Anda di halaman 1dari 33

R u p t u r G i n j a l

Page 1
BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Trauma (Ruptur) ginjal merupakan trauma pada sistem urologi yang paling sering
terjadi. Kejadian penyakit ini sekitar 8-10% dengan trauma tumpul atau trauma
abdominal. Pada banyak kasus, trauma ginjal selalu dibarengi dengan trauma organ
penting ainnya. Pada trauma ginjal akan menimbulkan ruptur berupa perubahan organik
pada jaringannya. Sekitar 85-90% trauma ginjal terjadi akibat trauma tumpul yang
biasanya diakibatkan oleh kecelakaan lalulintas.
Trauma (Ruptur) ginjal adalah kecederaan yang paling sering pada sistem urinari.
Walaupun ginjal mendapat proteksi dari otot lumbar, thoraks, badan vertebra dan
viscera, ginjal mempunyai mobiliti yang besar yang bisa mengakibatkan kerusakan
parenchymal dan kecederaan vaskular dengan mudah. Trauma sering kali disebabkan
kerana jatuh, kecelakaan lalu lintas, luka tusuk, dan luka tembak. Rupture spontan ginjal
adalah jarang. Trauma ginjal bias diklasifikasikan kepada trauma tumpul dan tajam
maupun dengan tahap kecederaan iaitu kecederaan major ataupun minor.
Trauma saluran kemih sering tak terdiagnosa atau terlambat terdiagnosa karena perhatian
penolong sering tersita oleh jejas-jejas ada di tubuh dan anggota gerak saja, kelambatan
ini dapat menimbulkan komplikasi yang berat seperti perdarahan hebat dan peritonitis,
oleh karena itu pada setiap kecelakaan trauma saluran kemih harus dicurigai sampai
dibuktikan tidak ada. Trauma saluran kemih sering tidak hanya mengenai satu organ
saja, sehingga sebaiknya seluruh sistem saluran kemih selalu ditangani sebagai satu
kesatuan. Juga harus diingat bahwa keadaan umum dan tanda-tanda vital harus selalu
diperbaiki/dipertahankan, sebelum melangkah ke pengobatan yang lebih spesifik.
Masing masing ginjal terletak pada dinding posterior abdomen yang dilindungi oleh
tiga bagian bawah. Ginjal dilindungi oleh tulang tulang iga dan otot abdomen posterior
yang kuat. Beratnya trauma pada ginjal berbeda beda, dapat terjadi kontusio, robekan
parenkim atau bahkan ruptur pedikel ginjal. Oleh karena itu cidera ginjal biasanya
diikuti dengan cidera organ organ lain yang ada disekitarnya.


R u p t u r G i n j a l

Page 2
BAB II
PEMBAHASAN
II. ANATOMI DAN FISIOLOGI GINJAL













Ginjal merupakan organ ganda yang terletak di daerah abdomen, retroperitoneal
antara vetebralumbal 1 dan 4. pada neonatus kadang-kadang dapat diraba. Ginjal terdiri dari
korteks danmedula. Tiap ginjal terdiri dari 8-12 lobus yang berbentuk piramid. Dasar piramid
terletak dikorteks dan puncaknya yang disebut papilla bermuara di kaliks minor. Pada daerah
korteksterdaat glomerulus, tubulus kontortus proksimal dan distal. .
Panjang dan beratnya bervariasi yaitu 6 cm dan 24 gram pada bayi lahir cukup
bulan, sampai12 cm atau lebih dari 150 gram. Pada janin permukaan ginjal tidak rata,
berlobus-lobus yangkemudian akan menghilang dengan bertambahnya umur.



R u p t u r G i n j a l

Page 3







Tiap ginjal mengandung 1 juta nefron (glomerulus dan tubulus yang berhubungan
dengannya ).Pada manusia, pembentukan nefron selesai pada janin 35 minggu. Nefron baru
tidak dibentuk lagi setelah lahir. Perkembangan selanjutnya adalah hipertrofi dan hiperplasia
struktur yangsudah ada disertai maturasi fungsional.
Tiap nefron terdiri dari glomerulus dan kapsula bowman, tubulus proksimal, anse
henle dantubulus distal. Glomerulus bersama denga kapsula bowman juga disebut badan
maplphigi.Meskipun ultrafiltrasi plasma terjadi di glomerulus tetapi peranan tubulus dala
pembentukanurine tidak kalah pentingnya.
Struktur Ginjal
a. Renal Capsule (Fibrous Capsule)
Tiap ginjal dibungkus dalam suatu membran transparan yang berserat yang
disebut renal capsule. Membran ini melindungi ginjal dari trauma dan infeksi. Renal
capsule tersusun dari serat yang kuat, terutama colagen dan elastin (protein berserat),
yang membantu menyokong massa ginjal dan melindungi jaringan vital dari luka.
Renal capsule menerima suplai darahnya terutama dari arteri interlobar, suatu
pembuluh darah yang merupakan percabangan dari renal arteri utama. Pembuluh
darah ini menjalar melalui cortex ginjal dan berujung pada renal capsule. Membrane
ini biasanya 2-3 milimeter tebalnya.
Renal Capsule melindungi dinding luar dan masuk melalui bagian cekung ginjal
yang dikenal dengan sinus. Sinus berisi pembuluh utama yang mengangkut urin dan
pembuluh arteri dan venna yang menyuplai jaringan dengan nutrisi dan oksigen.
Renal capsule terhubung kepada struktur ini dalam sinus dan melapisi dinding sinus.


R u p t u r G i n j a l

Page 4
Pada orang yang normal, renal capsule berwarna merah muda, tembus cahaya,
halus, dan mengkilat. Biasanya membran ini mudah dilepas dari jaringan ginjal.
Ginjal yang terkena penyakit sering membuat ikatan serat dari jaringan utamanya
kepada renal capsule, yang membuat capsule melekat lebih kuat. Sulitnya membuka
capsule ini merupakan pertanda bahwa ginjal telah terkena penyakit.

b. Renal Cortex
Renal cortex merupakan lapisan terluar ginjal. Lapisan ini terletak diantara renal
capsule dan Medulla. Bagian atas nephron, yaitu glomerulus dan Henle's loop berada
di lapisan ini. Renal cortex adalah jaringan yang kuat yang melindungi lapisan dalam
ginjal. Pada orang dewasa, renal cortex membentuk zona luar yang halus tersambung
dengan projectil (kolom kortikal) yang menjulur diantara piramid. Dalam lapisan ini
terdapat renal corpusle dan renal tubules kecuali untuk bagian dari Henle's loop yang
turun kedalam renal medulla. Renal cortex juga mengandung pembuluh darah dan
kortikal pembuluh penampung.

c. Renal Medulla (Renal Pyramids)
Renal Medulla berada dibawah Cortex. Bagian ini merupakan area yang berisi 8
sampai 18 bagian berbentuk kerucut yang disebut piramid, yang terbentuk hampir
semuanya dari ikatan saluran berukuran mikroskopis. Ujung dari tiap piramid
mengarah pada bagian pusat dari ginjal. Saluran ini mengangkut urin dari cortical
atau bagian luar ginjal, dimana urin dihasilkan, ke calyces.


