Anda di halaman 1dari 11

UNIVERSITAS INDONESIA

RESUME MATA KULIAH METODE PENELITIAN AKUNTANSI


CASE STUDY RESEARCH I N ACCOUNTI NG & COST MANAGEMENT I N SRI LANKA:
A CASE STUDY ON VOLUME, ACTI VI TY, AND TI ME AS COST DRI VERS





Oleh:
1. Arif Beta Hendriyanto NPM 1206316843
2. Dwi Irfan Yudiyatno NPM
3. Rinai Purnamasuri NPM
4. Tri Juli Astuti Sihombing NPM


PROGRAM EKSTENSI FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
SALEMBA
SEPTEMBER 2014
CASE STUDY RESEARCH I N ACCOUNTI NG
(PENELITIAN STUDI KASUS DALAM AKUNTANSI)

PENGANTAR
Penelitian akuntansi secara periodik mendapat tantangan tentang relevansi praktik dan
perkembangan pencapaian ilmiah dari penelitian tersebut (Reiter dan Williams 2002; Hopwood
2007). Studi kasus dapat membantu peneliti untuk menjawab tantangan tersebut dan
berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Kita menggunakan contoh dari akuntansi keuangan,
akuntansi manajemen, dan audit untuk menunjukkan nilai studi kasus dalam membuat materi
penelitian akuntansi, baik untuk mengembangkan teori maupun meningkatkan praktik.
Kebanyakan akuntan mengenal studi kasus dalam hubungannya dengan bidang pendidikan.
Mereka memberikan contoh nyata yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan, tidak sedikit
untuk menghasilkan pengetahuan bagaimana cara sebuah prinsip umum dapat diterapkan dalam
hal yang lebih spesifik, dan bahkan hal yang kompleks. Cooper dan Morgan (2005)
memfokuskan penulisan paper pada studi kasus untuk tujuan penelitian. Perbedaan yang penting
antara studi kasus untuk pembelajaran dan studi kasus yang berorientasi penelitian adalah aturan
pusat dari kedua teori tersebut.
Studi kasus adalah pendekatan penelitian yang dilakukan secara sistematis dan terorganisir,
untuk menghasilkan informasi tentang topik serta produk dari pendekatan ini. Bagi kita,
penelitian studi kasus adalah pendalaman dan pemeriksaan kontektual mengenai organisasi
tertentu atau peristiwa yang secara eksplisit menangani teori
Pendekatan studi kasus tidak hanya menentukan apakah sebuah teori seharusnya
menginformasikan studi atau digunakan untuk mendapatkan dan menganalisa data. Penelitian
dengan pendekatan studi kasus bermanfaat ketika peneliti melakukan penelitian atas:
1. Fenomena kompleks dan dinamis ketika banyak variable yang digunakan;
2. Praktik aktual; termasuk detil tentang aktivitas yang signifikan;
3. Fenomena yang penting karena pengaruh dari fenomena tsb dapat dipelajari.
Yin (1989) mencatat bahwa studi kasus sama seperti menjawab pertanyaan Bagaimana dan
Kenapa. Praktisi menemukan bahwa pertanyaan Bagaimana menjadi sangat penting. Studi
kasus sangat berharga dalam menggambarkan secara rinci tentang bagaimana inovasi baru dalam
akuntansi dan audit benar-benar dilakukan. Studi kasus juga membahas tentang pertanyaan
Kenapa. Schon (1983, 50) berpendapat bahwa studi kasus berharga bagi "seluruh proses
refleksi dalam aksi", yang merupakan pusat untuk seni dimana praktisi kadang-kadang
menghadapi situasi ketidakpastian, ketidakstabilan, keunikan, dan konflik nilai.
Meskipun setiap pendekatan penelitian dapat fokus pada pertanyaan bagaimana atau kenapa,
pendekatan non kasus biasanya menekankan pertanyaan yang berbeda. Analisis statistik yang
menggunakan banyak data, memiliki keunggulan komparatif dalam menjawab pertanyaan
seberapa banyak, misalnya untuk mengukur rata-rata kompensasi bagi CEO. Selain itu,
penelitian mungkin secara khusus dapat menjawab pertanyaan apa, seperti apa tanggapan
individu terhadap usulan pengukuran dan pengungkapan dalam akuntansi. Studi kasus, penelitian
arsip, dan eksperimen adalah pendekatan penelitian yang saling melengkapi.
Untuk menggambarkan sifat saling melengkapi dari berbagai pendekatan, kantor akuntan
berusaha untuk mengembangkan audit, melalui:
1. Analisa data statistik atas akun-akun khusus;
2. melakukan studi uji coba (piloting) sebelum diterapkan prosedur audit yang baru;
3. mempelajari kasus praktik terbaik dari audit, mengingat bahwa klien, staf audit, regulator,
dan mitra mungkin berbeda penilaian tentang apa yang terbaik.

