Anda di halaman 1dari 36

1

PUTUSAN HAKIM/PENGADILAN
Maruarar Siahaan dalam bukunya berjudul Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia yang mengutip pendapat Mr. M.P. Stein mengatakan bahwa putusan dalam
peradilan merupakan perbuatan hakim sebagai pejabat negara berwenang yang
diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan dibuat secara tertulis untuk mengakhiri
sengketa yang dihadapkan para pihak kepadanya.1

Hal ini juga sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 195 KUHAP yang berbunyi:
Semua putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum
apabila diucapkan di sidang terbuka untuk umum.

Dari bunyi Pasal 195 KUHAP di atas dapat ditarik kesimpulan juga bahwa putusan
pengadilan yang tidak dibacakan di sidang terbuka untuk umum adalah putusan yang tidak
sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum.

Adapun di bawah ini merupakan pengertian putusan hakim atau pengadilan menurut:
1. Rubini, S.H. dan Chaidir Ali, S.H., merumuskan bahwa keputusan hakim itu merupakan
suatu akte penutup dari suatu proses perkara dan putusan hakim itu disebut vonnis yang
menurut kesimpulan-kesimpulan terakhir mengenai hukum dari hakim serta memuat
akibat-akibatnya. 2
2. Bab I pasal 1 angka 5 Rancangan Undang-undang Hukum Acara Perdata menyebutkan
putusan pengadilan adalah : suatu putusan oleh hakim, sebagai pejabat negara yang diberi
wewenang menjalankan kekuasaan kehakiman, yang dituangkan dalam bentuk tertulis

1 Maruarar Siahaan. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 2006. Jakarta: Mahkamah Konstitusi.
2 Rubini, S.H. dan Chaidir Ali, S.H. Pengantar Hukum Acara Perdata,penerbit: Alumni, Bandung,1974, hal. 105.
2



dan kemudian diucapkan di persidangan serta bertujuan untuk mengakhiri atau
menyelesaikan suatu gugatan.
3. Ridwan Syahrani, S.H. memberi batasan putusan pengadilan adalah pernyataan hakim
yang diucapkan pada sidang pengadilan yang terbuka untuk umum untuk menyelesaikan
dan mengakhiri perkara perdata. 3
4. Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., memberi batasan putusan hakim adalah : suatu
pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat yang diberi wewenang itu, diucapkan
dipersidangan dan bertujuan mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa
antara para pihak. 4

Asas-asas Putusan Hakim
Dalam Pasal 178 H.I.R, Pasal 189 R.Bg. wajib bagi hakim sebagai aparatur Negara yang
diberi tugas untuk selalu memegang teguh asas-asas yang telah digariskan oleh undang-
undang, agar keputusan yang dibuat tidak terdapat cacat hukum.
Agar keputusan yang dibuat tidak terdapat cacat hukum, maka putusan tersebut harus:
1. Memuat Dasar Alasan yang Jelas dan Rinci
Artinya harus berdasarkan pertimbangan yang jelas dan cukup, memuat dasar
dasar putusan, serta menampilkan pasal dalam peraturan undang undang
tertentu yang berhubungan dengan perkara yang diputus, serta berdasarkan
sumber hukum lainnya, baik berupa yurisprudensi, hukum kebiasaan atau hukum

3 Ridwan Syahrani, S.H.,Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Umum,penerbit: Pustaka Kartini,
Jakarta,1988, hal. 83.
4 Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia,penerbit: Liberty,Jogyakarta,1993,Hal. 174.
3



adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Bahkan menurut pasal 178 ayat (1) hakim
wajb mencukupkan segala alasan hukm yang tidak dikemukakan para pihak yang
berperkara.
2. Wajib Mengadili Seluruh Bagian Gugatan
Asas ini diatur dalam Pasal 178 ayat (2) H.I.R., Pasal 189 ayat (2) R.Bg. dan Pasal 50
Rv. Yakni, Hakim dalam setiap keputusannya harus secara menyeluruh memeriksa
dan mengadili setiap segi tuntutan dan mengabaikan gugatan selebihnya. Hakim
tidak boleh hanya memeriksa sebagian saja dari tuntutan yang diajukan oleh
penggugat.
3. Tidak boleh Mengabulkan Melebihi Tuntutan
Menurut asas ini hakim tidak boleh memutus melebihi gugatan yang diajukan
(ultra petitum partium). Sehingga menurut asas ini hakim yang mengabulkan
melebihi posita maupun petitum gugatan dianggap telah melampaui batas
kewenangan atau ultra vires harus dinyatakan cacat atau invalid, meskipun hal itu
dilakukan dengan itikad baik. Hal ini diatur dalam Asas ini diatur dalam Pasal 178
ayat (3) H.I.R., Pasal 189 ayat (3) R.Bg. dan Pasal 50 Rv.
4. Diucapkan di Muka Umum
Prinsip putusan diucapkan dalam sidang terbuka ini ditegaskan dalam Undang
undang No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 20. Hal ini tidak
terkecuali terhadap pemeriksaan yang dilakukan dalam sidang tertutup, khususnya
dalam bidang hukum keluarga, misalnya perkara perceraian, sebab meskipun
perundangan membenarkan perkara perceraian diperiksa dengan cara tertutup.

Dalam pasal 34 ayat (1) PP No. 9 tahun 1975 menegaskan bahwa putusan gugatan
perceraian harus tetap diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. Sehingga
4



prinsip keterbukaan ini bersifat memaksa (imperative), tidak dapat dikesampingkan,
pelanggaran terhadap prinsip ini dapat mengakibatkan putusan menjadi cacat hukum.
Jenis Putusan
Ada berbagai jenis Putusan Hakim dalam pengadilan sesuai dengan sudut pandang yang
kita lihat. Dari segi fungsinya dalam mengakhiri perkara putusan hakim adalah sebagai
berikut :
1. Putusan Akhir
adalah putusan yang mengakhiri pemeriksaan di persidangan, baik telah melalui
semua tahapan pemeriksaan maupun yang tidak/belum menempuh semua
tahapan pemeriksaan.
Putusan yang dijatuhkan sebelum tahap akhir dari tahap-tahap pemeriksaan,
tetapi telah mengakhiri pemeriksaan yaitu :
a. putusan gugur
b. putusan verstek yang tidak diajukan verzet
c. putusan tidak menerima
d. putusan yang menyatakan pengadilan agama tidak
berwenang memeriksa
Semua putusan akhir dapat dimintakan akhir, kecuali bila undang-undang
menentukan lain.

2. Putusan Sela
adalah putusan yang dijatuhkan masih dalam proses pemeriksaan perkara dengan
5



tujuan untuk memperlancar jalannya pemeriksaan. Putusan sela tidak mengakhiri
pemeriksaan, tetapi akan berpengaruh terhadap arah dan jalannya pemeriksaan.
Putusan sela dibuat seperti putusan biasa, tetapi tidak dibuat secara terpisah,
melainkan ditulis dalam berita acara persidangan saja.
Putusan sela harus diucapkan di depan sidang terbuka untuk umum serta ditanda
tangani oleh majelis hakim dan panitera yang turut bersidang.
Putusan sela selalu tunduk pada putusan akhir karena tidak berdiri sendiri dan
akhirnya dipertimbangkan pula pada putusan akhir. Hakim tidak terikat pada
putusan sela, bahkan hakim dapat merubahnya sesuai dengan keyakinannya.
Putusan sela tidak dapat dimintakan banding kecuali bersama-sama dengan
putusan akhir. Para pihak dapat meminta supaya kepadanya diberi salinan yang
sah dari putusan itu dengan biaya sendiri.

