PAMFLET | SEPTEMBER 2014

PAMFLET
EDISI 4, SEPTEMBER 2014
Editorial
Raka Ibrahim
Farhanah
Penulis
Indah Yusari
Firman Suryani
Fahmi Ichsan
Niesrina Nadhifah
Fadlia Hana
Muhammad Hisbullah Amrie
Maulida Raviola
Cover
Syennie Valerie
Layout
Leonhard Bartholomeus
Sumber Foto
Halaman Facebook Omah Munir
Satunews.com
Kompas.com
Hendropriyono.com
Detik.com
Blogspot.com
Tempo.com
Nobodycorp Internationale
Jakpro.id
nimg.sulekha.com
Wikimedia.org
Urbancult.net
Engagemedia.org
PAMFLET
EDISI 4, SEPTEMBER 2014
Seluruh teks ©2014 Newsletter Pamfet berlisensi di bawah Creative Commons Attribution NonCommercial-ShareAlike 3.0
Unported License.
Newsletter oleh:
Perkumpulan Pamfet Generasi
Jl. Kemang Raya No. 83H, Kemang,
Jakarta Selatan, 12720
www.pamfet.or.id
Email: pamfetindonesia@gmail.com
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
10 tahun lalu, aktivis Munir Said Thalib dibunuh di udara.
Ini kisahnya.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
PROLOG
Malang, Jawa Timur
September, 2014
Walaupun kabut belum turun, cuaca di Batu, Malang sore itu sudah menjadi alasan kuat untuk
merapatkan baju. Di tengah udara yang dingin, rumah ini mengajak kita menatap mundur pada
sederet sejarah paling kelam yang tercatat dalam perjalanan Indonesia. Kasus Marsinah,
Aceh, Talangsari, penculikan aktivis 1998, dan Kasus Timor-Timur tersimpan dalam bentuk
data di Omah Munir. Kemudian, di etalase kaca, sekumpulan pakaian, sepasang sepatu, serta
KTP. Barang-barang pribadi milik pria yang meminjamkan namanya pada museum kecil ini:
Munir Said Talib.
Omah Munir yang berarti ‘Rumah Munir’ belum genap setahun usianya sejak dibuka pada 8
Desember 2013. Tanggal yang sama dengan ulang tahun Munir.
Munir yang, ketika pusat dokumentasi ini didirikan, sudah sembilan tahun (di)tiada(kan).
-- Sepuluh Tahun Sebelumnya--
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
DUA JAM
JELANG AMSTERDAM
Bandara Soekarno Hatta, 6 September 2004
malam. Munir Said Thalib sedang berada di bandara
bersama istrinya Suciwati, serta rekan-rekan dari
Imparsial dan KontraS. Munir hendak bertolak ke
Belanda untuk melanjutkan studi S2 bidang hukum
humaniter di Universitas Utrecht. Selama menunggu
keberangkatan, Munir, istri, beserta kawan-
kawannya makan dan minum di Dunkin Donuts.
Sembari mereka bertukar cerita, beberapa kali Munir
melontarkan canda.
Pukul 21.30 WIB, seluruh penumpang pesawat
Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974
tujuan Amsterdam dipersilahkan petugas bandara
naik ke pesawat. Ketika boarding memasuki koridor
pesawat, Munir bertemu dengan Pollycarpus
Budihari Priyanto, pilot Garuda yang biasa dipanggil
Polly. Status Polly dalam penerbangan ini adalah
sebagai extra crew/aviation security, yaitu kru yang
terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk
tugas lain. Polly menghampiri Munir dan mereka
berbincang-bincang. Polly kemudian menawarkan
Munir untuk duduk di kursi kelas bisnis. Tawaran
itu awalnya ditolak Munir, yang merasa tidak enak
karena ia hanya membeli tiket untuk kelas ekonomi.
Sampai akhirnya Munir duduk di kelas bisnis, nomor
3K. Kursi 3K adalah tempat duduk Polly, sementara
milik Munir adalah 40G. Polly selanjutnya naik ke
kokpit di lantai dua untuk bersalaman dan mengobrol
dengan awak kokpit yang bertugas. Saat pesawat
mundur dan siap tinggal landas, Polly dipersilakan
oleh purser Brahmanie untuk duduk di kelas
premium karena banyak tempat duduk yang kosong
di kelompok termahal itu. Purser adalah pimpinan
kabin yang bertanggung jawab atas kenyamanan
seluruh penumpang, termasuk kepindahan tempat
duduk mereka.
Sebelum pesawat tinggal landas, di kelas bisnis, Yeti
Susmiarti menyajikan welcome drink. Penumpang
diminta mengambil gelas berisi sampanye, jus
jeruk, atau jus apel. Munir memilih jus jeruk.
Selesai minuman pembuka, pramugari senior itu
membagikan sauna towel (handuk panas), yang
biasa digunakan untuk mengelap tangan, lalu
memberikan surat kabar kepada penumpang yang
ingin membacanya. Semua layanan itu disajikan oleh
Yeti sendiri, dengan bantuan Oedi Irianto, pramugara
senior, yang menyiapkan segala keperluannya di
pantry.
Pukul 22.02 WIB, pesawat yang dikendalikan Kapten
Pilot Sabur Muhammad Taufk itu tinggal landas.
Sekitar 15 menit setelah tinggal landas, pramugari
menawarkan beberapa pilihan makanan dalam
kemasan yang masih panas di atas nampan. Di kursi
3K, Munir memilih mie goreng. Tak lama kemudian,
Yeti kembali memberi tawaran minuman, kali ini lebih
banyak pilihan daripada welcome drink. Pilihannya
adalah minuman beralkohol (wiski, gin, vodka, red
wine, white wine, dan bir), soft drink, jus apel serta
jus jeruk Buavita, jus tomat Berry, susu putih Ultra, air
mineral Aqua, teh, dan kopi. Munir kembali memilih
jus jeruk.
Selama 1 jam 38 menit di udara, akhirnya pesawat
GA 974 mendarat di Bandara Changi Singapura pukul
00.40 waktu setempat. Zona waktu Singapura satu
jam lebih awal ketimbang WIB. Awak kabin memberi
penumpang waktu turun dari pesawat di Bandara
Changi selama 45 menit. Selama di bandara Changi,
Munir hanya singgah di kedai Coffee Bean. Lalu,
Munir kembali menuju ke pesawat melalui gerbang
D 42. Di perjalanan menuju pintu Garuda, ketika
hendak boarding, Munir disapa oleh seorang laki-
laki.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
“Anda Pak Munir, ya?”
“Iya, Pak,” balas Munir.
“Saya dr. Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita,”
ucap laki-laki itu, mengenalkan diri. “Pak Munir
ngapain ke Belanda?”
“Saya mau belajar, mau nge-charge satu tahun.”
“Di mana?”
“Utrecht.”
“Wah, Indonesia kehilangan, dong,” seloroh dr.
Tarmizi, ramah. “Anda kan orang penting?”
“Ya… ini perlu untuk saya, Pak,” timpal Munir sambil
tersenyum.
Keduanya berjalan memasuki pesawat.
“Anda kan pernah nulis tentang Aceh.”
Tanya si dokter, “Bagaimana sih,
bisa beres nggak tuh?”
“Ah, itu tergantung niat, Dok.”
“Maksudnya?”
“Kalau niatnya membereskan, tiga
bulan juga beres.”
Kemudian, dokter kelahiran Sumatera Barat itu
mengeluarkan dompet dan memberi Munir kartu
namanya. “Kapan-kapan, bila perlu, silakan
menghubungi saya.”
Munir menerima kartu nama dr. Tarmizi Hakim, lalu
keduanya berpisah. Si dokter masuk ke kelas bisnis,
Munir menuju pintu bagian belakang pesawat dan
duduk di kursi 40G kelas ekonomi, sebagaimana
tercantum di boarding pass-nya. Polly sendiri hanya
ikut sampai Singapura.
Pesawat Garuda melanjutkan perjalanannya ke
Amsterdam pada pukul 01.50 waktu setempat,
setelah selama satu jam sepuluh menit transit di
Changi untuk pengisian bahan bakar, penggantian
seluruh awak kokpit dan kabin, serta penambahan
penumpang dari Singapura. Pesawat dijadwalkan
tiba di Amsterdam pada 7 September 2004, pukul
08.10 waktu Amsterdam. Penerbangan menuju
bandara Schipol, Amsterdam ini dipimpin oleh
Kapten Pantun Matondang, dengan purser Madjib
Nasution sebagai penanggung jawab pelayanan
penumpang. Sebelum pesawat lepas landas, Munir
sempat meminta obat Promag kepada Pramugari Tia
Dewi Ambara, tetapi karena pesawat akan tinggal
landas dan seluruh awak kabin harus duduk di
tempatnya masing-masing, pramugari Tia meminta
Munir menunggu sebentar.
Lima belas menit kemudian, setelah pesawat di
ketinggian aman, Tia mulai membagikan selimut dan
earphone kepada penumpang, dilanjutkan dengan
membagikan makan malam. Saat Tia sampai di
kursi ekonomi 40G, Munir sedang tidur. Tia
membangunkannya.
“Apa Bapak sudah dapat obat dari
teman saya?”
“Belum,” jawab Munir.
“Maaf, kami tidak punya obat.”
