Anda di halaman 1dari 23

Eksploitasi tanpa Tanggung Jawab

Gunungkidul merupakan salah satu wilayah yang kaya akan bukit karts. Namun kekayaan ini tak
memberi kontribusi bagi warga sekitar.

Justru sebaliknya. Wajah dan berpuluh bukit karts di kabupaten ini rusak dan tak lagi dapat memberi
manfaat bagi penduduk sekitar. Penyebabnya, apa lagi kalau bukan eksploitasi besar-besaran. Saat ini,
diperkirakan sekitar 50 lebih dari ratusan bukit karts yang ada di Gunungkidul berada dalam kondisi
rusak. Sebagian besar bukit karts yang rusak, adalah bukit karts di desa Bedoyo Ponjong. Sisanya,
tersebar di beberapa kecamatan antara lain di Ngawen, Gedangsari, Semin, dan Patuk.
Mayoritas bahan tambang di Gunungkidul didominasi kelompok batu gamping kualitas satu dengan
kandungan kalsium karbonat hampir 99 persen.
Potensi pertambangan bahan galian di Gunungkidul terdapat hampir seluruh kecamatan, yang
dikelompokkan menjadi 12 kelompok bahan galian tambang, baik di zona utara (Perbukitan
Baturagung), zona tengah (Ledok Wonosari), dan zona selatan (Perbukitan Karst Gunung Sewu).
Bahan galian pertambangan potensial yang terdapat di zona utara dan tengah meliputi batupasir tufan,
breksi batuapung, zeolit, batugamping kalkarenit, serta kaolin dan feldspar. Kelima jenis bahan galian
tersebut mempunyai potensi dan prospek yang baik, terutama untuk mendukung kegiatan industri,
kerajinan, dan bahan bangunan.
Zona selatan (Perbukitan Karst Gunung Sewu) merupakan salah satu warisan dunia yang
keberadaannya sangat langka. Pada kawasan karst ini menyimpan berbagai potensi, antara lain air
sungai bawah tanah, gua, telaga, keanekaragaman hayati, dan mineral (bahan tambang).
Eksploitasi karts di Gunungkidul dimulai sekitar tahun 1990. Pelaku eksploitasi justru merupakan
investor besar luar daerah. Ironisnya, sebagian besar dari mereka tak pernah memperdulikan kelestarian
lingkungan setiap kali melakukan eksploitasi. Setiap kali selesai mengeruk material, saat itu pula
mereka meninggalkannya. Maka, jangan heran anda berkunjung ke kawasan karts di Bedoyo Ponjong,
Gedangsari, Ngawen maupun Patuk, akan banyak menemukan bukit-bukit yang telah gundul bekas
eksploitasi para penambang tak bertanggungjawab. Sebagian besar para penambang mengeruk batu
kapur untuk dijual sebagai bahan bangunan. Sebagian kecil lainnya memanfaatkan batu kapur putih
(kalium) sebagai bahan pembuatan pupuk organik
Banyak penambang yang melakukan kegiatan eksploitasi karts di wilayah Gunungkidul. Berdasarkan
data yang dicatat di kantor Pertambangan dan Energi Gunungkidul mulai tahun 2003 lalu, terdapat 12
usaha pertambangan swasta, 124 usaha pertambangan milik perorangan, dan sebagian lagi usaha
pertambangan ilegal.
Salah satu dampak dari ekploitasi ini adalah berkurangnya kemampuan bawah tanah dalam menyimpan
kandungan air. Inilah salah satu penyebab mengapa musim kekeringan selalu saja melanda kabupaten
ini setiap tahunnya. Tentu saja. Karena kegiatan penambangan yang dilakukan secara terus menerus
membuat fungsi bukit-bukit karst sebagai media peresapan, distribusi, dan kualitas air menjadi
tereduksi. Bukit-bukit karts yang sebelum ditambang bisa menjadi media penyimpanan air saat hujan
turun. Setelah ditambang tidak lagi. Ini karena lapisan epikarst di bukit itu habis. Menurut Dekan
Fakultas Geografi UGM, Eko Haryono, jalan keluar satu-satunya untuk menghentikan kerusakan ini
adalah dengan menghentikan kegiatan penambangan. Kekayaan karts nampaknya belum dikatakan
sebagai anugerah bagi kabupaten ini. (hsa)

Ubah Fungsi Karts Menjadi Kawasan Wisata


Kekayaan karts bagaikan sebuah dilema. Dimanfaatkan membuat rusak lingkungan. Namun tidak
dimanfaatkan berarti mubazir. Perlu ada solusi untuk itu. Menurut Dekan Fakultas Geografi UGM, Eko
Haryono, kawasan karts bisa menjadi lebih bermanfaat baik bagi daerah maupun masayarakat setempat
bila dijadikan sebuah kawasan wisata. "Seperti yang dilakukan oleh Slovenia," katanya kepada
wartawan. Slovenia, sebuah negara yang wilayahnya kaya akan bukit karts, dapat memaksimalkan
potensi itu dengan tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan. Ini karena salah satu negara di Eropa
timur itu menjadikan kawasan karts di negerinya sebagai kawasan wisata. Bukan kawasan tambang.
Inisiatif kawasan karts di Gunungkidul sebagai kawasan pariwisata, adalah yang paling masuk akal bila
mengingat kondisi kawasan karst di Gunungkidul yang ia perkirakan adalah kawasan kelas satu.
Kawasan kelas satu merupakan kawasan harus steril dari kegiatan penambangan. "Kawasan karts di
Gunungkidul cukup unik dan mempunyai fungsi sebaga drainase aliran air bawah tanah tanpa sungai
permukaan," katanya.
Menurut dia, kawasan karts di Gunungkidul memiliki keunikan tersendiri dibanding kawasan karts di
wilayah lain. Ini dapat membuat daya tarik tersendiri. Eko menjelaskan, karst kawasan ini cukup
mendunia dan digunakan sebagai nama tipe karst bentuk cronicle, yaitu tipe Gunung Sewu. Ini karena
ada beberapa spefisikasi atau ciri yang tidak dimiliki oleh bukit karts wilayah lain. Salah satu ciri karts
Gunung Sewu adalah setiap bukitnya berbentuk setengah bola yang ditengah-tengahnya ada cekungan
(doline). Doline itulah yang berfungsi sebagai media penampung air hujan atau menjadi telaga. Jika
ditambang tentu saja doline itu rusak. Tipe karts ini terbentuk dalam waktu yang lama, sekitar 1 hingga
1,7 juta tahun yang lalu. "Sebelum menjadi kawasan karts. Wilayah itu adalah laut. Suatu waktu terjadi
pergeseran lempeng Austalia dan Hindia ke arah pantai Jawa, yang akhirnya membuat sebuah daratan
bawah laut terangkat menjadi sebuah gunung karts," jelas dia. (hsa)
SK Mendagri Sebabkan Penangguhan Izin Tambang
Bukan rahasia lagi jika saat ini izin perusahaan penambang karts tengah ditangguhkan oleh Pemkab
Gunungkidul. Ini dilakukan seiring dengan turunnya SK Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Nomor 1659 K/40/MEM/2004. Dalam SK tersebut dinyatakan bahwa kawasan karst di Gunungkidul di
wilayah zone selatan yang terdiri dari Kecamatan Purwosari, Panggang, Saptosari, Paliyan,
Tanjungsari, Tepus, Rongkop, Semanu, Ponjong dan Girisubo merupakan kawasan karst kelas I yang
tidak boleh ditambang. Meskipun sudah dilarang, namun saat ini masih ada beberapa perusahaan yang
beroperasi atau melakukan kegiatan penambangan secara liar. Ini diakui oleh Kepala Bidang
Pertambangan Kantor Pertambang dan Energi, Parmuji Ruswandono. Saat ini tercatat ada sebanyak 10
8 perusahaan yang izinnya ditangguhnya. Izin itu baik izin perpanjangan maupun izin tambang baru.
Dengan dicabutnya izin itu, otomatis pendapatan dari sektor pajak tambang galian C pun turun. Tahun
2008 lalu pendapatan dari sektor pajak ini hanya mencapai sekitar 140 juta.
Saat ini, Pemkab Gunungkidul merumuskan draf Raperda Tentang Tata Ruang sebagai tindak lanjut
dari UU Tata Ruang Nomor 26 Tahun 2007. Dalam draf tersebut juga diatur tentang klasifikasi
kawasan karst klas I, II dan III. Ia menyebutkan, untuk klas I diantaranya Desa Bedoyo, Desa Gombang
dan Karangasem Kecamatan Ponjong. Sedangkan klas II meliputi Kecamatan Semanu bagian selatan,
Saptosari bagian barat, Panggang dan Purwosari. Sedangkan klas III meliputi wilayah perbukitan yang
kandungan batunya tidak berkualitas karena hanya batu gamping biasa. Sambil menunggu penetapan
Raperda Tentang Tata Ruang, Pemkab Gunungkidul sengaja tidak mengeluarkan izin baru maupun
perpanjangan izin penambangan. (hsa)

