Anda di halaman 1dari 143

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.

01

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Klasifikasi Fluida Reservoir

Halaman : 1 / 8
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
KLASIFIKASI FLUIDA RESERVOIR


1. TUJUAN
Mengenal sifat-sifat fisik fluida reservoir, sehingga dapat digunakan untuk menentukan cara yang
paling tepat untuk memproduksi reservoir yang bersangkutan.

2. METODE
Metode yang digunakan adalah table look-up berdasarkan rules of thumb yang berlaku selama ini,
yaitu berdasarkan harga GOR pada awal produksi, gravity cairan di stock-tank dan warna cairan pada
stock-tank.

3. JENIS-JENIS FLUIDA RESERVOIR
3.1. BLACK OIL
Terdiri dari variasi rantai hidrokarbon termasuk molekul-molekul yang besar, berat dan tidak
mudah menguap (nonvolatile). Diagram fasa-nya mencakup rentang temperatur yang luas.
Diagram fasa dari black oil secara umum ditunjukkan pada Gambar 1. Garis pada lengkungan
fasa mewakili volume cairan yang konstan, diukur sebagai persentase dari volume total. Garis-
garis ini disebut iso-vol atau garis kualitas. Harap diperhatikan bahwa iso-vol memiliki jarak
yang seragam pada lengkungan.
Garis vertikal 1-2-3 menandakan penurunan tekanan pada temperatur konstan yang terjadi di
reservoir selama produksi. Tekanan dan temperatur separator yang terletak di permukaan juga
ditandai.
Ketika tekanan reservoir berada pada garis 1-2, minyak dikatakan dalam keadaan tak jenuh
(undersaturated) karena minyak dapat melarutkan banyak gas pada kondisi ini.
Jika tekanan reservoir berada pada titik - 2, minyak berada pada titik gelembungnya dan
dikatakan dalam keadaan jenuh (saturated). Minyak mengandung sebanyak mungkin larutan gas
yang dapat dikandungnya. Penurunan tekanan akan membebaskan sebagian gas terlarut untuk
membentuk fasa gas bebas dalam reservoir.
Saat tekanan reservoir menurun mengikuti garis 2-3, gas tambahan mengembang di dalam
reservoir. Volume gas dalam persentase adalah seratus dikurangi persentase cairan.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.01

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Klasifikasi Fluida Reservoir

Halaman : 2 / 8
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Sebenarnya minyak dalam keadaan jenuh di sepanjang garis 2-3. Titik gelembung (titik - 2)
merupakan kasus istimewa dari saturasi dimana muncul gelembung gas untuk pertama kali.
Gas tambahan yang mengembang dari minyak bergerak dari reservoir ke permukaan. Hal ini
menyebabkan penyusutan pada minyak. Walaupun demikian, kondisi separator yang berada pada
lengkungan fasa menunjukkan bahwa jumlah cairan yang relatif cukup besar sampai di
permukaan.





Gambar 1. Diagram Fasa dari Black Oil yang Umum







TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.01

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Klasifikasi Fluida Reservoir

Halaman : 3 / 8
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.2. VOLATILE OIL
Volatile oil mengandung relatif lebih sedikit molekul-molekul berat dan lebih banyak
intermediates (yaitu etana sampai heksana) dibanding black oil.
Diagram fasa dari volatile oil secara umum ditunjukkan pada Gambar 2. Rentang harga
temperatur yang tercakup lebih kecil daripada black oil. Temperatur kritik-nya jauh lebih kecil
daripada black oil, bahkan mendekati temperatur reservoir. Iso-vol-nya juga tidak seragam
jaraknya, tetapi cenderung melengkung ke atas di depan garis titik gelembung.
Garis vertikal menunjukkan jalur penurunan tekanan pada temperatur konstan selama produksi.
Harap diperhatikan bahwa penurunan yang kecil pada tekanan di bawah titik gelembung, titik -
2, menyebabkan bebasnya sejumlah besar gas di reservoir.
Suatu volatile oil dapat menjadi gas sebesar 50% di reservoir pada tekanan hanya beberapa ratus
psi di bawah tekanan gelembung. Iso-vol dengan persentase cairan jauh lebih kecil melintasi
kondisi separator. Oleh karena itu disebut volatile oil (minyak yang mudah menguap).



Gambar 2. Diagram Fasa Volatile Oil yang Umum


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.01

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Klasifikasi Fluida Reservoir

Halaman : 4 / 8
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.3. RETROGRADE GAS
Diagram fasa untuk retrograde gas lebih kecil daripada untuk minyak dan titik kritik-nya berada
jauh di arah bawah dari lengkungan. Perubahan tersebut merupakan akibat dari kandungan
retrograde gas yang terdiri dari lebih sedikit hidrokarbon berat daripada minyak.
Diagram fasa dari retrograde gas memiliki temperatur kritik lebih kecil dari temperatur reservoir
dan cricondentherm lebih besar daripada temperatur reservoir. Seperti terlihat pada Gambar 3,
awalnya retrograde gas merupakan fasa gas di reservoir, titik - 1. Bersamaan dengan
menurunnya tekanan reservoir, retrograde gas memberikan titik embun, titik - 2. Dengan
menurunnya tekanan, cairan mengembun dari gas untuk membentuk cairan bebas di reservoir.
Cairan ini sebagian tidak mengalir dan tidak dapat diproduksi.
Jalur tekanan reservoir pada diagram fasa (Gambar 3) menunjukkan bahwa pada beberapa
tekanan yang rendah cairan mulai mengembun. Hal ini terjadi di laboratorium; walaupun
demikian, ada kemungkinan hal ini tidak terjadi secara luas di reservoir karena selama produksi
keseluruhan komposisi dari fluida reservoir berubah.



Gambar 3. Diagram Fasa Retrograde Gas yang Umum

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.01

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Klasifikasi Fluida Reservoir

Halaman : 5 / 8
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.4. WET GAS
Seluruh diagram fasa dari suatu campuran hidrokarbon dengan molekul-molekul yang lebih kecil
dan menonjol akan berada di bawah temperatur reservoir. Sebuah contoh dari diagram fasa wet
gas diberikan pada Gambar 4.
Wet gas terjadi semata-mata sebagai gas di dalam reservoir sepanjang penurunan tekanan
reservoir. Jalur tekanan, garis 1-2, tidak masuk ke dalam lengkungan fasa. Maka dari itu, tidak
ada cairan yang terbentuk di dalam reservoir. Walaupun demikian, kondisi separator berada pada
lengkungan fasa, yang mengakibatkan sejumlah cairan terjadi di permukaan (disebut kondensat).
Kata wet (basah) pada wet gas (gas basah) bukan berarti gas tersebut basah oleh air, tetapi
mengacu pada cairan hidrokarbon yang terkondensasi pada kondisi permukaan.




Gambar 4. Diagram Fasa Wet Gas yang Umum



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.01

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Klasifikasi Fluida Reservoir

Halaman : 6 / 8
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.5. DRY GAS
Dry gas terutama merupakan metana dengan sejumlah intermediates. Gambar 5
menunjukkan bahwa campuran hidrokarbon semata-mata berupa gas di reservoir dan kondisi
separator permukaan yang normal berada di luar lengkungan fasa. Maka dari itu, tidak terbentuk
cairan di permukaan. Reservoir dry gas biasanya disebut reservoir gas.



Gambar 5. Diagram Fasa Dry Gas yang Umum







TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.01

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Klasifikasi Fluida Reservoir

Halaman : 7 / 8
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. DAFTAR PUSTAKA

1. McCain, William D., Jr. : "The Properties of Petroleum Fluids Second Edition," PennWell
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1990.
2. McCain, William, D., Jr. : "Heavy Components Control Reservoir Fluid Behavior," Technology
Today Series, SPE 28214, S.A. Holditch & Assocs. Inc., 1994.


























TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.01

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Klasifikasi Fluida Reservoir

Halaman : 8 / 8
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. TABEL YANG DIGUNAKAN

Tabel 1
Ringkasan Petunjuk Penentuan Jenis Fluida dari Data Lapangan

Black Oil Volatile Oil
Retrograde
Gas
Wet Gas Dry Gas
Rasio inisial
produksi
gas/cairan,
scf/STB
< 1,750 1,750 - 3,200 > 3,200 > 15,000* 100,000
Gravity inisial
cairan stock-
tank,
o
API
< 45 > 40 > 40 s/d 70 Tidak ada cairan
Warna cairan
stock-tank
Gelap Berwarna
Sedikit
berwarna
Bening Tidak ada cairan
*Untuk keperluan teknis.

Tabel 2
Hasil Yang Diinginkan Dari Analisa Laboratorium Terhadap Ke-5 Jenis Fluida

Black Oil Volatile Oil
Retrograde
Gas
Wet Gas Dry Gas
Perubahan fasa
di reservoir
Titik
gelembung
Titik
gelembung
Titik embun Tidak terjadi Tidak terjadi
C
7+
, %mol > 20 20 12.5 < 12.5 < 4* < 0.7*
Faktor volume
formasi minyak
pada titik
gelembung
< 2.0 > 2.0 - - -
*Untuk keperluan teknis.
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 1 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
PENGAMBILAN CONTOH FLUIDA RESERVOIR



1. TUJUAN
Mengetahui teknik pengambilan fluida reservoir yang akan digunakan sebagai data representatif
dalam analisa fluida reservoir. Hasil analisa fluida reservoir ini digunakan dalam kegiatan-kegiatan
berikut ini :
! Perhitungan cadangan minyak dan/atau gas,
! Perkiraan potensi dan produksi sumur,
! Perencanaan jenis dan ukuran fasilitas permukaan,
! Pemilihan metode pengangkatan buatan dan/atau EOR, dan
! Simulasi reservoir.

2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Metode yang secara umum digunakan untuk pengambilan fluida reservoir ada 3 macam, yaitu :
a. Metode pengambilan langsung di bawah permukaan (Direct Subsurface Sampling).
b. Metode rekombinasi permukaan (Surface Recombination Sampling).
c. Metode aliran-terpisah (Split-stream Sampling).

2.2. PERSYARATAN
Syarat-syarat yang harus diperhatikan sebelum melakukan pengambilan fluida reservoir adalah
sebagai berikut :
a. dilakukan se-awal mungkin sebelum tekanan reservoir kurang dari tekanan awalnya.
b. sumur harus dibersihkan (cleaned-up) sebelum pengambilan sampel.
c. para teknisi harus memilih sumur yang produktivitasnya tinggi agar dapat mempertahankan
tekanan setinggi mungkin pada formasi di sekeliling sumur tersebut.
d. sumur yang dipilih tidak boleh memproduksi air bebas, tetapi jika hanya tersedia sumur yang
memproduksi air bebas, maka penempatan ruang sampel di dasar sumur harus dilakukan
dengan sangat hati-hati.
e. sumur yang dipilih harus pernah diproduksi dengan rasio gas-minyak yang stabil.
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 2 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
f. laju alir yang digunakan serendah mungkin untuk menghindari tekanan di sekitar lubang bor di
bawah tekanan jenuh.
g. perlu dilakukan pengambilan sampel pada beberapa kedalaman untuk reservoir yang tebal dan
permeabilitas vertikalnya cukup besar, karena komposisinya yang berbeda sebagai akibat
pengaruh gravitasi.
h. pengukuran temperatur pada saat pengambilan sampel dilakukan seteliti mungkin terutama
untuk near-critical-fluids (volatile oil dan retrograde gas).

3. JENIS-JENIS METODE UNTUK PENGAMBILAN FLUIDA RESERVOIR
Pertimbangan dalam pemilihan metode pengambilan contoh fluida dipengaruhi oleh beberapa faktor
berikut ini :
! Volume yang diperlukan untuk analisa,
! Jenis fluida reservoir,
! Tahapan pengembangan reservoir, dan
! Design sumur dan proses di permukaan.

3.1. METODE PENGAMBILAN LANGSUNG DI BAWAH PERMUKAAN (DIRECT
SUBSURFACE SAMPLING)
3.1.1. Metode Pengambilan Dasar Sumur (Bottom-hole Sampling)
Suatu tabung khusus diturunkan dengan kabel ke dalam lubang sumur sampai kedalaman
reservoir dan sampel diambil dari aliran dasar sumur pada tekanan dasar sumur yang
berlaku (Gambar 1). Alat ini dapat dipasang juga pada wireline atau pada DST string.
Metode ini sangat efektif digunakan saat well testing atau uji produksi pada sumur
eksplorasi dan kadang digunakan saat openhole logging. Beberapa pertimbangan
menggunakan bottom-hole sampling adalah :
! Tekanan alir dasar sumur saat pengambilan contoh fluida lebih besar dari tekanan
jenuh.
! Peralatan yang digunakan tidak memiliki kesulitan untuk menurunkan tabung sampel
ke kedalaman yang diinginkan dan menariknya kembali ke permukaan. Pertimbangan
ini perlu dikaji terutama untuk minyak yang memiliki API gravity < 10.
! Volume fluida yang diperlukan untuk analisa relatif kecil (beberapa liter).
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 3 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
! Akan dilakukan kajian tentang asphaltene.

3.1.2. Prosedur Pengambilan Contoh Fluida di Dasar Sumur
Pengambilan contoh fluida di dasar sumur dilakukan dengan dua cara, yaitu :
! sumur ditutup,
! sumur dibuka dengan laju alir yang kecil (bleed rate).
Metode yang sering digunakan adalah metode pengambilan contoh fluida dengan
mengalirkan sumur pada laju alir stabil sekecil mungkin. Sedangkan metode pengambilan
contoh fluida dengan menutup sumur sebaiknya dilakukan untuk kasus-kasus dimana
produksi dengan laju sekecil apapun menyebabkan tekanan turun di bawah tekanan jenuh.
Periode shut-in tergantung dari produktivitas sumur (antara 2-3 jam untuk sumur dengan
produktivitas tinggi dan sampai 72 jam untuk sumur dengan produktivitas rendah).



Gambar 1. Pengambilan Sampel Fluida dengan Metode Subsurface

3.1.2.1. Pengambilan Contoh Fluida dengan Menutup Sumur
Sebelum melakukan pengambilan contoh fluida, alat pressure-temperature survey
diturunkan ke dalam sumur untuk mengetahui batas antar fluida (interface).
Tabung sampel ditempatkan di zona minyak dan diusahakan sedalam mungkin,
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 4 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
sehingga tekanannya masih di atas tekanan jenuh (Gambar 2). Jika kondisinya
seperti Gambar 3 dimana tekanan pada zona minyak di bawah tekanan jenuh,
maka metode bottom-hole sampling tidak dapat dilakukan.

3.1.2.2. Pengambilan Contoh Fluida dengan Mengalirkan Sumur
Sebelum melakukan pengambilan contoh fluida, sumur dialirkan dengan laju
yang cukup rendah dan stabil selama empat jam. Cara untuk memastikan apakah
aliran stabil atau tidak dapat dilihat dari :
! laju alir gas dan minyak yang stabil,
! tekanan kepala sumur yang stabil,
! tekanan dasar sumur yang stabil.
Menurunkan peralatan secara garis besar dilakukan dengan cara berikut :
! Alat pengambil sampel (minimum 3 dan maksimum tergantung dari
kemampuan wireline-nya, biasanya 8) diturunkan menggunakan strings atau
wireline.
! Alat pengambil sampel diletakkan pada kedalaman yang sedekat mungkin
dengan kedalaman perforasi.
! Alat pengambil sampel yang diaktifkan dengan timer (clock operated) harus
sudah berada pada kedalaman yang dituju setengah (1/2) jam sebelum
pengambilan sampel dilakukan dan diambil setelah lima belas (15) menit
pengambilan sampel selesai.
! Paling sedikit tiga (3) sampel dikirim ke lab. untuk dilakukan analisa PVT.
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 5 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 2. Profil Tekanan Selama Penutupan Sumur - Sebagian Zona Oil Tekanannya lebih dari
Tekanan Jenuh





Gambar 3. Profil Tekanan Selama Penutupan Sumur - Seluruh Zona Oil Tekanannya kurang dari
Tekanan Jenuh


TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 6 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Ada tiga teknik yang dilakukan untuk mengambil contoh fluida pada kondisi ini,
yaitu formation tester, DST tools, dan production tools.
DST tool dapat mengambil sampel dengan volume yang besar dan dapat
digunakan sampai tekanan 20,000 psi, temperatur mencapai 450
o
F dan dapat
digunakan untuk konsentrasi H
2
S yang tinggi. Kerugiannya adalah memerlukan
waktu yang cukup lama.
Keuntungan menggunakan production tools adalah dapat ditempatkan di depan
perforasi, ukurannya sesuai dengan completion string dan fluida sampel valid
untuk analisa PVT. Sedangkan kerugiannya adalah hanya 1 liter fluida yang dapat
diambil.

3.1.3. Pengontrolan Kualitas Dari Contoh Fluida Hasil Pengambilan Sampel Di Dasar Sumur
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk memastikan validitas dari contoh fluida adalah :
! Mengukur tekanan buka dari tabung sampel (sampler) pada temperatur ruang
! Mengukur volume sampel pada temperatur ruang
! Mengukur tekanan jenuh sampel pada temperatur ruang
Saat penentuan tekanan jenuh (dilakukan dengan mengamati perubahan kompresibilitas
fluida terhadap perubahan tekanan), sampel harus diaduk terlebih dulu karena tekanan
jenuh sulit diidentifikasi dari pengukuran ini jika tidak dilakukan pengadukan. Perbedaan
hasil penentuan tekanan jenuh tanpa dan dengan pengadukan dapat dilihat pada Gambar 4
dan Gambar 5.
Untuk sampel retrograde gas, penentuan tekanan jenuh tidak dapat dilakukan dengan cara
di atas tetapi dilakukan dengan tes PVT.

3.1.4. Evaluasi bottom-hole sample di lokasi sumur (wellsite)
Di lokasi sumur dapat dilakukan evaluasi terhadap contoh fluida yang meliputi :
! penentuan tekanan jenuh (khususnya tekanan bubble) pada temperatur reservoir,
! penentuan GOR, berat jenis liquid dan gas serta komposisinya,
! wellsite PVT analysis, dan
! liquid chromatography

TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 7 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.1.5. Kekurangan
Salah satu kekurangan terbesar dalam metode ini adalah hanya sedikit jumlah sampel dari
fluida lubang sumur yang diperoleh (beberapa liter). Oleh karena itu, salah satu cara
terbaik untuk memeriksa apakah rasio gas-minyak sudah benar adalah dengan mengambil
beberapa sampel di bawah permukaan dan membandingkan tekanan saturasinya pada
temperatur batas di lokasi sumur. Hal ini dapat dilakukan menggunakan pompa injeksi
merkuri dan pengukur tekanan yang akurat yang disambungkan pada sampel. Ruang
tersebut umumnya mengandung fasa minyak dan gas bebas akibat pengurangan pada
temperatur antara lubang sumur dan permukaan. Penginjeksian merkuri meningkatkan
tekanan di dalam ruang sampel sampai pada suatu tekanan saturasi yang berhubungan
dengan batas temperatur permukaan, seluruh gas akan terlarut. Tekanan saturasi ini dapat
dideteksi dengan mudah karena adanya suatu perubahan yang mencolok pada
kompresibilitas antara fluida 2 fasa dan 1 fasa. Jika hal tersebut ditentukan secara
ekperimental di lokasi sumur, dimana sampel yang berturut-turut memiliki perbedaan
tekanan saturasi yang nyata, menandakan alat telah rusak atau sumur tidak dikondisikan
dengan baik.
Sebagai tambahan, sangatlah perlu menentukan tekanan dan temperatur statik reservoir
dengan uji sumur sebelum pengambilan sampel.

TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 8 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Gambar 4. Penentuan Tekanan Jenuh - Tanpa Pengadukan



Gambar 5. Penentuan Tekanan Jenuh - Dengan Pengadukan
3.2. METODE REKOMBINASI PERMUKAAN (SURFACE RECOMBINATION SAMPLING)
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 9 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Selama uji sumur (well testing) atau uji produksi (production testing) pada sumur eksplorasi
sangat dimungkinkan untuk mengambil contoh fluida dari kepala sumur (wellhead), choke
manifold atau tes separator tergantung dari sifat fluida dan kondisi alirannya. Pengambilan contoh
fluida sebelum separator mensyaratkan tekanan di kepala sumur harus lebih tinggi dari tekanan
jenuh jika menggunakan metode konvensional atau paling tidak seragam (homogeneous) jika
menggunakan metode isokinetic sampling.
Metode yang umum dilakukan adalah separator recombination sampling. Teknik ini dilakukan
dengan mengambil contoh minyak dan gas dari separator. Selain sebagai backup dari metode
downhole sampling, pengambilan contoh fluida di permukaan dilakukan jika :
! Volume fluida yang dibutuhkan besar (misalnya akan digunakan untuk keperluan kajian EOR),
! Tekanan alir dasar sumur kurang dari tekanan jenuh atau water-cut yang tinggi.
Tantangan yang perlu diatasi pada metode ini adalah memastikan ketelitian pengukuran laju alir
dan kondisi separator yang stabil sebelum dan sesudah sampling.




Gambar 6. Pengambilan Sampel Minyak dan Gas di Permukaan




3.2.1. Cara Kerja
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 10 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Pada pengambilan sampel fluida di permukaan, sejumlah volume minyak dan gas diambil
secara terpisah pada kondisi separator dan direkombinasi untuk memberikan campuran
sampel fluida. Peralatan permukaan ditunjukkan secara skematis pada Gambar 6. Hal-hal
yang perlu diperhatikan pada pengambilan contoh fluida dengan metode ini adalah sebagai
berikut :
! laju alir serendah mungkin
! kondisi stabil yang ditandai oleh :
! laju alir gas dan minyak stabil
! tekanan kepala sumur stabil, dan
! tekanan alir dasar sumur stabil
! contoh fluida diambil dari separator dengan tekanan tertinggi jika sistem produksi
menggunakan beberapa tingkat separator
! contoh liquid dan gas diambil pada waktu yang bersamaan
! gas-oil-ratio juga perlu dicatat pada saat pengambilan sampel
! pengukur gas dan liquid harus dikalibrasi dengan benar
! injeksi chemical (glycol, methanol, atau wax inhibitor) sebelum separator harus
dihentikan, dan diberikan rentang waktu untuk memastikan chemical tersebut sudah
tidak ada dalam fluida produksi sebelum dilakukan sampling
Secara singkat pelaksanaan pengambilan contoh fluida dengan metode ini adalah seperti
berikut ini. Sumur diproduksi pada laju yang stabil untuk suatu periode beberapa jam dan
rasio gas-minyak diukur dalam scf dari gas separator per stock tank barrel minyak. Jika
rasio ini stabil selama periode pengukuran, maka dapat dipastikan bahwa dengan
merekombinasi minyak dan gas pada rasio yang sama akan menghasilkan suatu campuran
sampel fluida reservoir yang representatif. Bahkan, hanya sedikit penyesuaian yang harus
dibuat untuk menentukan rasio yang sebenarnya dimana sampel-sampel harus
direkombinasi. Hal ini karena, seperti terlihat pada Gambar 5, sampel minyak diambil
pada tekanan dan temperatur separator mengingat rasio gas-minyak diukur secara relatif
pada stock tank barrel, jadi rasio rekombinasi yang diperlukan adalah :


DIPERLUKAN DIUKUR PENYUSUTAN
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 11 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

bbl sep
scf
R
sep
.
=
"
#
$
%
&
'
stb
scf
R (
bbl sep
stb
S
.


Secara dimensi, rasio gas-minyak yang terukur harus dikalikan dengan faktor penyusutan
dari separator ke kondisi stock tank. Faktor ini biasanya ditentukan di laboratorium sebagai
tahap pertama dari suatu analisa PVT dari sampel rekombinasi permukaan dengan
menempatkan sejumlah kecil sampel minyak dalam suatu sel pada kondisi separator yang
tepat dan membebaskannya (ekspansi flash) ke sel kedua yang dipertahankan pada kondisi
stock tank di lapangan. Selama proses ini, sejumlah gas akan dibebaskan dari sampel
separator akibat penurunan tekanan dan temperatur dan volume minyak stock tank yang
berkurang akan diukur sehingga memungkinkan perhitungan langsung dari S. Untuk dapat
melakukan percobaan tersebut, sangatlah penting bahwa para teknisi harus mengukur
secara akurat tekanan dan temperatur yang berlaku pada separator dan stock tank selama
pengambilan sampel dan menyediakan data ini untuk laboratorium.

3.2.2. Kelebihan
Salah satu keistimewaan dari metode pengambilan sampel rekombinasi di permukaan
adalah secara statistik metode ini memberikan harga yang dapat diandalkan dari rasio gas-
minyak yang diproduksi, yang diukur melalui suatu periode beberapa jam; lebih jauh lagi,
metode ini memungkinkan pengambilan sampel fluida dalam jumlah besar. Tentu saja,
seperti metode pengambilan sampel di bawah permukaan, metode pengambilan sampel di
permukaan hanya akan menyediakan rasio gas-minyak yang benar bila tekanan di sekitar
sumur adalah pada atau di atas tekanan gelembung. Jika tidak, rasio gas-minyak di
permukaan akan menjadi lebih rendah atau lebih tinggi, tergantung pada apakah saturasi
gas bebas di reservoir berada di bawah atau di atas saturasi kritik dimana gas akan mulai
mengalir. Mengingat hal tersebut, maka harus ditekankan bahwa pengambilan sampel PVT
harus dilakukan secepat mungkin di awal masa produksi lapangan untuk memfasilitasi
pengambilan sampel di mana minyak dan gas digabungkan pada rasio yang benar.



3.2.3. Pengambilan Contoh Fluida Fasa Gas di Separator
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 12 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Ada tiga metode untuk pengambilan contoh fluida fasa gas di separator, yaitu :
! menggunakan tabung silinder yang divakumkan,
! menggunakan kontainer yang dibersihkan dengan mengalirkan gas dari separator
kedalamnya, dan
! menggunakan kontainer yang diisi brine sebelumnya.

Teknik yang diutamakan untuk dipakai adalah dengan menggunakan tabung silinder yang
divakumkan. Skema pengambilan sampel dengan teknik ini ditunjukkan oleh Gambar 7.
Pipa yang menghubungkan separator dengan tabung sampel perlu dialirkan gas dari
separator terlebih dulu untuk membersikan kontaminasi kemudian gas dialirkan ke dalam
tabung beberapa saat sampai tekanan pada alat ukur mencapai tekanan separator.
Teknik yang kedua adalah dengan mengisi tabung sampel dengan gas dari separator
melalui valve sebelah atas dan gas dikeluarkan dari valve sebelah bawah. Proses ini adalah
bagian dari conditioning tabung sampel. Selama proses conditioning ini, tabung sampel
dipertahankan temperaturnya untuk menghindari kondensasi gas. Setelah dianggap cukup,
valve sebelah bawah ditutup dan pengambilan sampel dimulai.
Teknik yang ketiga adalah mengisi tabung sampel dengan brine terlebih dulu. Kemudian
gas dari separator dialirkan ke dalam tabung sampel melalui valve sebelah atas dan valve
sebelah bawah dibuka untuk mengeluarkan brine. Setelah seluruh brine keluar karena
pendesakan gas, kedua valve ditutup. Metode ini tidak dianjurkan karena adanya sifat
kelarutan gas inorganic (CO
2
dan H
2
) maupun gas organic hidrokarbon.
Volume sampel yang diperlukan tergantung dari GOR dan tekanan separator dan sebagai
aturan umum adalah sebagai berikut (1 botol sampel = 20 liter) :
! Jika GOR < 1,500 scf/bbl, maka diperlukan 2 botol sampel.
! Jika 1,500 < GOR < 3,000 scf/bbl, maka diperlukan 3 botol sampel.
! Jika GOR > 3,000 scf/bbl, maka diperlukan 4 botol sampel.

TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 13 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 7. Skema Metode Pengambilan dengan Gas Sampling Vacuum
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 14 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.2.4. Pengambilan Contoh Fluida Fasa Liquid Di Separator
Skema peralatan untuk pengambilan sampel minyak di separator ditunjukkan oleh Gambar
8. Yang perlu diperhatikan adalah :
! semua sambungan dan pipa yang digunakan untuk mengalirkan fluida selama
pengambilan sampel harus dilakukan conditioning dengan sebelumnya mengalirkan
minyak dari separator selama beberapa waktu untuk menghindari kontaminasi oleh
udara.
! Jika sampel mengandung air maka air ini perlu dipisahkan terlebih dahulu di lab
sebelum dilakukan rekombinasi.



Gambar 8. Skema Metode Pengambilan Contoh Minyak di Permukaan


TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 15 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Metode-metode yang digunakan dalam mengambil contoh minyak di separator adalah :
! metode pendesakan oleh mercury (mercury displacement method)
! piston bottle displacement method
! separator gas displacement method
! gas displacement method
! water displacement method

3.3. METODE ALIRAN-TERPISAH (SPLIT-STREAM SAMPLING)
3.3.1. Persyaratan dan Prosedur
Metode pengambilan fluida dengan aliran-terpisah terutama digunakan pada sumur-sumur
gas kondensat. Kualifikasi dan prosedur yang digunakan dalam memilih dan
mempersiapkan suatu sumur untuk diambil sampel fluidanya menggunakan metode ini
sama dengan seperti pada metode rekombinasi permukaan.
Sebagai tambahan, perlu dicatat harga temperatur dan tekanan dari arus aliran pada titik
dimana sampel diambil.
Pada metode ini, suatu tabung berdiameter kecil dimasukkan ke tengah-tengah arus aliran.
Sebagian dari arus aliran ini akan dibelokkan melalui tabung tersebut ke dalam suatu
separator pendukung atau botol-botol sampel. Pada sebagian besar kasus, sampel diperoleh
dengan memasukkan tabung ke dalam tubing sampai 8 atau 10 ft di bawah sambungan
permukaan kepala sumur atau ke dalam arus aliran yang mengalir di atas separator.
Penempatan tabung tersebut agar bisa berada di tengah-tengah arus aliran utama dengan
baik harus dilakukan dengan sangat berhati-hati. Kecepatan aliran fluida di dalam tabung
sampel harus dipertahankan agar sama dengan kecepatannya di dalam pipa. Jumlah fluida
yang dipindahkan oleh tabung sampel tidak boleh melebihi jumlah fluida yang mengalir
pada daerah yang sebanding di dalam arus aliran yang utama.

3.3.2. Kelebihan
1. Metode ini sangat cepat dan jika digunakan bersama separator yang berukuran kecil dan
memiliki kontrol temperatur akan memungkinkan suatu analisa dari fluida reservoir di
lapangan.
TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 16 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
2. Tabung sampel dapat dihubungkan langsung pada botol sampel sehingga sampel yang
diperoleh sebanding dengan sampel dasar-sumur yang diambil pada kondisi mengalir.
3. Fluida dari tabung sampel dapat dipisahkan sehingga bisa diperoleh sampel gas dan
cairan secara terpisah seperti pada metode rekombinasi.
4. Akurasi yang lebih besar dapat diperoleh dengan memisahkan aliran sampel dan
mengambil sampel gas dan cairan sendiri-sendiri.

3.3.3. Kekurangan
1. Metode ini tidak akurat pada fluida dengan kandungan cairan yang tinggi karena sulit
memastikan pasokan yang memadai dari gas dan cairan ke dalam tabung sampel untuk
rasio cairan-gas mengalir yang tinggi.
2. Sebagian besar cairan akan terkonsentrasi di sepanjang dinding pipa dan menyebabkan
gesekan.
3. Tabung sampel yang diletakkan di tengah-tengah pipa akan memperoleh proporsi gas
yang lebih besar daripada yang sesungguhnya.

















TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 17 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. DAFTAR PUSTAKA

1. Dake, L. P. : "Fundamental Reservoir Engineering," Elsevier Scientific Publishing Company,
Amsterdam-Oxford-New York, 1978.
2. Amyx, James W., Bass, Daniel M. dan Whiting, Robert L. : "Petroleum Reservoir Engineering -
Physical Properties", McGraw Hill Book Company, 1960.


























TEKNIK RESERVOIR No : TR 02.02

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Pengambilan Contoh Fluida Reservoir

Halaman : 18 / 18
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. DAFTAR SIMBOL

P
b
= Tekanan gelembung, psia
P
i
= Tekanan awal, psia
P
sep
= Tekanan separator, psia
P
st
= Tekanan stock-tank, psia
P
wf
= Tekanan alir dasar sumur, psia
R = Rasio produksi gas-minyak, scf/stb
R
sep
= Rasio gas-minyak di separator, scf/sep.bbl
S = Faktor penyusutan, stb/sep.bbl
T
sep
= Temperatur separator,
o
F
T
st
= Temperatur stock-tank,
o
F
















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 1 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
METODE ANALISA FLUIDA DI LABORATORIUM


1. TUJUAN
Mengetahui dan memahami metode-metode analisa fluida di laboratorium.


2. JENIS METODE
2.1. EKSPANSI KOMPOSISI KONSTAN (CONSTANT COMPOSITION EXPANSION)
Metode ini disebut juga flash vaporization atau PV test. Contoh data yang didapat dari constant
composition expansion ditunjukkan oleh Tabel 1. Deskripsi metode ini adalah sebagai berikut
(Gambar 1) :
1. Contoh fluida dimasukkan dalam sel dengan temperatur reservoir dan tekanan di atas tekanan
reservoir.
2. Tekanan di dalam sel diturunkan tahap demi tahap dengan memperbesar volume ruangan sel
yang ditempati fluida. Pada setiap tahap tekanan dan volume total diukur. Volume diplot
terhadap tekanan. Proses ini dilakukan terus sampai terjadi perubahan kemiringan pada plot
antara volume dan tekanan (Gambar 2). Tekanan pada kondisi ini adalah tekanan gelembung
(bubble point).
3. Kemudian tekanan kembali diturunkan secara bertahap, dimana pada setiap tahap fluida di
dalam sel diusahakan berada pada kesetimbangan dengan menggoyang sel agar terjadi
pencampuran fluida di dalam sel. Volume dan tekanan pada kondisi setimbang ini juga
dicatat pada setiap tahap.
4. Langkah 3 diulang sampai volume sel maksimum dicapai.

2.2 PEMBEBASAN DIFERENSIAL (DIFFERENTIAL LIBERATION)
Contoh data yang didapat dari differential vaporization ditunjukkan oleh Tabel 2. Deskripsi
metode ini adalah sebagai berikut (Gambar 3) :
1. Contoh fluida dimasukkan dalam sel dengan temperatur reservoir dan tekanan di atas bubble
point.
2. Tekanan di dalam sel diturunkan tahap demi tahap dengan memperbesar volume ruangan sel
yang ditempati fluida. Pada setiap tahap tekanan dan volume total diukur. Volume diplot
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 2 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
terhadap tekanan. Proses ini dilakukan terus sampai terjadi perubahan kemiringan pada plot
antara volume dan tekanan (Gambar 2). Tekanan pada kondisi ini adalah tekanan bubble
point.
3. Kemudian tekanan kembali diturunkan secara bertahap, dimana pada setiap tahap fluida di
dalam sel diusahakan berada pada kesetimbangan dengan menggoyang sel agar terjadi
pencampuran fluida di dalam sel. Volume dan tekanan pada kondisi setimbang ini juga
dicatat pada setiap tahap.
4. Gas bebas dikeluarkan seluruhnya dari sel pada kondisi tekanan konstan. Volume gas yang
dikeluarkan dan minyak di dalam sel diukur pada kondisi tekanan dan temperatur sel.
Volume gas juga diukur pada kondisi standar.
5. Langkah 3 dan 4 diulang sampai tekanan sel mencapai tekanan atmosfir dan hanya minyak
yang tersisa di dalam sel.

Tabel 1
Contoh Data Hasil Constant Composition Expansion (Flash Vaporization)
1

Tekanan
(psia)
Volume Total Relatif
v
t
= v/v
b
= (rb/rb
b
)
5,000 0.9810
4,500 0.9850
4,000 (P
i
) 0.9850
3,500 0.9975
3,330 (P
b
) 1.0000
3,290 1.0025
3,000 1.0270
2,700 1.0603
2,400 1.1060
2,100 1.1680

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 3 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Tabel 2
Contoh Data Hasil Differential Liberation
1


Tekanan
(psia)
Volume
Relatif Gas
(P dan T)
Volume
Relatif Gas
(sc)
Kumulatif
Relatif Gas
(sc)
Faktor
Expansi Gas
Faktor - Z
Volume Relatif Minyak
(P dan T)
3,330 (P
b
)
1.0000
3,000 0.0460 8.5211 8.5211 185.24 0.868 0.9769
2,700 0.0417 6.9731 15.4942 167.22 0.865 0.9609
2,400 0.0466 6.9457 22.4399 149.05 0.863 0.9449
2,100 0.0535 6.9457 29.3856 129.83 0.867 0.9298
1,800 0.0597 6.5859 35.9715 110.32 0.874 0.9152
1,500 0.0687 6.2333 42.2048 90.73 0.886 0.9022
1,200 0.0923 6.5895 48.7943 71.39 0.901 0.8884
900 0.1220 6.4114 55.2057 52.55 0.918 0.8744
600 0.1818 6.2369 61.4426 34.31 0.937 0.8603
300 0.3728 6.2297 67.6723 16.71 0.962 0.8459
14.7 ( T ) 74.9557 0.8296
14.7
(60
o
F)
74.9557 0.7794


2.3. UJI PEMISAHAN FLASH (FLASH SEPARATION TEST)
Uji ini merupakan model skala kecil dari proses pemisahan dalam separator di lapangan. Data
yang diperoleh dari uji ini adalah :
1. Faktor volume formasi minyak pada kondisi separator.
2. Gravity dari stock-tank minyak.
3. Rasio gas-minyak di separator.
4. Rasio gas-minyak di stock tank.
5. Rasio gas-minyak total.