Tia lalu menawarkan makanan, yang
ditolak oleh Munir. Namun, Munir hanya
meminta teh hangat. Ketika Tia melanjutkan
melayani penumpang lain, Munir melewatinya di
gang menuju toilet. Ini kali pertama Munir pergi ke
toilet, sekitar 30 menit setelah tinggal landas.
Tiga jam sudah pesawat terbang di udara. Munir
semakin sering pergi ke toilet. Ketika berjalan di
gang kabin yang hanya diterangi lampu baca, ia
berpapasan dengan pramugara Bondan Hernawa.
Munir mengeluhkan sakit perut dan muntaber kepada
Bondan, serta memintanya memanggilkan dr. Tarmizi
yang duduk di kelas bisnis. Munir juga memberinya
kartu nama dokter itu. Sesuai prosedur untuk situasi
semacam ini, Bondan pun melapor kepada purser
Madjib Nasution yang berada di Purser Station.
Madjib mencari penumpang atas nama dr. Tarmizi
Hakim di Passenger Manifest dan menemukannya di
kursi nomor 1J. Bondan Hernawa dan Madjib Nasution
kemudian mendatangi dokter Tarmizi yang sedang
tidur di kursi 1K, di sebelah kanan kursi 1J. Kursi di
Raut wajah dr.
Tarmizi semakin
khawatir. “Kalau
maag tidak begini,”
gumamnya.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
dekat jendela itu ia dapati kosong. Madjib berusaha
membangunkan, keduanya mengulanginya beberapa
kali dengan suara lebih keras, tapi tidur dokter
Tarmizi tetap tak terusik. Madjib kembali berjumpa
Munir di gang dan memintanya membangunkan dr.
Tarmizi sendiri.
Akhirnya, dr. Tarmizi bangun, dan Munir
menyampaikan kondisi tubuhnya. Ia telah muntah
dan buang air besar sebanyak 6 kali sejak terbang
dari Singapura. Dr. Tarmizi mengusulkan kepada
Madjib supaya Munir pindah tempat duduk ke nomor
4 kelas bisnis agar dekat dengan dokter. Kebetulan,
tidak ada penumpang lain yang duduk di sana. Dokter
Tarmizi menanyakan segala makanan yang telah
dikonsumsi Munir selama di pesawat dan beberapa
hari terakhir. Munir hanya menjawab makanan yang
dikonsumsi selama ini biasa saja dan tidak ada
makanan yang dikira berbahaya.
Raut wajah dr. Tarmizi semakin khawatir. “Kalau
maag tidak begini,” gumamnya.
Dr Tarmizi melakukan pemeriksaan secara umum
dengan membuka baju Munir. Dia lalu mendapati
nadi di pergelangan tangan Munir lemah. Dokter
berpendapat Munir menunjukkan gejala kekurangan
cairan akibat muntaber.
Dr. Tarmizi meminta seorang pramugari
mengambilkan Doctor’s Emergency Kit yang dimiliki
setiap pesawat terbang. Kotak itu dalam keadaan
tersegel. Setelah melihat isinya, dia berpendapat
obat yang tersedia sangat minim, terutama untuk
kebutuhan Munir. Dr. Tarmizi memerlukan infus, tapi
tidak ada. dokter pun mengambil obat dari tasnya
sendiri. Dia memberi Munir obat diare New Diatabs
serta obat mual dan perih kembung Zantacts dan
Promag. Dua tablet untuk yang pertama dan masing-
masing satu tablet untuk dua terakhir. Dr. Tarmizi lalu
meminta seorang pramugari membuatkan teh manis
dengan sedikit tambahan garam.
Munir terus muntah dan buang air besar berkali-kali,
meski sebelumnya telah diberikan obat diare dan teh
dengan air garam. Beberapa jam kemudian Munir
kembali kesakitan. Dokter memberinya minum tapi
Munir, dua hari sebelum dibunuh
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
dimuntahkan kembali. Di kotak obat pesawat terdapat
cairan Primperam, obat anti mual dan muntah, yang
kemudian disuntikkan dr. Tarmizi ke tubuh Munir
sejumlah 5 ml (dosis 1 ampul). Injeksi di bahu kiri
ini cukup berpengaruh karena Munir kemudian tidur.
Penderitaannya reda selama 2-3 jam.
Beberapa kali Munir terbangun dan kembali masuk
ke toilet, hingga setelah berapa lama Munir terlihat
bersandar lemas di dinding toilet. Segera, Munir
yang terbujur lemah langsung diangkat oleh Madjib
dan pramugara Asep Rohman kembali ke kursi 4D.
Setelah duduk, Munir menjalani pemeriksaan oleh
dr. Tarmizi. Pertama pergelangan tangannya, lalu
perutnya diperiksa.
Dr. Tarmizi mengetuk perutnya. “Aduh, sakit,” keluh
Munir.
“Istighfar saja, pak,” saran Madjib pada Munir,
khawatir.
“Astaghfrullah aladzim. La Illaha Illallah.”
Tangan Munir tetap memegangi perut atasnya.
Munir berkata ia ingin istirahat karena capek. Dr.
Tarmizi membuka kotak obat lagi dan mengambil
obat suntik Diazepam. Kali ini, dokter menyuntikkan
5 mg di bahu kanan, juga dengan bantuan purser
Madjib. Jarak antara kedua suntikan sekitar 4-5 jam.
Sesudah suntikan obat penenang itu, Munir masih
merasakan mulas di perut. Setelah lima belas menit,
Munir kembali ke toilet ditemani dokter, purser, serta
pramugari. Di dalamnya, Munir muntah, diikuti buang
air. Kembali ke tempat duduk, Munir berkata dirinya
ingin tidur telentang. Purser dan seorang anak
buahnya membentangkan sebuah selimut sebagai
alas di lantai depan kursi 4D-E dan sebuah bantal
di atasnya. Ia pun berbaring di sana, dengan dua
selimut lagi diletakkan di atas tubuhnya agar hangat.
Selasa, 7 September 2004, sekitar pukul 04.05
UTC (diperkirakan diatas negara Rumania) atau
pukul 08.00 waktu setempat. Sekitar 2 jam sebelum
mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, Madjib
melihat tubuh Munir dalam posisi miring menghadap
kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa,
dan telapak tangannya membiru. Ia memegang
tangan Munir dan mendapati rasa dingin.
Panik. Maka, bergegaslah Madjib menuju kursi dr.
Tarmizi. Tangan dr. Tarmizi memegang pergelangan
tangan Munir, sementara tangan satunya menepuk-
nepuk punggung Munir. Tak ada denyut nadi. Ia
berpaling pada Madjib dan menggelengkan kepala.
“Purser, Pak Munir meninggal...”
Tubuh Munir diangkat oleh pramugara ke lantai
depan kursi. 40 ribu kaki di atas Rumania, mereka
merundukkan kepala dan berdoa.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
SIAPA MUNIR ?
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Kasus-Kasus yang Pernah Ditangani Oleh Munir
Munir lahir di Malang, Jawa Timur, pada 8 Desember 1965. Ia dikenal sebagai aktivis pembela HAM dan
penasehat hukum. Kasus-kasus yang ia tangani banyak menyeret beberapa anggota militer di Indonesia.
Atas perjuangan itu, ia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000), sebuah penghargaan
prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif dari Yayasan The Right Livelihood Award Jacob von Uexkull,
Stockholm, Swedia di bidang pemajuan HAM dan Kontrol Sipil terhadap Militer di Indonesia.
Berikut beberapa kasus yang pernah ditangani oleh Munir:
¤ Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura,
dalam kasus permintaan pertanggungjawaban
militer atas pembunuhan tiga petani Nipah
Madura, Jawa Timur; 1993
¤ Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT.
Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo,
Jawa Timur; 1993
¤ Penasehat Hukum DR. George Junus
Aditjondro (Dosen Universitas Kristen
Satyawacana, Salatiga) dalam kasus
penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta;
1994
¤ Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di
Pasuruan dalam kasus kerusuhan PT. Chief
Samsung; 1995
¤ Penasehat Hukum Dita Indah Sari, Coen
Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan
anggota PRD) dalam kasus subversi,
Surabaya;1996
¤ Penasehat Hukum Sri Bintang Pamungkas
(Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi
dan perkara hukum Administrative Court
(PTUN) untuk pemecatannya sebagai dosen,
Jakarta; 1997
¤ Penasehat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua
Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta;
1997
¤ Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24
aktivis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998
–> [Danjen Koppasus]
¤ Penasehat Hukum dalam kasus pembunuhan
besar-besaran terhadap masyarakat sipil di
Tanjung Priok 1984; sejak 1998
¤ Penasehat Hukum kasus penembakan
mahasiswa di Semanggi, Tragedi 1 dan 2;
1998-1999
¤ Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran
HAM di Timor Timur; 1999
¤ Penggagas Komisi Perdamaian dan
Rekonsiliasi di Maluku
¤ Penasehat Hukum dan Koordinator Advokat
HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua
(bersama KontraS)
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Dan masih banyak lagi kontribusi (alm) Munir dalam penanganan kasus-kasus yang menyangkut pembelaan
Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Sipil. Beberapa kasus yang ditangani Munir yang membawanya
berhadapan dengan kepentingan aktor-aktor tertentu di kalangan militer, yang dipercayai jadi motif
pembunuhan Munir. Berikut beberapa kasus pelanggaran HAM masa lalu yang pernah ditangani Munir, dan
dianggap jadi motif atas pembunuhannya:
1. Kasus penculikan dan penghilangan 24 aktivis dan mahasiswa pada tahun 1997-1998 yang
menyeret nama-nama perwira tengah yang tergabung dalam apa yang disebut sebagai Tim
Mawar. Tim itu lantas diadili.
