Anda di halaman 1dari 7

IATMI 10-008

1

Peningkatan Konduktivitas Reservoir Tight Formasi Baturaja
dengan Stimulasi Matrix Acidizing
dan Cara Menghindari Penetrasi Air ke Zona Produksi
di Struktur M, Sumatera Selatan

Maria Candra Mulyani
1
, Rizki Nurhidayati
2

1
Geologi-Region Sumatera, PT. Pertamina EP, Prabumulih, Indonesia
2
Produksi-Region Sumatera, PT. Pertamina EP, Prabumulih, Indonesia


Abstrak

Sumur A2 merupakan sumur
pemboran di lapangan M Blok A yang
diproduksikan pada zona tight Formasi
Baturaja. Pada umumnya, produksi di
lapangan ini dilakukan pada zona porous,
sedangkan pada sumur A2, karakteristik yang
dilihat dari data Master Log menunjukkan
zona prospek gas, tetapi hasil analisa
petrofisik dari data openhole logging
mengindikasikan bahwa zona ini tight.
Didukung kondisi cadangan cukup besar pada
zona tersebut, maka pelaksanaan stimulasi
dengan matrix acidizing diharapkan dapat
membantu meningkatkan konduktivitas sumur
& pengurasan reservoir hidrokarbonnya.
Metode pendekatan yang dilakukan
pada karya tulis ini adalah melakukan analisa
penentuan A2 sebagai sumur kandidat dan
penentuan metode stimulasi, analisa
pelaksanaan pekerjaan, serta mengevaluasi
tingkat keberhasilan pekerjaan stimulasi matrix
acidizing dengan membandingkan parameter
indikator keberhasilan sebelum dan setelah
stimulasi dilakukan. Tahapan yang dilakukan
dalam proses stimulasi ini yaitu Preflush,
Perforation Wash, SXE Main Acid, Overflush
dan Displacement. Pada saat eksekusi,
pemompaan main acid dihentikan saat treating
pressure di permukaan hanya
mengindikasikan friction pressure, ini
dilakukan untuk menghindari acid bekerja di
zona air yang dikhawatirkan akan
memperbesar konduktivitas air.
Setelah dilakukan stimulasi, terjadi
peningkatan produksi yang signifikan yaitu dari
produksi Qgross/Qnett/KA : 80 bfpd/ 68 bcpd/
KA 15%, Qgas pada Sep HP 150 psi = 1.2422
MMscf dengan choke 13, menjadi Qgross/
Qnett/ KA : 262 bfpd/ 236bcpd/ KA 9.8%,
Qgas pada Sep HP 500 psi = 4.3387MMscf
dengan choke 09. Keberhasilan produksi pada
reservoir tight ini membuka peluang
bertambahnya cadangan gas (IGIP) struktur M
Blok A menjadi 112 BCF dari awalnya sekitar
89 BCF, dan sisa cadangan gas struktur M
Blok A setelah dikurangi kumulatif produksi
menjadi 73 BCF atau setara dengan 13.196
MBOE.


Pendahuluan

Usulan sumur pemboran A2 terletak
pada Lapangan M Blok-A yang termasuk
dalam wilayah kerja Field Prabumulih PT.
PERTAMINA EP Region Sumatra. Sumur
pemboran ini bertujuan untuk menambah titik
serap, pembuktian potensi hidrokarbon dan
pengembangan lapangan M Blok A ke arah
barat, serta untuk memenuhi kebutuhan gas
konsumen Sumatra Selatan.
Lapangan M Blok A mempunyai
reservoir yang berada pada Formasi Baturaja.
Ketebalan formasi ini bervariasi antara 26
meter sampai 60 meter. Keheterogenan
karakteristik batugamping ditemukan pada
formasi baturaja yang berkembang di struktur
ini, dimana terdapat zona porous dan tight
yang berkembang secara variatif pada formasi
ini. Kondisi ini dapat dilihat dari hasil openhole
logging yang terdapat di setiap sumurnya
(gambar 1).
Performa produksi yang dihasilkan
zona porous pada struktur ini sangat bagus
dan relatif stabil (gambar 2). Hingga saat ini
Lapangan M Blok A mempunyai 5 sumur
existing. Hampir semua sumur di struktur ini
diproduksikan pada zona porous, kecuali
sumur A2 yang diproduksikan pada zona tight.
Dari hasil perhitungan cadangan pada zona
porous dengan analisa volumetrik dan material
balanced diperoleh cadangan struktur M Blok-

