Anda di halaman 1dari 28

ABSTRAK

Kata Kunci : Hierarki, Sufenbau Teori, Ketetapan MPR


Dalam sejarah peraturan perundang-undangan di Indonesia, jenis dan tata
urutan peraturan perundang-undangan belum pernah dituangkan dalam suau
instrument hukum yang termasuk jenis peraturan perundang-undangan, secara
teratur dan komprehensif. Peraturan hukum dalam pengertian tertib hukum
merupakan kesatuan keseluruhan serta mempunyai susunan bertingkat atau
berjenjang.
Menurut Hans Kelsen yang juga dikenal dengan tufenbau des !echt.
"gar peraturan hukum mempunyai dasar kekuatan mengikat, harus ada rujukan
pembentukan peraturan hukum sampai pada tingkat paling tinggi, yaitu norma
dasar.
Inti ajaran hukum murni Hans Kelsen adalah bah#a hukum itu harus
dipisahkan dari anasir-anasir yang tidak yuridis seperti etis, sosiologis, politis dan
sebagainya. Dengan demikian Kelsen tidak memberikan tempat bagi berlakunya
hukum alam. Hukum merupakan sollen yuridis semata-mata yang terlepas dari
das sein$kenyataan sosial.
edangkan ajaran stufentheori berpendapat bah#a suatu sistem hukum
adalah suatu hierarkis dari hukum dimana suatu ketentuan hukum tertentu
bersumber pada ketentuan hukum lainnya yang lebih tinggi.
1
2
BAB I
PENDAHULUAN
A Latar Be!akan"
Peraturan hukum dalam pengertian tertib hukum merupakan kesatuan
keseluruhan serta mempunyai susunan bertingkat atau berjenjang. %ah#a
peraturan hukum yang banyak jumlahnya merupakan suatu sistem, karena
peraturan hukum yang satu &lebih tinggi' merupakan dasar kekuatan mengikatnya
peraturan yang lain &yang lebih rendah'. Demikian bertingkat-tingkat dan
berjenjang-jenjang.
Demikian menurut Hans Kelsen yang juga dikenal dengan tufenbau des
!echt. "gar peraturan hukum mempunyai dasar kekuatan mengikat, harus ada
rujukan pembentukan peraturan hukum sampai pada tingkat paling tinggi, yaitu
norma dasar. (anpa adanya susunan bertingkat atau berjenjang, maka peraturan
hukum tidak mengandung tertib hukum. istem hukum Indonesia juga mengenal
adanya tingkatan-tingkatan hierarki, #alau sering berubah-ubah.
%eberapa hierarki antara lain)
*. %erdasar ("P MP! +o.,,$MP!$*-.. dalam lampiran II-nya (entang
(ata /rutan Peraturan Perundang-/ndangan Indonesia berdasarkan //D
*-01.
2. %erdasar ("P MP! +o III$MP!$2333 yang menyebutkan tata urutan
Peraturan Perundang-undangan.
3
4. %erdasar // +o *3 (ahun 2330 dalam Pasal 5 ayat &*' dengan menyebut
67enis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan6.
0. %erdasar // +o *2 (ahun 23** dalam Pasal 5 ayat &*' dengan menyebut
87enis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan6.
Perbedaan penyebutan tidaklah identik dengan perbedaan materi dan
susunan dari suatu tingkatan berjenjang. Perjalanan sejarah bangsa masih dalam
proses menemukan jati diri, mencari perhatian dan sistem hukum yang dibangun
masih sering tambal sulam. (idak jelas mana hukum mana fakta, mana peraturan
hukum mana fakta hukum. Interprestasi suatu peristi#a selalu dianggap sebagai
fakta hukum dan fakta hukum selalu dianggap sebagai peraturan hukum. emua
bisa melalukan penemuan hukum karena semua bisa membentuk hukum.
Dalam // +o. *3 (ahun 2330 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan memberikan semangat baru dalam membentuk karakter para
pembentuk peraturan perundang-undangan, karena memberikan arahan dan
muatan yang seharusnya bagaimana peraturan hukum dibentuk. Dalam muatan
jenis dan hierarki, tidak memasukkan ketetapan MP! sebagai peraturan hukum,
hal ini memberikan pelajaran bah#a tidak perlu lagi ada pelaksana konstitusi yang
berbentuk ketetapan dan sebagai rujukan dalam pembentukan peraturan
perundang-undangan.
9leh karena // +o. *3 (ahun 2330 juga tidak sempurna, karena kadang
tidak konsisten sebagai suatu keharusan dalam bentuk peraturan hukum, maka
digantikan dengan // +o. *2 (ahun 23**, yang dalam Pasal 5 ayat &*' tampil
beda dengan mencantumkan kembali ketetapan MP! sebagai bagian dari jenis
4
dan hierarki peraturan perundang-undangan. 7enis dan hierarki peraturan
perundang-undangan sebagai berikut)
a. /ndang-/ndang Dasar +egara !epublik Indonesia (ahun *-01:
b. Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat:
c. /ndang-/ndang$Peraturan Pemerintah Pengganti /ndang-/ndang:
d. Peraturan Pemerintah:
e. Peraturan Presiden:
f. Peraturan Daerah Pro;insi: dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten$Kota.
Masuknya (ap MP! secara umum penjelasan dari kementerian dalam
negeri maupun dari kementerian hukum dan H"M adalah sebagai produk politik
dengan pertimbangan politik pula. +amun sebagai produk hukum yang
mempunyai kekuatan mengikat ada yang berpendapat sebagai pengakuan kembali
sebagai sumber hukum formal dan material.
