Anda di halaman 1dari 13

STUDI KASUS PENCEMARAN LOGAM BERAT (BESI (Fe))PT CERAH

SEMPURNA

Oleh Suwahono nim 4001507032

Abstract
Hasil penelitian dari sampel limbah PT Cerah Sempurna diuji menggunakan spectronic 20
(spectrometer UV-Vis) didapatkan besi terlarut dari cemaran limbah PT Cerah sempurna 0,9286
ppm, yang berarti kadar logamnya tidak melewati atau masih dibawah batas kadar maksimum (5
ppm) yang diperbolehkan untuk dibuang dalam limbah industri sesuai regulasi atau aturan dari
pemerintah.

Key word limbah, Spectronic 20, Besi

Pendahuluan
Dua versi definisi pencemaran, pertama adalah “mengubah menjadi kotor atau tidak murni baik
secara seremonial maupun secara moral”, sedangkan definisi kedua, adalah “secara fisik
membuat jadi tidak murni, busuk dan kotor”). Namun berdasarkan hasil survey dari beberapa
definisi pencemaran, Hellawell (1986) menyimpulkan bahwa pencemaran adalah sebagai
“sesuatu (zat atau benda) yang berada dalam tempat yang salah, pada waktu yang salah, dan
jumlah yang salah”. Pencemaran lingkungan memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan
manusia, karena itu selama dua abad terakhir ini telah terjadi momentum peningkatan kerusakan
lingkungan secara keseluruhan di permukaan bumi ini sebagai hasil dari kegiatan manusia. Hal
ini diperparah lagi oleh kondisi jumlah populasi manusia dari masa ke masa selalu bertambah
dengan pesat, sedangkan hasil teknologi pengolahan limbah tidak menentu sehingga terjadi
korelasi positif antara kecepatan peningkatan populasi manusia dengan kenaikan kuantitas
limbah di bumi ini. ( Hellawell, 1986)

Gb. 1. Pencemaran Limbah Pabrik


Pencemaran lingkungan terbagi berdasarkan:
1) intesitasnya, dengan mengabaikan besarnya efek pencemaran,
2) persistensi, terutama bila pemurnian hanya dilakukan di bagian hilir saja
3) keberlanjutan atau tidak sporadik dan kronis.
Karat adalah lapisan yang terbentuk setelah senyawa besi bereaksi dengan air dan oksigen. Ini
merupakan campuran antara oksida besi dan oksida air. (McNeely, J.A. 1992).

Proses kimia, fisika, dan biologi selama ini telah memegang peranan penting dalam mekanisme
penguraian limbah domestik sepanjang kuantitas dan intensitas pembuangan limbah masih dalam
batas yang normal. Namun sayangnya peningkatan populasi manusia telah menyebabkan
peningkatan kuantitas dan intensitas pembuangan limbah domestik sehingga membuat proses
penguraian limbah secara alami menjadi tidak seimbang. Bila hal ini terjadi secara terus
menerus, akan terjadi: peningkatan kadar BOD, COD, N dan K di sungai-sungai; banyak sumur
dan sumber air penduduk lainnya mengandung bakteri colie yang menunjukkan telah terjadinya
pencemaran oleh tinja dan pada akhirnya dapat memacu pertumbuhan gulma air. Limbah yang
dihasilkan dari pencemaran industri pada umumnya bersifat limbah anorganik yang memiliki
keragaman yang luas dengan kemiripin yang kecil. Limbah industri dapat berbentuk gas, cair
maupun padat sebagai hasil sampingan dari kegiatan: pabrik, petanian, peternakan, kehutanan
dan lain-lain. Seringkali limbah industri yang bercampur dengan limbah domestik yang dibuang
ke dalam suatu sistem perairan justru lebih meningkatkan dampak kerusakan yang lebih total
pada sumber daya perairan tersebut. Peningkatan pemakaian obat-obat pertanian (pestisida dan
pupuk) secara signifikan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pencemaran
lingkungan. (Yetty. 2006)