IATMI 10-008
2
A (IGIP) mencapai 89 BCF, dan bila
mengikutsertakan perhitungan pada zona
tight, cadangan struktur M Blok-A bisa
mencapai 112 BCF. Data tekanan reservoir
pada zona ini mencapai 2200psi (ref BRG-
02).
Untuk memproduksikan zona tight ini,
dilakukan perforasi pada selang kedalaman
1826.5 1830.5 m dengan menggunakan
Tubing Gun TCP 3 3/8 34BX 6 spf, dan
diperoleh hasil pada SA/13 dengan
Qgross/Qnett/KA : 80 bfpd/ 68 bcpd/ KA 15%,
Qgas pada Sep HP 150 psi = 1.2422 MMscf,
Qgas pada Sep LP 15 psi = 0.3411 MMscf,
dan tekanan Ptbg/Pflow : 400/170 psi.
Dilihat dari kondisi cadangan yang
cukup besar, data Master Log yang
menunjukkan zona prospek gas, dan hasil
analisa petrofisik dari data openhole logging
yang mengindikasikan bahwa zona ini tight,
maka pelaksanaan stimulasi dengan cara
matrix acidizing diharapkan dapat membantu
dalam meningkatkan konduktivitas sumur &
pengurasan reservoir hidrokarbon pada
formasi ini.


Metodologi

Metode pendekatan yang dilakukan
pada karya tulis ini adalah dengan melakukan
analisa penentuan sumur A2 sebagai sumur
kandidat, analisa pelaksanaan pekerjaan,
serta mengevaluasi tingkat keberhasilan
pekerjaan stimulasi matrix acidizing dengan
membandingkan parameter indikator
keberhasilan sebelum dan setelah pekerjaan
stimulasi tersebut dilakukan.
Matriks Acidizing adalah proses
penginjeksian asam ke dalam formasi pada
tekanan di bawah tekanan rekah dengan
tujuan agar reaksi menyebar ke formasi
batuan secara radial. Dalam pelaksanaan
matrix acidizing dilakukan evaluasi log dan
perancanaan desain yang cocok untuk sumur
A2. Sasaran yang akan dicapai adalah
menginjeksikan asam jangkauan asam
mencapai ke dalam formasi dan diharapkan
terjadi peningkatan permeabilitas di sekitar
lubang sumur, serta peningkatan Productivity
Index. Dari hasil pelaksanaan tersebut
dilakukan evaluasi apakah dari pelaksanaan
tersebut memberikan hasil sesuai dengan
sasaran yang diharapkan.


