Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRATIKUM DASAR TELEKOMUNIKASI

PEMANCAR RADIO FM NUSANTARA 105





Disusun oleh :
Septian Arif Rahadian
NIM 1310622019



JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Radio merupakan salah satu media yang efektif bagi masyarakat karena
jangkauannya yang luas dan dapat menembus berbagai lapisan masyarakat Penemuan
radio yang digunakan sebagai alat atau media komunikasi massa awalnya
diperkenalkan oleh David Sarnoff pada tahun 1915. Selanjutnya Le De Forrest
melalui eksperimen siaran radionya telah menyiarkan kampanye pemilihan presiden
Amerika Serikat pada tahun 1916, sehingga Ia dikenal sebagai pelopor radio siaran.
Radio juga disebut sebagai sahabat yang dapat menemani kegiatan sehari - hari para
pendengarnya, karena berfungsi sebagai alat penghibur, penyampai informasi, dan
melaksanakan fungsi pendidikan bagi masyarakat.

Seiring dengan adanya reformasi yang menimbulkan kebebaasan informasi,
maka perkembangan radio sebagai media informasi yang menimbulkan kebebasan
informasi maka perkembangan radio sebagai media informasi mengalami
perkembangan dalam kuantitas dengan bermuncul nya stasiun stasiun radio. Dalam
upaya menyiasati serta mempertahankan kredibilitas di mata para pendengarnya
dengan memunculkan program - program unggulan.

Persyaratan utama untuk siaran FM ialah fidelity yang sangat baik, karena
bahan utama adalah musik. Modulasi frekuensi dalam beberapa cara berfungsi untuk
memperbaiki fidelity ini. Pertama, karena siaran FM berada pada jalur VHF dari 87,5
sampai 108 MHz, dapat digunakan jalur dasar (baseband) yang jauh lebih lebar.
Lebar jalur dasar utama yang sekarang banyak digunakan ialah 50 Hz sampai 15 kHz,
dengan deviasi maksimum yang diizinkan sebesar 75 kHz. Jarak antar saluran
adalah 200 kHz dan keluaran-keluaran daya yang dipakai dapat mencapai hingga 100
kW.
Pemancar FM banyak dipakai untuk memenuhi kebutuhan siaran yang
menuntut produksi suara dengan kualitas yang tinggi bila dibandingkan dengan
penggunaan pemancar AM. Jika dibandingkan dengan sistem AM, maka FM
memiliki beberapa keunggulan diantaranya :

1. Lebih tahan noise

Frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada pada range frekuensi 87.5
MHz 108 MHz, dimana pada wilayah frekuensi ini secara relatif bebas dari
gangguan baik dari atmosfir maupun interferensi yang tidak diharapkan. Jangkauan
dari sistem modulasi ini tidak sejauh jika dibandingkan pada sistem modulasi AM
dimana panjang gelombangnya lebih panjang. Sehingga noise yang diakibatkan oleh
penurunan level daya hampir tidak berpengaruhkarena dipancarkan secara LOS (Line
Of Sight).

2. Bandwidth yang lebar

Lebar (band) siar FM terletak pada bagian VHF (Very High Frequency) dari
spektrum frekuensi dimana tersedia bandwidth yang lebih lebar daripada band siar
AM dengan panjang gelombang medium (MW = Medium Wave).Bandwidth yang
lebar pada saluran siar FM juga memungkinkan untukmemuat dua saluran data atau
audio tambahan yang disebut SCA (SubsidiaryCommunication Authorization).
3. High Fidelity (Hi-Fi)

Respon yang seragam terhadap frekuensi audio (minimum pada interval 50 Hz
sampai 15 KHz), distorsi dengan amplitudo sangat rendah, tingkat noise yang sangat
rendah, diperlukan untuk kinerja Hi-Fi yang baik. Pemakaian saluran FM
memberikan respon yang cukup untuk frekuensi audio dan menyediakan hubungan
radio dengan noise rendah.

