Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sudah beribu-ribu tahun manusia melakukan proses perebusan (boiling) air menjadi
uap air, tetapi baru dua abad ini ditemukan bagaimana cara mempergunakan uap untuk
kebutuhan yaitu dengan diciptakannya boiler. Boiler menghasilkan uap dan uap yang
dihasilkan ini dapat dugunakan untuk membangkitkn listrik, menggerkkan turbin dan
sebagianya.
Uap air merupakan gas yang timbul akibat perubahan fase air menjadi uap dengan cara
pendidihan (boiling). Untuk melakukan proses pendidihan diperlukan energi panas yang
diperoleh dari sumber panas, misalnya dari pembakaran bahan bakar (padat, cair, gas), tenaga
listrik dan gas panas sebagai sisa proses kimia serta tenaga nuklir.
Menurut UNEP (2006), Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran
dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan
tertentu kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air adalah media
yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air dididihkan sampai
menjadi steam, volumnya akan meningkat sekitar 1.600 kali, menghasilkan tenaga yang
menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak, sehingga boiler merupakan peralatan yang
harus dikelola dan dijaga dengan sangat baik. Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan,
sistem steam dan sistem bahan bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara
otomatis sesuai dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan
perawatan dan perbaikan. Sistem steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam
dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan
sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat pemantau tekanan.
Sistem bahanbakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk menyediakan bahan bakar
untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan
bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan pada sistem. Berdasarkan fluida
yang mengalir dalam pipa, maka boiler dikalsifikasikan sebagai : Boiler pipa api (fire tube
boiler) dan Boiler pipa air (water tube boiler).
Oleh sebab itu, penulis membuat makalah ini. Selain untuk melengkapi tugas yang telah
diberikan juga untuk membahas mengenai boiler terutama water tube boiler agar pembaca lebih
memahami mengenai alat pemanas boiler tersebut.

2

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Mempelajari apa itu water tube boiler
b. Mempelajari cara kerja water tube boiler
c. Mengetahui karakterisitik water tube boiler

1.3. Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Mendapatkan tambahan ilmu tentang water tube boiler
b. Memahami dan mengerti bagaimana cara kerja water tube boiler
c. Bisa menjelaskan apa itu water tube boiler, karakteristik serta cara kerja nya.

1.4. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Apa yang dimaksud dengan water tube boiler?
b. Bagaimana cara kerja dari water tube boiler?
c. Apa kekurangan dan kelebihan menggunakan water tube boiler?


3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Water Tube Boiler


Gambar 2.1 Bagian-Bagian dari Water Tube Boiler
Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air sampai
terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu kemudian
digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses.
Pada water tube boiler, air umpan boiler mengalir melalui pipa pipa masuk ke dalam
drum. Air yang tersikulasi dipanaskan oleh gas pembakar membentuk steam pada daerah uap
dalam drum. Boiler ini dipilih jika kebutuhan steam dan tekanan steam sangat tinggi seperti
pada kasus boiler untuk pembangkit tenaga. Water tube boiler yang sangat modern dirancang
dengan kapasitas steam antara 4.500-12.000 kg/jam, dengan tekanan sangat tinggi. Banyak
water tube boiler yang dikonstruksi secara paket jika digunakan bahan bakar minyak bakar
dan gas. Untuk water tube boiler yang menggunakan bahan bakar padat, tidak umum
dirancang secara paket.
Tipe boiler pipa air memiliki karakteristik : menghasilkan kapasitas dan tekanan steam
yang tinggi.
Cara Kerja : proses pengapian terjadi diluar pipa, kemudian panas yang dihasilkan
memanaskan pipa yang berisi air dan sebelumnya air tersebut dikondisikan terlebih dahulu
melalui economizer, kemudian steam yang dihasilkan terlebih dahulu dikumpulkan di dalam
4

sebuah steam-drum. Sampai tekanan dan temperatur sesuai, melalui tahap secondary
superheater dan primary superheater baru steam dilepaskan ke pipa utama distribusi.
Didalam pipa air, air yang mengalir harus dikondisikan terhadap mineral atau kandungan
lainnya yang larut di dalam air tesebut. Hal ini merupakan faktor utama yang harus
diperhatikan terhadap tipe ini.