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN MELALUI KASUS
Penelitian studi kasus muncul dalam berbagai bentuk, tapi perlu dikaji apakah penelitian tersebut
memiliki potensi yang signifikan untuk memberikan kontribusi bagi praktik yang ada.
Pembatasan ini mengharuskan kita untuk menjelaskan lebih lanjut kriteria dalam menilai
penelitian akuntansi tersebut penting dan relevan, serta bagaimana kaitannya dengan keahlian
professional.
Walaupun prinsip yang berlaku umum dapat direplikasi, serta berbasis pengetahuan empiris
mungkin dicapai dalam ilmu alam, dan dapat membantu menjawab banyak pertanyaan dalam
akuntansi, tetapi beberapa komentator menunjukkan keterbatasan penelitian akuntansi dalam
menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat. Keterbatasan tersebut antara lain, 1) hasil
penelitian akuntansi sulit untuk digeneralisasikan ke dalam bidang serupa, 2) kurang relevan bagi
para praktisi, terutama berkaitan dengan asumsi yang digunakan dan kompleksitas dari fenomena
yang diteliti.
Kasus dapat dipilih untuk memahami diskontinuitas dan ketidakseimbangan, dimana penelitian
menggunakan sampel besar cenderung menganggap stabilitas temporal dan menekankan
keseimbangan. Inilah keuntungan dari studi kasus. Kepekaan terhadap konteks penelitian kasus
memungkinkan dan mendorong peneliti untuk mempertimbangkan pertanyaan yang mungkin
tidak dipertimbangkan dalam peneliti lain.
Isu penting dalam penelitian serta praktik akuntansi adalah cara terbaik untuk menghasilkan
informasi yang relevan dalam hubungan dengan beberapa teori masalah. Banyak penelitian
dalam akuntansi berfokus pada menentukan rata-rata variabel dalam sampel besar dengan tujuan
menghasilkan generalisasi yang dapat diandalkan dan valid untuk populasi yang lebih luas. Studi
kasus dapat menghasilkan dan mengkomunikasikan informasi tentang apa yang terbaik untuk
dilakukan, dan bagaimana mereka melakukannya. Detail data yang luas yang disediakan dan
diperiksa oleh studi kasus meningkatkan kemungkinan menghasilkan teori baru dan wawasan
kreatif.
Phronesis: Kebijakan konteks khusus
Studi kasus mungkin memiliki keunggulan komparatif untuk menghasilkan pengetahuan dan
dapat melengkapi pendekatan tradisional untuk penelitian akuntansi. Kita tidak mengatakan
bahwa pengetahuan konteks khusus dan pengalaman cukup untuk seorang praktisi virtuoso;
phronesis juga bergantung pada pengetahuan ilmiah dan teknis. Studi kasus menghasilkan tipe
pengetahuan berbasis konteks yang dalam penelitian untuk pembelajaran menunjukkan bahwa
hal ini dibutuhkan untuk membangun seorang dari rule-based beginners menjadi virtuoso-
experts.
Phronesis: Interface dengan teori
Phronesis melibatkan intelektual, kontekstual, dan pengetahuan politik dalam pekerjaan ilmiah
dan pengetahuan teknis. Hal ini dapat berorientasi hanya untuk mengidentifikasi dan
mengeksplorasi isu-isu keahlian dan nilai-nilai, tetapi juga dapat memungkinkan peneliti untuk
terlibat dalam perdebatan dengan para praktisi, peneliti lain, dan masyarakat.
Studi kasus juga dapat bermanfaat untuk praktiksi dalam mengidentifikasi masalah-masalah baru
untuk penyelidikan dan pengujian tentang teori, pengambilan keputusan, dan pembenaran dalam
konteks yang kompleks dan sarat nilai. Penelitian berbasis studi kasus memiliki keuntungan yang
memungkinkan peneliti untuk berinteraksi dengan dunia sosial dan ekonomi, hal ini lebih sulit
bagi para peneliti dari pada menggunakan arsip/dokumen. Ttidak semua penelitian melalui kasus
diperlukan untuk membahas teori, nilai-nilai yang eksplisit, dan menghasilkan pengetahuan
phronetic, tetapi studi kasus dapat diandalkan dalam berkontribusi untuk praktik dan orang
cenderung untuk melakukannya.

