Anda di halaman 1dari 16

ANTIDIABETES

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Membuktikan efek hipoglikemik suatu bahan/obat
2. Agar mahasiswa mengerti mekanisme kerja obat penurun glukosa darah
3. Agar mahasiswa dapat memahami gejala-gejala dan dasar farmakologi efek toksis obat
penurun glukosa darah

II. TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian insulin merupakan bab yang menarik dalam farmakoterapi. Tahun 1869
Langherhans menemukan kelompok sel dalam pangkreas yang disebut sesuai dengan namanya.
Tahun 1889 von Mering atau Minkowski dapat menunjukkan pada anjing suatu kondisi penyakit
yang terjadi setelah pangkreasnya diambil. Kondisi penyakit ini mirip dengan gambaran klinik
diabetes melitus. Gejala-gejala ini dapat dihilangkan lagi dengan implantasi jaringan pankreas
dibawah kulit. Walau pun demikian mereka tidak berhasil memelihara ekstrak kelenjar pankreas
yang telah diambil, yang dengan ekstrak ini memungkinkan pengobatan hewan percobaan
(Mutschler, 1991).
Insulin adalah polipeptida dengan BM kira-kira 6000. Polipeptida ini terdiri dari 51 asam
amino tersusun dalam dua rantai, rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30
asam amino. Antara rantai A dan B terdapat 2 jembatan disulfide yaitu antara A-7 dengan B-7
dan A-20 dengan B-19. Selain iu masih terdapat jembatan disulfide antara asam amino ke-6 dan
ke-11 pada rantai AKarena insulin babi lebih mirip insulin insani maka dengan bahan insulin
babi mudah dibuat insulin insani semisintetik. Disamping itu juga dapat disintesis insulin
manusia dengan teknik rekombinan DNA (Ganiswarna,dkk,1995).
Proinsulin disintesis dalam elemen poliribosom reticulum endoplasmic sel pancreas.
Prohormon tersebut ditransfer kesistem reticulum endoplasmic dan kemudian ke kompleks
Golgi. Ditempat terakhir ini terjadi perubahan proinsulin menjadi insulin. Granula yang
mengandung insulin, proinsulin dalalm jumlah kecil dan peptide-C kemudian terlepas dari
apparatus Golgi (Ganiswarna,dkk, 1995).
Diabetes melitus adalah suatu keadaan yang timbul karena defisiensi insulin relativ
maupun absolute. Hiperglikemia timbul karena penyerapan glukosa kedalam sel terhambat serta
metabolismenya terganggu. Dalam keadaan normal, kira-kira 50% glukosa yang dimakan
mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 5% diubah menjadi glikogen dan kira-
kira 30-40% diubah menjai lemak. Pada diabetes mellitus seua proses tersebut terganggu,
glukosa tidak dapat masuk kedalam sel, sehingga energi terutama diperoleh dari metabolisme
protein dan lemak. Sebenarnya hiperglikemia sendiri relativ tidak berbahaya, kecuai bila hebat
sekai hingga darah darah menjadi hiperosmotik terhadap cairan intrasel. Yang nyata berbahaya
ialah glikosuria yang timbul, karena glukosa bersifat diuretik osmotik, sehingga diuresis
meningkat sehingga disertai dengan hilangnya berbagai elektrolit. Hal inilah yang menyebabkan
terjadinya dehidrasi dan hilangnya elektrolit kepada penderita diabetes yang tidak diobati.
Karena adanya dehidrasi, maka badan berusaha mengatasinya dengan banyak minum
(polidipsia). Badan diberi 4 kalori untuk setiap gram glukosa yang diekskresi. Polifagia timbul
karena perangsangan pusat nafsu makan dihipotalamus oleh kurangnya pemakaian glukosa
dikelenjar itu (Ganiswarna,dkk,1995).
