Anda di halaman 1dari 71

V

O
L
.

1
,

N
O
.

1
,

M
A
R
E
T

2
0
0
7

:

1
-
6
5
JEB VOL. 1 NO. 1 Hal. 1-65 MARET 2007
VOL. 1, NO. 1, MARET 2007 ISSN: 1978 - 3116
ISSN: 1978 - 3116
EKONOMI &
BISNIS
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
JURNAL EKONOMI & BISNIS (JEB)
EDITOR IN CHIEF
Prof. Dr. Djoko Susanto, MSA., Akuntan
STIE YKPN Yogyakarta
EDITORIAL BOARD MEMBERS
Dr. Baldric Siregar, MBA., Akuntan Dr. Soeratno, M.Ec.
STIE YKPN Yogyakarta Universitas Gadjah Mada
Dr. Dody Hapsoro, MSPA., MBA., Akuntan Dr. Harsono, M.Sc.
STIE YKPN Yogyakarta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
MANAGING EDITORS
Dra. Sinta Sudarini, MS., Akuntan
STIE YKPN Yogyakarta
EDITORIAL SECRETARY
Drs. Rudy Badrudin, M.Si.
STIE YKPN Yogyakarta
PUBLISHER
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIE YKPN Yogyakarta
Jalan Seturan Yogyakarta 55281
Telpon (0274) 486160, 486321 ext. 1100 Fax. (0274) 486155
EDITORIAL ADDRESS
Jalan Seturan Yogyakarta 55281
Telpon (0274) 486160, 486321 ext. 1332 Fax. (0274) 486155
http://www.stieykpn.ac.id l e-mail: rudy@stieykpn.ac.id
Bank Mandiri atas nama STIE YKPN Yogyakarta No. Rekening 137 0095042814
Jurnal Ekonomi & Bisnis (JEB) terbit sejak tahun 2007. JEB merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian
dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIE YKPN) Yogyakarta.
Penerbitan JEB dimaksudkan sebagai media penuangan karya ilmiah baik berupa kajian ilmiah maupun hasil penelitian di
bidang ekonomi dan bisnis. Setiap naskah yang dikirimkan ke JEB akan ditelaah oleh MITRA BESTARI yang bidangnya sesuai.
Daftar nama MITRA BESTARI akan dicantumkan pada nomor paling akhir dari setiap volume. Penulis akan menerima lima
eksemplar cetak lepas (off print) setelah terbit.
JEB diterbitkan setahun tiga kali, yaitu pada bulan Maret, Juli, dan Nopember. Harga langganan JEB Rp7.500,- ditambah
biaya kirim Rp12.500,- per eksemplar. Berlangganan minimal 1 tahun (volume) atau untuk 3 kali terbitan. Kami memberikan
kemudahan bagi para pembaca dalam mengarsip karya ilmiah dalam bentuk electronic file artikel-artikel yang dimuat
pada JEB dengan cara mengakses artikel-artikel tersebut di website STIE YKPN Yogyakarta (http://www.stieykpn.ac.id).
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
DAFTAR ISI
PENGARUH FIRM SIZE, TANGIBLE ASSETS, GROWTH OPPORTUNITY, PROFITABILITY,
DAN BUSINESS RISK PADA STRUKTUR MODAL PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI INDONESIA:
STUDI KASUS DI BEJ
Theresia Tri Harjanti dan Eduardus Tandelilin
1-10
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG TAKTIK PEMASANG IKLAN, PENGHARGAAN DIRI,
KERENTANAN KONSUMEN, DAN PENGETAHUAN PRODUK KONSUMEN PADA SKEPTISME REMAJA
TERHADAP IKLAN TELEVISI
Kurnia Dewi
11-22
ANALISIS NILAI INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR) PADA INVESTASI
DI KABUPATEN SLEMAN, TAHUN 2000-2004
Mufidhatul Khasanah
23-31
METODOLOGI EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DI BIDANG EKONOMI DAN KEUANGAN
Muhammad Yusuf
33-48
ANALISIS PENGARUH IMAGE, KUALITAS YANG DIPERSEPSIKAN, HARAPAN NASABAH
PADA KEPUASAN NASABAH DAN PENGARUH KEPUASAN NASABAH PADA LOYALITAS NASABAH
DAN PERILAKU BERALIH MEREK
Rini Kusumawati
49-58
ASPEK VALUE ADDED RUMAH SAKIT SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM
AM Vianey Norpratiwi
59-65
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
2
JEB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 1-10
menjadi salah satu elemen penting dalam perusahaan
karena baik dalam pembukaan bisnis maupun dalam
pengembangan bisnis modal sangatlah diperlukan.
Oleh karena itu, perusahaan harus menentukan
seberapa banyak modal yang diperlukan untuk
membiayai bisnisnya. Sumber dana bagi perusahaan
dapat diperoleh dari dalam perusahaan yang berasal
dari laba ditahan dan depresiasi, serta dana dari luar
perusahaan yang berasal dari utang, yaitu dana yang
berasal dari para kreditur dan dana yang berasal dari
peserta yang mengambil bagian dalam perusahaan
yang akan menjadi modal sendiri (Riyanto, 1995).
Struktur modal merupakan suatu pilihan
pendanaan perusahaan antara utang dan ekuitas.
Banyak model yang digunakan untuk menjelaskan
mengenai perilaku pendanaan perusahaan. Teori yang
menjelaskan mengenai hal tersebut antara lain static
trade-off theory (Modigliani dan Miller, 1963 dalam
Titman dan Wessels, 1988), pecking order theory
(Myers, 1984), dan teori keagenan (Jensen dan
Meckling, 1976).
Banyak penelitian mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan struktur modal perusahaan.
Namun, banyak yang belum mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi struktur modal suatu perusahaan
secara pasti. Berdasarkan penelitian-penelitian yang
telah dilakukan, antara lain Ghosh et al. (2000), Shao et
al. (1995), Ooi (1999), Hutchinson et al. (1998), Low
dan Chen (2004), Susiaty (1998), Sulistyaningsih (2001),
Faisal (2000), Margasari (2002), dan Saktiani (2006),
menjelaskan bahwa atribut yang diidentifikasi sebagai
penentu pemilihan struktur modal sering kali tidak
diamati secara langsung. Sebenarnya tidak ada indikator
akuntansi tunggal yang dapat digunakan sebagai
gambaran yang tepat dari setiap atribut sedangkan
dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan
tersebut indikator yang digunakan untuk mengukur
atribut yang diidentifikasi sebagai penentu pemilihan
struktur modal dianggap sebagai indikator yang
sempurna.
Penelitian ini akan menganalisis faktor-faktor
yang mempengaruhi struktur modal dengan
menggunakan beberapa indikator untuk mengukur
setiap atribut sehingga selain dapat membuktikan
faktor-faktor yang diprediksi mempengaruhi struktur
modal juga akan dapat diketahui reliabilitas dan validitas
masing-masing indikator dalam mengukur masing-
masing atribut yang diidentifikasi sebagai penentu
struktur modal. Metode yang akan digunakan adalah
SEM (Structural Equation Modeling). Tujuan
penelitian ini adalah untuk membuktikan pengaruh firm
size, tangible assets, growth opportunity, profitabil-
ity dan business risk pada struktur modal perusahaan
manufaktur di Indonesia.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Titman dan Wessels (1988) dengan menggunakan 469
perusahaan sebagai sampel dalam penelitiannya
dengan menggunakan metode structural equation
modeling menemukan bahwa keunikan perusahaan
atau produk yang terspesialisasi dan profitabilitas
berhubungan negatif dan signifikan dengan rasio utang
perusahaan, rasio utang jangka pendek berhubungan
negatif, dan signifikan dengan ukuran perusahaan.
Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa perusahaan
kecil lebih suka menggunakan utang jangka pendek
daripada menggunakan utang jangka panjang. Dalam
penelitian ini, tidak ditemukan bukti yang mendukung
teori yang memprediksi bahwa growth, tax shield, vola-
tility, dan nilai collateral suatu aktiva berpengaruh
terhadap rasio utang. Namun, penelitian ini menemukan
bukti yang mendukung proposisi bahwa perusahaan
yang mempunyai kemampulabaan relatif memiliki utang
rendah relatif terhadap nilai pasar ekuitas mereka dalam
arti bahwa profitabilitas perusahaan berhubungan
negatif dan signifikan dengan tingkat utang.
Baskin (1989) dengan menggunakan 378
perusahaan di Amerika Serikat dalam penelitiannya
menemukan bahwa profitabilitas perusahaan
berhubungan negatif dan signifikan dengan rasio utang
perusahaan. Hal ini mendukung argumen pecking or-
der theory. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa
growth berhubungan positif dan signifikan dengan
rasio utang.
Harris dan Raviv (1991), menemukan bukti
bahwa leverage meningkat dengan meningkatnya aktiva
tetap, nondebt tax shields, peluang investasi, dan
ukuran perusahaan dan menurun dengan adanya
volatilitas, biaya iklan, probabilitas kebangkrutan,
profitabilitas, dan keunikan produk. Shao et al. (1995),
dengan menggunakan 156 perusahaan sebagai cabang
dari perusahaan multinasional di Amerika Serikat
menemukan bahwa umur dari cabang perusahaan
3
PENGARUH FIRM SIZE, TANGIBLE ASSETS, .................... (Theresia Tri Harjanti & Eduardus Tandelilin)
multinasional dan risiko keuangan yang dihadapi
cabang perusahaan multinasional merupakan faktor
penting yang mempengaruhi struktur modal.
Perusahaan yang mempunyai umur yang lebih tua akan
memiliki utang yang lebih besar daripada perusahaan
yang berumur lebih muda. Hal ini berarti bahwa umur
perusahaan berhubungan positif dengan tingkat utang
perusahaan. Risiko keuangan yang lebih rendah akan
berhubungan dengan kemungkinan untuk
menggunakan utang lebih besar. Berarti bahwa risiko
berpengaruh negatif terhadap tingkat utang
perusahaan. Hasil penelitian memukan bahwa
perputaran total aktiva dan status kepemilikan
merupakan faktor penting lain yang mempengaruhi
struktur modal suatu perusahaan.
Penelitian berikutnya dilakukan oleh
Hutchinson et al. (1998), dengan menggunakan sampel
3.368 perusahaan di Inggris dan membaginya
berdasarkan ukuran perusahaan tersebut berdasar
jumlah karyawan yang ada di perusahaan tersebut.
Dengan melakukan pemisahan antara utang jangka
panjang, utang jangka pendek, dan total utang untuk
melihat struktur utang perusahaan menyimpulkan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
profitabilitas, collateral, ukuran, dan umur perusahaan
dengan struktur modal. Terdapat hubungan negatif dan
signifikan antara profitabilitas dengan utang
perusahaan baik utang jangka pendek, utang jangka
panjang, maupun total utang. Hubungan positif
signifikan antara collateral dengan utang jangka
panjang dan total utang perusahaan serta pengaruh
negatif collateral terhadap utang jangka pendek
perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa jika
perusahaan lebih banyak memiliki aktiva maka
perusahaan akan lebih suka untuk menggunakan utang
jangka panjang.
Penelitian oleh Hutchinson et al. (1998) juga
menemukan hubungan positif signifikan antara ukuran
perusahaan dengan utang jangka panjang perusahaan
dan pengaruh negatif antara ukuran perusahaan
dengan utang jangka pendek perusahaan. Hal ini
menunjukkan bahwa perusahaan yang lebih besar akan
lebih mudah mendapat utang jangka panjang. Hasil