Kemudian jika dilihat dari segi hadir tidaknya para pihak pada saat putusan
dijatuhkan, putusan dibagi sebagai berikut :

a. Putusan gugur
adalah putusan yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan gugur karena
penggugat/pemohon tidak pernah hadir, meskipun telah dipanggil sedangkan tergugat
hadir dan mohon putusan. Putusan gugur dijatuhkan pada sidang pertama atau
sesudahnya sebelum tahapan pembacaan gugatan/permohonan. Putusan gugur dapat
dijatuhkan apabila telah dipenuhi syarat :
Penggugat/pemohon telah dipanggil resmi dan patut untuk hadir dalam sidang
hari itu
Penggugat/pemohon ternyata tidak hadir dalam sidang tersebut, dan tidak pula
6



mewakilkan orang lain untuk hadir, serta ketidak hadirannya itu karena suatu
halangan yang sah
Tergugat/termohon hadir dalam siding
Tergugat/termohon mohon keputusan
Dalam hal penggugat/pemohon lebih dari seorang dan tidak hadir semua, maka dapat
pula diputus gugur. Dalam putusan gugur, penggugat/pemohon dihukum membayar
biaya perkara. Tahapan putusan ini dapat dimintakan banding atau diajukan perkara
baru lagi
b. Putusan Verstek
adalah putusan yang dijatuhkan karena tergugat/termohon tidak pernah hadir
meskipun telah dipanggil secara resmi, sedang penggugat hadir dan mohon putusan.
Verstek artinya tergugat tidak hadir.
Putusan verstek dapat dijatuhkan dalam sidang pertama atau sesudahnya, sesudah
tahapan pembacaan gugatan sebelum tahapan jawaban tergugat, sepanjang
tergugat/para tergugat semuanya belum hadir dalam sidang padahal telah dipanggil
dengan resmi dan patut. Putusan verstek dapat dijatuhkan apabila memenuhi syarat :
Tergugat telah dipanggil resmi dan patut untuk hadir dalam sidang hari itu
Tergugat ternyata tidak hadir dalam sidang tersebut, dan tidak pula mewakilkan
orang lain untuk hadir, serta ketidak hadirannya itu karena suatu halangan yang sah
Tergugat tidak mengajukan tangkisan/eksepsi mengenai kewenangan
Penggugat hadir dalam sidang
Penggugat mohon keputusan
Dalam hal tergugat lebih dari seorang dan tidak hadir semua, maka dapat pula diputus
verstek. Putusan verstek hanya bernilai secara formil surat gugatan dan belum menilai
7



secara materiil kebenaran dalil-dalil tergugat. Apabila gugatan itu beralasam dan tidak
melawan hak maka putusan verstek berupa mengabulkan gugatan penggugat, sedang
mengenai dalil-dalil gugat, oleh karena dibantah maka harus dianggap benar dan tidak
perlu dibuktikan kecuali dalam perkara perceraian.
Apabila gugatan itu tidak beralasan dan atau melawan hak maka putusan verstek dapat
berupa tidak menerima gugatan penggugat dengan verstek

Terhadap putusan verstek ini maka tergugat dapat melakukan perlawanan (verzet).
Tergugat tidak boleh mengajukan banding sebelum ia menggunakan hak verzetnya
lebih dahulu, kecuali jika penggugat yang banding. Terhadap putusan verstek maka
penggugat dapat mengajukan banding. Apabila penggugat mengajukan banding, maka
tergugat tidak boleh mengajukan verzet, melainkan ia berhak pula mengajukan banding
Khusus dalam perkara perceraian, maka hakim wajib membuktikan dulu kebenaran
dalil-dalil tergugat dengan alat bukti yang cukup sebelum menjatuhkan putusan
verstek.

Apabila tergugat mengajukan verzet, maka putusan verstek menjadi mentah dan
pemeriksaan dilanjutkan pada tahap selanjutnya. Perlawanan (verzet berkedudukan
sebagai jawaban tergugat)
Apabila perlawanan ini diterima dan dibenarkan oleh hakim berdasarkan hasil
pemeriksaan/pembuktian dalam sidang, maka hakim akan membatalkan putusan
verstek dan menolak gugatan penggugat. Tetapi bila perlawanan itu tidak diterima oleh
hakim, maka dalam putusan akhir akan menguatkan verstek
Terhadap putusan akhir ini dapat dimintakan banding. Putusan verstek yang tidak
diajukan verzet dan tidak pula dimintakan banding, dengan sendirinya menjadi putusan
akhir yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
8




c. Putusan kontradiktoir
adalah putusan akhir yang pada saat dijatuhkan/diucapkan dalam sidang tidak
dihadiri salah satu atau para pihak.
dalam pemeriksaan/putusan kontradiktoir disyaratkan bahwa baik penggugat
maupun tergugat pernah hadir dalam sidang
terhadap putusan kontradiktoir dapat dimintakan banding.
Jika dilihat dari isinya terhadap gugatan/perkara, putusan hakim dibagi sebagai berikut:
a. Putusan tidak menerima
yaitu putusan yang menyatakan bahwa hakim tidak menerima gugatan
penggugat/permohonan pemohon atau dengan kata lain gugatan
penggugat/pemohonan pemohon tidak diterima karena gugatan/permohonan
tidak memenuhi syarat hukum baik secara formil maupun materiil
Dalam hal terjadi eksepsi yang dibenarkan oleh hakim, maka hakim selalu
menjatuhkan putusan bahwa gugatan penggugat tidak dapat diterima atau tidak
menerima gugatan penggugat
Meskipun tidak ada eksepsi, maka hakim karena jabatannya dapat memutuskan
gugatan penggugat tidak diterima jika ternyata tidak memenuhi syarat hukum
tersebut, atau terdapat hal-hal yang dijadikan alasan eksepsi
Putusan tidak menerima dapat dijatuhkan setelah tahap jawaban, kecuali dalam
hal verstek yang gugatannya ternyata tidak beralasan dan atau melawan hak
sehingga dapat dijatuhkan sebelum tahap jawaban
Putusan tidak menerima belum menilai pokok perkara (dalil gugat) melainkan baru
9



menilai syarat-syarat gugatan saja. Apabila syarat gugat tidak terpenuhi maka
gugatan pokok (dalil gugat) tidak dapat diperiksa.
Putusan ini berlaku sebagai putusan akhir
Terhadap putusan ini, tergugat dapat mengajukan banding atau mengajukan
perkara baru. Demikian pula pihak tergugat
Putusan yang menyatakan pengadilan agama tidak berwenang mengadili suatu
perkara merupakan suatu putusan akhir
b. Putusan menolak gugatan penggugat
yaitu putusan akhir yang dijatuhkan setelah menempuh semua tahap pemeriksaan
dimana ternyata dalil-dalil gugat tidak terbukti
Dalam memeriksa pokok gugatan (dalil gugat) maka hakim harus terlebih dahulu
memeriksa apakah syarat-syarat gugat telah terpenuhi, agar pokok gugatan dapat
diperiksa dan diadili.
c. Putusan mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian dan menolak/tidak
menerima selebihnya.
Putusan ini merupakan putusan akhir
Dalam kasus ini, dalil gugat ada yang terbukti dan ada pula yang tidak terbukti atau
tidak memenuhi syarat sehingga :
- Dalil gugat yang terbukti maka tuntutannya dikabulkan
- Dalil gugat yang tidak terbukti makan tuntutannya ditolak
- Dalil gugat yang tidak memenuhi syarat maka diputus dengan
tidak diterima
10