Kadar glukosa serum puasa normal (teknik autonalisis) adalah 70-110 mg/dl.
Hiperglikemia didefinisikan sebagai kadar glukosa puasa yang lebih tinggi dari 110 mg/dl.
Glukosa difiltrasi oleh glomerulus ginjal dan hampir semuanya diabsorpsi oleh tubulus ginjal
selama kadar glukosa dalam plasma tidak melebihi 160-180 mg/dl. Jika konsentrasi tubulus naik
melebihi kadar ini, glukosa tersebut akan keluar bersama urine, dan keadaan ini disebut sebagai
glikosuria (Katzung,2002).
Kemampuan seseorang untuk mengatur kadar gkukosa plasma agar tetap dalam batas-batas
normal dapat ditentukan melalui tes (1) kadar glukosa serum puasa, dan (2) respons glukosa seru
terhadap pemberian glukosa (Mycek,dkk,2001).
Metabolisme glukosa, setelah karbohidrat dari makanan dirombak dalam usus, glukosa lalu
diserap kedalam darah dan diangkut ke sel-sel tubuh. Untuk penyerapannya kedalam sel-sel
tubuh diperlukan insulin, yang dapat dianggap sebagai kunci untuk pintu sel. Sesudah masuk
kedalam sel, glukosa lantas diubah menjadi energi atau ditimbun sebagai cadangan. Cadangan ini
digunakan bila tubuh kekkurangan energi karena misalnya berpuasa beberapa waktu (Tan,dkk,
2002).
Sekresi insulin diatur tudak hanya oleh kadar glukosa darah tetapi juga oleh hormon lain
dan mediator autonomic. Sekresi insulin umummnya dipacu oleh ambilan glukosa darah yang
tinggi dan difosforilasi dalam sel- pancreas (Mycek,dkk,2001).
Insulin merupakan protein kecil yang mengandung dua rantai polieptida yang dihubungkan
oleh ikatan disulfida. Sekresi insulin diatur tidak hanya diatur oleh kadar glukosa darah tetapi
juga hormon lain dan mediator autonomik. Sekresi insulin umumnya dipacu oleh ambilan
glukosa darah yang tinggi dan difosforilasi dalam sel pankreas. Insulin umumnya diisolasi dari
pankreas sapi dan babi, namun insulin manusia juga dapat menggantikan hormon hewan untuk
terapi. Insulin manusia diproduksi oleh strain khusus E. Coli yang telah diubah secara genetik.
mengandung gen untuk insulin manusia. Insulin babi paling mendekati struktur insulin manusia,
yang dibedakan hanya oleh satu asam amino. Gejala hipoglikemia merupakan reaksi samping
yang paling umum dan serius dari kelebihan dosis insulin. Reaksi samping lainnya berupa
lipodistropi dan reaksi alergi. Diabetes militus ialah suatu keadaan yang timbul karena defisiensi
insulin relatif maupun absolut. Hiperglikemia timbul karena penyerapan glukosa ke dalam sel
terhambat serta metabolismenya diganggu. Dalam keadaan normal kira-kira 50% glukosa yang
dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO
2
dan air, 5% diubah menjadi glikogen
dan kira-kira 30-40% diubah menjadi lemak (Siswandono, 1995).
Pada diabetes melitus semua proses terganggu, glukosa tidak dapat masuk kedalam sel,
sehingga energi terutama diperoleh dari metabolisme protein dan lemak. Sebenarnya
hiperglikemia sendiri relatif tidak berbahaya, kecuali bila hebat sekali hingga darah menjadi
hiperosmotik terhadap cairan intrasel. Yang nyata berbahaya ialah gliosuria yang timbul, karena
glukosa bersifat diuretik osmotik, sehingga diuresis sangat meningkat disertai hilangnya berbagai
efektrolit. Hal ini yang menyebabkan terjadinya dehidrasi dan hilangnya elektrolit pada penderita
diabetes yang tidak diobati. Karena adanya dehidrasi, maka badan berusaha mengatasinya
dengan banyak minum (polidipsia). Badan kehilangan 4 kalori untuk setiap hari gram glukosa
