Anda di halaman 1dari 11

i

REFLEKSI KASUS

PEMERIKSAAN URINALISIS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Program Kepaniteraan Klinik
Bagian Kesehatan Ilmu Anak
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta











Disusun Oleh:
Ari Irawan
20090310219

Diajukan Kepada:
dr. Handayani, M.Sc., Sp.A





BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD SETJONEGORO WONOSOBO
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014
ii

Daftar Isi


REFLEKSI KASUS ................................................................................................. i
Daftar Isi.................................................................................................................. ii
Pemeriksaan Urinalisis ............................................................................................ 1
A. Definisi ......................................................................................................... 1
B. Cara Pengambilan Sampel ........................................................................... 1
C. Cara Pemeriksaan dan Interpretasi Hasil Urinalisis ..................................... 2
Daftar Pustaka ......................................................................................................... 8

1

Pemeriksaan Urinalisis
A. Definisi
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk
tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi
berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti
diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap
status kesehatan umum.
3
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa
yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang
molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
homeostasis cairan tubuh. Pemeriksaan urin dibagi menjadi pemeriksaan urin
makroskopis, mikroskopis dan kimia urin.
1

B. Cara Pengambilan Sampel
Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh spesimen yang berkualitas.
Sekresi vagina, perineum dan uretra pada wanita, dan kontaminan uretra pada
pria dapat mengurangi mutu temuan laboratorium. Mukus, protein, sel, epitel,
dan mikroorganisme masuk ke dalam sistem urine dari uretra dan jaringan
sekitarnya. Oleh karena itu pasien perlu diberitahu agar membuang beberapa
millimeter pertama urine sebelum mulai menampung urine. Pasien perlu
membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid
harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung specimen.
Kadang-kadang diperlukan kateterisasi untuk memperoleh spesimen yang tidak
tercemar.
3

Persyaratan dan jenis spesimen yang digunakan pada urinalisis ialah urin
segar, sangat dianjurkan urin pagi pertama yang telah terkonsentrasi selama 8
jam di kandung kemih. Untuk menghindari kontaminasi, bersihkan dahulu alat
kelamin lalu saat berkemih (kencing) buanglah urine yang pertama keluar,
tampung urine tengah (midstream) dan buang lagi urine yang terakhir keluar.
2

Perempuan yang sedang menstruasi sebaiknya menunda pemeriksaan urine
karena dapat mengkontaminasi urine. Spesimen harus segar (kerjakan < 2 jam
setelah penampungan), jika tidak segera dikerjakan, simpan pada suhu stabil 2-
8 C selama 8 jam dengan penyimpanan di tempat gelap (cooler box) untuk
menghindari kerusakan bilirubin dan urobilinogen. Biarkan kembali pada suhu
kamar sebelum dilakukan pemeriksaan. Pada pemeriksaan kimia urin dapat
dipakai urin sewaktu, namun lebih dianjurkan urin pagi.
3

C. Cara Pemeriksaan dan Interpretasi Hasil Urinalisis
1. Pemeriksaan Makroskopis Urin
Pada pemeriksaan makroskopik aspek yang dinilai ialah warna,
kejernihan urin, pH urin, busa, berat jenis dan bau. Urine normal yang baru
dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan berwarna kuning
oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas warna sesuai dengan
konsentrasi urine. Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau
pengendapan urat (dalam urine asam) atau fosfat (dalam urine basa), atau
disebabkan oleh bahan selular berlebihan (protein dalam urin).
2

Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24jam. Pengukuran
volume ini pada pengambilan acak (random) tidak relevan. Karena itu
pengukuran volume harus dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk
memperoleh hasil yang akurat.
2

Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat
mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin
(hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obat-
obatan tertentu juga dapat mengubah warna urin. Kencing berbusa sangat
mungkin mewakili jumlah besar protein dalam urin (proteinuria).
2

Urine normal mempunyai pH 4,6 8. Kondisi yang dapat
mempengaruhi pH urin yaitu:
a. Pemberian obat.
b. Diit makanan.
c. Kondisi patologis.
3

Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urin bereaksi asam sedangkan
pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum
menjadi amoniak akan menyebabkan urin bersifat basa
d. Kondisi lain yang menyebabkan pH basa: setelah makan vegetarian,
alkalosis sistemik, ISK, terapi alkalinisasi, asisdosis tubulus ginjal,
specimen basa
e. Kondisi lain yang menyebabkan pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan,
penyakit demam pada anak), asidosis sistemik, terapi pengasaman.
2

Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresis, makin besar
diuresis makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin
makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat
ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih,
menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai
pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin
kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan,
hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun.
2


2. Pemeriksaan Mikroskopis Urin
Pemeriksaan mikroskopis urine dapat menggunakan metode natif,
metode pengecatan dan metode carik celup, Urin yang dipakai ialah urin
sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin.
Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X)
yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai
lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau
LPB.
3

Unsur unsur yang diperiksa dalam urine :
a. Eritrosit dan Leukosit
Kandungan Eritrosit dan leukosit di dalam sedimen urin mungkin
terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kernih.
Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin,
4

sedangkan leukosit hanya terdapat 0 - 5/LPK dan pada wanita dapat pula
karena kontaminasi dari genitalia.
Adanya eritrosit dalam urin disebut hematuria. Hematuria dapat
disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal,
nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada penyakit dengan diatesa
hemoragik. Terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut
piuria. Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau
kontaminasi dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor albus.
b. Silinder
Silinder adalah endapan protein yang terbentuk di dalam tubulus
ginjal, mempunyai matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall)
dan kadang-kadang dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan
epitel. Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain
osmolalitas, volume, pH dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh
tubuli ginjal.
Ada beberapa macam silinder yang berhubungan dengan berat
ringannya penyakit ginjal. dalam keadaan normal bisa didapatkan sedikit
eritrosit, leukosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti
silinder leukosit, silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder berbutir
selalu menunjukkan penyakit yang serius. Pada pielonefritis dapat
dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat
ditemukan silinder eritrosit. Sedangkan pada penyakit ginjal yang
berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin.
c. Kristal
Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di
dalam saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan
bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen
dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil
metabolisme yang normal. Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari
jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan
5

urin. Di samping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari
obat-obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.
d. Epitel
Merupakan unsur sedimen organik yang dalam keadaan normal
didapatkan dalam sedimen urin. Dalam keadaan patologik jumlah epitel
ini dapat meningkat, seperti pada infeksi, radang dan batu dalam saluran
kemih. Pada sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin
didapatkan oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah
mengalami degenerasi lemak, dapat dilihat dengan memakai zat warna
Sudan III/IV atau diperiksa dengan menggunakan mikroskop polarisasi.
3


3. Pemeriksaan Kimia Urin
Pemeriksaan kimia urin untuk menilai protein urin, reduksi urin,
urobilinogen, urobilin, keton, billirubin, kalsium, nitrit, dan klorida.
2


Sifat atau Unsur Kondisi/Masalah Klinis Keterangan
WARNA
Warna yang pucat
biasanya
mengindikasikan
bahwa urin
tersebut encer dan
warna kuning tua
atau kuning sawo
mengindikasikan
bahwa urin
tersebut pekat.
Obat dan makanan
akan mengubah
warna urin
Tidak berwarna
Asupan cairan banyak, diabetes
insipidus, penyakit ginjal kronis, ingesti
alkohol, gugup
Merah atau merah
tua
Hemoglobinuria, Kontaminasi
mentruasi, Pengaruh obat
(sulfisoksazol, fenitoin, klorpromazin,
docusate, fenolftalein), Makanan (gula
bit, kelembak, pewarna makanan)
Oranye
Aupan cairan terbatas, urin pekat,
keringat berlebihan, demam, pengaruh
obat (amidopirin, furazolidon,
mitrofurantonin, fenazopiridin,
sulfonamid), makanan (wortel,
kelembak, pewarna makanan, bilirubin)
Biru atau hijau
Toksemia pseudomonas, pengaruh obat
(amitriptilin, biru metilen,
metakarbamol, vitamin B kompleks,
konsentrat ragi)
Coklat atau hitam
Keracunan lisol, melanin, bilirubin,
methemoglobin, porfirin, pengaruh obat
6

