Anda di halaman 1dari 36

1

Gugatan Rekonvensi
Pasal 118.HIR
(1) Tuntutan (gugatan) perdata yang pada tingkat pertama termasuk lingkup
wewenang pengadilan negeri, harus diajukan dengan surat permintaan (surat
gugatan) yang ditandatangan oleh penggugat, atau oleh wakilnya menurut pasal
123, kepada ketua pengadilan negeri di tempat diam si tergugat, atau jika tempat
diamnya tidak diketahui, kepada ketua pengadilan negeri di tempat tinggalnya
yang sebenamya. (KUHPerd. 15; IR. 101 .)
(2) Jika yang digugat lebih dari seorang, sedang mereka tidak tinggal di daerah hukum
pengadilan negeri yang sama, maka tuntutan itu diajukan kepada ketua pengadilan
negeri ditempat salah seorang tergugat yang dipilih oleh penggugat. Jika yang
digugat itu adalah seorang debitur utama dan seorang penanggungnya maka tanpa
mengurangi ketentuan pasal 6 ayat (2) "Reglemen Susunnan Kehakiman dan
Kebijaksanaan mengadili di Indonesia", tuntutan itu diajukan kepada ketua
pengadilan negeri di tempat tinggal debitur utama atau salah Seorang debitur
utama.
(3) Jika tidak diketahui tempat diam si tergugat dan tempat tinggalnya yang
sebenarnya, atau jikatidak dikenal orangnya, maka tuntutan itu diajukan kepada
ketua pengadilan negeri di tempat tinggal penggugat atau salah seorang
penggugat, atau kalau tuntutan itu tentang barang tetap, diajukan kepada ketua
pengadilan negeri yang dalam daerah hukumnya terletak barang tersebut.
(4) Jika ada suatu tempat tinggal yang dipilih dengan surat akta, maka penggugat,
kalau mau, boleh mengajukan tuntutannya kepada ketua pengadilan negeri yang
dalam daerah hukumnya terletak tempat tinggal yang dipilih itu. (Ro. 95-11, 4', 5';
KUHPerd. 24; Rv. 1, 99; IR. 133, 238.)
Pasal 120a.
(s.d.u. dg. S. 1935-102.)
(1) Jika tuntutan itu berhubungan dengan perkara, pengadilan yang sudah diputuskan
oleh hakim desa, penggugat harus menyebutkan isi keputusan itu dalam
tuntutannya; kalau dapat, salinan keputusn itu hendaklah disertakan. (RO. 3a.)
2

(2) Pada waktu atau sesudah tuntutan itu diterima atau pada waktu persidangan
dimulai, ketua pengadilan negeri akan mengingatkan penggugat mengenai
kewajibnya, yang diterangkan dalam ayat (1).
Pengertian
Rekonvensi diatur dalam Pasal 132 a dan b HIR yang maknanya rekonvensi adalah
gugatan yang diajukan tergugat sebagai gugatan balasan terhadap gugatan yang diajukan
penggugat kepadanya.
1
Penggugat dalam gugatan pertama atau gugat rekonvensi disebut
sebagai penggugat dalam konvensi atau tergugat dalam rekonvensi begitu juga sebaliknya.
Dalam penjelasan Pasal 132a HIR disebutkan, oleh karena bagi tergugat diberi
kesempatan untuk mengajukan gugatan melawan, artinya untuk menggugat kembali
penggugat, maka tergugat itu tidak perlu mengajukan tuntutan baru, akan tetapi cukup
dengan memajukan gugatan pembalasan itu bersama-sama dengan jawabannya terhadap
gugatan lawannya.
Contoh, dalam hal ini diantara kedua belah pihak yang sama ada kalanya ada suatu urusan
lain, yang berisikan juga kewajiban salah satu pihak untuk berprestasi kepada pihak lain
dan dimana kita ketahui apabila akan mengajukan gugatan lagi harus melalui proses awal
lagi. Akan tetapi disini hukum memberikan jalan kepada pihak yang sedang berperkara
untuk tidak usah mengajukan gugatan baru lagi. Melainkan cukup dengan mengajukan
tuntutan baliknya dalam jawabannya terhadap gugatan semula.
Tujuan
Gugatan rekonvensi pada hakikatnya merupakan gabungan dua tuntutan yang bertujuan
untuk menghemat biaya, mempermudah prosedur, dan menghindarkan putusan-putusan
yang bertentangan satu sama lain. Terutama bagi pihak yang tergugat, berarti menghemat
biaya karena tidak diwajibkan untuk membayar perkara. Di samping itu, tujuan daripada
gugat rekonvensi ini adalah:
2

a) Menggabungkan dua tuntutan yang berhubungan untuk diperiksa dalam
persidangan sekaligus,

1
Yahya harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2005.
2
Drs. H. Abd Mannan, SH., S.IP., M.Hum. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama,
Jakarta: Yayasan Al-Hikmah, 2000
3

b) Mempermudah prosedur pemeriksaan,
c) Menghindarkan putusan yang saling bertentangan satu sama lain,
d) Menetralisir tuntutan konvensi,
e) Memudahkan acara pembuktian dan menghemat biaya.

Syarat materil
Syarat materil gugatan rekonvensi berkaitan dengan intensitas hubungan antara materi
gugatan konvensi dengan gugatan rekonvensi. Peraturan perundang-undangan tidak
mengatur mengenai syarat materil gugatan rekonvensi. Ketentuan Pasal 132 huruf (a) HIR
hanya berisi penegasan bahwa:
1. tergugat dalam setiap perkara berhak mengajukan gugatan rekonvensi;
2. tidak disyaratkan antara keduanya harus mempunyai hubungan erat atau koneksitas
yang substansial.
Walaupun tidak terdapat pengaturan mengenai syarat harus adanya koneksitas antara
gugatan rekonvensi dengan konvensi, ternyata dalam prakteknya, pengadilan cenderung
menerapkannya. Seolah-olah koneksitas merupakan syarat materil gugatan rekonvensi.
Oleh karena itu, gugatan rekonvensi baru dianggap sah dan dapat diterima untuk
diakumulasi dengan gugatan konvensi, apabila terpenuhi syarat:
1. terdapat faktor hubungan mengenai dasar hukum dan kejadian yang relevan antara
gugatan konvensi dengan rekonvensi;
2. hubungan itu harus sangat erat, sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan secara
efektif dalam satu proses dan putusan.
Salah satu tujuan pokok sistem rekonvensi adalah untuk menyederhanakan proses serta
sekaligus untuk menghemat biaya dan waktu. Sehingga memperbolehkan pengajuan
gugatan rekonvensi yang tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan gugatan
rekonvensi, tidak akan menyederhanakan proses pemeriksaan karena memerlukan
perlakuan khusus dan tersendiri. Oleh karena itu, agar tujuan yang diamanatkan dalam
sistem rekonvensi ini (Pasal 132 (a) HIR) tidak menyimpang dari arah yang dicita-citakan,
sedapat mungkin gugatan rekonvensi mempunyai koneksitas yang substansial dan relevan
dengan gugatan konvensi. Namun, prinsip ini tidak boleh mengurangi hak tergugat untuk
4

mengajukan gugatan rekonvensi yang bersifat berdiri sendiri yang benar-benar terlepas
kaitannya dengan gugatan konvensi.
Pada dasarnya eksistensi gugatan rekonvensi tidak tergantung (asesor) pada gugatan
konvensi dan dapat berdiri sendiri serta dapat diajukan secara terpisah dalam proses
penyelesaian yang berbeda. Hanya secara eksepsional hukum memberikan hak kepada
tergugat menggabungkan gugatan rekonvensi kedalam gugatan konvensi.
Dalam hal terdapat hubungan erat atau koneksitas antara gugatan konvensi dengan
rekonvensi, dan putusan yang dijatuhkan atas gugatan konvensi bersifat negatif yaitu
gugatan tidak dapat diterima, dengan alasan gugatan mengandung cacat formil (eror in
personal, obscuur libel, tidak berwenang mengadili, dan lain sebagainya), maka berakibat:
1. putusan rekonvensi asesor mengikuti putusan konvensi
2. dengan demikian, oleh karena putusan konvensi menyatakan gugatan tidak dapat
diterima, dengan sendirinya menurut hukum putusan rekonvensi juga harus
dinyatakan tidak dapat diterima.
Namun, dalam hal lain, apabila terdapat gugatan rekonvensi tidak mempunyai hubungan
erat atau koneksitas dengan gugatan konvensi, kemudian gugatan konvensi dinyatakan
tidak dapat diterima atas alasan cacat formil, maka gugatan rekonvensi tidak tunduk
mengikuti putusan konvensi tersebut. Materi gugatan rekonvensi tetap dapat diperiksa
dan diselesaikan, meskipun gugatan konvensi dinyatakan tidak dapat diterima, apabila
secara objektif tidak terdapat hubungan atau koneksitas antara keduanya.
Syarat Formil
Supaya gugatan rekonvensi dinyatakan sah, selain harus dipenuhinya syarat materil,
gugatan harus pula memenuhi syarat formil. HIR tidak secara tegas menentukan dan
mengatur syarat gugatan rekonvensi, namun agar gugatan tersebut dianggap ada dan sah,
gugatan harus dirumuskan secara jelas. Tujuannya agar pihak lawan dapat mengetahui
dan mengerti tentang adanya gugatan rekonvensi yang diajukan tergugat kepadanya.
Gugatan rekonvensi dapat diajukan secara lisan, tetapi lebih baik apabila diajukan dalam
bentuk tertulis. Apapun bentuk pengajuannya baik secara lisan maupun tertulis, yang
5

