Anda di halaman 1dari 183

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Siklus kehidupan dimulai dari terbentuknya embrio yang kemudian
berkembang menjadi janin yang terus tumbuh dan berkembang, proses
tersebut membutuhkan waktu yang tepat untuk dapat beradaptasi dan siap
dilahirkan. Selama proses kehamilan terdapat perubahan-perubahan yang
terjadi meliputi perubahan anatomi dan fisiologi ibu. Tidak hanya perubahan
fisik, perubahan psikologis, perubahan fungsi dapat terjadi selama proses
kehamilan. Kesiapan dari pasangan dalam menyambut kehamilan dan
kelahiran dapat membantu perkembangan psikologis ibu selama masa
kehamilan.
Merencanakan kehamilan sangat penting untuk pasangan usia subur,
keuntungan yang didapatkan dari perencanaan kehamilan yang tepat adalah
baik suami maupun istri dapat dengan sigap membantu perkembangan anak
secara fisik dan emosional sembari mempersiapkan kehamilan selanjutnya.
Perencanaan kehamilan dapat dilakukan dengan konsultasi pada tenaga
kesehatan, beberapa alternatif dapat ditawarkan dan digunakan sesuai dengan
kebutuhan masing-masing pasangan. Merencanakan kehamilan dalam istilah
nasional disebut dengan Keluarga Berencana (KB) membantu pasangan untuk
turut aktif menentukan kualitas kesehatannya.
Penting pula untuk mengetahui masalah-masalah serta tanda dan
gejala yang muncul pada saat seorang wanita mencapai masa klimakterium.
Periode klimakterium terbagi tiga yakni pre-menopause, menopause dan post-
menopause yang memiliki tanda dan gejala masing-masing baik secara fisik
maupun non-fisik. Oleh karena itu, pada makalah ini penulis sajikan materi
terkait proses kehamilan dan persalinan, pengetahuan tentang KB dan proses
klimakterium.

2

1.2 Tujuan
a. Mengetahui konsep dan asuhan keperawatan pada pretenatal
b. Mengetahui konsep dan asuhan keperawatan pada intranatal
c. Mengetahui konsep dan asuhan keperawatan pada postnatal
d. Mengetahui konsep partograf
e. Mengetahui konsep KB
f. Mengetahui konsep dan asuhan keperawatan pada klimakterium

















3

BAB II
ISI


I. KONSEP PRENATAL
A. DEFINISI
Periode prenatal atau masa sebelum lahir adalah periode awal
perkembangan manusia yang dimulai sejak konsepsi, yakni ketika ovum
wanita dibuahi oleh sperma laki-laki sampai dengan waktu kelahiran seorang
individu. Masa ini pada umumnya berlangsung selama 9 bulan kalender atau
sekitar 280 hari sebelum lahir. Dilihat dari segi waktunya, periode prenatal ini
merupakan periode perkembangan manusia yang paling singkat, tetapi justru
pada periode inilah dipandang terjadi perkembangan yang sangat cepat dalam
diri individu.

B. TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN MASA PRENATAL
Pada umumnya para ahli psikologi perkembangan membagi periode
pranatal atas tiga tahap perkembangan , yaitu :
1. Tahap Germinal (germinal stage)
Tahap germinal, yang sering disebut juga periode zigot, ovum atau
periode nuthfah yang secara harfiah berarti setetes cairan. Periode germinal
ini berlangsung kira-kira 2 minggu pertama dari kehidupan , yakni sejak
terjadinya pertemuan antara sel sperma laki-laki dengan sel telur (ovum)
perempuan, yang dinamakan pembuahan (fertilization). Saat itu sel sperma
pria bergabung dengan sel telur wanita (ovum) dan menghasilkan satu benuk
sel baru yang disebut zigot. Zigot ini kemudian membelah-belah menjadi sel-
sel yang berbentuk bulatan-bulatan kecil yang disebut blastokis. Setelah
sekitar 3hari, blastokis mengandung sekitar 60 sel.
Blastokis, yang berisikan cairan, dengan cepat mengalami sejumlah
perubahan penting. Blastokis ini juga dibedakan atas tiga lampisan, yaitu
4

lapimsan atas (ectoderm), lampisan tengah (mesoderm), dan lampisan bawah
(endoderm). Dari ectoderm berkembang rambut, gigi, dan kuku, kulit ari, dan
kelenjar-kelenjar kulit , panca indra, sistem saraf. Dari mesoderm
berkembang otot, tulang atau rangka, sistem pembuangan kotoran dan sistem
peredaran darah, serta kulit lapisan dalam. Sementara itu endoderm meliputi
sistem pencernaan, hati, pankreas, kelenjar ludah dan sistem pernapasan.
Dalam waktu singkat plasenta, tali pusat, dan kantong amniotik juga akan
terbentuk dari sel-sel blastokis.
Setelah beberapa hari, kira-kira seminngu setelah konsepsi blastokis
menempel di dinding rahim. Blastokis yang telah tertanam secara penuh di
dinding rahim inilah disebut embrio.
2. Tahap Embrio (embriyonic stage)
Tahap yang kedua dari periode pranatal disebut tahap embrio, yang
dalam psikologi islam disebut tahap alaqah, yang secara harfiah berarti
sesuatu yang menempel atau melekat pada rahim. Tahap embrio ini dimulai
dari 2 minggu sampai 8 minggu setelah pembuahan, yang ditandai dengan
terjadinya banyak perubahan pada semua organ utama dan sistem-sistem
fisiologis. Tetapi, karena ukuran panjangnya hanya sekitar 1 inci, maka
bagian-bagian tubuh embrio itu belum sepenuhnya berbentuk tubuh orang
dewasa. Namun, ia sudah dapat dikenali sebagai manusia dalam bentuk kecil.
Selama periode embrio ini, pertumbuhan terjadi dalam dua pola, yaitu
cephalocaudal dan proximodistal. cephalocaudal adalah proses pertumbuhan
yang dimulai dari bagian kepala, kemudian terus ke bagian bawah dan sampai
ke bagian ekor. Sedangkan proximodistal adalah proses pertumbuhan yang
dimulai dari bagian-bagian yang paling dekat dengan tengah badan, kemudian
baru ke bagian-bagian yang jauh dari tengah badan.
Di samping itu, dalam periode embrio ini, terdapat tiga sarana penting
yang membantu perkembangan struktur anak, yaitu kantong amniotik,
plasenta, dan tali pusat. Periode embrio ini juga ditandai dengan suatu
perkembangan yang cepat pada sistem saraf. Pada tahap ini organ-organ seks
juga mulai terbentuk serta otot da tulang rawan mulai berkembang. Organ
5

dalam, seperti isi perut, hati, pankreas, paru-paru, dan ginjal, mulai terbentuk
dan mulai berfungsi secara sederhana.

3. Tahap J anin (fetus stage)
Periode ketiga dari perkembangan masa pranatal disebut sebagai
periode fetus atau janin, yang dalam psikologi islam disebut periode
mudhghah, yang secara harfiah berarti sepotong daging yang telah di
kunyah. Periode ini dimulai dari usia 9 minggu sampai lahir. Setelah sekitar 8
minggu kehamilan, embrio berkembangan menjadi sel-sel tulang. Dalam hal
ini embrio memperoleh suatu nama baru yang disebut janin. Dalam periode
ini, ciri-ciri fisik orang dewasa secara lebih proporsional mulai terlihat.
Menurut psikologi islam, setelah janin dalam kandungan itu genap
berumur 4 bulan, yaitu ketika janin telah terbentuk sebagai manusia, maka
ditiupkan ruh ke dalamnya. Selain itu, juga ditentukan hukum-hukum
perkembangannya, seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan
tingkah laku. Dengan ditiupkan ruh oleh Allah ke dalam jaini tersebut, maka
pada bulan keempat dan kelima ibu sudah merasakan gerakan-gerakan
janinnya. Pada saat ini ciri-cirinya sebagai manusia semakin terlihat.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERKEMBANGAN MASA PRENATAL
1. Kesehatan I bu
Penyakit yang diderita oleh ibu hamil dapat mempengaruhi
perkembangan masa pranatal. Apalagi penyakit tersebut bersifat kronis
seperti, kencing manis, TBC, penyakit kelamin, dan sebagainya. Itu dapat
mengakibatkan lahirnya bayi-bayi yang cacat. Demikian pula bila terjadi
benturan ketika janin berusia 3 bulan disertai dengan gangguan-gangguan
kesehatan pada ibu, seperti influensa, gondok, cacar, dapat merusak
perkembangan janin.
2. Gizi I bu
Faktor lain yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan masa
pranatal adalah gizi ibu. Hal ini terjadi karena janin yang sedang berkembang
6

sangat tergantung pada gizi ibunya, yang diperoleh melalui darah ibunya.
Oleh sebab itu makanan ibu-ibu yang sedang hamil harus mengandung cukup
protein, lemak, vitamin, dan karbohidrat untuk menjaga kesehatan bayi.
Anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan gizi cenderung cacat.
3. Pemakaian bahan-bahan kimia oleh I bu
Bahan-bahan kimia yang terdapat pada obat-obatan atau makanan yang
ada dalam peredaran darah ibu yang tengah hamil, dapat mempengaruhi
perkembangan janin. Bahan-bahan kimia tersebut dapat menimbulkan efek
samping, baik pada fisik maupun pada sistem kimiawi dalam tubuh janin
yang disebut metabolite. Bahan-bahan kimia juga dapat mempengaruhi
lingkungan di dalam rahim ibu yang secara tidak langsung juga
mempengaruhi janin.
4. Keadaan dan Ketegangan Emosi I bu
Keadaan emosinal ibu selam kehamilan juga mempunyai pengaruh
yang besar terhadap perkembangan masa pranatal. Hal ini terjadi karena
ketika seorang ibu hamil mengalami ketakutan, kecemasan, stres dan emosi
lain yang mendalam, maka terjadi perubahan psikologis, antara lain
meningkatnya pernapasan dan sekresi oleh kelenjar. Adanya produksi
hormon adrenalin sebagai tanggapan terhadap ketakutan akan menghambat
aliran darah ke daerah kandungan dan membuat janin kekurangan udara. Dan
ini mengakibatkan kelahiran bayi yang abnormal.

D. PERUBAHAN ANATOMI DAN FISIOLOGI PADA WANITA
HAMIL
1. Uterus
Uterus bertambah besar dari beratnya 30 gr menjadi 1000 gr
dengan ukuran panjang 32 cm, lebar 24 cm, dan ukuran muka belakang 22
cm. Pembesaran ini disebabkan oleh hypertrofi dari otot-otot rahim
(Sastrawinata, 1983 : 140).
Tinggi Fundus Uteri 12 minggu diatas simphisis, 16 minggu antara
pusat dan symphisis, 20 minggu di pinggir bawah pusat, 24 minggu di
pinggir atas pusat, 28 minggu 3 jari di atas pusat, 32 minggu pertengahan
7

pusat dan proxesus xipoideus, 40 minggu kembali 3 jari di bawah prossesus
xipoideus (Winkjosastro, 2007 : 90-91).
2. Serviks Uteri
Serviks uteri karena hormon estrogen mengalami hipervaskularisasi
maka konsistensi serviks menjadi lunak, kelenjar-kelenjar di serviks akan
berfungsi lebih dan mengeluarkan sekresi lebih banyak. (Winkjosastro,
2007 : 94).
3. Vulva dan vagina
Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva
tampak lebih merah, agak kebiruan (lividae) disebut tanda Chadwick.
(Winkjosastro, 2007 : 94).
Getah dalam vagina biasanya bertambah dalam kehamilan, reaksi
asam ph 3,5-6,0 reaksi asam ini mempunyai sifat bakterisida
(Sastrawinata,1983 : 143).
4. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum
gravidarum sampai terbentuknya placenta pada kira-kira kehamilan 16
minggu, kemudian mengecil setelah placenta terbentuk. (Winkjosastro, 2007
: 95).
5. Payudara/mammae
Perubahan payudara pada kehamilan pertama terasa nyeri
Karena terdapat timbunan air dan garam yang mendesak saraf sensorik.
Pembuluh darah makin tampak sebagai tanda persiapan pembentukan ASI.
(Manuaba, 1998 : 108).
Puting susu biasanya membesar dan lebih tua warnanya dan
biasanya mengeluarkan colostrums. Areola Mammae melebar lebih tua
warnanya, pembesaran buah dada disebabkan hipertrofi dari alveoli.
(Sastrawinata, 1983 : 146).
6. Sirkulasi Darah
Volume darah total dan volume plasma darah naik pesat sejak
akhir trimester pertama. Volume darah akan bertambah banyak, kira-
kira 25 %, dengan puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuti
8

curah jantung yang meningkat 30%. Akibat hemodilusi yang mulai jelas
pada kehamilan 4 bulan, ibu yang menderita penyakit jantung dapat jatuh
dalam keadaan dekompensatio cordis. Kenaikan plasma darah dapat
mencapai 40% saat mendekati kelahiran.
Gambaran protein dalam serum berubah, jumlah protein, albumin
dan gamaglobulin menurun dalam triwulan pertama dan meningkat secara
bertahap pada akhir kehamilan.
Hematokrit cenderung menurun karena kenaikan relative volume
plasma darah. Jumlah eritrosit cenderung meningkat untuk memenuhi
kebutuhan transport oksigen yang sangat diperlukan selama kehamilan.
Konsentrasi Hb terlihat menurun, walaupun sebenarnya lebih besar
dibandingkan Hb pada orang yang tidak hamil. Anemia fisiologis ini
disebabkan oleh volume plasma yang meningkat. Dalam kehamilan, leukosit
meningkat sampai 10.000/cc, begitu pula dengan produksi trombosit.
Tekanan darah arteri cenderung menurun terutama selama
trimester kedua, dan kemudian akan naik lagi seperti pada pra-hamil.
Tekanan vena dalam batas-batas normal pada ekstremitas atas dan bawah,
cenderung naik setelah trimester pertama. Nadi biasanya naik, nilai rata-
ratanya 84 kali per menit.
Pompa jantung mulai naik kira-kira 30% setelah kehamilan tiga
bulan dan menurun lagi pada minggu-minggu terakhir kehamilan.
Elektrokardiogram kadangkala memperlihatkan deviasi aksis ke kiri. (Rustam
Mochtar: 1998)
Batas batas fisiologis menurut Sastrawinata, 1983 : 148 adalah
a. Hb 10 gr %
b. Erytrosit 3,5/mm3
c. Leukosit 8000-10000/mm33
7. Sistem Respirasi
Pada kehamilan 32 minggu terdapat keluhan sesak dan nafas pendek.
Hal ini disebabkan uterus yang membesar menekan diafragma. Wanita
hamil selalu bernafas lebih dalam dan lebih menonjol/pernapasan dada
(thoracic bhreating). Sejalan dengan peretumbuhan janin dan mendorong
9

diafragma keatas, bentuk dan ukuran rongga dada berubah tetapi tidak
membuatnya lebih kecil. Kapasitas paru terhadap udara inspirasi tetap sam
seperti sebelum hamil atau mungkin berubah dengan berarati. Kecepatan
pernapasan dan kapasitas vital tidak berubah. Volume tidal, volume
ventilator permenit, dan ambilan oksigen meningkat. Karena bentuk dfari
rongga torak berubah dan karena bernapas lebih cepat, sekitar 60% wanita
hamil mengeluh sesak napas.

8. Membran Mukosa
Walaupun penyebabnya tidak diketahui dengan jelas, bengkak
seperti alergi pada membran mukosa merupakan hal umum pada
kehamilan. Hal ini menyebabkan gejala serak, hidung tersumbat,
dispnea, sakit tenggorokan, perdarahan hidung, hilangnya perasa indra
penciuman. Obat-obat yang dapat menyusutkan baik lokal atau sistemik
mungkin diresepkan untuk mengurangi gejala, yang akan menghilang
setelah melahirkan.
9. Tractus Digestivus
Akibat hormon estrogen yang meningkat menyebabkan tonus otot
tractus digestivus menurun sehingga motilitas tractus digestivus juga
berkurang, makanan lebih lama di dalam lambung dan apa yang dicerna,
lama dalam usus. Hal ini baik untuk reabsorbsi tetapi akan
menimbulakan obstipasi. Sistem gastrointestinal terpengaruh dalam
beberap hal karena kehamilan. Tingginya kadar progesteron mengganggu
keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolesterol dalam darah, dan
melambatkan kontraksi otot-otot polos. Sekresi saliva menjadi lebih
asam dan lebih banyak, dan asam lambung menurun. Perbesaran uterus
lebih menekan diafragma, lambung dan intestin.
Pada bulan-bulan awal masa kehamilan , sepertiga wanita
mengalami mual dan muntah. Sebagaimana kehamilan berlanjut, penurunan
asam lambung, melambatkan pengosongan lambung dan menyebabkan
kembung. Menurunnya gerakan peristaltik tidak saja menyebabkan mual
tetapi juga konstipasi,lebih banyak feces terdapat dalam usus, lebih banyak
10

air yang diserap akan semakin keras jadinya.knstipasi juga disebabkan oleh
tekanan uterus pada usus bagian bawah pada awal masa kehamilan dan
kembali pada masa akhir kehamilan.
Gigi berlubang terjadi lebih mudah pada saliva yang bersifat
asam selama kehamilan dan membutuhkan perawatan yang baik untuk
mencegah karies gigi. Pada bulan-bulan terakhir, nyeri ulu hati dan
regurgitasi (pencernaan asam) merupakan ketidaknyamanan yang
disebabkan tekanan ke atas dari perbesaran uterus, pelebaran pembuluh
darah rektum (hemoroid) dapat terjadi.
10. Tractus Urinarius
Pada bulan pertama kehamilan kandung tertekan oleh uterus yang
mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini hilang
dengan makin tuanya kehamilan bila uterus keluar dari rongga panggul.
Pada akhir kehamilan bila kepala janin mulai turun ke bawah PAP keluhan
sering kencing timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan lagi
Disamping itu terjadi poli uria disebabkan oleh adanya peningkatan
sirkulasi darah di ginjal pada kehamilan sehingga filtrasi di glomerulus
meningkat sampai 69 %. Di bawah keadaan yang normal, peningkatan
kegiatan penyaringan darah bagi ibu dan janinyang tumbuh tidak
membuatginjal dan ureter bekerja keras. Keduanya menjadi dilatasi karena
peristaltik uretra menurun. Sebagai akibat, gerakan urine ke kandung
kemih lebih lambat. Stasis urine ini meningkatkan kemungkinan pielonefritis.
Pada awal kehamilan, suplai darah ke kandung kemih meningkat,
dan perbesaran uterus menekan kandung kemih. faktor-faktor tersebut
menyebabkan meningkatnya berkemih. Mendekati kelahiran janin turun
lebih rendah ke pelvis,lebih menekan lagi kandung kemih dan semakin
menigkatkan berkemih. Walaupun gejala ini sangat tidak menyenangkan.
11. Kulit
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat
tertentu, pigmentasi ini pengaruh dari melanophore stimulating hormone
(MSH), kadang pada daerah dahi, pipi, hidung, dikenal sebagai gravidarum,
di areola mammae, di perut juga terdapat striae (lividae).
11

Sebagaimana janin tumbuh, uterus membesar, menonjol keluar. Hal
ini menyebabkan tonjolan da kemudian membusung. Serabut-serabut
elastic dari lapisan kulit terdalam terpisah dan putus karena regangan. Tanda
regangan yang dibentuk disebut striae gravidarum. Terlihat pada abdomen
dan bokong terjadi pada 50% wanita hamil dan menghilang menjadi
bayangan yang lebih terang setelah melahirkan. Wanita mungkin
mengalai pruritus (rasa gatal) sebagai akibat regangan tersebut.
Penyembuhan sementara dapat dicapai dengan menggunakan lotion agak
hangat.
Pengumpulan pigmen sementara mungkin terlihat pada bagian
tubuh tertentu, tergantung pada warna kulit yang dimiliki. Linea nigra atau
garis gelap mengikuti midline abdomen. Cholasma atau topeng kehamilan,
terlihat seperti bintik-bintik hitam pada wajah. Areola sekitar putting
membesar dan warnanya menjadi lebih gelap. Semua area yang mengalami
peningkatan pigmentasi akan menghilang setelah melahirkan.
Selain itu, kelenjar sebasea atau keringat menjadi lebih aktif selama
masa kehamilan.sebagai akibatnya, wanita hamil mungkin mengalami
gangguan bau badan, banyak mengeluarkan keringat yang membasahi
pakaiannya, dan berminyak, sulit untuk merapikan rambutnya.
12. Sistem Muskuloskeletal
Gigi, tulang dan persendian
Selama masa kehamilan wanita membutuhkan kira-kira sepertiga
lebih banyak kalsium dan fosfor. Dengan diit yang seimbang kebutuhan
tersebut terpenuhi dengan baik. Karies gigi tidak disebabkan oleh
dekalsifikasi, sejak kalsium gigi telah dibentuk. Terdapat bukti bahwa
saliva yang asam pada saat hamil membantu aktivitas penghancuran
bakteri email yang menyebabkan karies.
Dilain pihak, sendi pelvik pada saat kehamilan sedikit dapat
bergerak. Postur tubuh wanita secara bertahap mengalami perubahan
karena janin membesar dalam abdomen. Untuk mengkompensasi
penambahan berat ini, bahu lebih tertarik kebelakang dan tulang belakang
lebih melekung, sendi tulang belakang lebih lentur, dapat menyebabkan
12

nyeri punggung pada beberapa wanita. Penggunaan bantal untuk
menyokong punggung mungkin dianjurkan untuk kasusu ini.
Otot
Kram otot-otot tungkai dan kaki merupakan masalah umum
selama kehamilan. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi mungkin
berhubungan dengan metabolisme kalsium dan fosfor, kurangnya drainase
sisa metabolisme otot atau postur yang tidak seimbang. Kram biasanya
terjadi setelah berdiri sepanjang hari dan pada malam hari setelah tubuh
istirahat. Szedikit gerakan dan penggunaan kompres hangat dapat sedikit
membantgu. Aktivitas sehari-hari yang sedang dan lebih banyak waktu
untuk istirahat dengan kaki dinaikan merupakan cara yang pada umumnya
berhasil untuk mengurangi ketidaknyamanan ini.
13. Sistem persarafan
Saraf perifer
Tidak terjadi perubahan saraf yang normal selama kehamilan.
Terkadang gejala timbul karena melemahnya persendian, seperti yang
telah dijelaskan tentang perubahan tulang dan sendi pada kehamilan.
Kadan-kadang perubahan postur pada kehamilan dapat menyebabkan
acrodysesthesia, atau numbness, tingling, dan kaku pada semua bagian
lengan, tangan, atau jari-jari. Hal ini sepenuhnya merupakan masalah
mekanis dan dapat dihilangkan dengan menyokong bahu dengan bantal
pada malam hari dan menjaga postur tubuh yang baik selama siang hari.
Otak
Walaupun jaringan otak kemungkinan tiadak mengalami perubahan,
efek psikologis mungkin saja dapat terjadi. Swing mood lebih umum
terjadi. Terkadang wanita tidak menerima kehamilannya, dan mungkin terjadi
psikosis.
14. Sistem endokrin
Kelenjar dari system endokrin menghasilkan bahan-bahan
kimia yang mempengaruhi seluruh tubuh. Selama masa kehamilan banyak
perubahan pada kelenjar ini.
a. Kelenjar tiroid
13

Selama masa kehamilan, basal metabolic rate (BMR) meningkat hampir
20% dan kelenjar tiroid membesar, tetapi jumlah hormon yang dihasilkan
tetap sama. Ukurannya meningkat karena pertumbuhan sel-sel acinar,
dan meningkatnya metabolic rate disebabkan karena oksigen yang
digunakan lebih banyak.
b. Kelenjar paratiroid
Kelenjar paratiroid ukuranya meningkat selama kehamilan, terutama
minggu ke 15-30 ketika kebutuhan kalsium janin lebih besar. Hormon
paratiroid penting untuk mempertahankan kecukupan kalsium di dalam
darah, tanpa hormon tersebut metabolisme tulang dan otot terganggu.
c. Pankreas
Insulin dihasilkan oleh sekelompok sel-sel kecil yang disebut
pulau langerhans yang terjadi di seluruh jaringan pankreas selama
kehamilan. Selama masa kehamilan sel-sel ini tumbuh dan menghasilkan
lebih banyak insulin untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
Walaupun dengan demikian, karena keterbatasan penyimpanan glikogen,
waniata sehat yang hamil kurang mampu mengatasi jumlah gula yang
lebih banyak, sehingga beberapa dari mereka mengeluarkannya kedalam
urin. Bagi ibu yang diabetes, kehamilan merupakan hal yang riskan dan
membutuhkan pengawasan medis yang berkelanjutan.
d. Kelenjar Pituitari
Lobus anterior dari kelenjar pituitari mengalami sedikit pembesaran
selama kehamilan dan terus menghasilkan semua hormon tropik, tetapi
dengan jumlah yang sedikit berbeda. FSH ditekan oleh Chorionic
gonadotropin yang dikasilkan dalam plasenta. Hormon pertumbuhan
berkurang dan hormonn melanotropik meningkat, menyebabkan pigmentasi
puting susu, wajah dan abdomen. Pembentukan prolaktin meningkat dan
berlanjut setelah persalinan selama menyusui.
e. Kelenjar Adrenal
Ukuran kelenjar adrenal meningkat selama kehamilan terutam
bagian kortikal yang membentuk kortin. Jumlah ion natrium dan kalium
dalam aliran darah diatur oleh kortin. Bagian medula dari kelenjar
14

adrenal mensekresi epineprin, hormon yang sangat penting. Kehamilan
yang tidak mengubah ukuran atau fungsi bagian medula.
15. Metabolisme dalam kehamilan
Umumnya kehamilan mempunyai efek pada metabolisme, karena
itu wanita hamil perlu mendapatkan makanan yang bergizi dan dalam
keadaan sehat.
a. Pada wanita hamil, basal metabolic rate (BMR) meningkat 15-20
% pada triwulan terakhir, sistem endokrin juga meninggi.
b. Keseimbangan asam alkali mengalami penurunan konsentrasi.
c. Kadar alkalin fosfatase meningkat 4 kali lipat yang dimulai pada
kehamilan 4 bulan
d. Berat badan wanita hamil akan naik kira-kira diantara 6,5-16,5 kg.
Kenaikan berat badan ini terjadi terutama dalam kehamilan 20 minggu
terakhir, hal ini disebabkan oleh : hasil konsepsi (fetus, placenta, liquor
amnii), dari ibu (uterus, mammae, volume darah, lemak ,protein, retensi air
yang meningkat).
16. Peningkatan berat badan
Walaupun peningkatan berat badan lebih bersifat individual,
peningkatan berat badan rata-rata yang terjadi selaam masa kehamilan
terdapat pada tabel di bawah.












15

Gram Pon
IBU
Uterus
Payudara
Darah
Jaringan
Lemak
Subtotal

JANIN
Plasenta
Cairan amniotik
Subtotal

TOTAL


900
450
1 350
1 350
4 050
8 100


3 150
675
900

4 725
12 825

1,98
0,99
2,97
2,97
8,91
17,82


6,93
1,49
1,98

10,40
28,22

Wanita yang mempunyai berat badan kurang atau yang
mengandung lebih dari satu bayi, berat badannya harus meningkat lebih
banyak selama kehamilan. Bagi yang kelebihan berat badan harus
menghindari diit yang berlebihan dan penurunan berat badan yang drastis
dapat menyebabkan ketosis dan membahayakan janin.
Secara normal, berat badan yang didapat adalah sebagai berikut :
1. Trimester pertama 2- 4 pon
2. Trimester kedua 12-15 pon
3. Trimester ketiga 8-10 pon
Secara umum, diit bebas, seimbang dengan jumlah cairan yang cukup
sangat dianjurkan. Pengawasan berat badan dengan ketat tidak lagi
dianjurkan karena ibu yang mengalami peningkatan berat badan kurang
dari 20 pon memiliki lebih banyak melahirkan bayi dengan berat
badan lahir rendah. Anjuran terakhir untuk rata-rata wanita harus
meningkatkan berat badannya lebih dari 25 pon dan kurang dari 40 pon
selama kehamilan.


16


Perubahan Psikologis pada wanita hamil
Kehamilan adalah saat-saat krisis saat terjadinya gangguan, perubahan
identitas dan peran bagi setiap orang : ibu, bapak, dan anggota keluarga.
Ketika wanita pertama kali mengetahui dirinya hamil mungkin ia merasa syok
dan menyangkal. Walaupun kehamilan tersebut direncanakan. Terjadinya
syok disebabkan karena kehamilan diikuti oleh rasa bingung dan
preoccupation dengan masalah yang mengganggu. Tiap wanita
membayangkan tentang kehamilan dalam pikiran-pikirannya sendiri tentang
seperti apa wanita hamil dan seorang ibu. Ia membentuk bayangan ini
dari ibunya sendiri, pengalaman hidupnya, dan kebudayaan tempat ia
dibesarkan. Persepsi ini mempengaruhi bagaimana ia berespon terhadap
kehamilan. Beberapa wanita berpikir kehamilan sebagai cara untuk
melestrarikan alam, penghargaan, atau emansipasi dari kontrol parental.
Kehamilan merupakan sebagian proses dari kehidupan seorang
wanita dimana proses ini akan menyebabkan adanya peruibahan pada
ibu tersebut, perubahan yang terjadi meliputi fisik, mental dan sosialnya.
Adapun perubahan psikologis secara umum pada wanita hamil diantaranya:
1. Semua perubahan fisik akan mempunyai dampak terhadap psikososial,
sebagai contoh perubahan sistem pencernaan adanya mual dan mutah
dapat menimbulkan perasaan menganggu orang lain, ia merasa stress
dan kotor bagi dirinya selanjutnya ia selalu berusaha tidak mengikuti
kegiatan-kegiatan dan menarik diri dari lingkungan sosialnya.
2. Kehamilan menyebabkan perubahan body image maupun perubahan
hubungan sosial, serta perubahan peran dalam keluarga.
3. Perubahan berupa ambivalen merupakan perubahan emosi, yaitu
keadaan mempunyai perasaan yang bertentangan, hal ini dipengaruhi
oleh faktor: ekonomi keluarga, pekerjaan, rencana hamil, takut akan
perubahan peran, takut tentang kehamilan dan persalinan itu
sendiri. Ambivalen dapat dinyatakan oleh ibu atau ditekan sendiri juga
timbul keadaan menolak kehamilannya, depresi, enek, muntah atau
keluhan-keluhan somatic lainnya.
17

4. Perubahan Emosi, adanya perasaan menerima kehamilan akan timbul
pada trimester ke 2.
5. Merasa selalu ingin sendiri, pada saat ini ibu memberikan perhatian
untuk merencanakan, menyesuaikan serta mempersiapkan untuk
kelahiran anaknya.
6. Emosi yang labil, selama kehamilan keadaan emosi ibu akan selalu
berubah-ubah mulai dari perasaan tenang sampai perasaan sedih
7. Gambaran tubuh (Body Image)
Gambaran tubuh merupakan bagaimana kita mengartikan gambaran
tubuh kita, kehamilan akan menghasilkan perubahan pada tubuh
ibu mengakibatkan gangguan pada susunan tubuh dalam waktu
relative pendek serta dapat menyebabkan perubahan terhadap
gambaran tubuh ibu hamil.Pada trimester ke 2, ibu mulai sadar
adanya perubahan pada tubuhnya, pada trimester ke 3 kesadaran
akan adanya perubahan semakin meningkat.

Selain perubahan psikologis secara umum, terdapat perubahan
psikologis yang biasanya dirasakan pada setiap trimester yang
dilalui ibu hamil, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Trimester Pertama (1 sampai 3 bulan)
Sebagian besar wanita mengalami kegembiraan tertentu karena
mereka telah dapat menyesuaikan diri dengan rencana membentuk
hidup baru. Karena tubuh dan emosi seluruhnya berhubungan,
perubahan fisik dapat mempengaruhi emosi. Calon ibu tidak
merasa sehat benar dan umumnya mengalami depresi. Calon bapak
mungkin ada yang memandang wanita hamil dengan kekaguman dan
menghindari hubungan seksual karena takut melukai bayinya.
Sebagian justru ada pria yang gairah seksualnya meningkat pada
wanita hamil. Namun sebagian besar wanita ada yang merasa
syock dan menyangkal kehamilannya jika kehamilannya belum
diinginkan.
2. Trimester Kedua (4 sampai 6 bulan)
18

Biasanya pada waktu ini perasaan lebih menyenangkan. Wanita
hamil telah menerima kehamilannya dan dia menggunakan pikiran
dan energinya yang lebih konstruktif. Dalam trimester ini wanita
hamil dapat merasakan gerakan janinnya pertama kali yang dapat
menyebabkan calon ibu memiliki dorongan psikologis yang besar.
3. Trimester ketiga (7 sampai 9 bulan)
Trimester ketiga ditandai dengan kegembiraan emosi karena
kelahiran bayi. Namun terdapat juga periode tidak semangat dan
depresi, karena ketidaknyamanan bertambah. Reaksi calon ibu
terhadap persalinan secara umum tergantung pada persiapannya
dan persepsinya terhadap kejadian ini. Calon ibu menjadi lelah dan
menunggu nampaknya terlalu lama. Sekitar dua minggu sebelum
melahirkan sebagian wanita mulai mengalami rasa senang. Reaksi
calon ibu terhadap persalinan ini secara umum tergantung pada
persiapannya dan persepsinya terhadap kejadian ini. Kerjasama yang
khusus selama peristiwa ini akan dibicarakan dalam hubungannya
dengan asuhan keperawatan yang diberikan kepadanya. Perasaan
sangat gembira yang dialami ibu seminggu sebelum persalinan
mencapai klimaksnya sekitar 24 jam setelah persalinan. (Persis
Mary Hamilton, 1995 : 63).

