Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Pterigium didefinisikan sebagai pertumbuhan fibrovaskular yang berasal dari
jaringan subkonjungtiva yang pertumbuhannya mengarah ke kornea.
1,2
Biasanya
dapat berbentuk segitiga atau berbentuk sayap.
3
Pterigium sering digambarkan
memiliki bagian kepala, tubuh dan ekor. Pterigium ditandai dengan lokasi munculnya
lesi di sepanjang sumbu horisontal kornea biasanya muncul dari arah nasal tapi
kadang-kadang juga temporal atau keduanya nasal dan temporal.

!ika tidak diobati


pterigium dapat tumbuh menutupi permukaan kornea terutama yang terletak di depan
pupil dan dapat menyebabkan penurunan yang signifikan dalam tajam penglihatan
dan mungkin memerlukan pembedahan untuk rehabilitasi visual.
1-"
Prevalensi pterigium di #ndonesia pada kedua mata ditemui 3,2$ sedangkan
pterigium pada salah satu mata 1,%$. Prevalensi pterigium pada kedua mata tertinggi
di Provinsi &umatera Barat '%,$(, terendah di Provinsi )*# !akarta '+,$(.
Prevalensi pterigium pada salah salah satu mata tertinggi di Provinsi ,usa -enggara
barat ',1$(, terendah di Provinsi )*# !akarta '+,2$(.

)istribusi pterigium baik dua
mata maupun satu mata menurut pekerjaan terlihat tertinggi pada petani '.,1$( dan
terendah pada sekolah '1,+$(.
.
Pterigium hampir dapat ditemukan di berbagai daerah
di dunia, akan tetapi mereka lebih umum ditemukan di daerah beriklim hangat dan
kering. /aktor umum yang tampaknya mempengaruhi adalah garis lintang, karena
pterigium terjadi terutama dalam daerah sekitar garis khatulisti0a 1sabuk pterigium,1
dalam lintang 32 3 utara dan selatan khatulisti0a.
1-",4
Pada a0alnya Pterigium mungkin asimtomatik atau dapat juga sesekali
menyebabkan gejala seperti mata kering, seperti terbakar, gatal, atau lecet, karena lesi
menyebabkan kekeringan pada permukaan mata.
"
&eiring bertumbuhnya lesi,
peradangan berulang, iritasi, atau mulai terlihat jelasnya lesi mungkin dapat
1
mengganggu pasien. 5angguan visual dapat terjadi karena astigmatisme atau
sekunder akibat obstruksi ketika lesi bertumbuh menutupi aksis visual.
1-"
)erajat pertumbuhan pterigium dapat dibagi menjadi .
2
Pada tahap a0al
pterigium, pemberian ocular lubricants untuk menangani mata yang terasa kering
biasanya sudah cukup untuk pengobatan simptomatis. 6perasi dilakukan ketika lesi
sudah melebar dan mengganggu penglihatan, timbul keluhan lain ataupun indikasi
kosmetik.
"
7da beberapa jenis operasi yang sering dilakukan dalam penanganan
pterigium seperti bare sclera excision, conjunctival graft, conjunctival limbal graft
dan amniotic membrane transplantation. 8alaupun telah banyak teknik operasi yang
dikembangkan, angka kekambuhan pterigium masih relatif tinggi dimana pada bare
sclera excision angka kekambuhan mencapai +-.1$, conjunctival graft 14$-2".%$,
conjunctival limbal graft 1..$, dan 3-1+.%$ pada amniotic membrane
transplantation.
2
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Pterigium didefinisikan sebagai pertumbuhan fibrovaskular yang berasal dari
jaringan subkonjungtiva yang pertumbuhannya mengarah ke kornea.
1,2
Biasanya
dapat berbentuk segitiga atau berbentuk sayap.
3
Pterigium berasal dari bahasa 9unani,
yaitu pteron yang berarti sayap.
1+
Pterigium sering digambarkan memiliki bagian
kepala, tubuh dan ekor. Pterigium ditandai dengan lokasi munculnya lesi di sepanjang
sumbu hori:ontal kornea biasanya muncul dari arah nasal tapi kadang-kadang juga
temporal atau keduanya nasal dan temporal.

2.2. Epidemiologi
Prevalensi pterigium di #ndonesia pada kedua mata ditemui 3,2$ sedangkan
pterigium pada salah satu mata 1,%$. Prevalensi pterigium pada kedua mata tertinggi
di Provinsi &umatera Barat '%,$(, terendah di Provinsi )*# !akarta '+,$(.
