Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEBIDANAN KETUBAN PECAH DINI

(Studi Kasus Pada Ibu Bersalin Ny Y Dengan Ketuban Pecah Dini Di Puskesmas
Perawatan Sungai Kakap)
Diajukan untuk Memenuhi salah satu tugas Praktik Klinik Kebidanan Program studi
DIV Bidan Klinik pontianak TA 2012/2013
DISUSUN OLEH:
W A R N I
201210042

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN PONTIANAK JURUSAN KEBIDANAN
PONTIANAK
2013













LEMBAR PERSETUJUAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN DENGAN KETUBAN PECAH DINI
DI PUSKESMAS PERAWATAN SUNGAI KAKAP
TAHUN 2013




STUDI KASUS


Oleh:

WARNI
NIM: 2012 10 2 0042



Telah disetujui oleh Tim Pembimbing
Pontianak, Februari 2013








Dewi Indrawati, S.SiT
Pembimbing Utama
Astri Saria, S.SiT
Anggota Pembimbing












LEMBAR PENGESAHAN

AUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN DENGAN KETUBAN PECAH DINI DI
PUSKESMAS PERAWATAN SUNGAI KAKAP TAHUN 201


Disusun Oleh:
WARNI
NIM:2012 10 0042


Telah Diujikan pada
Tanggal 6 Februari 2013


Hj. Tunut,SKM, M.Kes Emmy Yulianti,Amd.Keb,S.kep,M.Kes
Penguji Anggota Penguji




Dewi Indrawati, S.SiT
Pembimbing

Mengetahui,

Ketua Jurusan Kebidanan
Politeknik Kesehatan Pontianak
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia





Sudarto, S.Kp, MPH











KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas yang berjudulASUHAN
KEBIDANAN KETUBAN PECAH DINI (Studi Kasus Pada Ibu Bersalin Ny Y Dengan Ketuban
Pecah Dini Di Puskesmas Perawatan Sungai Kakap) dapat diselesaikan sebagaimana
mestinya.
Dalam penyelesaian karya tulis ini, peneliti menyadari sepenuhnya bahwa dalam
rangkaian kegiatan penyusunannyai, tidak dapat melaksanakan sesuai dengan rencana
apabila tidak didukung dan dibimbingan oleh berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini
tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Ibu Hj. Kamariyah, SKM Selaku Kepala Puskesmas Sungai Kakap yang telah bersedia
dan memberikan kesempatan bagi Penulis untuk melakukan proses aplikasi
pengetahuan dalam Asuhan Kebidanan pada area masyarakat
2. Ibu Dewi Indrawati, S.SiT selaku Pembimbing Lapangan kegiatan paktek klinik
3. Ibu Astri saria, S.SiT selaku pembibing lapangan kegiatan praktek klinik
4. Ibu Hj. Tunut SKM, M.Kes, selaku Penguji Laporan Studi Kasus
5. Ibu Emmy yulianti,Amd.Keb, S.Kep, M.kes selaku peguji laporan Studi kasus
6. Seluruh rekan-rekan Mahasiswi Program D IV Kebidanan yang tidak dapat disebutkan
satu persatu, yang telah memberikan bantuan baik berupa moril maupun spiritual
sehingga Karya Tulis ini dapat diselesaikan.
Atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulisi semoga mendapatkan
ridho dan balasan dari Allah SWT dan peneliti senantiasa berdoa semoga Bapak/
Ibu/ Saudara yang telah berjasa selalu berada dalam keadaan sehat wal afiat, amin.
Pontianak, Februari 2013
WARNI












BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Sebagian besar
ketuban pecah dini yang terjadi pada umur kehamilan diatas 37 minggu, sedangkan pada
umur kehamilan kurang 36 minggu tidak terlalu banyak. Ketuban pecah dini merupakan
masalah kontroversial obstetric dalam kaitannya dengan penyebabnya. Pecahnya selaput
ketuban sebelum waktunya menyebabkan kemungkinan infeksi dalam rahim, persalinan
prematuritas yang akan meningkatkan kesakitan dan kematian ibu maupun janinnya
(Manuaba, 2008).
Persalinan dengan Ketuban Pecah Dini biasa dijumpai pada kehamilan multipel, trauma,
hidroamnion, dan gemelli. Oleh sebab itu persalinan dengan ketuban pecah dini memerlukan
pengawasan dan perhatian serta secara teratur dan diharapkan kerjasama antara keluarga ibu
dan penolong persalinan (bidan atau dokter). Dengan demikian akan menurunkan atau
memperkecil resiko kematian ibu dan bayinya Ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah
sebelum waktunya (KPSW) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya
melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada kehamilan aterm maupun pada kehamilan preterm
(Prawirohardjo. 2010).
Insidensi KPD berkisar antara 8-10% dari semua kehamilan. Pada kehamilan aterm
insidensinya bervariasi antara 6-19%. Sedangkan pada kehamilan preterm insidensinya 2%
dari semua kehamilan. Hampir semua KPD pada kehamilan preterm akan lahir sebelum
aterm atau persalinan akan terjadi dalam satu minggu setelah selaput ketuban pecah. Sekitar