Setiap penyelenggaraan radio siaran FM wajib memenuhi ketentuan teknis sebagai
berikut :

a. Rentang pita frekuensi radio yang digunakan adalah 87,5 108 MHz;
b. Pengkanalan frekuensi radio yang digunakan adalah kelipatan 100 kHz;
c. Penyimpangan frekuensi (frequency devilation) maksimum adalah + 75 kHz
pada 100% modulasi;
d. Toleransi frekuensi pemancar (transmitter frequency tolerance) sesuai dengan
Appendix Radio Regulation adalah sebesar 2000 Hz;
e. Level spurious emisi minimum 60 Db dibawah level mean power;
f. Lebar pita (band width) untuk deviasi maksimum + 75 kHz dan 100% modulasi
maksimum 372 kHz;
g. Osilator (oscillator) harus mempunyai stabilitas frekuensi tengah
(centrefrequency stability) sebesar maksimum (+) 200 Hz dan maksimum (-)
200Hz dari frekuensi tengah; (KepMenHub No : KM15 tahun 2003).

Banyak sekali pemakaian yang dapat diambil dari karakteristik PLL.
PLL dapat mengunci level sinyal relatif rendah (misalnya sinyal CW),
meskipun terdapat desah acak yang lebih besar dari sinyal yang kita inginkan itu
sendiri. Pulsa-pulsa tersebut sebaiknya dianggap tidak ada. Hal ini membuat PLL
sangat baik sebagai penguat gelombang kontinyu dan tapis desah.

Tanggapan PLL hanya pada daerah jangkauan atas jalur frekuensi tertentu,
sehingga kita dapat menggunakan komponen ini sebagai penguat lulus-jalur
termodifikasi. Satu dari kebanyakan pemakaian PLL adalah pada demodulasi FM.
Jika IF (frekuensi antara) dipakai sebagai pusat frekuensi VCO, dan sinyal FM
dipakai sebagai masukan PLL, pengambilan sinyal kesalahan pada keluaran tapis
akan memberikan pada kita program modulasi sinyal.

PLL juga banyak dipakai dalam transmisi data digital. Sinyal-sinyal digital
terdiri dari dua level khusus. Masing-masing levelnya dapat dinyatakan dengan
frekuensi khusus untuk transmisi saluran telepon, atau untuk menyimpan pada
perekam pita suara. Hal ini disebut FSK (frequency shift keying).PLL dapat dipakai
untuk mengubah penyandian FSK.Frekuensi logika VCO dalam PLL.Frekuensi logika
0 sedikit lebih rendah dari frekuensi nominal VCO.

PLL juga sering dipakai untuk sinkronisasi data.Pada pemakaian komputer
dan aplikasi digital lainnya, dua atau lebih rangkaian harus mempunyai sinyal clock
untuk menggerakkan rangkaian tersebut. Beberapa alat harus memakai sinyal clock
yang sama, atau alat ini akan bekerja, dan data ditransmisikan kembali selanjutnya
diantara keduanya tidak terjadi kesalahan. Dengan rangkaian sinkronisasi data PLL,
tidak diperlukan lagi saluran transmisi sinyal clock yang berdiri sendiri.
PLL juga banyak dipakai untuk sintesa frekuensi. Pendekatan ini sering dipakai pada
radio CB 40 kanal dan pemancar radio FM.
1.2 Maksud & Tujuan Penulisan Laporan
Penulisan laporan ini ada dimaksudkan agar mahasiswa dapat menuangkan
hasil pengamatannya dan mempelajari bagian bagian, komponen, peralatan, dan
cara kerja pemancar radio FM NUSANTARA 105. Selaim itu mahasiswa diharpkan
dapat mengaplikasikan sistem tersebut baik dalam kehidupan sehari hari maupun
dalam menghadapi dunie kerja yang nantinya akan penuh dengan banyak tantangan
dan permasalahan yang akan timbul. Maka dari itu pengalaman serta hasil laporan ini
diharapkan menjadi suatu pedoman atau pegangan ketika suatu permasalahan itu
muncul agar dapat menyelesaikannya dengan cepat dan tepat tanpa hambatan yang
cukup berarti.

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan laporan kerja praktek ini adalah :

Untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan bagi mahasiswa S-1 JurusanTeknik
ElektroUniversitas Muhammadiyah Jember.
Untuk menyelaraskan dan mengimplementasikan teori yang diperoleh di
perkuliahan dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Meningkatkan wawasan, pengalaman, dan potensi diri dalam wacana praktek kerja
bagi mahasiswa.


BAB II
ALAT DAN BAHAN
1. PC dan UPS

PC Merupakan alat untuk menjalankan Seluruh program dari pemancar radio bisa
dibilang ini adalah otak dari seluruh proses, sedangkan UPS merupakan alat yang
dapat menyimpan daya ketika PC kehilangan daya secara mendadak.