E. KLASIFIKASI
Trimester Pertama (Minggu 0 12)
1. Periode Germinal (Minggu 0 3)
Pembuahan telur oleh sperma terjadi pada minggu ke-2 dari hari
pertama menstruasi terakhir.
Telur yang sudah dibuahi sperma bergerak dari tuba fallopi dan
menempel ke dinding uterus (endometrium).
2. Periode Embrio (Minggu 3 8 )
Sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai
terbentuk.
19

Mata, mulut dan lidah terbentuk. Hati mulai memproduksi sel
darah.
Janin berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3 cm
dengan kepala yang besar
3. Periode Fetus (Minggu 9 12)
Semua organ penting terus bertumbuh dengan cepat dan saling
berkait.
Aktivitas otak sangat tinggi.
Trimester kedua (Minggu 12 24)
Pada minggu ke-18 ultrasongrafi sudah bisa dilakukan untuk
mengecek kesempurnaan janin, posisi plasenta dan kemungkinan bayi
kembar.
Jaringan kuku, kulit dan rambut berkembang dan mengeras pada
minggu ke 20 21
Indera penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi.
Kelopak mata sudah dapat membuka dan menutup.
Janin (fetus) mulai tampak sebagai sosok manusia dengan panjang
30 cm.
Trimester ketiga (24 -40)
Semua organ tumbuh sempurna
Janin menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi
(nendang, nonjok) serta periode tidur dan bangun. Masa tidurnya
jauh lebih lama dibandingkan masa bangun.
Paru-paru berkembang pesat menjadi sempurna.
Pada bulan ke-9, janin mengambil posisi kepala di bawah, siap
untuk dilahirkan.
Berat bayi lahir berkisar antara 3 -3,5 kg dengan panjang 50 cm

F. PERKEMBANGAN JANIN

20




Minggu ke-1 :
Minggu ini sebenarnya masih periode menstruasi, bahkan pembuahan
pun belum terjadi. Sebab tanggal perkiraan kelahiran bayi dihitung
berdasarkan hari pertama haid terakhir.
Proses pembentukan antara sperma dan telur yang memberikan
informasi kepada tubuh bahwa telah ada calon bayi dalam rahim. Saat ini
janin sudah memiliki segala bekal genetik, sebuah kombinasi unik berupa 46
jenis kromosom manusia. Selama masa ini, yang dibutuhkan hanyalah nutrisi
(melalui ibu) dan oksigen.
Minggu ke-2 :
Sel-sel mulai berkembang dan terbagi kira-kira dua kali sehari
sehingga pada hari yang ke-12 jumlahnya telah bertambah dan membantu
blastocyst terpaut pada endometrium.
Minggu ke-3:
Sampai usia kehamilan 3 minggu, mungkin belum sadar jika sedang
mengandung. Sel telur yang telah membelah menjadi ratusan akan menempel
pada dinding rahim disebut blastosit. Ukurannya sangat kecil, berdiameter
0,1-0,2 mm.
Minggu ke-4 :
Kini, calon bayi berbentuk embrio. Embrio memproduksi hormon
kehamilan (Chorionic Gonadotropin - hcG), sehingga apabila dilakukan test
21

kehamilan, hasilnya positif. Janin mulai membentuk struktur manusia. Saat
ini telah terjadi pembentukan otak dan tulang belakang serta jantung dan aorta
(urat besar yang membawa darah ke jantung).
Minggu ke-5 :
Terbentuk 3 lapisan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm.
Ektoderm adalah lapisan yang paling atas yang akan membentuk sistem saraf
pada janin tersebut yang seterusnya membentuk otak, tulang belakang, kulit
serta rambut. Lapisan mesoderm berada pada lapisan tengah yang akan
membentuk organ jantung, buah pinggang, tulang dan organ reproduktif.
Lapisan endoderm yaitu lapisan paling dalam yang akan membentuk usus,
hati, pankreas dan pundi kencing.
Minggu ke-6 :
Ukuran embrio rata-rata 2-4 mm yang diukur dari puncak kepala hingga
bokong. Tuba saraf sepanjang punggung bayi telah menutup. Meski belum
terdengar, jantung bayi mulai berdetak pada minggu ini. Sistem pencernaan
dan pernafasan mulai dibentuk, pucuk-pucuk kecil yang akan berkembang
menjadi lengan kaki pun mulai tampak.
Minggu ke-7 :
Akhir minggu ketujuh, panjangnya sekitar 5-13 mm dan beratnya 0,8
gram, kira-kira sebesar biji kacang hijau. Pucuk lengan mulai membelah
menjadi bagian bahu dan tangan yang mungil. Jantung telah dibagi menjadi
bilik kanan dan bilik kiri, begitu pula dengan saluran udara yang terdapat di
dalam paru-paru
Minggu ke-8 :
Panjang kira-kira 14-20 mm. Banyak perubahan yang terjadi pada bayi,
ujung hidung dan kelopak mata mulai berkembang, begitu pula telinga.
Brochi, saluran yang menghubungkan paru-paru dengan tenggorokan, mulai
bercabang. Lengan semakin membesar dan ia memiliki siku. Terjadi
pembentukan lubang hidung, bibir, mulut serta lidah. Matanya juga sudah
kelihatan berada dibawah membran kulit yang tipis. Anggota tangan serta
kaki juga terbentuk walaupun belum sempurna.
Minggu ke-9 :
22

Telinga bagian luar mulai terbentuk, kaki dan tangan terus berkembang
berikut jari kaki dan tangan mulai tampak. Janin mulai bergerak. Dengan
Doppler, bisa didengar detak jantungnya. Minggu ini, panjangnya sekitar 22-
30 mm dan beratnya sekitar 4 gram.
Minggu ke-10 :
Semua organ penting yang telah terbentuk mulai bekerjasama.
Pertumbuhan otak meningkat dengan cepat, hampir 250.000 sel saraf baru
diproduksi setiap menit. Janin mulai tampak seperti manusia kecil dengan
panjang 32-43 mm dan berat 7 gram.
Minggu ke-11 :
Panjang tubuhnya mencapai sekitar 6,5 cm. Baik rambut, kuku jari
tangan dan kakinya mulai tumbuh. Sesekali di usia ini janin sudah menguap.
Gerakan demi gerakan kaki dan tangan, termasuk gerakan menggeliat,
meluruskan tubuh dan menundukkan kepala, sudah bisa dirasakan ibu.
Bahkan, janin kini sudah bisa mengubah posisinya dengan berputar,
memanjang, bergelung, atau jumpalitan.
Minggu ke-12 :
Bentuk wajah lengkap, ada dagu dan hidung kecil. Jari-jari tangan dan
kaki yang mungil terpisah penuh. Usus telah berada di dalam rongga perut.
Akibat meningkatnya volume darah ibu, detak jantung janin bisa jadi
meningkat. Panjangnya sekitar 63 mm dan beratnya 14 gram.
Mulai proses penyempurnaan seluruh organ tubuh. Janin membesar
beberapa millimeter setiap hari. Jari kaki dan tangan mulai terbentuk
termasuk telinga dan kelopak mata.
Minggu ke-13 :
Pada akhir trimester pertama, plasenta berkembang untuk menyediakan
oksigen, nutrisi dan pembuangan sampah bayi. Kelopak mata merapat untuk
melindungi mata yang sedang berkembang. Janin mencapai panjang 76 mm
dan beratnya 19 gram. Kepala membesar dengan lebih cepat daripada yang
lain. Badannya juga semakin membesar untuk mengejar pembesaran kepala.


23

Minggu ke-14 :
Tiga bulan setelah pembuahan, panjangnya 80-110 mm dan beratnya 25
gram. Lehernya semakin panjang dan kuat. Lanugo, rambut halus yang
tumbuh di seluruh tubuh dan melindungi kulit mulai tumbuh pada minggu ini.
Kelenjar prostat bayi laki-laki berkembang dan ovarium turun dari rongga
perut menuju panggul. Detak jantung mulai menguat tetapi kulit belum tebal
karena belum ada lapisan lemak.
Minggu ke-15 :
Tulang dan sumsum tulang di dalam sistem kerangka terus
berkembang. Jika janin perempuan, ovarium mulai menghasilkan jutaan sel
telur pada minggu ini. Kulit bayi masih sangat tipis sehingga pembuluh
darahnya kelihatan. Akhir minggu ini, beratnya 49 gram dan panjang 113
mm. janin sudah mampu menggenggam tangannya dan mengisap ibu jari.
Kelopak matanya masih tertutup.
Minggu ke-16 :
Janin telah terbentuk sepenuhnya dan membutuhkan nutrisi melalui
plasenta, telah mempunyai tulang yang kuat dan mulai bisa mendengar suara.
Dalam proses pembentukan ini sistem peredaran darah adalah yang pertama
terbentuk dan berfungsi. Janin mulai bergerak Semakin banyak kalsium yang
disimpan dalam tulang seiring dengan perkembangan kerangka. ukuran 116
mm dan beratnya 80 gram.
Minggu ke-17 :
Dengan panjang 12 cm dan berat 100 gram. Lapisan lemak cokelat
mulai berkembang, untuk menjada suhu tubuh bayi setelah lahir. Rambut,
kening, bulu mata, mulai tumbuh dan garis kulit pada ujung jari mulai
terbentuk. Sidik jari sudah mulai terbentuk
Minggu ke-18 :
Mulailah bersenandung sebab janin sudah bisa mendengar pada minggu
ini, bisa terkejut bila mendengar suara keras. Mata berkembang sehingga
akan mengetahui adanya cahaya jika Anda menempelkan senter yang
menyala di perut. Panjangnya sudah 14 cm dan beratnya 140 gram.

24

Minggu ke-19 :
Tubuh janin diselimuti vernix caseosa, semacam lapisan lilin yang
melindungi kulit dari luka. Otak telah mencapai jutaan saraf motorik
karenanya ia mampu membuat gerakan sadar seperti menghisap jempol.
Beratnya 226 gram dengan panjang hampir 16 cm.
Minggu ke-20 :
Beratnya mencapai 260 gram dan panjangnya 14-16 cm. Dibawah
lapisan vernix, kulit bayi mulai membuat lapisan dermis, epidermis dan
subkutan. kuku tumbuh pada minggu ini. Terjadi proses penyempurnaan
paru-paru dan sistem pernafasan. Pigmen kulit mulai terlihat.
Minggu ke-21 :
Usus bayi telah cukup berkembang sehingga ia sudah mampu menyerap
atau menelan gula dari cairan lalu dilanjutkan melalui sistem pencernaan
manuju usus besar. Gerakan bayi semakin pelan karena beratnya sudah 340
gram dan panjangnya 20 cm.
Minggu ke-22 :
Setiap minggu, wajahnya semakin mirip seperti saat dilahirkan.
Perbandingan kepala dan tubuh semakin proporsional
Minggu ke-23 :
Meski lemak semakin bertumpuk di dalam tubuh bayi, kulitnya masih
kendur sehingga tampak keriput. Ini karena produksi sel kulit lebih banyak
dibandingkan lemak. Janin mulai menggerakkan otot jari-jari tangan dan
kaki, lengan dan kaki secara teratur. Beratnya hampir 450 gram. Tangan dan
kaki telah terbentuk dengan sempurna, jari juga terbentuk sempurna.
Minggu ke-24 :
Paru-paru mulai mengambil oksigen meski masih menerima oksigen
dari plasenta. Untuk persiapan hidup di luar rahim, paru-paru mulai
menghasilkan surfaktan yang menjaga kantung udara tetap mengembang.
Kulit mulai menebal.
Minggu ke-25 :
Mulai latihan bernafas. Ia menghirup dan mengeluarkan air ketuban.
Jika air ketuban yang tertelan terlalu banyak, janin akan cegukan. Tulang
25

semakin mengeras dan semakin kuat. Saluran darah di paru-paru sudah
semakin berkembang. Garis disekitar mulut sudah mulai membentuk dan
fungsi menelan sudah semakin membaik. Indera penciuman sudah semakin
membaik karena di minggu ini bagian hidung (nostrils) sudah mulai
berfungsi. Berat sudah mencapai 650-670 gram dengan tinggi badan 34-37
cm.
Minggu ke-26 :
Sudah bisa mengedipkan matanya selain itu retina matanya telah mulai
terbentuk. Aktifitas otaknya yang berkaitan dengan pendengarannya dan
pengelihatannya sudah berfungsi, dapat mulai memperdengarkan lagu yang
ringan dan mencoba untuk memberi cahaya lebih disekitar perut, mungkin
akan dirasakan anggukan kepala si kecil. Berat badan sudah mencapai 750-
780 gram, sedangkan tingginya 35-38 cm.
Minggu ke-27 :
Minggu pertama trimester ketiga, paru-paru, hati dan sistem kekebalan
tubuh masih harus dimatangkan. Namun jika lahir, memiliki peluang 85%
untuk bertahan. Indra perasa mulai terbentuk. Sudah pandai mengisap ibu jari
dan menelan air ketuban yang mengelilinginya. Berat umum 870-890 gram
dengan tinggi badan 36-38 cm.
Minggu ke-28 :
Minggu ini beratnya 1100 gram dan panjangnya 25 cm. Otak semakin
berkembang dan meluas. Lapisan lemak pun semakin berkembang dan
rambutnya terus tumbuh. Lemak dalam badan mulai bertambah. Walaupun
geraka sudah mulai terbatas karena beratnya yang semakin bertambah, namun
matanya sudah mulai bisa berkedip bila melihat cahaya melalui dinding perut
ibunya. Kepalanya sudah mengarah ke bawah. Paru-parunya belum
sempurna.
Minggu ke-29 :
Kelenjar adrenalin mulai menghasilkan hormon seperti androgen dan
estrogen. Hormon ini akan menyetimulasi hormon prolaktin di dalam tubuh
ibu sehingga membuat kolostrum (air susu yang pertama kali keluar saat
menyusui). Sensitifitas semakin jelas, sudah bisa mengidentifikasi perubahan
26

suara, cahaya, rasa dan bau. Selain itu otak sudah bisa mengendalikan nafas
dan mengatur suhu badan. Postur sudah semakin sempurna sebagai seorang
manusia, berat badannya 1100-1200 gram, dengan tinggi badan 37-39 cm.
Minggu ke-30 :
Lemak dan berat badan terus bertambah sehingga bobotnya sekarang
sekitar 1400 gram dan panjangnya 27 cm. Karena ia semakin besar,
gerakannya semakin terasa Mata sudah mulai bergerak dari satu sisi ke sisi
yang lain dan dia sudah mulai belajar untuk membuka dan menutup matanya.
Saat ini waktu yang terbaik untuk menyenteri perut dan menggerak-gerakan
senter tersebut maka mata sudah bisa mengikuti ke arah mana senter tersebut
bersinar. Cairan ketuban (amniotic fluid) di rahim semakin berkurang. Air
mata mulai diproduksi. Berat badan 1510-1550 gram, dengan tinggi 39-40
cm.
Minggu ke-31 :
Plasenta masih memberikan nutrisi yang dibutuhkan. Aliran darah di
plasenta memungkinkan menghasilkan air seni. Janin berkemih hampir
sebanyak 500 ml sehari di dalam air ketuban. Perkembangan fisik sudah
mulai melambat pada fase ini, hanya berat badan yang akan bertambah.
Selain itu lapisan lemak akan semakin bertambah dibawah jaringan kulitnya.
Tulang pada tubuh sudah mulai mengeras, berkembang dan mulai memadat
dengan zat-zat penting seperti kalsium, zat besi, fosfor. Berkebalikan dengan
perkembangan fisiknya, pada fase ini perkembangan otaknyalah yang
berkembang dengan sangat pesat dengan menghasilkan bermilyar sel. Apabila
diperdengarkan musik, akan bergerak. Berat badan 1550-1560 gram dengan
tinggi 41-43 cm.
Minggu ke-32 :
Jari tangan dan kaki telah tumbuh sempurna, begitu pula dengan bulu
mata, alis dan rambut di kepala yang semakin jelas. Lanugo yang menutupi
tubuh mulai rontok tetapi sebagian masih ada di bahu dan punggung saat
dilahirkan. Dengan berat 1800 gram dan panjang 29 cm, kemampuan untuk
bertahan hidup di luar rahim sudah lebih baik apabila di dilahirkan pada
minggu ini.
27

Kulit semakin merah, kelopak matanya juga telah terbuka dan sistem
pendengaran telah terbentuk dengan sempurna. Kuku dari jari mungil tangan
dan kaki sudah lengkap dan sempurna. Rambutnya pun semakin banyak dan
semakin panjang.
Minggu ke-33 :
Memiliki bentuk wajah yang menyerupai ayah dan ibunya. Otak
semakin pesat berkembang dan mulai bisa berkoordinasi antara lain, sudah
menghisap jempolnya dan sudah bisa menelan. Walaupun tulang-tulang
sudah semakin mengeras tetapi otot-otot belum benar-benar bersatu. Sudah
bisa mengambil nafas dalam-dalam walaupun nafasnya masih di dalam air.
Apabila laki-laki maka testis bayi sudah mulai turun dari perut menuju
skrotum. Berat badan 1800-1900 gram, dengan tinggi badan sekitar 43-45
cm.
Minggu ke-34 :
Berada di pintu rahim. Sudah dapat membuka dan menutup mata
apabila mengantuk dan tidur, juga sudah mulai mengedipkan matanya. Tubuh
ibu sedang mengirimkan antibodi melalui darah ke dalam darah janin yang
berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuhnya dan proses ini akan tetap terus
berlangsung bahkan lebih rinci pada saat ibu mulai menyusui. Berat badan
2000-2010 gram, dengan tinggi badan sekitar 45-46 cm.
Minggu ke-35 :
Pendengaran sudah berfungsi secara sempurna. Lemak dari tubuh sudah
mulai memadat pada bagian kaki dan tangannya, lapisan lemak ini berfungsi
untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya. Apabila laki-laki maka di
bulan ini testisnya telah sempurna. Berat badan 2300-2350 gram, dengan
tinggi badan sekitar 45-47 cm.
Minggu ke-36 :
Kulit sudah semakin halus dan sudah menjadi kulit bayi. Lapisan lemak
sudah mulai mengisi bagian lengan dan betis. Ginjal sudah bekerja dengan
baik dan livernya pun telah memproduksi kotoran. Saat ini paru-paru sudah
bekerja baik. Berat badan 2400-2450 gram, dengan tinggi badan 47-48 cm.
Minggu ke-37 :
28

Kepala turun ke ruang pelvik. Bentuk semakin membulat dan kulitnya
menjadi merah jambu. Rambutnya tumbuh dengan lebat dan bertambah 5 cm.
Kuku terbentuk dengan sempurna. Sudah bisa melihat adanya cahaya diluar
rahim. Pada saat ini sedang belajar untuk mengenal aktifitas harian, selain itu
juga sedang belajar untuk melakukan pernafasan walaupun pernafasannya
masih dilakukan di dalam air. Berat badan di minggu ini 2700-2800 gram,
dengan tinggi 48-49 cm
Minggu ke-38 hingga minggu ke-40 :
Proses pembentukan telah berakhir dan bayi siap dilahirkan.

G. MASALAH YANG LAZIM MUNCUL PADA TM I, II, III
Kebutuhan Yang Diperlukan TM I
1. Diagnosa dan taksiran persalinan
2. Jadwal pemeriksaan kehamilan
3. Konseling untuk perawatan diri
Adaptasi Ketidaknyamanan: Perubahan payudara, perubahan frekuensi
berkemih, mual muntah, hidung tersumbat, inflamasi dan perdarahan gusi,
lekorrhea, lemah, respon psikologis dan dinamika keluarga
4. Latihan dan istirahat
5. Relaksasi
6. Nutrisi
7. Sexualitas
8. Perbedaan budaya
9. Tanda-tanda bahaya potensial terjadi komplikasi
10. Tes diagnosis secara khusus

Ketidaknyamanan Selama TM I
1. Perubahan payudara, sensasi baru : nyeri, kesemutan
Pendidikan untuk merawat diri : Bra dan bantalan yang dapat menyerap
keluaran payudara dan yang menyokong payudara, bersihkan dengan air
hangat dan pertahankan tetap kering
2. Peningkatan frekuensi berkemih
29

Pendidikan untuk merawat diri : kegels exercise, membatasi minum
saat akan tidur, gunakan underwear yang menyerap/pad perineal, segera ke
yankes jika terasa nyeri atau merasa terbakar
3. Mual muntah / morning sickness
Pendidikan untuk merawat diri : cegah lambung kosong atau terlalu
penuh, makan tinggi KH dengan porsi kecil frekuensi sering (ex. Popcorn,
roti kering, dan kreckers), atur frekuensi makan klien 6kali sehari dengan
porsi kecil tapi frekuensi sering, makan KH saat terbangun lalu minum teh
panas, tetap di tempat tidur sampai terasa nyaman, hindari minum susu atau
kopi yang sangat pekat, hindari bau-bauan yang menyengat, makan goreng-
gorengan, pedas, berlemak, atau bergas, lapor ke yankes jika terjadi muntah-
muntah yang berlebihan (hiperemesis).

4. Ptyalism
Pendidikan untuk merawat diri : Anjurkan untuk oral hygene, pencuci
mulut astringen, kunyah permen karet atau permen isap padat, beri dukungan

5. Psycoshocial dynamic, tersinggung, perasaan tidak menentu
Pendidikan untuk merawat diri : Diperlukan dukungan baik dari ibu
maupun pasangannya, kedua pasangan butuh keyakinan bahwa kehamilan
cukup menarik, tingkatkan komunikasi antar mereka dan keluarga

Kebutuhan Yang Diperlukan Selama TM I I
1. Jadwal dan kegiatan pemeriksaan
2. Pengkajian
3. Pertumbuhan dan perkembangan janin
4. Tes diagnostic
5. Konseling perawatan diri
Rencana bersalin
Adaptasi ketidaknyamanan : Perubahan kulit, palpitasi, lemah,
distress gastrointestinal, varicosoties, distress neuromuscular dan skeletal
6. Keamanan (safebelt dan bantal kepala)
30

7. Latihan dan istirahat
8. Relaksasi
9. Nutrisi
10. Alcohol dan zat lainnya
11. Sexualitas
12. Personal hygene
13. Tanda-tanda bahaya potensial komplikasi

Ketidaknyamanan Selama TM I I
1. Hiperpigmentasi, jerawat, kulit berminyak
Pendidikan merawat diri : Tidak dapat dicegah, biasanya kembali ke
semula pada masa nifas, beri pengertian pada ibu dan keluarga

2. Spider nevy di area leher, dada, muka, dan tangan
Pendidikan merawat diri : Tidak dapat dicegah, yakinkan kondisi
tersebut akan menghilang secara bertahap pasca persalinan

3. Kemerahan pada telapak tangan terjadi pada 50% ibu hamil,
mungkin bersamaan dengan spider nevy
Pendidikan merawat diri : Tidak dapat dicegah, yakinkan kondisi
tersebut akan menghilang dalam waktu 1 minggu setelah melahirkan

4. Pruritus (non inflammatory)
Pendidikan merawat diri : Upayakan kuku jari pendek dan bersih, tidak
dapat dicegah (symptomatic), turunkan penggunaan sabun mandi atau ganti
sabun, pakaian longgar dan gunakan lotion atau minyak.

5. Palpitasi
Pendidikan merawat diri : Tidak bisa dicegah, yakinkan ibu, refer jika
terjadi gejala cardiac dekompensasi

6. Supine hypotension
31

Pendidikan merawat diri : Miring ke kanan atau setengah duduk dengan
kaki sedikit flexi
7. Lemah dansyncope (hypotensi thoracic)
Pendidikan merawat diri : Olahraga sedang, nafas dalam,
menggerakkan kaki, cegah perubahan posisi yang tiba-tiba, hindari area panas
dan padat, lakukan pergerakan yang perlahan dan bertahap, upayakan
lingkungan dingin, cegah hipoglikemi
8. Ngidam makanan
Pendidikan merawat diri : Tidak dapat dicegah, puaskan ngidamnya
kecuali bila terjadi gangguan keseimbangan nutrisi, laporkan ngidam yang
tidak biasa ke petugas kesehatan
9. Nyeri epigastrik
Pendidikan merawat diri : Batasi/hindari makanan yang dapat
menimbulkan gas dan makanan berlemak dan makan banyak, pertahankan
postur tubuh yang baik, minum susu, teh panas, mengunyah permen karet,
pemberian antacid antara waktu makan
10. Konstipasi
Pendidikan merawat diri : Hidrasi 6 gelas per hari, olahraga sedang,
menjadwalkan waktu buang air, gunakan teknik relaksasi dan nafas dalam,
jangan gunakan pelembut feces
11. Flatulence with bloating an belching
Pendidikan merawat diri : Kunyah makanan secara lambat sampai
lembut, cegah makan makanan mengandung gas, makanan berlemak, makan
porsi banyak, anjurkan olahraga, pertahankan pola buang air
12. Varices pada kaki, vulva, dan anal (hemorrhoid)
Pendidikan merawat diri : Cegah terjadi kegemukan, hindari berdiri
atau duduk terlalu lama, pakaian yang ketat, hindari konstipasi dan mengedan
yang kuat saat BAB, lakukan olahraga sedang, istirahat dengan kaku dan
panggul ditinggikan.



32

13. Leukorrhea
Pendidikan merawat diri : Hindari celana dalam terbuat dari nilon dan
ketat, pakai celana dalam yang terbuat dari katun, gunakan pad perineal,
segera ke yankes jika mengalami gatal, bau menyengat atau perubahan warna
14. Sakit kepala
Pendidikan merawat diri : Dukungan emosional, relaksasi, refer jika
berlanjut setelah dikaji PIH
15. Kesemutan dan rasa baal
Pendidikan merawat diri : Tidak dapat dicegah, tinggikan tangan yang
terkena, pemijatan bisa menolong, dengan squatting (menarik kaki ke dada)
16. Nyeri sekitar ligament
Pendidikan merawat diri : Tidak dapat dicegah, istirahat, gerakan yang
baik tidak menyebabkan ligament terlalu teregang
17. Nyeri persendian, nyeri punggung, pergerakan sendi berlebihan
Pendidikan merawat diri : Postur yang baik dan mekanisme tubuh,
cegah kelelahan, gunakan sepatu hak rendah, relaksasi, kasur agak keras,
kompres panas atau dingin dan masase punggung, istirahat, yakinkan kondisi
tersebut akan hilang 6-8 minggu setelah bersalin
Kebutuhan Yang Diperlukan Selama TM I I I
1. Jadwal dan kegiatan pemeriksaan
2. Pengkajian
3. Pertumbuhan dan perkembangan janin
4. Tes diagnostic
5. Konseling perawatan diri
Persiapan persalinan : Menjelaskan tanda-tanda, menganjurkan tidak
mengkonsumsi makanan beraroma menjelang persalinan, mendiskusikan
tempat dan penolong saat bersalin, mengidentifikasi keperluan ibu untuk
persalinan dan postpartum, manajemen laktasi, family planning, persiapan
sibling rivalvy



33

Ketidaknyamanan selama TM I I I
1. Sesak nafas dan nafas pendek
Pendidikan merawat diri : Postur tubuh yang baik, tidur dengan ekstra
bantal, berhenti merokok, cegah lambung terlalu penuh, rujuk jika terjadi
asma
2. Insomnia
Pendidikan merawat diri : Relaksasi, masase punggung/effleurage,
minum susu hangat, mandi dengan air hangat, beri bantalan pada bagian
tubuh yang menyokong
3. Respon psycososial (perasaan tidak menentu, campur aduk,
kecemasan yang meningkat)
Pendidikan merawat diri : Yakinkan dan beri dukungan dari lingkungan
dan perawat, komunikasi di tingkatkan dengan pasangan, keluarga dan yang
lainnya
4. Radang gusi (hyperemia,hyperthropy, perdarahan, nyeri)
Pendidikan merawat diri : Diet seimbang protein dan buah-buahan
segar serta sayuran, menyikat gigi dengan hati-hati, menjaga hygene mulut,
cegah infeksi
5. Peningkatan pola BAK
6. Ketidaknyamanan pada perineum
Pendidikan merawat diri : Istirahat dan relaksasi, postur tubuh yang
baik, rujuk jika terjadi nyeri hebat
7. Kontraksi Braxton Hicks
Pendidikan merawat diri : Istirahat, rubah posisi, latihan teknik bernafas
saat kontraksi, effleurage
8. Kram kaki
Pendidikan merawat diri : Cek adanya sumbatan aliran darah dengan
homans sign, jika ada krom otot lakukan masase dan kompres hangat,
dorsofleksikan bagian yang terkena sampai otot tidak tegang, hindari berdiri
pada permukaan yang dingin, suplemen calcium
9. Edema kaki
34

Pendidikan merawat diri : Intake cairan adekuat, memakai stocking
sebelum aktivitas, istirahatkan dengan kaki dan panggul dinaikkan, olahraga
ringan, rujuk jika edema meluas

I. Pengkajian Antenatal
1. Anamnesa
a. Ciptakan hubungan terapeutik perawat dan klien
b. Identitas klien dan penanggung jawab meliputi nama, usia, pendidikan,
pekerjaan, alamat dan tanggal pengkajian.
c. Keluhan utama : alasan datang ke rumah sakit/yang dirasakan oleh klien
yang harus meliputi PQRS
d. Riwayat kesehatan sekarang/riwayat kehamilan saat ini : tentukan GPA,
HPHT, umur kehamilan, taksiran partus.
contoh:
Umur kehamilan : Tanggal Pengkajian : 2012 02 02
HPHT : 2011 07 01
7 1
Artinya usia kehamilan = 7 bulan 1 hari, jika di diubah kedalam
minggu, maka setiap 3 minggu ditambah 1, maka:
(7x4) + 2 = 30 minggu 1 hari
Rumus McDonald
Usia kehamilan: TFU (cm) x 2/7 = .... bulan
TFU (cm) x 8/7 = ..... minggu
Taksiran Partus : HPHT : 01 07 2011
+7 -3 +1
8-4-2012
Keterangan: Hari siklus 28 hari : +7, siklus >35 hari: +14
Bulan bulan ke-3: +9, bulan ke-4: -3
Tahun kalau bulan ditambah 3, tahun ditambah 1/ +1
e. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Kaji/tanyakan pada klien bagaimana tentang apakah pernah terjadi
kelainan/gangguan pada saat kehamilan sebelumnya, apakah kehamilan
35

sebelumnya cukup bulan, apakah saat kehamilan sebelumnya pernah
menderita sakit, pernah sampai di rawat di rumah sakit, bagaimana
persalinan pada kehamilan sebelumnya, apakah secara spontan atau SC,
apakah dilakukan vakum dan lain sebagainya. Juga kaji keadaan nifas
kehamilan sebelumnya seperti sudah berapa hari ada keluaran cairan,
dll.
f. Riwayat kesehatan dahulu
Kaji kepada klien apakah klien mempunyai riwayat penyakit seperti
hipertensi, jantung, diabetes, dll.
g. Riwayat kontrasepsi
Tanyakan kepada klien apakah sebelumnya dipasang alat kontrasepsi?
Dan alat kontrasepsi apa yang digunakan?
h. Riwayat kesehatan keluarga, disertai genogram (3 generasi mulai dari
klien ke atas)
Tanyakan pada keluarga klien apakah ada anggota keluarga yang
menderita penyakit berat seperti diabetes melitus, kanker, atau penyakit
jantung? Atau ada yang menderita kelainan genetik atau kongenital?
Tanyakan juga riwayat kesehatan tiga generasi sebelumnya? Tanyakan
juga apakah mengalami gangguan sistem reproduksi, pembedahan pada
sistem reproduksi?
i. Riwayat psikososial mencakup mekanisme koping, adaptasi kehamilan
klien dan pasangan, hubungan seksual.
Mekanisme koping: tanyakan pada klien bagaimana klien mengatasi
keluhan-keluhan selama kehamilan.
Adaptasi kehamilan klien dan pasangan:
Adaptasi ibu terhadap kehamilan: menerima kehamilan, menetapkan
hubungan dengan ketidaklahiran anak, menyesuaikan terhadap
perubahan diri, menyesuaikan terhadap perubahan hubungan
pasangan, mempersiapkan kelahiran anak, dan mempersiapkan
menjadi orang tua pemula.
Adaptasi ayah terhadap kehamilan: menetapkan hubungan dengan
ketidaklahiran anak, menyesuaikan terhadap perubahan dalam diri
36

(bertambah tanggung jawab dan bertambah kemampuan menjadi
ayah), menyesuaikan terhadap learning to share the mates attention
dan perubahan dalam hubungan seksual, persiapan untuk persalinan
j. Aktivitas sehari-hari
Tanyakan bagaimana kegiatan sehari hari seperti waktu istirahat dan
bagaimana pola tidur malam, pola makan (makan berapa kali sehari,
apa saja yang sering dimakan, dan ada alergi makanan atau tidak), pola
minum (minum berapa gelas sehari), pola eliminasi (tanyakan frekuensi
berkemih dalam sehari), pola defekasi (tanyakan frekuensi BAB dalam
sehari).
k. Menentukan kebutuhan belajar ibu hamil
Tanyakan kepada klien apakah ada yang ingin ditanyakan dan diketahui
lebih lanjut (misalnya bagaimana mempersiapkan persalinan, nutrisi
terbaik yang dibutuhkan untuk klien dan janin, manajemen laktasi, atau
family planning)
l. Penerimaan ibu dan keluarga terhadap kehamilan
m. Persiapan persalinan
Tanyakan apakah ibu merencanakan untuk mengikuti kelas orangtua
selama trimester 1, rencana persalinan dimana dan dibantu oleh siapa.
2. Pemeriksaan Fisik Ibu Hamil
a. Persiapan Alat
Timbangan BB
Pengukur tinggi badan
Tensi meter
Stetoskop
Monokuler atau linec
Meteran atau midline
Hamer reflek
Jangka panggul
b. Pemeriksaan fisik
Penampilan umum (postur tubuh, penampilan, kesadaran)
37

TTV (TD, Nadi, RR, BB, TB)
Kepala : warna rambut, kebersihan rambut, ada tidaknya benjolan,
ada tidaknya pusing
Muka : ada tidaknya edema palpebra, cloasma gravidarum
Mata : ada tidaknya anemis pada konjungtiva, ikterik pada sclera,
edema.
Mulut : bibir pucat/tidak, kelembaban bibir, stomatitis, ginggivitis,
adakah gigi yang tanggal, caries gigi, bau mulut.
Leher : ada pembesaran kelenjar thyroid/tidak, pembesaran
slauran limfe, peningkatan JVP.
Dada
Paru : suara nafas
Jantung : bunyi jantung
Payudara : adakah benjolan/tidak,ksimetrisan, putting susu
menonjol/datar/masuk, ASI sudah keluar/belum, kebersihan
areola mamae.
Abdomen
Sebelum memulai pemeriksaan abdomen, ibu dianjurkan untuk
mengosongkan kandung kemihnya bila perlu.
- Periksa bentuk perut (melintang,memanjang,asimetris), linea alba,
striae gravidarum, luka bekas operasi, gerakan janin, DJJ)
- Pemeriksaan palpasi leopod I IV
Tahap persiapan Leopold :
1. Klien tidur terlentang dengan kepala lebih tinggi
2. Kedudukan tangan saat pemeriksaan dapat diatas kepala atau
membujur di samping badan
3. Kaki ditekukan sedikit sehingga dinding perut lemas
4. Bagian perut klien dibuka seperlunya
5. Pemeriksa menghadap ke muka klien saat melakukan Leopold I-
III sedangkan saat melakukan pemeriksaan Leopold IV pemeriksa
menghadap ke kaki.
Teknik Leopod :
38


Leopod I
Untuk mengetahui tinggi fundus uteri dan bagian yang berada pada
bagian fundus, usia kehamilan, perkiraan berat badan janin.
Cara:
- pasien tidur telentang dengan kepala lebih tinggi
- kaki ibu dibengkokkan pada lutut dan lipat paha
- Perawat berdiri disebelah kanan pasien pandangan ke pasien
- Gunakan kedua tangan, dorong fundus uteri ke tengah ( kiri-
kanan)
- Gunakan 1 tangan kiri untuk menekan f.u tangan kanan
memegang perut.
- Ukur tinggi fundus uteri, dari simpissi pubis sampai fundus uteri.
- Tentukan bagian apa dari anak yang terdapat dalam fundus :
Kepala teraba sebagai benda padat yang bulat seperti bola, mudah
digerakan
Bokong sebagai benda lunak yang tidak terlampau bulat, agak
sukar digerakan
Pada letak lintang, fundus uteri kosong
Leopod II
Untuk menentukan dimana letaknya punggung dan bagian-bagian
kecil dari janin
Cara:
1. kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan di kedua samping
abdomen sambil menekan agak dalam.
2. pada telapak tangan yang satu, akan teraba tahanan keras, yaitu
punggung janin
3. pada telapak tangan yang lainnya, akan teraba bagian-bagian kecil
janin, yaitu lengan dan tungkai janin
Leopod III
39

Untuk menentukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah
bagian bawah ini sudah atau belum terpegang oleh Pintu Atas
Panggul
Cara:
1. Pemeriksa menggunakan tangan kanan
2. Pemeriksa memegang kutub (bagian bawah) janin antara ibu jari
dan jari-jari lainnya
3. Tentukan apakah bagian bawah masih dapat digoyangkan
Leopod IV
Untuk mengetahui apakah bagian bawah janin sudah masuk ke
panggul/belum.
Cara :
Pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu, kaki ibu diluruskan, kedua
tangan menekan bagian bawah uterus dari kiri-kanan, jari kearah
kaki pasien, untuk konfirmasi bagian terbawah janin dan
menentukan apakah bagian tersebut sudah masuk/melewati pintu
atas panggul (biasanya inyatakan dengan satuan X/5), jika
memungkinkan dalam palpasi diperkirakan taksiran berat janin.
Ekstremitas
Atas : edema, refleks bisep/trisep, skin fold, tonus otot
Bawah : edema, reflek patella, reflek homman, kekuatan tonus otot,
kram kaki.
Vulva- vagina
Luka/benjolan, edema pada vulva/vagina, leukore, keluaran
cairan/darah dari jalan lahir, hemoroid, tanda Chadwick, godell sign,
hegar sign.

3. Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan pelvis mingguan dimulai pada minggu ke-36 sampai ke-38
dan dilanjutkan sampai aterm, terutama untuk memastikan bagian presentasi ,
stasiun dan dilatasi effacement serviks.

40

4. Labolatorium dan Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis
Darah lengkap
Glukosa darah
Titer antibody rubella
Hepatitis
HIV
Sel sabit
Pap smear dan sitologi
Amniosintesis
Fetoscopy
Maternal serum analisis untuk mendeteksi kelainan pada neiral tube
pada trimester II
PP tes
Sinar X
USG

II. KONSEP INTRANATAL

A. Respon Ibu Dan Janin Terhadap Persalinan
Tulang tulang panggul terdiri dari os koksa, os sakrum, dan os
koksigis. Os koksa dapat dibagi menjadi os ilium, os iskium, dan os pubis.
Tulang tulang ini satu dengan lainnya berhubungan. Di depan terdapat
hubungan antara kedua os pubis kanan dan kiri, disebut simfisis. Dibelakang
terdapat artikulasio sakro- iliaka yang menghubungkan os sakrum dengan os
ilium.Dibawah terdapat artikulasio sakro-koksigea yang menghubungkan os
sakrum (tl panggul) dan os koksigis(tl.tungging).
Pada wanita, di luar kehamilan artikulasio ini hanya memungkinkan
pergeseran sedikit, tetapi pada kehamilan dan waktu persalinan dapat
bergeser lebih jauh dan lebih longgar,misalnya ujung koksigis dapat bergerak
kebelakang sampai sejauh lebih kurang 2,5 cm.Hal ini dapat dilakukan bila
41

ujung os koksigis menonjol ke depan pada saat partus, dan pada pengeluaran
kepala janin dengan cunam ujung os koksigis itu dapat ditekan ke belakang.
Secara fungsional, panggul terdiri dari dua bagian yaitu pelvis mayor
dan pelvis minor. Pelvis mayor adalah bagian pelvis yang terletak diatas linea
terminalis, disebut juga dengan false pelvis. Bagian yang terletak dibawah
linea terminalis disebut pelvis minor atau true pelvis. Pada ruang yang
dibentuk oleh pelvis mayor terdapat organ organ abdominal selain itu pelvis
mayor merupakan tempat perlekatan otot otot dan ligamen ke dinding
tubuh. Sedangkan pada ruang yang dibentuk oleh pelvis minor terdapat
bagian dari kolon, rektum, kandung kemih, dan pada wanita terdapat uterus
dan ovarium. Pada ruang pelvis juga kita temui diafragma pelvis yang
dibentuk oleh muskulus levator ani dan muskulus koksigeus.


a. Identifikasi jenis panggul yang adekuat untuk persalinan
Ada 4 tipe panggul dasar / karakteristik, menurut klasifikasi Caldwell-
Moloy :
tipe gynaecoid : bentuk pintu atas panggul seperti ellips melintang kiri-
kanan, hampir mirip lingkaran. Diameter transversal terbesar terletak di
tengah. Dinding samping panggul lurus. Merupakan jenis panggul tipikal
wanita (female type). ditemukan pada 50% wanita.
tipe anthropoid : bentuk pintu atas panggul seperti ellips membujur
anteroposterior. Diameter transversal terbesar juga terletak di tengah.
Dinding samping panggul juga lurus. Merupakan jenis panggul tipikal
golongan kera (ape type). bentuk PAP agak lonjong seperti telur,
ditemukan pada 24 % wanita. Jenis panggul ini diameter anteroposterior
lebih besar daripada diameter tranversa
42

tipe android : bentuk pintu atas panggul seperti segitiga. Diameter
transversal terbesar terletak di posterior dekat sakrum. Dinding samping
panggul membentuk sudut yang makin sempit ke arah bawah. Merupakan
jenis panggul tipikal pria (male type). Bentuk PAP hamper segitiga. Pada
umumnya pada pria. Diameter anteroposterior hamper sama panjangnya
dengan diameter tranversa, tetapi diameter tranversa dekat dengan
sacrum. Bagian dorsal PAP gepeng, bagian ventral menyempit ke muka.
Ditemukan pada 23% wanita
tipe platypelloid : bentuk pintu atas panggul seperti kacang atau
ginjal. Diameter transversal terbesar juga terletak di tengah. Dinding
samping panggul membentuk sudut yang makin lebar ke arah bawah.
ditemukan pada 3 % wanita . diameter transversa lebih besar dapirada
diameter anteroposterior.

Perbandingan Tipe panggul
Ginekoid Android Antropoid Platipeloid
Pintu atas Sedikit
lonjong, kiri
dan kanan
bulat
Berbentuk
hati,
bersudut
Oval,
anteroposterior
lebih lebar
Sisi
anteroposteri
or pipih, kiri-
kanan lebar
Kedalama
n
Sedang Dalam Dalam Dangkal
Dinding
tepi
Lurus Konvergen Lurus Lurus
Spina
iskiadika
Tumpul, agak
jauh terpisah
Menonjol,
diameter
Menonjol,
diameter
Tumpul,
terpisah jauh
43

interspinosa
sempit
interspinosa
seringkali
sempit
Sakrum Dalam,
melengkung
Sedikit
melengkung
, bag.ujung
sering
bengkok
Sedikit
melengkung
Sedikit
melengkung
Lengkung
subpubis
Lebar Sempit Sempit Lebar
Model
persalinan
yang
biasa
terjadi
Per vaginam
Spontan
Posisi
oksipitoanteri
or
Sesaria
Pervaginam
Sulit, jika
menggunak
an forsep
Forsep/spontan
dengan posisi
oksipito
posterior/oksipi
to anterior
Spontan


44

b. Identifikasi hubungan antara fetus dan panggul
Faktor Esensial Persalinan :
1) Passenger (penumpang, yaitu janin dan plasenta)
- Sikap janin : hubungan bagian tubuh janin yang satu dengan bagian
yang lain. Hubungan antara bagian-bagian badan fetus satu sama lain.
Biasanya fetus dalam keadaan fleksi, membentuk ovoid mengikuti
bentuk kavum uteri (ruangan fundus lebih luas dari serviks). Fleksi
dalam keadaan normal adalah fleksi maksimal (kepala), punggung
membungkuk, kedua tangan bersilang di depan dada dan kedua
tungkai bersilang di depan perut. Sikap lainnya termasuk sikap militer
(fleksi sedang :presentasi kepala bagian atas), defleksi (ekstensi
sedang : presentasi dahi), dan ekstensi : presentasi wajah.
- Letak : Hubungan antara sumbu fetus dengan sumbu jalan lahir, terdiri
dari:
Letak memanjang / longitudinal : sumbu fetus searah / sejajar sumbu
jalan lahir
Letak melintang / tranversal : sumbu fetus tegak lurus terhadap sumbu
jalan lahir
Letak oblik : sumbu fetus dalam sudut tertentu dengan sumbu jalan
lahir.
- Presentasi : Bagian janin yang pertama kali memasuki pintu atas
panggul dan terus melalui jalan lahir saat persalinan mencapai aterm.
Macam- macam presentasi janin:
Kepala lebih dahulu (96%)
Sungsang (Bokong lebih dahulu : 3%)
Presentasi bokong sempurna (complete breech) : Fetus dalam posisi
duduk dalam lahir tp bokong masuk merupakan presenting part.
Seluruh anggota gerak janin fleksi sempurna
Presentasi bokong murni (Frank breech) : Bagian terbawah dari fetus
adalah bokong, kedua tungkai dalam fleksi dan sejajar toraks (lutut
ekstensi)
Bahu lebih dahulu (1%)
45

Presentasi kaki (footling breech/incomplete breech) : Salah satu atau
kedua kaki lebih inferior dibandingkan dengan bokong dan akan
menjadi bagian pertama yang lahir.
- Posisi: Hubungan antara bagian tertentu fetus (UUK,dagu, mulut,
sakrum, punggung) dengan bagian kiri, kanan, depan, belakang sumbu
ibu. Misalnya pada letak belakang kepala (LBK),UUK kiri depan,
UUK kanan belakang.
2) Passegaway (jalan lahir)
- Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat,
dasar panggul serta jaringan lunak yang terdiri dari segmen bawah
uterus yang dapat meregang, serviks, otot dasar panggul, vagina dan
introitus.
- Rongga-rongga panggul yang normal adalah : pintu atas panggil
hampir berbentuk bundar, sacrum lebar dan melengkung,
promontorium tidak menonjol ke depan, kedua spina ischiadica tidak
menonjol kedalam, sudut arcus pubis cukup luas (90-100), ukuran
conjugata vera (ukuran muka belakang pintu atas panggul yaitu dari
bawah simpisis ke promontorium) ialah 10-11 cm, ukuran diameter
transversa (ukuran melintang pintu atas panggul) 12-14 cm, diameter
oblique (ukuran sserong pintu atas panggul) 12-14 cm, pintu bawah
panggul ukuran muka melintang 10-10,5 cm.
- Jalan lahir dianggap tidak normal dan kemungkinan dapat
menyebabkan hambatan persalinan apabila : panggul sempit
seluruhnya, panggul sempit sebagian, panggul miring, panggul seperti
corong, ada tumor dalam panggul
- Dasar panggul terdiri dari otot-otot dan macam-macam jaringan,
untuk dapat dilalui bayi dengan mudah jaringan dan otot-otot harus
lemas dan mudah meregang, apabila terdapat kekakuan pada jaringan,
maka otot-otot ini akan mudah ruptur.
- Kelainan pada jalan lahir lunak diantaranya disebabkan oleh serviks
yang kaku (pada primi tua primer atau sekunder dan serviks yang
cacat atau skiatrik), serviks gantung (OUE terbuka lebar, namun OUI
46

tidak terbuka), serviks konglumer (OUI terbuka, namun OUE tidak
terbuka), edema serviks (terutama karena kesempitan panggul,
sehingga serviks terjepit diantara kepala dan jalan lahir dan timbul
edema), terdapat vaginal septum, dan tumor pada vagina.
3) Powers (kekuatan)
Power merupakan tenaga primer atau kekuatan utama yang dihasilkan
oleh adanya kontraksi dan retraksi otot-otot rahim. Terdiri dari
- Kekuatan primer yaitu kontraksi uterus involunter, yang menandai
dimulainya persalinan. Setiap kontraksi uterus memiliki tiga fase:
Increment : ketika intensitas terbentuk
Acme : puncak atau maksimum
Decement : ketika otot relaksasi
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kontraksiinvolunter ini
adalah:
Frekuensi : waktu antar kontraksi, yaitu antara awal suatu kontraksi
dan awal kontraksi berikutnya.
Durasi : lama kontraksi diukur dari awal increment akhir decrement
Intensitas : kekuatan kontraksi
- Kekuatan sekunder yaitu bila serviks berdilatasi, usaha volunter
dimulai untuk mendorong, yang disebut kekuatan sekunder, yang
memperbesar kekuatan kontraksi involunter.
4) Posisi ibu
Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan.
Mengubah posisi membuat rasa letih hilang,memberi rasa nyaman, dan
memperbaiki sirkulasi.Contoh : posisi tegak meliputi posisi berdiri,
berjalan, duduk, dan jongkok. Posisi tegak memungkinkan gaya gravitasi
membantu penurunan janin.
5) Psychologik respon
- Faktor psikologis ketakutan dan kecemasan sering menjadi penyebab
lamanya persalinan, his menjadi kurang baik, pembukaan menjadi
kurang lancar
47

- Menurut Pritchard, dkk perasaan takut dan cemas merupakan faktor
utama yang menyebabkan rasa sakit dalam persalinan dan
berpengaruh terhadap kontraksi rahim dan dilatasi serviks sehingga
persalinan menjadi lama.

c. Identifikasi fetal descent selama persalinan
BIDANG HODGE
Bidang-bidang sepanjang sumbu panggul yang sejajar dengan pintu atas
panggul, untuk patokan/ukuran kemajuan persalinan (penilaian penurunan
presentasi janin).
Bidang Hodge I adalah bidang pintu atas panggul, dengan batas tepi atas
simfisis.
Bidang Hodge II adalah bidang sejajar H-I setinggi tepi bawah simfisis.
Bidang Hodge III adalah bidang sejajar H-I setinggi spina ischiadica.
Bidang Hodge IV adalah bidang sejajar H-I setinggi ujung bawah os
coccygis
Turunnya Kepala Janin
- Hodge I : Kepala turun setinggi PAP
- Hodge II : Kepala turun setinggi pinggir bawah simpisis
- Hodge III : Kepala turun setinggi spina ischiadika
- Hodge IV : Kepala turun setinggi os cogsegis
Menentukan Penurunan Bagian Terbawah Janin
Penilaian penurunan kepala janin dilakukan dengan menghitung
proporsi bagian terbawah janin yang masih berada diatas tepi atas
simpisis dan dapat diukur dengan 5 jari tangan pemeriksa. Bagian diatas
simpisis adalah proporsi yang belum masuk PAP dan sisanya
menunjukkan sejauh mana bagian terbawah janin telah masuk kedalam
rongga panggul. Penurunan bagian terbawah dengan metode 5 jari
adalah :
1) 5/5 jk bagian terbawah seluruh teraba diatas simpisis pubis.
2) 4/5 jk sebagian terbawah janin telah masuk PAP
3) 3/5 jk sbgn tlh memasuki rongga panggul
48

4) 2/5 jk hy sbgn terbawah janin masih berada diatas simpisis
5) 1/5 jk hy 1 dr 5 jr msh dpt mrb bagian bwh janinyg berada diatas
simpisis.
6) 0/5 jk bagian terbawah janin tdk dpt teraba dr pemeriksaan luar.


d. Evaluasi fetal malpresentasi
a. Presentasi Bokong (Breech Presentation)
Presentasi bokong adalah contoj malpresentasi paling umum. 4
jenis presentasi bokong antara lain :
- Bokong sempurna (frank breech)
- Paha, fleksi, lutut ekstensi
- Bokong komplet (complete breech)
- Kedua paha dan lutut fleksi
- Bokong tidak komplet (incomplete breech)
- Kaki ekstensi di bawah bokong
- Incomplete breech lain
- Lutut ekstensi di bawah bokong.

49

Penetrasi bokong berhubungan dengann kehamilan gemeli
(multifetal gestation), kelahiran premature anomaly fetal dan
maternal, hidramnion dan oligohidramnion. Diagnosis ditegakkan
dengan palpasi abdomen dan pemeriksaan vagina dan biasanya
dipastikan dengan pindai USG.
Resiko prolaps tali pusat bisa terjadi jika ketuban pecah dalam
persalinan dini. Adanya mekonium dalam cairan ketuban tidak
menandakan distress janin. Hal ini terjadi akibat penekanan
dinding abdomen janin karena janin berada pada letak transversal
dalam jalan lahir.
Kelahiran pervaginam dicapai melalui mekanisme yang
berhubungan dengan munculnya bokong dan ekstremitas bagian
bawah. Forsep piper kadang digunakan untuk melahirkan kepala.
Alternatif kelahiran janin penetrasi bokong pervaginam adalah
dengan melalui external cephalic version (ECV), dimana janin
diputar menjadi penetrasi vertex sambil berusaha member tekanan
pada janin dari luar abdomen ibu dan melalui kelahiran sesar
(umumnya dilakukan bila janin berbobot lebih dari 3800 gr, atau
kurang dari 2000 gr, atau bila persalinan tidak efektif, atau terjadi
komplikasi).

b. Presentasi Muka & Dahi
Tidak umum terjadi dan berhubungan dengan anomaly janin,
kontraktur pelvis, dan disproporsi fetopelvis. Kelahiran
pervaginam mungkin dilakukan jika janin melakukan fleksi ke
presentasi vertex meskipun seringkali digunakan forsep. Kelahiran
sesar dilakukan bila presentasi tetap tidak berubah, ada distress
janin, atau persalinan tidak maju.
50


c. Presentasi Bahu
Bahu melintang di atas pintu panggul. Biasanya dilahirkan dengan
sesar





51

TUJUAN PERAWATAN INTRAPARTUM
a. Perawatan Intrapartum
- Periode intrapartum berlangsung dari mulainya kontraksi yang
menyebabkan dilatasi serviks hingga 1 sampai 4 jam pertama
setelah kelahiran bayi dan plasenta.
- Perawatan intrapartum mengacu pada pelayanan medis dan
keperawatan yang diberikan pada wanita hamil dan
keluarganya selama persalinan dan melahirkan.
b. Tujuan Perawatan Intrapartum
- Meningkatkan kesejahteraan fisik dan emosional ibu dan
bayinya.
- Menyatukan konsep perawatan yang berpusat pada keluarga ke
dalam pengalaman persalinan dan melahirkan.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengalaman Intrapartum
- Pengalaman kehamilan sebelumnya.
- Harapan budaya dan personal.
- Kesehatan sebelum hmil dan persiapan biofisik untuk
melahirkan anak.
- Motivasi untuk melahirkan anak.
- Kesiapan sosial ekonomi.
- Usia ibu.
- Status Berpasangan versu tidak berpasangan.
- Cakupan perawatan prantal yang luas.
- Cakupan pendidikan kelahirn anak yang luas.

TEORI PENYEBAB MULAINYA PERSALINAN
Sebab-sebab mulainya persalinan dan kenapa persalinan terjadi lebih
kurang pada umur kehamilan 40 minggu tidak diketahui secara pasti.
Beberapa teori dikemukakan untuk menjelaskan fenomena ini :
52

a. Diduga persalinan mulai apabila uterus telah teregang sampai pada
derajat tertentu. Dengan demikian dapat diterangkan terjadinya
persalinan yang awal pada kehamilan kembar dan hydramnion.
b. Tekanan bagian terendah janin pada serviks dan segmen bawah rahim,
demikian pula pada plesus nervosus di sekitar serviks dan vagina,
merangsang permulaan persalinan.
c. Siklus menstruasi berulang setiap 4 minggu, dan persalinan biasanya
mulai pada akhir minggu ke-40 atau 10 siklus menstrusi.
d. Begitu kehamilan mencpai cukup bulan, setip faktor emosional dan
fisik dapat memulai persalinan. Stimuli yang demikian antara lain
jatuh, kejadian-kejadian dalam perut, misalnya diarrhea, enema dan
minyak kaator dan shock mental.
e. Beberapa orang percaya bahwa ada hormon khusus yang dihasilkan
oleh plasenta apabila kehamilan sudah cukup bulan yang bertanggung
jawab atas mulainya persalinan.
f. Bertambah tuanya plasenta yang mengakibatkan penurunan kadar
estrogen dan pprogesteron dlam darah diduga menyebabkan
dimulainya persalinan. Ini serupa dengan siklus menstruasi. Dengan
matinya korpus luteum maka kadar estrogen dan progesteron dalam
darah turun dan beberapa hari kemudian terjadi menstruasi.
(Oxorn, Harry., Forte, William R., 1990)
Sebab-sebab mulainya persalinan belum diketahui.dengan jelas. Faktor-
faktor yang memegang peranan dan bekerja sama sehingga terjadi
persalinan. Beberapa teori antara lain :
a. Penurunan kadar progesterone
Progesteron menimbulkan reaksi otot-otot rahim. Sebaliknya estrogen
meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat
keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen di dalam darah,
tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun sehingga
timbul his.
b. Teori oxitosin
53

Pada akhir kehamilan kadar oksitosin bertambah. Oleh karena itu
timbul kontraksi otot-otot rahim
c. Keregangan otot-otot
Seperti halnya kandung kemih dan lambung, bila dindingnya teregang
karena isinya bertambah, maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan
isinya demikian pula dengan rahim. Maka dengan majunya kehamilan,
makin regang otot-ototnya dan makin rentan
d. Pengaruh janin
Hipofisis dan kelenjar suprarenal janin rupanya juga memegang
peranan karena pada anensefalus kehamilan sering lebih lama dari
biasa
e. Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan Desidua, menjadi salah satu sebab
permulaan persalinan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa
prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena, intra dan
ekstraamnial menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap umur
kehamilan. Hal ini juga disokong dengan adanya kadar prostaglandin
yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah. Pada ibu hamil
sebelum melahirkan atau selama persalinan
(Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad, 1983)

METODE-METODE BERSALIN

1. Teknik Alexander
FM Alexander (1869-1955) mengembangkan teknik ini dengan duduk,
berdiri dan bergerak ini akan membuat persalinan menjadi efisien dan
efektif. Tidak hanya wanita hamil, tapi semua orang dapat belajar untuk
melepaskan ketegangan otot, meningkatkan kapasitas bernapas dan
memulihkan ketenangan tubuh dan postur tubuh yang tepat. Seperti tubuh
Anda yang berubah, nyeri punggung bawah, gangguan keseimbangan,
masalah pencernaan, sesak nafas dapat dibantu melalui modifikasi
sederhana dalam gerakan Anda. Saatnya fokus pada bernapas, dan
54

menenangkan sistem anda, fokus pada saat kelahiran, membantu membuka
serviks selama fase dilatasi dan mempersiapkan diri untuk mendorong
secar efektif .
2. Metode Bradley
Dikembangkan oleh Dr Robert Bradley di tahun 1940-an, metode ini
menolong ibu melahirkan secara alami, dengan sedikit atau tanpa obat.
Program menekankan gizi yang sangat baik dan olahraga, teknik relaksasi
untuk mengatasi rasa sakit, dan melibatkan suami atau pasangan sebagai
pelatih yang efektif. Anda juga akan belajar bagaimana untuk: menyetel ke
tubuh Anda dan bagaimana posisi yang akan mengurangi rasa sakit saat
bersalin; mempersiapkan untuk tiap tahapan persalinan; menghindari
bedah sesar, menyusui dengan lancar, dan bagaimana untuk
mendiskusikan rencana persalinan dengan dokter/bidan Anda.
3. Hypnosis
Pada tahun 1940, Dr Grantly Dick-Read diteliti penggunaan hipnosis
selama persalinan untuk membawa perempuan ke dalam kondisi relaksasi
total di mana otot-otot tubuh dapat bekerja dengan sangat efektif. Si Ibu
merasa santai, tenang, sadar dan terkendali saat bersalin.
4. Lamaze
Dr Ferdinand Lamaze mengembangkan metode awal di Rusia
menggunakan "Psychoprofilaxis". Anda akan belajar bagaimana
menggunakan gangguan/ketidaknyamanan selama kontraksi untuk
mengurangi persepsi rasa sakit dan mengurangi ketidaknyamanan.
5. Waterbirth/Bersalin dalam Air
Melahirkan di bak air hangat membantu seorang wanita mengapung dan
merasalan sensasi relaksasi dan membantu mengurangi ketidaknyamanan
akibat kontraksi. Beberapa orang mengatakan air membantu bayi lahir
kedunia dunia dengan mengurangi perubahan dramatis dari kehidupan
dalam rahim ke kehidupan luar rahim (cahaya kurang, suara dan
perubahan dramatis dari rahim ke dunia lainnya). Waterbirth tidak
dianjurkan untuk wanita dengan kehamilan berisiko tinggi.

55

Dibantu alat :
a. Vakum (ekstraksi vacum)

Adalah suatu alat yang menggunakan cup penghisap yang dapat
menarik bayi keluar dengan lembut. Cara kerjanya vakum diletakkan
di atas kepala bayi, kemudian ada selang ,menghubungkan mangkuk
ke mesin yang bekerja dengan listrik atau pompa. Ini berfungsi
membantu menarik kepala bayi ketika ibu mengejan. Jadi tarikan
dilakukan saat anda mengejan dan saat mulut rahim sudah terbuka
penuh dan kepala bayi sudah berada di bagian bawah panggul.
Indikasi :
Membahayakan keselamatan ibu dan anak.
Jika proses persalinan cukup lama dan ibu sudah kehilangan
tenaga.
Gawat janin ditandai dengan DJJ > 160x/menit atau melambat
mencapai 80x/menit yang menandakan bahwa bayi hipoksia.
Efek samping :
Terjadi perlukaan yang lebih luas pada jalan lahir.
Perdarahan jalan lahir.
Luka lecet di kulit kepala.
Perdarahan antara tulang tulang kepala dan dalam otak.
Syarat :
Panggul ibu tidak sempit.
Janin tidak terlalu besar.
Pembukaan sudah lengkap.
56

Kepala janin sudah masuk dasar panggul ibu.
b. Forsep (ekstraksi forseps)

Alat bantu logam seperti sendok. Persalinan dengan ini tetap bisa
dilakukan meskipun tidak mengejan. Tetapi dengan forseps relative
lebih beresiko dan lebih sulit dilakukan disbanding vakum.
Dokter akan forseps di antara kepala bayi dan memastikan itu terkunci
dengan benar kemudian akan ditarik keluar sedangkan ibu tidak perlu
mengejan terlalu kuat.
Forseps digunakan pad ibu dengan keadaan sangat lemah, tidak ada
tenaga atau ibu dengan hipertensi yang tidak boleh mengejan.
Pada bayi dapat terjadi kerusakan saraf ke tujuh (nervus fasialis), luka
pada wajah dan kepala serta patah tulang wajah dan tengkorak.
Sedangkan pada ibu dapat terjadi luka pada jalan keluar atau rupture
uteri.
Nyeri Persalinan
Penyebab
Rasa sakit selama persalinan disebabkan oleh 2 hal. Pada tahap pertama
persalinan kontraksi rahim menyebabkan:
Dilatasi dan penipisan serviks
Iskemia rahim atau penurunan aliran darah sehingga oksigen local
mengalami devisit, akibat kontraksi arteri miometrium.
57


Tahap I (Nyeri Viseral)
Impuls nyeri pada tahap awal persalinan ditransmisi melalui segmen saraf
spinalis T11-12 dan saraf-saraf aksesori torakal bawah serta saraf simpatik
lumbar atas. Saraf-saraf ini berasal dari korpus uterus dan serviks. Rasa sakit
akibat perubahan serviks dan iskemia rahim ialah nyeri visceral. Nyeri ini
berasal dari bagian bawah abdomen dan menyebar ke daerah lumbar
punggung dan menurun ke paha.

Tahap II (Nyeri Somatik)
Selama tahap kedua persalinan, ibu mengalami nyeri somatic atau nyeri pada
perineum. Rasa tidak nyaman pada perineum ini timbul akibat peregangan
jaringan perineum supaya janin dapat melewatinya, juga akibat tarikan
peritoneum dan topangan uteroservikal saat kontraksi. Rasa nyeri juga dapat
diakibatkan pengeluaran janin menggunakan forsep atau tekanan pada bagian
terendah janin yaitu kandung kemih, usus, atau struktur sensitive panggul
yang lain. Impuls nyeri selama tahap 2 persalinan dihantar melalui E1-4 dan
sistem parasimpatis jaringan perineum.

Tahap III (Nyeri Rahim)
Nyeri yang dialami dalam persalinan tahap 3 ialah nyeri rahim, nyeri yang
mirip dengan nyeri yang dialami pada awal tahap pertama persalinan.
Nyeri dapat berupa nyeri local disertai kram dan sensasi robekan akibat
distensi dan laserasi serviks, vagina, atau jaringan perineum. Rasa nyeri sering
digambarkan sebagai sensasi terbakar yang dirasakan saat jaringan meregang.
Nyeri dapat beralih sehingga dapat dirasakan di punggung, pinggang, dan
paha.
Induksi dan Augmentasi pada Persalinan
Induksi persalinan adalah dimulainya kontraksi persalinan sebelum awitan
spontannya untuk tujuan mempercepat kelahiran.
Indikasi & Kontraindikasi
Induksi diindikasikan untuk berbagai alasan medis dan kebidanan, termasuk
58

- hipertensi akibat kehamilan
- diabetes mellitus, dan masalah medis maternal lain
- kehamilan pascapartum
- bahaya janin yang dicurigai (misalnya pertumbuhan janin terhambat)
- faktor logistic (misalnya frekuensi kelahiran yang tinggi, jarak dari rumah
sakit, dan kematian janin)
Baik metode kimia maupun mekanis digunakan untuk menginduksi
persalinan. Oksitosin intravena dan amniotomi merupakan metode yang paling
umum digunakan. Metode lain yang jarang digunakan adalah stimulasi putting
susu, minum castor oil, enema dengan sabun, stripping membrane, dan
akupuntur.
Kontraindikasi penyuntikan oksitosin adalah :
- Disproporsi sefalopelvis (CPD)
- DJJ meragukan
- Plasenta previa
- Riwayat insisi uterus klasik atau bedah uterus
- Infeksi herpes genital aktif

Skor Bishop
Angka keberhasilan induksi persalinan lebih tinggi bila serviks dapat
diinduksi. Sistem penilaian seperti Nilai Bishop dapat digunakan untuk
mengevaluasi kemampuan untuk diinduksi.
NILAI BISHOP
NO Status
NILAI
0 1 2 3
1 Dilatasi (cm) 0 1 2 3 4 5 6
2 Pendataran
(%)
0 30 40 - 50 60 70 80
3 Stasiun (cm) -3 -2 -1 -1
4 Konsistensi
serviks
Keras Medium Lunak
5 Posisi serviks Posterior Di tengah Anterior
59


Induksi persalinan akan berhasil bila nilai Bishop adalah 5 atau lebih untuk
multipara dan 9 lebih untuk nulipara.

Metode Induksi & Augmentasi
- Induksi
Prostaglandin (hormone) yang berbeda telah digunakan untuk serviks
sebelum induksi untuk merangsang atau memeatangkan (melunakkan dan
menipiskan) serviks. Gel PGE2 bisa diberikan melalui kateter ke kanalis
servikalis atau dipasang pada diafragma yang diletakkan dekat serviks. 2
atau 3 dosis biasanya cukup. Induksi oksitosin biasanya belum dimulai
hingga 4 6 jam kemudian intuk menghindari hiperstimulasi. Efek
samping PGE2 meliputi demam, muntah, diare, dan hiperstimulasi uterus
yang jarang terjadi.
Ganggang Laminaria (dilator serviks alami) yang dibuat dari rumput laut)
dan dilator sintesis juga efektif untuk mematangkan serviks. Dilator
dimasukkan ke dalam serviks. Jika dilator ini mengabsorpsi cairan serviks,
ia akan mengembang dan menyebabkan serviks dilatasi.
Amniotomi
Amniotomi (rupture membrane secara artificial) dapat digunakan
untuk menstimulasi persalinan bila kondisi serviks mendukung.
Persalinan biasanya dimulai dalam 12 jam setelah ketuban rupture,
tetapi bila amniotomi tidak merangsang persalinan, rupture yang lama
bisa mengakibatkan infeksi. Karena alasan ini amniotomi sering
digunakan dengan dikombinasikan dengan induksi oksitosin.
1. Sebelumnya perawat memberi penjelasan tentang apa yang
diharapkan dan menenangkannya dengan menjelaskan prosedur
tersebut tidak membuatnya atau janinnya merasa nyeri.
2. Selaput ketuban kemudian dirobek dengan menggunakan
amniohook atau instrument tajam. Cairan amnion dibiarkan
mengalir perlahan.
3. Waktu ketuban rupture dicatat.
60

4. Denyut jantung janin dikaji sebelum dan setelah prosedur untuk
mendeteksi perubahan yang bisa mengindikasikan adanya
penekanan atau prolaps tali pusat.