Prevalensi pterigium pada salah salah satu mata tertinggi di Provinsi ,usa -enggara
barat ',1$(, terendah di Provinsi )*# !akarta '+,2$(.

)istribusi pterigium baik dua
mata maupun satu mata menurut pekerjaan terlihat tertinggi pada petani '.,1$( dan
terendah pada sekolah '1,+$(.
.
Pterigium hampir dapat ditemukan di berbagai daerah
di dunia, akan tetapi mereka lebih umum ditemukan di daerah beriklim hangat dan
kering. /aktor umum yang tampaknya mempengaruhi adalah garis lintang, karena
pterigium terjadi terutama dalam daerah sekitar garis khatulisti0a 1sabuk pterigium,1
dalam lintang 32 3 utara dan selatan khatulisti0a.
1-",4
Berdasarkan penelitian epidemiologi di seluruh dunia, tingkat prevalensi
pterigium berkisar antara +,3$ sampai 32,.$.
2
)i negara-negara di luar daerah ini
'di lintang utara atau selatan( melaporkan tingkat prevalensi biasanya tidak melebihi
2$ dari seluruh populasi dan lesi sebagian besar ditemukan pada pasien dengan
paparan sinar matahari yang cukup tinggi, seperti orang yang bekerja di luar rumah.
!ika dilihat berdasarkan jenis kelamin, insiden pada laki-laki lebih tinggi
3
dibandingkan dengan perempuan. ;al tersebut berhubungan dengan perbedaan gaya
hidup antar jenis kelamin 'laki-laki lebih sering menghabiskan 0aktu di luar
ruangan(.

Beberapa studi telah menunjukkan bah0a prevalensi pterigium meningkat


seiring berjalannya usia. <sia yang paling umum dari onset tampaknya berada pada
usia 2+-an dan 3+-an.
"
2.3 F!"o# $isi!o
/aktor risiko yang mempengaruhi pterigium adalah lingkungan yakni radiasi
ultraviolet sinar matahari, iritasi kronik dari bahan tertentu di udara dan faktor
herediter. *orelasi epidemiologi yang kuat antara munculnya pterigium dan paparan
sinar matahari telah mengarah pada asumsi bah0a paparan sinar matahari 'radiasi
<ltraviolet( mungkin memiliki peran patogenetik langsung. &inar <= diserap oleh
kornea dan konjungtiva yang akan mengakibatkan kerusakan sel dan proliferasi
abnormal. !umlah sinar <= yang diserap tergantung pada garis lintang, medan
reflektif, dan 0aktu yang dihabiskan di luar rumah. Penggunaan kacamata dan
pelindung matahari dapat mengurangi risiko.
1-",4
Beberapa penelitian bahkan menyatakan bah0a lokasi pterigium pada nasal
merupakan indikasi dari peran patogenesis cahaya matahari, karena cahaya yang
dipantulkan di daerah nasal akan jatuh pada limbus dan konjungtiva bulbar pada
daerah nasal sehingga mengakibatkan tingginya paparan matahari pada daerah
tersebut. >fek dari radiasi sinar <=-7 dan <=-B '2%+-++ nm( dianggap merugikan.
Pada tingkat molekuler, radiasi sinar <= dikaitkan dengan pembentukan radikal
bebas aktif yang menyerang dan menonaktifkan berbagai makromolekul.
1-",4
Bentuk periorbita, dengan adanya batas orbita superior, alis dan hidung yang
menonjol menunjukkan bah0a mata relatif terlindungi dari paparan cahaya langsung
dari atas. ,amun disisi lain, mata relatif tidak terlindungi dari paparan cahaya yang
tersebar dari ba0ah atau lateral. Pada studi-studi a0al meningasumsikan
kemungkinan bah0a paparan cahaya matahari dapat berkombinasi dengan paparan
debu atau pasir, sehingga mengarah ke peradangan permukaan mata kronis. ,amun,
data menunjukkan prevalensi pterigium tinggi pada pelaut atau nelayan, yang tinggal

di lingkungan tanpa debu melainkan mengalami peningkatan jumlah paparan cahaya


yang tersebar dari permukaan reflektif seperti permukaan laut. ;al ini menunjukkan
keterlibatan cahaya yang terpantul dalam perkembangan pterigium. Pada
kenyataannya cahaya matahari mungkin menyebar melalui jalur alternatif
'transcameral( ketika memasuki mata, sehingga dapat mengenai stem cell pada
limbus.

