Anda di halaman 1dari 9

Servicing With Heart - Informasi dan Kerja Sama Bersama Master Nugraha Family ( MNF ) Insya Allah Berkah

Master Nugraha Family ( MNF ) Master Nugraha Family ( MNF )


Minggu, 05 Januari 2014
ANALISIS KADAR KAFEIN DALAM MINUMAN
ENERGI SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV/VIS
PENGENDALIAN MUTU AGROINDUSTRI
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
JOINTPROGRAM PPPPTK PERTANIAN CIANJUR (VEDCA)
A. PRINSIP
Kafein yang terlarut dalam contoh diekstrak menggunakan kloroform,
kemudian absorbansinya diukur dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang maksimum.
B. TUJUAN
Menentukan kadar kafein dalam contoh (minuman energy).
C. TINJAUAN PUSTAKA
Kafein
Kafein merupakan alkaloid kristal xanthine berwarna putih dan rasanya
pahit yang bisa digunakan sebagai perangsang syaraf (psychoactive
stimulant) dan juga memiliki efek diuretik (gampang beser) pada
manusia dan hewan. Kafein ditemukan oleh ahli kimia Jerman, Friedrich
Ferdinand Runge, pada tahun 1819. Dia menamainya dengan istilah
"kaffein", yaitu sebuah senyawa kimia yang ada pada kopi, yang dalam
logat Inggris menjadi caffeine. Kafein juga dinamai "guaranine" karena
ditemukan pada guarana, "mateine" ketika ditemukan pada mate, dan
"theine" ketika ditemukan pada teh. Semua nama ini merupakan sinonim
dari kafein.
Pada manusia, kafein merupakan perangsang sistem saraf pusat
(central nervous system-CNS), memiliki efek sementara menghilangkan
kantuk dan mengembalikan kesadaran. Banyak minuman yang
mengandung kafein, misalnya kopi, teh, minuman ringan dan minuman
energi. Kafein merupakan zat psychoactive yang paling bayak dipakai
diseluruh dunia, tapi tak seperti zat lainnya, kafein legal dan tidak
dibawah kendali Undang-undang. Di Amerika Utara, 90% orang dewasa
mengkonsumsi kafein setiap hari.
Badan Pangan dan Obat-obatan Amerika mendaftarkan kafein sebagai
"Multiple Purpose Generally Recognized Safe Food Substance". Suatu
studi tahun 2008 menyatakan bahwa perempuan yang mengkonsumsi
200 milligram atau lebih kafein perhari memiliki dua kali risiko keguguran
daripada wanita yang tidak mengkonsumsi kafein, namun studi lain tahun
2008 menyatakan tidak ditemukan hubungan antara keguguran dan
konsumsi kafein.
Rumus Bangun Kafein
www.kungfuchem.blogspot.com
Nama IUPAC :1,3,7-trimethyl-1H-purine-2,6(3H,7H)-
dione
Nama Lain :1,3,7-trimethylxanthine,
02:01:14
Time's Clock
Select Language
Translate
Share this on
Facebook
Tweet this
View stats
(NEW) Appointment
gadget >>
Share It
Yedih
Nugraha
Ikuti
3
Lihat profil
lengkapku
Mengenai Saya
Pengikut
Total Tayangan
Laman
6 5 9
2014 (5)
Januari 2014 (5)
Penyediaan (Suply) Berbagai
Jenis Pupuk
Penyediaan (Suply) Hasil Nabati
Seperti Kelapa, Ja...
Les/Bimbingan Privat Keagamaan
(Baca Tulis Al-qur'...
ANALISIS KADAR KAFEIN DALAM
MINUMAN ENERGI SECARA ...