Pembahasan

Evaluasi A2 sebagai kandidat stimulasi
Kandidat sumur stimulasi matrix
acidizing dapat ditentukan dengan melakukan
tinjauan pada beberapa parameter penting,
yaitu :
- Analisa Log
Dari hasil pemboran sumur A2,
berdasarkan data Mud Logging Unit dan
openhole logging diperoleh Formasi Baturaja
dengan ketebalan 26 meter, terdiri dari 11
meter zona porous dan 15 meter zona tight.
Berdasarkan data Mud Logging Unit, pada
zona tight menunjukkan prospek hidrokarbon
berupa gas dengan nilai Total Gas 29 Unit dan
kandungan gas chromatograph mencapai nC5
sebesar 2 ppm (gambar 3). Dengan
menggunakan data openhole logging,
menunjukkan nilai resistivity pada zona tight ini
sebesar 100 ohmmeter dan hasil evaluasi
karakteristik petrofisik diperoleh nilai porositas
sekitar 4-8%, permeabilitas 0,1-0,4 mD, serta
SW 40%. Hasil evaluasi petrofisik juga
menunjukkan bahwa zona tight ini mempunyai
kandungan gas (gambar 4).
Dari analisa log tersebut dapat dilihat
bahwa lapisan ini merupakan kandidat yang
cocok untuk dilakukan stimulasi dengan matrix
acidizing (CarboStim) yaitu pengasaman untuk
batuan karbonat, karena seperti diketahui
bahwa Formasi Baturaja merupakan formasi
dengan litologi batuan karbonat.
- Cadangan
Lapisan BRF sumur A2 masih
memiliki sisa cadangan terambil yang
ekonomis dan menarik yaitu sebesar 78 BCF
(belum termasuk kemungkinan kondensat
yang bisa diproduksikan) dengan
permeabilitas yang kecil, sehingga pekerjaan
stimulasi Matrix acidizing perlu dilakukan untuk
meningkatkan laju pengurasan reservoir
hidrokarbon pada lapangan ini.
- Performance Reservoir dan Produksi
Pada struktur ini telah terbukti
mengandung reservoir hidrokarbon, yang
berupa gas dan kondensat. Jika dilihat dari
sumur referensinya yaitu BRG-01 dan BRG-
02, lapisan BRF merupakan reservoir dengan
laju produksi yang cukup tinggi, dengan PI
rata-rata 0.2-0.9 bpd/psi.
Productivity index (PI) yang terjadi
sebelum stimulasi pada Sumur A2 yaitu 0.06
bpd/psi. Dengan harga PI yang cukup kecil
menunjukkan bahwa pengurasan reservoir
membutuhkan waktu yang lama dan kurang
maksimal. Oleh karena itu, usulan untuk
dilakukan stimulasi diperlukan untuk
meningkatkan PI dan juga untuk mempercepat
laju pengurasan hidrokarbon.




IATMI 10-008
3
Pelaksanaan Stimulasi
Tujuan utama acidizing adalah untuk
memperbaiki produktivitas sumur, yaitu
dengan menciptakan suatu jalur konduktif
untuk hidrokarbon mengalir ke wellbore.
Formula Acid yang digunakan pada pekerjaan
ini bertujuan untuk melarutkan karbonat di
dalam formasi, sehingga rekahan-rekahan di
dalam formasi terhubung dan menciptakan
suatu jalur konduktif.

Tahapan dalam pelaksanaan Stimulasi Matrix
acidizing di Sumur A2 :
A. Preflush
Preflush diperlukan untuk
mempersiapkan formasi sebelum stimulasi,
sehingga formasi dapat menerima acid yang
diinjeksikan tanpa menimbulkan damage.
Preflush mutual solvent yang diinjeksikan
terdiri dari water, mutual solvent, potasssium
chloride dan non ionic surfactant. Preflush
yang diinjeksikan yaitu sejumlah 29 bbl.
B. Perforation Wash
Perforation Wash sejumlah 29 bbl
dilakukan untuk membersihkan / melarutkan
material atau scale di sekitar sumur, yaitu di
sekitar pipa produksi (tubing) atau juga di
sekitar zona perforasinya.
C. SXE 20 Main Acid
Super X Emulsion adalah suatu
sistem konsentrasi asam yang kental dan
diperlambat prosesnya, didesain untuk matrix
acidizing maupun acid fracturing pada formasi
karbonat. Dalam tahap ini juga ditambahkan
beberapa additive lainnya. Jumlah Main Acid
yang dipompakan sebesar 21 bbl dari
rencana 64 bbl. Monitoring tekanan selama
pemompaan amatlah penting. Hal itulah yang
menjadi indikator dalam pengontrolan
penetrasi air ke zona produksi. Pemompaan
dihentikan saat treating pressure di
permukaan hanya mengindikasikan friction
pressure, ini dilakukan untuk menghindari
acid bekerja di zona air yang dikhawatirkan
akan memperbesar konduktivitas air yang
pada akhirnya akan meningkatkan kadar air
selama produksi.
Perhitungan jangkauan penetrasi
asam dapat kita lihat dari volume acid yang
kita pompakan. Pada saat eksekusi, friction
pressure tercapai pada 21 barrel, sehingga
pemompaan dihentikan. Dengan
menggunakan radius penetrasi yang
diperoleh dari treating 21 bbl acid ini, dapat
diketahui bahwa damage hanya ada sampai
2.8 ft. Dengan kata lain, kerja acid efektif
sampai dengan radius penetrasi 2.8 ft, bukan
4.5 ft seperti saat perencanaan.
D. Brine Overflush
Overflush adalah proses
mendorong acid masuk ke dalam formasi.
Caranya dengan menginjeksikannya melebihi
volume yang dibutuhkan, tujuannya utuk
membersihkan sisa acid dalam casing dan
tubing serta memastikan seluruh main acid
telah masuk ke dalam formasi. Komposisi
cairan overflush yang diinjeksikan sama
dengan komposisi yang diinjeksikan saat
preflush. Total overflush yang dipompakan
sebesar 64 bbl.
E. Brine Displacement
Terdiri dari larutan fresh water dan
Pottasium Chloride yang berfungsi untuk men-
displace fluida di sepanjang string dan
wellbore. Total displacement yaitu 40 bbl.

