Anda di halaman 1dari 30

1

EKSEKUSI
A. Pelaksanaan Putusan Hakim (Eksekusi)
Pada dasarnya, hanya Putusan Hakim yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang pasti
yang dapat dijalankan. Akan tetapi, apabila ada suatu putusan dijatuhkan dengan
ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu (uitvoerbaar bij voorraad) sesuai dengan
pasal 180 HIR.
Tetapi, tidak semua putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum pasti harus
dijalankan, karena yang perlu dilaksanakan hanyalah putusan-putusan yang bersifat
condemnatoir, yaitu putusan yang mengandung perintah kepada suatu pihak untuk
melakukan suatu perbuatan.
Tata cara pelaksanaan putusan Hakim diatur dalam pasal 195-208 HIR. Putusan
dilaksanakan di bawah pimpinan ketua pengadilan negeri yang mula-mula memutus
perkara tersebut. Pelaksanaan dimulai dengen menegur pihak yang kalah untuk dalam 8
hari memenuhi putusan tersebut dengan sukarela. Jika pihak yang dikalahkan itu tidak
mau melaksanakan putusan itu dengan sukarela, maka baru pelaksanaan yang
sesungguhnya dimulai.

B. Macam-macam pelaksanaan putusan (Eksekusi)
1. Eksekusi yang diatur dalam pasal 196 HIR dan seterusnya
Apabila seseorang enggan untuk dengan sukarela memenuhi isi putusan dimana ia
dihukum untuk membayar sejumlah uang.
Jika sebelum putusan dijatuhkan telah dijatuhkan sita jaminan, maka sita jaminan itu
setelah dinyatakan sah dan berharga, secara otomatis menjadi sita eksekutorial.
Eksekusi ini dilakukan dengan cara melelang barang-barang milik orang yang
dikalahkan, sehingga mencukupi jumlah yang harus dibayar menurut putusan Hakim
2

dan ditambah dengan semua biaya sehubungan dengan pelaksanaan putusan
tersebut.

Jika sebelumnya belum pernah dilakukan sita jaminan, maka eksekusi dimulai dengan
menyita sekian banyak barang bergerak, dan apabila diperkirakan masih tidak cukup,
juga dilakukan terhadap barang yang tidak bergerak milik pihak yang dikalahkan
sehingga cukup untuk memenuhi pembayaran sejumlah uang yang harus dibayar
menurut putusan tersebut

Mengenai cara melakukan penjualan barang-barang yang disita, diatur dalam pasal
200 HIR yang berisi:
Penjualan dilakukan dengan pertolongan Kantor Lelang
Penyimpanan terhadap azas tersebut jika pelelangan dilakukan untuk
membayar sejumlah uang yang kurang dari Rp 300 boleh oleh juru sita
Urutan-urutan barang yang akan dilelang ditunjuk oleh yang terkena lelang
jika ia mau
Jika jumlah yang harus dibayar menurut putusan dan biaya pelaksanaan
putusan telah tercapai, maka pelelangan segera dihentikan. Barang-barang
selebihnya segera dikembalikan kepada yang terkena lelang
Sebelum pelelangan, terlebih dahulu harus diumumkan menurut kebiasaan
setempat dan baru dilakukan 8 hari setelah persitaan
Jika yang dilelang termasuk barang tidak bergerak, maka harus diumumkan
dalam 2 kali dalam selang waktu 15 hari
3

Jika yang dilelang barang tidak bergerak lebih dari Rp 1000, harus diumumkan
satu kali dalam surat kabar yang terbit di kota itu paling lambat 14 hari
sebelum pelelangan
Jika harga lelang telah dibayar, kepada pembeli diberikan kwitansi tanda lunas
dan hak atas barang tersebut berpindah ke pembeli
Orang yang terkena lelang dan keluarganya serta sanak saudaranya, harus
menyerahkan barang tidak bergerak itu secara kosong kepada pembeli.
Apabila ia engga melakukan hal tersebut, maka Ketua PN mengeluarkan surat
perintah pengosongan dan pengosongan dilakukan secara paksa.
Ketentuan pasal 201-205 HIR mengatur tentang cara bagaimana pelaksanaan harus
dilakukan apabila dalam waktu yang bersamaan diajukan untuk melaksanakan 2 atau lebih
putusan terhadap orang yang sama. Hal ini dapat dilakukan misalnya apabila suatu
permohonan pelaksanaan putusan dilakukan berbarengan dengan diajukan permohonan
pelaksanaan surat hutang dan grosse yang dibuat dihadapan Notaris sesuai dengan pasal
224 HIR, maka pelaksanaan dapat dilakukan bersamaan adalah yang termuat dalam pasal
201-205 HIR. Atas pasal 206, tidak didahulukan oleh teguran. Bagian yang selebihnya cara
pelaksanaannya tidak harus lewat kantor lelang tetapi harus diturut secara sederhana.

Apabila ternyata, bahwa hasil pelelangan seluruh barang yang disita tidak cukup untuk
membayar semua hutang-hutang yang harus dibayar, maka pendapatan lelang itu akan
dibagi seimbang dengan jumlah utang yang ditagih oleh masing-masing, misalnya apabila
tagihan A adalah sebesar Rp 100.000, tagihan B sebesar Rp 200.000, dan C sebesar Rp
500.000, sedangkan hasil lelang seluruhnya Rp 200.000, maka A akan dibayar Rp 25.000, B
Rp 50.000, dan C 125.000. Untuk sisanya yang belum dibayar tetap merupakan utang
tergugat yang suatu hari dapat ditagih. Apabila dikemudian hari tergugat memiliki barang-
4

barang lagi, maka barang tersebut dapat dimohonkan agar disita untuk dilelang kembali.
Sisa utang tersebut dalam waktu 30 tahun masih dapat ditagih
1