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 4 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
2.4. PENURUNAN VOLUME KONSTAN (CONSTANT VOLUME DEPLETION)
Constant volume depletion dilakukan pada gas kondensat dan volatile oil untuk mensimulasikan
perubahan komposisi dan kinerja reservoir selama deplesi. Deskripsi tentang proses constant
volume depletion adalah sebagai berikut :
1. Contoh fluida dimasukkan dalam sel dengan temperatur reservoir dan tekanan pada tekanan
saturasi (tekanan bubble point atau tekanan dew point). Volume pada kondisi ini dijadikan
sebagai volume referensi.
2. Tekanan di dalam sel diturunkan sampai harga tertentu dengan memperbesar volume ruangan
sel yang ditempati fluida. Pada proses ini akan terjadi retrograde liquid (untuk gas
kondensat) atau solution gas (untuk volatile oil) dan volume cairan diukur sebelum gas
dikeluarkan dari sel.
3. Sebagian gas dikeluarkan dengan menginjeksikan merkuri ke dalam sel dengan
mempertahankan tekanan konstan. Proses ini dihentikan jika volume sel sama dengan volume
sel pada keadaan awal (langkah 1).
4. Gas yang dikeluarkan pada langkah 1 dianalisa dengan gas chromotography untuk
menentukan komposisinya.
5. Langkah 3 dan 4 diulang beberapa kali (6-7 kali) sampai tekanan sel mencapai tekanan
tertentu yang cukup rendah. Cairan yang tersisa didistilasi dan dianalisa menggunakan gas
chromotography.

Contoh data hasil constant volume depletion diberikan pada Tabel 3.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 5 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Tabel 3
Contoh Data Hasil Constant Volume Depletion
4


Equilibrium Vapor Equilibrium Liquid
Tekanan (psia) Exp. Calc.
Komponen 6,764.7 5,514.7 4,314.7 3,114.7 2,114.7 1,214.7 714.7 714.7 714.7
Karbon
Dioksida
2.37 2.40 2.45 2.50 2.53 2.57 2.60 0.59 0.535
Nitrogen 0.31 0.32 0.33 0.34 0.34 0.34 0.33 0.02 0.017
Metana 73.19 75.56 77.89 79.33 79.62 78.90 77.80 12.42 10.704
Etana 7.80 7.83 7.87 7.92 8.04 8.40 8.70 3.36 3.220
Propana 3.55 3.47 3.40 3.41 3.53 3.74 3.91 2.92 2.896
i-Butana 0.71 0.67 0.65 0.64 0.66 0.72 0.78 0.91 0.916
n-Butana 1.45 1.37 1.31 1.30 1.33 1.44 1.56 2.09 2.103
i-Pentana 0.64 0.59 0.55 0.53 0.54 0.59 0.64 1.40 1.417
n-Pentana 0.68 0.62 0.58 0.56 0.57 0.61 0.66 1.60 1.624
Hexana 1.09 0.97 0.88 0.83 0.82 0.85 0.90 3.68 3.755
Heptana-
plus
8.21 6.20 4.09 2.64 2.02 1.84 2.12 71.01 72.815
Total 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00
M
C
7+

184.0 160.0 142.0 127.0 119.0 115.0 114.0 213.0 207.9
!
C
7+

0.816 0.799 0.783 0.770 0.762 0.758 0.757 0.833 0.843
Z 1.238 1.089 0.972 0.913 0.914 0.937 0.960
n
p
- %
0.000 9.024 21.744 38.674 55.686 72.146 81.301
S
L
- %
0.0 14.1 19.7 21.6 21.3 20.2 19.3



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 6 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3. DAFTAR PUSTAKA

1. Dake, L. P. : "Fundamentals of Reservoir Engineering," Elsevier, Amsterdam, 1978.
2. Amyx, J. W., Bass, D. M. dan Whiting, R. L. : "Petroleum Reservoir Engineering - Physical
Properties," McGraw-Hill, Inc., USA, 1960.
3. McCain Jr, W. D. : "The Properties of Petroleum Fluids," PennWell Publishing Co., Tulsa,
Oklahoma, 1990.
4. Whitson, C. H. dan Torp, S. B. : "Evaluating Constant Volume Depletion Data," SPE 10067;
Proceeding of the 56
th
Annual Fall Technical Conference and Exhibition of the SPE-AIME, San
Antonio, Texas, October 5-7, 1981.






















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 7 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. DAFTAR SIMBOL

M = berat molekul, lb/lb mol
n
p
= fraksi mol parsial
P = tekanan, psia
P
b
= tekanan pada titik jenuh, psia
P
i
= tekanan awal, psia
rb = volume fluida reservoir, cc
rb
b
= volume fluida reservoir pada titik jenuh, cc
S
L
= saturasi fluida, persen
T = temperatur,
o
F
v = volume fluida reservoir, cc
v
b
= volume fluida reservoir pada titik jenuh, cc
v
t
= volume total relatif, tanpa satuan
Z = faktor deviasi gas, tanpa satuan
! = specific gravity gas, tanpa satuan
















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 8 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. GAMBAR YANG DIGUNAKAN







Gambar 1. Skema Constant Composition Expansion (Flash Vaporization)











TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.03

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Metode Analisa Fluida di
Laboratorium

Halaman : 9 / 9
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu













Gambar 2. Penentuan Tekanan Bubble Point dari Data Constant Composition Expansion atau dari
Data Differential Liberation




Gambar 3. Skema Differential Liberation
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 1 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
ANALISA HASIL PVT


1. TUJUAN
Menganalisa hasil pemeriksaan laboratorium tentang PVT fluida reservoir, hidrokarbon dan
mengolahnya menjadi bentuk kurva faktor volume formasi (B), viskositas (!), kelarutan gas (R
s
) dan
kompresibilitas (c) minyak dan gas sebagai fungsi tekanan untuk memudahkan pemakaian di
lapangan.

2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Metode yang digunakan adalah pengolahan data hasil PVT hidrokarbon yang mengalami proses
pembebasan gas (gas vaporization process) flash dan differential.

2.2. PERSYARATAN
Data PVT flash dan differential tersedia kedua-duanya. Untuk analisa faktor volume formasi gas
(B
g
) dibutuhkan harga faktor penyimpangan gas (Z).

3. LANGKAH KERJA
3.1. PENGOLAHAN DATA MINYAK
3.1.1. Penghalusan Data Flash
1. Atas dasar harga perbandingan volume pengamatan terhadap volume pada tekanan
saturasi
"
"
#
$
%
%
&
'
sat
V
V
hitunglah harga Y dengan menggunakan persamaan :

"
"
#
$
%
%
&
'
(
(
)
1
) (
sat
b
V
V
P
P P
Y (1)
2. Buat grafik Y terhadap P pada kertas kartesian dan cari persamaan linier Y dalam P :
bP a Y * ) (2)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 2 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3. Hitung kembali harga volume relatif
"
"
#
$
%
%
&
'
sat
V
V
sebagai fungsi tekanan (P) berdasarkan
persamaan :

2
) (
1
bP aP
P P
V
V
b
sat
*
(
* )
"
"
#
$
%
%
&
'
(3)

3.1.2. Penghalusan Data Differential
1. Apabila volume relatif dalam laporan hasil PVT dinyatakan dalam perbandingan
volume pengamatan pada suatu tekanan (V) dengan volume residu (V
R
), maka ubahlah
volume relatif ini dalam bentuk perbandingan volume (V) dengan volume pengamatan
pada tekanan jenuh (V
sat
) dengan menggunakan persamaan berikut :

b
R
R
sat
P
V
V
P
V
V
V
V
"
"
#
$
%
%
&
'
"
"
#
$
%
%
&
'
)
"
"
#
$
%
%
&
'
(4)
2. Hitung harga !V dan !P berdasarkan persamaan :

"
"
#
$
%
%
&
'
( ) +
sat
V
V
V 1 (5)
P P P
b
( ) + (6)
3. Buat grafik !V terhadap !P pada kertas grafik log-log dan tentukan persamaan garis
linier dari hubungan tersebut menurut persamaan :
P C B V + * ) + log log log (7)
atau :

C
P B V ) (+ ) +
4. Hitung kembali harga
"
"
#
$
%
%
&
'
sat
V
V
berdasarkan persamaan linier dari langkah 3 :

C
sat
P B
V
V
) ( 1 + ( )
"
"
#
$
%
%
&
'
(8)

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 3 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. Tentukan harga berdasarkan penghalusan data pada langkah di muka :

b
P
R
P
sat R
V
V
V
V
V
V
"
"
#
$
%
%
&
'
"
"
#
$
%
%
&
'
)
"
"
#
$
%
%
&
'
(9)

3.1.3. Penentuan Harga B
o
dan R
s

1. Sesuai dengan harga tekanan dan temperatur kerja separator di lapangan, tentukan
harga :
a. Gas yang larut pada tekanan jenuh (R
sfb
) berdasarkan proses pembebasan gas flash.
Harga ini diperoleh dari hasil uji separator di laboratorium dengan jalan
menjumlahkan harga perbandingan gas-minyak (gas-oil ratio) yang berasal dari
separator dan tanki.
b. Faktor penyusutan minyak, shrinkage factor (b
o
) pada tekanan dan temperatur
standar, faktor volume formasi pada tekanan jenuh (P
b
) dari proses flash adalah :

of
ofb
b
B
1
) (10)
2. Harga faktor volume formasi minyak berdasarkan proses differential (B
od
) ditentukan
berdasarkan hubungan berikut ini :

R
od
V
V
B ) (11)
atau :

saturasi) (volume
1
"
"
#
$
%
%
&
'
)
sat
od
V
V
B

"
"
#
$
%
%
&
'
"
"
#
$
%
%
&
'
)
R sat
od
V V
V
B
1
(12)
3. Dari laporan hasil PVT differential dapat dibaca harga gas yang larut pada tekanan
jenuh dan tekanan yang lebih kecil masing-masing adalah R
sdb
dan R
sd
. Dari harga
tersebut dihitung harga gas yang telah dibebaskan sampai suatu harga tekanan tertentu,
yaitu :
) (
sd sdb
R R ( (13)

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 4 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Harga faktor volume formasi minyak (B
o
) dan gas yang terlarut (R
s
) dihitung dengan
persamaan :

odb
ofb
od o
B
B
B B ) (14)

) (
) (
) (
odb
ofb
sd sdb sfb s
B
B
R R R R ( ( ) (15)
5. Plot B
o
dan R
s
terhadap tekanan (P).
Catatan :
Harga B
o
untuk P > P
b
sama dengan harga B
of
pada tekanan yang sama.
Harga B
oi
sama dengan harga B
of
pada tekanan reservoir awal P
i
. Harga B
oi
ini
digunakan untuk menentukan cadangan minyak. Karena tekanan formasi berbeda pada
setiap kedalaman, maka untuk lapisan yang berbeda perlu menggunakan B
oi
yang
berbeda pula.

3.1.4. Penentuan Harga Viskositas dan Kompresibilitas Minyak
1. Baca harga viskositas minyak (!
o
) dari tabulasi data hasil proses pelepasan gas flash
dan plot !
o
terhadap P.
2. Baca harga kompresibilitas minyak (c
o
) dari tabulasi data untuk selang tekanan di atas
tekanan jenuh (P
b
). Bila tidak tercantum pada tabulasi tersebut tentukan harga
kompresibilitas minyak rata-rata (
o
c ) berdasarkan persamaan :

) (
) (
b i oi
oi ob
o
P P B
B B
c
(
(
) (16)

3.1.5. Penentuan Harga Faktor Volume Formasi Gas
1. Baca harga faktor penyimpangan gas (Z) dari tabulasi data hasil PVT proses
differential.
2. Hitung harga faktor volume formasi gas (B
g
) dengan persamaan :

ZT
P
B
g
35 . 35 ) (17)
Harga B
gi
diperoleh dari persamaan (17) dengan menggunakan harga tekanan reservoir
awal P
i
, termperatur reservoir T dan faktor penyimpangan gas pada tekanan reservoir
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 5 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
awal Z
i
. Harga B
gi
ini digunakan untuk menentukan cadangan gas. Karena tekanan
formasi berbeda pada setiap kedalaman, maka untuk lapisan yang berbeda perlu
menggunakan B
gi
yang berbeda pula.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 6 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. DAFTAR PUSTAKA

1. Amyx, J. W. , Bass, D. M. , dan Whiting, R. L. : "Petroleum Reservoir Engineering Physical
Properties", McGraw Hill Book Co. , 1960.
2. Moses. P. L. : "Engineering Application of Phase Behavior of Crude Oil and Condensate
Systems", JPT Vol.38, No. 8, July 1986.
3. Standing, M.B. : "Volumetric and Phase Behavior of Oil Field Hydrocarbon Systems", SPE
AIME, Dallas, 1977.






















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 7 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. DAFTAR SIMBOL

B
g
= faktor volume formasi gas, SCF/ft
3

B
o
= faktor volume formasi minyak gabungan, bbl/STB
b
o
= faktor penyusutan minyak-flash, STB/bbl
B
od
= faktor volume formasi minyak-differential, bbl/STB
B
of
= faktor volume formasi minyak-flash, bbl/STB
B
ofb
= faktor volume formasi minyak-flash pada tekanan jenuh
c
o
= kompresibilitas minyak, psi
-1

P = tekanan, psig
R
s
= kelarutan gas dalam minyak gabungan, SCF/STB
R
sd
= kelarutan gas dalam minyak-differential, SCF/STB
R
sfb
= kelarutan gas dalam minyak-flash, SCF/STB
T = temperatur, R
V = volume pengamatan, ft
3

V
R
= volume cairan pada kondisi standard - differential, STB
V
sat
= volume cairan pada tekanan jenuh, bbl
Y = faktor korelasi, tak berdimensi
Z = faktor penyimpangan gas, tak berdimensi
!
o
= viskositas minyak, cp

Subskrip :
d = proses differential
f = proses flash
b = kondisi jenuh (saturated)
i = kondisi awal
s = kondisi standar





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 8 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
6.1.1. Proses Pembebasan Gas
Pengukuran PVT dilaksanakan sedekat mungkin mencerminkan proses pembebasan gas
dari minyak yang terjadi mulai dari reservoir, tubing, pipa alir di permukaan sampai
separator dan tanki. Pembebasan gas dari larutan yang terjadi di tubing, pipa alir,
separator dan tanki mendekati proses flash, sedangkan di dalam reservoir mungkin terjadi
dua macam pembebasan gas yang berbeda tergantung harga saturasi gas (S
g
), yaitu :
1. pembebasan gas flash bila saturasi gas (S
g
) < saturasi gas equilibrium (S
ge
)
2. pembebasan gas differential bila S
g
> S
ge


6.1.2. Penghalusan Data
Hasil pengamatan PVT perlu diperhalus dengan bantuan dua persamaan empirik sesuai
dengan jenis pembebasan gas, yaitu :
1. Proses flash menggunakan persamaan :

"
"
#
$
%
%
&
'
(
(
)
1
) (
sat
b
V
V
P
P P
Y (1)

Plot Y terhadap P adalah linier sehingga dapat dicari konstanta a dan b dari
persamaan :
bP a Y * ) (2)

Jadi harga
"
"
#
$
%
%
&
'
sat
V
V
dihitung kembali berdasarkan persamaan :

2
) (
1
bP aP
P P
V
V
b
sat
*
(
* )
"
"
#
$
%
%
&
'
(3)

2. Proses differential menggunakan persamaan :
P C B V + * ) + log log log (7)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 9 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
dimana plot !P terhadap P pada kertas grafik log-log adalah linier sehingga konstanta
B dan C dapat dihitung.
Harga
"
"
#
$
%
%
&
'
sat
V
V
dihitung kembali dengan menggunakan persamaan :

C
sat
P B
V
V
) ( 1 + ( )
"
"
#
$
%
%
&
'
(8)

6.1.3. Penentuan B
of
dan B
od

Penentuan harga faktor volume minyak untuk proses flash memerlukan harga tekanan
operasi separator yang akan digunakan. Pemilihan harga tekanan dan temperatur operasi
yang tepat berpatokan pada sistem yang memberikan faktor penyusutan (b
o
) yang paling
besar. Berdasarkan harga b
o
ini maka faktor volume minyak flash dihitung sebagai berikut
:

o sat
of
b V
V
B
1
"
"
#
$
%
%
&
'
) (18)
Faktor volume minyak differential dihitung berdasarkan volume residu (V
R
) dengan
menggunakan persamaan :

"
"
#
$
%
%
&
'
"
"
#
$
%
%
&
'
)
R sat
od
V V
V
B
1


b
P
R sat
od
V V
V
B
"
"
#
$
%
%
&
'
"
"
#
$
%
%
&
'
)
1
(12)

6.1.4. Penentuan Kelarutan Gas dalam Minyak
Kelarutan gas dalam minyak untuk proses flash ditentukan oleh pilihan tekanan dan
temperatur operasi separator. Setelah dipilih kondisi operasi separator, maka kelarutan gas
dalam minyak pada tekanan jenuh diperoleh dari hubungan berikut ini :

tanki s separator s sfb
R R R ) ( ) ( * ) (19)
Pada umumnya harga R
sf
untuk P > P
b
tidak dilaporkan dalam hasil PVT, walaupun
demikian harga perkiraan R
sf
dihitung berdasarkan persamaan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 10 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

"
"
#
$
%
%
&
'
)
odb
ofb
sd sf
B
B
R R (20)

Harga kelarutan gas dalam minyak untuk proses pelepasan gas differential dapat dibaca
pada laporan hasil PVT mulai tekanan jenuh. Jadi R
sd
dibaca langsung dari hasil PVT.

6.1.5. Penentuan Harga B
o
dan R
s
Gabungan
Pada umumya sejarah produksi suatu reservoir minyak dapat mencapai harga tekanan
reservoir jauh di bawah tekanan jenuh. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar masa
produksi reservoir minyak itu berlangsung pada tekanan di mana hidrokarbon di dalam
reservoir mengalami pembebasan gas differential.
Sedangkan proses pembebasan gas di separator adalah flash dan semua parameter
produksi diukur setelah fluida keluar dari separator. Hal inilah yang menimbulkan
gagasan
1-2)
untuk menghitung B
o
dan R
s
gabungan. Persamaan yang digunakan adalah :

odb
ofb
od o
B
B
B B ) (14)

) (
) (
) (
odb
ofb
sd sdb sfb s
B
B
R R R R ( ( ) (15)

Jika harga
"
"
#
$
%
%
&
'
( ,
odb
ofb
sd sdb sfb
B
B
R R R ) ( mungkin terjadi pada tekanan yang rendah, maka
R
s
negatif ini dihilangkan saja. R
s
dibuat sama dengan nol untuk P = 14.7 psia dan kurva
R
s
terhadap P dibuat berdasarkan R
s
yang positif dan nol tadi.

6.1.6. Penentuan Harga c
o
dan !
o

Kompresibilitas minyak dihitung berdasarkan persamaan :

P B
dB
C
od
o
o
( ) (21)

atau
o
c antara tekanan P
i
dan P
b
ditentukan berdasarkan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 11 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

) (
b i oi
oi ob
o
P P B
B B
c
(
(
- (16)

Viskositas minyak diperoleh dari data flash, sehingga secara langsung dapat dibuat plot !
o

terhadap P.

6.1.7. Penentuan Harga B
g

Harga Z diukur dari gas yang dihasilkan dari pelepasan gas secara differential. Harga
faktor volume formasi (SCF/ft
3
) dihitung dari persamaan :

ZT
P
B
g
35 . 35 ) (17)
dengan menggunakan tekanan dan temperatur standar sebesar 14.7 psia dan 60 F.

