Anda di halaman 1dari 13

pertanyaan yang juga terbanyak ditanyakan pasien saat saya mulai praktek sampai

sekarang adalah kenapa gigi goyang walaupun gak ada yang bolong terlihat lebih
panjang, gusi mudah berdarah dan bau mulut.
nah kali ini aku mau ngebahas masalah itu nih. karena banyak banget yang nanya.
mudah2an banyak yang sering buka2 web tentang ini.
gigi goyang walaupun gak ada yang bolong terlihat lebih panjang, gusi
mudah berdarah dan bau mulut di sebabkan oleh beberapa factor salah
satunya adalah calculus atau karang gigi. untuk penyebab lainnya
adalah penyakit kencing manis atau gula atau diabetes meilitus
gimana nih bisa jadi begitu
karang gigi atau calculus terjadi akibat penumpukan plak dan sisa makanan yang
mengalami proses pengapuran sehingga membatu menempel erat pada gigi. bisa
masuk ke dalam sulcus gingiva. nahhh sulcus gingiva itu adalah gusi yang engga
melekat pada gigi seperti gambar di atas.
karang gigi yang menahun terus bertumpuk dan akhirnya kumannya merusak tulang
alveolar (tulang penyangga gigi) sehingga tulang menyusut. saat tulang menyusut
tentunya gigi jadi tidak tersangga dengan baik lagi jadinya goyang deh
saat karang gigi sudah masuk demikian dalam maka struktur gingiva (gusi) juga
sudah tidak sehat, maka gusi berwarna merah menyala tidak merah muda lagi
(normal). karang gigi penuh dengan kuman, mangkanya tubuh mengirimkan sel2
pertahanan tubuh yang ada di darah untuk mengahncurkan kuman itu. saat tubuh
mengirimkan sel2 tsb pembuluh darah membesar sehingga saat menyikat gigi
walaupun dengan gerakan yang lembut gusi mudah berdarah.
saat perdarahan bercampur dengan karang gigi yang penuh kuman, mulut akan
beraroma busuk.
nah gimana sih caranya supaya keadaan di atas bisa dicegah dan bagaimana
pengobatannya kalau hal ini sudah terjadi???

karang gigi
pertama konsul ke dokter gigi., perawatan utamanya adalah scaling dan kuretase
(pembersihan karang gigi sampai ke dalam akar gigi), kedua adalah menyikat gigi
dengan benar. jika gigi sudah goyang skala derajat 2 mendekati 3 akan dilakukan
splinting (pengikatan) gigi yang goyang ke gigi tetangganya. atau sampai ke tindakan
xtrem seperti bedah flap (pembukaan gusi dan tulang) untuk memperbaiki keadaan
tulang yang rusak.
untuk lebih jelas dan lengkap sila dibuka link terkait periodontitis di blog ini juga:
1. halitosis
2. menyikat gigi
3. gusi berdarah
okeh demikian semoga ada manfaatnya yah. oya kalo ke drg terus memang tidak ada
penyebab dari dalam rongga mulut, segeralah konsultasi dengan dokter umum
kemungkinan ada penyebab dari gangguan sistemik tubuh.
salam gigi :D






