Anda di halaman 1dari 19

1

Kata Pengantar
Assalamualaikkum Wr.Wb
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan karunia dan nikmat bagi umat-Nya.
Alhamdulilaah Makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran TIK karena
terbatasnya ilmu yang dimiliki oleh penulis maka Makalah ini jauh dari sempurna untuk itu saran
dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan.
Tidak lupa penulis sampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak
yang telah turut membantu dalam penyusunan Makalah ini. Semoga bantuan dan bimbingan
yang telh diberikan kepada kami mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin
Akhirnya penulis berharap semoga Makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi pembaca.
Wassalamualaikkum Wr.Wb



Penyusun,













2



Daftar Isi
Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
Bab I Pendahuluan
Latar Belakang 3
Perumusan Masalah 3
Bab II Kerangka Teoritis
Munculnya Agama Hindu di Indonesia 4
Pembahasan
a. Kerajaan Kutai 8
b. Kerajaan Tarumanegara 9
c. Kerajaan Mataram Kuno 10
d. Kerajaan Kediri 12
e. Kerajaan Singasari 13
f. Kerajaan Majapahit 14
Bab III Penutup
Kesimpulan 17
Saran 18
Daftar Pustaka 19



3



Bab I Pendahuluan

a. Latar Belakang
Perlu diketahui sejarah dari agama-agama yang ada di Indonesia.
Untuk itu saya membuat makalah ini, agar kita lebih jelas dalam
memahami sejarah adanya Agama Hindu-Budha.
b. Perumusan Masalah
1. Bagaimana awal mula munculnya Agama Hindu di Indonesia?
2. Bagaimana Proses perkembangan Agama tersebut di Indonesia?

















4



Bab II Kerangka Teoritis

Munculnya agama Hindu di Indonesia
Perkembangan agama Hindu-Budha tidak dapat lepas dari peradaban lembah Sungai
Indus, di India. Di Indialah mulai tumbuh dan berkembang agama dan budaya Hindu dan Budha.
Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Aria (kulit putih, badan tinggi,
hidung mancung) ke Mohenjodaro dan Harappa (Peradaban Lembah Sungai Indus) melalui
celah Kaiber (Kaiber Pass) pada 2000-1500 SM dan mendesak bangsa Dravida (berhidung
pesek, kulit gelap) dan bangsa Munda sebagai suku bangsa asli yang telah mendiami daerah
tersebut. Bangsa Dravida disebut juga Anasah yang berarti berhidung pesek dan Dasa yang
berarti raksasa. Bangsa Aria sendiri termasuk dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Aria
bermatapencaharian sebagai peternak kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam.
Bangsa Aria merasa ras mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa
Dravida. Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.
Orang Aria mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan
kepercayaan bangsa Aria tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa Dravida yang masih
memuja roh nenek moyang. Berkembanglah Agama Hindu yang
merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Aria dan
bangsa Dravida. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan
Hindu (Hinduisme). Istilah Hindu diperoleh dari nama daerah asal penyebaran agama Hindu
yaitu di Lembah Sungai Indus/ Sungai Shindu/ Hindustan sehingga disebut kebudayaan Hindu
yang selanjutnya menjadi agama Hindu. Daerah perkembangan pertama agama Hindu adalah di
lembah Sungai Gangga, yang disebut Aryavarta (Negeri bangsa Arya) dan Hindustan (tanah
milik bangsa Hindu).
Dalam ajaran agama Hindu dikenal 3 dewa utama, yaitu:
Brahma sebagai dewa pencipta segala sesuatu.
Wisnu sebagai dewa pemelihara alam
Siwa sebagai dewa perusak
5

Ketiga dewa tersebut dikenal dengan sebutan Tri Murti. Kitab suci agama Hindu disebut Weda
(Veda) artinya pengetahuan tentang agama. Pemujaan terhadap para dewa-dewa dipimpin oleh
golongan pendeta/Brahmana. Mereka mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta tertentu,
yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Pembagian tersebut didasarkan pada tugas/
pekerjaan mereka.
Brahmana bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan, terdiri dari para pendeta. Keberadaan
kasta ini ada pada posisi paling penting dan punya peranan yang sangat besar bagi berjalannya
pemerintahan. Mereka adalah orang yang paling mengerti menegnai seluk beluk agama Hindu,
serta menjadi penasehat raja.
Ksatria berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk pertahanan Negara. Yang termasuk
dalam kasta ini adalah para bangsawan, raja dan keluarganya, para pejabat pemerintah. Kasta ini
memiliki kedudukan yang penting dalam pemerintahan, punya banyak hak tetapi tidak memiliki
kewajiban untuk membayar pajak, memberikan persembahan, dsb.
Waisya bertugas berdagang, bertani, dan berternak. Mereka yang tergolong dalam kasta ini
adalah para pedagang besar (saudagar),para pengusaha. Dalam golongan masyarakat biasa kasta
ini cukup memiliki peran penting.
Sudra bertugas sebagai petani/ peternak, para pekerja/ buruh/budak. Mereka adalah para pekerja
kasar. Mereka mempunyai banyak kewajiban terutama wajib kerja tetapi keberadaannya kurang
diperhatikan.
Di luar kasta tersebut terdapat kasta Paria terdiri dari pengemis dan gelandangan.

