Anda di halaman 1dari 7

ANTIPARASITIC DRUG AND LACTATION

FOCUS ON ANTHELMINTIC, SCABICIDES, AND PEDICULICIDES


Isabel Porto, PharmD

Abstrak
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing mempengaruhi lebih dari 25 % dari
populasi penyakit yang disebabkan oleh infeksi di seluruh dunia. Infeksi ini sering terjadi
pada ibu menyusui dan bayi, karena mereka adalah kelompok rawan untuk terinfeksi.
Keadaan ini bisa disebabkan oleh ibu menyusui atau bayi yang kekurangan zat besi dan gizi
buruk. Saat ini sudah ada terapi obat yang mampu meminimalkan risiko tersebut. Namun ada
beberapa terapi obat yang bisa memberikan efek pada proses menyusui bayi, di antaranya
adalah anthelmintics, pediculicides, dan skabisida. Oleh karena itu, artikel ini akan meninjau
sifat fisikokimia dan penggunaan anthelmintics, pediculicides, dan skabisida saat menyusui.

Anthelmintics
Infeksi Helmint adalah infeksi parasit yang menyerang manusia dan hewan yang
disebabkan oleh sekelompok cacing seperti cacing gelang, cacing pita, dan cacing pipih.
Infeksi helmint usus mempengaruhi lebih dari seperempat dari populasi dunia ( 1,5 miliar
orang ) .
Hal ini banyak terjadi di daereh tropis dan subtropis. Dari 70 % yang terinfeksi
pathogen yang dibawa hanya 15% dari populasi. Meskipun angka kematian rendah ada
beberpa kejadian yang memeberikan konstribusi sangat signifikan anemia, gizi,dan kognitif
kekurangan fisik, untuk mordibity terkait dengan infeksi ini , terutama pada anak-anak . Pada
wanita hamil , anemia defiziciency besi secara signifikan meningkatkan angka kematian janin
dan mordibity.
Karena sejumlah besar individu yang terkena adalah wanita usia subur yang termasuk
dalam kelompok resiko tinggi, itu sangat penting untuk menentukan bagaimana obat di atas
mempengaruhi laktasi dan sejauh mana mereka diekskresikan dalam ASI dan dampak pada
bayi disusui. Hal ini sangat penting karena di wilayah di dunia di mana infeksi sering terjadi,
menyusui mungkin menjadi sumber utama nutrisi bayi . WHO telah merekomendasikan dan
merancang program pengobatan anthelmintic bagi masyarakat dan menargetkan kelompok
khusus seperti anak-anak sekolah dan ibu hamil.
Hampir semua infeksi cacing dapat diobati dengan satu atau kombinasi untuk obat
antiparasit berikut : Albendazole, mebendazole, dietil Carbamazine, ivermectin, dan
praziquantel. Ada sedikit informasi tentang ekskresi obat ini dalam ASI . Bagian pertama dari
ulasan ini akan membahas penggunaan obat antiparasit selama menyusui dan mencoba untuk
memprediksi ekskresi ASI berdasarkan profil farmakokinetik masing-masing obat bagi
mereka yang tidak ada data lain yang tersedia.
Di antara 5 anthelmintics digunakan umum , ivermectin adalah satu-satunya yang
telah dikaji oleh akademi Amerika pediatri dan dianggap aman selama menyusui . Lebih
resecarch adalah perlu untuk menentukan keamanan agen obat cacing saat menyusui .
Namun, profil farmakokinetik mebendazole (yaitu , rendah penyerapan sistemik dan
mengikat protein tinggi ) bersamaan dengan adanya laporan kasus ekskresi rendah dalam
ASI menunjukkan bahwa mungkin menjadi alternatif yang aman . Pengalaman dengan
ivermectin mendukung penggunaan yang aman selama menyusui.