d. Putusan mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya
putusan ini dijatuhkan apabila syarat-syarat gugat telah terpenuhi dan seluruh
dalil-dalil tergugat yang mendukung petitum ternyata terbukti
Untuk mengabulkan suatu petitum harus didukung dalil gugat. Satu petitum
mungkin didukung oleh beberapa dalil gugat. Apabila diantara dalil-dalil gugat itu
ada sudah ada satu dalil gugat yang dapat dibuktikan maka telah cukup untuk
dibuktikan, meskipun mungkin dalil-dalil gugat yang lain tidak terbukti
Prinsipnya, setiap petitum harus didukung oleh dalil gugat

Sedangkan jika dilihat dari segi sifatnya terhadap akibat hukum yang ditimbulkan, maka
putusan dibagi sebagai berikut:
1. Putusan Diklatoir
- yaitu putusan yang hanya menyatakan suatu keadaan tertentu sebagai keadaan
yang resmi menurut hukum
- semua perkara voluntair diselesaikan dengan putusan diklatoir dalam bentuk
penetapan atau beschiking
- putusan diklatoir biasanya berbunyi menyatakan
- putusan diklatoir tidak memerlukan eksekusi
- putusan diklatoir tidak merubah atau menciptakan suatu hukum baru,
melainkan hanya memberikan kepastian hukum semata terhadap keadaan
yang telah ada
2. Putusan Konstitutif
11



- Yaitu suatu putusan yang menciptakan/menimbulkan keadaan hukum baru,
berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya.
- Putusan konstitutif selalu berkenaan dengan status hukum seseorang atau
hubungan keperdataan satu sama lain
- Putusan konstitutif tidak memerlukan eksekusi
- Putusan konstitutif diterangkan dalam bentuk putusan
- Putusan konstitutif biasanya berbunyi menetapkan atau memakai kalimat lain
bersifat aktif dan bertalian langsug dengan pokok perkara, misalnya, dan
sebagainya
- Keadaan hukum baru tersebut dimulai sejak putusan memperoleh kekuatan
hukum tetap
3. Putusan Kondemnatoir
- Yaitu putusan yang bersifat menghukum kepada salah satu pihak untuk
melakukan sesuatu, atau menyerahkan sesuatu kepada pihak lawan, untuk
memenuhi prestasi
- Putusan kondemnatoir terdapat pada perkara kontentius
- Putusan kondemnatoir selaku berbunyi menghukum dan memerlukan
eksekusi
- Apabila pihak terhukum tidak mau melaksanakan isi putusan dengan suka rela,
maka atas permohonan tergugat, putusan dapat dilakukan dengan paksa oleh
pengadilan yang memutusnya
- Putusan dapat dieksekusi setelah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali
dalam hal vitvoer baar bijvoorraad, yaitu putusan yang dilaksanakan terlebih
dahulu meskipun ada upaya hukum (putusan serta merta)
12



- Putusan kondemnatoir dapat berupa pengukuman untuk:
1. menyerahkan suatu barang
2. membayar sejumlah uang
3. melakukan suatu perbuatan tertentu
4. menghentikan suatu perbuatan/keadaan
5. mengosongkan tanah/rumah
Sifat Putusan
Jalannya suatu proses peradilan akan berakhir dengan adanya suatu putusan Hakim.
Dalam hal ini, Hakim terlebih dahulu menetapkan fakta-fakta (kejadian-
kejadian) yang dianggapnya benar dan berdasarkan kebenaran yang didapatkan ini
kemudian Hakim baru dapat menerapkan hukum yang berlaku antara kedua belah pihak
yang berselisih (berperkara), yaitu menetapkan hubungan hukum.

Menurut sifatnya, putusan Hakim ini dibedakan dalam 3 (tiga) macam yaitu:
1) Putusan Declaratoir
Putusan ini merupakan putusan yang bersifat menerangkan. Menegaskan suatu keadaan
hukum semata-mata.
2) Putusan Constitutive
Putusan ini merupakan putusan yang meniadakan atau menimbulkan suatu keadaan
hukum yang baru.
3) Putusan Condemnatoir
13



Putusan ini merupakan putusan yang menetapkan bagaimana hubungan suatu
keadaan hukum disertai dengan penetapan penghukuman kepada salah satu
pihak.
Suatu putusan harus ditandatangani oleh Ketua Sidang dan Panitera yang telah
mempersiapakan perkaranya. Apabila ketua tersebut berhalangan menandatanganinya
maka putusan itu ditandatangani sendiri oleh Hakim anggota tertua yang telah ikut
memeriksa dan memutuskan perkaranya (pasal 187 ayat 1 HIR), sedangkan apabila
paniteranya yang berhalangan, hal itu harus dicatat saja dalam berita acara (pasal 187
ayat 1 HIR).

Sifat Putusan Akhir
Putusan akhir adalah putusan yang mengakhiri perkara perdata pada tingkat pemeriksaan
tertentu.

Perkara perdata dapat diperiksa pada 3 (tiga) tingkatan pemeriksaan, yaitu :
Pemeriksaan tingkat pertama di Pengadilan Negeri, pada tingkatan ini pemeriksaan
perkara perdata menggunakan HIR (Hukum Acara Perdata yang berlaku untuk
derah Pulau Jawa dan Madura) dan RBg (Hukum Acara Perdata yang berlaku untuk
daerah-daerah luar pulau Jawa dan Madura).
Pemeriksaan tingkat banding di Pengadilan Tinggi, pada tingkatan ini pemeriksaan
perkara perdata menggunakan Undang Undang No. 20 Tahun 1947 tentang
Peradilan Ulangan di Jawa dan Madura serta RBg (Hukum Acara Perdata yang
berlaku untuk daerah-daerah luar pulau Jawa dan Madura).
14



Pemeriksaan tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung, pada tingkatan ini pemeriksaan
perkara perdata menggunakan Undang Undang No.14 Tahun 1985 tentang
Mahkamah Agung.
Putusan akhir menurut sifat amarnya (diktumnya) dapat dibedakan atas 3 (tiga) macam,
yaitu putusancondemnatoir, putusan constitutief, dan putusan declaratoir.
putusan condemnatoir adalah putusan yang bersifat menghukum pihak yang kalah
untuk memenuhi prestasi. Hak perdata penggugat yang dituntutnya terhadap
tergugat, diakui kebenarannya oleh hakim. Amar putusan selalu berbunyi
Menghukum .... dan seterusnya
putusan constitutief adalah putusan yang menciptakan suatu keadaan hukum yang
baru. Misalnya, putusan yang membatalkan suatu perjanjian, menyatakan pailit,
memutuskan suatu ikatan perkawinan, dan sebagainya. Amar putusan berbunyi :
Menyatakan ... dan seterusnya.
putusan declaratoir adalah putusan yang menyatakan suatu keadaan sebagai suatu
keadaan yang sah menurut hukum. Misalnya, perjanjian antara penggugat dan
tergugat dinyatakan sah menurut hukum dan sebagainya. Amar putusannya selalu
berbunyi : Menyatakan ... sah menurut hukum.
Dari ketiga putusan akhir tersebut diatas, putusan yang memerlukan pelaksanaan
(executie) hanyalah putusan akhir yang bersifat condemnatoir, sedangkan putusan akhir
lainya hanya mempunyai kekuatan mengikat.