R u p t u r G i n j a l

Page 5
Calyces merupakan suatu penampung berbentuk cangkir dimana urin terkumpul
sebelum mencapai kandung kemih melalui ureter. Ruang diantara piramid diisi oleh
cotex dan membentuk struktur yang disebut renal columns.
















Ujung dari tiap pyramid, yang disebut papilla, menuju pada Calyces di pusat
tengah ginjal. Permukaan papilla memiliki penampilan seperti saringan karena
banyaknya lubang-lubang kecil tempat dimana tetesan urin lewat. Setiap lubang
merupakan ujung dari sebuah saluran yang merupakan bagian dari nephron, yang
dinamakan saluran Bellini; dimana semua saluran pengumpul didalam piramid
mengarah. Serat otot mengarah dari calyx menuju papilla. Pada saat serat otot
pada calyx berkontraksi, urin mengalir melalui saluran Bellini kedalam
calyx(calyces). Urin kemudian mengalir ke kandung kemih melalui renal pelvis
dan ureter.

d. Renal Pelvis
Renal Pelvis berada di tengah tiap ginjal sebagai saluran tempat urin mengalir
dari ginjal ke kandung kemih. Bentuk renal pelvis adalah seperti corong yang
melengkung di satu sisinya.


R u p t u r G i n j a l

Page 6
Renal pelvis hampir seluruhnya dibungkus dalam lekukan dalam pada sisi
cekung ginjal, yaitu sinus. Ujung akhir dari pelvis memiliki bentuk seperti cangkir
yang disebut calyces.
Renal pelvis dilapisi oleh lapisan membran berselaput lendir yang lembab
yang hanya beberapa sel tebalnya. Membran ini terkait kepada bungkus yang lebih
tebal dari serat otot yang halus, yang dibungkus lagi dengan lapisan jaringan yang
terhubung. Membran berselaput lendir pada pelvis ini agak berlipat sehingga
terdapat ruang bagi jaringan untuk mengembang ketika urin menggelembungkan
pelvis. Serat otot tertata dalam lapisan longitudinal dan melingkar. Kontraksi
lapisan otot terjadi dengan gelombang yang bersifat periodik yang disebut gerak
peristaltis pelvis. Gerakan ini mendorong urin dari pelvis menuju ureter dan
kandung kemih. Dengan adanya pelapis pada pelvis dan ureter yang tidak dapat
ditembus oleh substansi normal dalam urin, maka dinding struktur ini tidak
menyerap cairan.

e. Vena Renal dan Arteri Renal

Dua dari pembuluh darah penting, vena renal dan arteri renal. Dua pembuluh
ini merupakan percabangan dari aorta abdominal (bagian abdominal dari arteri
utama yang berasal dari jantung) dan masuk kedalam ginjal melalui bagian cekung
ginjal.



R u p t u r G i n j a l

Page 7
Di bagian dalam pada sisi cekung dari tiap ginjal, terdapat lubang, yang
dinamakan hilum, tempat dimana arteri renal masuk. Setelah masuk melalui
hilum, arteri renal terbagi menjadi dua cabang besar, dan setiap cabang terbagi
menjadi beberapa arteri yang lebih kecil yang membawa darah ke nephron, unit
fungsional dari ginjal. Darah yang telah diproses oleh nephron akhirnya mencapai
vena renal, yang membawa darah kembali ke cava vena inferior dan ke sisi kanan
jantung.
Arteri renal mengangkut 1,2 liter darah per menit ke ginjal pada manusia
normal, suatu jumlah yang ekuivalen dengan sekitar seperempat dari output
jantung. Dengan demikian, jumlah volume darah yang sama dengan darah dalam
tubuh manusia normal dewasa, diproses dalam ginjal sebanyak satu dalam setiap
empat atau lima menit. Meskipun beberapa kondisi fisik dapat menghambat aliran
darah, terdapat mekanisme pengatur-mandiri tertentu yang terdapat pada arteri
ginjal yang memungkinkan suatu adaptasi terhadap keadaan yang berbeda.
Ketika tekanan darah tubuh naik atau turun, sensor penerima dari sistem saraf
yang terletak dalam otot halus dinding arteri terpengaruh oleh perbedaan tekanan,
dan, untuk menghilangkan kenaikan atau penurunan tekanan darah, arteri dapat
melebar atau menyempit untuk menjaga jumlah volume aliran darah.

f. Nephron




R u p t u r G i n j a l

Page 8

Fungsi ginjal yang paling penting adalah untuk membuang zat limbah dari darah.
Nephrons merupakan unit fungsional dari ginjal dalam menjalankan fungsi ini. Nephron
menghasilkan urin dalam proses membuang limbah dan zat-zat berlebihan dari darah.
Ada sekitar 1.000.000 nephron dalam tiap ginjal manusia. Struktur luar biasa ini, terletak
antara cortex dan medulla. Dibawah pembesaran, nephron terlihat seperti pembuluh atau
saluran kusut, namun tiap nephron sebenarnya memiliki susunan yang tertentu sehingga
memungkinkan proses penyaringan limbah dalam darah. Tiap nephron pada ginjal
mamalia dapat mencapai panjang 30-55 mm. pada satu ujung nefron tertutup, melebar
dan melipat membentuk struktur berbentuk cangkir berdinding dua. Struktur ini disebut
corpuscular capsule, atau Bowman's Capsule. Capsule ini membungkus glomerulus,
struktur utama nefron dalam fungsi penyaringan.