yang diekskresi (Katzung,dkk,2002).
Polifagia timbul karena perangsangan pusat nafsu makan di hipotalamus oleh kurangnya
pemakaian glukosa dikelenjar itu (Ganiswara, 1995). Diabetes militus, penyakit gula atau
kencing manis adalah suatu gangguan kronis yang khususnya menyangkut metabolisme
hidratarang (glukosa) di dalam tubuh. Tetapi metabolisme lemak dan protein juga terganggu
(Lat. Diabetes = penerusan, mellitus = manis madu) (Tan,dkk,2002).
Penyebabnya adalah kekurangan hormon insulin, yang berfungsi memanfaatkan glukosa
sebagai sumber energi dan mensintesa lemak. Akibatnya ialah glukosa bertumpuk didalam darah
(hiperglikemia) dan akhirnya dieksresikan lewat kemih tanpa digunakan (glycosuria). Karena itu
produksi kemih sangat meningkat dan pasien harus kencing, merasa amat haus, berat badan
menurun dan berasa lelah rata-rata 1,5-2% dari seluruh penduduk dunia menderita diabetes yang
bersifat menurun. Di indonesia, penderita diabetes diperkirakan 3 juta orang atau 1,5% dari 200
jatu penduduk, sedangkan di Eropa mencapai 3-5% (Tan,dkk,2002).
Diabetes merupakan penyakit tunggal. Diabetes merupakan suatu grup sindrom heterogen
yang semua gejalanya ditandai dengan peningkatan gula darah yang disebabkan oleh defisiensi
insullin relatif atau absolut. Pelepasan insullin yang tidak adekuat diperberat oleh glukagon yang
berlebihan. Diabetes menimpa kira-kira 10 ribu individu atau kira-kira 5% populasi Amerika
Serikat, dan seperdelapan penyebab kematian di negara ini. Diabetes dapat dibagi menjadi dua
grop berdasarkan kebutuhan atas insullin : diabetes melitus tergantung insullin (IDDM atau tipe
I) dan diabetes melitus tidak tergantung insullin (NIDDM atau tipe II). Kira-kira satu sampai dua
juta pasien menderita IDDM : sisanya 80 samapai 90% penderita NIDDM (Mycek ,dkk,2001).
Pankreas adalah organ lonjong kira-kira 15 cm, yang terletak dibelakang hati. Organ ini
terdiri dari 98% sel-sel dengan sekresi ekstren, yang memproduksi enzim-enzim cerna
(pankreatin) yang disalurkan keduodenum dengan sekresi intern, yakni hormon-hormon insullin
dan glukagon yang disalurkan langsung kealiran darah (Tan,dkk,2002).
Ada 4 jenis sel endokrin, yakni (Tan,dkk,2002) :
Sel alfa, yang memproduksi hormon glukagon.
Sel beta, dengan banyak granul berdekatan membran selnya, yang berisi insulin. Setiap
hari disekresikan CA 2 mg (=50 UI) insulin, yang dengan aliran darah diangkat kehati.
Kira-kira 50% hormon ini dirombak disini, sisanya diuraikan di ginjal.
Sel D memproduksi somastotatin (antagonis somatropin).
Sel PP memproduksi PP (Pancreatic polypeptide), yang mungkin berperan pada empedu.
Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk
heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Jika telah berkembang
penuh secara klinis, maka diabetes melitus ditandai dengan hiprglikemia puasa dan postprandial,
aterosklerotik dan penyakit vaskuler mikroangiopati, dan neuropati. Manifestasi klinis
hiperglikemia biasanya sudah bertahun-tahun mendahului timbulnya kelainan klinis dari
penyakit vaskularnya. Pasien dengan kelainan toleransi glukosa ringan (gangguan glukosa puasa
dan gangguan toleransi glukosa) dapat tepat beresiko mengalami komplikasi metabolik diabetes
(Price,dkk,1995)
Empat kategori agen anti diabetik yang kini tersedia di Amerika Serikat : Sekretagog