%erdasarkan hal yang telah diuraikan diatas, penulis tertarik untuk mempelajari,
meneliti dan menganalisa secara lebih mendalam mengenai perlindungan hukum bagi
saksi pengungkap fakta, dan selanjutnya penulis menyusunnya dalam suatu penulisan
hukum yang berjudul) #IMPLEMENTASI STU$ENBAU TE%RI TERHADAP
HIERARKI PERATURAN PERUNDAN&'UNDAN&AN(
5
B Peru)u*an Ma*a!a+
Dari uraian latar belakang di atas, penulis dapat memberikan perumusan
masalah sebagai berikut)
*. %agaimanakah penerapan tufenbau (eori pada hierarki tata hukum di
Indonesia<
2. ejauhmana kekuatan politik dalam mempengarui hierarki pembentukan
peraturan perundang-undangan<
4. Dengan ditetapkannya /ndang-undang +o. *2 (ahun 23**, bagaimanakah
kedudukan Ketetapan MP! dalam tata hukum di Indonesia<
BAB II
6
PEMBAHASAN
, Penerapan Stufenbau Teori pa-a Hierarki Tata Huku) -i In-one*ia
Dari kalangan penganut sistem hukum =ropa Kontinental, Han* Ke!*en
yang dikenal dengan ajaran hukum murninya selalu digolongkan sebagai
penganut aliran positi;isme ini. "da dua teori yang dikemukakan oleh Hans
Kelsen yang perlu diketengahkan.
*
*. "jarannya tentang hukum yang bersifat murni, dan
2. %erasal dari muridnya "dolf Merkl yaitu stufenbau des recht yang
mengutamakan tentang adanya hierarkis daripada perundang-undangan.
Inti ajaran hukum murni Hans Kelsen adalah bah#a hukum itu harus
dipisahkan dari anasir-anasir yang tidak yuridis seperti etis, sosiologis, politis dan
sebagainya. Dengan demikian Kelsen tidak memberikan tempat bagi berlakunya
hukum alam. Hukum merupakan sollen yuridis semata-mata yang terlepas dari
das sein$kenyataan sosial.
edangkan ajaran stufentheori berpendapat bah#a suatu sistem hukum
adalah suatu hierarkis dari hukum dimana suatu ketentuan hukum tertentu
bersumber pada ketentuan hukum lainnya yang lebih tinggi. ebagai ketentuan
yang paling tanggi adalah grundnorm atau norma dasar yang bersifat hipotetis.
Ketentuan yang lebih rendah adalah lebih konkrit daripada ketentuan yang lebih
tinggi. "jaran murni tentang hukum adalah suatu teori tentang hukum yang
1
http)$$opentrade2222.blogspot.com$233-$3.$anom-surya-putra-positi;isme-secara.html, Diakses
pada 4 7anuari 23*4
7
senyatanya dan tidak mempersoalkan hukum yang senyatanya itu, yaitu apakah
hukum yang senyatanya itu adil atau tidak adil.
2
Ilmu hukum adalah 8ilmu normatif6, demikian dinyatakan oleh Kelsen
berkali-kali. Hukum itu semata-mata berada dalam ka#asan dunia sollen. >iri
hakiki dari norma adalah sifatnya yang hipotetis. Ia lahir bukan karena proses
alami, melainkan karena kemauan dan akal manusia. Kemauan dan akal ini
menelorkan pernyataan yang berfungsi sebagai asumsi dasar atau permulaan.
Dinyatakan, bah#a berbuat begini atau begitu merupakan dalil yang umum dan
sebagai kelanjutannya harus diikuti oleh konsekuensi tertentu. Konsekuensi yang
demikian itu akan dilaksanakan oleh kehendak manusia sendiri juga. 9leh karena
itu salah satu ciri yang menonjol pada teori Kelsen adalah paksanaan. Kelsen
berpendapat bah#a norma-norma hukum itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis
dalam suatu hirarkhi tata susunan, dimana suatu norma yang lebih rendah berlaku,
bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi. +orma yang lebih tinggi
berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi lagi, demikian
seterusnya sampai pada suatu norma yang tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dan
bersifat hipotetis dan fiktif yaitu norma dasar. ehingga, norma yang lebih rendah
memperoleh kekuatannya dari suatu norma yang lebih tinggi. emakin tinggi
suatu norma, akan semakin abstrak sifatnya, dan sebaliknya, semakin rendah
kedudukannya, akan semakin konkrit norma tersebut. +orma yang paling tinggi,
yang menduduki puncak piramida, disebut oleh Kelsen dengan nama grundnorm
&norma dasar'.
2
Hans Kelsen. Teori Hukum Murni, dasar-Dasar Hukum Murni, +usa Media, %andung)
23**
8
Hans +a#iansky menyempurnakan tufenbau (eori yang dikembangkan
oleh gurunya, Hans Kelsen. Hans +a#insky mengembangkan teori tersebut dan
membuat (ata usunan +orma Hukum +egara &die tufenordnung der
!echtsnormen' dalam empat tingkatan)
*. taatsfundamentalnorm &+orma ?undamental +egara' atau @rundnorm
&menurut teori Kelsen'
2. taatsgrundgeAets &"turan Dasar$Pokok +egara'
4. ?ormell @eAets &// ?ormal'
0. Berordnung C "utonome atAung &"turan Pelaksana dan "turan
9tonomi'.