85% morbiditas dan mortalitas perinatal disebabkan oleh prematuritas. KPD berhubungan
dengan penyebab kejadian prematuritas dengan insidensi 30-40%.
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui dan
tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang
berhubungan erat dengan KPD sulit diketahui. Kemungkinan faktor predisposisi adalah
infeksi, golongan darah ibu dan anak tidak sesuai, multi graviditas (paritas), merokok,
defisiensi gizi (vitamin C), inkompetensi servik, polihidramnion, riwayat KPD sebelumnya,
kelainan selaput ketuban.
Komplikasi paling sering terjadi pada ketuban pecah dini sebelum usia kehamilan 37
minggu adalah sindroma distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko
infeksi meningkat pada kejadian ketuban pecah dini, selain itu juga terjadinya prolapsus tali
pusat. Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada ketuban pecah dini preterm.
Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada ketuban pecah dini preterm.
Kejadiannya mencapai 100% apabila ketuban pecah dini preterm terjadi pada usia kehamilan
kurang dari 23 minggu.
Menurut Wahyuni (2009) kejadian ketuban pecah dini di indonesia sebanyak 35,70% -
55,30% dari 17.665 kelahiran, sedangkan data kejadian Ketuban Pecah Dini Di Puskesmas
Perawatan Sungai Kakap pada tahun 2012 sebanyak 25% atau 58 orang dari 231 orang yang
bersalin di Puskesmas Sungai kakap.
Berdasarkan besarnya angka kejadian Ketuban Pecah Dini maka penulis tertarik untuk
lebih mendalami dan mengangkat kasus ketuban pecah dini yang terjadi sesuai dengan
fakta yang ada di lapangan.













B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dalam studi kasus ini dapat
dirumuskan Bagaimanakah penatalaksanaan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil
dengan ketuban pecah dini di Puskesmas Perawatan Sungai Kakap?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin dengan
Ketuban Pecah Dini di Puskesmas perawatan Sungai Kakap tahun 2013
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya faktor penyebab dan faktor predisposisi KPD
b. Diketahui karakteristik ibu dengan KPD
c. Diketahui masalah dan kebutuhan ibu dengan KPD
d. Diketahui pencegahan KPD
e. Diketahui penanggulangan KPD
f. Diketahuinya penatalaksaanaan Asuhan kebidanan pada ibu dengan KPD
secara teori dan sesuai dengan Protap di Puskesmas perawatan sungai kakap

D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Institusi Puskesmas
Sebagai bahan Informasi dan masukan dalam menerapkan Asuhan Kebidanan
khususnya pada pasien dengan Ketuban Pecah Dini
2. Bagi Penulis
Sebagai bentuk aplikasi pengetahuan yang telah diperoleh di bangku perkuliahan
dalam menerapkan pola asuhan kebidanan khususnya pada pasien dengan
Ketuban Pecah Dini














BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Ketuban Pecah Dini
1. Pengertian
a. Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum proses
persalinan berlangsung (Sarwono Prawirohardjo, 2007)
b. Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum
persalinan (Sarwono Prawirohardjo, 2008,).
c. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan/
sebelum inpartu, pada pembukaan< 4 cm (fase laten). ( Taufan Nugroho,
2010.)
d. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda
persalinan mulai dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. (Manuaba,
2010).
e. Ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW)
didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal
ini dapat terjadi pada kehamilan aterm maupun pada kehamilan preterm
(Prawirohardjo, 2010).
Arti klinis ketuban pecah dini adalah:
Bila bagian terendah janin masih belum masuk pintu atas panggul maka
kemungkinan terjadinya prolapsus tali pusat atau kompresi tali pusat atau
kompresi tali pusat menjadi besar.
Peristiwa KPD yang terjadi pada primigravida hamil aterm dengan bagian
terendah yang masih belum masuk pintu atas panggul seringkali
merupakan tanda adanya gangguan keseimbangan feto pelvic











KPD seringkali diikuti dengan adanya tanda-tanda persalinan sehingga
dapat memicu terjadinya persalinan preterm dengan segala akibatnya
Peristiwa KPD yang berlangsung lebih dari 24 jam (prolonged rupture of
membrane) seringkali disertai dengan infeksi intrauterine dengan segala
akibatnya
Peristiwa KPD dapat menyebabkan oligohidramnion dan dalam jangka
panjang kejadian ini akan dapat menyebabkan hilangnya fungsi amnion
bagi pertumbuhan dan perkembangan janin.
Ketuban pecah dini dapat menimbulkan komplikasi pada ibu maupun pada janin yang
dikandungnya. Komplikasi tersebut antara lain:
1. Terhadap janin Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi tetapi janin
mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterine lebih dahulu terjadi
(amnionitis, vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan
mortalitas dan morbiditas perinatal (Mochtar, 1998). Pada janin dapat terjadi infeksi
bahkan sepsis. Sepsis neonaturum adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasive dan
ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum
tulang atau air kemih (Sholeh Kasim, 2010)
2. Terhadap Ibu`
Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu
sering periksa dalam. Selain itu dapat juga dijumpai infeksi puerpuralis (nifas),
peritonitis dan septicemia serta dry labour. Ibu akan merasa lelah karena terbaring
ditempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat dan
tampaklah gejala-gejala infeksi.
Penyebab KPD belum diketahui secara pasti, namun kemungkinan yang menjadi factor
predisposisi adalah infeksi yang terjadi secara langusng pada selaput ketuban ataupun
asendern dari vagina atau serviks. Selain itu fisiologi selaput ketuban yang abnormal, serviks
inkompetensia, kelainan letak janin usia wanita kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun,
factor golongan darah, factor multigravida/paritas, merokok, keadaan social ekonomi,