Catering MNF Cianjur
Arsip Blog MNF
1

More

Next Blog Create Blog

Sign In
converted by Web2PDFConvert.com
trimethylxanthine, theine,
methyltheobromine
Rumus Molekul : C
8
H
10
N
4
O
2
Bobot Molekul : 194,19 g/mol
Bobot Jenis : 1,2 g/cm
3
Bentuk : solid atau padatan
Titik Leleh : 237C
Titik Didih : 178C
Kelarutan Dalam Air : 22 mg/mL (25C), 180 mg/mL
(80C), 670 mg/mL (100C)
Kafein dalam minuman berenergi
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara tegas
menetapkan kadar kafein dalam minuman berernergi maksimal 50
mg. Jika lebih dari itu maka dalam jangka panjang
pengkonsumsinya bisa terkena penyakit ginja, jantung, darah
tinggi, diabetes, stroke, dan risiko abortus untuk wanita hamil.
Secara jangak panjang konsentrasi kafein yang terakumulasi di
dalam tubuh dalam jumlah yang melebihi batas dapat
menimbulkan gangguan kesehatan.
Spektrofotometri
Spektrofotometri adalah salah satu teknik analisis fisika kimia
yang didasarkan pengabsobsian energi cahaya oleh suatu sistem
kimia sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi (Day dan
Underwood, 2002).
Spektrofotometri uv-vis adalah pengukuran serapan cahaya di
daerah ultraviolet (200 350 nm) dan sinar tampak (350 800
nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya uv atau cahaya tampak
mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron
dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital
keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi.
Panjang gelombang cahaya uv atau cahaya tampak bergantung
pada mudahnya promosi elektron. Molekul-molekul yang
memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron, akan
menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul
yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada
panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap
cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai
elektron yang lebih mudah dipromosikan dari pada senyawa yang
menyerap pada panjang gelombang lebih pendek.

D. ALAT DAN BAHAN
Alat Bahan
Pipet volum 2, 4, 6, 8, 10 mL Sampel minuman energy
Pipet tetes Kloroform
Labu ukur 10, 50, 100 mL Kafein standar
Neraca analitik
Labu pemisah
Corong gelas
Gelas piala
Spektrofotometer uv/vis
Kuvet
Spatula
Kertas saring
converted by Web2PDFConvert.com
E. PROSEDUR KERJA
Preparasi Sampel
1. Memipet sampel sebanyak 10 mL dan masukkan ke dalam
labu pemisah
2. Menambahkan kloroform sebanyak 50 mL dan
mengocoknya selama 5 menit
3. Mendiamkan selama beberapa menit sampai terlihat jelas
batas pisah kedua cairan.
4. Mengalirkan cairan yang berada di bawah batas pisah
melalui corong gelas yang telah diberi kertas saring ke dalam
labu ukur 100 mL.
5. Mengulangi ektraksi dengan menambahkan kloroform
sebanyak 40 mL dan mengocoknya selama 1 menit.
6. Mendiamkan selama beberapa menit sampai terlihat jelas
batas pisah kedua cairan.
7. Mengalirkan cairan yang berada di batas pisah melalui
corong pisah yang telah diberi kertas saring ke dalam labu
ukur 100 mL sebelumnya.
8. Mengencerkan cairan ekstrak tadi dengan kloroform sampai
batas garis.
Pengenceran
1. Memipet 2 mL larutan contoh dari labu ukur 100 mL ke
dalam labu ukur 10 mL
2. Mengimpitkan sampai batas garis dengan kloroform
Pembuatan Larutan Baku
1. Larutan baku induk
Menimbang 50 mg standar kafein, add 100 mL (500 ppm).
2. Larutan baku kerja
Memipet 10,0 mL larutan 1, add 50 mL (100 ppm)
Pembuatan Deret Standar
Membuat deret larutan standar yang mengandung 4, 6, 8, 10,
12 ppm dari larutan baku kerja 100 ppm.
a. Dari 100 ppm dipipet sebanyak 4 mL ke dalam labu ukur
100 mL (4 ppm)
b. Dari 100 ppm dipipet sebanyak 6 mL ke dalam labu ukur
100 mL (6 ppm)
c. Dari 100 ppm dipipet sebanyak 8 mL ke dalam labu ukur
100 mL (8 ppm)
d. Dari 100 ppm dipipet sebanyak 10 mL ke dalam labu
ukur 100 mL (10 ppm)
e. Dari 100 ppm dipipet sebanyak 12 mL ke dalam labu
ukur 100 mL (12 ppm)
Pengukuran
Mengukur larutan sampel, standar, dan blanko pada
maksimum.