2. Eksekusi yang diatur dalam pasal 225 HIR
Dalam eksekusi ini dimana seseorang dihukum untuk melaksanakan suatu
perbuatan. Apabila seseorang dihukum melakukan suatu perbuatan tersebut dalam waktu
yang ditentukan maka pihak yang dimenangkan dalam putusan itu dapat meminta kepada
Ketua Pengadilan Negeri agar perbuatan yang sedianya dilakukan/dilaksanakan oleh pihak
yang kalah perkara dinilai dengan sejumlah uang. Dengan lain perkataan pelaksanaan
perbuatan itu dilakukan oleh sejumlah uang.
Menurut pasal 225 H.I.R yang dapat dilakukan adalah menilai perbuatan yang
harus dilakukan oleh tergugat dalam jumlah uang. Tergugat lalu dihukum untuk
membayar sejumlah uang sebagai pengganti dari pada pekerjaan yang harus ia lakukan
berdasar putusan hakim yang menilai besarnya penggantian ini adalah Ketua Pengadilan
Negeri yang bersangkutan. Dengan demikian, maka dapatlah dianggap bahwa putusan
hakim yang semula tidak berlaku lagi, atau dengan lain perkataan, putusan yang semula
ditarik kembali, dan Ketua Pengadilan Negeri mengganti putusan tersebut dengan putusan
lain. Perlu di catat, bahwa bukan putusan Pengadilan Negeri saja, akan tetapi putusan
Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung pun dapat diperlakukan demikian, tegasnya
putusan yang sedang dilaksanakan itu yang lebih menarik perhatian adalah bahwa
perubahan putusan ini dilakukan atas kebijaksanaan Ketua Pengadilan Negeri yang sedang
memimpin eksekusi tersebut, jadi tidak dalam sidang terbuka.


1
Pasal 1 Stbl. 1832 No. 41 Segala tagihan yang ditimbulkan karena putusan Hakim atau karena surat yang
dibuat di hadapan Notaris, berkedaluawarsa setelah lampau 30 tahun secar berturut-turut terhitung sejak
utang itu trejadi atau diakui atau sejak dilakukan teguran oleh PN untuk membayar
5

3. Eksekusi Riil, yang diatur dalam praktek banyak dilakukan akan tetapi tidak diatur
dalam H.I.R.
Jika putusan pengadilan yang memerintahkan pengkosongan barang tidak bergerak tidak
dipenuhi oleh orang yang dihukum, maka Ketua akan memerintahkan dengan surat
kepada Jurusita supaya dengan bantuan alat kekuasaan negara, barang tidak bergerak itu
dikosongkan oleh orang yang dihukum serta keluarganya dan segala barang
kepunyaannya.
Dengan demikian dapat dikatakan lebih detail berdasarkan ketentuan pasal 1033 Rv
bahwa yang harus meninggalkan barang tidak bergerak yang dikosongkan itu adalah pihak
yang dikalahkan beserta sanak saudaranya dan bukan pihak penyewa rumah oleh karena
dalam sebuah rumah disita dan atasnya telah diletakkan perjanjian sewa menyewa
sebelum rumah itu disita maka pihak penyewa dilindungi oleh asas koop breekst geen
huur yakni asas jual beli tidak menghapuskan hubungan sewa menyewa sebagaimana
ditentukan pasal 1576 KUH Perdata.
Dalam praktik maka ketiga macam eksekusi ini kerap dilaksanakan. Pada dasarnya suatu
eksekusi itu dimulai adanya permohonan eksekusi dengan pemohon eksekusi membayar
biaya eksekusi kepada petugas urusan kepaniteraan perdata pada Pengadilan Negeri yang
bersangkutan. Kemudian prosedural administrasi berikutnya akan diregister pada buku
permohonan eksekusi (KI-A.5), Buku Induk Keuangan Biaya Eksekusi (KI-A.8) dan lalu
diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri guna mendapatkan fiat eksekusi. Setelah Ketua
Pengadilan Negeri mempelajari permohonan itu dan yakin tidak bertentangan dengan
undang-undang maka Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan "penetapan" berisi perintah
agar Jurusita Pengadilan memanggil pihak lawan yang dikalahkan atau kedua belah pihak
berperkara untuk diberi teguran (aanmaning) supaya pihak lawan yang dikalahkan
melaksanakan putusan hakim. Apabila pada waktu "aanmaning" itu para pihak hadir maka
6

kepada pihak lawan yang dikalahkan diberi waktu 8 (delapan) hari sejak tanggal teguran
tersebut memenuhi isi putusan. Setelah waktu tersebut terlampaui dan pihak termihon
eksekusi belum memenuhi amar putusan hakim maka dengan ketetapan Ketua Pengadilan
Negeri selanjutnya memerintahkan Panitera/Jurusita dengan disertai dua orang saksi yang
dipandang mampu dan cakap untuk melaksanakan sita eksekusi terhadap barang-
barang/tanah milik termohon eksekusi dan semua ini dibuat pula berita acaranya.
G. Asas Asas Eksekusi
1. Menjalankan putusan yang telah berkekuatan Hukum Tetap
Tindakan eksekusi biasanya baru menjadi suatu masalah apabila pihak yang kalah
ialah pihak Tergugat, dalam tahap eksekusi kedudukannya menjadi pihak tereksekusi.
Sedang bila pihak Penggugat yang kalah dalam perkara pada lazimnya, bahkan menurut
logika tidak ada putusan yang perlu dieksekusi. Hal ini sesuai dengan sifat sengketa dan
status para pihak dalam suatu perkara. Pihak penggugat bertindak selaku pihak yang
meminta kepada pengadilan agar pihak tergugat dihukum untuk menyerahkan suatu
barang, mengosongkan rumah atau sebidang tanah, melakukan sesuatu, menghentikan
sesuatu atau membayar sejumlah uang. Salah satu hukuman seperti itulah yang selalu
terdapat dalam putusan, apabila gugatan penggugat dikabulkan oleh pengadilan dan
harus dipenuhi dan ditaati pihak tergugat sebagai pihak yang kalah. Oleh karena itu bila
kita berbicara mengenai eksekusi putusan adalah tindakan yang perlu dilakukan untuk
memenuhi tuntutan penggugat kepada tergugat.
Tidak terhadap semua putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum
eksekutorial, artinya tidak terhadap semua putusan pengadilan dapat dieksekusi. Putusan
yang belum dapat dieksekusi adalah putusan yang belum dapat dijalankan. Pada
prinsipnya hanya putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap yang dapat
7

dijalankan.
Pada asasnya putusan yang dapat dieksekusi adalah Putusan yang telah memperoleh
kekuatan hukum yang tetap, karena dalam putusan yang telah berkekuatan hukum yang
tetap telah terkandung wujud hubungan hukum yang tetap dan pasti antara pihak yang
berperkara. Hal ini disebabkan hubungan hukum antara pihak yang berperkara sudah
tetap dan pasti yaitu, hubungan hukum itu mesti ditaati dan mesti dipenuhi oleh pihak
yang dihukum (Pihak tergugat) baik secara sukarela maupun secara paksa
dengan bantuan kekuatan umum.
2