/aktor genetik juga ikut berperan terhadap terjadinya penyakit pterigium ini.
Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterigium dan
berdasarkan penelitian case control menunjukkan ri0ayat keluarga dengan pterigium,
kemungkinan diturunkan autosom dominan.
3
2.% P"ogenesis
>tiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas. -etapi penyakit ini lebih
sering pada orang yang tinggal di daerah iklim panas. 6leh karena itu gambaran yang
paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan
seperti paparan terhadap matahari 'ultraviolet(, daerah kering, inflamasi, daerah angin
kencang dan debu atau faktor iritan lainnya.
1,3,.,%

Pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva yang disebabkan kelainan
tear film menimbulkan pertumbuhan fibroplastik baru merupakan salah satu teori.
-ingginya insiden pterigium pada daerah dingin, iklim kering mendukung teori ini.
<ltraviolet adalah mutagen untuk p"3 tumor suppresor gene pada limbal basal stem
cell. -anpa apoptosis, transforming growth factor-beta diproduksi dalam jumlah
berlebihan dan menimbulkan proses kolagenase meningkat. &el-sel bermigrasi dan
terjadi angiogenesis. 7kibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat
jaringan subepitelial fibrovaskular. !aringan subkonjungtiva mengalami degenerasi
elastoik dan proliferasi jaringan vaskular ba0ah epithelium yang kemudian
menembus kornea. *erusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran Bo0man
oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular, sering disertai dengan inflamasi ringan.
>pitel dapat normal, tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia.
2,
"
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan
defisiensi limbal stem cell, terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada
permukaan kornea. 5ejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke
kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran basement dan
pertumbuhan jaringan fibrotik. -anda ini juga ditemukan pada pterigium dan karena
itu banyak penelitian menunjukkan bah0a pterigium merupakan manifestasi dari
defisiensi atau disfungsi limbal stem cell. *emungkinan akibat sinar ultraviolet terjadi
kerusakan limbal stem cell di daerah interpalpebra.
1,2,,"
Pemisahan fibroblast dari jaringan pterigium menunjukkan perubahan
phenotype, pertumbuhan banyak lebih baik pada media mengandung serum dengan
konsentrasi rendah dibanding dengan fibroblast konjungtiva normal. ?apisan
fibroblast pada bagian pterigium menunjukkan proliferasi sel yang berlebihan. Pada
fibroblast pterigium menunjukkan matriks metalloproteinase, dimana matriks
ekstraseluler berfungsi untuk jaringan yang rusak, penyembuhan luka, mengubah
bentuk. ;al ini menjelaskan kenapa pterigium cenderung terus tumbuh, invasi ke
stroma kornea dan terjadi reaksi fibrovaskular dan inflamasi.
1,,"
2.& 'm(#n Klinis dn Pem(gin P"e#igi)m
Pterigium lebih sering dijumpai pada laki-laki yang bekerja di luar rumah.
Bisa unilateral atau bilateral. *ira-kira %+$ terletak di daerah nasal. Pterigium yang
terletak di nasal dan temporal dapat terjadi secara bersamaan 0alaupun pterigium di
daerah temporal jarang ditemukan. *edua mata sering terlibat, tetapi jarang simetris.
Perluasan pterigium dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi
sumbu penglihatan, menyebabkan penglihatan kabur. &ecara klinis pterigium muncul
sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada
daerah fissura interpalpebra. Biasanya pada bagian nasal tetapi dapat juga terjadi
pada bagian temporal. )eposit besi dapat dijumpai pada bagian epitel kornea anterior
dari kepala pterigium 'stoker's line(.
1,2
Pterigium dibagi menjadi tiga bagian yaitu @ body, apex (head) dan cap.
Bagian segitiga yang meninggi pada pterigium dengan dasarnya ke arah kantus
.
disebut body, sedangkan bagian atasnya disebut apex dan ke belakang disebut cap.
ubepithelial cap atau halo timbul pada tengah apeks dan membentuk batas pinggir
pterigium. Pembagian pterigium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi atas 2 tipe,
yaitu pterigium progresifA tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di depan
kepala pterigium 'disebut cap pterigium( dan pterigium regresif dengan gambaran
tipis, atrofi, sedikit vaskular. 7khirnya menjadi membentuk membran tetapi tidak
pernah hilang.