2. Mixer

Merupakan pencampur, alat tidak linear yang menggeserkan sinyal yang diterima
pada fRF ke frekuensi intermediate fIF.Modulasi pada pembawa yang diterima juga
diubah ke frekuensi intermediate.


3. Alesis (Sound Mixer)

Sama dengan Mixer hanya tombol equalizernya lebih banyak sehingga sangat
membantu untuk mengatur suara yang akan dipancarkan


4. Monitor 1 (Menampilkan Logo Radio Nusantara)

Monitor ini berfungsi untuk membaca email, sms dll
5. Monitor 2 (SAM Broadcaster)

Monitor ini berfungsi untuk mengatur pemutaran lagu beserta equalizernya.

6. Exiter dan Final
.

7. Ruang Penyiaran secara Keseluruhan


BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Sejarah Radio

Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara
modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini
melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang
hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti
molekul udara).

Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan
terbentuk ketika objek bermuatan listrik dimodulasi (dinaikkan frekuensinya) pada
frekuensi yang terdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF) dalam suatu spektrum
elektromagnetik. Gelombang radio ini berada pada jangkauan frekuensi 10 hertz (Hz)
sampai beberapa gigahertz (GHz), dan radiasi elektromagnetiknya bergerak dengan
cara osilasi elektrik maupun magnetik.
Gelombang elektromagnetik lainnya, yang memiliki frekuensi di atas
gelombang radio meliputi sinar gamma, sinar-X, inframerah, ultraviolet, dan cahaya
terlihat. Ketika gelombang radio dipancarkan melalui kabel, osilasi dari medan listrik
dan magnetik tersebut dinyatakan dalam bentuk arus bolak-balik dan voltase di dalam
kabel. Hal ini kemudian dapat diubah menjadi signal audio atau lainnya yang
membawa informasi.
Meskipun kata 'radio' digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan alat
penerima gelombang suara, namun transmisi gelombangnya dipakai sebagai dasar
gelombang pada televisi, radio, radar dan telepon genggam pada umumnya.
Dasar teori dari perambatan gelombang elektromagnetik pertama kali
dijelaskan pada 1873 oleh James Clerk Maxwell dalam papernya di Royal Society
mengenai teori dinamika medan elektromagnetik (dalam bahasa Inggris: A dynamical
theory of the electromagnetic field), berdasarkan hasil kerja penelitiannya antara 1861
dan 1865.
Pada awal tahun 1890-an seorang Itali bernama Guglielmo Maconi
menciptakan inovasi-inovasi atas dasar peralatan yang diciptakan oleh Hertz. Marconi
telah berhasil meningkatkan jarak pancaran gelombang elektromagnet dan mengisinya
dengan informasi. Sehingga peralatan transmitter dan receiver ciptaan Marconi
tersebut mampu memindahkan informasi dari satu tempat ke tempat lain tanpa kawat,
inilah awal dari komunikasi radio.
Pada tahun 1895, seorang penemu dari Italia bernama Guglielmo Marconi
mengkombinasikan teori-teori yang sudah ada (tentang elektromagnetik) dengan
idenya sendiri. Ia adalah orang pertama yang mengirimkan sinyal radio melalui udara.
Ia menggunakan gelombang elektromagnetik untuk mengirim kode sinyal telegraf
dalam jangkauan lebih dari 1,5 Km.
Pada tahun 1901, radio temuan Marconi mengirim sinyal kode menyebrangi
Samudra Atlantik dari Inggris ke Newfoundland. Selama satu dekade hingga 1912, ia
mematenkan sejumlah temuan untuk menyempurnakan sistem radio yang
diciptakannya. Pada tahun 1909 ia mendapat Nobel bidang fisika. Dunia inovasi radio
mencatat nama Guglielmo Marconi, sebagai penemu radio pertama.
Sekitar tahun 1900, para penemu mencoba mengembangkan alat yang
dinamakan vacuum tube yang digunakan untuk mendeteksi dan memperluas sinyal
radio. Lee de forest, seorang penemu dari Amerika mempatenkan lampu Vakum
temuannya yang dikenal dengan triode atau audion pada tahun 1907.
Pada tahun 1918, Edwin H Amstrong dari Universitas Kolombia
mengembangkan alat penerima gelombang radio, yang biasa disebut Super
heterodyne circuit. Pada 1933 Amstrong memperkenalkan sistem radio FM
(frequency modulation), yang memberi penerimaan jernih meskipun ada badai dan
menawarkan ketepatan suara yang tinggi yang sebelumnya belum ada. Atas
kejernihan suara yang dihasilkannya di awal 60-an, saluran FM mendominasi sistem
radio, dan bahkan digunakan untuk komunikasi antara bumi dan luar angkasa oleh
Badan Antariksa Nasional Amerika, NASA.