PT CERAH SEMPURNA
PT. Cerah Sempurna yang berada di Semarang merupakan industri pelapisan logam yang
bergerak di bidang galvanize, structure tower, garden furniture dan powder coating. Industri ini
melibatkan karat besi dalam proses produksinya. Senyawa ini merupakan senyawa yang
dianggap mengganggu dalam proses industri di PT. Cerah Sempurna Semarang dan dapat
dihilangkan dengan menggunakan asam kuat. Asam kuat yang digunakan untuk menghilangkan
karat besi adalah asam klorida (HCl) karena selain harganya murah, hasil reaksinya berupa FeCl3
yang dapat dipisahkan dengan mudah. Reaksi yang terjadi dalam proses penghilangan karat besi
tersebut adalah sebagai berikut.
Fe2O3 +
Karat 6 HCl 2 FeCl3 + 3 H2O
besi
Proses yang telah dikemukakan di atas dinamakan proses pickling yaitu upaya untuk
menghilangkan karat yang melapisi material (besi/baja) menggunakan asam kuat. Kadar besi
(Fe) dalam limbah akan meningkat dalam proses ini karena banyaknya FeCl3 dan FeCl2 yang
terbentuk dari hasil reaksi.
Reaksi besi dengan asam klorida atau asam sulfat membentuk kompleks ion heksa aquo
besi (II).
Fe(s) + 2 H+(aq) + 6 H2O(l) → [Fe(H2O)6]2+ (aq) + H2(g)
Senyawa ini juga dapat terbentuk dari reduksi besi (III) oleh seng.
2Fe3+(aq) + Zn(s) + 12 H2O(l) → 2[Fe(H2O)6]2+(aq) + Zn2+(aq)
Dalam larutan asam, ion kompleks heksa aquo besi (II) teroksidasi secara perlahan oleh udara
menjadi ion besi (III). Penambahan larutan NaOH akan membentuk kompleks ion dihidrokso
tetraaquo besi (II) yang tidak larut dalam basa berlebih.
OH-
[Fe(H2O) ]
6
2+
(aq) + 2 OH -
(aq) ↔ [Fe(OH)2(H2O)4](s) + 2H2O(l)
H+

Dalam kondisi basa, oksidasi besi (II) menjadi besi (III) bertambah cepat dan dengan adanya
udara, kompleks ion dihidrokso tetraaquo besi (II) secara perlahan berubah menjadi kompleks
ion trihidrokso triaquo besi (III).
4[Fe(OH)2(H2O)4](s) + O2(g) → 4 [Fe(OH)3(H2O)3](s) + 2 H2O(l)
Senyawa-senyawa kompleks besi (II) kebanyakan mudah teroksidasi menjadi senyawa besi (III)
kecuali kompleks ion heksa siano ferat (II).
(Tim Dose Kimia Anorganik, 2008).
PT. Cerah Sempurna Semarang merupakan perusahaan industri, namun pada tahap
awal masih menitikberatkan pada penyediaan jasa galvanis kepada pihak-pihak yang
membutuhkan yang ternyata secara implisit kebutuhan terhadap jasa galvanis memang cukup
besar, sehingga dengan kapasitas per hari 1,6 ton yang disediakan oleh promotor masih
merupakan bagian yang sangat kecil, apabila dibandingkan keseluruhan kebutuhan yang ada.
Perencanaan lokasi pada perusahaan ini mempunyai posisi yang strategis baik secara ekonomis
maupun sosiologis. Ekonomi akan memberikan kemungkinan baru kepada masyarakat sekitar
untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan tetap, memberi pendapatan kepada negara lewat
pajak yang harus dibayar dan perusahaan juga mampu memberi kontribusi positif terhadap laju
pertumbuhan pembangunan regional. Secara sosiologis perusahaan akan membantu pemerintah
mengurangi pengangguran yang saat ini masih merupakan problem yang cukup pelik.
Pertumbuhan pemakaian baja dan besi pada dekade tahun 1980an tidak hanya dipakai
dalam sektor konstruksi bangunan lainnya, dimana semakin membutuhkan baja atau besi yang
sudah digalvanis, misalnya industri karoseri mobil yang secara riil diketahui semakin pesat
pertumbuhannya dewasa ini. Pada keadaan awal produksi perusahaan ini didirikan di kelurahan
Randugarut kecamatan Tugu, termasuk di wilayah Kotamadya Semarang. Keadaan geografisnya
terletak diantara 5,30 dan 7,10 LS dan 110,35 BT dengan suhu udara antara 23-32˚C dan berada
pada ketinggian 4 meter diatas permukaan air laut.
PT. Cerah Sempurna Semarang melakukan 3 macam proses pelapisan logam, yaitu
proses elektrolisis, pencelupan dan quenching.
1. Proses Elektrolisis
Proses ini memakai elektroda positif/anoda zink dan elektroda negatif/katoda dari bahan
yang akan digalvanis dengan menggunakan larutan elektrolit zink klorida. Zink kemudian akan
melapisi objek atau bahan yang berupa pipa, plat besi dan sebagainya. Proses ini memakan
waktu lama, dengan demikian proses elektrolisa memakan waktu yang cukup lama, juga kurang
ekonomis meskipun kualitas dari galvanis cukup baik.
2. Proses Pencelupan
Proses ini menggunakan mekanisme dimana bahan-bahan yang akan digalvanis
dimasukkan ke dalam bak yang berisi zink yang telah dilebur pada suhu 480˚C. Proses ini
berjalan lebih cepat dibanding proses elektrolisa, akan tetapi memerlukan bahan baku yang zink
yang cukup besar, karena selama ini zink dirasa lebih mahal, sehingga kurang ekonomis. Produk
yang dihasilkan dari proses ini mempunyai kualitas rendah, sebab hanya dicelup dan panas yang
tinggi bisa menyebabkan objek kehilangan bentuk yang sebenarnya.