(kaskara, kloroquin, injeksi senyawa zat
besi)
TAMPILAN
Keruh, berkabut
Bakteri, pus, jaringan sel darah merah,
sel darah putih, fosfat, cairan prostat,
spematozoa, urat, asam urat

Seperti susu Lemak, pluria
BAU
Amonia (Berbau
busuk)
Pemecahan urea oleh bakteri
Mousey (Berbau
manis atau seperti
buah)
Fenilketouria, asidosis diabetik,
kelaparan

BUIH
Kuning dalam
jumlah yang banyak
Sirosis hati yang parah, bilirubin atau
pigmen empedu

pH
<4,5
Asidosis metabolik, asidosis
respiratorik, kelaparan, diare, diet tinggi
daging berprotein, pengaruh obat
(ammonium klorida, asam mandelat)

>8,0
Bakteriuria (infeksi saluran kemih
akibat pseudomonas atau proteus),
Antibiotik (Kanamisin, neomisin,
streptomisin), sulfonamid, kelebihan
salisilat, natrium bikarbonat,
asetazolamid, kalium sitrat, Diet (tinggi
buah-buahan asam, tinggi sayur-
sayuran)

BERAT JENIS (BJ)
BJ rendah dapat
mengindikasikan
bahwa penyakit
ginjal, karena
ketidakmampuan
memekatkan urin
<1,005
Diabetes insipidus, kelebihan asupan
cairan, hidrasi berlebihan, penyakit
ginjal (glomerulonefritis, pielonefritis,
penyakit polikistik), defisit kalium yang
parah
>1,026
Penurunan asupan cairan, demam,
pemberian dextran, albumin per IV,
diabetes mellitus, muntah, diare,
dehidrasi, media kontras sinar X
PROTEIN Prorteinuria
7

> 8 mg/dl
Proteinuri reingan sementara, latihan
fisik, strees berat, mandi air dingin,
demam, penyakit infeksius akut,
penyakit akut, penyakit ginjal
(glomerulonefritis, sindrom nefrotik,
penyakit polikistik ginjal), SLE,
leukimia, mieloma multipel, penyakit
jantung, toksemia gravidarum,
septikemia, zat (arsenik, merkuri,
timbal, karbon tetraklorida), penyakit
obat (berbiturat, neomisin, dosis
penisilin berlebihan, sulfonamid)
merupakan
indikator yang
sensitif terhadap
disfungsi ginjal
< 2 mg/dl Urin yang sangat encer
GLUKOSA
Ambang ginjal
terhadap glukosa
darah adalah 160-
180 mg/dl
> 15 mg/dl (acak)
atau +4
Diabetes mellitus, gangguan SSP
(stroke, meningitis), sindrom cushing,
anestesia, infus glukosa, stres berat,
infeksi, pengaruh obat (hasil positif
palsu), asam askorbat, aspirin, sefalotin,
streptomisin, epinefrin
KETON
Acetest atau
ketosfix harus
dilakukan
pengujian jika
clinitest atau uji
pita juga diuji
Positif +1 sampai +3
Ketoasidosis, kelapara, diet tinggi-
protein dan rendah karbohidrat
Pemeriksaan Mikroskopik Sedimen:
Sel darah merah
Trauma pada ginjal, penyakit ginjal
(pielonefritis, glomerulonefritis,
hidronefrosis), batu ginjal, sistitis, SLE
nefritis, aspirin (berlebihan),
antikoagulan, sulfonamid, kontaminasi
menstruasi

Sel darah putih
Infeksi saluran kemih, demam, latihan
fisik berlebihan, SLE nefritis, penyakit
ginjal, gagal jantung




8

Daftar Pustaka

1. Popy, A. 2008. Sekilas Tentang Urin. Dipetik Januari 31, 2014, dari
http://aseppopy.net
2. Rifqy, A. 2008. Urinometri. Dipetik Januari 31, 2014, dari
http://arifqbio.multiply.com
3. Riswanto, 2010. Urinalisis 1. Dipetik Januari 31, 2014, dari
http://labkesehatan.blogspot.com
9