Anda di halaman 1dari 2

4.

1 Pembahasan Reynold
Praktikum Reynolds Apparatus ini memiliki tujuan untuk memahami prinsip daasar bilangan
Reynolds dan memahami fenomena aliran dalam pipa. Untuk memahami Prinsip dasar bilangan
Reynolds dapat digunakan acuan dari dasar teori dimana besarnya bilangan Reynolds dapat diperoleh
dengan menggunakan rumus Re = V d / dimana besar yang merupakan massa jenis fluida
didapatkan dari pengaruh besarnya temperature (T = 25C) dan jenis fluida kerja yang digunakan yaitu
sebesar 999 kg/m
3
, d adalah diameter pipa sebesar 24.5 mm, dan adalah viskositas absolut atau
dinamik yang besarnya 0.001 kg/ m s. besarnya V (kecepatan) didapatkan dari persamaan Q (debit) yang
diaplikasikan saat praktikum, dimana V = Q / A. dalam perhitungan Reynolds apparatus ini besarnya T, A,
, d, dan adalah konstan, sedangkan yang berubah-ubah hanya besarnya V. Pada umumnya apabila Re
< 2300 disebut aliran laminer, sedangkan Re > 2300 disebut aliran turbulen.
Secara visual jenis-jenis aliran tersebut dapat diperlihatkan dengan menggunakan Reynold
Apparatus. Dalam range debit 30-160 liter/ hour hasil pengamatan jenis aliran yang diperoleh adalah
aliran laminer, dimana bentuk streamline dari cairan berwarna pada aliran dalam pipa tersebut terlihat
lurus sepanjang aliran dalam pipa. Saat debit dinaikkan menjadi 180-190 liter/hour terjadi sedikit
perubahan fenomena aliran pada pipa, dimana mula-mula streamline yang terlihat dalam aliran tersebut
lurus, lalu menjadi bergelombang. Dalam range debit 200-250 liter/hour hasil pengamatan jenis aliran
yang diperoleh adalah aliran turbulen, dimana bentuk streamline dari cairan berwarna pada aliran
dalam pipa tersebut terlihat bergelombang sepanjang aliran dalam pipa.
Dari hasil perhitungan bilangan Reynolds pada range debit 30-150 liter/hour memiliki besar
bilangan reynold <2300 sehingga termasuk dalam aliran laminer. Sedangan pada range 160-250
liter/hour besarnya bilangan Reynolds yang didapatkan dari hasil perhitungan >2300 sehingga dapat
diklasifikasikan sebagai aliran turbulen. Dari hasil perhitungan dan pengamatan terdapat beberapa
perbedaan yaitu pada range 160-190 liter/hour, dimana pada hasil pengamatan pada range 160-170
liter/hour aliran yang terlihat pada pengamatan diklasifikasikan dalam aliran laminer karena bentuk
streamline alirannya yang masih lurus. Sedangkan pada range 180-250 liter/hour aliran yang terlihat
pada pengamatan diklasifikasikan dalam aliran turbulen karena bentuk streamline alirannya berbentuk
gelombang. Perbedaan ini terjadi karena dalam metode perhitungan , penentuan aliran menjadi laminer
atau turbulen dipengaruhi oleh besarnya kecepatan yang diperoleh dari persamaan debit. Sedangkan
dengan metode pengamatan, pengklasifikasian jenis aliran ke dalam aliran laminer, atau turbulen
didapatkan hanya dengan mengamati perubahan bentuk streamline yang terjadi dalam pipa. Kesalahan
pengklasifikasian jenis aliran yang dilakukan praktikan juga dapat terjadi karena bentuk streamline aliran
yang berubah yang semula lurus menjadi bergelombang terutama saat aliran akan berpindah dari
laminer menjadi turbulen. Selain itu kondisi alat Reynolds Apparatus yang tidak begitu bening
memberikan kesulitan tersendiri pada praktikan dalam mengamati perubahan bentuk streamline. Hal
inilah yang membuat praktikan kerap keliru dalam menentukan jenis aliran menjadi laminer atau
turbulen.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1 Kesimpulan
Pada praktikum Reynolds Apparatus ini dapat diambil kesimpulan:
1. Besarnya bilangan Reynolds dapat diperoleh dengan menggunakan rumus Re = V d / .
Aliran dapat dikatakan sebagai aliran laminer jika memiliki nilai bilangan Reynold <2300,
dan dikatakan sebagai aliran turbulen jika memiliki bilangan Reynold >2300.
2. Dari pengamatan pada saat praktikum dapat diketahui bahwa bentuk aliran laminer
streamline nya menyerupai garis lurus di sepanjang aliran dalam pipa, sedangkan
bentuk aliran turbulen streamline nya bergelombang di sepanjang aliran dalam pipa.
3. Pada praktikum yang telah dilakukan, aliran akan berupa aliran laminer pada saat range
debit 30-180 liter/ hour dan akan berupa aliran turbulen pada saat range debit 190
250 liter/hour.
4. Dari hasil perhitungan dan pengamatan terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan ini
terjadi karena dalam metode perhitungan , penentuan aliran menjadi laminer atau
turbulen dipengaruhi oleh besarnya kecepatan yang diperoleh dari persamaan debit.
Sedangkan dengan metode pengamatan, pengklasifikasian jenis aliran ke dalam aliran
laminer, atau turbulen didapatkan hanya dengan mengamati perubahan bentuk
streamline yang terjadi dalam pipa. Selain itu kondisi alat Reynolds Apparatus yang tidak
begitu bening memberikan kesulitan tersendiri pada praktikan dalam mengamati
perubahan bentuk streamline.
5.2 Saran
Dari praktikum Reynolds Apparatus ini saran yang dapat diajukan adalah
1. Alat Reynold Apparatus sebaiknya diperbarui agar memudahkan praktikan dalam mengamati
perubahan jenis streamline pada aliran dalam pipa sehingga data praktikum dapat lebih presisi
lagi.
2. Pengkondisian lingkungan saat praktikum supaya dijaga, salah satunya dengan meminimalisir
kebocoran air pada beberapa alat percobaan, sehingga tidak membahayakan keselamatan
praktikan.