CONTOH-CONTOH PENELITIAN STUDI KASUS
Cooper & Morgan (2008) menggambarkan bagaimana studi kasus dapat meningkatkan penelitian
dalam akuntansi manajemen, audit, dan akuntansi keuangan. Flyvbjerg (2001) dalam Cooper &
Morgan (2008) merangkum dan menggambarkan jenis-jenis kasus dengan tujuan yang berbeda
dalam mengembangkan teori dan memajukan pengetahuan. Tentu saja studi kasus semacam ini
menjadi tumpang tindih, namun dapat juga menggabungkan fitur dari beberapa jenis. Kesesuaian
tipe studi kasus tergantung pada tujuan dan masalah yang sedang diteliti.
Tabel 1 Tipe-tipe kasus
Tipe kasus deskripsi Contoh akuntansi
Extreme/Deviant Kasus dipilih untuk mempelajari peristiwa atau
kondisi yang tidak biasa (tetapi terkadang
peristiwa tersebut penting)
Funnell (1998); Lys and
Vincent (1995)
Maximum
variation
Kasus dipilih untuk belajar tentang suatu
fenomena sementara memungkinkan variasi
lainnya, berpotensi moderat, variabel.
Merchant and Manzoni
(1989); Simons (1990)
Critical Kasus yang dipilih untuk memungkinkan suatu
kesimpulan yang logis tentang pemalsuan teori
Preston (1989); Merino
and Neimark (1982)
Paradigmatic Kasus yang dipilih untuk membangun kembali
perspektif baru atau pemahaman teoritis
Petland (1993); Townley
et al. (2003)
Penelitian Studi Kasus pada Akuntansi Manajemen
Penelitian studi kasus dalam akuntansi manajemen merupakan penelitian yang paling populer.
Dalam studi kasus pronetis, terdapat penekanan akan kontekstualisasi fenomena yang diteliti,
pengakuan pentingnya memasukkan serta memahami nilai-nilai dan kepentingan yang berbeda.
Penelitian pronesis yang dilakukan oleh Townley et al tahun 2003 menemukan bahwa sebuah
sistem pengukuran kinerja, disamping memiliki potensi untuk meningkatkan pembenaran dan
pengembangan pembelajaran dan keahlian, juga menunjukkan adanya dominasi dan manipulasi,
serta ketidakefektifan. Eisenhardt (1989), Lindsay (2004) berpendapat bahwa pendekatan atas
suatu kasus akan menghasilkan manfaat yang cukup besar untuk penelitian akuntansi
manajemen, baik dalam pengujian dan pengembangkan teori. Beberapa kasus juga memberikan
pemahaman kepada akuntan manajemen dalam pemahaman yang lebih baik atas suatu kondisi.
Studi kasus menunjukkan bahwa penetapan target hanya salah satu komponen dari paket kontrol.
Studi kasus memfasilitasi eksplorasi penetapan target dan konteks organisasi yang lebih luas
dengan cara yang mungkin tidak layak dalam studi sampel yang lebih besar. Dalam hal
penelitian kasus variasi maksimum, penelitian akan ditingkatkan jika kasus lebih terinci dan
pilihan dimensi dalam kasus yang lebih bervariasi lebih eksplisit.
Penelitian Studi Kasus dalam Audit
Dalam Audit, penelitian studi kasus yang berkembang adalah terkait kasus pekerjaan audit dan
pengoperasian Audit firms. Terkait pekerjaan audit, Pentland (1993) meneliti perilaku auditor
dalam memperoleh kenyamanan (comfortable) dalam kaitanya dengan pelaksanaan tugas audit
dan interaksinya dengan pihak lain (klien, rekan dll.) Dia menjelaskan bagaimana kenyamanan
yang dihasilkan dalam proses audit memungkinkan auditor untuk mencapai kesimpulan. Dengan
mengamati praktek keterlibatan tim, Pentland (I993) bisa memahami bagaimana kenyamanan
diproduksi selama proses audit. Kenyamanan yang diperoleh dari mikro-interaksi anggota tim
audit menghasilkan tingkat kenyamanan dalam opini audit, kenyamanan dalam keamanan
dokumen, dan kenyamanan dalam laporan keuangan akan menghasilkan kenyamanan bagi
pelaku pasar modal dan masyarakat dalam laporan keuangan.
Penelitian Studi Kasus dalam Akuntansi Keuangan
Jenis studi kasus umum dalam akuntansi keuangan adalah kaitan antara aturan akuntansi dengan
perilaku investor dan manajer. Beberapa penelitian diantaranya:
- Lys dan Vincent (1995) dalam kajian akuisisi AT&T terhadap NCR. Dalam penelitiannya,
pola akuisisi AT&T konsisten, tetapi lebih kuat dari penelitian besar lainnya. Kasus
ekstrimnya dapat memberi kontribusi dalam pembangunan teori. Penelitianya juga
menganalisis peran participant dalam menggunakan kekuasaan mereka untuk memperoleh
ultimate outcome.
- Neinmark fokus terhadap isu kekuasaan dan dampak sosial dari representasi laporan
akuntansi. Studinya dianggap kasus paradigmatik, yakni penerapan teori ideologi untuk
mengkaji bahwa sifat laporan tahunan bervariasi pada tingkatan kondisi sejarah yang
berbeda. Fokusnya pada peran ideologis laporan tahunan mengarah untuk menunjukkan
bahwa akuntabilitas perusahaan akan meningkat jika tidak terdapat hubungan ekonomi
antara perusahaan audit dan perusahaan klien serta jika terdapat tanggungjawab manajemen
perusahaan yang independen atas elemen dalam annual report.
- Tinker et al. (1982) berpendapat bahwa studi atas kasus ekstrim tentang bagaimana suatu
regulasi dipengaruhi oleh skandal akuntansi dapat membantu regulator dalam belajar
mengenai kapan dan bagaimana mereka menanggapi peristiwa tersebut.
Masalah Umum dan Kesalahpahaman tentang Penelitian Studi Kasus
Masalah umum diantaranya adalah kekhatawatiran bahwa penelitian studi kasus dapat diarahkan
hanya pada "menemukan hal-hal," menghasilkan ide-ide sebelum mengerjakan penelitian
"ilmiah", pengembangan materi, atau menghasilkan hipotesis yang kemudian dapat diuji dengan
metode statistik. Menurut Yin, 1989, penelitian studi kasus yang baik dimulai dari identifikasi
pertanyaan, unit analisis dan kriteria untuk menafsirkan temuan. Desain studi kasus yang baik
memungkinkan suatu kasus akan dilihat dari perspektif yang berbeda dari beberapa peneliti dan
memberikan tantangan dan penguatan hasil (Oakes et al, 1998).
Kesalahpahaman yang terjadi antara lain:
- penelitian studi kasus tidaklah cukup diinformasikan melalui teori. Penggalian lebih dalam
terhadap objek penelitian perlu dilakukan. Peneliti studi kasus cenderung memilih kasus
secara teoritis, dan pilihan tersebut memiliki baik risiko maupun manfaat. Pemilihan
mungkin didasarkan pada kekhawatiran teori sebelumnya untuk pengembangan teori atau
mempelajari masalah yang belum dipelajari dari perspektif tertentu. Dengan demikian,
penelitian studi kasus memiliki peran dan posisinya sendiri dalam pengembangan
pengetahuan.
- Replikasi penelitian studi kasus. Temuan dari suatu studi kasus dapat direplikasi tergantung
sejauh mana objek penelitian dapat berubah dari waktu ke waktu. Secara umum, replikasi
atas suatu hasil studi kasus mungkin sulit dicapai dalam ilmu-ilmu sosial karena sosial dan
ekonomi dunia berubah seiring dengan pembelajaran dan penyesuaian pengetahuan baru.
Yang disebut sebagai refleksivitas kronis
- Generalisasi temuan dan penjelasan. Studi kasus memberikan kesempatan untuk
menggeneralisasi teori atas penjelasan umum suatu peristiwa, atau mengidentifikasi beberapa
peristiwa yang memiliki fitur teori yang sama. Kumulatif dan generalisasi temuan dapat
diproduksi dari waktu ke waktu. Generalisasi mungkin tidak selalu menjadi perhatian yang
relevan; dalam kasus ini, apa yang relevan adalah penciptaan bidang baru penelitian.
Generalisasi dapat diatasi dengan penelitian berikutnya yang distimulasi oleh penelitian
orisinal sebelumnya.