Data kekayaan tambang Gunungkidul menurut Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 11
tahun 2003 tentang Usaha Pertambangan Bahan Galian.
BATUGAMPING KALKARENIT
Jenis bahan galian ini merupakan bahan bangunan ringan dan bahan industri kerajinan bantuan
(ornamen). Jumlah cadangan untuk seluruh Kabupaten Gunungkidul sebesar 308.884.509 m2. Bahan
galian ini banyak dijumpai di wilayah Perbukitan Baturagung dan Ledon Wonosari, yaitu :
- Kecamatan Semin (Desa Candirejo, Sumberejo, Kalitekuk, Kemenjing, dan Bendung)
- Kecamatan Ngawen (Desa Beji, Kampung, Watusigar, Jurangjero, dan Sambirejo)
- Kecamatan Nglipar (Desa Kedungkeris, Nglipar, dan Katongan)
- Kecamatan Karangmojo (Desa Bejiharjo, Ngawis, dan Jatiayu)
- Kecamatan Wonosari (Desa Wunung, Mulo, Duwet, Karangrejek, Gari, Karangtengah, Baleharjo,
Wareng, Siraman, Pulutan, dan Piyaman)
- Kecamatan Semanu (Desa Pacarejo, Semanu, dan Ngeposari)

BATU PASIR TUFAN

Bahan galian ini merupakan bahan pondasi bangunan ringan, perkerasan jalan, dan industri kerajinan
batuan (ornamen, batu hias, patung atau relief dinding). Jumlah cadangan untuk seluruh Kabupaten
Gunungkidul sebesar 3.777.269.241 m3.Bahan galian ini banyak dijumpai di wilayah Perbukitan
Baturagung dan Ledok Wonosari, yaitu :
- Kecamatan Gedangsari (Desa Ngalang, Sampang, Serut, Hargomulyo, dan Mertelu)
- Kecamatan Semin (Desa Candirejo, Pundungsari, Rejosari, Kemenjing, Kalitekuk, Karangsari,
Bulurejo, Semin, Sumberejo dan Bendung)
- Kecamatan Nglipar (Desa Pilangrejo dan Natah)
- Kecamatan Ngawen ( Desa Kampung, Tancep, Jurangjero, dan Watusigar0
- Kecamatan Karangmojo (Desa Karangmojo)
- Kecamatan Ponjong (Desa Tambakromo dan Sawahan)

BREKSI BATUAPUNG
Jenis bahan galian yang satu ini mempunyai banyak fungsi, yaitu :
* Bahan beton struktur ringan;
* Bahan batubata ringan dan genteng;
* Bahan tahan api, kondensasi, jamur, dan panas;
* Bahan pemoles, penggosok, pembersih, dan abrasif;
* Bahan isolator temperatur tinggi;
* Bahan industri cat, kimia, logam, plastik, kosmetik, meubel, pasta gigi, karet, kulit, kaca, elektronik,
dan keramik;
* Bahan aditif dan subtitusi pada tanah pertanian;
* Bahan untuk urug;
* Bahan perkerasan jalan;
* Bahan ornamen;
* Bahan membuat arca, tegel, giring, dan umpak;
* Bahan saringan air; serta
* Bahan penjernih minyak goreng, pencuci pada industri konveksi, dan bahan penggosok.
Jumlah cadangan untuk seluruh Kabupaten Gunungkidul sebesar 2.050.024.291 m3.
Bahan galian ini banyak dijumpai di wilayah Perbukitan Baturagung dan Ledok Wonosari, yaitu :
- Kecamatan Gedangsari (Desa Sampang dan Serut)
- Kecamatan Patuk (Desa Ngoro-oro dan Terbah)
- Kecamatan Ngawen (Desa Kampung, Watusigar, dan Sambirejo)
- Kecamatan Semin (Desa Karangsari, Semin, Pundungsari, dan Kalitekuk)
- Kecamatan Karangmojo (Desa Karangmojo, Gedangrejo, dan Jatiayu)
- Kecamatan Ponjong ( Desa Umbulrejo)

KAOLIN & FELSPAR

Kaolin dan felspar merupakan jenis bahan galian untuk industri keramik, industri cat, dan industri
kosmetik. Jumlah cadangan untuk seluruh Kabupaten Gunungkidul sebesar 4.840.500 m3.

Bahan galian ini banyak dijumpai di wilayah Perbukitan Baturagung, yaitu :

- Kecamatan Semin (Desa Karangsari, Pundungsari, dan Candirejo)

ZEOLIT
Zeolit merupakan jenis bahan galian yang mempunyai banyak kegunaan, yaitu :
- Bahan pondasi bangunan, perkerasan jalan, dan pengganti batubata;
- Bahan campuran pakan ternak;
- Bahan pengikat kotoran dalam pengolahan limbah;
- Bahan industri semen puzzoland;
- Bahan ornamen atau batu hias, dan ubin;
- Bahan untuk meningkatkan keasaman tanah;
- Penyerap, penukar kation, dan katalis dalam bentuk tepung dan butiran; serta
- Bahan pengembang dan pengisi dalam industri kertas, karet, plastik, cat maupun lem.
sumber : Pemkab Gunungkidul
Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan, proses
pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan, dan faktor-faktor
pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).
Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah sebagai pegangan
dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru, mengungkapkan sifat-sifat fisik dan
kimia endapan bahan galian, membantu dalam penentuan (penyusunan) model eksplorasi
yang akan diterapkan, serta membantu dalam penentuan metoda penambangan dan
pengolahan bahan galian tersebut.
Gambar Hubungan antara genesa endapan mineral (bahan galian)
dengan beberapa ilmu yang ada pada industri mineral

Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya disebut dengan
endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah terubah melalui pelapukan
atau proses-proses luar (superficial processes) disebut dengan endapan sekunder (supergen).
A. KETERDAPATAN MINERAL BIJIH
Kerak bumi terdiri dari batuan-batuan beku, sedimen, dan metamorfik.Pengertian bijih
adalah endapan bahan galian yang dapat diekstrak (diambil) mineral berharganya secara
ekonomis, dan bijih dalam suatu endapan ini tergantung pada dua faktor utama, yaitu tingkat
terkonsentrasi (kandungan logam berharga pada endapan), letak serta ukuran (dimensi)
endapan tsb.
Untuk mencapai kadar yang ekonomis, mineral-mineral bijih atau komponen bahan galian
yang berharga terkonsentrasi secara alamiah pada kerak bumi sampai tingkat minimum yang
tertentu tergantung pada jenis bijih atau mineralnya.
Batuan merupakan suatu bentuk alami yang disusun oleh satu atau lebih mineral, dan
kadang-kadang oleh material non-kristalin. Kebanyakan batuan merupakan heterogen
(terbentuk dari beberapa tipe/jenis mineral), dan hanya beberapa yang merupakan homogen.
Deret reaksi Bowen (deret pembentukan mineral pada batuan) telah dimodifikasi oleh Niggli,
V.M. Goldshmidt, dan H. Schneiderhohn.
Gambar Diagram urutan pengendapan mineral

Sedangkan proses pembentukan mineral berdasarkan komposisi kimiawi larutan (konsentrasi


suatu unsur/mineral), temperatur, dan tekanan pada kondisi kristalisasi dari magma induk
telah didesign oleh Niggli.

Gambar Diagram Temperatur-Konsentrasi-Tekanan (Diagram Niggli)


Jika pembentukan endapan mineral dikelompokkan menurut proses pembentukannya, maka
salah satu pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut :
Klasifikasi Lindgren (Modifikasi)
1. Endapan yang terbentuk melalui proses konsentrasi kimia (Suhu dan Tekanan Bervariasi)
a. Dalam magma, oleh proses differensiasi
*) Endapan magmatik (segresi magma, magmatik cair); T 700-15000C; P sangat tinggi.
*) Endapan Pegmatit; T sedang-sangat tinggi; P sangat tinggi

b. Dalam badan batuan


*) Konsentrasi karena ada penambahan dari luar (epigenetik)

*) Asal bahan tergantung dari erupsi batuan beku


- Oleh hembusan langsung bekuan (magma)
+ Dari efusif; sublimat; fumarol, T 100-6000C; P atmosfer-sedang
+ Dari intrusif, igneous metamorphic deposits; T 500-8000C, P sangat tinggi
- Oleh penambahan air panas yang terisi bahan magma
+ Endapan hipothermal; T 300-5000C, P sangat tinggi
+ Endapan mesothermal; T 200-3000C, P sangat tinggi
+ Endapan epithermal; T 50-2000C, P sangat tinggi
+ Endapan telethermal; T rendah, P rendah
+ Endapan xenothermal; T tinggi-sedang, P sedang-atmosfer

*) Konsentrasi bahan dalam badan batuan itu sendiri :


- Konsentrasi oleh metamorfosis dinamik dan regional, T s/d 4000C; P tinggi.
- Konsentrasi oleh air tanah dalam; T 0-1000C; P sedang
- Konsentrasi oleh lapukan batuan dan pelapukan residu dekat permukaan; T 0-1000C; P
sedang-atmosfer

c. Dalam masa air permukaan


*) Oleh interaksi larutan; T 0-700C; P sedang
- Reaksi anorganik
- Reaksi organik

*) Oleh penguapan pelarut


2. Endapan-endapan yang dihasilkan melalui konsentrasi mekanis; T & P sedang.

B. PENGERTIAN MENDALA METALOGENIK

Istilah Mendala Metalogenik atau Metallogenic Province memiliki pengertian suatu area yang
dicirikan oleh kumpulan endapan mineral yang khas, atau oleh satu atau lebih jenis-jenis
karakteristik mineralisasi. Suatu mendala metalogenik mungkin memiliki lebih dari satu
episode mineralisasi yang disebut dengan Metallogenic Epoch.

Beberapa contoh mendala metalogenik antara lain ; segregasi lokal dari kromium dan nikel di
bagian yang paling dalam dari kerak samudera, dan pengendapan sulfida-sulfida masif dari
tembaga dan besi di tempat-tempat yang panas, metal-bearing brine menuju samudra melalui
zona regangan, endapan-endapan mineral magmatik-hidrotermal berhubungan dengan
proses-proses subduksi. Tumbukan dan subduksi membentuk gunung-gunung yang besar
seperti di Andes, yang mana endapan-endapan mineral dibentuk oleh diferensiasi magma.
Gambar Diagram Skematis yang Menggambarkan
Setting Geologi Endapan-endapan Mineral, dan Hubungannya dengan
Proses-proses Tektonik Lempeng (Gocht, Zantop, Eggert; 1988)

Contoh mendala metalogenik yang terdapat di Indonesia antara lain: mendala metalogenik
Malaya (terdiri dari batuan beku asam dengan mineral berharga kasiterit), manda
metalogenik Sunda (terdiri dari batuan intermediet dengan mineral berharga elektrum (Au,
Ag)), serta mendala metalogenik Sangihe-Talaut (terdiri dari batuan ultrabasa dengan
mineral berharga nikel).

C. PROSES PEMBENTUKAN ENDAPAN MINERAL PRIMER

Pembentukan bijih primer secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis
endapan, yaitu :
a. Fase Magmatik Cair
b. Fase Pegmatitil
c. Fase Pneumatolitik
d. Fase Hidrothermal
e. Fase Vulkanik

Dari kelima jenis fase endapan di atas akan menghasilkan sifat-sifat endapan yang berbeda-
beda, yaitu yang berhubungan dengan :
1. Kristalisasi magmanya

2. Jarak endapan mineral dengan asal magma


a. intra-magmatic, bila endapan terletak di dalam daerah batuan beku
b. peri-magmatic, bila endapan terletak di luar (dekat batas) batuan beku
c. crypto-magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak jelas
d. apo-magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan beku
e. tele-magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan beku

3. Bagaimana cara pengendapan terjadi


a. terbentuk karena kristalisasi magma atau di dalam magma
b. terbentuk pada lubang-lubang yang telah ada
c. metosomatisme (replacement) yaitu :reaksi kimia antara batuan yang telah ada dengan
larutan pembawa bijih

4. Bentuk endapan, masif, stockwork, urat, atau perlapisan

5.Waktu terbentuknya endapan


a. syngenetic, jika endapan terbentuk bersamaan waktunya dengan pembentukan batuan
b. epigenetic, jika endapan terbentuk tidak bersamaan waktunya dengan pembentukan
batuan.

a. Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase)

Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana mineral terbentuk
langsung pada magma (differensiasi magma), misalnya dengan cara gravitational settling
(Gambar 6). Mineral yang banyak terbentuk dengan cara ini adalah kromit, titamagnetit, dan
petlandit (lihat juga Gambar 4). Fase magmatik cair ini dapat dibagi atas :
1. Komponen batuan, mineral yang terbentuk akan tersebar merata diseluruh masa batuan.
Contoh intan dan platina.
2. Segregasi, mineral yang terbentuk tidak tersebar merata, tetapi hanya kurang
terkonsentrasi di dalam batuan.
Injeksi, mineral yang terbentuk tidak lagi terletak di dalam magma (batuan beku), tetapi telah
terdorong keluar dari magma.