insulin (sulfonylurea, meglitinide), biguanide, thiazolidinedione, dan penghambat glucosidase-
alfa. Sulfonylurea dan biguanide yang tersedia paling lama dan secara tradisional merupakan
pilihan pengobatan awal untuk diabetes tipe II. Golongan insulin sekretagog dengan kerja cepat
yang baru, meglitinide, merupakan alternatif terhadap sulfonyurea golongan tolbutamide dengan
masa kerja pendek. Thiazolidinedione, yang sedang dalam perkembangan sejak awal tahun
1980-an, adalah agen yang sangat efektif untuk menurunkan resistensi insulin (Price,dkk,1995).
Insulin merupakan protein kecil yang mengandung dua rantai polipeptida yang
dihubungkan oleh ikatan disulfida. Disintesis sebagai protein prekursor (pro-insulin) yang
mengalami pemisahan proteolitik untuk membentuk insulin pada peptida C, keduanya disekresi
oleh sel- pankreas (Mycek dkk,2001).
Empat kategori agen anti diabetik yang kini tersedia di Amerika Serikat: Sekretagog
insulin (sulfonylurea, meglitinide), biguanide, thiazolidinedione, dan penghambat glucosidase-
alfa. Sulfonylurea dan biguanide yang tersedia paling lama dan secara tradisional merupakan
pilihan pengobatan awal untuk diabetes tipe II. Golongan insulin sekretagog dengan kerja cepat
yang baru, meglitinide, merupakan alternatif terhadap sulfonyurea golongan tolbutamide dengan
masa kerja pendek. Thiazolidinedione, yang sedang dalam perkembangan sejak awal tahun
1980-an, adalah agen yang sangat efektif untuk menurunkan resistensi insulin (Katzung,
dkk,2002).
Kepulauan langerhans pada penkreas membentuk organ endokrin yang menyekresikan
insulin yaitu sebuah hormon antidiabetika, yang diberikan dalam pengobatan daibetes. Insulin
ialah sebuah protein yang dapat turut dicerna oleh enzim-enzim pencerna protein dan karena itu
tidak diberikan melalui mulut melainkan dengan suntikan subkutan. Insulin mengendalikan
kadar glukosa dan bila digunakan sebagai pengobatan dalam hal kekurangan seperti pada
diabetes, ia memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk mengabsorpsi dan menggunkan glukosa
dan lemak (Pearce, 2006).
Secara klinik, defisiensi (kekurangan) insulin mengakibatkan hiperglikemia yaitu kadar
gula darah yang tinggi, turunnya berat bedan, lelah dan poliuria (sering buang air kecil), disertai
haus, lapar, kulit kering, mulut dan lidah kering. Akibatnya juga ketosis serta asidosis dan
kecepatan bernapas bertambah (Pearce, 2006).
Keadaan sebaliknya ialah hipoglikemia, atau kadar gula darah rendah, dapat terjadi akibat
kelebihan dosis insulin, atau karena pasien tidak makan makanan (atau muntah barangkali)
sesudah suntikan insulin, sehingga kelebihan insulin dalam darahnya menyebabkan koma
hipoglikemia (Pearce, 2006).
Demikian maka koma pada seorang pasien dengan diabetes dapat disebabkan tidak adanya
insulin atau terlampau banyak insulin (konma hipoglikemia) yang diobati dengan glukosa
(Pearce, 2006).
Enzim-enzim pankreas (Watson, 2002):
Tripsinogen diubah menjadi tripsin aktif oleh enterokinase, enzim yang disekresi usus
halus. Dalam bentuk aktifnya, tripsin mengubah pepton dan protein menjadi asam amino.
Amilase mengubah zat pati, baik yang masak dan tidak masak menjadi maltosa (gula
malt).
Lipase mengubah lemak manjadi asam lemak dan gliserol setelah empedu mengemulsi
lemak yang meningkatkan area permukaan.