2.2 Kelebihan dan Kekurangan Water Tube Boiler
Adapun kelebihan water tube boiler sebagai berikut :
a. Kapasitas steam besar sampai 450 TPH
b. Tekanan operasi mencapai 100 bar
c. Nilai effisiensinya relatif lebih tinggi dari fire tube boiler
d. Tungku mudah dijangkau untuk melakukan pemeriksaan, pembersihan, dan
perbaikan.
Adapun kekurangan water tube boiler sebagai berikut :
a. Proses konstruksi lebih detail
b. Investasi awal relatif lebih mahal
c. Penanganan air yang masuk ke dalam boiler perlu dijaga, karena lebih sensitif untuk
sistem ini, perlu komponen pendukung untuk hal ini
d. Karena mampu menghasilkan kapasitas dan tekanan steam yang lebih besar, maka
konstruksinya dibutuhkan area yang luas

2.3 Komponen Penyusun
Dalam unit ketel uap jenis pipa air terdapat komponen-komponen yang terdiri dari :
1. Drum.
Upper drum berfungsi untuk menampung uap yang dihasilkan oleh pipa-pipa
penguapan. Pada upper drum dipasang peralatan berupa plat penyekat yang disebut
priming plate, steam separator dan anti priming plate. Ketiga peralatan tersebut
mempunyai fungsi yang berlainan :
a. Anti priming plate untuk mencegah agar tidak tercampurnya air dari air pengisi ketel
dengan
air yang telah dipanaskan melalui pipa-pipa.
5

b. Priming plate untuk mencegah terjadinya gejolak atau meredam gejolak yang terjadi
bila air
dari pipa yang telah dipanaskan masuk ke dalam upper drum.
c. Steam separator untuk mencegah / mengurangi kandungan air akibat dari penguapan air
di
upper drum yang masuk ke superheater.
Selain alat tersebut diatas pada upper drum juga dipasang pipa untuk continous blow
down, dimana pipa ini berfungsi untuk mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada pada upper
drum dengan jalan mengontrol total disolved solid (TDS).
Lower drum berfungsi untuk menampung air yang akan diuapkan oleh steam
generating tube maupun water wall tube. Pada lower drum, side header, rear header ataupun
front header dipasang valve blow down manual (Spei).
2. Pipa - pipa ketel
Jenis pipa - pipa ketel pada ketel pipa air antara lain :
a. Generatting tube (evaporator tube)
berfungsi untuk penguapan / menguapkan air atau mempercepat proses penguapan, oleh
karena itu generatting tube diameternya lebih kecil dari pipa lainnya
b. Down comer Tube
Pada umumnya pipa down comer ini dipasang pada posisi yang tidak tertutup oleh anti
priming plate. Karena air dari pipa air pengisi ketel dipancarkan langsung mengarah
pada
down comer tube. Down comer tube terbagi dalam : Side down comer, dan Front down
comer
c. Super heater tube
berfungsi sebagai pembentuk / penghasil uap kering, dengan jalan memanaskan
kembali uap dari upper drum. dimana uap dari upper drum di alirkan di dalam
superheater dan bagian luar pipa ini terkena gas panas yang mempunyai temperatur
sangat tinggi sehingga butiran- butiran air akan menguap di dalam superheater dan
diperoleh uap kering
d. Front header tube,
side header tube dan rear header tube berfungsi sebagai pipa penguapan air, dimana
pipa-pipa tersebut langsung berhubungan atau bersinggungan dengan api.
e. Screen water tube / stag screen
6