Pembagian kasta muncul sebagai upaya pemurnian terhadap keturunan bangsa Aria sehingga
dilakukan pelapisan yang bersumber pada ajaran agama. Pelapisan tersebut dikenal
dengan Caturwangsa/Caturwarna, yang berarti empat keturunan/ empat kasta. Pembagian kasta
tersebut didasarkan pada keturunan. Dalam konsep Hindu sesorang hanya dapat terlahir sebagai
Hindu bukan menjadi Hindu.
Perkawinan antar kasta dilarang dan jika terjadi dikeluarkan dari kasta dan masuk dalam
golongan kaum Pariaseperti bangsa Dravida. Paria disebut juga Hariyan dan merupakan
mayoritas penduduk India.


6



Muncul dan berkembangnya Agama Budha
Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Muncul sekitar 525 SM.
Agama Budha muncul dan dikenalkan oleh Sidharta (semua harapan dikabulkan). Agama Budha
muncul disebabkan karena :
Sidharta memandang bahwa adanya sistem kasta dalam agama Hindu dapat memecah belah
masyarakat, bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia
berdasarkan kelahiran. Padahal setiap manusia itu sama kedudukannya.
Itulah fenomena yang ada di lingkungannya sementara itu satu hal yang membuat Sidharta
akhirnya berusaha untuk menentang adat dan tradisi yang ada adalah karena beliau melihat
adanya kenyataan hidup bahwa manusia akan tua, sakit, mati, dan hidup miskin yang intinya
bahwa bagi Sidharta kehidupan adalah suatu PENDERITAAN. Oleh karena itu manusia harus
dapat menghindarkan diri dari penderitaan (samsara), dan demi mencari cara atau jalan untuk
membebaskan diri dari penderitaan guna mencapai kesempurnaan maka beliau meninggalkan
istana dengan segala kemewahannya melakukan meditasi tepatnya di bawah pohon Bodhi di
daerah Bodh Gaya. Dalam meditasinya tersebut akhirnya Sidharta memperoleh penerangan
agung dan saat itulah terlahir/ tercipta agama Budha. Agama Budha lahir sebagai upaya
pengolahan pemikiran dan pengolahan diri Sidharta sehingga menemukan cara yang terbaik bagi
manusia agar dapat terbebas dari penderitaan di dunia sehingga dapat mencapai kesempuirnaan
(nirwana) dan berharap tidak akan terlahir kembali di dunia untuk merasakan penderitaan yang
sama.
Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai oleh setiap orang tanpa harus
melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana berbeda dengan ajaran Hindu dimana hanya pendeta
yang dapat membuat orang mencapai kesempurnaan. Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha
atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Sidharta artinya orang yang mencapai tujuan.
Sidharta disebut juga Budha Gautama yang berarti orang yang menerima bodhi. Ajaran agama
Budha dibukukan dalam kitab Tripitaka (dari bahasa Sansekerta Tri artinya tiga
dan pitakaartinya keranjang). Peristiwa kelahiran, menerima penerangan agung dan kematian
Sidharta terjadi pada tanggal yang bersamaan yaitu waktu bulan purnama pada bulan Mei.
Sehingga ketiga peristiwa tersebut dirayakan umat Budha sebagai Triwaisak.
7

Dalam agama Budha tidak dikenal adanya sistem kasta sebab sistem ini dipandang akan
membedakan masyarakat atas harkat dan martabatnya. Sehingga dalam Budha laki-laki ataupun
perempuan, miskin atupun kaya sama saja semuanya punya hak yang sama dalam kehidupan ini.
Masuknya Agama Hindu dan Budha ke Indonesia


Terdapat beberapa teori mengenai siapakah yang membawa masuknya agama Hindu di
Indonesia. Teori-teori tersebut antara lain:
1. Teori Sudra (dikemukakan oleh Van Feber)
2. Teori Waisya (dikemukakan oleh NJ.Krom)
3. Teori Ksatria (dikemukakan oleh FDK Bosch)
4. Teori Brahmana (dikemukakan oleh J.C. Van Leur)
5. Teori Arus Balik (dikemukakan oleh M.Yamin)
Proses masuk dan berkembangnya agama dan budaya Hindu-Budha ke Indonesia adalah sebagai
berikut.
Agama Budha
Agama Budha masuk ke Indonesia dibawa oleh para pendeta didukung dengan adanya
misi Dharmadhuta, kitab suci agama Budha ditulis dalam bahasa rakyat sehari-hari, serta dalam
agama Budha tidak mengenal sistem kasta. Para pendeta Budha masuk ke Indonesia melalui 2
jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan, yaitu melalui jalan daratan dan lautan. Jalan darat
ditempuh lewat Tibet lalu masuk ke Cina bagian Barat disebut Jalur Sutra, sedangkan jika
menempuh jalur laut, persebaran agama Budha sampai ke Cina melalui Asia Tenggara.
Selanjutnya sampai ke Indonesia mereka akhirnya bertemu dengan raja dan keluarganya serta
mulai mengajarkan ajaran agama Budha, pada akhirnya terbentuk jemaat kaum Budha. Bagi
mereka yang telah mengetahui ajaran dari pendeta India tersebut pasti ingin melihat tanah tempat
asal agama tersebut secara langsung yaitu India sehingga mereka pergi ke India dan
sekembalinya ke Indonesia mereka membawa banyak hal baru untuk selanjutnya disampaikan
pada bangsa Indonesia. Unsur India tersebut tidak secara mentah disebarkan tetapi telah
mengalami proses penggolahan dan penyesuaian. Sehingga ajaran dan budaya Budha yang
berkembang di Indonesia berbeda dengan di India.
Agama Hindu
8