Dari keterangan diatas dapat dikatakan bahwa, selama putusan belum mempunyai
kekuatan hukum yang tetap, upaya dan tindakan eksekusi belum berfungsi. Eksekusi baru
berfungsi sebagai tindakan hukum yang sah dan memaksa terhitung sejak tanggal putusan
memperoleh kekuatan hukum yang tetap dan pihak tergugat (yang kalah), tidak mau
mentaati dan memenuhi putusan secara sukarela.
Pengecualian terhadap asas ini dimana eksekusi tetap dapat dilaksanakan
walaupun putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap berdasarkan
Undang-undang adalah :
a. Pelaksanaan Putusan lebih dahulu
Menurut Pasal 180, ayat (1) HIR, eksekusi dapat dijalankan pengadilan terhadap
putusan pengadilan sekalipun putusan yang bersangkutan belum memperoleh kekuatan
hukum yang tetap. Pasal ini memberi hak kepada Penggugat untuk mengajukan
permintaan agar putusan dapat dijalankan eksekusinya lebih dahulu, sekalipun terhadap
putusan itu pihak tergugat mengajukan banding atau kasasi.

2
M.Yahya.H. Op.cit. hal 6
8

Syarat-syarat yang ditetapkan untuk mengabulkan putusan serta merta jumlahnya
terbatas dan jelas tidak bersifat imperatif. Syarat-syarat itu berupa:
Adanya akta otentik atau tulisan tangan yang menurut Undang-undang
mempunyai kekuatan bukti.
Ada putusan lain yang sudah ada dan sudah mempunyai kekuatan hukum
pasti.
Ada gugatan provisi yang dikabulkan.
Sengketa yang ada sekarang mengenai bezitsrecht.
3


b. Pelaksanaan putusan provisi
Pasal 180 ayat (1) HIR juga mengemal putusan provisi yaitu tuntutan lebih
dahulu yang bersifat sementara mendahului putusan pokok perkara. Apabila hakim
mengabulkan gugatan atau tuntutan provisi, maka putusan provisi tersebut dapat
dilaksanakan (dieksekusi) sekalipun perkara pokoknya belum diputus (mendahului).
c. Akta Perdamaian.
Pengecualian ini diatur dalam pasal 130 HIR akta perdamaian yang dibuat
dipersidangan oleh hakim dapat dijalankan eksekusi tak ubahnya seperti putusan yang
telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Maka sejak tanggal lahirnya akta
perdamaian telah melekat pulalah kekuatan eksekutorial pada dirinya walaupun ia tidak
merupakan putusan pengadilan yang memutus sengketa.
d. Eksekusi terhadap Grosse Akta

3
Djazuli, Op.cit.,hal 30
9

Sesuai Pasal 224 HIR eksekusi yang dijalankan ialah memenuhi isi perjanjian
yang dibuat oleh para pihak. Pasal ini memperbolehkan eksekusi terhadap perjanjian, asal
perjanjian itu berbentuk grosse akta. Jadi perjanjian dengan bentuk grosse akta telah
dilekati oleh kekuatan eksekutorial.
4

2. Putusan Tidak dijalankan secara Sukarela.
Dua cara menjalankan isi putusan, yaitu :
a. Secara sukarela
Pihak yang kalah (tergugat) memenuhi sendiri dengan sempurna isi putusan
pengadilan. Tergugat tanpa paksaan dari pihak manapun, menjalankan pemenuhan
hubungan hukum yang dijatuhkan kepadanya. Oleh karena pihak tergugat dengan
sukarela memenuhi isi putusan kepada penggugat, berarti isi putusan telah selesai
dilaksanakan maka tidak diperlukan lagi tindakan paksa kepadanya (eksekusi).
Untuk menjamin pelaksanaan isi putusan secara sukarela maka hendaknya pengadilan
membuat berita acara pemenuhan putusan secara sukarela dengan disaksikan dua orang
saksi yang dilaksanakan ditempat putusan tersebut dipenuhi dan ditandatangani oleh
jurusita pengadilan, dua orang saksi dan para pihak sendiri (Penggugat dan Tergugat).
Maksudnya agar kelak ada pembuktian yang dapat dijadikan pegangan oleh hakim.
Keuntungan menjalankan amar putusan secara sukarela adalah terhindar dari
pembebanan biaya eksekusi dan kerugian moral.
b. Menjalankan putusan dengan jalan eksekusi
Terjadi bila pihak yang kalah tidak mau menjalankan amar putusan secara

4
M Yahya H. Op.cit.,hal. 7-9
10

sukarela, sehingga diperlukan tindakan paksa yang disebut eksekusi agar pihak yang
kalah dalam hal ini tergugat mau menjalankan isi putusan pengadilan.
Pengadilan dapat mengutus jurusita Pengadilan untuk melakukan eksekusi bahkan bila
diperlukan dapat dimintakan bantuan kekuatan umum. Kerugian yang harus ditanggung
oleh tergugat adalah harus membayar biaya eksekusi yang untuk saat ini relatif mahal,
disamping itu dia juga harus menanggung beban moral yang tidak sedikit
3. Putusan yang dapat dieksekusi bersifat kondemnator
Maksud putusan yang bersifat kondemnator adalah putusan yang amar atau diktumnya
mengandung unsur Penghukuman, sedang putusan yang amar atau diktumnya tidak
mengandung unsur penghukuman tidak dapat dieksekusi (Non-eksekutabel).
Menurut sifatnya amar atau diktum putusan dapat dibedakan dalam tiga macam, yaitu :
Putusan Condemnator, yaitu yang amar putusannya berbunyi Menghukum dan
seterusnya
Putusan Declarator, yaitu yang amar putusannya menyatakan suatu keadaan
sebagai sesuatu keadaan yang sah menurut hukum, dan
Putusan yang Konstitutif, yaitu yang amarnya menciptakan suatu keadaan baru.
5

Putusan yang bersifat kondemnator biasanya terwujud dalam perkara yang berbentuk
Contentiosa (kontentiosa) dengan ciri-ciri :

.
Berupa sengketa atau perkara yang bersifat partai
Ada pihak penggugat yang bertindak mengajukan gugatan terhadap pihak
tergugat, dan

5
Prof. R.Subekti, S.H., Op.cit, hal 127
11


.