Menurut teori Kelsen-+a#iansky grundnorm atau staatsfundamentalnorm
adalah sesuatu yang abstrak, diasumsikan &presupposed', tidak tertulis: ia tidak
ditetapkan &gesetA', tetapi diasumsikan, tidak termasuk tatanan hukum positif,
berada di luar namun menjadi dasar keberlakuan tertinggi bagi tatanan hukum
positif, sifatnya meta-juristic.
Hirarki norma-norma digambarkan sebagai berikut.
4
a. +orma dasar
Hal ini merupakan sebuah fiksi dibandingkan sebuah hipotesis. Kelsen
mengatakan bah#a norma dasar tidak diciptakan dalam bentuk prosedur
yang sah oleh badan pembuat undang-undang$hukum yang sah. "gar
semua norma dianggap sah &;alid', maka harus memenuhi syarat
sebuah norma harus menjadi bagian dari sebuah sistem norma-norma,
dan sistem tersebut harus betul-betul bermanfaat$efektif.
b. Penggunaan Kekerasan$Paksaan
3
7.=, ahetapi. Runtuhnya Etik Hukum, Kompas, 7akarta) 233-
9
Kekesaran$paksaan adalah karakteristi hukum yang sangat pokok.
Moral ataupun keagamaan adalah penting sekali, #alaupun juga efektif
dengan adanya penerapan sanksi. Menurut Kelsen, tidak ada perilaku
yang bisa dikurangi selain adanya sanksi. Menurutnya juga,
hukum$undang-undang dan sanksi tidak bisa dicampur karena
sanksi disediakan oleh hukum yang biasanya disebut sebagai sebuah
8norma sanksi6.
c. ?ungsi Hakim$Pengadilan
Menurut Kelsen, fungsi hakim adalah untuk menterjemahkan penerapan
hukum dan norma-norma tetapi ia sendiri tidak menciptakan norma.
d. Ke#ajiban Hukum
Kelsen beranggapan bah#a ke#ajiban$tugas merupakan hak-hak dasar.
e. Hak-hak Degal
etiap hak-hak yang benar tidak hanya sebagai kebebasan belaka
&contoh, saya punya hak untuk berpikir, artinya saya punya kebebasan
berpikir atau tidak berpikir', berisi ke#ajiban seseorang terhadap yang
lainnya. Dalam hal ini , hak dimaksudkan sebagai ke#ajiban yang
relatif.
f. Keseluruhan dari (eori Degal
Kelsen mengatakan bah#a teorinya adalah dari aplikasi yang umum.
(eori ini diterapkan dalam sebuah +egara Kapitalis sosialis atau bukan
komunis dan itu digunakan pada +egara-negara yang berbeda tingkat
perkembangannya.
0
4
Ibi-
10
"da hal-hal yang tidak boleh diabaikan dari @rundnorm &norma
dasar', tetapi tidak perlu diperhatikan secara keseluruhan. Ketika
Grundnorm berhenti untuk memperoleh dukungan minimal, ia tidak
lagi menjadi dasar dari tatanan hukum dan proposisi lainnya yang tidak
memperoleh dukungan akan menggantikannya.
Dalam teori Kelsen, sejak mulai dari kelahiran 8hipotesis perdana6 &initial
hypothesis' yang disebut Grundnorm tersebut, maka proses selanjutnya pun
berputarlah sudah. Eang disebut sebagai proses di sini adalah proses konkretisasi
setapak demi setapak, mulai dari norma dasar itu dan penerapannya terhadap
situasi tertentu. Proses ini melahirkan Stufent+eorie, yaitu yang melihat tata
hukum sebagai suatu proses menciptakan sendiri norma-norma, dari mulai norma-
norma yang umum sampai kepada yang lebih konkrit, sampai kepada yang paling
konkrit. Pada ujung terakhir proses ini, sanksi hukum lalu berupa iAin yang
diberikan kepada seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau memaksakan
suatu tindakan. Dalam hal ini apa yang semula berupa sesuatu yang 8seharusnya6,
kini telah menjadi sesuatu yang 8boleh6 dan 8dapat6 dilakukan &Dias, *-5.)134'.
(eori Kelsen dapat dirumuskan sebagai 8suatu analisis tentang struktur
hukum positif, yang dilakukan seeksak mungkin, suatu analisis yang bebas dari
semua pendapat &judgements' etik atau politik mengenai nilai6 &"llen, *-1F)12'.
Kritik yang ditujukan kepada teori Kelsen yang positi;istis, realistis dan murni
itu, di antaranya didorong oleh pemikiran, bah#a teori yang demikian itu akan
terlalu menekankan pada hukum sebagai konsep-konsep, yang mengutamakan
studi terhadap hukum sebagai suatu Deutungsschema yang kait mengait secara
11
logis tanpa cacat dan melupakan nilai kemanusiaannya &"llen, *-1F)10'.
Pengikut-pengikut Kelsen tertentu mengha#atirkan, bah#a teori itu akan terjatuh
menjadi Begriffsjurispruden yang kering. Eang disebut terakhir ini
mengembangkan ilmu hukum dari konsep-konsep yang ada melalui suatu
penalaran logis semata, sehingga menimbulkan kesan tentang adanya suatu
kekuatan dari hukum untuk melakukan suatu ekspansi logis.&cholten, *-10).*'.