perdarahan antepartum, riwayat abortus dan persalinan preterm sebelumnya, riwayat KPD
sebelumnya, defisiensi gizi yaitu tembaga atau asam askorbat, ketegangan rahim yang
berlebihan, kesempitan panggul, kelelahan ibu dalam bekerja, serta trauma yang didapat
misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam dan amniosintesis (Prawirohardjo, 2010)
Banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa infeksi (65%) sebagai
penyebabnya (Yudin, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Juwita (2007) menunjukkan
hasil bahwa coitus saat hamil dengan frekuensi lebih dari 3 kali seminggu, posisi coitus yaitu
suami di atas dan penetrasi penis sangat dalam sebesar 37,50%, infeksi genitalia sebesar
37,50%, paritas (multipara) sebesar 37, 59%, riwayat KPD sebesar 18,75% dan usia Ibu yang
lebih dari 35 tahun merupakan faktor yang mempengaruhi KPD.
Penelitian oleh Ratnawati (2010) menunjukkan hasil bahwa aktivitas berat sebesar
43,75% menyebabkan terjadinya KPD. Penelitian Fitri AS (2011) didapatkan hasil infeksi
genitalia (70,2%) dan paritas (63,8%) dapat mempengaruhi KPD.

2. Etiologi
Menurut Taufan Nugroho (2010) etiologi KPD adalah sebagai berikut:.
1) Penyebab ketuban pecah dini masih belum dapat diketahui dan tidak dapat
ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebabkan faktor-faktor yang
berhubungan erat dengan ketuban pecah dini, namun faktor-faktor mana yang
lebih berperan sulit diketahui. Adapun yang menjadi faktor resiko adalah :
a. Infeksi : Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban
maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa
menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini.
b. Serviks yang inkopeten, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada serviks uteri (akibat persalinan, curettage).
c. Ketegangan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramion, gameli.











d. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam,
maupun amniosintesis menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini karena
biasanya disertai infeksi.
e. Kelainan letak, misalnya sunsang seingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul serta dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
f. Keadaan sosial ekonomi
Menurut (Prawirohardjo, 2010) Penyebab KPD belum diketahui secara pasti, namun
kemungkinan yang menjadi faktor predisposisi adalah infeksi yang terjadi secara langsung
pada selaput ketuban ataupun asenderen dari vagina atau serviks. Selain itu fisiologi selaput
ketuban yang abnormal, serviks inkompetensia, kelainan letak janin, usia wanita kurang dari
20 tahun dan di atas 35 tahun, faktor golongan darah, faktor multigraviditas/paritas, merokok,
keadaan sosial ekonomi, perdarahan antepartum, riwayat abortus dan persalinan preterm
sebelumnya, riwayat KPD sebelumnya, defisiensi gizi yaitu tembaga atau asam askorbat,
ketegangan rahim yang berlebihan, kesempitan panggul, kelelahan ibu dalam bekerja, serta
trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam dan amniosintesis
Penyebab KPD belum diketahui secara pasti, namun kemungkinan yang menjadi factor
predisposisi adalah infeksi yang terjadi secara langusng pada selaput ketuban ataupun
asendern dari vagina atau serviks. Selain itu fisiologi selaput ketuban yang abnormal, serviks
inkompetensia, kelainan letak janin usia wanita kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun,
factor golongan darah, factor multigravida/paritas, merokok, keadaan social ekonomi,
perdarahan antepartum, riwayat abortus dan persalinan preterm sebelumnya, riwayat KPD
sebelumnya, defisiensi gizi yaitu tembaga atau asam askorbat, ketegangan rahim yang
berlebihan, kesempitan panggul, kelelahan ibu dalam bekerja, serta trauma yang didapat
misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam dan amniosintesis (Prawirohardjo, 2010)
Banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa infeksi (65%) sebagai
penyebabnya (Yudin, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Juwita (2007) menunjukkan











hasil bahwa coitus saat hamil dengan frekuensi lebih dari 3 kali seminggu, posisi coitus yaitu
suami di atas dan penetrasi penis sangat dalam sebesar 37,50%, infeksi genitalia sebesar
37,50%, paritas (multipara) sebesar 37, 59%, riwayat KPD sebesar 18,75% dan usia Ibu yang
lebih dari 35 tahun merupakan faktor yang mempengaruhi KPD.
Penelitian oleh Ratnawati (2010) menunjukkan hasil bahwa aktivitas berat sebesar
43,75% menyebabkan terjadinya KPD. Penelitian Fitri AS (2011) didapatkan hasil infeksi
genitalia (70,2%) dan paritas (63,8%) dapat mempengaruhi KPD.
.
3. Faktor Predisposisi
Menurut dr. Taufan Nugroho (2011)
a. Faktor golongan darah
b. Usia dibawah 20 tahun
c. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu
d. Faktor multi gravida, merokok dan pendarahan antepartum

4. Ketuban pecah dini dapat menimbulkan komplikasi pada ibu maupun pada janin
yang dikandungnya. Komplikasi tersebut antara lain:
a. Terhadap janin Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi tetapi
janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterine lebih dahulu
terjadi (amnionitis, vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan
meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal (Mochtar, 1998). Pada janin
dapat terjadi infeksi bahkan sepsis. Sepsis neonaturum adalah infeksi aliran
darah yang bersifat invasive dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam
cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang atau air kemih (Sholeh
Kasim, 2010)
b. Terhadap Ibu`
Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila
terlalu sering periksa dalam. Selain itu dapat juga dijumpai infeksi puerpuralis











(nifas), peritonitis dan septicemia serta dry labour. Ibu akan merasa lelah
karena terbaring ditempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan
naik, nadi cepat dan tampaklah gejala-gejala infeksi.