Proses pemeriksaannya berlangsung secara Contradictoir, yakni pihak
penggugat dan tergugat mempunyai hak untuk sanggah menyanggah.
6

4. Eksekusi atas perintah dan dibawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri
Asas ini diatur dalam pasal 195 ayat(1) HIR yaitu jika ada putusan yang dalam tingkat
pertama diperiksa dan diputus oleh satu Pengadilan Negeri, maka eksekusi atas putusan
tersebut berada di bawah perintah dan pimpinan Ketua Pengadilan Negeri yang
bersangkutan. Eksekusi secara nyata dilakukan oleh Panitera atau jurusita berdasarkan
perintah Ketua Pengadilan Negeri yang dituangkan dalam bentuk surat penetapan. Tanpa
surat penetapan syarat formal eksekusi belum mamadai. Perintah eksekusi menurut Pasal
197 ayat (1) HIR mesti dengan surat penetapan, tidak diperkenankan secara lisan dan ini
merupakan syarat imperatif. Bentuk ini sangat sesuai dengan tujuan penegakan dan
kepastian hukum serta pertanggungjawabannya. Karena dengan adanya surat penetapan
maka akan tampak jelas dan terinci batas-batas eksekusi yang akan dijalankan oleh
jurusita dan panitera, disamping hakim akan mudah melakukan pengawasan terhadap
eksekusi tersebut.
7

H. Penjualan dan Lelang
Lelang eksekusi Peradilan diatur dalam Vendu Reglement Stb. 1980 No. 189 Jo. Stb. 1940
No. 56, Vendu Instructie Stb. 190. Peraturan Pemungutan Bea Lelang Stb. 1949 No. 390,
HIR (Stb.1914 No. 44), R.Bg (Stb.1927 No. 227) dan KeputusanMenteri Keuangan No.
295/KMA.09/1993 tanggal 27 Februari 1993.

6
M. Yahya H.Op.Cit., hal 12
7
ibid, hal 18
12

Lelang eksekusi adalah lelang yang dilakukan untuk melaksanakan putusan hakim sesuai
dengan amar yang telah ditetapkan, termasuk lelang dalam rangka eksekusi grose akta.
Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, ruang lingkup lelang eksekusi kebanyakan
berasal dari eksekusi pembayaran sejumlah uang. Di samping itu ruang lingkup eksekusi
bisa juga terjadi dalam hal pembahagian seluruh harta kekayaansebagaimana yang telah
ditetapkan dalam amar putusan, tetapi pembayaran secaranatura tidak dapat
dilaksanakan karena sulit untuk membaginya, seperti sebuah rumah,sebuah mobil, sebuah
televisi dan sebagainya. Dalam praktek Peradilan, barang tersebut dijual dulu kemudian
hasil penjualan itu dibagi sesuai dengan amar putusan Pengadilan. Jika secara
musyawarah ada yangtidak setuju dengan cara tersebut, maka pembahagiannya
dilaksanakan secara lelangdimuka umum. Hasil penjualan lelang dibagi lagi sesuai dengan
porsi yang ditentukandalam putusan.
Dilihat dari fungsinya, lelang adalah institusi pasar yang mempertemukan penjual dengan
pembeli pada suatu saat dan tempat tertentu dengan cara pembentukan harga yang
kompetitif. Fungsi lelang ini bermanfaat untuk:
a. Memberikan pelayanan penjualan barang secara lelang yang bersifat cepat,
effisien, aman dan dapat mewujudkan harga yang wajar kepada masyarakat atau
penguasa yang bermaksud barangnya dilelang, atau juga kepada peserta lelang
lainnya.
b. Memberikan pelayanan penjualan barang yang bersifat paksa atau eksekusi baik
menyangkut bidang pidana, perdata, ataupun perpajakan dalam rangka
mendukung terwujudnya keadilan dalam masyarakat.
c. Memberikan pelayanan penjualan dalam rangka mengamankan barang-barang
yang dimiliki atau dikuasai oleh negara termasuk barang-barang milik BUMN atau
BUMD.
13

d. Mengumpulkan penerimaan negara dalam bentuk bea lelang dan uang miskin.
Lembaga lelang merupakan lembaga penjualan di muka umum yang dipimpin oleh pejabat
lelang dengan cara penawaran harga secara terbuka atau lisan dan atau tertutup/tertulis
yang didahului dengan pengumuman lelang kepada seluruh masyarakat. Penjualan secara
lelang mempunyai beberapa kebaikan jika dibandingkan dengan penjualan biasa. Adapun
kebaikan lelang adalah sebagai berikut :
Adil, karena penjualan lelang bersifat terbuka (transparan dan objektif).
Aman, karena penjualan lelang disaksikan, dipimpin dan dilaksanakan oleh
pemerintah yang bersifat independent. Pembeli lelang cukup terlindungi, sistem
lelang mengharuskan pejabat lelang meneliti lebih dahulu keabsahan penjualan
barang-barang yang dijual.
Tepat dan effisien, karena lelang didahului dengan pengumuman lelang sehingga
peserta lelang dapat berkumpul pada saat hari lelang dan pembayarannya secara
tunai.
Mewujudkan harga yang wajar, karena pembentukan harga lelang pada dasarnya
menggunakan sistem penawaran yang bersifat kompetitif.
Memberikan kepastian hukum, karena atas pelaksanaan lelang oleh pejabat lelang
dibuat berita acara pelaksanaan lelang yang disebut risalah lelang sebagai akta
otentik.
Dalam pelaksanaan lelang ditetapkan hak-hak dan kewajiban pemohon lelang (penjual).
Yang dimaksud dengan pemohon lelang (penjual) adalah orang atau badan yang
mengajukan permohonan kepada kantor lelang negara untuk menjual barang secara
lelang. Pemohon lelang ini bisa berstatus pemilik barang yang dikuasakan atau yang
karena Undang-undang diberi wewenang untuk menjual barang yang bersangkutan.
14

a. Hak-hak pemohon penjual barang :
- Memilih cara penawaran lelang.
- Menetapkan syarat-syarat lelang jika dianggap perlu.
- Menerima uang hasil lelang (pokok lelang).
- Menerima uang jaminan dalam hal pemenang lelang mengundurkan diri.
- Meminta kutipan atau salinan risalah lelang.