Oksitosin
Oksitosin adalah suatu hormone yang dalam kondisi normal diproduksi
oleh kelenjar hipofisis posterior, merangsang kontraksi uterus.
Oksitosin juga dapat digunakan untuk menginduksi proses persalinan
atau augmentasi persalinan.
Indikasi induksi persalinan dengan oksitosin adalah sebagai berikut :
1. Bahaya pada janin yang dicurigai
2. Kebutuhan untuk menstimulasi uterus
3. Ketuban pecah dini
4. Kehamilan pascapartum (> 42-43 minggu)
5. Masalah medis pada ibu (misalnya diabetic atau ibu dengan Rh
isoimmunisiasi berat)
6. Wanita multipara dengan riwayat partus presipitasi yang tinggal
jauh dari rumah sakit.
Karena potensi bahaya yang berhubungan dengan penggunaan
oksitosin yang disuntikan pada periode prenatal dan intranatal, FDA
member batasan pemakaiannya.
Kontraindikasi penyuntikan oksitosin adalah :
1. Disproporsi sefalopelvis (CPD)
2. DJJ meragukan
3. Plasenta previa
4. Riwayat insisi uterus klasik atau bedah uterus
5. Infeksi herpes genital aktif
Oksitosin dapat menimbulkan bahaya pada ibu dan janin. Bahaya pada
ibu meliputi gangguan persalinan dan kontraksi tetanik yang bisa
mengakibatkan plasenta lepas secara premature, rupture uterus, laserasi
serviks, atau perdarahan setelah melahirkan. Komplikasi-komplikasi
61

ini dapat menyebabkan infeksi Disseminated Intravascular Coagulation
(DIC) dan emboli pulmoner cairan amnion.
Bahaya janin meliputi asfiksia janin dan hipoksia neonates akibat
kontraksi yang terlalu sering dan lama, cedera fisik, dan prematuritas
jika taksiran partus tidak akurat.
Berikut adalah prosedur yang dianjurkan :
Penyuluhan kepada pasien/keluarga
Jelaskan teknik, rasional, dan reaksi yang diharapkan :
1. Rute pemberian dan kecepatan tetesan (manfaat piggyback)
2. Alasan menggunakan :
- Menginduksi persalinan
- Meningkatkan persalinan
3. Reaksi sifat kontraksi yang diharapkan. Intensitas kontraksi
meningkat lebih cepat, mencapai puncak lebih lama, dan
berakhir lebih cepat. Kontraksi akan mulai dengan teratur dan
amat sering.
4. Pemantauan untuk mengantisipasi :
- Maternal : tekanan darah, denyut nadi, kontraksi uterus,
tonus uterus
- Fetal : DJJ, gerakan janin.
5. Keberhasilan yang diharapkan : hasil akhir yang disukai
tergantung pada kemampuan serviks untuk diinduksi (nilai
bishop 9 atau lebih pada nulipara, 5 atau lebih pada multipara)
Pemberian
1. Pasien dalam posisi miring
2. Siapkan larutan dan berikan sesuai program dokter dengan
sistem pemberian menggunakan pompa
- Pompa infuse dan larutan telah dipasang
- Larutan piggyback disambungkan ke selang infuse
- Larutan oksitosin ditandai dengan label obat
- Mulai induksi dengan kecepatan 0,5 sampai 1 mU/menit
- Tingkatkan dosis 1 sampai 2 mU/menit dengan interval 30
62

sampai 60 menit sampai dicapai 20 mU/menit atau 300 unit
ontevidoo

Pertahankan dosis bila
1. Intensitas kontraksi menyebabkan tekanan intrauterine 40 90
mmHg (menggunakan monitor maternal)
2. Lama kontraksi 40 90 detik
3. Frekuensi kontraksi memiliki interval 2 3 menit
Pengkajian maternal/fetal
1. Pantau tekanan darah dan denyut nadi setiap 30 60 menit
2. Pantau pola kontraksi setiap 15 menit
3. Kaji masukan dan haluaran (batasi cairan yang masuk melalui IV
sampai 1000 ml/8 jam; cairan yang keluar / output 120 ml atau
lebih setiap 4 jam.
4. Pantau mual, muntah, nyeri kepala, hipotensi
5. Kaji status janin sesuai protocol rumah sakit, pemantauan janin
secara elektronik dianjurkan.
Kondisi yang dapat dilaporkan
1. Hiperstimulasi uterus
2. Pola DJJ yang meragukan
3. Dugaan rupture uterus
Tindak kedaruratan
Hentikan penggunaan oksitosin sesuai protocol rumah sakit :
1. Baringkan wanita dalam posisi miring
2. Tingkatkan kecepatan IV primer sampai 200 ml.jam kecuali bila
pasien mengalami intoksikasi air. Apabila terjadi intoksikasi air,
kecepatan tetesan dapat dikurangi sampai kecepatan yang
mempertahankan vena tetap terbuka.
3. Beri wanita oksigen dengan masker dengan kecepatan 8 10
L/menit
Dokumentasi
1. Medikasi : jenis, jumlah, waktu dimulai, peningkatan dosis, dosis
63

rumatan, dan penghentian medikasi dalam catatan pasien dan
dalam monitoring strip.
2. Reaksi ibu dan janin :
- Pola persalinan
- Denyut jantung janin
- TTV ibu
- Intervensi keperawatan dan respon wanita tersebut
3. Beri tahu dokter

- Augmentasi
Adalah stimulasi kontraksi uterus setelah persalinan dimulai secara
spontan, tetapi kemajuannya tidak memuaskan. Biaanya dilakukan untuk
disfungsi persalinan hipotonik. Prosedur dan pengkajian keperawatan yang
digunakan sama dengan yang digunakan pada induksi persalinan dengan
oksitosin.
Beberapa petugas kesehatan menyarankan penatalaksanaan persalinan
aktif, yakni intervensi dengan augmentasi persalinan segera setelah
persalinan tidak maju sekurang-kurangnya 1cm/jam.
Saran penatalaksanaan aktif mengindikasikan bahwa intervensi dini
dengan menggunakan oksitosin secara agresif (dinaikan 6 mU/menit)
memperpendek persalinan (biasanya 12 jam atau kurang) dan menurunkan
insiden kelahiran sesar.
(Bobak, I. M., Lowdermilk, D. L., Jensen, M. D., 2005)



Pengkajian pada Wanita yang akan Bersalin
o Membedakan Persalinan Palsu dan Sejati
PERSALINAN SEJATI PERSALINAN PALSU
KONTRAKSI
1. Berlangsung teratur,
semakin kuat, lama, dan
KONTRAKSI
1. Berlangsung tidak teratur
atau menjadi teratur hanya
64

semakin sering
2. Intensitas meningkat saat
ibu berjalan
3. Dirasakan di punggung
bawah benjalar ke bagian
abdomen
4. Terus berlangsung
meskipun berbagai cara
dilakukan untuk membuat
wanita nyaman



SERVIKS
1. Menunjukkan perubahan
yang progresif(melunak,
menipis, dan dilatasi
ditandai pengeluaran darah
yang banyak (bloody show)
2. Semakin bergerak ke posisi
anterior tidak dapat
ditentukan tanpa
pemeriksaan dalam

JANIN
1. Bagian presentasi biasanya
telah masuk ke dalam
panggul, sering disebut
janin jatuh (lightening). Ini
membuat wanita lebih
mudah bernafas pada saat
yang sama, kandung kemih
untuk sementara
2. Seringkali berhenti saat ibu
berjalan atau mengubah
posisi
3. Dirasakan pada bagian
belakang atau pada
abdomen di atas pusat
4. Seringkali dapat dihentikan
jika dilakukan tindakan
untuk membuat wanita
merasa nyaman

SERVIKS
1. Mungkin lunak tetapi tidak
ada perubahan signifikan
dalam penipisan atau
dilatasi atau tidak ada bukti
bloody show
2. Sering berada pada posisi
posterior, tidak dapat
diketahui tanpa
pemeriksaan dalam


JANIN
Bagian presentasi biasanya
belum masuk ke dalam
panggul
65

tertekan akibat tekanan ke
bawah oleh bagian
presentasi

o Mengevaluasi Terjadinya Ruptur Ketuban
- Tes Nitrazin untuk pH
Jelaskan prosedur kepada wanita dan pasangannya.
Prosedurnya adalah :
1. Pakai kertas Nitrazin, kertas warna 1-1 utnuk
pemeriksaan pH (membedakan cairan amnion yang
bersifat agak basa dan urin dan materi purulen (pus)
yang bersifat asam).
2. Gunakan sarung tangan steril yang dilumas air,
tempatkan secraik kertas periksa pada ostium servikalis;
atau
3. Gunakan aplikator kapas steril yang dicelup ke dalam
cairan vagina; sentuhkan aplikator pada kertas periksa.
Prodsedur ini dapat juga dilakukan sewaktu melakukan
periksa dalam.
Baca hasil :
Ketuban mungkin utuh : yang diperiksa adalah vagina
dan cairan tubuh lain yang bersifat asam. Adapun
kriterianya :
Kuning pH = 5,0
Kuning seperti minyak zaitun pH = 5,5
Hijau seperti minyak zaitun pH = 6
Ketuban mungkin telah pecah : yang diperiksa adalah
cairan amnion yang bersifat basa. Adapun kriterianya :
Hijau-biru pH = 6,5
Kelabu-hijau pH = 7,0
Biru tua pH = 7,5
66

Ingatlah bahwa hasil test palsu mungkin saja terjadi karena
adanya cairan yang mengandung darah, cairan amnion yang
tidak cukup atau semen.
Lepas sarung tangan dan cuci tangan.
Catat hasi, positif atau negatif.
- Pemeriksaan Pola Pakis
Jelaskan pemeriksaan kepada wanita dan pasangannya.
Cuci tangan, gunakan sarung tangan steril, dapatkan
spesimen cairan (biasanya dengan pemeriksaan spekulum
steril).
Sebarkan setetes cairan dari vagina pada kaca objek dengan
aplikator kapas.
Biarkan cairan mengering.
Periksa kaca objek di bawah mikroskop : perhatikan adanya
gambaran seperti pohon pakis (ferning (jangan kacaukan
dengan pemeriksaan lendir serviks, dimana kadar estrogen
tinggi menyebabkan gambaran seperti pakis).
Perhatikan tidaka adanya gambaran seperti pakis (beri tahu
staf tentang kemungkinan spesimen yang tidak cukup atau
spesimen tenyata urin, lendir vagina, atau darah).
Lepas sarung tangan dan cuci tangan.
Catat hasil : pemeriksaan pakis dapat positif atau negatif.
(Bobak, I. M., Lowdermilk, D. L., Jensen, M. D., 2005)

i. Penatalaksanaan pada Wanita yang Akan Bersalin
i. Monitoring ibu dan janin di kala I & II
- TTV
Suhu, tekanan darah, dan denyut nadi ibu dievaluasi setiap 1
sampai 2 jam. Tekanan darah diambil antara dua kontraksi.
Tekanan darah normalnya meninggi pada waktu terjadi kontraksi
(Kjeldsen, 1979). Kalau selaput ketuban telah pecah selama
berjam-jam sebelum mulainya proses persalinan, atau kalau ada
67

kenaikan yang masih dalam garis batas, suhu hendaknya dicek
setiap jam selama proses persalinan. Selain itu, dengan bertambah
lamanya ketuban pecah, kehamilan dianggap berisiko tinggi.

- Kontraksi uterus
Pemeriksaan dengan telapak tangan diletakkan ringan di atas uterus
menentukan saat mulainya kontraksi. Intensitas kontraksi diukur
dari tingkat kekencangan yang dicapai uterus. Pada puncak
kontraksi efektif, jari atau ibu jari tangan tidak dapat menekan
uterus. Selanjutnya, dicatat saat kontraksi tersebut menghilang.
Urutan ini diulang untuk mengevaluasi frekuensi, lama, dan
intensitas kontraksi uterus. Tidak cukup hanya menguraikan
kontraksi uterus, atau persalinan hanya dengan kata baik saja.
Kontraksi uterus yang baik hanya dapat diketahui secara
retrospektif, yaitu kalau kontraksi tersebut secara teratur
menghasilkan penipisan dan pembukaan serviks bersama dengan
turunnya bagian presentasi, kemudian diikuti dengan lahirnya bayi
yang tidak dalam bahaya dan tanpa komplikasi.

- DJJ
Denyut jantung janin dapat diketahui dengan stetoskop yang sesuai
dan beberapa dari berbagai macam alat ultrasonik doppler. Denyut
jantung janin wajib diperiksa dengan auskultasi segera setelah
kontraksi. Untuk menghindari kekacauan antara kerja jantung ibu
dan janinnya, denyut nadi ibu hendaknya dihitung pada saat
menghitung denyut jantung janin.
Gawat janin, yaitu hilangnya kesejahteraan janin, diduga kalau
denyut jantung janin segera setelah kontraksi berulang-ulang
dibawah 120 per menit. Gawat janin sangat mungkin terjadi kalau
denyut jantung terdengar kurang dari 100 per menit, sekalipun ada
perbaikan hitung detak jantung menjadi 120 sampai 160 sebelum
kontraksi berikutnya. Kalau deselerasi dari angka ini ditemukan
68

setelah sebuah kontraksi, janin mungkin dalam bahaya dan
persalinan, monitoring sebaiknya dilakukan secara eletronik setiap
15 menit. Menurut American College of Obstetricians dan
Gynecologists (1988), tidak ada bukti bahwa mendengarkan
dengan interval lebih dari 15 menit membahayakan. Jadi selama
kala satu persalinan, kalau tidak ada kelainan-kelainan, jantung
janin paling baik dicek segera setelah sebuah kontraksi sekurang-
kurangnya setiap 30 menit. Untuk wanita dengan kehamilan risiko
tinggi, monitoring elektronik kontinyu dianjurkan, auskultasi
intermitten setiap 15 menit selama kala satu tersebut dapat menjadi
alternatif yang dapat diterima.

ii. Support
Idealnya, orang yang melakukan pengukuran-pengukuran ini dapat
tetap bersama ibu tersebut selama persalinan berlangsung, untuk
memberikan dukungan psikologis dan untuk melihat secara
langsung berbagai kelainan pada janin atau ibunya. Haverkamp
dkk. (1976,1979) memperlihatkan bahwa hasil akhir yang sama
memuaskan bagi janin dapat dicapai tanpa monitoring elektronik
kontinyu denyut jantung janin, perekaman tekanan intrauteri terus
menerus, dan pengukuran pH darah kulit kepala kalau ibu dan
janin diawasi dengan ketat oleh seorang personil ruangan bersalin
yang terlatih baik.

iii. Ambulasi dan Posisi
Ibu dan janin yang normal tidak perlu terus berbaring di tempat
tidur pada awal persalinan sebelum penggunaan analgesia. Sebuah
kursi yang nyaman mungkin lebih bermanfaat secara psikologis
dan mungkin secara fisiologis. Di tempat tidur, ibu hendaknya
diperbolehkan mengambil posisi yang dirasanya enak, yang
sebagian besar adalah berbaring miring. Ibu tidak harus ditahan
pada posisi terlentang.
69


iv. Nutrisi dan Cairan
Pada dasarnya semua keadaan, makanan dan cairan per oral
hendaknya tidak diberikan selama proses persalinan aktif. Waktu
pengosongan lambung jelas memanjang pada waktu proses
persalinan berlangsung dan diberikan analgesia. Sebagai akibatnya,
makanan dan kebanyakan obat yang dimakan tetap berada di
lambung dan tidak diabsorpsi, tetapi dapat dimuntahkan atau
terjadi aspirasi.

v. Cairan Intravena
Meskipun telah menjadi kebiasaan di banyak rumah sakit untuk
memasang sistem infus intravena secara rutin pada permulaan
persalinan, jarang yang benar-benar memerlukannya, sekurang-
kurangnya sampai diberikan analgesia. Sistem infus intravena
menguntungkan selama masa nifas dini untuk memberikan
oksitosin profilatik dan seringkali untuk terapeutik kalau uterus
tetap atonik. Selain itu, dengan persalinan yang lebih lama,
pemberian glukosa, beberapa garam, dan air untuk wanita yang
sedang berpuasa dengan kecepatan 60 sampai 120 mL per jam,
baik untuk memerangi dehidrasi dan asidosis.

vi. Kandung Kemih
Distensi kandung kemih harus dihindarkan, karena dapat
menimbulkan persalinan macet dan selanjutnya menimbulkan
hipotonia dan infeksi kandung kemih. Pada waktu melakukan
setiap pemeriksaan abdomen, daerah suprapubik hendaknya
dipalpasi untuk mendeteksi pengisian kandung kemih. Kalau
kandung kemih dengan mudah dapat dipalpasi di atas simfisis,
wanita tersebut dianjurkan untuk berkemih. Sering ibu dapat
berjalan ke toilet dan berhasil berkemih, sekalipun ibu tidak dapat
berkemih ditempat tidur. Kalau kandung kencing mengembang dan
70

tidak dapat berkemih, kateterisasi diindikasikan. Tampaknya,
kemungkinan trauma akan lebih kecil mengkateterisasi lagi pada
waktu bersalin, kalau diperlukan, daripada meninggalkan kateter
tetap.
(Cunningham, F. G., MacDonald, P. C., Gant, N. F., 1995)

ii. Evaluasi Kemajuan Persalinan
o Cervical dilatasi
KEMAJUAN IBU ADA TAHAP PERTAMA PERSALINAN
DALAM BATAS NORMAL
TAHAP YANG DITANDAI DILATASI SERVIKS
KRITERIA
0 SAMPAI
3 CM
4 SAMPAI 7
CM
8 SAMPAI 10
CM (BATAS
TRANSISI)
Durasi

Kontraksi
Kekuatan
Irama
Frekuensi

Durasi

Penurunan
Kepala
Stasiun bagian
presentasi


Show
Warna

Sekitar 8
sampai 10
jam

Lemah
Tidak teratur
Selang
waktu 5 -
30 menit
10 30 detik


Nulipara : 0

Multipara : 0
sampai -2
cm

Sekitar 3 jam


Sedang
Lebih teratur
Selang waktu 3
- 5 menit
30 - 45 detik


Sekitar +1
sampai +2 cm
Sekitar +1
sampai +2 cm

Lendir berwarna
merah muda
sampai lendir
Sekitar 1
sampai 2 jam


Kuat untuk
mendorong
Teratur
Selang waktu 2
- 3 menit
45 60 detik
(< 90 dtk)


+2 sampai +3
cm

+2 sampai +3
cm
71



Jumlah

Perilku dan
Penampilan*
Rabas
kecoklatan,
sumbatan
lendir atau
lendir
berwarna
pucat,
merah
muda
Sedikit

Tegang :
pikiran
terpusat
pada diri
sendiri,
persalinan,
dan bayi;
dapat
menjadi
banyak
bicara atau
diam,
tenang atau
tegang;
khawatir;
nyeri dapat
diatasi
dengan
cukup baik;
siaga,
segera
yang
mengandung
darah
Sedikit sampai
sedang

Menjadi lebih
serius, ragu-
ragu akan
kemampuanny
a
mengendalikan
nyeri, semakin
khawatir; ingin
ditemani dan
diberi
semangat;
perhatian lebih
ke arah diri
sendiri; tampak
letih; kedua
pipi
kemerahan;
mulai sulit
mengikuti
petunjuk.


Lendir
mengandung
darah


Banyak

Nyeri semakin
berat, nyeri
punggung
umumnya
timbul,
merasa
frustasi, takut
kehilangan
kendali,
tampak
mudah marah;
komunikasi
tidak jelas;
amnesia di
antara waktu
kontraksi;
menggeliat
kesakitan saat
kontraksi;
mual muntah,
terutama jika
terjadi
hiperventilasi;
72

mengikuti
petunjuk;
terbuka
terhadap
intruksi.
hiperestesia;
pucat di
sekitar mulut,
dahi an bibir
atas
berkeringat;
paha gemetar;
ingin BAB,
tekanan pada
anus.
Keterangan :
Pada nulipara, effacement sering kali komplet sebelum dilatasi
dimulai; pada multipara, hal ini terjadi bersamaan dengan
dilatasi.
*wanita yang mendapat analgesik epidural untuk meredakan nyeri
mungkin tidak menunjukkan perilaku-perilaku ini.
( Bobak, 2005)

iii. Askep
a. Pengkajian
Riwayat sekarang, catat tanda persalinan seperti his yang
teratur, frekuensi, interval, adanya ruptur, selaput ketuban dan
status emosional.
Pemeriksaan fisik, dilatasi uteri 0-3 cm posisi fetus, his anatara
5-30 menit dan berlangsung selama 10-30 menit vagina
mengeluarkan cairan pink, coklat, ruptur, keluhan, djj terdengar
lebih jelas di umbilikus.
atau trauma pada fetus
Riwayat keadaan sekarang, klien lebih serius terhadap
persalinan, tampak kelelahan dan bisa melakukan tehnik
relaksasi.
73

Pemeriksaan fisik, kontraksi uterus 2,5-5 menit berlangsung
selama 30-45 menit, dilatasi servik 4-7 cm, perdarahan
pervagina, fetus turun 1-3 cm, djj terdengar jelas.

b. Diagnosa Keperawatan
Pemeriksaan Awal
1. Gangguan komunikasi verbal b.d. hambatan bahasa asing.
2. Ansietas b.d.
- Kurang pengetahuan tantang prosedur pemeriksaan fisik.
- Belum berpengalaman atau tidak mengikuti kelas persipan
untuk orang tua.
3. Risiko tinggi cidera b.d. tidak dilakukannya pemeriksaan darah
dan urine antenatal.
Pemeriksaan Selanjutnya
4. Nyeri b.d. kontraksi yang adekuat.
5. Defisit volume cairan b.d. kurangnya masukan cairan.
6. Gangguan mobilitas fisik b.d.
- Stasiun atau bagian presentasi janin.
- Status selaput ketuban.
- Pemantauan janin.
7. Perubahan pola pengeluaran urin b.d.
- Kurangnya masukan cairan.
- Cairan IV
- Tirah baring
- Tidak ada ruang pribadi (privasi)
- Analgesia
- Anestesia
Pengkajian stres selama persalinan
8. Gangguan pertukaran gas, janin b.d.
- Posisi maternal
- Hiperventilasi
74

9. Distres spiritual ibu b.d. ketidakmampuan mencapai hal yang
diharapkan.
10. Koping keluarga tidak efektif b.d. kurangnya pengetahuan
tentang tindakan yang dapat menolong wanita yang sedang
melahirkan.
2. Sectio Caesar Corporal/ Klasik
Insisi bagian tengah korpus uteri sepanjang 10 sampai 12 cm
dengan ujung bawah diatas batas plika vesiko uterine

Komplikasi
- Infeksipuerperal
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama
beberapa hari dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis,
- Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-
cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
- Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme
paru-paru, dan sebagainya sangat jarang terjadi.
- Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya
parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak
ditemukan sesudah seksio sesarea klasik.
75


Penatalaksanaan

1. Perawatan Pre Operasi Seksio Sesarea
a. Persiapan Kamar Operasi
Kamar operasi telah dibersihkan dan siap untuk dipakai
Peralatan dan obat-obatan telah siap semua termasuk kain operasi



b. Persiapan Pasien
Pasien telah dijelaskan tentang prosedur operasi.
Informed consent telah ditanda tangani oleh pihak keluarga pasien
Perawat member support kepada pasien.
Daerah yang akan di insisi telah dibersihkan (rambut pubis di cukur dan
sekitar abdomen telah dibersihkan dengan antiseptic).
Pemeriksaan tanda-tanda vital dan pengkajian untuk mengetahui
penyakit yang pernah di derita oleh pasien.
Pemeriksaan laboratorium (darah, urine).
Pemeriksaan USG.
Pasien puasa selama 6 jam sebelum dilakukan operasi.

2. Perawatan Post Operasi Seksio Sesarea
a. Analgesia
Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin
(intra muskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa
sakit atau dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin.
- Wanita dengan ukuran tubuh kecil, dosis Meperidin yang diberikan
adalah 50 mg.
- Wanita dengan ukuran besar, dosis yang lebih tepat adalah 100 mg
Meperidin.
76

- Obat-obatan antiemetik, misalnya protasin 25 mg biasanya diberikan
bersama-sama dengan pemberian preparat narkotik.

b. Tanda-tanda Vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan
darah, nadi jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan
fundus harus diperiksa.

c. Terapi cairan dan Diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti
sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya,
meskipun demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien
harus segera di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.

d. Vesika Urinarius dan Usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada
keesokan paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar
pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih
lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga.

e. Ambulasi
Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan
perawatan dapat bangun dari tempat tidur sebentar, sekurang-kurang 2 kali
pada hari kedua pasien dapat berjalan dengan pertolongan.

f. Perawatan Luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang
alternatif ringan tanpa banyak plester sangat menguntungkan, secara
normal jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah
pembedahan. Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi
tanpa membahayakan luka insisi.
77


g. Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi
hematokrit tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan
darah yang tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.

h. Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu
memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang
mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya
mengurangi rasa nyeri.

i. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila
diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima
post operasi, aktivitas ibu seminggunya harus dibatasi hanya untuk
perawatan bayinya dengan bantuan orang lain.

c. Intervensi
DIAGNOSA
KEPERAW
ATAN
TUJUAN
INTERVENS
I
RASIONAL
Ansietas Tupan:
Ansietas
klien pada
tingkat dapat
diatasi

Tupen:
Nyeri
berkurang,
dengan
1. Berikan
perawatan
primer
atau
dukungan
profesional
intrapartu
m kontinu
sesuai
indikasi.
1. Kontinuitas
perawatan
dan
pengkajian
dapat
menurunkan
stres.

2. Pendidikan
dapat
78

kriteria:
- Klien dapat
menggunaka
n teknik
pernapasan
dan relaksasi
secara
terampil
- Klien
tampak rileks
sesuai
dengan
situasi
persalinan
- Tetap
normotensif
2. Orientasik
an klien
pada
lingkungan
, staf, dan
prosedur.
Berikan
informasi
tentang
perubahan
psikologis
dan
fisiologis
pada
persalinan
sesuai
kebutuhan.
3. Observasi
tingkat dan
penyebab
ansietas,
kesiapan
untuk
melahirkan
anak, latar
belakang
budaya,
dan peran
orang
terdekat/pe
latih.

menurunkan
stres dan
ansietas dan
meningkatka
n kemajuan
persalinan.



3. Berikan
informasi
dasar
ansietas
memperberat
persepsi
nyeri,
mempengaru
hi
penggunaan
teknik
koping, dan
menstimulasi
pelepasan
aldosteron,
yang dapat
meningkatka
n resorpsi
natrium dan
air.
4. Stres
mengaktifka
n sistem
79




4. Pantau TD
dan nadi
sesuai
indikasi.
(Bila TD
tinggi pada
penerimaa
n, ulangi
prosedur
dalam 30
menit
untuk
mendapatk
an
pembacaan
tepat saat
klien
rileks).



5. Demontras
ikan
metode
persalinan
dan
relaksasi.
Berikan
tindakan
adrenokortik
al hipofisis-
hipotalamik,
yang
meningkatka
n retensi dan
resorpsi
natrium dan
air dan
meningkatka
n ekskresi
kalium.
Resorpsi
natrium dan
air dapat
memperberat
perkembang
an toksemia
intrapartal/hi
pertensi.
5. Menurunkan
stresor yang
dapat
memperberat
ansisetas;
memberikan
strategi
koping.


6. Kesopanan
adalah
80

kenyamana
n. (Rujuk
pada MK:
Persalinan:
Tahap I-
Fase Aktif,
DK:
Nyeri).
6. Tingkatkan
privasi dan
pengharga
an
terhadap
kesopanan;
kurangi
pemajanan
yang tidak
diperlukan.
Gunakan
penutupan
selama
pemeriksaa
n vagina.

7. Sadari
kebutuhan
klien atau
kesukaan
terhadap
pemberi
asuhan
yang
masalah
pada
kebanyakan
budaya.
Orang
pendukung
mungkin
tidak
diinginkan
ada saat
klien
diperiksa
atau diobati.
7. Praktik
budaya dapat
melarang
adanya
seorang pria
selama
persalinan
dan/atau
melahirkan.
8. Adanya
kesempatan
untuk klien
mengungkap
kan
kesenangan
tentang diri
sendiri,
kehamilan,
dan bayinya.
81

wanita.

8. Berikan
kesempata
n untuk
percakapan
termasuk
pilihan
nama bayi,
perkiraan
persalinan,
dan
persepsi/ra
sa takut
selama
kehamilan.





9. Tentukan
kebutuhan
hiburan,
anjurkan
berbagai
aktivitas
(misal:
televisi,
buku,
kartu,
berjalan-
Bertindak
sebagai
pengalihan
untuk
membantu
melewati
waktu
selama fase
persalinan
yang
umumnya
paling
panjang.
9. Membantu
mengalihkan
perhatian
dari
persalinan,
membuat
waktu yang
dilewati
lebih cepat.
Bila kondisi
memungkink
an, berjalan-
jalan
biasanya
meningkatka
n dilatasi
servikal,
pemendekan
persalinan,
82

jalan).








10. Siapkan
untuk
dan/atau
bantu saat
pulang dari
rumah
sakit,
sesuai
indikasi.
dan
menurunkan
insiden
abnormalitas
DJJ.
10. Selama fase
laten paling
awal tanpa
tanda-tanda
kemajuan
persalinan,
kenyamanan
dan
pengenalan
terhadap
lingkungan
rumah dapat
menurunkan
ansietas,
karenanya
mendesak
proses
persalinan,
dan
memungkink
an
kesempatan
untuk
berbagai
aktivitas
pengalihan
yang dapat
83

diterima.
Nyeri Tupan : nyeri
berkurang

Tupen : nyeri
terkontrol,
dengan
kriteria hasil:
- Klien
melapork
an
ketidakny
amanan
minimal
- Klien
tampak
rileks/ten
ang
diantara
kontraksi
- Bebas
dari efek
samping
bila agens
analgesia/
anestetik
diberikan
1. Observasi
derajat
ketidaknya
manan
melalui
isyarat
verbal dan
nonverbal;
perhatikan
pengaruh
budaya
pada
respons
nyeri.
2. Bantu
dalam
penggunaa
n teknik
pernapasan
/relaksasi
yang tepat
dan pada
masase
abdomen.



3. Bantu
tindakan
kenyamana
n (misal:
1. Tindakan
dan reaksi
nyeri adalah
individual
dan
berdasarkan
pengalaman
masa lalu,
memahami
perubahan
fisiologis,
dan latar
belakang
budaya.
2. Dapat
memblok
impuls nyeri
dalam
korteks
serebral
melalui
respons
kondisi dan
stimulasi
kutan.
Memudahka
n kemajuan
persalinan
normal.
3. Meningkatka
n relaksasi
84

gosokan
punggung/
kaki,
tekanan
sakral,
istirahat
punggung,
perawatan
mulut,
perubahan
posisi,
perawatan
perineal,
dan
pertukaran
linen).
4. Anjurkan
klien untuk
berkemih
setiap 1-2
jam.
Palpasi di
atas
simfisis
pubis
untuk
menentuka
n distensi,
khususnya
setelah
blok saraf.

dan hygene;
meningkatka
n perasaan
sejahtera.






4. Mempertaha
nkan
kandung
kemih bebas
distensi,
yang dapat
meningkatka
n
ketidaknyam
anan,
mengakibatk
an
kemungkina
n trauma,
mempengaru
hi penurunan
janin, dan
memperlama
persalinan.
Analgesia
epidural atau
paraservikal
85








5. Berikan
informasi
tentang
ketersediaa
n
analgesik,
respon/efe
k samping
biasanya
(klien dan
janin), dan
durasi efek
analgesik
pada
lampu atau
situasi
penyerta.
6. Dukung
keputusan
klien
tentang
mengguna
kan atau
tidak
mengguna
dapat
mempengaru
hi sensasi
penuh.
5. Memungkin
kan klien
membuat
pilihan
persetujuan
tentang cara
pengontrolan
nyeri.



6. Membantu
menurunkan
perasaan
gagal pada
klien/pasang
an yang telah
mengantisipa
si kelahiran
yang tidak
diobati dan
tidak
mengikuti
rencana
tersebut.
Meningkatka
n rasa
kontrol dan
86

kan obat-
obatan
dengan
cara yang
tidak
menghaki
mi.
Lanjutkan
dorongan
untuk
upaya dan
penggunaa
n teknik
relaksasi.

7. Instruksika
n klien
dalam
mengguna
kan
analgesik
yang
dikontrol
pasien;
pantau
caranya
mengguna
kan.
8. Hitung
waktu dan
catat
frekuensi,
dapat
mencegah/m
enurunkan
kebutuhan
medikasi.
7. Memungkin
kan klien
untuk
mengatur
kontrol
nyerinya
sendiri,
biasanya
dengan
sedikit
medikasi.

8. Memantau
kemajuan
persalinan
dan
memberikan
informasi
untuk klien.

9. Dilatasi
servikal
seharusnya
1,2 cm/jam
pada
nulipara dan
1,5 cm/jam
87

intensitas,
dan durasi
pola
kontraksi
uterus
setiap 30
menit.
9. Observasi
sifat dan
jumlah
tampilan
vagina,
dilatasi
servikal,
penonjolan
, lokasi
janin, dan
penurunan
janin.