perlu diperhatikan adalah gugatan rekonvensi harus memenuhi syarat formil gugatan
yaitu:
1. menyebut dengan tegas subjek yang ditarik sebagai tergugat rekonvensi;
2. merumuskan dengan jelas posita atau dalil gugatan rekonvensi, berupa penegasan
dasar hukum (rechtsgrond) dan dasar peristiwa (fijteljkegrond) yang melandasi
gugatan;
3. menyebut dengan rinci petitum gugatan.
Apabila unsur-unsur di atas tidak terpenuhi, gugatan rekonvensi dianggap tidak memenuhi
syarat dan harus dinyatakan tidak dapat diterima. Agar gugatan rekonvensi memenuhi
syarat formil, dalam gugatan harus disebutkan dengan jelas subjek atau orang yang ditarik
sebagai tergugat rekonvensi. Subjek yang dapat ditarik sebagai tergugat rekonvensi adalah
penggugat konvensi. Gugatan rekonvensi merupakan hak yang diberikan kepada tergugat
untuk melawan gugatan konvensi, maka pihak yang dapat ditarik sebagai tergugat hanya
penggugat konvensi.
Apabila tergugat rekonvensi terdiri dari beberapa orang dan gugatan rekonvensi memiliki
kaitan yang erat dengan gugatan konvensi, sebaiknya seluruh penggugat konvensi ditarik
sebagai tergugat rekonvensi. Penerapan ini sangat efektif menghindari terjadinya cacat
formil gugatan rekonvensi yang berbentuk plurium litis consortium yaitu kurangnya pihak
yang ditarik sebagai tergugat. Dan, apabila gugatan rekonvensi tidak mempunyai
koneksitas dengan gugatan konvensi, maka tidak perlu menarik semua penggugat
konvensi sebagai tergugat rekonvensi. Cukup satu atau beberapa orang yang benar-benar
secara objektif tersangkut dengan materi gugatan rekonvensi.
Pasal 132 huruf (b) angka (1) HIR mengatur bahwa waktu pengajuan gugatan rekonvensi
wajib dilakukan bersama-sama dengan pengajuan jawaban. Apabila gugatan rekonvensi
tidak diajukan bersama-sama dengan jawaban, maka akan mengakibatkan gugatan
rekonvensi tidak memenuhi syarat formil yang mengakibatkan gugatan tersebut tidak sah
dan harus dinyatakan tidak dapat diterima. Terdapat beberapa penafsiran yang berbeda
mengenai apa yang dimaksud dengan jawaban dalam praktek, ada yang menafsirkan
jawaban sebagai jawaban pertama tetapi ada juga yang menfsirkan jawaban menjangkau
juga jawaban dalam bentuk duplik.
6

Penafsiran yang sempit yang menafsirkan jawaban bermakna jawaban pertama
mempunyai alasan bahwa:
1. memperbolehkan atau memberikan kebebasan bagi tergugat mengajukan gugatan
rekonvensi diluar jawaban pertama dapat menimbulkan kerugian bagi penggugat
dalam membela hak dan kepentingannya;
2. memperbolehkan tergugat mengajukan gugatan rekonvensi melampaui jawaban
pertama dapat menimbulkan ketidaklancaran pemeriksaan dan penyelesaian
perkara;
3. rasio yang terkandung dalam pembatasan pengajuan harus pada jawaban pertama
yaitu agar tergugat tidak sewenang-wenang dalam mempergunakan haknya
mengajukan gugatan rekonvensi.
Prof. Subekti berpendapat bahwa gugatan rekonvensi yang dapat diajukan sewaktu-waktu
sampai tahap pemeriksaan saksi dimulai, hanya dapat dibenarkan dalam proses secara
lisan, dan tidak dalam proses secara tertulis.
Pengajuan gugatan rekonvensi tidak harus bersama-sama dengan jawaban pertama tetapi
dibenarkan sampai proses pemeriksaan memasuki tahap pembuktian. Dengan demikian,
gugatan rekonvensi tidak mutlak diajukan pada jawaban pertama tetapi dimungkinkan
pada pengajuan duplik. Ditinjau dari tata tertib beracara dan teknis yustisial, gugatan
rekonvensi tetap terbuka diajukan selama proses pemeriksaan masih dalam tahap jawab-
menjawab. Yang menjadi syarat adalah gugatan rekonvensi diajukan bersama-sama
dengan jawaban. Sehingga dapat diajukan bersama-sama pada jawaban pertama boleh
juga pada jawaban duplik terhadap replik penggugat.
Menurut praktek peradilan saat ini, pengajuan gugatan rekonvensi hampir seluruhnya
disampaikan pada jawaban pertama. Sehingga isi muatan jawaban pertama meliputi
eksepsi, bantahan terhadap pokok perkara (verweer ten principale) dan gugatan
rekonvensi.

Larangan Mengajukan Gugatan Rekonvensi
Pasal 132a ayat (1) Herzeine Inlandsch Reglement (HIR), mengatur bahwa tergugat
berhak mengajukan gugatan rekonvensi dalam setiap perkara. Akan tetapi, ternyata pasal
7

tersebut mencantumkan pengecualian, berupa larangan mengajukan gugatan rekonvensi
terhadap gugatan konvensi dalam perkara tertentu. Larangan pengajuan gugatan
rekonvensi yaitu:
1. Larangan mengajukan gugatan rekonvensi kepada diri orang yang bertindak
berdasarkan status kualitas
Larangan ini diatur dalam Pasal 132a ayat (1) ke 1 HIR yang tidak memperbolehkan
pengajuan gugatan rekonvensi kepada diri pribadi penggugat, sedangkan dia tengah
bertindak sebagai penggugat mewakili kepentingan pemberi kuasa (principal). Contohnya
A bertindak sebagai kuasa B mengajukan gugatan kepada C tentang sengketa hak milik
tanah. A mempunyai utang kepada C. Dalam peristiwa semacam ini undang-undang
melarang atau tidak membenarkan C mengajukan gugatan rekonvensi kepada A mengenai
utang tersebut. Sengketa ini harus diajukan oleh C secara tersendiri kepada A melalui
prosedur gugatan perdata biasa.
2. Larangan mengajukan gugatan rekonvensi di luar yurisdiksi Pengadilan Negeri yang
memeriksa perkara
Larangan ini diatur dalam Pasal 132a ayat (1) ke 2 HIR, namun larangan dalam pasal ini
hanya dapat diterapkan sepanjang mengenai pelanggaran yurisdiksi absolut, tetapi dapat
ditolerir apabila yang dilanggar adalah kompetensi relatif. Contohnya, A menggugat B atas
sengketa jual beli tanah. Terhadap gugatan tersebut, B mengajukan gugatan rekonvensi
mengenai sengketa hibah. Tindakan B tersebut tidak dapat dibenarkan, karena sesuai
dengan ketentuan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan
Agama, sengketa hibah bagi yang beragama Islam menjadi yurisdiksi absolut lingkungan
peradilan agama.
Gugatan rekonvensi yang melanggar kompetensi relatif dapat dibenarkan demi tegaknya
asas peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan. Contohnya, A berdomisili di Bogor
mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Bandung kepada B yang bertempat tinggal di
Bandung. Dalam kasus tersebut, B dibenarkan mengajukan gugatan rekonvensi kepada A
meskipun hal ini melanggar kompetensi relatif berdasar asas actor sequitur forum rei Pasal
118 ayat (1) HIR, yang menggariskan, gugatan harus diajukan di daerah hukum Pengadilan
Negeri tempat tinggal tergugat. Berarti secara konvensional, jika B hendak menggugat A
sesuai dengan ketentuan Pasal 118 ayat (1) HIR, harus diajukan ke Pengadilan Negeri
Bogor. Akan tetapi untuk tegaknya pelaksanaan sistem peradilan yang efektif dan efisien,
8

B dibenarkan mengajukan gugatan rekonvensi di Pengadilan Negeri Bandung, meskipun
terjadi pelanggaran yurisdiksi relatif.

3. Gugatan rekonvensi terhadap eksekusi
Larangan gugatan rekonvensi yang menyangkut sengketa perlawanan terhadap eksekusi
putusan, contohnya A mengajukan perlawanan terhadap eksekusi putusan peradilan yang
telah berkekuatan hukum tetap. Terhadap gugatan perlawanan tersebut, pihak terlawan
tidak dibenarkan mengajukan gugatan rekonvensi. Alasan larangan tersebut, gugatan
pelawan terhadap putusan eksekusi dianggap sebagai perkara yang sudah selesai diputus
persengketaannya.
Tetapi Pasal 379 Reglement op de Rechsvordering (Rv), menyatakan tata cara
pemeriksaan perkara gugatan biasa berlaku sepenuhnya terhadap gugatan perlawanan,
baik yang berbentuk derden verzet (perlawanan pihak ketiga) atau partay
verzet (perlawanan para pihak), hal ini berarti hukum memperbolehkan terlawan
mengajukan gugatan rekonvensi atas gugatan perlawanan terhadap eksekusi. Sehubungan
adanya kontroversi dalam ketentuan Pasal 132 a ayat (1) ke 3 (tiga) HIR dengan Pala 379
Rv, dalam praktik terdapat acuan penerapan yaitu terhadap perlawanan berbentuk derden
verzet yang mengandung dalil dan argumentasi lain yang masih berkaitan langsung
dengan pokok materi yang dilawan, secara kasuistik dimungkinkan mengajukan gugatan
rekonvensi. Akan tetapi, apabila gugatan perlawanan berbentuk partay verzet yang sifat
gugatannya murni mengenai sengketa eksekusi dilarang mengajukan gugatan rekonvensi.