b. Kewajiban-kewajiban pemohon lelang.
- Mengajukan permohonan atau permintaan lelang kepada kantor lelang negara.
- Melengkapi syarat-syarat atau dokumen-dokumen yang diperlukan.
- Mengadakan pengumuman lelang di surat kabar setempat dan atau di media
cetak/elektronik, atau juga melalui selebaran dan undangan lelang negara.
- Menetapkan harga limit yang wajar atas barang-barang yang dilelang. Dalam halini
sebaiknya memperhatikan saran dari kantor lelang negara.
- Membayar bea lelang penjualan, dalam hal penjualannya adalah pemerintah
(tidak termasuk BUMN/BUMD) tidak dipungut bea lelang.
- Menyerahkan barang dan dokumennya kepada pemenang lelang melalui Kantor Lelang
Negara.
- Memabayar PPh Pasal 25 (pajak penghasilan 25%) sepanjang barang yang
15

dilelang berupa barang dan bangunan dengan ketentuan : (1) dalam hal barang tersebut
milik perorangan maka PPh dikenakan apabila tanggungan hasil lelangnya pada saat itu
berjumlah Rp.60.000.000,- atau lebih, (2) dasar hukumnya adalah Peraturan Pemerintah
Nomor 48 Tahun 1994)
- Mentaati tata tertib lelang. Hak-hak dan kewajiban peserta lelang atau pembeli juga
diatur dalam pelaksanaan lelang, sehingga pelaksanaan lelang dapat dilaksanakan secara
tertib dan transparan sebagaimana yang diatur dalam peraturan yang berlaku :
a. Hak-hak peserta atau pembeli lelang :
- Melihat dokumen-dokumen tentang kepemilikan barang dan meminta keterangan dan
penjelasan tambahan.
- Melihat atau meneliti barang yang akan dilelang.
- Meminta salinan risalah lelang dalam hal yang bersangkutan menjadi pemenang lelang.
- Meminta kembali uang jaminan lelang atau kelebihan uang jaminan.
- Mendapatkan barang dan bukti pelunasan serta dokumen-dokumennya apabila ditunjuk
sebagai pemenang lelang.
b. Kewajiban-kewajiban peserta lelang atau pembeli :
- Menyetor uang jaminan lelang kepada Kantor Lelang Negara atau PL Kelas II apabila
disyaratkan untuk itu.
- Hadir dalam pelaksanaan lelang atau kuasanya.
- Mengisi surat penawaran di atas kertas bermeterai dengan huruf yang jelas dan tidak
ada coretan dalam hal penawaran lelang secara tertutup atau tertulis.
16

- Membayar pokok lelang, bea lelang, uang jaminan secara tunai, dalam menjadi
pemenang lelang.
- Mentaati tata tertib pelaksanaan lelang.
Agar pelaksanaan lelang eksekusi dapat berjalan dengan lancar sebagaimana yang
diharapkan maka lelang eksekusi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Harus ada surat permintaan lelang
Dokumen-dokumen yang perlu dilengkapi agar permintaan lelang eksekusi dapat
dilaksanakan antara lain:
- Salinan atau foto copy surat putusan Pengadilan yang telah mempunyai hukum tetap.
- Salinan penetapan Pengadilan untuk melaksanakan penyitaan.
- Salinan berita acara penyitaan.
- Salinan atau foto copy surat teguran (Aan maning) kepada termohon eksekusi.
- Salinan atau foto copy surat permohonan lelang kepada termohon eksekusi yang dibuat
oleh Pengadilan.
- Perincian hutang, termasuk biaya yang harus dibayar oleh termohon eksekusi yang
dibuat oleh Pengadilan setempat.
- Bukti kepemilikan atas barang yang dilelang. Dalam hal barang yang dilelang berupa
tanah diperlukan adanya SKPT dari kantor Pertanahan Nasional.
- Apabila tanah belum bersertifikat maka perlu dimintakan SKPT dengan dilampiri surat
keterangan riwayat tanah yang dibuat oleh Lurah atau Kepala Desa dan disahkan oleh
17

Camat setempat. Dalam hal bukti kepemilikan tidak ada maka dipakai surat-surat seperti
surat yang tersebutdi atas.
- Syarat-syarat lelang dari penjual apabila ada.
- Bukti pengumuman lelang oleh Pengadlan di surat kabar setempat. Khusus barang tidak
bergerak wajib diumukan 2 (dua) kali selang 15 (lima belas) hari, dan untuk barang
bergerak diumumkan 1 (satu) kali.
b. Harus ada foto copy grose akta
Dalam hal lelang karena hipotik, pihak pemohon lelang harus melengkapi foto copy,
sertifikat hipotik dan sertifikat tanah. Dalam kaitan dengan tugas-tugas eksekusi yang
dijalankan Pengadilan secara umum prosedur lelang dilaksanakan sebagai berikut :
- Pengadilan yang bersangkutan mengajukan permohonan lelang kepada Kantor Lelang
Negara atau Pejabat Kantor Lelang Kelas II setempat dengan melengkapi syarat-syarat
sebagaimana tersebut di atas.
- Kantor Lelang Negara atau Pejabat Kantor Lelang Kelas II menetapkan tanggal dan waktu
lelang dengan memperlihatkan keinginan-keinginan pemohon lelang.
- Pengadilan menetapkan harga limit dari barang yang dilelang. Harga limit sifatnya
rahasia. Dalam hal penawaran secara tertulis dalam amplop tertutup, harga limit
diserahkan kepada Pejabat Kantor Lelang dalam amplop tertutup sesaat sebelum
pelaksanaan lelang.
- Pelaksanaan lelang dilakukan oleh pejabat lelang bersama-sama dengan pejabat penjual.
Atas pelaksanaan lelang tersebut oleh pejabat lelang dibuat berita acara yang disebut
risalah lelang.
18

- Pembayaran hasil lelang dilakukan secara tunai segera setelah pelaksanaan lelang
kepada pejabat lelang, dan selanjutnya segera disetor kepada yang berhak.Pelaksanaan
lelang, dapat ditahan apabila penawaran tertinggi belum mencapai harga limit yang
dikehendaki oleh penjual, biaya penahanan lelang dikenakan kepada penjual. Dalam hal
lelang dibatalkan oleh pemohon yang kurang dari 8 (delapan) hari sebelum pelaksanaan,
maka kepada pemohon lelang akan dikenakan biaya pembatalan sebesar Rp.15.000.000,-
(lima belas juta rupiah).Jika dalam daerah hukum Pengadilan tidak terdapat Kantor Lelang
Negara yang dapat dimintakan bantuan untuk melaksanakan penjualan lelang di muka
umum, maka penjualan lelang dapat dimintakan bantuan pada Panitera Pengadilan,
dengan ketentuan batasnya maksimal hingga Rp.30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah).
19