Mebendazole
Mebendazol adalah suatu turunan benzimidazole yang memiliki khasiat sebagai obat
antelmintik (obat kecacingan) yang mempunyai jangkauan luas terhadap cacing-cacing
parasit antara lain Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk),
cacing tambang dan cacing kremi. Mebendazole merupakan obat yang sulit diserap, hanya
2%-10% yang dapat diserap melalui oral. Mebendazole 95% terikat protein plasma dan
kebanyakan terekskresi tanpa diubah dalam feces. Berdasarkan farmakokinetiknya obat ini
diprediksi aman karena perpindahannya kedalam ASI sedikit.
Berdasarkan kasus yang ada pada ibu menyusui usia 24 tahun terjadi penurunan
produksi ASI setelah konsumsi mebendazole. Seorang ibu yang mendapat perawatan karena
Trichomonas vaginalis setelah 7 hari mengkonsumsi metronidazole, tidak terjadi perubahan
pada produksi ASI. Kemudian pemberian metronidazole dihentikan dan diganti konsumdsi
mebendazole untuk mengobati temuan infeksi ascaris (cacing gelang). Setelah dua hari terapi
konsistensi produksi ASI menurun sampai berhenti dalam satu minggu.hal ini terkait faktor
lain seperti status gizi ibu dan kebiasaan menghisap pada bayi yang tidak berubah selama
pemberian metronidazole dan mebendazole. Maka penulis menhubungkan penurunan
produksi ASI dengan mebendazole. Tetapi tidak melaporkan efek yang terjadi pada bayi.
Pada penelitian sebelumnya oleh kurzel, penggunaan mebendazole pada 4 pasien.
Perawatan diberikan segera mungkin setelah periode postpartum (melahirkan). Dua pasien
dalam pengobatan infeksi cacing cambuk dan dua pasien lain terinfeksi cacing gelang dan
cacing tambang. Semua pasien bisa menyusui bayinya.plasma mebendazole dan konsentrasi
ASI yang diukur pada 1 wanita yaitu plasma 20 ng/mL, konsentrasi ASI tidak terdeteksi.
Karena rendahnya sistem absorpsi, tidak terdeteksinya konsentrasi ASI dan tidak ada
data sebelumnya tentang perubahan dalam prosuksi susu. dan menyusui selama perawatan
denga mebendazole. Efek samping biasanya ringan dan antara ibu serta menyusui bayi harus
diobservasi terhadap kesakitan abdominal, diare, mual, muntah, dan sakit kepala.
Ivermectin (Stromectol)
Ivermectin adalah obat spectrum luas dari anthelmintic dalam kelas berbeda. Dan
mengindikasikan intuk mengobati infeksi usus onchocerciasis dan strongyloidiasis. Obat ini
efektif untuk melawan cacing cambuk, cacing kremi tetapi tidak signifikan untuk cacing
tambang.
Ivermectin diserap dari saluran pencernaan pada usus, mencapai puncak konsentrasi
plasma setelah 4 jam ditelan lewat oral. Waktu paruh plasma selama 16 jam. Plasma di
metabolisme di hati dan di ekskresikan melalui feses. Ogbuokiri mengukur konsentrasi
ivermectin pada ASI 4 sukarelawan yang sehat setelah pemberian obat dengan dosis oral 150
g/kg. obat dideteksi dalam ploasma dan ASI setelah 1 jam pemberian obat. level plasma
berkisar antara 6.8 ng/ml sampai 48 ng/ml. level konsentrasi ASI yaitu 4.2 ng/ml- 20.6 ng/ml.
waktu untuk mencapai konsentrasi maksimum dalam ASI 4 -12 jam. Perkiraan konsentrasi 10
ng/ml yang diatur dalam 24 jam. Penulis memperkirakan bayi usia 1 bulan rata-rata minum
ASI 778 ml per hari, maka akan menyimpan dosis obat sekitar 2.75 mcg/kg.
Penelitian lain menunjukan pengalaman 3 tahun menggunakan ivermectin dalam area
endemik dimana populasi ibu menyusui sebesar 5-10%, tidak ada efek samping yang serius di
observasi. American Academy of Pediatric mempertimbangkan ivermectin cocok untuk ibu
menyusui.

Thiabendazole
Thiabendazole tidak seprti mebendazole dan albendazole, obat tersebut mudah diserap
dari saluran pencernaan dan mencapai konsentrasi plasma maksimal dalam 1 sampai 2jam
setelah konsumsi melalui suspense oral. Obat tersebut hampir seluruhnya dieliminasi dalam
waktu 24 hingga 48 jam. Efek sampingnya adalah anoreksia, mual, muntah, peningkatan
enzyme di hati, penglihatan kabur, pusing, mengantuk, sakit kepala, dan hyperirritability.
Efek yang sering dilaporkan adalah bagian system saraf pusat. Namun tidak ada laporan
ekskresi thiabendazole dalam ASI. Pada ibu yang menyususi dan mengkonsumsi obat ini
harus menghentikan meminum obatnya atau berhenti menyusui.
Pada saat treatment dengan thiabendazole selama menyusui harus dilakukan berhati-
hati karena kurangnya informasi tentang ekskresi ke dalam ASI dan potensi efek samping
yang signifikan pada bayi yang disusui. Selain itu, absorbsi ASI yang baik akan membuat
profil yang baik. Karena thiabendazole akan benar-benar di hilangkan 24 sampai 48 jam,
mungkin saat yang masi menyususi sementara sebaiknya di hentikan selama periode
eliminasi, sehingga meminimalkan paparan terhadap bayi.