2. Kasus Trisakti dan Semanggi pada tahun 1998-1999 yang membongkar bahwa pihak militer
yang harus bertanggungjawab atas tragedi Semanggi.
3. Kasus Timor Timur pasca jajak pendapat 1999. Penghancuran dan pembunuhan massal di
Timor Timur menghantarkan Munir pada kelanjutan konfik dengan kelompok militer yang
dianggap bertanggung jawab atas semua kekerasan yang terjadi.
4. Kasus pembunuhan massal di Talangsari Lampung 1989, di mana pada kasus sebelumnya
bersinggungan dengan kelompok militer, kasus Talangsari membawa investigasi pada
persinggungan dengan Hendropriyono. Sementara pada masa pemerintahan Megawati,
Hendropriyono menjadi kepala Badan Intelejen Negara (BIN) dan kasusnya tidak pernah
selesai dan tidak diadili.
Selain keempat kasus tersebut, ada beberapa kasus lain yang melibatkan Munir, yaitu kasus pembantaian
di Tanjung Priok dan kasus 27 Juli. Namun demikian, kedua kasus tersebut sebelum ditangani oleh Munir
telah terlebih dahulu ditangani oleh kelompok-kelompok HAM lainnya dan kelompok-kelompok korban telah
muncul dan mengadvokasi kasusnya sendiri. Sehingga konfik antara dirinya dengan mereka yang dianggap
pelaku relatif sangat rendah.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
MISTERI PILOT GARUDA
Waktu itu siang hari pada medio tahun 2000 di
Bundaran Hotel Indonesia. Pollycarpus Budihari
Priyanto sedang terjebak dalam kemacetan di mobil
Panther-nya ketika Munir membagikan bunga.
Itulah satu-satunya pertemuannya dengan sosok
Munir secara langsung setelah sebelumnya hanya
melihatnya lewat televisi atau surat kabar. Paling
tidak, itulah pengakuannya saat membantah semua
keterangan yang diberikan oleh istri Munir, Suciwati,
di kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam
persidangan pembunuhan
Munir.
Polly memang sosok yang
misterius. Ia besar di Papua
dan menjadi penerbang
misi gereja untuk membawa
sayuran ataupun mengangkut
orang sakit. Setelah menjadi penerbang misi di
Papua, ia memutuskan bergabung dengan Garuda
Indonesia. Dari menerbangkan Fokker 28, ia pun
naik kelas dengan menerbangkan Boeing 737, dan
kemudian menjadi kapten pilot untuk Airbus 330.
Ketika Timor Timur bergolak pada 1999, Polly pun
bertugas untuk mengevakuasi warga Indonesia.
Di lingkungan pergaulannya, Polly disebut-sebut
dekat dengan jajaran tinggi pemerintahan. Rumor
yang beredar di kalangan kru Garuda adalah Polly
memiliki pistol yang didapatnya dari Badan Intelijen
Negara (BIN). Pistol berjenis P-2 Double Action
(P2DA) buatan Pindad dengan caliber 9x19 mm.

Polly dan BIN
Ia diduga mempunyai hubungan yang akrab dengan
BIN. Hal ini bukan sekadar kabar burung yang tak
tentu sarangnya. Berdasarkan temuan Tim Pencari
Fakta Munir, Polly pernah berada di Banda Aceh
dan Lhokseumawe saat diberlakukan darurat
militer bersama agen BIN, Bambang Irawan. Ibu
angkatnya, Hian Tan, pernah mengaku dalam Berita
Acara Pemeriksaan bahwa ia pernah berjumpa
dengan Polly di Papua dan Mabes Polri. Sayangnya,
Hian tak pernah bersaksi di pengadilan. Semua
pernyataannya pun dengan mudah dibantah oleh
Polly.
Dugaan kedekatannya dengan BIN tak berhenti
di situ. Cetakan laporan dari
provider telekomunikasi
mencatat sebanyak 41
komunikasi yang terjadi
antara nomor Polly dan Deputi
V BIN Muchdi Purwopranjono
selama tanggal 25 Agustus
2004 hingga 17 September
2004. Bukan sekadar kebetulan pula Muchdi sempat
duduk di kursi pesakitan terkait kasus Munir meskipun
pada akhirnya diputus bebas oleh Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan.
Tak biasanya Suciwati mendengar Munir menyebut
orang lain “aneh”. Oleh sebab itulah ia ingat betul
cerita suaminya soal Polly sebagai sosok orang yang
ia anggap aneh, sok kenal dan sok akrab. Suatu hari
Polly pernah menitipkan surat kepada Munir saat
hendak berangkat ke Swiss. Tentu ia menganggap
permintaan Polly tersebut tidak wajar. Sebagai
seorang pilot Garuda, Polly sudah pasti memiliki
banyak teman untuk sekadar menitipkan surat. Munir
pun mengantisipasi jikalau yang dititipkan adalah
surat ancaman dan sidik jarinya akan tertinggal dan
dikenali sebagai pengirim surat.
“Saya tidak pernah menghubungi Munir,” ujar
Polly pada tim penyidik. Sayang sekali lie detector
menunjukkan bahwa pernyataannya tersebut
bohong belaka dan ia pun tak bisa lagi mengelak.
Oleh sebab itulah ia ingat betul
cerita suaminya soal Polly sebagai
sosok orang yang ia anggap aneh,
sok kenal dan sok akrab.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Ini senada dengan pernyataan Suciwati pada Jaksa
Penuntut Umum soal kegiatan Polly yang kerap
memonitor suaminya sejak 1999. Dua hari sebelum
keberangkatan Munir, Polly pernah meneleponnya,
begitu pun pada hari keberangkatannya.
Penugasan Dadakan
Pada tanggal 5-9 September 2004, seharusnya Polly
bukan berada di pesawat GA 974 yang akan membawa
Munir ke Belanda, melainkan bertugas ke Peking.
Keanehan terjadi ketika mendadak perjalanannya
diubah menjadi ke Singapura pada 6 September.
Penugasan dadakannya sebagai extra crew hanya
diurus sekitar 5-6 jam sebelum keberangkatan dan
tanpa izin dari Chief of Pilot penerbangan tersebut,
Carmel Sembiring. Penugasannya sebagai Aviation
Security berdasarkan penunjukkan langsung oleh
Direktur Utama Garuda Indonesia saat itu, Indra
Setiawan. Tak kalah janggal adalah isi dari surat
penugasannya. Polly adalah pilot senior, namun
penugasannya saat itu adalah sebagai teknisi. Polly
tidak punya keahlian itu.
Beberapa waktu sebelum Munir tewas, menurut
Direktur Garuda saat itu, Pollycarpus ditugasi untuk
mencari tahu soal insiden Boeing 747 jurusan
Singapura-Amsterdam. Pesawat berbadan besar itu
mengalami masalah karena roda pendaratnya macet
dan pesawat terpaksa membuang bahan bakar
dalam jumlah besar yang menyebabkan Garuda rugi.
Yang benar-benar aneh, Pollycarpus tiba malam hari
dan hanya berada 4 atau 5 jam di Singapura untuk
kemudian kembali dengan pesawat paling pagi ke
Jakarta.
Hanya beberapa menit lagi sebelum pesawat yang
Munir tumpangi akan lepas landas. Saat itulah
Polly menghampiri Munir dan menawarinya untuk
berpindah tempat duduk dari kelas ekonomi nomor
40G ke kelas bisnis nomor 3K. Meskipun sempat
menolak, namun desakan Polly membuatnya
menuruti. “Aku ijolan karo koncoku (Saya bertukar
tempat dengan teman saya),” ujar Polly saat melapor
kepada purser tentang perpindahan tersebut. Saat
itu Brahmani, selaku purser, berpikir Polly telah
menghubungi station manager yang bertugas di
darat, sehingga ia berpikir pertukaran tempat duduk
itu telah sesuai prosedur.
Pukul 01.50 waktu setempat, pesawat itu tinggal
landas. Keesokan harinya, Munir Said Thalib telah
meregang nyawa.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
MENYAPA PARA JENDERAL
”Sebentar pak, Suciwati mau berbicara,” kata Usman
Hamid kepada seorang lelaki tegap yang berjalan di
depannya. Usman berusaha meletakkan tangannya
ke dada lelaki itu agar ia berhenti sejenak, tapi yang
diajak bicara tak sedikit pun mengeluarkan
kata-kata dan terus melangkah. Usman
yang kini berada di belakang lelaki itu
tetap berupaya mencegah lelaki itu
meninggalkan ruangan. “Pak, ada yang
mau bicara,” ucap Usman mengulangi
permintaannya pada pria itu.
Suciwati yang berjalan di belakang Usman
mulai berteriak, “Pembunuh! Anda pembunuh
suami saya!” Tapi orang yang diteriaki oleh Suciwati
tetap bergeming dan terus berjalan keluar dari
ruang sidang di lantai dua, menuruni tangga dan
melenggang masuk kendaraannya bersama para
pengawal. Usman, Suciwati, dan beberapa aktivis
lainnya kemudian hanya bisa menyaksikan mobil
itu menderu meninggalkan areal parkir Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan.