Cabut Gigi, Diabetes dan Gigi Goyang
Pukul 10.30 wib datang seorang ibu dan anak perempuannya ke tempat saya bertugas, di sebuah Pusat
Kesehatan Masyarakat yang terletak di salah satu kecamatan pinggiran kabupaten Tangerang. Saat
namanya dipanggil oleh seorang siswa yang sedang PKL di puskesmas kami, ibu itu masuk dan dengan
sopannya memberi salam pada kami. Setelah menjawab salamnya, teman sejawat saya mempersilahkan
ibu tersebut masuk dan duduk di kursi gigi.
Sesaat kemudian teman sejawat saya bertanya,
Kenapa giginya, Bu?
Belum ibu itu menjawab, saya sempatkan melirik rekam medisnya. Hanya ada data pribadi karena ibu
tersebut baru pertama kali berkunjung ke Puskesmas kami.
Hj. Rosmalani, usia 50 tahun. Itu sebagian data yang tertera pada rekam medisnya.
Dok, saya ingin cabut gigi. Bisa, kan? tanya ibu Rosmalani.
Kenapa mau dicabut, Bu? Teman sejawat saya yang memeriksa beliau kembali bertanya.
Pada sakit Dok. Pada goyang, sang ibu menjawab singkat.
Saya periksa dulu ya Bu? teman sejawat saya menimpali.
Setelah diamati, gigi geliginya banyak yang goyang. Teman sejawat saya pun kembali bertanya,
Apa ada riwayat kencing manis, Bu?
Awalnya ibu Rosmalani diam saja. Tapi anak gadisnya yang bernama Sarah menjawab,
Iya Dok. Ibu diabetes.
Kemudian Sarah bertanya pada saya dan teman sejawat saya,
Dok, kenapa gigi ibu banyak yang goyang padahal tidak berlubang?. Apa ada hubungannya dengan
Diabetes?
Teman sejawat saya mengangguk. Saya melemparkan senyum dan anggukan, pada Sarah putri ibu Hj.
Rosmalani.
******************
Sengaja saya ulang di sini percakapan singkat kami dengan tamu kami siang tadi. Saya hanya ingin sedikit
berbagi dengan para sahabat di sini. Saya ingin sedikit mengulas pertanyaan putri ibu Rosmalani.
Saya kutip kembali pertanyaannya,
Dok, kenapa gigi ibu banyak yang goyang padahal tidak berlubang? Apa ada hubungannya dengan
Diabetes?
Buat saya itu pertanyaan bagus sekali. Kami pun sarankan ibu Rosmalani periksa gula darahnya di
laboratorium. Dan hasilnya memang benar. Gula Darah Sesaat (GDS) ibu Rosmalani lebih dari 250 mg/dl.
**************
Diabetes mellitus adalah salah satu penyakit kronis yang sudah tidak asing lagi kita dengar. Kalangan
tertentu menyebutnya sakit kencing manis. Penyakit ini terjadi karena berkurangnya kadar hormon insulin
dalam darah yang dihasilkan oleh pankreas sehingga kadar gula dalam darah menjadi tinggi.
Penderita diabetes memiliki gejala yang khas dan mudah dikenali, antara lain:
1. Poliuria (sering buang air kecil, biasanya malam hari lebih dari 3x)

1. Polidipsi (sering merasa haus sehingga banyak minum)

1. Polipaghia (sering merasa lapar)

1. Lemas

1. Berat badan yang menurun tanpa sebab.

Pengaruh diabetes terhadap gigi goyang.
Gigi goyang yang terjadi pada gigi geligi disebabkan oleh beberapa faktor. Bisa karena gusi yang menurun
karena usia lanjut, kerusakan jaringan penyangga gigi atau penyakit diabetes mellitus.
Saat seseorang memiliki riwayat diabetes mellitus, maka pada usia 40 tahun ke atas sering
mengalami kasus gigi goyang, disebabkan oleh infeksi dan peradangan yang mudah sekali terjadi.
Infeksi dan peradangan tersebut disebabkan karena imunitas selular dan hormonal penderita diabetes yang
menurun, fungsi leukosit terganggu serta kadar gula dalam darahnya tinggi.
Infeksi yang terjadi di rongga mulut juga menyebabkan kerusakan pada jaringan penyangga gigi dan
kerusakan tulang alveolar yang cukup cepat sehingga mengakibatkan gigi penderita diabetes mudah
goyang.
Apabila ingin dilakukan pencabutan gigi, harus diperhatikan kadar gula darahnya. Karena jika dalam
keadaan gula darah sesaatnya tinggi dilakukan pencabutan, dikhawatirkan terjadinya komplikasi pasca
pencabutan gigi yaitu perdarahan.
Sedikit saran untuk semua sahabat, ada baiknya jika orangtua atau keluarga kita ada yang memiliki riwayat
diabetes mellitus. Hendaknya periksa gula darahnya terlebih dahulu sebelum melakukan pencabutan pada
giginya. Dan jika gula darah Sesaat (GDS) lebih dari 140mg/dl, sebaiknya pencabutan gigi ditunda hingga
GDS kurang dari 140mg/dl. Konsultasikan ke dokter penyakit dalam untuk membantu mengurangi kadar
gula darahnya.
sekedar berbagi ^_^
d-wee
Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com



