UPAYA HUKUM
A. Pengertian
Upaya hukum merupakan upaya yang diberikan oleh undang-undang kepada seseorang
atau badan hukum untuk hal tertentu untuk melawan putusan hakim sebagai tempat bagi
pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan hakim yang dianggap tidak sesuai dengan apa
yang diinginkan, tidak memenuhi rasa keadilan, karena hakim juga seorang manusia yang
dapat melakukan kesalaha/kekhilafan sehingga salah memutuskan atau memihak salah
satu pihak.
Upaya hukum ialah suatu usaha setiap pribadi atau badan hukum yang merasa dirugikan
haknya atau atas kepentingannya untuk memperoleh keadilan dan perlindungan
atau kepastian hukum, menurut cara-cara yang ditetapkan dalam undang-undang.

B. Macam Upaya Hukum
Upaya hukum dibedakan antara upaya hukum terhadap upaya hukum biasa dengan
upaya hukum luar biasa.

1. Upaya hukum biasa
Merupakan upaya hukum yang digunakan untuk putusan yang belum berkekuatan
hukum tetap. Upaya ini mencakup:
a. Perlawanan/verzet
b. Banding
c. Kasasi
Pada dasarnya menangguhkan eksekusi. Dengan pengecualian yaitu apabila putusan
tersebut telah dijatuhkan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu atau
uitboverbaar bij voorraad dalam pasal 180 ayat (1) HIR jadi meskipun dilakukan upaya
20

hukum, tetap saja eksekusi berjalan terus.

2. Upaya hukum luar biasa
Dilakukan terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan pada
asasnya upaya hukum ini tidak menangguhkan eksekusi. Mencakup:
a. Peninjauan kembali (request civil)
b. Perlawanan pihak ketiga (denderverzet) terhadap sita eksekutorial

Ad.1.a. Upaya Hukum Biasa: Perlawanan/verzet
Suatu upaya hukum terhadap putusan di luar hadirnya tergugat (putusan verstek).
Dasar hukum verzet dapat dilihat di dalam pasal 129 HIR. Verzet dapat dilakukan dalam
tempo/tenggang waktu 14 hari (termasuk hari libur) setelah putusan putusan verstek
diberitahukan atau disampaikan kepada tergugat karena tergugat tidak hadir.

Syarat verzet adalah (pasal 129 ayat (1) HIR):
1. keluarnya putusan verstek
2. jangka waktu untuk mengajukan perlawanan adalah tidak boleh lewat dari 14 hari dan
jika ada eksekusi tidak boleh lebih dari 8 hari; dan
3. verzet dimasukan dan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri di wilayah hukum
dimana penggugat mengajukan gugatannya.

Ad.1.b. Upaya Hukum Biasa: Banding
Banding artinya ialah mohon supaya perkara yang telah diputus oleh pengadilan tingkat
pertama diperiksa ulang oleh Pengadilan yang lebih tinggi (tingkat banding), karena
merasa belum puas dengan keputusan Pengadilan tingkat pertama. Yang merupakan
Pengadilan tingkat pertama adalah Pengadilan Agama (PA), sedangkan yang merupakan
21

Pengadilan Tingkat Banding adalah Pengadilan Tinggi Agama (PTA)/Pengadilan Tinggi
Umum (PTU). (pasal 6 UU No.7/1989).
Putusan Pengadilan yang bisa diajukan banding adalah :
Putusan yang bersifat pemidanaan.
Putusan yang menyatakan dakwaan batal demi hukum.
Putusan dalam perkara cepat yang menyangkut perampasan kemerdekaan
terdakwa.
Putusan pengadilan tentang sah atau tidaknya penghentian penyidik atau
penuntutan.
Upaya Hukum Biasa , Banding Adalah upaya hukum yang dilakukan apabila salah satu
pihak tidak puas terhadap putusan Pengadilan Negeri. Dasar hukumnya adalah UU No.
4/2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Pokok Kekuasaan dan UU No 20/1947
tentang Peradilan Ulangan. Permohonan banding harus diajukan kepada panitera
Pengadilan Negeri yang menjatuhkan putusan (pasal 7 UU No 20/1947). Urutan banding
menurut pasal 21 UU No 4/2004 jo. pasal 9 UU No 20/1947 mencabut ketentuan pasal
188-194 HIR, yaitu:
1. ada pernyataan ingin banding
2. panitera membuat akta banding
3. dicatat dalam register induk perkara
4. pernyataan banding harus sudah diterima oleh terbanding paling lama 14 hari sesudah
pernyataan banding tersebut dibuat.
5. pembanding dapat membuat memori banding, terbanding dapat mengajukan kontra
memori banding.
Untuk masa tenggang waktu penajuan banding di tetapkan sebagai berikut : bagi
pihak yang bertempat tinggal di daerah hukum Pengadilan Agama yang putusannya
22

dimohonkan banding tersebut maka masa bandingnya 14 (empat belas) hari terhitung
mulai hari berikutnya dari hari pengumuman putusan kepada yang bersangkutan.
Sedangkan bagi pihak yang bertempat tinggal di luar hukum Pengadilan Agama yang
putusannya dimohonkan banding tersebut maka masa bandinya ialah 30 (tiga puluh) hari
terhitung mulai hari berikutnya dari hari pengumuman putusan kepada yang
bersangkutan. (pasal 7 UU No.20/1947).
Mencabut permohonan banding
Sebelum permohonan banding diputus oleh Pengadilan Tinggi Agama/Pengadilan Tinggi
Umum, maka permohonan tersebut dapat dicabut kembali oleh pemohon. Apabila berkas
perkara belum dikirimkan kepada Pengadilan Tinggi Agama maka :
Pencabutan disampaikan kepada Pengadilan agama yang bersangkutan.
Kemudian oleh panitera dibuatkan akta pencabutan kembali permohonan banding.
Putusan baru memperoleh kekuatan hukum tetap setelah tenggang waktu banding
berakhir.
Berkas perkara banding tidak perlu diteruskan kepada PTA/PTU/PTN.

