Anda di halaman 1dari 8

1

Potensi Manfaat Sewa BMN



Abstraksi

Amanat pengelolaan keuangan Negara yang ekonomis, efisien, dan efektif tidak
terlepas dari pengelolaan salah satu komponennya yaitu barang milik Negara (BMN).
Pengelolaan BMN merupakan siklus dari perencanaan sampai dengan pengendalian.
Pemanfaatan BMN merupakan salah satu bagian dari siklus yang mempunyai peluang cukup
besar dalam pengelolaan BMN yang kurang optimal apabila tidak dicermati potensi yang ada.
Salah satu bentuk pemanfaatan BMN adalah sewa. Sewa BMN mempunyai potensi yang
sangat besar karena setiap BMN yang tidak digunakan atau dalam kondisi idle seharusnya dapat
dimanfaatkan untuk sewa. Dengan adanya sewa, BMN yang sudah diperoleh dapat memberikan
manfaat yang optimal selain untuk menunjang tugas dan fungsi pemerintah, BMN dapat
dimanfaatkan pada saat idle oleh penyewa.


Pembahasan

Pemanfaatan asset merupakan salah satu bagian dalam siklus BMN. Menurut PMK
Nomor 96/PMK.06/2007, pemanfaatan adalah pendayagunaan Barang Milik Negara yang tidak
dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kementerian negara/lembaga, dalam
bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan, dan bangun serah guna/bangun guna serah
dengan tidak mengubah status kepemilikan.
Berdasarkan pengertian pemanfaatan asset tersebut, BMN yang dapat digunakan untuk
dimanfaatkan adalah BMN yang tidak dipergunakan sesuai tupoksi K/L sehingga diharapkan
pemanfaatan tersebut tidak mengganggu kegiatan K/L. Selain itu, hal yang sangat penting
adalah terkait dengan status kepemilikan yang tetap dimiliki oleh Negara. Dalam hal ini
perjanjian pemanfaatan harus diperjelas sehingga BMN yang dimanfaatakan oleh pihak lain
tidak berpindah kepemilikan.
Adapun jenis dari pemanfaatan BMN dalam PMK Nomor 96/PMK.06/2007 adalah
sebagai berikut:
a. sewa
b. pinjam pakai
c. kerjasama pemanfaatan
d. bangun serah guna/bangun guna serah
e. Kerja sama Penyediaan Infrastruktur (diatur dalam PP 27/2014)
2


Salah satu jenis pemanfaatan yang sangat berpotensi untuk mengoptimalkan
pemanfaatan dan menghasilkan penerimaan bagi Negara adalah sewa. Menurut PMK Nomor
33/PMK.06/2012, sewa adalah pemanfaatan BMN oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu
dan menerima imbalan uang tunai.
Dasar hukum yang digunakan dalam pemanfaatan asset BMN dengan cara sewa adalah
sebagai berikut:
1. PMK Nomor 96/PMK.06/2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan,
Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara
2. PMK Nomor 33/PMK.06/2012 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Sewa Barang Milik
Negara
3. PMK Nomor 174/PMK.06/2013 Tentang Perubahan Atas PMK Nomor 33/PMK.06/2012
Tentang Tata Cara Pelaksanaan Sewa Barang Milik Negara
4. PP Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

Maksud dan Tujuan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 33/PMK.06/2012 Tentang Tata Cara Pelaksanaan
Sewa Barang Milik Negara mengatur tata cara pelaksanaan Sewa atas BMN yang berada pada
Pengelola Barang atau pada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang. Adapun maksud dan
tujuan dari diterbitkannya PMK tersebut adalah:
1. Peraturan Menteri Keuangan ini dimaksudkan untuk memberikan pedoman bagi Pengelola
Barang dan Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang dalam penyewaan BMN.
2. Peraturan Menteri Keuangan ini bertujuan untuk terselenggaranya penyewaan BMN yang
tertib, terarah, adil, dan akuntabel guna mewujudkan pengelolaan BMN yang efisien, efektif,
dan optimal. Secara rinci tujuan dari penyewaan BMN dapat diuraikan sebagai berikut:
a. mengoptimalkan pemanfaatan BMN yang belum/tidak dipergunakan dalam
pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan Negara;
b. memperoleh fasilitas yang diperlukan dalam rangka menunjang tugas dan fungsi
instansi Pengguna Barang; atau
c. mencegah penggunaan BMN oleh pihak lain secara tidak sah.
Penyewaan BMN dilakukan sepanjang tidak merugikan negara dan tidak mengganggu
pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan Negara. Adapun ruang lingkup
yang diatur dalam PMK ini diantaranya adalah:
1. Peraturan Menteri Keuangan ini mengatur tata cara pelaksanaan Sewa atas BMN yang
berada pada Pengelola Barang atau pada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang.

