Anda di halaman 1dari 20

1

Pengertian Pembuktian
Pembuktian menurut Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., guru besar FH-UGM
mengandung beberapa pengertian
1
:
1. Membuktikan dalam arti logis atau ilmiah
Membuktikan berarti memberikan kepastian mutlak, karena berlaku bagi setiap orang dan
tidak memungkinkan adanya bukti lawan.
2. Membuktikan dalam arti konvensionil
Membuktikan berarti memberikan kepastian yang nisbi/relatif sifatnya yang mempunyai
tingkatan-tingkatan:
kepastian yang didasarkan atas perasaan belaka/bersifat instuitif (conviction intime)
kepastian yang didasarkan atas pertimbangan akal (conviction raisonnee)
3. Membuktikan dalam hukum acara mempunyai arti yuridis
Didalam ilmu hukum tidak dimungkinkan adanya pembuktian yang logis dan mutlak yang
berlaku bagi setiap orang serta menutup segala kemungkinan adanya bukti lawan.
Akan tetapi merupakan pembuktian konvensionil yang bersifat khusus. Pembuktian dalam
arti yuridis ini hanya berlaku bagi pihak-pihak yang beperkara atau yang memperoleh hak
dari mereka. Dengan demikian pembuktian dalam arti yuridis tidak menuju kepada
kebenaran mutlak.
Ada kemungkinan bahwa pengakuan, kesaksian atau surat-surat itu tidak benar
atau palsu atau dipalsukan. Maka hal ini dimungkinkan adanya bukti lawan.
Pembuktian secara yuridis tidak lain adalah pembuktian historis yang mencoba
menetapkan apa yang telah terjadi secara konkreto. Baik pembuktian yang yuridis
maupun yang ilmiah, maka membuktikan pada hakekatnya berarti mempertimbangkan
secara logis mengapa peristiwa-peristiwa tertentu dianggap benar. Membuktikan dalam
arti yuridis tidak lain berarti memberikan dasar-dasar yang cukup kepada hakim yang
memeriksa perkara yang bersangkutan guna memberikan kepastian tentang kebenaran
peristiwa yang diajukan.
Berbeda dengan azas yang terdapat pada hukum acara pidana, dimana seseorang
tidak boleh dipersalahkan telah melakukan tindak pidana, kecuali apabila berdasarkan
buki-bukti yang sah hakim memperoleh keyakinan tentang kesalahan terdakwa, dalam

1
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Jakarta, 1988.
2

hukum acara perdata untuk memenangkan seseorang, tidak perlu adanya keyakinan
hakim.
Yang penting adalah adanya alat-alat bukti yang sah, dan berdasarkan alat-alat
bukti tersebut hakim akan mengambil keputusan tentang siapa yang menang dan siapa
yang kalah. Dengan perkataan lain, dalam hukum acara perdata, cukup dengan kebenaran
formil saja.

Pengertian Sistem Pembuktian
Sistem pembuktian terdiri dari dua kata, yaitu kata sistem dan pembuktian.
Secara etimologis, kata sistem merupakan hasil adopsi dari kata asing system (Bahasa
Inggris) atau systemata (Bahasa Yunani) dengan arti suatu kesatuan yang tersusun
secara terpadu antara bagian-bagian kelengkapannya dengan memiliki tujuan secara
pasti atau seperangkat komponen yang bekerja sama guna mencapai suatu tujuan
tertentu.
2

Mengenai arti pembuktian dalam hukum acara pidana terdapat beberapa sarjana
hukum mengemukakan definisi yang berbeda-beda. Andi Hamzah mendefenisikan
pembuktian sebagai upaya mendapatkan keterangan-keterangan melalui alat-alat bukti
dan barang bukti guna memperoleh suatu keyakinan atas benar tidaknya perbuatan
pidana yang didakwakan serta dapat mengetahui ada tidaknya kesalahan pada diri
terdakwa.
3
M. Yahya Harahap menilai pembuktian adalah ketentuan yang membatasi
sidang pengadilan dalam usahanya mencari dan mempertahankan kebenaran.
4

Arti sistem pembuktian adalah suatu kesatuan yang tersusun secara terpadu
antara bagian-bagian kelengkapannya dalam usahanya mencari dan mempertahankan
kebenaran. Pengertian ini merujuk pada pengertian dari sistem dan pengertian dari
pembuktian yang dikemukakan M. Yahya Harahap. Maksud bagian-bagian kelengakapan
dari sistem pembuktian penulis merujuk pada pengertian yang dikemukakan oleh Andi
Hamzah, yaitu alat-alat bukti dan barang bukti.