Lindane
Lindane , atau gamma benzene hexachloride, tersedia 1% di lotion dan 1% di sampo.
Hal ini di indikasikan untuk pengobatan kutu dan kudis. Penyerapan melalui kulit cepat dan
bervariasi dari 10 % sampai 90 % tergantung pada pelarut yang digunakan. Penyerapan
transdermal meningkat ketika terjadi kerusakan kulit. Waktunya berkisar 21-26 jam. Pada
wanita yang mengkonsumsi lindane dan sedang menyusui, konsentarsi ASI memerlukan 60
kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan wanita yang tidak diobati. Paparan lingkunagan
memeberi pengaruh terhadap konsentrasi ASI pada wanita yang tidak diobati namun rendah.
Lindane telah dikaitkan dengan efek samping neurologis yang parah termasuk
convultions . Karena anak-anak berada pada risiko yang lebih tinggi terhadap potensi efek
toksik , lindane tidak digunakan pada anak-anak muda dari 2 tahun . Mengingat potensi efek
samping dan alternatif yang lebih aman, lindane harus dihindari selama menyusui.

Permetrin
Permetrin adalah pyrethoid sintetis yang biasa digunakan untuk mengobati
pediculosis dan kudis. Ini tersedia di Amerika Serikat asa krim 5% dan 1% larutan.
Penyerapan dari kulit minimal dan dengan cepat dimetabolisme menjadi metabolit aktif .
Toksisitas terkait dengan permetrin dianggap sangat rendah dan telah digunakan dengan
aman pada anak-anak 2 bulan sampai 5 tahun dengan kudis . Ada satu laporan di yang bayi
usia 23 hari diperlakukan dengan permethrin tanpa efek samping. Belum ada penelitian
ekskresi permetrin dalam ASI. Namun, telah direkomendasikan sebagai aman selama
kehamilan dan menyusui untuk pengobatan scabies.

Diethylcabamazine (Hetrazan)
Diethylcabamazine (DEC) berindikasi untuk pengobatan filariasis karena Wuchereria
bancrofti, Brugia malayi dan Onchocerca volvulus. Filarialsis menyebabkan demam,
lymphadenitis, dan lymphedema kronik.DEC hamper semuanya diserap dan mencapai
konsentrasi maksimal plasma 100-150 ng/ml.dalam 1-2 jam setelah pemberian obat. protein
pembawa menyebarkan ke jaringan. Waktu paruh plasma 2-10 jam.
Efek samping DEC biasanya ringan dan termasuk sakit kepala, mual, muntah, sakit
sendi, anorexia. Meskipun pasien dengan kecacingan berat, efek samping mungkin
disebabvkan karena kematian cacing dan kerusakan yang terlihat dari ruam, demam,
takikardi, hipotensi, dan gatal-gatal.tidak ada laporan perpindahan DEC ke ASI atau efeknya
pada ibu menyusui dan bayinya. Karena absorpsi yang baik dan rendah binding protein dalam
ASI dapat diprediksi. Oleh karena itu, menyusui sebaiknya dicegah.
Pyrantel Parmoate (Antiminth, Pin-X, Reeses Pinworm Medicine)
Pyrantel parmoate adalah obat berspektrum luas anthelmintic efektif melawan cacing
tambang, cacing kremi, dan cacing gelang. Obat ini sulit di absorpsi melalui saluran
gastrointestinal. Tidak ada laporan tentang ekskresi pyrantel dalam ASI. Meskipun karena
sulit diserap secara oral, kemungkinan ekskresi dalam ASI minimal.
Skabisida dan pediculicides
Ektoparasit menggambarkan sekelompok parasit yang hidup di kulit inangnya dan
dapat menyebabkan berbagai infeksi kulit. Pembahasan selanjutnya akan lebih fokus pada
infeksi kulit, kudis dan pediculosis. Kudis disebabkan oleh tungau Sarcoptes manusia scabiei
dan biasanya muncul sebagai erythenatous pruritus, ruam papular. Transmision biasanya
terjadi pada penutupan , dan kontak yang berlangsung lama seperti apa yang terjadi di rumah.
Dianjurkan bahwa semua penderita kontak dekat juga diperlakukan untuk menghindari
reinfestasi.
Bentuk lain dari pediculasis adalah pediculosis corposis ( tubuh kutu ), yang
disebabkan oleh kutu Pediculus humanus corposis , menghasilkan infeksi tubuh sangat gatal.
Pubis pediculosis adalah infeksi kutu publik atau kepiting yang disebabkan oleh pubis
Pthirus. Itu ditularkan melalui hubungan seksual atau dengan pakaian yang terkontaminasi,
hal ini lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa.
Pengobatan scabies biasanya diaplikasikan pada salah satu agen berikut: lindane,
permethrin, benzil benzoat, atau crotamiton. Infeksi ectoparasitic umumnya mempengaruhi
anak-anak muda dan sering menyebar ke rumah atau sekolah yang mempunyai kemunkinan
sering berkontak langsung, dan mungkin kelompok yang bisa terpengaruh adalah ibu
menyusui. Peneliti akan meneliti lebih lanjut mengenai keamanan pengobatan obat scabies
selama proses menyusui.