Di dalam mobil, Muchdi Purwopranjono
menghela nafas panjang.
****
Muchdi memang bukan orang baru dalam
kehidupan Munir. Purnawirawan militer
dengan pangkat Mayor Jenderal ini memang
sempat bersitegang dengan Munir, terutama soal
kasus penculikan aktivis 1997-1998. Kasus ini pula
yang akhirnya menghentikan karir Muchdi dengan
posisi terakhir sebagai Komandan dalam kasus
“Pembunuh! Anda
pembunuh suami
saya!”
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
pembunuhan Munir oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan, ternyata tak serta merta menghilangkan
dugaan publik yang tertuju padanya.
Nama Muchdi sendiri muncul setelah Tim Pencari
Fakta (TPF) Kasus Munir menemukan 41 komunikasi
telepon antara nomor yang dimiliki Muchdi dan
pelaku pembunuhan Pollycarpus. Muchdi yang
kala itu menjabat sebagai Deputi V Badan Intelejen
Negara (BIN) diduga mendalangi pembunuhan
Munir.
Tak hanya komunikasi telepon yang kemudian jadi
dasar tudingan keterlibatan Muchdi di kasus Munir.
Muchdi ternyata sempat memberikan uang kepada
Polly melalui Budi Santoso, pensiunan kolonel
yang aktif di BIN sebagai direktur perencanaan dan
pengendalian operasi BIN, sebanyak empat kali.
Pertama sebanyak sepuluh juta rupiah di ruang kerja
Muchdi, kemudian sebanyak dua juta rupiah yang
diberikan dua kali sebelum pembunuhan Munir,
dan satu kali sebelum Polly diperiksa penyidik Polri
sebesar tiga juta rupiah.
Muchdi kemudian dituding membunuh Munir
dikarenakan dendam terhadap aktivitas Munir
dalam penegakan hak asasi manusia, terutama
kasus penculikan aktivis yang mengakhiri karier
Muchdi. Terlebih pada tahun 2002-2003 Munir
sangat kritis terhadap usulan kewenangan BIN
yang dirumuskan dalam draft Rancangan Undang-
Undang (RUU) Intelijen yang dibuat BIN agar BIN
diberi kewenangan penangkapan dan penahanan,
kewenangan bagi Kepala BIN dalam pemberian izin
penggunaan senjata, serta memperluas struktur BIN
hingga ke tingkat desa.
Ketidaksukaan Muchdi terhadap sikap kritis Munir
disampaikan oleh Muchdi kepada pengacara senior,
Adnan Buyung Nasution. Pendekatan serupa juga
dilakukan oleh kepala BIN, Hendropriyono. Atasan
dari Muchdi ini meminta aktivis dan pengacara
Todung Mulya Lubis untuk mengobrol dengan Munir,
dan membujuknya melunakkan sikapnya terhadap
BIN.
Muchdi Purwopranjono
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Hendropriyono sendiri juga memiliki ketegangan
politik dengan Munir berkaitan dengan beberapa
kasus, terutama kasus Talangsari. Hendropriyono
yang kala itu menjadi Korem Garuda
Hitam 043 Lampung diduga sebagai
pihak paling bertanggungjawab
terhadap penyerangan sebuah
kelompok pengajian di
Way Jepara, Talangsari,
Lampung. Atas dasar itulah
Munir dan rekan-rekannya
menggugat keputusan
Presiden Megawati
Soekarnoputri yang
menjadikan Hendropriyono
sebagai kepala BIN ke
Pengadilan Tata Usaha Negara
(PTUN) Jakarta.
Ketegangan antara Munir dan Hendro juga
terjadi kala pemerintah Indonesia mendeportasi
Direktur International Crisis Group, Sidney Jones,
yang pernah mengeluarkan laporan terkait peran
intelijen dalam sejumlah masalah sensitif yang
di luar fungsinya. Isu ini juga bersamaan dengan
ketegangan Munir dengan Hendro seputar laporan
BIN tentang adanya 20 LSM yang dituduh menjual
Indonesia ke pihak asing.
Konflik masa lalu antara Munir dan Hendro inilah
yang juga memunculkan dugaan bahwa Hendro
juga terlibat sebagai ‘penggerak’ dalam kasus
pembunuhan Munir. Hendro memang tak pernah
diperiksa penyidik, tak seperti Muchdi yang sempat
menjadi terdakwa di PN Jakarta Pusat. Namun sikap
Hendro yang tak kooperatif terhadap penyelidikan
yang dilakukan TPF menimbulkan kekecewaan dan
dugaan keterlibatan dirinya.
Hendropriyono justru melecehkan TPF dalam sebuah
wawancara di Metro TV (31 Mei 2005), menyatakan
TPF sebagai “hantu blau” dan “tidak professional”.
Tak cukup sampai disitu, Hendropriyono bahkan
melaporkan dua anggota TPF, Usman Hamid dan
Rachland Nashidik atas pencemaran nama baik
dirinya. Hal ini tentu dilakukan untuk berkelit dari
opini publik yang mengkristal terkait keterlibatannya
dan BIN dalam pembunuhan Munir. Padahal
pertanggungjawaban Hendro dengan membantu
pengungkapan kasus pembunuhan
Munir merupakan kewajiban dirinya
sebagai kepala BIN saat itu.
Muchdi dan Hendropriyono
hanya dua dari sekian
banyak nama yang
meramaikan ingar-bingar
pembunuhan Munir.
Namun, keduanya mewakili
lika-liku kepentingan politik
dan dendam pribadi yang
beririsan pada waktu tepat.
Hingga kini, hanya sekelumit
kepastian yang bisa dipegang oleh
publik, belum lagi keluarga dan rekan
Munir. Sisanya hanya angan dan pertanyaan
yang memburu di kepala.
Entah apa yang terpikir oleh Muchdi hari itu di
Jakarta Selatan. Bisa jadi ia masih lanjut bergeming
di dalam mobil. Telinganya berkedut menutup diri,
tak mengacuhkan teriakan pilu Suciwati. Sementara
mulutnya terkatup rapat. Ia diam seribu bahasa.
“Konfik masa lalu antara Munir dan
Hendro inilah yang juga memunculkan
dugaan bahwa Hendro juga terlibat
sebagai ‘penggerak’ dalam kasus
pembunuhan Munir.”
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Mereka yang (Tak)
Harum Namanya
Profl para terduga, terdakwa dan tersangka dalam kasus pembunuhan Munir,
bagaimana mereka terlibat dan apa-apa yang kemudian terjadi pada mereka.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
bukanlah spesialisasi tugas seorang pilot. Kedua,
Pollycarpus beberapa kali menghubungi Brahmanie
dan Oedi Irianto, pramugara yang juga terbang di
dalam penerbangan tersebut, untuk “menyamakan
persepsi soal penerbangan GA-974”. Ketiga, data
telepon genggam milik Polly tercatat beberapa kali
menghubungi nomor telepon genggam dan telepon
kantor Muchdi Purwoprandjono, Deputi V Badan
Intelijen Negara (BIN), pada tanggal sebelum dan
saat penerbangan dan pembunuhan Munir tersebut
dilakukan. Informasi yang kemudian tersebar adalah
bahwa Pollycarpus merupakan agen utama intelijen
negara yang direkrut oleh Muchdi. Hal ini terungkap
dari hasil pemeriksaan lebih lanjut terhadap
Pollycarpus dan ditemukannya pistol berjenis P2DA
yang izin penggunaannya hanya dimiliki oleh BIN.
Lantas?
Pada tanggal 19 Maret 2005, Polly ditetapkan
sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan
intensif dengan lebih dari 100 pertanyaan oleh tim
penyidik Polri. Sejak 20 September 2005 hingga
saat ini ia tengah menjalani vonis hukuman penjara
selama 14 tahun.
Siapa?
Pilot senior maskapai Garuda Indonesia yang turut
serta dalam penerbangan GA-974 dari Jakarta
menuju Singapura yang juga ditumpangi oleh Munir.
Mengapa?
“Mbak, nomer 40G nang endi? Mbak, aku ijolan
karo kancaku.” (Mbak, nomor 40G di mana? Mbak,
saya bertukar tempat dengan teman saya),” begitu
tutur Brahmanie Hastawati menirukan Pollycarpus,
yang saat itu menanyakan padanya di mana tempat
duduk di kelas ekonomi yang seharusnya ditempati
oleh Munir pada penerbangan menuju Singapura
tersebut.
Brahmanie adalah salah satu saksi pada persidangan
kasus pembunuhan Munir, yang pada tanggal 6
September 2004 bertugas sebagai pramugari dalam
penerbangan GA-974 dari Jakarta untuk transit
menuju Singapura, sebelum terbang menuju tujuan
akhir bandara Schiphol, Amsterdam. Pollycarpus
menawarkan kepada Munir untuk bertukar kursi,
sehingga bangku nomor 3K di kelas bisnis yang
seharusnya ditempati oleh Polly beralih ditempati
oleh Munir. Siapa sangka, gestur yang seakan-akan
bermurah hati ini adalah taktik Pollycarpus untuk
mempermudah usaha pembunuhan Munir, yaitu agar
Munir bisa turun lebih cepat dari pesawat sehingga
ada waktu yang lebih panjang untuk membunuh
Munir pada saat transit selama empat puluh lima
menit di Singapura.