Putusan Serta Merta
A. Pengertian Putusan Serta Merta
15



Uitvoerbarr bij voorrad atau dalam bahasa indonesianya sering diterjemahkan
dengan putusan serta merta, adalah merupakan suatu putusan pengadilan yang bisa
dijalankan terlebih dahulu, walaupun terhadap putusan tersebut dilakukan upaya hukum
banding, kasasi dan perlawanan oleh pihak yang kalah atau pihak ketiga yang merasa
berhak. Menurut Abdulkadir Muhammad, putusan serta merta adalah putusan yang
dijatuhkan dapat langsung dilaksanakan eksekusinya secara serta merta, meskipun
putusan tersebut belum memperoleh kekuatan hukum tetap. putusannya menjadi
berkekuatan hukum tetap.
Mengenai tingkat peradilan, di Indonesia secara umumnya dibagi menjadi dua
tingkat peradilan yaitu pengadilan negeri (pengadilan tingkat pertama) dan pengadilan
tinggi (pengadilan tingkat kedua) kedua tingkat peradilan itu disebut dengan judex
factie[6].
Mahkamah Agung tidak disebut pengadilan tingkat ketiga, karena Mahkamah
Agung pada prinsipnya tidak memeriksa pokok perkara, melainkan sebagai pemeriksa
dalam penerapan hukumnya saja.

B. Landasan Hukum Putusan Serta Merta
Mengenai landasan hukum putusan serta merta, ialah diatur dalam Pasal 180 Ayat
(1) HIR dan Pasal 191 Ayat (1) RBg. Berikut bunyi dari Pasal 180 Ayat (1)
HIR:[7] Pengadilan negeri boleh memerintahkan supaya keputusan dijalankan dahulu,
walaupun keputusan itu dibantah atau diminta banding, jika ada surat yang sah, satu
surat tulisan, yang menurut peraturan yang laku untuk hal itu berkekuatan bukti, atau
jika ada hukuman dahulu, dengan keputusan, yang sudah medapat kekuatan keputusan
16



pasti, demikian juga jikalau tuntutan sementara dikabulkan, tambahan pula dalam
perselisihan hak milik.
Pasal 180 Ayat (1) HIR/Pasal 191 Ayat (1) RBg memberikan kewenangan bagi
hakim untuk menjatuhkan putusan serta-merta, namun dalam prakteknya untuk
melaksanakan kewenangan tersebut masih simpang siur sehingga sering menyimpang dari
patokan undang-undang. Wewenang menjatuhkan putusan serta merta hanya pada
pengadilan negeri, pengadilan tinggi dilarang menjatuhkan putusan serta merta. Putusan
serta merta dapat dijatuhkan, apabila telah dipertimbangkan alasan-alasannya secara
seksama sesuai tuntutan yurisprudensi tetap dan doktrin yang berlaku.

C. Syarat Dijatuhkannya Putusan Serta Merta
Syarat putusan serta merta menurut menurut Pasal 180 HIR, Pasal 191 RBg, dan Pasal 54
Rv:
1. Gugatan didasarkan atas suatu alas hak yang berbentuk akta otentik.
2. Didasarkan atas akta dibawah tangan yang diakui atau yang dianggap diakui jika
putusannya dijatuhkan secara verstek.
3. Didasarkan pada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Syarat putusan serta merta menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2000
yaitu:
1. Gugatan berdasarkan pada bukti surat otentik atau surat tulisan tangan yang tidak
dibantah kebenaran tentang isi dan tanda tangannya.
2. Gugatan tentang hutang piutang yang jumlahnya sudah pasti dan tidak dibantah.
17



3. Gugatan tentang sewa menyewa tanah rumah, gudang, dan lain-lain dimana
hubungan sewa menyewa sudah habis/lampau, atau penyewa terbukti melalaikan
kewajibannya sebagai penyewa yang beritikat baik.
4. Gugatan mengenai pembagian harta perkawinan (gono gini) setelah putusan
mengenai gugatan cerai mempunyai kekuatan hukum tetap.
5. Dikabulkannya gugatan provisionil, dengan pertimbangan hukum yang tegas dan
jelas serta memenuhi pasal 332 Rv.

Jadi apabila salah satu syarat tersebut di atas dipenuhi, maka barulah dapat dijatuhkan
putusan yang dapat dijalankan terlebih dahulu, walaupun diajukan perlawanan atau
banding, sedang dalam hal-hal di luar itu tidak boleh dijatuhkan sedang dalam hal-hal di
luar itu tidak boleh dijatuhkan putusan serupa itu.
Sebelum menjatuhkan putusan serta merta, hakim wajib mempertimbangkan lebih dahulu
gugatan tersebut telah memenuhi syarat secara formal, syarat mengenai surat kuasa dan
syarat-syarat formil lainnya. Hakim wajib menghindari putusan serta merta yag
gugatannya tidak memenuhi syarat formil yang dapat berakibat dibatalknnya putusan oleh
pengadilan tinggi atau mahkamah agung.
Sita jaminan yang dilakukan terhadap barang-barang milik tergugat atau terhadap barang-
barang tertentu milik tergugat yang dikuasai oleh tergugat, tidak menjadi penghalang
untuk menjatuhkan putusan serta merta apabila memenuhi syarat-syarat menjatuhkan
putusan serta merta. Berdasarkan Pasal 195 HIR dan/atau Pasal 206 RBg, putusan serta
merta hanya dapt dilaksanakan atas perintah dan dibawah pimpinan ketua pengadilan
negeri dan pengadilan negeri yang bersangkutan.
18



Dalam pelaksanaan putusan serta merta, diwajibkan untuk memperhatikan SEMA No. 3
Tahun 2000 dan SEMA No. 4 Tahun 2001 yang mengatur bahwa dalam pelaksanaan
putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad). SEMA No. 3 Tahun 2000 menyebutkan
adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang atau objek eksekusi
sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lainnya apabila ternyata dikemudian
hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan pengadilan tinggi pertama.
Dengan SEMA No. 3 Tahun 1978 tertanggal 1 April 1978, Mahkamah Agung menegaskan
kembali kepada para ketua/ hakim pengadilan negeri seluruh Indonesia agar tidak
menjatuhkan keputusan uitvoerbaar bij voorraad walaupun syarat-syarat dalam Pasal 180
Ayat (1) HIR dan Pasal 191 Ayat (1) RBg telah terpenuhi. Hanya dalam hal-hal yaang tidak
dapat dihindarkan, keputuan demikian yang sangat exceptionil sifatnya dapat dijatuhkan,
dengan mengingat syarat-syarat yang tercantum dalam SEMA No. 6 Tahun 1975.