b. Fase Pegmatitik (Pegmatitic Phase)

Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. Sebagai akibat
kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma, maka cairan residual yang
mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan
stockwork.
Kristal dari pegmatit akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras tekanan dan
temperatur antara magma dengan batuan disekelilingnya, sehingga pembekuan berjalan
dengan lambat. Mineral-mineral pegmatit antara lain : logam-logam ringan (Li-silikat, Be-
silikat (BeAl-silikat), Al-rich silikat), logam-logam berat (Sn, Au, W, dan Mo), unsur-unsur
jarang (Niobium, Iodium (Y), Ce, Zr, La, Tantalum, Th, U, Ti), batuan mulia (ruby, sapphire,
beryl, topaz, turmalin rose, rose quartz, smoky quartz, rock crystal).
Gambar Skematik proses differensiasi magma pada fase magmatik cair
Keterangan untuk Gambar :
1. Vesiculation, Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O), karbon
dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), sulfur (S) dan klorin (Cl). Pada saat magma naik
kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti buih pada air soda.
Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsur-unsur yang lebih volatile
seperti sodium dan potasium.

2. Diffusion, Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material dari
batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat. Proses diffusi
tidak seselektif proses-proses mekanisme differensiasi magma yang lain. Walaupun demikian,
proses diffusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma diaduk oleh suatu pencaran
(convection) dan disirkulasi dekat dinding dimana magma dapat kehilangan beberapa
unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari dinding reservoar.

3. Flotation, Kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium cenderung untuk
memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar dengan unsur-unsur sodium
dan potasium.

4. Gravitational Settling, Mineral-mineral berat yang mengandung kalsium, magnesium dan


besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak disebelah bawah reservoir dengan
unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan kristal badan bijih dalam bentuk
perlapisan. Lapisan paling bawah diperkaya dengan mineral-mineral yang lebih berat seperti
mineral-mineral silikat dan lapisan diatasnya diperkaya dengan mineral-mineral silikat yang
lebih ringan.

5. Assimilation of Wall Rock, Selama emplacement magma, batu yang jatuh dari dinding
reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan magma atau secara
sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah komposisi magma. Jika batuan dinding
kaya akan sodium, potasium dan silikon, magma akan berubah menjadu komposisi granitik.
Jika batuan dinding kaya akan kalsium, magnesium dan besi, magma akan berubah menjadi
berkomposisi gabroik.

6. Thick Horizontal Sill, Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi
magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoirl Jika bagian sebelah
dalam memebeku, terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat
yang lebih berat terletak pada lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih ringan.

c. Fase Pneumatolitik (Pneumatolitik Phase)


Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma dalam lingkungan
yang dekat dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut kontak-metamorfisme, karena
adanya gejala kontak antara batuan yang lebih tua dengan magma yang lebih muda. Mineral
kontak ini dapat terjadi bila uap panas dengan temperatur tinggi dari magma kontak dengan
batuan dinding yang reaktif. Mineral-mineral kontak yang terbentuk antara lain : wolastonit
(CaSiO3), amphibol, kuarsa, epidot, garnet, vesuvianit, tremolit, topaz, aktinolit, turmalin,
diopsit, dan skarn.

Gejala kontak metamorfisme tampak dengan adanya perubahan pada tepi batuan beku intrusi
dan terutama pada batuan yang diintrusi, yaitu: baking (pemanggangan) dan hardening
(pengerasan).
Igneous metamorfism ialah segala jenis pengubahan (alterasi) yang berhubungan dengan
penerobosan batuan beku. Batuan yang diterobos oleh masa batuan pada umumnya akan ter-
rekristalisasi, terubah (altered), dan tergantikan (replaced). Perubahan ini disebabkan oleh
panas dan fluida-fluida yang memencar atau diaktifkan oleh terobosan tadi. Oleh karena itu
endapan ini tergolong pada metamorfisme kontak.
Proses pneomatolitis ini lebih menekankan peranan temperatur dari aktivitas uap air.
Pirometamorfisme menekankan hanya pada pengaruh temperatur sedangkan
pirometasomatisme pada reaksi penggantian (replacement), dan metamorfisme kontak pada
sekitar kontak. Letak terjadinya proses umumnya di kedalaman bumi, pada lingkungan
tekanan dan temperatur tinggi.
Mineral bijih pada endapan kontak metasomatisme umumnya sulfida sederhana dan oksida
misalnya spalerit, galena, kalkopirit, bornit, dan beberapa molibdenit. Sedikit endapan jenis
ini yang betul-betul tanpa adanya besi, pada umumnya akan banyak sekali berisi pirit atau
bahkan magnetit dan hematit. Scheelit juga terdapat dalam endapan jenis ini (Singkep-
Indonesia).

d. Fase Hidrothermal (Hydrothermal Phase)

Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi
magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan merupakan sumber
terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. Berdasarkan cara pembentukan endapan,
dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu :
1. Cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di dalam batuan.
2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur
baru dari larutan hidrothermal.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis endapan hidrothermal,
antara lain Ephithermal (T 00C-2000C), Mesothermal (T 1500C-3500C), dan Hipothermal
(T 3000C-5000C). Setiap tipe endapan hidrothermal diatas selalu membawa mineral-mineral
yang tertentu (spesifik), berikut altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding.
Tetapi minera-mineral seperti pirit (FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida
hampir selalu terdapat dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal.
Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au), magnetit (Fe3O4),
hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS), pirrotit (FeS), galena (PbS),
pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit (CaWO4), kasiterit (SnO2), Mo-sulfida
(MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs), spalerit (ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara
lain : topaz, feldspar-feldspar, kuarsa, tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat

Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite (Sn, Cu)
sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida, stibnit (Sb2S3),
tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan kalkopirit (CuFeS2), dengan
mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat, kuarsa, dan pirit.
Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native cooper (Cu), argentit
(AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2), pirit (FeS2), cinabar (HgS), realgar
(AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn), dengan mineral-mineral ganguenya : kalsedon
(SiO2), Mg karbonat-karbonat, rhodokrosit (MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat).
Gambar Endapan bijih perak berupa endapan hidrothermal tipe epithermal
dengan pengkayaan bijihdi sepanjang rekahan-rekahan dan urat-urat di
Pachuca Meksiko (Dari Park, 1975 p 349)

e. Fase Vulkanik (Vulkanik Phase)

Endapan phase vulkanik merupakan produk akhir dari proses pembentukkan bijih secara
primer. Sebagai hasil kegiatan phase vulkanis adalah :
1. Lava flow
2. Ekshalasi
3. Mata air panas
Ekshalasi dibagi menjadi : fumarol (terutama terdiri dari uap air H2O), solfatar (berbentuk
gas SO2), mofette (berbentuk gas CO2), saffroni (berbentuk baron). Bentuk (komposisi kimia)
dari mata air panas adalah air klorida, air sulfat, air karbonat, air silikat, air nitrat, dan air
fosfat.
Jika dilihat dari segi ekonomisnya, maka endapan ekonomis dari phase vulkanik adalah :
belerang (kristal belerang dan lumpur belerang), oksida besi (misalnya hematit, Fe2O3).
Sulfida masif volkanogenik berhubungan dengan vulkanisme bawah laut, sebagai contoh
endapan tembaga-timbal-seng Kuroko di Jepang, dan sebagian besar endapan logam dasar di
Kanada.

