Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Multiple sclerosis adalah penyakit demielinisasi dari central nervous
system (otak dan atau medula spinalis). Degenerasi mielin di multiple sclerosis
adalah karena proses autoimun. Beberapa faktor seperti keturunan dan pengaruh
lingkungan, mungkin termasuk infeksi virus, juga tampaknya berperan.
1
Multiple sclerosis merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling
sering menyerang dewasa muda. Seara global, diperkirakan prevalensi rata!rata
multiple sclerosis adalah "# per 1## ###. Seara regional, prevalensi diperkirakan
rata!rata multiple sclerosis adalah terbesar di $ropa (%# per 1## ###), diikuti oleh
&editerania 'imur (1(,)), *merika (%."), +asifik Barat (,), *sia 'enggara (-,%),
dan *frika (#,").
-,"
+enyakit ini lebih sering ditemukan pada area dengan suhu sedang
dibandingkan daerah iklim tropis. +enyakit ini lebih sering terjadi pada
perempuan daripada laki!laki (1,,.1). +enyakit dapat terjadi pada segala usia,
walaupun onset pertama jarang terjadi pada anak!anak dan orang usia lanjut.
Biasanya usia munulnya gejala antara -#!(# tahun.
(
/ejala awal multiple sclerosis adalah pandangan kabur, diplopia, distorsi
warna merah!hijau, atau bahkan kebutaan pada satu mata. 0ebanyakan pasien
multiple sclerosis mengalami kelemahan otot pada kaki mereka dan kesulitan
dalam koordinasi dan keseimbangan. /ejala ini mungkin ukup berat sehingga
mengganggu berjalan atau bahkan berdiri. Dalam kasus terburuk, multiple
sclerosis dapat menghasilkan kelumpuhan. 0ebanyakan orang dengan multiple
sclerosis juga menunjukkan parestesia, sementara perasaan sensoris yang
abnormal seperti mati rasa dan sensasi kebas atau baal. Beberapa juga mungkin
mengalami rasa sakit seperti nyeri ekstremitas dan neuralgia trigeminal tipikal.
(,,
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Definisi
Multiple sclerosis adalah suatu peradangan yang terjadi di otak dan
sumsum tulang belakang yang menyerang daerah substansia alba dan
merupakan penyebab utama keaatan pada dewasa muda. +enyebabnya
dapat disebabkan oleh banyak faktor, terutama proses autoimun. Focal
lymphocytic infiltration atau sel ' bermigrasi keluar dari lymph node ke
dalam sirkulasi menembus sawar darah otak (blood brain barrier) seara
terus!menerus menuju lokasi dan melakukan penyerangan pada antigen
myelin pada sistem saraf pusat seperti yang umum terjadi pada setiap infeksi.
1al ini dapat mengakibatkan terjadinya inflamasi, kerusakan pada myelin
(demielinisasi), neuroa2onal injury, astrogliosis, dan proses degenerative.
Substansi lemak yang dikenal sebagai mielin (mengelilingi dan
membungkus serat saraf dan sebagai fasilitator konduksi dari transmisi
impuls saraf) mengalami kerusakan seara intermiten (demielinisasi).
Demielinisasi menyebabkan 3sar4 dan mengerasnya (sclerotik5skleros
(&esir) dari serat saraf pada otak, medulla spinalis, batang otak, dan nervus
optikus, yang menyebabkan hantaran impuls saraf menjadi lambat dan
akibatnya terjadi kelemahan, gangguan sensorik, nyeri dan gangguan
penglihatan.
*kibat demielinisasi neuron menjadi kurang efisien dalam potensial
aksi. 'ransmisi impuls yang disampaikan oleh neuron yang terdemyelinisasi
akan menjadi buruk. *kibat 6kebooran6 impuls tersebut, terjadi kelemahan
dan kesulitan dalam mengendalikan otot atau kegiatan sensorik tertentu di
berbagai bagian tubuh.
B.
Epidemiologi
Multiple sclerosis merupakan salah satu gangguan neurologis yang
paling sering menyerang dewasa muda. Seara global, diperkirakan
prevalensi rata!rata multiple sclerosis adalah "# per 1## ###. Seara regional,
prevalensi diperkirakan rata!rata multiple sclerosis adalah terbesar di $ropa
(%# per 1## ###), diikuti oleh &editerania 'imur (1(,)), *merika (%."),
+asifik Barat (,), *sia 'enggara (-,%), dan *frika (#,").
-,"
0ejadian multiple sclerosis (yakni, jumlah kasus baru per tahun) adalah
(!7 per 1##.### penduduk per tahun. Dalam populasi etnis ampuran, insiden
dan prevalensi tertinggi adalah pada orang keturunan $ropa. 'erdapat juga
bukti bahwa orang yang dilahirkan pada daerah yang berisiko tinggi multiole
sclerosis akan membawa risiko tersebut jika mereka pindah ke area dengan
risiko rendah dan sebaliknya, tetapi hanya jika perpindahan terjadi pada usia
remaja.
1,(
C.
Etiologi
+enyebab dari multiple sclerosis tetap tidak diketahui, walaupun
kegiatan penelitian dibidang ini sudah banyak dilakukan. 1ipotesis yang tidak
terhitung banyaknya sudah diajukan. Sebagian besar multiple sclerosis di
$ropa adalah tipe 18*!*", B9, D:- dan D;-. Selama serangan akut, jumlah
sel!sel supresor dalam darah perifer berkurang. +enelitian eksperimental
mendukung teori dari infeksi slow virus atau reaksi autoimun. :alaupun titer
ampak yang meningkat sering terdapat pada pasien multiple sclerosis, tetapi
virus ampak tidak dapat dianggap sebagai virus yang bertanggung jawab
untuk penyakit ini.