ETIOLOGI
Secara umum penyebab terjadinya DM tidak diketahui secara pasti, namun dimungkinkan karena
faktor: :
1. Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI)
a. Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu
presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan
genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte
Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen
tranplantasi dan proses imun lainnya.
b. Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon
abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap
jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.


c. Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel pancreas, sebagai contoh hasil
penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autuimun yang
dapat menimbulkan destuksi sel pancreas.

2. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Mellitus tak tergantung
insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan
kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat
resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada
reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang
meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat
kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor.

Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif
insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor
insulin dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam
waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin
yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price,1995). Diabetes
Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non
Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen
bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi
terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak.

Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah:
1) Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
2) Obesitas
3) Riwayat keluarga
4) Kelompok etnik

III. BAHAN DAN ALAT
A. Bahan yang dipakai
o Glukosa
o NaCl fisiologis
o Insulin
o Glibenclamid
o Betadin
B. Alat yang dipergunakan
o Mencit
o Jarum suntik
o Timbangan
o Toples
o Stopwatch

IV. CARA KERJA
1. Timbang mencit.
2. Hitung dosis sesuai berat badan. Khusus kelompok kami, menggunakan insulin 25 ui
BB mencit = 28 g
VAO =


=


= 0.028 ml
3. Suntikkan vao secara i.m sebanyak 0,028 ml di otot paha mencit.
4. Berikan larutaan glukosa dengan dosis 2 mg/kg bb oral 5 menit setelah pemberian obat
penurun glukosa darah.
Glukosa =


= 0.28 ml
5. Setelah 15 menit potong sedikit ujung ekor mencit dan teteskan darahnya pada alat
glukometer.
6. Kemudian biarkan 15 menit lagi, dan potong sedikit ujung ekor mencit. Teteskan
darahnya pada alat glukometer.


V. HASIL DAN PEMBAHASAN
Data:
Kelompok Jenis Dosis pemberian
I Insulin 25 ui/ml i.m
II Insulin 50 ui/ml i.m
III Insulin 100 ui/ml i.m
IV Glibenclamid 1 mg/kg BB oral
V Glibenclamid 2 mg/kg BB oral
VI Kontrol 1% BB i.m

Hasil

Kelompok Jenis 15 30
I Insulin 25 ui/ml 72 mg/dl 59 mg/dl
II Insulin 50 ui/ml 104 mg/dl 64 mg/dl
III Insulin 100 ui/ml 58 mg/dl 39 mg/dl
IV Glibenclamid 1 mg/kg BB 89 mg/dl mg/dl
V Glibenclamid 2 mg/kg BB 147 mg/dl 114mg/dl
VI Kontrol 1% BB 86 mg/dl 66 mg/dl