Setelah semua tahap matrix acidizing
dilakukan, unload dilakukan dengan
menggunakan Coil Tubing Unit.

Evaluasi Hasil Kegiatan Stimulasi
Sebelum stimulasi dilakukan, produksi
sumur A2 jika dilakukan sensitivitas nodal
dengan software Pipesim, didapat skin = 5
dengan permeabilitas 4 mD. Belum optimalnya
produksi diakibatkan oleh kecilnya
permeabilitas dari formasi yang diakibatkan
adanya damage yang kemungkinan besar
ditimbulkan dari lumpur pemboran. Dapat
dilihat dari hasil sensitivitas, setelah dilakukan
pekerjaan matriks acidizing terjadi peningkatan
nilai permeabilitas menjadi 10 mD dengan skin
= -1 yang menunjukkan tingkat keberhasilan
dari pekerjaan stimulasi (gambar 5 & 6).
Selain itu, keberhasilan stimulasi
dapat dilihat dari peningkatan PI (Productivity
Index) sebelum dan sesudah pekerjaan
stimulasi.

Perhitungan harga Productivity Index (PI)
sebelum dilakukan acidizing :
PI= Q/(Ps-Pwf)= 80/(2200-923)=0.06 bfpd/Psi
(ref tekanan dari BRG-02)

Perhitungan harga Productivity Index (PI)
setelah dilakukan acidizing :
PI= Q/(Ps-Pwf)= 260/(2147-563)=0.2 bfpd/Psi

Dari pekerjaaan stimulasi ini juga diperoleh
nilai Flow Efiesiensi sebagai berikut :
FE = PI sesudah / PI sebelum = 0.2/0.06 = 3.3
(baik, jika nilai FE>1)
Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat
bahwa pekerjaan Stimulasi Matrix acidizing
yang dilakukan dapat mengurangi harga skin
yang terjadi pada formasi yang membuat nilai
Q yang di dapat juga meningkat dan PI
menjadi lebih besar. Sehingga dapat dikatakan

IATMI 10-008
4
bahwa pekerjaan Stimulasi Matrix acidizing
berhasil.