5. Patofisiologi
Menurut Mochtar (1998) mekanisme terjadinya Ketuban Pecah Dini dapat
berlangsung sebagai berikut:
a. Ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi
sehingga dapat menyebabkan ketegangan rahim
b. Bila terjadi serviks inkompeten, maka ketuban sangat lemah dan mudah pecah
dan mengeluarkan air ketuban
c. Infeksi yang menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban
dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah
d. Kelainan bawaan selaput ketuban dimana selaput ketuban terlalu tipis
sehingga mudah pecah

6. Penatalaksanaan KPD
Menurut Ratna Dewi Pudiastuti (2012) dan Taufan Nugroho (2011)
Prinsip Dasar
a. Ketuban dinyatakan pecah bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
b. Ketuban Pecah Dini merupakan masalah Penting dalam obstetrik berkaitan
dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis
sampai sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, dan
menyebabkan infeksi ibu
c. Ketuban pecah disebabkan karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intra uterin atau kedua faktor tersebut. Berkurangnya
kekuatan disebabkan oleh adanya infeksi yang berasal dari vagina atau servik











d. Pananganan ketuban pecah Dini Memerlukan usia gestasi, adanya infeksi
pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan.
Penilaian Klinik
a. Tentukan Pecahnya selaput Ketuban, Ditentukan dengan adanya cairan
ketuban di vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian
terbawa dilakukan dengan tes lakmus ( nitrazin tes) merah menjadi biru,
membantu dalm menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan,
kelainan janin.
b. Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG.
c. Tentukan ada tidaknya infeksi. Tanda-tanda infeksi; Bila suhu ibu 38
0
C air
ketuban yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA
(leokosit Esterase). Leokosit darah > lebih dari 15.000/mm3. Janin yang
mengalami takhikardi mungkin mengalami infeksi intra uterine.
d. Tentukan tanda-tanda inpartu. Tentukan tandanya kontraksi yang teratur,
periksa dalam yang teratur bila akan dilakukan penganan aktif (terminasi
kehamilan) antara lain untk menilai skor pelvic.
Penanganan
1. Konsevatif
a. Rawat di Rumah Sakit.
b. Berikan antibiotika (ampisillin 4x500mg atau eritrisin bila tidak tahan
ampisillin) dan metronidazol 2x500mg selama 7 hari
c. Jika umur kehamilan < 32-34 minggu dirawat selama air ketuban masih
keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
d. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes
busa ngatif, beri dexamethason, observasi tanda-tanda infeksi, dan
kesejahtraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu.
e. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah in partu, tidak ada infeksi,
berikan tokolitik (salbutaol), dexamethason, daninduksi sesudah 24 jam.











f. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan
induksi.
g. Nilai tanda- tanda infeksi (suhu, leokosit,tanda-tanda infeksi intra uterin).
h. Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk mengacu
kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar kadar
lesitindan spingomielin setiap minggu. Dosis betametason12mg sehari
dosis tunggal selama 2 hari, dexamethason IM 5mg setiap 6 jam sebanyak
4 kali.
2. Aktif
a. Kehamilan >37minggu, induksi dengan Oksitosin, bila gagal sectio
sesaria. Dapat pula diberikan misoprostol 50mg intra vagina tiap 6 jam
maximal 4 kali
b. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi, dan persalinan
diakhiri: a. Bila skor pelvik kurang dari 5, lakukan dengan sektio sesaria:
b. Bila skorpelvik lebih dari 5, induksi persalinan, partus pervaginam.
Tabel Pelaksanaan Ketuban Pecah Dini ( Ratna Dewi Pudiasutu, 2012)
KETUBAN PECAH
< 37 minggu >37 minggu
Infeksi Tidak infeksi

Infeksi Tidak infeksi

ANTIBIOTIKA

SETELAH

PERSALINAN


Profilaksis Infeksi Tidak infeksi
Stop antibiotik Lanjutkan untuk
24-48 jam setelah
bebas nafas
Tidak perlu
antibiotik















BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN DENGAN KETUBAN PECAH DINI
DI PUSKESMAS PERAWATAN SUNGAI KAKAP



A. DATA SUBJEKTIF
Tanggal pengkajian : 23 Januari 2013
Pukul : 10.30 WIB
dr. Wahyudi
No register : 280113
1. BIODATA

Nama Pasien : Ny.YT Nama Suami :Tn.E
Umur : 19 tahun 23 th
Pekerjaan : IRT Nelayan
Pendidukan : SMA SMA
Agama : Islam Islam
Suku Bangsa : melayu / Indonesia Mealayu
Golongan Darah : -
Alamat : Dusun melati, Rt 09 / RW 04, Kel. Sui Kakap, Kab. KKR












2. Keluhan Utama : Ibu mengatakan Cemas tidak bisa tidur nyenyak Banyak
mengeluarkan air dari jalan lahir disertai mules sejak tanggal 22 januari 213,
pukul 23.00 WIB.
3. Riwayat Obstetri
a. Riwayii hamil yang sekarang
1) Ibu mengatakan ini hamil yaang pertama , tidak pernah keguguran
2) Ibu mengatakan HPHT : 17 04 2012
TP : 24 01 - 2013
3) Ibu mengetahui kehamilannya setelah 1 bulan tidak haid setelah
memeriksakan dirinya dengan bidan.
4) Ibu merasakan gerakan bayi setelah memasuki usia kehamilan 5 bulan
5) Ibu tidak pernah mengkonsumsi obat obatan lain/jamu, selain obat
yang diberikan bidan
6) Ibu memeriksakan kehamilannya selama hamil sebanyak 6 kali, semua
hasil pemeriksaan normal
7) Ibu medapatkan imunisasi TT pada kehamilan 4 bulan
b. Riwayat Menstruasi
1) Menarche : 14 tahun
2) Siklus : 28 hari
3) Lamanya : 5 7 hari
4) Banyaknya : 3 kali ganti pembalut dalam sehari
5) Dismenore : tidak ada
4. Riwayat Ginekologi
Ibu mengatakan tidak mempunyai riwayat keputihan yang berbau, gatal, tidak
mempunyai riwayat kelainan yang berhubungan dengan alat alat kelamin
dan kandungan.
5. Riwayat Kesehatan
Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit yang serius











