Anda di halaman 1dari 4

Kurva Phillips merupakan kurva yang menggambarkan bagaimana hubungan antara inflasi

dengan tingkat pengangguran yang didasarkan pada asumsi bahwa inflasi merupakan cerminan
dari adanya kenaikan permintaan agregat. Dengan naiknya permintaan agregat, maka sesuai
dengan teori permintaan, jika permintaan naik maka harga akan naik. Tingginya harga tersebut
berdampak pada meningkatnya hasrat produsen untuk untuk memenuhi permintaan tersebut,
sehingga produsen meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah tenaga kerja untuk
meningkatkan output. Akibat dari peningkatan permintaan tenaga kerja maka dengan naiknya
harga-harga (inflasi) maka, pengangguran berkurang. Dalam teori kurva Phillips, inflasi yang
rendah ternyata berkontribusi terhadap tingkat pengangguran yang tinggi, dan inflasi yang
tinggi berkontribusi terhadap tingkat pengangguran yang rendah.
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT UPAH DAN PENGANGGURAN

Kurva tersebut menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif antara inflasi dan pengangguran, yakni
apabila inflasi tinggi maka tingkat pengangguran rendah.
Apabila teori Kurva Phillips diterapkan di Indonesia maka tidak akan sesuai dengan
keadaan inflasi dan pengangguran di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dengan
membandingkan antara laju inflasi dan persentase pengangguran di Indonesia selama beberapa
tahun terakhir.





Data Inflasi dan pengangguran di Indonesia Tahun 1985-2012
Tahun Inflasi Pengangguran
1985 4.31 2.14
1986 8.83 2.6
1987 8.9 2.55
1988 5.47 2.81
1989 5.97 2.87
1990 5.97 2.51
1991 9.52 2.59
1992 4.94 2.71
1993 9.77 2.8
1994 9.24 4.4
1995 8.64 7.24
1996 6.47 4.89
1997 11.05 4.68
1998 77.63 5.46
1999 2.01 6.36
2000 9.53 6.08
2001 12.55 8.1
2002 10.03 9.06
2003 5.06 9.5
2004 6.4 9.86
2005 17.11 10.26
2006 6.6 10.4
2007 6.59 9.11
2008 11.6 8.39
2009 2.78 7.87
2010 6.96 7.14
2011 3.79 6.56
2012 4.3 6.14

Tingkat pengangguran di Indonesia dari tahun 1985 hingga tahun 2012 terus mengalami
fluktuasi begitu pula dengan laju inflasi di Indonesia. Tingkat pengangguran di Indonesia pada
tahun 1985 hingga 1998 berada pada kisaran angka di bawah 5%. Namun pada tahun 1999
hingga 2012 tingkat penganggran di Indonesia terus mengalami peningkatan dengan tingkat
pengangguran tertinggi pada tahun 2005 sebesar 10,26%. Sedangkan tingkat Inflasi di Indonesia
juga mengalami fluktuasi dari tahun 1985 hingga 2012. Pada tahun 1998 Indonesia mengalami
inflasi tinggi mencapai 77,63%. Dan pada tahun 2005 juga mengalami inflasi sedang sebesar
17,11%. Hubungan Inflasi dan pengangguran di Indonesia dapat dilihat dari grafik berikut :

Sumber Data : StatistikIndonesia.go.id

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa teori kurva Philips tentang adanya trade off antara
pengangguran dan inflasi tidak terjadi di Indonesia selama tahun 1985 hingga 2012. Dari grafik
tersebut diketahui bahwa ketika laju inflasi di Indonesia tinggi tingkat pengangguran di
Indonesia juga tinggi. Sebagai contoh yang terjadi di Indonesia pada tahun 2005. Laju inflasi
pada tahun 2004 laju inflasi sebesar 6,40 dengan tingkat pengangguran sebesar 9,86% dan naik
pada tahun 2005 sebesar 17,11% dengan tingkat pengangguran sebesar 10,26. Hal ini terjadi
karena, dengan kenaikan harga-harga secara umum, maka terjadi inflasi dan akan menurunkan
output nasional. Hal tersebut kemudian dengan sendirinya akan meningkatkan pengangguran.
Semua itu terjadi karena, untuk tetap bisa bertahan hidup pada tingkat daya beli seperti
sebelumnya atau sebelum inflasi maka para pekerja harus mendapatkan gaji minimal sebesar
tingkat inflasi. Apabila pekerja tidak mendapatkan gaji sama dengan kenaikan inflasi maka
masyarakat tidak lagi mampu membeli barang-barang yang ditawarkan. Apabila barang-barang
yang diproduksi tidak ada yang membeli maka akan banyak perusahaan yang keuntungannya
berkurang. Sehingga perusahaan harus mengurangi biaya produksinya untuk tetap mendapatkan
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011
T
i
n
g
k
a
t

I
n
f
l
a
s
i
/
p
e
r
s
e
n
t
a
s
e

P
e
n
g
a
n
g
g
u
r
a
n

Grafik Hubungan Antara Inflasi dan Pengangguran di Indonesia
Tahun 1980-2012
Inflasi
Pengangguran
keuntungan. Hal inilah yang akan mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah output
dengan pengurangan pekerja/buruhnya atau dengan mem-PHK para buruh agar perusahaan tetap
mendapatkan keuntungan. Selain itu alasan mengapa kurva Philips tidak terjadi di Indonesia
karena Berbeda dengan di Indonesia, adanya kenaikan harga-harga atau inflasi pada umumnya
disebabkan karena adanya kenaikan biaya produksi misalnya naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM),
bukan karena kenaikan permintaan. Dengan alasan inilah, maka tidaklah tepat bila perubahan
tingkat pengangguran di Indonesia dihubungkan dengan inflasi Sehingga teori kurva Philips tidak
sesuai dengan keadaan inflasi dan pengangguran di Indonesia.