6.2. PENENTUAN B
o

Harga B
o
diperoleh dari hasil gabungan data PVT proses pelepasan gas flash dan differential.
Sebagai contoh : data PVT seperti tercantum pada Tabel 1 dan Tabel 2. Sebelum perhitungan B
o

ini perlu dilakukan dua langkah :
1. Penentuan parameter operasi separator. Untuk contoh gunakan P = 100 psig dan T = 75 F,
seperti tercantum pada Tabel 2.
2. Penghalusan data flash dan differential dari hasil PVT.

6.2.1. Penghalusan Data Flash
Langkah - langkah perhitungan dengan menggunakan data Tabel l adalah sebagai berikut
:
1. Tentukan harga tekanan jenuh, yaitu tekanan pada harga V/V
sat
= 1.0. Dengan
menggunakan batasan ini diperoleh = 3,236 psig.
2. Sesuai dengan harga V/V
sat
hitung harga Y untuk P < P
b
dengan menggunakan
persamaan :

"
"
#
$
%
%
&
'
(
(
)
1
) (
sat
b
V
V
P
P P
Y (1)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 12 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Hasil perhitungan tertera pada Tabel 5.
3. Plot Y terhadap P menghasilkan titik melalui titik mana ditarik garis linier, seperti
dinyatakan oleh Gambar 1. Persamaan linier diperoleh berdasarkan koordinat dua titik
:
Y = 1.5 P = 360
Y = 1.9 P = 1,620
Konstanta persamaan garis lurus :
Y = a + bP
dihitung menggunakan koordinat kedua titik tersebut :

360 620 , 1
5 . 1 9 . 1
(
(
) b
= 3.1746 . 10
-4

) 360 ( 10 1746 . 3 5 . 1
4 (
. ( ) a
= 1.3860
4. Harga
"
"
#
$
%
%
&
'
sat
V
V
untuk P < P
b
dihitung berdasarkan persamaan :

2 4
10 1746 . 3 3860 . 1
236 , 3
1
P P
P
V
V
sat
(
. (
(
* )
5. Dengan menggunakan parameter operasi separator P = 100 psig dan T = 75 F serta
Tabel 2 diperoleh faktor penyusutan minyak (b
o
) = 0.5949. Jadi, harga faktor volume
minyak flash (B
of
) untuk P < P
b
adalah :

"
"
#
$
%
%
&
'
"
"
#
$
%
%
&
'
)
o sat
tf
b V
V
B
1


5949 . 0
1
10 1746 . 3 3806 . 1
236 , 3
1
2 4 /
0
1
2
3
4
. (
(
* )
(
P P
P
B
tf
bbl/STB
dan :
6810 . 1
5949 . 0
1
) )
ofb
B bbl/STB
Sedangkan B
of
pada P < P
b
, dihitung berdasarkan persamaan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 13 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

ofb
sat
of
B
V
V
B
"
"
#
$
%
%
&
'
)

"
"
#
$
%
%
&
'
)
sat
of
V
V
B 6810 . 1
Hasil perhitungan B
of
dicantumkan pada Tabel 6 dan grafik B
of
dapat dilihat pada
Gambar 2.

6.2.2. Penghalusan Data Differential
Langkah perhitungan dengan menggunakan data Tabel 1 adalah sebagai berikut :
1. Data volume relatif diberikan dalam bentuk V/V
R
sama dengan B
od
. Yang diperlukan
"
"
#
$
%
%
&
'
sat
V
V
dan harga ini diperoleh dari persamaan :

b R
R
sat
V V
V V
V
V
) / (
/
)
2. Hitung harga !V dan !P untuk P < P
b
dengan persamaan :

"
"
#
$
%
%
&
'
( ) +
sat
V
V
V 1
P P P
b
( ) +
Hasil perhitungan diberikan pada Tabel 7.
3. Plot !V terhadap !P pada kertas grafik log-log. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 3.
4. Tarik garis linier melalui hasil plot pada butir 3 dan cari persamaan linier tersebut.
Persamaan linier P C B V + * ) + log log log ditentukan atas harga koordinat dua
titik, yaitu :
!V = 0.08 !P = 470
!V = 0.2 !P = 1,550
7679 . 0
470 log 550 , 1 log
08 . 0 log 2 . 0 log
)
(
(
) C
log B = log 0.2 0.7679 log 1,550
= - 3.1448
B = 7.0986 . 10
-4

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 14 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
!P = 7.0986 . 10
-4
(!P)
0.7679

V/V
sat
= 1 7.0986 . 10
-4
(3,236 - P)
-0.7679

5. Harga B
od
ditentukan berdasarkan persamaan :

"
"
#
$
%
%
&
'
"
"
#
$
%
%
&
'
)
R sat
od
V V
V
B
1


odb
sat
od
B
V
V
B
"
"
#
$
%
%
&
'
)
Dari Tabel 1 diperoleh :
B
odb
= 2.075 bbl/STB
Hasil perhitungan dicantumkan pada Tabel 8 sedangkan grafik B
od
terhadap P dapat
dilihat pada Gambar 4.

6.2.3. Penentuan B
o
Gabungan
B
o
gabungan dihitung dengan menggunakan persamaan :

odb
ofb
od o
B
B
B B )

075 . 2
6810 . 1
od o
B B )
Hasil perhitungan diberikan pada Tabel 9 dan plot B
o
terhadap P dapat dilihat pada
Gambar 5.

6.3. PENENTUAN R
s

Contoh perhitungan R
s
gabungan menggunakan data yang tercantum pada Tabel 1 dan Tabel 2,
yaitu harga R
sfb
, R
sdb
dan R
sd
. Langkah perhitungan adalah sebagai berikut :
1. Sesuai dengan parameter operasi separator P = 100 psig dan T = 75 F diperoleh R
sfb
dari
Tabel 2.
R
sfb
= 950 + 68 = 1,018 SCF/STB
2. Dari Tabel l diperoleh harga :
R
sdb
= 1,518 SCF/STB

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 15 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3. Hitung gas yang terlarut (R
s
) dengan menggunakan persamaan :

) (
) (
) (
odb
ofb
sd sdb sfb s
B
B
R R R R ( ( )
Hasil perhitungan seperti tercantum pada Tabel 10 menunjukkan harga negatif pada tekanan
yang rendah. Hal ini dapat dihindari dengan membuat plot R
s
terhadap P dari harga R
s
yang
positif berpegang pada titik akhir adalah R
s
= 0 pada P = 0 psig seperti dapat dilihat pada
Gambar 6. Berdasarkan kurva itu diperoleh harga R
s
yang baru.

6.4. PENENTUAN B
g

Data PVT differential mengandung harga Z sebagai fungsi dari P seperti Tabel 3. Atas dasar
harga ini B
g
dihitung dengan menggunakan harga T = 258 F dan persamaan :

ZT
P
B
g
35 . 35 )
Untuk beberapa harga tekanan, plot B
g
terhadap P diberikan pada Gambar 7.

P (psig) Z B
g
(SCF/cuft)
2,938 0.886 164.1
2,607 0.879 146.8
2,301 0.878 129.8
1,903 0.884 106.8
1,505 0.897 83. 4


6.5. PENENTUAN KOMPRESIBILITAS MINYAK
Kompresibilitas minyak (c
o
) diukur untuk P > P
b
seperti diberikan pada Tabel 4. Bila diperlukan
harga c
o
rata-rata dari P
i
sampai P
b
, maka harga tersebut dihitung dengan menggunakan
persamaan :

) (
) (
b i oi
oi ob
o
P P B
B B
c
(
(
)

1 6
psi 10 4 . 23
) 236 , 3 000 , 6 ( 5799 . 1
) 5779 . 1 6801 . 1 (
( (
. )
(
(
)
o
c


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 16 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.6. GAMBAR DAN TABEL




Gambar 1. Fungsi Y






TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 17 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Gambar 2. Hubungan B
tf
terhadap P untuk Proses Flash









TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 18 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





Gambar 3. Hubungan !V terhadap !P







+
V

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 19 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





Gambar 4. Hubungan B
od
terhadap P untuk Proses Differential





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 20 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu























Gambar 5. Faktor Volume Formasi Minyak Gabungan





F
A
K
T
O
R

V
O
L
U
M
E

F
O
R
M
A
S
I

G
A
B
U
N
G
A
N
,
(
B
o
)
,

b
b
l
/
S
T
B

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 21 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 6. Faktor Kelarutan Gas










TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 22 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Gambar 7. Faktor Volume Formasi Gas






TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 23 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
TABEL 1
Contoh Data Fluida Reservoir dari Uji Flash dan Differential Liberation


Catatan: ( Data pada kolom (2) diperoleh dari uji flash.
( Data pada kolom (3), (4), (5), dan (6) diperoleh dari uji differential
liberation.
( Harga tekanan yang tertinggi adalah sama atau lebih besar dari tekanan
reservoir awal.


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 24 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
TABEL 1 (sambungan)
Contoh Data Fluida Reservoir dari Uji Flash Vaporization dan Differential Liberation


Catatan: ( Data pada kolom (2) diperoleh dari uji flash vaporization.
( Data pada kolom (3), (4), (5), dan (6) diperoleh dari uji differential
liberation.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 25 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
TABEL 2
Contoh Data Fluida Reservoir dari Uji Flash Vaporization dan Differential Liberation



TABEL 3
Data-Data Lain





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 26 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TABEL 4
Data Volumetrik dari Fluida Reservoir
















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 27 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TABEL 5
Harga Y








TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 28 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
TABEL 6
Faktor Volume Minyak Flash


TABEL 7
Harga !V dan !P




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 29 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
TABEL 8
Faktor Volume Formasi Minyak Differential




TABEL 9
Faktor Volume Formasi Minyak Gabungan




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.04

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Analisa Hasil PVT

Halaman : 30 / 30
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


TABEL 10
Faktor Gas Terlarut (R
s
) Gabungan












TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 1 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
PERSAMAAN KEADAAN


1. TUJUAN
Mengenal dan memahami persamaan keadaan yang telah digunakan secara luas dalam industri
perminyakan untuk menghitung sifat-sifat fisik dan kesetimbangan uap-cairan dari campuran
hidrokarbon.

2. METODE
Perhitungan sifat-sifat fisik dan kesetimbangan uap-cairan dari campuran hidrokarbon akan
dilakukan dengan persamaan Soave-Redlich-Kwong dan Peng-Robinson yang merupakan persamaan
kubik dengan dua konstanta empirik.

3. LANGKAH KERJA
3.1. PERSAMAAN KEADAAN SOAVE-REDLICH-KWONG
1. Hitung dan tabulasikan konstanta a
cj
, b
j
, m
j
,
2
1
j
! dan a
Tj
untuk masing-masing komponen
dengan persamaan :

" #
cj
cj
cj
P
RT
a
2
42747 . 0 $ (1)

cj
cj
j
P
RT
b 08664 . 0 $ (2)

2
176 . 0 574 . 1 480 . 0
j j j
m % % & ' $ (3)
dimana % adalah faktor aksentrik Pitzer yang dapat didefinisikan sebagai berikut :
) 1 (log ' & $
vr
P % pada T
r
= 0.7
dimana P
vr
adalah tekanan uap tereduksi yang dihitung pada T
r
= 0.7. Maka, harga faktor
aksentrik untuk masing-masing substansi murni adalah suatu konstanta.
" #
2
1
2
1
1 1
rj j j
T m & ' $ ! (4)

j cj Tj
a a ! $ (5)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 2 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Komponen
Temperatur
kritik,
o
R
T
cj

Tekanan
kritik, psia
P
cj

b
j
a
cj

Faktor
Aksentrik
%
j

m
j
!
j
a
Tj

C konstanta

2. Hitung konstanta campuran, b dan a
T
dengan persamaan :

(
$
j
j j
b y b (6)

((
& $
i j
ij Tj i T j i T
a a y y a ) 1 ( ) (
2
1
) (7)
dimana )
ij
adalah koefisien interaksi biner, yang diasumsikan tidak tergantung pada tekanan
dan temperatur. Harga koefisien ini diperoleh dengan cara mencocokkan persamaan keadaan
dengan data kesetimbangan gas-cairan untuk masing-masing campuran biner. Harga
koefisien ini berbeda-beda untuk setiap pasangan biner dan persamaan keadaan.

3. Hitung tekanan dengan persamaan berikut :

) ( b V V
a
b V
RT
P
M M
T
M
'
&
&
$ (8)


3.2. PERSAMAAN KEADAAN PENG-ROBINSON
1. Hitung dan tabulasikan konstanta a
cj
, b
j
, m
j
,
2
1
j
! dan a
Tj
untuk masing-masing komponen
dengan persamaan :

" #
cj
cj
cj
P
RT
a
2
45724 . 0 $ (9)

cj
cj
j
P
RT
b 07780 . 0 $ (10)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 3 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

2
26992 . 0 54226 . 1 37464 . 0
j j j
m % % & ' $ (11)
" #
2
1
2
1
1 1
rj j j
T m & ' $ ! (4)

j cj Tj
a a ! $ (5)

Komponen
Temperatur
kritik,
o
R
T
cj

Tekanan
kritik, psia
P
cj

b
j
a
cj

Faktor
Aksentrik
%
j

m
j
!
j
a
Tj

C konstanta

2. Hitung konstanta campuran, b dan a
T
dengan persamaan seperti pada langkah 3.1-2 di atas
:

(
$
j
j j
b y b (6)

((
& $
i j
ij Tj i T j i T
a a y y a ) 1 ( ) (
2
1
) (7)

3. Hitung tekanan dengan persamaan :

) ( ) ( ) ( b V b b V V
a
b V
RT
P
M M M
T
M
& ' '
&
&
$ (12)











TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 4 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmed, T. H. : "Comparative Study of Eight Equations of State for Predicting Hydrocarbon
Volumetric Phase Behavior," SPE Res. Eng. (Feb. 1988) 3, No. 1, 337-348.
2. Redlich, O. dan Kwong, J. N. S. : "On the Thermodynamics of Solutions. V An Equation of
State. Fugacities of Gaseous Solutions," Chem. Reviews (1949) 44, 233-244.
3. Soave, G. : "Equilibrium Constants from a Modified Redlich-Kwong Equation of State," Chem.
Eng. Sci. (1972) 27, No. 6, 1197-1203.
4. Pitzer, K. S., Lippmann, D. Z., Curl, R. F., Jr., Huggins, C. M. dan Peterson, D. E. : "The
Volumetric and Thermodynamic Properties of Fluids. II. Compressibility Factor, Vapor
Pressure and Entropy of Vaporization," J. Am. Chem. Soc. (1955) 77, No. 13, 3433-3440.
5. Peng, D. dan Robinson, D. B. : "A New Two-Constant Equation of State," I.&E.C. Fundamentals
(1965) 15, No. 1, 59-64.
6. Edmister, W. C. dan Lee, B. I. : "Applied Hydrocarbon Thermodynamics Volume I," 2
nd
Ed.,
Gulf Publishing Co., Houston, 1984.
7. Katz, D. L. dan Firoozabadi, A. : "Predicting Phase Behavior of Condensate/Crude-Oil Systems
Using Methane Interaction Coefficients," Trans., AIME (1978) 265, 1649-1655.
8. McCain, William D., Jr. : "The Properties of Petroleum Fluids Second Edition," PennWell
Publishing Company, 1990.












TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 5 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. DAFTAR SIMBOL

a = konstanta pada beberapa persamaan keadaan
a
c
= konstanta pada persamaan keadaan Soave-Redlich-Kwong dan Peng-Robinson
a
T
= koefisien ketergantungan-temperatur pada persamaan keadaan Soave Redlich-Kwong
dan Peng-Robinson
a
Ti
= koefisien ketergantungan-temperatur dari komponen i
a
Tj
= koefisien ketergantungan-temperatur dari komponen j
b = konstanta pada beberapa persamaan keadaan
b
j
= koefisien dari komponen j pada beberapa persamaan keadaan
m = konstanta pada persamaan keadaan Soave-Redlich-Kwong dan Peng-Robinson
m
j
= konstanta dari komponen j
P = tekanan, psia
P
c
= tekanan kritik, psia
P
cj
= tekanan kritik dari komponen j, psia
P
v
= tekanan uap, psia
P
vr
= tekanan uap tereduksi, P
v
/P
c

R = konstanta gas universal
T = temperatur,
o
R
T
c
= temperatur kritik,
o
R
T
cj
= temperatur kritik dari komponen j,
o
R
T
r
= temperatur tereduksi
V
M
= volume molar, yaitu volume 1 mol, cuft/lbmole
y
i
= fraksi mol dari komponen i
y
j
= fraksi mol dari komponen j

Huruf Yunani :

! = koefisien ketergantungan-temperatur pada persamaan keadaan Soave-Redlich-Kwong
dan Peng-Robinson
!
j
= koefisien ketergantungan-temperatur dari komponen j
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 6 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
)
ij
= koefisien interaksi biner pada persamaan keadaan Soave-Redlich-Kwong dan Peng-
Robinson
% = faktor aksentrik
%
j
= faktor aksentrik dari komponen j




























TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 7 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Belakangan ini, penelitian mengenai persamaan keadaan (Equation of State = EOS) telah
kembali kepada semangat dari van der Waals, yaitu persamaan kubik dengan dua buah
konstanta.
1
Dua persamaan populer yang telah diterima dalam industri perminyakan, Redlich-
Kwong dan Peng-Robinson, adalah persamaan kubik dengan dua buah konstanta empirik.
Kedua persamaan ini telah digunakan secara luas untuk menghitung sifat-sifat fisik dan
kesetimbangan uap-cairan dari campuran hidrokarbon.

Persamaan Keadaan Redlich-Kwong
Redlich dan Kwong mengajukan suatu persamaan keadaan yang ikut memperhitungkan
ketergantungan temperatur dari istilah daya tarik molekular pada suatu kelakuan yang mirip
dengan Clausius.
2

RT b V
b V V T
a
P
M
M M
$ &
*
*
+
,
-
-
.
/
'
' ) (
) (
2
1
(13)
Keuntungan dari persamaan Clausius adalah konstanta empirik ketiga tidak diikutsertakan.
Soave mengusulkan agar
2
1
T
a
digantikan dengan suatu istilah ketergantungan temperatur, yaitu
a
T
.
3

RT b V
b V V
a
P
M
M M
T
$ &
*
+
,
-
.
/
'
' ) (
) (
(14)
Kenyataan bahwa a
T
bervariasi pada temperatur menjadi tidak nyaman karena sebagian besar
aplikasi dari persamaan ini adalah pada temperatur yang konstan. Persamaan untuk a
T
adalah
!
c T
a a $ (15)
dimana a
c
adalah harga dari a
T
pada temperatur kritik dan ! adalah suatu bentuk
ketergantungan-temperatur tak berdimensi yang memiliki harga 1.0 pada temperatur kritik.
Modifikasi ini seringkali disebut persamaan keadaan Soave-Redlich-Kwong (Soave-Redlich-
Kwong (SRK) equation of state).

