Anda di halaman 1dari 21

Penyakit Akibat Kerja,

Pterigium ec Pajanan Suhu Panas Berlebih






Pendahuluan
Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan /kedokteran beserta prakteknya
yang bertujuan, agar pekerja /masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-
tingginya, baik fisik, mental maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap
penyakit-penyakit / gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan
lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum sasaran / lingkupnya : manusia
pekerja & sekitar, sifat : medis, higene perusahaan / lingk. kerja adalah spesialisasi dalam ilmu
higene beserta prakteknya yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab
penyakit kualitatif dan kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran
yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta bila
perlu pencegahan, agar pekerja dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari bahaya
akibat kerja serta dimungkinkan mengecap derajat kesehatan setinggi-tingginya sasaran/lingkup
: lingkungan kerja, sifat : teknik
1
Keselamatan kerja adalah keselamatan yg bertalian dg mesin, pesawat, alat kerja, bahan
dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan
pekerjaan.
1
Pada kasus ini seorang pasien yang merupakan seorang koki restoran mengeluh mengalami
penurunan visus pada mata kanannya secara berkala sejak 3 bulan yang lalu. Munculnya
penurunan visus ini terjadi sejak dia sudah cukup lama bekerja sebagai koki. Dugaan bahwa
adanya kaitan antara pekerjaan pasien dengan munculnya keluhan yang diderita pasien.
UNDANG UNDANG YANG MENGATUR KESEHATAN KERJA
Perundangan
Vr (veilligheids reglement) th 1910, UU kecelakaan 1947-1957, tentang kompensasi,UU no 14
th 1969 tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja yg memuat :
1. Tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, kesusilaan,
pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yg sesuai dg martabat manusia dan moral agama
2. Pemerintah membina perlindungan kerja yg mencakup norma kesehatan dan higene persh,
norma keselamatan kerja, norma kerja dan pemberian ganti rugi, perawatan, rehabilitasi dlm
kecelakaan kerja.
1


Kewajiban pengurus :
Memasang syarat keselamatan kerja, uu 1 th 1970, peraturan pelaksana
Memasang gambar2 keselamatan kerja, bahan2 pembinaan lainnya
Menyediakan secara cuma-cuma apd untuk karyawan & orang lain
1


LANGKAH DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA
Identifikasi penyakit akibat kerja
1
1. Pendekatan epidemiologis (komunitas)
Untuk identifikasi hubungan kausal antara pajanan dan penyakit: Kekuatan asosiasi,
konsistensi, spesifisitas, hubungan waktu, hubungan dosis.
2. Pendekatan klinis (individu)
Untuk mendiagnosis penyakit akibat kerja: diagnosis klinis, pajanan yang dialami,
hubungan pajanan dengan penyakit, pajanan yang dialami cukup besar, peranan faktor
individu, faktor lain di luar pekerjaan, diagnosis PAK atau bukan PAK
Diagnosis (dokter perusahaan) penyakit akibat pekerjaan ditegakkan berdasarkan:
1. Penemuan klinis
2. Laboratorium & pemeriksaan penunjang
3. Data lingkungan kerja & analisis riwayat pekerjaan




Tujuh langkah diagnosis penyakit akibat kerja
1
1. Tentukan diagnosis klinis.
2. Tentukan pajanan yang dialami.
3. Apa pajanan dapat menyebabkan penyakit tersebut?
4. Apa jumlah pajanan cukup besar.
5. Apa ada faktor-faktor individu yang berpengaruh.
6. Cari kemungkinan lain di luar pekerjaan.
7. Penyakit akibat kerja, atau penyakit bukan akibat kerja:
a. Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau penyakit akibat kerja.
b. Penyakit yang diperberat oleh pekerjaan.