6. Riwayat Psikososial
Ibu mengatakan senang dengan kehamilan, suami dan keluarga sangat
mendukung selama menjalani kehamilannya dan berharap ibu dapat
melahirkan dan berharap ibu dapat melahirkan normal.
7. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
8. Pola minum
Sehari lebih dari 12 gelas air putih, kadang es buah dan susu
9. Pola elimini
BAK sehari 5 6 kali sehari warn jernih dan tidak ada keluhan dalam BAK.
BAB 2 kali sehari dengan konsistensi lunak, tidak ada keluhan dalam BAB
10. Pola istirahat dan tidur
Tidur malam + 8 jam, siang 1 jam. Sejak tanggal 22 - 01 2013, pukul 23.00
WIB
11. Personal hygiene
Mandi, gosok dan ganti baju serta pakaian minimal 2 kali sehari, keramas 2
hari sekali.
12. Aktifitas
Ibu menjani rutinitas sepert i biasa bekerja sebagai ibu rumah tangga dibantu
ibu dan adik untuk menyelesaikan pekerjaan rumah ( menyapu, memasak,
mencuci)
13. Pola hubungan seksual
Ibu mengatakan selama hamil melakukan hubungan seksual 2 kali seminggu
pada usia kehamilan di bawah 8 bulan, usia kehamilan 8 bulan keatas 3 kali
seminggu.
Ibu mengatakan Melakukan hubungan dengan suami 2 hari yang lalu.













B. DATA OBJEKTIF
1. Kadaan Umum
Kesadaran : Composmentis
Kesadaran : Stabil
2. Antropometri
Tinggi Badan : 165 Kg
BB sekarang : 60 Kg
BB sebelum hamil : 52 Kg
LILA : 26 cm
3. Tanda tanda Vital
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 84x/menit
Pernafasan : 22x/menit
Suhu : 37
0
C
4. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Kulit kepala bersih, rambut hitam dan tidak rontok
Mata : Kelopak mata tidak oedem, kunjungtiva merah muda,
skelera tidak ikterik
Hidung : Bersih tidak ada pengeluaran lendir
Mulut dan gigi : Bersih tidak ada stomatis dan caries
Telinga : Bersih, tidak ada serumen, fungsi pendengaran baik
Leher : Tidak ditemukan pembesaran kellenjar lymfe
Dada : Suara nafas bersih
Payudara : Pu ting susu menonjol, hyperpigmentasi pada aerola,
belum ada pengeluara ASI











Abdomen : Tidak terdapat bekas luka oprasi, terdapat linea nigra,
pembesaran uterus sesuaidengan usia kehamilan
1) Leopold I : TFU 27 cm, teraba bulat besar tidak melenting ( bokong janin)
2) Leopold II : sebelah kanan teraba bagian-bagian terkecil janin, sebelah kiri
teraba bagian memamanjang datar yaitu punggung janin
3) Leopold III : Teraba bulat keras yaitu kepala janin
4) Leopold IV : Divergen
5) TBBJ : 2480gram
6) DJJ : 148x/menit
7) Ekstrimitas bawah : Oedem +/-, reflek patela +/+.
8) Tidak ada varices
9) Pemeriksaan dalam : tidak ada varices pada pirenium, tidak teraba
benjolan/tumor, pembukaan 2 cm, lippen lunak, presentasi kepala, ketuban
negatif, tidak teraba bagian yang menumbung, kepala hodge 1, kesan panggul
luas.

C. Analisis
Diagnosa :
Ny. Y umur 19 tahun GI P0 A0 hamil 40 minggu PU-KI U tunggal hi dup intra
uterin inpartu fase laten dengan ketuban pecah dini.
Data Dasar :
S :
ibu mengatakan ini hamil yang pertama
HPHT : 17 04 2012 TP : 24 01 2013
Cemas, tidur tidak nyenyak, banyak mengeluarkan air dari jalan lahir
warna putuh keruh baunya amis, 2 kain basah
O :











TFU 27 cm , teraba bulat besar, tidak melenting yaitu bokong janin
Sebelah kanan teraba bagian memanjang dataar seperti papan yaitu
punggung janin dan kiri teraba bagian kecil janin ,berbenjol-benjol
(ekstremitas janin)
Diatas symphisis teraba bulat keras tidak melenting lagi yaitu kepala janin
DJJ : 148x/menit
HIS 2x/10 menit lamanya 20-30 detik

2. Masalah : Cemas
3. Kebutuhan : istirahat dan pemenuhan nutrisi
D. Dianosa potensial : Infeksi pada ibu dan janin, dan kematian ibu dan janin
E . Antisipasi otensial : Terminasi kehamilan (kolaborasi dengan dr. Penanggung
jawab untuk induksi dengan drip syntocinon 10 UI, injeksi antibiotik ( cepotakcim 1
gram via IV
F. Penatalaksanaan
1. Beritahu ibu dan keluarga tentang keadaan kehamilannya
Jelaskan bayi ibu harus segera dilahirkan dengan induksi
Siapkan inform consent
Pasang infus RL
Berkolaborasi dengan dokter dalam memberikan obat oksitosin 10 UI
drip, dimulai 8 tetes/menit, dinaikan tiap 15 menit 4 tetes sampai dengan
20 tetes/menit dan Suntikkan cefotakcim 1 gram via IV ( skin test terlebi
dahulu 0,1 ml)
Observasi K/U, TTV, dan DJJ
Observasi (infus serta peroral) dan output (pengeluaran urin)
Anjurkan ibu untuk istirahat berbaring miring