3.2 Dasar Teori Pemancar FM

Pemancar FM banyak dipakai untuk memenuhi kebutuhan siaran yang
menuntut produksi suara dengan kualitas yang tinggi bila dibandingkan dengan
penggunaan pemancar AM. Jika dibandingkan dengan sistem AM, maka FM
memiliki beberapa keunggulan diantaranya :
1. Lebih tahan noise
Frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada pada range frekuensi
87.5 MHz 108 MHz, dimana pada wilayah frekuensi ini secara relatif bebas dari
gangguan baik dari atmosfir maupun interferensi yang tidak diharapkan. Jangkauan
dari sistem modulasi ini tidak sejauh jika dibandingkan pada sistem modulasi AM
dimana panjang gelombangnya lebih panjang. Sehingga noise yang diakibatkan oleh
penurunan level daya hampir tidak berpengaruh karena dipancarkan secara LOS (Line
Of Sight).
2. Bandwidth yang lebar
Lebar (band) siar FM terletak pada bagian VHF (Very High Frequency) dari
spektrum frekuensi dimana tersedia bandwidth yang lebih lebar daripada band siar
AM dengan panjang gelombang medium (MW = Medium Wave).Bandwidth yang
lebar pada saluran siar FM juga memungkinkan untuk memuat dua saluran data atau
audio tambahan yang di sebut SCA (Subsidiary Communication Authorization).
3. Fidelitas tinggi (Hi-Fi)
Respon yang seragam terhadap frekuensi audio (minimum pada interval 50 Hz
sampai 15 KHz), distorsi dengan amplitudo sangat rendah, tingkat noise yang sangat
rendah, diperlukan untuk kinerja Hi-Fi yang baik. Pemakaian saluran FM
memberikan respon yang cukup untuk frekuensi audio dan menyediakan hubungan
radio dengan noise rendah.




3.2.1 Pemancar Fm
a. Osilator
Osilator adalah suatu rangkaian yang menghasilkan sinyal keluaran yang
amplitudonya berubah-ubah terhadap waktu.Perbedaan antara penguat dengan osilator
adalah penguat memerlukan sinyal masukan untuk menghasilkan sinyal keluaran
sedangkan osilator tidak ada sinyal masukan, hanya ada sinyal keluaran saja, yang
frekuensi dan amplitudonya dapat dikendalikan.Ada tiga osilator yaitu osilator RC,
osilator LC, dan osilator relaksasi.Osilator RC dan LC menghasilkan sinyal berbentuk
sinusoidal, sedangkan osilator relaksasi menghasilkan sinyal berbentuk gigi gerjaji,
kotak, segitiga, pulsa dan lain-lain.Osilator dengan frekuensi yang bisa diubah disebut
VFO (Variable FrequencyOscillator).VFO mempunyai kelebihan pada deviasi
frekuensinya yang lebar.Kesetabilan frekuensi dari osilator kristal dapat digabungkan
dengan deviasi frekuensi VFO yang lebar dengan menerapkan osilator terkontrol
PLL. Pada osilator terkontrol PLL, osilator kristal dipakai sebagai penghasil frekuensi
referensi. Dengan demikian akan didapatkan frekuensi referensi yang sangat stabil.
b. Penyangga (Buffer)
Pada setiap osilator, frekuensi dan amplitudo osilasi dalam beberapa tingkat
dipengaruhi oleh impedansi beban kemana osilator disalurkan.Dengan demikian
diperlukan suatu tingkat penguat penyangga antara osilator dan beban.Penyangga
berfungsi untuk menstabilkan frekuensi dan amplitude osilator akibat pembebanan
tingkat selanjutnya.Osilator yang dilengkapi dengan penyangga biasa disebut exciter.
c. Penguat Daya
Penguat daya adalah suatu penguat yang digunakan untuk menguatkan daya
sinyal besar (large signal). Di dalam penggunaannya, dapat digunakan transistor daya
sebagai komponen utamanya dan pada umumnya transistor daya tersebut mempunyai
disipasi daya lebih dari watt.