Selamat siang dokter, saya ingin konsultasi masalah gusi pada gigi
saya yang mengalami penurunan sehingga kondisi gigi saya
menjadi goyah. Pertanyaan saya, apakah gusi tersebut dapat di
obati sehingga menjadikan gusi pada gigi saya normal kembali?
Terimakasih
Rosadik Rofik (41), J akarta

JAWAB:

Bapak Rosadik yang baik,
Resesi gingiva atau lebih dikenal dengan penurunan gusi adalah
suatu kondisi ketika akar gigi terbuka, yang dapat menyebabkan
peningkatan resiko gigi berlubang bahkan kehilangan gigi jika
terlalu lama didiamkan.

Akar gigi yang terbuka juga dapat menyebabkan rasa sensitif
terhadap makanan atau minuman yang panas, dingin, atau asam.

Salah satu penyebab penurunan gusi adalah susunan gigi yang
tidak teratur serta pembersihan giginya kurang maksimal, sehingga
menyebabkan penumpukan sisa makanan di dalam celah gusi yang
lama-kelamaan menyebabkan gusi turun. Penyebab lainnya adalah
kebiasaan menyikat gigi yang salah, yaitu menyikat gigi terlalu
keras dan menekan.

Selalu menjaga kondisi gusi dalam keadaan sehat merupakan cara
terbaik untuk mencegah terjadinya penurunan gusi. Menyikat gigi
minimal 2 kali sehari menggunakan bulu sikat lembut dengan
teknik penyikatan yang tepat, serta rajin melakukan kontrol ke
dokter gigi adalah hal terpenting untuk mencegah terjadinya
penurunan gusi.

Jika penurunan gusi terlanjur terjadi, maka perawatan yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut :

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan faktor
penyebab terjadinya penurunan gusi. Sehingga, selain diberikan
perawatan profesional oleh dokter gigi, pasien juga diberikan
pendidikan kesehatan gigi untuk diterapkan sehari-hari. Misalnya
jika pasien memiliki teknik menyikat gigi yang salah, maka
diberikan panduan yang tepat oleh dokter gigi untuk diterapkan
pasien di rumah.

Sedangkan perawatan profesional yang diberikan oleh dokter gigi
untuk kasus penurunan gusi, antara lain:

1. Root planing, yaitu pembersihan plak di permukaan akar gigi,
sehingga diharapkan terjadi penutupan kembali gusi yang telah
mengalami penurunan.

2. Gum grafting, yaitu prosedur pengambilan jaringan gusi sehat
dari bagian mulut pasien tersebut atau menggunakan bahan
khusus untuk grafting,kemudian diletakkan pada bagian gusi yang
turun . Prosedur ini membutuhkan keahlian khusus, dan sebaiknya
dilakukan oleh dokter gigi spesialis periodonsia (spesialis gusi dan
jaringan pendukung gigi lainnya).

3. Regenerasi. Pada beberapa kasus penurunan gusi, tulang
pendukung gigi dapat mengalami kerusakan. Dengan melakukan
prosedur penanaman bahan regeneratif pada daerah yang
kehilangan tulang, diharapkan dapat meregenerasi tulang dan
jaringan baru.