Sejak awal, keikutsertaan Pollycarpus dalam
penerbangan dari Jakarta menuju Singapura tersebut
memang janggal. Pertama, ia adalah seorang pilot
senior di Garuda Indonesia, namun ikut dalam
penerbangan tersebut sebagai seorang Extra Crew
untuk melaksanakan tugas Aviation Security—yang
Pollycarpus Budihari Priyanto
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Siapa?
Seorang agen Badan Intelijen Negara (BIN) yang
pada saat Munir dibunuh sedang menjabat sebagai
Deputi V BIN periode 2001-2005.
Mengapa?
Meskipun belum pasti apakah investigasi yang
dilakukan Munir terhadap kasus penculikan
13 aktivis pada periode 1997-1998, yang
berbuntut pada diberhentikannya Muchdi sebagai
Komandan Jenderal KOPASSUS, merupakan
motif di balik pembunuhan Munir. Yang jelas,
ketika ia diberhentikan, Muchdi baru saja menjabat
sebagai Danjen KOPASSUS selama 52 hari.
Pemberhentiannya dari jabatan tersebut tidak hanya
menjadi pukulan yang berat bagi Muchdi, tetapi juga
mematikan kariernya di bidang militer.
Keterlibatan Muchdi dalam pembunuhan Munir
memperlihatkan bahwa kasus ini bukanlah tindak
pidana biasa, melainkan sebuah kejahatan yang
terstruktur dan terencana. Muchdi dianggap sebagai
pihak yang terlibat kuat dalam pembunuhan Munir
karena secara intensif berkomunikasi dengan
Pollycarpus. Pada hari Munir dibunuh, tercatat
bahwa terdapat lima belas kali hubungan telepon
antara Muchdi dan Pollycarpus. Kesaksian agen BIN
Budi Santoso pun menyebutkan bahwa Pollycarpus
sering mendatangi kantor Muchdi. Muchdi pula yang
memberikan rekomendasi kepada Garuda Indonesia
agar Pollycarpus dapat menjalankan tugas sebagai
Aviation Security.
Lantas?
Meski memperoleh kesaksian yang memberatkan
dari saksi Budi Santoso, pada 31 Desember 2008
Muchdi diputuskan tidak terbukti melakukan
pembunuhan terhadap Munir maupun menjadi
dalang pembunuhan. Majelis Hakim menyatakan
bahwa Muchdi bebas murni dari segala dakwaan.
Mayjen (Purn.) Muchdi Purwoprandjono
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Siapa?
Kepala Badan Intelijen Negara periode 9 Agustus
2001-8 Desember 2004.
Mengapa?
Ketika Usman Hamid, sekretaris Tim Pencari
Fakta (TPF) kasus pembunuhan Munir, bersaksi
bahwa TPF memiliki sebuah dokumen kunci yang
menyebutkan bahwa pembunuhan Munir telah
direncanakan oleh BIN, tanpa diragukan lagi
nama Hendropriyono yang ketika itu menjabat
sebagai Kepala BIN ikut terseret. Jika ditelisik,
rekam jejak Hendropriyono memang lekat dengan
kasus pembantaian massal komunitas jemaah
di Talangsari, Lampung, tahun 1989. Saat
itu, Hendropriyono adalah Kolonel ABRI yang
menjabat sebagai Danrem 043 atau Garuda Hitam,
pemegang komando militer di Lampung.
Dokumen temuan TPF tersebut menyebutkan
secara rinci bagaimana skema rencana(-rencana)
pembunuhan terhadap Munir dibuat dengan
peran serta Hendropriyono di dalamnya. Ada
pertemuan-pertemuan yang dilakukan untuk
membahas rencana pembunuhan Munir dalam
beberapa skenario; seperti menabrak, meracuni,
dan menggunakan ilmu hitam. Skenario meracuni
dalam dokumen ini sangat cocok dengan peristiwa
pembunuhan yang kemudian terjadi, dengan
keterlibatan Pollycarpus di dalamnya.
Lantas?
Dokumen kunci yang disebut oleh Usman Hamid
dan TPF tidak dianggap valid sebagai barang bukti
di pengadilan. Hendropriyono tidak pernah dipanggil
sebagai terdakwa dan hingga saat ini terus aktif
sebagai tokoh militer dan intelijen di Indonesia. Saat
ini ia juga aktif sebagai Dewan Penasihat bidang
Intelijen di Tim Transisi pemerintahan Joko Widodo
& Jusuf Kalla.
Abdullah Makhmud Hendropriyono
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Siapa?
Mantan Direktur Utama PT. Garuda Indonesia
periode 2002-2005.
Mengapa?
Siapa yang memiliki wewenang untuk menerbitkan
surat tugas Pollycarpus sebagai Aviation Security
pada penerbangan GA-974? Indra Setiawan
selaku Direktur Utama PT. Garuda Indonesia lah
jawabannya. Tindakan menerbitkan surat tugas
inilah yang membuat Indra kemudian didakwa
karena dianggap memberikan peluang bagi
terjadinya tindak pembunuhan terhadap Munir. Indra
memberikan kesaksian yang menolak tuduhan atas
keterlibatannya dalam pembunuhan Munir, karena
menurutnya ia hanya mengikuti instruksi dalam surat
yang diberikan M As’ad, Wakil Kepala BIN saat itu,
untuk menjadikan Pollycarpus sebagai Corporate
Security. Surat yang disebut-sebut Indra tidak pernah
dibawa ke pengadilan sebagai barang bukti karena
dinyatakan hilang olehnya saat ia sedang berada di
Hotel Sahid, Jakarta.
Lantas?
Indra dijerat dengan pasal 340 jo Pasal 56 ke-2
KUHP dan terbukti melakukan perbuatan yang
memenuhi unsur perbantuan tindak pembunuhan
berencana dalam pasal 56 KUHP. Indra divonis satu
tahun enam bulan pada tanggal 11 Februaridan saat
ini telah bebas dari masa hukumannya di penjara.
Indra Setiawan
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Siapa?
Sekretaris Kepala Pilot Airbus 330 Garuda pada saat
Munir dibunuh.
Mengapa?
Rohainil ikut ditangkap bersama Indra Setiawan
karena dianggap memuluskan jalan bagi
pembunuhan Munir dengan memalsukan surat
tugas Pollycarpus. Rohainil lah yang mengeluarkan
dan menandatangani Nota Perubahan Nomor:
OFA/219/04 tanggal 6 September 2005, padahal
sesungguhnya ia tidak memiliki wewenang untuk
menandatangani nota pengubahan jadwal terbang
tersebut.
Lantas?
Rohainil divonis hukuman penjara selama satu tahun
sejak 16 September 2009 dan telah menyelesaikan
masa hukumannya. Meski demikian, sejumlah
aktivis HAM yang menamakan diri ‘Sahabat Munir’
sempat mendatangi Kejaksaan Agung dan menuntut
kejelasan proses eksekusi hukuman Rohainil dengan
mengklaim bahwa Rohainil tidak berada di dalam
penjara pada masa ketika hukumannya seharusnya
dilaksanakan.
Rohainil Aini
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
FAKTA & KIASAN
Ada empat cara untuk membunuh
Munir. Ia bisa ditabrak di jalan, disantet,
dibunuh di kantornya, atau diracun di
rumahnya. Akhirnya, keempat skenario
itu dipinggirkan. Munir diracun dengan
arsenik di bandara Changi, Singapura.
Menghabisi Munir tampaknya memang sudah jadi
harga mati bagi sebagian pihak. Raden Muhamad
Patma alias Ucok, bahkan mengaku sempat mencoba
cara irasional dengan menyambangi paranormal
untuk mencoba membunuh Munir dengan teluh
atau santet, namun Ki Gendeng Pamungkas yang
dihampiri tak dapat dijumpai. Ucok sendiri diduga
merupakan agen muda BIN yang menyamar menjadi
aktivis mahasiswa yang memata-matai kegiatan
Munir.
Membunuh Munir bukan urusan main-main.
Berdasarkan pemeriksaan dari Institut Forensik
Belanda (NFI), Munir ditemukan tewas akibat racun
arsenik dengan jumlah dosis yang fatal. Siapapun
yang berniat mengenyahkannya perlu memiliki
pengetahuan yang cukup tentang sifat dan reaksi
racun yang dipakai, kondisi dalam penerbangan
jarak jauh, seluk-beluk administrasi penerbangan,
serta kemampuan untuk menghilangkan jejak. Pun di
lapangan, aksi hanya lancar apabila melibatkan pihak
yang berperan sebagai aktor lapangan, aktor yang
mempermudah atau turut serta, aktor perencana,
serta pengambil keputusan atau inisiator.
Dibunuh Konspirasi
Kecil kemungkinan operasi sedetil dan serumit ini
dijalankan oleh satu orang saja. Pelaku merupakan
gerombolan yang terorganisir dan mendapat
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
dukungan modal politik dan ekonomi yang cukup
kuat. Menurut pengakuan Suciwati, para dalang
pembunuhan telah menyiapkan berbagai strategi
pasca pembunuhan Munir untuk mengaburkan motif
ataupun barang bukti pelaku, dan meneror pihak
yang punya keinginan kasus ini diselesaikan.