4. Larangan mengajukan gugatan rekonvensi pada tingkat banding
Larangan ini ditegaskan dalam Pasal 132 a ayat (2) HIR. Pasal 132 a ayat (2) HIR mengatur
bahwa apabila dalam proses pemeriksaan tingkat pertama, yaitu di Pengadilan Negeri
tidak diajukan gugatan rekonvensi, hal tersebut tidak dapat diajukan dalam tingkat
banding di Pengadilan Tinggi. Sehubungan dengan larangan ini, apabila tergugat
mempunyai tuntutan kepada penggugat, tetapi lalai mengajukannya sebagai gugatan
rekonvensi pada saat proses pemeriksaan berlangsung di Pengadilan Negeri, jalan keluar
yang harus ditempuh adalah dengan mengajukan gugatan perkara biasa.
5. Larangan mengajukan gugatan rekonvensi pada tingkat kasasi
9

Tidak dijumpai ketentuan undang-undang yang melarang secara tegas pengajuan gugatan
rekonvensi dalam tingkat kasasi. Dengan demikian, berdasarkan prinsip penafsiran a
contrario boleh mengajukan gugatan rekonvensi pada tingkat kasasi, karena undang-
undang sendiri tidak tegas melarangnya. Akan tetapi, fungsi Mahkamah Agung sebagai
peradilan kasasi, bukan peradilan judex facti yang berwenang memeriksa dan menilai
permasalahan fakta (feitelijke kwesties). Sehingga tidak dibenarkan dibenarkan
mengajukan rekonvensi kepada Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi, meskipun tidak
ada ketentuan yang melarangnya. Larangan tentang itu dijumpai dalam putusan
Mahkamah Agung No. 209 K/Sip/1970 yang mengatakan gugatan rekonvensi dalam
tingkat kasasi tidak dapat diajukan.
10

ACARA ISTIMEWA

Putusan Gugur
A. Dasar Hukum
Pengguguran gugatan diatur dalam Pasal 124 Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR)
yang berbunyi: Jika penggugat tidak datang menghadap PN pada hari yang ditentukan
itu, meskipun ia dipanggil dengan patut, atau tidak pula menyuruh orang lain menghadap
mewakilinya, maka surat gugatannya dianggap gugur dan penggugat dihukum biaya
perkara; akan tetapi penggugat berhak memasukkan gugatannya sekali lagi, sesudah
membayar lebih dahulu biaya perkara yang tersebut tadi.

B. Pengertian
Putusan gugur adalah putusan yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan gugur
karena penggugat/pemohon tidak pernah hadir, meskipun telah dipanggil sedangkan
tergugat hadir dan mohon putusan.

C. Waktu dijatuhkannya putusan gugur:
putusan gugur dijatuhkan pada sidang pertama atau sesudahnya sebelum tahapan
pembacaan gugatan/permohonan

D. Syarat terjadinya putusan gugur :
putusan gugur dapat dijatuhkan apabila telah dipenuhi syarat :
Memerhatikan ketentuan di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pengguguran gugatan:

1. Syarat pengguguran
Supaya pengguguran gugatan sah menurut hukum harus dipatuhi syarat sebagai berikut:

a. Penggugat Telah Dipanggil Secara Patut
Penggugat telah dipanggil secara patut apabila:
Surat panggilan atau exploot telah dilakukan secara resmi oleh juru sita sesuai dengan
ketentuan undang-undang untuk, untuk hadir atau menghadap pada hari tanggal sidang
yang ditentukan;
11

Panggilan dilakukan dengan patut, yaitu antara hari panggilan dengan hari
persidangan tidak kurang dari tiga hari.

b. Penggugat Tidak Hadir Tanpa Alasan Yang Sah (Unreasonable Default)
Syarat yang kedua, penggugat tidak hadir atau tidak menghadap persidangan yang
ditentukan tanpa alasan yang sah, dan juga tidak menyuruh kuasa atau orang lain untuk
mewakilinya. Jika ketidakhadiran berdasarkan alasan yang sah (unseasonable default),
ketidakhadiran penggugat tidak dapat dijadikan alasan untuk menggugurkan gugatan.
Pengguguran yang demikian tidak sah dan bertentangan dengan hukum.

2. Pengguguran Dilakukan Hakim Secara Ex-Officio
Pasal 124 HIR memberi kewenangan secara ex-officio kepada hakim untuk menggugurkan
gugatan, apabila terpenuhi syarat dan alasan untuk itu. Dengan demikian kewenangan itu,
dapat dilakukan hakim, meskipun tidak ada permintaan dari pihak tergugat. Namun hal
itu, tidak mengurangi hak tergugat untuk mengajukan permintaan penggugaran. Malahan
beralasan tergugat mengajukannya, karena ketidakhadiran penggugat dianggap
merupakan tindakan sewenang-wenang kepada tergugat. Sebab ketidakhadiran itu,
berakibat proses pemeriksaan tidak dapat dilakukan karena berbenturan dengan asas
pemeriksaan contradictoir.

3. Rasio pengguguran gugatan
Maksud utama pelembagaan pengguguran gugatan dalam tata tertib beracara adalah
sebagai berikut.

a. Sebagai hukuman kepada penggugat
Pengguguran gugatan oleh hakim, merupakan hukuman kepada penggugat atas kelalaian
atau keingkarannya mengahdiri atau menghadap di persidangan. Sangat layak
menghukum penggugat dengan jalan menggugurkan gugatan, karena ketidakhadiran itu
dianggap sebagai pernyataan pihak penggugat bahwa dia tidak berkepentingan lagi dalam
perkara tersebut.

b. Membebaskan tergugat dari kesewenangan
12

Tujuan lain yang terkandung dalam pengguguran gugatan, membebaskan tergugat dari
tindakan kesewenangan penggugat. Dianggap sangat tragis membolehkan penggugat
berlarut-larut secara berlanjut ingkar menghadiri sidang, yang mengakibatkan persidangan
mengalami jalan buntu pada satu segi, dan pada segi lain tergugat dengan patuh terus
menerus datang menghadirinya, tetapi persidangan gagal disebabkan penggugat tidak
hadirtanpa alasan yang sah. Membiarkan hal seperti itu berlanjut, merupakan penyiksaan
yang menimbulkan kerugian moril dan materiil bagi tergugat. Menghadapi keadaan yang
demikian sangat adil dan wajar membebaskan tergugat dari belenggu perkara, dengan
jalan menggugurkan gugatan yang dimaksud. Memerhatikan rasio yang dikemukakan
diatas, hakim harus tegas menerapkan ketentuan Pasal 124 HIR, apabila keingkaran
penggugat menghadiri sidang benar-benar tanpa alasan yang sah. Atau apabila alasan
ketidakhadiran yang diajukan bohong, dibuat-buat atau artifisial (artificial).

4. Pengguguran sidang pertama
Kapan hakim secara ex-officio berwenang menggugurkan gugatan? Pasal 124 HIR tidak
menegaskan hal itu. Pasal tersebut hanya mengatakan, kebolehan menggugurkan
gugatan, apabila penggugat tidak datang mengahadap pada sidang yang ditentukan.

a. Pengguguran pada sidang pertama
Secara tersirat, makna kalimat jika penggugat tidak hadir menghadap persidangan yang
ditentukan adalah hari sidang pertama. Penafsiran ini disimpulkan berdasarkan kaitan
kalimat itu dengan panggilan. Berdasarkan tata tertib beracara, relevansi atau urgensi
panggilan adalah pada sidang pertama, karena proses sidang selanjutnya tidak
memerlukan panggilan, tetapi cukup melalui pengumuman pengunduran di sidang
panggilan. Pendapat ini, sesuai dengan pedoman yang digariskan MA, yang mengatakan:
jika penggugat pada hari sidang pertama tidak datang..., tetapi pada hari kedua itu datang
pada hari ketiga penggugat tidak hadir lagi, perkaranya tidak bisa digugurkan (Pasal 124
HIR/Pasal 148 RBG).

b. Makna sidang pertama
Yang dimaksud dengan sidang pertama dalam masalah ini, meliputi hari sidang yang lain
setelah pengguguran. Misalkan hari sidang pertama ditentukan 1 Maret 2002, untuk itu
penggugat telah dipanggil dengan patut. Ternyata tidak hadir memenuhi panggilan tanpa
13

alasan yang sah. Atau, ketidakhadirannya berdasarkan alasan yang sah. Berdasarkan
ketidakhadiran itu, hakim mengundurkan hari sidang pada tanggal 15 Maret 2002, dan
memerintahkan juru sita menyampaikan panggilan. Namun, pada hari sidang itu (15
Maret 2002) penggugat tidak hadir tanpa alasan yang sah. Dalam kasus yang demikian:

Sidang pengunduran (15 Maret 2002) tersebut, dianggap dan dikonstruksi sebagai
sidang pertama;
Oleh karena itu, pada sidang pengunduran itu tetap melekat hak dan kewenangan
hakim secara ex-officio untuk menggugurkan gugatan penggugat.

Berdasarkan penjelasan di atas, pengertian sidang pertama dalam kaitannya denganj
pengguguran gugatan, tidak boleh ditafsirkan dan dikontruksi secara sempit (strict law),
tetapi harus diterapkan secara luas meliputi sidang pengunduran selanjutnya dengan
syarat, asal pada sidang sebelumnya penggugat tidak pernah hadir.