R u p t u r G i n j a l

Page 9
Struktur nefron dijelaskan secara detil dibawah ini:
Glomerulus

Glomerulus adalah filter utama dari nefron dan terletak dalam
Bowman's capsule. Glomerulus dan seluruh Bowman's capsule membentuk
renal corpuscle, unit filtrasi dasar dari ginjal. Dari Bowman capsule, keluar
pembuluh sempit, disebut proximal convoluted tubule. Tubule ini berkelok-
kelok sampai berakhir pada saluran pengumpul yang menyalurkan urin ke
renal pelvis.
Glomerulus adalah suatu jaringan yang terdiri dari pembuluh darah
yang luar biasa tipisnya yang disebur kapileri. Glomerulus membentuk saluran
berlipat yang sangat banyak tempat lewatnya darah. Glomerulus bersifat
semipermeable (dapat ditembus air), memungkinkan air dan larutan limbah
tembus dan dikeluarkan dari kapsul Bowman dalam bentuk urin. Darah yang
telah disaring keluar dari glomerulus melalui Efferent arteriole untuk menuju
ke vena intralobular melalui plexus medullary.Seluruh larutan tersaring
dihasilkan oleh glomerulus kemudian masuk ke Bowman's Capsule. Pada saat
cairan ini melewati proximal convoluted tubule, sebagian besar air dan garam
diserap kembali, sebagian larutan lain diserap seluruhnya, sebagian yang lain
hanya sebagian.



R u p t u r G i n j a l

Page 10









Glomerulus merupakan suatu bongkahan pembuluh kapiler yang diselubungi
oleh kapsul Bowman dalam nefron. Glomerulus memperoleh suplai darah dari afferent
arteriole pada sirkulasi renal. Tidak seperti pangkal dari pembuluh kapiler lainnya,
glomerulus bermuara pada efferent arteriole dan tidak pada cabang venna. Hambatan
yang diberikan oleh arteriole menghasilkan tekanan tinggi dalam glomerulus yang
membantu proses ultrafiltrasi dimana cairan dan zat-zat terlarut dalam darah dipaksa
keluar dari kapileri ke Kapsul Bowman. Angka yang menunjukkan darah yang
dibersihkan oleh seluruh glomeruli dan merupakan ukuran dari fungsi ginjal secara
keseluruhan disebut glomerular filtration rate (tingkat penyaringan glomerular).
Henle's Loop



R u p t u r G i n j a l

Page 11

Loop Henle merupakan bagian dari tubulus renal yang kemudian menjadi sangat
sempit yang menjulur jauh kebawah kapsul Bowman dan kemudian naik lagi keatas
membentuk huruf U. Di sekeliling Loop Henle dan bagian lain tubulus renal terdapat
jaringan kapiler, yang terbentuk dari pembuluh darah kecil yang bercabang dari
glomerulus.
Cairan yang masuk kedalam loop merupakan larutan yang terdiri dari garam, urea,
dan zat lain yang berasal dari glomerulus melalui proximal convoluted tubule. Pada
tubulus ini, sebagian besar komponen terlarut yang dibutuhkan tubuh, terutama
glukosa, asam amino, dan sodium bikarbonat, diserap kembali kedalam darah. Bagian
pertama dari loop, yaitu cabang yang menurun, bersifat dapat ditembus oleh air, dan
cairan yang mencapai lekukan dari loop ini jauh lebih banyak mengandung garam dan
urea dibandingkan dengan plasma darah.
Pada saat cairan mengalir naik kembali melalui pembuluh naik, sodium klorida
dikeluarkan dari pembuluh ke jaringan sekelilingnya, dimana konsentrasinya lebih
rendah. Pada bagian ketiga dari loop ini, dinding pembuluhnya apabila diperlukan
dapat membuang, bahkan dalam keadaan berlawanan dengan gradien konsentratnya,
dalam proses aktif yang memerlukan lebih banyak energi. Pada tubuh orang normal,
penyerapan kembali garam dari urin hanya dilakukan dalam keadaan konsumsi garam
yang rendah. Namun pada saat garam dalam darah tinggi, kelebihan garam ini dibuang.


R u p t u r G i n j a l

Page 12






Renal Collecting Tubule(Tubulus Pengumpul)
Disebut juga Pembuluh Bellini, suatu pembuluh kecil sempit yang panjang
dalam ginjal yang mengumpulkan dan mengangkut urin dari nefron, menuju
pembuluh yang lebih besar yang terhubunng dengan calyses ginjal. Cairan yang
berasal dari loop Henle masuk kedalam Distal Convoluted Tubule (Tubulus
Konvolusi Distal) dimana penyerapan kembali sodium berlanjut sepanjang seluruh
tubulus distal. Penyerapan kembali ini tetap terjadi hingga bagian awal dari Tubulus
pengumpul ginjal.
Setiap tubulus pengumpul memiliki panjang sekitar 20-22 mm dan
berdiameter 20-50 micron. Dinding dari tubulus tersusun dari sel dengan proyeksi
seperti rambut, lentur seperti cambuk, dalam pembuluh ini. Gerakan dari sel cambuk
ini membantu gerakan sekresi sepanjang pembuluh. Pada saat tubulus pengumpul
menjadi lebih lebar diameternya, tinggi sel ini meningkat sehingga dinding menjadi
lebih tebal.
Fungsi dari tubulus pengumpul adalah pengangkutan urin dan penyerapan air.
Telah diketahui bahwa jaringan dari medula ginjal atau bagian dalamnya,
mengandung konsentrasi sodium yang tinggi. Ketika tubulus pengumpul ini berada
pada medula, konsentrasi sodium menyebabkan dikeluarkannya air dari seluruh
dinding tubulus keluar ke medulla. Air bercampur diluar diantara sel-sel dinding
tubulus sampai konsentrasi sodium seimbang antara didalam tubulus dan diluarnya.
Pembuangan air dari larutan dalam tubulus membuat urin menjadi lebih kental dan
menghemat badan air dalam tubuh.



R u p t u r G i n j a l

Page 13
Fungsi Ginjal
1. Urinasi dan Penyaringan darah
Darah mengalir masuk ke ginjal melalui Arteri Renalis. Arteri bercabang-
cabang dan menjadi pembuluh darah yang semakin kecil, disebut arteriole, dan
akhirnya berujung pada pembuluh kapiler di glomerulus pada setiap nephron.

Darah yang mengalir ke ginjal, masuk kedalam glomerulus melalui Affarent
Arteriole. Di dalam glomerulus, darah mengalir melalui capiler yang berkelok-
kelok. Dinding pembuluh kapiler disini agak tipis, dan tekanan darah dalam
kapiler tinggi. Hal ini mengakibatkan air, bersama dengan zat-zat yang terlarut
di dalamnyaseperti garam, glukosa atau gula, asam amino, dan limbah urea dan
asam uratterdorong keluar melalui dinding kapiler yang tipis, yang kemudian
dikumpulkan di Kapsul Bowmen. Partikel yang lebih besar dalam darah, seperti
sel darah merah dan molekul protein, terlalu besar untuk melewati dinding
kapiler dan mereka tetap berada dalam aliran darah. Darah yang sudah disaring
meninggalkan glomerulus melalui Everent Arteriole yang lain, yang bercabang-
cabang membentuk suatu jaring pembuluh darah diseputar tubulus renal. Darah
kemudian keluar dari ginjal melalui vena renalis. Sekitar 180 liter (50 galon)
darah disaring oleh ginjal setiap harinya, dan sekitar 1,5 liter (1,3 qt) urin
diproduksi.