Atas desakan beberapa LSM dan Suciwati,
Presiden SBY pun mengesahkan dibentuknya Tim
Pencari Fakta (TPF) untuk kasus pembunuhan
Munir, yang akan bekerjasama dengan polisi untuk
membantu penyelidikan. Pembentukan TPF diawali
dengan rapat keluarga dan kerabat Munir dengan
pemerintah yang diwakili oleh pihak Polri, Kejaksaan
Agung, serta Departemen Hukum dan HAM pada 21
Desember 2014.
Namun, fungsi, wewenang, serta anggota TPF yang
telah diputuskan pada rapat tanggal 21 Desember
2014 malah berbeda dengan versi fnal di Keppres
No. 111/2004. Perbedaan tersebut bukan tanpa
efek ataupun tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidak
adanya Syafi Ma’arif di dalam TPF memunculkan
kekhawatiran bahwa TPF tidak bisa bergerak leluasa.
Selain itu, TPF yang hanya ditugaskan sebagai
pembantu Polri dinilai mempunyai kewenangan
yang terbatas. Walhasil, banyak aktivitas TPF yang
diperlambat dan dibatasi. Misalnya, ketika TPF
menginginkan dilakukannya pra-rekonstruksi dan
rekonstruksi terhadap kasus Munir, permintaan ini
lama sekali dikabulkan oleh Polri.
Di tengah halangan ini, TPF terus bekerja.
Kecurigaan TPF lantas jatuh pada Badan Intelijen
Negara (BIN). Sejak awal telah beredar desas-
desus keterlibatan beberapa pejabat tinggi BIN
dalam pembunuhan Munir. Desas-desus ini menguat
jadi kecurigaan usai TPF menemukan bukti 41 kali
kontak dari telepon seluler dan kantor milik Muchdi
Purwopranjono, Deputi V BIN, dengan telepon
seluler milik Pollycarpus Budihari Priyanto, sang pilot
misterius, menjelang dan usai pembunuhan Munir.
Temuan mereka semakin menunjukkan adanya
indikasi konspirasi dalam kasus kematian Munir.
Indikasi ini menguat setelah ditemukannya
keterlibatan beberapa oknum Garuda Indonesia
di dalam pembunuhan berencana terhadap Munir,
sehingga Pollycarpus mendapatkan akses tidak lazim
di pesawat tersebut. Akses ini sendiri didapatkan
dengan “penugasan istimewa” oleh BIN. Tuduhan
pengangkatan Pollycarpus ini diperkuat oleh sistem
“kompartementasi” yang ada di BIN. Sistem ini
memungkinkan tiap Deputi memiliki kewenangan
otonom dan tertutup untuk melaksanakan operasi
intelejen, termasuk merekrut dan membina agen
guna pengumpulan informasi.
Pada Juni-Juli 2004, Pollycarpus bertemu dengan
Indra Setiawan, Dirut Garuda Indonesia, dengan
membawa surat dari BIN yang ditandatangani Wakil
Kepala BIN agar ditempatkan di bagian corporate
security. Indra Setiawan kemudian mengaku pernah
dipertemukan oleh Pollycarpus dengan M. As’ad
Said Ali, Wakil Kepala BIN saat itu. Pertemuan diakui
Indra terjadi di kantor BIN, dan juga dihadiri oleh
Muchdi. Pertemuan inilah yang membuat Indra yakin
bahwa Polly bukanlah ‘pilot biasa’.
Atas permintaan dari As’ad, Indra Setiawan pun
menerbitkan surat penugasan terhadap Pollycarpus
bernomor Garuda/ DZ – 2007/ 04 sebagai staf
perbantu di Unit Corporate Security. Fakta ini
didapatkan berdasarkan pengakuan saksi Indra
Setiawan dalam persidangan PK Pollycarpus tanggal
22 Agustus 2007. Lucunya, dalam persidangan
PK Pollycarpus pada tanggal 22 Agustus 2004,
Indra Setiawan mengaku bahwa surat dari BIN itu
“hilang” saat mobilnya kemalingan di Hotel Sahid.
Di lapangan, berbagai kebetulan yang aneh juga
terjadi. “Kejanggalan sebenarnya sudah bisa dilihat
(sejak) saat di Bandara Soekarno-Hatta,” ungkap
Mun’im Idris, dokter forensik yang menjadi anggota
TPF. “Dari sekian banyak CCTV, hanya dua yang
aktif. Operatornya sedikit.”
Begitu banyak pertanyaan yang bermuara pada
sosok Pollycarpus. “Polly diberikan senjata api yang
ditandatangani oleh Sekretaris Utama BIN,” tandas
Usman Hamid, Sekretaris TPF. “Sehari setelah Polly
muncul di media, Polly diminta BIN mengembalikan
pistol yang diberikan BIN. Pada hari itu, seluruh
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
KOMPOSISI/SUSUNAN KEANGGOTAAN TPF
VERSI RAPAT MABES POLRI
(21 DESEMBER 2004)
VERSI KEPPRES NO. 111/2004
(23 DESEMBER 2014)
Ahmad Syafi Maarif
Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid
Asmara Nababan
Todung Mulya Lubis
Pejabat Pemerintah
Bambang Wijojanto
Hendardi
Usman Hamid
Munarman
Smita Notosusanto
Brigjend Pol Drs. Andi Hasanudin Mappalangi
I Putu Kusa
Kamala Chandra Kirana
Nazaruddin Bunas
Des Alwi
Brigjen (Pol) Masrudi Hanaf
Asmara Nababan
Bambang Widjojanto
Hendardi
Usman Hamid
Munarman
Smita Notosusanto
I Putu Kusa
Kemala Chandra Kirana
Nazaruddin Bunas
Retno L.P. Marsudi
Arif Navas Oegroseno
Rachland Nashidik
Mum’im Idiris
PERBEDAAN TUGAS DAN WEWENANG TPF
VERSI RAPAT MABES POLRI
(21 DESEMBER 2004)
VERSI KEPPRES NO. 111/2004
(23 DESEMBER 2014)
Tugas:
Secara aktif membantu penyelidik Polri dalam
melaksanakan proses penyelidikan dn penyidikan
mengungkapan kasus meninggalnya Munir.
Tugas dan Wewenang:
• Membantu Polri melakukan penyelidikan
• Melakukan hal-hal lain yang dianggap perlu
• Memperoleh bantuan dari institusi Pemerintah Pusat
dan Daerah
Wewenang:
• Memberikan pertimbangan dan atau pendapat
kepada penyidik Polri, dengan atau tanpa diminta
oleh pihak penyidik Polri,
• Mengusulkan arah penyelidikan dan penyidikan
oleh penyidik Polri, memonitoring dan mengvaluasi
perkembangannya,
• Meminta keterangan dari pihak-pihak yang
diperlukan serta berkonsultasi dengan ahli-ahli dalam
dan luar negeri demi kepentingan jalannya proses
penyelidikan dan penyidikan
Kewajiban:
Membuat laporan kepada Presiden mengenai kegiatan
yang dilaksanakan dan merekomendasikan kebijakan
bagi Presiden
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
dokumen keanggotaan Polly di BIN dihapus dan
dihilangkan.”
Pada 14 Maret 2005, Pollycarpus pertama kali
diperiksa setelah tidak memenuhi panggilan I Mabes
Polri pada 10 Maret 2005. Selang 4 hari, pada 18 Maret
2005 Pollycarpus ditetapkan sebagai tersangka dan
menghadapi pengadilan pertama pada 9 Agustus
2005. Pollycarpus didakwa melakukan pembunuhan
berencana dengan motif membunuh Munir demi
menegakkan NKRI, karena Munir dianggap biang
onar dan banyak mengkritik pemerintah. Janggalnya,
dakwaan tersebut menunjukkan anggapan
Pengadilan bahwa Pollycarpus merupakan dalang
pelaku utama pembunuhan Munir.
Palu resmi diketuk. Pada sidang ke XXVI, Majelis
Hakim membacakan putusannya. Polly dijatuhi
hukuman penjara 14 tahun karena terbukti
melakukan tindakan pidana pembunuhan berencana
dan pemalsuan dokumen. Namun, pada 3 Oktober
2006, Mahkamah Agung dalam putusan kasasinya
menyatakan Pollycarpus tidak terbukti terlibat dalam
pembunuhan berencana terhadap Munir. Putusan
pun direvisi. Pollycarpus kemudian hanya dihukum 2
tahun penjara karena tindakan pemalsuan dokumen.
Pada 25 Desember 2006, Pollycarpus mendapatkan
kado Natal terbaik. Ia bebas dari masa tahanan
setelah mendapat remisi keagamaan.
Mencurigai BIN
Dugaan keterlibatan BIN secara lembaga diperkuat
oleh keterangan dedengkot intelejen Orde Baru
yang kini menjadi politisi PKS, Soeripto. Menurutnya,
pembunuhan Munir dirancang dalam sebuah rapat
yang dihadiri Hendropriyono, M. As’ad Ali, Nurhadi,
dan Deputi II bagian pengamanan, Manunggal Maladi.
Rapat tersebut memutuskan untuk melenyapkan
Munir dengan Muchdi Purwopranjono sebagai
eksekutornya. Kepada Radio Nederland, 24 Juni
2008, Soeripto menyebut informasinya itu berkategori
C3. Artinya, perlu check re-check, dan perlu cross-
check. Ia mengaku menerimanya dari seseorang
yang dianggapnya cukup dan layak dipercaya. Munir
sendiri sebenarnya juga telah menyadari bahwa
dirinya menjadi target operasi sejak tahun 2002, kala
ia diberitahu oleh rekannya yang menjadi pengajar
di lingkungan BIN. Munir sempat menduga bahwa
dirinya akan dicekal sehingga tidak bisa berangkat
ke Belanda.