5. Pengunduran tidak imperatif, tetapi fakultatif
Kewenangan pengguguran gugatan yang diatur dalam Pasal 124 HIR, sepintas lalu bersifat
imperatif. Seolah-olah pasal ini berisi perintah kepada hakim, harus atau wajib
menggugurkan gugatan apabila penggugatan tidak datang menghadiri sidang pertama
tanpa alasan yang sah. Sepintas lalu memang demikian, jika an sich berpedoman secara
utuh kepada ketentuan pasal 124 HIR. Menurut pasal ini, asal penggugat tidak hadir tanpa
alasan yang sah, gugatan harus digugurkan.
Ternyata sifat imperatif yang ada pada Pasal 124 HIR itu, dianulir oleh Pasal 126 HIR yang
menegaskan:

Sebelum menjatuhkan putusan pengguguran gugatan yang disebut dalam pasal
124, PN dapat memerintahkan supaya pihak yang tidak hadir dipanggil untuk
kedua kalinya supaya datang menghadap pada hari sidang yang lain,
Sedangkan kepada pihak yang hadir (dalam hal ini tergugat), pengunduran sidang
cukup diberitahukan oleh hakim dalam persidangan, dan pemberitahuan itu oleh
hukum dianggap berlaku sebagai panggilan.
14

Jadi bertitik tolak dari ketentuan Pasal 126 HIR, pengguguran gugatan bukan bersifat
imperatif, tetapi fakultatif. Dengan demikian penerapannya, memberi kewenangan
kepada hakim:
Dapat mengugurkan gugatan secara langsung pada sidang pertama, atau
Dapat mengundurkan sidang dengan jalan memerintahkan juru sita, untuk
memanggil penggugat untuk kedua kalinya.

Akan tetapi terlepas dari sifat fakultatif yang digariskan di atas, ditinjau dari segi
pendekatan rasio yang terkandung dalam pelembagaa pengguguran, dianggap lebih tepat
menerapkannya ke arah yang bersifat imperatif, demi untuk melindungi kepentingan
tergugat pada satu segi, dan untuk edukasi bagi penggugat dan masyarakat pada sisi lain.

6. Putusan Pengguguran Tidak Ne Bis In Idem
Perhatikan kembali Pasal 124 HIR. Di dalamnya terdapat kalimat yang berbunyi: akan
tetapi penggugat berhak memasukkan gugatnnya sekali lagi, sesudah membayar lebih
dahulu biaya perkara tersebut.

a. Putusan Pengguguran Berdasarkan Alasan Formil
Putusan pengguguran gugatan, diambil dan dijatuhkan:

Sebelum diperiksa materi pokok perkara,
Oleh karena itu, putusan diambil berdasarkan alasan formil yaitu atas alasan
penggugat tidak hadir tanpa alasan yang sah (unreasonable default),
Dengan demikian putusan pengguguran bukan putusan mengenai pokok perkara,
sehingga dalam putusan tidak melekat ne bis in idem yang digariskan Pasal 1917 KUH
Perdata. Berarti sekiranya pun putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap (res
judicata), pada putusan tidak melekat unsur ne bis in idem.

b. Putusan Pengguguran Dijatuhkan Secara Sederhana
Mengenai menjatuhkan putusan pengguguran gugatan, dapat berpedoman kepada
ketentuan Pasal 176 Rv:

Dilakukan tanpa hadirnya penggugat, dalam sidang secara sederhana,
15

Namun tetap dituangkan dalam bentuk putusan sebagaimana mestinya.
Putusan Pengguguran Diberitahukan Kepada Penggugat

Menurut pasal 276 Rv, untuk tegasnya kepastian hukum:

Putusan pengguguran gugatan diberitahukan kepada penggugat,
Pemberitahuan dilakukan oleh juru sita, sesuai dengan ketentuan Pasal 390 HIR.
Dengan adanya pemberitahuan, menjadi dasar bagi penggugat untuk melakukan upaya
hukum yang proposional untuk itu.

c. Penggugat Berhak Mengajukan Kembali
Seperti yang telah dijelaskan di atas, dalam putusan pengguguran tidak melekat unsur ne
bis in idem sehingga putusan tersebut tidak termasuk putusan yang disebut Pasal 1917
KUH Perdata. Oleh karena itu, sangat tepat ketentuan Pasal 124 HIR yang memberi hak
kepada Penggugat untuk mengajukan kembali gugatan itu kepada PN untuk diproses
sebagaimana mestinya. Terdapat pengajuan kembali, tergugat tidak dapat mengajukan
keberatan atau perlawanan.

d. Pengajuan Kembali Dengan Membayar Biaya Perkara
Pengajuan kembali, dianggap sebagai perkara baru. Oleh karena itu, terhadap pengajuan
berlaku ketentuan Pasal 121 ayat (4) HIR:

Harus lebih dahulu dibayar biaya perkara, sejumlah panjar perkara yang
ditentukan oleh panitera;
Atas bukti pembayaran itu, baru dilakukan pendaftaran dalam registrasi.

7. Pengguguran Gugatan Dibarengi Perintah Pengangkatan Sita Jaminan (CB)
Putusan pengguguran gugatan yang dijatuhkan pengadilan menimbulkan akibat hukum
terhadap semua tindakan hukum yang telah diambil pengadilan. Sekiranya dalam perkara
yang bersangkutan telah diletakkan sita jaminan terhadap milik tergugat atau objek
barang sengketa:

sita tersebut harus diangkat;
16

pengangkatan sita itu, dicantumkan dalam amar putusan yang berisi perintah
mengangkat sita;
namun, apabila penggugat mengajukan kembali perkara itu, dia berhak meminta
lagi agar sita diletakan. Namun permintaan itu tidak dengan sendirinya dikabulkan,
tetapi harus berdasar pertimbangan baru lagi.

E. Akibat Hukum Putusan Gugur

Akibat hukum putusan Gugur diatur dalam Pasal 77 Rv, sebagai berikut:
1. Pihak Tergugat, dibebaskan dari perkara dimaksud. Putusan Pengguguran gugatan
yang didasarkan atas keingkaran Penggugat menghadiri sidang pertama,
merupakan putusan akhir (eind vonnis) yang bersifat menyudahi proses
pemeriksaan secara formil. Artinya, putusan itu mengakhiri pemeriksaan meskipun
pokok perkara belum diperiksa. Itu sebabnya undang-undang menyatakan
dibebaskan dari perkara itu.
2. Terhadap putusan pengguguran gugatan tidak dapat diajukan perlawanan atau
verzet. Sifat putusannya:
o Langsung mengakhiri perkara, karena itu langsung pula mengikat kepada
para pihak atau final and binding,
o Selain terhadapnya tidak dapat diajukan perlawanan, juga tertutup upaya
hukum, sehingga tidak dapat diajukan banding atau kasasi.

3. Penggugat dapat mengajukan gugatan baru. Satu-satunya jalan yang dapat
ditempuh Penggugat adalah mengajukan gugatan baru dengan materi pokok
perkara yang sama, karena dalam putusan gugur tidak melekat ne bis in idem
sehingga dapat diajukan sebagai perkara baru, dan untuk itu Penggugat dibebani
membayar biaya perkara baru.

Dalam Pasal 273 ; 277 Rv mengenal aturan yang mengatur tentang pengguguran perkara
bukan pencoretan pendaftaran, tetapi tidak dijelaskan dengan tegas sebab-sebab
digugurkannya perkara dan dapat dipastikan di sini termasuk karena kelalaian pihak apa
karena kekurangan biaya perkara ataupun sebab-sebab lainnya. Namun sebelum
digugurkan tersebut ada beberapa tahap yang harus dilalui sebagai berikut:
17


1) Perkara sudah terhenti selama tiga tahun, dan masih ada kesempatan
dalam waktu enam bulan untuk melanjutkan perkara;
2) Adanya permohonan untuk digugurkan dari pihak yang berkepentingan,
dan permohonan untuk menggugurkan itu dapat dicegah dengan tindakan
hukum oleh salah satu pihak sebelum pernyataan gugur;
3) Pernyataan gugur itu dilakukan dalam sidang secara sederhana dan
diberitahukan kepada pihak yang bersangkutan atau ditempat tinggalnya;
4) Pernyataan gugur itu tidak membatalkan tuntutan, melainkan hanya acara
perkara yang telah dimulai;
5) Biaya perkara karena pernyataan gugur itu dianggap sudah dibayar;

Dan bila mengajukan gugatan baru, maka pihak-pihak satu sama lain berhak untuk
mengajukan lagi sumpah-sumpah, pengakuan-pengakuan dan keterangan-keterangan
yang telah diberikan olehnya dalam perkara yang terdahulu, begitu juga keterangan-
keterangan yang telah diberikan oleh saksi-saksi yang sudah meninggal dunia, jika hal
itu dicantumkan dalam berita acara yang dibuat dengan baik. Ketentuan-ketentuan
dalam Rv tersebut jelas acaranya, Hakim jelas apa yang diperbuat sebagai tugas tehnis
yudisial karena ada cantolannya, hal ini jelas tidak sama dengan
pembatalan/pencoretan pendaftaran perkara.