F. DATA PENGAMATAN
Deret standar
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
4 0,2258
6 0,3231
8 0,4193
converted by Web2PDFConvert.com
10 0,5129
12 0,6112

Sampel
ID
Sampel
mL
sampel
fp
Kons.
pembacaan
Abs.

maks
(nm)
Kons.
(mg/150
mL)
Persamaan
korelasi
Eng 10 50 7,1763 0,379 276 53,83
Y=
0,04803x+0,0322
r = 0,9999
Perhitungan :
Kadar kafein yang tertera dalam contoh = 50 mg/150 mL.
Dari sampel dipipet 10 mLlabu 100 mLdipipet 2 mLlabu 10 mL
Jadi, jumlah kafein sebagai sampel adalah 10 mL/150 mL =
=
3,333 mg/500 mL
= 6,666 mg/L
Konsentrasi yang seharusnya
terukur
Konsentrasi yang terukur pada alat = 7,1763 ppm
Jadi, konsentrasi sebenarnya = 7,1763/6,666 x 50 mg = 53,83 mg/150
mL
Standard Recovery dari 6 ppm
ID
sampel
Absorbansi
Konsentrasi
pembacaan
(mg/L)
Konsentrasi
sebenarnya
(mg/L)
%
recovery
Eng 0,379 7,1763 333,333 107,68
1 0,317 5,8792 6 97,99
2 0,313 5,8063 6 96,77
3 0,317 5,8792 6 97,99
4 0,314 5,8271 6 97,12
5 0,313 5,8042 6 96,74
6 0,314 5,8313 6 97,19
G. PEMBAHASAN
Kafein merupakan alkaloid kristal xanthine berwarna putih dan rasanya
pahit yang bisa digunakan sebagai perangsang syaraf (psychoactive
stimulant) dan juga memiliki efek diuretik (gampang beser) pada
manusia dan hewan.
Analisis kadar kafein ini dilakukan dengan metode spektrofotometri
UV/VIS. Sampel yang digunakan adalah minuman berenergi. Tahapan
analisis yang dilakukan yaitu :
1. Preparasi sampel
Sebelum kadar kafein ditentukan menggunakan
spektrofotometer, perlu dilakukan adanya preparasi sampel.
Preparasi yang dilakukan adalah dengan proses ekstraksi
dengan menggunakan pelarut organik. Pelarut yang digunakan
adalah CHCl
3
(kloroform). Pemilihan pelarut yang digunakan
didasarkan pada sifat kafein yang mudah larut dalam pelarut
organik terutama kloroform. Kloroform ini dipilih karena mudah
larut dengan komponen-komponen organik, mudah menguap
sehingga mudah dipisahkan, kloroform bersifat tidak
converted by Web2PDFConvert.com
mengalami pembakaran di udara. Selain itu, kloroform
merupakan pelarut yang efektif untuk senyawa-senyawa
alkaloid, sehingga kloroform ini cocok untuk kafein yang
merupakan senyawa alkaloid. Selain kelarutan, pemilihan
pelarut ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu titik
didih, toksisitas, serta reaktifitas pelarut dengan komponen
yang akan diekstrak.
Karena pelarut yang digunkan adalah pelarut organik maka
seluruh peralatan yang digunakan harus kering, karena adanya
air akan mengganggu pembacaan pada instrument. Air dapat
menyerap radiasi uv pada panjang gelombang yang cukup
rendah sehingga bisa saja transparan terhadap radiasi
pengukuran, tetapi senyawa-senyawa organik banyak yang
tidak larut dalam air termasuk kloroform, sehingga akan
menyebabkan penyerapan radiasi pengukuran oleh pelarut.