2,%
Pada fase a0al pterigium tanpa gejala, hanya keluhan kosmetik. 5angguan
terjadi ketika pterigium mencapai daerah pupil atau menyebabkan astigmatisme
karena pertumbuhan fibrosis pada tahap regresi. *adang terjadi diplopia sehingga
menyebabkan terbatasnya pergerakan mata. Pterigium juga dapat dibagi ke dalam
derajat yaitu
2,%
@
1. )erajat 1 @ jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea.
2. )erajat 2 @ jika sudah mele0ati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm
mele0ati kornea.
3. )erajat 3 @ sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata
dalam keadaan cahaya normal 'pupil dalam keadaan normal sekitar 3 B mm(
. )erajat @ pertumbuhan pterigium mele0ati pupil sehingga mengganggu
penglihatan.
2.* Dignosis Bnding
&ecara klinis pterigium dapat dibedakan dengan dua keadaan yang sama yaitu
pinguekula dan pseudopterigium. Bentuknya kecil, meninggi, masa kekuningan
berbatasan dengan limbus pada konjungtiva bulbi di fissura interpalpebra dan
kadang-kadang mengalami inflamasi. -indakan eksisi tidak diindikasikan. Prevalensi
dan insiden meningkat dengan meningkatnya umur. Pinguekula sering pada iklim
sedang dan iklim tropis dan angka kejadian sama pada laki-laki dan perempuan.
Paparan sinar ultraviolet bukan faktor risiko penyebab pinguekula.
1,,",%
2
Pertumbuhan yang mirip dengan pterigium, pertumbuhannya membentuk
sudut miring seperti pseudopterigium atau !errien's marginal degeneration.
Pseudopterigium mirip dengan pterigium, dimana adanya jaringan parut fibrovaskular
yang timbul pada konjungtiva bulbi menuju kornea. Berbeda dengan pterigium,
pseudopterigium adalah akibat inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti
trauma, trauma kimia, konjungtivitis sikatrikal, trauma bedah atau ulkus perifer
kornea. <ntuk mengidentifikasi pseudopterigium, cirinya tidak melekat pada limbus
kornea. "robing dengan muscle hook dapat dengan mudah mele0ati bagian ba0ah
pseudopterigium pada limbus, dimana hal ini tidak dapat dilakukan pada pterigium.
Pada pseudopterigium tidak dapat dibedakan antara head, cap dan body dan
pseudopterigium cenderung keluar dari ruang fissura interpalpebra yang berbeda
dengan true pterigium.
1,,",%
2.+ Pen"l!snn
*eluhan fotofobia dan mata merah dari pterigium ringan sering ditangani
dengan menghindari asap dan debu. Beberapa obat topikal seperti lubrikans,
vasokonstriktor dan kortikosteroid digunakan untuk menghilangkan gejala terutama
pada derajat 1 dan derajat 2. <ntuk mencegah progresivitas, beberapa peneliti
menganjurkan penggunaan kacamata pelindung ultraviolet. #ndikasi eksisi pterigium
sangat bervariasi. >ksisi dilakukan pada kondisi adanya ketidaknyamanan yang
menetap, gangguan penglihatan bila ukuran 3- mm dan pertumbuhan yang progresif
ke tengah kornea atau aksis visual, adanya gangguan pergerakan bola mata. >ksisi
pterigium bertujuan untuk mencapai gambaran permukaan mata yang licin. &uatu
teknik yang sering digunakan untuk mengangkat pterigium dengan menggunakan
pisau yang datar untuk mendiseksi pterigium ke arah limbus. Pemisahan pterigium ke
arah ba0ah pada limbus lebih disukai, kadang-kadang dapat timbul perdarahan oleh
karena trauma jaringan sekitar otot. &etelah eksisi, kauter sering digunakan untuk
mengontrol perdarahan. Beberapa teknik operasi yang dapat menjadi pilihan yaitu
,",2-
1+
@
4
1. #are sclera @ tidak ada jahitan atau jahitan, benang absorbable digunakan
untuk melekatkan konjungtiva ke sklera di depan insersi tendon rektus.
Ceninggalkan suatu daerah sklera yang terbuka.
2. imple closure@ tepi konjungtiva yang bebas dijahit bersama 'efektif jika
hanya defek konjungtiva sangat kecil(.