2
Diambil dari http://www.karyatulisilmiah.com/pengertian-sistem.html
3
Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia: Jakarta 1984, hal 77.
4
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Pustaka Kartini: Jakarta 1993, hal 22.
3

Sistem Pembuktian
a. Conviction-in Time
Sistem pembuktian conviction-in time menentukan salah tidaknya seorang
terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan hakim. Dalam sistem
pembuktian ini hakim memiliki andil yang sangat besar, jika hakim telah merasa yakin
bahwa terdakwa benar melakukan apa yang didakwakan kepadanya maka hakim bisa
menjatuhkan pidana terhadapnya, dan sebaliknya. Persoalan darimana hakim
mendapatkan keyakinan tidak menjadi permasalahan.
5

Kelemahan dari sistem pembuktian conviction-in time yaitu jika alat-alat bukti yang
diajukan di persidangan mendukung kebenaran dakwaan terhadap terdakwa namun
hakim tidak yakin akan itu semua maka tetap saja terdakwa bisa bebas. Dan sebaliknya,
jika alat-alat bukti yang dihadirkan di persidangan tidak mendukung adanya kebenaran
dakwaan terhadap terdakwa namun hakim meyakini terdakwa benar-benar melakukan
apa yang didakwakan oleh Penuntut Umum maka pidana dapat dijatuhkan oleh Hakim.
6

b. Conviction-Raisonee
Dalam sistem pembuktian conviction raisonee keyakinan hakim tetap memegang
peranan penting dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Akan tetapi, dalam sistem
pembuktian ini, faktor keyakinan hakim dibatasi. Memang pada akhirnya keputusan
terbukti atau tidak terbuktinya dakwaan yang didakwakan terhadap terdakwa ditentukan
oleh hakim tapi dalam memberikan putusannya hakim dituntut untuk menguraikan
alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Dan reasoning
itu harus reasonable, yakni berdasarkan alasan yang dapat diterima. Arti diterima disini
hakim dituntut untuk menguraikan alasan-alasan yang logis dan masuk akal.
7


5
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Pustaka Kartini: Jakarta 1993, hal
256
6
ibid
7
ibid
4


c. Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Positif
Maksud dari pembuktian menurut undang-undang secara positif adalah untuk
membuktikan terdakwa bersalah atau tidak bersalah harus tunduk terhadap undang-
undang. Sistem ini sangat berbeda dengan sistem pembuktian conviction-in time dan
conviction-raisonee. Dalam sistem ini tidak ada tempat bagi keyakinan hakim. Seseorang
dinyatakan bersalah jika proses pembuktian dan alat-alat bukti yang diajukan di
persidangan telah menunjukkan bahwa terdakwa bersalah. Proses pembuktian serta alat
bukti yang diajukan diatur secara tegas dalam undang-undang.
8

d. Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif
Berbeda dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif, dalam
sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif disayaratkan adanya
keyakinan hakim untuk menentukan apakah terdakwa bersalah ataukah tidak. Dalam
sistem pembuktian ini alat-alat bukti diatur secara tegas oleh undang-undang, demikian
juga dengan mekanisme pembuktian yang ditempuh. Ketika alat-alat bukti telah
mendukung benarnya dakwaan yang didakwakan kepada terdakwa maka haruslah timbul
keyakinan pada diri hakim akan kebenaran dari alat-alat bukti tersebut. Jika alat-alat bukti
telah mendukung kebenaran bahwa terdakwa bersalah namun belum timbul keyakinan
pada diri hakim maka pidana tidak dapat dijatuhkan.

8
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Pustaka Kartini: Jakarta 1993, hal
257
5

Asas-asas Pembuktian
Ada 10 jenis asas-asas Hukum Pembuktian Perdata yang terpenting untuk diketengahkan
dalam tulisan ringkas ini, kesemuanya erat kaitannya dengan sifat khas dari Hukum Acara
Perdata selaku induk dari Hukum Pembuktian Perdata. Karena itulah asas-asas Hukum
Pembuktian Perdata ini tidak bisa dilepaskan dari asas-asas Hukum Acara Perdata pada
umumnya.