+atogenesis dari multiple sclerosis sebagian komplemen dan sebagian
berlawanan dengan mekanisme autoimun, teori ini didukung oleh model
perobaan ensefalomielitis alergika eksperimental pada binatang. +ada tahun!
tahun terakhir ini, perjalanan penyakit yang berulang telah ditemukan pada
binatang perobaan. Suatu sensitisasi yang terlambat terhadap protein
sensefalitogenik dari SS+ telah diperlihatkan terjadi melalui reaksi imun
seluler. 8imfosit yang tersensitisasi merupakan karier yang paling penting dari
proses ini.
,
+eran mekanisme imun pada patogenesis multiple sclerosis didukung
beberapa temuan, seperti adanya sel inflamasi kronik pada plak aktif dan
hubungan kondisi ini dengan gen spesifik pada kompleks histokompatibilitas
mayor (major histocompatibility, &1<). Banyak gangguan autoimun yang
ternyata berhubungan dengan kelompok gen ini.
-
1ubungan dengan &1< merupakan salah satu bukti pengaruh
komponen genetik dalam etiologi multiple sclerosis, begitu pula adanya kasus
pada keluarga, dan temuan peningkatan kejadian pada kasus kembar identik
(mono=igot) dibandingkan kembar nonidentik (di=igot). *kan tetapi, belum
ditemukan gen tunggal yang penting untuk terjadinya multiple sclerosis."
>okal area dari destruksi mielin di dalam multiple sclerosis terjadi dengan
latar belakang suatu proses radang yang didominasi oleh penyusupan dari '!
limfosit, hematogen makrofag, aktivasi dari lokal mikroglia, dan adanya
sedikit B!limfosit atau sel!sel plasma. +roses peradangan ini berhubungan
dengan peningkatan berbagai ytokines di dalam lesi multiple sclerosis,
menakup interleukin!1,-,(,7,1#,1-, gamma!interferon (!?>@), tumor
nerosis alfa fator ('@>!a), dan transforming growth beta faktor ('/>!b).7
D.
Gejl !linis
Sindrom klinis pada multiple sclerosis seara klasik ditemukan adanya
gangguan yang bersifat relaps dan remisi yang mengenai sistem saraf dengan
onset pada usia muda, dengan variasi gambaran klinis yang ditemukan sering
beragam, variasi ini termasuk dalam hal onset usia, manifestasi awal, frekuensi,
berat ringannya penyakit dan gejala sisa relaps, tingkat progresifitas dan
banyaknya gejala neurology yang timbul
1,-,"
Aariasi gambaran klinis ini menggambarkan banyaknya atau luasnya
daerah system saraf yang rusak (multiple sclerosis plak). Seara umum seorang
dokter menurigai suatu kasus multiple sclerosis bila ditemukan gejala .
+asien mendapat - serangan dari gangguan neurologi (tiap serangan lebih
dari -( jam dan berlangsung lebih dari 1 bulan), atau
+erkembangan gejala yang progresif seara perlahan selama periode
paling sedikit 7 bulan
/ejala atau simptom yang timbul pada &S dapat berupa
1. /angguan penglihatan
Sebagian besar pasien menderita gangguan penglihatan sebagai gejala!
gejala awal. Dapat terjadi kekaburan penglihatan, lapang pandang yang abnormal
dengan bintik buta (skotoma) baik pada satu maupun pada kedua mata. Salah satu
mata mungkin mengalami kebutaan total selama beberapa jam sampai beberapa
hari. /angguan!gangguan visual ini mungkin diakibatkan oleh neuritis saraf
optikus. Selain itu, juga ditemukan diplopia akibat lesi pada batang otak yang
menyerang nukleus atau serabut!serabut traktus dari otot!otot ekstraokular dan
nistagmus.
@euritis Bptika adalah gangguan penglihatan yang paling sering terjadi
1(!-"C kasus dan ,#C, biasanya munul seara akut atau subakut dan unilateral
dengan diikuti rasa nyeri pada mata terutama dengan adanya gerakan bola mata.
@euritis Bptika bilateral sangat jarang terjadi, bila ditemukan biasanya asimetris
dan lebih berat pada satu mata. @euritis optika bilateral biasanya terjadi pada anak
dan ras *sia.
-. /angguan sensorik
/angguan sensorik merupakan gejala awal yang paling sering ditemukan
pada multiple sclerosis (-1!,,C) dan berkembangDtimbul hamper pada semua
pasien multiple sclerosis. 1ipestesi (baal), parestesi (kesemutan), disestesi (rasa
terbakar) dan hiperestesi adalah gejala yang tersering./angguan ini dapat timbul
disemua daerah distribusi, satu atau lebih dari satu anggota gerak,,wajah atau
badan (trunkal).+asien sering datang dengan keluhan rasa baal atau kesemutan
dimulai pada satu kaki yang merambat keatas (asending) pada satu sisi kemudian
kesisi yang lain (kontra sisi).
/angguan sensorik dapat naik keatas dengan suatu level sensorik dan
biasanya diikuti dengan gangguan keseimbangan, kelemahan, gangguan B*0,
konstipasi dan munulnya tanda Lhermittes bila kepala difleksikan seara pasif,
timbul parestesi sepanjang bahu, punggung dan lengan. 1al ini mungkin
disebabkan akson yang mengalami demyelinisasi sensitivitasnya meningkat
terhadap tekanan ke spinal yang diakibatkan fleksi kepala.
". /angguan kognitif
&asalah kognitif seperti kesulitan berkonsentrasi, gangguan memori, dan
gangguan mental terdapat pada (#!9# C pasien multiple sclerosis. Banyak
penderita multiple sclerosis meninggalkan pekerjaannya akibat masalah diatas.
+ada E 1#C kasus, disfungsi mental berat dan demensia dapat tejadi. /angguan
ini mungkin berhubungan dengan depresi yang dilaporkan ditemukan pada -,!
,#C kasus multiple sclerosis.
*da beberapa penelitian yang mengatakan bahwa depresi pada multiple
sclerosis bukan karena masalah psikologi,umur atau lamanya menderita penyakit
tetapi dipengaruhi oleh jumlah lesi yang ditemukan pada gambaran &;?