Para pendeta Hindu memiliki misi untuk menyebarkan agama Hindu dan melalui jalur
perdagangan akhirnya sampai di Indonesia. Selanjutnya mereka akan menemui penguasa lokal
(kepala suku). Jika penguasa lokal tersebut tertarik dengan ajaran Hindu maka para pendeta bisa
langsung mengajarkan dan menyebarkannya. Dalam ajaran agama Hindu konsepnya adalah
seseorang terlahir sebagai Hindu bukan menjadi Hindu maka untuk menerima ajaran agama
Hindu orang Indonesia harus di-Hindu-kan melalui upacara Vratyastoma dengan pertimbangan
kedudukan sosial/ derajat yang bersangkutan (memberi kasta). Hubungan India-Indonesia
berlanjut dengan adanya upaya para kepala suku/ raja lokal untuk menyekolahkan anaknya/
utusan khusus ke India guna belajar budaya India lebih dalam lagi. Setelah kembali ke tanah air
mereka kemudian menyebarkan kebudayaan India yang sudah tinggi. Bahkan tak jarang mereka
mendatangkan para Brahmana India untuk melakukan upacara bagi para penguasa di Indonesia,
seperti upacara Abhiseka, merupakan upacara untuk mentahbiskan seseorang menjadi raja. Jika
di suatu wilayah rajanya beragama Hindu maka akan memperkuat proses penyebaran agama
Hindu bagi rakyat di daerah tersebut. Berikut kerajaan-kerajaan hindu yang pernah berdiri di
Indonesia.

Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai dengan nama asli Kutai Martadipura merupakan kerajaan hindu tertua di
Indonesia, dengan aliran agama hindu-siwa. Letaknya di Muara Kaman tepatnya pada hulu
sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Keberadaan kerajaan ini ditandai dengan adanya 7 buah prasasti, yang dinamai prasasti yupa.
Dengan palawa sebagai hurufnya,dan sansekerta sebagai bahasanya. Pendirinya adalah Raja
Kudungga. Setelah Raja Kudungga wafat, kerajaan diambil alih oleh putranya, Raja
Aswawarman. Dan setelah Raja Aswawarman wafat, kerajaan diambil alih oleh putra Raja
Aswawarman, yaitu Raja Mulawarman.
Pada sebuah prasasti Yupa abad ke-4, dikisahkan bahwa Raja Mulawarman telah
menyumbangkan 20.00 ekor sapi kepada para brahmana. Kisah ini menceritakan betapa
dermawannya seorang Raja Mulawarman, oleh karena itu, dari sekian banyak raja yang
memimpin kerajaan Kutai, Raja Mulawarman lah yang paling terkenal.
Keruntuhan kerajaan Kutai Martadipura disebabkan oleh tewasnya raja terakhir Kutai
Martadipura yang kalah memperebutan kekuasaan dari kerajaan Kutai Kartanegara di bawah
pimpinan Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Awalnya Kutai Kartanegara merupakan bagian
9

dari kerajaan Kutai Martadipura, namun karena perbedaan kepercayaan, di mana Kutai
Kartanegara menganut kepercayaan agama islam, akhirnya perebutan kekuasaan pun terjadi dan
berakhir dengan Kutai Kartanegara sebagai pemenang.






Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan dengan nama asli Tarumanagara ini terletak di daerah Bekasi, Jawa Barat bagian utara.
Raja yang paling terkenal adalah raja yang ke-3, yaitu Raja Purnawarman. Keberadaan kerajaan
hindu dengan aliran hindu wisnu ini diketahui dengan ditemukannya beberapa prasasti yang
menceritakan tentang keberhasilan-keberhasilan kerajaan. Prasasti-prasasti tersebut antara lain:

1. Prasasti Kebon Kopi, ditemukan di kebon kopi milik Jonathan Reck
2. Prasasti Tugu, ditemukan di daerah Bekasi, menceritakan tentang penggalian Sungai
Gomati oleh kerajaan Tarumanagara
3. Prasasti Cidanghiang, ditemukan di daerah Pandeglang
4. Prasasti Ciaruteun, ditemukan di aliran Sungai Ciampea, menggambarkan betapa
perkasanya seorang raja Purnawarman dengan telapak kaki besarnya yang terukir di
prasasti tersebut
5. Prasasti Muara Cianten, ditemukan di daerah Ciampea
6. Prasasti Jambu, ditemukan di daerah Nanggung, Bogor
7. Prasasti Pasir Awi, ditemukan di daerah Cieteureun

Selain ditemukannya peninggalan-peninggalan berupa prasasti, ternyata ditemukan pula
peninggalan berupa candi yang dikenal dengan sebutan Candi Jiwa, letaknya di daerah
Karawang.
Selain peninggalan sejarah berupa prasasti dan candi, terdapat pula sumber-sumber sejarah lain
mengenai kerajaan ini seperti:

10

1. Fa hien, pada kitab Fa Kao Chi dari China
2. Dinasti Sui, tahun 528 dan 535 Masehi
3. Dinasti Tang, tahun 666 dan 669 Masehi
4. Naskah wangsakerta yang menceritakan tentang pendirian kerajaan Tarumanegara

Akhir dari kerajaan ini disebabkan oleh keinginan Tarusbawa untuk membawa kerajaan
Tarumanagara kembali ke kerajaan Sunda, namun salah satu saudara Tarusbawa yang bernama
Galuh tidak setuju jika kerajaan Taruma kembali ke kerajaan Sunda, akhirnya Galuh pergi dari
kerajaan Taruma, dan kembali datang untuk merebutnya kekuasaan kerajaan Sunda yang
awalnya adalah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara, akhirnya kerajaan itu pun diubah menjadi
Kerajaan Sunda Galuh.

Mataram Kuno
Menurut Teori Van Bammalen, letak kerajaan ini berpindah-pindah, hal ini disebabkan oleh 2
alasan, yaitu karena adanya bencana alam letusan Gunung Merapi, dan karena adanya
peperangan dalam perebutan kekuasaan. Awalnya, pada abad ke-8 kerajaan ini terletak di daerah
Jawa Tengah, kemudian setelah Gunung Merapi meletus pada abad ke-10, kerajaan ini
dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok.
Agama di kerajaan ini pun terbagi menjadi 2, yaitu hindu pada Dinasti Sanjaya dan budha pada
Dinasti Syailendra. Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh Raja Sanna. Raja Sanna kemudian
digantikan oleh keponakannya, Raja Sanjaya. Setelah Raja Sanjaya meninggal, Kerajaan
Mataram Kuno diperintah oleh putranya yang bernama Rakai Panangkaran. Raja Mataram Kuno
setelah Rakai Panangkaran adalah Rakai Warak, kemudian Rakai Warak digantikan oleh Rakai
Garung (Samaratungga). Di tengah-tengah pemerintahan kerajaan Mataram Kuno, Datanglah
keinginan Rakai Pikatan untuk menjadi penguasa tunggal sebagai Dinasti Sanjaya. Persaingan
antara Dinasti Sanjaya yang dipimpin Rakai Pikatan dengan Dinasti Syailendra yang dipimpin
Raja Samaratungga, membuat cita-cita Rakai Pikatan untuk menjadi penguasa tunggal di Pulau
Jawa terhalang. Terjadi pertikaian antar kedua dinasti. Akhirnya pada abad ke-9 terjadi
penggabungan kedua dinasti melalui pernikahan politik antara Rakai Pikatan dari Dinasti
Sanjaya dengan Pramodawardhani dari Dinasti Syailendra. Namun, pernikahan antara Rakai
Pikatan dengan Pramodawardhani ternyata tidak membuahkan kedamaian, malah justru
11

membuat pertikaian antara Dinasti Sanjaya dengan Dinasti Syailendra semakin sengit. Akhirnya,
Rakai Pikatan sebagai Dinasti Sanjaya berhasil menguasai kerajaan sedangkan Pramodawardhani
bersama anaknya, Balaputradewa melarikan diri ke Palembang, Sumatra Selatan untuk kemudian
mereka menjalankan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan Prasasti
Balitung, setelah Rakai Pikatan wafat, kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Rakai Kayuwangi
dibantu oleh sebuah dewan penasehat yang juga jadi pelaksana pemerintahan. Dewan yang
terdiri atas lima patih ini di antaranya adalah:




Ratu, Datu, Sri Maharaja
Rakryan Mahamantri I Hino
Mahamantri Halu & Mahamantri I Sirikan
Mahamantri Wko & Mahamantri Bawang
Rakryan Kanuruhan
Raja Mataram selanjutnya adalah Rakai Watuhumalang, kemudian dilanjutkan oleh Dyah
Balitung yang bergelar Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Maha
Dambhu sebagai Raja Mataram Kuno yang sngat terkenal. Raja Balitung berhasil menyatukan
kembali Kerajaan Mataram Kuno dari ancaman perpecahan. Di masa pemerintahannya, Raja
Balitung menyempurnakan struktur pemerintahan dengan menambah susunan hierarki. Bawahan
Raja Mataram terdiri atas tiga pejabat penting, yaitu Rakryan I Hino sebagai tangan kanan raja
yang didampingi oleh dua pejabat lainnya. Rakryan I Halu,dan Rakryan I Sirikan. Selain struktur
pemerintahan baru, Raja Balitung juga menulis Prasasti Balitung. Prasasti yang juga dikenal
sebagai Prasasti Mantyasih ini adalah prasasti pertama di Kerajaan Mataram Kuno yang memuat
silsilah pemerintahan Dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Mataram Kuno
masih mengalami pemerintahan tiga raja sebelum akhirnya pusat kerajaan pindah ke Jawa
Timur. Mpu Daksa, yang pada masa pemerintahan Raja Balitung menjabat Rakryan i
Hino,melakukan kudeta karena merasa bahwa ia adalah keturunan asli Dinasti Sanjaya,
kemudian Mpu Daksa digantikan oleh menantunya, Sri Maharaja Tulodhong.
Kerajaan Mataram Kuno berakhir dengan sebuah peristiwa yang disebut Peristiwa
Mahapralaya. Saat itu, Raja Teguh Dharmawangsa sedang menikahkan putrinya, dengan Raden
12

Wijaya. Di tengah-tengah pesta, datang pasukan kerajaan Sriwijaya dengan kerajaan kecil
sekutunya, Kerajaan Wurawari. Raja Teguh Dharmawangsa tewas, sedangkan putrinya yang
sedang menikah lolos dan berhasil melarikan diri ke Madura bersama suaminya, Raden Wijaya.