10. Berikan
tindakan
pengamana
n; misal:
anjurkan
klien untuk
bergerak
dengan
pada
multipara;
tampilan
vagina
meningkat
dengan
turunnya
janin. Pilihan
dan waktu
pemberian
obat
dipengaruhi
oleh derajat
dilatasi dan
pola
kontraksi.
10. Anestesi
blok regional
menghasilka
n paralisis
vasomotor,
sehingga
gerakan tiba-
tiba dapat
mencetuskan
hipotensi.
Analgesik
mengubah
persepsi, dan
klien dapat
jatuh karena
mencoba
88

perlahan,
mempertah
ankan
penghalan
g tempat
tidur
setelah
pemberian
obat, dan
sokong
kaki
selama
pemindaha
n.
11. Observasi
TD dan
nadi
selama 1-2
menit
setelah
injeksi
regional
selama 15
menit
pertama,
kemudian
setiap 10-
15 menit
untuk sisa
waktu
persalinan.
Posisikan
turun dari
tempat tidur.
11. Hipotensi
maternal,
efek
samping
paling umum
dari anestesi
blok
regional,
dapat
mempengaru
hi oksigenasi
janin.
Hipotensi
telentang
dapat terjadi
karena posisi
litotomi
selama
pemberian
anestesi
paraservikal.
Posisi miring
kiri
meningkatka
n aliran balik
vena dan
meningkatka
n sirkulasi
plasenta.
12. Respon
89

pada posisi
miring kiri
dengan
kepala
datarr dan
kaki
ditinggikan
, atau
meninggik
an lutut
dan
mengubah
posisi
uterus
secara
manual ke
kiri sesuai
indikasi.

12. Libatkan
klien
dalam
percakapan
untuk
mengkaji
sensori;
pantau
pola
pernapasan
dan nadi.


toksik
sistemik
dengan
perubahan
sensori bila
obat
diabsorpsi ke
dalam sistem
vascular.
Perubahan
sensori dapat
juga menjadi
indicator
awal
terjadinya
hipoksia.
Gangguan
fungsi
pernapasan
terjadi bila
analgesia
terlalu
tinggi,
menimbulka
n paralisis
dan
diafragma.
13. Rute IV
disukai
karena
menjamin
pemberian
90







KOLABORA
SI
13. Berikan
analgesik
seperti
alfaprodin
hidroklorid
a (Nisentil)
atau
meperidin
hidroklorid
a
(Demerol)
dengan
kekuatan
tranquilize
r, dengan
IV atau
IM, yang
dalam di
antara
kontraksi,
bila
diindikasik
an.
analgesik
lebih cepat
dan
absorpsinya
seimbang.
Medikasi
diberikan
dengan rute
IM
memerlukan
sampai 45
menit untuk
mencapai
kadar plasma
adekuat, dan
ambilan
maternal
mungkin
bervariasi,
khususnya
bila obat
diinjeksikan
ke dalam
lemak
subkutan
sebagai
pengganti
otot.

91

i. ASUHAN KEPERAWATAN SELAMA PERSALINAN KALA II
Posisi Melahirkan
i. Posisi Walcher
Merupakan posisi paling tidak enak bagi wanita hamil. Wanita
berbaring telentang di meja atau tempat tidur periksa dengan kedua
tungkai dalam posisi ekstensi sampai tepi meja atau tempat tidur
periksa.
Pada posisi ini ilium bergerak ke belakang dan kebawah pada
articulation sacroiliaka, sehingga membuat pelvis condong ke
depan. Posisi ini menambah besarnya diameter konjungata vera
pada pintu masuk pelvis tapi akibatnya adalah pengurangan ruang
pada pintu ke luar pelvis.
Posisi ini mempermudah turunnya kepala fetus ke dalam pelvis dan
mungkin dapat dipergunakan pada percobaan persalinan. Tetapi
cara ini tidak praktis dipandang dari sudut kenyamanan atau
peningkatan efesiensi kontraksi uterus. Posisi ini tentu saja harus
diubah lagi untuk meningkatkan kapasitas pintu keluar pelvis
memperbesar ukuran pintu masuk pelvis, namun keuntungan ini
dilawan oleh adanya perubahan sudut kemiringan pelvis pada pintu
masuk pelvis.

ii. Litotomi
Saat wanita telentang dengan kedua paha dan lutut dalam keadaan
fleksi, maka pelvis akan condong ke posterior dengan adanya
gerakan pada articulation sacroilliaka. Posisi ini adalah kebalikan
dari posisi Walcher. Pintu masuk pelvis memendek, sedangkan
pintu keluar pelvis meningkat.

iii. Posisi Merangkak (Litotomi Terbalik)
Seperti pada posisi litotomi, posisi ini memperpendek pintu masuk
pelvis tetapi meningkatkan ruang pintu keluar pelvis. Posisi
merangkak juga berharga pada kala pertama persalinan apabila
92

oksiput dalam presentasi posterior. Posisi ini memudahkan fetus
bergulir ke depan dan dengan demikian mempermudah fetus rotasi
(perputaran) oksiput ke posisi posterior.

iv. Berjongkok
Pada posisi berjongkok ini kedua paha mengalami abduksi dan
fleksi. Kedua Krista iliaka bergerak ke dalam, dan promontorium
bergerak ke bawah dan ke depan sehingga memperpendek pintu
masuk panggul dan pintu keluar pelvis diperlebar.
Posisi berjongkok untuk melahirkan bayi ini merupakan salah satu
naluri pada masyarakat primitive selama berabad-abad. Banyak
wanita pada masa ini yang merasakan bahwa posisi ini mungkin
lebih dipergunakan sebagai salah satu posisi alamiah, tetapi
biasanya dimodifikasikan menjadi posisi jongkok lutut.
Sejumlah unit obstetric telah mencoba memodifikasi posisi
berjongkok ini dengan menggunakan kursi untuk melahirkan
(birthing chair) atau satu tempat tidur yang telah disesuaikan.
(Verrals, S., 2003)

Tehnik Mengedan
- Mengejan Spontan
Mengejan spontan tidak direncanakan dan dilatih oleh wanita
sebelum kelahiran, dan juga tidak diarahkan selama kelahiran.
Keinginan mengejan tidak tertahankan. Biasanya mendorong
wanita untuk mengejan secara efektif bersamaan dengan kontraksi
yang kuat. Caranya :
Wanita menarik nafas dalam dan mengejan ketika ia
menginginkannya dan selama ia merasakan keinginan untuk
mengejan. Setiap usaha mengejan biasanya berlangsung 5-7
detik.
93

Wanita dapat menahan napas, merintih, atau berteriak selama
kontraksi dan dapat mengambil napas cepat-cepat beberapa
detik di antara usaha mengejan.
Pernafasan ini membantu memastikan oksigenasi janin
adekuat. Menariknya, studi telah menunjukan tindakan ini tidak
memperpanjang persalinan secara bermakna dibandingkan
dengan menahan napas dan mengejan yang berkepanjangan
yang lebih sering dilakukan saat ini.

- Mengejan dengan Pengarahan Sendiri
Kadang-kadang usaha spontan wanita untuk mengejan berjalan
tidak efektif, dan mengejan dengan pengarahan sendiri lebih
produktif.
Mengejan dengan pengarahan sendiri digunakan jika wanita
merasakan keinginan untuk mengejan spontan tetapi usaha
mengejannya tidak terfokus, tidak efektif, dan menyebar, tanpa
menunjukkan kemajuan dalam 30 menit. Seringkali matanya juga
tertutup rapat. Caranya :
Pertama, pemberi perawatan mendorong wanita dengan posisi
baru (posisi-posisi yang meningkatkan gaya gravitasi
cenderung membantu wanita memfokuskan perhatiannya).
Perawat dapat mengajarkan wanita untuk membuka matanya
dan mengarahkan pandangan, dan usaha mengejannya ke pintu
luar vagina. Tanpa pengarahan lebih lanjut, wanita seringkali
merespon dengan baik, menjadi jauh lebih efektif dalam usaha
mengejannya.

- Mengejan dengan Diarahkan
Caranya :
Pada mengejan diarahkan, wanita diajarkan secara tepat
mengenai kapan, bagaimana, dan berapa lama untuk mengejan.
Biasanya ia diharapkan untuk menahan napas dan mengejan
94

selama 10 detik atau lebih pada satu waktu dengan hanya satu
kali napas pendek di antara usaha mengejan. Teknik ini
kadangkala dikatakan sebagai mengejan ungu yang
menggambarkan warna dari wajah wanita setelah beberapa
kontraksi dari mengejan jenis ini.
Untuk mengurangi resiko-resiko potensial dari mengejan jenis
ini, wanita hendaknya diarahkan untuk menahan napasnya
tidak lebih dari 5-7 detik dalam satu waktu, agar dapat
mengambil napas beberapa kali di antara usaha mengejan, dan
menggunakan posisi lain selain berbaring dengan
punggungnya.
Indikasi :
Jika wanita tidak ingin mengejan (seperti pada wanita dengan
anastesia epidural)
jika ada masalah medis yang memerlukan lahirnya bayi segera
Jika wanita tidak dapat memfokuskan usahanya untuk
mengejan secara efektif saat menggunakan teknik mengejan
dengan pengarahan sendiri.

Support
RESPON WANITA YANG DIHARAPKAN DAN TINDAKAN
PENDUKUNG SELAMA PERSALINAN
WANITA PENDUKUNG
DILATASI SERVIKS 0 SAMPAI 3 CM (kontraksi berlangsung 10
30 detik, berjarak 5 30 menit, ringan sampai sedang)
Mood : terjaga sepenuhnya,
gembura, tegang, sedikit cemas
Masuk ke kamar bersalin; pilih
focal point
Istirahat atau tidur, jika
memungkinkan
Menggunakan teknik pernapasan
Memberi semangat, umpan balik
untuk relaksasi, dan menemani
wanita
Membantu sewaktu kontraksi
Menggunakan teknik
memusatkan perhatian
Berkonsentrasi dalam
95

Mengguanakan teknik
menghembuskan napas,
memusatkan perhatian, dan
teknik relaksasi
melakukan teknik pernapasan
Melakukan upaya untuk
menciptakan rasa nyaman
Posisi yang paling nyaman
untuk wanita
Mengupayakan wanita terus
mengetahui kemajuan
persalinan, menjelaskan
prosedur dan tindakan rutin
lain
Memberi pujian
Menawarkan ataraktik sesuai
intruksi
DILATASI SERVIKS 4 SAMPAI 7 CM (kontraksi berlangsung
selama 30 40 detik, berjarak 3 -5 menit, sedang sampai kuat)
Mood : orientasi serius,
konsentrasi, dan energi
dibutuhkan untuk kontraksi,
wanita terjaga, lebih banyak
menuntut
Relaksasi kontinu, teknik untuk
memfokuskan
Menggunakan teknik pernapasan
Bertindak sebagai perantara,
batasi tindakan pemeriksaan
hanya di antara kontraksi
Membantu selama kontraksi
Mendorong wanita untuk
membantu mempertahankan
teknik pernapasan
Melakukan tindakan untuk
menciptakan rasa nyaman
Wanita dalam posisi berbaring
miring
Menganjurkan relaksasi otot-
otot punggung, bokong, paha,
dan perineum secara volunter;
menghembuskan napas
Memberi tekanan balik pada
daerah sakrokoksigis
96

Memberi semangat dan pujian
Mengusahakan agar wanita
mengetahui kemajuannya
Menawarkan analgesia dan
anastesia sesuai program
Memeriksa kandung kemih,
anjurkan untuk buang air
kecil
Melakukan perawatan mulut
dan memberi es batu
DILATASI SERVIKS 8 SAMPAI 10 CM
Mood : mudah tersinggung,
konsentrasi penuh, gejala-gejala
transisi
Teruskan melakukan relaksasi,
perlu berkonsentrasi lebih untuk
melakukan hal ini
Teknik pernapasan
Menggunakan pola 4 : 1, jika
memungkinkan
Menggunakan teknik napas
pendek cepat untuk mengatasi
respons ingin mengedan
Menemani wanita, memberi
dukungan secara kontinu
Membantu selama kontraksi
Mungkin perlu mengingatkan
dan meyakinkan wanita untuk
kembali menerapkan pola
pernapasan dan
berkonsentrasi
Apabila disedasi atau
mengantuk, wanita perlu
diperingatkan untuk mulai
mengatur pola napas sebelum
kontraksi menjadi terlalu kuat
Saat wanita mulai mengedan,
menganjurkan manita
bernapas dengan suara keras
Melakukan upaya untuk
meredakan rasa nyeri
Menerima ketidakmampuan
wanita untuk mengikuti
intruksi
97

Menerima respons yang merasa
terganggu terhadap bantuan
yang perawat tawarkan,
misalnya terhadap pemberi
tekanan balik (counter
pressure)
Membantu wanita yang
mengalami mual mutah,
meberi perawatan mulut jika
diperlukan, yakinkan wanita
tentang tanda-tanda akhir
tahap pertama
Menggunakan teknik untuk
mengatasi ketegangan
(bernapas melalui mulut dan
relaksasi volunter)
Mengusahakan wanita terus
mengetahui kemajuannya dan
membantu semaktu mengedan,
jika waktu mengedan telah tiba

Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
IMD didefinisikan sebagai proses membiarkan bayi menyusu
sendiri setelah kelahiran. Bayi diletakkan di dada ibu dan bayi itu
sendiri dengan segala upayanya mencari puting untuk segera
menyusu. Jangka waktunya adalah sesegera mungkin setelah
melahirkan. IMD sangat penting tidak hanya untuk bayi, namun
juga untuk ibu. Dengan demikian, sekitar 22% angka kematian
bayi setelah lahir pada 1 bulan pertama dapat ditekan. Bayi disusui
selama 1 jam atau lebih di dada ibunya segera setelah lahir. Hal
tersebut juga penting dalam menjaga produktivitas ASI. Isapan
bayi penting dalam meningkatkan kadar hormon prolaktin, yaitu
98

hormon yang merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI.
Isapan itu akan meningkatkan produksi susu 2x lipat. Itulah
bedanya isapan dengan perasan.
Beberapa manfaat IMD adalah sebegai berikut :
1. Ketika bayi diletakkan di dada ibunya, ia berada tepat di atas
rahim ibu. Hal itu membantu menekan plasenta dan
mengecilkan rahim ibu. Dengan begitu, perdarahan ibu akan
berhenti karena ada kontraksi rahim. Setiap 2 jam, ada ibu
meninggal karena perdarahan. Kalau selama melakukan IMD
maka akan ada angka penurunan perdarahan.
2. Rasa kasing sayang meningkat karena adanya kontak langsung
keduany (kulit dengan kulit).
3. Ambang nyerinya akan meningkat sehingga tidak mudah sakit
ketika IMD.
Dalam perkembangannya, semua bayi akan melalui 5 tahapan yang
sama saat IMD, antara lain :
1. Adaptasi melek merem yakni ketika bayi berhadap-hadapan
dengan ibunya.
2. Sesudah bayi tenang baru mengecap bagian atas telapak
tangannya. Bau di telapak tangan tersebut mirip dengan ASI
yang akan keluar. Jadi bau ini memandu bayi untuk mencari
puting susu ibunya. Oleh karena itu, saat membersihkan bayi,
bagian atas telapak tangan jangan dibersihkan.
3. Menekan di atas perut, tepat di atas rahim guna menghentikan
perdarahan. Hal tersebut dapat membantu mengecilkan
kontraksi rahim.
4. Waktu merayap, bayi akan menekan payudara dan hal tersebut
akan merangsang ASI keluar. Sambil bergerak, ia menjilat.
Dengan jilatannya itu, ia mengambil bakteri dari kulit ibunya.
Seberapa banyak ia menjilat, Cuma ia yang tahu akan berapa
banyak kebutuhan bakteri yang akan masuk ke pencernaannya
itu dan menjadi bakteri lactobasillus. Ia kulum dulu, kemudian
99

dijilat sampai dia yakin kokstitusi ibunya cukup, baru dia naik
ke atas.
5. Setelah merasa cukup maka ia akan bergerak ke arah puting
susu sampai menemukannya. Pada saat tersebut, tidak mesti
ASI keluar. Yang penting, ia telah mencapai puting dan mulai
menghisap-hisap. Walaupun ia sudah menemukan puting susu
ibunya, biarkan selama 1 jam untuk proses skin to skin contact.
i. Pengkajian
Kemajuan Persalinan
KEMAJUAN TAHAP KEDUA PERSALINAN IBU
KRITERIA FASE 1 FASE 2 FASE 3
KONTRAKS
I
Kekuatan
(Intensitas)
Frekuensi

PENURUNA
N


STASIUN
SHOW :
WARNA
DAN
J UMLAH



USAHA
MENGEDA
N SPONTAN
Periode
tenang
fisiolologis
untuk
semua
kriteria
2 -3 menit




0 sampai +2





Kecil sampai
tidak ada
kecuali
pada
Sangat kuat
sekali

2 2 menit

Meningkat dan
refleks
Ferguson*
menjadi aktif

+2 sampai +4
Aliran darah
merah tua
meningkat
bermakna



Rasa mengedan
semakin
tidak
Luar biasa kuat
Ekspulsif
1-2 menit

Cepat


+4 sampai lahir
Kepala janin
terlihat pada
introitus;
aliran darah
menyertai
keluarnya
kepala

Semakin
meningkat



100



VOKALISAS
I





PERILAKU
IBU
puncak
kontraksi
terkuat

Tenang
Khawatir
tentang
kemajuan




Merasa lega
setelah
melalui
masa
transisi ke
tahap
kedua
Merasa letih
dan
mengantuk
Merasa telah
menyelesai
kan sesuatu
yang
optimis,
karena
bagian
tersulit
telah
selesai
tertahankan


Suara keras
atau
menghembus
kan napas
dengan
bersuara;
memberi
tahu saat
kontraksi
muncul

Merasa sangat
ingin
mengedan
Mengubah pola
pernapasan;
menahan
napas 4
sampai 5
detik dengan
bernapas
secara teratur
di antaranya,
5 -7 kali
setiap
kontraksi
Mengeluarkan
suara yang
keras dan
Terus bersuata
keras dan
menghembus
kan napas
dengan
bersuara;
mungkin
menjerit atau
memaki-
maki

Menyatakan
bahwa rasa
nyeri sangat
luar biasa
Menyatakan
perasaan
tidak
berdaya
Menunjukkan
penurunan
kemampuan
untuk
mendengar
dan
berkonsentra
si dalam
semua hal,
kecuali dalan
melahirkan
Menggambarka
n adanya
101

Merasa dapat
mengendali
kan diri
menghembus
kan napas
dengan
bersuara
Seiring
mengubah
posisi
lingkaran
api^
Seringkali
menunjukka
n
kegembiraan
luar biasa
dengan
keluarnya
kepala
Keterangan :
*Refleks Ferguson. Tekanan bagian presentasi pada reseptor
regangan dasar panggul merangsang pelepasan oksitosin dari
hipofisis posterior, yang mengakibatkan kontraksi uterus semakin
kuat
^Lingkaran api. Perasaan terbakar karena nyeri akut akibat
regangan vagina dan munculnya kepala

Durasi
o Berdasarkan data Friedman, batas dan lama tahap kedua
persalinan berbeda-beda, tergantung pada paritasnya (lebih
lama pada wanita yang mendapat blok epidural dan
menyebabkan hilangnya refleks mengedan).
PARITAS RENTANG
(MENIT)
RATA-RATA
(MENIT)
Kehamilan pertama 25 - 75 57
Kehamilan
Berikutnya
13 - 17 14,4

o Faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah pola DJJ,
penurunan bagian presentasim kualitas kontraksi uterus, dan
pH darah kulit kepala janin (Mahan, McKay, 1984).
102

o Tahap kedua yang berlangsung lebih dari 2 jam pada
kehamilan pertama dan 1 jam pada kehamilan berikutnya
dianggaap abnormal dan harus dilapor kepada pemberi jasa
kesehatan.

Tanda-tanda Masalah Potensial
Tahap kedua yang berkepanjangan dilaporkan kepada pemberi jasa
kesehartan. Tanda dan gejala kelahiran segera dapat muncul tanpa
diduga dan membutuhkan tindakan segera dari perawat.
ii. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko tinggi cidera pada ibu dan janin b.d. penggunaan manuver
Valsava secara kontinu.
2. Rendah diri situasional b.d.
- Kurang pengetahuan tentang efek normal dan efek
menguntungkan bersuara (vokalisasi) selama mengedan.
- Ketidakmampuan untuk bertahan dalam proses melahirkan
tanpa obat.
3. Koping individu tidak efektif b.d. pengarahan persalinan yang
berlawanan dengan keinginan fisiologis wanita untuk mengejan.
4. Nyeri b.d. usaha mengedan dan distensi perineum.
5. Ansietas b.d ketidakmampuan mengendalikan defekasi saat
mengedan.
6. Ansietas b.d. defisit pengetahuan dalam hal tidak mengetahuai
sebab-akibat sensasi pada perineum.
7. Risiko cidera pada ibu b.d. posisi tungkai ibu yang menopang kaki
tidah tepat.
8. Rendah diri stuasional pada ayah b.d. ketidakmampuan
mendukung ibu dalam tahap akhir persalinan.

iii. Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
103

KEPERAWATAN
Nyeri Tupan: nyeri
berkurang

Tupen: nyeri
terkontrol
1. Identifikasi derajat
ketidaknyamanan
dan sumbernya.
2. Berikan tindakan
kenyamanan,
seperti perawatan
mulut; perawatan
masase perineal;
linen dan pembalut
yang bersih dan
kering; lingkungan
sejuk (68 sampai
72 F), kain sejuk
lembab untuk
wajah dan leher;
atau kompres panas
pada perineum,
abdomen, atau
punggung sesuai
kebutuhan
3. Berikan informasi
pada
klien/pasangan
tentang tipe
anesthesia yang
tersedia pada tahap
ini khususnya
untuk situasi
melahirkan (misal:
anestesi lokal,
subaraknoid, atau
1. Mengklarifikasi
kebutuhan;
memungkinkan
intervensi yang tepat.
2. Meningkatkan
kenyamanan
psikologis dan fisik.











3. Meskipun klien yang
mengalami stres
persalinan dan tingkat
ketidaknyamanan
dapat mempengaruhi
keterampilan
pembuatan keputusan
normal, ia masih
memerlukan kontrol
dan membuat
keputusan persetujuan
sendiri berkenaan
dengan anesthesia.
104

blok pudendal;
penguatan epidural
atau kaudal) atau
stimulasi saraf
elektrikal
transkutan (TENS).
Tinjau ulang
keuntungan/kerugi
an dengan tepat.
4. Pantau dan catat
aktivitas uterus
pada setiap
kontraksi.
5. Berikan informasi
dan dukungan yang
berhubungan
dengan kemajuan
persalinan.
6. Anjurkan
klien/pasangan
untuk mengatur
upaya untuk
mengejan dengan
spontan, daripada
dilakukan terus-
menerus,
mendorong selama
kontraksi.
Tekankan
pentingnya
menggunakan otot
abdomen dan





4. Memberikan
informasi/dokumentas
i legal tentang
kemajuan kontinu.
5. Pertahankan supaya
pasangan tetap
mendapatkan
informasi tentang
perkiraan kelahiran.
6. Anestetik dapat
mengganggu
kemampuan klien
untuk merasakan
sensasi berkenaan
dengan kontraksi,
mengakibatkan
mengejan tidak
efektif. Upaya
mengejan spontan
yang bukan terus-
menerus menghindari
efek negative dari
Valsava manuver
berkenaan dengan
penurunan kadar
oksigen ibu dan janin.
7. Pemutaran anal kearah
105

merelakskan dasar
pelviks.

7. Pantau penonjolan
perineal dan rektal,
pembukaan muara
vagina, dan tempat
Janin.

8. Bantu klien dalam
memilih posisi
optimal untuk
mengejan; (misal:
jongkok atau
rekumben lateral,
posisi semi fowler
(ditinggikan 30-60
derajat), atau
penggunaan kursi
melahirkan. Kaji
keefektifan upaya
untuk mengejan;
bantu klien untuk
merelakskan semua
otot dan
beristirahat
diantara kontraksi).
9. Pantau TD dan
nadi ibu, dan DJJ.
Perhatikan reaksi
merugikan yang
tidak biasanya
luar dan penonjolan
perineal terjadi saat
vertex janin turun,
menandakan
kebutuhan untuk
persiapan kelahiran.
8. Posisi yang tepat
dengan relaksasi
jaringan perineal
mengoptimalkan
upaya mengejan,
memudahkan
kemajuan persalinan,
menurunkan
ketidaknyamanan, dan
menurunkan
kebutuhan terhadap
penggunaan forsep.
Relaksasi komplet di
antara kontraksi
meningkatkan
istirahat dan
membantu membatasi
keregangan/kelelahan
otot.
9. Hipotensi ibu
disebabkan oleh
penurunan tahanan
perifer saat
percabangan vascular
dilatasi adalah reaksi
merugikan yang
106

terhadap obat-
obatan, seperti
reaksi antibody-
antigen, paralisis
pernapasan, atau
blok spinal. Catat
reaksi merugikan
seperti mual,
muntah, retensi
urin, perlambatan
depresi pernapasan,
dan pruritus pada
wajah, mata, atau
mulut.

KOLABORASI
10. Kaji kepenuhan
kandung kemih.
Kateterisasi di
antara kontraksi
bila distensi terlihat
dan klien tidak
mampu
menghindari.

11. Dukung dan
posisikan blok
sadel atau anestesi
spinal, lokal,
pudendal, sesuai
indikasi.

utama terhadap blok
peridural atau
subaraknoid.









10. Meningkatkan
kenyamanan,
memudahkan
turunnya janin, dan
menurunkan risiko
trauma kandung
kemih yang
disebabkan oleh
bagian presentasi
janin.

11. Posisi yang tepat
menjamin penempatan
tepat dari obat-obatan
dan membantu
mencegah komplikasi.


12. Menganestesi jaringan
perineal lokal untuk
107

Anestesi lokal
12. Bantu sesuai
kebutuhan pada
pemberian anestesi
lokal sebelum
episiotomy.

Anestesi Regional
13. Bantu dengan
penguatan
medikasi melalui
kateter indwelling
blok peridural bila
kaput dapat dilihat.
Pantau TTV dan
respon merugikan.
memperbaiki tujuan.

ASUHAN KEPERAWATAN SELAMA PERSALINAN KALA III
I. Tanda Pelepasan Plasenta
Hal-hal berikut ini tidak mutlak dan dapat terjadi karena alasan
lain :
Perdarahan : 30-60 ml darah dapat keluar dari vagina (hal
ini juga dapat terjadi akibat pelepasan plasenta parsial,
meskipun perdarahan seringkali lebih banyak, atau akibat
laserasi)
Pemajangan tali pusat : hal ini terjadi karena penurunan
plasenta, tetapi dapat juga terjadi bila tali pusat bergulung
dan kemudian melurus
Uterus membulat, mengeras, meninggi, mobile, dan merasa
melenting : hal ini dikaji dengan mempalpasi fundus;
palpasi ini harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat
menyebabkan kontraksi yang tidak teratur, mengakibatkan
108

pelepasan sebagian plasenta dan selaput ketuban, dan
perdarahan hebat. Fundus dapat teraba di bawah
umbilikalis, dan teraba lebih lebar, sampai plasenta terlepas
dan turun ke bagian bawah uterus. Tinggi fundus
bertambah, biasanya di atas umbilikalis dengan fundus
yang menyempit.
Pelepasan plasenta diindikasikan dengan tanda-tanda berikut :
Fundus yang berkontraksi kuat
Perubahan bentuk uterus dari bentuk cakram menjadi bulat
oval, sewaktu plasenta bergerak kearah segmen bagian
bawah.
Darah berwarna gelap keluar dengan tiba-tiba dari introitus
Tali pusat bertambah panjang dengan majunya plasenta
mendekati introitus
Vagina (plasenta) penuh pada pemeriksaan vagina atau
rectum atau membran janin terlihat di introitus.

II. Teknik Pelepasan Plasenta
- Pengeluaran plasenta secara spontan
Ketika uterus berkontraksi kuat, ibu yang tidak dibius dapat
mengejan selama kontraksi untuk mengeluarkan plasenta yang
sudah lepas. Meskipun punya nilai historis tetapi makna
klinisnya kecil, dapat dicatat apakah plasenta lahir dengan
permukaan fetal di introitus (Schultz) atau permukaan ibu
(Duncan). Lahirnya plasenta secara spontan biasanya
terlaksana tanpa kesulitan. Namun jika tidak lahir spontan
dapat digunakan teknik berikut



Teknik Brandt-Andrews (Modifikasi)
109

Segera setelah bayi lahir, klemlah tali pusat dekat vulva.
Palpasi uterus dengan lembut tanpa memijat untuk
menentukan apakah terjadi kontraksi kuat
Setelah beberapa kali kontraksi uterus dan adanya
perubahan ukuran serta bentuk yang menunjukan
lepasnya plasenta, peganglah klem kuat-kuat pada vulva
dengan satu tangan. Letakkan ujung-ujung jari tangan
yang lain pada abdomen ibu, dan tekan antara fundus
dan simfisis untuk mengangkat fundus. Jika plasenta
sudah lepas, tali pusat akan keluar dari vagina.
Angkatlah fundus lebih jauh, lakukan penarikan ringan
tali pusat dan lahirkan plasenta dari vagina



- Pengeluaran Manual
Pelepasan dan pengeluaran plasenta secara manual dari fundus
uteri merupakan teksik langsung yang efektif. Namun cara ini
merupakan tindakan invasive dan seringkali diperlukan anestesi
110

yang efektif. Pengeluaran plasenta secara manual sebaiknya
hanya dilakukan jika ada indikasi dan operator berpengalaman.
Bersihkan lagi perineum dan vulva dengan sabun dan
larutan antiseptic
Bentuk tangan sesempit mungkin, masukkan perlahan ke
dalam vagina dan rabalah adalah defek dalam vagina dan
serviks. Telusuri secara perlahan melalui serviks dengan
jari-jari, hati-hati jangn sampai merobek jalan lahir.
(Mungkin diperlukan anestesi cukup dalam untuk waktu
singkat jika sudah terjadi penundaan cukup lama)
Tentukan letak dan lepaskan plasenta jika dapat dikerjakan
dengan mudah. Jangan berusaha melawan kepingan
plasenta jika terdapat tahanan yang tidak biasa (plasenta
akreta)
Raba fundus adakah defek atau tumor
Keluarkan tangan sambil menggenggam plasenta yang
sudah lengkap terpisah atau tinggalkan plasenta jika
melekat kuat (plasenta akreta)

III. Mengecek Pelepasan Plasenta
a. Perasat Kustner
Tali pusat ditegangkan, tekan simfisis, Bila tali pusat naik
berarti plasenta belum lepas
b. Perasat Stressman
Tali pusat ditarik, fundus uteri diketok, bila ketokannya terasa
berarti plasenta belum lepas
c. Perasat Klein
Ibu disuruh mengedan, tali pusat turun dan bila mengedannya
berhenti tali pusat naik kembali, berarti plasenta belum lepas.
(Manuaba, I., G., B., )


111

IV. Intervensi
DIAGNOSA
KEPERAWA
TAN
TUJUAN
INTERVEN
SI
RASIONAL
Resti
kekurangan
volume cairan
- Klien
menunjukkan
TD dan nadi
dalam batas
normal, nadi
dapat diraba.
- Mendemonstra
sikan kontraksi
adekuat dari
uterus dengan
kehilangan
darah dalam
batas normal.
1. Instruksik
an klien
untuk
mendoro
ng pada
kontraksi;
bantu
mengarah
kan
perhatian
nya untuk
mengejan








2. Observasi
tanda
vital
sebelum
dan
setelah
pemberia
n
1. Perhatikan
klien
secara
alami pada
bayi baru
lahir;
selain itu
keletihan
dapat
mempenga
ruhi
upaya-
upaya
individu,
dan ia
memerluk
an bantuan
dalam
mengarahk
an ke arah
membantu
pelepasan
plasenta.
Mengejan
membantu
pelepasan
dan
pengeluara
112

oksitosin.
3. Palpasi
uterus;
perhatika
n
ballooni
ng.

4. Pantau
tanda dan
gejala
kehilanga
n cairan
berlebih
atau syok
(misal:
periksa
TD, nadi,
sensoriu
m, warna
kulit, dan
suhu).



5. Tempatka
n bayi di
payudara
klien bila
ia
merencan
akan
n,
menurunk
an
kehilangan
darah, dan
meningkat
kan
kontraksi
uterus.
2. Efek
samping
oksitosin
yang
sering
terjadi
adalah
hipertensi.
3. Menunjuk
kan
relaksasi
uterus
dengan
perdarahan
ke dalam
rongga
uterus.
4. Hemoragi
dihubungk
an dengan
kehilangan
cairan
lebih besar
113

untuk
member
ASI.


6. Masase
uterus
dengan
perlahan
setelah
pengeluar
an
plasenta.



7. Catat
waktu
dan
mekanis
me
pelepasan
plasenta,
misal:
mekanis
me
Duncan
versus
mekanis
me
Schulze.
8. Inspeksi
dari 500
ml dapat
dimanifest
asikan
dengan
peningkata
n nadi,
penurunan
TD,
sianosis,
disorientas
i, peka
rangsang,
dan
penurunan
kesadaran.
5. Penghisap
an
merangsan
g
pelepasan
oksitosin
dari
hipofisis
posterior,
meningkat
kan
kontraksi
miometrik
dan
menurunk
an
114

permukaa
n plasenta
maternal
dan janin.
Perhatika
n ukuran,
insersi
tali pusat,
keutuhan,
perubaha
n
vascular
berkenaa
n dengan
penuaan,
dan
kalsifikas
i (yang
mungkin
menimbu
lkan
abrupsi).
9. Dapatkan
dan catat
informasi
yang
berhubun
gan
dengan
inspeksi
uterus
dan
kehilangan
darah.
6. Miometriu
m
berkontrak
si sebagai
respon
terhadap
taktil
lembut,
karenanya
menurunk
an aliran
lokia dan
menunjuk
kan
pembekua
n darah.
7. Pelepasan
harus
terjadi
dalam 5
menit
setelah
kelahiran.