Benzyl benzoate
Benzyl benzoate adalah obat terapi yang digunakan untuk penyakit kudis.
Penggunaan benzil benzoat tidak dianjurkan bayi, anak-anak, atau wanita hamil dan
menyusui karena penggunaannya telah dikaitkan dengan efek samping neurologis yang parah
pada anak-anak
Crotamiton
Crotamiton telah sering digunakan untuk pengobatan pediculosis. Obat ini mencapai
konsentrasi plasma puncak dengan kadar 20 ng / ml. Obat ini sering diaplikasikan sebagai
krim lotion di Amerika Serikat. Critamiton dapat ditoleransi dengan baik, dan tidak ada efek
samping yang signifikan. Ekskresi crotamiton tidak dilaporkan di dalam ASI.

Praziquentel
Praziquentel adalah obat cacing yang digunakan untuk mengobati taeniasis,
hymenolepiasis, schistosomiasis, fascioliasis, dan cysticercosis. Praziquantel lebih dari 80 %
diserap dari saluran pencernaan. Konsentrasi dalam plasma adalah 0,1 samapai 1 mcg dan
akan tercapai maksimum 3 sampai 4 jam setelah konsumsi. Penelitian yang dilakukan pada
hewan, menunjukkan bahwa hanya 80% protein yang terikat dengan serum.
Waktu paruh obat praziquentel adalah 3 jam. Obat praziquentel ini dapat masuk ke
dalam ASI melalui plasma ibu. Konsentrasi praziquentel adalah sekitar seperempat dari
konsentrasi plasma ibu. Berdasarkan penelitian sebelumnya, konsentrasi praziquentel dalam
ASI belum dapat terdeteksi selama 24-32 jam setelah paparan. . jumlah rata-rata praziquental
diekskresikan ke dalam susu adalah 0,0008 % dari dosis yang dikonsumsi. Oleh karena itu,
direkomendasikan wanita yang menyusui menghindari praziquantel atau tidak menyusui
terlebih dahulu selama 72 jam setelh mengkonsumsi praziquante. Efek samping yang
dilaporkan ringan diantaranya malaise, sakit kepala, perut tidak nyaman, dan jarang,
urtikaria. Gejala-gejala ini mungkin juga bisa dari hasil infeksi.


Albendazole
Albendazole adalah turunan dari benzimidazole dan memiliki spektrum yang luas.
Obat ini sulit diserap di saluran pencernaan. Sulfoksida albendazole, mencapai konsentrasi
plasma dari 0,22 ke 0,25 / mcg ml dalam waktu 3 jam dari administrasi albendazole.
Sulfoksida Albendazole memiliki protein pengikat yang rendah dan didistribusikan dengan
baik dalam berbagai jaringan, waktu paruh plasma adalah sampai 8 jam.
Pada penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ada evaluasi keberadaan albendazole
atau metabolit aktif dalam ASI. Efek samping obat ini adalah gangguan gastrointestinal, sakit
kepala, peningkatan enzim hati, penyakit kuning, dan kolestasis. Selain itu, konsentrasi
plasma terdeteksi metabolit aktif dengan protein pengikat rendah, sehingga kemungkinan
dapat menyeberang ke dalam ASI