Jadi, jangan ragu untuk datang ke dokter gigi jika anda ingin
melakukan perawatan bagi gusi anda yang mengalami penurunan.
Demikian Bapak Rosadik, semoga informasinya bermanfaat. Salam
gigi sehat.


Mengapa Gigi Goyang Setelah Membersihkan Karang
Gigi
Saturday, May 11th 2013. | Kesehatan Umum, Scaling/Karang Gigi
Mengapa Gigi Goyang Setelah Membersihkan
Karang Gigi - Karang gigi atau kalkulus adalah plak yang mengalami mineralisasi. Atau dengan kata
lain kalkulus merupakan kotoran dalam rongga mulut, dapat berupa sisa-sisa makanan yang
menempel dan melekat pada gigi yang mengeras atau terkalsifikasi jika tidak dibersihkan dalam
waktu lama. Berdasarkan lokasinya, kalkulus dapat dibagi menjadi dua yaitu kalkulus supragingiva
dan subgingiva.
Kalkulus supragingiva adalah kalkulus yang terletak di atas margin atau tepi gusi/gingiva, sedangkan
kalkulus subgingiva adalah kalkulus yang terletak di bawah tepi gingiva. Kalkulus supragingiva dapat
dilihat secara langsung di dalam mulut, berwarna putih atau putih kekuning-kuningan karena sumber
mineral berasal dari saliva dan debris datau sisa-sisa makanan, konsistensi keras seperti pasir,
sedangkan kalkulus subgingiva berwarna coklat kehitaman atau hijau kehitaman karena sumber
mineralnya berasal dari serum darah, melekat kuat pada permukaan gigi dan lebih keras bila
dibandingkan dengan kalkulus supragingiva.
Untuk mengeluarkan kalkulus dapat dilakukan skeling menggunakan skeler/scaller (alat untuk
membersihkan karang gigi), bisa manual ataupun elektrik/ultrasonik. Tetapi jika terdapat cukup
banyak kalkulus, lebih disarankan untuk skeling elektrik karena selain lebih bersih dan waktu
pengerjaan lebih cepat, bagi operator juga dapat menghemat tenaga.
Setelah melakukan skeling, seringkali pasien mengeluh, dok, kenapa gigi saya goyang? atau
dok, gigi saya kok ngilu-ngilu, dan menjadi jarang-jarang, bercelah kayak gini
ya? Sebenarnya tidaklah demikian, bukan karena diskeling gigi menjadi goyang, ngilu ataupun
menjadi jarang-jarang. Pada gigi yang terdapat banyak kalkulus, keadaannya kira-kira seperti gambar
di bawah ini.

Kalkulus dan plak yang melekat pada gigi menyebabkan peradangan gusi dan jaringan pendukung
gigi lainnya (gingivitis dan periodontitis) sehingga gusi menjadi turun atau yang dikenal dengan resesi
gingiva. Selain itu juga dapat menyebabkan kehilangan perlekatan dengan permukaan gigi yang pada
akhirnya gigi mengalami kegoyangan. Gigiyang goyang dapat menyebabkan gigi bergerak ke labial
atau bukal (permukaan yang berhadapan dengan bibir dan pipi) sehingga gigi menjadi jarang-jarang
atau bercelah. Tetapi dalam keadaan terdapat banyak karang gigi, semua keadaan itu tertutupi. Gigi
yang goyang, karena dikelilingi karang gigi dapat menjadi kuat, kalau pada bangunan, karang gigi
dapat diibaratkan sebagai semen yang menyatukan batu merah sehingga dapat berdiri tegak.
Apabila gusi turun, maka permukaan akar yang dilapisi oleh sementum akan terlihat. Pada individu
yang memiliki pertautan sementum dan email tidak sempurna, membuat dentin terbuka sehingga
dapat menyebabkan gigi menjadi ngilu. Tetapi sekali lagi, dengan adanya karang gigi, bisa menutupi
dentin di daerah sekitar leher gigi yang terbuka itu sehingga pasien tidak merasakan ngilu. Pada
kasus lain, gigi yang sudah bercelah dan menjadi jarang tersebut, karena terdapat karang gigi di
antaranya, maka celah tersebut akan tertutupi.
Gigi yang sebenarnya goyang tetapi tetap kokoh karena adanya karang gigi, dentin yang terbuka dan
sebelumnya tertutup oleh karang, dan adanya celah yang juga ditutupi oleh karang, ketika dilakukan
skeling dan begitu karang gigi terlepas, gigi menjadi goyang, ngilu dan terlihat bercelah seperti
gambar di bawah ini.