C. Pelaksanaan Putusan Serta Merta
Putusan uitvoerbaar bij voorrrad dijatuhkan dalam putusan pengadilan tingkat pertama
(PN). Dari segi hukum acara perdata putusan tersebut memang dibolehkan walaupun
menurut pengamatan dan penelitian Mahkamah Agung RI pelaksanaan dari adanya
penjatuhan putusan serta merta tersebut sering menimbulkan berbagai masalah.

D. Tata Cara/Prosedur Pelaksanaan Putusan Serta Merta
Mahkamah Agung RI mengeluarkan berbagai Surat Edaran yang mengatur tentang tata
cara dan prosedur penjatuhan serta pelaksanaan putusan serta merta. Di dalam Surat
Edaran Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2000 Mahkamah Agung telah menetapkan tata
cara, prosedur dan gugatan-gugatan yang bisa diputus dengan putusan serta merta
19



(uitvoerbaar bij voorraad), dan dalam Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 4 tahun
2001 mahkamah Agung kembali menetapkan agar dalam setiap pelaksanaan putusan
serta merta disyaratkan adanya jaminan yang nilainya sama dengan barang/benda objek
eksekusi.
Dari sini jelas sekali bahwa Mahkamah Agung sebenarnya tidak menyetujui adanya
putusan serta merta di dalam setiap putusan pengadilan walaupun perkara tersebut
memenuhi ketentuan Pasal 180 Ayat (1) HIR dan Pasal 191 Ayat (1) RBg serta pasal 332 Rv
sebagai syarat wajib penjatuhan putusan serta merta, karena selain pelaksaan putusan
serta merta tersebut ternyata di lapangan menimbulkan banyak permasalahan apalagi
dikemudian hari dalam upaya hukum berikutnya, pihak yang tereksekusi ternyata diputus
menang oleh Hakim. oleh karenanya Hakim/Ketua Pengadilan bersangkutan harus super
hati-hati dalam mengabulkan gugatan provisionil dan permintaan putusan serta-merta.

E. Larangan Putusan Serta Merta
Banyaknya SEMA yang telah dikeluarkan oleh Mahkamah Agung mengenai putusan serta
merta menunjukkan bahwa pelaksanaan putusan serta merta dalam praktek tidak
memuaskan. Dalam praktek putusan serta merta dikabulkan berdasarkan bukti yang
keotentikannya dibantah oleh pihak lawan dengan bukti yang otentik pula. Untuk itu
melalui SEMA pada dasarnya Mahkamah Agung memberikan petunjuk, yaitu ketua
pengadilan negeri, ketua pengadilan agama, para hakim pengadilan negeri dan hakim
pengadilan agama tidak menjatuhkan putusan serta merta, kecuali dalam hal-hal sebagai
berikut:

20



a) Gugatan didasarkan pada bukti surat auntentik atau surat tulisan tangan
(handschrift) yang tidak dibantah kebenaran tentang isi dan tanda tangannya,
yang menurut Undang-undang tidak mempunyai kekuatan bukti.
b) Gugatan tentang Hutang - Piutang yang jumlahnya sudah pasti dan tidak dibantah.
c) Gugatan tentang sewa-menyewa tanah, rumah, gudang dan lain-lain, di mana
hubungan sewa menyewa sudah habis/lampau, atau Penyewa terbukti melalaikan
kewajibannya sebagai Penyewa yang beritikad baik.
d) Pokok gugatan mengenai tuntutan pembagian harta perkawinan (gono-gini)
setelah putusan mengenai gugatan cerai mempunyai kekuatan hukum tetap.
e) Dikabulkannya gugatan Provisionil, dengan pertimbangan agar hukum yang tegas
dan jelas serta memenuhi Pasal 332 Rv.
f) Gugatan berdasarkan Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (in
kracht van gewijsde) dan mempunyai hubungan dengan pokok gugatan yang
diajukan.
g) pokok sengketa mengenai bezitsrecht.

Seperti yang dijelaskan dalam pasal 180 HIR DAN 191 RBg sasarnya putusan serta merta
tidak dapat dilaksanakan kecuali dalam keadaan exceptional. Dasar hukum atas larangan
tersebut adalah Pasal 180 ayat (1) HIR, Pasal 191 ayat (1) RBG, Rv Pasal 5457, dan SEMA
No. 3 tahun 2000 tentang Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar bij voorraad) dan Provisionil,
serta SEMA No. 4 tahun 2001 tentang Permasalahan Putusan Serta Merta dan Provisionil.
Pasal 18 ayat (1) HIR dan 191 ayat (1) RBG menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi
hakim dapat menjatuhkan putusan serta merta, adalah gugatan didasarkan atas suatu alas
hak yang berbentuk akta otentik, gugatan didasarkan atas akta di bawah tangan yang
diakui, dan putusan serta merta yang didasarkan pada putusan pengadilan yang
21



mempunyai kekuatan hukum tetap. Adapun Pasal 54-57 Rv pengaturannya lebih luas.
Pasal 54 mengatur syarat-syarat pengabulan dan pemberian jaminan atas pelaksanaan
putusan tersebut. Pasal 55 mengatur kebolehan pelaksanaan putusan yang dijalankan
lebih dahulu tanpa jaminan tertentu. Sedangkan Pasal 56 Rv memberi hak mengajukan
putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu pada tingkat banding. Sementara itu, dalam
SEMA No. 3 Tahun 2000 ada tiga poin penting yang diatur antara lain:
1. Para hakim harus betul-betul dan sungguh-sungguh dalam mempertimbangkan dan
memperhatikan serta mentaati syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum mengabulkan
putusan serta merta.
2. Tentang keadaan-keadaan tertentu dapat dijatuhkannya putusan serta merta. Selain
keadaan yang sudah diatur Pasal 18 ayat (1) dan 191 ayat (1) RBG, keadaan tertentu yang
dimaksud adalah gugatan tentang hutang-piutang yang jumlahnya sudah pasti dan tidak
dibantah. Juga gugatan tentang sewa-menyewa tanah, rumah, gedung dan lain-lain,
dimana hubungan sewa-menyewa sudah habis, atau penyewa terbukti melalaikan
kewajibannya sebagai Penyewa yang beritikad baik. Demikian pula dikabulkannya gugatan
provisi serta pokok sengketa mengenaibez its r echt.
3. Tentang adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/obyek
eksekusi, sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain, apabila ternyata
dikemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan Pengadilan Tingkat
Pertama
Adapun poin penting SEMA No. 4 Tahun 2001, selain penegasan kembali
mengenai jaminan dalam SEMA terdahulu. SEMA ini menyatakan bahwa tidak boleh
ada putusan serta merta tanpa adanya jaminan yang sama nilainya dengan nilai barang.