Dasar membuat diagnosis penyakit akibat hubungan kerja
1

Dalam membuat diagnosis harus dibedakan apakah pajanan ditempat kerja menyebabkan
penyakit atau pajanan ditempat kerja merupakan salah satu penyebab bermakna bersama dengan
faktor risiko lain, atau pajanan ditempat kerja memperberat penyakit yang sudah diderita
sebelumnya.
1. Diagnosis klinis
- Lakukanlah sesuai prosedur medis yang berlaku
- Bila perlu lakukan: pemeriksaan penunjang /tambahan atau rujukan informasi ke
spesialis lain.
2. Pajanan yang dialami
- Pajanan saat ini dan pajanan sebelumnya
- Beberapa pajanan -> 1 penyakit atau sebailknya
Lakukan anamnesis (lebih bernilai bila ditunjang data obyektif):
- Deskripsi pekerjaan secara kronologis
- Periode waktu kerja masing-masing
- Apa yang diproduksi
- Bahan yang digunakan
- Cara bekerja
3. Apa ada hubungan pajanan dengan penyakit
- Lakukan identifikasi pajanan
- Evidence based: pajanan-penyakit
- Bila tidak ada: pengalaman -> penelitian awal
4. Jumlah pajanan cukup?
- Perlu mengetahui patifisiologi penyakit & bukti epidemiologis
- Dapat dengan pengamatan kualitatif -> cara kerja, proses kerja, bagaimana lingkungan
kerja
- Masa kerja
- Pemakaian alat pelindung sesuai/tepat?
5. Faktor individu berperan
- Berapa besar berperan?
- Riwayat atopi/alergi
- Riwayat penyakit dalam keluarga
- Hiegene perorangan
6. Faktor lain di luar pekerjaan
Pajanan lain yang dapat menyebabkan penyakit -> bukan faktor pekerjaan
- Rokok, pajanan di rumah, hobi
7. Menentukan diagnosis PAK
- Kaji semua langkah-langkah
- Bukti dan referensi -> PAK?
- Ada hubungan sebab akibat pajanan-penyakit & faktor pekerjaan faktor yang dianggap
paling bermakna terhadap terjadinya penyakit -> diagnosis PAK

Langkah-langkah medis
1
1. Anamnesis riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan
a. Riwayat penyakit sekarang deskrispsikan keluhan dengan perjalanan penyakit.
b. Riwayat penyakit dahulu.
c. Riwayat pekerjaan:
- Faktor di tempat kerja.
- Riwayat penyakit dan gejala.
- Riwayat pekerjaan dari dulu sampai saat ini (jenis kerja, waktu, lama, hasil
produksi, bahan yang dipakai, dll).
Anamnesis pekerjaan meliputi:
- Deskripsi semua pekerjaan secara kronologis.
- Waktu.
- Lamanya bekerja per hari dan masa kerja.
- Apa yang diproduksi.
- Bahan apa yang digunakan.
- Jumlah pajanan (kuantitatif).
- Alat pelindung diri yang digunakan.
- Hubungan gejala dengan waktu kerja.
- Pengaruh terhadap pekerjaan lain.
- Menurut pekerja apa keluhan ada hubungan dengan pekerjaan.
2. Pemeriksaan klinis.
3. Pemeriksaan lab (darah urin, faeses).
4. Pemeriksaan rontgen untuk paru-paru.
5. Pemeriksaan tempat kerja:
- faktor penyebab
- hasil pengukuran
6. Diagnosis kerja & diagnosis differensial
7. Diagnosis okupasi: Ada hubungan diagnosis kerja dengan pekerjaan/proses
kerja/lingkungan kerja.

PEMERIKSAAN FISIK MATA

Anamnesa
2
Perlu dilakukan pernyataan pada pasien yang meliputi :
1. Keluhan Utama
2. Riwayat penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit sekarang
4. Riwayat pemakaian obat-obatan
5. Riwayat penyakit keluarga

Secara garis besar keluhan mata terbagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1) Kelainan penglihatan
a. Penurunan tajam penglihatan
b. Aberasi penglihatan
Bayangan hallo, pada glaukoma gejala prodromal
Kilatan cahaya, gangguan badan kaca dan glaukoma
Flater
Diplopia = double, (gangguan otot gerak mata atau perbedaan refraksi kedua mata
yang terlalu besar), baik monokuler atau binokuler
2) Kelainan penampilan mata
Mata merah, perubahan lokal dari mata seperti ptosis, bola mata menonjol, pertumbuhan tidak
normal.
3) Kelaianan sensasi mata (nyeri, gatal, panas, berair, mengganjal)
Sakit
Mata lelah
Iritasi mata

Inspeksi
3
Setelah melakukan uji penglihatan, lakukan teknik pengkajian berikut. Inspeksi kelopak mata,
bulu mata, bola mata, dan apartus lakrimal. Inspeksi juga konjungitva, sklera, kornea, ruang
anterior, iris dan pupil. Gunakan oftalmoskop untuk mengkaji humor vitreous dan retina.
Inspeksi kelopak mata, bulu mata, dan apartus lakrimal
Kelopak mata harus konsisten dengan corak pasien, dengan tanpa oedema atau lesi.
Lipatan palpebra harus simetris dengan tidak ada kelambatan kelopak
Bulu mata harus terdistribusi rata di sepanjang kelopak
Bola mata harus cerah dan jernih
Apartus lakrimal harus tidak mengalami inflamasi, pembengkakan atau air mata yang
berlebihan