Jadi sebenarnya bukan karena prosedur pembersihan karang giginya yang menyebabkan
keadaan seperti disebutkan di atas, tetapi memang kondisi gigi demikian dan ketika karang
gigi dibersihkan baru terlihat. Kondisi semacam ini sangat perlu diinformasikan kepada pasien
agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dokter dan pasien.
Gigi Goyang
Posted by De Haantjes van Het Oosten in Jun 02, 2013, under Artikel Kedokteran Gigi, Zona Pendidikan

Gigi goyang merupakan manifestasi klinik kelainan jaringan periodontal, khususnya dengan pembentukan poket
periodontal yang dapat menyebabkan kegoyangan gigi (Prayitno, 1997). Derajat kegoyangan gigi ditentukan
oleh beberapa faktor antara lain tinggi jaringan pendukung dan lebarnya ligamen periodontal. Kegoyangan gigi
dapat terjadi akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar atau karena pelebaran ligamen periodontal, dapat
terjadi pula akibat kombinasi dari keduannya atau Kegoyangan gigi juga terjadi karena kerusakan tulang
angular akibat kerandangan atau penyakit periodontal lanjut. Trauma oklusi juga dapat memperberat
kehilangan perlekatan dan bertambahnya kerusakan tulang serta meningkakan kegoyangan gigi (Soeroso,
1996).