berfungsi sebagai pipa penguapan dan juga berfungsi sebagai pelindung atau tirai dari
super
heater tube.
3. Air heater
Berfungsi untuk menaikkan suhu udara pembakaran sebelum masuk keruang
pembakaran. Pelaksanaanya dengan memanfaatka panas gas asap (gas buang) sebelum
dibuang kecerobong dilewatkan air heater. Gas asap lewat di dalam pipa air heater sedangkan
udara lewat diluar pipa air heater sehingga perpindahan panas terjadi tanpa percampuran
antara gas asap dengan udara yang dipanaskan.
4. Rangka bakar
Berfungsi sebagai sarangan dari suatu ketel yang berbahan bakar ampas cukup lembut.
Alat ini terdiri dari kepingan besi tuang yang berlubang kecil-kecil, alat ini membuka dan
menutup untuk membuang abu sisa pembakaran. Udara bakar primer masuk lewat lubang-
lubang rangka bakar dan sela-sela rangka bakar
5. Baggase feeder (pengumpan ampas)
Berfungsi untuk memasukkan ampas kedalam ruang pembakaran. Rpm dari baggas
feeder bisa diatur secara manual atau outomatis dari ruang operator sesuai dengan kebutuhan
ampas.
6. Burner
Berfungsi untuk menaikkan temperatur pembakaran dengan jalan menyemprotkan
bahan bakar pengganti ampas. Alat ini digunakan apabila kondisi ampas kurang atau habis.
Bahan bakar yang dipakai biasanya residu yang sebelumnya dipanasi dulu sampai temperatur
80 C.
7. Deaerator
Berfungsi untuk menghilangkan kandungan oksigen di dalam air pengisi ketel dengan
cara menaikkan temperatur 105 C.
8. Pompa air pengisi ketel (boiler feed water pump)
Berfungsi untuk memasukkan air pengisi ketel dari deaerator ke dalam ketel. di PG.
Pesantren Baru untuk ketel Takuma dilayani oleh 1 buah pompa pengisi air ketel yang
digerakkan oleh turbin uap dan 1 pompa lagi sebagai cadangan yang digerakkan oleh elektro
motor sedangkan untuk 2 unit ketel Yoshimine I dan II hanya dilayani 1 buah pompa pengisi
air ketel yang digerakkan oleh turbin uap dan 1 pompa lagi sebagai cadangan yang
digerakkan oleh elektro motor.
9. IDF (Induced Draft Fan)
7

Berfungsi untuk menarik/menghisap gas dari ruang pembakaran keluar lewat cerobong
sehingga rung pembakaran mempunyai tekanan negativ.
10. FDF (Force Draft Fan)
Berfungsi untuk menghembuskan udara kedalam dapur pembakaran dengan melewati
air heater yang mempunyai tekanan positif.
11. Distribusi air fan
Berfungsi untuk menghembuskan/melemparkan ampas yang keluar dari baggase feeder
kedalam dapur. Maksudnya untuk meratakan dan menguraikan jatuhnya ampas di dalam
dapur.
12. Shoot blow (Blazer )
Adalah suatu alat yang digunakan untuk membersihkan jelaga yang menempel pada
pipa-pipa ketel, sehingga dapat menjaga efisiensi ketel. Alat ini bekerja dengan semprotan
berputar yang mana tempat-tempat sudah ditentukan. Bahan penyemprotnya adalah uap baru
yang diambil dari ketel itu sendiri.
13. Cerobong
Berfungsi sebagai saluran buang gas asap yang menjulang tinggi. Diharapkan dengan
ketinggiannya akan diperoleh tarikan alam.

2.4 Dasar Teori Perhitungan Efisiensi Boiler
2.4.1 Neraca Panas
Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam bentuk diagram alir energi.
Diagram ini menggambarkan secara grafis tentang bagaimana energi masuk dari bahan bakar
diubah menjadi aliran energi dengan berbagai kegunaan dan menjadi aliran kehilangan panas
dan energi. Panah tebal menunjukan jumlah energi yang dikandung dalam aliran masing-
masing.








8










Gambar 2.2 Diagram Neraca Energi Boiler
Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk boiler terhadap yang
meninggalkan boiler dalam bentuk yang berbeda. Gambar berikut memberikan gambaran
berbagai kehilangan yang terjadi untuk pembangkitan steam. Kehilangan energi dapat dibagi
kedalam kehilangan yang tidak dapatdihindarkan dan kehilangan yang dap at dihindarkan.
Tujuan dari pengkajian energi adalah agar rugi-rugi/kehilangan dapat dihindari, sehingga
dapat meningkatkan efisiensi energi. Rugi-rugi yang dapat diminimalisasi antara lain:
a. Kehilangan gas cerobong:
Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang tergantung dari
b. teknologi burner, operasi (kontrol), dan pemeliharaan).
Suhu gas cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan perawatan (pembersihan), beban;
burner yang lebih baik dan teknologi boiler).
c. Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan abu
(mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang lebih baik).
d. Kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang kondensat)
e. Kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin kondensat)
f. Kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi boiler yang lebih Baik)