Kerajaan Kediri
Berdirinya Kerajaan Kediri berawal ketika Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan kecil Wurawari
berhasil meruntuhkan kerajaan Mataram Kuno lewat Peristiwa Mahapralaya. Kekuasaan
Kerajaaan Mataram Kuno diambil alih, dan nama Mataram diubah menjadi Kediri. Kerajaan
Kediri merupakan kerajaan turunan Ajiwuwari. Raja pertamanya adalah Raja Sri Jayawarsha.
Kemudian dilanjutkan oleh Raja Bameswara. Dalam kitab Kakawin Smaradahana, karangan
Mpu Dharmaja, diceritakan bahwa Raja Bameswara adalah keturunan pendiri Dinasti Isyana.
Kemudian Raja Bameswara digantikan oleh mertuanya, Jayabhaya. Pada masa pemerintahan
Jayabhaya, terjadi perang saudara ini diabadikan dalam bentuk Kakawin Bharatayuddha yang
ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Punuluh. Jayabhaya berhasil memenangkan perang saudara
tersebut sehingga wilayah Kediri berhasil disatukan lagi dengan wilayah Jenggala. Peristiwa
kemenangan ini diabadikan dalam Prasasti Ngantang. Kemudian Raja Jayabhaya digantikan oleh
Raja Sarweswara dari Aryyeswara. Kemudian digantikan lagi oleh Raja Gandra. Pada masa
pemerintahannya, Gandra menyempurnakan struktur pemerintahan yang diwariskan Kerajaan
Mataram Kuno. Setelah Raja Gandra, Kerajaan Kediri dipimpin oleh Raja Kameshwara.
Pemerintahan Kameshwara ditandai dengan pesatnya hasil karya sastra Jawa. Pada masa
pemerintahannya, cerita-cerita panji atau kepehlawanan banyak dihasilkan. Raja kerajaan Kediri
berikutnya adalah Kertajaya atau Srengga. Pada masa pemerintahannya, Kediri mulai mengalami
masalah dan ketidakstabilan. Hal ini karena Kertajaya berusaha membatasi dan mengurangi hak
istimewa para kaum Brahmana, kemudian di daerah Tumapel (sekarang Malang) muncul
kekuatan baru di bawah pimpinan Ken Arok. Perlahan-lahan, terjadi arus pelarian para
Brahmana dari wilayah Kediri menuju Tumampel. Kertajaya menyikapi arus pelarian ini dengan
mengerahkan tentara Kerajaan Kediri untuk menyerbu Tumapel. Perang antara pasukan
Kertajaya dan Ken Arok terjadi di Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan
kekuasaan pasukan Kertajaya. Atas kekalahan ini, Kerajaan Kediri memang seolah-olah telah
runtuh, namun ternyata, secara perlahan kerajaan Kediri masih berdiri dibawah pimpinan Raja
Jayakatwang, meskipun keberadaan mereka di bawah kekuasaan Kerajaan Singasari.
13


Kerajaan Singasari
Berdirinya Kerajaan Singasari, saling berkaitan erat dengan Kerajaan Kediri dan Majapahit.
Ketika Ken Arok menjabat sebagai prajurit di Tumapel, di Kerajaan Kediri sedang berlangsung
perselisihan antara Raja Kertajaya dengan para Brahmana. Para Brahmana tersebut melarikan
diri ke Tumapel karena merasa lebih nyaman berada di Tumapel, akhirnya terjadilah
pertempuran antara Kerajaan Kediri dengan paukan akuwu Tumapel. Dalam pertempuran di
Ganter, Kerajaan Kediri mengalami kekalahan dan Raja Kertajaya meninggal. Kemudian, Ken
Arok menyatukan sebagian wilayah Kerajaan Kediri dengan Tumapel, dan mendirikan Kerajaan
Singasari, dengan Tunggul Ametung sebagai rajanya. Ken Arok bergelar Sri Rangga Rajasa
(Rajasawangsa) atau Girindrawangsa di Jawa Timur. Istri pertamanya bernama Ken Umang, Ken
Arok mempunyai empat orang anak, yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudhatu, Panji Wregola, dan
Dewi Rambi. Awalnya, Ken Arok hanyalah seorang anak desa yang dilahirkan oleh seorang Ibu
bernama Ken Nduk. Ia dididik oleh para penjahat di lingkungan sekitarnya hingga dewasa,
sehingga ia tumbuh dan berkembang menjadi seorang penjahat yang suka mabuk, mencuri, dan
membunuh. Pada perjalan hidupnya, ia bekerja sebagai seorang prajurit di daerah Tumapel, dan
tertarik pada Ken Dedes, istri komandan Tunggul Ametung. Timbul keinginan Ken Arok untuk
memperistri Ken Dedes. Singkat cerita, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung dengan
keris yang dibuat Mpu Gandring, kemudian ia pun segera memperistri Ken Dedes. Setelah
sekian lama, Ken Dedes akhirnya menceritakan peristiwa pebunuhan suaminya tersebut kepada
anaknya dari Tunggu Ametung, Anusapati. Anusapati marah, dan berniat balas dendam,
akhirnya Anusapati berhasil membunuh Ken Arok dengan keris buatan Mpu Gandring yang telah
digunakan Ken Arok untuk membunuh ayah kandungnya. Panji Tohjaya, anak kandung Ken
Arok dengan Ken Umang mengetahui peristiwa pembunuhan ayahnya yang dilakukan Tohjaya.
Akhirnya dengan keris yang sama, Tohjaya berhasil membunuh Anusapati. Ranggawuni, yang
merupakan saudara dari Anusapati, mengetahui pembunuhan yang dilakukan Tohjaya, akhirnya
dengan keris yang sama, Ranggawuni membunuh Tohjaya.Setelah kejadian bunuh membunuh
berantai ini, akhirnya naik tahta lah Raja Kertanegara sebagai raja yang terkenal dan terbesar dari
kerajaan Singasari. Ia mempunyai semangat Ekspansionis. Kertanegara bercita-cita memperluas
Kerajaan Singasari hingga keluar Pulau Jawa yang disebut dengan istilah Cakrawala Mandala.
Pada tahun 1275, ia mengirim pasukan ke Sumatra untuk menguasai Kerajaan Melayu yang
14