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 8 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Dengan membuat turunan pertama dan kedua dari persamaan (14) sama dengan nol pada titik
kritik akan menghasilkan :

c
c
P
RT
b 08664 . 0 $ dan
c
c
c
P
T R
a
2 2
42747 . 0 $ (16)
Satuan dari b dan a
c
tergantung pada satuan dari harga R yang dipilih.
Harga ! diperoleh dari :
" #
2
1
2
1
1 1
r
T m & ' $ ! (17)
dimana :

2
176 . 0 574 . 1 480 . 0 % % & ' $ m (18)
dimana % adalah faktor aksentrik Pitzer
4
, yang didefinisikan sebagai :
) 1 (log ' & $
vr
P % pada T
r
= 0.7 (19)
dimana P
vr
adalah tekanan uap tereduksi yang dihitung pada T
r
= 0.7. Oleh sebab itu, faktor
aksentrik adalah suatu konstanta untuk setiap substansi murni. Harga-harga tersebut
ditabulasikan pada Tabel 1 di belakang.

Persamaan Keadaan Peng-Robinson
Peng dan Robinson mengajukan suatu bentuk yang sedikit berbeda dari istilah daya tarik
molekular.
5

RT b V
b V b b V V
a
P
M
M M M
T
$ &
*
+
,
-
.
/
& ' '
' ) (
) ( ) (
(20)
Istilah a
T
adalah ketergantungan pada temperatur seperti pada persamaan keadaan Soave-
Redlich-Kwong; walaupun demikian, harganya tidak sama persis.
Koefisien-koefisien dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

c
c
P
RT
b 07780 . 0 $ dan
c
c
c
P
T R
a
2 2
45724 . 0 $ (21)
!
c T
a a $ (15)
dimana :
" #
2
1
2
1
1 1
r
T m & ' $ ! (17)
dan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 9 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

2
26992 . 0 54226 . 1 37464 . 0 % % & ' $ m (22)

Kaidah Pencampuran
Kaidah pencampuran berikut ini direkomendasikan untuk digunakan dalam persamaan keadaan
Soave-Redlich-Kwong dan Peng-Robinson.
6


(
$
j
j j
b y b dan
((
$
i j
Tij j i T
a y y a (23)
dimana :

2
1
) )( 1 (
Tj Ti ij Tij
a a a ) & $ (24)
Maka :

((
& $
i j
ij Tj Ti j i T
a a y y a ) 1 ( ) (
2
1
) (25)
Istilah )
ij
adalah koefisien interaksi biner, yang diasumsikan tidak tergantung pada tekanan dan
temperatur. Harga dari koefisien ini harus diperoleh dari mencocokkan persamaan keadaan
dengan data kesetimbangan gas-cairan untuk setiap campuran biner.
7
Koefisien interaksi biner
memiliki harga yang berbeda-beda untuk setiap pasangan biner dan untuk masing-masing
persamaan keadaan.

6.2. CONTOH SOAL
Suatu tabung laboratorium dengan volume 0.008829 cuft (250.0 cc) mengandung 0.007357 lb
mole (79.28 g) gas. Komposisi dari gas tersebut diberikan pada tabel di bawah ini. Temperatur
akan dinaikkan sampai dengan 709.6
o
R (250
o
F). Gunakan persamaan keadaan SRK untuk
menghitung tekanan yang diharapkan.

Komponen Komposisi, fraksi mol
Metana 0.6500
Etana 0.2500
n-Butana 0.1000
1.0000

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 10 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Gunakan harga 0.02 untuk koefisien interaksi biner antara metana dan n-butana dan 0.0 antara
metana dan etana.

Penyelesaian
1. Hitung konstanta-konstanta a
cj
, b
j
, m
j
,
2
1
j
! , a
Tj
.

" #
cj
cj
cj
P
RT
a
2
42747 . 0 $ (1)

cj
cj
j
P
RT
b 08664 . 0 $ (2)

2
176 . 0 574 . 1 480 . 0
j j j
m % % & ' $ (3)
" #
2
1
2
1
1 1
r j j
T m & ' $ ! (17)

j cj Tj
a a ! $ (15)


Komponen
Temperatur
kritik,
o
R
T
cj

Tekanan
kritik,
psia
P
cj

b
j
a
cj

Faktor
aksentrik
%
j

m
j
!
j
a
Tj

C
1
342.9 666.4 0.4784 8,687 0.0104 0.4964 0.6120 5,317
C
2
549.5 706.5 0.7232 21,042 0.0979 0.6324 0.8349 17,569
n-C
4
765.2 550.6 1.2922 52,358 0.1995 0.7870 1.0591 55,453

2. Hitung konstanta campuran, b dan a
T
.

(
$
j
j j
b y b (23)
b = (0.65)(0.4784) + (0.25)(0.7232) + (0.10)(1.2922) = 0.6210

((
& $
i j
ij Tj Ti j i T
a a y y a ) 1 ( ) (
2
1
) (25)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.05

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Persamaan Keadaan

Halaman : 11 / 11
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

773 , 10 ) 0 . 0 1 ( ) 453 , 55 453 , 55 )( 10 . 0 )( 10 . 0 (
) 01 . 0 1 ( ) 569 , 17 453 , 55 )( 25 . 0 )( 10 . 0 (
) 02 . 0 1 ( ) 317 , 5 453 , 55 )( 65 . 0 )( 10 . 0 (
) 01 . 0 1 ( ) 453 , 55 569 , 17 )( 10 . 0 )( 25 . 0 (
) 0 . 0 1 ( ) 569 , 17 569 , 17 )( 25 . 0 )( 25 . 0 (
) 0 . 0 1 ( ) 317 , 5 569 , 17 )( 65 . 0 )( 25 . 0 (
) 02 . 0 1 ( ) 453 , 55 317 , 5 )( 10 . 0 )( 65 . 0 (
) 0 . 0 1 ( ) 569 , 17 317 , 5 )( 25 . 0 )( 65 . 0 (
) 0 . 0 1 ( ) 317 , 5 317 , 5 )( 65 . 0 )( 65 . 0 (
2 / 1
2 / 1
2 / 1
2 / 1
2 / 1
2 / 1
2 / 1
2 / 1
2 / 1
$ & 0 '
& 0 '
& 0 '
& 0 '
& 0 '
& 0 '
& 0 '
& 0 '
& 0 $
T
a


3. Hitung tekanan.
lbmole / cuft 200 . 1
lbmole 007357 . 0
cuft 008829 . 0
$ $
M
V

) ( b V V
a
b V
RT
P
M M
T
M
'
&
&
$ (8)

) 6210 . 0 200 . 1 )( 200 . 1 (
773 , 10
) 6210 . 0 200 . 1 (
) 6 . 709 )( 732 . 10 (
'
&
&
$ P
P = 8,223 psia





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 1 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
KORELASI KARAKTERISTIK FLUIDA RESERVOIR


1. TUJUAN
Memperoleh :
1. Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
)
2. Faktor volume formasi minyak (B
o
)
3. Kompresibilitas minyak (c
o
)
4. Kelarutan gas alam di dalam air (R
sw
)
5. Faktor Volume Formasi air (B
w
)
6. Kompresibilitas air (c
w
)
7. Berat jenis (SG) gas bebas (!
gf
) dan gas terlarut (!
gd
)
8. Kerapatan jenis (density) minyak ("
o
)
9. Kerapatan jenis (density) air ("
w
)
10. Kerapatan jenis (density) gas ("
g
)
11. Faktor deviasi gas (Z)
12. Viskositas minyak (#
o
)
13. Viskositas air (#
w
)
14. Viskositas emulsi (#
E
)
15. Viskositas gas (#
g
)
16. Tegangan permukaan gas-minyak ($
o
)
17. Tegangan permukaan gas-air ($
w
)
18. Tekanan titik jenuh (P
b
)


2. METODE DAN PERSYARATAN
Korelasi-korelasi ini digunakan untuk memperoleh besaran yang tidak tersedia dalam hasil analisa
laboratorium atau kalau hasil analisa laboratorium itu meragukan.



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 2 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3. LANGKAH KERJA
3.1. PENENTUAN PERBANDINGAN MINYAK DAN GAS TERLARUT, R
s
(SCF/STB)
3.1.1. Korelasi Lasater (untuk
o
API > 15)
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki (P ! P
b
)
Temperatur reservoir (T)
SG gas pada kondisi standar (!
gsc
)
Derajat API minyak (
o
API)
2. Hitung harga
T
P
sgc b
!
.
3. Tentukan harga !
g
dari Gambar 1a berdasarkan harga pada langkah 2.
4. Berdasarkan harga derajat API minyak, tentukan berat molekul efektif minyak stock-
tank (M
o
) dari Gambar 1b.
5. Tentukan harga R
s
dari persamaan :

%
%
&
'
(
(
)
*
+
,
-
.
/
0
1
2
g
g
o
osc
s
M
R
!
!
!
1
) 350 )( 3 . 379 (
(1)

3.1.2. Korelasi Lasater (untuk
o
API < 15)
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki (P)
Temperatur reservoir (T)
SG gas pada kondisi standar (!
gsc
)
Derajat API minyak (
o
API)
2. Hitung harga R
s
dari persamaan :

83 . 0
1
) ( 00091 . 0
) ( 0125 . 0
10
10
,
,
-
.
/
/
0
1
2
T
API
sgc s
o
R ! (2)




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 3 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.2. PENENTUAN FAKTOR VOLUME FORMASI MINYAK (B
o
)
3.2.1. Undersaturated Faktor Volume Formasi Minyak
1. Siapkan data :
Tekanan titik jenuh (P
b
)
Tekanan (P)
faktor volume formasi minyak pada titik jenuh (B
ob
)
Kompresibilitas minyak (c
o
)
2. Tentukan harga B
o
dari persamaan :
3 4 5 6 P P C B B
b o ob o
+ 2 exp (3)

3.2.2. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Standing
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity (!
o
)
2. Tentukan harga B
ob
dari persamaan :
5 6
2 . 1 5
10 12 9759 . 0
Bob ob
C B
+
7 8 2 (4)
T R C
o
g
s Bob
25 . 1
5 . 0
8
%
%
&
'
(
(
)
*
2
!
!
(5)

I 131.5
5 . 141
AP
o
o
8
2 !

3.2.3. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Vazquez-Beggs
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity,
o
API
2. Tentukan harga B
ob
dari persamaan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 4 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

%
%
&
'
(
(
)
*
+ 8
%
%
&
'
(
(
)
*
+ 8 8 2
g
o
s
g
o
s ob
API
T R c
API
T c R c B
! !
) 60 ( ) 60 ( 1
3 2 1
(6)
Untuk
o
API

9 30
c
1
= 4.677 10
-4
; c
2
= 1.75 10
-5
; c
3
= 1.811 10
-8

Untuk
o
API >30
c
1
= 4.67 10
-4
; c
2
= 1.1 10
-5
; c
3
= 1.337 10
-9


3.2.4. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Glaso
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity (!
o
)
2. Tentukan harga B
ob
dari persamaan :

X
ob
B 10 18 2 (7)
3 4 5 6 3 4 5 6
2
log 27683 . 0 58511 . 6 log 91329 . 2
obs obs
B B X + + 2 (8)
T R B
o
g
s obs
968 . 0
526 . 0
8
%
%
&
'
(
(
)
*
2
!
!
(9)

API
o
o
8
2
5 . 131
5 . 141
!
3.2.5. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Al-Marhoun
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity (!
o
)
2. Tentukan harga B
ob
dari persamaan :

) 67 . 459 ( 10 18099 . 3
10 82594 . 1 ) 67 . 459 ( 10 62963 . 8 497069 . 0
4
3 4
8 7 8
7 8 8 7 8 2
+
+ +
T
F T B
ob
(10)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 5 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

20204 . 1 323294 . 0 74239 . 0
o g s
R F ! ! 2 (11)

API
o
o
8
2
5 . 131
5 . 141
!

3.2.6. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Dokla-Osman
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity (!
o
)
2. Tentukan harga B
ob
dari persamaan :

) 67 . 459 ( 10 80525 . 3
10 39775 . 1 ) 67 . 459 ( 10 56667 . 1 10 31935 . 4
6
3 3 2
8 7 8
7 8 8 7 8 7 2
+
+ + +
T
F T B
ob
(12)

882605 . 0 40402 . 0 773572 . 0 +
2
o g s
R F ! ! (13)

API
o
o
8
2
5 . 131
5 . 141
!

3.2.7. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Obomanu
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity (!
o
)
2. Tentukan harga B
ob
dari persamaan :
Untuk
o
API 9 30

79 . 0
4
8 . 1
) 67 . 459 (
6145832 . 5
10 065 . 1 0232 . 1
,
,
-
.
/
/
0
1
%
%
&
'
(
(
)
* 8
8 7 8 2
+
T R
B
o
g
s
ob
!
!
(14)



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 6 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Untuk
o
API > 30

8 . 1
) 67 . 459 (
10 0855 . 2
10 335 . 2
6145832 . 5
10 88374 . 7 3321 . 0
3
3 4
8
7 8
7 8 7 8 2
+
+ +
T
R
B
o
g
s
ob
!
!
(15)

3.2.8. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Farshad
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity (!
o
)
2. Tentukan harga B
ob
dengan persamaan :

X
ob
B 10 18 2 (16)
5 6 5 6
2
) log( 331 . 0 ) log( 551 . 0 6541 . 2 F F X 8 8 + 2 (17)
T R F
o g s
0976 . 0
3282 . 1 2369 . 0 5956 . 0
8 2
+
! ! (18)

API
o
o
8
2
5 . 131
5 . 141
!

3.2.9. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity (!
o
)
2. Tentukan harga B
ob
dengan persamaan :

5 . 1
0001 . 0 98496 . 0 F B
ob
8 2 (19)
T R F
o g s
45 . 0
5 . 1 25 . 0 755 . 0
8 2
+
! ! (20)

API
o
o
8
2
5 . 131
5 . 141
!
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 7 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.2.10. Saturated Faktor Volume Formasi Minyak Korelasi Abdul Majeed
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity (!
o
)
2. Tentukan harga B
ob
dengan persamaan :
T F F x B
ob
4 2 10 5
10 73 . 7 10 8987 . 6 10 8141 . 4 9657876 . 0
+ + +
7 8 7 + 8 2 (21)

222 . 5 147 . 0 2 . 1 + +
2
o g s
R F ! ! (22)

API
o
o
8
2
5 . 131
5 . 141
!


3.3. PENENTUAN KOMPRESIBILITAS MINYAK (c
o
)
3.3.1. Undersaturated Kompresibilitas Minyak Metode Vazquez-Beggs
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Tekanan (P), psia
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity,
o
API
2. Tentukan c
o
dengan persamaan :

3 4 3 4
P
API T R
c
o
g s
o
5
10 1
61 . 12 1180 2 . 17 1433 5
7
+ + 8 +
2
!
(23)

3.3.2. Undersaturated Kompresibilitas Minyak Metode Petrosky-Farshad
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Tekanan (P), psia
Gas gravity (!
g
)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 8 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Stock tank oil gravity,
o
API
2. Tentukan c
o
dengan persamaan :
3 4
5906 . 0 1885 . 0 6729 . 0
3272 . 0
6957 . 0 7
10 705 . 1
+ +
7 2 P T API R c
g
o
s o
! (24)

3.3.3. Undersaturated Kompresibilitas Minyak Metode Kartoatmodjo-Schmidt
1. Siapkan data :
Perbandingan kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
Temperatur (T),
o
F
Tekanan (P), psia
Gas gravity (!
g
)
Stock tank oil gravity,
o
API
2. Tentukan c
o
dengan persamaan :
3 4
1 35505 . 0 76606 . 0
3613 . 0
5002 . 0 6
10 8257 . 6
+ +
7 2 P T API R c
g
o
s o
! (25)


3.4. PENENTUAN KELARUTAN GAS DALAM AIR FORMASI (R
sw
)
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki (P), psia
Temperatur reservoir (T),
o
F
Persen berat padatan (S), %
2. Kelarutan gas dalam air formasi dihitung menggunakan persamaan :

2
CP BP A R
sw
8 8 2 (26)
dimana :

3
3
2
2 1 0
T A T A T A A A 8 8 8 2 (27)
dimana :
A
0
= 8.15839; A
1
= -6.12265 10
-2
; A
2
= 1.91663 10
-4
; A
3
= -2.1654 10
-7

dimana :

3
3
2
2 1 0
T B T B T B B B 8 8 8 2 (28)
dimana :
B
0
= 1.01021 10
-2
; B
1
= -7.44241 10
-5
; B
2
= 3.05553 10
-7
;
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 9 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
B
3
= -2.94883 10
-7

5 6
7 4
4
3
3
2
2 1 0
10
+
7 8 8 8 8 2 T C T C T C T C C C (29)
dimana :
C
0
= -9.02505; C
1
= 0.130237; C
2
= -8.53425 10
-4
;
C
3
= 2.34122 10
-6
; C
4
= -2.37049 10
-9

3. Pengaruh salinitas pada kelarutan gas dalam air formasi dihitung dengan persamaan :
285854 . 0
PureWater
Brine
0840655 . 0 log
+
+ 2
,
-
.
/
0
1
ST
R
R
sw
w
(30)


3.5. PENENTUAN FAKTOR VOLUME FORMASI (B
w
)
3.5.1. Korelasi Gould
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki (P), psia
Temperatur reservoir (T),
o
F
2. Tentukan B
w
dari persamaan :
P T T B
x x w
6 2 6 4
10 3 . 3 10 0 . 1 10 2 . 1 0 . 1
+ + +
7 + 7 8 7 8 2 (31)
T
x
= T 60

3.5.2. Korelasi Mc.Cain
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki (P), psia
Temperatur reservoir (T),
o
F
2. Tentukan harga !V
WT
dari Gambar 3 berdasarkan harga T.
3. Tentukan harga !V
WP
dari Gambar 4 berdasarkan harga P dan T.
4. Tentukan harga B
w
dari persamaan :
) 1 )( 1 (
WT WP w
V V B : 8 : 8 2 (32)



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 10 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.6. PENENTUAN KOMPRESIBILITAS AIR (c
w
)
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki (P)
Temperatur reservoir (T)
Gas terlarut
2. Tentukan harga kompresibilitas air dengan Gambar 5 berdasarkan harga P dan T.
3. Apabila terdapat gas terlarut, tentukan harga perbandingan kompresibilitas air dan gas
terlarut terhadap kompresibilitas air murni (Gambar 5).
4. Harga kompresibilitas air dengan gas terlarut di dalamnya adalah hasil kali langkah 2 dan 3.


3.7. PENENTUAN BERAT JENIS (SG) GAS TERLARUT (!
gd
) DAN GAS BEBAS (!
gf
)
3.7.1. SG Gas Terlarut (!
gd
)
1. Siapkan data :
R
s

Derajat API minyak pada 50 F
2. Baca harga !
gd
dari Gambar 6 berdasarkan harga R
s
dan API.