Sedangkan apabila berkas perkara banding telah dikirimkan kepada PTA/PTU/PTN, maka :
Pencabutan banding disampaikan melalui PA yang bersangkutan atau langsung ke
PTA/PTU/PTN.
Apabila pencabutan itu disampaikan melalui PA maka pencabutan itu segera
dikirimkan ke PTA/PTU/PTN.
Apabila permohonan banding belum diputus maka PTA/PTU/PTN akan
mengeluarkan penetapan yang isinya, bahwa mengabulkan pencabutan kembali
permohonan banding dan memerintahkan untuk mencoret dari daftar perkara
banding.
23

Apabila perkara telah diputus maka pencabutan tidak mungkin dikabulkan.
Apabila pemohonan banding dicabut, maka putusan telah memperoleh kekuatan
hukum tetap sejak pencabutan dikabulkan dengan penetapan tersebut. Dan
pencabutan banding itu tidak diperlukan persetujuan dengan pihak lawan.
Ad.1.c. Upaya Hukum Biasa: Kasasi
Kasasi artinya pembatalan putusan oleh Mahkamah Agung (MA). Sedangkan pengertian
pengadilan kasasi ialah Pengadilan yang memeriksa apakah judex fatie tidak salah dalam
melaksanakan peradilan. Upaya hukum kasasi itu sendiri adalah upaya agar putusan PA
dan PTA/PTU/PTN dibatalkan oleh MA karena telah salah dalm melaksanakan peradilan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kasasi adalah sebagai berikut : Pembatalan
atau pernyataan tidak sah oleh MA terhadap putusan hakim, karena putusan itu,
menyalahi atau tidak sesuai dengan undang-undang. Seperti yang telah dijelaskan diatas,
bahwa hak kasasi hanyalah hak MA, sedangkan menurut kamus istilah hokum, kasasi
memiliki arti sebagai berikut : pernyataan tidak berlakunya keputusan hakim yang lebih
rendah oleh MA, demi kepentingan kesatuan peradilan.
Menurut pasal 29 dan 30 UU No 14/1985 jo. UU No 5/2004 kasasi adalah pembatalan
putusan atas penetapan pengadilan dari semua lingkungan peradilan dalam tingkat
peradilan akhir.
Putusan yang diajukan dalam putusan kasasi adalah putusan banding. MA merupakan
putusan akhir terhadap putusan Pengadilan Tingkat Banding, atau Tingklat Terakhir dari
semua lingkungan Peradilan. Ada beberapa alasan bagi MA dalam tingkat kasasi untuk
membatalkan putusan atau penetapan dari semua lingkungan peradilan, Alasan yang
dipergunakan dalam permohonan kasasi yang ditentukan dalam pasal 30 UU No 14/1985
jo. UU No 5/2004 adalah:
24

1. tidak berwenang (baik kewenangan absolut maupun relatif) untuk melampaui batas
wewenang;
2. salah menerapkan/melanggar hukum yang berlaku;
3. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan
yang mengancam kelalaian dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
Syarat-syarat kasasi
Ada beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam mengajukan kasasi, yaitu sebagai
berikut :
Diajukan oleh pihak yang berhak mengajukan kasasi.
Diajukan masih dalam tenggang waktu kasasi.
Putusan atau penetapan PA dan PTA/PTU/PTN, menurut huku dapat dimintakan kasasi.
Membuat memori kasasi (pasal 47 ayat (1) UU No. 14/1985).
Membayar panjar biaya kasasi (pasal 47).
Menghadap di Kepaniteraan Pengadilan Agama yang bersangkutan.
Untuk permohonan kasasi hanya dapat diajukan dalam masa tenggang waktu kasasi yaitu,
14 (empat belas) hari sesudah putusan atau penetapan pengadilan diberitahukan kepada
ang bersangkutan (pasal 46 ayat (1) UU No. 14/1985). Apabila 14 (empat belas) telah
lewat tidak ada permhonan kasasi yang diajukan oleh pihak yang bersangkutan maka
dianggap telah menerima putusan (pasal 46 ayat (2) UU No. 14/1985). Pemohon kasasi
hanya dapat diajukan satu kali (pasal 43 UU No. 14/1985). Mencabut permohonan kasasi
(pasal 49 UU No. 14/1985).
25

Sebelum permohonan kasasi diputuskan oleh MA maka permohonan tersebut dapat
dicabut kembali oleh pemohon, tanpa memerlukan persetujuan dari pihak lawan, apabila
berkas perkara belum dikirimkan kepada MA, maka :
Pencabutan disampaikan kepada PA yang bersangkutan, baik secara tertulis maupun
lisan.
Kemudian oleh panitera dibuatkan Akta Pencabutan Kembali Permohonan Kasasi.
Pemohon tidak dapat lagi mengajukan permohonan kasasi walaupun tenggang waktu
kasasi belum habis.
Berkas perkara tidak perlu di teruskan ke MA. Dan apabila berkas perkara sudah
dikirimkan kepada MA, maka :
Pencabutan disampaikan melalui PA yang bersangkutan atau langsung ke MA.
Apabila pencabutan disampaikan melalui PA, maka pencabutan segera dikirimkan
kepada MA.
Apabila permohonan kasasi belum diputuskan, maka MA akan mengeluarkan
penetapan yang isinya bahwa mengabulkan permohonan pencabutan kembali perkara
kasasi dan memerintahkan untuk mencoret perkara kasasi.
Apabila permohonan kasasi telah diputuskan, maka pencabutan kembali tidak mungkin
dikabulkan.