PUTUSAN VERSTEK
A. Istilah dan Pengertian
Dalam penulisan ada yang memeprgunakan istilah hukum acara tanpa hadir. Sedangkan
Soepomo menyebut acara luar hadir. Mengenai pengertian verstek, tidak terlepas
kaitannya dengan fungsi beracara dan penjatuhan putusan putusan atas perkara yang
disengketakan, yang memberi wewenang kepada hakim menjatuhkan putusan tanpa
hadirnya penggugat atau tergugat. Sehubungan dengan itu, persoalan verstek tidak lepas
kaitannya dengan ketentuan pasal 124 HIR (pasal 77 Rv) dan pasal 125 ayat (1) HIR (pasal
73 Rv). Pasal 124 HIR, pasal 77 Rv, mengatur verstek kepada penggugat

Berdasarkan pasal diatas, hakim berwenang menjatuhkan putusan di luar hadir atau tanpa
hadir penggugat dengan syarat:
18


1) Bila penggugat tidak hadir pada sidang yang ditentukan tanpa alasan
yang sah,
2) maka dalam peristiwa seperti itu, hakim berwenang memutus perkara
tanpa hadirnya penggugat yang disebut verstek, yang memuat
diktum:
3) Membebaskan tergugat dari perkara tersebut,
4) Menghukum penggugat membayar biaya perkara,
5) Terhadap putusan verstek itu penggugat tidak dapat mengajukan
perlawanan (verzet) maupun upaya banding dan kasasi, sehingga
terhadap putusan tertutup upaya hukum,
6) Upaya yang dapat dilakukan penggugat adalah mengajukan kembali
gugatan itu sebagai perkara baru dengan membayar biaya perkara,
7) Pasal 125 ayat (1) HIR, pasal 73 Rv, mengatur verstek terhadap
tergugat

Berdasarkan pasal tersebut, kepada hakim diberi wewenang menjatuhkan putusan di luar
hadir atau tanpa hadirnya tergugat, dengan syarat:
Apabila tergugat tidak datang menghadiri sidang pemeriksaan yang ditentukan
tanpa alasan yang sah (default wihthout reason),
Dalam hal seperti itu, hakim menjatuhkan putusan verstek yang berisikan diktum:
o Mengabulkan gugatan seluruhnya atau sebagian, atau
o Menyatakan gugatan tidak dapat diterima apabila gugatan tidak
mempunyai dasar hukum
Memperhatikan penjelasan diatas, pengertian verstek ialah pemberian wewenang kepada
hakim untuk memeriksa dan memutus perkara meskipun penggugat atau tergugat tidak
hadir di persidangan pada tanggal yang ditentukan. Dengan demikian putusan diambil dan
dijatuhkan tanpa bantahan atau sanggahan dari pihak yang tidak hadir.

B. Tujuan Verstek

Maksud utama sistem verstek dalam hukum acara adalah untuk mendorong para pihak
menaati tata tertib beracara, sehingga proses pemeriksaan penyelesaian perkara
19

terhindar dari anarki atau kesewenangan. Sekiranya undang-undang menentukan bahwa
untuk sahnya proses pemeriksaan perkara, mesti dihadiri para pihak, ketentuan yang
demikian tentunya dapat dimanfaatkan tergugat dengan itikad buruk untuk menggagalkan
penyelesaian perkara. Setiap kali dipanggil menghadiri sidang, tergugat tidak menaatinya
dengan maksud untuk menghambat pemeriksaan dan penyelesaian perkara.

C. Syarat Acara Verstek
Perihal syarat sahnya penerapan verstek kepada tergugat, merujuk kepada ketentuan
pasal 125 ayat (1) HIR atau pasal 78 Rv. Bertitik tolak dari pasal tersebut, dapar
dikemukakan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Tergugat Telah Dipanggil dengan Sah dan Patut

a. Yang melaksanakan pemanggilan juru sita
Hal itu ditegaskan dalam pasal 388 jo. Passal 390 ayat (1) HIR. Menurut pasal itu, yang
diwajibkan menjalankan panggilan adalah juru sita PN. Jika pihak yang hendak dipanggil
berada di luar yurusdiksi relatif yang dimilikinya, panggilan dilakukan berdasarkan pasal 4
Rv, yaitu mendelegasikan kepada juru sita yang berwenang di daerah hukum itu.

b. Bentuknya dengan surat panggilan
Berdasarkan pasal 390 ayat (1), pasal 2 ayat (3) Rv panggilan dilakukan dalam bentuk:
Surat tertulis yang disebut surat panggilan atau relaas panggilan (bericht report)
Panggilan tidak sah dalam bentuk lisan (oral) karena secara teknis yustisial, sangat
sulit atau tidak dapat dibuktikan kebenarannya sehingga dapat merugikan
kepentingan tergugat

c. Cara pemanggilan yang sah
Kategori cara pemamggilan yang sah, digariskan dalam pasal 390 ayat (1) dan (3) HIR atau
pasal 6 ke7- Rv

Tempat tinggal tergugat diketahui:
Disampaikan kepada yang bersangkutan sendiri atau keluarganya
Penyampaian dilakukan di tempat tinggal atau tempat tempat dominili pilihan.
20

Disampaikan kepada kepala desa, apabila yang bersangkutan dan keluarga tidak
ditemukan juru sita di tempat kediaman.

Tempat tinggal tidak diketahui:
-
Juru sita menyampaikan panggilan kepada walikota atau bupati, dan
-
Walikota atau bupati mengumumkan atau memaklumkan surat juru sita itu dengan jalan
menempelkan pada pintu umum kamar sidang PN.
-
Pemanggilan tergugat yang berada di luar negeri


Cara pemanggilan dalam kasus seperti ini, tidak diatur dalam HIR dan RBG. Oleh karena
itu, dalam praktik dipedomani keputusan dalam bentuk melalui jalur diplomatik. Jika
tempat tinggal tergugat di luar negeri tidak diketahui, tata cara panggilan tunduk kepada
ketentuan pasal 390 ayat (3) HIR.
1) Pemanggilan terhadap tergugat yang meninggal
Tata caranya berpedoman pada pasal 390 ayat (2) HIR dan pasl 7 Rv.
-
Apabila ahli waris dikenal, panggilan ditujukan kepada semua ahli waris tanpa
menyebut identitas mereka satu persatu dan panggilan disampaikan di tempat tinggal
almarhum pewaris
-
Apabila ahli waris tidak dikenal, panggilan disampaikan melalui kepala desa di tempat
tinggal terakhir almarhum pewaris.


d. Jarak Waktu Pemanggilan dengan Hari Sidang
Supaya panggilan sah dan patut, harus berpedoman kepada pasal 122 HIR atau pasal 10
Rv. Pasal tersebut mengatur jarak waktu anatar pamanggilan dengan hari sidang.

Dalam keadaan normal, digantungkan pada faktor jarak tempat kediaman tergugat
dengan gedung PN:
-
8 (delapan) hari, apabila jaraknya tidak jauh
-
14 (empat belas) hari, apabila jaraknya agak jauh, dan
-
20 (dua puluh) hari, apabila jaraknya jauh


Dalam keadaan mendesak
21

Menurut pasal 122 HIR, dalam keadaan mendesak jarak waktunya dapat dipersingkat,
tetapi tidak boleh kurang dari 3 hari.

2. Tidak Hadir Tanpa Alasan yang Sah
Syarat yang kedua, tergugat tidak datang menghadiri penggilan sidang tanpa alasan yang
sah. syarat ini ditegaskan dalam pasal 125 ayat (1) HIR:
Tergugat tidak datang pada hari perkara itu diperiksa, atau
Tidak menyuruh orang lain sebagai kuasa yang bertindak mewakilinya,
Padahal tergugat telah dipanggil dengan patut, tetapi tidak menghiraukan dan
menaati panggilan tanpa alasan yang sah
Dalam kasus seperti itu, hakim dapat dan berwenang menjatuhkan putusan
verstek, yaitu putusan di luar hadir tergugat.

Jadi, apabila tergugat in person atau wakilnya tidak hadir memenuhi panggilan
pemeriksaan di sidang pengadilan yang ditentukan, padahal telah dipanggil dengan patut,
kepada tergugat dapat dikenakan hukuman berupa penjatuhan putusan verstek.


3. Tergugat Tidak Mengajukan Eksepsi Kompetensi
Berdasarkan pasal 125 ayat (2) jo. Pasal 121 HIR, hukum acara memberi hak kepada
tergugat mengajukan eksepsi kompetensi, baik absolut berdasarkan pasal 134 HIR atau
relatif berdasarkan pasal 133 HIR. Apabila tergugat tidak mengajukan eksepsi seperti tiu,
kemudian tergugat tidak memenuhi panggilan sidang berdasarkan alasan yang sah, hakim
dapat langsung menyelesaikan perkara berdasarkan verstek.

D. Penerapan Acara Verstek Tidak Imperatif

Pada satu sisi, undang-undang mendudukan kehadiran tergugat di sidang sebagai hak,
bukan kewajiban yang bersifat imperatif. Hukum menyerahkan sepenuhnya apakah
tergugat mempergunakan hak itu untuk membela kepentingannya. Disisi lain, undang-
undang tidak memaksakan penerapan acara verstek secara imperatif. Hakim tidak mesti
menjatuhkan putusan verstek terhadap tergugat yang tidak hadir memenuhi panggilan.
22

Penerapannya bersifat fakultatif. Kepada hakim diberi kebebasan untuk menerapkannya
atau tidak.