=kspansi ini semata-mata didasarkan pada penalaran logis dan tidak
memperhatikan segi manusia#i dari konstruksinya, sehingga diperoleh hasil yang
secara logis benar, tetapi secara menusia#i mungkin merupakan keanehan. %agian
lain dari teori Kelsen yang bersifat dasar adalah konsepsinya mengenai
Grundnorm, suatu dalil akbar dan tidak dapat ditiadakan, yang menjadi tujuan
dari semua jalan hukum, bagaimana berputar-putarnya pun jalan itu &"llen,
*-1F)1*'. Dengan demikian, maka dalil akbar yang disebut sebagai Grundnorm
itu kecuali berfungsi sebagai dasar, juga sebagai tujuan yang harus diperhatikan
oleh setiap hukum atau peraturan yang ada. emua hukum yang berada dalam
ka#asan rejim Grundnorm tersebut harus bisa mengait padanya, oleh karena itu ia
bisa juga dilihat sebagai induk yang melahirkan peraturan-peraturan hukum dalam
suatu tatanan sistem tertentu. Grundnorm ini tidak perlu sama untuk setiap tata
hukum: tetapi ia selalu akan ada di situ, apakah dalam bentuk tertulis, ataukah
sebagai suatu pernyataan yang tidak tertulis.
1
istem hukum di Indonesia pada dasarnya menganut teori yang
dikembangkan oleh Hans Kelsen. (eori Kelsen pada tata hukum di Indonesia ini
tampak dalam rumusan hirarkhi peraturan perundangan-undangan Indonesia
5
Hans Kelsen, !engantar Teori Hukum, +usa Media, %andung) 23*3.
12
sebagaimana dapat kita temukan dalam Pasal 5 ayat &*' /ndang-/ndang +omor
*2 (ahun 23** tentang Pembentukan Peraturan Perundang-/ndangan. Dalam
Pasal 5 ayat &*' undang-undang tersebut dinyatakan bah#a, 7enis dan hierarki
Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut)
a. /ndang-/ndang Dasar +egara !epublik Indonesia (ahun *-01:
b. Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat:
c. /ndang-/ndang$Peraturan Pemerintah Pengganti /ndang-/ndang:
d. Peraturan Pemerintah:
e. Peraturan Presiden:
f. Peraturan Daerah Pro;insi:
g. Peraturan Daerah Kabupaten$Kota.
Menurut %agir Manan
.
, hukum positif adalah kumpulan asas dan kaidah
hukum tertulis dan tidak tertulis yang pada saat ini yang berlaku dan mengikat
secara umum atau khusus dan ditegakkan oleh atau melalui pemerintah atau
pengadilan dalam negara. (eori Hukum Murni masih banyak dipakai di Indonesia,
hal tersebut tercermin dengan masih diikutinya$diterapkannya beberapa pemikiran
dari Hans Kelsen dalam sistem kehidupan secara yuridis. Dalam hubungan tugas
hakim dan perundang-undangan masih terlihat pengaruh aliran "liran Degis
&pandangan Degalisme', yang menyatakan bah#a hakim tidak boleh berbuat
selain daripada menerapkan undang-undang secara tegas. Hakim hanya sekedar
terompet undangundang dan selain itu juga dalam penerapan hukum oleh para
6
!emikiran Teori Hukum Murni, http)$$filsafat.kompasiana.com$23*3$3*$2F$pemikiran-teori-
hukum-murni$, Diakses pada 4* Desember 23*2.
13
Hakim masih terpaku peraturan perundang-undangan tertulis. %ahkan peraturan,
perundang-undangan yang tertulis dianggap keramat oleh banyak Hakim di
Indonesia. "kan tetapi tidak semua sistem hukum nasional Indonesia secara bulat
mengadopsi sistem hukum yang berkembang di =ropa, #alaupun sebagian besar
hukum peninggalan kolonial %elanda masih tetap berlaku. (eori hukum murni
dalam perjalanannya tidak mampu menjelaskan keadaan hukum secara holistik,
maka atjipto !ahardjo meminjam osiologi Hukum sebagai alat bantu untuk
menjelaskan persoalan tersebut. Penyebab utama gagalnya suatu teori disebabkan
karena teori bersifat instruktif.
5
edangkan ajaran stufentheorie berpendapat bah#a suatu sistem hukum
adalah suatu hierarkis dari hukum dimana suatu ketentuan hukum tertentu
bersumber pada ketentuan hukum lainnya yang lebih tinggi. ebagai ketentuan
yang paling tanggi adalah Grundnorm atau norma dasar yang bersifat hipotetis.
Ketentuan yang lebih rendah adalah lebih konkrit daripada ketentuan yang lebih
tinggi. "jaran murni tentang hukum adalah suatu teori tentang hukum yang
senyatanya dan tidak mempersoalkan hukum yang senyatanya itu, yaitu apakah
hukum yang senyatanya itu adil atau tidak adil.
De#asa ini, teori-teori hukum yang berpengaruh kuat terhadap konsep-
konsep dan implementasi kehidupan hukum di Indonesia adalah teori hukum
positi"isme. Pengaruh teori ini dapat dilihat dari dominannya konsep kodifikasi
hukum dalam berbagai jenis hukum yang berlaku di Indonesia bahkan telah
7
http)$$###.scribd.com$doc$002**F44$(eori-Hukum-Murni-(ugas-(eori-HukumGdo#nload,
Diakses pada 21 Desember 23*2.