1. ASAS AUDI ET ALTERAM PARTEM
Asas yang paling utama dari Hukum Pembuktian adalah asas Audi Et Alteram Partem yaitu
asas kesamaan prosesuil dan para pihak yang berperkara. Atau seperti yang dituliskan
oleh Milton C. Jacobs bahwa "General rules of evidence are the same in equity as at law".
Dalam istilah lainnya, asas ini pun sering disebut sebagai asas "EINES MANNES REDE IST
KEINES MANNES REDE".

Berdasarkan asas inilah sehingga Hakim tidak boleh menjatuhkan putusan sebelum
memberi kesempatan untuk mendengarkan kedua pihak. Dalam hal putusan verstek,
dianggap Hakim sudah memberi kesempatan kepada kedua pihak, tetapi kesempatan itu
tidak digunakan oleh tergugat.

Sebenarnya lembaga "verstek" ini adalah merupakan faktor penunjang terlaksananya asas
Audi Et Alteram Partem ini, karena dengan adanya verstek, maka tergugat didorong untuk
menggunakan haknya memperoleh kesamaan prosesuil dengan hadir, karena kalau
tergugat tidak hadir padahal telah dipanggil secara patut, akibatnya Hakim dapat
menjatuhkan putusah verstek.

Sebagai konsekwensi adanya kesempatan yang sama secara prosesuil telah diberikan
terhadap kedua pihak yang berperkara maka suatu perkara tidak dapat disidangkan dua
kali berdasarkan asas "BIS DE EADEM RE NE SIT ACTIO".

Berdasarkan asas Audi Et Aiteram Partem ini, hakim harus adil dalam memberikan beban
pembuktian pada pihak yang berperkara agar kesempatan untuk kalah atau menang bagi
6

kedua pihak tetap sama, tidak pincang atau berat sebelah. Di sini perlunya Hakim
memperhatikan asas-asas beban pembuktian.

Penggugat mau pun tergugat dapat menggunakan semua alat-alat bukti, dalam arti kata
tentunya menurut kebutuhan dan kasusnya. Kecuali dalam hal-hal khusus, misalnya
antara penggugat dan tergugat mengadakan perjanjian pembuktian bahwa jika terjadi
persengketaan di muka pengadilan, satu-satunya alat bukti yang dapat digunakan adalah
alat bukti tertulis atau akta otentik misalnya.

Untuk menjamin terlaksananya asas Audi Et Alteram Partem ini, undang-undang telah
menentukan bahwa pengadilan dilakukan dengan pemeriksaan terbuka untuk umum,
kecuali dalam hal-hal khusus misalnya perkara yang berkaitan dengan kesusilaan maka
sidang dinyatakan tertutup untuk umum.

2. ASAS IUS CURIA NOVIT
Asas Hukum Pembuktian yang juga merupakan asas Hukum Acara Perdata pada umumnya
dikenal dengan sebutan asas "IUS CURIA NOVIT", yaitu bahwa Hakim selalu difiksikan
mengetahui akan hukumnya dari setiap kasus yang diadilinya. Sebenarnya asas ini berasal
dari zaman Legistis dimana menurut kaum Legis, hukum itu identik dengan undang-
undang, dan undang-undang mampu mengatur keseluruhan aturan hukum. Dewasa ini
ajaran Legis sudah tidak diterima, tetapi asas IUS CURIA NOVIT masih tetap diperlakukan.

Berdasarkan asas ini, Hakim sama sekali tidak boleh menolak untuk memeriksa perkara
hingga putus dengan alasan Hakim tidak mengetahui hukumnya, atau hukumnya belum
ada. Dalam hal hukumnya jelas belum ada, Hakim harus menggunakan methode Analog
dan Argumentum A Contrario.

Berdasarkan asas lus Curia Novit ini, maka para pihaklah yang wajib untuk membuktikan
"peristiwa"nya, sedang Hakim membuktikan masalah hukumnya.


7

3. ASAS NEMO TESTIS INDONEUS IN PROPRIA CAUSA
Asas ini menganut ajaran bahwa tidak seorangpun vang dapat menjadi saksi atas
perkaranya sendiri. Sehingga berdasarkan asas ini, baik pihak penggugat atau pun pihak
tergugat tidak mungkin tampil sebagai saksi dalam persengketaan antara mereka.