3. liding flaps @ suatu insisi bentuk ? dibuat sekitar luka kemudian flap
konjungtiva digeser untuk menutupi defek.
. $otational flap@ insisi bentuk < dibuat sekitar luka untuk membentuk lidah
konjungtiva yang dirotasi pada tempatnya.
". %onjunctival graft@ suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior,
dieksisi sesuai dengan besar luka dan kemudian dipindahkan dan dijahit.
.. &mnion membrane transplantation@ mengurangi frekuensi rekuren pterigium,
mengurangi fibrosis atau skar pada permukaan bola mata dan penelitian baru
mengungkapkan menekan -5/-D pada konjungtiva dan fibroblast pterigium.
Pemberian mytomicin E dan beta irradiation dapat diberikan untuk
mengurangi rekuren tetapi jarang digunakan.
2. Lamellar keratoplasty, excimer laser phototherapeutic keratectomy dan terapi
baru dengan menggunakan gabungan angiostatik dan steroid.
2., Kompli!si
*omplikasi pterigium diantaranya merah, iritasi, jaringan parut kronis pada
konjungtiva dan kornea. Pada pasien yang belum dilakukan eksisi, distorsi dan
penglihatan sentral berkurang, dan dapat terjadi skar pada otot rektus medial yang
dapat menyebabkan diplopia. *omplikasi yang jarang adalah degenerasi malignan
pada jaringan epitel di atas pterigium yang ada. *omplikasi se0aktu operasi antara
lain perforasi korneosklera, oedem graft, graft hemorrhage, retraksi graft, jahitan
longgar, korneoskleral dellen, granuloma konjungtiva, epithelial inclusion cysts, skar
konjungtiva, skar kornea dan astigmatisma. *omplikasi yang terbanyak adalah
rekuren pterigium pasca operasi.
2,4-1+
%
2.- P#ognosis
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik, rasa tidak
nyaman pada hari pertama pasca operasi dapat ditoleransi, kebanyakan pasien setelah
4 jam post operasi dapat beraktivitas kembali. Fekurensi pterigium setelah operasi
masih merupakan suatu masalah dimana pada bare sclera excision angka
kekambuhan mencapai +-.1$, conjunctival graft 14$-2".%$, conjunctival limbal
graft 1..$, dan 3-1+.%$ pada amniotic membrane transplantation.
2
<ntuk
mengatasinya berbagai metode dilakukan termasuk pengobatan dengan antimetabolit
atau antineoplasia ataupun transplantasi dengan konjungtiva.
,",4
Pasien dengan rekuren pterigium dapat dilakukan eksisi ulang dan graft
dengan konjungtiva autograft atau transplantasi membran amnion. <mumnya
rekurensi terjadi pada 3 B . bulan pertama setelah operasi. Pasien dengan risiko tinggi
timbulnya pterigium seperti ri0ayat keluarga atau karena terpapar sinar matahari
yang lama dianjurkan memakai kacamata pelindung sinar ultraviolet dan mengurangi
terpapar sinar matahari.
",4-1+
1+
BAB III
LAP.$AN KASUS
3.1 Iden"i"s Psien
,ama Penderita @ ,anang ,uryanto
<mur @ 2 tahun
7lamat @ !l. &unset Foad ,o. Badung *uta )enpasar Bali
Pekerjaan @ Pega0ai di Perusahaan #nstalasi Pipa
7gama @ #slam
&ukuGBangsa @ BaliG#ndonesia
-anggal pemeriksaan @ &enin, 4 &eptember 2+1
3.2 Anmnesis
Kel)/n U"m @ Cata kiri terasa ada bintik merah
$i01" pen1!i" se!#ng @
Pasien datang dengan keluhan muncul bintik merah pada mata kiri pasien.
Bintik merah tersebut terasa berpasir dan mengganjal. *eluhan ini mulai muncul
sejak 3 bulan yang lalu. Pasien juga mengatakan bah0a mata kiri pasien terus
mengeluarkan air tetapi penglihatan pasien tidak menjadi kabur. Pada a0alnya,
kurang lebih 4 bulan yang lalu mata kiri pasien sempat terkena percikan besi saat
memotong pipa besi. Baru 2 bulan setelah kejadian itu pasien merasa ada sesuatu
yang mengganjal pada mata kirinya. Pasien mengatakan dirinya tidak pernah
memiliki ri0ayat penggunaan kacamata. Pasien juga tidak mengeluh nyeri pada
mata atau nyeri pada kepala disekitar bola mata.