(Swirsky!Sahetti ' et al 1))-). *trofi otak, pembesaran ventrikel dan
menipisnya korpus kalosum juga penyebab gejala gangguan kognitif diatas.

(. /angguan /erakan Bola &ata
/angguan gerakan bola mata sering terjadi pada pasien &S biasanya
berhubungan dengan gangguan saraf penggerak bola mata, @ervus ranial A?,???
dan jarang pada nervus A?. @istagmus adalah gejala yang paling sering munul
(Dell4Bsso, Daroff, 'roost, 1))#) berupa Fjelly like nystagmusG berupa gerakan
epat dengan amplitudo keil. ?nternuklear ophtalmoplegia (?@B) juga sering
ditemukan, dan bila ditemukan bilateral biasanya didapatkan juga adanya
nistagmus vertial dan upward ga=e.
,. /angguan &otorik
/ejala awal motorik ditemukan pada "-!(1C kasus multiple sclerosis dan
lebih dari 7#C kasus multiple sclerosis mempunyai gejala motorik. /angguan
motorik terjadi akibat terlibatnya traktus piramidalis yang menyebabkan
kelemahan, spastisitas, gangguan gerakan tangkas, dan hiperrefleks. /angguan ini
dapat timbul akut atau kronik progresif dengan kelemahan satu atau lebih anggota
gerak, kelemahan otot wajah, kekakuan tungkai yang dapat menyebabkan
gangguan dalam berjalan dan keseimbangan atau terjadi suatu spastisitas. 8atihan
atau panas biasanya menyebabkan gejala memburuk.
1emiparesis yang diakibatkan lesi kortikospinal dapat terjadi pada
multiple sclerosis meski frekuensinya lebih keil. Demikian juga lesi di medula
spinalis dapat menyebabkan sindroma Brown!SeHuard atau mielitis transversa
yang mengakibatkan paraplegi (umumnya tidak simetris), level sensorik dan
gangguan miksi!defekasi. ;efleks patologis danDatau hiperrefleksia bilateral
dengan atau tanpa kelemahan motorik merupakan manifestasi yang lebih sering
dan merupakan tanda lesi kortikospinal bilateral. Iang khas, meskipun kelemahan
hanya pada satu sisi, refleks patologis selalu bilateral. Spastisitas dapat
menyebabkan gejala kram otot pada pasien multiple sclerosis. 0elelahan atau
fatigue merupakan gejala non spesifik pada multiple sclerosis dan terjadi pada
hampir )#C pasien multiple sclerosis. 0elelahan dapat merupakan kelelahan fisik
pada waktu e2erise berlebihan ataupun pada temperatur panas maupun
kelelahanDkelambatan mental.
7. /angguan <erebelum
/angguan erebellum menimbulkan gangguan keseimbangan, gangguan
koordinasi dan Fslurred speehG. Bisa juga terjadi tremor intensi pada anggota
gerak kepala. Berjalan terganggu karena adanya ataksia trunkus. @istagmus,
gerakan saadi, dismetria okuli, sanning speeh dapat terjadi. /ejala
erebellum biasanya berampur dengan gejala traktus piramidalis.
9. /angguan Berkemih, B*B dan disfungsi seksual
/angguan berkemih merupakan salah satu gejala multiple sclerosis yang
sering ditemukan. +ada saat awal terjadi Furgeny dan frekuensiG kemudian
terjadi inkontinensia urin. 0onstipasi lebih sering ditemukan (")!,"C)
dibandingkan inkontinensia alvi. 1al diatas merupakan masalah yang serius bagi
penderita multiple sclerosis karena dapat menyebabkan infeksi pada saluran
kemih.
/angguan seksual terjadi pada lebih dari 9#C pasien multiple sclerosis.
Disfungsi seksual merupakan gabungan dari berbagai masalah yang timbul baik
masalah motorik dan sensorik maupun masalah psikologis penderita.
%. &anifestasi lainnya
@yeri jarang terjadi pada multiple sclerosis, walaupun beberapa pasien
dapat mengalami neuralgia trigeminal tipikal akibat plak di batang otang dan pada
kasus lain dapat terjadi nyeri ekstremitas. 'erdapat peningkatan insidensi epilepsi
pada pasien multiple sclerosis.
Multiple sclerosis diklasifikasikan menjadi - kategori mayor
1. ;elaps ;emisi (;elapsing remitting)
-. +rogresifitas 0ronis (<hroni +rogressive) multiple sclerosis yang terbagi
menjadi .
+rogresifitas primer (+rimary progressive)
+rogresifitas Sekunder (Seondary +rogressive)
;elaps +rogresif (+rogressive ;elapsing)
0lasifikasi ini digunakan dalam memperkirakan prognosis pasien dan sebagai
pedoman dalam pemberian terapi.
1. ;elaps!;emisi (;elapsing ;emitting)
&erupakan periode perburukan neurology yang akut dari multiple sclerosis
(relaps, serangan, atau eksaserbasi) yang diikuti oleh periode pulihnya sebagian
atau seluruh gejala progresifitas penyakit yang ada (remisi).
>rekuensi . E %, C
-. +rogresifitas +rimer (+rimary +rogressive)
Multiple sclerosis dengan perburukan penyakit yang perlahan dan berlanjut
sejak awal serangan tanpa adanya relaps atau remisi.,tetapi progresifitas yang
ada berbeda dari waktu ke waktu biasanya mendatar atau perburukan minimal .
>rekuensi . Jarang. E 1# C

". +rogresifitas Sekunder (Seondary +rogressive)
Multiple sclerosis dengan awalnya mengalami relaps remisi kemudian
penderita mengalami perburukan seara tetap tanpa mengalami perbaikan
minimal (remisi) atau menetap.