R u p t u r G i n j a l

Page 14









Produksi urin diawali dengan zat-zat yang ditinggalkan darah pada saat darah
melewati ginjalseperti air, garam, dan zat-zat lain yang dikumpulkan dari
glomerulus dalam kapsul Bowman. Cairan ini, disebut saringan glomerular,
bergerak dari kapsul Bowman melewati tubul renalis. Bersamaan dengan
mengalirnya cairan tadi sepanjang tubul renalis, jaring pembuluh darah yang
menyelubungi tubulus menyerap kembali sebagian air, garam dan semua nutrisi,
terutama glukosa dan asam amino, yang terpisah pada saat darah melewati
glomerulus. Proses penting ini, disebut penyerapan tubular, membuat tubuh kita
secara selektif memilah zat-zat yang masih diperlukan dan membuang limbah
dan racun yang tidak bergunal lagi. Pada akhirnya, sekitar 99% dari air, garam
dan nutrisi lainnya diserap kembali oleh tubuh.













R u p t u r G i n j a l

Page 15
Pada saat ginjal melakukan proses penyerapan kembali nutrisi yang masih
dibutuhkan dari saringan glomerular, ginjal melakukan suatu pekerjaan yang
berlawanan, yang disebut sekresi tubular. Dalam proses ini, zat-zat yang sudah
tidak dibutuhkan dari kapiler yang menyelubungi nephron dimasukan dalam
saringan glomerular. Zat-zat ini termasuk partikel bermuatan yang disebut ion,
termasuk ion ammonium, ion hydrogen, dan potassium.
Ketiga proses ini, saringan glomerular, penyerapan tubular dan sekresi tubular;
yang kemudian menghasilkan urine, yang mengalir menuju tubulus pengumpul
urin. Tubulus pengumpul ini mengalirkan urin ke tubulus mikro pada piramida
ginjal. Urin kemudian disimpan dalam sebuah kamar dalam ginjal dan akhirnya
dialirkan ke ureter, suatu saluran panjang dan sempit yang berakhir di kandung
kemih. Dari sekitar 180 liter darah yang disaring ginjal setiap hari,
menghasilkan sekitar 1,5 liter urine.
2. Pengatur Kadar Air Dalam Darah.
Fungsi penting lain ginjal adalah untuk mengatur jumlah kandungan air dalam
darah. Proses ini dipengaruhi oleh antidiuretic hormone (ADH), yang disebut
juga vasopressin, yang diproduksi di hipotalamus (bagian otak yang mengatur
banyak fungsi internal) dan menyimpannya dalam kelenjar pituari yang terletak
didekatnya. Receptor di dalam otak memonitor kandungan air dalam darah.
Ketika kadar garam dan zat-zat yang lain dalam darah menjadi terlalu tinggi,
kelenjar pituari melepaskan ADH kedalam aliran darah.
Darah yang mengandung ADH dari otak mengalir dan masuk kedalam ginjal.
ADH membuat tubulus renal dan pembuluh pengumpul menjadi lebih mudah
ditembus oleh larutan dan air. Hal ini menyebabkan lebih banyak air diserap
kembali dalam aliran darah. Dilain sisi, ketiadaan ADH membuat pembuluh
pengumpul tidak dapat ditembus oleh larutan dan air, sehingga cairan dalam
pembuluh, dimana sebagian larutan telah dibuang, tetap banyak mengandung air;
urin menjadi encer.
3. Pengatur Tekanan Darah
Pengaturan tekanan darah berhubungan erat dengan kemampuan ginjal untuk
mengeluarkan cukup sodium chloride (garam) untuk memelihara jumlah sodium
yang normal, volume cairan extraselular dna volume darah. Penyakit ginjal
merupakan penyebab utama hipertensi tipe kedua. Bahkan gangguan kecil dalam


R u p t u r G i n j a l

Page 16
fungsi ginjal memainka peran besar pada sebagian besar (jika tidak semua) kasus
tekanan darah tinggi dan menaikkan cedera pada ginjal. Cedera ini akhirnya dapat
menyebabkan darah tinggi berat, stroke atau bahkan kematian.
Pada orang normal, ketika mengkonsumsi banyak sodium klorida, tubuh
menyesuaikan. Tubuh mengeluarkan lebih banyak sodium klorida tanpa
menaikkan tekanan pembuluh arteri. Namun demikian, banyak pengaruh dari luar
yang mengurangi kemampuan ginjal untuk mengeluarkan sodium. Jika ginjal
tidak cukup mampu untuk mengeluarkan garam dengan asupan garam normal
atau tinggi, mengakibatkan tejadinya peningkatan kronis volume cairan
extraselular dan peningkatan volume darah. Hal ini memicu terjadinya tekanan
darah tinggi. Ketika terjadi peningkatan kadar hormon dan neurotransmitter yang
menyebabkan pembuluh darah menyempit, bahkan kenaikan kecil volume darah
menjadi berbahaya. (Hal ini disebabkan karena kecilnya ruang pembuluh darah
tempat darah dipaksa untuk mengalir). Meski peningkatan tekanan arterial
membuat ginjal mengeluarkan lebih banyak sodium (yang memperbaiki
keseimbangan sodium), tekanan yang lebih tinggi dalam arteri mungkin terjadi.
Hal ini memperlihatkan hubungan antara penyakit ginjal dan tekanan darah
tinggi.
Hormone aldosterone yang dihasilkan oleh kelenjar adrenalin, berinteraksi
dengan ginjal untuk mengatur kandungan sodium dan potasium dalam darah.
Aldosteron dengan jumlah yang banyak menyebabkan nefron menyerap kembali
ion sodium lebih banyak, air, dan lebih sedikit ion potasium. Sedikit aldosteron
menyebabkan efek sebaliknya. Respon ginjal terhadap aldosterone membantu
menjaga kadar garam dalam darah pada batas yang sempit yang terbaik bagi
aktivitas fisik dasar.
Aldosterone juga membantu mengatur tekana darah. Ketika tekanan darah
mulai turun, ginjal melepaskan enzim (protein khusus) yang disebut renin, yang
mengubah protein darah menjadi hormon angiotensin. Hormon ini menyebabkan
pembuluh darah mengerut sehingga terjadi kenaikan tekanan darah. Angiotensin
kemudian mempengaruhi kelenjar adrenalin untuk melepas aldosterone, yang
menyebabkan sodium dan air diserap kembali dan menaikkan volume darah dan
tekanan darah.