Anjurkan ibu untuk tetap makan dan minum
Anjurkan ibu untuk memberitaahu segera jika merasakan, pusing(
ketidak nyamanan), ingin meneran atau merasa seerti mau BAB
mengajarkan ibu teknik relaksasi saat His dan tidak His
mengajarkan ibu cara meneran yang benar
memberikan ibu pilihan posisi meneran yang ibu inginkan
memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan
Observasi kemajuan persalinan, jika 4 jam tidak ada kemajuan rujuk
segera pasien ke Rumah Sakit.

G. Evaluasi
1. Ibu dan keluarga mengerti tentang kondisnyai saat ini
2. Pada hari ke-1, Tanggal 23-01- 2013, pukul 11.00 WIB
a. Inform concent sudah ditanda tangani leh ibu dan suami
b. Terpasang infus RL drip
c. syntocinon 8tetes/menit
d. hasil skin test cepotaksim negatif
e. injeksi cepotakcim sudah diberikan via IV
f. ibu istirahat berbaring miring kiri
g. ibu memilih posisi mirin untuk meneran
h. ibu minum segelas teh manis hangat dan sepiring nasi
i. ibu mengerti terhadap penjelasan bidan dan mau mlakukannya
j. mendukumentasikan tindakan dan hasil pemeriksaan dalam catatan
medis.

3. Tanggal 23-01-2013 / pukul 13.15 WIB
K/u : ibu baik
Kesadaran : Compos mentis











TD : 120/70mmHG
Nadi : 88x/mnit
Pernafasan : 24x/menit
Suhu : 37,2
0
C
His 4x/10menit lamanya 45 detik
Djj : 156 x/menit
Infus RL drip synticinon 20 tetes /menit
Ibu BAK : + 250CC
Ibu megikuti anjuran bidan

4. Tanggal 23-01-2013 / pukul 13.30 WIB
*Ibu mengeluh sakitnya semakin kuat da ingi meneran
K/u : ibu baik
Kesadaran : Compos mentis
TD : 120/70mmHG
Nadi : 88x/mnit
Pernafasan : 24x/menit
His 4x/10menit lamanya 45 detik
Djj : 156 x/menit
Infus RL drip synticinon 20 tetes /menit
Mengevaluasi VT porsio masih teraba pembukaan 9 cm, ket (-) kep
HIII
+

Ibu miring kiri kembali dan mengatur nafas

5. Tanggal 23-01-2013 pukul 13.45 WIB
*Ibu ingin meneran
*Ibu memilih posisi miring
K/U ibu : baik











Ibu dipimpin meneran
Pukul 14.30 WIB
Bayi lahir spontan segera menangis, jenis kelamin perempuan hidup, BB : 2500 gram,
PB: 46 cm
Puku; 14.40 WIB
*Perut ibu mules, kontraksi baik, TFU 1 jari bawah pusat, tidak teraba janin kedua
keluar darah secara tiba-tiba, dilakukan penegangan tali pusat terkendali, placenta
lahir spontan dan lengkap tidak ada pengkapuran beratnya + 500gram. Pirenium utuh.
Perdarahan + 250cc .
Pukul 15.00 WIB setelah ibu melahirkan
*ibu merasakan perutnya mules
K/U : baik, TD; 110/60 mmHg, Nadi : 80x/menit, pernafasan : 20x/mnt , TFU : 2 jari
bawah pusat , Perdarahan sedikit +100cc, Bayi diberi ASI segera,
Hari ke-2 Tanggal 24-01-2013 pukul 08.00 WIB
*Ibu diperbolehkan pulang
K/u ibu baik TD : 120/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Pernafsaan : 18x/menit, Suhu : 36,8
0
C, lochea rubra.















LAMPIRAN

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari Ke-1

Tanggal Pukul Catan perkembangan Nama bidan
& Ttd
23 01 13




















13.15





























S:
Pasien merasa Mulesnya semakin kuat
dan sering
O:
-K /U baik,
-TD :120/70mmHg,
- N:88x/menit,
-R : 24x/mnt
- T: 37,2
0
C.
-His 4x/10 mnt, lamanya >40 dtk
-DJJ:156 x/menit
-Infus RL drip cyntocinon masih
terpasang 16tts/mnt
A:
Ny.Y usia 19 tahun GI P0 A0 hamil 40
mingguPU-KI U tunggal hidup intra uterin
dengan ketuban pecah dini

P:
Mengimformasikan hasil pemeriksaan
pada pasien dan keluarga.




















































13.30
































*pasien daan keluarga mengerti
Mengajarkan ibu teknik relaksasi saat
His dan tidak His
* pasien mengerti dan dapat melakukannya
Menganjurkan pasien untuk tetap
makan dan minum saat tidak his
*keluarga memfasilitasi ma/mi pasien

S:
Pasien mengeluh mules semakin kuat dan
sering

O:
o k/ u baik
o Mengobservasi TTV dan His
o Td :120/70mmHg, N:84x/mnt, R:
22x/mnt
o His 4x/10mnt, lamanya >40dtk
o DJJ: 128x/mnt
o Mengevaluasi VT pembukaan
9cm,ket(-)kepala H III
+