2.2.2 Nilai Pembakaran Bahan Bakar
Bahan bakar adalah zat kimia yang apabila direaksikan dengan oksigen (O2) akan
menghasilkan sejumlah kalor. Bahan bakar dapat berwujud gas, cair, maupun padat. Selain
itu, bahan bakar merupakan suatu senyawa yang tersusun atas beberapa unsur seperti karbon
(C), hidrogen (H), belerang (S), dan nitrogen (N). Kualitas bahan bakar ditentukan oleh
kemampuan bahan bakar untuk menghasilkan energi. Kemampuan bahan bakar untuk
menghasilkan energi ini sangat ditentukan oleh nilai bahan bakar yang didefinisikan sebagai
9

jumlah energi yang dihasilkan pada proses pembakaran per satuan massa atau persatuan
volumebahan bakar. Nilai pembakaran ditentukan oleh komposisi kandungan unsur di dalam
bahan bakar. Dikenal dua jenis pembakaran (ESM, Tambunan, Fajar H Karo
1984:33), yaitu:
1. Nilai Kalor Pembakaran Tinggi
Nilai kalor pembakaran tinggi atau juga dikenal dengan istilah High Heating Value (HHV)
adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan air dari proses pembakaran ikut
diperhitungkan sebagai panas dari proses pembakaran. Dirumuskan dengan:
HHV = 7986C + 33575(H - O/8) + 2190S(4.1a)
2. Nilai Kalor Pembakaran Rendah
Nilai kalor pembakaran rendah atau juga dikenal dengan istilah Low Heating Value (LHV)
adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan uap air dari hasil pembakaran tidak ikut
dihitung sebagai panas dari proses pembakaran. Dirumuskan dengan:
LHV = HHV 600(9H + Mm)...(4.1b)
Dimana Mm merupakan kelembaban bahan bakar.

2.2.3 Kebutuhan Udara Pembakaran
Pembakaran adalah proses persenyawaan bagian dari bahan bakar dengan O2 dengan disertai
kalor. Pembakaran akan terjadi jika titik nyala telah dicapai oleh campuran bahan bakar
dengan udara. Di dalam teknik pembakaran diperlukan jumlah udara yang memadai (udara
berlebih) sehingga pembakaran yang terjadi akan sempurna. Untuk mengetahui jumlah
keperluan udara pada proses pembakaran harus diketahui kandungan O2 dalam udara.
Komposisi unsur-unsur yang terkandung dalam udara menurut satuan berat (buku STEAM its
generation and use, Babcok and Willcox, table 4 hal 9-5) adalah:
02 sebanyak 23%
N2 sebanyak 77%
Kebutuhan udara pembakaran didefinisikan sebagai kebutuhan oksigen yang diperlukan
untuk pembakaran 1 kg bahan bakar secara sempurna (ESM. Tambunan, Fajar H karo
1984:34), yang meliputi:
a. Kebutuhan udara teoritis (Ut):
Ut = 11,5C + 34,5(H O/8) + 4,32 S (kg/kgBB)(4.2a)
b. Kebutuhan udara pembakaran sebenarnya/aktual (Us):
Us = Ut (1+) (kg/kgBB).(4.2b)

10

2.2.4 Gas Asap
Reaksi pembakaran akan menghasilkan gas baru, udara lebih dari sejumlah energi. Senyawa-
senyawa yang merupakan hasil dari reaksi pembakaran disebut gas asap. (ESM. Tambunan,
Fajar H karo 1984:34)
a. Berat gas asap teoriti (Gt)
Gt = Ut + (1 A)(kg/kgBB)..(4.3a)
Dimana A = kandungan abu dalam bahan bakar (ash).
W O2
Atau:
a. Berat gas asap sebenarnya (Gs)
Gs = Us + (1 A) (kg/kg BB)(4.3b)
Untuk menentukan komposisi dari gas asap didapatkan:
Kadar gas = (W gas tersebut / W total gas) x 100%

2.2.5 Karbon Yang Tidak Terbakar
Dari proses pembakaran selama terbentuk gas-gas asap, juga akan terbentuk solid refuse
(Msr) dimana solid refuse ini terdiri dari abu refuse (Ar), dan karbon refuse (Cr). (ESM.
Tambunan, Fajar H karo 1984:35). Persamaannya adalah:
mbb + Us = Gs + Msr...(4.4a)
sedangkan dari perhitungan refuse didapatkan persamaan:
Msr . Ar = mbb . A
Atau
Ar=mbb.AMsr100%....................................................................(4.4b)
Maka karbon yang tidak terbakar dalam terak (Cr) adalah:
Cr = 100% - Ar(4.4c)
Sehingga massa refuse (Mr) yang terjadi tiap jamnya adalah:
Mr = Cr.mbb (kg/jam)..(4.4d)
Dimana:
mbb = massa bahan bakar
Us = massa udara pembakaran sebenarnya (kg/kgBB)
Gs = berat gas asap sebenarnya (kg/kgBB)
Msr = massa solid refuse (kg/kgBB)
Ar = prosentase solid refuse dalam abu
A = prosentase abu dalam bahan bakar
11