Inspeksi konjungitva
3
Periksa konjungtiva palpebra hanya jika anda mencurigai adanya benda asing atau jika
pasien mengeluh nyeri kelopak mata. Untuk memeriksa bagian dari konjungtiva ini,
minta pasien untuk melihat ke bawah sementara anda menarik dengan perlahan bulu mata
tengah ke depan dan ke atas dengan ibu jari dan jari telunjuk anda.
Sambil memegang bulu mata, tekan tepi tarsal dengan lidi kapas untuk membalikkan
kelopak mata keluar. Teknik ini membutuhkan keterampilan untuk mencegah klien
merasa tidak nyaman. Tahan bulu mata ke arah alis dan periksa konjungtiva, yang
seharusnya berwarna merah muda dan bebas dari pembengkakan.
Untuk mengembalikan kelopak mata ke posisi normalnya, lepaskan bulu mata dan minta
klien untuk melihat ke atas. Jika hal ini tidak membalikan kelopak mata, pegang bulu
mata dan tarik dengan perlahan ke arah depan.
Untuk menginspeksi konjungtiva bulbar, buka kelopak mata dengan perlahang dengan
ibu jari atau jari telunjuk anda. Minta pasien untuk melihat ke atas, ke bawah, ke kiri, dan
ke kanan, sementara anda memeriksa keseluruhan kelopak mata bagian bawah.

Inspeksi kornea, ruang anterior, dan iris
3
Untuk menginspeksi kornea dan ruang anterior, arahkan cahaya senter ke dalam mata
klien dari beberapa sudut sisi. Normalnya, kornea dan ruang anterior bersih dan
transparan. Hitung kedalaman ruang anterior dari samping dengan menggambarkan jarak
antara kornea dengan iris. Iris harus teriluminasi dengan cahaya dari samping. Permukaan
kornea normalnya tampak bercahaya dan terang tanpa adanya jaringan parut atau
ketidakteraturan. Pada pasien lansia, arkus senilis (cincin abu-abu putih di sekeliling tepi
kornea) merupakan hal yang normal.
Uji sensitivitas korneal, yang menunjukkan keutuhan fungsi saraf kranial V (saraf
trigemeinus) dengan sedikit mengusapkan kapas di permukaan kornea. Kelopak di kedua
mata harus menutup ketika anda menyentuh kornea. Gunakan kapas yang berbeda untuk
setiap mata untuk menghindari kontaminasi silang.
Inspeksi bentuk iris, yang harus tampak datar jika dipandang dari samping, dan juga
warnanya.

Inspeksi pupil
3
Periksa kesamaan ukuran, bentuk, reaksi terhadap cahaya, dan akomodasi pada pupil
masing-masing mata. Untuk menguji reaksi pupil terhadap cahaya, gelapkan ruangan dan
dengan pasien menatap lurus ke arah titik yang sudah ditentukan, sorotkan senter dari
samping mata kiri ke tengah pupilnya. Kedua pupil harus berespons; pupil yang
menerima cahaya langsung berkonstriksi secara langsung, sementara pupil yang lain
berkonstriksi secara bersamaan dan secara penuh.
Sekarang uji pupil mata kanan. Pupil harus bereaksi segera, seimbang, dan cepat (dalam 1
sampai 2 detik). Jika hasilnya tidak meyakinkan, tunggu 15 sampai 30 detik dan coba
lagi. Pupil harus bundar dan sama sebelum dan sesudah kelihatan cahaya.
Untuk menguji akomodasi, minta klien menatap objek di seberang ruangan. Normalnya
pupil akan dilatasi. Kemudian minta pasien untuk menatap jari telunjuk anda atau pada
pensil yang berjarak 60 cm. Pupil harus berkonstriksi dan mengumpul seimbang pada
objek. Ingat bahwa pada pasien lansia, akomodasi dapat berkurang.
Palpasi
4
Palpasi dengan perlahan adanya pembengkakan dan nyeri tekan pada kelopak mata.
Kemudian, palpasi bola mata dengan menempatkan kedua ujung jari telunjuk di kelopak
mata di atas sklera sementara pasien melihat ke bawah. Bola mata harus teras sama keras.
Kemudian, palpasi kantong lakrinal dengan menekankan jari telunjuk pada lingkar orbital
bawah pada sisi yang paling dekat dengan hidung pasien. Sambil menekan, observasi
adanya regurgitasi abnormal materi purulen atau air mata yang berlebihan pada punctum,
yang dapat mengindikasikan adanya sumbatan dalam duktus nasolakrimal.