E. Penerapan Acara Verstek ( Putusan di Luar Hadir)

Ada kemungkinannya pada hari sidang yang telah ditetapkan tergugat tidak datang dan
tidak pula mengirimkan wakilnya menghadap di persidangan, sekalipun sudah dipanggil
denagn patut oleh jurusita. Tidak ada keharusan bagi tergugat untuk datang di
persidangan. HIR memang tidak mewajibkan tergugat untuk datang di persidangan. Kalau
tergugat tidak datang setelah panggilan dengan patut, maka gugatan dikabulkan dengan
putusan diluar hadir atau verstek, kecuali kalu gugatan itu melawan hak atau tidak
beralasan.

Tentang kapan boleh dijatukan putusan verstek ada yang berpendapat bahwa putusan
verstek harus dijatuhkan pada hari sidang pertama, yang mendasarkan pada kata-kata
ten dage dienende dalam pasal 123 HIR (pasal 149 Rbg) yang diartikan sebagai hari
sidang pertama. Sebaliknya ada yang berpendapat bahwa kata-kata ten dage dienende
dapat pula diartikan ten dage dat de zaak dient yang berarti tidak hanya hari sidang
pertama saja. Pasal 126 HIR (pasal 150 Rbg) memberi kelonggaran untuk dipanggil sekali
lagi. Kata verstek itu sendiri berarti pernyataan bahwa tergugat tidak datang pada hari
sidang pertama. Ada kalanya putusan verstek itu dijalankan (pasal 129 ayat 2 HIR. 153 ayat
2 Rbg).

Tuntutan perlawanan (verzet) terhadap putusan verstek diajukakn dan diperiksa seperti
perkara consevatoir. Dalam acara perlawanan yang mengajukan perlawanan (pelawan,
apposant) tetap menduduki kedudukannya sebagai tergugat seperti dalam perkara yang
telah diputus verstek, sedang terlawan ( geoppossende) tetap sebagi penggugat. Apabila
perlawanan diterima oleh pegadilan, maka pelaksanaan putusan verstek terhenti, kecuali
kalau ada perintah untuk melanjutkan pelaksanaan putusan verstek itu ( pasal 129 ayat 4
HIR, 153 ayat 5 Rbg).

Dalam pemeriksaan perlawanan (verzetprocedure) oleh karena kedudukan para pihak
tidak berubah, maka pihak penggugatlah (terlawan) yang harus mulai dengan pembuktian.
23

Kalau dalam acara perlawanan penggugat tidak datng, maka perkara diperiksa secara
consevatoir. Sedangkan kalau tergugat dalam acara perlawanan itu tidak datng lagi, maka
untuk kedua kalinya diputus verstek, terhadap mana tubtutab perlawanan (verzet) tidak
diterima (pasal 129 ayat 5 HIR, 153 ayat 6 Rbg). Jika terdapat bebrapa orang tergugat,
sedang salah seorang atau lebih di antaranya tidak datang atau tidak menyuruh wakilnya
menghadap meskipun telah dipanggil dengan patut, perkara diperiksa secara consevatoir.
Apabila kedua belah pihat tidak datang pada hari sidang yang telah ditentukan, meskipun
kedua-duanya telah dipanggil dengan patut, maka denagn kewibawaan badan pengadilan
serta agar jangan sampai ada perkara yang berlarut-larut tidak berketentuan dalam hal ini
gugatan perlu dicoret dari daftar dan dianggap tidak pernah ada, walaupun tentang hal ini
tidak ada ketentuannya.

Khusus dalam perkara perceraian, maka hakim wajib membuktikan dulu kebenaran dalil-
dalil tergugat dengan alat bukti yang cukup sebelum menjatuhkan putusan verstek.
Apabila tergugat mengajukan verzet, maka putusan verstek menjadi mentah dan
pemeriksaan dilanjutkan pada tahap selanjutnya perlawanan (verzet berkedudukan
sebagai jawaban tergugat). Apabila perlawanan ini diterima dan dibenarkan oleh hakim
berdasarkan hasil pemeriksaan/pembuktian dalam sidang, maka hakim akan
membatalkan putusan verstek dan menolak gugatan penggugat. Tetapi bila perlawanan
itu tidak diterima oleh hakim, maka dalam putusan akhir akan menguatkan verstek,
terhadap putusan akhir ini dapat dimintakan banding. Putusan verstek yang tidak diajukan
verzet dan tidak pula dimintakan banding, dengan sendirinya menjadi putusan akhir yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

F. Bentuk Putusan Verstek

Mengenai bentuk putusan verstek yang dapat dijatuhkan, diatur dalam pasal 125 ayat (1)
HIR, pasal 149 RBG, dan pasal 78 Rv. Pasal 125 ayat (1) berbunyi:

Jika tergugat tidak datang pada hari perkara itu diperiksa, atau tidak pula menyuruh orang
lain menghadap mewakilinya, meskipun ia dipanggil dengan patut maka gugatan itu
terima dengan tidak hadir (verstek), kecuali kalau nyata kepada PN bahwa pendakwa itu
melawan hak atau tidak beralasan.
24


Memperhatikan kalimat terakhir pasal di atas, bentuk putusan verstek yang dijatuhkan
pengadilan terdiri dari:

1. Mengabulkan Gugatan Penggugat
Bentuk putusan verstek yang pertama, mengabulkan gugatan penggugat. Apabila hakim
hendak menerapkan acara verstek, pada prinsipnya, putusan yang harus dijatuhkan
mengabulkan gugatan penggugat. Bertitik tolak dari prinsip tersebut, tanggung jawab
hakim dalam penerapan acara verstek adalah berat. Tanpa melalui proses pemeriksaan
yang luas dan mendalam terhadap fakta-fakta yang melekat pada sengketa, hakim
mengabulkan gugatan, semata-mata berdasarkan surat gugatan yang diajukan penggugat.
Berarti putusan diambil tanpa perlawan dan bantahan dari pihak tergugat.
Sejauhmana jangkauan pengabulan yang dapat dituangkan dalam putusan verstek,
terdapat perbedaan pendapat.
a) Mengabulkan seluruh gugatan.
b) Boleh mengabulkan sebagian saja.

2. Menyatakan Gugatan Tidak dapat di Terima
Kalimat terakhir pasal 125 ayat (1) HIR menegaskan: kecuali nyata kepada pengadilan
negeri, gugatan melawan hukum atau tidak beralasan. Memperhatikan ketentuan diatas
hakim harus menyatakan gugatan tidak dapat diterima apabila gugatan:
Melawan hukum atau ketertiban dan kesusilaan
Tidak beralasan atau tidak mempunyai dasar hukum

3. Menolak Gugatan Penggugat
Malahan bukan hanya terbatas pada bentuk putusan yang menyatakan gugatan tidak
dapat diterima, tetapi dapat juga berbentuk menolak gugatan penggugat. Jika menurut
pertimbangan hakim, gugatan yang diajukan tidak didukung alat bukti yang memenuhi
batas minimal pembuktian, hakim dapat menjatuhkan putusan verstek yang memuat
diktum: Menolak gugatan penggugat . sekiranya penggugat keberatan terhadap putusan
itu, ia dapat mengajukan banding berdasarkan pasal 8 ayat (1) undang-undang no 20
tahun 1947.

25

G. Upaya Hukum Terhadap Putusan Versyek

Pasal 129 HIR, pasal 153 RBG mengatur berbagai aspek mengenai upaya hukum terhadap
putusan verstek:
Ayat (1) mengenai bentuk upaya hukumnya yaitu perlawanan atau verzet,
Ayat (2) mengenai tenggang waktu
Ayat (3) mengatur cara pengajuan hukum,
Ayat (4) mengatur permintaan penundaan eksekusi putusan verstek,
Ayat (5) ketentuan tentang pengajuan verzet terhadap verstek.

Demikian gambaran singkat tentang aspek-aspek yang berkenaan dengan upaya hukum
terhadap putusan verstek. Pengaturan yang bersifat spesifik terhadap upaya hukum
terhadap putusan verstek sejalan dengan kekhususan yang melekat pada putusan verstek
itu sendiri.

H. Perlawanan Atas Putusan Verstek

Dalam suatu perkara telah diputus secara verstek, dapat dilakukan upaya hukum berupa
verzet, yang diajukan di pengadilan yang memutus verstek tersebut dengan ketentuan-
ketentuan sebagai berikut :

Pertama, sesuai Pasal 129 HIR/153 RBg, Tergugat/Para Tergugat yang dihukum dengan
verstek berhak mengajukan verzet atau perlawanan dalam waktu 14 hari terhitung setelah
tanggal pemberitahuan putusan verstek itu kepada Tergugat semula jika pemberitahuan
tersebut langsung disampaikan sendiri kepada yang bersangkutan. Pasal 391 HIR dalam
menghitung tenggat waktu maka tanggal/hari saat dimulainya penghitungan waktu tidak
dihitung.

Kedua, jika putusan itu tidak langsung diberitahukan kepada Tergugat sendiri dan pada
waktu aanmaning Tergugat hadir, maka tenggat waktunya sampai pada hari kedelapan
sesudah aanmaning (peringatan).

26

Ketiga, jika Tergugat tidak hadir pada waktu aanmaning maka tenggat waktunya adalah
hari kedelapan sesudah sita eksekusi dilaksanakan. (Pasal 129 ayat 2 Jo. Pasal 196 HIR dan
Pasal 153 ayat 2 Jo. Pasal 207 RBg). Kedua perkara tersebut (perkara verstek dan verzet
terhadap verstek) didaftar dalam satu nomor perkara.