disebut sebagai Ekspedisi Pamalayu. Dalam ekspedisi tersebut, Kerajaan Melayu berhasil di
taklukan. Peristiwa ini diabadikan pada alas patung Amoghapasha di Padangroco (Sungai
Langsat).
Seorang utusan Cina bernama Meng Ki pulang ke Cina, dan menceritakan pada kaisar
Kubilai Khan bahwa Kerajaan Melayu yang awalnya menjadi incarannya telah dikuasai dan
ditaklukan oleh Kerajaan Singasari. Kaisar Kubilai Khan begitu marah, ia segera mengirim
pasukan untuk menyerang Kerajaan Singasari. Mendengar wilayah kekuasaannya di bagian
Sumatra akan diserang, pasukan-pasukan Kerajaan Singasari segera dikirim ke Sumatra untuk
menghadapi serangan pasukan Cina. Sementara itu, Raja Jayakatwang dari Kerajaan Kediri
(kerajaan yang pernah dikalahkan Kerajaan Singasari) melihat kesempatan baik untuk merebut
kembali kekuasaan selagi pasukan-pasukan Kerajaan Singasari dikirim ke Sumatra. Pada tahun
1292, Raja Jayakatwang dengan pasukan Kerajaan Kediri langsung menyerang Ibu kota
Kerajaan Singasari.
Menurut cerita, pada saat serangan musuh datang, Raja Kertanegara beserta para pejabat dan
pendeta sedang melakukan upacara Tantrayana, sehingga dapat dengan mudah mereka semua
dibunuh oleh musuh. Kerajaan Singasari akhirnya berhasil direbut kembali oleh Jayakatwang,
Raja dari Kerajaan Kediri.

Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan hindu terakhir dan terbesar di Indonesia. Letaknya di
Pulau Jawa. Pendirinya adalah Raden Wijaya, menantu dari Raja Teguh Dharmawangsa
(Kerajaan Mataram Kuno) yang sempat melarikan diri ke Madura bersama istrinya saat terjadi
Peristiwa Mahapralaya.
Kerajaan Majapahit, awalnya hanyalah sebuah desa kecil bernama Desa Tarik.Desa itu
merupakan pemberian dari Raja Jayakatwang dari Kediri atas kembalinya menantu Raja Teguh
Dharmawangsa (Raden Wijaya) dari Kerajaan Mataram Kuno yang telah lama dikuasai Kerajaan
Kediri. Raden Wijaya telah dimaafkan dan dipercaya tidak bersalah atas kesalahan generasi
atasnya.
Singkat cerita, pada tahun 1292, armada Cina yang terdiri dari 1.000 buah kapal dengan 20.000
orang prajurit tiba di Tuban, Jawa Timur dengan tujuan untuk menyerang Raja Kertanegara yang
telah merebut Kerajaan Melayu dan menyatakan tidak mau tunduk pada Kaisar Kubilai Khan.
15