Pemeriksaan ketajaman ( VISUS )
4


Gb. 1 schnellen chart

Pemeriksaan tajam penglihatan :
4
Lakukan uji penglihatan dalam ruangan yang cukup tenang, tetapi anda dapat
mengendalikan jumlah cahaya.
Gantungkan kartu Snellen atau kartu E yang sejajar mata pasien dengan jarak 6 meter
Pemeriksaan dimulai dengan mata kanan
Mata kiri pasien ditutup dengan penutup mata atau telapak tangan tanpa menekan bola
mata
Pasien disarankan membaca huruf dari kiri ke kanan setiap baris kartu Snellen atau
memperagakan posisi huruf E pada kartu E dimulai baris teratas atau huruf yang paling
besar sampai huruf terkecil (baris yang tertera angka 20/20)
Penglihatan normal bila pasien dapat membaca sampai huruf terkecil 20/20 (tulis
020/020)
Bila dalam baris tersebut pasien dapat membaca atau memperagakan posisi huruf E
KURANG dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris yang tertera angka di
atasnya.
Bila dalam baris tersebut pasien dapat membaca atau memperagakan posisi huruf E
LEBIH dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris yang tertera angka tersebut.
Pemeriksaan uji penglihatan dengan HITUNG JARI :
4
Bila pasien belum dapat melihat huruf teratas atau terbesar dari kartu Snellen atau kartu
E maka mulai HITUNG JARI pada jarak 3 meter (tulis 03/060).
Hitung jari 3 meter belum bisa terlihat maka maju 2 meter (tulis 02/060), bila belum
terlihat maju 1 meter (tulis 01/060). Bila belum juga terlihat maka lakukan GOYANGAN
TANGAN pada jarak 1 meter (tulis 01/300)
Goyangan tangan belum terlihat maka senter mata responden dan tanyakan apakah pasien
dapat melihat SINAR SENTER (jika ya tulis 01/888)
Bila tidak dapat melihat sinar senter disebut BUTA TOTAL (tulis 00/000)

Pemeriksaan ketajaman pengelihatan
4
Selanjutnya, uji fungsi visual, termasuk ketajaman penglihatan jarak dekat dan jarak jauh,
persepsi warna dan penglihatan perifer.
1. Uji penglihatan jarak jauh
Untuk menguji penglihatan jarak jauh pada pasien yang dapat membaca bahasa inggris, gunakan
grafik alfabet Snellen yang berisi berbagai ukuran huruf. Untuk pasien yang buta huruf atau tidak
dapat berbicara bahasa inggris, gunakan grafik Snellen E, yang menunjukkan huruf-huruf dalam
berbagai ukuran dan posisi. Klien menunjukkan posisi huruf E dengan menirukan posisi tersebut
dengan jari tangannya.
Uji setiap mata secara terpisah dengan terlebih dahulu menutup satu mata dan kemudian
mata yang lain dengan kartu buram berukuran 3 x 5 atau penutup mata. Setelah itu, uji
penglihatan binokular pasien dengan meminta klien membaca gambar dengan kedua mata
terbuka. Pasien yang normalnya memakai lensa korektif untuk penglihatan jarak jauh
harus memakainya untuk uji tersebut.
Mulai dengan baris yang bertanda 20/20. Jika pasien salah membaca lebih dari dua huruf,
pindahlah ke baris berikutnya 20/25. Lanjutkan sampai pasien dapat membaca baris
tersebut dengan benar dengan kesalahan yang tidak lebih dari dua. Baris tersebut
menunjukkan ketajaman penglihatan jarak jauh pasien.

2. Uji penglihatan jarak dekat
Uji penglihatan jarak dekat pasiendengan memegang grafik Snellen atau kartu dengan kertas
koran berukuran 30,5 sampai 35,5 cm di depan mata pasien, pasien yang normalnya memakai
kacamata baca harus memakainya untuk uji ini. Seperti pada penglihatan jarak jauh, uji setiap
mata secara terpisah dan kemudian bersamaan.

3. Uji persepsi warna
Minta pasien untuk mengidentifikasi pola bulatan-bulatan warna pada plat berwarna. Pasien yang
tidak dapat membedakan warna tidak akan mendapatkan polanya.

4. Uji fungsi otot ekstraokuler
Untuk mengkaji fungsi otot ekstraokuler pasien, dokter harus melakukan tiga tes : enam posisi
kardinal tes penglihatan, tes terbuka-tertutup, dan tes refleks cahaya korneal.
a. Enam posisi kardinal tes penglihatan
Duduk langsung di depan pasien, dan pegang objek silindris, seperti pensil, tepat
di depan hidung pasien, dan menjauh sekitar 46 cm dari hidung pasien.
Minta pasien untuk memperhatikan objek tersebut pada saat dan
menggerakkannya searah jarum jam melewati enam posisi kardinal-medal
superior, lateral superior, lateral, lateral inferior, dan medial-kembalikan objek ke
titik tengah setelah setiap gerakan.
Melalui tes ini, mata pasien akan tetap paralel pada saat bergerak. Perhatikan
adanya temuan abnormal, seperti nistagmus, atau deviasi salah satu mata yang
menjauh dari objek.

b. Tes tertutup-terbuka
Minta pasien menatap suatu objek pada dinding yang jauh yang berhadapan. Tutupi mata
kiri pasien dengan kartu buram dan observasi mata kanan yang tidak ditutup akan adanya
gerakan atau berputar-putar.
Kemudian, lepas kertas dari mata kiri. Mata harus tetap diam dan berfokus pada objek,
tanpa bergerak atau berputar-putar. Ulangi proses tersebut dengan mata kanan.

c. Tes refleks cahaya korneal
Minta pasien untuk melihat lurus ke depan sementara anda mengarahkan sinar senter ke
batang hidung pasien dari jarak 30,5 sampai 38 cm. Periksa untuk memastikan apakah
kornea memantulkan cahaya di tempat yang tepat sama di kedua mata. Refleks yang tidak
simetris menunjukkan ketidakseimbangan otot yang menyebabkan mata menyimpang
dari titik yang benar.