R u p t u r G i n j a l

Page 17
4. Menjaga Keseimbangan Kadar Asam dalam Tubuh
Ginjal juga menyesuaikan keseimbangan kadar asam dalam tubuh untuk
mencegah kelainan darah seperti acidosis atau alkalosis, keduanya melumpuhkan
fungsi sistem saraf pusat. Jika darah terlalu asam, dimana terlalu banyak terdapat
ion hidrogen, ginjal menyerap ion ini kedalam urin melalui proses sekresi tubular.
5. Penghasil Hormon
a) Erythropoietin
Beberapa hormone dihasilkan oleh ginjal. Salah satunya, Erythropoietin,
mempengaruhi produksi sel darah merah dalam sumsum tulang. Ketika ginjal
mendeteksi bahwa jumlah sel darah merah dalam tubuh berkurang, ginjal
memproduksi eritropoitin. Hormon ini berjalan dalam aliran darah ke sumsum
tulang, merangsang produksi dan pelepasan lebih banyak sel darah.
Erythropoietin adalah glikoprotein. Hormon ini bekerja pada sumsum tulang
untuk meningkatkan produksi sel darah merah. Stimuli seperti pendarahan atau
pergi ke tempat ketinggian (dimana oksigen tipis) memicu pelepasan EPO.
Orang yang mengalami gagal ginjal dapat tetap hidup dengan dialisis. Tetapi
dialisis hanya membersihkan darah dari limbah. Tanpa sumber EPO, orang ini
akan menderita anemia. Sekarang, berkat teknologi rekombinan DNA,
rekombinan EPO manusia telah tersedia untuk mengobati pasien ini.
Karena EPO meningkatkan hematocrit, ini menyebabkan lebih banyak
oksigen mengalir ke otot kerangka. Sebagian pembalap sepeda dan pelari jarak
jauh menggunakan rekombinan EPO untuk meningkatkan performa mereka.
Walau rekombinan EPO memiliki sekuen yang persis sama dengan asam amino
sebagai hormon alami, zat gula yang dilekatkan oleh sel yang digunakan oleh
industri farmasi berbeda dengan yang dilekatkan oleh sel pada ginjal manusia.
Perbedaan ini dapat dideteksi pada urin atlet.
Kekurangan oksigen dalam jangka waktu lama (seperti hidup di pegunungan)
menyebabkan meningkatnya sintesis EPO. Pada tikus, dan mungkin pada
manusia, efek ini dipicu oleh kulit. Sel kulit tikus dapat mendeteksi kadar
oksigen yang rendah (hypoxia) dan jika hal ini berlangsung terus, darah yang
mengalir ke ginjal akan semakin berkurang dan menyebabkan meningkatnya
sintesa EPO oleh ginjal.
Belum lama ini ditemukan bahwa EPO juga disintesa oleh otak ketika terjadi
kekurangan oksigen di otak (seperti terkena stroke), dan membantu melindungi


R u p t u r G i n j a l

Page 18
neuron dari kerusakan. Mungkin rekombinan EPO manusia dapat berguna untuk
korban stroke juga.
b) Calcitriol
Calcitriol adalah 1,25[OH]2 Vitamin D3, bentuk aktif dari vitamin D.
Calcitriol diperoleh dari calciferol (vitamin D3) dari makanan yang dikonsumsi,
yang kemudian disintesa oleh kulit yang terkena sinar ultraviolet dari cahaya
matahari pagi hari. Calciferol dalam darah dirubah menjadi vitamin aktif dalam
dua langkah:
- Calciferol dirubah dalam liver menjadi 25[OH] vitamin D3 kemudian
dibawa ke ginjal (terikat ke serum globulin) dimana selanjutnya dirubah
menjadi calcitriol.
- Langkah terakhir ini dibantu oleh hormon parathyroid (PTH)
Calcitriol bekerja dalam sel usus untuk membantu penyerapan kalsium dalam
makanan. Calcitriol bekerja pula dalam tulang untuk memobilisasi calcium dari
tulang kedalam darah. Calcitriol masuk kedalam sel, jika sel tersebut
mengandung reseptor untuknya (sel usus memiliki reseptor tersebut), hormon ini
kemudian terikat pada reseptor tersebut. Reseptor Calcitriol merupakan faktor
transkripsi zinc-finger (lipatan berbentuk jari dari asam amino dan ion zinc,
yang ditemukan di bagian molekul protein yang terikat pada DNA dan RNA) a
finger-shaped fold of amino acids plus a zinc ion that is found in regions of
protein molecules that bind to DNA and RNA. Kekurangan calcitriol
mengakibatkan terkumpulnya kalsium di tulang menjadi terhambat.
Pada masa kanak-kanak, hal ini mengakibatkan kelainan bentuk tulang atau
rakitis. Pada orang dewasa, mengakibatkan kelemahan tulang dan menyebabkan
osteomalacia. Penyebab yang paling sering adalah kurangnya jumlah vitamin
dalam makanan atau kurang terkena paparan sinar matahari. Namun demikian,
suatu kasus yang disebabkan karena faktor keturunan timbul menjadi penyebab
dengan mewariskan dua gen mutan untuk enzim ginjal yang mengubah 25[OH]
vitamin D3 menjadi calcitrio. Kasus yang lain rakitis yang diakibatkan faktor
keturunan (juga sangat jarang) adalah dengan mewariskan dua gen cacat pada
reseptor calcitriol. Mutasi yang merubah asam amino pada satu atau yang
lainnya dari pengaruh zinc-finger dengan pengikatan kepada DNA elemen
penerima.