Gambar Model Geologi Endapan Tembaga-Timbal-Seng volkanogenik


(After Horikoshi & Sato, 1970; Sato,1981)
D. PROSES PEMBENTUKAN ENDAPAN SEDIMENTER
Mineral bijih sedimenter adalah mineral bijih yang ada kaitannya dengan batuan sedimen,
dibentuk oleh pengaruh air, kehidupan, udara selama sedimentasi, atau pelapukan maupun
dibentuk oleh proses hidrotermal. Mineral bijih sedimenter umumnya mengikuti lapisan
(stratiform) atau berbatasan dengan litologi tertentu (stratabound). Endapan sedimenter
yang cukup terkenal karena proses mekanik seperti endapan timah letakan di daerah Bangka-
Belitung dan endapan emas placer di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat.
Endapan sedimenter karena pelapukan kimiawi seperti endapan bauksit di Pulau Bintan dan
laterit nikel di Pomalaa/Soroako Sulawesi Tengah/ Selatan.
Y. B. Chaussier (1979), membagi pembentukan mineral sedimenter berdasarkan sumber metal dan
berdasarkan host rock-nya. Berdasarkan sumber metal dibagi dua yaitu endapan supergen endapan
yang metalnya berasal dari hasil rombakan batuan atau bijih primer), serta endapan hipogen (endapan
yang metalnya berasal dari aktivitas magma/epithermal). Sedangkan berdasarkan host-rock (dengan
pengendapan batuan sedimen) dibagi dua, yaitu endapan singenetik (endapan yang terbentuk
bersamaan dengan terbentuknya batuan) serta endapan epigenetik (endapan mineral terbentuk setelah
batuan ada).

Terjadinya endapan atau cebakan mineral sekunder dipengaruhi empat faktor yaitu :
sumber dari mineral, metal atau metaloid, supergene atau hypogene (primer atau sekunder),
erosi dari daerah mineralisasi yang kemudian diendapkan dalam cekungan (supergene), dari
biokimia akibat bakteri, organisme seperti endapan diatomae, batubara, dan minyak bumi,
serta dari magma dalam kerak bumi atau vulkanisme (hypogene).
1. Mineral Bijih Dibentuk oleh Hasil Rombakan dan Proses Kimia Sebagai Hasil
Pelapukan Permukaan dan Transportasi

Secara normal material bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya dan akan
mengalami transportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan bercampur dengan material
lain. Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju lokasi dan lingkungan geokimia yang
baru dinamakan dispersi geokimia. Berbeda dengan dispersi mekanis, dispersi kimia
mencoba mengenal secara kimia penyebab suatu dispersi.

Dalam hal ini adanya dispersi geokimia primer dan dispersi geokimia sekunder. Dispersi
geokimia primer adalah dispersi kimia yang terjadi di dalam kerak bumi, meliputi proses
penempatan unsur-unsur selama pembentukan endapan bijih, tanpa memperhatikan
bagaimana tubuh bijih terbentuk. Dispersi geokimia sekunder adalah dispersi kimia yang
terjadi di permukaan bumi, meliputi pendistribusian kembali pola-pola dispersi primer oleh
proses yang biasanya terjadi di permukaan, antara lain proses pelapukan, transportasi, dan
pengendapan. Bahan terangkut pada proses sedimentasi dapat berupa partikel atau ion dan
akhirnya diendapkan pada suatu tempat. Mobilitas unsur sangat mempengaruhi dispersi.
Unsur dengan mobilitas yang rendah cenderung berada dekat dengan tubuh bijihnya,
sedangkan unsur-unsur dengan mobilitas tinggi cenderung relatif jauh dari tubuh bijihnya.
Selain itu juga tergantung dari sifat kimianya Eh dan Ph suatu lingkungan seperti Cu dalam
kondisi asam akan mempunyai mobilitas tinggi sedangkan dalam kondisi basa akan
mempunyai mobilitas rendah.

Sebagai contoh dapat diberikan pada proses pengkayaan sekunder pada endapan lateritik.
Dari pelapukan dihasilkan reaksi oksidasi dengan sumber oksigen dari udara atau air
permukaan. Oksidasi berjalan ke arah bawah sampai batas air tanah. Akibat proses oksidasi
ini, beberapa mineral tertentu akan larut dan terbawa meresap ke bawah permukaan tanah,
kemudian terendapkan (pada zona reduksi). Bagian permukaan yang tidak larut, akan jadi
berongga, berwarna kuning kemerahan, dan sering disebut dengan gossan. Contoh endapan
ini adalah endapan nikel laterit.

2. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Pelapukan Mekanik

Mineral disini terbentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan pemecahan dari
residu. Proses pemilahan yang mana menyangkut pengendapan tergantung oleh besar butir
dan berat jenis disebut sebagai endapan plaser. Mineral plaser terpenting adalah Pt, Au,
kasiterit, magnetit, monasit, ilmenit, zirkon, intan, garnet, tantalum, rutil, dsb.

Berdasarkan tempat dimana diendapkan, plaser atau mineral letakan dapat dibagi menjadi :
1. Endapan plaser eluvium, diketemukan dekat atau sekitar sumber mineral bijih primer.
Mereka terbentuk dari hanya sedikit perjalanan residu (goresan), material mengalami
pelapukan setelah pencucian. Sebagai contoh endapan platina di Urals.

2. Plaser aluvium, ini merupakan endapan plaser terpenting. Terbentuk di sungai bergerak
kontinu oleh air, pemisahan tempat karena berat jenis, mineral bijih yang berat akan bergerak
ke bawah sungai. Intensitas pengayaan akan didapat kalau kecepatan aliran menurun, seperti
di sebelah dalam meander, di kuala sungai dsb. Contoh endapan tipe ini adalah Sn di Bangka
dan Belitung. Au-plaser di California.

3. Plaser laut/pantai, endapan ini terbentuk oleh karen aktivitas gelombang memukul pantai
dan mengabrasi dan mencuci pasir pantai. Mineral yang umum di sini adalah ilmenit,
magnetit, monasit, rutil, zirkon, dan intan, tergantung dari batuan terabrasi.