22



E. Eksekusi Putusan Serta Merta
Pelaksanaan putusan serta merta yang akan dimintakan izin kepada ketua pengadilan
tinggi, oleh ketua pengadilan negeri wajib meneliti dengan seksama sebelum permohonan
tersebut diajukan, apabila putusan serta merta tersebut dinilai tidak memenuhi syarat
yang ditentukan, oleh undang-undang ketua pengadilan negeri berwenang untuk tidak
melanjutkan permohonan tersebut. Putusan serta merta yang akan dilaksanankan harus
mendapatkan izin tertulis terlebih dahulu dari ketua pengadilan tinggi.
Setelah izin diberikan oleh ketua pengadilan negeri tinggi maka sebelum eksekusi
dilaksanankan harus ada jaminan dari pihak pemohon eksekusi (perhatikan dalam SEMA
No. 3 Tahun 2000 junc to SEMA No. 4 Tahun 2001) atau secara singkatnya penggugat
dapat mengajukan eksekusi yaitu dengan cara menyampaikan salinan putusan
pada pengadilan tinggi (30 hari). Jika penggugat mengajukan pemohonan eksekusi,
dikirimkan pada pengadilan tinggi beserta berkas lengkap disertai pendapat ketua
pengadilan negeri..

F. Hal Dikabulkannya Putusan Serta Merta
Memang dari segi hukum belum ada yang melarang dijatuhkannya putusanuitvoerbaar bij
voorraad dalam perkara yang memenuhi ketentuan Pasal 180 Ayat (1) HIR dan Pasal 191
Ayat (1) RBg serta Pasal 332 Rv, sehingga sampai saat ini hakim masih sah-sah saja
menjatuhkan putusan serta merta tersebut. Guna memproteksi hal-hal yang tidak
diinginkan dimana pihak yang tereksekusi yang ternyata dikemudian hari menjadi pihak
yang memenangkan perkara tersebut, maka Ketua Mahkamah Agung telah pula
mengeluarkan Surat Edaran (SEMA) No. 4 Tahun 2001 tentang Putusan Serta-Merta yang
isinya menekankan bahwa sebelum putusan serta-merta dapat dijalankan pihak pemohon
23



eksekusi diwajibkan membayar uang jaminan yang nilainya sama dengan nilai
barang/obyek eksekusi agar tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain.
Namun kalau yang akan dieksekusi itu adalah sebuah bangunan yang mempunyai nilai
sejarah yang mana bangunan tersebut harus dilestarikan keberadaannya dan pihak
pemohon eksekusi bermaksud akan membongkar bangunan bersejarah tersebut yang
akan digantikan dengan bangunan baru sesuai dengan rencananya tentu masalahnya
menjadi lain jika di kemudian hari pihaktereksekusi ternyata diputus menang dalam
perkara tersebut.
Ketua pengadilan negeri dan/atau ketua pengadilan tinggi harus dapat menjamin bahwa
bangunan bersejarah yang telah dieksekusi tersebut harus tetap utuh seperti semula
tanpa mengalami perubahan apapun hingga upaya hukum terakhir bagi tereksekusi tidak
ada lagi (in kracht van gewijsde). Dan tentu tidak berlebihan dalam hal ini ketua
Mahkamah Agung telah mengeluarkan ancaman yang keras kepada pejabat yang
bersangkutan yang ditemukan menyimpang dalam melaksanakan putusan serta-merta
sebagaimana ditegaskannya dalam butir ke-9 SEMA No. 3 tahun 2000 tentang Putusan
Serta-Merta dan Provisionil.

25

UPAYA HUKUM
A. Pengertian
Upaya hukum merupakan upaya yang diberikan oleh undang-undang kepada seseorang
atau badan hukum untuk hal tertentu untuk melawan putusan hakim sebagai tempat bagi
pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan hakim yang dianggap tidak sesuai dengan apa
yang diinginkan, tidak memenuhi rasa keadilan, karena hakim juga seorang manusia yang
dapat melakukan kesalaha/kekhilafan sehingga salah memutuskan atau memihak salah
satu pihak.
Upaya hukum ialah suatu usaha setiap pribadi atau badan hukum yang merasa dirugikan
haknya atau atas kepentingannya untuk memperoleh keadilan dan perlindungan
atau kepastian hukum, menurut cara-cara yang ditetapkan dalam undang-undang.

B. Macam Upaya Hukum
Upaya hukum dibedakan antara upaya hukum terhadap upaya hukum biasa dengan
upaya hukum luar biasa.

1. Upaya hukum biasa
Merupakan upaya hukum yang digunakan untuk putusan yang belum berkekuatan
hukum tetap. Upaya ini mencakup:
a. Perlawanan/verzet
b. Banding
c. Kasasi
Pada dasarnya menangguhkan eksekusi. Dengan pengecualian yaitu apabila putusan
tersebut telah dijatuhkan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu atau
uitboverbaar bij voorraad dalam pasal 180 ayat (1) HIR jadi meskipun dilakukan upaya
26



hukum, tetap saja eksekusi berjalan terus.

2. Upaya hukum luar biasa
Dilakukan terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan pada
asasnya upaya hukum ini tidak menangguhkan eksekusi. Mencakup:
a. Peninjauan kembali (request civil)
b. Perlawanan pihak ketiga (denderverzet) terhadap sita eksekutorial

Ad.1.a. Upaya Hukum Biasa: Perlawanan/verzet
Suatu upaya hukum terhadap putusan di luar hadirnya tergugat (putusan verstek).
Dasar hukum verzet dapat dilihat di dalam pasal 129 HIR. Verzet dapat dilakukan dalam
tempo/tenggang waktu 14 hari (termasuk hari libur) setelah putusan putusan verstek
diberitahukan atau disampaikan kepada tergugat karena tergugat tidak hadir.

Syarat verzet adalah (pasal 129 ayat (1) HIR):
1. keluarnya putusan verstek
2. jangka waktu untuk mengajukan perlawanan adalah tidak boleh lewat dari 14 hari dan
jika ada eksekusi tidak boleh lebih dari 8 hari; dan
3. verzet dimasukan dan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri di wilayah hukum
dimana penggugat mengajukan gugatannya.

Ad.1.b. Upaya Hukum Biasa: Banding
Banding artinya ialah mohon supaya perkara yang telah diputus oleh pengadilan tingkat
pertama diperiksa ulang oleh Pengadilan yang lebih tinggi (tingkat banding), karena
merasa belum puas dengan keputusan Pengadilan tingkat pertama. Yang merupakan
Pengadilan tingkat pertama adalah Pengadilan Agama (PA), sedangkan yang merupakan
27



Pengadilan Tingkat Banding adalah Pengadilan Tinggi Agama (PTA)/Pengadilan Tinggi
Umum (PTU). (pasal 6 UU No.7/1989).
Putusan Pengadilan yang bisa diajukan banding adalah :
Putusan yang bersifat pemidanaan.
Putusan yang menyatakan dakwaan batal demi hukum.
Putusan dalam perkara cepat yang menyangkut perampasan kemerdekaan
terdakwa.
Putusan pengadilan tentang sah atau tidaknya penghentian penyidik atau
penuntutan.
Upaya Hukum Biasa , Banding Adalah upaya hukum yang dilakukan apabila salah satu
pihak tidak puas terhadap putusan Pengadilan Negeri. Dasar hukumnya adalah UU No.
4/2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Pokok Kekuasaan dan UU No 20/1947
tentang Peradilan Ulangan. Permohonan banding harus diajukan kepada panitera
Pengadilan Negeri yang menjatuhkan putusan (pasal 7 UU No 20/1947). Urutan banding
menurut pasal 21 UU No 4/2004 jo. pasal 9 UU No 20/1947 mencabut ketentuan pasal
188-194 HIR, yaitu:
1. ada pernyataan ingin banding
2. panitera membuat akta banding
3. dicatat dalam register induk perkara
4. pernyataan banding harus sudah diterima oleh terbanding paling lama 14 hari sesudah
pernyataan banding tersebut dibuat.
5. pembanding dapat membuat memori banding, terbanding dapat mengajukan kontra
memori banding.