Keempat, perkara verzet sedapat mungkin dipegang oleh Majelis Hakim yang telah
menjatuhkan putusan putusan verstek.
Kelima, hakim yang melakukan pemeriksaan perkara verzet atas putusan verstek harus
memeriksa gugatan yang telah diputus verstek tersebut secara keseluruhan. Pemeriksaan
perkara verzet dilakukan secara biasa (lihat Pasal 129 ayat 3 HIR, Pasal 153 ayat 3 RBg dan
SEMA No 9 Tahun 1964).

Keenam, apabila dalam pemeriksaan verzet pihak Penggugat asal (Terlawan) tidak hadir,
maka pemeriksaan dilanjutkan secara contracdictoire, akan tetapi apabila Pelawan yang
tidak hadir, maka Hakim menjatuhkan putusan verstek untuk kedua kalinya. Terhadap
putusan verstek yang dijatuhkan kedua kalinya ini tidak dapat diajukan perlawanan, tetapi
bisa diajukan upaya hukum banding (pasal 129 ayat 5 HIR dan Pasal 153 ayat 5 RBg).

Ketujuh, apabila verzet diterima dan putusan verstek dibatalkan maka amar putusannya
berbunyi:
Menyatakan Pelawan adalah Pelawan yang benar
Membatalkan putusan verstek
Mengabulkan gugatan Penggugat atau menolak gugatan Penggugat

Kedelapan, apabila verzet tidak diterima dan putusan verstek tidak dibatalkan, maka amar
putusannya berbunyi: "Menyatakan Pelawan adalah Pelawan yang tidak benar" atau
"Menguatkan putusan verstek tersebut"

Kesembilan, terhadap putusan verzet tersebut kedua belah pihak berhak mengajukan
banding. Dalam hal diajukan banding, maka berkas perkara verstek dan verzet disatukan
dalam satu berkas dan dikirim ke Pengadilan Tinggi dan hanya menggunakan satu nomor
perkara.

27

I. Eksekusi Putusan Verstek

Ketentuan mengenai eksekusi putusan verstek diatur dalam pasal 128 HIR. Sudah barang
tentu, ketentuan itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan prinsip umum
pelaksanaan eksekusi yang digariskan pasal 195 HIR. Pada dasarnya pasal 128 HIR hanya
terbatas secara khusus mengatur pada kapanputusan verstek melekat kekuatab
eksekutorial. Sedangkan bagaimana cara melaksanakan eksekusi tunduk kepada ketentua
yang digariskan pasal 195 HIR.

1. Putusan verstek tidak dapat dieksekusi sebelum lewat tanggal 14 hari dari
tanggal pemberi tanggal putusan
2. Dapat dieksekusi sebelum lewat tenggang 14 hari atas alasan sangat perlu.
3. Perlawanan (verzet) menyingkirkan eksekusi.


28

Jawaban Gugatan, Replik & Duplik

Jawaban Tergugat
Terdiri dari 3 macam :
1. Eksepsi atau tangkisan yaitu jawaban yang tidak langsung mengenai pokok
perkara.
2. Jawaban tergugat mengenai pokok perkara (verweer ten principale)
3. Rekonvensi yaitu gugatan balik atau gugat balas yang diajukan tergugat
kepada penggugat.

Eksepsi
Dalam Hukum Acara Perdata, ada beberapa hal yang dapat diajukan eksepsi, yang secara
garis besar dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Eksepsi Kompetensi/Prosesuil
a. Tidak berwenang mengadili secara Absolut
Kompetensi absolut berkaitan dengan kewenangan absolut 4 Lingkungan peradilan
(Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara, dan Peradilan Militer),
Peradilan khusus (Arbitrase, Peradilan Niaga, P4D, dst)
b. Tidak berwenang mengadili secara Relatif.
Kompetensi Relatif berkaitan dengan wilayah hukum dari suatu pengadilan dalam satu
lingkungan peradilan yang sama (pasal 118 HIR). Eksepsi jenis ini dapat diakibatkan
beberapa hal:
a) Pengadilan yang berwenang adalah dimana Tergugat bertempat tinggal (Actor Sequitur
Forum Rei)
b) Pengadilan yang berwenang adalah pengadilan dimana debitur bertempat tinggal
(Actor Sequitur tanpa hak opsi)
29

c) Pengadilan yang berwenang adalah pengadilan dimana Penggugat bertempat tinggal,
dengan catatan tergugat tidak diketahui keberadaannya.
d) Pengadilan yang berwenang adalah pengadilan dimana Harta sengketa (tidak bergerak)
berada (Forum Rei sitae)
e) Pengadilan yang berwenang adalah pengadilan di salah satu tempat dari beberapa
harta sengketa (tdk bergerak) berada (Forum Rei Sitae dengan hak opsi)
Eksepsi yang berkaitan dengan kompetensi diajukan pada tahap jawaban setelah
pembacaan gugatan/permohonan bersamaan dengan pokok perkara 9 Cara pengajuan
Pasal 136 HIR dan 160 RBg) dan diputus sebelum pokok perkara. Putusan berbentuk
putusan sela jika ditolak dan berbentuk putusan akhir jika dikabulkan.
2. Eksepsi Syarat Formil
a. Surat kuasa khusus tidak sah.
Surat kuasa khusus dapat dinyatakan tidak sah karena sebab-sebab tertentu, diantaranya:
1) Surat kuasa bersifat umum (Putusan MA no.531 K/SIP/1973).
2) Surat kuasa tidak mewakili syarat formil sebagaimana disebut dalam pasal 123 HIR,
SEMA no.1/1971 23 Januari 1971 jo SEMA no.6 tahun 1994, yaitu tidak disebutkan secara
spesifik ingin berperkara di peradilan tertentu, tidak menyebut obyek perkara dan tidak
tercantum tanggal dan tanda tangan pemberi kuasa.
3) Surat kuasa dibuat bukan atas nama yang berwenang. Misalnya, dalam sebuah
Perusahaan Terbuka (P.T.), yang memberi kuasa adalah komisaris dari perusahaan
tersebut dan bukan direksi perusahaan (Putusan MA no.10 K/N/1999).
b. Error in Persona
Suatu gugatan/permohonan dapat dianggap error in persona apabila diajukan oleh anak di
bawah umur (Pasal 1330 KUHPer), mereka yang berada di bawah perwalian/curatele
(Pasal 446 dan 452 KUHPer), tidak memiliki kedudukan hukum/legal standing untuk
mengajukan gugatan (persona standi in judicio).
30

Dapat juga dianggap error in persona apabila pihak yang ditarik sebagai
Tergugat/Termohon keliru/salah (Putusan MA No.601 K/SIP/1975), atau pihak
Penggugat/pemohon atau Tergugat/Termohon yang tercantum dalam surat
gugatan/permohonan tidak lengkap (Plurium Litis Consorsium, Putusan MA 156
K/Pdt/1983)
c. Nebis In Idem.
Nebis in idem adalah sebuah perkara para pihak yang sama, dengan obyek sama, dan
materi pokok perkara yang sama tidak dapat diperiksa lagi. Jika ada perkara obyek dan
materi perkara yang sama, akan tetapi pihak-pihaknya berbeda tidak termasuk nebis in
idem (Pasal 1917 KUHPerd, putusan MA No. 588 K/SIP/1973, dan putusan MA No. 647 K
/SIP/1973). Dengan demikian, suatu perkara dapat dikatakan Nebis In Idem apabila:
1) Pernah diperkarakan sebelumnya (putusan MA No. 1743 K/SIP/1983)
2) Telah berkekuatan hukum tetap (putusan MA No. 647 K/SIP/1973)
3) Telah tertutup upaya hukum biasa (banding dan kasasi)
4) Telah diajukan banding dan kasasi.
5) Telah lewat waktu banding dan kasasi.
6) Tidak diajukan upaya hukum.
Akan tetapi, kita ada perkara sama yang telah diputus tidak dapat diterima/N.O. karena
tidak memenuhi syarat formil, maka itu tidak termasuk nebis in idem dan dapat digugat
kembali untuk kedua kalinya (putusan MA No. 878 k/ Sip/ 1977).
Putusan perkara nebis in idem bersifat positif, berisi amar mengabulkan.
d. Gugatan prematur
Suatu gugatan/permohonan disebut prematur jika ada faktor hukum yang menangguhkan
adanya gugatan/permohonan tersebut, misalnya
31

gugatan warisan disebut prematur jika pewaris belum meninggal dunia, atau hutang yang
belum jatuh tempo tidak dapat dituntut untuk ditunaikan.
e. Obscuur Libel
Obscuur secara sederhana disebut tidak jelas. Misal tidak jelas dasar hukum yang
menjadi dasar gugatan, tidak jelas obyek gugatan (jika itu berupa tanah maka batas2,
letak, ukuran), Petitum tidak jelas (tidak rinci), atau ada kontradiksi antara posita dan
petitum.
Salah satu contoh kontradiksi antara posita dan petitum adalah antara tuntutan
wanprestasi dan perbuatan melawan hukum (artikel tentang ini pernah saya dibahas di
blog ini dengan artikel berjudul Antara Wan Prestasi dan Perbuatan Melawan Hukum).
Untuk mengingatkan, bahwa tuntutan wan prestasi dan perbuatan melawan hukum tidak
dapat dijadikan satu, sehingga apabila positanya menjelaskan masalah wan prestasi,
petitum tidak dapat berisi tuntutan perbuatan melawan hukum. Hal ini terjadi karena
beberapa hal:
a) Segi sumber hukum
- Wanprestasi berdasarkan pasal 1243 KUHPerd yang timbul dari persetujuan, tuntutan
terjadi karena perjanjian tidak dipenuhi sama sekali/tidak tepat waktu/tidak dipenuhi
secara layak.
- Melawan hukum berdasarkan pasal 1365 KUHPerd, terdapat unsur perbuatan
melanggar hukum dan dapat dituntut sekaligus secara pidana dan perdata.
b) Segi hak menuntut
- Wanprestasi memerlukan proses atas pernyataan lalai, apabila ada klausul debitur
langsung wanprestasi, namun jika tidak ada klausul maka harus somasi terlebih dahulu.
- Perbuatan Melawan Hukum tidak diperlukan somasi
c) Segi tuntutan ganti rugi
32