5. Uji penglihatan perifer
Duduk berhadapan dengan pasien, dengan jarak 60 cm, dengan mata anda sejajar dengan
mata pasien. Minta pasien menatap lurus ke depan.
Tutupi satu mata anda dengan kertas buram atau tangan anda dan minta pasien untuk
menutup matanya yang tepat bersebrangan dengan mata anda yang ditutup
Kemudian, ambil sebuah objek, misalnya pensil dari bidang superior perifer ke arah
lapang pandang tengah. Objek tersebut harus berada pada jarak yang sama di antara anda
dan pasien
Minta pasien untuk mengatakan pada anda saat objek tersebut terlihat. Jika penglihatan
perifer anda utuh, anda dan pasien akan melihat objek tersebut pada waktu yang
bersamaan.
Ulangi prosedur searah jarum jam pada sudut 45 derajat, periksa lapang pandang
superior, inferior, temporal, dan nasal. Ketika menguji lapang pandang temporal, anak
akan mengalami kesulitan menggerakkan objek sampai cukup jauh sehingga anda dan
pasien tidak dapat melihatnya. Jadi lakukan uji lapang pandang temporal ini dengan
meletakkan pensil sedemikian rupa di belakang klien dan di luar lapang pandang pasien.
Bawa pensil tersebut berkeliling secara perlahan sampai pasien dapat melihatnya.

Pemeriksaan reflek pupil
5
Pasien diminta melihat jauh.
Setelah itu pemeriksa mata pasien di senter / diberi cahaya dan lihat apakah ada reaksi
pada pupil. Normal akan mengecil.
Perhatikan pupil mata yang satunya lagi, apakah ikut mengecil karena penyinaran pupil
mata tadi disebut dengan reaksi cahaya tak langsung.
Cegah reflek akomodasi dengan pasien disuruh tetap melihat jauh.

Pemeriksaan sensibilitas kornea
5
Cara Pemeriksaan
Bentuk ujung kapas dengan pinset steril agar runcing dan halus
Fiksasi mata pasien keatas agar bulu mata tidak tersentuh saat kornea disentuh
Fiksasi jari pemeriksa pada pipi pasien dan ujung kapas yang halus dan runcing
disentuhkan dengan hati-hati pada kornea, mulai pada mata yang tidak sakit.

Pemeriksaan kelopak mata
5
Pemeriksaan untuk menilai konyungtiva tarsalis
Cara Pemeriksaan :
Cuci tangan hingga bersih
Pasien duduk didepan slit lamp
Sebaiknya mata kanan pasien diperiksa dengan tangan kanan pemeriksa.
Ibu jari memegang margo, telunjuk memegang kelopak bagian atas dan meraba tarsus,
lalu balikkan
Setelah pemeriksaan selesai kembalikan posisi kelopak mata. Biasakan memeriksa kedua
mata.

