Anda di halaman 1dari 18

UJI BIOAVAILABILITAS DAN BIOEKIVALEN OBAT

I. TUJUAN
Setelah mengikuti percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk:
1. Menentukan status bioekivalensi dari suatu produk obat yang diuji
2. Merancang penelitian uji bioavailabilitas dan bioekivalensi suatu produk obat

II. PRINSIP
a. Bioavaibilitas Relatif
Bioavailibitas suatu produk obat dibandingkan dengan produk standar
BA
relatif
: [AUC]
A
/ [AUC]
B
x dose
B
/ dose
A

b. Bioavaibbilitas Absolut
Bioavaibilitas suatu produk obat dibandingkan dengan bioavaibilitas secara intravena

BA
absolut
= F= [AUC]
PO
/ [AUC]
IV
x dose
iv
/ dose
po

III. TEORI DASAR
Perkembangan terakhir dalam proses pengembangan dan pemasaran obat
banyak disesuaikan dengan perubahan sikap dari dokter, pejabat pemerintah, dan
masyarakat terhadap obat. Pada 10-20 tahun yang lalu industri-industri farmasi
banyak menekankan pada penemuan-penemuan obat baru, dan peta kefarmasian
pada saat itu ditandai dengan cepatnya suatu molekul obat baru ditemukan. Obat-
obat yang beredar tersebut harus telah mendapat pengakuan uji
bioavailabilitas/bioekivalensi oleh instansi setempat. Di Indonesia, Badan
Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melalui Peraturan Kepala BPOM-RI, 29
Maret 2005, tentang: Pedoman Uji BE dan Peraturan Kepala BPOM-RI, 18 juli
2005 tentang: Tata Laksana Uji Bioekivalensi, mewajibkan uji
bioavailabilitas/bioekivalensi (BA/BE) terhadap obat copy yang beredar.
Udjianto menjelaskan, penerapan uji BA/BE merupakan bagian dari fungsi Badan
POM.
Menurut BPOM RI, pada produk-produk tertentu bioavailabilitas dapat
ditunjukan dengan fakta yang diperoleh in vitro yang dilakukan dalam lingkungan
seperti in vivo yang sering disebut sebagai disolusi terbanding. Obat-obat ini
bioavailabilitasnya terutama bergantung pada obat yang berada dalam keadaan
terlarut. Laju disolusi obat dari produk obat tersebut diukur in vitro. Data laju
disolusi in vitro harus berhubungan dengan data bioavailabilitas in vivo untuk
obat tersebut (Shargel et.al, 2005).
Secara umum uji disolusi dirancang sebagai alat untuk mengoptimalkan
suatu formulasi baru atau sebagai kontrol kualitas memonitor keseragaman dan
reproduksibilitas produksi antar batch. Untuk tujuan penelitian uji disolusi
merupakan suatu pengujian yang relatif sensitif untuk membandingkan
keakuratan suatu formulasi sehingga data dapat dikorelasikan ke kondisi in vivo
(Abdou, 1989).
Uji disolusi terbanding dilakukan sebagai uji pendahuluan untuk
mengetahui pengaruh dari proses formulasi dan fabrikasi terhadap profil disolusi
dalam memperkirakan bioavailabilitas dan bioekivalensi antara produk uji dan
pembanding. Untuk produk-produk tertentu, uji disolusi terbanding dilakukan
sebagai pengganti uji ekivalensi in vivo sehingga apabila suatu produk telah lolos
uji disolusi terbanding ini, produk tersebut sudah dianggap ekivalen dengan
produk pembandingnya. (Shargel et.al, 2005; BPOM RI, 2004).
Uji disolusi in vitro dianjurkan bahwa potensi dan karakteristik disolusi in
vitro dari produk obat uji dan pembanding dipastikan dahulu sebelum dilakukan
uji BE. Hasilnya dilaporkan sebagai profil persen obat yang terlarut dalam waktu,
nomor batch kedua produk harus dicantumkan, demikian juga tanggal kadarluarsa
produk pembanding. Kandungan zat aktif antara kedua produk tidak boleh
berbeda lebih dari 5%. Jika potensi produk pembanding menyimpang > 5% dari
kandungan 100% yang tercantum dalam lebel, perbedaan ini dapat digunakan
kemudian koreksi dosis pada perhitungan parameter biovailabilitas pada studi BE.
Uji BA/BE sangat penting untuk menjamim efikasi dan keamanan obat
copy. Lewat studi ini dapat meyakinkan dokter dan masyarakat bahwa obat copy
yang diproduksi di Indonesia memiliki mutu yang baik dan harganya kompetitif.
Menyadari ketatnya persaingan ini, pemerintah dan gabungan pengusaha
farmasi Indonesia ( GPFI ) bergegas berbenah. BPOM, disamping telah
memberlakukan current Good Manufacturing Practice (cGMP), juga menetapkan
uji bioavailabilitas/bioekivalensi (BA/BE) terhadap obat copy yang beredar.
Lewat Peraturan Kepala BPOM-RI, 29 Maret 2005, tentang: Pedoman Uji BE dan
Peraturan Kepala BPOM-RI, 18 Juli 2005 tentang: Tata Laksana Uji
Bioekivalensi, uji BE menjadi prasyarat registrasi obat.