Dengan lain perkataan, saksi haruslah orang lain yang akan memberikan keterangan
kesaksian tentang apa yang dilihatnya, didengarnya dan dialaminya.

Sehubungan dengan saksi ini, ada asas khusus yang bunyinya UNUS TESTIS NULLUS
TESTIS (satu saksi bukan saksi). Dan biasanya asas inipun diterapkan alat bukti
persangkaan-persangkaan.

4. ASAS NE ULTRA PETITA
Asas ini adalah asas yang membatasi hakim sehingga hakim hanya boleh mengabulkan
sesuai yang dituntut. Hakim dilarang mengabulkan lebih daripada yang dituntut.

Sehubungan dengan pembuktian, maka ini berarti hakim tidak boleh membuktikan lebih
daripada apa yang dituntut oleh penggugat.

Jika tergugat telah mengakui secara penuh dengan pengakuan murni atas gugatan
penggugat, maka sekalipun pengakuan tergugat itu diketahui oleh hakim sebagai tidak
benar, tetapi hakim berdasarkan asas Ne Ultra Petita harus menerima pengakuan murni
tergugat itu sebagai sesuatu yang benar.

Inilah sehingga Hakim Perdata dalam membuktikan bersifat "PREPONDERENSE OF
EVIDENCE".

5. ASAS NEMO PLUS JURIS TRANSFERRE POTEST QUAM IPSE HABET
Asas ini menentukan bahwa tidak ada orang yang dapat mengalihkan lebih banyak hak
daripada apa yang dimilikinya.

Dihubungkan dengan pembuktian, maka contohnya dapat penulis gambarkan sebagai
berikut:
8


Si A menggugat bahwa gedung bertingkat yang terletak di Jl. Sabutung 58 Ujungpandang
adalah rumah si A, bukan rumah milik si B. Dalam perkara ini, Tergugat adalah si B yang
menempati rumah itu. Dalam persidangan itu si B selaku tergugat mengadakan pengakuan
murni bahwa benar gedung bertingkat itu adalah milik si A Padahal si B sebenarnya
mengetahui bahwa gedung yang di tempatinya itu sebenarnya adalah milik Tuan X.
Dalam hal kasus di atas, karena si B mengakui sesuatu yang bukan haknya, maka
berdasarkan asas Nemo Plus Juris Transferre Potest Quam Ipse Habet, hakim tidak boleh
menerima pengakuan itu.

Lain halnya seandainya gedung tadi milik si B, kemudian dengan kesadaran penuh si B
mengakui di muka persidangan bahwa gedung itu milik si A, pengakuan ini meskipun tidak
benar, tetap karena mengenai hak si B sendiri, maka oleh hukum dianggap si B memberi
hadiah kepada si A gedung bertingkat miliknya itu.

6. ASAS NEGATIVA NON SUNT PROBANDA
Asas ini menyatakan bahwa sesuatu yang bersifat negatie itu tidak dapat dibuktikan. Yang
dimaksud sebagai sesuatu yang bersifat negatie adalah yang menggunakan perkataan
"TIDAK", misalnya : Tidak berada di Malino, Tidak merusak mobil si A, tidak berhutang
kepada si X, dan lain-lain.

Sehubungan dengan asas ini, penulis ingin memperlunak, bahwa sesuatu yang bersifat
negatif tidaklah berarti mustahil untuk dibuktikan, hanya saja sulit untuk dibuktikan secara
langsung. Dengan lain perkataan, dapat dibuktikan secara tidak langsung.

Sebagai misal: Jika si A diminta untuk membuktikan ketidakberadaannya di Pare-Pare
pada tanggal 9 Nopember 1982, maka si A dapat membuktikannya dengan jalan
membuktikan keberadaannya di Jakarta pada saat yang sama.

7. ASAS ACTORI INCUMBIT PROBATIO
Asas ini dikenal juga sebagai asas "beban pembuktian" (The Burden of proof ) yang dalam
Hukum Positip kita di Indonesia diatur dalam pasal 163 H.I.R. (pasal 283 RBG, pasal 1865
BW).
9


Asas ini berarti bahwa barangsiapa yang mempunyai suatu hak atau menyangkali adanya
hak orang lain, harus membuktikannya. Hal ini berarti bahwa dalam hal:

a. Pembuktian yang diajukan penggugat dan tergugat sama-sama kuat, atau

b. Pembuktian yang diajukan penggugat dan tergugat sama sekali tidak ada,

maka baik penggugat maupun tergugat ada kemungkinan dibebani dengan pembuktian
oleh Hakim.

