bidang budaya dan oleh
karena itu pula Irak dilanda erbagai persoalan rumit serta kasus yang banyak yang memaksa mereka
untuk menguasai seluk beluk ijtihad secara mendalam sesuai dengan kelas kasusnya.
Metode kedua dipimpin oleh Imam Malik. Metode ini lebih banyak berpegang pada sunnah secara
khusus, amal penduduk madinah menghindari penggunaan ra’yi secara umum. hal itu sebagaimana
disebutkan oleh ibnu Kholdun, adalah disebabkan karena kehidupan disana lebih cenderung pada
corak keprimitifan dengan pengertian bahwa penduduknya sederhana seklai kehidupannya, mirip
dengan kehidupan Rosul.
3. Ruang lingkup dan syarat ijtihad
Dalam memberi batasan bagi runag lingkup ijtihad, al amidi mengatakan : bidang yang dapat di
ijtihadi adalah hukum-hukum syara’ yang dalilnya bersifat dzanni. Maksud dari dalilnya dzanni
adalah untuk membedakan dari hukum-hukum yang dalilnya bersifat qoth’i (pasti), Seperti sholat
lima waktu, sholat lima waktu bukan merupakan bidang ijtihad karena orang yang keliru dalam
sholat dipandang berdosa, sedangkan masalah-masalah ijtihadiyah itu adalah masalah dimana orang
yang keliru dalam ijtihadnya tidak berdosa.5
Kemudian untuk berijtihad, peristiwa yang dihadapi haruslah peristiwa yang hukumnya tidak
terdapat dalam nash. Dan berdasarkan ini, maka ruang lingkup ijtihad dapat menampung kegiatan
panggilan hukum bagi peristiwa hukum baru pada saat tidak terdapatnya nash. Hal itu dilakukan
dengan jalan berpegang pada tanda-tanda yang telah dipancangkan sebagai petunjuk bagi hukum,
seperti qiyas.
Sahnya ijtihad itu terletak pada diketahuinya dasar-dasar syari’at serta enam syarat dibawah ini :
Mujtahid harus mengetahui bahasa arab, yaitu pengetahuan bahasa dan i’rob, mengetahui secara
menyeluruh mengenai hakekat dan majaz, mengetahui secara menyeluruh mengenai percakapan
yang menyangkut perintah, larangan, umum, khusus, mutlaq, muqoyyad, dalil khitab dan
sebagainya.
Ia harus mengetahui dari kitab Allah segala yang berkaitan dengan berbagai ketentuan berupa
umum dan khusus, mufassar dan mujmal, nasikh dan mansukh, serta dapat menggunakan dzahir
dan mujmal tepat pada apa yang dimaksud oleh suatu ayat, dapat menggunakan nash tepat pada
tujuan penggunaan nash..
Mengetahui kandungan sunnah berupa ketentuan hukum yang meliputi :
Mengetahui tentang thuruq sebuah hadis yaitu mengenai mutawatir dan ahad
Mengetahui para perowi hadis dan kesalehan perawinya
Menguasai lafal-lafal yang bebas dari ihtimal dan lafal-lafal yang dimasuki ihtimal.
Dapat menentukan mana yang kuat diantara khabar-khabar yang bertentangan.
Mengetahui perkataan sahabat dan tabi’in tentang berbagai hukum serta sebagian besar fatwa
fuqoha.
Mengetahui qiyas, dasar-dasar yang boleh dicari illatnya serta sifat yang boleh dijadikan dan yang
tidak boleh dijadikan illatnya, serta mengetahui kaidah-kaidah pentarjihan beberapa dalil.
Ia harus seorang ynag tsiqot dan dipercaya dan tidak memandang mudah terhadap masalah-masalah
agama.6
4. Hukum dan masa berlakunya ijtihad
Ijtihad menjadi wajib ’ain apabila seorang mujtahid dihadapkan kepada peristiwa baru dan ia tidak
mengetahui hukumnya, atau apabila ia ditanyakan mengenai suatu peristiwa yang terjadi dan tidak
ada mujtahid lain selain dia. Kewajiban dimaksud harus dilaksanakan secepatnya jika khawatir akan
berlalunya perisiwa tersebut tanpa menurut jalur yang dikehendaki syara’.7
Ijtihad menjadi wajib kifayah jika disuatu negeri terdapat lebih dari seorang mujtahid dan tidak
khawatir akan berlalunya peristiwa hukum. Apabila sebagian mujtahid telah menentukan hukumnya
maka tuntutan untuk berijtihad pada yang lainya menjadi gugur. Dan jika mereka tidak bersedia
berfatwa padahal mereka mampu memberi jawabanya maka seluruhya dosa.
Ijtihad menjadi sunnah dengan melihat peristiwa-peristiwa yang belum pernah terjadi tetapi boleh
jadi ia terjadi dalam waktu dekat.
Ijtihad menjadi haram apabila ia bertentangan dengan nash al qur’an dan hadis ataupun ijma’
ulama’.