Bioavailabilitas terbagi menjadi 2, yaitu:
a. Bioavailabilitas absolut: bioavaibilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi
sistemik dari suatu sediaan obat dibandingkan dengan bioavaibiltas zat
aktif tersebut dengan pemberian intra vena. Bioavailabilitas absolut dapat diukur dengan
membandingkan AUC produk yang bersangkutan setelah pemberian oral dan IV.
Pengukuran dapat dilakukan sepanjang Vd dan K tidak tergantung pada rute
pemberian. Availabililitas absolut dengan menggunakan data plasma dapat ditentukan
sebagai berikut :

[]
[]

b. Bioavailabilitas relatif: bioavaibilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi
sistemik dari suatu sediaan obat dibandingakan dengan bentuk sediaan lain
selain intra vena. Availabilitas relatif dari dua produk obat yang diberikan pada dosis
dan rute pemberian yang sama dapat diperoleh dengan persamaan berikut :

[]
[]

Dimana produk obat B sebagai standar pembanding yang telah diketahui. Fraksi
tersebut dapat dikalikan 100 untuk memberi prosen availabilitas relatif. Jika dosis yang
diberikan berbeda, suatu koreksi untuk dosis dibuat seperti dalam persamaan berikut :

[]
[]

Penilaian ketersediaan hayati / bioavaibilitas pada sukarelawan dapat
dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode dengan menggunakan data
darah, data urin dandata farmakologis atau klinis. Data darah atau data urin
lazim digunakan untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode
analisis zat berkhasiatnyatelah diketahui cara dan validitasnya. Jika cara dengan
validitas analisis belum diketahui, dapat digunakan data farmakologi dengan
syarat efek farmakologi yangtimbul dapat diukur secara kuantitatif.

IV. ALAT & BAHAN
1. Alat
a. Komputer
b. Perangkat Lunak Microsoft Excel
2. Bahan
a. Soal Tugas Praktikum Uji Bioekivalensi Diktat Penuntun Praktikum
Biofarmasetik-Farmasetik, Volume 2. Laboratorium Farmakokinetik Fakultas
Farmasi Universitas Padjadjaran 2013

V. PROSEDUR
Data pengamatan yang didapatkan dari asisten praktikum berisikan data kadar
obat terhadap waktu diolah kedalam microsoft office excel. Kemudian dibuat kurva
grafik uji bioavailabilitasnya sehingga dapat di hitung bioavaibilitas dari suatu
suspensi sediaan oral yang akan di bandingkan dengan sediaan intravena.