Pemeriksaan oftalmoskop
5
Untuk melakukan pemeriksaan dengan oftalmoskop, tempatkan klien di ruang yang
digelapkan atau setengah gelap, anda dan klien tidak boleh memakai kacamata kecuali
jika anda sangan miop atau astigmatis. Lensa kontak boleh dipakai oleh anda atau klien.
Duduk atau berdiri di depan klien dengan kepala anda berada sekitar 45 cm di depan dan
sekitar 15 derajat ke arah kanan garis penglihatan mata kanan klien. Pegang oftalmoskop
dengan tangan kanan anda dengan apertura penglihat sedekat mungkin dengan mata
kanan anda. Letakkan ibu jari kiri anda di mata kanan klien untuk mencegah memukul
klien dengan oftalmoskop pada saat anda bergerak mendekat. Jaga agar telunjuk kanan
anda tetap berada di selektor lensa untuk menyesuaikan lensa seperlunya seperti yang
ditunjukkan di sini.
Instruksikan klien untuk melihat lurus pada titik sejajar mata yang sudah ditentukan di
dinding. Instruksikan juga pada klien, bahwa meskipun berkedip selama pemeriksaan
diperbolehkan, mata harus tetap diam. Kemudian, mendekat dari sudut oblik sekitar 38
cm dan dengan diopter pada angka 0, berfokuslah pada lingkaran kecil cahaya pada pupil.
Cari cahaya oranye kemerahan dari refleks merah, yang harus tajam dan jelas melewati
pupil. Refleks merah menunjukkan bahwa lensa bebas dari opasitas dan kabut.
Bergerak mendekat pada klien, ubah lensa dengan jari telunjuk untuk menjaga agar
struktur retinal tetap dalam fokus.
Ubah diopter positif untuk melihat viterous humor, mengobservasi adanya opasitas.
Kemudian, lihat retina, menggunakan lensa negatif yang kuat. Cari pembuluh darah
retina dan ikuti pembuluh darah tersebut ke arah hidung klien, rotasi selektor lensa untuk
menjaga agar pembuluh darah tetap dalam fokus. Karena fokus tergantung pada anda dan
status refraktif klien maka diopter lensa berbeda-beda untuk sebagian besar klien. Periksa
dengan cermat seluruh struktur retina, termasuk pembuluh darah retina, diskus optikus,
latar belakang retina, makula dan fovea.
Periksa pembuluh darah dan struktur retina untuk warna, perbandingan ukuran arteri dan
vena, refleks cahaya arteriol, dan persilangan arteriovenosa. Mangkuk fisiologis
normalnya berwarna kuning-putih dan dapat terlihat.
Periksa makula pada bagian akhir karena sangat sensitis terhadap cahaya.

DIAGNOSIS
5
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal
ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. Pretigium berbentuk segitiga
dengan puncak di bagian sentral atau di daerah korena. Pterigium mudah meradang dan bila
terjadi iritasi, maka bagian pterigium akan berwarna merah. Pterigium dapat mengenai kedua
mata.
Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu cahaya sinar matahari, dan udara
yang panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma,
radang, dan degenerasi. Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan
keluhan mata iritatif, merah dan mungkin menimbulkan astigmat yang akan memberikan keluhan
gangguan pengelihatan. Pterigium dapat disertai dengan keratitis pungtata dan dellen (penipisan
kornea akibat kering), dan garis besi yang terletak di ujung pterigium.
DIAGNOSIS OKUPASI
Pterigium et causa pajanan suhu panas pada mata. Pajanan suhu berlebihan ini
berhubungan dengan pekerjaan pasien sebagai seorang koki di restauran yang mengharuskannya
untuk selalu memasak di dapur. Dengan demikian ini merupakan suatu penyakit akibat kerja,
PENATALAKSANAAN
6
Pengobatan tidak diperlukan karena sering bersifat rekuren, terutama pada pasien yang
masih muda. Bila pterigium meradang dapat diberikan steroid atau suatu tetes mata dekongestan.
Pengobatan pterigium adalah dengan sikap konservatif atau dilakukan pembedahan bila terjadi
gangguan pengelihatan akibat terjadinya astigmatisme iregular atau pterigium yang telah
menutupi media pengelihatan.
Lindungi mata dengan pterigium dari sinar matahari, debu, dan udara kering dengan
kacamata pelindung. Bila terdapat tanda radang beri air mata buatan bila perlu dapat diberi
steroid. Bila terdapat delen (lekukan kornea) beri air mata buatan dalam bentuk salep. Bila diberi
vasokontriktor maka perlu kontrol dalam 2 minggu dan bila telah terdapat perbaikan pengobatan
dihentikan.
Tindakan pembedahan adalah suatu tindak bedah plastik yang dilakukan bila pterigium
telah menggangu pengelihatan.
PENATALAKSANAAN PAK
1

Terapi medikamentosa:
- Terhadap kasual (bila mungkin)
- Pada umumnya PAK/PAHK irreversibel, sehingga terapi sering kali hanya secara simptomatis
saja
Contoh: silikosis (irreversibel), terapi hanya mengatasi sesak nafas, nyeri dada
Prinsip: lebih baik mencegah PAK/PAHK

Terapi okupasi:
- Pindah ke bagian yang tidak terpapar
- Lakukan cara kerja yang sesuai dengan kemampuan fisik

Prinsip pencegahan
1. Pencegahan awal (primer)
- Penyuluhan
- Perilaku K3 yang baik
- Olahraga
2. Pencegahan setempat (sekunder)
- Pengendalian melalui undang-undang
- Pengendalian melalui administrasi/organisasi
- Pengendalian secara teknis (substitusi, ventilasi, isolasi, ventilasi, alat pelindung diri)
3. Pencegahan dini (tertier)
- Pemeriksaan kesehatan berkala
- Penatalaksanaan kasus -> cepat dan tepat

Rujukan
1. Rujukan kasus: diagnosis, terapi, perawatan
2. Rujukan untuk mendapatkan informasi lebih lengkap
3. Rujukan untuk pengendalian di perusahaan
- Pengelolaan penyakit akibat kerja: deteksi dini PAK, pemeriksaan kesehatan awal, pemeriksaan
kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan khusus
- Pelayanan kesehatan: Promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif
- Penilaian potential hazard di tempat kerja
- Pengendalian lingkungan kerja
- Surveilans PAK