2.4.6 Karbon Aktual Yang Habis Terbakar (Ct)
Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dalam dapur ketel tidaklah seluruhnya
digunakan untuk membentuk uap, karena sebagian panas tersebut ada yang hilang. (ESM.
Tambunan, Fajar H karo 1984:35). Panas yang hilang dari pembakaran bahan bakar dalam
dapur ketel merupakan kerugian-kerugian kalor yang diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Kerugian kalor karena bahan bakar (Q1)
Kerugian ini disebabkan karena adanya kandungan air dalam bahan bakar, dimana besarnya
dapat dirumuskan sebagai berikut:
Q1=Mm.(hg-hf).(4.6a)
Dimana:
Q1 = kerugian kalor karena kelembaban bahan bakar (btu/lb BB)
Mm = prosentase kelembaban bahan bakar
hg = entalpi uap super panas pada temperatur gas buang (btu/lb)
hf = entalpi pada temperatur udara ruang (btu/lb)
b. Kerugian kalor karena hidrogen (H) yang terdapat dalam bahan bakar (Q2)
Kerugian ini disebabkan karena kandungan unsur hidrogen (H) dalam bahan
bakar, yang bila terbakar akan bereaksi dengan oksigen dari udara dan berbentuk
uap air (H2O).
Besarnya kerugian ini dirumuskan dengan:
Q2=9Hy(hg-hf).(4.6b)
Dimana Hy = prosentase hidrogen dalam bahan bakar.
c. Kerugian kalor untuk menguapkan air yang terdapat dalam udara pembakaran (Q3) Karena
udara yang masuk ke dalam ruangan pembakaran tidak kering dan masih mengandung air,
maka terdapat panas yang hilang untuk menguapkan air yang terkandung dalam udara
tersebut. Besarnya kerugian kalor ini dapat dirumuskan dengan:
Q3=Us.Mv.0,6(tg-ta)(4.6c)
Dimana:
Us = berat udara pembakaran sebenarnya (lb/lb BB)
Mv = prosentase penguapan udara masuk dapur dikalikan dengan nilai
kelembaban udara pada temperatur ruang.
tg = temperatur gas buang (0F)
ta = temperatur ruang (0F)
d. Kerugian kalor karena pembakaran yang tidak sempurna (Q4)
Gas CO yang terdapat dalam gas asap menunjukkan bahwa sebagian bahan
12

bakar ada yang terbakar tidak sempurna. Hal ini terjadi karena kekurangan udara
atau distribusi udara yang kurang baik.
Kerugian kalor akibat pembakaran yang tidak sempurna ini dirumuskan dengan:
Q4=COCO2+CO10160C1(2.6d)
Dimana:
CO = prosentase gas CO dalam asap
CO2 = prosentase gas CO2 dalam asap
C1 = karbon actual yang habis terbakar (lb/lb BB)
e. Kerugian kalor karena terdapat unsur karbon yang tidak ikut terbakar dalam sisa
pembakaran (Q5). Kerugian ini dapat dirumuskan dengan:
Q5=14540MrCrMbb.............(2.6e)
Dimana:
Mr = massa refuse (lb/jam)
Cr = prosentase karbon yang tidak terbakar dalam refuse
Mbb = laju aliran massa bahan bakar (lb/jam)
f. Kerugian cerobong (Q6)
Kerugian cerobong ini disebabkan oleh gas asap yang meninggalkan cerobong
masih mengandung energi tinggi.
Kerugian cerobong dirumuskan dengan:
Q6=Gs.Cptg-ta....(2.6f)
Dimana:
Gs = berat gas asap sebenarnya (kg/kg)
tg = temperatur gas buang (0K)
ta = temperatur udara ruang (0K)
Cp = panas jenis rata-rata dari gas asap (kJ/kg0K)
g. Kerugian kalor karena radiasi dan lain-lain (Q7)
Terjadi akibat penghantaran dan pemancaran panas dari peralatan ketel, misalnya pada badan
ketel dan lain-lain.
Besarnya kerugian ini dirumuskan dengan:
Q7=4%.LHV.(2.6g)
Apabila rugi-rugi kalor tersebut di atas dinyatakan dalam prosentase, maka persamaannya
adalah sebagai berikut:
Qn*=QnLHV100%................................................................................(4.6h)
Dimana Qn merupakan rugi-rugi kalor dari Q1 sampai Q7
13