Gigi Goyang diartikan sebagai pergerakan gigi pada dataran vertikal atau horizontal. Derajat kegoyangan gigi
tergantung pada lebar ligamen periodontal, area perlekatan akar, elastisitas prosesus alveolar dan fungsi dari
masing-masing gigi
Setiap gigi mempunyai derajat kegoyangan fisiologis yang ringan, dimana berbeda-beda untuk setiap gigi dan
waktunya.
Gigi dengan akar tunggal lebih mudah goyang daripada gigi dengan akar multiple.
Kegoyangan gigi paling besar saat menjelang pagi hari dan derajatnya menurun secara progresif. Kegoyangan
gigi terjadi dalam dua tahapan:
1) Inisial atau tahap intrasoket, yakni pergerakan gigi yang masih dalam batas ligamenperiodontal. Hal ini
berbungan dengan distorsi viskoelastisitas ligamen periodontal danredistribusi cairan peridontal, isi
interbundle, dan fiber. Pergerakan inisial ini terjadi dengan tekanan sekitar 100 pon dan pergerakan yang
terjadi sebesar 0.05 sampai 0.1 mm (50 hingga 100mikro).
2) Tahapan kedua, terjadi secara bertahap dan memerlukan deformasi elastik tulang alveolarsebagai respon
terhadap meningkatnya tekanan horizontal. Ketika mahkota diberi tekanan sebesar 500 pon maka pemindahan
yang terjadi sebesar 100-200 mikro untuk incisivus, 50-90 mikro untuk caninus, 8-10 mikro untuk premolar dan
40-80 mikro untuk molar. Kegoyahan gigi dapat diperiksa secara klinis dengan cara : gigi dipegang dengan kuat
diantara dua instrumen atau dengan satu instrumen dan satu jari, dan diberikan tekanan
untuk menggerakkannya ke segala arah .
Kegoyangan gigi yang patologis terutama disebabkan oleh (1) infamasi gingiva dan jaringan periodontal, (2)
kebiasaan parafungsi oklusal, (3) oklusi prematur, (4) kehilangan tulang pendukung, (5) gaya torsi yang
menyebabkan trauma pada gigi yang dijadikan pegangan cengkraman gigi, (6) terapi periodontal, terapi
endodontik, dan trauma dapat menyebabkan kegoyangan gigi sementara.
Gigi goyang adalah masalah yang sering terjadi pada gigi yang dapat berakibat hilangnya gigi, yang dapat
bersifat fisiologis ataupun patologis. Secara klinis gigi goyang juga dapat dibedakan atas goyang reversibel
ataupun goyang irreversibel. Terjadinya peningkatan gigi goyang dapat disebabkan oleh banyak faktor. Namun
terjadinya inflamasi yang diakibatkan oleh akumulasi plak dan adanya trauma karena oklusi merupakan faktor
penyebab yang paling sering terlibat sebagai penyebab terjadinya gigi goyang.
Gigi goyang adalah masalah gigi yang terjadi karena penyakit ataupun cedera terhadap gingiva dan tulang yang
mendukung gigi. Masalah ini menyebabkan nyeri akut pada gigi khususnya ketika gigi digunakan untuk
mengunyah dan memungkinkan terjadinya kehilangan gigi. Gigi goyang sering terjadi pada pasien yang
menderita periodontitis kronis, trauma karena oklusi dan juga pada pasien dengan trauma karena oklusi yang
disertai periodontitis kronis.
Dalam keadaan yang normal gigi juga memiliki derajat goyang. Goyang ini disebut sebagai goyang fisiologis.
Goyang fisiologis paling besar terjadi di pagi hari karena adanya peningkatan sewaktu tidur dan secara
perlahan berkurang di siang hari setelah gigi menerima tekanan fungsional dari pengunyahan, penelanan, dan
ketika berkontak dengan antagonisnya. Batas goyang fisiologis ini adalah 0,15 mm. Goyang yang melebihi
rentang fisiologis disebut sebagai goyang yang abnormal atau patologis. Disebut patologis karena melebihi
batas nilai goyang normal yang mampu diterima oleh periodonsium. Secara klinis, gigi goyang dapat dibedakan
atas goyang reversibel dan goyang irreversibel. Goyang reversibel adalah jenis goyang pada gigi yang terjadi
akibat tekanan yang abnormal atau inflamasi. Goyang yang terjadi dapat berkurang atau dihilangkan dengan
menyingkirkan faktor penyebab. Sedangkan goyang irreversibel merupakan jenis goyang yang ditandai dengan