Terdapat tiga macam kelas penguatan daya, yaitu:
1. Penguat kelas A
2. Penguat kelas B
3. Penguat kelas C



d. Catu Daya
Secara umum, istilah catu daya berarti suatu sistem penyearah yang mengubah
arus AC menjadi DC.Untuk menjalankan peralatan elektronik, diperlukan catu daya
DC, dan daya ini dapat diperoleh dari beberapa sumber. Energi yang mudah tersedia
adalah arus bolak-balik. Oleh karena itu, arus bolak-balik ini harus diubah
(disearahkan) menjadi arus DC yang selanjutnya harus diratakan (disaring) menjadi
tegangan yang tidak berubah-ubah.
Transformator berfungsi untuk memperkecil tegangan hingga mendekati
besarnya tegangan searah yang diinginkan. Pada bagian kedua dari blok diagram
merupakan dioda penyearah baik penyearah setengah gelombang maupun penyearah
gelombang penuh. Tegangan keluaran tingkat ini sudah berupa tegangan searah tetapi
masih mengandung unsur arus bolak-balik (ripple). Untuk menghilangkan ripple
maka digunakan filter LPF yang hanya dapat meloloskan arus searah dan membuang
arus bolak-balik ke bumi. Untuk meningkatkan kualitas pencatu daya searah, maka
harus digunakan regulator pada titik keluaran.Kestabilan tegangan diperoleh dengan
membandingkan tegangan keluaran dengan suatu tegangan acuan yang stabil. Setiap
ada perubahan tegangan keluaran, regulator berusaha untuk mengembalikan harganya
ke tegangan semula.

e. Saluran Transmisi
Saluran transmisi adalah bagian yang menghantarkan daya yang dihasilkan
pemancar ke antena. Sebagai bagian yang menghantarkan daya, saluran transmisi
yang ideal tidak akan mengurangi daya yang dihantarkannya dan juga tidak
meradiasikan daya yang menjadi tugas antena. Pada kenyataannya, saluran transmisi
juga mengurangi daya yang disalurkannya.Daya yang berkurang berubah menjadi
panas dan sebagian kecil diradiasikan. Agar transfer daya terjadi secara maksimal
maka saluran transmisi juga harus mempunyai impedansi karakteristik yang sama
dengan sumber dan beban. Pada sistem pemancar FM umumnya menggunakan
saluran koaksial dengan impedansi karakteristik 50.

f. Antenna
Antena adalah bagian yang sangat penting dari pemancar.Antena berfungsi
sebagai alat yang dapat meradiasikan gelombang radio. Selain itu juga antena
berfungsi mengarahkan arah pancaran sesuai tujuannya (audience). Beberapa
parameter antena adalah:

1. Polarisasi
Polarisasi dibedakan menjadi polarisasi vertikal dan polarisasi
horisontal.Sebagai gambaran yang sederhana sebuah antena dapat dikatakan
mempunyai polarisasi vertikal jika antena tersebut diletakkan pada posisi vertikal
terhadap bumi.Antena dengan polarisasi vertikal akan menghasilkan gelombang radio
dengan polarisasi vertikal juga. Begitu sebaliknya dengan polarisasi horizontal,
karena sebagai acuannya adalah dilihat peletakan pada permukaan bumi.
Untuk dapat menangkap gelombang radio yang mempunyai polarisasi vertikal,
pada penerima radio juga dibutuhkan dengan polarisasi yang sama.
2. Penguatan Antena
Antena adalah komponen pasif.Secara harfiah antena tidak mungkin
menguatkan sinyal yang diberikan padanya.Penguatan pada antena sebenarnya adalah
seberapa banyak antena tersebut meradiasikan gelombang radio ke arah yang
diinginkan.

3. Pengarahan
Antena dibedakan menjadi omnidirectional (segala arah) dan bidirectional
(dua arah). Antena omnidirectional dapat dikatakan meradiasikan gelombang radio
yang sama kuat ke segala arah.
Pada umumnya, untuk antena-antena siaran atau pemancar frekuensi
menengah (MF = Medium Frequency) dan VHF (Very High Frequency)
menggunakan jenis antena tegak (antena vertikal).