- Tuntutan ganti rugi untuk Wanprestasi dihitung sejak terjadi kelalaian (1237 KUHPerd),
meliputi kerugian yang dialami dan keuntungan yang akan diperoleh (1236 & 1243
KUHPerd)
- Tuntutan ganti rugi Perbuatan Melawan Hukum dapat tidak dirinci, dan dapat dituntut
ganti rugi immateriil dan materiil tanpa ada standar tertentu (1365 KUHPerd).
Eksepsi Materil
1) Dillatoir yaitu eksepsi yang menyatakan bahwa gugatan penggugat BELUM
dapat diajukan karena waktunya belum habis/belum jatuh tempo. Contoh: Istri
mengajuakn gugatan cerai dengan alasan suami meninggalkan rumah selama 4
bulan. Ternyata pada saat pengajuan gugatan, suami meninggalkan rumah baru
selama 3 bulan. Hal ini bisa dijadikan eksepsi bahwa gugatan cerai belum
saatnya untuk diajukan.
2) Peremptoir yaitu eksepsi yang menyatakan bahwa ada hal yang menghalangi
dikabulkannya gugatan. Contoh: di Sumatera Utara, ada tradisi sebelum
pernikahan suami harus memenuhi permintaan istri. Kemudian karena si suami
tidak memenuhi permintaan tersebut, istri mengajukan gugatan cerai. Ternyata
tidak dipenuhinya permintaan istri tersebut adalah atas persetujuan istri. Hal
ini menyebabkan alasan gugatan istri menjadi tidak ada, dan menghalangi
dikabulkannya gugatan.


Jawaban Tergugat Mengenai Perkara

Pengakuan
Adalah jawaban yang membenarkan isi gugatan, artinya apa yang digugat terhadap
tergugat diakui kebenarannya.

Jika tergugat pada jawaban pertama mengakui, maka dalam jawaban berikutnya sampai
ketingkat banding, tergugat tetap terikat dengan pengakuan itu, artinya pengakuan itu
tidak dapat ditarik kembali.

Penyangkalan/Bantahan
Adalah pernyataan yang tidak membenarkan atau tidak mengakui apa yang digugat
33

terhadap tergugat.

Bantahan yang secara umum mengatakan bahwa keterangan dan tuntutan penggugat itu
adalah tidak benar sama sekali tanpa menyebutkan alasan-alasannya, tidak akan ada
artinya dan dianggap hakim sebagai tidak membantah.
Replik
Replik merupakan tahap yang dilakukan setelah proses pengajuan jawaban tergugat di
pengadilan. Replik adalah jawaban penggugat terhadap jawaban tergugat atas
gugatannya. Diajukan secara tertulis (maupun lisan). Replik yang diajukan oleh penggugat
berisi peneguhan gugatannya dengan mematahkan alasan-alasan penolakan yang
dikemukakan tergugat dalam jawabannya.
Duplik
Setelah penggugat mengajukan replik, maka tahapan pemeriksaan selanjutnya adalah
Duplik. Duplik adalah jawaban tergugat terhadap replik yang diajukan penggugat. Diajukan
secara tertulis (maupun lisan) Duplik yang diajukan tergugat berisi peneguhan
jawabannya, yang lazimnya berisi penolakan terhadap gugatan penggugat.

34

Pengaruh Lampau Waktu
Dalam buku keempat BW mengatur tentang kadaluarsa, antara lain :
1. Yang menyebabkan seseorang dibebaskan hak menuntut seseorang menjadi gugur.
Dalam bahasa latinnya disebut Praescriptio, sedangkan dalam bahasa Belanda
disebut Extinctieve Verjaring.
2. Yang menyebabkan seseorang memperoleh suatu hak tertentu. Kadaluwarsa ini
mengharuskan adanya itikad baik dari orang yang akan memperoleh hak tersebut.
Dalam bahasa Latinnya disebut Usucapio, sedang dalam bahasa Belanda disebut
Acquisiteve verjaring.
Kadaluwarsa adalah semacam upaya hukum, sehingga tentang adanya kadaluwarsa harus
dikemukakan oleh pihak lawan dalam jawabannya.
Apabila dikemukakan eksepsi bahwa hak untuk menuntut telah kadaluarsa, dan alasan
tersebut ternyara berdasar, maka gugatan akan dinyatakan tidak dapat diterima. Namun
apabila eksepsi tersebut dianggap tidak berdasar, maka eksepsi tersebut akan ditolak dan
mengenai pokok perkara akan diputus. Dalam hal yang pertama, putusan yang akan
dijatuhkan adalah putusan akhir, sedangkan dalam hal yang kedua yang dijatuhkan berupa
putusan sela.
Dalam hukum adat tidak dikenal kadaluwarsa dalam arti hukum barat, yang dasarnya
adalah karena lampaunya waktu tertentu ialah 2,5 tahun atau 20 tahun lalu timbul
kadaluwarsa, melainkan pengaruh lampau penyebab dalil yang menjadi dasar gugat
sesuatu perkara sudah tidak dapat dibuktikan lagi, karena saksi-saksinya kesamuanya
telah wafat atau kalaupun mereka masih hidup, mereka sudah jompo atau pikun, sehingga
tidak dapat memberi keterangan yang berharga.

35

Penggugat/Tergugat Intervensi
Pihak yang merasa memiliki kepentingan dengan adanya perkara perdata yang ada, dapat
mengajukan permohonan untuk ditarik masuk dalam proses pemeriksaan perkara perdata
tersebut yang lazim dinamakan sebagai Intervensi.. Intervensi adalah suatu perbuatan
hukum oleh pihak ketiga yang mempunyai kepentingan dalam gugatan tersebut dengan
jalan melibatkan diri atau dilibatkan oleh salah satu pihak dalam suatu perkara perdata
yang sedang berlangsung. Pihak Intervensi tersebut dapat berperan sebagai Penggugat
Intervensi atau pun sebagai Tergugat Intervensi.
Menurut, Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata
Khusus yang dikeluarkan oleh Balitbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI 2007, dalam
hal pengikut-sertaan pihak ketiga dalam proses perkara yaitu voeging,
intervensi/tussenkomst dan vrijwaring tidak diatur dalam HIR atau RBg. Tetapi dalam
praktek ketiga lembaga hukum ini dapat dipergunakan dengan berpedoman pada Rv, yaitu
berdasarkanPasal 279 Rv dst dan Pasal 70 Rv serta sesuai dengan prinsip bahwa hakim
wajib mengisi kekosongan, baik dalam hukum materil maupun hukum formil. Berikut ini
penjelasan 3 (tiga) macam intervensi yang dimaksud, yaitu:

a) Voeging (menyertai) adalah ikut sertanya pihak ketiga untuk bergabung kepada
penggugat atau tergugat. Dalam hal ada permohonan voeging, Hakim memberi
kesempatan kepada para pihak untuk menanggapi, kemudian dijatuhkan putusan sela,
dan apabila dikabulkan, maka dalam putusan harus disebutkan kedudukan pihak ketiga
tersebut.

b) Intervensi /tussenkomst (menengah) adalah ikut sertanya pihak ketiga untuk ikut
dalam proses perkara tersebut, berdasarkan alasan ada kepentingannya yang terganggu.
Intervensi diajukan karena pihak ketiga yang merasa bahwa barang miliknya
disengketakan/diperebutkan oleh Penggugat dan Tergugat.
Kemudian, permohonan intervensi dikabulkan atau ditolak dengan Putusan Sela. Apabila
permohonan intervensi dikabulkan, maka ada dua perkara yang diperiksa bersama-sama
yaitu gugatan asal dan gugatan intervensi.
36

c) Vrijwaring (ditarik sebagai penjamin) adalah penarikan pihak ketiga untuk
bertanggung jawab (untuk membebaskan Tergugat dari tanggung jawab kepada
Penggugat). Vrijwaring diajukan dengan sesuatu permohonan dalam proses pemeriksaan
perkara oleh Tergugat secara lisan atau tertulis.
Setelah ada permohonan vrijwaring, Hakim memberi kesempatan para pihak untuk
menanggapi permohonan tersebut, selanjutnya dijatuhkan putusan yang menolak atau
mengabulkan permohonan tersebut.
Apabila permohonan intervensi ditolak, maka putusan tersebut merupakan putusan akhir
yang dapat dimohonkan banding, tetapi pengirimannya ke pengadilan tinggi harus
bersama-sama dengan perkara pokok. Apabila perkara pokok tidak diajukan banding,
maka dengan sendirinya permohonan banding dari intervenient (pihak intervensi) tidak
dapat diteruskan dan yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan tersendiri. Apabila
permohonan dikabulkan, maka putusan tersebut merupakan putusan sela, yang dicatat
dalam Berita Acara Persidangan, dan selanjutnya pemeriksaan perkara diteruskan dengan
menggabungkan permohonan intervensi ke dalam perkara pokok.