Bagi pihak yang dibebani pembuktian, kemudian ternyata tidak mampu untuk
membuktikannya, harus dikalahkan dalam perkara itu. Inilah yang dinamai sebagai "resiko
pembuktian". Siapa yang harus dibebani pembuktian? Sifatnya kasuistis, artinya
tergantung kasusnya.

8. ASAS YANG PALING SEDIKIT DIRUGIKAN
Asas ini menyatakan bahwa Hakim harus membebani pembuktian bagi pihak yang paling
sedikit dirugikan jika harus membuktikan.

Asas ini jika dalam Hukum Pidana sebenarnya merupakan perwujudan dan The
Presumption of innocence" (Praduga tak bersalah).

Asas ini sering dihubungkan dengan asas Negativa non sunt probanda. Jadi yang dianggap
pihak yang paling dirugikan jika harus membuktikan adalah pihak yang harus
membuktikan sesuatu yang negative.

9. ASAS BEZITTER YANG BERITIQAD BAIK
Asas ini berbunyi bahwa itiqad baik selamanya harus dianggap ada pada setiap orang yang
menguasai sesuatu benda dan barang siapa menggugat akan adanya itiqad buruk bezittter
itu harus membuktikannya.

10

Jadi dengan asas ini telah ditentukan bahwa jika penggugat dalam gugatannya
mendakwa/ menyatakan adanya itiqad buruk pada si tergugat yang merupakan bezitter
dari barang yang digugat, si penggugatlah yang harus dibebani dengan pembuktian (lihat
pasal 533 BW).

10. ASAS YANG TIDAK BIASA HARUS MEMBUKTIKAN
Asas ini ditemui dalam putusan Mahkamah Agung, sehingga merupakan asas yang lahir
dari Yurisprudensi, bahwa barangsiapa yang menyatakan sesuatu yang tidak biasa, harus
membuktikan sesuatu yang tidak biasa itu.

Selain ke-10 macam asas-asas Hukum Pembuktian yang penulis anggap terpentng, tentu
saja masih ada asas-asas lain yang dapat ditemui baik dalam Hukum Positip maupun
Yurisprudensi atau Doktrina.

11

Beban Pembuktian
Teori Beban Pembuktian
Dalam ilmu pengetahuan terdapat beberapa teori tentang beban
pembuktian yang merupakan pedoman bagi Hakim yaitu:

1. Teori pembuktian yang bersifat menguatkan belaka (bloot affirmatief)
Menurut teori ini maka siapa yang mengemukakan sesuatu harus membuktikannya dan
bukan yang mengingkari atau menyangkalnya. Teori ini sekarang telah ditinggalkan.

2. Teori Hukum Subyektif
Menurut teori ini suatu proses perdata itu selalu merupakan pelaksanaan hukum
subyektif atau bertujuan mempertahankan hukjum subyektif, dan siapa yang
mengemukakan atau mengaku mempunyai sesuatu hal hatrus membuktikannya. Dalam
hal ini penggugat tidak perlu membuktikan semuanya. Teori ini memdasarkan pada pasal
1865 BW.

3. Teori Hukum Obyektif
Menurut teori ini mengajukan tuntutan hak ataua gugatan berarti bahwa pengguggat
minta kepada Hakim agar hakim menerapkan ketentuan-ketentuan ukum obyektif
terhadap peristiwa yang diajukan. Oleh karena itu penggugatharus membuktikan
kebenaran dari pada peristiwa yang diajukannya dan kemudian mencari hukum
obyektifnya untuk ditetapkan pada peristiwa tersebut.

4. Teori Hukum Publik
Menurut teori ini maka mencari kekuasaan suatu peristiwa di dalam peradilan merupakan
kepentingan publik. Oleh karena itu Hakim harus diberi wewenang yang lebih besar untuk
mencari kebenaran. Di samping itu para pihak ada kewajiban yang sifatnya hukum publik,
untuk membuktikan dengan segala macam alat bukti. Kewajiban ini harus disertai sanksi
pidana.