A:
Ny.Y usia 19 tahun GI P0 A0 hamil 40
mingguPU-KI U tunggal hidup intra uterin
dengan ketuban pecah dini

P:

Menganjurkan pasien untuk memilih
posisi meneran

















































14.00



















14.30










14.35



*ibu memilih posisi miring
Mengajarkan pasien cara meneran
yang benar
*pasien mengerti dan dapat
melakukannya


S:

Pasien mengeluh ingin meneran
O:
-K/U : Biaik
-dilakukan VT pembukaan
lengkap/10cm,kep HIII
+
A: kala II

P:
Mengatur posisi * pasien miring kiri
Memimpin meneran
Menolong kelahiran bayi
Melakukan IMD
Bayi lahir spontan
Jenis kelamin: perempuan
BB/PB :2500 gram/ 46cm
A/S : 8/9

S:

Pasien mengeluh perutnya mules
O :






























































14.40









15.00











o k/u: baik, TFU: 1 jari bawah pusat
tidak ada janin ke 2, uterus grobuler,
kontraksi baik, diklem tidak terdapat
robekan pada jalan lahir, keluarnya
darah secara tiba- tiba
A: Kala III persalinan
P:
Memberi tahu pasien saatnya
melahirkan placenta
*pasien mengerti
Menjelaskan pada pasien tentang
asuhan yang akan diberikan
*mengerti dan pasien mengerti dan
menyetujui
Melakukan penegangan tali pusat
terkendali
o Placeta lahir spontan,lengkap,berat
500gram, perdarahan + 250cc
P:

Melakukan massage fundus uteri
*kontraksi uterus baik
Mengajarkan pada pasien dan
keluarga cara massage fundus uterus
sendiri
*pasien dapat melakukan dengan baik
Memeriksa luka robekan jalan lahir
* pasien mengerti dan menyetujui
o tidak terdapat robekan jalan lahir.








































Hari ke-2
24 -01- 13




15.30



































07.00


Membersihkan pasien dan tempat
pasien tidur *pasien bersih, tempat
tidur bersih
S:
Keluhan : perut masih mules
O:
o K/U baik
o TD : 100/60mmHg, N:80x/mnt,
R:20x/mnt, T: 36,8
0
C
o TFU 2jari bawah pusat, blass tidak
penuh, perdarahan
+
50cc
A: P1 A 0 kala IV
P:
menjelaskan pada pasien tanda
bahaya nifas *pasien mengerti
Melakukan observasi tanda bahaya
nifas


Memberikan penjelasan PENKES
tentang nutrisi pasien makan 1 porsi
dan minum 1 gelas teh hangat
Menganjurkan pasien untuk mbilisasi
dini
*pasien mengerti dan miring kiri
Mendampingi dr.visite
Advis: R/ oral amoxcillin 3x500mg, fe
1x1, asam mefenamat 3x500 mg
S:
Kel :perut masih mules







































08.00
O:
o K/U baik
o TD:100/70mmHg,
o N:80x/mnt, R:20x/mnt, T:36,9
0
C, TFU
2 jari bawah pusat, lochea rubra
+10cc,infus D5% m tts//mnt
A: PI A0 kala IV
P:
Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada
pasien
*pasien mengerti
Memotivasi pasien untuk ASI eksklusif
*pasien mengerti
Menjelaskan makan yang baik untuk
ibu nifas
*pasien mengerti
Menjelaskan tentang vulva hygien
*pasien mengerti
Memindahkan pasien ke ruang nifas


S:
Pasien tidak ada keluhan
O:
o k/u baik
o TD:120/70mmHg,N:80x/mnt,
o R:20x/mnt,T:37
0
C
o TFU: 3jari bawah pusat, BAK lancar
A: P1 Ao partus spontan hari ke 2
P:











Pasien sudah bisa duduk dan berjalan
Menjelaskan kepada pasien tentang
kontrasepsi pasca bersalin
*Pasien mengerti
Menjelaskan tentang perawatan tali
pusar
*pasien mengerti
Menjelaskan tentang tanda bahaya
nifas dan bayi baru lahir
*ibu mengerti
Memberikan has steril untuk pusar
bayi dan obat ibu
Pasien diperbolehkan pulang

Pasien pulang






















BAB IV
PEMBAHASAN


1. Karakteristik ibu hamil dengan KPD
Dari data subjektif karakteristik ibu hamil dengan kasus ini diperoleh karakteristik ibu
hamil dengan KPD adalah umur 19 tahun primi gravida, dengan aktivitas seksual
kehamilan trimester ke -2 kali seminggu pada trimester 1 s/d 3 dan meningkat 3 kali
seminggu pada trimester akhir.
Menurut Prawiroharjo (2010) salah satu faktor predisposisi terjadinya KPD usia wanita
hamil kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun.. Menurut Taufan Nugroho(2010) salah satu
faktor resiko terjadinya ketuban pecah dini yaitu Trauma yang didapat misalnya hubungan
seksual, karena biasanya disertai infeksi.
Terdapat keseuaian antara teori dan karakteristik pasien dan aktivitas seksual pasien.
Penatalaksanaan kasus KPD di puskesmas perawatan sungai kakap sudah mengacu pada
teori atau sesuai dengan teori, atau tidak ada kesenjangan antara teori dan penatalaksanaan
di lapangan..
Penatalaksanaan kasus KPD berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan
injeksi mapun oral.
Pada saat Ny. Y datang ke puskesmas perawatan sungai kakap pada tanggal
23-01-2013, pukul 11. 00 . WIB dengan riwayat ketuban sudah pecah selama 12 jam
untuk itu diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi. Sebelum dilakukan induksi
persalinan, memastikan detak jantung bayi normal, TBBJ janin / BB janin diperkirajkan











dapat melewati panggul, K/U ibu baik, His tidak adekuat. Setelah dipastikan DJJ janin
normal, kesan panggul luas, K/U ibu baik , His tidak adekuat maka induksi dilakukan.