hubungan yang berbeda yang ditunjukkan dalam
hubungan antara collateral dan ukuran perusahaan
dengan struktur modal menunjukkan bahwa hubungan
ini akan berubah arah bergantung pada apakah utang
jangka panjang dan utang jangka pendek yang
dipertimbangkan. Di samping itu, juga ditemukan
hubungan negatif signifikan antara umur perusahaan
dengan utang perusahaan baik utang jangka panjang
dan utang jangka pendek. Penelitian ini juga
menemukan bahwa tingkat pertumbuhan tidak
berpengaruh terhadap struktur modal.
Penelitian oleh Ooi (1999) menggunakan ordi-
nary least square regression dan menggunakan data
panel untuk memperkirakan faktor-faktor yang
mempengaruhi struktur modal. Simpulan dari penelitian
yang menggunakan sampel 483 perusahaan properti di
Inggris ini adalah: (1) bahwa sifat aktivitas dan struktur
aktiva dari perusahaan properti secara signifikan
mempengaruhi peningkatan kapasitas utang
perusahaan tersebut. Perusahaan yang mempunyai
intensitas aktiva yang tinggi cenderung memiliki utang
yang tinggi dalam struktur modalnya, (2) hubungan
negatif dan signifikan antara tingkat utang dengan
growth perusahaan, (3) hubungan negatif signifikan
antara risiko keuangan (ditunjukkan dengan tingkat
suku bunga) dengan kebijakan utang perusahaan
properti di Inggris, (4) kinerja perusahaan dan pajak
tidak berpengaruh pada pemilihan utang-modal dari
perusahaan properti, dan (5) pengaruh negatif firm size
terhadap tingkat utang.
Ghosh et al. (2000) dalam penelitiannya
menggunakan 362 sampel perusahaan di Amerika
Serikat dan membaginya menjadi 19 industri dengan
menggunakan data tahun 1982 dan tahun 1992. Dalam
penelitian cross-sectionalnya ini, Ghosh et al.
menggunakan metode ordinary least square dan
menemukan hasil penelitian, yaitu: (1) pertumbuhan
aktiva, rasio aktiva tetap, biaya penelitian dan
pengembangan, serta biaya pengiklanan sebagai faktor
yang secara signifikan mempengaruhi struktur modal,
(2) hubungan antara pertumbuhan aktiva dengan
struktur modal adalah negatif signifikan, dan (3)
hubungan antara risiko bisnis dan leverage merupakan
hubungan kuadratik, pertama dengan menurunnya
risiko bisnis maka leverage akan meningkat tetapi
kemudian dengan meningkatnya risiko bisnis maka le-
verage akan menurun.
Chen dan Jiang (2001) dengan menggunakan
118 perusahaan di Belanda dalam penelitiannya
menemukan bukti bahwa non-debt tax shield dan
fleksibilitas berhubungan negatif dan signifikan dengan
4
JEB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 1-10
leverage perusahaan dan keduanya merupakan faktor
penting yang menentukan struktur modal perusahaan-
perusahaan di Belanda. Dalam penelitian ini ditemukan
bukti bahwa growth merupakan faktor yang secara
positif tidak signifikan mempengaruhi struktur modal,
bertolak belakang dengan hubungan yang
diprediksikan berdasar teori. Mereka juga menemukan
bahwa tangibility dan size berpengaruh positif
terhadap rasio utang jangka panjang perusahaan dan
tangibility berpengaruh negatif terhadap rasio utang
jangka pendek. Dalam penelitian ini, hasilnya memberi
bukti yang mendukung static trade off hypothesis.
Low dan Chen (2004) melakukan penelitian
terhadap 232 perusahaan dari 30 negara untuk
mengetahui pengaruh diversifikasi internasional dan
diversifikasi produk. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa diversifikasi internasional
berhubungan negatif signifikan dengan leverage
perusahaan untuk perusahaan-perusahaan Amerika
namun untuk perusahaan-perusahaan di luar Amerika
Serikat ditemukan bahwa diversifikasi internasional
tidak signifikan mempengaruhi leverage perusahaan.
Penelitian ini juga menemukan hasil bahwa diversifikasi
produk berhubungan positif dan signifikan dengan
leverage perusahaan. Ditemukan juga bahwa risiko
berhubungan negatif signifikan terhadap tingkat utang
yang mengindikasikan bahwa perusahaan yang
mempunyai likuiditas rendah menghadapi risiko
kebangkrutan yang tinggi sehingga cenderung untuk
menggunakan tingkat utang yang tinggi. Penelitian ini
juga menemukan hasil bahwa penjualan kas
berhubungan negatif signifikan terhadap utang yang
berarti bahwa ketersediaan dana internal akan
mendorong perusahaan untuk menggunakan utang
yang rendah. Hubungan antara ukuran perusahaan dan
tingkat utang adalah positif signifikan.
Supanvanij, J. (2006), melakukan penelitian pada
keputusan pendanaan dari 292 perusahaan Asia dan
130 perusahaan multinasional yang berinvestasi di Asia
selama tahun 1991-1996. Untuk penelitian pada
perusahaan di Asia, hasilnya menunjukkan bahwa
ukuran perusahaan berhubungan positif signifikan baik
terhadap utang jangka panjang maupun utang jangka
pendek. Profitabilitas berhubungan negatif signifikan
terhadap utang sedangkan risiko bisnis tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap leverage.
Untuk perusahaan multinasional yang beroperasi di
Asia, dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran
perusahaan berhubungan positif signifikan terhadap
leverage, profitabilitas perusahaan berhubungan
negatif signifikan terhadap leverage, serta hubungan
positif signifikan antara risiko bisnis dan leverage.
Susiaty (1998), dengan menggunakan sampel
perusahaan manufaktur di Indonesia menemukan hasil
bahwa: (1) struktur aktiva secara positif signifikan
berpengaruh pada struktur modal, (2) pertumbuhan
berhubungan positif signifikan dengan struktur modal,
(3) risiko bisnis berhubungan negatif dengan struktur
modal walaupun tidak signifikan, (4) profitabilitas
secara negatif dan signifikan mempengaruhi struktur
modal, dan (5) inflasi berhubungan positif dan signifikan
terhadap struktur modal.
Dengan menggunakan sampel 53 perusahaan
manufaktur di Indonesia dengan periode penelitian
tahun 1991 sampai 1996, Faisal (2000) melakukan
penelitian mengenai pengaruh struktur kepemilikan
terhadap kebijakan utang perusahaan dan
menyimpulkan bahwa insider ownership, shareholder
dispersion dan devidend payments tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap leverage perusahaan
sedangkan untuk institusional investor, firm growth,
firm size, asset structure, firm profitability dan tax rate
ditemukan berpengaruh secara signifikan terhadap le-
verage.
Sulistyaningsih (2001), dalam penelitiannya
yang menggunakan data perusahaan manufaktur di In-
donesia dan menggunakan analisis regresi berganda
menyimpulkan bahwa inventory, growth of sales, profit
dan size secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap utang jangka panjang, utang jangka pendek,
serta modal. Penelitian berikutnya dilakukan oleh
Margasari (2002), yang melakukan penelitian mengenai
pengaruh karakteristik aktiva terhadap kebijakan utang.
Hasil penelitian ini adalah bahwa unlevered beta dan
diversifikasi tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap leverage perusahaan sedangkan rasio aktiva
tetap, pertumbuhan, dan ukuran perusahaan
berpengaruh secara signifikan terhadap leverage
perusahaan. Dalam penelitian ini hubungan antara
pertumbuhan dengan leverage adalah positif.
Penelitian lain dilakukan oleh Saktiani (2006)
yang menggunakan metode analisis regresi linear
berganda dalam menguji pengaruh karakteristik aktiva,
ukuran, pertumbuhan, profitabilitas, financial con-
5
PENGARUH FIRM SIZE, TANGIBLE ASSETS, .................... (Theresia Tri Harjanti & Eduardus Tandelilin)
straint, dan struktur kepemilikan terhadap kebijakan
utang perusahaan manufaktur di indonesia. Penelitian
ini menyimpulkan bahwa: (1) karakteristik aktiva
berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan
utang, (2) pertumbuhan, kepemilikan institusional, dan
financial constraint berhubungan negatif dan
signifikan terhadap kebijakan utang, (3) ukuran dan
kepemilikan manajerial berhubungan positif signifikan
terhadap leverage, dan (4) profit tidak mempengaruhi
kebijakan utang perusahaan.
Dalam penelitian ini, penulis berfokus pada firm
size, tangible asset, growth, profitability, dan busi-
ness risk sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi
struktur modal perusahaan. Alasan penulis
menggunakan kelima faktor tersebut antara lain karena
faktor-faktor inilah yang menunjukkan konsistensi
dalam hubungannya dengan leverage serta karena
adanya keterbatasan data yang membatasi pengem-
bangan penggunaan proksi. Hipotesis dalam penelitian
ini adalah:
H
1
: firm size berpengaruh positif terhadap leverage
perusahaan.
H
2
: tangible assets berpengaruh positif terhadap le-
verage perusahaan.
H
3
: growth opportunity berpengaruh negatif
terhadap leverage perusahaan.
H
4
: profitability berhubungan negatif dengan lever-
age perusahaan.
H
5
: business risk berpengaruh negatif dengan lever-
age perusahaan.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua
perusahaan manufaktur di Indonesia yang terdaftar di
BEJ dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004.
Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan
metode purposive sampling dengan tipe judgement
sampling, yaitu pemilihan anggota sampel berdasarkan
pada beberapa kriteria tertentu (Cooper dan Emory,
1995). Kriterianya adalah perusahaan manufaktur di
Indonesia, terdaftar di BEJ dari tahun 2000 sampai
dengan tahun 2004, dan menerbitkan laporan keuangan
dalam kurun waktu tersebut. Semua data yang
diperlukan dalam penelitian tersedia dalam laporan
keuangan perusahaan. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder berupa data laporan
tahunan perusahaan yang dimuat dalam Indonesian
Capital Market Directory (ICMD) dan sumber lainnya
yang memuat informasi yang relevan dengan penelitian
ini.
HASIL PENELITIAN
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Structural Equation Modeling (SEM). Model ini terdiri
dari dua bagian, yaitu measurement model dan struc-
tural model. Prosedur statistik yang digunakan untuk
mengestimasi model ini mensyaratkan hubungan antara
masing-masing atribut (variabel independen) dengan
indikator dan variabel dependen adalah linier.
Dalam structural model, rasio utang yang diukur
ditetapkan sebagai fungsi dari atribut yang dijelaskan
dalam measurement model. Structural model
dirumuskan sebagai persamaan sebagai berikut:
=
1