Kesimpulan

1. Berdasarkan data Mud Logging Unit dan
openhole logging sumur A2 diperoleh
Formasi Baturaja yang mempunyai zona
tight dengan ketebalan 16 meter dan
memiliki kandungan gas chromatograph
mencapai nC5 sebesar 2 ppm, nilai
resistivity sebesar 100 ohmmeter,
porositas sekitar 4-8%, permeabilitas 0,1-
0,4 mD, dan SW 40%.
2. Belum optimalnya produksi diakibatkan
oleh kecilnya permeabilitas dari formasi
yang diakibatkan adanya damage yang
kemungkinan besar ditimbulkan dari
lumpur pemboran.
3. Matriks Acidizing adalah proses
penginjeksian asam ke dalam formasi
pada tekanan di bawah tekanan rekah
dengan tujuan agar reaksi menyebar ke
formasi batuan secara radial, dan
diharapkan terjadi peningkatan
permeabilitas di sekitar lubang sumur,
serta peningkatan Productivity Index.
4. Produksi A2 sebelum distimulasi pada
SA/13 dengan Qgross/Qnett/KA : 80 bfpd/
68 bcpd/ KA 15%, Qgas pada Sep HP 150
psi = 1.2422 MMscf, Qgas pada Sep LP
15 psi = 0.3411 MMscf, dan tekanan
Ptbg/Pflow : 400/170 psi, menjadi
Qgross/Qnett/KA : 262 bfpd/ 236 bopd/
KA 9.8% Qgas pada Sep HP 500 psi =
4.3387MMscf dengan choke 09 setelah
distimulasi.
5. Pekerjaan Stimulasi Matrix acidizing yang
dilakukan dapat mengurangi harga skin
yang terjadi pada formasi (peningkatan
permeabilitas) yang membuat nilai Q yang
didapat juga meningkat dan PI menjadi
lebih besar. Sehingga dapat dikatakan
bahwa pekerjaan Stimulasi Matrix
acidizing berhasil.


Saran

1. Sebaiknya dilakukan pengambilan data
seismik 3D untuk mendapatkan data
penyebaran lateral yang lebih akurat.
2. Penerapan prinsip Good Candidate Good
Result dalam stimulasi sebaiknya
diaplikasikan untuk sumur-sumur lain.
3. Desain stimulasi dari sumur ini dapat
dijadikan acuan untuk perancangan untuk
stimulasi berikutnya pada tipe reservoir
yang sama sehingga bisa lebih efektif.


Daftar Pustaka
BJ Services, One Day Acid School.
Economides, Michael.J, Petroleum Production
Systems, PTR Prentice Hall, New Jersey,
1994.
Pertamina EP, KKW Teknik Produksi BPS
HULU BATCH II, 2008.
UPN Veteran, Studi GGR & Simulasi
Reservoir Lapangan M, Yogyakarta, 2008.
Schlumberger, CarboSTIM* Treatment Post
Job Report for well A2, 2002.



IATMI 10-008
5
2002 03 04 05 06 07 08 09
10
50
100
500
1000
1
5
10
50
100
Dat e
G
r
o
s
s
,

N
e
t

(
b
b
l
/
d
)
W
C

(
%
)
G
a
s

P
r
o
d
u
c
e
d

(
M
c
f
)
G
O
R

(
c
f
/
b
b
l
)
2002 03 04 05 06 07 08 09
1000
5000
10000
10
4
10
5
10
6
Dat e
G
r
o
s
s
,

N
e
t

(
b
b
l
/
d
)
W
C

(
%
)
G
a
s

P
r
o
d
u
c
e
d

(
M
c
f
)
G
O
R

(
c
f
/
b
b
l
)
Axis 1
: Daily Oil Produced
: Liquid Rate (bbl/d)
Axis 2
: Water Cut (%)
Axis 1
: Daily Gas Produced
: Gas Ratio (cf/bbl)
Axis 2
Shut in (perbaikan f lowline)












































Gambar 1. Korelasi Sumur di Lapangan M Blok-A
Gambar 2. Performa Produksi Sumur A
A2 A2X A A1

IATMI 10-008
6
Tight
Zone













































Gambar 3. Master Log Sumur A2
Gambar 4. Openhole Logging dan Evaluasi Petrofisik Sumur A2
A2

IATMI 10-008
7



Rate setelah stimulasi 4.3
mmscf, didaoat
sensitifitas skin -1 & k=10
md
Rate sebelum stimulasi
1,3 mmscf, dengan
sensitivitas skin=5, maka
k= 4 md
Rate setelah stimulasi
260bfpd, didaoat
sensitifitas skin -1 & k=10
md
Rate sebelum stimulasi
80 bfpd, dengan
sensitivitas skin=5, maka
k= 4 md
Gambar 5. Sensitivitas Permeabilitas & Skin untuk Produksi Gas
sebelum & sesudah Stimulasi

Gambar 6. Sensitivitas Permeabilitas & Skin untuk Produksi Liquid
sebelum& sesudah Stimulasi