Untuk proses ekstraksi, mula-mula sampel dipipet sebanyak
10 mL ke dalam corong pisah, kemudian ditambahkan CHCl
3
(kloroform) sebagai pelarut untuk pengekstrak. Kloroform yang
digunakan sebanyak 50 mL, kemudian campuran antara
sampel dengan kloroform tersebut diekstraksi selama 5 menit.
Dengan waktu 5 menit ini diharapkan semua kafein yang
terdapat dalam sampel akan terekstrak. Jumlah kloroform yang
digunakan sebaiknya lebih besar, karena lebih besar volume
pelarut yang digunakan dibanding jumlah bahan yang diekstrak
maka rendemen yang dihasilkan juga semakin besar (Nurlita
Soraya, 2008). Semakin banyak pelarut yang ditambahkan
maka semakin besar kemampuan pelarut untuk melarutkan
bahan sehingga semakin banyak komponen bahan yang dapat
diekstrak oleh pelarut. Rendemen hasil ekstraksi akan terus
meningkat hingga larutan menjadi jenuh. Setelah titik jenuh
larutan tercapai, maka tidak akan terjadi peningkatan
rendemen dengan penambahan pelarut.
Setelah diekstrak menggunakan kloroform sebanyak 50
mLkemudian didiamkan selama beberapa saat hingga terlihat
batas pisah kedua cairan. Setelah terpisah kemudian bagian
cairan yang berada pada lapisan bawah diturunkan ke dalam
labu ukur 100 mL melalui corong gelas yang telah dilapisi
dengan kertas saring. Penggunaan kertas saring ini bertujuan
agar larutan akhir yang diperoleh berwarna bening, karena
warna larutan yang keruh akan mengganggu pembacaan pada
instrument. Setelah seluruh caiaran yang berada di bagian
bawah sudah dialirkan semuanya ke dalam labu ukur
kemudian ke dalam corong pisah ditambahkan lagi kloroform
sebanyak 40 mL, kemudian diekstrak kembali. Jadi ekstraksi
dilakukan sebanyak dua kali.
Proses pemisahan antara pelarut dengan komponen contoh ini
dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu sifat dari pelarut dan
senyawa yang diekstrak, perbedaan ion, polaritas, ikatan
hydrogen, serta sifat hidrofobik dan hidrofilik senyawa. Setelah
proses ekstraksi selesai dan larutan didiamkan beberapa
saat, kemudian terlihat batas pisah antara kedua lapisan.
Lapisan bawah adalah kloroform yang telah mengandung
analit (kafein) sedangkan bagian atas adalah bagian yang
converted by Web2PDFConvert.com
tidak larut dalam kloroform yaitu zat-zat lain yang terdapat
dalam sampel sebagai pengotor yang dapat mempengaruhi
hasil analisis.
2. Pengenceran
Proses pengenceran yang dilakukan dengan cara memipet
larutan contoh kafein dalam labu ukur 100 mL sebanyak 2 mL
ke dalam labu ukur 10 mL. Sehingga pengenceran yang
dilakukan adalah sebanyak 5 kali. Pengenceran ini dilakukan
dengan tujuan agar konsentrasi larutan contoh yang terdapat
dalam sampel tidak terlalu pekat yang akan menimbulkan over
range dalam pembacaan menggunakan spektrofotometer.
Karena apabila over range ini terjadi maka konsentrasi analit
yang diukur tidak akan terbaca oleh alat. Alat hanya akan
mengukur absorbansi larutan contoh.
3. Pembuatan larutan baku
Larutan baku dibut dengan cara menimbang 50 mg kafein
satndar berupa serbuk putih, kemudian diencerkan ke dalam
labu ukur 100 mL dan diimpitkan hingga tanda batas dengan
menggunakan kloroform (500 ppm). Kemudian dipipet lagi
sebanyak 10 mL ke dalam labu ukur 50 mL (100 ppm) sebagai
larutan baku kerja yang dapat digunakan dalam pembuatan
deret standar.