SIMPULAN
Studi kasus adalah suatu tool yang berguna dalam memahami fenomena yang kompleks. Studi
kasus memiliki beberapa manfaat penelitian dan dapat digunakan untuk menguji teori yang ada
serta dapat pula digunakan untuk menghasilkan teori baru. Dalam penelitian akutansi, studi kasus
relatif sedikit ditemukan karena prosesnya sulis dan menantang untuk dilakukan, selain itu
membutuhkan sumber daya yang signifikan. Dalam penerapanya, terdapat masalah umum dan
kesalahpahaman atas penelitian studi kasus.
Beberapa upaya dapat membantu mewujudkan manfaat penelitian studi kasus dalam rangka
pengembangan teori dan pemberian kontribusi bagi perkembangan praktik dan ilmiah seperti
pelatihan penelitian (studi filsafat modern dan sosiologi ilmu sosial dapat membantu untuk
menghindari pemahaman naif "metode ilmiah"). Pelatihan harus mencakup instruksi dalam
metode kasus dan filsafat, pengakuan atas pentingnya teori pengembangan serta pengujian.
Praktisi dan pihak seperti regulator, pembuat standar, dan manajer dapat memberikan akses
kepada organisasi atau data untuk memfasilitasi penelitian yang dapat menyelesaikan masalah
yang mereka hadapi (Gendron 2000). Tindakan tersebut dapat membantu untuk menunjukkan
nilai peneltian pronetis.