VI. SOAL

1. Hitunglah BA absolut (F) suatu sediaan obat berupa suspense oral
konsentrasi zat aktif 50 mg/ml. apabila dibandingkan dgn i.v konsentrasi
zat aktif 100 mg/ml dmn dosis yg diberikan u/ suspense oral adalah 2
sendok teh sedangkan dosis i.v 2ml. data kadar obat sbb:
t (jam)
kadar (g/ml)
suspensi oral i.v
0,5 2,75 5,31
1 6,24 4,62
1,5 8,5 4,02
2 9,81 3,5
3 7,43 2,65
4 5,6 2,01
6 3,19 1,16
8 1,91 0,66



2. Nyatakan status BE dari ketiga sediaan kapsul uji (A,B,C) thdp sediaan
standar
sukarelawan
AUC
F kapsul C
kapsul A B C std
1 14,1 19,1 9,6 15,8 61
2 20,2 20 10,6 19 56
3 19 17,5 14,6 19,3 76
4 13,2 20,3 13,1 18,4 71
5 13,5 17,3 10,4 17,2 60
6 17,9 17,4 8,3 16,5 50
7 12,4 17,2 14,5 17,9 81
8 15,8 16,9 11,4 17,5 65
rata-rata F 65
standar deviasi 10
standar deviasi rataan 3,65310047
t(dk=7) 1,895
CLI (+) 71,96123517
CLI (-) 58,11598439

3. Sebutkan dan jelaskan scr lengkap faktor2 yg mempengaruhi BA suatu
obat/ produk obat!
Faktor fisiologis tubuh, seperti struktur saluran cerna, mekanisme
absorpsi obat, luas permukaan tempat absorpsi, kecepatan
pengosongan lambung, pergerakan usus, metabolisme
Faktor fisikokimia obat, seperti konstanta disosiasi dan kelarutan
dalam lemak, kelarutan, ukuran partikel
Formulasi, seperti penggunaan eksipien


VII. HASIL DAN JAWABAN PEMBAHASAN
1. Hitunglah bioavaibilitas (F) suatu sediaan obat berupa suspensi oral
(konsentrasi zat aktif 50mg/ml) apabila dibandingkan dengan sediaan injeksi
intravena (konsentrasi zat aktif 100mg/ml), dimana dosis yang diberikan
untuk suspensi oral adalah 2 sendok teh sedangkan dosis injeksi iv= 2ml. Data
kadar obat sebagai berikut:
Soal nomor 1 menjelaskan mengenai bioavaibilitas absolute suatu
obat. Bioavailabilitas absolute merupakan bioavaibilitas zat aktif yang
mencapai sirkulasi sistemik dari suatu sediaan obat dibandingkan dengan
bioavaibiltas zat aktif tersebut dengan pemberian intra vena. Bioavailabilitas absolut
dapat diukur dengan membandingkan AUC produk yang bersangkutan setelah pemberian
oral dan IV. Pengukuran dapat dilakukan sepanjang Vd dan K tidak tergantung pada rute
pemberian. Availabililitas absolut dengan menggunakan data plasma dapat ditentukan
sebagai berikut :

[]
[]


T
Kadar (g/ mL)
suspensi oral Iv
0 0 6,13494
0,5 2,75 5,31
1 6,24 4,62
1,5 8,5 4,02
2 9,81 3,5
3 7,43 2,65
4 5,6 2,01
6 3,19 1,16
8 1,91 0,66

Jawab :
T(jam)
Kadar AUC
PO AUC IV Ln IV Ln PO suspensi oral i.v
0 0 6,134938 0,6875 2,861235
0,5 2,75 5,31 2,2475 2,4825 1,669592 1,011601
1 6,24 4,62 3,685 2,16 1,530395 1,83098
1,5 8,5 4,02 4,5775 1,88 1,391282 2,140066
2 9,81 3,5 8,62 3,075 1,252763 2,283402
3 7,43 2,65 6,515 2,33 0,97456 2,005526
4 5,6 2,01 8,79 3,17 0,698135 1,722767
6 3,19 1,16 5,1 1,82 0,14842 1,160021
8 1,91 0,66 -0,41552 0,647103
TOTAL 40,2225 19,77873
AUC 0-
8 7,126865672 2,374101
AUC
TOTAL 47,34936567 22,15284