3.7.2. SG Gas Bebas (!
gf
)
1. Siapkan data :
SG rata-rata gas separator (!
gt
)
R
p

R
s

2. Hitung !
gf
dari persamaan :

) (
) ( ) (
s p
gd s gt p
gf
R R
R R
+
+
2
! !
! (33)
!
gt
> !
gf
> 0.56




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 11 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.8. PENENTUAN HARGA KERAPATAN JENIS MINYAK ("
o
)
3.8.1. Di bawah Titik Gelembung
1. Siapkan data :
Derajat API minyak
R
s

B
o

!
gd

2. Tentukan !
osc
dengan persamaan :

) 5 . 131 (
5 . 141
API
o
osc
8
2 ! (34)
3. Tentukan harga "
o
dengan persamaan :

o
s gd
osc
o
B
R
615 . 5
) 0764 . 0 (
) 4 . 62 (
!
!
"
8
2 (35)

3.8.2. Untuk Kondisi Di Atas Tekanan Titik Jenuh
1. Untuk kondisi di atas tekanan titik jenuh, dipakai persamaan :
)] ( exp[
b o ob o
P P c + 2 " " (36)


3.9. PENENTUAN DENSITAS AIR ("
w
)
1. Siapkan data :
Kadar padatan yang terlarut
B
w

2. Tentukan harga "
wsc
dari Gambar 7 berdasarkan kadar padatan yang terlarut.
3. Tentukan harga "
w
dari persamaan :

w
w
B
WSC
"
" 2 (37)



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 12 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.10. PENENTUAN HARGA KERAPATAN JENIS GAS ("
g
)
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki, psia
Temperatur, R
!
gf

Faktor deviasi gas (Z); lihat butir 3.11
2. Tentukan B
g
dari persamaan :

P
ZT
B
g
0283 . 0 2 (38)
3. Tentukan "
gsc
dari persamaan :
) 0764 . 0 (
gf gsc
! " 2 (39)
4. Tentukan "
g
dari persamaan :

g
gsc
g
B
"
" 2 (40)


3.11. PENENTUAN FAKTOR PENYIMPANGAN GAS (Z)
3.11.1. Metode Modifikasi Standing
Persyaratan: tidak mengandung gas asing (impurities).
1. Siapkan data :
Temperatur (T)
Tekanan yang dikehendaki (P)
Berat.jenis gas (SG)
2. Tentukan T
pc
dan P
pc
dengan Gambar 2 atau persamaan berikut ini :
SG 314 169 8 2
pc
T (41)
SG 5 . 57 75 . 708 8 2
pc
P (42)
3. Tentukan P
pr
dan T
pr
sebagai berikut :

pc
pr
T
T
T 2 (43)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 13 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

pc
pr
P
P
P 2 (44)
4. Tentukan harga konstanta di bawah ini :
101 . 0 36 . 0 ) 42 . 0 ( 39 . 1
5 . 0
+ + + 2
pr pr
T T A

pr pr
P T B ) 23 . 0 62 . 0 ( + 2

2
037 . 0
) 86 . 0 (
65 . 0
pr
pr
P
T
C
,
,
-
.
/
/
0
1
+
+
2

) 1 ( 9
6
10
32 . 0
+
2
pr
T
pr
P
D
D C B E 8 8 2

pr
T F log 32 . 0 132 . 0 + 2

) 1824 . 0 49 . 0 3106 . 0 (
2
10
pr pr
T T
G
8 +
2
5. Hitung harga Z dengan persamaan :

G
pr
B
FP e A A Z 8 + 8 2
+
) 1 ( (45)

3.11.2. Korelasi Wichert Aziz
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki
Temperatur
2. Hitung konstanta A dan B :
A = yH
2
S + yCO
2

B = yH
2
S
dimana :
yH
2
S = fraksi mol H
2
S dan yCO
2
= fraksi mol CO
2

3. Tentukan konstanta " dari persamaan :
# = 120 (A
0.9
A
1.6
) + 15 (B
0.5
B
4.0
) (46)
4. TentukanP
pc
* dan T
pc
*
T
*
pc
= T
pc
"
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 14 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
P
*
pc
= (P
pc
T
*
pc
) / (T
pc
+ B (1 B) ") (47)
5. Tentukan harga P
pr
dan T
pr
dari persamaan :

*
pc
pr
P
P
P 2 dan
*
pc
pr
T
T
T 2 (48)
6. Tentukan harga Z dari Gambar 8.

3.11.3. Cara Dranchuk, Purvis dan Robinson
1. Siapkan data :
Tekanan yang dikehendaki
Temperatur
2. Hitung harga P
r
dan T
r
.
3. Tentukan harga Z dengan persamaan :

) exp( ) 1 (
) ( ) ( 1
2
8
2
8
3
2
7
5
6 5
2
5
4
3
3 2
1
r r
r
r
r
r
r
r
r
r
r
A A
T
A
T
A A
T
A
A
T
A
T
A
A Z
" "
"
"
" "
+ 8 8
8 8 8 8 8 8 2
(49)
dimana :
"
r
=
r
r
ZT
P
27 . 0
A
1
= 0.31506237
A
2
= -1.04670990
A
3
= -0.57832729
A
4
= 0.53530771
A
5
= -0.61232032
A
6
= -0.10488813
A
7
= 0.68157001
A
8
= 0.68446549




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 15 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.12. PENENTUAN VISKOSITAS MINYAK (#
o
)
Menurut Sutton, Farashad (1986) dan Khan et al. (1987), berdasarkan tekanan, viskositas dari
minyak bumi dibagi menjadi tiga kategori antara lain :
1. Dead Oil Viscosity, yang didefinisikan sebagai viskositas minyak bumi pada tekanan atmosfer
(tidak ada gas terlarut) dan temperatur sistem.
2. Saturated Oil Viscosity, viskositas minyak bumi pada tekanan titik jenuh (P
b
) dan temperatur
reservoir.
3. Undersaturated Oil Viscosity, viskositas minyak bumi pada tekanan di atas titik jenuh (> P
b
)
dan temperatur reservoir.

3.12.1. Dead Oil Viscosity Korelasi Beal
1. Siapkan data :
Temperatur yang dikehendaki (T),
o
F
Derajat API minyak,
o
API
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :
3 4 3 4
X
o
oD
T
API %
&
'
(
)
*
8
7 8 2
+
200
360
10 87 . 1 32 . 0
53 . 4
7
# (50)

,
-
.
/
0
1 8
2
API
o
X
33 . 8 43 . 0
10 (51)

3.12.2. Dead Oil Viscosity Korelasi Beggs-Robinson
1. Siapkan data :
Temperatur yang dikehendaki (T),
o
F
Derajat API minyak,
o
API
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :
1 10 + 2
X
oD
# (52)

163 . 1
10
+
2 T X
z
(53)
3 4 API z
o
02023 . 0 0324 . 3 + 2 (54)



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 16 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.12.3. Dead Oil Viscosity Korelasi Glaso
1. Siapkan data :
Temperatur yang dikehendaki (T),
o
F
Derajat API minyak,
o
API
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :
5 6 5 6
X
o
oD
API T ) log( ) 10 ( 141 . 3
444 . 3 10 +
2 # (55)
5 6 447 . 36 log 313 . 10 + 2 T X (56)

3.12.4. Dead Oil Viscosity Korelasi Edbogah
1. Siapkan data :
Temperatur yang dikehendaki (T),
o
F
Derajat API minyak,
o
API
2. Tentukan harga viskostas dengan persamaan :
1 10 + 2
X
oD
# (57)

3 4 5 6 ) log( 5644 . 0 025086 . 0 8653 . 1
10
T API
o
X
+ +
2 (58)

3.12.5. Dead Oil Viscosity Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
1. Siapkan data :
Temperatur yang dikehendaki (T),
o
F
Derajat API minyak,
o
API
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :
3 4 5 6
8177 . 2 8
) log 10 16
+
7 2 T API
X
o
oD
# (59)
5 6 9718 . 26 log 7526 . 5 + 2 T X (60)

3.12.6. Saturated Oil Viscosity Korelasi Chew-Connally
1. Siapkan data :
Dead oil viscosity (#
oD
), cp
Kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 17 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

B
oD o
A# # 2 (61)

s
R
A
0081 . 0
10 8 . 0 2 . 0
+
7 8 2 (62)

s
R
B
00072 . 0
10 57 . 0 43 . 0
+
7 8 2 (63)

3.12.7. Saturated Oil Viscosity Korelasi Beggs-Robinson
1. Siapkan data :
Dead oil viscosity (#
oD
), cp
Kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :

B
oD o
A# # 2 (64)

515 . 0
) 100 ( 715 . 10
+
8 2
s
R A (65)

338 . 0
) 100 ( 44 . 5
+
8 2
s
R B (66)

3.12.8. Saturated Oil Viscosity Korelasi Khan
1. Siapkan data :
Tekanan (P), psia
Kelarutan gas dalam minyak pada titik jenuh (R
sob
), scf/STB
Tekanan titik jenuh (P
b
), psia
Stock tank oil gravity
Temperatur,
o
F
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :
Viskositas pada tekanan titik jenuh :

3 5 . 4 3 / 1
5 . 0
) 1 ( ) (
) ( 09 . 0
o r s
g
ob
R ! ;
!
#
+
2 (67)

460
) 460 ( 8
2
T
r
; (68)
Viskositas di bawah tekanan titik jenuh :
)] ( 10 5 . 2 exp[
4
14 . 0
P P
P
P
b
b
ob o
+ 7 %
&
'
(
)
*
2
+
# # (69)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 18 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.12.9. Saturated Oil Viscosity Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
1. Siapkan data :
Dead oil viscosity (#
oD
), cp
Kelarutan gas dalam minyak (R
s
), scf/STB
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :

2
0004034 . 0 9824 . 0 06821 . 0 F F
o
8 8 + 2 # (70)
5 65 6
Y
oD
R
s
F
5165 . 0 43 . 0 000845 . 0
10 8428 . 0 2001 . 0
8 +
7 8 2 # (71)

s
R
Y
00081 . 0
10
+
2 (72)

3.12.10. Undersaturated Oil Viscosity Korelasi Beal
1. Siapkan data :
Dead oil viscosity (#
oD
), cp
Viskositas pada tekanan titik jenuh (#
ob
), cp
Tekanan, psia
Tekanan titik jenuh (P
b
), psia
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :
) 038 . 0 024 . 0 )( ( 001 . 0
56 . 0 6 . 1
ob oD b ob o
P P # # # # 8 + 8 2 (73)

3.12.11. Undersaturated Oil Viscosity Korelasi Vazquez-Beggs
1. Siapkan data :
Viskositas pada tekanan titik jenuh (#
ob
), cp
Tekanan (P), psia
Tekanan titik jenuh (P
b
), psia
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :

M
b
ob o
P
P
%
%
&
'
(
(
)
*
2 # # (74)
] 10 9 . 8 513 . 11 exp[ 6 . 2
5 187 . 1
P M
+
7 + + 2 (75)



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 19 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.12.12. Undersaturated Oil Viscosity Korelasi Khan
1. Siapkan data :
Viskositas pada tekanan titik jenuh (#
ob
), cp
Tekanan (P), psia
Tekanan titik jenuh (P
b
), psia
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :
)] ( 10 6 . 9 exp[
5
b ob o
P P + 7 2
+
# # (76)

3.12.13. Undersaturated Oil Viscosity Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
1. Siapkan data :
Viskositas pada tekanan titik jenuh (#
ob
), cp
Tekanan (P), psia
Tekanan titik jenuh (P
b
), psia
2. Tentukan harga viskositas dengan persamaan :

) 038 . 0
006517 . 0 )( ( 001127 . 0 0081 . 1
59 . 1
8148 . 1
ob
ob b ob o
P P
#
# # #
8
+ + 8 2
(77)


3.13. PENENTUAN VISKOSITAS AIR (#
w
)
1. Siapkan data :
Temperature (T),
o
F
Tekanan (P), psia
Kadar padatan terlarut (S)
2. Tentukan harga #
w1
dengan persamaan :

B
w
AT 2
1
# (78)
dimana :

3
3
2
2 1 0
S A S A S A A A 8 8 8 2 (79)
A
0
= 109.574; A
1
= -8.40564; A
2
= 0.313314; A
3
= 8.72213 10
-3

dan

3
3
2
2 1 0
S B S B S B B B 8 8 8 2 (80)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 20 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
B
0
= -1.12166; B
1
= 2.63951 10
-2
; B
2
= -6.79461 10
-4
;
B
3
=-5.47119 10
-5
; B
4
= 1.55586 10
-6
3. Kemudian viskositas air dihitung dengan menggunakan persamaan :

2 9 5 1
10 1062 . 3 10 0295 . 4 9994 . 0 P P
w
w + +
7 8 7 8 2
#
#
(81)


3.14. PENENTUAN VISKOSITAS EMULSI (#
E
)
1. Siapkan data :
Jenis.emulsi : tight, medium atau loose
Kadar garam pada emulsi
#
o
(clean oil) dapat ditentukan dengan cara 3.12
2. Gunakan Gambar 10 untuk menghitung "Viscosity Ratio
Viscosity Ratio
) ( Oil Clean Viskositas
Emulsi Viskositas
o
#
2
3. Hitung #
E
dengan persamaan :
#
E
= #
o
Viscosity Ratio (82)


3.15. PENENTUAN VISKOSITAS GAS (#
g
)
3.15.1. Korelasi Carr et al (40 < T < 400
o
F)
1. Siapkan data :
Temperatur yang dikehendaki
Berat molekul gas atau berat jenis gas
Persen mol N
2
, CO
2
dan H
2
S (bila ada)
2. Berdasarkan data berat molekul atau berat jenis gas dan temperatur, tentukan #
1

dengan menggunakan Gambar 11.
3. Tambahkan koreksi untuk N
2
, CO
2
dan H
2
S pada #
1
dengan menggunakan Gambar
kecil pada Gambar 11.
4. Tentukan harga #/#
1
berdasarkan P
pr
dan T
pr
dari Gambar 12.
5. Tentukan harga #
g
dengan persamaan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 21 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

1
1
#
#
# # x
g
2 (83)

3.15.2. Korelasi Lee et al
1. Siapkan data :
Temperatur (T)
Z
Berat molekul udara (M)
Tekanan (P)
2. Tentukan "
g
dengan persamaan :

ZT
P
gf g
! " 0433 . 0 2 (84)
3. Tentukan konstanta K, X dan Y dengan persamaan :

T M
T M
K
8 8
8
2
19 209
) 02 . 0 4 . 9 (
5 . 1
(85)
M
T
X 01 . 0
986
5 . 3 8 8 2 (86)
X Y 2 . 0 4 . 2 + 2 (87)
4. Tentukan #
g
dengan persamaan :

4
10 ) exp(
+
2
Y
g g
X K " # (88)


3.16. PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN GAS - MINYAK ($
o
) UNTUK 100 F > T > 68
F
1. Siapkan data :
Temperatur (T)
Tekanan (P)
API
2. Tentukan $
oD
dari Gambar 13.
3. Tentukan Faktor Koreksi (FK) dari Gambar 14 (di dalam %)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 22 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Tentukan $
o
= %
&
'
(
)
*
100
FK
oD
$


3.17. PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN GAS - AIR ($
w
)
1. Siapkan data :
Temperatur (T)
Tekanan (P)
API
2. Tentukan $
w
dengan menggunakan Gambar 15.


3.18. PENENTUAN TEKANAN TITIK GELEMBUNG (P
b
)
3.18.1. Korelasi Standing
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :

,
,
-
.
/
/
0
1
+
%
%
&
'
(
(
)
*
2 4 . 1 10 2 . 18
83 . 0
X
g
s
b
R
P
!
(89)
) ( 0125 . 0 00091 . 0 API T X
o
+ 2 (90)

3.18.2. Korelasi Lasater
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 23 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
2. Tentukan P
b
dari persamaan :

4 3
2 2
8954 5520833332 . 32 9612 7291666665 . 55
3181 1979166666 . 21 28165 0208333333 . 5 10 5
/ ) 67 . 459 (
y y
y y P
T P P
f
g f b
+ 8
+ 8 7 2
8 2
+
!
(91)

) /( 132755 1
1
o s o
M R
y
! 8
2 (92)

Untuk
o
API

< 33 :
M
o
= 637.5 10
-10
(
o
API)
Untuk 33 <
o
API

< 55
M
o
= 368.259235822065 4.18989073101494 (
o
API)

Untuk
o
API > 55

%
%
&
'
(
(
)
*
+
+
2
2
)] [ln( 28861 1180141908 . 0
)] [ln( 17492 6885088841 . 0 5062 5801552468 . 9
exp
API
API
M
o
o
o

(93)

3.18.3. Korelasi Vazquez Beggs
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :

3 4
2
/ 1
3
1
) 67 . 459 (
exp
c
o
g
s
b
T
API c
c
R
P
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
0
1
,
-
.
/
0
1
8
2
!
(94)
o
API < 30
c
1
= 0.0362; c
2
= 1.0937; c
3
= 25.724

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 24 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
o
API > 30
c
1
= 0.0178; c
2
= 1.187; c
3
= 23.931

3.18.4. Korelasi Glaso
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :

5 6
2
30218 . 0 7447 . 1 7669 . 1
10
X X
b
P
+ 8
2 (95)

3 4
,
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
/
0
1
%
%
&
'
(
(
)
*
2
984 . 0
816 . 0
log
API
T
R
X
o
c
g
s
!
(96)
dimana c = 0.13 untuk minyak volatile dan c = 0.172 untuk black oil.