Kasasi demi kepentingan hukum (pasal 45 UU No. 14/1985).
Permohonan kasasi demi kepentingan hukum dapat diajukan oleh Jaksa Agung karena
jabatannya dalam perkara perdata maupun tata usaha negara yang diperiksa dan diputus
26

oleh Pengadilan Tingkat Pertama dan Pengadilan Tingkat Banding di semua lingkungan
[eradilan. Permohonan kasasi demi kepentingan hukum dapat diajukan hanya satu kali.
Dan putusan kasasi demi kepentingan hukum tidak boleh merugikan piha-pihak yang
berperkara, artinya ialah tidak menunda pelaksanaan putusan dan tidak mengubah
putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Ad.2.a. Upaya Hukum Luar Biasa: Peninjauan Kembali
Kata peninjauan kembali diterjemahkan dari kata Herziening, Mr. M. H. Tirtaamijaya
menjelaskan herziening sebagai berikut : itu adalah sebagai jalan untuk memperbaiki
suatu putusan yang telah menjadi tetap-jadinya tidak dapat diubah lagi dengan maksud
memperbaiki suatu kealpaan hakim yang merugikan si terhukum..., kalau perbaikan itu
hendak dilakukan maka ia harus memenuhi syarat, yakni ada sesuatu keadaan yang pada
pemeriksaan hakim, yang tidak diketahui oleh hakim itu..., jika ia mengetahui keadaan itu,
akan memberikan putusan lain.
Dalam buku yang lain menyatakan bahwa peninjauan kembali atau biasa disebut
Request Civiel adalah meninjau kembali putusan perdata yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, karena diketahuinya hal-hal baru yang dulu tidak dapat diketahui
oleh hakim, sehingga apabila hal-hal itu diketahuinya maka putusan hakim akan menjadi
lain. Peninjauan kembali hanya dapat dilakukan oleh MA. Peninjauan kembali diatur
dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, dan apabila
terdapat hal-hal atau keadaan yang ditentukan oleh undang-undang terhadap putusan
Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat dimintakan peninjauan
kembali kepada MA, dalam perkara perdata dan pidana oleh pihak-pihak yang
berkepentingan (pasal 21 UU No. 14/1970).

Syarat-syarat peninjauan kembali
27

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk peninjauan kembali diantaranya sebagai
berikut :
Diajukan oleh pihak yang berperkara.
Putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Membuat surat permohonan peninjauan kembali yang memuat alasan-alasannya.
Membayar panjar biaya peninjauan kembali.
Menghadap di Kepaniteraan Pengadilan Agama yang memutus perkara pada tingkat
pertama.
Adapun yang berhak mengajukan peninjauan kembali adalah para pihak yang berperkara
atau ahli warisnya (yang dapat dibuktikan dengan akta dibawah tanda tangan mengenai
keahliwarisannya yang didelegasi oleh Ketua Pengadilan Agama) apabila pemohon
meninggal dunia (pasal 68 UU No. 14/1985), juga bisa dengan wakil yang secara khusus
dikuasakan untuk mengajukan permohonan PK dengan bukti adanya surat kuasa.
Apabila terdapat hal-hal atau keadaan-keadaan yang ditentukan dengan undang-undang,
terhadap putusan pengadilan yang telah berkekuatan huikum tetap dapat dimintakan
peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung dalam perkara perdata dan pidana oleh
pihak-pihak yang berkempentingan. [pasal 66-77 UU no 14/1985 jo. UU no 5/2004]
Alasan-alasan peninjauan kembali menurut pasal 67 UU no 14/1985 jo. UU no 5/2004,
yaitu:
a. ada novum atau bukti baru yang diketahui setelah perkaranya diputus yang didasarkan
pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana yang dinyatakan palsu;
b. apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat menentukan
yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemuksn;
c. apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut/lebih daripada yang ituntut;
d. apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan
sebab-sebabnya;
28

e. apabila dalam satu putusan terdapat suatu kekhilafan hakim/suatu kekeliruan yang
nyata.
Tenggang waktu pengajuan 180 hari setelah putusan berkekuatan hukum tetap. (pasal 69
UU 14/1985). Mahkamah Agung memutus permohonan peninjauan kembali pada tingkat
pertama dan terakhir (pasal 70 UU no 14/1985).
Pencabutan permohonan peninjauan kembali
Permohonan PK dapat dicabut selam belum diputuskan, dalam dicabut permohonan
peninjauan kembali (PK) tidak dapat diajukan lagi (pasal 66 ayat (3) UU No. 14/1985).
Pencabutan permohonan PK ini dilakukan seperti halnya pencabutan permohonan kasasi.
Ad.2.b Upaya Hukum Luar Biasa: Denderverzet
Terjadi apabila dalam suatu putusan pengadilan merugikan kepentingan dari pihak ketiga,
maka pihak ketiga tersebut dapat mengajukan perlawanan terhadap putusan tersebut.
Perlawanan pihak ketiga terhadap sita eksekusi dan atau sita jaminan tidak hanya
terhadap suatu benda yang padanya melekat hak milik melainkan juga hak-hak lainnya.
Pihak pelawan harus dilindungi karena Ia bukan pihak berperkara namun dalam hal ini
kepentingannya telah tersentuh oleh sengketa dan konflik kepentingan dari penggugat
dan tergugat. Untuk dapat mempertahankan dimuka dan meyakinkan pengadilan dalam
mengabulkan perlawanannya maka Ia harus memiliki alas hak yang kuat dan dapat
membuktikan bahwa benda yang akan disita tersebut adalah haknya. Dengan demikian,
maka Ia akan disebut sebagai pelawan yang benar dan terhadap peletakan sita akan
diperintahkan untuk diangkat. Perlawanan pihak ketiga ini merupakan upaya hukum luar
biasa tetapi pada hakikatnya lembaga ini tidak menunda dilaksanakannya eksekusi.
Perlawanan pihak ketiga terhadap sita jaminan baik conservatoir ataupun revindicatoir
tidak diatur baik dalam HIR, RBg ataupun Rv, ketentuan mengenai hal tersebut didapatkan
dari yurisprudensi putusan Mahakamah Agung tanggal 31 Oktober 1962 No.306
K/Sip/1962 dalam perkara CV. Sallas dkk melawan PT. Indonesian Far Eastern Pasifik Line.
29

Denderverzet Dasar hukumnya adalah 378-384 Rv dan pasal 195 (6) HIR. Dikatakan
sebagai upaya hukum luar biasa karena pada dasarnya suatu putusan hanya mengikat
pihak yang berperkara saja (pihak penggugat dan tergugat) dan tidak mengikat pihak
ketiga (tapi dalam hal ini, hasil putusan akan mengikat orang lain/pihak ketiga, oleh sebab
itu dikatakan luar biasa). Denderverzet diajukan ke Pengadilan Negeri yang memutus
perkara tersebut pada tingkat pertama.
30

DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia,penerbit:
Liberty,Jogyakarta,1993
Ridwan Syahrani, S.H.,Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Umum,penerbit:
Pustaka Kartini, Jakarta,1988
Retnowulan Sutantio, Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek, Mandar Maju,
Jakarta, 1986.