$i01" Pengo("n2
11
Pasien mengatakan sempat menggunakan tetes mata yang dibelinya sendiri di
apotek tapi pasien lupa nama obatnya, dan dikatakan tidak ada perubahan setelah
menggunakan obat tetes mata tersebut.
$i01" pen1!i" "e#d/)l)2
Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama seperti ini sebelumnya.
Pasien juga menyangkal pernah mengalami trauma pada matanya. Fi0ayat
penyakit sistemik seperti hipertensi, kencing manis maupun asma disangkal.
Fi0ayat alergi disangkal oleh pasien. Fi0ayat demam, batuk, dan pilek
sebelumnya juga disangkal.
$i01" Sosil2
Pasien merupakan seorang pega0ai di salah satu perusahaan instalasi pipa di
)enpasar. Pekerjaan pasien merupakan pekerjaan lapangan yang menyebabkan
dirinya sering terpapar debu maupun polusi jalanan.
$i01" Pen1!i" Kel)#g 2
-idak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama seperti pasien.
Fi0ayat penyakit sistemik, asma alergi obat atau makanan disangkal
3.3 Peme#i!sn Fisi!
S"")s P#esen"
*esadaran @ Eompos mentis
-ekanan darah @ 12+G4+ mm;g
,adi @ 4 kali G menit
-emperatur aksila @ 3.," 3E
S"")s Lo!lis
.!)li De!s"# .!)li Sinis"#
12
3.D4 3.S4
=isus
FefraksiGPin ;ole
.G.
-
.G.
-
S)p# 5ili
Cadarosis
&ikatriks
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
Plpe(# s)pe#io#
>dema
;iperemi
>nteropion
>kteropion
Benjolan
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
Plpe(# infe#io#
Edem
Hipe#emi
En"e#opion
E!"e#opion
Ben6oln
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
P)ng")m l!#imlis
P)ngsi
Ben6oln
-idak dilakukan
-idak ada
-idak dilakukan
-idak ada
Kon6)ng"i7 "#sl s)pe#io#
Hipe#emi
Foli!el
Si!"#i!s
Ben6oln
Se!#e"
Ppil
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
Kon6)ng"i7 "#sl infe#io#
Hipe#emi
Foli!el
Si!"#i!s
Ben6oln
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
Kon6)ng"i7 ()l(i
Kemosis
Hipe#emi
- Kon6)ng"i7
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
13
- Silie#
Pe#d#/n s)(!on6)ng"i7
P"e#igi)m
Ping)e5)le
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
7da
-idak ada
S!le#
8#n
Pigmen"si
-enang
-idak ada
-enang
-idak ada
Lim()s
A#!)s senilis -idak ada -idak ada
Ko#ne
.dem
Infil"#"
Ul!)s
Si!"#i!s
Ke#"i! p#esifi""
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak ada
-idak 7da
-idak 7da
-idak ada
-idak ada
-idak ada
Kme# o!)li n"e#io#
*ejernihan
*edalaman
!ernih
,ormal
!ernih
,ormal
I#is
8arna
*oloboma
&inekia anterior
&inekia posterior
Eokelat
-idak ada
-idak ada
-idak ada
Eokelat
-idak ada
-idak ada
-idak ada
P)pil
Bentuk
Fegularitas
Fefleks cahaya langsung
Fefleks cahaya konsensual
Bulat
Feguler
7da
7da
Bulat
Feguler
7da
7da
Lens
*ejernihan
)islokasiGsubluksasi
!ernih
-idak ada
!ernih
-idak ada
3.% $es)me
Pasien laki-laki, 2 tahun, mengeluh muncul bintik merah pada mata kiri sejak
3 bulan yang lalu. *eluhan disertai mata terasa mengganjal dan sering berair.
Fi0ayat pengobatan ada menggunakan obat tetes mata namun pasien lupa nama
obatnya. Fi0ayat penyakit sama sebelumnya disangkal. Fi0ayat penyakit
1
sistemik disangkal. Pasien bekerja sebagai pega0ai di perusahaan instalasi pipa.
Cata pasien sering terpapar debu dan polusi jalanan.
Pemeriksaan lokal mata
.D Peme#i!sn .S
.G. 9is)s .G.