3.2.2 Modulasi
Modulasi didefinisikan sebagai proses penumpangan atau penyisipan sinyal
frekuensi rendah terhadap sinyal yang berfungsi tinggi sehingga dihasilkan output
dengan parameter baru. Proses ini menyebabkan sifat-sifat sinyal pembawa berubah-
ubah sebanding dengan perubahan sifat sinyal informasi.

Proses modulasi pada sistem komunikasi ini dilakukan karena :

1. Transmisi langsung sinyal informasi akan mengalami permasalahan interferensi
selama gelombang radio yang ditransmisikan berada pada frekuensi yang sama atau
mendekati.
2. Pada umumnya sinyal informasi akan mempunyai frekuensi yang rendah. Hal ini
tidak memungkinkan terjadinya pengiriman dan penerimaan gelombang radio
berfrekuensi rendah sampai ke tujuan.

3.2.3 Frekuensi Modulasi
Modulasi frekuensi adalah proses menumpangkan informasi pada carrier
dengan cara mengubah-ubah frekuensi dari carrier sesuai dengan sinyal informasi.
Pada modulasi frekuensi, amplitudo sinyal pembawa selalu tetap (tidak berubah-ubah),
sedangkan frekuensinya berubah-ubah tergantung pada amplitudo sinyal modulasi.
Perubahan naik turunnya amplitudo pemodulasi akan berpengaruh pada simpangan
frekuensi sinyal pembawa yang disebut dengan frekuensi deviasi.
Didalam teknik FM terdapat tiga jenis frekuensi yaitu :
1. Frekuensi carrier (pembawa)
Pada FM berkisar dari 87.5 MHz 108 MHz
2. Frekuensi simpangan
Perubahan frekuensi carrier dinamakan frekuensi simpangan yang mewakili kekuatan
amplitudo dari sinyal informasi
3. Frekuensi informasi
Kecepatan perubahan frekuensi simpangan dalam satu detik dinamakan frekuensi
informasi.

3.2.4 Modulator FM
Modulator merupakan bagian utama dari pemancar FM yaitu suatu alat yang
digunakan untuk melakukan modulasi.Jadi modulator FM dapat didefinisikan sebagai
alat penghasil sinyal FM. Sinyal FM dapat diperoleh dari suatu rangkaian dengan
komponen utama adalah osilator dan piranti nonlinear. Piranti non linear yang sering
digunakan antara lain adalah transistordan dioda varactor.
Prinsip kerja dari modulator adalah adanya tegangan bias dari sinyal
pemodulasi (informasi) yang akan berpengaruh pada nilai induktansi dari transistor
ataupun nilai kapasitansi dari dioda varactor. Perubahan nilai induktansi maupun
kapasitansi tersebut akan berpengaruh pada reaktansi osilator sehingga dihasilkan
pula perubahan frekuensi ataupun fasa dari keluaran osilator sesuai dengan sinyal
modulasi frekuensi yang dikehendaki. Ada dua cara untuk menghasilkan sinyal FM
yaitu modulasi langsung dan tidak langsung.
Modulasi tidak langsung
Modulasi Frekuensi tidak langsung diperoleh melalui proses modulasi fasa
dengan sinyal masukan informasi diintegrasikan terlebih dahulu sebelum masuk ke
modulator. Metode yang sering digunakan adalah tipe Amstrong. Apabila fasa dari
keluaran osilator kristal berubah, maka dihasilkan modulasi fasa (PM). Perubahan
fasa dari sinyal secara tidak langsung akan menyebabkan perubahan frekuensi. Oleh
karena itu dapat terjadi modulasi langsung dari kristal melalui modulasi phasa (PM),
yang secara tidak langsung menghasilkan modulasi frekuensi (FM).