12

6. Teori Hukum Acara
Asas audi et alteram partem atau juga asas kedudukan prosesuil yang sama dari pada para
pihak di muka Hakim merupakan asas pembagian beban pembuktian menurut teori ini.
Hakim harus membagi beban pembuktian berdasarkan kesamaan dari para pihak. Asas
kedudukan prosesuil yang sama dari para pihak membawa akibat bahwa kemungkinan
untuk menang bagi para pihak harus sama. Oleh karena itu Hakim harus membebani para
pihak dengan pembuktian secara seimbang atau patut.

13

Alat Bukti
Alat bukti adalah segala sesuatu yang oleh undang-undang ditetapkan dapat
dipakai membuktikan sesuatu. Alat bukti disampaikan dalam persidangan pemeriksaan
perkara dalam tahap pembuktian. Sedangkan Pembuktian adalah upaya yang dilakukan
para pihak dalam berperkara untuk menguatkan dan membuktikan dalil-dalil yang
diajukan agar dapat meyakinkan hakim yang memeriksa perkara.

Macam macam Alat bukti:
Berdasarkan ketentuan pasal 164 HIR dan 284 Rbg serta pasal 1886 KUHPerdata ada lima
alat bukti dalam perkara perdata di Indonesia, Yaitu:
1. alat bukti tertulis
2. alat bukti saksi
3. alat bukti persangkaaan
4. alat bukti pengakuan
5. alat bukti sumpah

Dalam praktek masih ada salah satu alat bukti lain yang sering digunakan yaitu alat
bukti pengetahuan Hakim, yaitu hal atau keadaan yang diketahuinya sendiri pada waktu
melakukan pemeriksaan setempat.

Macam-Macam Alat Bukti.
1. Alat Bukti Tertulis atau Surat
Dalam acara perdata, bukti tertulis merupakan alat bukti Dalam acara perdata,
bukti tertulis merupakan alat bukti yang penting dan paling utama di banding yang lain.
14

Alat bukti tertulis atau surat adalah segala sesuatu yang memuat tanda bacaan
yang dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah pikiran
seseorang yang ditujukan untuk dirinya dan atau pikiran seseorang yang ditujukan untuk
dirinya dan orang lain yang dapat digunakan untuk alat pembuktian.
Ada dua macam alat bukti tertulis atau surat, yaitu:
1. Surat yang bukan akta, dan
2. Surat yang berupa akta; yang dapat dibagi lagi atas:
a. Akta Otentik; dan
b. Akta dibawah tangan.

1. Surat Yang Bukan Akta
Surat di Bawah tangan yang bukan akta tercantum dalam Pasal 1874 KUHPerdata.
Beberapa jenis surat tertentu digolongkan ke dalam surat yang bukan akta, yaitu:
buku daftar (register), surat- surat rumah tangga, dan catatan- catatan yang dibubuhkan
oleh kreditur pada suatu alas hak yang selamanya dipegangnya (Ps. 1881, 1883
KUHPer,294, 297 RBg). 294, 297 RBg).
Kekuatan Pembuktian terhadap surat yang bukan akta diserahkan sepenuhnya
kepada pertimbangan hakim (Ps. 1881 ayat (2) KUHPer, Ps. 294 ayat (2) RBg).
Akta adalah surat yang diberi tanda tangan, yang memuat peristiwa yang menjadi
dasar suatu hak atau perikatan, yang dibuat sejak yang dibuat sejak awal untuk maksud
pembuktian.
Syarat formal sebuah akta adalah adanya tanda tangan pada akta tersebut (Ps.
1869 KUHPer). Hal ini bertujuan untuk membedakan kebenaran akta yang dibuat oleh
orang yang satu dengan orang yang lain. Jadi, fungsi tanda tangan pada akta adalah
untuk yang lain. memudahkan identifikasi dan mencirikan serta mengindividualisir suatu
15

akta. Dengan demikian, karcis kereta api, rekening listrik dan resi tidak termasuk dalam
pengertian akta.