Pembahasan
Diabetes melitus adalah suatu keadaan yang timbul karena defisiensi insulin relativ yang
terjadi jika produksi insulin tidak sesuai dengan kebutuhannya maupun defisiensi absolute yang
terjadi jika pancreas tidak berfungsi lagi dalam mensekresi insulin.
Pada percobaan yang kami lakukan, obat yang digunakan untuk menurunkan kadar glukosa
darah, yaitu insulin dengan berbagai dosis dan glibenclamid, sedangkan glukosa sebagai
penambah kadar glukosa.
Glibenklamin
Nama resmi : Glibenclamidum
Nama lain : Glibenklamida
RM/BM : C23H28ClN3O5S/494,00
Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hampir putih; tidak berbau atau hampir berbau.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam eter; sukar larut dalam etanol dan dalam
methanol; larut sebagian dalam kloroform.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai anti-diabetik
Uraian Obat Glibenklamin
Nama paten : Renabetic, Glukovance, Daonil, Euglucon, Glukonik, Abenon, Aldiab, Amaryl,
Glamega, Condiabet, Diabenese, Diacell, Diamicron,Fimediab.
Indikasi : Kontrol Hiperglikemia pada diabetes non insulin dependen yang tidak dapat
dikontrol dengan diet dan biguanid,Sebagai pengganti obat hipoglikemik oral yang lain (biguanid
atau sulfonilurea)disebabkan efek samping atau kegagalan respon.
Kontra Indikasi : Diabetes melitus dependen (tipe I), Hiperglikemia berat dan serius (ketotik
atau non-ketotik) pada semua jenis diabetes (misal pada penyakit akut atau koma),penyakit hati,
Gagal ginjal berat, kehamilan atau menyusui, Gangguan fungsi adrenal, hipersensitifitas terhadap
obat dan operasi.
Efek Samping : Hipoglikemia merupakan efek samping utama glibenklamid yang
biasanya bersifat ringan,tetapi kadang kadang bisa bersifat berat dan berkepanjang.Dapat
menimbulkan efek samping saluran cerna seperti mual,rasa tidak enak diperut atau anoreksia.
Reaksi alergi kulit seperti Pruritus,eritema,Urtikaria,Ruam kulit morbiliform atau makulo-
papular dan fotosensitivitas. Efek samping yang jarang terjadi adalah ikterus kolestatik ringan,
lekopenia reversibel, trombositopenia, pansitopenia,agranulositosis
Farmakodinamik : Glibenklamid mempunyai efek farmakologi jangka panjang dan pendek
seperti golongan sulfonilurea pada umumnya. Selama pengobatan jangka pendek,ia
meningkatkan sekresi insulin dari sel beta pulau langerhans,sedangkan pada pengobatan jangka
panajang efek utamanya adalah meningkatkan efek insulin terhadap jaringan perifer dan
penurunan pengeluaran glukosa dari hati (efek ekstra pankreatik).
Farmakokinetik : obat ini terikat pada protein serum, dimetabolisme oleh hati dan
diekskresikan oleh hati atu ginjal
Sebelum pemberian obat antidiabetes hewan uji terlebih dahulu diinduksi dengan
glukosa dosis 2 mg/kg bb hal ini bertujuan agar kadar glukosa hewan uji meningkat sehingga
mudah diuji dengan obat-obat antidiabetes dan dapat dilihat efek terapi dari obat obat
antidiabetik oral yang digunakan.
Mekanisme kerja obat-obat hipoglikemik oral secara umum ada 4 yaitu:
Menurunkan absorbsi karbohidrat yaitu golongan biguanid Metformin, dan Akarbose dari
golongan glikooksidase inhibitor.
Menurunkan sekresi insulin yaitu golongan sulfonilurea generasi kedua dan Miglitinid.
Menurunkan ambilan glukosa dihati yaitu golongan Biguanid.
Meningkatkan ambilan glukosa dijaringan periver yaitu golongan sulfonil urea generasi
kedua tiasolidindion dan biguanid.
Dari hasil percobaan, insulin secara cepat menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan
glibenclamid yang secara bertahap menurunkan kadar glukosa darah. Namun, karena dosis
insulin yang terlalu tinggi terutama 100 ui/ml sehingga tidak cocok dengan tubuh mencit
mengakibatkan mencit lemas. Perbedaan insulin dengan glibenclamid yaitu kalau insulin
digunakan pada penderita yang mengalami DM tipe I dimana insulin tidak ada pada tubuh
penderita, sedangkan glibenclamid digunakan pada penderita yang mengalami DM tipe II.
Diabetes terdapat 2 tipe, yaitu :
o Diabetes melitus tergantung insulin (IDDM ; tipe I) disebabkan oleh defisiensi absolut atau
penghancuran sel yang dapat mengurangi produksi insulin. Biasanya terjadi sebelum usia
15 tahun dan mengakibatkan penurunan berat badan, hiperglikomia, hetoksidosis,
asteroksis, kerusakan retina dan gagal ginjal. Karena sel batu pada langerhans rusak maka
pasien membutuhkan injeksi insulin.
o Diabetes melitus tidak tergantung insulin, (N-IDDM; tipe II) disebabkan oleh penurunan
pelepasan insulin atau kelainan respon jaringan terhadap insulin yang menyebabkan
hiperglikemia, tetapi tidak hetoksidosis. Tipe ini sering terjadi pada usia lebih dari 35
tahun.
Percobaan ini digunakan alat glukometer, dengan alasan bahwa alat glukometer merupakan
alat yang otometik memudahkan dalam memperoleh hasil glokosa darah, periksaan dengan
menggunakan alat ini memerlukan waktu yang reltif singkat, akurat, waktu tesnya minimal 30
detik. Adapun cara penggunaan dari alat glukometer tersebut yaitu penyiapan alat dan strip
glukotest, masukkan strip glukotest kedalam bagian ujung glukometer, teteskan darah ekor
mencit pada tempat reagen strip glukotest, kemudian dibaca kadar gula yang tertera pada layar
glukometer, dimana mekanisme kerja dari alat glukometer ini yaitu dalam strip terdapat enzim
glukooksigenase yang mana jika sampel darah mengenai strip maka akan langsung terbaca oleh
glukometer.
Beberapa faktor kesalahan yang mungkin mempengaruhi data yang diperoleh yaitu,
kurangnya ketelitian praktikan dalam menimbang mencit sehingga akan berpengaruh pada
volume pemberian pada mencit, dan tidak sempurnanya suatu obat masuk kedalam tubuh mencit
akibat cara perlakuan pemberian yang salah.