MANAJERIAL KEPERAWATAN OKUPASI
1
Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian kapasitas kerja, beban kerja dan
lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya
sendiri maupun lingkungan agar diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Kesehatan kerja
adalah semua upaya untuk menyerasikan kapasitas kerja, beban kerja agar setiap pekerja dapat
bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat yang ada di
sekelilingnya.
Hygiene Perusahaan dan Kesehatan kerja (Hyperkes) adalah bagian dari usaha kesehatan
masyarakat yang ditujukan kepada masyarakat pekerja, masyarakat sekitar perusahaan dan
masyarakat umum yang menjadi konsumen dari hasil produksi perusahaan tersebut sehingga
dapat terhindar dari penyakit-penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan pekerjaan dan
lingkungan pekerjaan, dan dapat meningkatkan derajat kesehatan.

Langkah-langkah Manajerial Keperawatan Kerja
Dalam pelaksanaan kesehatan kerja memerlukan langkah- langkah manajerial untuk
menjamin kesehatan dan keselamatan pekerja. Langkah-langkah Usaha Kesehatan Kerja (UKK)
merupakan langkah utama dalam manajemen keperawatan okupasi.
UKK yang dapat dilakukan di perusahaan adalah :
a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan-kecelakaan akibat
kerja.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan tenaga kerja.
c. Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan daya produktivitas tenaga kerja.
d. Pemberantasan kelelahan tenaga kerja.
e. Meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja.
f. Perlindungan masyarakat sekitar perusahaan dari bahaya-bahaya pencemaran yang
berasal dari perusahaan.
g. Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh
produk-produk industri.
h. Pemeliharaan dan peningkatan higiene dan sanitasi perusahaan seperti kebersihan,
pembuangan limbah, sumber air bersih dan sebagainya

Ruang Lingkup Upaya Kesehatan Kerja
Ruang lingkup kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja
dengan pekerja dan lingkungan kerjanya baik secara fisik maupun psikis dalam hal cara/metoda
kerja, proses kerja dan kondisi kerja yang bertujuan untuk:
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan
pekerjaan yang setinggi-tingginya baik secara fisik, mental maupun kesejahteraan
sosialnya.
2. Mencegah gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh
keadaan/kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan perlindungan bagi pekerja didalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya
yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaannya yang sesuai
dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjaannya.