DOSIS 500 200
BA
ABSOLUT 85,49581146



0
5
10
15
0 5 10
Grafik Peroral
Grafik Peroral





2. Nyatakan status bioekivalensi dari kapsul uji terhadap sediaan standar dengan
data sebagai berikut:
sukarelawan
AUC
kapsul A B C std
0
2
4
6
0 5 10
Grafik Intravena
Grafik
Intravena
y = -0.2784x + 1.8142
R = 0.9999
-0.5
0
0.5
1
0 5 10
Grafik Ln IV
Grafik Ln IV
Linear (Grafik Ln
IV)
y = -0.2689x + 2.7901
R = 0.9993
0
0.5
1
1.5
2
0 5 10
GRAFIK LN ORAL
GRAFIK LN ORAL
Linear (GRAFIK
LN ORAL)
1 14,1 19,1 9,6 15,8
2 20,2 20 10,6 19
3 19 17,5 14,6 19,3
4 13,2 20,3 13,1 18,4
5 13,5 17,3 10,4 17,2
6 17,9 17,4 8,3 16,5
7 12,4 17,2 14,5 17,9
8 15,8 16,9 11,4 17,5

Jawab:
Kapsul A :
sukarelawan
AUC
F=(AUC A/ AUC STD)*100
kapsul A kapsul STD
1 14,1 15,8 89,24050633
2 20,2 19 106,3157895
3 19 19,3 98,44559585
4 13,2 18,4 71,73913043
5 13,5 17,2 78,48837209
6 17,9 16,5 108,4848485
7 12,4 17,9 69,27374302
8 15,8 17,5 90,28571429
Rata- rata 89,0342125
Standar deviasi 14,9665048
Standar deviasi rataan 5,291458517
t (dk=7) 1,895
CLI (+) 99,06152639
CLI (-) 79,00689861
Note : kriteria BE = 80- 125%
KESIMPULAN :
Kapsul A tidak ekuivalen dengan standar karena CLI (-) yang diperoleh kurang dari
80% . Sehingga perlu dilakukan penambahan sampel lagi dan diuji kembali. Dapat
digunakan sampel sebanyak 24.


Kapsul B:
Sukarelawan
AUC
Kapsul B
AUC Kapsul
Standar
F=(AUC B/ AUC STD)*100
1 19,11 15,8 120,9493671
2 20 19 105,2631579
3 17,5 19,3 90,67357513
4 20,3 18,4 110,326087
5 17,3 17,2 100,5813953
6 17,4 16,5 105,4545455
7 17,2 17,9 96,08938547
8 16,9 17,5 96,57142857
Rata-rata 103,2386177
Standar deviasi 9,512518225
Standar deviasi rataan 3,363183072
t (dk = 7) 1,895
CLI (+) 109,6118497
CLI (-) 96,86538582
Note : kriteria BE = 80- 125%
KESIMPULAN :
Kapsul B ekuivalen dengan standar karena nilai CLI yang diperoleh memenuhi
kriteria BE (80-125%)