2.2.7 Rumus Perhitungan Efisiensi Ketel Uap
Dengan diketahuinya kerugian-kerugian kalor dari hasil pembakaran pada suatu ketel, maka
dapat dihitung efisiensi dari ketel tersebut, yang besarnya dirumuskan:
= LHV-rugi2 totalLHV100%
= 100%-(Q1+Q2+Q3+Q4+Q5+Q6+Q7)..(2.7)
(w. Culp, Archie. Jr.1989:211)

2.2.8 Rumus Perhitungan Kapasitas Produksi Ketel Uap (Mu)
Dirumuskan dengan:
Mu=Qair.air.F.(4.8)
Dimana:
Qair = debit air (m3/jam)
air= massa jenis air (kg/m3)
F = faktor koreksi terhadap kotoran dan endapan

2.2.9 Perhitungan Efisiensi Berdasarkan Neraca Kalor
Dikenal juga sebagai metode input-output karena kenyataan bahwa metode ini hanya
memerlukan keluaran/output (steam) dan panas masuk/input (bahan bakar) untuk evaluasi
efisiensi.
Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan menggunakan rumus:
Efisiensi Boiler (h ) = panas keluar /panas masuk x 100%.......................................(4.9a)
Efisiensi Boiler (h ) = Q(hg-hf)qLHVx 100%............................................(4.9b)
Parameter yang dipantau untuk perhitungan efisiensi boiler dengan metode langsung adalah:
Jumlah steam yang dihasilkan per jam (Q) dalam kg/jam
Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (q) dalam kg/jam
Tekanan kerja (dalam kg/cm2(g)) dan suhu lewat panas (0C), jika ada
Suhu air umpan (0C)
Dimana:
hg = Entalpi steam jenuh dalam kkal/kg steam
hf = Entalpi air umpan dalam kkal/kg air

14

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air sampai
terbentuk air panas atau steam. Berdasarkan fluida yang mengalir dalam pipa, maka
boiler dikalsifikasikan sebagai : Boiler pipa api (fire tube boiler) dan Boiler pipa air
(water tube boiler).
2. Tipe boiler pipa air memiliki karakteristik : menghasilkan kapasitas dan tekanan
steam yang tinggi.
3. Kelebihan water tube boiler
a. Kapasitas steam besar sampai 450 TPH
b. Tekanan operasi mencapai 100 bar
c. Nilai effisiensinya relatif lebih tinggi dari fire tube boiler
d. Tungku mudah dijangkau untuk melakukan pemeriksaan, pembersihan, dan
perbaikan.
4. Kekurangan water tube boiler
a. Proses konstruksi lebih detail
b. Investasi awal relatif lebih mahal
c. Penanganan air yang masuk ke dalam boiler perlu dijaga, karena lebih sensitif
untuk sistem ini, perlu komponen pendukung untuk hal ini
d. Karena mampu menghasilkan kapasitas dan tekanan steam yang lebih besar, maka
konstruksinya dibutuhkan area yang luas
5. Effisiensi boiler dapat dihitung menggunakan rumus-rumus yang telah ditentukan.

3.2 Saran
Disarankan agar pembaca bisa mempelajari peralatan-peralatan utilitas pada proses
industri kimia, dan pembaca bisa mempelajari jenis-jenis lain dari boiler untuk menambah
pemahaman tentang boiler dan proses industri kimia.


15


DAFTAR PUSTAKA

Artikel teknik mesin, 2011. Jenis-jenis boiler. http://atmesin.blogspot.com/2013/03/jenis-
jenis-boiler-berdasarkan-tipe-pipa_3467.html di akses pada tanggal 07 Januari
2014 pukul 21.00 Wib
Arwana, Susanto. 2012. Tugas Khusus Boiler. www.scrib.com di akses pada tanggal 07
Januari 2014 pukul 21.00 Wib
Bambang. 2011. Boiler. http://dasanusantara.blogspot.com/2010/04/komponen-ketel-pipa-air-
water-tube.html di akses pada tanggal 07 Januari 2014 pukul 21.00 Wib