4. Fossil plaser, merupakan endapan primer purba yang telah mengalami pembatuan dan
kadang-kadang termetamorfkan. Sebagai contoh endapan ini adalah Proterozoikum
Witwatersand, Afrika Selatan, merupakan daerah emas terbesar di dunia, produksinya lebih
1/3 dunia. Emas dan uranium terjadi dalam beberapa lapisan konglomerat. Mineralisasi
menyebar sepanjang 250 km. Tambang terdalam di dunia sampai 3000 meter, ini
dimungkinkan karena gradien geotermis disana sekitar 10 per 130 meter.
Gambar Sketsa mekanisme endapan bijih sedimenter

3. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Proses Pengendapan Kimia

a. Lingkungan Darat

Batuan klastik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna merah akibat oksidasi
Fe dan umumnya dalam literatur disebut “ red beds”. Kalau konsentrasi elemen logam dekat
permukaan tanah atau di bawah tanah tempat pengendapan tinggi memungkinkan terjadi
konsentrasi larutan logam dan mengalami pencucian (leaching/pelindian) meresap bersama
air tanah yang kemudian mengisi antar butir sedimen klastik. Koloid bijih akan alih tempat
oleh penukaran kation antara Fe dan mineral lempung atau akibat penyerapan oleh mineral
lempung itu sendiri.

b. Lingkungan Laut

Kejadian cebakan mieral di lingkungan laut sangat berbeda dengan lingkungan darat yang
umumnya mempunyai mempunyai pasokan air dengan kadar elemen yang tinggi
dibandingkan kandungan di laut. Kadar air laut mempunai elemen yang rendah. Sebagai
contoh kadar air laut untuk Fe 2 x 10-7 % yag membentuk konsentrasi mineral logam yang
berharga hal ini dapat terjadi kalau mempunyai keadaan yang khusus (terutama Fe dan Mn)
seperti :
a. Adanya salah satu sumber logam yang berasal dari pelapkan batuan di daratan atau dari
sistem hidrotermal bawah permukaan laut.
b. Transport dalam larutan, mungkin sebagai koloid. Besi adalah logam yang dominan dan
terbawa sebagai Fe(OH) soil partikel.
c. Endapan di dalam cebakan sedimenter, sebagai Fe(OH)3, FeCO3 atau Fe-silikat tergantung
perbedaanpotensial reduksi (Eh).

Bijih dalam lingkungan laut ini dapat berupa oolit, yang dibentuk oleh larutan koloid
membungkus material lain seperti pasir atau pecahan fosil. Bentuk kulit yang simetris
disebabkan perubahan komposisi (Fe, Al, SiO2). Dengan pertumbuhan yang terus menerus,
oolit tersebut akan stabil di dasar laut dimana tertanam dalam material lempungan
karbonatan yang mengandung beberapa besi yang bagus. Di dasar laut mungkin oolit tersebut
reworked. Dengan hasil keadaan tersebut bijih besi dan mangan sebagai contoh
ferromanganese nodules yang sekarang ini menutupi daerah luas lautan.
E. CONTOH BEBERAPA ENDAPAN MINERAL YANG PENTING

1. Endapan mineral yang berhubungan dengan proses-proses magmatik

Tergantung pada kedalaman dan temperatur pengendapan, mineral-mineral dan asosiasi


elemen yang berbeda sangat besar , sebagai contoh oksida-oksida timah dan tungsten di
kedalaman zona-zona bertemperatur tinggi; sulfida-sulfida tembaga, molibdenum, timbal,
dan seng dalam zona intermediet; sulfida-sulfida atau sulfosalt perak dan emas natif di dekat
permukaan pada zona temperatur rendah. Mineral-mineral dapat mengalami disseminated
dengan baik antara silikat-silikat, atau terkonsentrasi dalam rekahan yang baik dalam batuan
beku, sebagai contoh endapan tembaga porfiri Bingham di Utah.

Gambar Model Geologi Jenis Endapan Tembaga Porfiri di Amerika Selatan


(After Sillitoe,1973)

Batugamping di dekat intrusi bereaksi dengan larutan hidrotermal dan sebagian digantikan
oleh mineral-mineral tungsten, tembaga, timbal dan seng (dalam kontak metasomatik atau
endapan skarn). Jika larutan bergerak melalui rekahan yang terbuka dan logam-logam
mengendap di dalamnya (urat emas-kuarsa-alunit epithermal), sehingga terbentuk cebakan
tembaga, timbal, seng, perak, dan emas.
Gambar Model Geologi Endapan Urat Logam Mulia (After Buchanan,1981)
Larutan hidrotermal yang membawa logam dapat juga bermigrasi secara lateral menuju
batuan yang permeabel atau reaktif secara kimia membentuk endapan blanket- shaped
sulfida, atau bahkan mencapai permukaan dan mengendapkan emas, perak, dan air raksa
dalam pusat mata air panas silikaan atau karbonatan, seperti kadar emas tinggi yang terdapat
dalam beberapa lapangan geotermal aktif di New Zealand. Jika larutan volkanik yang
membawa logam memasuki lingkungan laut, maka akan terbentuk kumpulan sedimen-
volkanik dari tembaga- timbal-seng.

2. Endapan mineral yang berhubungan dengan proses sedimentasi

Erosi benua dan pengisian cekungan sedimen di samudera memerlukan siklus geologi dan
kimia yang dapat berhubungan dengan formasi dari jenis endapan mineral selama pelapukan,
perombakan menjadi unsur-unsur pokok berupa fragmental (sebagai contoh kwarsa atau
kadang-kadang emas atau mineral-mineral berat), dan menjadi elemen-elemen yang larut
secara kimiawi (sebagai contoh adalah kalsium, sodium, atau elemen-elemen metalik
pembentuk bijih yang potensial seperti besi, tembaga, timbal, dan seng). Unsur-unsur pokok
fragmental tertransportasi oleh air permukaan diendapkan sebagai batuan.

Klastik-klastik sedimen di benua dan di lingkungan tepi laut cenderung berbutir kasar dan
bisa mengisi pengkayaan lokal mineral-mineral berharga yang telah tertransportasi dengan
fraksi klastik, sebagai contoh konsentrasi emas placer pada endapan Witwatersrand di Afrika
Selatan dan timah placer di Asia bagian selatan.

Seringkali formasi endapan sulfida stratiform tidak tampak berhubungan dengan proses
magmatisme atau vulkanisme, tetapi agak berhubungan dengan sirkulasi larutan hidrotermal
dari sumber-sumber yang lain, sebagai contoh penirisan dari cekungan sedimen yang dalam.
Endapan-endapan yang dihasilkan sangat mirip dengan beberapa asal-usul volkanogenik
karena mekanisme traping yang sama. Hanya mineral-mineral sulfida yang dapat mengalami
presipitasi pada sediment-water interface atau dalam batuan yang tidak terkonsolidasi, waktu
dari formasi bijih berhubungan terhadap waktu pengendapan sedimen, terhadap waktu
kompaksi dan konsolidasinya, atau terhadap waktu-waktu berikutnya saat sedimen-sedimen
mengalami indurasi penuh dan dapat termineralisasi oleh larutan yang bergerak melalui
batuan yang porous atau struktur-struktur geologi. Untuk proses ini, contoh yang bagus
adalah endapan timbal-seng di Mississippi Valley.

Gambar Model Geologi Endapan Sediment-Ekshalatif Timbal-Seng (After Lydon,


1983)

Proses-proses sedimentasi juga membentuk akumulasi fosil-fosil bahan bakar, batu bara,
minyak dan gas alam. Untuk membentuk batu bara, gambut terkompaksi dan mengalami
pemanasan akibat penurunan dan proses burial. Demikian juga, minyak dan gas terbentuk
oleh maturasi unsur-unsur organik dalam batuan sedimen oleh peningkatan temperatur dan
tekanan. Minyak dan gas dapat bermigrasi melalui batuan yang porous membentuk reservoir
yang besar dalam struktur yang baik, atau tetap di dalam batuan sumber membentuk oil
shale.