R u p t u r G i n j a l

Page 19
III. RUPTUR GINJAL

A. Definisi
Trauma ginjal adalah kecederaan yang paling sering pada sistem urinari. Walaupun
ginjal mendapat proteksi dari otot lumbar, thoraks, badan vertebra dan viscera, ginjal
mempunyai mobiliti yang besar yang bisa mengakibatkan kerusakan parenchymal dan
kecederaan vaskular dengan mudah. Trauma sering kali disebabkan kerana jatuh,
kecelakaan lalu lintas, luka tusuk, dan luka tembak.
Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai macam
rudapaksa baik tumpul maupun tajam.
B. Epidemiologi
Laju mortalitas dan morbiditas trauma (ruptur) ginjal bervariasi tergantung dari beratnya
trauma yang terjadi, derajat trauma yang mengenai organ lainnya dan rencana
pengobatan yang digunakan. Oleh karena itu, pilihan penanganan harus
mempertimbangkan angka mortalitas dan morbiditas. Secara keseluruhan, dengan
tekhnik penanganan modern, laju pemeliharaan ginjal mencapai 85-90%.
C. Insidensi
Frekuensi terjadinya trauma ginjal tergantung pada populasi pasienya. Jumlah trauma
(ruptur) ginjal kira-kira 3% dari keseluruhan jenis trauma dan 10% dari pasien tersebut
masuk dalam trauma abdominal.
Pada anak-anak, umumnya lebih mudah terjadi rupture ginjal, terkaitdengan ukuran
ginjal anak yang relatif besar, lebih bersifat mobile dan perirenal fat yang minim
Trauma (ruptur) ginjal merupakan trauma urologi yang paling sering terjadi, terjadi 8-
10% dari pasien dengan disertai trauma pada abdomen. Dari penelitian Baverstock
(2001) dan Sagalowsky (1983) trauma tumpul merupakan penyebab terbanyak dengan
jumlah sebesar 80% dari trauma ginjal. Di antara pasien dengan hematuria, tercatat
trauma ginjal sebesar 25%; dimana kurang dari 1% pasien dengan mikrohematuria yang
memiliki trauma ginjal.


R u p t u r G i n j a l

Page 20
D. Etiologi
Cedera ginjal dapat terjadi secara (1) langsung akibat benturan yang mengenai daerah
pinggang atau (2) tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan
ginjal secara tiba-tiba di dalam rongga retroperitonium. Goncangan ginjal di dalam
rongga retroperitonium menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan
robekan tunika intima arteri renalis. Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-
bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan trombosis arteri renalis beserta
cabang-cabangnya. Cedera ginjal dipermudah jika sebelumnya sudah ada kelainan pada
ginjal, antara lain hidronefrosis
Ada 3 penyebab utama dari trauma ginjal , yaitu
1. Trauma tajam seperti tembakan dan tikaman pada abdomen bagian atas atau
pinggang merupakan 10 20 % penyebab trauma pada ginjal.
2. Trauma iatrogenik pada ginjal dapat disebabkan oleh tindakan operasi atau radiologi
intervensi, dimana di dalamnya termasuk retrograde pyelography, percutaneous
nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy. Dengan semakin meningkatnya
popularitas dari teknik teknik di atas, insidens trauma iatrogenik semakin meningkat
, tetapi kemudian menurun setelah diperkenalkan ESWL. Biopsi ginjal juga dapat
menyebabkan trauma ginjal .
3. Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Trauma tumpul
ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma
ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain.
Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan
pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat
menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang
menimbulkan trombosis.





R u p t u r G i n j a l

Page 21













Trauma ginjal deselerasi Trauma ginjal tumpul
Ada beberapa faktor yang turut menyebebkan terjadinya trauma ginjal. Ginjal yang
relatif mobile dapat bergerak mengenai costae atau corpus vertebrae, baik karena trauma
langsung ataupun tidak langsung akibat deselerasi. Kedua, trauma yang demikian dapat
menyebabkan peningkatan tekanan subcortical dan intracaliceal yang cepat sehingga
mengakibatkan terjadinya ruptur. Yang ketiga adalah keadaan patologis dari ginjal itu
sendiri. Sebagai tambahan, jika base line dari tekanan intrapelvis meningkat maka
kenaikan sedikit saja dari tekanan tersebut sudah dapat menyebabkan terjadinya trauma
ginjal. Hal ini menjelaskan mengapa pada pasien yang yang memiliki kelainan pada
ginjalnya mudah terjadi trauma ginjal.
E. PATOFISIOLOGI

Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya
pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat
kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat.
Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung
biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian.
Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain.


R u p t u r G i n j a l

Page 22
Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan
ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum.
Ruptur ginjal adalah robek atau koyaknya jaringan ginjal secara paksa.
Goncangan ginjal di dalam rongga retroperitoneum menyebabkan regangan pedikel
ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis. Robekan ini akan
memicu terbentuknya bekuan-bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan
trombosis arteri renalis beserta cabang-cabangnya.
Cedera ginjal dapat dipermudah jika sebelumnya sudah ada kelainan pada ginjal,
antara lain hidronefrosis, kista ginjal, atau tumor ginjal.
Menurut derajat berat ringannya kerusakan pada ginjal, trauma ginjal dibedakan
menjadi: (1) cedera minor, (2) cedera major, (3) cedera pedikel atau pembuluh darah
ginjal.

Terdapat dua penggolongan derajat pada ruptur ginjal yaitu sebagai berikut.
Tabel 1. Kalsifikasi trauma/cedera ginjal

Klasifikasi pencitraan Federle Klasifikasi AAST (American Associate
of Surgery)
Kategori Tingkat cedera Derajat Tingkat cedera
I



II



III


IV
MINOR
Kontusi
Laserasi korteks
(tidak meluas ke calyx)
MAJOR
Laserasi korteks
(meluas ke calyx)
Ruptur ginjal
CATHATROPHIC
Trauma sampai ke pedikulus
ginjal
SHATTERED KIDNEY
Perlukaan sampai di pelviureteric
junction
1

2

Kontusio dan/atau
hematoma subkapsular
Laserasi korteks < 1 cm,
tidak sampai kaliks
3 Laserasi korteks > 1 cm,
tidak sampai kaliks
4 Laserasi korteks hingga
corticomedullary junction
atau hingga collecting
system
5 Cedera arteri atau vena
renalis disertai perdarahan
Avulsi pedikel ginjal
Ginjal terbelah (shattered
kidney)



R u p t u r G i n j a l

Page 23
Namun klasifikasi yang paling sering digunakan dalam pencitraan adalah
klasifikasi Federle. Sistem Federle mengkategorikan cedera ginjal menjadi empat
kelompok (minor, mayor, catastrophic, dan pelviureteric junction injuries).