14
merambat ke sistem hukum internasional dan tradisional &Dili !asjidi, H., 2334 )
*F*'. Demikian pula dalam praktek hukum pun di tengah masyarakat, pengaruh
aliran poisit;is adalah sangat dominan. "pa yang disebut hukum selalu dikaitkan
dengan peraturan perundang-undangan, di luar itu, dianggap bukan hukum dan
tidak dapat dipergunakan sebagai dasar hukum. +ilai-nilai dan norma di luar
undang-undang hanya dapat diakui apabila dimungkinkan oleh undang-undang
dan hanya untuk mengisi kekosongan peraturan perundang-undang yang tidak
atau belum mengatur masalah tersebut.
B Pen"aru+ Kekuatan Po!itik -a!a) Me)pen"aru+i Hierarki Peraturan
Perun-an"'Un-an"an
Pengaruh kekuatan-kekuatan politik dalam membentuk hukum dibatasi
ruang geraknya dengan berlakunya sistem konstitusional berdasarkan checks and
balances, yaitu pembatasan kekuasaan setiap lembaga negara oleh undang-undang
dasar, tidak ada yang tertinggi dan tidak ada yang rendah, semuanya sama di atur
berdasarkan fungsi-fungsi masing-masing. seperti yang dianut /ndang-/ndang
dasar *-01 &//D *-01' setelah perubahan. 7ika diteliti lebih dalam materi
perubahan //D *-01 mengenai penyelenggaraan kekuasaan negara adalah
mempertegas kekuasaan dan #e#enang masing-masing lembaga-lembaga negara,
mempertegas batas-batas kekuasaan setiap lembaga negara dan menempatkannya
berdasarkan fungsi-fungsi penyelenggaraan negara bagi setiap lembaga negara.
Dengan sistem yang demikian, memberikan kesempatan kepada setiap
#arga negara yang merasa dirugikan hak konstitusionalnya oleh produk politik
15
dari instutusi politik pembentuk hukum untuk mengajukan gugatan terhadap
institusi negara tersebut. Dalam hal pelanggaran tersebut dilakukan melalui
pembentukan undang-undang maka dapat diajukan keberatan kepada Mahkmah
Konstitusi dan dalam hal segala produk hukum dari institusi politik lainnya
diba#ah undang-undang diajukan kepada Mahkamah "gung.
F
Halaupun di luar kekuatan-kekuatan politik yang duduk dalam institusi-
instusi politik, terdapat kekuatan-kekuatan lainnya yang memberikan kontribusi
dan mempengaruhi produk hukum yang dilahirkan oleh institusi-institusi politik.
Kekuatan tersebut berbagai kelompok kepentingan yang dijamin dan diakui
keberadaan dan perannya menurut ketentuan hukum sebagai negara yang
menganut sistem demokrasi, seperti kalangan pengusaha, tokoh ilmuan, kelompok
organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, tokoh agama, lembaga s#adaya
masyarakat dan lain-lain. %ahkan //. !.I. +o. *3 tahun 2330 tentang
Pembentukan Peraturan Per-/ndang-/ndangan, dalam %ab. , menegaskan
adanya partisipasi masyarakat yaitu yang diatur dalam Pasal 14) 8Masyarakat
berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan
atau pembahasan !ancangan /ndang /ndang dan !ancangan Peraturan Daerah.
. Ke-u-ukan Ketetapan MPR -a!a) Hierarki Tata Urutan Peraturan
Perun-an"'Un-n"an -i In-one*ia
ecara umum tidak ada persoalan dalam penyempurnaan pada tiap masa
perkembangan, karena hukum selalu mengikuti perkembangan jaman. +amun ada
8
Hikma#anto 7u#ana, (eori Hukum, Magister Ilmu Hukum /ni;ersitas Indonesia
16
masalah ketika memaksaan suatu yang bukan peraturan hukum dijadikan aturan
hukum. Masalah pula bila suatu fakta dianggap suatu peraturan hukum. Perubahan
// +o. *3 (ahun 2330 yang digantikan // +o. *2 (ahun 23** dengan
memasukkan Ketetapan MP! dalam jenis dan hierarki peraturan perundang-
undangan semakin memusingkan para pembentuk hukum maupun yang belajar
ilmu pembentukan peraturan perundang-undangan. %eberapa masalah yang
dihadapi pembentukan peraturan perundang-undangan adalah sistem hukum yang
dibangun tidak taat asas dan tidak konsisten dengan kaedah serta tidak ada
kepatuhan terhadap tingkatan berjenjang dalam pembentukan peraturan perudang-
undangan. "palagi dalam pembentukan produk hukum daerah, maka rujukan dari
produk hukum pusat yang kacau tidak berdampak ketertiban tetapi sebaliknya.
-
Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat sebagai Peraturan
Perundang-undangan Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat tidak tercantum
dalam jenis dan hierarki /ndang-/ndang +omor *3 (ahun 2330 dengan alasan
sebagai aturan pokok negara &staatsgrundgesetA'. 7adi memiliki norma yang lebih
tinggi dari undang-undang. Penjelasan Pasal 5 ayat &*' huruf % // +o. *2 (ahun
23**, disebutkan) Eang dimaksud dengan 8Ketetapan Majelis Permusya#aratan
!akyat6 adalah Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat ementara dan
Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat yang masih berlaku sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 0 Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat
!epublik Indonesia +omor) I$MP!$2334 tentang Peninjauan (erhadap Materi dan
9
Indrati, Maria ?arida . #lmu !erundang-undangan $enis, fungsi, dan Materi Muatan,
Kanisius, 7akarta) 2335.
