Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA
ISOTERM FREUNLICH (ISOTERM ADSORBSI FREUNLICH)

DISUSUN OLEH:
1. KURNIA AINI (061330401059)
2. M. YUDA PRATAMA (061330401060)
3. MALATI FITRI (061330401061)
4. MELINDA DAMAYANTI (061330401062)
5. PUTRI INGGIT ISTIQOMAH (061330401064)
6. RAMEYZA AROHMAN (061330401065)
7. RIZKY HERLIANA NISWITA (061330401068)

KELAS : 2 KF
KELOMPOK : II (DUA)
JURUSAN : Teknik Kimia
INSTRUKTUR : Dr. Martha Aznury, M.si


Politeknik Negeri Sriwijaya
2014/2015
ISOTERM FREUNLICH
(ISOTERM ADSORBSI FREUNLICH)


I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan:
1. Mempelajari proses adsorbs karbon aktif dengan larutan asam
organik.
2. Menentukan besarnya Tetapan Isoterm Adsorbsi Freunlich.


II. ALAT DAN BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKAN
- Alat yang digunakan:
1. Erlenmeyer 250 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Buret 50 ml
4. Labu ukur 100 ml, 250 ml
5. Gelas kimia 250 ml
6. Pipet ukur 10 ml, 25 ml
7. Bola karet
8. Corong gelas
9. Spatula
10. Pengaduk
11. Kaca arloji

- Bahan kimia yang digunakan:
1. Asam oksalat 1N dan asam asetat 1N
2. Larutan NaOH 0,1N
3. Karbon Aktif

III. DASAR TEORI
Adsorbsi adalah gejala mengumpulan molekul-molekul suatu
zat (gas, cair) pada permukaan zat lain (padatan, cair) akibat adanya
kesetimbangan gaya. Zat yang mengadsorbsi disebut adsorben dan
zat yang teradsorbsi disebut adsorbat.
Adsorben umumnya adalah padatan adsorbat umumnya adalah
padatan sedangkan adsorbatnya adalah cairan atau gas.
Proses adsorbsi merupakan proses kesetimbangan baik
adsorbsi gas maupun cairan. Contoh proses adsorbs yang digunakan
sehari-hari misalnya: penyerapan air oleh zat pengering, penghilang
warna dalam industry tekstil.
1. Pengeringan udara / pengambilan uap air dengan silikagel di
laboratorium.
2. Penghilang zat warna, bau.
3. Penghilang zat warna pada pabrik gula.


Proses adsorbs ini dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. Konsentrasi, makin besar konsentrasi adsorbat maka jumlah yang
teradsorbsi makin banyak begitu juga luas permukaan kontak.
Makin halus atau makin besar luas permukaan kontak, maka
jumlah adsorbsi makin banyak.
2. Temperature, makin besar temperature maka adsorbs makin kecik
karena proses adsorbs merupakan proses yang isothermal.
3. Sifat adsorben dan adsorbat.
Proses adsorbsi dibagi menjadi 2 bagian:
a. Proses adsorbs kimia, yaitu proses adsorbsi yang disertai
dengan reaksi kimia. Pada adsorbs ini terjadi pembentukan
senyawa kimia dan umumnya terjadi pada adsorbs yang
multilapisan.
Contoh:
CO
2(s)
+ NaOH
(p)
Na
2
CO
3
+ H
2
O
H
2
O
(l)
+ CaCl
2(p)
Ca(OH)
2
+ HCl

b. Proses adsorbsi fisika, yaitu proses adsorbsi yang tidak disertai
reaksi kimia. Ikatan yang terjadi pada proses ini adalah ikatan Van
Der Waals yang relative lemah. Ppada adsorbs ini panas yang
dilepaskan relative kecil dan umumnya terjadi pada satu lapis
(monolayer).
Contoh:
Adsorbsi uap air CaCl
2
atas silica gel.
Adsorbsi asam asetat, asam oksalat oleh karbon aktif
4. Efektifitas adsorbsi makin tinggi jika kedua zat adsorbat dan adsorben
mempunyai polaritas yang sama.