2a. Akta Otentik
Mengenai Akta Otentik diatur dalam Pasal 165 HIR, 285 RBg dan 1868 KUHPerdata
akta Otentik adalah Akta yang dibuat oleh Pejabat yang diberi wewenang untuk itu oleh
pemerintah menurut peraturan perundang itu oleh pemerintah menurut peraturan
perundang- undangan yang berlaku, baik undangan yang berlaku, baik dengan maupun
tanpa bantuan pihak yang berkepentingan, yang mencatat apa yang dimintakan untuk
dimuat di dalamnya oelh yang berkepentingan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan
pejabat yang berwenang adalah Notaris, Panitera,Jurusita, Pegawai Catatan Sipil, Hakim,
dsb. Jurusita, Pegawai Catatan Sipil, Hakim, dsb.
Akta Otentik merupakan alat bukti yang sempurna bagi kedua belah pihak, ahli
warisnya atau orang warisnya atau orang- orang yang mendapatkan hak daripadanya.
Dengan katalain, isi akta otentik dianggap benar, selama ketidakbenaran lain,nya tidak
dapat dibuktikan.
Akta Otentik mempunyai 3 macam kekuatan pembuktian, yaitu:
1. Kekuatan pembuktian formil Membuktikan antara para pihak, bahwa
mereka sudah menerangkan apa yang ditulis dalam akta tersebut.
2. Kekuatan pembuktian materiil Membuktikan antara para pihak, bahwa
benar- benar peristiwa yang benar peristiwa yang tersebut dalam akta tersebut
telah terjadi.
3. Kekuatan mengikat Membuktikan antara para pihak dan pihak ketiga,
bahwa pada tanggal tersebut dalam akta yang bersangkutan telah menghadap
kepada pegawai umum tadi dan menerangkan apa yang ditulis dalam akta
16

tersebut. Oleh karena menyangkut pihak ketiga, maka akta otentik mempunyai
kekuatan bukti keluar.

2b. Akta di Bawah Tangan
Akta di bawah tangan adalah suatu surat yang ditandatangani dan dibuat dengan
maksud untuk dijadikan bukti dari suatu perbuatan hukum.Akta di bawah tangan
mempunyai kekuatan bukti yangsempurna seperti akta otentik, apabila isi dan
tandatangan dari akta tersebut diakui oleh orang yangbersangkutan.Dalam akta otentik
tidak memerlukan pengakuan dari pihak yang bersangkutan agar mempunyai
kekuatan pihak yang bersangkutan agar mempunyai kekuatan pembuktian yang
sempurna.Dalam Akta otentik, tanda tangan tidak merupakan persoalan, akan tetapi
dalam akta di bawah tanganpemeriksaan tentang benar tidaknya akta yangbersangkutan
telah ditandatangani oleh yang bersangkutan merupakan acara pertama.

2. Bukti Saksi
Pembuktian dengan saksi-saksi diperkenankan dalam segala hal yang tidak
dikecualikan oleh undang-undang (Ps. 1895 KUHPerdata). Tiap kesaksian harus disertai
keterangan tentang bagaimana saksi mengetahui kesaksiannya. Pendapat maupun dugaan
khusus, yang diperoleh dengan memakai pikiran, bukanlah suatu kesaksian (Ps. 1907
KUHPer, Ps. 171 HIR). Dengan kata lain, Saksi adalah seseorang yang melihat, mengalami
atau mendengar sendiri kejadian (atau peristiwa hukum) yang diperkarakan. Testimonium
de auditu (kesaksian de auditu) adalah keterangan yang saksi peroleh dari orang lain, ia
tidak mendengarnya atau mengalaminya sendiri, hanya ia dengar dari orang lain tentang
kejadian itu. Pada prinsipnya, testimonium de auditu tidak dapat diterima sebagai alat
17

bukti.Keterangan seorang saksi saja tanpa alat bukti lain tidak dapat dipercaya, disebut
juga Unus testis nullus testis (Pasal 1905
KUHPer, Ps. 169 HIR).
Yang tidak dapat didengar sebagai saksi, yaitu (Ps. 145 HIR):
1. Keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah atu pihak menurut garis
lurus.
2. Suami atau isteri salah satu pihak, meskipun telahbercerai.
3. Anak Anak- anak yang belum cukup berumur 15 tahun
4. Orang gila, walaupun kadang- kadang ingatannya terang.