>rekuensi . ,# C multiple sclerosis ;elaps remisi berkembang menjadi bentuk
ini

(. ;elaps +rogresif (+rogressive ;elapsing)
Multiple sclerosis dengan perburukan penyakit yang terus menerus sejak awal
serangan diikuti oleh kekambuhan (serangan akut baru) tanpa atau dengan
perbaikan.
>rekuensi . Jarang.E , C

+embagian lain yang tidak la=im digunakan adalah .
1. multiple sclerosis benigna (Benign multiple sclerosis)
+enderita multiple sclerosis lama tetapi tanpa atau dengan sedikit gangguan
neurology
-. multiple sclerosis malignan (&alignant multiple sclerosis)
+enderita multiple sclerosis yang sering kambuh dan tidak pernah pulih
sempurna.
E.
Ptogenesis
"#$
+enyebab multiple sclerosis belum diketahui, saat ini seluruh dunia
masih melakukan penelitian untuk menari penyebab pasti penyakit multiple
sclerosis. 0erusakan myelin pada multiple sclerosis mungkin terjadi akibat
respon abnormal dari sistem kekebalan tubuh terutama foal lymphoyti
infiltration (sel ' seara terus!menerus bermigrasi menuju lokasi dan
melakukan penyerangan seperti yang layak terjadi pada setiap infeksi). Sitem
kekebalan tubuh ini seharusnya melindungi tubuh dari serangan organisme
berbahaya (bakteri dan virus). Banyak jenis multiple sclerosis yang
menampakkan gejala penyakit kekebalan tubuh, dimana tubuh menyerang
sel!sel dan jaringan!jaringannya sendiri (dalam kasus multiple sclerosis, yang
diserang adalah &yelin).
Satu teori menyebutkan bahwa virus, yang mungkin sudah menetap
lama dalam tubuh, mungkin memainkan peranan penting dalam
perkembangan penyakit ini dan mungkin mengganggu sistem kekebalan atau
seara tidak langsung mengubah proses sistem kekebalan tubuh. Banyak
penelitian yang sudah menoba mengidentifikasi virus multiple sclerosis. *da
satu dugaan bahwa kemungkinan tidak ada virus multiple sclerosis,
melainkan hanya ada virus!virus biasa, seperti virus ampak ( rubella ) dan
herpes, yang menjadi pemiu timbulnya penyakit multiple sclerosis. +ada
penderita multipel sklerosis ternyata serum dan airan serebrospinal
mengandung berbagai antibodi ampak serta ada bukti yang menyatakan
bahwa =at anti tersebut dihasilkan dalam otak.
Airus!virus ini mengaktifkan sel darah putih (limposit) dalam aliran
darah menuju ke otak dengan melemahkan mekanisme pertahanan otak (yaitu
substansi yang melindungi darah atau otak). 0emudian, di dalam otak, sel!sel
ini mengaktifkan unsur!unsur lain dari sistem kekebalan tubuh dengan satu
ara yang pada akhirnya membuat sel!sel tersebut menyerang dan
menghanurkan myelin. +ada awalnya, setiap peradangan yang terjadi
berangsur menjadi reda sehingga memungkinkan regenerasi selaput mielin.
+ada saat ini, gejala awal multiple sclerosis masih berupa episode disfungsi
neurologis yang berulang kali membaik. :alaupun demikian, dengan
berselangnya waktu, sitokina yang disekresi oleh sel ' akan mengaktivasi
sejumlah mikroglia, dan astrosit sejenis fagosit yang bermukim pada jaringan
otak dan sumsum tulang belakang, dan menyebabkan disfungsi sawar otak
serta degenerasi saraf kronis yang berkelanjutan.
0erusakan myelin (demyelinasi) menyebabkan gangguan kemampuan
serabut syaraf untuk menghantarkan pesan ke dan dari otak. 8okasi terjadinya
kerusakan myelin (plak atau lesi) tampak seperti area (parutDluka) yang
mengeras. pada multiple sclerosis, parut!parutDluka!luka ini tampak pada otak
dan tulang belakang.
+enyebab lain multiple sclerosis belum diketahui, saat ini seluruh dunia
masih melakukan penelitian untuk menari penyebab pasti penyakit multiple
sclerosis. &asih dipertanyakan apakah meningkatnya kasus pada keluarga
diakibatkan oleh predisposisi genetik (tidak terdapat pola herediter) atau
disebabkan karena sering kontak dengan agen infeksi (mungkin virus) pads
masa kanak!kanak yang entah dapat menyebabkan multipel sklerosis pads
waktu mulai menginjak masa dewasa muda.
+enyelidikan migrasi menunjukkan bahwa jika orang dewasa pindah
dari tempat dengan risiko tinggi ke tempat dengan risiko rendah, mereka tetap
mempunyai risiko tinggi untuk menderita multipel sklerosis. 'etapi jika
migrasi terjadi sebelum menapai usia 1, tahun, maka individu tersebut
mempunyai risiko yang rendah sesuai dengan tempat tinggalnya yang baru.
Data!data ?ni sesuai dengan teori yang menyatakan virus mungkin merupakan
penyebabnya dengan periode laten yang panjang antara paparan awal dengan
awitan (onset penyakit). &ekanisme kerjanya mungkin merupakan reaksi
autoimun yang menyerang mielin.
+enyelidikan lain mengajukan kemungkinan adanya faktor!faktor
genetik sehingga ada orang!orang yang lebih rentan terhadap serangan
berbagai virus yang bereaksi lambat pada Sistem saraf pusat. Airus lambat ini
mempunyai masa inkubasi yang lama dan mungkin hanya berkembang dalam
kaitannya dengan status imun yang abnormal atau terganggu
Sklerosis ditandai dengan adanya berak kerusakan mielin yang
tersebar diikuti dengan gliosis dan substansia alba sistem persarafan. Berak!
berak berwarna kekuning!kuningan dan keras yang ditemukan pada otopsi
dipakai sebagai sumber nama penyakit ini. Sifat perjalanan penyakit
merupakan serangkaian serangan pada berbagai bagian sistem saraf pusat.