VI. KESIMPULAN

Insulin memberikan efek lebih cepat dalam menurunkan kadar glukosa darah namun harus
sesuai dosis.
Insulin digunakan pada penderita DM tipe I, sedangkan glibenclamid digunakan pada
penderita DM tipe II.
Pada percobaan yang kami lakukan, obat yang digunakan untuk menurunkan kadar glukosa
darah, yaitu insulin dengan berbagai dosis dan glibenclamid, sedangkan glukosa sebagai
penambah kadar glukosa.
Percobaan ini digunakan alat glukometer, dengan alasan bahwa alat glukometer merupakan
alat yang otometik memudahkan dalam memperoleh hasil glokosa darah, periksaan dengan
menggunakan alat ini memerlukan waktu yang reltif singkat, akurat.
Perbedaan insulin dengan glibenclamid yaitu kalau insulin digunakan pada penderita yang
mengalami DM tipe I dimana insulin tidak ada pada tubuh penderita, sedangkan
glibenclamid digunakan pada penderita yang mengalami DM tipe II.
Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah:
1) Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
2) Obesitas
3) Riwayat keluarga
4) Kelompok etnik












VII. PERTANYAAN
1) Jelaskan dengan ringkas mekanisme kerja insulin dalam menurunkan kadar glukosa darah!
Mekanisme kerja insulin pada tingkat molekul belum diketahui sepenuhnya. Yang jelas,
setelah insulin berinteraksi dengan reseptornya maka transport membrane glukosa, asam
amino dan ion kalium diperbesar dan aktivitas enzim intrasel berubah serta kandungan c-
AMP sel menurun. Sebaliknya, masih belum jelas apakah insulin memudahkan lewatnya
senyawa-senyawa yang bersangkutan secara langsung atau melalui sintesis protein
pentranspor dan apakah adanya kerja intrasel ini melalui insulin sendiri atau melalui
second messenger.

2) Jelaskan pula dengan ringkas mekanisme kerja glibenclamid dalam menurunkan kadar
glukosa darah!
Mekanisme kerja glibenclamid yaitu meningkatkan sekresi insulin dari sel beta pulau
langerhans,sedangkan pada pengobatan jangka panajang efek utamanya adalah
meningkatkan efek insulin terhadap jaringan perifer dan penurunan pengeluaran glukosa
dari hati (efek ekstra pankreatik).

3) Jelaskan efek samping toksisitas obat penurun glukosa darah!
Insulin: pada setiap pengobatan insulin terdapat bahaya hipoglikemik akibat kelebihan
dosis. Seorang penderita diabetes yang berpengalaman yang mengenali secara dini gejala
pertama penurunan kadar gula darah yang berlebihan, dapat mengimbangi kelebihan dosis
insulin dengan makan makanan yang kaya akan karbohidrat. Pada kasus yang parah
dilakukan pengobatan dengan pemberian glukosa secara parenteral.
Efek samping insulin lainnya: reaksi alergi, akan tetapi sejak dikenal insulin yang
dimurnikan secara kromatografi lebih jarang terjadi.
Glibenclamid: hipoglikemia merupakan efek samping utama glibenklamid yang biasanya
bersifat ringan, tetapi kadang-kadang bisa bersifat berat dan berkepanjangan. Dapat
menimbulkan efek samping saluran cerna seperti mual,rasa tidak enak diperut atau
anoreksia. Reaksi alergi kulit seperti Pruritus, eritema, Urtikaria, Ruam kulit morbiliform
atau makulo-papular dan fotosensitivitas. Efek samping yang jarang terjadi adalah ikterus
kolestatik ringan, lekopenia reversibel, trombositopenia, pansitopenia, agranulositosis.
Metformin: Jarang terjadi gangguan saluran cerna,bersifat reversibel pada saluran lambung
dan usus, termasuk anoreksia, gangguan perut,mual, muntah,rasa logam pada mulut dan
diare.


























DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, DEPKES RI, Jakarta.
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, DEPKES RI, Jakarta.
Ganiswarna,S.G,Setiabudy.R,Suyatna F.D,Purwantyastuti,Nafrialdi, 1995, Farmakologi dan
Terapi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Hardjasaputra,P.S.L,Budipranoto,G,Sembiring,SU,Kamil,I., 2002, Data Obat di Indonesia edisi
10, Grafidian Medipress, Jakarta.
Katzung.G.B. Farmakologi Dasar Dan Klinik, 2002, Salemba Medika, Jakarta.
Malole, 1989, Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan Di Laboratorium, IPB, Bogor.
Mutschler,E., 1999, Dinamika Obat, Institut Teknologi Bandung, Bandung.