COST MANAGEMENT I N SRI LANKA: A CASE STUDY ON VOLUME, ACTI VI TY, AND
TI ME AS COST DRI VERS

Tujuan dari diciptakannya sistem akuntansi manajemen, termasuk pula akuntansi biaya, adalah
untuk memberikan informasi yang relevan bagi proses pengambilan keputusan dalam
perhitungan model costing. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, proses
pengumpulan dan pengkomunikasian data terkait biaya menjadi semakin meningkat. Namun
demikian, keterbatasan dalam metode traditional costing dalam menyediakan data yang akurat
belum dapat diperbaiki.
ABC Costing
Adopsi ABC costing untuk mengatasi kelemahan traditional volume-based costing, salah
satunya adalah dengan mengalokasikan resource cost ke dalam berbagai aktivitas pada beberapa
level dalam organisasi. Akan tetapi, bukan berarti penerapan ABC costing telah berhasil
menggantikan traditional volume-based costing karena pada kenyataannya kompleksitas
implementasi ABC costing telah menimbulkan permasalahan tersendiri.
Dua permasalahan utama yang teridentifikasi dari penerapan ABC costing adalah:
1. pada tahap awal penerapan ABC costing:
a. proses pengumpulan data costing yang akan dialokasikan ke dalam cost pool memerlukan
waktu yang sangat panjang, rumit, dan komitmen yang besar;
b. ABC costing membutuhkan proses identifikasi cost activity dan cost driver yang
kompleks sehingga membutuhkan kapasitas data processing yang cukup besar;
c. ABC costing tidak mampu mengidentifikasi kapasitas yang tidak terpakai pada suatu
waktu tertentu.
2. pada saat menjalankan proyek dengan ABC costing:
a. kompleksitas ABC costing akan semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan
organisasi;
b. ABC costing tidak dapat terintegrasi dengan sistem informasi lainnya yang ada dalam
organisasi; dan
c. Model ABC costing kurang sesuai dengan dukungan manajemen yang berkelanjutan.
Time Driven Activity-Based Costing (TDABC)
Untuk mengatasi kelemahan dari ABC costing terutama untuk mengatasi permasalahan pada
tahap awal penerapan ABC costing, maka dibangunlah model Time Driven Activity-Based
Costing (TDABC). TDABC menyederhanakan implementasi dan pengelolaan ABC costing
dengan menghilangkan biaya dan waktu untuk melakukan survey dalam proses pengumpulan
data costing, tetapi tetap dapat menghasilkan data yang sama akuratnya dengan ABC costing.
Perbedaan utama TDABC dengan ABC costing adalah:
Jumlah aktivitas (cost pool dan cost driver) dikurangi sampai ke level departemen/proses.
Kebutuhan akan pengumpulan informasi dan data costing dikurangi dan digantikan dengan
menggunakan duration standard drivers.