8. Membantu
mendeteks
i
abnormalit
115

plasenta
untuk
fragmen
plasenta
yang
tertahan.

KOLABOR
ASI
10. Hindari
menarik
tali pusat
secara
berlebiha
n.



11. Berikan
cairan
melalui
rute
parenteral
.




12. Berikan
oksitosin
melalui
rute IM
as yang
mungkin
berdampak
pada
keadaan
ibu atau
bayi baru
lahiran.





9. Jaringan
plasenta
yang
tertahan
dapat
menimbul
kan infeksi
dan
hemoragi
cepat atau
lambat.




10. Kekuatan
dapat
menimbul
kan
116

atau IV
drip
diencerka
n dalam
larutan
elektrolit,
sesuai
indikasi.
putusnya
tali pusat
dan retensi
fragmen
plasenta,
meningkat
kan
kehilangan
darah.
11. Bila
kehilangan
cairan
berlebihan
,
penggantia
n secara
parenteral
membantu
memperba
iki volume
sirkulasi
dan
oksigenasi
dari organ
vital.
12. Meningkat
kan efek
vasokontri
ksi dalam
uterus
untuk
mengontro
117

l
perdarahan
pascapartu
m setelah
pengeluara
n plasenta.

ASUHAN KEPERAWATAN SELAMA PERSALINAN KALA IV
i. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko tinggi defisit volume cairan (perdarahan) b.d. atoni uterus
setelah melahirkan.
2. Retensi urin b.d. efek persalinan/melahirkan pada sensasi saluran
kemih.
3. Nyeri b.d. luka akibat proses kelahiran bayi.
4. Risiko tinggi cidera b.d. ambulasi dini.
5. Risiko tinggi perubahan peran orang tua b.d.
- Nyeri atau keletihan pascapartum.
- Kekecewaan terhadap jenis kelamin atau penampilan bayi yang
baru lahir.
6. Perubahan proses keluarga b.d. bertambahnya anggoa keluarga
yang baru.
7. Menyusui bayi yang tidak efektif b.d. kurangnya pengalaman.
(Bobak, I. M., Lowdermilk, D. L., Jensen, M. D., 2005)

ii. Intervensi
DIAGNOSA
KEPERAWAT
AN
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
Proses keluarga Klien mampu
mendemontrasi
kan perilaku
1. Anjurkan
klien untuk
menggendo
1. Untuk
menjalin
ikatan
118

kedekatan dan
ikatan yang
tepat
ng,
menyentuh,
dan
memeriksa
bayi, lebih
disukai
bersentuha
n kulit
dengan
kulit.
2. Anjurkan
ayah untuk
menyentuh
dan
menggendo
ng bayi dan
membantu
dalam
perawatan
bayi, sesuai
kondisi.
3. Terima
keluarga
dan sibling
dengan
senang hati
selama
periode
pemulihan
bila
diinginkan
oleh klien
emosional
antara ibu
dan bayi.



2. Membantu
memfasilit
asi
ikatan/ked
ekatan di
antara
ayah dan
bayi.



3. Membantu
sibling
untuk
memulai
proses
adaptasi
positif
pada peran
baru dan
masuknya
anggota
baru
dalam
struktur
keluarga.
119

dan
dimungkin
kan oleh
kondisi
ibu/neonate
s dan
lingkungan.
4. Anjurkan
dan bantu
pemberian
ASI,
tergantung
pada klien
dan
keyakinan/
praktik
budaya.


4. Kontak
awal
mempuny
ai efek
positif
pada
durasi
pemberian
ASI;
kontak
kulit
dengan
kulit dan
mulainya
tugas ibu
meningkat
kan ikatan.

III. KONSEP POSTNATAL
I. Definisi
Post partum (nifas) secara harafiah adalah sebagai masa persalinan dan
segera setelah kelahiran, masa pada waktu saluran reproduktif kembali ke
keadaan semula (tidak hamil). (William,1995)
Puerperium / nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah
kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu
(Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,2002).
Puerperium / nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah
kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti
120

keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu. Post
partum adalah proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan
alat alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung
kurang dari 24 jam (Abdul Bari Saifuddin,2002 ).
Jadi dapat disimpulkan bahwa masa nifas atau post partum adalah masa
setelah kelahiran bayi pervagina dan berakhir setelah alat-alat kandungan
kembali seperti semula tanpa adanya komplikasi. Selama masa pemulihan
tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan, baik secara
fisik maupu psikologis sebenarnya sebagian besar bersifat fisiologis.

II. Perubahan Fisiologis Post-Partum
a. Proses Involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah
melahirkan disebut involusi. Proses dimulai setelah plasenta keluar
akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir persalinan tahap III,
uterus berada digaris tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan
fundus bersandar pada promontorium sakralis. Ukuran uterus saat
kehamilan enam minggu beratnya kira-kira 1000 gr. Dalam waktu 12
jam, tinggi fundus kurang lebih 1 cm diatas umbilikus. Fundus turun
kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari keenam fundus normal berada
dipertengahan antara umbilikus dan20 simfisis pubis. Seminggu setelah
melahirkan uterus berada didalam panggul sejati lagi, beratnya kira-kira
500 gr, dua minggu beratnya 350 gr, enam minggu berikutnya mencapai
60 gr (Bobak, 2004).
b. Konstraksi Uterus
Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi lahir,
diduga adanya penurunan volume intrauterin yang sangat besar.
Hemostatis pascapartum dicapai akibat kompresi pembuluh darah
intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan
pembekuan. Hormon desigen dilepas dari keljar hipofisis untuk
memperkuat dan mengatur konstraksi. Selam 1-2 jam I pascapartum
intensitas konstraksi uterus terus berkurang dan menjadi tidak teratur,
121

karena untuk mempertahankan konstraksi uterus biasanya disuntikkan
aksitosan secara intravena atau intramuscular diberikan setelah plasenta
lahir (Bobak, 2004).
c. Tempat Plasenta
Setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, konstriksi vaskuler dan
trombosis menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi
dan bermodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium menyebabkan
pelepasan jaringan nekrotik danmencegah pembekukan jaringan parut
yang menjadi karakteristik penyembuhan luka. Proses penyembuhan
memampukan endometrium menjalankan siklusnya seperti biasa21 dan
memungkinkan implantasi untuk kehamilan dimasa yang akan datang.
Regenerasi endometrium selesai pada akhir minggu ketiga post partum,
kecuali bekas tempat plasenta ( Bobak, 2004).
d. Lochea
Lochea adalah rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir, mula-
mula berwarna merah lalu menjadi merah tua atau merah coklat. Rabas
mengandung bekuan darah kecil. Selama 2 jam pertama setelah lahir,
jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumalah
maksimal yang keluar selam menstruasi. Lochea rubra mengandung
darah dan debris desidua dan debris trofoblastik. Aliran menyembur
menjadi merah muda dan coklat setelah 3-4 hari (lochea serosa).
Lochea serosa terdiri dari darah lama (old blood), serum, leukosit dan
debris jaringan. Sekitar 10 hari setelah bayi lahir, warna cairan ini
menjadi kuning sampai putih (lochea alba). Lochea alba mengandung
leukosit, desidua, sel epitel, mucus, serum dan bakteri. Lochea alba
bertahan bertahan selama 2-6 minggu setelah bayi lahir (Bobak, 2004).
e. Serviks
Serviks menjadi lunak setelah ibu melahirkan, 18 jam post partum,
serviks memendek dan konsisitensinya lebih padat kembali22
kebebntuk semula. Muara serviks berdilatasi 10 cm, sewaktu
melahirkan menutup bertahap 2 jari masih dapat dimasukkan. Muara
serviks hari keempat dan keenam post partum (Bobak, 2004).
122

f. Vagina dan Perinium
Estrogen post partum yang menurun berperan dalam penipisan
mucosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat
teregang akan kembali secara bertahap keukuran sebelum hamil, 6-8
minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar
minggu keempat (Bobak, 2004).
g. Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara
selama wanita hamil (estrogen, progesteron, human chrorionic
gonadotropin, prolaktin, dan insulin) menurun dengan cepat setelah
bayi lahir. Hari ketiga atau keempat post partum terjadi pembengkakan
(engorgement). Payudara bengkak, keras, nyeri bila ditekan, dan hangat
jika diraba (kongesti pembuluh darah menimbulkan rasa hangat).
Pembengkakan dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak nyaman
berkurang dalam 24 jam sampai 36 jam. Apabila bayi belum menghisap
(atau dihentikan), laktasi berhenti dalam beberapa hari sampai satu
minggu.23 Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan),
tetapi kantong susu yang terisi berubah dari hari kehari. Sebelum laktasi
dimulai, payudara terasa lunak dan keluara cairan kekuningan, yakni
kolostrum, yang dikeluarkan oleh payudara. Setelah laktasi dimulai,
payudara terasa hangat dan keras waktu disentuh. Rasa nyeri akan
menetap selama 48 jam, susu putih kebiruan (tampak seperti susu skim)
dapat dikeluarkan dari puting susu (Bobak, 2004).
h. Laktasi
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan pada
kelenjar-kelenjar untuk menghadapi masa laktasi. Proses ini timbul
setelah ari-ari atau plasenta lepas. Ari-ari mengandung hormon
penghambat prolaktin (hormon placenta) yang menghambat
pembentukan ASI. Setelah ari-ari lepas, hormon plasenta tak lagi ada
sehingga terjadi produksi ASI. Sempurnanya ASI keluar 2-3 hari
setelah melahirkan. Namun sebelumnya di payudara sudah terbentuk
123

kolostrum yang bagus sekali untuk bayi, karena mengandung zat kaya
Gizi dan antibodi pembunuh kuman
i. Sistem Endokrin
Selama post partum terjadi penurunan hormon human placenta
latogen (HPL), estrogen dan kortisol serta placental enzime insulinase
membalik efek diabetogonik kehamilan, sehingga kadar gula darah
menurun pada masa puerperium. Pada wanita yang tidak menyusui,
kadar estrogen meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan
lebih tinggi dari wanita yang menyusui post partum hari ke-17
(Bobak,2004).
j. Sistem Urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi)
turut menyebabkat peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan
kadar steroid setelah wanita melahirkan akan mengalami penurunan
fungsi ginjalselama masa pascapartum. Fungsi ginjal kembali normal
dalam waktu 1 bulan setelah wanita melahirkan. Trauma terjadi pada
uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan, yakni sewaktu
bayi melewati hiperemis dan edema. Konstraksi kandung kemih
biasanya akan pulih dalam 5-7 hari setelah bayi lahir (Bobak, 2004).
k. Sistem Cerna
Ibu biasanya lapar setelah melahirkan sehingga ia boleh
mengkonsumsi makanan ringan. Penurunan tonus dan motilitas otot
traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.
Buang air secara spontan bisa tertunda selama tiga hari25 setelah ibu
melahirkan yang disebabkan karena tonus otot usus menurun selama
proses persalinan dan pada masa awal post partum. Nyeri saat defekasi
karena nyeri di perinium akibat episiotomi, laserasi, atau hemoroid
(Bobak, 2004).
l. Sistem Kardiovaskuler
Pada minggu ke-3 dan 4 setelah bayi lahir, volume darah biasanya
turun sampai mencapai volume sebelum hamil. Denyut jantung volume
sekuncup dan curah jantung meningkat sepanjang hamil. Setelah wanita
124

melahirkan meningkat tinggi selama 30-60 menit, karena darah
melewati sircuit uteroplasenta kembali kesirkulasi umum. Nilai curah
jantung normal ditemukan pemeriksaan dari 8-10 minggu setelah
wanita melahirkan (Bobak, 2004).

m. Sistem Neurologi
Perubahan neurologi selama peurperium kebalikan adaptasi
neurologis wanita hamil, disebabkan trauma wanita saat bersalin dan
melahirkan. Rasa baal dan kesemutan pada jari dialami 5% wanita
hamil biasanya hilang setalah anak lahir. Nyeri kepala post partum
disebabkan hipertensi akibat kehamilan, stress dan kebocoran cairan
serebrospinalis. Lama nyeri kepala 1-3 hari dan beberapa minggu
tergantung penyebab dan efek pengobatan (Bobak, 2004).
n. Sistem Muskuloskeletal
Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu terjadi selama hamil
berlangsung terbalik pada masa post partum. Adaptasi membantu
relaksasi dan hipermeabilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat
pembesaran rahim. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu ke 6-8
setelah wanita melahirkan (Bobak, 2004).
o. Sistem Integumen
Kloasma muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat
kehamilan berakhir. Kulit meregang pada payudara, abdomen, paha dan
panggul mungkin memudar tapi tidak hilang seluruhnya. Kelainan
pembuluh darah seperti spider angioma (nevi), eritema palmar dan
epulis berkurang sebagai respon penurunan kadar estrogen. Pada
beberapa wanita spider nevi bersifat menetap (Bobak, 2004).

III. Perubahan Psikologis Post-Partum
Adaptasi psikologis post partum dibagi menjadi beberapa fase yaitu :
1) Fase Taking In ( dependent)
125

Fase ini dimulai pada hari kesatu dan kedua setelah melahirkan, dimana
ibu membutuhkan perlindungan dan pelayanan pada tahap ini pasien sangat
ketergantungan.

2) Fase Taking Hold ( dependent-independent)
Fase ini dimulai pada hari ketiga setelah melahirkan dan berakhir pada
minggu keempat sampai kelima. Sampai hari ketiga ibu siap peran barunya
dan belajar tentang hal-hal baru, pada fase ini ibu membutuhkan banyak
sumber informasi.
3) Fase letting Go ( independent)
Fase dimulai pada minggu kelima dan keenam setelah melahirkan, dimana
ibu mampu menerima tanggung jawab normal.

Adaptasi Psikologis Pada Keluarga Setelah Anak Lahir
a. Adaptasi Maternal
Fase Dependen
Berlangsung selama 1-2 hari setelah melahirlan, dan ibu merasakan
ketergantungan. periode beberapa hari ini sebagai fase menerima (taking-in
phase), sewaktu-waktu dimana ibu baru memerlukan perlindungan dan
perawatan. Fase menerima yang kuat hanya terlihat pada 24 jam pertama
setelah ibu melahirkan. Fase dependen ialah sewaktu-waktu yang penuh
kegembiraaan dan kebanyakan orang tua sangat suka mengomunikasikannya.
Fase Dependen-Mandiri
Fase taking-hold, yang berlangsung kira-kira 10 hari. Dalam 6 sampai 8
minggu setelah melahirkan, kemampuan ibu untuk menguasai tugas-tugas
sebagai orang tua merupakan hal yang penting.
Fase Interdependen
Fase interdependen (letting-go) merupakan fase yang penuh stres bagi
orang tua. Pria dan wanita harus menyelesaikan efek dari perannya masing-
masing dalam hal mengasuh anak, mengatur rumah, dan membina karir.


126


b. Peubahan pada ibu
- Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap, biasanya
pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon estrogen dan
pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu. Mulai terjadinya, adakah
anxietas, marah, respon depresi dan psikosis.
- Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu, ayah dan bayi.
c. Faktor Resiko
- Duerdistensi uterus
- Persalinan yang lama
- Episiotomi/laserasi
- Ruptur membran premature
- Kala II persalinan
- Plasenta tertahan
- Breast feeding

IV. Klasifikasi
Masa nifas dibagi dalam 3 periode yaitu :
a. Puerperium dini adalah kondisi kepulihan dimana seorang ibu sudah
diperbolehkan berdiri dan berjalan
b. Puerperium Intermedial adalah kondisi kepulihan organ genital secara
menyeluruh dengan lama 6-8 minggu
c. Remote Puerperium waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila saat hamil atau waktu persalinan mengalami
komplikasi. Waktu yang diperlukan untuk sehat sempurna bisa
berminggu-minggu, bulanan ataupun tahunan.

V. Komplikasi
a. Pembengkakan payudara
b. Mastitis (peradangan pada payudara)
c. Endometritis (peradangan pada endometrium)
d. Post partum blues
127

e. Infeksi puerperalis ditandai dengan pembengkakan, rasa nyeri, kemerahan
pada jaringan terinfeksi atau pengeluran cairan berbau dari jalan lahir
selam persalinan atau sesudah persalinan.

VI. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Medis
a. Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan)
b. 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring
kanan kiri
c. Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang
benar dan perawatan payudara, perubahan-perubahan yang terjadi pada
masa nifas, pemberian informasi tentang senam nifas.
d. Hari ke- 2 : mulai latihan duduk
e. Hari ke- 3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan.
1) Mobilisasi
Ambulasi dini sangat penting dalam mencegah trombosis vena. Setelah
persalinan yang normal, jika gerakannya tidak terhalang oleh pemasangan
infus atau kateterdan tanda-tanda vitalnya juga memuaskan, biasanya ibu
diperbolehkan untuk mandi dan pergike Wcdengan dibantu satu atau dua
jam setelah melahirkan secara normal. Pasien sectio caesarian biasanya
mulai ambulasi 24-36 jam sesudah melahirkan (Ferer, 1999).
2) Nutrisi
Ibu yang baru melahirkan memerlukan diet dengan gizi yang baik dan
lengkap untuk membantu tubuhnya pulih kembali setelah memenuhi
kebutuhan pada kehamilan dan persalinan. Diet yang baik juga
mempertahankan tubuh terhadap infeksi, mencegah konstipasi dan
memulai proses pemberian ASI eksklusif. Diet untuk ibu dalam masa nifas
harus banyak mengandung protein, zat besi serta kalsium, vitamin, serat
dan harus mencakup 3000ml cairan yang 1000 ml diantaranya susu.
Asupan kaloriper hari harus diingatkan sampai 2700 kalori (Ferer, 1999).
3) Perawatan kandung Kemih
128

Diuresis yang nyata akan terjadi pada satu atau dua hari pertama setelah
melahirkan, dan kadang-kadang ibu mengalami kesulitan untuk
mengosongkan kandung kemihnya karena rasa sakit, memar atau
gangguan pada tonus otot. Ia dapat diibantu untuk duduk diatas kursi
berlubang tempat buang air kecil jika masih belum diperbolehkan berjalan
sendiri dan mengalami kesulitan untuk buang air kecil. Meskipun sedapat
mungkin dihindari, katerisasi lebih baik dilakukan daripada terjadi infeksi
saluran kemih akibat urin yang tertahan (Ferer, 1999).

4) Penatalaksanaan Defekasi
Buang air besar dilakukan 3-4hari pasca persalinan. Bila msih sulit buang
air besardan terjadi obstipasi apalagi berak keras diberikan laktasi peroral
atau perektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.
5) Perawatan Payudara
Perawatan payudara telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu
lemas. Tidak keras dan ekring sebagai persiapan untuk menyusui bayi.

VII. Pengkajian
Pengkajian Data Dasar Klien
- Identitas klien
Meliputi nama, usia, status perkawinan, pekerjaan, agama, pendidikan,
suku, sumber biaya, tanggal masuk rumah sakit dan jam, tanggal
pengkajian, alamat rumah.
- Identitas suami
nama suami, usia, pekerjaan, agama, pendidikan, suku.
Riwayat keperawatan
- Riwayat kesehatan
Keluhan utama (pqrst)
- Riwayat kehamilan
Masalah-masalah pada saat hamil
- Riwayat melahirkan
129

Tanggal melahirkan, lamanya persalinan, posisi fetus, tipe melahirkan,
analgetik, masalah selama melahirkan jahitan pada perineum dan
perdarahan.
- Data bayi
Jenis kelamin bayi, bb, tb, kesulitan dalam melahirkan, apgar score, untuk
menyusui atau pemberian susu formula dan kelainan kongenital yang
tampak pada saat dilakukan pengkajian.

- Pengkajian masa nifas
Keadaan umum, tingkat aktivitas seteah melahirkan:
a. Gambaran lochea
b. Keadaan perineum
c. Abdomen
d. Payudara
e. Episiotomi
f. Kebersihan menyusui

- Pemeriksaan fisik
a. Rambut :Kekuatan rambut, kebersihan rambut
b. Muka :Kaji adanya edema, cloasma gravidarum(normalnya mulai
memudar)
c. Mata :Kaji warna konjungtiva normalnya merah muda. Pucat
menandakan anemia dan bila konjungitva kering menandakan
dehidrasi.
d. Payudara :Kebersihan, ukuran, bentuk, konsistensi, warna payudara
dan kaji putting, kebersihan putting, adanya asi
e. Uterus :Kontraksi uterus, tinggi fundus uterus, diastasi rectus
abdominis
f. Lochea :Karakter, jumlah warna, bekuan darah yang keluar serta
baunya.
g. Sistem perkemihan
130

Kaji kandung kemih dengan palpasi dan perkusi untuk menentukan
adanya distensi pada kandung kemih yang dilakukan ada abdomen
bagianbawah
h. Perineum
Kaji adanya tanda-tanda reeda (redness atau kemerahan, echymosis
atau perdarahan dibawah kulit, edeme atau pembengkakan, discharge
atau perubahan lochea, approximation atau pertautan jaringan)
i. Eksremitas bawah
Kaji adanya oedeme, varises pada tungkai kaki, ada atau tidaknya
tromboflebitis karena penurunan aktivitas dan refleks patela.
j. Tanda-tanda vital: TD, RR, N, Suhu
k. Pemeriksaan penunjang
- jumlah darah lengkap (hb, ht): mengkaji perubhan dari kadar pra
operasi dan mengevaluasi efek dari kehilangan darah pada
pembedahan.
- Urinalis: kultur urine, darah, vaginal, lochea, pemeriksaan tambahan
didasarkan ada kebuthan individual.


VIII. Diagnosa Keperawatan
No.
Diagnosa
Keperawatan Tujuan Intervensi
Rasional
1. Nyeri b.d. Agen
injuri fisik (trauma
jalan lahir,
episiotomi)
Tujuan : Setelah
diberikan asuhan
keperawatan diharapkan
nyeri ibu berkurang
Kriteria hasil : skala
nyeri 0-1, ibu
mengatakan nyerinya
berkurang sampai hilang,
tidak merasa nyeri saat
mobilisasi , tanda vital
dalam batas normal . S =
37 C . N = 80 x/menit ,
TD = 120/80 mmHG , R
= 18 20 x / meni
- Kaji ulang skala
nyeri

- Anjurkan ibu agar
menggunakan
teknik relaksasi
dan distraksi rasa
nyeri
- Motivasi : untuk
mobilisasi sesuai
indikasi



- mengidentifikasi
kebutuhan dan
intervensi yang
tepat
- untuk
mengalihkan
perhatian ibu dan
rasa nyeri yang
dirasakan
- memperlancar
pengeluaran
lochea,
mempercepat
involusi dan
131

- Berikan kompres
hangat
- Kolaborasi
pemberian
analgetik
mengurangi nyeri
secara bertahap.
- meningkatkan
sirkulasi pada
perineum
- melonggarkan
system saraf
perifer sehingga
rasa nyeri
berkurang
2. Menyusui tidak
efektif b.d. Kurang
pengetahuan ibu,
terhentinya proses
menyusui
Tujuan Tujuan : setelah
diberikan asuhan
keperawatan diharapkan
ibu dapat mencapai
kepuasan menyusui
Kriteria hasil : ibu
mengungkapkan proses
situasi menyusui, bayi
mendapat ASI yang
cukup.

- Kaji ulang tingkat
pengetahuan dan
pengalaman ibu
tentang menyusui
sebelumnya.

- Demonstransikan
dan tinjau ulang
teknik menyusui

- Anjurkan ibu
mengeringkan
puting setelah
menyusui
- membantu dalam
mengidentifikasi
kebutuhan saat
ini agar
memberikan
intervensi yang
tepat.
- posisi yang tepat
biasanya
mencegah
luka/pecah
putting yang
dapat merusak
dan
mengganggu.
- agar kelembapan
pada payudara
tetap dalam batas
normal.
3. Risiko infeksi b.d.
Faktor risiko:
Episiotomi, laserasi
jalan lahir, bantuan
pertolongan
persalinan.
Tujuan :
setelah diberikan askep
diharapkan infeksi pada
ibu tidak terjadi
Kriteria hasil Kriteria Hasil : dapat
mendemonstrasikan
teknik untuk
menurunkan resiko
infeksi, tidak
terdapat tanda-tanda
infeksi.
- Kaji lochea
(warna, bau,
jumlah) kontraksi
uterus dan kondisi
jahitan episiotomi.
- Sarankan pada ibu
agar mengganti
pembalut tiap 4
jam.


- untuk dapat
mendeteksi tanda
infeksi lebih dini
dan
mengintervensi
dengan tepat.
- pembalut yang
lembab dan
banyak darah
merupakan
media yang
132


- Pantau tanda-
tanda vital.

- Lakukan rendam
bokong.


- Sarankan ibu
membersihkan
perineal dari
depan ke belakang
menjadi tempat
berkembangbiak
nya kuman.
- peningkatan suhu
> 38C
menandakan
infeksi.
- untuk
memperlancar
sirkulasi ke
perinium dan
mengurangi
udema
- membantu
mencegah
kontaminasi
rektal melalui
vaginal.
4. Gangguan
pemenuhan ADL
berhubungan dengan
kelemahan fisik
Tujuan :
Kebutuhan ADL-nya
dapat terpenuhi dengan
kriteria :
Kriteria hasil Kriteria Hasil: Klien
dapat memenuhi
kebutuhan sehari-hari
tanpa bantuan orang lain,
keadaan umum baik,
kekuatan otot baik

- Kaji kemampuan
klien dalam
memenuhi
kebutuhan sehari-
hari.
- Bantu klien dalam
pemenuhan
kebutuhan sehari-
hari.

- Anjurkan keluarga
untuk kooperatif
dalam perawatan
- mengetahui
kemampuan
klien dan dapat
memenuhi
kebutuhannya
- bantu dan latihan
yang teratur
membiasakan
klien melakukan
aktivitas sehari-
hari.
- keluarga dapat
membantu dan
bekerja sama
memenuhi
kebutuhan klien
dan
mempercepat
proses
penyembuhan.
5. Gangguan eliminasi
BAB : Konstipasi
Tujuan :
Gangguan eliminasi
- Kaji bising usus,
diastasis recti.
- mengevaluasi
fungsi usus.
133

berhubungan dengan
penurunan peristaltik,
nyeri episiotomi,
penurunan aktivitas.
teratasi.
Kritenia hasil : Klien
secara verbal
mengatakan mampu
BAB normal tanpa
keluhan sesuai pola.





- Kaji adanya
Hemoroid.

- Anjurkan diet
makanan tinggi
serat, peningkatan
cairan.


- Anjurkan
peningkatan
aktivitas dan
ambulasi sesuai
toleransi.
- Kolaborasi
pemberian
laksantif,
supositona atau
enema.
Diastasis recti
berat
menurunkan
tonus otot
abdomen yang
diperlukan untuk
mengejan selama
pengosongan.
- hemoroid akan
menyebabkan
gangguan
eliminasi.
- makanan tinggi
serta dan
peningkatan
cairan
merangsang
eliminasi.
- membantu
peningkatan
peristaltik
gastrointestinal.

- meningkatkan
untuk kembali ke
kebiasaan
defekasi normal
dan mencegah
mengejan atau
stress perianal
selama
pengosongan
6. Kurang pengetahuan:
Perawatan post
partum b.d.
Kurangnya informasi
tentang penanganan
postpartum.
Tujuan : setelah
diberikan askep
diharapkan pengetahuan
ibu tentang perawatan
dini dan bayi bertambah
Kriteria hasil Kriteria Hasil :
mengungkapkan
kebutuhan ibu pada masa
post partum dan dapat
- Berikan informasi
tentang perawatan
dini (perawatan
perineal)
perubahan
fisiologi, lochea,
perubahan peran,
istirahat, KB.

- membantu
mencegah
infeksi,
mempercepat
penyembuhan
dan berperan
pada adaptasi
yang positif dari
perubahan fisik
134

melakukan aktivitas yang
perlu dilakukan dan
alasannya seperti
perawatan bayi,
menyusui, perawatan
perinium.

- Berikan informasi
tentang perawatan
bayi (perawatan
tali pusat, ari,
memandikan dan
imunisasi).

- Sarankan agar
mendemonstrasika
n apa yang sudah
dipelajari.
dan emosional.
- menambah
pengetahuan ibu
tentang
perawatan bayi
sehingga bayi
tumbuh dengan
baik.
- memperjelas
pemahaman ibu
tentang apa yang
sudah dipelajari.

IV. PARTOGRAF
Definisi
Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala suatu
persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik. Partograf adalah
alat untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan
dalam menentukan keputusan dalam penatalaksanaan (Saifudin, A. 2002).
Partograf adalah alat bantu yang di gunakan selama fase aktif persalinan
(Depkes RI, 2004).
Tujuan
1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai
pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan
demikian juga dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus
lama.
3. Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi,
grafik kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang
diberikan, pemeriksaan laboratorium, membuat keputusan klinik, dan
135

asuhan atau tindakan yang diberikan dimana semua itu dicatatkan secara
rinci pada status atau rekam medic ibu bersalin dan bayi baru lahir.
Partograf dapat digunakan untuk:
1. Semua ibu dalam semua aktif kala satu persalinan dan merupakan elemen
penting dari asuhan persalinan. Partograf harus digunakan untuk semua
persalinan, baik normal maupun patologis. Partograf sangat membantu
penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi dan membuat
keputusan klinik, baik persalinan dengan penyulit maupun yang tidak
disertai dengan penyulit.
2. Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas,
klinik bidan swasta, rumah sakit dll).
3. Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan
persalian kepada ibu dan proses kelahiran bayinya (Specialis Obstetri,
Bidan, Perawat, Dokter Umum)
Hal-hal yang ditulis dalam partograf
1. lnformasi Tentang Ibu
Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti pada saat memulai
asuhan persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai: jam atau pukul
pada partograf) dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten.
Catat waktu pecahnya selaput ketuban.
2. Kondisi Janin
Bagan atas grafik pada partograf adalah untuk pencatatan denyut jantung
janin (DJJ), air ketuban dan penyusupan (kepala janin)
3. Denyut jantung janin
Nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering
jika ada tandatanda gawat janin). Setiap kotak di bagian atas partograf
menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di sebelah kolom paling kiri
menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada garis yang
sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan yang
satu dengan titik lainnya dengan garis tegas dan bersambung. Kisaran
136

normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal pada angka 180
dan 100. Sebaiknya, penolong harus waspada bila DJJ mengarah hingga
dibawah 120 atau diatas 160. untuk tindakan-tindakan segera yang harus
dilakukan jika DJJ melampaui kisaran normal ini. Catat tindakan-tindakan
yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu dari kedua sisi
partograf.
4. Warna dan adanya air ketuban
Nilai air kondisi ketuban setiap kali melakukan periksa dalam dan nilai
warna air ketuban jika selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam
kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ. Gunakan lambang-lambang berikut
ini:
U : selaput ketuban masih utuh (belum pecah)
J : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jemih
M : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium
D : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
K :selaput ketuban sudah pecah tapi air ketuban tidak mengalir lagi
("kering")
Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat
janin. Jika terdapat mekonium, pantau DJJ dengan seksama untuk
mengenali tanda-tanda gawat janin selama proses persalinan. Jika ada
tanda-tanda gawat janin (denyut jantung janin < 100 atau > 180 kali per
menit) maka ibu harus segera dirujuk Tetapi jika terdapat mekonium
kental, segera rujuk ibu ke tempat yang memiliki kemampuan
penatalaksanaan gawat daruratan obstetri dan bayi baru lahir
5. Penyusupan (Molase) Tulang Kepala Janin
Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi
dapat menyesuaikan diri terhadap bagian keras (tulang) panggul ibu.
Semakin besar detajat penyusupan atau tumpang-tindih antar tulang kepala
137

semakin menunjukkan risiko disproporsi kepala-panggul (CPD). Ketidak-
mampuan untuk berakomodasi atau disproporsi ditunjukkan melalui
derajat penyusupan atau tumpang-tindih (molase) yang berat sehingga
tulang kepala yang saling menyusup, sulit untuk dipisahkan. Apabila ada
dugaan disproprosi kepala-panggul maka penting untuk tetap memantau
kondisi janin serta kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertolongan
awal yang sesuai dan rujuk ibu dengan dugaan proporsi kepala-panggul
(CPD) ke fasilitas kesehatan rujukan. Setiap kali melakukan periksa
dalam, nilai penyusupan antar tulang (molase) kepala janin.
Catat temuan yang ada di kotak yang sesuai di bawah lajur air ketuban.
Gunakan lambanglambang ini:
0: tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat
dipalpasi
1 ; tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
2: tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapi masih dapat
dipisahkan
3: tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih dan tidak dapat
dipisahkan
Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan
persalinan. Angka 0-10 yang tertera di kolom paling kiri adalah besamya dilatasi
serviks. Nilai setiap angka sesuai dengan besamya dilatasi serviks dalam satuan
centimeter dan menempati lajur dan kotak tersendiri.
Perubahan nilai atau perpindahan lajur satu ke lajur yang lain menunjukkan
penambahan dilatasi serviks sebesar 1 cm. Pada lajur dan kotak yang mencatat
penurunan bagian terbawah janin tercantum arigka 1-5 yang sesuai dengan
metode perlimaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya (Menentukan
Penurunan Janin). Setiap kotak segi empat atau kubus menunjukkan waktu 30
menit untuk pencatatat waktu pemeriksaan, denyut jantung janin, kontraksi uterus
dan frekuensi nadi ibu.
138