,ormal Plpe(# ,ormal
-enang Kon6)ng"i7
!aringan fibrovaskular
bentuk segitiga di medial
mele0ati limbus tetapi H 2
mm mele0ati kornea
!ernih Ko#ne !ernih
,ormal B:D ,ormal
Bulat, regular I#is Bulat, regular
bulat
Feflek 'I(
P)pil
bulat
Feflek 3;4
!ernih Lens !ernih
!ernih 9i"#e)s !ernih
Positif $efle!s F)nd)s Positif
3.& Dignosis Bnding
6& Pterigium derajat ##
6& Pseudopterigium
6& Pinguekula
6& -umor limbus
3.* Dignosis Ke#6
6& Pterigium derajat ##
3.+ Us)ln Peme#i!sn
-es &onde
1"
-es ;istopatologi
3., Te#pi
6& 7stringen tetes mata .J1 6& '>yefresh, ?yteers(
Cenganjurkan penggunaan kacamata
6& pro pterigoplasty
*#> @ Cenghindari paparan debu dan sinar <= yang terlalu lama
3.- P#ognosis
7d vitam @ dubius ad bonam
7d fungsionam @ dubius ad bonam
7d sanationam @ dubius ad bonam
1.
BAB I9
PE:BAHASAN
1. A
Penegakan diagnosis pterigium dapat diperoleh dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik. )ata subjektif pada pasien ini didapatkan seorang pasien laki-laki
berusia 2 tahun dengan keluhan adanya bintik merah pada mata kiri, terasa
mengganjal, sering berair yang terjadi sejak 3 bulan sebelumnya. )ata objektif
menunjukkan tampak jaringan fibrovaskuler di medial mele0ati limbus tetapi H 2
mm mele0ati kornea, mengandung banyak pembuluh darah dengan bentuk segitiga
pada konjungtiva mata kiri.
Penyebab pasti timbulnya pterigium sampai saat ini belum diketahui dengan
jelas. Beberapa penyebab yang dicurigai yaitu neoplasma, proses degenerasi dan
peradangan. Penyebab lainnya adalah iritasi kronis yang terjadi akibat paparan
terhadap sinar matahari, udara panas, polusi udara dan debu. Pasien ini merupakan
seorang pega0ai pabrik instalasi pipa yang sering terpapar debu dan polusi. Pasien
juga sempat mengatakan kurang lebih 4 bulan yang lalu mata kiri pasien sempat
terkena percikan besi saat memotong pipa besi. Baru 2 bulan setelah kejadian itu
pasien merasa ada sesuatu yang mengganjal pada mata kirinya. ;al tersebut yang
kemudian diduga menjadi salah satu faktor risiko kasus ini. Beberapa kepustakaan
menyebutkan bah0a terdapat beberapa faktor risiko untuk timbulnya pterigium.
/aktor risiko tersebut diantaranya paparan sinar ultraviolet, paparan yang berlebihan
terhadap alergen, bahan kimia berbahaya ataupun bahan iritan seperti debu dan polusi
udara, jenis pekerjaan dan tempat melakukan pekerjaan.
Prevalensi pterigium lebih banyak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki.
*ejadian pterigium jarang terjadi sebelum umur 2+ tahun dan prevalensi tertinggi
pada umur lebih dari + tahun. Pada kasus ini ditemukan kesesuaian antara teori
dengan data pasien. Pasien adalah seorang laki-laki dimana prevalensi pterigium lebih
banyak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki. <sia pasien saat melaporkan keluhan
ini adalah 2 tahun dimana sesuai bah0a pterigium jarang terjadi pada usia kurang
12
dari 2+ tahun. Pasien merupakan seorang pekerja di pabrik instalasi pipa yang bekerja
memperbaiki pipa dan proses pemasangan pipa. ;al ini berarti pasien sering terkena
paparan debu, polusi udara dan sinar ultraviolet di jalanan yang merupakan faktor
risiko timbulnya pterigium pada kasus ini.
Pterigium dibagi atas empat derajat berdasarkan perluasan jaringan
fibrovaskuler ke arah kornea. )erajat satu adalah pterigium yang terbatas pada limbus
kornea. )erajat dua adalah pterigium yang mele0ati limbus kurang dari 2 mm.
)erajat tiga adalah pterigium yang telah mele0ati derajat 2 tetapi tidak mele0ati
pinggiran pupil. )erajat empat adalah pterigium yang telah mele0ati pupil sehingga
timbul gangguan penglihatan. Pemeriksaan pada mata kiri yang dikeluhkan pasien
didapatkan adanya jaringan fibrovaskuler ke arah kornea yang telah mele0ati limbus
tetapi tidak lebih dari 2 mm. )ari data tersebut pasien termasuk ke dalam pterigium
derajat ##.