Mereka tidak tau bahwa Raja Kertanegara beserta Kerajaan Singasari itu telah meninggal dan
hancur dikalahkan oleh Raja Jayakatwang dari Kediri.
Mengetahui rencana penyerangan dari Cina ini, Raden Wijaya mengambil kesempatan untuk
merebut kembali Kerajaan Singasari. Ia menggabungkan diri dengan pasukan cina dan
menyerang Raja Jayakatwang di Kediri. Kerajaan Kediri tidak mampu menghadapi serangan,
sehingga Raja Jayakatwang berhasil dikalahkan. Kemenangan itu membuat pasukan Cina
bergembira dan berpesta pora. Mereka tidak menyangka ketika sedang berpesta pora, pasukan
Majapahit balik menyerang mereka. Akhirnya pasukan armada Cina kalah, dan mereka segera
kembali ketanah airnya. Sejak saat itu Kerajaan Majaphit mulai berkuasa. Pada tahun 1295,
berturut-turut pecah pembrontakan yang dipimpin oleh Rangga lawe dan disusul oleh Saro serta
Nambi. Pembrontakan-pembrontakan itu bisa dipadamkan. Raden Wijaya wafat pada tahun 1309
dan mendapat penghormatan di dua tempat, yaitu Candi Simping (Sumberjati) dan Candi
Artahpura.
Setelah Raden Wijaya wafat, putera permaisuri Tribuwaneswari yang bernama Jayanegara
menggantikannya sebagai Raja Majapahit. Pada awal pemerintahannya Jayanegara harus
menghadapi sisa pemberontakan yang meletus dimasa ayahnya masih hidup. Selain
pembrontakan Kuti dan Sumi, Raja Jayanegara diselamatkan oleh pasukan pengawal
(Bhayangkari) yang dipimpin oleh Gajah Mada ia kemudian diungsikan ke Desa Bedager. Raja
Jayanegara wafat tahun1328 karena dibunuh oleh salah seorang anggota dharmaoutra yang
bernama Tanca. Oleh karena ia tidak mempunyai putra ia kemudian digantikan oleh adik
perempuannya Bhre Kahuripan yang bergelar Tribuanatunggadewi Jayawishnuwardhani.
Suaminya bernama Cakradhara yang berkuasa di Singasari dengan gelar Kertawerdhana.
Dari kitab Negarakertagama, digambarkan adanya beberapa pemberontakan di masa
pemerintahan Ratu Tribuanatunggadewi. Pembrontakan yang paling berbahaya adalah
pemberontakan di Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Namun pemberontakan itu dapat
dipadamkan oleh Gajah Mada. Setelah itu Gajah Mada bersumpah di hadapan Raja dan para
pembesar kerajaan bahwa ia tidak akan amukti palapa (memakan buah palapa), sebelum ia dapat
menundukan seluruh Nusantara di bawah naungan Majapahit. Pada tahun 1334, lahirlah putra
mahkota Kerajaan Majapahit yang diberi nama Hayam Wuruk. Pada tahun 1350, Ratu
Tribuanatunggadewi mengundurkan diri setelah berkuasa 22 tahun. Ia wafat pada tahun 1372.
Pada tahun 1350, Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja Majapahit dan bergelar Sri
16

Rajasanagara dan Gajah Mada diangkat sebagai Patih Hamangkubumi. Dibawah pemerintahan
Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan
Majapahit menguasai wilayah yang sangat luas. Hampir seluruh wilayah Nusantara tunduk pada
Majapahit, namun ada satu kerajaan kecil yang belum berhasil dikuasai kerajaan Majapahit, yaitu
Kerajaan Sunda Galuh. Raja Hayam Wuruk bersama Patih Gajah Mada berusaha untuk
menaklukan kerajaan tersebut, namun ketika itu Raja Hayam Wuruk terlanjur jatuh cinta pada
putri dari Kerajaan Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka. Raja Hayam Wuruk bermaksud
untuk menikahi Dyah Pitaloka. Ia mengundang keluarga besar Kerajaan Sunda Galuh datang ke
Kerajaan Majapahit untuk menikah dengan Dyah Pitaloka. Ketika keluarga besar dari kerajaan
Sunda Galuh tiba di Kerajaan Majapahit, terjadi kesalahpahaman. Patih Gajah Mada mengira
bahwa keluarga besar Kerajaan Sunda Galuh ingin menyerang Kerajaan Majapahit, akhirnya
Patih Gajah Mada segera mengeluarkan pasukan dan membunuh semua anggota keluarga
Kerajaan Sunda Galuh. Hanya Dyah Pitaloka yang tidak dibunuh. Melihat seluruh keluarganya
tewas, Dyah Pitaloka pun akhirnya melakukan belapati (bunuh diri) pada dirinya sendiri. Raja
Hayam wuruk yang mengetahui peristiwa kesalah pahaman tersebut menjadi marah, terlebih
ketika melihat calon istrinya mati karena bunuh diri atas kesalah pahaman patihnya. Akhirnya,
Raja Hayam Wuruk pun sakit, dan meninggal karena sakit hati. Sejak kematian Raja Hayam
Wuruk, maka Kerajaan Majapahit mencapai masa kemunduran, perlahan-lahan kekuasaan
Majapahit pun runtuh. Pada salah satu versi cerita, dikisahkan Sang Patih, Gajah Mada pergi ke
sebuah gunung untuk berdiam diri dan menjadi pertapa karena merasa bersalah pada rajanya.