Mereka ini boleh didengar keterangannya, akan tetapi bukan sebagai saksi.
Keterangan yang mereka berikan hanya boleh dianggap sebagai penjelasan. Untuk
memberikan keterangan tersebut mereka tidak perlu disumpah (pasal 145 ayat 4 HIR).
Akan tetapi, dalam perkara tertentu keluarga sedarah atau keluarga semenda cakap
menjadi saksi (Ps. 145ayat 2 HIR). Misal: dalam perkara-perkara mengenai kedudukan
perdata salah satu pihak, perkara2 mengenai nafkah yang harus dibayar, perkarmengenai
alasan yang dapat menyebabkanpembebasan atau pemecatan dari kekuasaan orangtua,
perkara mengenai suatu perjanjian kerja, dsb.
Yang boleh mengundurkan diri untuk memberikan kesaksian, yaitu (Ps. 146 ayat 1 HIR):
1. Saudara laki-laki dan saudara perempuan, ipar laki-laki dan ipar perempuan dari salah
satu pihak.
2. Keluarga sedarah menurut keturunan garis lurus,saudara laki2 dan saudara perempuan
dari laki-laki atau isteri salah satu pihak
18

3. Semua orang karena martabat, pekerjaan atau Semua orang karena martabat,
pekerjaan atau jabatan yang sah, diwajibkan menyimpan rahasia yang berhubungan
dengan martabat, pekerjaan atau jabatan itu.

3. Alat Bukti Persangkaan
Persangkaan adalah kesimpulan yang oleh undang-undang atau oleh hakim ditarik
dari suatu peristiwa yang diketahui umum ke arah suatu peristiwa yang tidak diketahui
umum (Ps. 1915 KUHPerdata, Ps. 173 HIR, Ps. 310 RBg). Persangkaan undang-undang atau
persangkaan hukum adalah persangkaan berdasarkan suatu ketentuan khusus undang-
undang berkenaan atau berhubungan dengan perbuatan tertentu atau peristiwa tertentu
(Ps. 1916 KUHPer). Persangkaan-persangkaan semacam ini, antara lain:
1. perbuatan yang oleh UU dinyatakan batal, karena semata-mata demi sifat
dan wujudnya dianggap telah dilakukan untuk menyelundupi suatu ketentuan UU.
2. Perbuatan yang oleh UU diterangkan bahwa hak milik atau pembebasan
utang disimpulkan dari keadaan tertentu.
3. Kekuatan yang oleh UU diberikan kepada suatu putusan hakim yg telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
4. Kekuatan yang oleh UU diberikan kepada pengakuan atau sumpah salah
satu pihak.

Persangkaan Hakim adalah persangkaan berdasarkan kenyataan atau fakta
(fetelijke vermoeden) atau presumptiones facti yang bersumber dari fakta yang terbukti
dalam persidangan sebagai titik tolak menyusun persangkaan (Ps. 1922 KUHPer, Ps. 173
HIR).

19

4. Alat Bukti Pengakuan (Ps. 1923 KUHPer, Ps. 174 HIR)
Pengakuan adalah pernyataan atau keterangan yang dikemukakan salah satu pihak
kepada pihak lain dalam proses pemeriksaan suatu perkara.Pernyataan atau keterangan
itu dilakukan di muka hakim atau dalam sidang pengadilan. Keterangan itu merupakan
pengakuan, bahwa apa yang didalilkan atau yang dikemukakan pihak lawan benar untuk
keseluruhan atau sebagian.

5. Bukti Sumpah
Sumpah sebagai alat bukti adalah suatu keterangan atau pernyatan yang dikuatkan
atas nama Tuhan, dengan tujuan:
agar orang yang bersumpah dalam memberi keterangan atau pernyataan itu takut
atas murka Tuhan apabila dia berbohong;
takut kepada murka atau hukuman Tuhan, dianggap sebagai daya pendorong bagi
yang bersumpah untuk menerangkan yang sebenarnya.

Ada 2 macam sumpah, yaitu:
1. sumpah yang dibebankan oleh hakim
2. sumpah yang dimohonkan pihak lawan.
Apabila sumpah telah diucapkan, hakim tidak diperkenankan lagi untuk meminta
bukti tambahan dari orang yang disumpah itu, yaitu perihal dalil yang dikuatkan dengan
sumpah termaksud (Ps. 177 HIR).

20

Daftar Pustaka

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Jakarta, 1988.
Retnowulan Sutantio, Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek, Mandar Maju,
Jakarta, 1986.
http://www.karyatulisilmiah.com/pengertian-sistem.html