Pterigium memiliki beberapa diagnosis banding diantaranya pseudopterigium,
pinguekula dan tumor limbus. Pseudopterigium dapat dibedakan dengan pterigium
berdasarkan adanya ri0ayat trauma mata atau keradangan kornea, non progresif dan
pembuluh darah konjungtiva yang normal. Pasien ini dari anamnesis menyangkal
adanya ri0ayat trauma dan faktor risiko pada pasien ini adalah paparan debu dan
sinar matahari.
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat digunakan untuk menyingkirkan
diagnosis banding pterigium adalah dengan melakukan tes sonde sehingga pada
pasien ini diusulkan untuk pemeriksaan tes sonde.
)iagnosis banding lainnya dari pterigium adalah pinguekula. Pinguekula
terlihat sebagai penonjolan ber0arna putih-kuning keabu-abuan berupa hipertrofi
yaitu penebalan selaput lendir. Pinguekula tidak tumbuh mengarah ke kornea dan
bukan tumor. Pemeriksaan mata kiri pasien didapatkan jaringan fibrovaskuler ke arah
kornea yang telah mele0ati limbus tetapi tidak lebih dari 2 mm. &elain itu, jaringan
ini ber0arna merah yang menunjukkan adanya pembuluh darah. ;al tersebut dapat
memperkecil kemungkinan atau menyingkirkan diagnosis pinguekula.
14
Penatalaksanaan pterigium disesuaikan dengan derajat keparahan pterigium.
Pterigiumnya derajat # dan ## diberikan tetes mata astringen. 7pabila terdapat
peradangan diberikan tetes mata steroid 'Jitrol(. Pterigium derajat ### dan #=
disarankan untuk operasi. Post operasi diberikan obat tetes mata antibiotik, steroid,
dan analgetika. Pada kasus ini pasien didiagnosis dengan okuli sisnistra pterigium
derajat ##. Pasien diberikan terapi berupa tetes mata astringen '>yefresh, ?yters(
dengan dosis . J 1 pada mata kiri. Pasien disarankan untuk melakukan pterigoplasty
apabila terdapat perluasan pterigium yang melebihi 2 mm limbus atau sampai
mengganggu penglihatan.
*omunikasi >dukasi dan #nformasi '*#>( yang diberikan pada pasien ini ialah
menggunakan pelindung mata seperti kacamata untuk menghindari mata dari paparan
luar seperti sinar matahari, debu, dan udara kering. Pasien disarankan untuk tidak
mengusap atau menggaruk mata karena dapat memperburuk kondisi peradangan pada
mata. Pasien dianjurkan untuk membiasakan mencuci tangan dan memperhatikan
kebersihan diri untuk mencegah reinfeksi maupun infeksi sekunder serta mencegah
penularan. &elain itu pasien juga diedukasikan untuk berobat sesuai yang dianjurkan.
Prognosis pterigium tergantung pada derajat keparahan dari pterigium. Pada
pasien ini dengan derajat ## pterigium dan tidak ditemukan komplikasi maka
prognosis ad vitam, ad fungsionam, dan prognosis ad sanationam adalah dubius ad
bonam.
1%
BAB 9
SI:PULAN
-elah dilaporkan kasus, seorang laki-laki, 2 tahun, mengeluh muncul bintik
merah pada mata kiri sejak 3 bulan yang lalu. *eluhan disertai mata terasa
mengganjal dan sering berair. Fi0ayat pengobatan ada menggunakan obat tetes mata
namun pasien lupa nama obatnya. Fi0ayat penyakit sama sebelumnya disangkal.
Fi0ayat penyakit sistemik disangkal. Pasien bekerja sebagai pega0ai di perusahaan
instalasi pipa. Cata pasien sering terpapar debu dan polusi jalanan. )ari hasil
anamnesis dan pemeriksaan telah dilakukan, didapatkan diagnosis kerja 6& Pterigium
grade ##. Pasien diberikan penanganan yaitu tetes mata astringen, dianjurkan
penggunaan kacamata dan *#>. Progonsis pasien ini ad vitam@ dubius ad bonam, ad
fungsionam@ dubius ad bonam, ad sanationam@ dubius ad bonam.
2+