17
tatus Hukum Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat ementara dan
Ketetapan Majelis Permusya#aratan !akyat (ahun *-.3 sampai dengan (ahun
2332, tanggal 5 "gustus 2334. Dari penjelasan tersebut menjadi jelas)
a. bah#a pembentukan peraturan perundang-undangan tidak untuk mengatur
perilaku yang akan ada tetapi mengatur perilaku yang telah ada. Ini adalah
asas pemberlakuan surut. eharusnya suatu peraturan dibuat untuk mengatur
hal-hal yang akan ada atau perilaku yang akan ada. Dengan batasan
penjelasan sebagai interprestasi autentik, jelas tidak akan ada lagi (ap MP!
lain selain yang telah diakui dalam penjelasan.
b. bah#a pembentuk peraturan perundang-undangan hanya mementingkan
legitimasi sesaat terhadap satu produk yang relatif subjektif untuk diakui
daya berlakunya. 7ika daya laku harus dimasukkan dalam jenis dan hierarki
peraturan perundang-undangan, maka seharusnya simasukkan pula
Proklamasi Kemerdekaan, karena termuat asas konkordasi. Dimasukkan pula
Dekrit Presiden, karena mengandung hal-hal yang harus diakui daya
berlakunya.
Dengan memasukkan Ketetapan MP! dalam jenis dan hierarki
peraturan perundang-undangan, terjadi pula penyempitan dan penurunan
makna dari suatu aturan pokok negara &staatsgrundgesetA' yang memilik
kedudukan di atas peraturan perundang-undangan atau sebagai aturan dari
penjelasan konstitusi, maka hanya menjadi peraturan perundang-undangan di
ba#ah konstitusi. Dengan memasukkan Ketetapan MP! ke dalam jenis dan
hierarki peraturan perundang-undangan, maka telah terjadi metamorfosis dari
18
suatu aturan pokok negara &staatsgrundgesetA' menjadi suatu peraturan
perundang-undangan.
*3
Derajad dari aturan penjelasan konstitusi telah diturunkan di ba#ah
konstitusi. 9leh karena Ketetapan MP! sebagai peraturan perundang-
undangan di ba#ah konstitusi, menimbulkan problematika tesendiri, antara
lain)
a. seharusnya Ketetapan MP! juga dapat dilakukan uji materi,
persoalannya lembaga apa yang dapat melakukan uji materi.
b. konstitusi telah mendelegasikan pembentukan undang-undang
kepada DP! berdasar Pasal 23 ayat &*' //D+!I (ahun *-01. Majelis
Permusya#aratan !akyat memiliki ke#enangan yang lebih tinggi
berdasar Pasal 4 ayat &*' //D+!I (ahun *-01, yaitu mengubah dan
menetapkan //D. 7ika menetapkan //D dengan suatu ketetapan
MP!, hal itu adalah suatu fakta, tetapi tidak dapat diartikan ketetapan
tersebut sebagai suatu peraturan perundang-undangan, karena
kedudukan normanya adalah aturan pokok negara
(staatsgrundgesetz!
c. oleh karena Ketetapan MP! sebagai peraturan perundang-undangan,
seharusnya juga diundangkan, agar tujuan memiliki daya laku
terpenuhi.
10
http)$$la#ismy#ay.blogspot.com$23**$3*$teori-hukum-murni.html, Diakses pada 4 7anuari
23*4
19
uatu peraturan perundang-undangan yang tidak diundangkan,
tidak mempunyai kekuatan mengikat atau tidak mempunyai daya laku
&;alidity' atau tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan tidak
mempunyai sanksi &leI inferfekta'. Kalau diundangkan harus dibuat aturan
lembaga yang harus mengundangkan dalam bentuk apa, problematika yang
mengikuti adalah sejak kapan harus diundangkan. (anpa adanya proses
pengundangan, maka #alau telah dimaksukkan dalam jenis dan hierarki
peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud Pasal 5 ayat &*' //
+o. *2 (ahun 23**, maka berlaku pula ketentuan Pasal F*, yaitu) "gar setiap
orang mengetahuinya, Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan
dengan menempatkannya dalam)
a. Dembaran +egara !epublik Indonesia:
b.(ambahan Dembaran +egara !epublik Indonesia:
c. %erita +egara !epublik Indonesia:
d. (ambahan %erita +egara !epublik Indonesia:
e. Dembaran Daerah:
f. (ambahan Dembaran Daerah: atau
g. %erita Daerah.
Melalui interprestasi a contrario, dengan tidak diundangkan suatu
peraturan perundang-undangan, setiap orang dianggap tidak tahu. 9leh
karena setiap orang dianggap tidak tahu, maka tujuan dimuat dalam jenis dan
hierarki peraturang perundang-undangan pada // +o. *2 (ahun 23** agar
20
mempunyai daya laku &"alidity' menjadi tidak berguna dan sulit untuk
di#ujudkan.