4. Pembuatan deret standar
Pembuatan deret standar dilakukan dengan memipet larutan
baku kerja sebanyak 4 mL, 6 mL, 8 mL, 10 mL, dan 12 mL ke
dalam labu ukur 100 mL. Sehingga konsentrasi standar yang
dibuat adalah 4, 6 ,8 ,10, dan 12 ppm. Pembuatan deret
standar ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kafein yang
akan diukur, apakah terletak dalam rentangan deret standar
tersebut atau tidak. Selain itu dengan pembuatan deret standar
akan diketahui tingkat ketelitian dalam pembuatan standar.
5. Pengukuran
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer
pada daerah uv (ultraviolet). Hal ini dikarenakan kafein yang
akan diukur akan menyerap pada daerah panjang gelombang
antara 200-350 nm. Selain itu larutan yang akan diukur
merupakan larutan yang bening sehingga akan terukur jika
menggunakan sinar uv dengan menggunakan sumber lampu
deuterium. Pengukuran sampel dilakukan dengan
menggunakan kuvet sebagai tempat larutan yang akan diukur.
Setiap penggantian larutan yang akan diukur kuvet ini dibilas
sebanyak tiga kali menggunakan larutan yang akan diukur
untuk menghilangkan sisa larutan yang diukur seselumnya.
Mula-mula pengukuran dilakukan dengan mengukur zero base
yang dilakukan dengan mengukur blanko. Blanko yang
digunakan hanya terdiri dari pelarut yaitu kloroform.
Pengukuran zero base ini berfungsi untuk menghilangkan
serapan yangberasal dari pelarut. Blanko yang digunakan
berfungsi untuk mengetahui besarnya serapan yang
disebabkan oleh zat bukan analat, baik hanya pelarut untuk
melarutkan atau mengencerkan ataupun pelarut dan pereaksi
tertentu yang ditambahkan.. Selisih nilai serapan analat
dengan nilai serapan blanko menunjukkkan serapan yang
converted by Web2PDFConvert.com
disebabkan oleh komponen alat.
Setelah pengukuran zero base kemudian dilanjutkan dengan
mencari panjang gelombang maksimum dengan cara
mengukur salah satu deret standar yang telah dibuat kemudian
dibaca panjang gelombang maksimumnya. Berdasarkan hasil
pembacaan dengan menggunakan standar 6 ppm diperoleh
nilai maksimum adalah 276 nm. Setelah pngukuran maks
ditemukan, selanjutnya adalah mengukur deret standar yang
telah dibuat. Berdasarkan hasil pengukuran deret standar 4, 6,
8, 10, dan 12 ppm diperoleh hubungan antara nilai absorbansi
dengan konsentrasi zat yang diukur (koefisien korelasi) adalah
0,9999. Hal ini menunjukkan bahwa standar yang dibuat
memiliki linieritas yang baik dan ketelitian yang baik. Karena
semakin harga r (koefisien korelasi) mendekati 1 maka
semakin baik.
Setelah pengukuran standar kemudian dilakukan pengukuran
terhadap sampel. Berdasarkan hasil pengukuran yang
pertama diperoleh nilai absorbansi sebesar 1,858, namun
konsentrasi yang dihasilkan berada diluar deret standar
(terjadi over range). Setelah dilakukan pengenceran 5 kali dan
dilakukan pembacaan kembali, maka konsentrasi yang
terbaca adalah 7,1763 ppm dengan absorbansi 0,379.
Setelah diperoleh konsentrasi pembacaan sampel, kemudian
dilakukan perhitungan konsentrasi sebenarnya terhadap kadar
kafein yang terdapat dalam minuman berenergi tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh
kadar kafein yang terkandung dalam contoh minuman
berenergi tersebut adalah 53,83 mg/150 mL. sedangkan
dalam label yang terdapat dalam contoh adalah 50mg/150 mL.