Beberapa persamaan isotherm adsorbsi:
1. Isoterm adsorbsi Freunlich
2. Isotherm adsorbs Langmuir
3. Isotherm BET (Brunauer, Emmet, Teller)


Add 1. Isoterm Freunlich

(cair-padat) (1)

Dimana:
x = jumlah zat (gr, mol) yang teradsorbsi oleh m gr, adsorben
C = konsentrasi zat terlarut yang bebas
k dan n = tetapan Isoterm Freunlich


Persamaan ini berlaku untuk gas dan cair
V = K P
1/n


Dimana:
V = jumlah gas teradsorbsi persatuan massa adsorben pada tekanan P
k dan n = tetapan Isoterm Freunlich
Add 2. Isoterm Langmuir




Dimana:
Vm = volume gas yang dibutuhkan
V = volume gas yang sebenarnya menutupi satu satuan massa
adsorben pada tekanan


Add 3. Isoterm BET



Dimana:
P
0
= tekanan uap jenuh
Vm = kapasitas volume monolayer
C = tekanan isotherm Langmuir


TEORI TAMBAHAN

Pengertian Adsorbsi
Adsorpsi adalah gejala pengumpulan molekul-molekul suatu zat pada
permukaan zat lain sebagai akibat daripada ketidakjenuhan gaya-gaya
pada permukaan tersebut. Untuk proses adsorpsi dalam larutan, jumlah
zat yang teradsorpsi bergantung pada beberapa faktor:
1. Jenis adsorben.
2. Jenis adsorbat atau zat yang teradsorpsi.
3. Luas permukaan adsorben.
4. Konsentrasi zat terlarut.
5. Temperatur.



Adsorpsi dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
1. Chemisorption, terjadi karena ikatan kimia (chemical bonding)
antara molekul zat terlarut (solute) dengan molekul adsorban.
Adsorpsi ini bersifat sangat eksotermis dan tidak dapat berbalik
(irreversible).
2. Adsorpsi fisika (physical adsorption, terjadi karena gaya tarik
molekul oleh gaya van der Waals dan biasanya adsorpsi ini
berlangsung secara bolak-balik.
3. Ion exchange (pertukaran ion), terjadi karena gaya elektrostatis.


Proses Adsorbsi
Proses adsorpsi mempunyai empat tahapan antara lain:
1. Transfer molekul-molekul adsorbat menuju lapisan film yang
mengelilingi adsorben.
2. Difusi adsorbat melalui lapisan film (film diffusion process).
3. Difusi adsorbat melalui kapiler atau pori-pori dalam adsorben
(proses adsorpsi sebenarnya).
4. Adsorpsi adsorbat pada dinding kapiler atau permukaan adsorben
(proses adsorpsi sebenarnya).
5. Adsorpsi dibatasi terutama oleh proses film diffusion dan pore
diffusion, hal ini tergantung oleh besarnya pergolakan dalam
system.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Adsobsi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorpsi
suatu adsorben diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Luas permukaan adsorben
Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak asorbat
yang diserap, sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif.
Semaki kecil ukuran diameter partikel maka semakin luas
permukaan adsorben.
2. Ukuran partikel
Makin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar
kecepatan adsorpsinya.
3. Waktu kontak
Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi
dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik.
4. Distribusi ukuran pori
Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul
adsorbat yang masuk kedalam partikel adsorben.


Karbon Aktif
Karbon aktif merupakan senyawa karbon amorph dan berpori yang
mengandung 85-95% karbon yang dihasilkan dari bahan yang
mengandung karbon (batubara, kulit kelapa dan sebagainya) atau karbon
yang diperlakukan secara khusus baik aktivasi kimia maupun fisika untuk
mendapat permukan yang lebih luas. Karbon aktif ini dapat mengadsorpsi
gas dan senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya tergantung pada
volume pori-pori atau luas permukaan.(M.T sembiring dkk,)
Dalam 1 gram karbon aktif pada umumnya memiliki luas permukaan
sekitar 500-1500 m
2
sehingga efektif dalam menangkap partikel yng
sangat halus. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa
saja yang bersentuhan dengan kkarbon tersebut.(perpamsi,2002)
Karbon umumnya mempunyai daya adsorpsi yang rendah namun
daya adsorpsinya dapat diperbesar dengan mengaktifkan arang tersebut
menggunakan uap atau bahan kimia. Perlakuan ini memiliki tujuan untuk
memperbesar luas permukaan arang dengan membuka pori-pori yang
tertutup.(Kateren,1987).



IV. KESELAMATAN KERJA
- Dari percobaan ini yang harus diperhatikan adalah pengenceran
asam oksalat atau asam aetat dari pekat ke konsentrasi yang
diinginkan.
- Juga pembuatan NaOH 0,1N harus menggunakan kaca mata dan
sarung tangan karena berbahaya terhadap mata dan kulit.
V. CARA KERJA
1. Menyiapkan 5 buar Erlenmeyer 250 ml
2. Memasukkan masing-masing 0,5 gram karbon aktif. Sebelumnya
dipanaskan selama 15 menit pada suhu 60
o
C.
3. Pada tiap Erlenmeyer dimasukkan 20 ml asam oksalat atau asam
asetat untuk masing-masing komponen.
4. Mengocok campuran tersebut selama 10 menit kemudian didiamkan
selama 1 jam.
5. Dikocok lagi selama 1 menit.
6. Menyaring larutan tersebut dengan kertas saring, mengukur volume
filtrate.
7. Menitrasi filtrate dengan larutan NaOH 0,1N (boleh alikot saja,
misalnya 10 ml) dan ditambahkan indicator pp (phenolphtalin)
sampai terjadi perubahan warna (jumlah filtrate yang dititrasi
sebaiknya tidak sama antara konsentrasi asam tertinggi dan yang
terendah).