Ketetapan MP! sebagai rujukan norma dalam undang-undang
Problematika selanjutnya adalah sistem hukum yang menganut hierarki,
maka tiap jenjang atau tingkatan memiliki norma deri;atif dari yang tertinggi
sampai terrendah. "danya peraturan perundang-undangan di ba#ah konstitusi
di atas undang dan jika taat hierarki, maka setiap undang-undang harus
merujuk pada norma di atasnya, yaitu ketetapan MP!. Dalam teori hierarki,
;alidasi suatu norma harus dapat dirujuk pada norma di atasnya, karena
hierarki adalah sistem berjenjang atau bertingkat dari yang rendah sampai
dengan yang tertinggi. Balidasi harus berdasar norma diatasnya bukan
sekedar fakta. Hal ini sesuai ajaran Hans Kelsen yang menulis 8no the reason
for the "alidity of a norm is al%ays a norm, not a fact& The 'uest for the norm
%hich the first norm is "eri"a(le in a sense that %ill (e in"estigeted later)
9leh karena itu, konstitusipun harus diubah dengan menambah
ketentuan, bah#a DP! membentuk undang-undang tidak berdasar undang-
undang dasar tetapi berdasar ketetapn MP!. Hal ini akan menjadikan DP!
konsisten mandul karena Ketetapan MP! yang ada dalam hierarki telah
dibatasi sebagaimana pejelasan Pasal 5 /ndang-/ndang +omor *2 (ahun
23**. Masuknya Ketetapan MP! ke dalam jenis dan hierarki peraturan
perundang-undangan lebih banyak menimbulkan problematikan dalam sistem
21
hukum dari pada tujuan untuk memberikan daya laku &;alidity' dan daya
guna &efficiency'.
**
Hierarki dalam pembentukan produk hukum daerah Persoalan
hierarki adalah kepatuhan dan ketaatan terhadap asas dan sistem hukum. Hal
ini menjadi persoalan yang pelik tidak pernah terurai dan semakin hari
semakin berat, karena peraturan perundang-undangan semakin banyak yang
tidak taat terhadap hierarki. Hal ini adalah problematika dalam pembentukan
produk hukum di daerah. Dengan hierarki sebagaimana Pasal 5 ayat &*' //
+o. *2 (ahun 23*2, dan merujuk pengertian hierarki sebagai norma yang
berjenjang atau bertingkat, maka peraturan daerah kota$kabupaten hanya
dapat dibentuk berdasarkan peraturan daerah pro;insi. /ndang-undang,
peraturan pemerintah, dan peraturan presiden tidak dapat mendelegasi atau
memerintahkan pembentukan peraturan daerah kota$kabupaten. +orma dalam
peraturan daerah kota$kabupaten karena kedudukannya hanya dapat
di;alidasi terhadap norma di atasnya, yaitu peraturan daerah pro;insi.
Hal ini jika konsisten, taat dan patuh terhadap hierarki. Daerah juga
dihadapkan pada persoalan kekacauan cara berbfikir pemerintah pusat,
bagaimana mungkin jenis dan hierarki tidak mengenal adanya peraturan
bersama. Prakteknya ada peraturan bersama menteri yang jelas normannya
bertentangan dengan undang-undang. >ontoh /ndang-/ndang +o. 2F (ahun
233- tentang Pajak Daerah dan !etribusi Daerah, dalam Pasal *00
11
###.hukumonline.com, Hierarki Peraturan Perundang-/ndangan, Diakses pada 4 7anuari
23*4
22
memberikan ke#enangan kota$kabupaten memungut retribusi IAin @angguan,
tetapi dimentahkan oleh Peraturan %ersama Menteri Dalam +egeri, Menteri
Pekerjaan /mum, Menteri Komunikasi dan Informatika, dan Kepala %adan
Koordinasi Penanaman Modal tentang Pedoman Pembangunan dan
Penggunaan %ersama Menara (elekomunikasi +o. *F (ahun 233-, +o.
35$P!($M$233-, +o. *-$P=!M$M.K9MI+?9$34$233-, dan +o. 4$P$233-.
Model peraturan bersama menteri adalah cara tidak ada pola berfikir dari para
menteri terhadap sistem hukum dan hierarki peraturan perundang-undangan.
Hal ini bedasarkan landasarn norma pembentukan peraturan bersama adalah
Pasal 0 ayat &2' dan Pasal - Peraturan Pemerintah +omor 4F (ahun 2335
tentang Pembagian /rusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan
Daerah Pro;insi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten$Kota. 7ika dicermati
ketentuan yang dirujuk hanya memberikan ke#enangan kepada
Menteri$kepala lembaga pemerintah non departemen menetapkan norma,
standar, prosedur, dan kriteria untuk pelaksanaan urusan #ajib dan urusan
pilihan setelah melibatkan pemangku kepentingan terkait dan berkoordinasi
dengan Menteri Dalam +egeri. "rtinya menteri$kepala lembaga menetapkan
sendiri-sendiri sesuai dengan ke#enangan masing-masing tidak main
keroyakan dengan menteri yang harusnya sebagai koordinator. "palagi materi
muatannya tidak sekedar norma, standar, prosedur, dan kriteria untuk
pelaksanaan urusan #ajib dan urusan pilihan, tetapi telah masuk pada
perla#anan terhadap /ndang-/ndang +omor 2F (ahun 233-. ampai
sekarangpun para menteri sering mengulang bah#a daerah harus taat pada
23
peraturan bersama dan harus menyimpangi undang-undang. >ara mendidik
dan membimbing pusat agar daerah selalu belajar, bagaimana lebih
mengutamakan pendekatan kekuasaan melalui regulasi daripada belajar
mematuhi norma dan asas dalam sistem hukum yang baik. (ertib hukum
ternyata semakin jauh dari harapan. Memasukkan Ketetapam MP! dalam
jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan juga contoh pendekatan
kekuasaan melalui regulasi agar diakui daya laku dan daya gunanya.