Kapsul C :
Sukarelawa
n
AUC F kapsul C
F=(AUC C/ AUC STD)*100 A B C Std
1 14,1 19,1 9,6 15,8 61
2 20,2 20 10,6 19 56
3 19 17,5 14,6 19,3 76
4 13,2 20,3 13,1 18,4 71
5 13,5 17,3 10,4 17,2 60
6 17,9 17,4 8,3 16,5 50
7 12,4 17,2 14,5 17,9 81
8 15,8 16,9 11,4 17,5 65
rata-rata F 65
standar deviasi 10
standar deviasi rataan 3,65310047
t(dk=7) 1,895
CLI (+) 71,96123517
CLI (-) 58,11598439
Note : kriteria BE = 80- 125%
KESIMPULAN :
Kapsul C tidak ekuivalen dengan standar karena nilai CLI yang diperoleh tidak
memenuhi kriteria BE (80- 125%)
Nomor 3
Biovailabilitas obat sangat bergantung pada 2 faktor :
1. faktor obat
2. faktor pengguna obat.
Terdapat kemungkinan obat yang sama diberikan pada orang yang sama, dalam
keadan berbeda, memberikan kurva dosis-respon yang berbeda.
Faktor obat : Kelarutan obat, Ukuran partikel, Bentuk fisik obat, Dosage form,
Teknik formulasi, Excipient
Faktor Pengguna : Umur, berat badan, luas permukaan tubuh, Waktu dan cara
obat diberikan, Kecepatan pengosongan lambung, Gangguan hepar dan ginjal,
Interaksi obat lain
UKURAN PARTIKEL
Kecepatan disolusi obat berbanding lurus dengan luas permukaan yang kontak
dengan cairan. Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan obat, semakin
mudah larut. Dengan memperkecil ukuran partikel, dosis obat yang diberikan
dapat diperkecil pula, sehingga signifikan dari segi ekonomis. Terdapat hubungan
linier antara kecepatan absorpsi obat dengan logaritma luas permukaan. Sebagai
contoh, pemberian 500 mg griseofulvin bentuk mikro memberikan kadar plasma
yang sama dengan 1 g griseofulvin bentuk serbuk.Bahan-bahan obat yang
memberikan perbedaan absorpsi antara bentuk halus dan tidak halus antara lain,
acetosal, barbiturate, calciferol, chloramphenicol, digoxin, griseofulvin,
hydroxyprogesterone acetate, nitrofurantoine, spironolactone, sulfadiazine,
sulfamethoxine, sulfathiazole, sulfasoxazole, tetracycline, tolbutamide