3

2. Pengaturan tata cara pelaksanaan Sewa BMN ini meliputi:
a. subjek pelaksana Sewa;
b. objek Sewa;
c. jangka waktu Sewa;
d. besaran Sewa, termasuk formula tarif Sewa;
e. tata cara pelaksanaan Sewa;
f. pengamanan dan pemeliharaan objek Sewa;
g. penatausahaan;
h. pembinaan, pengawasan dan pengendalian Sewa; dan
i. ganti rugi dan denda.

Dalam pembahasan kali ini difokuskan pada penggalian potensi sewa sebagai wujud
pengoptimalan pemanfaatan BMN yang meliputi subjek, objek, jangka waktu, besaran tariff, dan
beberapa contoh potensi sewa yang masih dapat dimaksimalkan di lingkungan pemerintah.

a. Pihak Pelaksana Sewa
Pihak pelaksana sewa terdiri dari pihak yang menyewakan dan pihak yang menyewa.
Pihak yang dapat menyewakan antara adalah:
1. Pengelola Barang, untuk BMN berupa tanah dan/atau bangunan yang berada pada
Pengelola Barang;
2. Pengguna Barang, dengan persetujuan Pengelola Barang, untuk:
a. BMN berupa sebagian tanah dan/atau bangunan; atau
b. BMN selain tanah dan/atau bangunan, yang status penggunaannya ada pada
Pengguna Barang.
Pihak yang dapat menyewa BMN antara lain:
1. Pemerintah Daerah;
Menyewa dengan tujuan tidak untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi.
2. Badan Usaha Milik Negara;
3. Badan Usaha Milik Daerah;
4. Swasta;
a. Perorangan
b. Persekutuan Perdata
c. Persekutuan Firma
d. Persekutuan Komanditer
e. Perseroan Terbatas
f. Lembaga/organisasi internasional/asing
4

g. Yayasan, atau
h. Koperasi
5. Unit penunjang kegiatan penyelenggaraan pemerintahan/negara;
a. Persatuan/perhimpunan PNS/TNI/Polri
b. Persatuan/perhimpunan istri PNS/TNI/Polri
c. Unit penunjang kegiatan lainnya
6. Badan hukum lainnya.
a. Bank Indonesia
b. LPS
c. Badan hukum yang dimiliki Negara
d. Badan hukum internasional/asing

b. Objek sewa
Objek sewa dapat terdiri dari
1. BMN berupa tanah dan/atau bangunan yang berada pada Pengelola Barang;
2. BMN berupa sebagian tanah dan/atau bangunan yang status penggunaannya ada pada
Pengguna Barang;
3. BMN selain tanah dan/atau bangunan yang status penggunaannya ada pada Pengguna
Barang.
Dan BMN yang disewakan tersebut harus dalam kondisi idle (tidak sedang digunakan untuk
melaksanakan tugas dan fungsi).

c. Jangka Waktu Sewa
Jangka waktu sewa BMN paling lama adalah 5 tahun dan dihitung sejak ditandatanganinya
perjanjian sewa. Jangka waktu ini ditetapkan oleh:
1. Pengelola Barang, untuk BMN berupa tanah dan/atau bangunan;
2. Pengguna Barang, untuk BMN berupa:
a. sebagian tanah dan/atau bangunan; dan
b. selain tanah dan/atau bangunan,
yang status penggunaannya berada pada Pengguna Barang, setelah mendapat
persetujuan dari Pengelola Barang.

Jangka waktu ini dapat diperpanjang dengan persetujuan dari Pengelola Barang, dengan
mengajukan permohonan perpanjangan terlebih dahulu. Jangka waktu sewa dapat dihitung
berdasarkan periodisitas sewa.