Mengenai masa belakunya ijtihad, Apakah ijtihad itu telah terputus? jawaban yang benar yang
didukung oleh dalil-dalil aqli dan naqli ialah bahwa ijthad itu akan tetap ada sampai terjadinya
kiamat besar. ia tidak boleh terputus. Salah satu alasanya adalah sabda Rosul :
Artinya : Akan tetap ada segolongan dari umatku yang berjuang menegakkan yang hak, mereka
tidak dapat dibinasakan oleh orang yang ingin mengalahkan mereka sampai kiamat.
Memperjuangkan yang hak tak mungkin berhasil tanpa ilmu, dan tak ada ilmu tanpa ijtihad.
Disamping itu jikalau masaitu hampa mujtahid, maka pasti terjadi kesepakatan antara penduduk
atas suatu kesesatan, padahal kesepakatan terhadap kesesatan adalah dosa.
5. Dalil-dalil Ijtihadi :
1. Ijma’
Ijma’ menurut bahasa arab berarti kesepakatan atau sependapat dengan suatu hal, menurut istilah
ijma’ adalah kesepakatan mujtahid tentang hukum syara’ dari suatu peristiwa setelah Rosul
wafat..Sebagai conth adalah setelah rosul meninggtal diperlukan pengangkatan pengganti beliau
yang disebut dengan kholifah. maka kaum muslimin pada waktu itu sepakat mengangkat Abu Bakar
sebagai kholifah pertama. Sekalipun paa mulanya ada yang tidak setuju dengan pegankatan beliau,
namun pada akhirnya semua kaum muslimin menyetujuinya.8
2. Qias
Qias menurut bahasa berarti menyamakan , membandingkan atau mengukur seperti menyamakan si
A dengan si B karena keduanya memiliki tinggi yang sama, wajah yang sama dan berat yang sama.
Secara istilah qias adalah menetapkan hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar
nashnya dengan cara membandingkan dengan suatu kejadian yang telah ditetapakan hukumnya
berdasarkan nash karena ada persamaan illat/sifat diantara kejadian atau peristiwa itu. Contoh
narkotika di Qiaskan dengan meminum khamar.
3.Istihsan
Istihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang baik, menurut istilah istihsan
adalah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang
ditetapkan berdasarkan dalil syara’ menuju hukum lain dari peristiwa itu juga. karena ada suatu dalil
syara’ yang mengharuskan untuk meninggalkanya.
Contoh: Syari’ melarang terhadap jual beli benda yang ada atau mengadakan akad pada sesuatu
yang tidak ada. Namun ia memberi kemurahan secara istihsan pada pemesanan, sewa menyewa,
muzaro’ah, mukhobaroh dll. Semuanya itu adalah akd sedangkan sesuatu yang diakadkan tidak ada
pada waktu akad berlangsung. Segi istihsanya adalah kebutuhan manusia dan kebniasaan mereka.9
4. Maslahah mursalah
adalah suatu kemaslahatan dimana syar;i tidak mensyariatkan sutau hukum ntuk merealisir
kemaslahatan itu dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas pengakuanya atau pembatalanya.
Contoh kemaslahatn yang karenanya para sahabat mensyariatkan pengadaan penjara, pencetakan
mata uang, penetapan tanah p[ertanian, memungut pajak.
5. Urf
Menurut bahasa adalah kebiasaan sedangkan menurt istilah sesuatu yang telah dikenal orang banyak
dan menjadi tradisi mereka dan tentunya tradisi disini adalah kebiasaan yang tidak dilarang. Contoh
: saling pengertian manusia terhadap jual beli dengan cara saling memberikan tan pa adanya sighot
lafdliyah.
6. Istishab
Menurut bahasa adalah pengakuan adanya perhubungan. secara istilah adalah menetapkan hukum
terhadap sesuatu berdasar keadaan sebelumnya sehingga ada dalil yang menyebutkan atas
perubahan keadaan tersebut. Contoh : Apabila seoran mujtahid ditanyai tentang hukum sebuah
perjanjian dan ia tidak menemukan jawaban di nash dan tidak pula menemukan dalil syar’i yang
membicarakan hukumnya mala ia memutuskan dengan kebolehan perjanjian tersebut berdasar
kaidah : inna al ashlu fi syai’in al ibahah.
6. Macam-macam tingkatan Ijtihad
Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan, yaitu:
1. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil,
Yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah istinbath
yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali hukum. Norma-
norma dan kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu. Mujtahid dari tingkatan
ini contohnya seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang terkenal
dengan sebutan Mazhab Empat.
2. Ijtihad Muntasib,
Yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-
kaidah istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). Jadi untuk menggali hukum dari
sumbernya, mereka memakai sistem atau metode yang telah dirumuskan imamnya, tidak
menciptakan sendiri. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud dari norma-norma dan
kaidah-kaidah tersebut. Contohnya, dari mazhab Syafi’i seperti Muzany dan Buwaithy. Dari
madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. Sebagian ulama menilai bahwa Abu
Yusuf termasuk kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil.
3. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid mazhab/fatwa,
yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu. Pada prinsipnya
mereka mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya, demikian juga mengenai hukum
furu’/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. Ijtihad mereka hanya berkisar pada masalah-masalah
yang memang belum diijtihadi imamnya, men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi
beberapa pendapat yang dinukil dari imamnya, mana yang shahih dan mana yang lemah. Contohnya
seperti Imam Ghazali dan Juwaini dari madzhab Syafi’i.
4. Ijtihad di bidang tarjih,
yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik dalam
satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana
diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan
sesuai dengan tuntunan zaman. Dalam mazhab Syafi’i, hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi
dan Imam Rafi’i. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok ketiga dan keempat ini
sedikit sekali perbedaannya; sehingga sangat sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu mereka
menjadikannya satu tingkatan.10
7. Fungsi Ijtihad
Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu , yang tidak ditemukan dalil hukumnya
secara pasti di dalam A-lqur’an dan hadits .
Begitu pula dewasa ini, kehidupan dimulai dari realita. Kita tidak mulai pembaruan dari teks, tidak
dari agama, akidah ataupun dari syari`at. Ini adalah metode Islam ketika kita mencermati metode
asbâb al-nuzûl (konteks sosial atau sebab-sebab turunnya wahyu), dan nâsikh wa al-mansûkh (ayat
yang menghapus dan ayat yang dihapus).
Asbâb al-nuzûl berarti memperhatikan dan memprioritaskan realita atas teks, memperhatikan
pertanyaan daripada jawaban. Seperti ayat-ayat wa yas`alûnaka `ani-l khamr (mereka bertanya
kepadamu mengenai khamer/minuman keras), wa yas`alûnaka `ani-l mahîdl (menstruasi), wa
yas`alûnaka `ani-l anfâl.. dst. Saat ini apa pertanyaaan-pertanyaan yang dihadapai kaum muslimin?
wa yas`alûnaka `ani-l awlamah (globalisasi), wa yas`alûnaka `an nihâyah at-târîkh (akhir sejarah),
wa yas`alûnaka `ani-l ihtilâl (kolonialisme), wa yas`alûnaka `ani-l faqr (kemiskinan), wa
yas`alûnaka `ani-l bathâlah fi indûnisiâ (pengangguran di Indonesia), wa yas`alûnaka `ani-l fasâd
(kerusakan)…dst.
Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah permulaan, dari permasalahan dan musibah yang menggejala
di seluruh masyarakat muslim. Jadi kita memulai dari realita yang general. Maka dari uraian
tersebut dapat disimpulkan bahwasannya fungsi ijtihad dewasa ini ialah sebagai salah satu cara
untuk menentukan hukum islam yang tidak tercntum secara jelas dalm Al-Quran dan Al-Hadist.
4. KESIMPULAN
Ijtihad secara bahasa berasal dari kata jahada yang berarti kemampuan. Menurut istilah ijtihad
adalah sebuah usaha dengan mengerahkan semua kemampuan dalam menggali hukum-hukum
syar’i untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis
Ijtihad para sahabat bukanlah hanya sekedar keinginan tanpa pertimbangan, melainkan merupakan
hasil dari sebuah nalar yaitu mewujudkan maslahat dan menghindari mafsadat.
Yang dapat di ijtihadi adalah hukum-hukum syara’ yang dalilnya bersifat dzanni. Maksud dari
dalilnya dzanni adalah untuk membedakan dari hukum-hukum yang dalilnya bersifat qoth’i (pasti).
Hukum ijtihad dapat wajib ‘ain, wajib kifayah, sunnah dan dapat juga haram
Contoh dari dalil ijtihadi misalnya ada ijma’, qiyas, istihsan, maslahah mursalah, urf dan istishab.
Tingkatan-tingkata ijtihad : mutlaq, muntasib, madzhab dan ijtihad di bidang tarjih
5. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan mengenai ijtihad, dan tentunya kami pemakalah
sebagai manusia biasa yang tak kan luput dari yang namanya kesalahan maka saran konstruktif
maupun kritik sanagt kami harapkan untuk perbaikan makalha yang akan datang.
REFERENSI
1.Dr Abbas Ibrahim Al Dzarwy,1993, Teori ijtihad dalam hokum islam, Dina Putra, Semarang
2.http://www.fiqhmalaysia.com/v1
3.Al qur’an digital
4.DR Faturrahman djamil, 1995, Metode ijtihad majlis tarjih muhammadiyah, Logos, Jakarta.
5.Drs Mu’in Umar dkk, 1986, Ushul Fiqh, Proyrk pembinaan PTAI, Jakarta.
6.Abdul wahab kholaf, 1994, Ilmu ushul fiqh, Dina Utama, Semarang.