BAB III
PENUTUP
24
A Ke*i)pu!an
*. Problematik hierarki adalah kunci kekacauan karena pembentuk
peraturan hanya berkicau, tidak pernah konsisten dan taat pada
hierarki serta tidak adanya proses penyadaran untuk belajar menuju
pada tertib hukum melalui tertib pembentukan peraturan
penrundang-undangan. Dampak nyata adalah proses pembentukan
produk hukum daerah selalu dibenturkan pada norma undang-
undang yang sering disimpangi oleh peraturan menteri.
2. Pengaruh kekuatan-kekuatan politik dalam membentuk hukum
dibatasi ruang geraknya dengan berlakunya sistem konstitusional
berdasarkan checks and balances, yaitu pembatasan kekuasaan
setiap lembaga negara oleh undang-undang dasar, tidak ada yang
tertinggi dan tidak ada yang rendah, semuanya sama di atur
berdasarkan fungsi-fungsi masing-masing.
4. Dengan pencermatan secara saksama terhadap masuknya Ketetapan
Majelis Permusya#aratan !akyat ke dalam jenis dan hierarki
peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud Pasal 5 ayat
&*' /ndang-/ndang +omor *2 (ahun 23** tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan, perlu adanya kajian kembali
terhadap) *. bah#a Ketetapan MP! sebagai aturan pokok negara
&staatsgrundgesetA' yang setara dengan penjelasan /ndang-/ndang
Dasar +egara !epublik Indonesia (ahun *-01 &konstitusi' telah
25
turun derajadnya menjadi setara dengan peraturan perundang-
undangan di ba#ah konstitusi. 2. bah#a semangat Ketetapan MP!
akan memiliki daya laku &;alidity' dan daya guna &efficacy', sulit
di#ujudkan karena)
a. tidak ada lagi Ketetapan MP! yang baru, sebagaimana batasan
dalam penjelasan Pasal 5 ayat &*' huruf % // +o. *2 (ahun
23**. Penjelasan adalah interprestasi autentik dari suatu norma
dalam undang-undang.
b. (ap MP! sebagaimana penjelasan Pasal 5 ayat &2' belum
diundangkan sebagaimana ketentuan suatu peraturan
perundang-undangan agar setiap orang dianggap tahu, dan hal
ini sebagai landasan kekuatan hukum mengikat sehingga
mempunyai daya laku &;alidity' dan daya guna &efficacy'. Di
sisi lain ketentuan Pasal F* tidak mengatur bagaimana
Ketetapan MP! diundangkan.
c. dalam hierarki ketaatan, kepatuhan adalah kunci tertib hukum,
oleh karennya jika konsisten, maka setiap undang-undang yang
dibentuk oleh DP! bersama Presiden harus merujuk pada
norma di atasnya, yaitu Ketetapan MP!. Hal ini akan
bertentangan dengan ketentuan Pasal 23 ayat &*' //D+!I
(ahun *-01.
B Saran
26
*. ebaiknya hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia ditulis
secara jelas bagaimana kedudukannya masing-masing, agar kedepannya
tidak ada keraguan maupun tumpang tindih dalam pembentukannya.
2. Pengaruh kekuatan politik dalam proses pembentukan perundang-
undangan sebaiknya jangan sampai mengubur tujuan semula dari
pembentukan peraturan tersebut. Pada dasarnya tujuan pembentukan
peraturan perundang-undangan adalah semata-mata untuk kepastian
hukum.
4. Kedudukan Ketetapan MP! sebaiknya hanya untuk mengakomodir
Ketetapan-Ketetapan MP! yang sudah ada saja.
DA$TAR PUSTAKA
27
A Buku
?redman, H. Teori * +ilsafat Hukum, !aja#ali Press, 7akarta) *--3.
Hikma#anto 7u#ana, (eori Hukum, Magister Ilmu Hukum /ni;ersitas Indonesia
Indrati, Maria ?arida . #lmu !erundang-undangan $enis, fungsi, dan Materi
Muatan, Kanisius, 7akarta) 2335.
IshaJ, Dasar-Dasar #lmu Hukum, inar @rafika, 7akarta) 233F
7.=, ahetapi. Runtuhnya Etik Hukum, Kompas, 7akarta) 233-
Kelsen, Hans . !engantar Teori Hukum, +usa Media, %andung) 23*3.
Kelsen, Hans . Teori Hukum Murni, dasar-Dasar Hukum Murni, +usa Mendia,
%andung) 23**
//D +egara !epublik Indonesia (ahun *-01
/ndang-/ndang +omor *3 (ahun 2330 (entang Pembentukan Peraturan
Perundang-/ndangan
/ndang-/ndang +omor *2 (ahun 23** (entang Pembentukan Peraturan
Perundang-/ndangan
B /urna! -an Artike!
KKKKKKKK http)$$filsafat.kompasiana.com$23*3$3*$2F$pemikiran-teori-hukum-
murni$, !emikiran Teori Hukum Murni, Diakses pada 21 Desember 23*2.
KKKKKKKKK http)$$###.scribd.com$doc$002**F44$(eori-Hukum-Murni-(ugas-
(eori-HukumGdo#nload, Diakses pada 21 Desember 23*2.
KKKKKKKKK ###.hukumonline.com, Hierarki Peraturan Perundang-/ndangan,
Diakses pada 4 7anuari 23*4
KKKKKKK http)$$la#ismy#ay.blogspot.com$23**$3*$teori-hukum-murni.html,
Diakses pada 4 7anuari 23*4
KKKKKKKK http)$$opentrade2222.blogspot.com$233-$3.$anom-surya-putra-
positi;isme-secara.html, Diakses pada 4 7anuari 23*4
28