KELARUTAN OBAT
Pengaruh daya larut obat bergantung pada sifat kimia (atau modifikasi kimiawi
obat) dan sifat fisika (atau modifikasi fisik obat).
Modifikasi Kimiawi Obat
a. Pembentukan Garam
Obat yang terionisasi lebih mudah dalam air dari[pada bentuk tidak terionisasi.
Pembentukan garam ini terutama penting dalam hal zat aktif berada dalam saluran
cerna, kelarutan modifikasi sewaktu transit di dalam saluran cerna, karena
perbedaan pH lambung dan usus.Peningkatan kecepatan pelarutan obat dalam
bentuk garam berlaku untuk obat-obat berikut : penicilline, barbiturate,
tolbutamide, tetracycline, acetosal, dextromethorphane, asam salisilat,
phenytoine, quinidine, vitamin-vitamin larut aie, sulfa, quinine
b. Pembentukan Ester
Daya larut dan kecepatan melarut obat dapat dimodifikasi dengan membentuk
ester. Secara umum, pembentukan ester memperlambat kelarutan obat. Beberapa
keuntungan bentuk ester, antara lain :
1. Menghindarkan degradasi obat di lambung. Ester dari erythromycin (misalnya
erythromycine succinat) memungkinkan obat tidak rusak pada suasana asam di
lambung. Ini merupakan semacam pro-drug, dalam suasana lebih basa di usus,
terjadi hidrolisis erythromycine ethylsuccinat.
2. Memperlama masa kerja obat
Misalnya esterifikasi dari hormon steroid.
3. Menutupi rasa obat yang tidak enak
Contohnya adalah ester dari kloramfenikol. Kloramfenikol palmitat dan
Kloramfenikol stearat dihidrolisis di usus halus untuk melepaskan
kloramfenikol.
Modifikasi Bentuk Fisik Obat
a. Bentuk Kristal atau Amorf
Bentuk amorf tidak mempunyai struktur tertentu, terdapat ketidakteraturan
dalam tiga dimensinya. Secara umum, amorf lebih mudah larut daripada
bentuk kristalnya. Misalnya Novobiocin, kelarutan bentuk amorf 10 x dari
bentuk Kristal.
b. Pengaruh Polimorfisme
Fenomena polimorfisme terjadi jika suatu zat menghablur dalam berbagai
bentuk Kristal yang berbeda, akibat suhu, teakanan, dan kondisi
penyimpanan. Polimorfisme terjadi antara lain pada steroid, sulanilamida,
barbiturat, kloramfenikol. Kloramfenikol palmitat terdapat dalam bentuk
polimorf A, B, C, dan amorf. Tetapi hanya bentuk polimorf B dan bentuk
amorf yang dapat dihidrolisis oleh usus.
c. Bentuk Solven dan Hidrat
Sewaktu pembentukan Kristal, cairan-pelarut dapat membentuk ikatan
stabil dengan obat, disebut solvat. Jika pelarutnya dalah air, ikatan ini
disebut hidrat. Bentuk hidrat memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan
bentuk anhidrat, terutama kecepatan disolusi. Ampisilina anhidrat lebih
mudah larut daripada Ampisilian trihidrat.
FAKTOR FISIKA KIMIA LAIN
a. pKa dan Derajat Ionisasi
Obat berupa larutan dalam air dapat diklasifikasi menjadi 3 kategori,
yaitu :
Elektrolit kuat ; seluruhnya berupa ion (contoh : Na, K, Cl)
Non elektrolit ; tidak terdisosiasi (contoh : gula, steroid)
Elektrolit lemah ; campuran bentuk ion & molekul
Konsentrasi relatif bentuk ion/molekul bergantung pada pKa obat dan
pH lingkungan. Kebanyakan obat dalam bentuk asam lemah atau basa
lemah, yang terabsorpsi secara difusi aktif, sehingga hanya bentuk
molekul (tidak terionisasi) yang terabsorpsi. Akibatnya perbandingan
ion/molekul sangat menentukan absorpsi.
Konsentrasi ion dari obat berupa asam lemah (misal asetosal)
meningkat dengan peningkatan pH media air. Sebaliknya Konsentrasi
molekul dari obat berupa asam lemah (misal alkaloid)meningkat
dengan apeningkatan pH media air. Sehingga asam lemah lebih
banyak diabsorpsi pada suasana asam (di lambung, pH 1-3),
sedangkan basa lemah lebih banyak diabsorpsi di usus (pH 6-8).
b. Koefisien Partisi Lemak-Air
Koefisien partisi menunjukkan rasio konsentrasi obat dalam 2 cairan
yang tidak bercampur. Koefisien partisi merupakan indeks dari
solubilitas komparatif suatu zat dalam 2 solven. Koefisien partisi
lemak-air digunakan sebgai indikator penumpukan obat di dalam
lemak tubuh. Normal lemak dalam tubuh adalah 10-25%, pada
keadaan obesitas dapat menjadi 50% atau lebih. Pada penderita
obesitas, obat dengan daya larut lemak tinggi akan menumpuk pada
lemak-tubuh dalam jumlah besardan menjadi depo di mana obat