Apabila kafein yang terdapat dalam contoh benar-benar 50
mg, maka seharusnya konsentrasi pembacaan yang terukur
adalah 6,666 mg/L. Hal ini berarti kadar kafein yang terdapat
dalam contoh tersebut melebihi standar yang ditetapkan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang secara
tegas menetapakan batas kadar kafein dalam minuman
berenergi maksimal 50 mg (www.bioalami.blogspot.com).
Selain dilakukan pengukuran terhadap sampel dilakukan pula
pengukuran standar 6 ppm sebanyak 6 kali untuk menghitung
% recovery atau % perolehan kembali. Berdasarkan hasil
pengukuran % recovery satndar yang diperoleh adalah 96,77-
97,99%. Ini menunjukkan bahwa standar tersebut memiliki nilai
perolehan kembali yang baik karena masuk ke dalam
persyaratan yang ditentukan. Untuk konsentrasi menengah
criteria kcermatan yang dipersyaratkan adalah 96-105%.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan hasl analisis kadar kafein dapat disimpulkan bahwa
pengukuran kafein secara spektrofotometri uv/vis ini dapat dilakukan
dengan menggunakan metode ekstraksi dengan menggunkan pelarut
organic (kloroform) dengan manggunakan maksimum 276 nm.
Berdasarkan hasil pengukuran dikethui kadar kafein dalam contoh
minuman berenergi tersebut adalah 7,1763 mg/L sehingga berdasarkan
perhitungan konsentrasi yang sebenarnya adalah 53,83 mg/150 mL.
converted by Web2PDFConvert.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Diposkan oleh Yedih Nugraha di 07.35
Label: Quality Control (Anima)
Lokasi: Cianjur, West Java, Indonesia
Sedangkan dalam label pada kemasan contoh kadar kafeinnya adalah
50 mg/150 mL. hal ini mengindikasikan adanya kecurangan yang
dilakukan oleh produsen, karena kadar kafein melebihi standar yang
ditetapkan oleh BPOM yaitu 50 mg.
KETERANGAN : hanya sebagai contoh laporan praktikum, bukan untuk copy paste
100% jika anda mau serius belajar.
A. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Kafein Alias Caffein : Senyawa Kimia Kopi .
http://www.kungfuchem.blogspot.com.html, diakses
tanggal 9 November 2008.
Anonim. 2008. Kafein. http://www.wikipedia.org.com.html, diakses
tanggal 16 November 2008.
Anonym. 2008. Minuman Berenergi.
http://www.bioalami.blogspot.com, diakses tanggal 27
Maret 2009
Day Jr R.A. dan A.L. Underwood. 2002. Analisis Kimia
Kuantitatif. Jakarta : Erlangga
Herliani, An an. 2008. Spektrofotometri. Cianjur. VEDCA Cianjur
Soraya, Nurlita. 2008. Isolasi Kafein Dari Limbah Teh Hitam
CTC Jenis Powdery secara Ekstraksi. Bogor : Fateta,
IPB.
+1 Rekomendasikan ini di Google
Poskan Komentar
Buat sebuah Link
Tidak ada komentar:
Link ke posting ini
converted by Web2PDFConvert.com
Logo
Picture Reflexi
Lokasi Administrasi MNF
Cianjur :
Jl. Ir.H.Juanda, Kp.
Panembong Kaler RT 03/01,
Desa mekarsari, Kec. Cianjur
Kota, Kab. Cianjur 43251
Lokasi MNF
Wisdom for the Journey
Are You Hurting?
Discover a way to healing
"My Prayer for Today"
Lord, may I remember that a setback does not
mean utter defeat, but a mere retreat to store
up strength and win the battle!
The Day of Inspirational Prayer
Follow by Email
Email address... Submit
Template Awesome Inc.. Gambar template oleh molotovcoketail. Diberdayakan oleh Blogger.
converted by Web2PDFConvert.com