Setiap serangan memperlihatkan derajat remisi tertentu tetapi seara
menyeluruh gambarannya adalah ke arah yang buruk.
%.
Dignosis
0riteria diagnostik yang umum dipakai adalah kriteria &Donald yang
merupakan kriteria multiple sclerosis dengan konsep asli tahun -##1 dan revisi
terakhir tahun -#1#. 0riteria &Donald menekankan adanya pemisahan
menurut waktu atau disseminated in time (dua serangan atau lebih) dan
pemisahan oleh ruang atau disseminated in space (dua atau lebih diagnosa
topis yang berbeda). Seseorang dinyatakan definite menderita multiple
sclerosis bila terjadi pemisahan waktu dan ruang yang dibuktikan seara klinis
atau bila bukti seara klinis tidak lengkap tetapi didukung oleh pemeriksaan
penunjang (&;?, 8<S atau A$+).
+emisahan seara waktu maksudnya adalah terjadinya dua serangan
atau lebih dimana jarak antara dua serangan minimal "# hari dan satu episode
serangan minimal berlangsung -( jam. Sedangkan pemisahan oleh ruang
adalah terdapatnya dua atau lebih gejala neurologis obyektif yang
menerminkan dua lesi yang diagnosis topiknya berbeda.
0riteria definite (disseminated in space) &;? harus meliputi " dari (
kriteria.
1. adanya 1 lesi yang besar atau minimal ) lesi yang keil
-. minimal 1 lesi infratentorial
". minimal 1 lesi ju2takortikal
(. minimal " lesi periventrikel.
Selain itu pada &;? dapat terlihat gambaran atrofi korteks yang
didahului oleh pembesaran ventrikel.
+emeriksaan oligoclonal band dari airan serebrospinalis (8<S)
sangat membantu diagnosis multiple sclerosis. Sensitifitas pemeriksaan ini
dikatakan dapat menapai ),C dan bila terdapat peningkatan oligoclonal
band pada 8<S maka hanya dibutuhkan - lesi pada &;? untuk memenuhi
kriteria disseminated in space.
+emeriksaan A$+ (visual evoked potential) merupakan pemeriksaan
penunjang yang ukup sensitif (dibandingkan pemeriksaan evoked potential
lain) untuk multiple sclerosis dimana terjadi pemanjangan latensi A$+ yang
disebabkan adanya demyelinisasi pada nervus optikus. A$+ seara dini dapat
mendeteksi kelainan meskipun pada pasien multiple sclerosis yang seara
klinis belum terdapat gejala klinis neuritis optik.
Diagnosis multiple sclerosis ditegakkan dengan melakukan
pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosa. +emeriksaan yang sering
dilakukan adalah neuroimaging, terutama &;?, analisa airan otak dan
pemeriksaan evoked potensial
1,-,",(,,,7,
+emeriksaan darah pada penderita multiple sclerosis tidak ada yang
spesifik, biasanya dilakukan pemeriksaan asam folat dan B1- untuk
menyingkirkan penyebab lain yaitu defisiensi asam folat dan B1-, dan
melihat adanya tanda!tanda infeksi
,
.
&;? selama 1# tahun terakhir merupakan modalitas pilihan dalam
penegakan diagnose. +lak multiple sclerosis biasanya ditemukan di daerah
periventrikular, korpus kalosum, sentrum semi ovale, struktur substansia alba
lain dan ganglia basalis. /ambaran khas plak multiple sclerosis adalah
demielinisasi berbentuk oval atau linier, biasanya tegak lurus permukaan
ventrikel. +lak ini hanya ditemukan pada sustansia alba dan beberapa pada
korpus kalosum
G.
P&ognosis
+rognosis untuk seseorang dengan multiple sclerosis tergantung pada
subtipe penyakitK jenis kelamin individu, ras, umur, gejala awal, dan derajat
kerusakan. 1arapan hidup dari penderita multiple sclerosis, untuk tahun!tahun
awal, saat ini hampir sama halnya dari pada orang normal. 1al ini disebabkan
terutama karena peningkatkan metoda dari penegahan progresif penyakit,
seperti fisioterapi dan terapi biara, bersama!sama dengan penanganan yang
menangani komplikasi umum, seperti radang paru!paru dan infeksi saluran
kemih. &eskipun demikian, setengah kematian dari pasien dengan multiple
sclerosis adalah seara langsung berhubungan dengan komplikasi dari
penyakit, sementara 1,C lebih berhubungan dengan bunuh diri.
Seara umum sangatlah sulit untuk meramalkan prognosis multiple
sclerosis. Setiap individu memiliki variasi kelainan, tetapi sebagian besar
pasien dengan multiple sclerosis bisa mengharapkan ),C harapan hidup
normal. Beberapa penelitian telah menunjukankan pasien yang mempunyai
sedikit serangan di tahun pertama setelah diagnosis, interval yang lama antar
serangan, pemulihan sempurna dari serangan, dan serangan yang
berhubungan dengan saraf sensoris (misalnya., baal atau perasaan geli)
enderung untuk memiliki prognosis yang lebih baik. +asien yang sejak awal
memiliki gejala tremor, kesukaran dalam berjalan, atau yang mempunyai
serangan sering dengan pemulihan yang tidak sempurna, atau lebih banyak
lesi yang terlihat oleh &;? san sejak dini, enderung untuk mempunyai
suatu tingkat penyakit yang lebih progresif.
H.
Dignosis 'nding
Diagnosa banding utama untuk menjadi pertimbangan tergantung pada
manifestasi neurologis dalam kasus.
Defisit saraf kranial mungkin saja berhubungan dengan berbagai jenis lesi
fokal, seperti sebuah tumor dermoid basis kranii, suatu tumor dari
serebelopontine angel, suatu tumor di foramen magnum, suatu optik
glioma atau sphenoid wing meningioma dengan atrofi saraf optik, suatu
brainstem astroytoma, brainstem enephalitis, dan lain!lain.