1 +

2 +

3 +

4 +

5 +

atau
leverage =
1
firm size +
2
tangible assets +
3
growth
+
4
profitability +
5
business risk +
dimana, adalah variabel laten endogen, merupakan
variabel laten eksogen, merupakan hubungan
langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen
dan adalah kesalahan pengukuran
Dalam measurement model, atribut yang tidak
diamati (variabel laten) diukur dengan menghubungkan
atribut yang tidak dapat diamati tersebut (variabel laten)
dengan variabel yang diamati (variabel manifest, data
akuntansi). Measurement model dirumuskan sebagai
berikut:
y
n
=
n

n
+
n
x
n
=
n

n
+
n
dimana, y merupakan indikator variabel endogen
(dependen), x merupakan indikator variabel eksogen
(independen), adalah faktor loading, adalah variabel
laten endogen, merupakan variabel laten eksogen,
merupakan kesalahan pengukuran variabel endogen,
d merupakan kesalahan pengukuran variabel eksogen
dan n merupakan indikator ke n.
Berdasarkan persamaan ini, secara sederhana
dikatakan bahwa meskipun atribut yang menurut
6
JEB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 1-10
dugaan menentukan struktur modal tidak dapat diamati,
sejumlah variabel lain yang ditandai sebagai indikator
sebagai ukuran dari atribut dapat diamati. Leverage
digunakan sebagai proksi untuk mengukur struktur
modal perusahaan. Dalam penelitian ini, digunakan 2
ukuran leverage perusahaan, yaitu (1) Rasio antara
utang jangka panjang dengan total aktiva dan (2) Rasio
antara utang jangka pendek dengan total aktiva (Titman
dan Wessels, 1998; Chen dan Jiang, 2001; Supanvanij,
2006; Hutchinson et al. 1998; Ghosh et al. 2000. Nilai
masing-masing diukur dengan menggunakan nilai buku
utang jangka panjang dan nilai buku utang jangka
pendek (Hutchinson et al. 1998; Habibah, 2002).
Variabel firm size diukur dengan menggunakan
natural log dari net sales (Titman dan Wessels, 1988;
Rajan dan Zingales, 1995; Mohd et al. 1998; Chen dan
Jiang, 2001; Supanvanij, 2006; Oliver), natural log dari
equity (Chang et al. 1990) serta natural log dari worker
(Chen dan Jiang, 2001). Penggunaan natural log disini
dimaksudkan untuk mengurangi fluktuasi data yang
berlebih sehingga akan dapat mengurangi skewness of
distribution serta meminimisasi standar error koefisien
regresi.
Variabel tangible assets diukur dengan
menggunakan rasio antara fixed asset dengan total asset
(Mohd et al. 1998; Supanvanij, 2006; Titman dan
Wessels, 1988; Hutchinson et al. 1998, Chen dan Jiang,
2001). Penggunaan fixed asset dalam pengukuran
variabel ini karena fixed asset dapat memberikan
gambaran mengenai besar kecilnya jaminan yang dapat
digunakan oleh suatu perusahaan untuk melunasi
utang. Variabel growth opportunity diukur dengan
menggunakan price earning ratio (PER), persentase
perubahan total aktiva (Titman dan Wessels, 1988),
serta persentase perubahan penjualan (Chen dan Jiang,
2001; Hutchinson et al. 1998).
Dalam penelitian ini, profitability diukur dengan
menggunakan tiga indikator yaitu menggunakan rasio
antara pendapatan operasi terhadap total aktiva (Titman
dan Wessels, 1988; Rajan dan Zingales, 1955; Mohd
et al. 1998; Supanvanij, 2006; Oliver). Proksi yang kedua
dengan menggunakan return on equity (Chen dan
Jiang, 2001), dan proksi yang ketiga dengan
menggunakan rasio antara pendapatan operasi
terhadap total penjualan (Titman dan Wessels,1998;
Chen dan Jiang, 2001).
Business Risk diukur dengan natural log
deviasi standard laba bersih (Supanvanij, 2006) serta
natural log deviasi standard laba bersih sebelum bunga
dan pajak (Chen dan Jiang, 2001). Penggunaan deviasi
standar di sini dimaksudkan untuk memperoleh estimasi
yang lebih baik. Penggunaan natural log disini
dimaksudkan untuk mengurangi fluktuasi data yang
berlebih sehingga akan dapat mengurangi skewness of
distribution dan data akan menyebar normal serta
meminimisasi standar error koefisien regresi. Hasil uji
pengaruh firm size, tangible assets, growth opportu-
nity, profitability, dan business risk terhadap struktur
modal (leverage) disajikan pada Tabel 1 berikut ini:
Tabel 1
Hasil Uji Pengaruh Firm Size, Tangible Assets,
Growth Opportunity, Profitability, dan Business
Risk terhadap Struktur Modal (Leverage)
Variabel Estimate P
FIRM_SIZE 0,287 0,012
TANGIBILITY -0,078 0,125
GROWTH -0,065 0,627
PROFIT -0,561 0,002
B_RISK 0,024 0,745
PEMBAHASAN
Nilai beta untuk firm size adalah sebesar 0,287 dan nilai
p sebesar 0,012. Berdasarkan hasil ini terlihat bahwa
firm size berhubungan positif (arah hubungan positif
dapat dilihat dari koefisien nilai beta) dan signifikan
terhadap struktur modal (leverage) karena nilai p
sebesar 0,012 lebih kecil dari tingkat signifikansinya
(0,05). Dengan demikian, penelitian ini berhasil
membuktikan hipotesis pertama yang menyatakan
bahwa firm size berpengaruh positif terhadap lever-
age perusahaan.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian
yang dilakukan oleh Low dan Chen (2004), Supanvanij
(2006), Hutchinson et al. (1998), Chen dan Jiang (2001),
Susiaty (1998), Faisal (2000), Sulistyaningsih (2001),
Margasari (2002), serta Saktiani (2006). Hasil penelitian
ini mengindikasikan bahwa semakin besar ukuran suatu
7
PENGARUH FIRM SIZE, TANGIBLE ASSETS, .................... (Theresia Tri Harjanti & Eduardus Tandelilin)
perusahaan maka tingkat utang yang digunakan dalam
pendanaannya semakin tinggi pula. Hal ini dapat
dijelaskan bahwa perusahaan yang lebih besar
mempunyai asymmetric information yang lebih kecil
sehingga pihak luar dapat memperoleh informasi lebih
mengenai perusahaan tersebut sehingga lebih mudah
bagi perusahaan yang lebih besar untuk mendapatkan
utang dan juga karena adanya akses ke pasar modal
yang lebih mudah untuk perusahaan besar. Pengaruh
positif firm size terhadap leverage juga dapat dijelaskan
oleh adanya batasan yang dibuat oleh kreditor dalam
memberi pinjaman sehingga kreditor akan lebih mudah
memberi utang kepada perusahaan yang lebih besar
dengan asumsi bahwa kemungkinan perusahaan besar
untuk mengalami kebangkrutan kecil sehingga kreditur
akan merasa lebih aman untuk memberi pinjaman kepada
perusahaan yang lebih besar.
Nilai beta untuk tangible assets adalah sebesar
-0,078 dengan nilai p sebesar 0,125. Hal ini berarti bahwa
tangible assets tidak berpengaruh terhadap leverage
karena nilai p sebesar 0,125 lebih besar dari tingkat
signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil ini maka hipotesis
kedua yang menyatakan bahwa tangible assets
berpengaruh positif terhadap leverage perusahaan
ditolak. Berdasarkan nilai beta yaitu sebesar -0,078 dapat
disimpulkan bahwa ada kecenderungan hubungan
negatif antara tangible assets dengan leverage
perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
penelitian Titman dan Wessels (1998) yang tidak
menemukan bukti yang mendukung teori yang
menyatakan bahwa tangible assets berpengaruh
terhadap leverage perusahaan.
Nilai beta untuk growth opportunity adalah
sebesar -0,065 dengan nilai p sebesar 0,627. Dengan
nilai p sebesar 0,627 jauh lebih besar daripada tingkat
signifikansi 0,05 menunjukkan bahwa pengaruh growth
opportunity terhadap leverage tidak signifikan.
Berdasarkan hasil analisis ini, maka hipotesis yang
menyatakan bahwa growth opportunity berpengaruh
negatif terhadap leverage perusahaan tidak dapat
dibuktikan secara empiris. Nilai beta sebesar -0,065
mengindikasikan bahwa ada kecenderungan hubungan
antara growth opportunity dengan leverage adalah
negatif. Ketidaksignifikanan pengaruh growth oppor-
tunity terhadap leverage perusahaan dalam penelitian
ini disebabkan karena faktor pengukuran indikator. Hal
ini karena peluang untuk bertumbuh bagi perusahaan
diukur dengan menggunakan indikator pertumbuhan
sedangkan peluang merupakan sesuatu yang tidak