Gambar 1. Klasifikasi cedera ginjal (menurut AAST)
(18)
F. Tanda dan Gejala
GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis yang ditunjukkan oleh pasien trauma ginjal sangat bervariasi
tergantung pada derajat trauma dan ada atau tidaknya trauma pada organ lain yang
menyertainya. Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri di daerah
pinggang, terlihat jejas berupa ekimosis, dan terdapat hematuria makroskopik ataupun
mikroskopik.
Derajat cedera pada ginjal tidak selalu berbanding lurus dengan parah tidaknya
hematuria yang terjadi; hematuria makroskopik dapat terjadi pada trauma ginjal yang
ringan dan hanya hematuria ringan pada trauma mayor.
Pada trauma mayor atau rupture pedikel sering kali pasien datang dalam keadaan
syok berat dan terdapat hematoma di daerah pinggang yang makin lama makin
membesar. Dalam keadaan ini mungkin pasien tidak sempat menjalani pemeriksaan IVP


R u p t u r G i n j a l

Page 24
karena usaha untuk memperbaiki hemodinamik seringkali tidak membuahkan hasil
akibat perdarahan yang keluar dari ginjal cukup banyak. Untuk itu harus segera
dilakukan eksplorasi laparatomi untuk menghentikan perdarahan.
Patut dicurigai adanya cedera pada ginjal jika terdapat:
a. Trauma di daerah pinggang, punggung, dada sebelah bawah, dan perut bagian
atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah itu
b. Hematuria
c. Fraktur costa bawah (T8-12) atau fraktur prosessus spinosus vertebra
d. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang
e. Cedera deselarasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu
lintas
f. Distensi abdomen
g. Takikardi
h. Hipotensi
G. Pemeriksaan Diagnostik
GAMBARAN RADIOLOGI
Adapun indikasi untuk dilakukan pemeriksaan radiologi adalah apabila ditemukan
tanda-tanda sebagai berikut:
Luka tembus dengan hematuria
Trauma tumpul dengan hematuria dan hipotensi
Hematuria mikroskopik dengan peritoneal lavage (+)
Trauma tumpul yang berhubungan dengan perlukaan ginjal (kontusio/hematoma di
daerah pinggang, fraktur costa bagian bawah, dan fraktur vertebra thoracolumbal)
A. Foto Konvensional
Pemeriksaan Intra Venous Urography (IVU) mungkin akan berguna pada
kasus ruptur ginjal.
Gambaran yang terlihat adalah pembengkakan pada ginjal, kontras yang
ekstravasasi keluar, tampakan massa perdarahan juga bisa terlihat, serta tampak
kelainan ekskresi jika dibandingkan dengan ginjal sebelah.
Apabila terdapat dugaan jumlah produksi urin yang sedikit, IVU dapat
menemukan letak kelainan dan mengestimasi jumlah kehilangan cairan tersebut.
Namun, walaupun IVU sangat mudah dan banyak digunakan, harus diingat bahwa


R u p t u r G i n j a l

Page 25
IVU memberikan ekspose radiasi yang cukup tinggi sehingga harus
dipertimbangkan jika ingin dilakukan pada anak-anak. IVU juga harus
diperhatikan pemakaiannya pada orang-orang dengan gangguan fungsi ginjal,
neuropati, dan alergi yang mungkin akan sangat berbahaya jika menerima ekspose
radiasi.
(12)











Gambar 4. Gambar radiografi ruptur ginjal spontan. (a) psoas line kiri terlihat normal
(panah hitam), psoas line kanan tidak terlihat (panah merah). (b,c) IVU diambil pada
menit ke-15 dan 45, terlihat ekstravasasi meluas di peripelvis dan perirenal

B. Ultrasonografi (USG)
Tingkat keparahan pada trauma ginjal sangat beraneka ragam, oleh karena
itu terdapat kemungkinan terdeteksi dengan USG. Ada keadaan dimana ruptur
ginjal disebabkan oleh trauma langsung, sehingga akan didapatkan darah dan/atau
urin yang mengalami ekstravasasi ke perinephric space. Cairan-cairan tersebutlah
yang akan diidentifikasi oleh ultrasound. Jika terdapat urin maupun hematoma
yang banyak dapat dilakukan drainase secara percutaneus.
Penggunaan USG Doppler berwarna juga dapat sangat berguna untuk
mendiagnosis ruptur ginjal. Pada pemeriksaan USG Doppler, akan terlihat seperti
semburan (jet effect) pada bagian sisi ginjal yang ruptur ketika ada sedikit
kompresi oleh urinoma.


R u p t u r G i n j a l

Page 26

Gambar 5. Penampakan ruptur ginjal spontan. (a,b) terlihat defek berdiameter 4.5 mm
pada pelvis renali. (c) penampakan USG Doppler berwarna, terlihat aliran warna pada
ginjal yang berhubungan dengan kompresi oleh urinoma

C. CT-Scan
Sejauh ini CT-Scan adalah modalitas yang paling baik untuk melihat
gambaran ruptur ginjal karena informasi yang diberikan berkaitan dengan
morfologi dan fungsional ginjal bisa didapatkan dalam satu kali pemeriksaan saja.

Pada pasien dengan trauma abdomen, pemeriksaan CT-scan lebih baik
digunakan untuk mengidentifikasi jenis dan luas perlukaan dan juga lebih
bermanfaat untuk melihat organ retroperitoneum, khususnya ginjal.
Gambaran yang mungkin didapatkan pada ruptur ginjal adalah memar atau
kontusi ginjal, umunya muncul sebagai gambaran zona focal yang kurang
penyangatannya karena ekskresi tubular yang terganggu sementara. Jika terdapat
Hematoma intrarenal akan muncul sebagai area yang termarginasi sangat tipis
tanpa penyangatan. Untuk Hematoma subscapular biasanya memperlihatkan
bentuk lentikular sesuai dengan displacement yang terjadi pada korteks renalis.
Jika terdapat perdarahan minor, sisa pendarahan ekstrarenal akan tertahan pada
perirenal space dan meluas ke kompartemen-kompartemen retroperitoneal yang
saling berdekatan. Laserasi ginjal akan terlihat sebagai sebuah garis atau bentuk
irisan (wedge-shape) yang hipodens. Shattered kidney adalah laserasi
mengelilingi ginjal menghasilkan multiple fragmen.