Proses induksi persalinan dimulai dengan pemasangan infus RL drip oksitosin 10
IU pukul 11.30 WIB di mulai 8 tetes permenit, kemudian dinaikkan 4 tetes setiap 15 menit
20 tetes permenit. Jika His sudah adekuat tetesan tidak perluh dinaikan. Dalam proses
induksi persalinan, dilakukan pemantauaan k/u pasien, his, djj, dan kemajuan persalinan
secara intensif.
Pada pukul 13.30 WIB His adekuat 4x dalam 10 menit lamanya 45 detik. Ibu
mengeluh ingin meneran, pembukaan 10 cm, kepala HIII
+
, dilakukan pertolongan
persalinan sesuai Standar Operasional Prosedur ( SOP ) pada pukul 14.00 WIB partus
spontan anak perempuan hidup, BB : 2500 gram, PB :46cm. Plasenta dilahirkan spontan
dan lengkap pada pukul 14.10 WIB , tidak terdapat robekan jalan lahir, perdarahan + 250
CC. Pemantauan kala IV dilakukan secara intensif tiap 15 menit pada 1 jam pertama
postpartu dan tiap 30 menit pada jam dua jam pertama postpartum.pada kala IV tidak
terdapat masalah, kontaksi uterus baik perdarahan
+ 100CC
. Setelah 2 jam post partum, ibu dan
bayi dipindahkan ke ruang nifas. Ibu dan bayi dalam keadaan baik, dan dirawat secara
Rooming In. Obat-obatan peroral pasca melahirkan berkolaborasi dengan dokter (amoxcilinl
3x500mg, fe 1x1). Pada hari ke-2 tanggal 24 01-13 keadaan umum ibu dan jani baik, paien
diperbolehkan pulang , pukul 08.30 WIB setelah pasie melengkapi syarat jampersal idan
mendapatkan has steril untuk perawatan tali pusat bayi serta mendapatkan penjelasan dan dari
bidan mengenai perawatan BBL, ASI eksklusif, alat kontrasepsi pasca bersalin, pasien
pulang.















BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Ny.Y datang ke puskemas pukul 11.00 WIB , ketuban pecah 12 jam yang lalu ( pukul
23.00/tgl 22-01-13)
Terjadinya KPD pada Ny.Y, dapat disim pulkan kemungkinan disebabkan oleh faktor
usia karena usia Ny.Y ,kurang dari 20 tahu (19 tahun) dan faktor trauma karena rutinitas
berhubungan dengan suami yang terlalu sering sehingga dicurigai terjanya trauma yang
menyebabkan terjanya KPD (menurut Taufan Nugroho 2012 dan Prawiroharjo 2010).
Adapun Asuhan kebidanan yag diberikan pada Ny.Y mengacu pada teori (Ratna
Pudiastuti) yaitu pemberian oksitosin dan antibiotik, induksi persalinan dan
pemberian antibiotik.pasien diinfus dengan cairan RL, setelah dipastikan k/u pasien
baik, DJJ janin normal teratur, TBB janin diprkirakan dapat melewati panggul, his tidak
adekuat , maka dilakukan induksi dengan berkolaborasi dengan dokter penanggung
jawab di puskesma perawatan sungai kakap dalam pmberian oksitisin 10 UI drip
dimulai 8 tetes dinaikan tiap 15 menit 4 tetes , jika his sudah adekuat maka tetesan tidak
perlu dinaikan. Setelah 3,5 jam diinduksi pasien partus spontan anak perempuan hidup
dengan berat badan 2500 gram, panjang badan 46 cm, placenta lahir spontan lengkap ,
tidak terdapat robekan jalan lahir. Pedarahan normal kurang lebih 250 cc, tidak ada
penyulit, kala IV tidak ada masalah k/u ibu dan bayi baik.. Pada hari ke-2 k/u ibu dan
bayi baik, pasien diperbolehkan pulang.Pasien pulang dalam keadaan baik pukul 08.30
WIB













B. SARAN
1. Bagi mahasiswa
Supaya dapat memahami asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan ketuban pecah
dini. Sehingga dapat memberikan asuhan yang tepat dan sesuai dengan teori.
































DAFTAR PUSTAKA

Juwita AR (2007). Faktor yang mempengaruhi Terjadinya Ketuban Pecah Dini di Rumah
Bersalin Tiyanti Maospati Jawa Barat Tahun 2007

Manuaba I.B.G. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC. 1998

Prawirohardjo, S (2010) . Ilmu Kebidanan. Edisi Keempat. YBP-SP. Jakarta

Ratnawati S, dkk (2010) Hubungan Antara Pekerjaan Ibu Hamil Dengan Kejadian Ketuban
Pecah Dini Di URJ Poli Hamil II RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Jurnal Penelitian
Kesehatan Suara Forikes. Vol.I No.3 Juli 2010 ISSN: 2086-3098

Yudin MH. Money DM. (2008). Skrining dan Manajemen Bakteri Vaginosis dalam
Kehamilan. JOGC; 2011: 702-6