3. Proses Quenching
Objek galvanis dimasukkan ke dalam tungku peleburan seng. Panas dari seng yang telah
melebur akan membentuk penetrasi pada objek galvanis yang sebelumnya mengalami pre-
treatmen dalam beberapa tahap.. PT Cerah Sempurna Semarang memilih proses ini karena alasan
kualitas dan ekonomis.
(http://indonesia.yoolk.com/construction/galvanizing/cerah-sempurna-pt-91188.html)

Pencemaran Logam Berat


Logam berat merupakan senyawa kimia yang sangat berpotensi menimbulkan masalah
pencemaran lingkungan terutama yang berkaitan erat terhadap dampak kesehatan manusia.
Menurut Vouk (1986) terdapat sebanyak 80 jenis dari sejumlah 109 unsur kimia yang telah
teridentifikasi di muka bumi ini termasuk ke dalam jenis logam berat, Dengan demikian sifat
kimiawi logam berat dapat dikatakan mewakili sebagian besar golongan kimia anorganik. Logam
berat biasanya didefinisikan berdasarkan sifat-sifat fisiknya dalam keadaan padat dengan
menggunakan metode teknologi yang telah maju. Sifat-sifat fisik tersebut antara lain memiliki:
1) Daya pantul cahaya yang tinggi.
2) Daya hantar listrik yang tinggi.
3) Daya hantar panas,
4) kekuatan dan ketahanan.
Logam berat dalam keadaan padat juga dapat dibedakan berdasarkan: struktur kristalnya,
sifat pengikat kimianya, serta sifat-sifat magnitnya. Kelarutan logam berat dalam air dan lemak
merupakan suatu proses toksikologi yang amat penting, karena proses ini adalah salah satu faktor
utama yang mempengaruhi adanya proses biologi dan penyerapan logam berat itu sendiri.
Metode analisis untuk penentuan konsentrasi logam berat yang hingga kini paling populer
digunakan adalah Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Adapun prinsip kerja SSA ini pada
dasarnya adalah suatu proses pengatoman dari tingkat dasar ke tingkat tinggi, dimana dalam
proses pengatoman ini setiap logam berat memiliki penyinaran dengan panjang gelombang yang
spesifik. Kneip dan Friberg (1986) berpendapat bahwa dalam penentuan kandungan logam berat,
ada tiga hal utama yang harus diperhatikan yaitu; ketepatan, ketelitian dan batas deteksi. Jenis
pelarut kimia yang digunakan dalam analisis logam dapat memengaruhi hasil analisis tersebut.,
melaporkan bahwa ekstraksi sampel dengan menggunakan pelarut HNO3 menghasilkan
konsentrasi logam berat hampir 10 kali lebih tinggi daripada pelarut HCl.
(Kneip dan Friberg (1986)
Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat terbagi ke dalam dua jenis yaitu: pertama
logam berat esensial dimana keberadaanya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh setiap
organisme hidup, seperti antara lain, seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe), kobalt (Co), mangaan
(Mn) dan lain-lain. Kedua logam berat tidak esensial atau beracun, dimana keberadaan dalam
tubuh organisme hidup hingga saat ini masih belum diketahui manfaatnya bahkan justru dapat
bersifat racun, seperti misalnya; merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), kromium (Cr) dan
lain-lain. Logam berat esensial biasanya tebentuk sebagai bagian integral dari sekurang-
kurangnya dengan satu jenis enzim. Walupun logam berat esensial dibutuhkan oleh setiap
organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun.
Penelitian tentang asupan tembaga (Cu) sebagai logam berat esensial yang telah dilakukan di
Desa Pasir Parahu, Cianjur, Jawa Barat menunjukkan bahwa batas yang direkomendasikan telah
tercapai, namun tidak melampaui batas maksimum yang diperbolehkan. (Siaran Pers WALHI, 11
Mei 2005).
Selama ini dalam pengelolaan lingkungan hidup pandangan kita bersifat antroposentris, yaitu
melihat permasalahannya hanya dari sudut kepentingan manusia saja. Manusia berinteraksi
dengan lingkungan hidupnya karena ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan
hidupnya. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan harus bersifat holistik, yaitu memandang
keseluruhannya sebagai suatu kesatuan. Peranan manusia dalam masalah lingkungan adalah
setiap kerusakan lingkungan yang terjadi sebagai akibat dari hasil kegiatan manusia,
Pencemaran logam berat turut memberikan kontribusi yang nyata terhadap isu perubahan
lingkungan global khususnya dalam hal masuknya senyawa beracun ke dalam lingkungan
sebagai akibat kegiatan industri, pertanian, perternakan, kehutanan dan lain-lain. Selama ini
dengan pertimbangan bahwa masalah yang terjadi dalam isu lingkungan global semata-mata
mekanismenya hanya dapat jelas terungkap melalui ilmu pengetahuan alam saja, maka manusia
melakukan pendekatan secara ekslusif terhadap isu perubahan lingkungan global hanya melalui
ilmu pengetahuan alam. ( Putra, Johan Angga. 2005)

Metode dan alat bahan

ALAT-ALAT :
1. Labu takar 10 mL, 100 mL
2. Pipet ukur 5 mL, 10 mL
3. Tabung reaksi besar
4. Pipet volum ukuran 1, 2, 3, 10 mL
5. Bekerglass ukuran 250 mL
6. Pipet tetes
7. Kertas Saring
8. Spektofotometer UV-Vis

BAHAN-BAHAN :
1. Larutan baku Fe 100 ppm
2. Larutan NaOH 3 M
3. Larutan H2O2 30 %
4. Larutan HNO3 4 M
5. Larutan KCNS 0,01 M
6. Akuades

CARA KERJA
1. Limbah cair pelapisan logam yang mengandung ion logam berat Fe3+ buangan PT.Cerah
Sempurna Semarang
2. Cuplikan sampel limbah industri pelapisan logam yang sudah dikarakterisasi dan
diketahui konsentrasinya disiapkan masing-masing 25 mL kedalam 1 buah labu
Erlenmeyer 100 mL cuplikan sampel limbah industri pelapisan logam yang sudah
dikarakterisasi dan diketahui konsentrasinya
3. Cuplikan sampel yang sudah disiapkan ditambah dengan larutan NaOH secara diteteskan
masing-masing 3 M sebanyak 50 mL.
4. Larutan 5 mL H2O2 30 % ditambahkan sebagai oksidator.
5. Larutan diaduk selama 5 menit dan didiamkan sebentar sampai terjadi pengendapan
sempurna.
6. Larutan disaring menggunakan corong untuk memisahkan filtrat dari endapan.
7. Menguji filtrat dengan Spektrofotometri UV-Vis. Panjang gelombang 400-900 nm dan
lebar celah 0 , 2 - 5 , 0 n m , sampel dibuat kompleks, Sampel didapatkan dari limbah
cair PT Cerah Sempurna. Sebanyak 20 ml. (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2008)
Gb. Sampel air limbah PT. Cerah sempurna
PENENTUAN KADAR Fe3+ DALAM SAMPEL LIMBAH CAIR PELAPISAN LOGAM
PT.CERAH SEMPURNA SEMARANG DENGAN METODE KURVA KALIBRASI
1. Disiapkan 5 buah labu takar 10 mL dan masing-masing diisi dengan larutan Fe3+ 10 ppm
sebanyak 0,1,2,3, dan 4 mL.
2. Kedalam semua labu takar, ditambah 1 mL HNO3 4 M, dan 1 mL KCNS 0,01 M,
kemudian diencerkan dengan akuades sampai tanda batas.
3. Dikocok hingga homogen, kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometer
Visibel.
4. Diukur pula absorbansi dari sampel yang sebelumnya telah disaring dan diberi perlakuan
sama dengan standar.
5. Membuat kurva kalibrasi dan diplotkan absorbansi dari sampel. Menghitung kadar Fe
yang terlarut dalam sampel.
(Tim Dosen Kimia Anorganik, 2008)
Hasil Penelitian
Analisis kadar Fe 2+ PT cerah sempurna
Data Pengamatan
No Jenis larutan Konsentrasi NaOH Asorbansi
1 Blangko 0M 0,00
2 Blangko 1M 0,03
3 Blangko 2M 0,07
4 Blangko 3M 0,09
5 Blangko 4M 0,11
6 Sampel Cerah 3M 0,03
Sempurna

Pembahasan
Penggunaan Spektrofotometer UV-Vis bertujuan untuk menentukan kadar besi dari
limbah cair pelapisan logam dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, dengan metode
kurva kalibrasi. Limbah cair pelapisan logam didapat dari PT. Cerah Sempurna Semarang.
Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode pengendapan dan metode pemisahan.
Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan.
Endapan mungkin berupa kristal atau koloid, dan dapat dikelurkan dari larutan dengan
penyaringan atau pemusingan. Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat
yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan adalah sama dengan konsentrasi molar dari larutan
jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi seperti suhu, tekanan, konsentrasi bahan-
bahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya. Kelarutan endapan bertambah besar
dengan kenaikan suhu, meskipun dalam beberapa hal seperti kalium sulfat terjadi sebaliknya.
Laju kenaikan kelarutan dengan suhu berbeda-beda (Vogel, 1985).
Metode Spektroskopi Absorbsi adalah metode analisis kimia yang didasarkan atas pengukuran
banyaknya radiasi elektromagnetik yang diserap oleh materi. Bila suatu berkas sinar berinteraksi
dengan materi maka sinar tersebut akan mengalami beberapa kemungkinan, yaitu sebagian sinar
diteruskan, diserap, dipendarkan atau dihamburkan. Senyawa-senyawa kompleks organometriks
pada umumnya menunjukkan serapan selektif dalam spektrofotometer pada daerah sinar tampak
dan ultraungu. Karena itulah maka sifat ini dapat digunakan untuk menentukan baik susunan
maupun tetapan stabilitasnya. Ion Ferri dalam suasana asam kuat, dengan larutan garam KCNS
dapat bereaksi membentuk ion kompleks berwarna merah yang kekal dalam larutan, sesuai
dengan persamaan reaksi ion sebagai berikut :
Fe3+ + nCNS- → [Fe(CNS)n]3-n (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2008)
Limbah buangan industri yang berwujud cair biasanya mengandung logam-logam berat
yang dapat membahayakan kehidupan disekitarnya. Logam-logam berat tersebut antara lain Pb,
Fe, Zn, Cu, Cr, Sn, Sb, Hg, Cd, apabila terserap tanah kemungkinan akan masuk kedalam tubuh
manusia serta makhluk hidup lainnya. Logam-logam berat tersebut bersifat racun dan
mempengaruhi metabolisme dalam organ yang penting dalam makhluk hidup yaitu ginjal dan
hati. Logam Pb dan Hg dapat menyebabkan kerusakan hati, jantung, dan testis, sedangkan logam
Cd dapat menyebabkan gangguan sistem enzim dan kerusakan sel hati. PT Cerah Sempurna