Untuk masa tenggang waktu penajuan banding di tetapkan sebagai berikut : bagi
pihak yang bertempat tinggal di daerah hukum Pengadilan Agama yang putusannya
28



dimohonkan banding tersebut maka masa bandingnya 14 (empat belas) hari terhitung
mulai hari berikutnya dari hari pengumuman putusan kepada yang bersangkutan.
Sedangkan bagi pihak yang bertempat tinggal di luar hukum Pengadilan Agama yang
putusannya dimohonkan banding tersebut maka masa bandinya ialah 30 (tiga puluh) hari
terhitung mulai hari berikutnya dari hari pengumuman putusan kepada yang
bersangkutan. (pasal 7 UU No.20/1947).

Mencabut permohonan banding
Sebelum permohonan banding diputus oleh Pengadilan Tinggi Agama/Pengadilan Tinggi
Umum, maka permohonan tersebut dapat dicabut kembali oleh pemohon. Apabila berkas
perkara belum dikirimkan kepada Pengadilan Tinggi Agama maka :
Pencabutan disampaikan kepada Pengadilan agama yang bersangkutan.
Kemudian oleh panitera dibuatkan akta pencabutan kembali permohonan banding.
Putusan baru memperoleh kekuatan hukum tetap setelah tenggang waktu banding
berakhir.
Berkas perkara banding tidak perlu diteruskan kepada PTA/PTU/PTN.

Sedangkan apabila berkas perkara banding telah dikirimkan kepada PTA/PTU/PTN, maka :
Pencabutan banding disampaikan melalui PA yang bersangkutan atau langsung ke
PTA/PTU/PTN.
Apabila pencabutan itu disampaikan melalui PA maka pencabutan itu segera
dikirimkan ke PTA/PTU/PTN.
Apabila permohonan banding belum diputus maka PTA/PTU/PTN akan
mengeluarkan penetapan yang isinya, bahwa mengabulkan pencabutan kembali
29



permohonan banding dan memerintahkan untuk mencoret dari daftar perkara
banding.
Apabila perkara telah diputus maka pencabutan tidak mungkin dikabulkan.
Apabila pemohonan banding dicabut, maka putusan telah memperoleh kekuatan
hukum tetap sejak pencabutan dikabulkan dengan penetapan tersebut. Dan
pencabutan banding itu tidak diperlukan persetujuan dengan pihak lawan.

Ad.1.c. Upaya Hukum Biasa: Kasasi
Kasasi artinya pembatalan putusan oleh Mahkamah Agung (MA). Sedangkan pengertian
pengadilan kasasi ialah Pengadilan yang memeriksa apakah judex fatie tidak salah dalam
melaksanakan peradilan. Upaya hukum kasasi itu sendiri adalah upaya agar putusan PA
dan PTA/PTU/PTN dibatalkan oleh MA karena telah salah dalm melaksanakan peradilan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kasasi adalah sebagai berikut : Pembatalan
atau pernyataan tidak sah oleh MA terhadap putusan hakim, karena putusan itu,
menyalahi atau tidak sesuai dengan undang-undang. Seperti yang telah dijelaskan diatas,
bahwa hak kasasi hanyalah hak MA, sedangkan menurut kamus istilah hokum, kasasi
memiliki arti sebagai berikut : pernyataan tidak berlakunya keputusan hakim yang lebih
rendah oleh MA, demi kepentingan kesatuan peradilan.
Menurut pasal 29 dan 30 UU No 14/1985 jo. UU No 5/2004 kasasi adalah pembatalan
putusan atas penetapan pengadilan dari semua lingkungan peradilan dalam tingkat
peradilan akhir.
Putusan yang diajukan dalam putusan kasasi adalah putusan banding. MA merupakan
putusan akhir terhadap putusan Pengadilan Tingkat Banding, atau Tingklat Terakhir dari
semua lingkungan Peradilan. Ada beberapa alasan bagi MA dalam tingkat kasasi untuk
membatalkan putusan atau penetapan dari semua lingkungan peradilan, Alasan yang
30



dipergunakan dalam permohonan kasasi yang ditentukan dalam pasal 30 UU No 14/1985
jo. UU No 5/2004 adalah:
1. tidak berwenang (baik kewenangan absolut maupun relatif) untuk melampaui batas
wewenang;
2. salah menerapkan/melanggar hukum yang berlaku;
3. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan
yang mengancam kelalaian dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

Syarat-syarat kasasi
Ada beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam mengajukan kasasi, yaitu sebagai
berikut :
Diajukan oleh pihak yang berhak mengajukan kasasi.
Diajukan masih dalam tenggang waktu kasasi.
Putusan atau penetapan PA dan PTA/PTU/PTN, menurut huku dapat dimintakan kasasi.
Membuat memori kasasi (pasal 47 ayat (1) UU No. 14/1985).
Membayar panjar biaya kasasi (pasal 47).
Menghadap di Kepaniteraan Pengadilan Agama yang bersangkutan.
Untuk permohonan kasasi hanya dapat diajukan dalam masa tenggang waktu kasasi yaitu,
14 (empat belas) hari sesudah putusan atau penetapan pengadilan diberitahukan kepada
ang bersangkutan (pasal 46 ayat (1) UU No. 14/1985). Apabila 14 (empat belas) telah
lewat tidak ada permhonan kasasi yang diajukan oleh pihak yang bersangkutan maka
dianggap telah menerima putusan (pasal 46 ayat (2) UU No. 14/1985). Pemohon kasasi
31



hanya dapat diajukan satu kali (pasal 43 UU No. 14/1985). Mencabut permohonan kasasi
(pasal 49 UU No. 14/1985).
Sebelum permohonan kasasi diputuskan oleh MA maka permohonan tersebut dapat
dicabut kembali oleh pemohon, tanpa memerlukan persetujuan dari pihak lawan, apabila
berkas perkara belum dikirimkan kepada MA, maka :
Pencabutan disampaikan kepada PA yang bersangkutan, baik secara tertulis maupun
lisan.
Kemudian oleh panitera dibuatkan Akta Pencabutan Kembali Permohonan Kasasi.
Pemohon tidak dapat lagi mengajukan permohonan kasasi walaupun tenggang waktu
kasasi belum habis.
Berkas perkara tidak perlu di teruskan ke MA. Dan apabila berkas perkara sudah
dikirimkan kepada MA, maka :
Pencabutan disampaikan melalui PA yang bersangkutan atau langsung ke MA.
Apabila pencabutan disampaikan melalui PA, maka pencabutan segera dikirimkan
kepada MA.
Apabila permohonan kasasi belum diputuskan, maka MA akan mengeluarkan
penetapan yang isinya bahwa mengabulkan permohonan pencabutan kembali perkara
kasasi dan memerintahkan untuk mencoret perkara kasasi.
Apabila permohonan kasasi telah diputuskan, maka pencabutan kembali tidak mungkin
dikabulkan.