VI. DATA PENGAMATAN


No

m
karbon
aktif
(gram)

Konsentrasi

X
(gram)


(X/m)

Log
(X/m)

Log C
Awal Akhir
1 0,5 1 N 0,78 N 0,66 1,32 0,120 -0,1079
2 0,5 0,8 N 0,49 N 0,93 1,86 0,2695 -0,3098
3 0,5 0,6 N 0,458 N 0,426 0,852 -0,069 -3391
4 0,5 0,4 N 0,30 N 0,3 0,6 -0,222 -0,5228
5 0,5 0,2 N 0,168 N 0,096 0,192 -0,7166 -0,7746


VII. PERHITUNGAN



Membuat grafik log

vs log C
Menghitung C akhir:
N
1 .
V
1
= N
2 .
V
2
Dimana:
N
1
= konsentrasi NaOH O,1N
V
1
= volume NaOH dipakai untuk titrasi
N
2
= konsentrasi asam bebas/akhir setelah adsorbs
V
1
= volume asam yang dititrasi
m = dalam gram, berat karbon aktif
X = berat asam asetat atau asam oksalat teradsorbsi
Log k dari grafik, dan harga 1/n didapat dari slope grafik

PERHITUNGAN
Pembuatan larutan asam asetat 1N pada 500 ml
Pada asam asetat Molaritas = Normalitas



M
1
. V
1
= M
2
. V
2

16,784 mol/L . V
1
= 1M . 500 ml
V
1
= 29,79 ml

Pembuatan larutan NaOH 60% , 0,1N , 250 ml
60% w/v






= 15 M


V
1 .
M
1
= V
2
. M
2
V
1




V
1
= 1,66 ml


Menghitung konsentrasi awal CH
3
COOH (Menghitung volume
CH
3
COOH yang harus dipipet)
1. V
1
. N
1
= V
2
. N
2

50 ml. 1N = 1N . V
2

V
2
= 50 ml

2. V
1
. N
1
= V
2
. N
2

50 ml. 0,8N = 1N . V
2

V
2
= 40 ml

3. V
1
. N
1
= V
2
. N
2

50 ml. 0,6N = 1N . V
2

V
2
= 30 ml

4. V
1
. N
1
= V
2
. N
2

50 ml. 0,4N = 1N . V
2

V
2
= 20 ml

5. V
1
. N
1
= V
2
. N
2

50 ml. 0,2N = 1N . V
2

V
2
= 10 ml
Menghitung X (gram)

a. Pada konsentrasi awal 1N
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
78 ml. 0,1N = 10 ml . N
2

N
2
= 0,78 N










b. Pada konsentrasi awal 0,8N
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
49 ml. 0,1N = 10 ml . N
2

N
2
= 0,49 N











c. Pada konsentrasi awal 0,6N
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
45,8 ml. 0,1N = 10 ml . N
2

N
2
= 0,458 N












d. Pada konsentrasi awal 0,4N
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
30 ml. 0,1N = 10 ml . N
2

N
2
= 0,3 N










e. Pada konsentrasi awal 0,2N
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
16,8 ml. 0,1N = 10 ml . N
2

N
2
= 0,168 N









Membuat grafik antara log (X/m) terhadap log C
Misalkan:
log (X/m) = y
log C = x
y x x
2
xy
0,120 -0,1079 0,011642 -0,01295
0,2695 -0,3098 0,09597 -0,08345
-0,069 -0,3391 0,11499 0,02340
-0,222
-0,7166
-0,5228
-0,7746
0,27332
0,6000
0,11606
0,5550
y = -0,6181 x = -2,0542 x
2
= 1,095922 xy = 0,59806









Menghitung harga K dan n
Slope (m) = 1/n
n = 1 / slope (m)
= 1/1,365
= 0,7326

Intercept (c) = log k
K = anti log c
= anti log (0,437)
= 2,7352



y = 1.3658x + 0.4375
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0
0.2
0.4
-0.9 -0.8 -0.7 -0.6 -0.5 -0.4 -0.3 -0.2 -0.1 0
y=log (x/m)