17

KESIMPULAN

Agama hindu-budha datang ke Indonesia melalui para pedagang yang hendak pergi ke
China. Para pedagang tersebut singgah cukup lama di Indonesia untuk menunggu angin
ke arah utara
Selama mereka singgah di Indonesia mereka mengajarka agama Hindu
Lama kelamaan munculah berbagai kerajaan Hindu di Indonesia, seperti Kerajaan
Kutai, Tarumanagara, Mataram Kuno, Kediri, Singasari, dan Majapahit.
Kerajaan Kutai, adalah kerajaan Hindu pertama di Indonesia yang letaknya di Kalimantan
Timur dengan Raja Kudungga sebagai pendirinya, dan Raja Mulawarman sebagai Raja
yang paling terkenalnya. Peninggalannya berupa Prasasti Yupa
Kerajaan Tarumanegara, adalah kerajaan hindu yang terletak di Bekasi dengan
Raja Purnawarman sebagai rajanya yang paling terkenal. Prasasti yang paling terkenalnya
adalah Prasasti Ciaruteun dengan terukirnya telapak kaki Raja Purnawarman yang begitu
besar
Kerajaan Mataram Kuno, adalah kerajaan yang letaknya di Jawa Tengah dan
sempat dipindahkan ke Jawa Timur, alasan perpindahannya telah dijelaskan pada Teori
Van Bamellen. Pernah terjadi pertikaian antara Dinasti Sanjaya (Samaratungga) dengan
Dinasti Syailendra (Pramodhawardani) yang akhirnya membuat Pramodhawardani
melarikan diri ke Sumatra. Terdapat peristiwa bersejarah yang disebut Peristiwa
Mahapralaya di mana Kerajaan ini hancur diserang Kerajaan Sriwijaya dengan
Kerajaan Wurawari ketika sedang diadakan pesta pernikahan
Kerajaan Kediri, adalah kerajaan yang telah berhasil merebut kekuasaan Kerajaan
Mataram Kuno. Pernah terjadi pelarian kaum Brahmana ke wilayah Tumapel karena
mereka tidak dihargai di Kerajaan Kediri. Pelarian Brahmana tersebut membuat Kerajaan
Kediri mencetuskan peperangan dengan pasukan Tumapel dan menuai kekalahan
Kerajaan Singasari, adalah kerajaan yang awalnya adalah daerah Tumapel yang
kemudian berhasil membuat Kerajaan Kediri tunduk, dan dikuasai. Kerajaan ini terkenal
dengan kasus bunuh membunuh antarkeluarga, yang dipicu oleh keinginan Ken Arok
untuk memperistri Ken Dedes. Kerajaan ini akhirnya dapat direbut kembali oleh Kerajaan
Kediri yang memanfaatkan kasus penyerangan pasukan Kubilaikhan ke Kerajaan ini.
18

Kerajaan Majapahit, adalah Kerajaan Hindu terbesar dan terakhir di Indonesia. Dengan
Raden Wijaya sebagai pendirinya. Awalnya kerajaan ini hanya sebuah desa kecil
pemberian Jayakatwang, dari Kerajaan Kediri yang telah berhasil merebut kekuasaan
Kerajaan Singasari. Namun, berkat kecerdikan Raden Wijaya, akhirnya Kerajaan Kediri
dapat dikalahkan Majapahit dengan siasat bekerjasama dengan pasukan Kubilaikhan dari
Cina. Raja Majapahit yang paling terkenal adalah Raja Hayam Wuruk bersama patihnya,
Gajah Mada. Dengan sumpah palapa, Gajah Mada beserta rajanya, Hayam Wuruk
berhasil menyatukan nusantara, kecuali untuk sebuah kerajaan kecil, yaitu kerajaan
Sunda. Berakhirnya Kerajaan Majapahit, adalah dengan meninggalnya Raja Hayam
Wuruk karena patah hati tidak bisa menikahi putri cantik dari kerajaan Sunda, Dyah
Pitaloka. Dyah Pitaloka bunuh diri karena keluarganya mati dibunuh pasukan Majapahit
yang diperintahkan Gajah mada atas sebuah kesalahpahaman.
Dengan berakhirnya kekuasaan Majapahit, maka berakhir pula kekuasaan kerajaan hindu
di Indonesia. Maka mulai bermunculanlah Kerajaan Islam

Saran
Kita harus menjaga kelestarian dan budaya-budaya yang ditinggalkan agama Hindu-Budha.














19

Daftar Pustaka

mustaqimzone.wordpress.com/2011/07/20/perkembangan-kerajaan-hindu-budha-di-
indonesia/
www.google.co.id/#q=masuknya+kerajaan+hindu+budha+di+indonesia+kelas+SMA&hl
=id&prmd=imvns&ei=kz8ZT7mGBNDqrQep8oCtDA&sqi=2&start=10&sa=N&bav=on.
2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb&fp=76417af358131f0a&biw=1366&bih=588

www.google.co.id/imgresimgurl=http://sugionosejarah.files.wordpress.com/2011/10/blita
r2.jpg&imgrefurl=http://sugionosejarah.wordpress.com/2011/10/15/kerajaan-
majapahit/&usg=__KByF88idkxbgY3wf0rQmXMukMn8=&h=350&w=336&sz=43&hl
=id&start=11&zoom=1&tbnid=FxdKvL4ZBlPk4M:&tbnh=120&tbnw=115&ei=jfobT8y
vC4jPrQfugo3nDQ&prev=/search%3Fq%3Dpeninggalan%2Bkerajaan%2Bmajapahit%2
6hl%3Did%26sa%3DX%26biw%3D1366%26bih%3D631%26tbm%3Disch%26prmd%3
Dimvns&itbs=1