Suatu hemiplegia mungkin saja berhubungan dengan suatu tumor otak
atau stroke
0ejang paraparesis mungkin saja berhubungan dengan suatu tumor saraf
tulang belakang atau ervial spondyloti myelopathy.
+araparesis berulang mungkin saja berhubungan dengan suatu malformasi
vaskular pada saraf tulang belakang.
/ejala dari serebellar dan traktus piramidal, dan mungkin juga gejala dari
batang otak, mungkin saja berhubungan dengan suatu massa atau bentuk
malformasi batang otak atau ranioervial juntion. Beberapa gejala
sering misdiagnosed sebagai multipel sklerosis. Bentuk malformasi
vaskuler batang otak, juga dapat menyebabkan gejala neurologis yang
berubah!ubah dengan onset usia pertengahan atau usia tua.
0eterlibatan dari berbagai area dari sistem saraf pusat mungkin saja
berhubungan dengan penyakit sistemik seperti sistemik lupus
erythematosus, saroidosis, penyakit vaskuler, to2i enephalomyelopathy,
hypothyroidism, atau funiular myelosis.
0eterlibatan mata dan sistem saraf pusat mungkin saja berhubungan
dengan suatu vaskulitis atau intoksikasi. Lveitis ditemukan bersama!sama
dengan kelainan neurologis dalam uveoenephalomyelitis (Aogt!
0oyanagi!1arada syndrom), suatu hal yang jarang, kiranya adalah
sindrom virus dimana terjadi uveitis, gangguan gaya berjalan,
leukodermia, munulnya uban, enephalitis, dan tanda meningeal yang
berubah!ubah.
Behet4s disease dapat menyebabkan apththous uler, manifestasi okular,
dan manifestasi saraf pusat, terutama brainstem enephalitis.
I.
Pentl!snn
Seara umum, bila diagnosis multiple sclerosis telah dipastikan, maka
pasien harus diberitahu. Beberapa pasien akan menanyakan apakah mereka
mengalami multiple sclerosis setelah suatu episode tunggal, ketika diagnosis
multipel sklerosis masih berupa kemungkinan. +ada keadaan ini, yang terbaik
dilakukan adalah diskusi yang menyeluruh. :alaupun kemungkinan multiple
sclerosis tidak dapat disangkal, tetapi pasien harus disadarkan bahwa mungkin
penyakit yang dideritanya merupakan penyakit tunggal yang tidak akan relaps.
+asien dapat memperoleh keuntungan dengan membaa mengenai multiple
sclerosis atau kontak dengan kelompok pendukung. *kan tetapi, dokter
memiliki peran edukatif yang berkesinambungan, terutama dalam
mengarahkan pasien dalam terapi yang mahal tetapi belum tentu efektif,
seperti manipulasi diet dan penggunaan oksigen hiperbarik.
+engobatan yang diakui terbaik, disamping pengobatan
nonfarmakologik, saat ini adalah dengan interferon beta berupa injeksi
Betaseron -,# mg subkutan selang sehari. +enelitian Benefit yang dilaporkan
awal oktober -##, menunjukan, bahwa selama lima tahun terjadi penurunan
angka kejadian multiple sclerosis hingga ,#C dengan dua tahun pengobatan
pada kasus yang sebelumnya adalah kemungkinan multipel sklerosis.
:alaupun belum ada terapi kuratif untuk multiple sclerosis, namun
terdapat tiga aspek penting dalam tatalaksana. tatalaksana relaps akut,
modifikasi perjalanan penyakit, kontrol gejala.
'atalaksana ;elaps *kut
;elaps pada seorang pasien yang ukup berat dan mengakibatkan
keterbatasan fungsi, misalnya karena kelemahan anggota gerak atau gangguan
visual, dapat diterapi dengan kortikosteroid. Saat ini kortikosteroid diberikan
dalam bentuk metilprednisolon dosis tinggi baik seara intravena maupun oral
(,## mg M 1 g per hari selama " M , hari). +engobatan ini dapat memperbaiki
penyembuhan tetapi bukan derajat penyembuhan dari eksaserbasi. Steroid
jangka panjang belum terbukti mempengaruhi keadaan perjalanan penyakit
alamiah.
&odifikasi +erjalanan +enyakit
Bukti adanya dasar autoimun pada multiple sclerosis telah menarik uji klinis
obatMobat imunosupresan, seperti a=atioprin, metotreksat, dan siklofosfamit,
yang menoba mengubah prognosis jangka panjang penyakit. *kan tetapi, efek
samping dari obat ini lebih banyak daripada keuntungannya. Sekarang mulai
digunakan obat imunoterapi yang lebih baru dengan tujuan mengubah
keepatan progresivitas multiple sclerosis, atau setidaknya mengurangi
keepatan relaps, tanpa efek samping yang berat, misalnya interferon beta dan
glatiramer asetat. Bbat tersebut memberi harapan untuk memberikan proteksi
terhadap relaps (setidaknya reduksi frekuensi relaps sampai "#C) dan sedikit
penurunan keepatan progresi penyakit.
0ontrol /ejala
'erapi simtomatik dengan obat untuk komplikasi multipel sklerosis adalah
sebagai berikut .
Spastisitas, spasme fleksor M baklofen (oral atau intratekal), dantrolen,
ti=anidin, dia=epam, walaupun obat M obat dapat meningkatkan
kelemahan dan menyebabkan rasa kantuk. +endekatan lain meliputi
injeksi toksin botulinum pada otot yang terkena.
'remor serebelar M jika ringan dapat berespons dengan pemberian
klona=epam, isonia=id, atau gabapentin.
>atiHue (sering terjadi bersamaan dengan relaps) M amantadin, selegilin,
atau obat antinarkolepsi modafinil.
/angguan kandung kemih M obat antikolinergik, misalnya oksibutinin
atau tolterodinK pasien harus pula dilatih untuk melakukan kateterisasi
intermiten mandiri. ?nfeksi saluran kemih harus ditangani segera.