berkurangnya dukungan periodonsium. Derajatnya dapat dikurangi tetapi tidak dapat dihilangkan meskipun
telah dilakukan perawatan.
Faktor Penyebab Terjadinya Gigi Goyang
Terjadinya peningkatan gigi goyang yang patologis dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti kehamilan,
status penyakit (lokal atau sistemik), trauma (akibat pergerakan ortodonti), kebiasaan hiperfungsi dan
hipofungsi. Namun, dua faktor yang paling sering terlibat adalah inflamasi yaitu : akumulasi plak dan tekanan
oklusal yang berlebihan.
a. Inflamasi yang disebabkan akumulasi plak
Inflamasi yang terjadi pada penyakit periodontal seperti gingivitis dan periodontitis merupakan akibat dari
akumuasi plak dan mikroorganisme yang menempel pada gigi.3 Penjalaran inflamasi dari tepi gingiva ke
struktur periodontal pendukung lebih lanjut akan berakibat terhadap hilangnya perlekatan jaringan pendukung
dan resorpsi tulang di sekitar gigi. Pada keadaan ini juga terjadi saku infraboni dan kehilangan tulang angular
sehingga meningkatnya goyang akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar pendukung gigi juga tidak dapat
dihindari.
b. Trauma karena oklusi
Trauma karena oklusi diartikan sebagai trauma terhadap periodonsium karena tekanan fungsional ataupun
parafungsional yang menyebabkan kerusakan terhadap perlekatan pada periodonsium karena melebihi
kapasitas adaptif dan reparatifnya.Lesi yang terjadi akibat trauma karena oklusi dapat terjadi bersamaan
dengan, atau pada periodonsium yang mengalami inflamasi. Menurut penelitian Ericcson dan Linde, trauma
oklusi yang berlebihan ketika dikombinasi dengan periodontitis akan mempercepat kehilangan perlekatan.
Namun pada keadaan tanpa inflamasi, tekanan oklusal yang berlebihan akan meningkatkan terjadinya
kehilangan tulang dan goyang pada gigi. Secara umum dikenal dua bentuk trauma karena oklusi:
1. Trauma karena oklusi primer
Trauma oklusi primer diartikan sebagai cedera atau kerusakan akibat dari tekanan oklusal yang berlebihan
yang diterima gigi pada gigi dengan dukungan periodonsium yang sehat atau normal.
2. Trauma karena oklusi sekunder
Trauma oklusi sekunder diartikan sebagai cedera atau kerusakan akibat dari tekanan oklusal yang normal yang
diterima gigi pada gigi dengan dukungan periodonsium yang inadekuat atau lemah.Tanda klinis yang paling
umum terjadi pada pasien trauma karena oklusi adalah meningkatnya derajat goyang gigi. Terjadinya goyang
ini adalah sebagai adaptasi periodonsium terhadap tekanan berlebihan yang diterimanya. Selain itu, tanda
klinis lain yang mungkin ditemui pada pasien dengan trauma karena oklusi adalah migrasi gigi, nyeri pada gigi
atau ketidaknyamanan pada waktu pengunyahan atau perkusi, lemahnya otot-otot pengunyahan, timbulnya
faset pada gigi, retaknya enamel atau fraktur pada mahkota atau akar, dan fremitus. Gambaran radiografis
seperti pelebaran ruang ligamen periodontal, kerusakan lamina dura, radiolusensi pada daerah furkasi atau
pada apeks gigi yang vital dan resorpsi pada daerah akar sering menyertai pasien dengan trauma karena oklusi.
Untuk menegakkan diagnosa terhadap pasien dengan trauma karena oklusi, sejumlah tanda dan gejala klinis
maupun radiologis harus ditemukan pada sistem pengunyahan, namun prosedur tambahan seperti tes pulpa
vital dan evaluasi terhadap kebiasaan parafungsi dapat membantu menegakkan diagnosa.
Perawatan Terhadap Gigi Goyang
Meningkatnya goyang gigi akibat inflamasi periodonsium harus dibedakan dengan goyang yang terjadi akibat
trauma karena oklusi. Meskipun goyang gigi dapat terjadi secara bersamaan namun perawatan terhadap
keadaan ini dilakukan secara terpisah. Perawatan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi ataupun
menghilangkan goyang yang ada, menghindari terjadinya migrasi gigi yang lebih jauh, mengurangi perubahan