Pembukaan serviks
Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan
Fisik dalam bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih
sering dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase
aktif persalinan, catat pada partograf setiap temuan dari setiap
pemeriksaan. Tanda 'X' harus dicantumkan di garis waktu yang sesuai
dengan lajur besamya pembukaan serviks.
Perhatikan:
- Pilih angka pada tepi kiri luar kolom pembukaan serviks yang sesuai
dengan besamya pembukaan serviks pada fase aktif persalinan yang
diperoleh dari hasil periksa dalam.
- Untuk pemeriksaan pertama pada fase aktif persalinan, temuan
(pembukaan serviks) dari hasil periksa dalam harus dicantumkan pada
garis waspada. Pilih angka yang sesuai dengan bukaan serviks (hasil
periksa dalam) dan cantumkan tanda 'X' pada ordinat atau titik silang
garis dilatasi serviks dan garis waspada. Hubungkan tanda 'X' dari
setiap pemeriksaan dengan garis utuh (tidak terputus)
Penurunan bagian terbawah janin
Setap kali melakukan periksa dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering (jika
ditemukan tandatanda penyulit). Cantumkan hasil pemeriksaan penurunan
kepala (perlimaan) yang menunjukkan seberapa jauh bagian terbawah
janin telah memasuki rongga panggul. Pada persalinan normal, kemajuan
pembukaan serviks selalu diikuti dengan turunnya bagian terbawah janin.
Tapi ada kalanya, penurunan bagian terbawah janin baru terjadi setelah
pembukaan serviks mencapai 7 cm. Tulisan "Turunnya kepala" dan garis
tidak terputus dari 0-5, tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan
serviks. Berikan tanda '0' yang ditulis pada garis waktu yang sesuai.
Sebagai cantah, jika hasil pemeriksaan palpasi kepaia di atas simfisi pubis
adalah 4/5 maka tuliskan tanda "0" di garis angka 4. Hubungkan tanda '0'
dari setiap pemeriksaan dengan garis tidak terputus
Garis waspada dan garis bertindak
139

Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada
titik dimana pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan
adalah 1 cm per jam. Pencatatan selama fase aktif persalinan harus dimulai
di garis waspada. Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan
garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam), maka harus
dipertimbangkan adanya penyulit (misalnya : fase aktif yang memanjang,
serviks kaku, atau inersia uteri hipotonik, dll).
Pertimbangkan perlunya melakukan intervensi bermanfaat yang
diperlukan, rnisalnya : persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan
(rumah sakit atau puskesmas) yang memiliki kemampuan untuk
menatalaksana penyulit atau gawat darurat obstetri. Garis bertindak tertera
sejajar dan di sebelah kanan (berjarak 4 jam) garis waspada. Jika
pembukaan serviks telah melampaui dan berada di sebelah kanan garis
bertindak maka hal ini menunjukkan perlu diakukan tindakan untuk
menyelesaikan persalinan. Sebaiknya, ibu harus sudah berada di tempat
rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.
Jam dan waktu
Waktu Mulainya Fase Aktif Persalinan
Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera
kotak-kotak yang diberi angka 1-12. Setiap kotak menyatakan satu jam
sejak dimulainya fase aktif persalinan.
Waktu Aktual Saat Pemeriksaan atau Penilaian
Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak
untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak
menyatakan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu tiga
puluh menit yang berhubungan dengan lajur untuk pencatatan pembukaan
serviks, DJJ di bagian atas dan lajur kontraksi dan nadi ibu di bagian
bawah. Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, cantumkan pembukaan
serviks di garis waspada. Kemudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini
di kotak waktu yang sesuai. Sebagai contoh, jika hasil periksa dalam
140

menunjukkan pembukaan serviks adalah 6 cm pada pukul 15.00,
cantumkan tanda 'X' di garis waspada yang sesuai dengan lajur angka 6
yang tertera di sisi luar kolom paling kiri dan catat waktu aktual di kotak
pada lajur waktu di bawah lajur pembukaan (kotak ke tiga dari kiri).
Kontraksi uterus
Di bawah lajur waktu partograf, terdapat lima kotak dengan tulisan "kontraksi per
10 menit" di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu
kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan
lamanya kontraksi dalam satuan detik. Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi
dalam waktu 10 menit dengan cara mengisi kotak kontraksi yang tersedia dan
disesuaikan dengan angka yang mencerrninkan temuan dari hasil pemeriksaan
kontraksi . Sebagai contoh jika ibu mengalami 3 kontraksi dalam waktu satu kali
10 menit, maka lakukan pengisian pada 3 kotak kontraksi
Obat-Obatan Dan Cairan Yang Diberikan
Dibawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat
oksitosin, obat-obat lainnya dan cairan IV.
Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30
menit jumlah unit oksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan
dalam satuan tetesan per menit.
Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam
kotak yang sesuai dengan kolom waktunya.
Kondisi Ibu
Bagian terbawah lajur dan kolom pada halaman depan partograf, terdapat kotak
atau ruang untuk mencatat kondisi kesehatan dan kenyamanan ibu selama
persalinan.
Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh
141

Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan
tekanan darah ibu.
Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan (lebih
sering jikandiduga adanya penyulit). Beri tanda titik (.) pada kolom waktu
yang sesuai.
Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan
(lebih sering jika diduga adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf
pada kolom waktu yang sesuai.
Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering jika teIjadi peningkatan
mendadak atau diduga adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur
tubuh pada kotak yang sesuai.
Volume urin, protein dan aseton
Ukur dan catat jumlahjproduksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap
kali ibu berkernih). Jika memungkinkan, setiap kali ibu berkernih, lakukan
pemeriksaan aseton dan protein dalam urin.
Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya
Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom
partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga
tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan
Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinis mencakup:
Jumlah cairan per oral yang diberikan
Keluhan sakit kepala atau penglihatan (pandangan) kabur
Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter umum)
Persiapan sebelum melakukan rujukan
Contoh kasus :Ibu Aisyah berumur 27 tahun, G1P0A0 datang ke Bidan Desa
diantar oleh suaminya untuk memeriksakan kehamilannya kepada Bidan Desa di
142

RW 15 Cileunyi pada tanggal 23 April 2014 pukul 16.00. Ibu sudah merasakan
mulas sejak pukul 08.00. Bidan Desa melakukan anamnesa dan pemeriksaan
secara menyeluruh dengan hasil :
A. Kehamilan cukup bulan, presentasi terendah kepala dengan penurunan 4/5,
kontraksi uterus tiga kali dalam 10 menit setiap kontraksi berlangsung selama
18 detik, DJJ 124x/menit.
B. Pembukaan serviks 3cm, tidak ada penyusupan dan selaput ketuban utuh.
C. TD : 120/80 mmHg, N : 90, S: 37,5 C
D. Hasil pemeriksaan urine tidak menunjukkan adanya proteinuri

1. Berdasarkan data pukul 16.00 Bidan Desa membuat diagnosis primigravida,
hamil cukup bulan, inpartu dalam fase laten, bayi hidup dengan djj normal,
pembukaan 3 cm, 3 kontraksi dalam 10 menit selama 20 detik. Bidan Desa
menganjurkan klien untuk berjalan dan minum yang cukup.
2. Bidan Desa menuliskan tanggal, waktu dan semua temuan saat pemeriksaan
dalam catatan observasi. Bidan Desa melanjutkan pemantauan keadaan janin
yang meliputi DJJ, nadi dan kontraksinya.
3. Pemeriksaan kedua dilakukan pukul 20.00. ibu melaporkan kontraksi lebih
kuat dan lebih mulas. Bidan Desa melakukan pemeriksaan dalam yang kedua
dan hasilnya pembukaan 5cm, 4 kontraksi dalam 10 menit selama 20-40
detik, DJJ 134x/menit, penurunan 3/5, tidak ada penyusupan kepala janin dan
selaput ketuban masih dalam keadaan utuh. TD: 120/70 mmHg, N :
88x/menit, S: 37 C dan berkemih sekitar 100 ml sebelum pemeriksaan. Ibu
sudah masuk ke fase aktif
Bidan Desa melanjutkan pe mantauan setiap 30 menit dengan hasil:
Pukul 20.30 DJJ 144/menit kontraksi 4 kali dalam 10 menit selama 30 detik
nadi 80/menit
Pukul 21.00 DJJ 144/menit kontraksi 4 kali dalam 10 menit selama 45 detik
nadi 88/menit
Pukul 21.30 DJJ 140/menit kontraksi 4 kali dalam 10 menit selama 45 detik
nadi 90/menit
143

Pukul 22.00 DJJ 134/menit kontraksi 4 kali dalam 10 menit selama 45 detik
nadi 97/menit temperatur 36,8 C dan urin 150 cc
Pukul 22.30 DJJ 128/menit kontraksi 4 kali dalam 10 menit selama 45 detik
nadi 88/menit
Pukul 23.00 DJJ 128/menit kontraksi 5 kali dalam 10 menit selama 45 detik
nadi 88/menit
Pukul 23.30 DJJ 128/menit kontraksi 5 kali dalam 10 menit selama 45 detik
nadi 90/menit urine 80 cc
Pada pukul 24.00 bidan desa melakukan pemeriksaan dalam hasilnya DJJ
130/menit, 5 kontraksi dalam 10 menit selama lebih dari 45 detik. Penurunan
kepala 1/5, pembukaan 10, tidak ada penyusupan kepala janin, selaput ketuban
telah pecah 15 menit sebelum pemeriksaan, cairan ketuban jernih, TD 120/70
mmHg, S 37 C, nadi 80/menit.
Pukul 24.30 lahir seorang bayi perempuan dengan BB 3000 gram dan panjang 48
cm, menangis spontan. Dilakukan penatalaksanaan aktif kala III dan plasenta lahir
setelah 5 meni. Tidak dilakukan episiotomi dan tidak terjadi laserasi perkiraan
kehilangan darah sekitar 150 ml.
Selama 15 menit pertama kala IV dan 15 menit berikutnya pada jam
pertama setelah plasenta lahir catatan bidan desa menunjukkan proses
normal
24.50 : TD 120/70 nadi 80 suhu 37,2 C TFU 3 jari dibawah pusat,
kontraksi baik, kandung kemih kosong, perdarahan normal
01.05 : TD 120/70 nadi 76 TFU 3 jari dibawah pusat, kontraksi baik,
kandung kemih kosong, perdarahan normal
01.20 : TD 110/70 nadi 76 TFU 3 jari dibawah pusat, kontraksi baik,
kandung kemih kosong, perdarahan normal
01.35 : TD 110/70 nadi 76 TFU 3 jari dibawah pusat, kontraksi baik,
kandung kemih kosong, perdarahan normal
Temuan 1 jam kedua
144

02.05 : TD 110/70 nadi 80 suhu 37 C TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi
baik, ibu berkemih sebanyak 250cc, perdarahan sedikit
02.35 : TD 110/70 nadi 80 TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi baik,
kandung kemih kosong, perdarahan sedikit


145

V. KONSEP KELUARGA BERENCANA (KB)
A. Pengertian
Keluarga Berencana menurut UU No. 10 Tahun 1992 adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan
usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan
keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera
(Arum & Sujiyatni. 2009 ).
Program Keluarga Berencana, adalah suatu program yang dimaksudkan
untuk membantu para pasangan dan perorangan dalam mencapai tujuan
reproduksi mereka; mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan
mengurangi insidens kehamilan beresiko tinggi, kesakitan dan kematian;
membuat pelayanan yang bermutu, terjangkau, diterima dan mudah diperoleh
bagi semua orang yang membutuhkan; meningkatkan mutu nasehat,
komunikasi, informasi, edukasi, konseling dan pelayanann; meningkatkan
partisipasi dan tanggung jawab pria dalam praktek KB, dan meningkatkan
pemberian ASI untuk menjarangkan kehamilan (BKKBN. 2008).

B. Tujuan Program KB
Secara umum tujuan lima tahun ke depan yang ingin dicapai adalah
membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh bagi pelaksana
program KB Nasional yang kuat di masa mendatang, sehingga visi untuk
mewujudkan keluarga berkualitas 2010 dapat tercapai (Arum & Sujiyatni.
2009, hal. 28).
Sedangkan tujuan program KB secara filosofis menurut Handayani (2010),
adalah:
a. Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga
kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan
pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia.
b. Terciptanya penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia yang
bermutu dan
meningkatkan kesejahteraan keluarga.

146

C. Sasaran Program KB
Sasaran program KB dibagi 2 yaitu sasaran langsung dan sasaran
tidaklangsung, tergantung dari tujuan yang ingin dicapai.
Sasaran langsungnya adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang
bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan
kontrasepsi secara berkelanjutan. Sedangkan sasaran tidak langsungnya
adalah pelaksana dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat
kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam
rangka mencapai keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera (Handayani,
2010).

1. KONTRASEPSI

A. Pengertian
Kontrasepsi adalah penggunaan alat-alat atau cara sebagai upaya untuk
mencegah terjadinya kehamilan (BKKBN, 2008).
B. Tujuan Pemakaian Kontrasepsi
Tujuan pemakaian kontrasepsi adalah:
a. Menunda kehamilan
Kelompok kontrasepsi yang rasional adalah kontrasepsi sementara
jangka pendek yaitu kondom, pil, suntik.
b. Mengatur jarak kehamilan
Jenis kelompoknya adalah kelompok sementara jangka panjang yaitu :
suntik, implant,spiral.
c. Mengakhiri kesuburan
Jenis kontrasepsinya adalah kontrasepsi mantap yaitu tubektomi
(wanita) dan vasektomi (pria).
C. Syarat Metode Kontrasepsi
Secara umum persyaratan metode kontrasepsi ideal adalah:
a. Aman, artinya tidak akan menimbulkan komplikasi berat bila digunakan.
b. Berdaya guna dalam arti bila digunakan sesuai aturan akan dapat
mencegah terjadinya kehamilan.
147

c. Dapat diterima, bukan hanya oleh klien melainkan juga oleh lingkungan
budaya di masyarakat.
d. Terjangkau harganya oleh masyarakat.
e. Bila metode tersebut dihentikan penggunaannya, klien akan segera
kembali kesuburannya kecuali kontrasepsi mantap.
Di Indonesia alat kontrasepsi yang digunakan adalah spiral, implant, suntik, pil,
tubektomi, sedangkan yang biasa digunakan oleh para pria adalah kondom dan
vasektomi.
D. Faktor Faktor Dalam Memilih Metode Kontrasepsi
a. Faktor Pasangan Motivasi
Umur
Wanita umur subur yang dapat menggunakan kontrasepsi progestin,
sedangkan wanita yang sudah menopause tidak dianjurkan
menggunakan kontrasepsi progestin.
Gaya hidup
Wanita yang gaya hidupnya suka merokok (perokok) menderita anemia
boleh menggunakan kontrasepsi progestin karena tidak ada efek
samping bagi wanita perokok dan penderita anemia.
Frekuensi Sanggama
Kontrasepsi progestron dapat digunakan pada wanita yang sering
ataupun yang jarang melakukan hubungan seksual dengan
pasangannya, karena tidak mengganggu hubungan seksual.
Jumlah Keluarga Yang Diinginkan
Salah satu tujuan dari kontrasepsi ini adalah menjarangkan kehamilan,
jadi wanita yang ingin mengatur jumlah anak ataupun yang ingin
menjarangkan kehamilan sehingga jumlah anak dalam keluarga sesuai
keinginan dapat menggunakan kontrasepsi.
Pengalaman Dengan Kontrasepsi Yang Lalu
Wanita yang dahulunya pernah menggunakan salah satu jenis
kontrasepsi, dia merasa nyaman dan merasa mendapatkan keuntungan
dari kontrasepsi itu. Maka dia pasti akan menggunakan kontrasepsi itu
lagi.
148


b. Faktor Kesehatan Kontra Indikasi Absolut dan Relatif
Status Kesehatan
Wanita yang mempunyai penyakit jantung dapat menggunakan
kontrasepsi progesteron, karena mengandung esterogen sehingga tidak
berdampak serius terhadap penyakit jantung.
Riwayat Haid
Semua wanita yang siklus haidnya panjang atau pendek dapat
menggunakan kontrasepsi progesterone, sedangkan wanita yang pernah
mengalami perdarahan pervagina yang belum jelas penyebabnya tidak
boleh menggunakan kontrasepsi progesteron.
Riwayat Keluarga
Wanita yang dalam keluarganya mempunyai riwayat kanker payudara
dan diabetes mellitus disertai komplikasi tidak dapat menggunakan
kontrasepsi progestin.
Pemeriksaan Fisik
Wanita yang pada pemeriksaan fisik terdapat varises tidak dapat
menggunakan kontrasepsi progestin.

c. Faktor Metode Kontrasepsi Penerimaan dan pemakaian
Berkesinambungan
Efektifitas
Efektifitas kontrasepsi progestin tinggi, dengan 0,3 kehamilam per 100
tahun perempuan tiap tahun. Asal penyuntikannya dilakukan secara
teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Efek Samping Minor
Efek samping kontrasepsi progestin hanya sedikit (gangguan siklus
haid, perubahan berat badan, keterlambatan kembalinya kesuburan dan
osteoporosis pada pemakaian jangka panjang).
Kerugian
149

Kerugian hanya sedikit dan jarang terjadi pada wanita yang
menggunakan kontrasepsi progesterin, berat badan merupakan kerugian
tersering.
Kompliasi Komplikasi Yang Potensial
Wanita yang menggunakan kontrasepsi progesterone tidak ditemukan
adanya komplikasi komplikasi yang potensial.
Biaya
Biaya kontrasepsi progesteron sangat terjangkau, siapa saja bisa
menjangkaunya.

E. Metode Kontrasepsi
1. Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi ini tersedia dalam bentuk oral, suntikan, dan mekanik.
Kontrasepsi oral adalah kombinasi dari hormon estrogen dan progestin atau
hanya progestin-mini pil. Suntikan dan kontrasepsi implant (mekanik)
mengandung progestin saja atau kombinasi progestin dan estrogen.
* Kontrasepsi oral kombinasi (pil)
Mengandung sintetik estrogen dan preparat progestin yang mencegah
kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur
oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal
lendir mukosa servikal (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan
endometrium. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan
ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya
diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat
epilepsy). Selain untuk kontrasepsi, oral kombinasi dapat digunakan untuk
menangani dismenorea (nyeri saat haid), menoragia, dan metroragia. Oral
kombinasi tidak direkomendasikan untuk wanita menyusui, sampai minimal 6
bulan setelah melahirkan. Pil kombinasi yang diminum oleh ibu menyusui
bisa mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein
dalam air susu. Hormon dari pil terdapat dalam air susu sehingga bisa sampai
ke bayi. Karena itu untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang
hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air
150

susu. Wanita yang tidak menyusui harus menunggu setidaknya 3 bulan
setelah melahirkan sebelum memulai oral kombinasi karena peningkatan
risiko terbentuknya bekuan darah di tungkai. Apabila 1 pil lupa diminum, 2
pil harus diminum sesegera mungkin setelah ingat, dan pack tersebut harus
dihabiskan seperti biasa. Bila 2 atau lebih pil lupa diminum, maka pack pil
harus tetap dihabiskan dan metode kontrasepsi lain harus digunakan, seperti
kondom untuk mencegah kehamilan. Jika menstruasi terakhir terjadi dalam
waktu kurang dari 12 minggu setelah persalinan, maka pil KB bisa langsung
digunakan. Jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu 12-28 minggu, maka
harus menunggu 1 minggu sebelum pil KB mulai digunakan, sedangkan jika
menstruasi terakhir terjadi dalam waktu lebih dari 28 minggu, harus
menunggu 2 minggu sebelum pil KB mulai digunakan. Pil KB tidak
berpengaruh terhadap obat lain, tetapi obat lain (terutama obat tidur dan
antibiotik) bisa menyebabkan berkurangnya efektivitas dari pil KB. Obat anti-
kejang (fenitoin dan fenobarbital) bisa menyebabkan meningkatkan
perdarahan abnormal pada wanita pemakai pil KB.
Beberapa kondisi dimana kontrasepsi oral kombinasi tidak boleh digunakan
pada wanita dengan :


diabetes, hipertensi)








151


opati, neuropati, penyakit vaskular,
atau diabetes > 20 tahun



1. Efektivitas : kehamilan terjadi pada 0,1 5 per 100 wanita pada 1
tahun penggunaan pertama
2. Keuntungan : sangat efektif, mencegah kanker indung telur dan
kanker endometrium, menurunkan ketidakteraturan menstruasi dan anemia
yang berkaitan dengan menstruasi, menghaluskan kulit dengan jerawat sedang
3. Kerugian : tidak direkomendasikan untuk menyusui, tidak
melindungi dari Penyakit Menular Seksual (PMS), harus diminum setiap hari,
membutuhkan resep dokter
4. Efek samping lokal : mual, nyeri tekan pada payudara, sakit kepala
Efek samping : perdarahan tidak teratur (umumnya menghilang setelah 3 bulan
pemakaian), meningkatkan tekanan darah (dapat kembali normal bila oral
kombinasi dihentikan), bekuan darah pada vena tungkai (3-4 kali pada pil KB
dosis tinggi), meningkatkan faktor risiko penyakit jantung, risiko stroke (pada
wanita usia > 35 tahun)
5. Pengembalian kesuburan : ketika dihentikan maka kesuburan akan
kembali seperti semula. Kesuburan ini bervariasi, dalam waktu 3-12 bulan
setelah dihentikan maka tidak ada perbedaan kesuburan antara wanita yang
memakai kontrasepsi oral dan yang tidak *



Kontrasepsi oral progestin (pil)
Mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi
(pelepasan sel telur oleh indung telur), mempertebal lendir mukosa leher
rahim, mengganggu pergerakan silia saluran tuba, dan menghalangi
pertumbuhan lapisan endometrium.
152

Keefektifan berkurang bila pil tidak diminum di waktu yang sama
setiap harinya. Kontrasepsi ini diberikan pada wanita yang menginginkan
kontrasepsi oral namun tidak bisa menggunakan oral kombinasi karena
pengaruh estrogen dapat membahayakan, misalnya pada wanita yang sedang
menyusui.
1. Efektivitas : kehamilan terjadi pada 0,5 5 per 100 wanita pada 1 tahun
penggunaan pertama
2. Keuntungan : mula kerja cepat (24 jam setelah pemakaian pil),
menurunkan kejadian menoragia dan anemia. Dapat digunakan pada
wanita menyusui. Mencegah terjadinya kanker endometrium, tidak
memiliki efek samping yang berkaitan dengan estrogen (bekuan darah di
vena tungkai)
3. Kerugian : harus diminum di waktu yang sama setiap hari, kurang efektif
dibandingkan oral kombinasi, membutuhkan resep dokter
4. Efek samping : penambahan berat badan, jerawat, kecemasan, angka
kejadian terjadinya perdarahan tidak teratur tinggi
5. Pengembalian kesuburan cepat ketika pil dihentikan

Kontrasepsi Suntik
A. Pengertian
Kontrasepsi suntik adalah alat kontrasepsu berupa cairan yang berisi
hormon progesteron disuntikkan ke dalam tubuh wanita secara periodik
(BKKBN 1999).

B. Macam Macam KB Suntik
1. Golongan Progestin
Tersedia 2 jenis kontrasepsi yang hanya mengandung progestin, yaitu :
a. Depo Provera (Depo Medroksi Progesteron Asetat)
Mengandung 150 mg Depo Medroksi Progesteron Asetat
b. Depo Noristerat (Depo Noretisteron Enantat)
Mengandung 200 mg Noretindron Enantat
2. Golongan Progestin dengan campuran esterogen propionat
153

Cyclo provera mengandung 50 mg progesteron dan 5 mg esterogen.
C. Cara Kerja KB suntik DMPA
Mekanisme kerja komponen progesteron atau derivate testosteron
adalah :
1. Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi
pelepasan ovum.
2. Mengentalkan lendir serviks, sehingga sulit ditembus spermatozoa.
3. Perubahan peristaltik tuba fallopi, sehingga konsepsi dihambat.
4. Mengubah endometrium, sehingga tidak sempurna untuk
implantasi hasil konsepsi.
D. Waktu Pemberian KB suntik DMPA
1. Pasca Persalinan
a. Dapat diberikan suntikan KB pada hari ke 3-5 post partum atau
sesudah air susu ibu bereproduksi.
b. Sebelum ibu pulang dari rumah sakit.
c. 6-8 minggu pasca persalinan, asal dipastikan bahwa ibu tidak hamil
atau belum melakukan koitus.
2. Pasca Keguguran
a. Dapat diberikan segera setelah selesai kuretase atau sewaktu ibu
hendak pulang dari rumah sakit.
b. 30 hari pasca keguguran, asal ibu belum hamil lagi.
3. Saat menstruasi, pada hari pertama sampai hari ke- 5
E. Jadwal Waktu Suntikan
1. Depo Provera : Interval 12 minggu
2. Norigest : Interval 8 minggu
3. Cyclofem : Interval 12 minggu
F. Keuntungan KB suntik DMPA
1. Sangat Efektif
2. Pencegahan kehamilan jangka panjang
3. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
4. Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius
terhadap penyakit jantung.
154

5. Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
6. Sedikit efek samping
7. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
8. Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
9. Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul
G. Kerugian KB suntik DMPA
1. Perdarahan tidak teratur atau bercak atau amenore
2. Keterlambatan kembali subur sampai 1 tahun
3. Berat badan meningkat
4. Dapat berkaitan dengan osteoporosis pada pemakaian jangka pangjang.
H. Kontraindikasi KB suntik DMPA
1. Kehamilan
2. Perdarahan saluran genital yang tidak terdiagnosis
3. Penyakit arteri berat di masa lalu atau saat ini
4. Efek samping serius yang terjadi pada saat kontrasepsi oral kombinasi
yang bukan disebabkan oleh estrogen
5. Adanya penyakit hati (kanker hati)
6. Penyakit sistemik kronik, misalnya kanker ganas, TBC
7. Kanker bergantung steroid seks, misal kanker payudara
8. Depresi berat
I. Yang Bisa Menggunakan Suntikan KB Depo Provera
1. Usia reproduksi
2. Nulipara dan telah memiliki anak
3. Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki
efektivitas tinggi
4. Wanita menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui
6. Setelah abortus atau keguguran
7. Telah banyak anak tapi belum menghendaki tubektomi
8. Wanita yang tidak dapat menggunakan kontrasepsi estrogen
9. Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
155

10. Wanita yang menggunakan obat untuk epilepsi (fenitoin dan
barbiturat) atau obat tubercolosis (rifampisin)

2. Kontrasepsi Patch
Patch ini didesain untuk melepaskan 20g ethinyl estradiol dan 150 g
norelgestromin. Mencegah kehamilan dengan cara yang sama seperti
kontrasepsi oral (pil). Digunakan selama 3 minggu, dan 1 minggu bebas patch
untuk siklus menstruasi.

3. Kontrasepsi Barrier (penghalang)

Kondom (pria dan wanita)
Metode yang mengumpulkan air mani dan sperma di dalam kantung
kondom dan mencegahnya memasuki saluran reproduksi wanita. Kondom
pria harus dipakai setelah ereksi dan sebelum alat kelamin pria penetrasi ke
dalam vagina yang meliputi separuh bagian penis yang ereksi. Tidak boleh
terlalu ketat (ada tempat kosong di ujung untuk menampung sperma).
Kondom harus dilepas setelah ejakulasi.
Cara pemakaian kondom :

an (jangan
menggunakan gigi atau benda tajam)
pasangan

pelumas tambahan)
kondom (pelumas dengan bahan dasar minyak dapat melemahkan lateks)
156

-hati setelah ejakulasi, dan untuk mencegah
terlepasnya kondom, keluarkan kondom dari vagina dalam keadaan penis
ereksi
a. Efektivitas : kehamilan terjadi pada 3-14 per 100 wanita pada 1 tahun
penggunaan pertama
b. Keuntungan : dapat digunakan selama menyusui, satu-satunya
kontrasepsi yang mencegah PMS, infeksi GO, klamidia c. Kerugian :
kegagalan tinggi bila tidak digunakan dengan benar, alergi lateks pada
orang yang sensitif

4. Diafragma dan cervical cap
Kontrasepsi penghalang yang dimasukkan ke dalam vagina dan
mencegah sperma masuk ke dalam saluran reproduksi. Diafragma terbuat dari
lateks atau karet dengan cincin yang fleksibel. Diafragma diletakkan posterior
dari simfisis pubis sehingga serviks (leher rahim) tertutupi semuanya.
Diafragma harus diletakkan minimal 6 jam setelah senggama. Cervical cap
(penutup serviks) adalah kop bulat yang diletakkan menutupi leher rahim
dengan perlekatan di bagian forniks. Terbuat dari karet dan harus tetap di
tempatnya lebih dari 48 jam.
a.Efektivitas : kehamilan terjadi pada 6-40 per 100 wanita pada 1 tahun
penggunaan pertama b. Keuntungan : dapat digunakan selama menyusui,
tidak ada risiko gangguan kesehatan, melindungi dari PMS
c. Kerugian : angka kegagalan tinggi, peningkatan risiko infeksi,
membutuhkan evaluasi dari tenaga kesehatan, ketidaknyamanan

5. Spermisida
Spermisida Agen yang menghancurkan membran sel sperma dan
menurunkan motilitas (pergerakan sperma). Tipe spermisida mencakup foam
aerosol, krim, vagina suposituria, jeli, sponge (busa) yang dimasukkan sebelum
melakukan hubungan seksual. Terutama mengandung nonoxynol 9.
157

a. Efektivitas : kehamilan terjadi pada 6-26 per 100 wanita pada 1 tahun
penggunaan pertama b. Keuntungan : tidak mengganggu kesehatan, berfungsi
sebagai pelumas, dapat mencegah PMS bakterial
c. Kerugian : angka kegagalan tinggi, dapat meningkatkan transmisi virus HIV,
hanya efektif 1-2 jam

6. IUD (spiral)
Fleksibel, alat yang terbuat dari plastik yang dimasukkan ke dalam
rahim dan mencegah kehamilan dengan cara menganggu lingkungan rahim,
yang menghalangi terjadinya pembuahan maupun implantasi. Spiral jenis
copper T (melepaskan tembaga) mencegah kehamilan dengan cara
menganggu pergerakan sperma untuk mencapai rongga rahim dan dapat
dipakai selama 10 tahun. Progestasert IUD (melepaskan progesteron) hanya
efektif untuk 1 tahun dan dapat digunakan untuk kontrasepsi darurat. IUD
dapat dipasang kapan saja selama periode menstruasi bila wanita tersebut
tidak hamil. Untuk wanita setelah melahirkan, pemasangan IUD segera (10
menit setelah pengeluaran plasenta) dapat mencegah mudah copotnya IUD.
IUD juga dapat dipasang 4 minggu setelah melahirkan tanpa faktor risiko
perforasi (robeknya rahim). Untuk wanita menyusui, IUD dengan progestin
sebaiknya tidak dipakai sampai 6 bulan setelah melahirkan. IUD juga dapat
dipasang segera setelah abortus spontan triwulan pertama, tetapi
direkomendasikan untuk ditunda sampai involusi komplit setelah triwulan
kedua abortus. Setelah IUD dipasang, seorang wanita harus dapat mengecek
benang IUD setiap habis menstruasi.
Kondisi dimana seorang wanita tidak seharusnya menggunakan IUD
adalah :




ng tidak dapat dijelaskan penyebabnya
158





PMS (premenstrual syndrome) 3 bulan terakhir dan imunokompromise
(penurunan kekebalan tubuh) TBC panggul
1. Efektivitas : kehamilan terjadi pada 0,3-0,8 per 100 wanita pada 1 tahun
penggunaan pertama
2. Keuntungan : sangat efektif, bekerja cepat setelah dimasukkan ke dalam rahim.
Bekerja dalam jangka waktu lama
3. Kerugian : risiko infeksi panggul, dismenorea (nyeri saat haid), menoragia pada
bulan-bulan pertama, peningkatan risiko perforasi (robek) rahim, risiko kehamilan
ektopik, IUD dapat lepas dengan sendirinya
4. Efek samping : nyeri, perdarahan, peningkatan jumlah darah menstruasi
5. Pengembalian kesuburan cepat setelah dilepaskan

7. Metode Ritmik
Metode ritmik adalah metode dimana pasangan suami istri menghindari
berhubungan seksual pada siklus subur seorang wanita. Ovulasi (pelepasan
sel telur dari indung telur) terjadi 14 hari sebelum menstruasi. Sel telur yang
telah dilepaskan hanya bertahan hidup selama 24 jam, tetapi sperma bisa
bertahan selama 3-4 hari setelah melakukan hubungan seksual. Karena itu
pembuahan bisa terjadi akibat hubungan seksual yang dilakukan 4 hari
sebelum ovulasi.
1. Metode ritmik kalender merupakan metode dimana pasangan
menghindari berhubungan seksual selama periode subur wanita berdasarkan
panjang siklus menstruasi, kemungkinan waktu ovulasi, jangka waktu sel
telur masih dapat dibuahi, dan kemampuan sperma untuk bertahan di saluran
reproduksi wanita. Periode subur seorang wanita dihitung dari : (siklus
menstruasi terpendek 18) dan (siklus menstruasi terpanjang - 11)
Contoh: bila siklus terpendek seorang wanita adalah 25 hari, dan siklus
terpanjangnya 29 hari, maka periode suburnya adalah (25 18) dan (29 11)
159

yang berarti hubunan seksual tidak boleh dilakukan pada hari ke-7 sampai
hari ke-18 setelah menstruasi.

2. Metode lendir serviks adalah metode mengamati kualitas dan
kuantitas lendir serviks setiap hari. Periode subur ditandai dengan lendir yang
jernih, encer, dan licin. Abstinensia (tidak melakukan hubungan seksual)
diperlukan selama menstruasi, setiap hari selama periode preovulasi
(berdasarkan lendir serviks), dan sampai waktu lendir masa subur muncul
sampai 3 hari setelah lendir masa subur itu berhenti.

3. Metode pengukuran suhu tubuh berdasarkan perubahan temperatur.
Pengukuran dilakukan pada suhu basal (suhu ketika bangun tidur sebelum
beranjak dari tempat tidur. Suhu basal akan menurun sebelum ovulasi dan
agak meningkat (kurang dari 1 Celsius) setelah ovulasi. Hubungan seksual
sebaiknya tidak dilakukan sejak hari pertama menstruasi sampai 3 hari setelah
kenaikan dari temperatur.
1. Efektivitas : kehamilan terjadi pada 9-25 per 100 wanita pada 1 tahun
penggunaan pertama
2. Keuntungan : tidak ada efek samping gangguan kesehatan,ekonomis
3. Kerugian : angka kegagalan tinggi, tidak melindungi dari PMS,
menghambat spontanitas, membutuhkan siklus menstruasi teratur

8. Penarikan penis sebelum terjadinya ejakulasi
Disebut juga coitus interruptus. Pada metode ini, pria
mengeluarkan/menarik penisnya dari vagina sebelum terjadinya ejakulasi
(pelepasan sperma ketika mengalami orgasme). Metode ini kurang dapat
diandalkan karena sperma bisa keluar sebelum orgasme juga memerlukan
pengendalian diri yang tinggi serta penentuan waktu yang tepat.