Depresi M obat trisiklik dan kelompoknya dalam dosis keil, misalnya
amitriptilin atau dotiepinKseletive serotonin reuptake inhibitor ( SS;? ),
misalnya sertralin.
?mpotensi M inhibitor fosfodiesterase tipe ,, misalnya sildenafil,
papaverin intrakavernosa, atau prostaglandin. +rostaglandin dapat pula
diberikan seara topikal melalui uretra.
@yeri, gejala paroksismal termasuk kejang M karbama=epin, gabapentin.
+eran kanabis dalam tatalaksana nyeri dan spastisitas pada multipel
sklerosis masih kontroversial.
$ksaserbasi bisa adalah didefinisikan sebagai episode serangan gejala
sementara, kadang!kadang disebut juga sebagai serangan atau kambuh lagi.
Sebagian besar episode relaps menunjukan suatu derajat pemulihan seara
spontan, tetapi pengobatan adalah ditujukan untuk episode relaps yang
mempunyai suatu dampak parah terhadap fungsi. Steroid merupakan
pengobatan pilihan untuk episode relaps, biasanya metil!prednisolon diberikan
dengan oral atau intravena. Sebelumnya steroid diberikan, infeksi harus
disingkirkan karena steroid mempunyai efek imunosupresan dan bisa
memperburuk infeksi.
&odifikasi pengobatan penyakit adalah bertujuan untuk
memperlambat progresivitas penyakit. Dua jenis imunomodulator agen yang
saat ini digunakan sebagai suatu pengobatan lini pertama adalah beta
interferon dan glatiramer asetat. Beta ?nterferon sudah dibuktikan efektif
untuk ;elapsing!;emitting multiple slerosa dan Seondary +rogressive
multiple slerosa. Saat ini tidak ada bukti untuk peningkatan hasil pengobatan
terhadap +rimary +rogresive multiple slerosa. +enghentian pengobatan
mungkin saja diperlukan oleh karena intoleran pada efek samping, seperti saat
suatu kehamilan direnanakan, atau ketika tidak lagi efektif. /latiramer adalah
pengobatan yang sesuai untuk mengurangi frekuensi relaps pada pasien
dengan ;elapsing!;emitting multiple slerosa dan tidak digunakan untuk
+rimary +rogresive &ultiple Slerosa dan Seondary +rogressive &ultiple
Slerosa. 0riteria untuk menghentikan glatiramer adalah sama seperti beta
interferon.
Sejumlah pengobatan tersedia untuk menangani gejala!gejala dan
komplikasi multipel sklerosis kronis, masing!masing dengan obat!obatan yang
spesifik. 'entu saja, pengobatan gejala, bersama!sama dengan pengobatan
suportif dan rehabilitasi, adalah satu kesatuan bagian terbesar penanganan
multipel sklerosis.
?nterferon
Sejak 1))", pengobatan yang mempengaruhi sistem kekebalan, terutama
interferon, digunakan untuk penatalaksanaan multipel sklerosis. ?nterferon
adalah suatu protein yang membawa pesan ke tempat dimana sel!sel dari
sistem kekebalan dibentuk dan untuk berkomunikasi satu sama lain. 'erdapat
berbagai jenis yang berbeda dari interferon, seperti alfa, beta, dan gamma.
Semua interferon mempunyai kemampuan untuk mengatur sistem kekebalan
dan memainkan suatu peranan penting dalam melindungi tubuh dari infeksi
virus. Setiap interferon bekerja dengan ara yang berbeda, tetapi memiliki
fungsi yang hampir sama. Beta interferon ditemukan bermanfaat dalam
penanganan dari multipel sklerosis. ?nterferon beta!1b (BetaseronN) adalah
interferon pertama disetujui untuk mengelola ;elapsing ;emitting &ultiple
Slerosa pada tahun 1))". +ada tahun 1))7, interferon beta!1a (*vone2N)
mendapatkan persetujuan dari >D* untuk ;elapsing ;emitting &ultiple
Slerosa.
Seara keseluruhan, pasien yang diterapi dengan interferon mengalami
lebih sedikit relaps atau suatu interval yang lebih panjang dari relaps. Lji
klinis juga telah memperlihatkan efek terhadap memperlambat akumulasi
kerusakan. $fek samping paling umum adalah suatu sindrom menyerupai!
influensa meliputi demam, kelelahan, kelemahan, dan gangguan fungsi otot.
Sindrom ini enderung menurun seiring dengan berjalannya terapi. $fek
samping umum yang lain adalah reaksi lokal tempat injeksi, perubahan dalam
jumlah sel darah, dan kelainan dari fungsi hati. 'est fungsi hati dan hitung
jumlah sel darah direkomendasikan untuk pasien yang menerima interferon
beta!1b.
Lji klinis dari obat beta interferon pada pasien dengan serangan
pertama dari multipel sklerosis menunjukkan bahwa dalam populasi pasien
ini, obat!obatan ini dapat menunda dari serangan kedua. *vone2N diberikan
seara intramuskuler sekali seminggu, BetaseronN diberikan seara subkutan
setiap selang sehari, dan ;ebifN diberikan seara subkutan tiga kali setiap
minggunya.
?nterferon beta yang ada meliputi.
?nterferon beta!1b (BetaseronN) digunakan untuk penatalaksanaan bentuk
relaps dari multipel sklerosis, untuk mengurangi frekuensi dari relaps
klinis. +asien dengan multipel sklerosis yang telah menunjukan efektifitas
meliputi pasien yang telah memiliki satu episode klinis pertama dan yang
mempunyai gambaran &;? yang konsisten dengan multipel sklerosis.
?nterferon beta !1a(;ebifN) digunakan untuk penatalaksanaan pasien
dengan bentuk relaps dari multipel sklerosis untuk mengurangi frekuensi
klinis dari relaps dan menghambat akumulasi kerusakan fisik. 0eefektifan
dari ;ebifN dalam kronis progresif multipel sklerosis belum dapat
dibuktikan.
