Anda di halaman 1dari 4

Nama : Wireni

NIM : M0311072
Tugas nanomaterial dan teknologi

Sintesis nanopartikel dengan metode top-down dan metode bottom-up

Material nano dapat dibuat dengan dua cara, yakni top-down dan bottom-up. Top-
down adalah cara membuat meterial nano dengan memisahkan molekul yang
berkumpul dalam jumlah besar menjadi kecil suhingga ukurannya tidak lebih dari 100
nm. Metode top-down menggunakan berbagai teknik penggilingan dan homogenisasi.
Contoh dari pembuatan material nano dengan metode top-down adalah pembuatan
nano silica dari cangkang kerang.
Metode bottom-up adalah cara membuat material nano dengan
menggabungkan beberapa molekul sehingga terbentuk struktur material dalam ukuran
nano. Dalam metode bottom-up diperlukan stabilisasi zat aktif untuk mencegah
terbentuknya material skala mikro. Contohnya adalah pembuatan carbon nano tube.


1) Top down
Dalam pendekatan top-down, pertama bulk material dihancurkan dan dihaluskan
sedemikian rupa sampai berukuran nano meter. Pendekatan top-down dapat dilakukan
dengan teknik MA-PM (mechanical alloying-powder metallurgy) dan atau MM-PM
(mechanical milling-powder metallurgy), Dalam mekanisme mechanical alloying,
material dihancurkan hingga menjadi bubuk dan dilanjutkan dengan penghalusan
butiran partikelnya sampai berukuran puluhan nanometer. Kemudian, bubuk yang
telah halus disinter hingga didapatkan material final. Contohnya nano baja diperoleh
dari penghalusan bubuk besi dan karbon hingga berukuran 30 nm, dan disinter pada
suhu 723C pada tekanan 41 Mpa dalam suasana gas nitrogen.
Teknik MM-PM (mechanical milling-powder metallurgy) ini dapat dilakukan
dengan :
a) Ball milling
Teknologi ball milling yaitu menggunakan energi tumbukan antara bola-bola
penghancur dan dinding wadahnya. Untuk mendapatkan partikel nano dalam
jumlah banyak dan dalam waktu relatif pendek, dilakukan inovasi pada mesin ball
mill, dengan merubah putaran mill menjadi berlintasan planet (planetary) di dalam
wadahnya yang memiliki tuas pada kedua sisi, untuk mengatur sudut putaran yang
optimal. Dan distabilisasi dengan meng-gunakan larutan kimia seperti polyvinyl
alcohol (PVA) atau polyethilene glycol (PEG) sehingga membentuk nanokoloid
yang stabil.
b) Ultrasonic milling atau sonikasi
Prosesnya dengan cara menggunakan gelombang ultrasonik dengan rentang
frekuensi 20 kHz 10 MHz. Gelombang ultrasonik ditembakkan ke dalam
mediium cair untuk menghasilkan kavitasi bubble yang dapat membuat partikel
memiliki diameter dalam skala nano. Gelombang ultrasonik bila berada di dalam
medium cair akan dapat menimbulkan acoustic cavitation. Selama proses
cavitation akan terjadi bubble collapse (ketidakstabilan gelembung), yaitu
pecahnya gelombang akibat suara. Akibatnya akan terjadi peristiwa hotspot yang
melibatkan energi yang sangat tinggi. Dimana hotspot adalah pemanasan lokal
yang sangatintens sekitar 5000 K pada tekanan sekitar 1000 atm, laju pemanasan
dan pendinginannya sekitar 1010 K/s.

2) Bottom up
Pendekatan penataan sendiri (self-assembly) atom-atom atau molekul yang dikenal
dengan istilah bottom up, dalam pendekatan bottom-up, material dibuat dengan
menyusun dan mengontrol atom demi atom atau molekul demi molekul sehingga
menjadi suatu bahan yang memenuhi suatu fungsi tertentu yang diinginkan. Sintesa
nanomaterial dilakukan dengan mereaksikan berbagai larutan kimia dengan langkah-
langkah tertentu yang spesifik sehingga terjadi suatu proses nukleasi yang
menghasilkan nukleus-nukleus sebagai kandidat nanopartikel setelah melalui proses
pertumbuhan. Laju pertumbuhan nukleus dikendalikan sehingga menghasilkan
nanopartikel dengan distribusi ukuran yang relatif homogen.
Pada Pembentukan nanomaterial logam koloid secara bottom up, paduan
logam organik didekomposisi (direduksi) secara terkontrol sehingga ikatan logam dan
ligannya terpisah. Ion-ion logam hasil posisi bernukleasi membentuk nukleus-nukleus
yang stabil, yang dibangkitkan baik dengan menggunakan katalis maupun melalui
proses tumbukan. Selanjutnya nukleus-nukleus stabil tersebut tumbuh membentuk
nanopartikel. Untuk menghindari proses aglomerasi antara nanopartikel-nanopartikel
yang ada, langkah stabilisasi dilakukan dengan menggunakan larutan separator.

Pendekatan bottom up ini dapat dilakukan dengan dekomposisi termal
a) Evaporasi
Dekomposisi lapisan tipis dengan cara penguapan dan pengembunan yang
dilakukan di ruang vakum.

b) Sputtering
Proses sputering adalah proses dengan cara penembakan bahan pelapis atau target
dengan ion-ion berenergi tinggi sehingga terjadi pertukaran momentum. Proses
sputtering mulai terjadi ketika dihasilkan lucutan listrik dan gas sputer secara
listrik menjadi konduktif karena mengalami ionisasi.

c) CVD (Chemical Vapour Deposition)
Merupakan proses yang didasarkan pada hidrolisis dan polikondensasi dari
prekusor yang dibentuk melalui metode dip coating atau spin coating.

d) MOCVD (Metal-organic Chemical Vapor Deposition)
Merupakan teknik deposisi uap kimia dengan metode pertumbuhan epitaksi pada
material. Misalnya material semikonduktor yang berasal dari material
metalorganik dan hidrida logam.