5

Dalam perjanjian sewa BMN harus memuat:
a. dasar perjanjian;
b. para pihak yang terikat dalam perjanjian;
c. jenis, luas atau jumlah barang yang disewakan;
d. besaran dan jangka waktu Sewa, termasuk periodesitas Sewa;
e. peruntukan Sewa, termasuk kelompok jenis kegiatan usaha dan kategori bentuk
kelembagaan penyewa;
f. tanggung jawab penyewa atas biaya operasional dan pemeliharaan selama jangka waktu
penyewaan;
g. hak dan kewajiban para pihak; dan
h. hal lain yang diatur dalam persetujuan Pengelola Barang dan keputusan Pengguna
Barang.

Sewa berakhir dalam hal:
a. berakhirnya jangka waktu Sewa;
b. Pengelola Barang mencabut persetujuan Sewa dalam rangka pengawasan dan
pengendalian;
c. ketentuan lain sesuai peraturan perundang-undangan

Perjanjian sea berakhir dalam hal:
a. jangka waktu Sewa berakhir;
b. berlakunya syarat batal sesuai perjanjian;
c. ketentuan lain sesuai peraturan perundang-undangan.

d. Besaran sewa
Penentuan tarif sewa BMN ditetapkan oleh pengelola barang atau dapat juga oleh pengguna
barang, setelah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pengelola barang. Berdasarkan
PMK Nomor 33 Tahun 2012 dalam penentuan tarif sewa, ada dua faktor yang
mempengaruhinya yaitu Tarif pokok sewa dan Faktor penyesuai sewa
1. Tarif pokok sewa
Tarif pokok sewa dibedakan berdasarkan 4 klasifikasi yaitu:
a. BMN berupa tanah
Untuk BMN berupa tanah, tarif pokok sewa tanah dipengaruhi oleh 3 hal yaitu faktor
variabel sewa tanah, luas tanah, dan nilai tanah. Untuk variabel sewa tanah
ditetapkan sebesar 3,33% sedangkan untuk luas tanah perhitungannya didasarkan
pada bagian tanah yang disewakan dan dapat juga ditambahkan jumlah tertentu
6

apabila diyakini pemanfaatan bagian tanah yang disewakan berdampak pada bagian
tanah yang lainnya. Untuk nilai tanah penilaiannya berdasarkan nilai wajar atas tanah
tersebut.
b. BMN berupa bangunan
Untuk BMN bangunan, tarif pokok sewanya sama dengan tanah yang dipengaruhi oleh
3 hal yaitu faktor variabel sewa bangunan, luas bangunan, dan nilai bangunan. Untuk
variabel sea bangunan ditetapkan sebesar 6,64%, untuk luas bangunannya dihitung
berdasarkan luas bangunan yang disewakan. Apabila bangunan tersebut terdiri dari
beberapa lantai, maka jumlah lantai yang digunakan turut diperhitungkan. Untuk
penilaian bangunan, dihitung berdasarkan nilai wajar bangunan tersebut.
c. BMN berupa tanah dan bangunan
Untuk tarif pokok sewa tanah dana bangunan dihitung dengan menjumlahkan tarif
pokok sewa tanah dan bangunan
d. BMN sarana dan prasarana
BMN sarana dan prasarana penentuan tarif pokoknya berdasarkan pada faktor
variabel sewa prasarana bangunan dan nilai prasarana bangunan. Faktor variabel
sewa prasarana ditetapkan sama besar dengan faktor variabel sewa bangunan.
Sedangkan nilai prasarana bangunannya ditetapkan sebesar nilai wajar atas prasarana
bangunan tersebut.