9. Metode amenorea menyusui
Selama menyusui, penghisapan air susu oleh bayi menyebabkan perubahan
hormonal dimana hipotalamus mengeluarkan GnRH yang menekan pengeluaran
160

hormone LH dan menghambat ovulasi. Ini adalah metode yang efektif bila kriteria
terpenuhi : menyusui setiap 4 jam pada siang hari, dan setiap 6 jam pada malam
hari. Makanan tambahan hanya diberikan 5-10% dari total.
Efektivitas : kehamilan terjadi pada 2 per 100 wanita pada 6 bulan setelah
melahirkan, 6 per 100 wanita setelah 6-12 bulan setelah melahirkan
Keuntungan : pencegahan kehamilan segera setelah melahirkan, tidak
mengganggu kesehatan, ekonomis, merangsang seorang wanita untuk menyusui
Kerugian : tidak sepenuhnya efektif, harus memenuhi criteria, tidak melindungi
dari PMS

10. Kontrasepsi darurat
Kontrasepsi darurat hormonal estrogen dosis tinggi atau progestin
diberikan dalam waktu 72 jam setelah senggama tidak terproteksi, dengan
cara kerja mencegah ovulasi dan menyebabkan perubahan di endometrium. 4
pil kombinasi yang mengandung 30-35g ethinyl estradiol, diulangi 12 jam
kemudian. 2 pil kombinasi mengandung 50g levonorgestrel, diulangi 12 jam
kemudian. Tidak boleh digunakan pada wanita yang alergi kontrasepsi pil
hormonal. Tidak boleh digunakan sebagai kontrasepsi rutin.
1. Efektivitas : kehamilan terjadi pada 2 per 100 wanita pada bila digunakan
dalam waktu 72 jam
2. Keuntungan : sangat efektif untuk situasi darurat
3. Kerugian : mual hebat dan perdarahan
Kontrasepsi darurat IUD dimasukkan 5 hari setelah senggama tidak
terproteksi untuk mengganggu implantasi, kehamilan terjadi kurang dari 1
per 100 wanita bila dimasukkan dalam waktu 5 hari

11. Sterilisasi
Vasektomi
1. Pengertian
Vasektomi adalah cara KB permanen bagi pria yang sudah memutuskan
tidak ingin mempunyai anak lagi (Meilani, et al.2010, hal. 161).
161

Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas
reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga jalur
transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi penyatuan dengan ovum
tidak terjadi (Arum &Sujiyatni. 2009, hal. 170).
Vasektomi adalah pemotongan vas deferens, yang merupakan saluran
yang mengangkut sperma dari epididimis di dalam testis ke vesikula
seminalis. Dengan memotong vas deferens, sperma tidak mampu
diejakulasikan dan pria akan menjadi tidak subur setelah vas deferens bersih
dari sperma (Everett, 2007, hal. 70).
Pada pelaksanaan vasektomi ini saluran sel mani yang berfungsi
menyalurkan sperma (sel mani) keluar, diikat atau di potong sehingga sperma
tidak dikeluarkan dan tidak bisa bertemu dengan sel telur. Dengan demikian
bila suami istri melakukan hubungan seksual tidak akan terjadi kehamilan,
yang disebabkan karena tidak terjadinya pertemuan antara sperma suami dan
sel telur istri (BKKBN, 2008).

2. Efektivitas
Belfield (1997, dalam Everett, 2007, hal. 70) mengatakan bahwa
vasektomi adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif. Angka kegagalan
langsungnya adalah 1 dalam 1000; angka kegagalan lanjutnya adalah antara 1
dalam 3000 .

3. Kelebihan Vasektomi (Meilani, et al.2010):
a. Tidak mengganggu ereksi, potensi seksual, dan produksi hormon.
b. Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi, dapat
digunakan seumur hidup.
c. Tidak mengganggu kehidupan seksual suami istri.
d. Lebih aman (keluhan lebih sedikit).
e. Lebih praktis (hanya memerlukan satu kali tindakan).
f. Lebih efektif (tingkat kegagalannya sangat kecil).
g. Lebih ekonomis (hanya memerlukan biaya untuk satu kali tindakan).

162

4. Keterbatasan Vasektomi (BKKBN, 2008):
a. Harus dengan tindakan pembedahan
b. Walaupun merupakan operasi kecil, masih dimungkinkan terjadi
komplikasi seperti pendarahan dan infeksi.
c. Tidak melindungi klien dari penyakit menular seksual.
d. Masih harus menggunakan kondom selama 20 kali ejakulasi.
e. Jika istri masih menggunakan alat kontrasepsi disarankan tetap
mempertahankan selama 2 bulan sampai 3 bulan sesudah suami
menjalankan vasektomi.
f. Klien perlu istirahat total selama 1 hari dan tidak bekerja keras selama 1
minggu.

5. Persyaratan Klien untuk Vasektomi (BKKBN, 2008):
a. Sudah merasa cukup jumlah anak dan dalam keadaan sehat.
b. Atas kehendak sendiri, mendapat persetujuan dari istri.
c. Dalam kondisi keluarga yang harmonis.
d. Pasutri dalam keadaan sehat
e. Usia istri minimal 25 tahun\

6. Kontra Indikasi Vasektomi (Meilani, et al.2010):
a. Penderita hernia
b. Penderita kencing manis
c. Penderita kelainan pembukuan darah
d. Penderita penyakit kulit atau jamur di daerah kemaluan.
e. Tidak tetap pendiriannya
f. Memiliki peradangan pada buah zakar
g. Infeksi di daerah testis (buah zakar) dan penis
h. Hernia (turun bero)
i. Verikokel ( varises pada pembuluh darah balik buah zakar)
j. Buah zakar membesar karena tumor
k. Hidrokel (penumpukan cairan pada kantong zakar)
l. Buah zakar tidak turun (kriptokismus)
163

m. Penyakit kelainan pembuluh darah

7. Efek Samping Tindakan Vasektomi (Hartanto, 2004)
a. Infeksi
b. Hematoma
c. Granuloma Sperma
d. Rekanalisasi spontan
e. Pendarahan

8. Macam-macam Vasektomi (BKKBN, 2008):
a. Vasektomi dengan pisau operasi
b. Vasektomi Tanpa Pisau (VTP)

9. Hal hal yang dilakukan dalam pelaksanaan vasektomi
a. Fase Persiapan
1) Istirahat yang cukup
2) Mandi yang bersih dan memakai celana dalam yang bersih
3) Makan dahulu sebelun berangkat ke klinik
4) Membawa surat persetujuan dari istri yang telah ditandatangani atau cap
jempol
5) Datang ke tempat pelayanan dengan ditemani oleh orang dewasa, istri
atau keluarga
b. Fase pelayanan
1) Dilakukan konseling akhir oleh petugas
2) Dilakukan tindakan medis vasektomi

C. Fase paskapelayanan
1. Istirahat di tempat pelayanan minimal 15 menit setelah
vasektomi,untuk mendeteksi kemungkinan adanya perdarahan.
2. Istirahat total selama 24 jam
3. Menghindari kerja keras selama 5-7 hari
4. Menjaga luka bekas operasi agar selalu bersih dan kering
164

5. Bila terjadi demam, nyeri, pendarahan, atau pembengkakan segera
menghubungi dokter/klinik.
6. Minum obat sesuai anjuran dokter.
7. Senggama boleh dilakukan setelah 1 minggu. Jika istri tidak
,memakai alat kontrasepsi, maka pada saat senggama diharuskan memakai
kondom selama 20-25 kali hubungan seksual atau 3 bulan.
8. Kegagalan Vasektomi
Walaupun vasektomi dinilai paling efektif untuk mengontrol kesuburan pria
namun masih mungkin dijumpai suatu kegagalan.
Vasektomi dianggap gagal bila (Saifuddin, 2006):
a. Pada analisis sperma setelah 3 bulan paska vasektomi atau setelah
20 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa.
b. Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azoosperma
c. Istri (pasangan) hamil.

Ligasi tuba adalah pemotongan dan pengikatan atau penyumbatan tuba
falopii (saluran telur dari ovarium ke rahim). Pada ligasi tuba dibuat sayatan
pada perut dan dilakukan pembiusan total. Ligasi tuba bisa dilakukan segera
setelah melahirkan atau dijadwalkan di kemudian hari. Sterilisasi pada wanita
seringkali dilakukan melalui laparoskopi. Selain pemotongan dan pengikatan,
bisa juga dilakukan kauterisasi (pemakaian arus listrik) untuk menutup
saluran tuba. Untuk menyumbat tuba bisa digunakan pita plastik dan klip
berpegas. Pada penyumbatan tuba, kesuburan akan lebih mudah kembali
karena lebih sedikit terjadi kerusakan jaringan. Teknik sterilisasi lainnya yang
kadang digunakan pada wanita adalah histerektomi (pengangkatan rahim) dan
ooforektomi (pengangkatan ovarium / indung telur).




165

PENGKAJIAN

STRUKTUR DAN SIFAT KELUARGA
1. Identitas Kepala Keluarga
a. Nama :
b. Jenis Kelamin :
c. Umur :
d. Agama :
e. Suku :
f. Pendidikan :
g. Alamat :
h. Pekerjaan :
i. Jumlah Anggota Keluarga :

2. Daftar Anggota Keluarga
No. Nama Umur Agama L/P
Hub.
Dengan
KK
Pendidikan
Pekerjaa
n






3. Struktur Keluarga
a. Matrikal ( ) c. Nuklear ( )
b. Patrikal ( ) d. Extended ( )

4. Hubungan Antar Anggota Keluarga
Hubungan Suami Istri
( ) Harmonis ( ) Kurang Harmonis
166

Bila kurang harmonis, alasannya
..............................................................................
Hubungan Orang Tua Anak
( ) Harmonis ( ) Kurang Harmonis
Bila kurang harmonis, alasannya
..............................................................................
Hubungan Anak dengan Anak
( ) Harmonis ( ) Kurang Harmonis
Bila kurang harmonis, alasannya
..............................................................................
Hubungan antara anggota baik dengan anggota keluarga dan keluarga lain
( ) Harmonis ( ) Kurang Harmonis
Bila kurang harmonis, alasannya
..............................................................................
Anggota Keluarga yang berpengaruh dalam mengambil keputusan
( ) Ayah ( ) Ibu ( )Anggota Keluarga Lain
....................................


Riwayat Menstruasi
Frekuensi :
Siklus :
Lama Haid Terakhir :

Riwayat Kontrasepsi
Metode yang pernah digunakan dan alasan penghentian :

Metode yang terakhir digunakan dan alasan penghentian :

Riwayat Obstetri
Tipe Kelahiran :
Lama Gestasi :
167

Lama Persalinan :
Gender :
Komplikasi :
Berat Lahir :

Riwayat Kesehatan Sekarang :

Riwayat Kesehatan Dahulu :

Riwayat Kesehatan Keluarga :

Diagnosa Keperawatan
1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kondisi, kebutuhan tindakan
dan pemilihan yang tepat tentang alat kontrasepsi.
2. Ansietas berhubungan dengan kemungkinan terjadinya kegagalan akibat
pemasangan pemakaian alat KB

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1. Kurang
pengetahuan
berhubungan
dengan
kondisi,
kebutuhan
tindakan dan
pemilihan
yang tepat
tentang alat
kontrasepsi.

Pengetahuan
klien tentang alat
kontrasepsi
bertambah
K.H :
1. mampu
memilih alat
kontrasepsi yang
sesuai
2. mampu
menyebutkan
manfaat dari
1. kaji tingkat
pengetahuan
klien dan
pasangan,
kesiapan dan
kemampuan
untuk belajar.
Dengarkan,
bicara dengan
tenang dan
berikan waktu
untuk bertanya
dan meninjau
materi.
1. memberikan
informasi yang perlu
untuk
mengembangkan
rencana keperawatan .





2. memungkinkan
168

penggunaan alat
kontrasepsi

2. diskusikan
dengan klien
dan pasangan
implikasi jangka
pendek dan
jangka panjang
penggunaan alat
kontrasepsi.

3. Kolaborasi
dengan dokter
untuk pemilihan
yang tepat dan
terapi yang
sesuai apabila
ada gangguan
klien dan pasangan
untuk membuat
keputusan
berdasarkan informasi



3. mendukung
keputusan klien /
pasangan dan
membantu
mengurangi resiko
terganggungnya
kesehatan
2. Ansietas
berhubungan
dengan
kemungkinan
terjadinya
kegagalan
akibat
pemasangan
pemakaian
alat KB

Klien
mengungkapkan
kenyamanan dan
tidak terjadi
kecemasan
K.H :
Klien tampak
rileks
P : 60-100
x/menit
N : 20 x/menit
1. Observasi
TTV






2. Tinjau ulang
penyebab,
sumber dan
manisfetasi
kecemasan.


1. Observasi TTV,
mungkin berubah
karena kecemasan.
TTV yang stabil
menunjukkan
penurunan
kecemasan.

2. Mengidentifikasi
perhatian pada
bagian khusus dan
menentukan arah
dan kemungkinan
pilihan / intervensi.

169

3. Jelaskan
Prosedur,
intervensi,
dan tindakan


4. Pertahankan
komunikasi
terbuka,
diskusikan
kemungkina
n efek
samping dan
keuntungan
penggunaan
alat KB

5. Anjurkan
penggunaan
teknik
relaksasi




6. Kolaborasi
dengan
dokter
dalam
pemberian
obat anti
cemas.
3. Pengetahuan
tentanf alasan
aktifitas ini dapat
menurunkan rasa
takut akibat
ketidaktahuan

4. Informasi dan
jawaban atas
pertanyaan dapat
membantu
menurunkan
ansietas dan
meningkatkan
kepercayaan diri
klien dan pasangan



5. Mencegah
kelelahan otot dan
memberikan
kesempatan untuk
partisipasi aktif
dan meningkatkan
rasa kontrol.

6. Memblok sistem
saraf yang
meningkatkan
kecemasan
170

VI. KLIMAKTERIUM

a. DEFINISI
Klimakterium adalah masa peralihan dalam kehidupan normal seorang wanita
sebelum mencapai senium yang mulai dari akhir masa reproduktif dari kehidupan
sampai masa non-reproduktif akibat menurunnya fungsi generatif ataupun
endokrinologik dari ovarium serta terjadi pada usia 40-60 tahun.
b. ETIOLOGI
Penurunan fungsi pada ovarium seperti berkurangnya jumlah folikel dan
menurunnya sintesis steroid seks.
Penurunan sekresi estrogen.
Sosio-budaya menentukan dan memberikan penampilan yang berbeda dari
keluhan klimakterik.
Psikologik yang mendasari kepribadian wanita klimakterik itu, juga akan
membe-rikan penampilan yang berbeda dalam keluhan klimakterik.
Ganguan umpan balik pada Hipofise

c. MANFES (Manifestasi Klinis)

1. Tidak Mendapatkan Haid
2. Hot flush, berdebar-debar, sakit kepala, tangan dan kaki dingin, mudah
tersinggung, vertigo, cemas, depresi, insomnia, keringat pada malam hari,
pelupa, tidak dapat berkonsentrasi, penambahan BB.
3. Tanda khas kulit merah dan hangat terutama pada kepala dan leher, kapan
saja selama beberapa detik sampai 2 menit diikuti menggigil, kedinginan.
4. Kulit genetalia, dinding vagina, uretra menipis dan lebih kering sehingga
mudah terjadi iritasi, infeksi, disparemia, labia, klitoris, uterus, ovarium
mengecil/atrofi. Bertambahnya pertumbuhan rambut pada wajah dan tubuh
akibat menurunnya kadar estrogen dan efek androgen dalam sirkulasi yang
tidak terimbangi.
5. Osteoporosis pada sekitar 25 % wanita dalam waktu 15 20 bulan setelah
menopause.
171


Varney. H, 2007: 306 adalah:
1) Perubahan Pola Perdarahan : Pola yang paling umum adalah penurunan
bertahap jumlah dan durasi aliran menstruasi, menyebabkan terjadinya
bercak darah dan kemudian berhenti. Beberapa wanita akan mengalami
menstruasi yang lebih sering atau lebih berat, hal ini biasanya refleksi dan
produksi estrogen folikuler yang terus-menerus dengan atau tanpa ovulasi
2) Hot Flash : Periode berulang dan sementara terjadinya kemerahan,
berkeringat, dan perasaan panas, sering kali disertai palpitasi dan perasaan
ansietas, dan kadang-kadang diikuti dengan demam.
3) Gangguan tidur
4) Perubahan Atropik : Efek jangka panjang penurunan kadar estrogen
termasuk penipisan epitelium vagina dan serviks, lapisan kapiler menjadi
lebih tampak sebagai kemerahan yang terputus-putus. Ukuran serviks
biasanya mengecil dengan menurunnya produksi mukus yang dapat
menyebabkan disparenia. Traktus urinarius juga menunjukkan perubahan
setelah menopause. Gejalanya dapat meliputi kering atau gatal pada vulva
dan vagina atau dispareunia.
5) Perubahan Psikofisiologis : Trias gejala psikologis yang sering kali disebut
dalam hubungannya dengan menopause adalah depresi alam perasaan,
insomnia, dan penurunan minat seksual. Terdapat perbedaan antara
insomnia sejati dengan perubahan tidur yang dikaitkan dengan keringat
malam berlebihan. Hilangnya libido dapat dipengaruhi sejumlah faktor
termasuk peningkatan depresi atau ansietas.
6) Perubahan Berat Badan : Menopause seringkali dianggap sebagai
penyebab peningkatan berat badan pada wanita usia paruh baya.
Rekomendasi untuk meningkatkan olahraga dan diet sehat yang meliputi
pengawasan asupan kalori dan lemak harus dibuat untuk wanita seiring
pertambahan usia mereka.
7) Perubahan Kulit : Sebagian besar perubahan kulit yang diperhatikan
wanita pada masa menopause adalah kerusakan karena sinar matahari.
Perubahan lain meliputi kulit kering, banyak berkeringat, pengerutan,
perubahan fungsi pelindung, penipisan, dan penurunan penyembuhan luka.
172

8) Seksualitas : Selama bertahun-tahun telah menjadi anggapan bahwa
semakin tua usia wanita, maka minat seks dan responsif wanita akan
menurun. Mayoritas wanita yang mengalami menopause alami tidak
melaporkan penurunan dalam hasrat seksual, kesenangan erotik, atau
orgasme dan penurunan potensi seksual lebih sedikit pada wanita
dibanding pria selama proses penuaan.
Perubahan pada organ refroduksi
Uterus : Ukuran mengecil oleh karena menciutnya selaput lendir rahim
(atropi endometrium) hilang cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat
antar sel.
Tuba Fallopi : Lipatan tubuh menjadi > pendek, menipis dan
mengendosalping adanya rambut getar dalam tuba (silia) kemudian
menghilang.
Ovarium : Makin bertambah umur, maka jumlahnya makin berusia 40-50
tahun rata-rata jumlah sel primodial berkurang s.d 8.300 karena adanya
ovulasi pada setiap haid dan proses terhentinya pertumbuhan folikel
primodial.
Serviks : Akan mengerut sampai terselubung oleh dinding vagina atropi,
kripta servikal kanalis servikalis memendek, menyerupai ukuran serviks
fundus pada masa adolescent.
Vagina : Terdapat penipisan dinding vagina sehingga menyebabkan
hilangnya rugae (lipatan vagina), berkurangnya pembuluh darah,
elastisitas menurun, secret encer, indeks kario pianotik menurun, PH
vagina meningkat karena terlambatnya pertumbuhan jasad renik vagina
oleh karena peningkatan cadangan gula sel.
Vulva
Menipis karena berkurangnya dan hilangnya jaringan lemak dan
jaringan elastis.
173

Kulit menipis dan pembuluh darah berkurang : pengerutan lipatan
vulva.
Pruritus oleh karena atropi dan secret kulit (-)
Rambut di mons pubis berkurang lebatnya.
Nyeri saat sanggama (disparema) mengerutnya intratus
Perubahan pada organ non-reproduksi
Dasar Panggul : Kekuatan dan elastisitasnya menurun karena penciutan
(atropi dan melanya daya sokong prolapsus uterovaginal/turunnya alat-alat
kelamin bagian dalam)
Anus dan Perineum : Lemak dibawah kulit (-), atropi otot sekitarnya
menyebabkan tonus spinkter melemah dan menghilang, sering terjadi
inkontensia alvi vagina.
Vesika Urinaria (Bladder) : Aktivitas kendali spinkter dan otot detruser
(otot bladder hilang).
Lemak subkutan diserap, atropi parenkim, lobulus menciut, stroma ikat
menebal, putting susu mengecil, kurang erektil, pigmentasi menurun,
payudara mendatar dan mengendor.
Perubahan pada ekstragenital
Adipositas (penimbunan lemak) diduga berhubungan dengan
penurunan estrogen dan gangguan pertukaran zat dasar metabolisme
lemak.
Hipertensi : Peningkatan TD selama klimakterium terjadi secara
bertahap kemudian menetap dan lebih tinggi dari TD sebelumnya.
Hiperkolosterolemia
Aterosklerosis
Vinilisasi (hilangnya rambut)
174

o Penurunan O2 dan peningkatan pembentukan ostion.
Esteopenia
o Pengurangan kadar mineral tulang osteroporosis
(pengeroposan tulang)

d. MASA-MASA KLIMAKTERIUM
i. Pramenopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, keluhan
klimakterik sudah mulai timbul, hormon estrogen masih dibentuk. Bila
kadar estrogen menurun maka akan terjadi perdarahan tak teratur.
ii. Menopause adalah henti haid yang terakhir yang terjadi dalam masa
klimakterium dan hormon estrogen tidak dibentuk lagi, jadi merupakan
satu titik waktu dalam masa tersebut. Umumnya terjadi pada umur 45-
55 tahun.

e. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi menopause (Baziad. A, 2003) yaitu:
Status gizi
Faktor yang juga mempengaruhi menopause lebih awal bisa dikarenakan
konsumsi yang sembarangan. Jika ingin mencegah menopause lebih awal
dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat seperti berhenti
merokok, serta mengonsumsi makanan yang baik misalnya sejak masih
muda rajin mengonsumsi makanan sehat seperti kedelai, kacang merah,
bengkoang, atau pepaya (Baziad. A, 2010).
Sosial ekonomi
Menopause dipengaruhi oleh status ekonomi, disamping pendidikan dan
pekerjaan suami. Begitu juga hubungan antara tinggi badan dan berat
badan wanita yang bersangkutan termasuk dalam pengaruh sosial
ekonomi.
Pascamenopause adalah masa 3-5 tahun setelah menopause, dijumpai
hiper-gonadotropin (FSH dan LH), dan kadang-kadang hipertiroid.
175


f. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan umum merupakan pendapat umum yang salah bahwa
semua masalah klimakterik dan menopause dapat dihilangkan dengan
hanya pemberian estrogen saja. Tujuan pengobatan dengan estrogen
bukanlah memperlambat terjadinya menopause,melainkan
memudahkan wanita-wanita tersebut memasuki masa klimakterium.
Hubungan pribadi yang baik, saling percaya antara suami-istri,
maupun antara dokter-penderita akan memberikan harapan yang besar
akan kesembuhan.Pemberian obat-obat penenang bukanlah cara
pengobatan yang terbaik. Psikoterapi superfisial oleh dokter keluarga
sering sekali menolong.
Pengobatan hormonal Menopause merupakan suatu peristiwa
fisiologis dari keadaan defisiensi estrogen. Sindrom klimakterik pada
umumnya terjadi akibat kekurangan estrogen, sehingga dengan
sendirinya pengobatan yang tepat adalah pemberian estrogen, meski
bukan tanpa risiko. Pada masa lalu, estrogen diberikan untuk selang
waktu yang singkat dan kemudian berangsur-angsur dikurangi
sehingga gejolak panas sirna. Konsep ini tidak berlaku lagi. Seorang
wanita yang mengalami gejala-gejala menopause telah mengidap
defisiensi estrogen dan akan tetap begitu sepanjang hayatnya.
Defisiensi estrogen jangka panjang dapat menyebabkan
berkembangnya osteoporosis, penyakit jantung aterosklerotik, dan
mungkin perwujudan psikogenik. Program yang seimbang dari
pengobatan estrogen-pengganti yang dikombinasikan dengan
progestogen siklik merupakan pengobatan terbaik, karena tujuan nyata
dari estrogen-pengganti adalah tidak hanya untuk meredakan gejala-
gejala vasomotor melainkan juga untuk mencegah akibat metabolik
seperti osteoporosis dan ateroskletosis.
Terapi sulih hormon (TSH)
TSH atau HRT (Hormon Replacement Terapy) merupakan pilihan
untuk mengurangi keluhan pada wanita dengan keluhan atau sindroma
176

menopause dalam masa premenopause dan postmenopause. Selain itu,
TSH juga berguna untuk menjaga berbagai keluhan yang muncul
akibat menopause, seperti keluhan vasomotor, vagina yang kering, dan
gangguan pada saluran kandung kemih. Penggunaan TSH juga dapat
mencegah perkembangan penyakit akibat dari kehilangan hormon
estrogen, seperti osteoporosis dan jantung koroner. Jadi, tujuan
pemberian TSH adalah sebagai suatu usaha untuk mengganti hormon
yang ada pada keadaan normal untuk mempertahankan kesehatan
wanita yang bertambah tua.

g. PENCEGAHAN
1. Mengonsumsi makanan-makanan bergizi yang secara alami bersifat
anti-inflamasi, seperti whole grain, buah-buahan, ikan, sayuran
berdaun hijau tua, kacang-kacangan, dan memasak dengan minyak
zaitun. Hindari konsumsi makanan yang mengandung trans fat, seperti
margarin.
2. Berolahraga yang teratur, sebab olahraga teratur akan mengurangi
jumlah deposit lemak.
3. Merokok, minum alkohol, dan obat-obatnan harus dihindari karena
bersifat pro-inflamasi dan merusak jaringan yang sehat.
4. Hindari stres, karena stres dapat merusak sistem pertahanan tubuh.
5. Tidur yang cukup akan sangat bermanfaat untuk mencegah proses
inflamasi kronik



h. ASKEP (Asuhan Keperawatan)
Kasus
177

Ny N berusia 49 tahun, pekerja ibu rumah tangga datang ke poli kebidanan
dengan keluhan menstruasinya tidak teratur tiap bulannya. TD 130/80 mmHg,
N 88x/menit, R 20x/menit, S 37,2 C. Klien mengatakan sering timbul gatal-
gatal pada vagina dan nyeri waktu senggama. Klien mengatakan akhir-akhir
ini sering merasa ada gejolak panas sehingga sering berkeringat banyak yang
membuat merasa tidak nyaman dan sulit untuk tidur. Klien mengatakan kalau
perasaannya akhir-akhir ini menjadi sering tersinggung, gelisah dan lekas
marah, padahal ia merupakan ibu yang biasanya sabar. Apalagi setelah
anaknya yang cuma satu-satunya menikah dan pindah rumah, kalau ditelepon
sering tidak diangkat. Ia juga merasa tidak diperhatikan oleh suaminya yang
usianya sama dengannya. Suaminya lebih memperhatikan mobil barunya,
dibandingkan klien. Klien mengatakan dengan keadaan sekarang ini ia
menjadi takut kalau suaminya tidak menyukainya lagi, apalagi ia sering
menolak untuk berhubungan suami isteri karena adanya rasa nyeri. Klien
mengatakan bahwa menurut tetangganya dengan bertambahnya usia maka
kehidupan seksual wanita biasanya akan berakhir dimana sudah tidak ada
gairah lagi. Ia jadi makin cemas memikirkan hal tersebut, apalagi tetangganya
juga mengatakan bahwa makin lama seorang wanita yang mulai menua akan
mengalami sakit-sakitan dibandingkan dengan laki-laki pada usia yang sama,
dimana laki-laki akan selalu terlihat lebih sehat dan gagah.
1. Pengkajian
Nama : Ny N
Umur : 49 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Alamat : -
Status : menikah
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Suku : -
Diagnosa medis : Klimakterium

2. Riwayat kesehatan
- Keluhan utama : menstruasinya tidat teratur tiap bulannya
178

- Riwayat kesehatan masa lalu : -
- Riwayat kesehatan keluarga : -
3. Hasil Pemeriksaan
Fisik
- TD 130/80 mmHg
- RR 88x/menit
- N 20x/menit
- S 37,2 C
- Sering timbul gatal pada vagina
- Nyeri sewaktu senggama
- Merasa ada gejolak pansa sering berkeringat banyak yang membuat
merasa tidak nyaman dan sulit tidur
- Mudah tersinggung
- Gelisah
- Lekas marah
Laboratorium : -
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

1. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur/fungsi seksual
ditandai dengan:
DS:
Klien mengeluh nyeri saat berhubungan/bersenggama
Klien mengeluh suaminya sering menolak bila diajak berhubungan suami
isteri.

Tujuan:
Klien mengungkapkan disfungsi seksual teratasi setelah diberi tindakan
keperawatan dengan kriteria:
- Nyeri hilang bila berhubungan
- Klien tidak menolak bila diajak berhubungan
179

I ntervensi:
Ciptakan lingkungan saling percaya dan beri kesempatan kepada klien
untuk menggambarkan masalahnya dalam kata-kata sendiri.
Rasional: kebanyakan klien kesulitan untuk berbicara tentang subjek
sensitive, tapi dengan terciptanya rasa saling percaya dapat
menentukan/mengetahui apa yang dirasakan pasien yang menjadi
kebutuhannya.
Beri informasi tentang kondisi individu
Rasional: informasi akan membantu klien memahami situasinya sendiri.
Anjurkan klien untuk berbagi pikiran/masalah dengan pasangan/orang
dekat.
Rasional: komunikasi terbuka dapat mengidentifikasi area penyesuaian
atau masalah dan meningkatkan diskusi dan resolusi.
Diskusikan dengan klien tentang penggunaan cara/teknik khusus saat
berhubungan (misalnya: penggunaan minyak vagina)
Rasional: mengurangi kekeringan vagina yang dapat menimbulkan rasa
sakit dan iritasi, sehingga meningkatkan kenyamanan dalam
berhubungan.
Kolaborasi dengan dokter.
Beri obat sesuai indikasi
Estrogen pengganti
Rasional: memulihkan atrofi genetalia, kekeringan vagina, uretra.



2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hot flash ditandai dengan klien
merasa ada gejolak panas sehingga berkeringan banyak yang membuatnya
merasa tidak nyaman dan sulit tidur.
DS :
klien merasa ada gejolak panas sehingga berkeringan banyak yang
membuatnya merasa tidak nyaman dan sulit tidur.
180

DO : -
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien, pola tidur klien normal.
Dengan kriteria hasil :
- klien tidak merasa ada gejolak panas
- klien merasa nyaman dan tidak sulit untuk tidur
I ntervensi
Mandiri :
Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat
Rasional :Pakaian yang menyerap keringat mengurangi ketidaknyamanan akibat
keringat berlebih
Anjurkan klien untuk menghindari makanan berbumbu, pedas, dan goreng-
gorengan, alkohol
Rasional :Mengurangi rasa tidak nyaman
Anjurkan klien untuk menghindari beraktivitas di cuaca yang panas
Rasional : Menghindari trigger yang mencetuskan hot flash
Anjurkan klien untuk mencuci muka saat hot flashes terjadi
Rasional : Mengurangi rasa panas dan keringat berlebih
Kolaborasi :
Pemberian estrogen


3. Kecemasan berhubungan dengan stres psikologis, perjalanan proses
penyakit, di tandai dengan :
DS :
- Klien merasa cemas dengan keadaannya
DO :
- Klien tampak cemas
181

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien, cemas berkurang atau
hilangdengan kriteria hasil:
- Klien merasa rileks
- Klien dapat menerima dirinya apa adanya
Intervensi :
Kaji tingkat ketakutan dengan cara pendekatan dan bina hubungan saling
percaya
Rasional :Hubungan saling percaya mempermudah klien dalam megungkapkan
perasaannya
Pertahankan lingkungan yang tenang dan aman serta menjauhkan benda-benda
berbahaya
Rasional :Lingkungan yang nyaman dan aman dapat mencegah terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan
Libatkan klien dan keluarga dalam prosedur pelaksanaan dan perawatan
Rasional :Klien dan keluarga harus dijadikan sebagai subjek, jangan dijadikan
sebagi objek
Ajarkan penggunaan relaksasi
Rasional :Teknik relaksasi dapat menurunkan tingkat kecemasan
Beritahu tentang penyakit klien dan tindakan yang akan dilakukan secara
sederhana.
Rasional :Membantu klien dalam kegaitan mandiri








182

































183

DAFTAR PUSTAKA

Albar, Ali, Muhammad, Penciptaan Manusia, Mitra Pustaka : Yogyakarta, 2001
Bobak, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta : EGC
Carpenito, L.J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta
Desmita, Psikolgi Perkembangan, PT Remaja Rosdakarya: Bandung, 2005
Doengoes, E. Marilyn. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi Edisi 2. Jakarta:
EGC
Farrer, H. 2001. Perawatan Maternitas. Edisi 2. EGC. Jakarta
Hadijono, Soerjo. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta:Bina Pustaka
M. Rahaman, Muzdalifah, Psikologi Perkembangan, Nora Media Enterprise :
Kudus, 2011
NANDA. 2001. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification. Philadelphia
Sarwono, P. 1994. Ilmu Kebidanan. Balai Penerbit UI. Jakarta
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002.Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
FKUI, Ilmu Kebidanan, Edisi 3, 1999, Yayasan Bina Pustaka: Jakarta.
FKUI, Obstetri Fisiologi, 1993, E. Leman: Bandung