Anda di halaman 1dari 2

Apakah penetapan Hari Minggu sebagai

hari Tuhan ditetapkan oleh


Konstantin?

Stefanus Tay & Ingrid Tay
PEMBAHASAN
1. St. Barnabas (+61)
2. St. Ignatius dari Antiokhia (30-107)
3. St. Yustinus Martir (110-165)
4. Didache (70-140)
5. St. Klemens dari Aleksandria (153-217)
6. Tertullian (145-220)
7. Konstitusi para Rasul yang kudus (250-325)
Ada sejumlah orang menyangka bahwa penetapan hari Minggu sebagai hari Tuhan
yang dirayakan oleh jemaat Kristiani baru dilakukan setelah zaman Kaisar
Konstantin. Hal ini adalah pandangan yang keliru. Karena sejak dari abad pertama,
sebagaimana telah dikatakan dalam Kitab Suci, para rasul berkumpul untuk
beribadah dan memecah roti (merayakan perayaan Ekaristi) pada hari pertama
minggu yaitu pada hari Minggu (lih. Kis 2:42; 20:7; 1 Kor 10:16; 11:23-). Maka
tulisan yang menghubungkan Kaisar Konstantin sebagai penyebab tradisi Gereja
merayakan hari Tuhan pada hari Minggu tidaklah berdasar.
Memang dalam Kitab Suci perkataan Hari Tuhan tertulis hanya sekali dalam Kitab
Suci yaitu di Why 1:10. Jika penglihatan Yohanes terjadi pada hari Sabtu atau hari
Sabat maka lebih masuk akal bahwa di sana akan tertulis hari Sabat dan bukan
istilah baru ini.
1. St. Barnabas (+61)
Dan kita bergembira dengan merayakan hari kedelapan; sebab pada hari itu, Yesus
bangkit dari mati (St. Barnabas, Epistle of Barnabas 15)
2. St. Ignatius dari Antiokhia (30-107)
Kita telah melihat betapa penganut kebiasaan lama yang dahulu telah menerima
pengharapan yang baru; mereka telah tidak lagi menerapkan hari Sabat (they
have given up keeping the Sabbath) dan sebaliknya kini mengatur kehidupan
mereka dengan Hari Tuhan- [yaitu] Hari ketika kehidupan pertama mulai
menyingsing seperti fajar bagi kita, syukur kepada-Nya (Yesus) dan wafat-Nya (St.
Ignatius, Epistle to the Magnesians 9)
Biarlah semua sahabat Kristus menjaga Hari Tuhan sebagai sebuah festival, hari
Kebangkitan, [yaitu] hari utama/ ratunya semua hari [dalam sepekan] (St.
Ignatius, sebagaimana dikutip dalam The Ante Nicene Fathers: 1:63)
3. St. Yustinus Martir (110-165)
Minggu hari pertama dan Yesus Kristus Penyelamat kita di hari yang sama itu
bangkit dari mati (St. Yustinus Martir, ANF 1:168)
4. Didache (70-140)
Tetapi berkumpullah kamu di setiap hari Tuhan, dan memecah roti, dan
mempersembahkan Ekaristi; tetapi pertama-tama akuilah kesalahan-kesalahanmu,
sehingga kurbanmu dapat menjadi kurban yang murni (Didache 14:1, ANF:
7:381).
5. St. Klemens dari Aleksandria (153-217)
yang menulis menentang paham Gnosticsm, menyamakan Hari Tuhan dengan hari
kebangkitan Kristus, dengan mengatakan:
Ia, yang demi menggenapi ketentuan, menurut Injil, memelihara hari Tuhan ..
memuliakan kebangkitan Tuhan.
6. Tertullian (145-220)
mengidentifikasikan Hari Tuhan sebagai setiap hari kedelapan (Tertullian, ANF:
3:70). Hari kedelapan sendiri sama dengan hari pertama dalam Minggu (lih. Yoh
20:19, 26).
7. Konstitusi para Rasul yang kudus (250-325)
Dan pada hari kebangkitan Tuhan kita, yang adalah hari Tuhan, bertemulah dengan
lebih rajin. (Konstitusi para Rasul, ANF:7:423)
pada hari kebangkitan Tuhan, yaitu Hari Tuhan, jangan gagal, berkumpullah
kamu bersama (Ibid., 7:471)
Jadi meskipun Kaisar Konstantin memberi mandat untuk meliburkan hari Minggu
sebagai hari libur sipil (mengacu kepada Edict of Laodicea tahun 321), namun itu
tidak menjadi bukti bahwa baru pada abad ke-4 itu Gereja merayakan Hari Tuhan
pada hari Minggu. Edict itu memang telah menjadikan Minggu sebagai hari libur
secara sekular, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa sudah lama sebelumnya
Gereja telah merayakan Hari Tuhan pada hari Minggu, berdasarkan catatan para
Bapa Gereja sejak abad pertama, seperti telah dipaparkan di atas.
Sebab bahkan sejak zaman para Rasul, Rasul Paulus telah mengatakan bahwa
pelaksanaan festival bulan baru ataupun Sabat hanyalah merupakan bayangan dari
apa yang harus datang, sedang wujudnya adalah Kristus (lih. Kol 2:16-17). Maka
penggenapan pelaksanaan Sabat ada dalam puncak karya keselamatan Kristus,
yaitu kebangkitan-Nya dari kematian, yang jatuh pada hari Minggu.