Pernyataan Soeripto itu mengudara dua hari
setelah Muchdi ditangkap tim dari Mabes Polri yang
dipimpin Komjen Bambang Hendarso Danuri, yang
pada waktu itu menjabat kepala Bareskrim. Muchdi
dihadirkan pertama kali ke proses pengadilan saat ia
memberikan kesaksian di persidangan Pollycarpus.
Pada 19 Juli 2004, Muchdi PR ditangkap dan
ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus
pembunuhan Munir, dijerat pasal 340 junto pasal 55
tentang pembunuhan berencana. Permainan belum
usai. Setelah melewati Persidangan XXII, Muchdi
PR diputuskan bebas. Majelis Hakim lebih banyak
menggunakan pertimbangan dari keterangan
saksi. Surat rekomendasi Pollycarpus dari BIN
dibantah terdakwa karena letak tanda tangan surat
tersebut tidak sesuai dengan surat BIN. Selain
itu, Muchdi PR mengaku berada di Malaysia pada
tanggal 6 September 2004 sampai dengan tanggal
12 September 2004, meski menurut call record,
Muchdi PR berada di Surabaya. Majelis Hakim
pun membantah bahwa nomor HP yang digunakan
untuk merencanakan pembunuhan Munir adalah
milik Pollycarpus dan Muchdi PR. Padahal, baik
Pollycarpus dan Muchdi sudah mengakui kepemilikan
nomor tersebut. Muchdi pun melenggang bebas.
Publik tak tinggal diam. TPF pun terus bersikeras
untuk memeriksa BIN karena mencurigai BIN
terlibat secara kelembagaan dalam membunuh
Munir. Sadar akan segera didemo oleh keluarga
dan rekan Munir, Badan Intelejen Negara (BIN)
langsung menghubungi Suciwati, Istri Munir,
untuk membujuknya membatalkan niatnya dan
menyampaikan janji akan menemui Suciwati secara
pribadi. Namun, Suciwati menolak. “Ini bukan
masalah pribadi,” ucap Suciwati pada orang suruhan
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Syamsir Siregar, Kepala BIN saat itu. “Kasus Munir
ini sudah milik publik, dan aku gak bisa melarang
teman-teman untuk demo ke BIN.” BIN tentu panik.
Lembaga itu bisa terperangkap pada opini publik
yang semakin mengkristal bahwa BIN terlibat pada
kasus pembunuhan Munir.
Maka, barikade pun dipasang. TPF harus mati-
matian memperjuangkan akses untuk memeriksa
anggota BIN. Surat yang ditujukan untuk Kepala BIN
tak digubris. Mantan pejabat BIN juga bersikeras
menganggap bahwa TPF tak punya kewenangan
memeriksa. A.M Hendropriyono pun menolak
panggilan TPF, dengan alasan pemanggilan TPF
tersebut menyalahi prosedur. Padahal, pemeriksaan
Hendropriyono sangatlah penting karena saat
Munir terbunuh ia masih menjabat sebagai Kepala
BIN. Seharusnya ia orang paling utama di BIN dan
bertanggung jawab terhadap aksi-aksi petugas
badan negara tersebut. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono lantas turun tangan, menyatakan
diri kecewa atas mangkirnya Hendropriyono dari
panggilan TPF. Dengan ringan, Hendropriyono
berujar bahwa ia tidak percaya SBY kecewa padanya,
karena ia telah lama mengenal SBY. Tepatnya, sejak
SBY “masih jadi bawahannya” di Tentara Nasional
Indonesia.
Bermain Teror, Bermain Kuasa
Kampanye teror dan intimidasi pada rekan dan
keluarga Munir dimulai. Sebuah surat diterima orang
tua Munir pada 9 September 2004. “Selamat atas
mateknya Munir,” cemooh surat itu. “Semoga (dia)
tidak dipukuli oleh Arwah Para Pahlawan Bangsa!”
Selang dua bulan kemudian, pada 20 November
2004, Suciwati menerima paket berisi bangkai ayam
busuk dan surat yang berbunyi: “AWAS!!!!! Jangan
Libatkan TNI Dalam Kematian Munir. Mau Menyusul
Seperti Ini?”
Telepon tak henti-hentinya berbunyi. Di rumahnya,
Suciwati terus diteror telepon ancaman dari suara-
suara tak dikenal. Pun, para staff di KontraS tak luput
dari perhatian. Pada tanggal 19 dan 23 Mei 2005,
mereka diancam akan diculik dan dibunuh saat
menerima telepon dari orang yang tak dikenal. Dua
hari kemudian, sebuah surat tiba di kantor IKOHI
(Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia). Surat
tersebut ditujukan pada Mugiyanto (Pimpinan IKOHI),
Usman Hamid (Koordinator KontraS/Anggota TPF),
Abdul Hakim Garuda Nusantara (Pimpinan Komnas
HAM), dan Thobi Mubis (Pimpinan Universitas
Trisakti). Surat itu dikirim atas nama ‘Pembela Orde
Baru’. Dalam 14 hari, ucap surat itu, mereka semua
akan dibunuh.
Ketakutan memang kekuatan terbaik untuk
mengontrol masyarakat. Ini disadari betul oleh para
pelaku pembunuhan Munir. Teror dan ancaman
tak hanya datang kepada keluarga dan kelompok
masyarakat sipil, namun juga pada kelompok jurnalis
dan industri kreatif yang ingin mendokumentasikan
pembunuhan Munir. Bahkan guna mengaburkan
fokus publik pada upaya penuntasan kasus
pembunuhan Munir, sempat dihembuskan isu bahwa
Suciwati memiliki affair dengan pengacara dan aktivis
Todung Mulya Lubis. “Aku diskenariokan punya affair
dengan Todung Mulya Lubis,” sangkal Suciwati. “Aku
ketemu (dia) aja nggak pernah.”
Di tengah arus intimidasi dan perlawanan dari BIN,
sejatinya TPF sempat memeriksa beberapa beberapa
mantan pejabat BIN, seperti mantan sekertaris BIN
Nurhadi Djazuli. Namun, keterangan yang diberikan
menunjukkan informasi yang berbeda-beda, serta
Suciwati, istri (alm.) Munir
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
cenderung mengaburkan informasi. Salah satu
anggota TPF, Asmara Nababan, bahkan menggerutu
karena tidak ada satupun dokumen yang diberikan
BIN kepada TPF. Penyelidikan atas pembunuhan
Munir terus dikangkangi oleh kaburnya ambang
batas antara fakta dan kiasan.
Secercah cahaya sempat muncul dari Budi Santoso,
pensiunan kolonel yang aktif di BIN sebagai direktur
perencanaan dan pengendalian operasi BIN. Ia
memberikan surat kesaksian bahwa kematian
Munir adalah hasil dari kegiatan intelijen. Namun,
dia menolak tudingan bahwa direktorat yang
dipimpinnya terlibat. Empat poin penting diutarakan
pada surat kesaksian tersebut. Pertama, ada
surat rekomendasi yang ditujukan kepada Indra
Setiawan selaku direktur utama Garuda yang berisi
permintaan agar Pollycarpus dibantu pada bagian
Corporate Secretary Garuda. Kedua, ada pertemuan
antara Muchdi dan Pollycarpus. Ketiga, pemberian
sejumlah uang kepada Pollycarpus atas perintah
Muchdi. Keempat, status Pollycarpus sebagai
anggota jejaring non-organik BIN yang direkrut oleh
Muchdi.
Namun, antiklimaks. Sebelum kesaksian itu sempat
dibacakan di pengadilan, pengacara Muchdi
menyodorkan surat pernyataan pencabutan
kesaksian yang katanya dikirim Budi dari Islamabad,
Pakistan. Menurut mereka, Budi mengirimkan surat
pernyataan pencabutan kesaksian itu dengan kertas
berlambang Garuda berwarna emas.
Pada 23 April 2005, masa kerja TPF berakhir. Mereka
memberikan 3 poin rekomendasi untuk ditindaklanjuti
oleh pemerintah. Pertama, bahwa pembunuhan
Munir tidak hanya melibatkan satu, dua atau tiga
orang, melainkan banyak pihak di lingkungan
Garuda Indonesia dan BIN, sehingga sebaiknya
dilakukan pemeriksaan intensif kepada orang-
orang yang dicurigai. Kedua, proses pengusutan
kasus Munir terhambat oleh faktor internal di tubuh
Polri dalam penanganan kasus Munir. Oleh karena
itu, dibutuhkan audit terhadap kerja Polri dalam
penanganan kasus Munir. Ketiga, perlu dibentuk
sebuah kelembagaan baru yang langsung berada di
bawah Presiden, sehingga proses penyelidikan bisa
tetap berlangsung dan menjadi bentuk komitmen
Presiden dalam mengungkap kasus pembunuhan
Munir.
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
TPF bubar dengan menyisakan banyak pertanyaan.