dapat diukur secara pasti. Hasil penelitian ini
mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Titman
dan Wessels (1998) dan Hutchinson et al. (1998).
Nilai beta dan nilai p untuk profitability berturut-
turut sebesar -0,561 dan 0,002. Berdasarkan nilai beta
dapat diketahui bahwa hubungan antara profitability
dengan leverage adalah negatif. Nilai p sebesar 0,002
lebih kecil daripada tingkat signifikansi 0,05. Artinya
pengaruh profitability pada leverage perusahaan
adalah signifikan. Berdasarkan hasil analisis tersebut
maka hipotesis keempat penelitian ini yang menyatakan
bahwa profitability berhubungan negatif dengan le-
verage perusahaan dapat dibuktikan secara empiris.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian
yang dilakukan oleh Hutchinson et al (1998), Low &
Chen (2004), Supanvanij (2006), Baskin (1989), Titman
dan Wessels (1988), Susiaty (1998), Faisal (2000), serta
Sulistyaningsih (2001). Implikasi hasil penelitian ini
adalah bahwa perusahaan yang profitabilitasnya tinggi
akan lebih banyak mempunyai dana internal daripada
perusahaan yang profitabilitasnya rendah. Perusahaan
dengan profitabilitas tinggi akan menggunakan utang
lebih kecil karena perusahaan mampu menyediakan
dana yang cukup melalui laba ditahan. Implikasi lain
dari pengaruh positif ini juga dapat dijelaskan berkaitan
dengan biaya yang harus ditanggung perusahaan jika
perusahaan menggunakan ekuitas dalam struktur
modalnya. Hal ini akan mendorong perusahaan untuk
menggunakan laba ditahan yang ada daripada harus
menerbitkan ekuitas baru dengan biaya yang tinggi
untuk membiayai pendanaannya.
Hasil penelitian ini juga mendukung pecking
order theory yang menyatakan bahwa perusahaan
lebih suka untuk menggunakan dana internal (laba
ditahan) daripada dana eksternal (utang dan ekuitas)
untuk membiayai pengeluaran modalnya sehingga
dengan profitabilitas yang tinggi perusahaan akan
mengurangi tingkat penggunaan utangnya.
Nilai beta untuk business risk adalah sebesar
0,024 dengan nilai p sebesar 0,745. Nilai p sebesar
0,745 yang lebih besar daripada tingkat signifikansi 0,05
menunjukkan bahwa pengaruh business risk terhadap
leverage tidak signifikan. Dengan hasil analisis ini,
tidak ditemukan bukti yang mendukung hipotesis
kelima yang menyatakan bahwa business risk
8
JEB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 1-10
berpengaruh negatif dengan leverage perusahaan.
Koefisien nilai beta yang positif mengindikasikan
bahwa ada kecenderungan hubungan positif antara
business risk dengan leverage perusahaan. Hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa business risk tidak
berpengaruh terhadap leverage perusahaan
disebabkan karena dalam pengukuran indikator busi-
ness risk digunakan pengukuran pada variabilitas
pendapatan perusahaan sedangkan business risk yang
merupakan tingkat risiko bisnis yang harus dihadapi
perusahaan merupakan suatu keadaan yang sulit untuk
diukur atau ditentukan secara pasti. Hasil penelitian ini
sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Titman
dan Wessels (1998) dan Supanvanij (2006).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh
firm size, tangible assets, growth opportunity, profit-
ability dan business risk pada struktur modal
perusahaan manufaktur di Indonesia. Simpulan yang
diperoleh adalah firm size berhubungan positif dan
signifikan terhadap leverage perusahaan dan ln net
sales merupakan indikator yang lebih valid dan reliabel
untuk mengukur firm size, tangible assets tidak
berpengaruh terhadap leverage perusahaan namun ada
kecenderungan hubungan negatif antara tangible as-
sets dengan leverage perusahaan, tidak ditemukan bukti
bahwa growth opportunity berpengaruh terhadap le-
verage perusahaan dan persentase perubahan total
aktiva merupakan indikator yang lebih valid dan reliabel
dalam mengukur growth opportunity, profitability
berhubungan negatif dan signifikan dengan leverage
perusahaan, rasio antara pendapatan operasi terhadap
total aktiva merupakan indikator yang lebih valid dan
reliabel dalam mengukur profitability, tidak ditemukan
bukti bahwa business risk berpengaruh terhadap le-
verage perusahaan, dan ln deviasi standard EBIT
merupakan indikator yang lebih valid dan reliabel dalam
mengukur business risk.
Saran
Indikator yang digunakan dalam penelitian ini kurang
mampu menggambarkan sifat-sifat masing-masing
atribut yang disarankan oleh teori yang ada sehingga
faktor yang secara teori diprediksi mempengaruhi
struktur modal menjadi tidak signifikan pengaruhnya.
Dalam penelitian ini, dalam mengukur nilai utang jangka
panjang dan utang jangka pendek dilakukan dengan
menggunakan nilai buku. Variabel-variabel independen
yang digunakan dalam penelitian ini kurang mampu
menjelaskan variasi yang ada pada variabel dependen.
Penelitian ini hanya menggunakan perusahaan
manufaktur sebagai sampel penelitian sehingga belum
dapat digunakan sebagai acuan yang menyeluruh
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi struktur
modal perusahaan-perusahaan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Barcley, M. J. dan Smith, C. W. (1995), The Maturity
Structure of Corporate Debt. Journal of Fi-
nance, Vol. 50, No. 2, June: 609-631.
Baskin, J. (1989), An Empirical Investigation of The
Pecking Order Hypothesis. Journal Manage-
ment, Vol. 18, No. 1, Spring: 26-35.
Chang, R. P., dan Rhee, S. G. (1990), The Impact of Per-
sonal Taxes on Corporate Dividend Policy and
Capital Structure Decisions. Financial Man-
agement. Vol. 19, No. 2, Summer: 21.
Chen, L. H., dan Jiang, G. J. (2001), The Determinant of
Ducth Capital Structure Choice. Working Pa-
per, September 2001.
Cooper, D. R., dan Emory, W. C. (1995), Business Re-
search Methods, Fifth Edition, New York : Erwin.
Faisal. (2000), Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap
Kebijakan Hutang Perusahaan Pada Industri
Manufaktur di Bursa Efek Jakarta, Unpublished.
Universitas Gadjah Mada.
Ferdinand, A. (2006), Structural Equation Modeling
Dalam Penelitian Manajemen, Aplikasi
Model-Model Rumit Dalam Penelitian Untuk
Tesis Manajemen Dan Disertasi Doktor, BP-
UNDIP, Semarang.
9
PENGARUH FIRM SIZE, TANGIBLE ASSETS, .................... (Theresia Tri Harjanti & Eduardus Tandelilin)
Ghosh, A., Cai, F., dan Li, W. (2000), The Determinants
of Capital Structure. American Business Review,
Vol. 18, No. 2, June: 39.
Ghozali, Imam (2005). Model Persamaan Struktural:
Konsep dan Aplikasi dengan Program AMOS
Ver. 5.0. BP-UNDIP, Semarang.
Ghozali, Imam (2006). Structural Equation Modeling:
Metode Alternatif Dengan Partial Least
Square. BP-UNDIP, Semarang.
Ghozali, Imam dan Fuad (2005). Structural Equation
Modeling: Teori, Konsep, dan Aplikasi Dengan
Program Lisrel 8.54. BP-UNDIP, Semarang.
Gujarati, Damodar, N. (1988), Basic Econometrics, Sec-
ond Edition, McGraw, Inc.
Habibah, S. (2000). Dinamika Faktor-Faktor Yang
Menentukan Struktur Modal Perusahaan Tahun
1992-1997. unpublished. Universitas Gadjah
Mada.
Harris, M. dan Raviv, A. (1991), The Theory of Capital
Structure. Journal of Finance, Vol. 46, No. 1,
Maret: 297-355.
Hartono, Jogiyanto. (1998). Teori Portofolio dan
Analisis Investasi. Edisi 1. BPFE Yogyakarta.
Hutchinson, P., Hall, G., dan Michaelas, N. (1998), The
Determinants of Capital Structure For Micro,
Small, and Medium-Sized Enterprises.
www.sbaer.uca.edu/research/1998/ICSB/
n008.htm.
Kester, C. W. (1986), Capital and Ownership Structure:
A Comparison of United States and Japanese
Manufacturing Corporation. Financial Man-
agement, Vol. 15, No. 1, Spring: 5-16.
Low, P. Y., dan Chen, K. H. (2004), Diversification and
Capital Structure: Some International Evidence.
Review of Quantitative Finance and Account-
ing. Vol. 23, No. 1, Jul: 55.
Margasari, Naning. (2002), Pengaruh Unlevered Beta,