Form ABC to TDABC
Hubungan antara sumber biaya kelompok aktivitas dan biaya sasaran (produk/output) yang
dikenal dalam model ABC-based costing dapat diadopsi dalam model TDABC-based costing
melalui resource group dengan menggunakan multiple time-based sebagai penggerak untuk
mengalokasikan ke biaya sasaran (output/produk) atau jika data tersebut kompleks dapat
menggunakan single time-based. Adapun diagram tersebut dapat dilihat di bawah ini:



















resource group dapat berupa unit organisasi, departemen, atau seksi yang mungkin terdiri dari
berbagai kegiatan. Jika dilihat sekilas sepertinya tidak terlalu berbeda dengan model ABC-based
costing model. Yang menjadi perbedaannya adalah biaya atas aktivitas dikelompokkan menjadi
sebuah resource group dan beberapa biaya dikonversi dengan menyesuaikan terhadap
pengalinya.
Factory Resourch
Group
Purchasing
Manufactoring
Quality
Controll
Labour (wages
& Salaries)
Depreciation
Energy
Other Factory
Cost
Alpha
Beta
Others
The TDABC-base costing model: the resource groups (multi-driver) variant
The TDABC-base costing model: the resource groups (single-driver)
variant
Labour (wages
& Salaries)
Depreciation
Energy
Other Factory
Cost
Factory Resourch
Group (Purchasing,
Manufactoring,
Quality Controll)

Alpha
Beta
Others
Multiple time-based drivers : Nilai dari sebuah resource time-activity cost driver sama dengan
resource costs untuk sebuah unit dari waktu dikalikan dengan jumlah waktu dalam kegiatan
tersebut. Sebagai contoh, biaya wages & salary yang dipakai oleh seluruh kegiatan (purchasing,
assembly and quality control), sedangkan biaya energi tidak berhubungan dengan kegatan
purchasing. Dengan kata lain, wagaes and salary berhubungan kepada setiap biaya tujuan
sedangkan energi hanya melalui satu hubungan saja.
Single time-based drivers : Dalam model ini kita membuat asumsi equivalent-time yang
sederhana. Contohnya: kita mengasumsikan bahwa aktivitas purchasing, biaya setiap tujuan
(produk) sama dengan jumlah kapasitas/waktu dari purchasing.
Jika sebuah perusahaan terlalu kompleks, maka transaction-based cost drivers tidak dapat
dikonversikan secara akurat menjadi standard equivalent-time drivers.
Issue Arising
Terdapat empat issue yang akan dibandingkan:
1. The use of standard costs vs. actual costs Kebanyakan perusahaan mendasarkan
perhitungan biayanya atas biaya actual.
2. The treatment of idle capacities Salah satu kegunaan TDABC adalah kemampuannya
untuk mengasingkan kapasitas yang idle.
3. The maintenance of the homogeneity condition ketika dalam single time-based drivers
kompleksitas pemeliharaan kondisi yang sama ditambahkan kedalam daftar, hal tersebut
membuat tidak ada keuntungan dari mengadopsi model TDABC sebagai pendekatan alokasi
biaya.
4. The estimation of time in a time-based model bukanlah isu yang muncul jika yang
diperbandingkan adalah perusahaan manufaktur, yang memiliki ERP dan MRP dan pada
multiple time-based drivers.
Conclusion
1. Merupakan metode yang sama-sama kompleks apabila diimplementasikan dengan
menggunakan kondisi-kondisi yang diikuti sesuai model secara mutlak.
2. Kompleksitas tidak dipengaruhi oleh faktor spesifik Negara.
3. Model tersebut menghasilkan decision information errors yang sama dari sebuah traditional
costing.