?>@ beta!1a (*vone2N) digunakan untuk penanganan pasien dengan
bentuk relaps dari multipel sklerosis untuk memperlambat akumulasi
kerusakan fisik dan mengurangi frekuensi klinis dari relaps. +asien dengan
multipel sklerosis yang telah dibuktikan efektivitasnya adalah meliputi
pasien yang telah mengalami suatu episode klinis pertama dan mempunyai
gambaran &;? konsisten dengan multipel sklerosis. 0eamanan dan
efektivitas pada pasien dengan kronis progresif multipel sklerosis belum
dapat ditetapkan.)
/latiramer *setat
/latiramer *setat (<opa2one) adalah suatu obat yang bertujuan untuk
mengurangi frekuensi relaps dalam ;elapsing ;emitting &ultiple
Slerosis. /latiramer *setat adalah suatu bahan sintetis ampuran asam
amino yang menyerupai suatu komponen protein dari myelin. 1al ini
kemungkinan bahwa reaksi sistem imunologi yang merusak myelin dalam
multipel sklerosa dapat diblok oleh glatiramer asetat. Sebuah reaksi dapat
terjadi dengan segera setelah injeksi dari glatiramer asetat, dapat terjadi
pada satu dari 1# pasien. ;eaksi tersebut dapat meliputi kemerahan, nyeri
dada atau sesak, jantung berdebar!debar, keemasan, hipoventilasi. ;eaksi
biasanya munul dalam "# menit dan tidak memerlukan penanganan.
Beberapa pasien mungkin saja berhadapan dengan resiko lipoatrophi,
inflamasi dan destruksi jaringan di bawah kulit di tempat injeksi.
/latiramer *setat adalah digunakan untuk mengurangi frekuensi dari
relaps pada pasien dengan ;elapsing!;emitting &ultiple Slerosa.
@atali=umab
@atali=umab ('ysabriN) adalah suatu obat yang sudah disetujui oleh >D*
untuk pengobatan multipel sklerosis. @atali=umab adalah satu antibodi
monoklonal yang melawan A8*!(, suatu molekul yang memerlukan sel!
sel imun untuk melekat pada sel!sel lain, menembus sawar darah otak dan
memasuki otak. +roses ini terjadi melalui pembuluh darah dalam waktu
bulanan. ?ni memberikan suatu tanda peringatan untuk suatu penyakit yang
berpotensi berakibat fatal, +rogresive &ultifoal 8eukoenephalopathy
(+&8), suatu infeksi virus dari otak yang biasanya menyebabkan kematian
atau aat yang berat. Lntuk alasan inilah hanya pasien yang telah
menandatangani inform konsen untuk pengobatan dengan program
pengobatan ini yang boleh menjalani pengobatan ini.
@atali=umab digunakan sebagai monoterapi untuk pengobatan dari
pasien dengan relaps multipel sklerosis untuk menegah progresifitas
penyakit dan mengurangi frekuensi relaps klinis. 0eamanan dan efektifitas
natali=umab pada penggunaan lebih dari dua tahun tidak diketahui. 0arena
natali=umab meningkatkan resiko dari +&8, maka dari itu seara umum
hanya direkomendasikan untuk pasien yang tidak merespon, atau tidak
mampu mentoleransi efek samping bentuk pengobatan lain dari multipel
sklerosis.
&ito2antrone
&ito2antrone ( @ovantroneN ) juga disetujui oleh >D* untuk pengobatan
dari multipel sklerosis. &ito2antrone adalah suatu obat kemoterapi yang
memiliki resiko dari efek samping yang berhubungan dengan jantung atau
kanker berat. Bleh karena efek samping serius ini, dokter enderung untuk
menadangkan penggunaannya hanya untuk kasus yang buruk dari
multipel sklerosis.
&ito2antrone adalah digunakan untuk mengurangi kerusakan saraf
dan frekuensi relaps klinis pada pasien dengan seondary, progresif,
progresif relapsing, atau ;elapsing!;emitting &ultiple slerosa yang
mengalami perburukan keadaan ( sebagai ontoh, pasien yang status
sarafnya seara signifikan abnormal atau sering relaps ). &ito2antrone
tidak digunakan dalam penanganan dari pasien dengan primer progresif
multiple slerosa.
+asien dengan multipel sklerosis tahap lanjut mungkin
membutuhkan keterlibatan tim neurorehabilitasi. +asien dengan penyakit
yang berat membutuhkan penanganan menyeluruh yang sesuai untuk
pasien paraplegia, terutama perawatan yang teliti pada daerah yang
mengalami tekanan. +erburukan gangguan berkemih mungkin
memerlukan kateterisasi uretra atau suprapubik."
'im dari berbagai multidisiplin biasanya meliputi spesialis penyakit saraf,
urologi, ilmu pengobatan mata, neuropsikologi, dan pekerjaan sosial.-
+erlunya pembedahan pada kasus ekstrem yaitu.
'enotomi untuk terapi spastisitas dan spasme fleksor
Stimulasi kolumna dorsalis untuk rasa nyeri
'alamotomi stereotaktil untuk ataksia serebelar berat."
DA%TA( PUSTAKA
1. &umenthaler, &ark. &attle, 1einrih. 'aub, $lsan. @eurology fourth
edition. Swit=erland. 'hieme.-##(.
-. +rie, :ilson. +atofisiologi. Jakarta . $/<. -##,.
". *tlas of &ultiple Slerosis. ?n http.DDwww.who.int
(. /insberg, 8ionel. 8eture @otes @eurologi edisi ke!%. Jakarta. $rlangga
&edial Series.-##,.
,. Su=anne .smelt=erO brenda /.bare. -##".Buku ajar keperawatan medikal
bedah BrunnerO suddarth edisi % . Jakarta . penerbit buku kedokteran
$/<
7. &ultiple Slerosis . :hat is &ultiple Slerosis, available from .
httpDwww.&ultiple Slerosis.org