Diversifikasi, Firm Growth, Rasio Aktiva Tetap
dan Ukuran Peruahaan Terhadap Kebijakan
Hutang Perusahaan, Unpublished. Universitas
Gadjah Mada.
Mohd, M. A., Perry, L. G., dan Rimbey, J. N (1998), The
Impact of Ownership Structure On Corporate
Debt Policy: a Time-Series Cross-Sectional
Analysis. The Financial Review,Vol. 33, No. 3,
Agust: 85.
Myers, S. C. (2001), Capital Structure. Journal of Eco-
nomics Perspectives, Vol. 15, No. 2, Spring: 81-
102.
Oliver, B. R., The Impact of Management Confidence
on Capital Structure. Paper. Australian National
University, Canberra, Australia.
Ooi, J. (1999), The Determinants of Capital Structure
Evidence on UK Property Companies. Journal
of Property Investment & Finance, Vol. 17, No.
5: 464.
Rajan, G. R., dan Zingales, L. (1995), What Do We Know
About Capital Structure? Some Evidence from
International Data, Journal of Finance. Vol. 50,
No. 1: 1421-1460.
Riyanto, B. (1989), Dasar-Dasar Pembelanjaan
Perusahaan, Edisi 4, BPFE.
Ross, S.A., Westerfield, R.W., & Jaffe, F., 2005, Cor-
porate Finance, 7
st
ed., McGraw-Hill Interna-
tional Edition.
Saktiani, A. K. (2006), Pengaruh Karakteristik Aktiva,
Ukuran, Pertumbuhan, Profitabilitas, Financial
Constraint, dan Struktur Kepemilikan Terhadap
Debt Policy Perusahaan. Unpublished. STIE
YKPN.
Shao, L. P., Hasan, I., dan Shao, A. T. (1995), Determi-
nants of International Capital Structure For U.S.
Foreign Subsidiaries. Multinational Business
Review, Vol. 3, No. 2: 67.
10
JEB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 1-10
Sulistianingsih, H. (2001). Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Pemilihan Sumber Pendanaan.
Unpublished. Universitas Gadjah Mada.
Supanvanij, J. (2006), Capital Structure: Asia Firms Vs.
Multinational Firms in Asia. Journal of Ameri-
can Academy of Business, Vol. 10, No. 1: 324.
Susiaty, S. I. (1998). Analisis Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Struktur Modal Pada
Perusahaan Industri Manufaktur di Indonesia.
Unpublished. Universitas Gadjah Mada.
Titman, S. dan Wessels, R. (1988), The Determinant of
Capital Structure Choice. Journal of Finance,
Vol. 43, No. 1, Maret 1988: 1-19.
Weston, J. F., dan E.F. Brigham. (1987), Essentials of
Managerial Finance. Eight Edition. The
Dryden Press, Holt. Rinehart and Winston, Inc,
Orlando.
Zikmund, Wiliam G (2003). Business Reserch Methods
7
th
.
Edition Thomson Soul Western.
11
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG TAKTIK PEMASANG IKLAN,............... (Kurnia Dewi)
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Hal. 11-22
ABSTRACT
This research examined the influences of knowledge
about advertiser tactics, self-esteem, consumer sus-
ceptibility, and consumer product knowledge on ado-
lescents scepticism toward television advertising. Scep-
ticism toward television advertising is defined as ap-
proach of somebody toward television advertising by
using discerning mind and the tendency to refuse or
believe whatever is shown on television ( Boush et al,
1994). Scepticism toward television advertising repre-
sent negative attitude of consumer because it tends to
disbeliefe the advertising claims and suspecting the
advertiser motives. According to the result of Boush
et al ( 1994), adolescents have high scepticism toward
television advertising and positively related to their
knowledge about the advertiser tactics. Progressively
tactics of advertiser comprehended its motives or in-
tention, adolescent hence progressively doubt of or
sceptic to the advertisement. Knowledge about tactics
of advertiser in this case represent knowledge about
the persuasion effort of advertiser to consumer by us-
ing various advertisement tactics. The research also
proved that self-esteem and consumer susceptibility
are positively related to adolescent scepticism toward
television advertising. Consumer product knowledge
enhanced as one of variable influencing adolescent
scepticism toward television advertising in this re-
search. The result proved that knowledge about the
advertiser tactics do not have an effect on positive
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG TAKTIK PEMASANG
IKLAN, PENGHARGAAN DIRI, KERENTANAN KONSUMEN,
DAN PENGETAHUAN PRODUK KONSUMEN PADA
SKEPTISME REMAJA TERHADAP IKLAN TELEVISI
Kurnia Dewi
Magister Manajemen STIE YKPN Yogyakarta
Jalan Seturan, Yogyakarta 55281
Telepon +62 274 486160, 486321, Fax. +62 274 486155
E-mail: kurniadewi@yahoo.co.id
and significant to adolescent scepticism toward televi-
sion advertising. Self-esteem proven to have an effect
on positive and significant to adolescent scepticism
toward television advertising. Consumer susceptibil-
ity proven to have an effect on negativity and signifi-
cant to adolescent scepticism toward television adver-
tising. While consumer product knowledge proven do
not have an effect on positive and significant to ado-
lescent scepticism toward television advertising.
Keywords: scepticism, knowledge about the advertiser
tactics, self-esteem, consumer susceptibility, consumer
product knowledge.
PENDAHULUAN
Berbagai cara digunakan perusahaan untuk melakukan
komunikasi pemasaran, salah satunya adalah promosi.
Promosi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, antara
lain periklanan, personal selling, publisitas, promosi
penjualan, dan pemasaran langsung. Di antara berbagai
bentuk promosi di atas, periklanan merupakan bentuk
promosi yang paling banyak digunakan produsen
karena dianggap lebih efektif dalam menyampaikan
pesan kepada konsumen. Iklan dapat menyediakan
informasi yang diperlukan untuk menentukan pilihan
atas barang dan jasa yang tersedia bagi konsumen.
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
12
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 11-22
Iklan dapat disampaikan melalui berbagai media baik
cetak maupun elektronik seperti koran, majalah, tab-
loid, spanduk, radio, dan televisi. Televisi sebagai salah
satu media iklan semakin sering digunakan oleh para
pemasar karena media ini menyajikan informasi dalam
bentuk audio maupun visual. Konsumen (remaja dan
anak-anak) akan lebih efektif dalam menerima informasi
apabila penyajiannya lengkap meliputi audio dan vi-
sual (Macklin, 1994).
Terkait dengan isu mengenai konsumen remaja
dan anak-anak, penelitian Linn et al (1984) seperti
dikutip oleh Boush et al (1994), mengasumsikan bahwa
proses yang menunjukkan perilaku konsumen remaja
sama dengan proses bagaimana mereka menuju dewasa.
Sedangkan menurut Boush et al (1994), remaja
merupakan tahapan berpikir dan pengembangan sosial
yang dinamis serta lain dari biasanya, maka tidak tepat
jika mengasumsikan kedewasaan dalam proses kognitif
dan keyakinan remaja sama halnya dengan anak-anak.
Isu tentang respon remaja terhadap iklan masih jarang
diteliti terutama terhadap taktik pemasang iklan. Hal
inilah yang kemudian menimbulkan keinginan untuk
melakukan penelitian mengenai respon remaja terhadap
iklan khususnya yang disampaikan melalui media
televisi.
Penelitian Boush et al (1994) menghasilkan
simpulan bahwa remaja memiliki skeptisme yang tinggi
terhadap iklan televisi dan berhubungan positif dengan
semakin tingginya pengetahuan mereka mengenai
taktik pemasang iklan. Semakin taktik pemasang iklan
dipahami maksud atau motifnya, maka remaja semakin
meragukan atau skeptis terhadap iklan tersebut.
Skeptisme didefinisikan sebagai suatu sikap keraguan
atau kecenderungan untuk tidak mempercayai obyek
tertentu (Webster dalam Helm, 2004). Skeptisme
menunjukkan sikap yang cenderung negatif karena
mengandung unsur ketidakyakinan dan kecurigaan.
Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh Boush et al (1998) dan Candra
(2006).
Perbedaaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya terletak pada jumlah variabel independen
yang diuji, batasan usia responden yang digunakan,
dan kategori produk yang diteliti. Selain menguji
pengaruh dari variabel pengetahuan remaja tentang
taktik pemasang iklan, penghargaan diri remaja, dan
kerentanan konsumen remaja pada skeptisme remaja
terhadap iklan televisi, penelitian ini juga menguji
pengaruh pengetahuan produk konsumen pada
skeptisme remaja terhadap iklan televisi. Penelitian
terdahulu menggunakan sampel remaja usia 12-14
tahun, disebut juga dengan periode peural atau awal
pubertas sedangkan penelitian ini menggunakan
kriteria remaja akhir atau masa adolensi (adolescence)
dengan batas usia 17-21 tahun sebagai sampel, dengan
mengacu pada batas usia adolensi menurut banyak ahli
jiwa yaitu 17-19 tahun atau 17-21 tahun (Kartono, 1995).
Penelitian ini memfokuskan pada satu kategori produk
yakni kategori produk minuman ringan karena produk
tersebut dekat dengan kehidupan remaja, dapat
dikonsumsi oleh remaja pria maupun wanita, memiliki
harga yang terjangkau oleh remaja, iklan yang
digunakan dapat mewakili keenam taktik iklan yang
terdapat dalam penelitian ini dan sering ditayangkan di
televisi.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Skeptisme didefinisikan sebagai sikap meragukan atau
kecenderungan untuk tidak mempercayai suatu obyek
tertentu (Webster dalam Helm, 2004). Skeptisme
terhadap iklan televisi adalah pendekatan seseorang
terhadap iklan televisi dengan menggunakan ketajaman
berpikir dan kecenderungan untuk menolak atau
meyakini apa yang dilihat melalui televisi (Boush et al,
1994). Sikap skeptis terhadap iklan dapat dikatakan
sebagai sikap yang cenderung negatif karena bersifat
meragukan pesan iklan dan mencurigai motif pemasang
iklan.
Seseorang mempelajari persuasi melalui banyak
cara, yaitu dari pengalaman berinteraksi sosial dengan
teman, keluarga dan rekan kerja; dari percakapan
tentang bagaimana pikiran, perasaan dan perilaku
seseorang dapat dipengaruhi; dari mengamati pemasar
dan agen persuasi lainnya; dan dari pesan iklan dan
taktik pemasaran pada media berita (Friestad dan
Wright, 1994). Usaha persuasi para pemasang iklan
dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap iklan
televisi. Semakin tinggi pengetahuan seseorang
terhadap usaha persuasi pemasang iklan maka akan
semakin tinggi sikap skeptisnya terhadap iklan. Hal ini
didukung oleh hasil penelitian Boush et al (1994) yang
menunjukkan bahwa pengetahuan tentang taktik
pemasang iklan berhubungan positif dengan skeptisme
13
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG TAKTIK PEMASANG IKLAN,............... (Kurnia Dewi)
terhadap iklan televisi (Boush et al, 1994). Artinya,
semakin konsumen mengetahui bahwa pemasang iklan
berusaha melakukan persuasi melalui penayangan iklan
dengan berbagai taktik, maka konsumen cenderung
semakin meragukan pesan iklan dan mencurigai motif
pemasang iklan. Berdasarkan uraian di atas, hipotesis
pertama yang diajukan adalah:
Ha
1
: Pengetahuan tentang taktik pemasang iklan
berpengaruh positif dan signifikan pada
skeptisme remaja terhadap iklan televisi.
Penghargaan diri mencerminkan feeling of ad-
equacy (kecukupan atau kemampuan) dan harga diri
seseorang (Loudon dan Della Bitta, dalam Boush et al,
1994). Penghargaan diri merupakan salah satu indi-
vidual difference variable yang digunakan untuk
meneliti hubungan antara kesesuaian (conformity)
(Hovland dan Janis, 1959) dan persuasibilitas (McGuire,
1968) seperti dikutip oleh Boush et al, 1994; dan
diketahui bahwa terdapat hubungan yang negatif di
antara keduanya. Salah satu alasan dari hubungan
negatif tersebut adalah bahwa seseorang yang
mempunyai penghargaan diri rendah akan kurang
percaya diri pada keyakinan dan keputusannya sendiri,
sehingga akan mengikuti pendapat orang lain. Dengan
demikian, penghargaan diri memiliki hubungan yang
positif dengan skeptisme remaja terhadap iklan televisi,
yaitu apabila seseorang mempunyai penghargaan diri
yang tinggi, maka orang tersebut memiliki skeptisme
yang tinggi pula terhadap iklan televisi karena memiliki
keyakinan yang tinggi terhadap dirinya sendiri (Boush
et al, 1994), sehingga hipotesis kedua dalam penelitian
ini adalah:
Ha
2
: Penghargaan diri berpengaruh positif dan
signifikan pada skeptisme remaja terhadap iklan
televisi.
Bearden et al (1989) mengungkapkan bahwa
kerentanan konsumen merupakan kemampuan untuk
menyesuaikan harapan atas keputusan pembelian
menurut pendapat orang lain. Skala kerentanan
konsumen mempunyai dimensi normatif yang
digambarkan sebagai keinginan untuk mengikuti
harapan orang lain dan dimensi informasional sebagai
kecenderungan untuk mempelajari suatu produk dengan
melakukan observasi atau menerima informasi dari or-
ang lain sebagai suatu kenyataan (Bearden et al, 1989).
Kerentanan konsumen juga dapat diartikan sebagai
keinginan untuk memiliki atau mempertahankan image
seseorang terhadap orang lain melalui pemilikan dan
penggunaan suatu produk atau merek tertentu.
Kerentanan konsumen dapat digunakan untuk
menilai skeptisme remaja terhadap iklan televisi.
Menurut hasil penelitiannya, Boush et al (1994)
menyimpulkan bahwa kerentanan konsumen memiliki
hubungan negatif dengan skeptisme remaja terhadap
iklan televisi, yaitu apabila seseorang memiliki
kerentanan konsumen yang rendah, maka orang
tersebut memiliki skeptisme yang tinggi terhadap iklan
televisi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka
hipotesis ketiga yang diajukan adalah:
Ha
3
: Kerentanan konsumen berpengaruh negatif dan
signifikan pada skeptisme remaja terhadap iklan
televisi.
Ketika dihadapkan pada suatu informasi,
konsumen melakukan proses interpretasi yang meliputi
pengetahuan (knowledge), pengertian (meanings), dan
kepercayaan (beliefs). Proses ini disebut sebagai
proses kognitif yang memfokuskan pada bagaimana
konsumen mengartikan dan memahami informasi
eksternal yang diterimanya. Pada proses ini,
pengetahuan memiliki peranan penting sebagai sesuatu
yang disimpan dalam ingatan seseorang yang dapat
digunakan untuk menginterpretasi suatu informasi
yang diperoleh dari lingkungannya. Pengetahuan
produk dapat bersifat subyektif dan abstrak karena
merupakan penilaian konsumen secara pribadi
mengenai suatu produk baik yang dilihatnya secara
fisik maupun secara psikologis yang hanya dapat
dirasakannya.
Setiap konsumen memiliki tingkat pengetahuan
produk dan pemahaman terhadap suatu informasi yang
berbeda satu dengan yang lain. Tingkat pengetahuan
produk yang dimiliki konsumen dapat beragam mulai
dari yang paling luas dan abstrak hingga paling spesifik
tentang suatu produk. Hal ini mengakibatkan
konsumen membentuk opini yang berbeda-beda dan
menunjukkan sikap yang beragam terhadap suatu
obyek, kejadian, atau segala sesuatu yang ada dan
terjadi di lingkungan sekitarnya dan juga informasi-
infomasi baru yang berasal dari luar dirinya.
Pengetahuan produk memiliki kaitan yang erat dengan
konsumen, karenanya pengetahuan produk
ditempatkan sebagai variabel konseptual yang penting
dalam perilaku konsumen, mempengaruhi hal-hal seperti
pengumpulan informasi (Brucks; Rai dan Sieben, dalam
14
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 11-22
Shin dan Chia, 2005) dan pemrosesan informasi
(Hutchinson dan Alba; Bettman dan Park; J ohnson dan
Russo; Rao dan Monroe dalam Shin dan Chia, 2005).
Lynch et al seperti dikutip Shin dan Chia (2005)
membuktikan bahwa konsumen membuat keputusan
berdasarkan pada keberadaan informasi dalam ingatan
mereka. Selain itu, Rao dan Monroe (1988) menemukan
bahwa pengetahuan produk dapat mempengaruhi
bagaimana konsumen bersikap dan menilai suatu
produk atau obyek tertentu termasuk iklan sebagai
salah satu sumber informasi bagi konsumen.
Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis keempat
yang diajukan adalah:
Ha
4
: Pengetahuan produk konsumen berpengaruh
positif dan signifikan pada skeptisme remaja
terhadap iklan televisi.
Pengetahuan produk dalam penelitian ini adalah
pengetahuan tentang kategori produk minuman ringan.
Minuman ringan adalah minuman yang tidak
mengandung alkohol, merupakan minuman olahan
dalam bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan
makanan dan atau bahan tambahan lainnya baik alami
maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap
untuk dikonsumsi. Minuman ringan terdiri dari dua
jenis, yaitu minuman ringan dengan karbonasi dan
minuman ringan tanpa karbonasi.
Sampel penelitian ini adalah pelajar dan
mahasiswa di Yogyakarta yang memenuhi kriteria
remaja golongan akhir atau masa adolensi (adoles-
cence) dengan batas usia 17 tahun sampai dengan 21
tahun sesuai pendapat beberapa ahli jiwa karena remaja
pada masa ini mulai bersikap kritis terhadap obyek-
obyek di luar dirinya, dan mampu mengambil sintesa
antara tanggapan tentang dunia luar dengan dunia in-
tern atau kehidupan psikisnya sendiri (Kartono, 1995).
Selain kriteria usia, responden juga menonton,
memperhatikan, dan mengevaluasi iklan televisi.
Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan
dengan teknik purposive sampling (sampel bersyarat),
yaitu pemilihan dan penentuan sampel berdasarkan
kriteria remaja golongan akhir dengan batas usia antara
17 tahun sampai dengan 21 tahun serta menonton,
memperhatikan, dan mengevaluasi iklan televisi. Selain
itu, pengambilan sampel juga menggunakan teknik con-
venience sampling (pengambilan sampel berdasarkan
kemudahan), yaitu prosedur mendapatkan sampel
menurut keinginan peneliti (Kuncoro, 2003).
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan
dengan metode survei, yaitu dengan menggunakan
kuesioner berisi daftar pernyataan yang dibagikan
secara langsung kepada responden untuk ditanggapi
dan diisi kemudian dikembalikan secara langsung pula
kepada peneliti. Pengumpulan data dalam penelitian
ini hanya dilakukan sekali atau disebut pula sebagai
cross-sectional study (Sekaran, 2000).
Terdapat 11 butir pernyataan yang digunakan
sebagai indikator skeptisme terhadap iklan televisi,
seperti direkomendasi peneliti sebelumnya yakni Boush
et al (1994) yang terdiri dari lima butir pernyataan yang
mencerminkan ketidakyakinan pada pesan iklan yaitu:
(1) iklan di televisi menyampaikan suatu kejujuran; (2)
saya dapat mempercayai hal-hal yang dikatakan atau
dilakukan seorang model dalam iklan; (3) produk yang
diiklankan di televisi selalu merupakan produk yang
terbaik untuk dibeli; (4) saya dapat memperoleh
kejujuran melalui iklan di televisi; dan (5) jika iklan
televisi tidak jujur, tentu tidak ditayangkan di televisi.
Butir-butir pernyataan tersebut diukur menggunakan
skala Likert 5 poin dengan skor 1-5 (1=sangat setuju
dan 5=sangat tidak setuju).
Enam butir pernyataan yang lain mengenai
kecurigaan pada motif pemasang iklan, yaitu: (1)
pemasang iklan lebih peduli agar saya membeli produk
yang diiklankan daripada menyarankan yang terbaik
bagi saya; (2) saya sering memperhatikan ada tipu daya
pemasang iklan di televisi untuk mendorong saya
membeli produk yang diiklankan; (3) iklan televisi
berusaha membuat seseorang membeli barang yang
sesungguhnya tidak dibutuhkan; (4) ada perbedaan
antara iklan televisi dengan program televisi dalam
mempengaruhi saya; (5) iklan televisi hanya
menyampaikan hal-hal yang baik dan tidak
menyampaikan hal-hal yang buruk dari suatu produk;
dan (6) semua iklan di televisi pada dasarnya tidak jujur.
Enam butir pernyataan tersebut diukur menggunakan
skala Likert, dengan skor 1-5 (1=sangat tidak setuju,
dan 5=sangat setuju).
Pengetahuan tentang taktik pemasang iklan
dalam penelitian ini adalah keyakinan tentang usaha
persuasif yang dilakukan oleh pemasang iklan ketika
menggunakan motif atau taktik iklan tertentu (Boush
et al, 1994). Keyakinan mengenai taktik pemasang iklan
dinilai dengan menanyakan pemahaman responden
terhadap beberapa taktik yang digunakan pemasang
15
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG TAKTIK PEMASANG IKLAN,............... (Kurnia Dewi)
iklan dalam usahanya memperoleh 8 efek dari
penggunaan taktik tersebut (Boush et al, 1994).
Taktik pemasang iklan yang dimaksud adalah:
(1) iklan yang menggunakan bintang terkenal (musik,
TV atau film); (2) iklan lucu; (3) iklan yang menunjukkan
penggunaan atau manfaat produk; (4) iklan simbolis
(menggunakan simbol/ gambar/ kartun); (5) iklan yang
memperbandingkan produknya dengan produk lain
atau menjelaskan bahwa produknya lebih dari yang
lain atau unik; dan (6) iklan yang menunjukkan perilaku
remaja sehari-hari (Boush et al, 1994).
Delapan efek yang diharapkan karena adanya
taktik iklan tersebut (Boush et al, 1994) adalah: (1)
berusaha merebut perhatian saya; (2) berusaha
membuat saya membutuhkan produk tersebut; (3)
berusaha membantu saya mempelajari produk tersebut;
(4) berusaha membuat saya menyukai iklan tersebut;
(5) berusaha membuat saya lebih menyukai produk
tersebut; (6) berusaha membuat saya teringat pada iklan
tersebut; (7) berusaha membuat saya percaya pada hal-
hal yang dikatakan iklan tersebut; dan (8) berusaha
membuat saya berpikir bahwa dengan memiliki produk
tersebut akan membuat saya senang. Sehingga jumlah
item pernyataan pada variabel ini sebanyak 48 item.
Tiap-tiap item pernyataan diukur dengan skala Likert,
skor 1-5 (1=sangat tidak setuju, dan 5=sangat setuju).
Terdapat tiga butir pernyataan untuk mengukur
penghargaan diri dalam penelitian ini yang diadaptasi
dari Rosenberg (1965) dalam Boush et al (1994) seperti:
(1) saya merasa senang menjadi diri sendiri; (2) saya
dapat melakukan segala hal dengan baik; dan (3) saya
memiliki masa depan yang baik. Ketiga pernyataan
tersebut mencerminkan optimisme dan kepercayaan
pada kemampuan diri sendiri. Pengukuran untuk
penghargaan diri menggunakan skala Likert dengan
skor 1-5 (1=sangat tidak setuju, dan 5=sangat setuju).
Kerentanan konsumen diukur menggunakan
tiga butir pernyataan yang telah dikembangkan dan
diuji validitasnya oleh Bearden (1989), seperti: (1) untuk
memastikan bahwa saya membeli produk yang benar,
saya sering mencari tahu produk apa yang dibeli dan
digunakan oleh teman saya; (2) jika pengalaman saya
terhadap suatu produk hanya sedikit, saya sering
menanyakan tentang produk tersebut kepada teman
sebelum membelinya; dan (3) ketika membeli produk,
saya biasanya memilih merek yang menurut saya akan
disetujui dan disukai oleh teman saya. Pengukuran
untuk kerentanan konsumen menggunakan skala Likert
dengan skor 1-5 (1=sangat tidak setuju, dan 5=sangat
setuju).
Pengetahuan subyektif produk dalam penelitian
ini diukur melalui tanggapan responden terhadap 4
pernyataan yang diadaptasi dari penelitian Chang
(2004) dan disesuaikan dengan kategori produk yang
dipilih yaitu produk minuman ringan. Kemudian
tanggapan responden atas pernyataan-pernyataan
yang ada diukur menggunakan skala Likert dengan skor
1-5 (1 =sangat tidak setuju, dan 5 =sangat setuju). 4
pernyataan tersebut adalah: (1) saya tahu banyak
tentang produk minuman ringan yang diiklankan; (2)
saya menganggap diri saya ahli dalam hal pengetahuan
tentang produk minuman ringan yang diiklankan; (3)
saya lebih tahu mengenai produk minuman ringan yang
diiklankan daripada teman saya; dan (4) saya selalu
memberikan perhatian lebih pada informasi tentang
produk minuman ringan yang diiklankan.
HASIL PENELITIAN
Pengujian validitas dilakukan untuk memastikan bahwa
pengukuran dapat mengukur apa yang seharusnya
diukur. Untuk penelitian ini pengujian validitas
dilakukan dengan analisis faktor untuk
mentransformasikan sejumlah indikator variabel ke