3. Endapan Mineral Yang Berhubungan Dengan Proses Metamorfisme

Metamorfisme yaitu proses rekristalisasi dan peleburan akhir dari batuan beku atau batuan
sedimen, yang disebabkan oleh intrusi dari magma baru atau oleh proses burial yang dalam .
Endapan hidrotermal kontak metasomatik terbentuk di sekitar magma yang mengalami
intrusi, seperti yang digambarkan di atas. Metamorfisme burial yang dalam dapat
menimbulkan overprinting terhadap akumulasi mineral yang ada sebelumnya, sebagai contoh
yang besar adalah endapan sediment-hosted lead-zinc di Broken Hill, Australia.
Metamorfisme burial juga membebaskan sebagian besar larutan hidrotermal yang
melarutkan logam-logam dari country rock, diendapkan saat larutan bertemu dengan suatu
lingkungan dengan kondisi temperatur, tekanan, dan kimia yang tepat untuk formasi bijih.
Formasi endapan emas di beberapa jalur metamorfik Precambrian berhubungan terhadap
transportasi emas oleh metamorfic water menuju urat kwarsa yang mengandung emas.
Kecuali jenis endapan tersebut, metamorfisme regional tidak terlalu banyak membentuk
formasi dari endapan bijih metalik.
ZEOLITE
Zeolit alam merupakan senyawa alumino silikat terhidrasi yang secara _sik dan kimia antara lain
berkemampuan sebagai bahan penjerap (adsorpsi) dan penukar kation. Mengingat kegunaannya yang
besar, maka penelitian mengenai karakteristik, potensi dan genesa tufa zeolitik ini diadakan. Daerah
Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu daerah di Indonesia yang batuannya
mengandung mineral zeolit.

Pada penelitian ini dilakukan pemetaan geologi skala 1:25.000 dan 1:500. Pemetaan topogra_ skala
1:500 untuk keperluan perhitungan jumlah sumberdayanya; juga dilakukan analisis persentase unsur
kimia utama, mineralogi normatif, petrogra_, difraksi sinar X, Scanning Electron Microscopy (SEM),
kekerasan, berat jenis, dan analisis serapan air pada tufa zeolitik untuk mendapatkan karakteristiknya,
serta juga dilakukan analisis Kapasitas Penukaran Kation (KPK) untuk mengetahui kualitasnya.

Ternyata tufa zeolitik tersebut termasuk sebagai salah satu litologi penyusun Formasi Kebo-Butak.
Mineral zeolit yang dikandungnya berupa mordenit dan klinoptilolit yang berasosiasi dengan mineral
lempung tipe montmorilonit yang semuanya merupakan hasil alterasi mineraloid yang berwujud gelas
volkanik. Mineral lain yang terkandung berupa feldspar dan kuarsa, di samping itu juga dijumpai gelas
volkanik. Adapun karakteristik _sik lain tufa zeolitik tersebut berupa kekerasan berkisar 2,5-3 (skala
Mohs), serapan air 12,92 - 17,54 %, dan berat jenis sebesar 1,61 - 1,74 gr/cm3. Kapasitas Pertukaran
Kation tepung tufa zeolitik pada -100 mesh dalam keadaan normal sebesar 139,88 - 78,27
(mgr.eq.Na2O/100 gr), sedangkan yang sudah diaktivasi termal pada -100 mesh sebesar 143,50 - 82,06
(mgr.eq.Na2O/100 gr). Jumlah sumberdaya terukur tufa zeolitik adalah 23991 m3(64296 ton). Zeolit di
Bantengwareng berasal dari ubahan gelas volkanik pada kala Oligosen Akhir - Miosen Tengah oleh
proses diagenesis yang dipengaruhi oleh beban sedimen setebal sekitar 1180 m yang terjadi di laut
dalam (200 - 2000 m).
Mungin sedikit membantu : "carbonaceus adalah batuan sedimen yang mengandung cukup besar
material organik, seperti residu tumbuhan dan binatang yang telah terubah". Carbonaceus shale
memiliki warna abu-abu sampai gelap memperlihatkan tekstur flake(pecahan-pecahan kecil/hancur).
sedangkan carbonaceus clay warna kuning,coklat, abu-abu-gelap, tidak memperlihatkan tekstur flake,
sehingga siftanya impermeable(tidak meloloskan air) dan sangat baik sebagai lapisan penutup.
Tanggapan 2 - jarot setyowiyoto
Sedikit penjelasan, mungkin dapat membantu:
Carbonaceus Clay vs. Cabonaceous Shale
Clay (sediment) / claystone (lithified, batulempung): adalah batuan sedimen (sedimentary rock) yang
mempunyai ukuran butir < 1/256 mm (skala wentworth), clay ini tersusun atas group alumina silicates
(alumina silika, seperti Al, Fe, Mg, Si), bisa terbentuk di laut (marine clay), atau di darat (terrestrial
clay), dengan proses pembentukan bisa secara allogenic clay (dari luar cekungan sedimentasi), atau
secara authigenic clay (terbentuk di dalam lingkungan sedimentasi, misalnya perubahan atau proses
alterasi dari mineral feldspar menjadi clay mineral, (Boggs, 1987). Jadi ditinjau dari ukuran butir dalam
urutan batuan sedimen, claystone ini mempunyai ukuran yang paling halus. Contoh clay minerals:
smectite, illite, kaolinite, dll.
Shale (serpih):
Kalau batupasir (sandstone) sering kita ketahui masuk dalam kelompok Batuan Arenites (mempunyai
ukuran butir 1/16 – 2 mm), maka shale atau serpih ini masuk dalam kelompok Batuan Lutites (1/16 –
1/256 mm), dengan anggota kelompoknya adalah: siltstone, shale, mudstone, dan claystone (Huang,
1962). Jadi dari ukuran butir, shale terletak diantara siltstone dan claystone. Shale ini mempunyai
sifat/ciri khusus fissile/menyerpih, dengan komponen utamanya adalah clay minerals, komp lain:
aphanitic quartz, opal, chalcedony, carbonates, iron ore, dll. Ciri lain shale mudah pecah, tapi claystone
plastic when wet.
Carbonaceous:
Akhiran ‘ous’ bermakna ‘bersifat’. Jadi clay atau shale disamping mempunyai komponen utama seperti
yang telah disebutkan diatas, dia juga mengandung material karbon/bersifat karbonan (carbonaceous
clay /carbonaceous shale). Carbonaceous material ini umumnya berwarna gelap/’dark’, didalam batuan
sediment dia bisa dalam posisi ‘laminae’ (berupa lapisan2 tipis), pint-point (ndlemok-ndlemok) atau
‘dispers’ (tersebar merata di butiran batuannya). Proses terbentuknya carbonaceous material ini berhub
dg tanaman darat (land plants/terrestrial higher plants), yang tertimbun dalam proses sedimentasi dalam
kondisi reduksi (an-oxidized), sehingga menjadikan ‘enriched organic compounds’/pengkayaan
material organic (Tucker, 2001).
Umumnya carbonaceous clay/shale tersebut jarang yang berfungsi sebagai reservoir (kecuali dia
fracturing).Bisa sebagai seal/capprock/batuan penutup. Justru kalau organic materialnya berlebih/
kandungan TOC (total organic content) nya tinggi maka dapat berfungsi sebagai source rock (batuan
induk, batuan yang menghasilkan hydrocarbon), atau sering disebut sebagai ‘oil shale’, bisa black shale
(umumnya marine) atau brown shale (terrestrial).
Zeolit sebagai Mineral Serba Guna
Ditulis oleh Sinly Evan Putra pada 08-12-2007
Zeolit (Zeinlithos) atau berarti juga batuan mendidih, di dalam riset-riset kimiawan telah lama menjadi
pusat perhatian. Setiap tahunnya, berbagai jurnal penelitian di seluruh dunia, selalu memuat
pemanfaatan zeolit untuk berbagai aplikasi, terutama yang diarahkan pada aspek peningkatan
efektivitas dan efisiensi proses industri dan pencemaran lingkungan.
Zeolit umumnya didefinisikan sebagai kristal alumina silika yang berstruktur tiga dimensi, yang
terbentuk dari tetrahedral alumina dan silika dengan rongga-rongga di dalam yang berisi ion-ion logam,
biasanya alkali atau alkali tanah dan molekul air yang dapat bergerak bebas. Secara empiris, rumus
molekul zeolit adalah Mx/n.(AlO2)x.(SiO2)y.xH2O. Struktur zeolit sejauh ini diketahui bermacam-
macam, tetapi secara garis besar strukturnya terbentuk dari unit bangun primer, berupa tetrahedral yang
kemudian menjadi unit bangun sekunder polihedral dan membentuk polihendra dan akhirnya unit
struktur zeolit.
Berikut adalah beberapa contoh jenis mineral zeolit beserta rumus kimianya :
Nama Mineral Rumus Kimia Unit Sel
Analsim Na16(Al16Si32O96). 16H2O
Kabasit (Na2,Ca)6 (Al12Si24O72). 40H2O
Klipnoptolotit (Na4K4)(Al8Si40O96). 24H2O
Erionit (Na,Ca5K) (Al9Si27O72). 27H2O
Ferrierit (Na2Mg2)(Al6Si30O72). 18H2O
Heulandit Ca4(Al8Si28O72). 24H2O
Laumonit Ca(Al8Si16O48). 16H2O
Mordenit Na8(Al8Si40O96). 24H2O
Filipsit (Na,K)10(Al10Si22O64). 20H2O
Natrolit Na4(Al4Si6O20). 4H2O
Wairakit Ca(Al2Si4O12). 12H2O
Di Indonesia, jumlah zeolit sangat melimpah dan tersebar di berbagai daerah baik di pulau Jawa,
Sumatera, dan Sulawesi. Pemanfaatan zeolit Indonesia untuk penggunaan secara langsung belum dapat
dilakukan, karena zeolit Indonesia banyak mengandung campuran (impurities) sehingga perlu
dilakukan pengolahan terlebih dahulu untuk menghilangkan atau memisahkannya dari kotoran-kotoran.