radiografis yang terjadi, memperbaiki kontak prematur dan fremitus serta memperoleh kenyamanan dalam
pengunyahan. Ada beberapa perawatan berikut dapat dilakukan;
1. Penyingkiran faktor inflamasi
Perawatan yang dilakukan terhadap pasien dengan inflamasi periodonsium adalah untuk menyingkirkan faktor
inflamasi yang terdapat pada jaringan periodonsium sehingga diperoleh jaringan yang lebih sehat. Bentuk
perawatan periodontal berupa terapi bedah dan non bedah, diantaranya:
2. Skeling dan penyerutan akar (Scaling Root Planing)
Efek menguntungkan dari skeling dan penyerutan akar yang dikombinasi dengan kontrol plak yang adekuat dari
pasien telah terbukti mampu mengurangi inflamasi, mengurangi keberadaan mikroba patogen, mengurangi
kedalaman saku dan mengurangi terjadinya perkembangan penyakit.
3. Penggunaan obat lokal dan sistemik
Kontrol dengan menggunakan agen kemoterapi pada perawatan saku periodontal dapat mengubah keadaan
flora patogen dan memperbaiki tanda klinis yang terjadi akibat periodontitis. Penggunaan serat etilen vinil
asetat yang mengandung tetrasiklin, lempeng gelatin yang mengandung klorheksidin dan formula polimer
minoksiklin sebagai tambahan pada perawatan skeling dan penyerutan akar dapat mengurangi kedalaman saku,
perdarahan sewaktu probing dan meningkatkan perlekatan klinis jaringan.Penggunaan obat antibiotik sistemik
yang mengandung anti inflamasi non steroid dan sub antimikrobial dosis rendah seperti doksisiklin diperkirakan
mampu menghentikan atau memperlambat perkembangan penyakit periodontal dan memperbaiki keadaan/
status periodontal.
4. Terapi bedah
Perawatan dengan pembedahan dilakukan untuk memperoleh akses yang lebih baik dalam menyingkirkan
faktor etiologi goyang, mengurangi kedalaman saku serta regenerasi atau perbaikan terhadap jaringan
periodonsium yang hilang. Beberapa percobaan klinis menunjukkan bahwa kombinasi perawatan bedah dan non
bedah memberikan hasil yang lebih efektif dalam pengembalian level perlekatan.
5. Penyingkiran penyebab trauma karena oklusi
Perawatan terhadap gejala trauma karena oklusi harus dilakukan bersamaan dengan terapi periodontal. Karena
penyingkiran tekanan oklusi yang traumatik pada keadaan periodontitis tidak akan membantu mengurangi
goyang gigi dan regenerasi tulang alveolar. Oleh karena itu, sejumlah perawatan yang berhubungan harus
dipertimbangkan termasuk satu atau beberapa hal dibawah ini:
Penyelarasan oklusal merupakan terapi yang efektif untuk mengurangi goyang gigi dan memperbaiki kehilangan
tulang yang terjadi akibat trauma karena oklusi. Volmer dan Rateitschak menyebutkan bahwa penyelarasan
oklusal mampu mengurangi goyang gigi sebesar 18%-28% setelah perawatan selama 30 hari.
Memperbaiki kebiasaan parafungsi
Stabilisasi temporer, provisional atau jangka panjang menggunakan alat lepasan atau cekat. Splin gigi
merupakan alat yang didesain untuk menstabilisasi gigi goyang dan membantu gigi untuk berfungsi normal
meskipun jumlah periodonsium terbatas. Dasar dari perawatan dengan splin adalah mengurangi goyang gigi
dan membantu gigi menjadi lebih stabil serta memperbaiki kerusakan periodontal. Splin di klasifikasikan
berdasarkan waktu dan tujuan pemakaian yaitu splin temporer, provisional dan permanen.
Pergerakan gigi dengan menggunakan alat ortodonti
Rekonstruksi oklusal
Ekstraksi gigi Apabila goyang gigi yang terjadi tidak memberi respon terhadap perawatan yang telah dilakukan,
gigi tersebut dapat diekstraksi untuk selanjutnya dilakukan perawatan definitif yaitu dengan pembuatan gigi
tiruan sebagian lepasan atau gigi tiruan cekat. Untuk memperoleh hasil perawatan yang maksimal, sejumlah
perawatan periodontal pendukung wajib dilakukan. Kontrol plak harian yang efektif serta kontrol berkala harus
dilakukan oleh pasien sehingga jaringan periodonsium yang sehat dapat diperoleh.
Dari berbagai sumber.