Mereka tak mendapatkan satupun berkas dari
Badan Intelejen Negara (BIN), dan gagal berkali-kali
untuk memeriksa Hendropriyono. Lebih pentingnya
lagi, bahkan sampai di ujung pemerintahan Presiden
SBY, laporan TPF untuk Kasus Munir belum juga
diumukan secara terbuka kepada publik.
Antara Dalang dan Bayang-Bayangnya
Lantas, siapakah yang sesungguhnya berada di
balik Pollycarpus?
Pollycarpus dianggap sebagai “pembantu” dalam
pembunuhan Munir. Akan tetapi, identitas sosok
“yang dibantu” oleh Pollycarpus, yakni pelaku
utamanya, tidak pernah terungkap. Agaknya, sosok
dalang ini memang begitu lihai mempermainkan
wayang-wayangnya. Pollycarpus belum bebas
dari kecurigaan. Ia kembali diperiksa terkait dua
tersangka, Indra Setiawan dan Rohainil Aini, sebagai
saksi. Pada Sidang I PK Pollycarpus, ditemukan bukti
baru yang menunjukkan bahwa Pollycarpus terlibat
dalam pembunuhan Munir. Bukti baru tersebut
berupa kesaksian beberapa orang, termasuk salah
satu agen BIN, Raden Muhammad Padma Anwar.
Polly tak dapat berkelit lagi ketika di rumahnya
ditemukan sebuah buku biru (blocknote) berisi
sketsa kursi pesawat Garuda GA 974. Buku ini
sempat hendak dibakar, namun untungnya Polly
lupa meminta istrinya melakukan hal tersebut. Hal
yang sama juga berlaku pada handphone Polly
yang lupa dimusnahkan guna menghapus jejak-
jejaknya dalam pembunuhan Munir. Palu kembali
diketuk – Kejaksaan Agung mengajukan Putusan
Kasasi kepada Mahkamah Agung dan dikabulkan.
Pollycarpus divonis hukuman perjara selama 20
tahun penjara. Menjelang tengah malam, tepatnya
pada pukul 23.00 tanggal 25 Januari 2008, tim dari
Kejaksaan menjemput Polly di rumahnya. Pada tahun
2011, Jaksa Agung Basrief Arief pun menyatakan
bahwa kasus pembunuhan Munir telah selesai.
Namun, pada Oktober 2013 lalu, usai proses
gugatan PK (Peninjauan Kembali) dari pihak Polly
dan proses yang penuh kontroversi, masa hukuman
Polly dikorting menjadi 14 tahun. “Dalam hitungan
saya,” ucap kuasa hukum Polly, M Assegaf pada
BBC Indonesia. “Setelah keluar putusan PK ini dan
menghitung masa tahanan yang sudah tujuh tahun,
ya mungkin beberapa bulan lagi.” Singkat kata,
tamparan terakhir telah dilayangkan: Tahun 2014 ini,
Pollycarpus Budihari Priyanto akan dibebaskan dari
tahanan.
Sampai hari ini, tak jelas apa motif dan posisi dari
pilot senior maskapai nasional Indonesia tersebut.
Sampai hari ini, tak jelas tangan-tangan mana yang
menggerakkan Polly. Sampai hari ini, tak jelas kapan
dan bagaimana pembunuhan ini akan diselesaikan.
Mereka yang masih peduli untuk bertanya, terus saja
menanti jawaban yang tak kunjung tiba.
Sementara di beranda KontraS, yang lama menjadi
kantor Munir, sebuah mural menghiasi dinding.
Ucapannya sederhana: “Kami ada dan berlipat
ganda!”
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
Omah Munir
Malang, September 2014
Karena ketidaktahuan tidak akan menghilangkan
kebenaran. Karena menyembunyikan fakta tidak
serta merta mengubah sejarah.
Omah Munir terus bergerilya. Tak sekadar berhenti
sebagai memoir, Omah Munir menyimpan visi yang
lebih besar dan jauh. Kini, mereka bekerjasama
dengan sekolah menengah setempat untuk
mengedukasi para pelajar mengenai isu HAM,
serta menerapkan prinsip hak asasi manusia di
sekolah tersebut. Museum hak asasi pertama di
Asia Tenggara ini diharapkan dapat menjadi inspirasi
bagi masyarakat untuk menegakkan haknya sebagai
manusia.
Memang tidak banyak orang – apalagi anak muda
– yang mengenal Munir secara langsung. Namun,
kita patut berbangga. Berbangga karena pernah
memiliki sosok sederhana yang berdedikasi pada
kemanusiaan. Berangkat dari pemikiran bahwa
‘spiral kekerasan’ sudah begitu menggulung dan
meresap ke dalam pola pikir serta tingkah laku
sekian banyak masyarakat, Munir mengambil pilihan
untuk berdiri di baris depan perjuangan hak asasi
dan politik yang bebas dari kekerasan. Ia bergerak
tanpa harus berlabuh di kandang emas penguasa.
Munir melakukan pembelaan terhadap siapapun
yang tertindas, tanpa memandang latar belakang
mereka.
Sejatinya Munir tahu betul risiko perjuangannya sejak
jauh sebelum ia dibunuh. Segala ancaman dan teror
muncul silih berganti. Telinganya terbiasa dengan
umpatan ‘PKI’, ‘Pemecah-Belah NKRI’, ‘Anti-Islam’,
‘Antek Asing’, ‘Provokator’, dan lain sebagainya.
Namun, ternyata Semesta punya skenario lain untuk
Munir, cerita spesial untuk penerus-penerusnya,
EPILOG
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
cerita untuk Indonesia dan Dunia. Dua babak yang
masih menampar kita:
Pertama, bahwa Munir tewas
dibunuh dengan racun arsenik
di pesawat GA 974.
Kedua, bahwa hingga saat
ini, kasus Munir belum juga
memperoleh titik terang
keadilan.
Dulu Munir pernah berkata:
“Obat ketakutan paling mujarab
adalah melawan ketakutan
itu sendiri.” Disadari atau
tidak, kata-kata Munir tersebut
sangatlah tepat ditujukan untuk
kita. Ya, kini, mau tidak mau kita
sedang dilanda ketakutan besar.
Bahkan, usia ketakutan ini
sudah sepuluh tahun lamanya.
Kita takut bahwa proses pengungkapan kasus ini
hanya akan mengulang sejarah percuma seperti
pada kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah
atau pembunuhan jurnalis Udin (Harian Bernas). Kita
takut, bahwa pengungkapan kasus pembunuhan
Munir hanya akan berakhir dengan diadilinya pelaku
lapangan — yang kemudian bisa bebas — sementara
para dalang yang sesungguhnya tetap berkuasa,
tetap bebas. Termasuk, bebas untuk mengulangi
perbuatannya lagi pada korban-korban berikutnya.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk
ampuh ‘meneror’ para pembela Hak Asasi Manusia
akan terjadinya hal yang sama pada mereka. Fakta
bahwa seorang Munir meninggal karena racun
arsenik menegaskan bahwa kasus ini bukanlah
peristiwa pembunuhan yang biasa. Pemilihan cara
dan jenis alat membunuh memerlukan perencanaan
yang cermat dan matang. Apalagi, pembunuhan
ini dilakukan dalam sebuah penerbangan pesawat
rute internasional, dengan maskapai penerbangan
nasional pula.
Sosok Munir yang dikenal luas sebagai salah satu dari
sedikit tokoh terdepan dalam gerakan sosial politik –
mulai dari isu HAM, demokrasi, hingga militerisme
– di Indonesia, melegitimasikan hipotesis bahwa
kasus ini merupakan bagian
dari kejahatan politik tingkat
dewa yang melibatkan institusi
kekuasaan. Kejahatan politik
selalu bersifat serius dan luar
biasa, karena selain melibatkan
struktur dan perangkat negara,
kejahatan ini punya sasaran
yang jauh lebih luas dari fgur
tokoh yang dibunuh. Sasaran itu
sendiri, adalah, tidak lain tidak
bukan: teror terhadap gerakan
HAM dan demokrasi.
Selepas pembunuhan Munir,
teror itu menjelma jadi berbagai
ketakutan yang menyelinap ke
berbagai lapisan masyarakat
sipil. Negara ini sesungguhnya
tak pernah ‘siap’ berdemokrasi. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya para pembela Hak Asasi
Manusia yang dikriminalisasi, banyaknya para
pemuka pendapat, pembuat opini, dan fgur kritis
dan vokal lain yang malah dicap sebagai ancaman
bagi negara. Belum lagi, banyak yang kemudian jadi
korban kesewenang-wenangan aparat.
“Test of our history.” Begitu ucapan Presiden SBY
tentang kasus ini. Namun, memang jadi tanda
tanya besar; apakah pembunuhan Munir benar-
benar akan terus menjadi ‘test’? Akankah Negara
sebagai institusi terbesar penjamin hak warga
negaranya akan terus memainkan peran sebagai
peluru pemberangus hak-hak rakyatnya? Akankah
kita dibungkam terus-menerus dalam ketakutan
berbungkus ancaman, peraturan, dan kekuasaan?
Tentu, bukan pekerjaan mudah dan sebentar untuk
memulihkan keberanian, keberanian untuk bicara
benar, keberanian untuk meneriakkan keadilan, dan
keberanian untuk melawan kelupaan. Siapkah kita?
PAMFLET | SEPTEMBER 2014
“Ketidaktahuan tidak akan menghilangkan kebenaran.”

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful