Anda di halaman 1dari 10

Page | 1

I. Latar Belakang

Energi merupakan komponen yang sangat penting dan dibutuhkan oleh
semua manusia. Kebutuhan manusia akan energi pun bermacam-macam,
salahsatunya adalah energi bahan bakar. Arang, zat padat berwarna hitam yang
terdiri dari senyawa karbon ini adalah satu dari sekian banyak sumber energi bahan
bakar tersebut. Arang banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan
bakar para penjual makanan, rumah tangga, bahkan industri kecil dan menengah
karena besarnya energi yang terkandung dalam arang tersebut. Selain itu, dengan
dibentuknya arang, energi yang tersimpan akan lebih tahan lama dan tidak mudah
lapuk atau rusak oleh aktivitas mikroorganisme lain.
Banyak bahan baku yang dapat digunakan untuk membuat arang,
diantaranya kayu, tempurung kelapa, sekam padi, serbuk gergaji, bahkan bambu.
Namun, pada praktikum kali ini bambu dipilih sebagai bahan baku pembuatan arang
dengan tujuan memanfaatkan biomassa yang melimpah dan tidak terpakai menjadi
sesuatu yang bernilai tinggi dan ekonomis. Proses pembuatannya sendiri
menggunakan teknik pirolisis, yaitu degradasi termal dari bahan bakar padat pada
kondisi udara/oksigen terbatas, dimana proses in akan menghasilkan gas, tar dan
char (Di Blasi (2008)

II. Perumusan Masalah

a. Bahan baku alternatif apa yang cocok untuk dijadikan arang?
b. Bahan apa yang cocok untuk dijadikan starter?
c. Strategi strategi apa saja yang bisa dilakuakn agar didapatkan hasil arang
yang maksimal?




Page | 2

III. Analisis kebutuhan Desain

A. Visi dan misi produk
Visi :Memproduksi arang dalam waktu singkat menggunakan bahan
baku alternatif
Misi :
1. Memanfaatkan bambu yang tak terpakai sebagai bahan pembuatan arang
2. Menggunakan bambu yang benar-benar kering untuk mempercepat
proses pembakaran
3. Mendesain penempatan bambu dalam reaktor agar proses pembakaran
berjalan maksimal

B. Strategi Produksi
Analisis SWOT
Strengths Weaknesses
1. Bambuakantahan lama jikadisimpandalambentukarang.
2. Hargabambu relative murah.
3. Bambumenghasilkanarang yang bagus
(apiberwarnabirudantidakterdapat asap ketikadibakar)
4. Apidariarangbamboosangatpanaskarenaberwarnabiru.
5. Bambumemilikikandunganselulosasebesar 42.2-53.6% dan lignin
sebesar 19.8-26.6%
6. Arangbamboomemilikinilaikalor yang
cukuptinggikarenakandungankarbonterikatdalamkayubamboocukupban
yak.

1. Terdapatasapberacun CO
padasaatpembakaranbambu.
2. Arangbamboomudahpatah
3. Ketika proses pyrolysis
tidakberjalandenganbaikmakaakanmenghasi
lkan asap cairsebagaiproduksampingan.
Opportunities Threats
Page | 3

1. Bambumudahditemukan di wilayah Indonesia.
2. Asapcairdari proses pyrolysis yang
kurangsempurnabiasdiproseslebihlanjutmenjadiproduk yang
lebihbergunamisalnyamenjadidesinfektan.
3. Arang yang dihasilkanberkualitaskarenabahanpenyusunbambu yang
bagus.
4. Arangbamboomemilikibanyak manfaatselainsebagaibahanbakar,
arangbamboobiasmenjadibahanbaku lotion
untukkesehatankulitdanbiasjugasebagaibahanbakuobat-obatan.

1. Waktupegarangan yang cukupsingkat (6 jam)
2. Cuaca yang tidakmenentu, membuat bambu
mudah lembap dan berjamur.

Analisis STP :
1. Segmenting: Arang bambu dapat digunakan pada industri besar maupun
industri rumahan.
2. Targetting: Restoran yang menjual makanan yang membutuhkan proses
pemanggangan misalnya restoran ayambakar, ikanbakar,sate ; industri
kosmetik; Industriobat-obatan.
3. Postioning : Arang bambu bias masuk kedalam semua jenis pasar.

IV. Alternatif Desain dan Pemilihan Desain Final
1. Alternatif:
a. Bambu : - mudah di dapat
- strukturnya padat
- mudah mengatur bentuk dan susunan bahan saat pembakaran
Komponen Kandungan(%)
Selulosa 42,2-53,6
Lignin 19,8-26,6
Pentosa 1,23-3,77
Zat ekstraktif 4,5-9,9
Air 15-20
Abu 1,24-3,77
SiO2 0,1-1,78

b. Bonggol jagung : - merupakan sampah sisa makanan
- struktur berongga, sehingga sehingga proses pirolisis
tidak dapat berjalan sempurna
Page | 4

- mudah busuk jika tidak segera dikeringkan
Komponen Kandungan
Hemiselulosa 39,8%
Selulosa 32,2-45,6%
Lignin 6,7-13,9%

c. Serbuk gergaji : - kering
-Ukurannya kecil dan tipis
d. Kertas koran bekas : - mudah didapat
- kering
- mudah terbakar
2. Pemilihan Desain Final
Bahan baku : bambu
Starter : serbuk gergaji (pada saat praktikum,bahan yang tersedia
adalah serbuk gergaji)

V. Pendalaman Desain
A. Skema Desain

B. Cara Kerja desain
1. Bambu dipotong menjadi seperempat lingkaran
2. Bambu dipotong sepanjang 10 cm 15 cm
3. Starter diletakan di bagian dasar tungku
4. Bambu disusun seperti gambar pada skema desain, setiap lapisan bambu diberi
sedikit minyak tanah
5. Starter diletakan di atas tumpukan bambu


Page | 5


C. Reaslisasi Desain
Agar desain diatas dapat terealisasikan, maka kami melakukan hal hal
berikut:
1. Memotong bambu sesuai ukuran yang dibutuhkan.
2. Menjemur bambu hingga kering.
3. Menyusun bambu sesuai desain tersebut, dengan mempertimbangkan
ukuran bambu.
4. Menempatkan starter dibagian atas dan bawah tumpukan bambu.
5. Memastikan minyak merata pada setiap lapisan bambu.
D. Perhitungan yang Relevan
1. Menurut Standard Industri Indonesia (SlI No. 0258-79) persyaratan arang aktif
adalah sebagai berikut :
Jenis Uji Persyaratan
Hasil
(berat awal = 584 gr)
Bagian yang hilang pada pemanasan 950C Maksimum 15 % Max. 87,6 gr
Air Maksimum 10 % Max. 58,4 gr
Abu Maksimum 2,5 % Max. 14,6 gr
Bagian yang tidak mengarang Tidak Ada 0 gr
Daya serap terhadap larutan I
2
Maksimum 20 % Max. 116,8 gr

2. Rincian biaya
Bambu yang digunakan pada percobaan ini merupakan bambu bekas,
sehingga bisa didapat secara gratis.
VI. Praktikum Desain

A. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum pembuatan arang ialah sebagai berikut.


Page | 6

Alat Bahan
Reaktor pirolisis Bambu Kering
Gelas plastik Minyak tanah
Sarung tangan Sebuk gergaji (starter)
Stopwatch
Gergaji



B. Prosedur praktikum
Cara Kerja Keterangan
1. Bambu dipotong melintang, kemudian
dipotong menjadi sepanjang 10 15 cm

Gambar 6.1 Starter diletakan pada bagian
dasar tungku

Gambar 6.2 Pemberian minyak tanah
disetiap lapisan bambu

Gambar 6.3 Bambu disusun sesuai desain
2. Bambu dikeringkan dengan cara dijemur
dibawah sinar matahari selama 2-3 hari
sampai benar-benar kering
3. Starter diletakan pada bagian dasar
tungku
4. Bambu disusun sesuai desain, dengan
pemberian sedikit minyak tanah disetiap
lapisannya
5. Starter diletakan di lapisan bambu paling
atas, beri sedikit minyak tanah
6. Starter pada bagian atas tungku dibakar,
tambahkan sedikit minyak jika api tidak
merata
7. Tungku ditutup dengan rapat jika semua
bambu telah terbakar secara merata
8. Gelas plastik diletakan di bawah corong
untuk menampung asap cair yang
terbentuk
9. Jika sudah tidak ada asap yang keluar,
sumbat corong menggunakan
penyumbat.
10. Tungku yang telah tertutup rapat
didiamkan selama 5 jam.
11. Setelah 5 jam, buka tungku dan pisahkan
antara arang jadi dan arang setengah
jadi.
Page | 7


Gambar 6.3 Proses pembakaran

Gambar6.5 Proses penamampungan asap
cair

Gambar 6.6 Proses penutupan corong


C. Hasil Pengamatan
Tabel 6.1 Waktu Pembuatan Arang
No. Proses Waktu Keterangan
1. Pembakaran 13 menit Hampir semua bambu
telah terbakar
2. Penutupan tungku hingga tidak keluar
asap
7 menit 23 detik Tidak terbentuk asap cair
3. Pirolisis 5 jam Terbentuk arang jadi dan
arang setengah jadi

Tabel 6.2 Hasil Arang
Berat Awal = 584 gram
Hasil Massa (gram) Persentase Keterangan
Page | 8

Arang Jadi 134 60,1 %

Gambar 6.7 Arang Jadi

Gambar 6.8 Arang jadi
Arang jadi 89 39,9 %
Total 223 100%

Tabel 6.3 Kualitas Arang
Parameter Pengamatan Keterangan
Warna Arang Hitam

Gambar 6.9 Hasil Arang Jadi
Warna Api Merah biru

Gambar 6.10 Pembakaran Arang Jadi
Asap Tidak ada

D. Perhitungan
a. Jumlah bahan yang menjadi arang
% Jadi =


100 %
=
223
584
100 %
= 38,2 %
b. Jumlah bahan yang hilang (menjadi abu)
% Hilang =
()

100 %
=
584223
584
100 %
= 61,8 %

Page | 9

c. Persentase Arang Jadi
% Arang Jadi =
()
()
100 %
=
134
223
100 %
= 60,1 %

d. Persentase Arang jadi
% Arang jadi =

1
2
()
()
100 %
=
89
223
100 %
= 39,9%
E. Analisis Hasil Perhitungan dan Perbandingan dengan hasil praktikum
Berdasarkan hasil yang didapatkan, terlihat bahwa rendemen yang hilang pada saat
pembakaran lebih banyak dari jumlah arang yang dihasilkan. Jumlah hasil tersebut sangat
berbeda dengan hasil perhitungan sesuai literatur. Hal tersebut mungkin terjadi karena
penyusunan bambu tidak ideal dan waktu pembakaran pembakaran terlalu lama. Ketika
menyusun bambu kami kurang memperhatikan ukuran bambu. Sehingga ketika bambu pada
bagina atas sudah terbakar sempurna, bambu pada bagian bawah belum terbakar
seluruhnya. Padahal akan lebih baik jika bambu dengan ukuran lebih kecil diletakan dibagian
bawah dan bambu dengan ukuran lebih besar diletakan dibagian atas karena pembakaran
lebih banyak terjadi dibagian atas.
Selain itu, penyebab perbedaan hasil tersebut juga karena kesalahan penggunaan
starter. Pada praktikum kali ini, kami menggunakan serbuk gergaji sebagai starter. Ukuran
yang kecil dan tipis menjadi dasar pemilihan kami. Namun,ternyata serbuk gergaji tidak
mudah terbakar seperti yang kami harapkan, sehingga minyak yang digunakan untuk
membakar bambu, habis duluan untuk membakar serbuk gergaji. Selain itu, penggunaan
serbuk gergaji juga membuat proses pembakaran lebih lama.

VII. Kesimpulan dan Saran

A. Rangkuman Keunggulan Desain
1. Penyusunan Bambu
Di dalam reaktor pirolisis, bambu disusun sedemikian hingga seperti pada
desain. Penyusunan bambu tersebut memungkinkan adanya aliran udara pada saat
pembakaran, sehingga proses pembakaran dapat terus berjalan tanpa harus
dilakukan pengadukan.
2. Penempatan starter dan pemberian minyak tanah
Starter yang diletakan pada bagian dasar reaktor dan pada bagian atas
tumpukan bambu sedangkan minyak tanah disiram sedikit pada setiap lapisan
bambu. Ketika proses pembakaran di mulai, bambu pada bagian bawah juga dapat
ikut terbakar karena terdapat starter pada bagian dasar reaktor. Adanya minyak
Page | 10

tanah di setiap lapisan membuat bagian tengah ikut terbakar. Sehingga pembakaran
dapat berlangsung secara merata.

B. Saran Pengembangan
Berdasarkan hasil yang didapatkan dari percobaan dengan merealisasikan desain
kami, terdapat beberapa revisi agar hasil yang didapatkan pada percobaan selanjutnya
bisa lebih baik.
1. Penyusunan Bambu
Jika penyusunan bambu ingin dilakukan seperti desain, panjang dan
ketebalan bambu harus diperhatikan. Bagian yang lebih banyak terbakar dalah
bagian atas. Bambu yang lebih panjang dan lebih tebal disimpan di bagian atas,
sedangkan bambu yang berukuran lebih kecil disimpan dibagian bawah. Hal tersebut
dilakukan agar bambu pada bagian atas tidak akan habis terbakar sebelum bambu
paling bawah terbakar. Sehingga hasil dari proses pembakaran pada setiap bambu
akan sama.
2. Pemilihan Starter
Pemilihan starter sangat penting karena dapatpenggunaannya dapat
mempercepat atau bahkan memperlambat proses pembakaran. Jika starter
merupakan bahan yang tidak mudah terbakar maka api yang ada akan terlebih
dahulu terpakai untuk membuat starter terbakar seluruhnya baru membakar
bambu. Hal tersebut tentu akan memperlambat proses pembakaran. Maka dari itu
starter haruslah bahan yang mudah terbakar, seperti daun kering atau kertas.

VIII. Daftar Pustaka
Handayani, Dini Dwi. 2012. Pemanfaatan Arang Andong dan Bambu Ater sebagai
Adsorben Pestisida Diazinon. Manokwari.

Laura. 2012. Bioetanol dari Tongkol Jagung. Jakarta.