dilepaskan secara perlahan. Pada pemberian barbiturate, pelepasan
obat diperlama dari depo, menyebabkan kondisi hang-over.
TEKNIK FORMULASI
Faktor-faktor manufaktur (pembuatan obat) dapat mengurangi
bioavailabilitas obat, diantaranya :
1. Peningkatan kompresi (tekanan) pada waktu pembuatan
meningkatkan kekerasan tablet. Hal ini menyebabkan waktu disolusi
dan disintegrasi menjadi lebih lama.
2. Penambahan jumlah bahan pengikat pada formula tablet atau granul
akan meningkatkan kekerasan tablet, mengakibatkan perpanjangan
waktu disintegrasi dan disolusi
3. Peningkatan jumlah pelincir (lubricant) pada formula tablet akan
mengurangi sifat hidrofilik tablet sehingga sulit terbasahi (wetted). Hal
ini memperpanjang waktu disintegrasi dan disolusi
4. Granul yang keras dengan waktu kompresi yang cepat serta
kekuatan yang tinggi akan menyebbakan peningkatan suhu kompresi,
sehingga obat yang berbentuk kristal mikro akan membentuk agregat
yang lebih besar.
EXCIPIENT
Obat jarang diberikan tunggal dalam bahan aktif. Biasanya dibuat
dalam bentuk sediaan tertentu yang membutuhkan bahan-bahan
tambahan (excipients). Obat harus dilepaskan (liberated) dari bentuk
bentuk sediaannya sebelum mengalami disolusi, sehingga excipients
dapat mengakibatkan perubahan disolusi dan absorpsi obat.
Contoh kasus pengaruh excipient pada bioavailabilitas terjadi pada
tahun 1971 di Australia. Banyak pasien yang mengkonsumsi tablet
fenitoin memperlihatkan gejala keracunan, meskipun kadar fenitoin
tablet tersebut tepat. Ternyata bahan pengisi pada formula tablet
tersebut menggunakan laktosa, sebelumnya kalsium sulfat.
Penggantian Laktosa menyebabkan peningkatan bioavailabilitas
sehingga terjadi efek toksis.
Zat-zat aktif permukaan (seperti tween dan span) atau zat hidrofil yang
mudah larut dalam air (polivinil pirolidon, carbowax), dapat
meningkatkan kecepatan disolusi tablet. Sebaliknya, zat-zat hidrofob
yang digunakan sebagai lubricant (misal magnesium stearat) dapat
menghambat disolusi. Kini lebih umum digunakan aerosol sebagai
lubricant karena tidak menghambat disolusi
Zat pengikat (pada tablet) dan zat pengental (pada suspensi), seperti
gom dan gelatin umumnya juga memperlambat disolusi. Sebaliknya
zat penghancur seperti amilum justru mempercepat disolusi.
Pemilihan basis suppositoria juga mempengaruhi kecepatan absorpsi
obat. Kini lebih umum basis sintetis dibandingkan oleum cacao. Tetapi
bberapa obat sukar dilepaskan dari basis ini. Sehingga indometasin
dan kloralhidrat lebih baik dibuat dalam basis carbowax, sedangkan
aminofilin dalam basis oleum cacao.
BENTUK SEDIAAN
Kecepatan disolusi sangat dipengaruhi oleh bentuk sediaan obat.
Kecepatan disolusi dari berbagai sediaan oral menurun dengan urutan
berikut : Larutan < suspensi < emulsi < serbuk < kapsul < tablet < film
coated (salut film) < dragee (salut gula) < enteric coated (salut selaput)
< sustained release/retard. Dapat dilihat bahwa tablet, meskipun murah
dan praktis, lebih rendah efektivitasnya dibandingkan sediaan cair,
serbuk, dan kapsul.


VIII. KESIMPULAN

Kapsul A tidak ekuivalen dengan standar karena CLI (-) yang
diperoleh kurang dari 80% . Sehingga perlu dilakukan penambahan sampel
lagi dan diuji kembali. Dapat digunakan sampel sebanyak 24. Kapsul B
ekuivalen dengan standar karena nilai CLI yang diperoleh memenuhi kriteria
BE (80-125%). Kapsul C tidak ekuivalen dengan standar karena nilai CLI
yang diperoleh tidak memenuhi kriteria BE (80- 125%)

IX. DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). 2004.
Pedoman Uji Bioekivalensi. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI.
Firda.2009. Ketersediaan hayati. http : www. repository.usu.ac.id ( Diakses pada
tanggal 30 November 2013).
Joenoes, N. Z. 2006. Ars Prescibendi Resep yang Rasional. Edisi Ke-3. Surabaya:
Airlangga University Press.
Lachman, L., H. A. Lieberman, dan L.K. Kanig. 2007. Teori dan Praktek Farmasi
Industri 2. Edisi Ke-3. Jakarta: UI Press.
Shargel, L. dan B.C. Andrew. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya: Airlangga University Press.