Modulator sederhana tipe Amstrong dapat dilihat pada gambar 3.5, JFET pada
rangkaian ini mendapat bias tegangan dan menjaga agar tegangan VDS rendah.
Keadaan tersebut akan menghasilkan resistansi dari drain ke source dapat berubah-
ubah terhadap tegangan drain (sinyal pemodulasi).
Mula-mula sinyal audio masuk ke rangkaian pengoperasian frekuensi. Rangkaian ini
terdiri dari rangkaian RC Low pass (integrator) yang membuat amplitudo audio
berkebalikan dengan frekuensinya. Hal ini perlu dilakukan karena pada modulator
fasa (PM), deviasi frekuensi yang dihasilkan tidak sesuai dengan frekuensi sinyal
pemodulasi 1 volt 1 KHz yang menghasilkan deviasi 100 Hz, maka untuk sinyal
pemodulasi 1 volt 2 KHz akan menghasilkan deviasi 200 Hz sebagai pengganti dari
deviasi 100 Hz jika sinyal pemodulasi tersebut melewati ke rangkaian integrator.
Dengan demikian sinyal FM secara tidak langsung dihasilkan melalui perubahan fasa
dari keluaran osilator kristal. Perubahan fasa tersebut disempurnakan dengan
perubahan sudut fasa dari rangkaian RC (C1 dan resistansi JFET) bersamaan dengan
koreksi frekuensi sinyal pemodulasi.

BAB IV
GAMBAR DAN PENJELASAN

4.1 BLOK DIAGRAM







BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Tujuan dari suatu pemancar FM adalah untuk merubah satu atau lebih sinyal
input yang berupa frekuensi audio (AF) menjadi gelombang yang termodulasi dalam
sinyal RF (Radio Frequency) yang berupa keluaran daya yang kemudian diumpankan
ke sistem antena untuk dipancarkan.
Pada kenyataannya, pemancar FM banyak dipakai untuk memenuhi kebutuhan
siaran yang menuntut produksi suara dengan kualitas yang tinggi.Hal ini disebabkan
karena nilai S/N (Signal to Noise Ratio) yang tinggi dapat diperoleh dengan daya
pemancar FM yang relatif rendah, juga faktor kualitas terhadap gangguan siaran yang
lebih baik.
Jika dibandingkan dengan sistem AM, FM mempunyai beberapa keungulan
diantaranya :
1. Lebih tahan noise
2. Mempunyai bandwidth yang lebih lebar
3. Mempunyai fidelitas yang tinggi
Frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada pada range frekuensi 87.5-
108 MHz, dimana pada wilayah frekuensi ini secara relatif bebas dari
gangguan baik dari atmosfir maupun interferensi yang tidak diharapkan.

Jangkauan dari sistem modulasi ini tidak sejauh jika dibandingkan pada sistem
modulasi AM dimana panjang gelombangnya lebih panjang.
Secara umum sistem pemancar terdiri dari bagian-bagian :
1. Audio Input
2. Pemancar FM
Osilator
Penyangga
Penguat Daya
3. Catu daya
4. Saluran Transmisi
5. Antena
Pada Pemancar FM ini, digunakan PLL sebagai pengontrol frekuensinya
karena PLL ini membentuk suatu sistem yang dapat menghasilkan frekuensi yang
stabil dengan dengan membandingkan beda fasa antara frekuensi referensi yang
sangat stabil dengan frekuensi keluaran yang diumpanbalikkan.
Secara umum PLL terbagi menjadi tiga bagian pokok yaitu detektor fasa, loop
filter dan VCO (Voltage Control Oscilator). Secara singkat prinsip kerja sistem PLL
adalah sinyal masukan berupa frekuensi acuan menjadi salah satu masukan bagi alat
detektor fasa, masukan yang lain berasal dari VCO. Keluaran dari alat detektor fasa
ditapis oleh penapis pelewat rendah (LPF).Dengan demikian frekuensi-frtekuensi
awal, harmonik-harmoniknya, serta frekuensi jumlah disingkirkan.Hanya frekuensi
selisih (tegangan DC) yang keluar dari LPF. Tegangan DC ini kemudian akan
mengendalikan frekuensi VCO.
Sistem ini akan bekerja dengan baik, bila frekuensi VCO sama dengan
frekuensi acuan yang juga masuk ke detektor fasa. Dengan demikian alat detektor fasa
mempunyai dua masukan dengan frekuensi yang sama. Bila frekuensi masukannya
berubah, maka frekuensi VCO akan melacaknya. Secara otomatis PLL membetulkan
frekuensi dan sudut fasa VCO.










LEMBAR PENGESAHAN

Diserahkan
Tanggal :
Mengetahui








Septian Arif Rahadian
NIM 1310622019









Dudi Irawan, S.T