Kasasi demi kepentingan hukum (pasal 45 UU No. 14/1985).
32



Permohonan kasasi demi kepentingan hukum dapat diajukan oleh Jaksa Agung karena
jabatannya dalam perkara perdata maupun tata usaha negara yang diperiksa dan diputus
oleh Pengadilan Tingkat Pertama dan Pengadilan Tingkat Banding di semua lingkungan
[eradilan. Permohonan kasasi demi kepentingan hukum dapat diajukan hanya satu kali.
Dan putusan kasasi demi kepentingan hukum tidak boleh merugikan piha-pihak yang
berperkara, artinya ialah tidak menunda pelaksanaan putusan dan tidak mengubah
putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Ad.2.a. Upaya Hukum Luar Biasa: Peninjauan Kembali
Kata peninjauan kembali diterjemahkan dari kata Herziening, Mr. M. H. Tirtaamijaya
menjelaskan herziening sebagai berikut : itu adalah sebagai jalan untuk memperbaiki
suatu putusan yang telah menjadi tetap-jadinya tidak dapat diubah lagi dengan maksud
memperbaiki suatu kealpaan hakim yang merugikan si terhukum..., kalau perbaikan itu
hendak dilakukan maka ia harus memenuhi syarat, yakni ada sesuatu keadaan yang pada
pemeriksaan hakim, yang tidak diketahui oleh hakim itu..., jika ia mengetahui keadaan itu,
akan memberikan putusan lain.
Dalam buku yang lain menyatakan bahwa peninjauan kembali atau biasa disebut
Request Civiel adalah meninjau kembali putusan perdata yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, karena diketahuinya hal-hal baru yang dulu tidak dapat diketahui
oleh hakim, sehingga apabila hal-hal itu diketahuinya maka putusan hakim akan menjadi
lain. Peninjauan kembali hanya dapat dilakukan oleh MA. Peninjauan kembali diatur
dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, dan apabila
terdapat hal-hal atau keadaan yang ditentukan oleh undang-undang terhadap putusan
Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat dimintakan peninjauan
kembali kepada MA, dalam perkara perdata dan pidana oleh pihak-pihak yang
berkepentingan (pasal 21 UU No. 14/1970).
33




Syarat-syarat peninjauan kembali
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk peninjauan kembali diantaranya sebagai
berikut :
Diajukan oleh pihak yang berperkara.
Putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Membuat surat permohonan peninjauan kembali yang memuat alasan-alasannya.
Membayar panjar biaya peninjauan kembali.
Menghadap di Kepaniteraan Pengadilan Agama yang memutus perkara pada tingkat
pertama.
Adapun yang berhak mengajukan peninjauan kembali adalah para pihak yang berperkara
atau ahli warisnya (yang dapat dibuktikan dengan akta dibawah tanda tangan mengenai
keahliwarisannya yang didelegasi oleh Ketua Pengadilan Agama) apabila pemohon
meninggal dunia (pasal 68 UU No. 14/1985), juga bisa dengan wakil yang secara khusus
dikuasakan untuk mengajukan permohonan PK dengan bukti adanya surat kuasa.
Apabila terdapat hal-hal atau keadaan-keadaan yang ditentukan dengan undang-undang,
terhadap putusan pengadilan yang telah berkekuatan huikum tetap dapat dimintakan
peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung dalam perkara perdata dan pidana oleh
pihak-pihak yang berkempentingan. [pasal 66-77 UU no 14/1985 jo. UU no 5/2004]

Alasan-alasan peninjauan kembali menurut pasal 67 UU no 14/1985 jo. UU no 5/2004,
yaitu:
a. ada novum atau bukti baru yang diketahui setelah perkaranya diputus yang didasarkan
pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana yang dinyatakan palsu;
b. apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat menentukan
yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemuksn;
34



c. apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut/lebih daripada yang ituntut;
d. apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan
sebab-sebabnya;
e. apabila dalam satu putusan terdapat suatu kekhilafan hakim/suatu kekeliruan yang
nyata.
Tenggang waktu pengajuan 180 hari setelah putusan berkekuatan hukum tetap. (pasal 69
UU 14/1985). Mahkamah Agung memutus permohonan peninjauan kembali pada tingkat
pertama dan terakhir (pasal 70 UU no 14/1985).
Pencabutan permohonan peninjauan kembali
Permohonan PK dapat dicabut selam belum diputuskan, dalam dicabut permohonan
peninjauan kembali (PK) tidak dapat diajukan lagi (pasal 66 ayat (3) UU No. 14/1985).
Pencabutan permohonan PK ini dilakukan seperti halnya pencabutan permohonan kasasi.

Ad.2.b Upaya Hukum Luar Biasa: Denderverzet
Terjadi apabila dalam suatu putusan pengadilan merugikan kepentingan dari pihak ketiga,
maka pihak ketiga tersebut dapat mengajukan perlawanan terhadap putusan tersebut.
Perlawanan pihak ketiga terhadap sita eksekusi dan atau sita jaminan tidak hanya
terhadap suatu benda yang padanya melekat hak milik melainkan juga hak-hak lainnya.
Pihak pelawan harus dilindungi karena Ia bukan pihak berperkara namun dalam hal ini
kepentingannya telah tersentuh oleh sengketa dan konflik kepentingan dari penggugat
dan tergugat. Untuk dapat mempertahankan dimuka dan meyakinkan pengadilan dalam
mengabulkan perlawanannya maka Ia harus memiliki alas hak yang kuat dan dapat
membuktikan bahwa benda yang akan disita tersebut adalah haknya. Dengan demikian,
maka Ia akan disebut sebagai pelawan yang benar dan terhadap peletakan sita akan
diperintahkan untuk diangkat. Perlawanan pihak ketiga ini merupakan upaya hukum luar
biasa tetapi pada hakikatnya lembaga ini tidak menunda dilaksanakannya eksekusi.
35



Perlawanan pihak ketiga terhadap sita jaminan baik conservatoir ataupun revindicatoir
tidak diatur baik dalam HIR, RBg ataupun Rv, ketentuan mengenai hal tersebut didapatkan
dari yurisprudensi putusan Mahakamah Agung tanggal 31 Oktober 1962 No.306
K/Sip/1962 dalam perkara CV. Sallas dkk melawan PT. Indonesian Far Eastern Pasifik Line.
Denderverzet Dasar hukumnya adalah 378-384 Rv dan pasal 195 (6) HIR. Dikatakan
sebagai upaya hukum luar biasa karena pada dasarnya suatu putusan hanya mengikat
pihak yang berperkara saja (pihak penggugat dan tergugat) dan tidak mengikat pihak
ketiga (tapi dalam hal ini, hasil putusan akan mengikat orang lain/pihak ketiga, oleh sebab
itu dikatakan luar biasa). Denderverzet diajukan ke Pengadilan Negeri yang memutus
perkara tersebut pada tingkat pertama.



36



DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia,penerbit:
Liberty,Jogyakarta,1993
Ridwan Syahrani, S.H.,Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Umum,penerbit:
Pustaka Kartini, Jakarta,1988
Rubini, S.H. dan Chaidir Ali, S.H. Pengantar Hukum Acara Perdata,penerbit: Alumni,
Bandung,1974