Semarang merupakan industri pelapisan logam yang bergerak di bibidang galvanize, structure
tower, garden furniture dan powder coating. Industri ini melibatkan karat besi dalam proses
produksinya. Senyawa ini merupakan senyawa yang dianggap mengganggu dalam proses
industri di PT Cerah Sempurna Semarang dan dapat dihilangkan dengan menggunakan asam
kuat. Asam kuat yang digunakan untuk menghilangkan karat besi adalah asam klorida (HCl)
karena selain harganya murah, hasil reaksinya berupa FeCl3 yang dapat dipisahkan dengan
mudah. Reaksi yang terjadi dalam proses penghilangan karat besi tersebut adalah sebagai
berikut.
Fe2O3 +
Karat 6 HCl 2 FeCl3 + 3 H2O
besi
Proses yang telah dikemukakan di atas dinamakan proses pickling yaitu upaya untuk
menghilangkan karat yang melapisi material (besi/baja) menggunakan asam kuat. Kadar besi
(Fe) dalam limbah akan meningkat dalam proses ini karena banyaknya FeCl3 dan FeCl2 yang
terbentuk dari hasil reaksi.
Reaksi besi dengan asam klorida atau asam sulfat membentuk kompleks ion heksa aquo
besi (II).
Fe(s) + 2 H+(aq) + 6 H2O(l) → [Fe(H2O)6]2+ (aq) + H2(g)
Senyawa ini juga dapat terbentuk dari reduksi besi (III) oleh seng.
2Fe3+(aq) + Zn(s) + 12 H2O(l) → 2[Fe(H2O)6]2+(aq) + Zn2+(aq)
Dalam larutan asam, ion kompleks heksa aquo besi (II) teroksidasi secara perlahan oleh udara
menjadi ion besi (III). Penambahan larutan NaOH akan membentuk kompleks ion dihidrokso
tetraaquo besi (II) yang tidak larut dalam basa berlebih.
OH-
[Fe(H2O)6]2+(aq) + 2 OH-(aq) ↔ [Fe(OH)2(H2O)4](s) + 2H2O(l)
H+

Dalam kondisi basa, oksidasi besi (II) menjadi besi (III) bertambah cepat dan dengan adanya
udara, kompleks ion dihidrokso tetraaquo besi (II) secara perlahan berubah menjadi kompleks
ion trihidrokso triaquo besi (III).
4[Fe(OH)2(H2O)4](s) + O2(g) → 4 [Fe(OH)3(H2O)3](s) + 2 H2O(l)
Senyawa-senyawa kompleks besi (II) kebanyakan mudah teroksidasi menjadi senyawa besi (III)
kecuali kompleks ion heksa siano ferat (II).
(Tim Dosen Kimia Anorganik, 2008)

Analisis data absorbansi besi kompleks secara grafis


Gb.2. Grafik antara absorbansi dan konsentarsi NaOH

Dari persamaan yang diperoleh Y = 0,028 X + 0,004, harga Y = 0,03 (hasil pembacaan dengan
menggunakan spektrofotometri UV-VIS pada limbah pelapisan logam PT.Cerah Sempurna
Semarang), dengan memasukkan harga Y
Dari persamaan grafik didapat
0,03 = 0,028 X + 0,004
0,028 X = 0,04-0,03
X= 0,9286 ppm

pada persamaan diperoleh harga X = 0,9286 ppm.


Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup, limbah yang akan dibuang kadar
logamnya tidak boleh melewati batas kadar maksimum yang diperbolehkan oleh regulasi
pemerintah (KEP-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri).
Kadar maksimum Fe, dalam limbah industri yang diperbolehkan adalah, 5 ppm,(Siaran Pers
WALHI)
Dari hasil analisis dihasilkan kadar logam Fe dalam limbah cair pelapisan logam
PT.Cerah Sempurna Semarang adalah 0,9286 ppm, yang berarti kadar logamnya tidak melewati
atau masih dibawah batas kadar maksimum (5 ppm) yang diperbolehkan untuk dibuang dalam
limbah industri oleh regulasi Pemerintah. Dari perhitungan data larutan besi yang terkandung
yang terdeteksi dari sampel adalah ini menunjukan betapa besar kandungan besi yang terlarut.
Reaksi ion Fe yang terlarut secara kimiawi jika ter lepas dalam air akan terjadi reaksi dengan
rumus persamaannya adalah sebagai berikut:

Fe -> Fe2+ + 2e-

Besi yang terlarut mengurangi oksigen dan air sampai ion hidroksida: Elektron melepaskan
perjalanan ke pinggir tetesan air, di mana ada banyak sekali oksigen yang dilarutkan. Mereka
mereduksi oksigen dan air menjadi ion hidroksida:

2e- + 1/2O2 + H2O -> OH-

Ion hidroksida memberi reaksi dengan ion besi (II) dan lebih banyak oksigen yang dilarutkan
untuk membentuk oksida terbuat dari besi. Hidrasi ini bersifat variabel (dengan jumlah 'x'
molekul air yang melapisi masing-masing molekul oksida besi): reaksi redoks ini dapat
diprediksikan satu-satunya yang akan berlangsung spontan. Ion besi(II) yang terbentuk di air
akan berkontak dengan ion hidroksida yang berdifusi dengan cepat dan bereaksi membentuk
besi(II) hidroksida yang tak larut. Endapan ini lebih lanjut akan teroksidasi oleh udara menjadi
besi(III) oksida.

Kesimpulan dan saran

Hasl penelitian besi terlarut dari cemaran limbah PT Cerah sempurna 0,9286 ppm, yang berarti
kadar logamnya tidak melewati atau masih dibawah batas kadar maksimum (5 ppm) yang
diperbolehkan untuk dibuang dalam limbah industri sesuai regulasi atau aturan dari pemerintah.

Daftar pustaka
Hellawell,1986., Biosorption of Copper from Contaminated Water by Hydrilla
verticillata Casp. and Salvinia sp.. Karnataka Regional Engineering College), 575 025
Surathkal. India, diunduh dari www. Wikipedia, 23 Januari 2009.

http://indonesia.yoolk.com/construction/galvanizing/cerah-sempurna-pt-91188.html

Kneip and fried berg, 1986., Removal of Heavy Metals from the Environment by
Biosorption. Technical Engineering in Life Sciences. Univ. of Iasi, Romania, Vol 4 No 3, p 219-
232, 2004. Di unduh dari (www. Technologi dan pencemaran.co.id/blogpress/5612 html)

Putra, Johan Angga. 2005. Penanggulangan Pencemaran Logam Berat pada Perairan
dengan Pendekatan Konsep Bioremoval. Karya Tulis Ilmiah. Universitas Lampung

McNeely, J.A. 1992. Ekonomi dan lingkungan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
.Terjemahan Pane, F.

Tim Dosen Kimia Anorganik. 2008. Petunjuk Praktikum Kimia Anorganik Untuk S2.
Semarang : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang.

Vouk 1986 Biosorption of Cu From Ferruginous Wastewater by Algal Biomass. Water


Research journal. Mc Gill University, Canada

Vogel, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, (terjemahan) Media Pustaka,
Jakarta, edisi kelima, 1985, p. 350

Yetty. 2006. Dilema Pertambangan Freeport dalam Dimensi Hukum. Jurnal Hukum
RESPUBLIKA. Vol 6.No1.

www.WALHI.com