2. Faktor penyesuai sewa
Faktor penyesuai sewa dihitung dalam persentase. Faktor penyesuai sewa terdiri dari
beberapa komponen yang meliputi:
a. Jenis kegiatan usaha penyewa
Jenis kegiatan usaha penyewa dikelompokkan atas:
1) Kegiatan bisnis kelompok ini dipeuntukkan bagi kegiatan yang berorientasi
semata-mata mencari keuntungan. Untuk penyewa dengan kelompok ini
diberikan tarif penyesuai sebesar 100%.
2) Kegiatan non bisnis Kelompok ini diperuntukkan bagi kegiatan yang menarik
imbalan atas barang atau jasa yang diberikan namun tidak semata-mata mencari
keuntungan. Tarif penyesuai untuk kelompok ini disesuaikan berdasarkan
bentuk kelembagaan penyewa
3) Kegiatan sosial Kelompok kegiatan sosial diperuntukkan bagi kegiatan yang
tidak menarik imbalan atas barang/jasa yang diberikan dan / atau tidak
berorientasi mencari keuntungan. Tarif penyesuai untuk kelompok ini sama
dengan kegiatan bisnis disesuaikan berdasarkan bentuk kelembagaan penyewa
7

b. Bentuk kelembagaan penyewa
Bentuk kelembagaan penyewa dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
1) Kategori I swasta, BUMN, BUMD, Badan hukum yang dimiliki negara, lembaga
pendidikan asing
2) Kategor II yayasan, koperasi, lembaga pendidikan formal, dan lembaga
pendidikan non formal
3) Kategori III lembaga sosial, lembaga kemanusiaan , lembaga keagamaan, unit
penunjang kegiatan penyelanggaraan pemerintahan/negara.
Untuk lembaga faktor penyesuai sewanya ditetapkan sebagai berikut, non bisnis
kategori I ditetapkan faktor penyesuai sebesar 50%, untuk kategori II sebesar 40%,
dan untuk kategori III sebesar 30%.
Untuk lembaga sosial faktor penyesuai sewanya berupa kategori I sebesar 10% dan
untuk kategori II dan III sebesar 5%
c. Periodesitas sewa
Besaran penyesuai sewa berdasarkan periodesitas ditetapkan sebagai berikut:
1) Per tahun sebesar 100%
2) Per bulan sebesar 130%
3) Per hari sebesar 160%
4) Per jam sebesar 190%

e. Potensi Aset Pemerintah untuk Disewakan
1. Penetapan tarif sewa yang berbasis luas bangunan yang cenderung merugikan
pemerintah karena tidak selamanya luas bangunan dan nilai wajar suatu bangunan di
suatu daerah menjadi paotokan harga sewa. Terkadang kontur dan waktu-waktu di mana
permintaan sangat tinggi akan membuat perbedaan dalam harga. Contoh kasus,
penyewaan atap gedung pemerintah di Kalimantan untuk tower BTS yang dihargai terlalu
murah dibandingkan dengan harga pasaran sewa di tempat lain.
2. Memaksimalkan asrama yang idle untuk penginapan dengan tarif yang menguntungkan.
Dengan pengelolaan yang baik sehingga asrama tersebut memiliki nilai jual yang sama
dengan penginapan yang berada disekitarnya sehingga tarif sewanya dapat lebih tinggi
tetapi lebih terjangkau dibandingkan penginapan disekitarnya.
3. Pemanfaatan ruang untuk digunakan sebagai tempat sarana dan prasarana pendukung,
contoh: kerja sama kantin/ rumah makan/ toko dengan pemilik wara laba. Pemerintah
mendapatkan keuntungan dari tarif sewa dan pegawai yang berada di kantor juga merasa
lebih nyaman sehingga dapat bekerja dengan lebih optimal.
8

4. Penyewaan sarana dan prasarana seperti kursi-kursi yang idle dapat disewakan. Tarif
sewa kursi berkisar 5.000 s.d. 15.000 per hari.
5. Penyewaan bus atau mobil dinas yang idle. Seperti kita ketahui, tarif sewa kendaraan roda
empat MPV saat ini rata-rata adalah sebesar Rp.400.000,00 per 24 jam sedangkan sewa
bus lebih mahal lagi.
6. Pemanfaatan aula/ gedung serba guna untuk disewakan dengan fasilitas yang lengkap,
sehingga menarik perhatian bagi para pihak yang berkepentingan. Pemerintah dapat
memaksimalkan tarif sewa yang selama ini terlalu rendah menjadi lebih tinggi dengan
tarif sewa yang masih kompetitif.
7. Jasa parkir mobil dan motor dapat dimaksimalkan untuk kantor kantor pemerintah
yang berada di wilayah kota yang lahan parkirnya cenderung sedikit. Dengan manajemen
parkir yang baik tentunya kepentingan pegawai tidak akan terganggu.