Kapasitas Kerja, Beban kerja dan Lingkungan Kerja
Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama
dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut
akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. Kapasitas kerja yang baik seperti
status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan
agar seseorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya secara baik. Beban kerja meliputi beban
kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang
terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat
kerja.
Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, bising, debu, zat kimia, dll) dapat merupakan
beban tambahan terhadap pekerja. Beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri maupun
bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibatnya. Gangguan kesehatan pada
pekerja dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan maupun yang
tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan
kerja dari masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya-bahaya kesehatan ditempat
kerja dan kingkungan kerja tetapi juga faktor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja
serta faktor-faktor lainnya.
Lingkungan Kerja dan Penyakit Yang Ditimbulkannya
Penyakit akibat kerja dan atau penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dapat
disebabkan oleh pemaparan terhadap lingkungan kerja. Dewasa ini terhadap kesenjangan antara
pengetahuan ilmiah tentang bagaimana bahaya-bahaya kesehatan berperan dan usaha-usaha
untuk mencegahnya. Juga masih terdapat pendapat yang sesat bahwa dengan mendiagnosis
secara benar penyakit-penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh zat/bahan yang berbahaya di
lingkungan kerja, sudah membuat sutuasi terkendalikan. Walaupun merupakan langkah yang
penting namun hal ini bukan memecahkan masalah yang sebenarnya. Pendekatan tersebut
tetap membiarkan lingkungan kerja yang tidak sehat tetap tidak berubah, dengan demikian
potensi untuk menimbulkan gangguan kesehatan yang tidak diinginkan juga tidak berubah'
Hanya dengan diagnosa" dan "pengobatan/ penyembuhan" dari lingkungan kerja, yang dalam hal
ini disetarakan berturut-turut dengan "pengenalan/evaluasi" dan "pengendalian efektif" dari
bahaya-bahaya kesehatan yang ada dapat membuat lingkungan kerja yang sebelumnya tidak
sehat menjadi sehat.
Untuk dapat mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya-bahaya dilingkungan
kerja yang diperkirakan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja utamanya terhadap para
pekerja, ditempuh 3 langkah utama yaitu : Pengenalan lingkungan kerja, evaluasi lingkungan
kerja dan pengendalian lingkungan dari berbagai bahaya dan resiko kerja.
1. Pengenalan lingkungan kerja
Pengenalan dari berbagai bahaya dan risiko kesehatan dilingkungan kerja
biasanya pada waktu survai pendahuluan dengan cara melihat dan mengenal ("walk-
through survey"), yang salah satu langkah dasar yang pertama-tama harus dilakukan
dalam upaya program kesehatan kerja. Beberapa diantara bahaya dan resiko tersebut
dapat denganmudah dikenali, seperti masalah kebisingan disuatu tempat, bilamana
sebuah percakapan sulit untuk didengar, atau masalah panas disekitar tungku pembakaran
atau peleburan yang dengan segara dapat kita rasakan. Beberapa hal lainnya yang tidak
jelas atau sulit untuk dikenali seperti zat-zat kimia yang berbentuk dari suatu rangkaian
proses produksi tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya.
Untuk dapat mengenal bahaya dan resiko lingkungan kerja dengan baik dan tepat,
sebelum dilakukan survai pendahuluan perlu didapatkan segala informasi mengenai
proses dan cara kerja yang digunakan, bahan baku dan bahan tambahan lainnya, hasil
antara hasil akhir hasil sampingan serta limbah yang dihasilkan. Kemungkinan
terbentuknya zat-zat kimia yang berbahaya secara tak terduga perlu pula
dipertimbangkan. Hal-hal lain yang harus diperhatikan pula yaitu efek-efek terhadap
kesehatan dari semua bahaya-bahaya dilingkungan kerja termasuk pula jumlah pekerja
yang potensial terpapar, sehingga langkah yang ditempuh, evaluasi serta pengendaliannya
dapat dilakukan sesuai dengan prioritas kenyataan yang ada.
2. Evaluasi Lingkungan kerja
Evaluasi ini akan menguatkan dugaan adanya zat/bahan yang berbahaya
dilingkungan kerja, menetapkan karakteristik-karakteristiknya serta memberikan
gambaran cakupan besar dan luasnya pemajanan. Tingkat pemajanan dari zat/bahan yang
berbahaya dilingkungan kerja yang terkendali selama survai pendahuluan harus
ditentukan secara kualitatif dan atau kuantitatif, melalui berbagai teknik misalnya
pengukuran kebisingan, penentuan indeks tekanan panas, pengumpulan dan analisis dari
sampel udara untuk zat-zat kimia dan partikelpartikel (termasuk ukuran partikel) dan
lain-lain. Hanya setelah didapatkan gambaran yang lengkap dan menyeluruh dari proses
pemajanan kemudian dapat dibandingkan dengan standar kesehatan kerja yang berlaku,
maka penilaian dari bahaya atau risiko yang sebenarnya terdapat dilingkungan kerja yang
telah tercapai.
3. Pengendalian Lingkungan kerja
Pengendalian lingkungan kerja dimaksudkan untuk mengurangi atau
menghilangkan pemajanan terhadap zat atau bahan yang berbahaya dilingkungan kerja.
kedua tahapan sebelumnya pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah
lingkungan kerja yang sehat. Jadi hal ini hanya dapat dicapai dengan teknologi
pengendalian yang adekuat untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan dikalangan
para pekerja. Walaupun setiap kasus mempunyai keunikan masing-masing, terdapat
prinsip-prinsip dasar teknologi pengendalian yang dapat diterapkan, baik secara sendiri
maupun dalam bentuk kombinasi, terhadap sejumlah besar situasi tempat kerja untuk
memulainya ada beberapa pertanyaan yang perlu dikemukakan, dan jawabanya
diharapkan dapat memberi pedoman terhadap jenis teknologi pengendalian yang paling
tepat dan mungkin untuk dilaksanakan.

KESIMPULAN
Berkurangnya pengelihatan perlahan pada pasien merupakan suatu penyakit akibat kerja,
karena dicetus dari pekerjaannya sebagai seorang koki yang mengharuskannya untuk selalu
memasak dan terpajan suhu panas pada daerah wajahnya. Menyebabkan timbulnya pterigium
pada mata kanan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
1. Harrington JM, Gill FS. Buku saku kesehatan kerja. Edisi ke-3. Jakarta, EGC; 2005: 73-
6,80-4
2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta, Penerbit Erlangga;
2005: 94-5
3. Swartz MH. Buku ajar diagnostik fisik. Jakarta, EGC; 1995: 89-90
4. Burnside JW, McGlynn TJ. Adams diagnosis fisik. Jakarta, EGC; 1995: 115-7
5. James B, Chew C, Bron A. Lecture notes oftalmologi. Edisi ke-9. Jakarta, Penerbit
Erlangga; 2003: 188-20
6. Ilyas HS. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-3. Jakarta, Balai Penerbit FKUI; 2010: 116-7.