Sifat Unik Zeolit


Karena sifat fisika dan kimia dari zeolit yang unik, sehingga dalam dasawarsa ini, zeolit oleh para
peneliti dijadikan sebagai mineral serba guna. Sifat-sifat unik tersebut meliputi dehidrasi, adsorben dan
penyaring molekul, katalisator dan penukar ion.
Zeolit mempunyai sifat dehidrasi (melepaskan molekul H20) apabila dipanaskan. Pada umumnya
struktur kerangka zeolit akan menyusut. Tetapi kerangka dasarnya tidak mengalami perubahan secara
nyata. Disini molekul H2O seolah-olah mempunyai posisi yang spesifik dan dapat dikeluarkan secara
reversibel. Sifat zeolit sebagai adsorben dan penyaring molekul, dimungkinkan karena struktur zeolit
yang berongga, sehingga zeolit mampu menyerap sejumlah besar molekul yang berukuran lebih kecil
atau sesuai dengan ukuran rongganya. Selain itu kristal zeolit yang telah terdehidrasi merupakan
adsorben yang selektif dan mempunyai efektivitas adsorpsi yang tinggi.
Kemampuan zeolit sebagai katalis berkaitan dengan tersedianya pusat-pusat aktif dalam saluran antar
zeolit. Pusat-pusat aktif tersebut terbentuk karena adanya gugus fungsi asam tipe Bronsted maupun
Lewis. Perbandingan kedua jenis asam ini tergantung pada proses aktivasi zeolit dan kondisi reaksi.
Pusat-pusat aktif yang bersifat asam ini selanjutnya dapat mengikat molekul-molekul basa secara
kimiawi. Sedangkan sifat zeolit sebagai penukar ion karena adanya kation logam alkali dan alkali
tanah. Kation tersebut dapat bergerak bebas didalam rongga dan dapat dipertukarkan dengan kation
logam lain dengan jumlah yang sama. Akibat struktur zeolit berongga, anion atau molekul berukuran
lebih kecil atau sama dengan rongga dapat masuk dan terjebak.

Aplikasi Zeolit
Seperti telah disinggung diatas, bahwasanya dalam dasawarsa ini, zeolt telah dimanfaatkan secara luas
oleh masyarakat. Berikut adalah beberapa contoh aplikasinya :
Bidang/Sekt
Aplikasi
or
Penetral keasaman tanah, meningkatkan aerasi tanah, sumber mineral pendukung pada
Pertanian pupuk dan tanah, serta sebagai pengontrol yang efektif dalam pembebasan ion amonium,
nitrogen, dan kalium pupuk.
Meningkatkan nilai efisiensi nitrogen, dapat mereduksi penyakit lembuhg pada hewan
Peternakan ruminensia, pengontrol kelembaban kotoran hewan dan kandungan amonia kotoran
hewan.
Membersihkan air kolam ikan yang mempunyai sistem resikurlasi air, dapat mengurangi
Perikanan
kadar nirogen pada kolam ikan.
Sebagai katalis pada proses pemecahan hidrokarbon minyak bumi, sebagai panel-panel
Energi
pada pengembangan energi matahari, dan penyerap gas freon.
Pengisi (filler) pada industri kertas, semen, beton, kayu lapis, besi baja, dan besi tuang,
Industri
adsorben dalam industri tekstil dan minyak sawit, bahan baku pembuatan keramik.

Daftar Pustaka
• Bambang Setiaji. 2000. Pemanfaatan Zeolit untuk Adsorpsi Benzopiren sebagai Senyawa
Racun dalam Asap Cair. Majalah Iptek Vo. 11, No. 4, November 2000.
• Muhammad Rif’an. 2005. Zeolit, Kristal Ajaib dari Gunung Berapi. Majalah ACID Edisi
III/Tahun V/Mei 2005. Bandar Lampung
• Najib I. 1994. Pengaruh Pengaktifan Zeolit Lampung dengan Asam Sulfat sebagai Adsorben
Ion Amonium. Skripsi Kimia Univ. Lampung. Bandar Lampung
• Prayitno, KB. 1989. Zeolit sebgai Alternatif Industri Komoditi Mineral Indonesia. BPPT No.
XXXV.
• Rudy Situmeang. 2006. Kimia Katalis. Diktat Kuliah. Bandar Lampung
• Sujarwadi. 1997. Sekilas tentang Zeolit. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Bandung
• Susanto dan Suharso. 1999. Pemisahan Ion-ion Besi dalam Air dengan Zeolit Alam yang
Diaktifasi. Jurnal Univ. Lampung. Bandar Lampung
• Supriyantomo. 1996. Penggunaan Zeolit Lampung yang Diimpregnasi dengan Katalis untuk
Reaksi Oksidasi Asam Maleat. Skripsi Kimia Univ. Lampung. Bandar Lampung
Cari Artikel