R u p t u r G i n j a l

Page 27

Gambar 6. Tampak ruptur renal bilateral pada pemeriksaan CT-scan potongan axial

Gambar 7. Tampak hematoma mengelilingi ginjal kiri dan ekstravasasi material
kontras mengindikasikan ruptur renal


Gambar 8. Kontusio renalis dengan hematoma subcapsular


R u p t u r G i n j a l

Page 28

Gambar 9. Hematoma perinephric dan laserasi korteks renal <1 cm tanpa ekstravasasi
urin

Gambar 10. Laserasi korteks renal >1 cm, tanpa disertasi ruptur pada collecting system
atau ekstravasasi urin

Gambar 11. Laserasi corticomedullary juction, cellecting system renal dan infark
segmental, oleh karena trombosis ataupun laserasi pembuluh darah renalis


R u p t u r G i n j a l

Page 29

Gambar 12. Shattered kidney, avulsi ureteropelvic junction, dan laserasi atau trombosis
arteri dan vena renalis

D. MRI
Sebenarnya CT-scan adalah modalitas utama untuk menilai kasus hematuria
pada trauma abdomen akut. Walaupun hasil penelitian pada binatang
membuktikan bahwa MRI mempunyai keakuratan yang sama bahkan lebih
dibandingkan CT-scan, peralatan MRI ini kurang tersedia dimana-mana, serta
membutuhkan waktu yang lebih lama. Seperti halnya CT-scan, pada MRI juga
dapat terlihat ekstravasasi kontras, bahkan mampu membedakan hematoma
perirenal dan intrarenal.














Gambar 13. Gambar Hematoma Perinephric seorang dengan trauma tendangan pada
punggung. (A,B) Penekanan pada coronal fat (C) Tampak soft tissue di bagian
subscapular ginjal kiri
.


R u p t u r G i n j a l

Page 30
H. LABORATORIUM
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah urinalisis. Pada
pemeriksaan ini diperhatikan kekeruhan, warna, pH urin, protein, glukosa dan sel-sel.
Hematuria makroskopik atau mikroskopik seringkali ditemukan pada pemeriksaan ini.
Jika hematuria tidak ada, maka dapat disarankan pemeriksaan mikroskopik. Meskipun
secara umum terdapat derajat hematuria yang dihubungkan dengan trauma traktus
urinarius, tetapi telah dilaporkan juga kalau pada trauma (ruptur) ginjal dapat juga tidak
disertai hematuria. Akan tetapi harus diingat kalau kepercayaan dari pemeriksaan
urinalisis sebagai modalitas untuk mendiagnosis trauma ginjal masih didapatkan
kesulitan.
Pemeriksaan lab pada perdarahan
Untuk skrinning test ada 5 :
AT (hitung trombosit) : untuk mengetahui defect kuantitas
BT (bleeding time) : untuk mengecek kuantitas dan kualitas trombosit. Apakah ada
gangguan agregasi dan adhesi
CT (clotting time) : waktu yang dibutuhkan untuk membentuk sumbat yang
sempurna.
PPT (plasma protrombin time) : untuk melihat defect jalur koagulasi ekstrinsik dan
memonitor antikoagulan oral warfarin.
APTT (activated partial tromboplastin time) : untuk cek jalur intrinsic dan
memonitor antikoagular heparin.
TAT (tes agregasi trombisit) : dengan menggunakan sampel plasma trombosit.
Trombosit dipapar dengan aggregator untuk memicu agregasi. Kemudian disinari
dengan spektofotometer. Jika makin banyak agregasi, sinar yang dihantarkan akan
makin banyak. Sehingga bisa menilai kemampuan agregasi.
Fibrinogen : tes utk cek proses fibrinolisis. Jika fibrinolisis teraktivasi, FDP akan
meningkat.
I. PENATALAKSANAAN
1. Non-Operatif dan Konservatif
Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. Pada keadaan ini dilakukan
observasi tanda-tanda vital (tensi, nadi, suhu tubuh), kemungkinan adanya
penambahan massa di pinggang, adanya pembesaran lingkaran perut, penurunan
kadar hemoglobin darah, dan perubahan warna urin pada pemeriksaan urine serial.


R u p t u r G i n j a l

Page 31
2. Operatif
Penanganan operatif pada ruptur ginjal ditujukan pada trauma ginjal mayor dengan
tujuan untuk segera menghentikan perdarahan. Selanjutnya, mungkin dilakukan
debridement, reparasi ginjal (berupa renorafi atau penyambungan vaskuler) atau
tidak jarang harus dilakukan nefrektomi parsial bahkan nefrektomi total karena
kerusakan ginjal yang sangat berat

J. Prognosis
Dengan follow-up yang dilakukan secara hati-hati, kebanyakan kasus ruptur ginjal
memiliki prognosis yang baik, dengan proses penyembuhan yang berlangsung secara
spontan dan mengembalikan fungsi ginjal. Pengawasan terhadap excretory urography
dan tekanan darah juga dapat menjamin deteksi dan manajemen yang tepat akan kejadian
hidronefrosis dan hipertensi.

K. Komplikasi
Komplikasi tercepat terjadi dalam 4 minggu setelah trauma dan termasuk ekstravasasi
urin dan bentuk urinoma, yang disertai perdarahan, infeksi urinoma dan abses perinefrik,
sepsis, fistula arteriovenous, pseudoanerysma dan hipertensi.
Komplikasi yang lama termasuk hironefrosis, hipertensi, bentuk kalkulus, dan
pyelonefritis kronik. Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Husman dan Moris
didapatkan bahwa komplikasi lebih banyak ditemukan pada pasien yang devaskularisasi
dibandingkan dengan pasien yang vaskularisasi.
Komplikasi infeksi pada sistem urinari dan abses perinefrik umumnya didapatkan pada
pasien yang belum dilakukan pembedahan.







R u p t u r G i n j a l

Page 32
BAB III
KESIMPULAN

Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai macam trauma baik
tumpul maupun tajam sehingga hal tersebut akan mudah terjadinya rupture pada ginjal.
Cedera ginjal dapat terjadi secara langsung akibat benturan yang mengenai daerah pinggang
atau tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan ginjal secara tiba-
tiba di dalam rongga retroperitonium. Goncangan ginjal di dalam rongga retroperitonium
menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri
renalis.
















R u p t u r G i n j a l

Page 33
DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W. A. Newman. Kamus Kedokteran Dorland 29thEdition. Jakarta:EGC; 2000.
Gayton. Arthur dll. 2008. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC

Price, Sylva A. 2005. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit Edisis ke-6.
Jakarta:EGC

Purnomo, Basuki.B. 2003. Dasar-dasar urologi. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Sagungseto.

R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Buku ajar Ilmu bedah. Jakarta: EGC; 2013.

Sudoyo, Aru dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4 Jilid 1. Jakarta Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

http://www.experianzadoctor.blogspot.com/2010/04/trauma-ginjal.html diakses tanggal 15 April
2014.
http://www.scribd.com/doc/187778708/Makalah-Anatomi-Fisiologi-Ginjal, diakses tanggal 15
April 2014.