3.18.5. Korelasi Al-Marhoun
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :

87784 . 1
32657 . 1 1437 . 3 715082 . 0
) 67 . 459 ( 0053088 . 0
g
o s
b
T R
P
!
! 8
2 (97)

3.18.6. Korelasi Petrosky-Farshad
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 25 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :
3 4 34 . 12 10 727 . 112
8439 . 0 5774 . 0
+ + 2
g
X
s b
R P ! (98)
3 4
541 . 1
4 3911 . 1 5
10 916 . 7 10 561 . 4 API T X
o + +
7 + 7 2 (99)

3.18.7. Korelasi Dokla-Osman
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :
3 4
952584 . 0 01049 . 1 107991 . 0 724047 . 0
) 67 . 459 ( 86 . 8363
+ +
8 2 T R P
g o s b
! ! (100)

3.18.8. Korelasi Obomanu
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :

894757 . 6
bx
b
P
P 2 (101)

3 4
078748652 . 1
27 . 1
15 . 2
497 . 0
8 . 1
) 67 . 459 (
42241078 . 37
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
0
1
,
-
.
/
0
1 8
2
API
T
R
P
o
g
s
bx
!
(102)

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 26 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.18.9. Korelasi Farshad
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :

864 . 0
73495 . 0
10
65289256 . 51
,
,
-
.
/
/
0
1
2
X
g
s
b
R
P
!
(103)
3 4 3 4 API T X
o
017771 . 0 000337 . 0 8 2 (104)

3.18.10. Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
1. Siapkan data :
Temperatur (T),
o
F
Perbandingan minyak dan gas terlarut (R
s
), scf/STB
Berat jenis minyak pada tangki pengumpul,
o
API
Gas gravity (!
g
)
2. Tentukan P
b
dari persamaan :
o
API

< 30 :

3 4
9986 . 0
7972 . 0
10
784155757 . 16
,
,
-
.
/
/
0
1
2
X
g
s
b
R
P
!
(105)

3 4
) 67 . 459 (
1405 . 13
0
8
2
T
API
X (106)
o
API

< 30 :

3 4
9143 . 0
7587 . 0
10
746031746 . 31
,
,
-
.
/
/
0
1
2
X
g
s
b
R
P
!
(107)

3 4
) 67 . 459 (
2895 . 11
8
2
T
API
X
o
(108)

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 27 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. DAFTAR PUSTAKA

1. Brill, J. P. : Two Phase Flow in Pipes, Lecture Notes, University of Tulsa, Oklahoma.
2. Ikoku, Chi. U. : Natural Gas Production Engineering, John Wiley & Sons, 1984.
3. Ahmed, Tarek H. : Hydrocarbon Phase Behavior, Gulf Publishing Company 1989.
4. Dokla, M. E. dan Osman, M. E. : Correlation of PVT Properties for UAE Crudes, SPE 21342,
1990.
5. Al-Shammasi, A. A. : Bubble Point Pressure and Oil Formation Volume Factor Correlations,
SPE 53185, Proceeding of the 1999 SPE Middle East Oil Show, Bahrain, 20-23 February 1999.
6. Lasater, J. A. : Bubble Point Pressure Correlation, JPT (May 1958).
7. Al-Marhoun, M. A. : Pressure-Volume-Temperature Correlations for Saudi Crude Oils, SPE
13718, Proceeding of the SPE 1985 Middle East Oil Technical Conference and Exhibition,
Bahrain, 11-14 March 1985.
8. Khan, S. A., Al-Marhoun, M. A., Duffuaa, S. O. dan Abu-Khasim, S. A. : Viscosity Correlations
for Saudi Arabian Crude Oils, SPE 15720, Proceeding of the Fifth SPE Middle East Oil Show,
Bahrain, 7-10 March 1987.
9. Petrosky Jr., G. E. dan Farshad, F. F. : Pressure-Volume-Temperature Correlations for Gulf of
Mexico Crude Oils, SPE 26644, Proceeding of the 68
th
Annual Technical Conference and
Exhibition of the Society of Petroleum Engineers, Houston, Texas, 3-6 October 1993.
10. Petrosky Jr., G. E. dan Farshad, F. F. : Viscosity Correlations for Gulf of Mexico Crude Oils,
SPE 29468, Proceeding of the Production Operation Symposium, Oklahoma City, OK, 2-4 April
1995.
11. Glaso, O. : Generalized Pressure-Volume-Temperature Correlations, JPT (May 1980).
12. Kartoatmodjo, R. S. T. dan Schmidt, Z. : New Correlations for Crude Oil Physical Properties,
SPE 23556, 1991.







TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 28 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. DAFTAR SIMBOL

B
g
= faktor volume formasi gas, cuft/SCF
B
o
= faktor volume formasi minyak, bbl/STBO
B
w
= faktor volume formasi air, bbl/STBW
c
o
= kompresibilitas minyak, psi
-1

c
r
= kompresibilitas tereduksi (reduced compressibility)
c
w
= kompresibilitas air, psi
-1

P = tekanan, psia
P
b
= tekanan titik gelembung, psia
P
c
= tekanan kritis, psia
P
r
= tekanan tereduksi
P
pr
= tekanan tereduksi semu
P
pc
= tekanan kritis semu
R
p
= perbandingan gas-minyak kumulatif, SCF/STB
R
s
= perbandingan kelarutan gas dan minyak, SCF/STB
R
sw
= kelarutan gas alam di dalam air, SCF/STB
SG = Berat Jenis (specific gravity)
T = temperatur, R
T
c
= temperatur kritis, R
T
pc
= temperatur kritis semu
T
pr
= temperatur tereduksi semu
T
r
= temperatur tereduksi
y = fraksi mol
Z = faktor deviasi gas
"
g
= kerapatan jenis gas, lbm/ft
3

"
o
= kerapatan jenis minyak, lbm/ft
3

"
osc
= kerapatan jenis minyak pada kondisi standar, lbm/ft
3

"
w
= kerapatan jenis air, lbm/ft
3

!
o
= berat jenis minyak
!
qsc
= berat jenis minyak pada kondisi standar
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 29 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
!
gd
= berat jenis gas terlarut
!
gf
= berat jenis gas bebas
#
E
= viskositas emulsi, cp
#
g
= viskositas gas, cp
#
o
= viskositas minyak, cp
#
w
= viskositas air, cp
$
o
= tegangan permukaan gas-minyak, dynes/cm
$
w
= tegangan permukaan gas-air, dynes/cm























TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 30 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
6.2. CONTOH SOAL
6.2.l. Menentukan R
s

6.2.2. Menentukan B
o

6.2.2.1. Korelasi Standing
6.2.2.2. Korelasi Vazquez-Beggs
6.2.2.3. Korelasi Glaso
6.2.2.4. Korelasi Al-Marhoun
6.2.2.5. Korelasi Dokla-Osman
6.2.2.6. Korelasi Obomanu
6.2.2.7. Korelasi Farshad
6.2.2.8. Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
6.2.2.9. Korelasi Abdul Majeed
6.2.3. Menentukan c
o

6.2.3.1. Korelasi Vazquez-Beggs
6.2.3.2. Korelasi Petrosky-Farshad
6.2.3.3. Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
6.2.4. Menentukan B
w

6.2.4.1. Cara Gould
6.2.4.2. Cara Mc.Cain
6.2.5. Menentukan c
w

6.2.6. Menentukan !
gd

6.2.7. Menentukan "
o

6.2.8. Menentukan "
w

6.2.9. Menentukan Z (Cara Wichert & Aziz)
6.2.10. Menentukan Z (Cara Modifikasi Standing)
6.2.11. Menentukan "
g

6.2.12. Menentukan #
o

6.2.13. Menentukan #
E

6.2.14. Menentukan #
g

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 31 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.14.1. Cara Carr et al.
6.2.14.2. Cara Lee et al.
6.2.15.Menentukan $
og

6.2.16. Menentukan $
wg

6.2.17. Menentukan P
b

6.2.17.1. Korelasi Standing
6.2.17.2. Korelasi Lasater
6.2.17.3. Korelasi Vazquez-Beggs
6.2.17.4. Korelasi Glaso
6.2.17.5. Korelasi Al-Marhoun
6.2.17.6. Korelasi Petrosky-Farshad
6.2.17.7. Korelasi Dokla-Osman
6.2.17.8. Korelasi Obomanu
6.2.17.9. Korelasi Farshad
6.2.17.10. Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt

















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 32 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Korelasi karakteristik fluida reservoir dibuat berdasarkan data lapangan dan pengukuran di
laboratorium. Korelasi-korelasi ini dipergunakan hanya jika pengukuran di laboratorium tidak
tersedia atau hasil analisa di laboratorium meragukan.

6.2. CONTOH SOAL
6.2.1. Menentukan R
s

Data :
Tekanan = 2625 psia
Temperature = 200
o
F
Tank Oil Gravity = 30
o
API
Berat Spesifik Gas = 0.8
Penyelesaian :
Untuk gravity = 30
o
API digunakan korelasi Lasater (
o
API > 15)
182 . 3
) 460 200 (
) 8 . 0 )( 2625 (
2
8
2
T
P
gsc b
!

Dari gambar 1a diperoleh !
g
= 0.59.
Dari gambar 1b untuk 30
o
API diperoleh M
o
= 330.

%
%
&
'
(
(
)
*
+
,
-
.
/
0
1
2
g
g
o
osc
s
M
R
!
!
!
1
) 350 )( 3 . 379 (

scf/STB 1 507
59 . 0 1
59 . 0
) 330 (
) 876 . 0 )( 350 )( 3 . 379 (
. R
s
2 %
&
'
(
)
*
+
,
-
.
/
0
1
2


6.2.2. Menentukan B
o

6.2.2.1. Korelasi Standing
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 33 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Penyelesaian :
829912 . 0
39 5 . 131
5 . 141
5 . 131
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!

6749 . 942
) 250 ( 25 . 1
829912 . 0
950 . 0
589 25 . 1
5 . 0
5 . 0
2
8 %
&
'
(
)
*
2 8
%
%
&
'
(
(
)
*
2
ob
ob
B
o
g
s B
C
T R C
!
!


5 6 5 6
rb/STB 420957 . 1
6749 . 942 10 12 9759 . 0 10 12 9759 . 0
2 . 1 5 2 . 1 5
2
7 8 2 7 8 2
+ +
ob
B ob
B
C B
ob


6.2.2.2. Korelasi Vazquez-Beggs
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
Penyelesaian :
%
%
&
'
(
(
)
*
+ 8
%
%
&
'
(
(
)
*
+ 8 8 2
g
o
s
g
o
s ob
API
T R c
API
T c R c B
! !
) 60 ( ) 60 ( 1
3 2 1

3 43 4 3 4
3 4
rb/STB 367005 . 1
950 . 0
39
) 60 250 ( 10 337 . 1
950 . 0
39
) 60 250 ( 10 5 . 1 589 10 67 . 4 1
9
5 9
2
%
&
'
(
)
*
+ 7 8
%
&
'
(
)
*
+ 7 8 7 8 2
+
+ +
ob
ob
B
B


6.2.2.3. Korelasi Glaso
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 34 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Penyelesaian :
82991 . 0
39 5 . 131
5 . 141
5 . 131
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
393 . 874 ) 250 ( 968 . 0
829912 . 0
950 . 0
589 968 . 0
526 . 0
526 . 0
2 8 %
&
'
(
)
*
2 8
%
%
&
'
(
(
)
*
2 T R B
o
g
s obs
!
!

3 4 5 6 3 4 5 6
5 6 5 6 41065 . 0 ) 2 . 874 log( 27683 . 0 58511 . 6 ) 393 . 874 log( 91329 . 2
log 27683 . 0 58511 . 6 log 91329 . 2
2
2
+ 2 + + 2
+ + 2
X
B B X
obs obs

rb/STB 388461 . 1 10 1 10 1
41065 . 0
2 8 2 8 2
+ X
ob
B

6.2.2.4. Korelasi Al-Marhoun
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
Penyelesaian :
Tentukan harga B
ob
dari persamaan :
829912 . 0
39 5 . 131
5 . 141
5 . 131
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
53181 . 89
) 829912 . 0 ( ) 950 . 0 ( ) 589 (
20204 . 1 323294 . 0 74239 . 0 20204 . 1 323294 . 0 74239 . 0
2
2 2
F
R F
o g s
! !

rb/STB 272968 . 1
) 67 . 459 250 ( 10 18099 . 3
) 53181 . 89 ( 10 82594 . 1 ) 67 . 459 250 ( 10 62963 . 8 497069 . 0
) 67 . 459 ( 10 18099 . 3
10 82594 . 1 ) 67 . 459 ( 10 62963 . 8 497069 . 0
4
3 4
4
3 4
2
8 7 8
7 8 8 7 8 2
8 7 8
7 8 8 7 8 2
+
+ +
+
+ +
ob
ob
ob
B
B
T
F T B





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 35 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.2.5. Korelasi Dokla-Osman
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
Penyelesaian :
829912 . 0
39 5 . 131
5 . 141
5 . 131
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
4524 . 160
) 829912 . 0 ( ) 950 . 0 ( ) 589 (
882605 . 0 40402 . 0 773572 . 0 882605 . 0 40402 . 0 773572 . 0
2
2 2
+ +
F
R F
o g s
! !

rb/STB 381985 . 1
) 67 . 459 250 ( 10 80525 . 3
) 4524 . 160 ( 10 39775 . 1 ) 67 . 459 250 ( 10 56667 . 1 10 31935 . 4
) 67 . 459 ( 10 80525 . 3
10 39775 . 1 ) 67 . 459 ( 10 56667 . 1 10 31935 . 4
6
3 3 2
6
3 3 2
2
8 7 8
7 8 8 7 8 7 2
8 7 8
7 8 8 7 8 7 2
+
+ + +
+
+ + +
ob
ob
ob
B
B
T
F T B


6.2.2.6. Korelasi Obomanu
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
Penyelesaian :
829912 . 0
39 5 . 131
5 . 141
5 . 131
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 36 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
rb/STB 239706 . 1
8 . 1
) 67 . 459 250 (
10 0855 . 2
) 829912 . 0 (
) 950 . 0 (
10 335 . 2
6145832 . 5
589
10 88374 . 7 3321 . 0
8 . 1
) 67 . 459 (
10 0855 . 2
10 335 . 2
6145832 . 5
10 88374 . 7 3321 . 0
3
3 4
3
3 4
2
8
7 8
7 8 7 8 2
8
7 8
7 8 7 8 2
+
+ +
+
+ +
ob
ob
o
g
s
ob
B
B
T
R
B
!
!


6.2.2.7. Korelasi Farshad
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
Penyelesaian :
829912 . 0
39 5 . 131
5 . 141
5 . 131
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
91256 . 80
) 250 ( 0976 . 0 ) 829912 . 0 ( ) 950 . 0 ( ) 589 (
0976 . 0
3282 . 1 2369 . 0 5956 . 0
3282 . 1 2369 . 0 5956 . 0
2
8 2
8 2
+
+
F
F
T R F
o g s
! !

5 6 5 6
5 6 5 6
39777 . 0
) 91256 . 80 log( 331 . 0 ) 91256 . 80 log( 551 . 0 6541 . 2
) log( 331 . 0 ) log( 551 . 0 6541 . 2
2
2
+ 2
8 8 + 2
8 8 + 2
X
X
F F X

rb/STB 400157 . 1 10 1 10 1
39777 . 0
2 8 2 8 2
+ X
ob
B

6.2.2.8. Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 37 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
Penyelesaian :
829912 . 0
39 5 . 131
5 . 141
5 . 131
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
6832 . 273
) 250 ( 45 . 0
5 . 1
) 829912 . 0 (
25 . 0
) 950 . 0 (
755 . 0
) 589 ( 45 . 0
5 . 1 25 . 0 755 . 0
2
8
+
2 8
+
2
F
T
o g s
R F ! !

rb/STB 437724 . 1
) 6832 . 273 ( 0001 . 0 098496 . 0 0001 . 0 98496 . 0
5 . 1 5 . 1
2
8 2 8 2
ob
ob
B
F B


6.2.2.9. Korelasi Abdul Majeed
Data :
o
API = 39
!
g
= 0.950
R
sb
= 589 scf/STB
T = 250
o
F
Penyelesaian :
829912 . 0
39 5 . 131
5 . 141
5 . 131
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
361 . 5626
) 829912 . 0 ( ) 950 . 0 ( ) 589 (
222 . 5 147 . 0 2 . 1 222 . 5 147 . 0 2 . 1
2
2 2
+ + + +
F
R F
o g s
! !

STB rb B
B
T F F B
ob
ob
ob
/ 408058 . 1
) 250 ( 10 73 . 7 ) 361 . 5626 ( 10 8987 . 6 ) 361 . 5626 ( 10 8141 . 4 9657876 . 0
10 73 . 7 10 8987 . 6 10 8141 . 4 9657876 . 0
4 2 10 5
4 2 10 5
2
7 8 7 + 7 8 2
7 8 7 + 7 8 2
+ + +
+ + +








TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 38 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.3. Menentukan C
o

6.2.3.1. Korelasi Vazquez-Beggs
Data :
o
API = 40.7
!
g
= 0.786
R
sb
= 768 scf/STB
T = 220
o
F
P = 4514.7 psia
Penyelesaian :
3 4
1 5
5
5
psi 10 05218 . 1
) 7 . 4514 ( 10 1
) 7 . 40 ( 61 . 12 ) 786 . 0 ( 1180 ) 220 ( 2 . 17 1433 ) 768 ( 5
10 1
61 . 12 1180 2 . 17 1433 5
+ +
7 2
7
+ + 8 +
2
7
+ + 8 +
2
o
o
g s
o
c
P
API T R
c
!


6.2.3.2. Korelasi Petrosky-Farshad
Data :
o
API = 40.7
!
g
= 0.786
R
sb
= 768 scf/STB
T = 220
o
F
P = 4514.7 psia
Penyelesaian :
3 4
1 5
5906 . 0 1885 . 0 6729 . 0 3272 . 0 6957 . 0 7
5906 . 0 1885 . 0 6729 . 0
3272 . 0
6957 . 0 7
psi 10 45739 . 1
) 7 . 4514 ( ) 786 . 0 ( ) 220 ( ) 7 . 40 ( ) 768 ( 10 705 . 1
10 705 . 1
+ +
+ +
+ +
7 2
7 2
7 2
o
o
g
o
s o
c
c
P T API R c !


6.2.3.3. Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
Data :
o
API = 40.7
!
g
= 0.786
R
sb
= 768 scf/STB
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 39 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
T = 220
o
F
P = 4514.7 psia

Penyelesaian :
3 4
1 6
1 35505 . 0 76606 . 0 3613 . 0 5002 . 0 6
1 35505 . 0 76606 . 0
3613 . 0
5002 . 0 6
psi 10 15437 . 9
) 7 . 4514 ( ) 786 . 0 ( ) 220 ( ) 7 . 40 ( ) 768 ( 10 8257 . 6
10 8257 . 6
+ +
+ +
+ +
7 2
7 2
7 2
o
o
g
o
s o
c
c
P T API R c !



6.2.4. Menentukan B
w

Data :
T = 200
o
F
P = 2625 psia

6.2.4.l. Cara Gould :
T
x
= T 60 = 200 60 = 140
P T T B
x x w
6 2 6 4
10 3 . 3 10 0 . 1 10 2 . 1 0 . 1
+ + +
7 + 7 8 7 8 2
0082775 . 1 ) 2625 ( 10 3 . 3 ) 140 ( 10 0 . 1 ) 140 ( 10 2 . 1 0 . 1
6 2 6 4
2 7 + 7 8 7 8 2
+ + +
w
B

6.2.4.2. Cara Mc. Cain :
Harga !V
WT
dari Gambar 3 berdasarkan harga T = 200
o
F adalah = 0.039
Harga !V
WP
dari Gambar 4 berdasarkan harga P = 2625 psia dan T = 200
o
F adalah = -0.004
) 1 )( 1 (
WT WP w
V V B : 8 : 8 2
bbl/STB 035 . 1 ) 039 . 0 1 )( 004 . 0 1 ( 2 8 + 2
w
B






TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 40 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.5. Menentukan c
w

Menggunakan data soal 6.2.4, tentukan c
w
.
Penyelesaian :
Dari Gambar 5, c
w
(air murni ) = 3.15 10
-6
psi
-1

Dari Gambar 5, koreksi terhadap gas terlarut, R
sw
= 1.08
Jadi c
w
= (3 10
-6
)(1.08) = 3.402 10
-6
psi
-1



6.2.6. Menentukan !
gd

Data :
R
s
= 530 scf/STB
o
API = 30
Penyelesaian :
Dari Gambar 6, untuk R
s
= 530 dan API = 30, didapat !
gd
= 0.79.


6.2.7. Menentukan "
o

Data :
R
s
= 530 scf/STB
o
API = 30
!
gd
= 0.79
B
o
= 1.327 rb/STB
Penyelesaian :
876 . 0
30 5 . 131
5 . 141
) 5 . 131 (
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
osc
!
o
s gd
osc
o
B
R
615 . 5
) 0764 . 0 (
) 4 . 62 (
!
!
"
8
2
3
lbm/ft 3 . 45
) 327 . 1 (
615 . 5
) 530 )( 0764 . 0 )( 79 . 0 (
) 4 . 62 )( 876 . 0 (
2
8
2
o
"

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 41 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.8. Menentukan "
w

Data :
Total padatan yang terlarut 10% dan B
w
= 1.035.
Penyelesaian :
Dari Gambar 7, "
wsc
= 67 lbm/ft
3

lbm/ft 73 . 61
035 . 1
67
2 2 2
w
w
B
WSC
"
"


6.2.9. Menentukan Z (Cara Wichert & Aziz)
Data :
SG
gas
= 0.8
P = 2000 psia
T = 150 F
mol % CO
2
= 10 %
mol % H
2
S = 10 %
Penyelesaian :
T
pc
= 169.0 + 314.0 SG
= 169.0 + 314 (0.8) = 420
P
pc
= 708.75 + 57.5 (SG)
= 708.75 + 57.5 (0.8) = 663
Konstanta A dan B
A = yH
2
S + yCO
2
= 0.10 + 0.10 = 0.20
B = yH
2
S = 0.10
Tentukan konstanta # :
# = 120 (A
0.9
A
1.6
) + 15 (B
0.5
B
4.0
)
= 120 [(0.20)
0.9
(01.0)
1.6
] + 15 [(0.1)
0.5
(0.1)
4.0
]
= 23.8
T
*
pc
= T
pc
# = 420 23.8 = 396.2
P
*
pc
= (P
pc
T
*
pc
) / [T
pc
+ B (1 B) #]
= (663 396.2)/[420 + (0.1)(1- 0.1)(23.8)]
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 42 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
= 621.6
22 . 3
6 . 621
2000
*
2 2 2
pc
pr
P
P
P
54 . 1
2 . 396
610
*
2 2 2
pc
pr
T
T
T
Menggunakan Gambar 8, diperoleh Z = 0.788.


6.2.10. Menentukan Z (Cara Modifikasi Standing)
Data :
SG
gas
= 0.8
P = 2000 psia
T = 150 F
Penyelesaian :
T
pc
= 169 + 314 SG
= 169.0 + 314.0 (0.8) = 420
P
pc
= 708.75 + 57.5 (SG)
= 708.75 + 57.5 (0.8) = 663
42 . 1
420
610
2 2 2
pc
pr
T
T
T
02 . 3
663
2000
2 2 2
pc
pr
P
P
P
Tentukan harga konstanta di bawah ini :
101 . 0 36 . 0 ) 42 . 0 ( 39 . 1
5 . 0
+ + + 2
pr pr
T T A
388935 . 0 101 . 0 ) 45 . 1 ( 36 . 0 ] 42 . 0 ) 45 . 1 [( 39 . 1
5 . 0
2 + + + 2 A
pr pr
P T B ) 23 . 0 62 . 0 ( + 2
865230 . 0 ) 02 . 3 )]( 45 . 1 ( 23 . 0 62 . 0 [ 2 + 2 B
2
037 . 0
) 86 . 0 (
65 . 0
pr
pr
P
T
C
,
,
-
.
/
/
0
1
+
+
2
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 43 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6828 . 0 ) 02 . 3 ( 037 . 0
) 86 . 0 45 . 1 (
65 . 0
2
2
,
-
.
/
0
1
+
+
2 C
) 1 ( 9
6
10
32 . 0
+
2
pr
T
pr
P
D
0216 . 0
10
) 02 . 3 ( 32 . 0
) 1 45 . 1 ( 9
6
2 2
+
D
5696 . 1 2 8 8 2 D C B E
pr
T F log 32 . 0 132 . 0 + 2
080362 . 0 ) 45 . 1 log( 32 . 0 132 . 0 2 + 2 F
) 1824 . 0 49 . 0 3106 . 0 (
2
10
pr pr
T T
G
8 +
2
962933 . 0 10
) ) 45 . 1 ( 1824 . 0 ) 45 . 1 ( 49 . 0 3106 . 0 (
2
2 2
8 +
G
G
pr
B
FP e A A Z 8 + 8 2
+
) 1 (
7491 . 0 ) 02 . 3 )( 080262 . 0 ( ) 388935 . 0 1 ( ) 388935 . 0 (
) 962933 . 0 ( ) 5696 . 1 (
2 8 + 8 2
+
e Z


6.2.11. Menentukan "
g

Dengan data 6.2.9 dan !
gf
= 0.8, tentukan "
g
.
Penyelesaian :
P
ZT
B
g
0283 . 0 2
cf/SCF 006801 0
) 2000 (
) 610 )( 788 . 0 (
0283 . 0 . B
g
2 2
g
gf
g
B
) 0764 . 0 ( !
" 2
lbm/cuft 986 8
006801 . 0
) 0764 . 0 )( 8 . 0 (
.
g
2 2 "



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 44 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.12. Menentukan #
o

Data :
T = 220
o
F
R
s
= 768 scf/STB
o
API = 40.7
P
b
= 2685 psia
P = 5000 psia
Penyelesaian :
Dengan menggunakan korelasi Kartoatmodjo-Schmidt untuk menentukan dead oil viscosity.
4968 . 13 9718 . 26 ) 220 log( 7526 . 5
9718 . 26 ) log( 7526 . 5
+ 2 + 2
+ 2
X
T X

5 6
5 6 cp 651432 . 0 ) 220 ( ) 7 . 40 log( 10 16
) log( 10 16
8177 . 2 4968 . 13 8
8177 . 2 8
2 7 2
7 2
+ +
+
oD
X
o
oD
T API
#
#

Dengan menggunakan korelasi Kartoatmodjo-Schmidt untuk menentukan viskositas minyak
pada titik jenuh (bubble point).
238737 . 0 10 10
) 768 ( 00081 . 0 00081 . 0
2 2 2
+ +
s
R
Y
5 65 6
5 65 6 308447 . 0 ) 651432 . 0 ( 10 8428 . 0 2001 . 0
10 8428 . 0 2001 . 0
) 238737 . 0 ( 5165 . 0 43 . 0 ) 768 ( 000845 . 0
5165 . 0 43 . 0 000845 . 0
2 7 8 2
7 8 2
8 +
8 +
F
F
Y
oD
R
s
#

cp 371105 . 0 ) 308447 . 0 ( 0004034 . 0 ) 308447 . 0 ( 9824 . 0 06821 . 0
0004034 . 0 9824 . 0 06821 . 0
2
2
2 8 8 + 2
8 8 + 2
ob
ob
F F
#
#

Dengan menggunakan korelasi Kartoatmodjo-Schmidt untuk menentukan viskositas minyak
pada tekanan 5000 psia.
cp 391904 . 0
] ) 371105 . 0 ( 038 . 0
) 371105 . 0 )( 006517 . 0 )[( 8 . 2685 5000 ( 001127 . 0 ) 371105 . 0 ( 0081 . 1
) 038 . 0 006517 . 0 )( ( 001127 . 0 0081 . 1
59 . 1
8148 . 1
59 . 1 8148 . 1
2
8
+ + 8 2
8 + + 8 2
o
o
ob ob b ob o
P P
#
#
# # # #




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 45 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.13. Menentukan #
E

Data :
#
o
= 0.5876 cp
Jenis emulsi = medium
Persen garam pada emulsi = 50 %
Penyelesaian :
Dari Gambar 10 diperoleh viskositas ratio = 8
#
E
=

#
o
7 Viskositas ratio
= 0.5876 7 8 = 4.7 cp


6.2.14. Menentukan #
g

6.2.14.1. Cara Carr et al
Data :
SG
gas
= 0.8
P = 2000 psia
T = 150 F
y H
2
S = 10 %
y CO
2
= 10 %
Penyelesaian :
Dari Gambar 11 diperoleh : #
1
= 0.0111 cp
Korelasi terhadap 10 % H
2
S = + 0.0003
Korelasi terhadap 10 % CO
2
= + 0.0006
#
1
= 0.0111 + 0.0003 + 0.0006 = 0.0120 cp
Dari soal 6.2.11. : P
pr
= 3.02 dan T
pr
= 1.45
Dari Gambar 12 diperoleh : 53 . 1
1
2
#
#

cp 0184 . 0 ) 012 . 0 )( 53 . 1 (
1
1
2 2 7 2 #
#
#
#
g



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 46 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.14.2. Cara Lee et al
Data :
SG
gas
= 0.8
P = 2000 psia
T = 150 F
BM udara (M
u
) = 29
!
gf
= 0.8
Z = 0.788
Penyelesaian :
M = !
gf
M
u
= (0.8)(29) = 23.2
T M
T M
K
8 8
8
2
19 209
) 02 . 0 4 . 9 (
5 . 1

96 . 117
) 610 ( ) 2 . 23 ( 19 209
) 610 )]( 2 . 23 ( 02 . 0 4 . 9 [
5 . 1
2
8 8
8
2 K
M
T
X 01 . 0
986
5 . 3 8 8 2
35 . 5 ) 2 . 23 ( 01 . 0
) 610 (
986
5 . 3 2 8 8 2 X
X Y 2 . 0 4 . 2 + 2
33 . 1 ) 35 . 5 ( 2 . 0 4 . 2 2 + 2 Y
ZT
P
gf g
! " 0433 . 0 2
1441 . 0
) 610 )( 788 . 0 (
) 2000 (
) 8 . 0 ( 0433 . 0 2 2
g
"
) exp( 10
4 Y
g g
X K " #
+
2
cp 0177 . 0 ] ) 1441 . 0 )( 35 . 5 exp[( 10 ) 96 . 117 (
33 . 1 4
2 2
+
g
#




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 47 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.15. Menentukan $
og

Data :
o
API = 30
T = 100
o
F
P = 2000 psia
Penyelesaian :
Menggunakan Gambar 13 diperoleh $
oD
= 30 dynes/cm
Menggunakan Gambar 14 diperoleh (%) = 23
Tentukan $
o
= %
&
'
(
)
*
100
FK
oD
$ = dyne/cm 6.9
100
23
30 2 %
&
'
(
)
*



6.2.16. Menentukan $
wg

Data :
T = 280
o
F
P = 2000 psia
Penyelesaian :
Menggunakan Gambar 15, diperoleh $
w
= 40 dynes/cm


6.2.17. Menentukan P
b

6.2.17.1. Korelasi Standing
Data :
o
API = 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
Penyelesaian :
3172 . 0
) 3 . 40 ( 0125 . 0 ) 205 ( 00091 . 0
) ( 0125 . 0 00091 . 0
+ 2
+ 2
+ 2
X
X
API T X
o

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 48 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
psia 9 . 3391
4 . 1 10
756 . 0
1000
2 . 18 4 . 1 10 2 . 18
3172 . 0
83 . 0
83 . 0
2
,
,
-
.
/
/
0
1
+ %
&
'
(
)
*
2
,
,
-
.
/
/
0
1
+
%
%
&
'
(
(
)
*
2
+
b
X
g
s
b
P
R
P
!

6.2.17.2. Korelasi Lasater
Data :
o
API

= 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
Penyelesaian :
823632 . 0
3 . 40 5 . 131
5 . 141
) 5 . 131 (
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
645894 . 0
)] 4396 . 199 1000 /( ) 823632 . 0 )( 132755 [( 1
1
) /( 132755 1
1
2
7 8
2
8
2
o s o
M R
y
!

4
3 2 2
8954 5520833332 . 32
9612 7291666665 . 55 3181 1979166666 . 21 28165 0208333333 . 5 10 5
y
y y y P
f
+
8 + 8 7 2
+
8 . 3
4
) 645894 . 0 ( 8954 5520833332 . 32
3
) 645894 . 0 ( 9612 7291666665 . 55
2
) 645894 . 0 ( 3181 1979166666 . 21 ) 645894 . 0 ( 28165 0208333333 . 5
2
10 5
2
+ 8
+ 8
+
7 2
f
P
f
P

psia 9 . 3340
756 . 0 / ) 67 . 459 205 ( 8 . 3
/ ) 67 . 459 (
2
8 2
8 2
b
b
g f b
P
P
T P P !


6.2.17.3. Korelasi Vazquez Beggs
Data :
o
API

= 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 49 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Penyelesaian :
3 4
psia 3 . 3739
) 67 . 459 205 (
) 3 . 40 )( 93 . 23 (
exp ) 756 . 0 ( 0178 . 0
1000
) 67 . 459 (
exp
187 . 1 / 1
/ 1
3
1
2
2
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
0
1
,
-
.
/
0
1
8
2
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
0
1
,
-
.
/
0
1
8
2
b
b
c
o
g
s
b
P
P
T
API c
c
R
P
!


6.2.17.4. Korelasi Glaso
Data :
o
API = 40.3 (asumsi jenis minyak bumi black oil, c = 0.172)
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
Penyelesaian :
3 4
365128 . 1
) 3 . 40 (
172 . 0 ) 205 (
756 . 0
1000
log log
984 . 0
816 . 0
984 . 0
816 . 0
2
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
0
1
%
&
'
(
)
*
2
,
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
/
0
1
%
%
&
'
(
(
)
*
2
API
c
g
s
o
T
R
X
!

5 6
psia 38 . 3850 10
2
) 365128 . 1 ( 30218 . 0 ) 365128 . 1 ( 7447 . 1 7669 . 1
2 2
+ 8
b
P

6.2.17.5. Korelasi Al-Marhoun
Data :
o
API

= 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 50 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Penyelesaian :
823632 . 0
3 . 40 5 . 131
5 . 141
) 5 . 131 (
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
87784 . 1
32657 . 1 1437 . 3 715082 . 0
) 67 . 459 ( 0053088 . 0
g
o s
b
T R
P
!
! 8
2
psia 3783
) 756 . 0 (
) 67 . 459 205 ( ) 823632 . 0 ( ) 1000 ( 0053088 . 0
87784 . 1
32657 . 1 1437 . 3 715082 . 0
2
8
2
b
P

6.2.17.6. Korelasi Petrosky-Farshad
Data :
o
API = 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
Penyelesaian :
3 4
16068 . 0 ) 3 . 40 ( 10 916 . 7 ) 205 ( 10 561 . 4
10 916 . 7 10 561 . 4
541 . 1 4 3911 . 1 5
541 . 1
4 3911 . 1 5
+ 2 7 + 7 2
7 + 7 2
+ +
+ +
X
API T X
o

3 4
3 4 psia 8 . 3930 34 . 12 ) 756 . 0 ( 10 ) 1000 ( 727 . 112
34 . 12 10 727 . 112
8439 . 0 ) 16068 . 0 ( 5774 . 0
8439 . 0 5774 . 0
2 + 2
+ 2
+ +
+
b
g
X
s b
P
R P !


6.2.17.7. Korelasi Dokla-Osman
Data :
o
API = 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
Penyelesaian :
823632 . 0
3 . 40 5 . 131
5 . 141
) 5 . 131 (
5 . 141
2
8
2
8
2
API
o
o
!
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 51 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3 4
3 4
psia 3307
) 67 . 459 205 ( ) 756 . 0 ( ) 823632 . 0 ( ) 1000 ( 86 . 8363
) 67 . 459 ( 86 . 8363
952584 . 0 01049 . 1 107991 . 0 724047 . 0
952584 . 0 01049 . 1 107991 . 0 724047 . 0
2
8 2
8 2
+ +
+ +
b
g o s b
P
T R P ! !


6.2.17.8. Korelasi Obomanu
Data :
o
API

= 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
Penyelesaian :

3 4
41 . 18547
) 3 . 40 ( ) 756 . 0 (
8 . 1
) 67 . 459 205 (
) 1000 ( 42241078 . 37
8 . 1
) 67 . 459 (
42241078 . 37
078748652 . 1
27 . 1 15 . 2
497 . 0
078748652 . 1
27 . 1
15 . 2
497 . 0
2
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
0
1
,
-
.
/
0
1 8
2
,
,
,
,
,
-
.
/
/
/
/
/
0
1
,
-
.
/
0
1 8
2
bx
bx
o
g
s
bx
P
P
API
T
R
P
!

psia 1 . 2690
894757 . 6
41 . 18547
894757 . 6
2 2 2
bx
b
P
P

6.2.17.9. Korelasi Farshad
Data :
0
API

= 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 52 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Penyelesaian :
3 4
785256 . 0 ) 3 . 40 ( 017771 . 0 ) 205 ( 000337 . 0
017771 . 0 000337 . 0
2 8 2
8 2
X
API T X
o

psia 6 . 2956
10 ) 756 . 0 (
) 1000 ( 65289256 . 51
10
65289256 . 51
864 . 0
) 785256 . 0 ( 73495 . 0
864 . 0
73495 . 0
2
,
-
.
/
0
1
2
,
,
-
.
/
/
0
1
2
b
X
g
s
b
P
R
P
!


6.2.17.10. Korelasi Kartoatmodjo-Schmidt
Data :
o
API = 40.3
!
g
= 0.756
R
sb
= 1000 scf/STB
T = 205
o
F
Penyelesaian :
3 4
6845 . 0
) 67 . 459 205 (
) 3 . 40 ( 2895 . 11
) 67 . 459 (
2895 . 11
2
8
2
8
2
X
T
API
X
o

psia 2259
10 ) 950 . 0 (
) 1000 ( 746031746 . 31
10
746031746 . 31
9143 . 0
6845 . 0 7587 . 0
9143 . 0
7587 . 0
2
,
-
.
/
0
1
2
,
,
-
.
/
/
0
1
2
b
X
g
s
b
P
R
P
!








TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 53 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.3. GRAFIK YANG DIGUNAKAN










Gambar 1a. Korelasi Lasater, hubungan y
g
terhadap P
b
!
g
/T

















Gambar 1b. Hubungan M terhadap Tank Oil Gravity


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 54 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





Gambar 2. Hubungan Untuk Memperkirakan Harga P
pc
dan T
pc
berdasarkan harga SG











TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 55 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 3. Hubungan antara !V
Wt
terhadap Temperatur







TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 56 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 4. Hubungan antara !V
Wp
terhadap Temperatur dan Tekanan







TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 57 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Gambar 5. Kompresibilitas Air, termasuk Efek dari Gas Terlarut
(menurut Dodson dan Standing)





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 58 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





Gambar 6. Hubungan untuk Memperkirakan Gas Gravity dari Kelarutan dan Gravity


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 59 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





Gambar 7. Hubungan antara Kelarutan Padatan terhadap Densitas Air Garam pada 14.7 psia dan
60
o
F






TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 60 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 8. Faktor Deviasi Gas Alam


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 61 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 9. Hubungan antara Perbandingan Viskositas terhadap Salinitas










TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 62 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 10. Viskositas Emulsi Minyak dan Air Garam




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 63 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Gambar 11. Viskositas Gas Hidrokarbon Parafinik pada 1 atm
(Carr, Kobayashi, dan Burrows)

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 64 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




Gambar 12. Hubungan antara Perbandingan Viskositas terhadap P
pr
dan T
pr







TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 65 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




Gambar 13. Tegangan Permukaan Minyak Mentah pada Atmosfir









TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 66 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




Gambar 14. Pengaruh Gas Terlarut terhadap Tegangan Permukaan







TEKNIK RESERVOIR NO : TR 02.06

JUDUL : ANALISA FLUIDA RESERVOIR
SUB JUDUL : Korelasi Karakteristik Fluida
Reservoir

Halaman : 67 / 67
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu






Gambar 15. Pengaruh Tekanan dan Temperatur terhadap Tegangan Permukaan