dalam suatu komponen utama yang tidak berkorelasi
satu sama lain. Ukuran kevalidan dilihat dari nilai Kai-
ser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy
(KMO MSA). Pengukuran dinyatakan valid jika memiliki
nilai KMO MSA lebih besar dari 0,50 (Ghozali, 2005).
Nilai KMO dalam penelitian ini sebesar 0,888 dan nilai
MSA masing-masing item pernyataan berkisar antara
0,699 sampai dengan 0,954 sehingga memenuhi syarat
kevalidan lebih besar dari 0,50. Nilai MSA masing-
masing item pernyataan dapat dilihat pada Tabel 1. Item-
item pernyataan yang memenuhi syarat kemudian
dirotasi dengan harapan dapat mengelompok ke dalam
masing-masing komponen. Hasil matrik komponen
yang telah dirotasi dapat dilihat pada Tabel 2. Pada
tabel tersebut tampak bahwa item-item pernyataan telah
mengelompok pada masing-masing komponen. Dengan
demikian item-item pernyataan tersebut dapat
dinyatakan valid dan benar-benar mengukur variabel
yang ingin diukur.
16
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 11-22
Tabel 1
Nilai MSA
Tabel 2
Rotated Component Matrix
Ukuran reliabilitas konstruk ditentukan dengan
melihat nilai Cronbachs Alpha () masing-masing.
Suatu konstruk dinyatakan reliabel jika nilai Cronbachs
Alpha () lebih besar dari 0,60 (Nunally dalam Ghozali,
2005). Nilai Cronbachs Alpha () masing-masing
konstruk penelitian ini lebih besar dari 0,60
sehingga dapat dikatakan reliabel seperti yang tampak
pada Tabel 3.
17
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG TAKTIK PEMASANG IKLAN,............... (Kurnia Dewi)
Tabel 3
Nilai Cronbachs Alpha
18
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 11-22
Berdasarkan hasil pengujian validitas dan
reliabilitas, terdapat 40 item pernyataan pengukur
konstruk yang dinyatakan valid dan reliabel untuk
digunakan dalam analisis selanjutnya. Item-item
tersebut adalah lima variabel dengan jumlah item pada
masing-masing variabel adalah 10 item untuk mengukur
skeptisme terhadap iklan televisi, 20 item untuk
mengukur pengetahuan tentang taktik pemasang iklan,
4 item untuk mengukur pengetahuan produk konsumen,
3 item untuk mengukur penghargaan diri, dan 3 item
untuk mengukur kerentanan konsumen.
Penelitian ini dilakukan menggunakan 351
responden remaja yang terdiri dari pelajar dan
mahasiswa di Yogyakarta yang berusia 17 sampai
dengan 21 tahun. Persentase responden yang berstatus
pelajar sebesar 48,7 % dan responden mahasiswa
sebesar 51,3 %. Berdasarkan jenis kelamin, 44,7 %
responden berjenis kelamin pria dan 55,3 % wanita.
Dari segi usia, sebesar 26,8 % responden berusia 17
tahun; 31,1 % berusia 18 tahun dan 15,1 % berusia 19
tahun. Sedangkan responden yang berusia 20 dan 21
tahun masing-masing sebesar 13,7 % dan 13,4 %.
Karakteristik responden yang lain adalah rata-
rata waktu menonton televisi per hari. 21,1 % responden
menonton televisi kurang dari 2 jam per hari; 30,5 %
responden menonton televisi 2-3 jam per hari; 29,1 %
responden menonton televisi 3-4 jam per hari dan 19,4
% responden menonton televisi lebih dari 4 jam per
hari. Untuk lebih jelasnya, jumlah dan persentase
distribusi karakteristik responden dapat dilihat pada
Tabel 4.
Penelitian ini menggunakan skala Likert 5 poin
untuk menghitung skor jawaban responden dengan
skor 3 sebagai nilai tengah pengukuran. Setelah
dilakukan penghitungan, rata-rata skor skeptisme
terhadap iklan televisi sebesar 3,6; pengetahuan
tentang taktik pemasang iklan sebesar 3,3;
penghargaan diri sebesar 4,1; kerentanan konsumen
sebesar 2,8 dan pengetahuan produk sebesar 3,3.
Berdasarkan rata-rata skor di atas, dapat dikatakan
bahwa responden memiliki skeptisme terhadap iklan
televisi, pengetahuan tentang taktik pemasang iklan,
penghargaan diri, dan pengetahuan tentang produk
yang diiklankan karena memiliki rata-rata skor lebih dari
3. Sedangkan rata-rata skor kerentanan konsumen
nilainya kurang dari 3 yakni sebesar 2,8. Hal ini
menunjukkan bahwa responden tidak memiliki
kerentanan. Rata-rata skor jawaban responden untuk
Tabel 4
Distribusi Karakteristik Responden
19
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG TAKTIK PEMASANG IKLAN,............... (Kurnia Dewi)
masing-masing variabel disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5
Rata-rata Skor Jawaban Responden
PEMBAHASAN
Pengujian hipotesis penelitian ini dilakukan
menggunakan analisis regresi berganda dengan pro-
gram SPSS. Hasil analisis regresi pengaruh
pengetahuan tentang taktik pemasang iklan,
penghargaan diri, kerentanan konsumen, dan
pengetahuan produk konsumen pada skeptism remaja
terhadap iklan televisi dapat dilihat pada Tabel 6.
Berdasarkan hasil analisis regresi berganda, pengaruh
pengetahuan tentang taktik iklan pemasang iklan,
penghargaan diri, kerentanan konsumen, dan
pengetahuan produk konsumen dapat dirumuskan ke
dalam persamaan berikut:
Skp = 0,077PT + 0.276PD 0,148KK + 0,049PPK
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa
variabel penghargaan diri (PD) memberikan pengaruh
yang lebih besar dengan nilai beta 0,276 dibandingkan
dengan tiga variabel yang lain yaitu pengetahuan taktik
(PT), kerentanan konsumen (KK), dan pengetahuan
produk konsumen (PPK) dengan nilai beta masing-
masing 0,077; -0,148; dan 0,049. Variabel pengetahuan
tentang taktik pemasang iklan, penghargaan diri, dan
pengetahuan produk konsumen mempunyai arah
hubungan positif dengan skeptisme remaja terhadap
iklan televisi, artinya semakin tinggi pengetahuan
tentang taktik pemasang iklan, penghargaan diri, dan
pengetahuan produk konsumen semakin tinggi pula
skeptisme remaja terhadap iklan televisi. Sedangkan
variabel kerentanan konsumen mempunyai arah
hubungan negatif dengan skeptisme remaja terhadap
iklan televisi, artinya semakin tinggi kerentanan
konsumen semakin rendah skeptisme remaja terhadap
iklan televisi.
Nilai adjusted R
2
sebesar 0,138 berarti variabel
pengetahuan tentang taktik pemasang iklan,
penghargaan diri, kerentanan konsumen, dan
pengetahuan produk konsumen menjelaskan 13,8 %
variasi yang ada pada variabel skeptisme remaja
terhadap iklan televisi. Sedangkan 86,2 % sisanya
dijelaskan oleh variabel lain yang belum dimasukkan
dalam model.
Tabel 6
Hasil Analisis Regresi Pengaruh Pengetahuan
Tentang Taktik Pemasang Iklan, Penghargaan Diri,
Kerentanan Konsumen, dan Pengetahuan Produk
Konsumen Pada Skeptisme Remaja Terhadap Iklan
Televisi
Dependent Variable: Skp
Hasil analisis regresi menunjukkan angka
signifikansi variabel pengetahuan tentang taktik
pemasang iklan sebesar 0,122 >0,05, maka Ho diterima
dan Ha ditolak. Artinya variabel pengetahuan tentang
taktik pemasang iklan tidak berpengaruh positif dan
signifikan pada skeptisme remaja terhadap iklan televisi.
Pembuktian hipotesis pertama memberikan hasil tidak
signifikan, hal ini sangat mungkin disebabkan karena
rata-rata skor pengetahuan tentang taktik pemasang
iklan yang dimiliki responden dalam penelitian ini hanya
sedikit lebih tinggi dari nilai tengah penilaian (lihat Tabel
5 hal. 14). Pembuktian hipotesis kedua mengenai
pengaruh penghargaan diri pada skeptisme remaja
terhadap iklan televisi menunjukkan angka signifikansi
variabel penghargaan diri sebesar 0,000 <0,05 maka
Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variabel
penghargaan diri berpengaruh positif dan signifikan
pada skeptisme remaja terhadap iklan televisi.
20
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 11-22
Kerentanan konsumen terbukti berpengaruh
negatif dan signifikan pada skeptisme remaja terhadap
iklan televisi. Hal ini ditunjukkan dengan angka
signifikansi pada variabel kerentanan konsumen
sebesar 0,005 <0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Angka signifikansi pada variabel pengetahuan produk
konsumen sebesar 0,358 >0,05, maka Ho diterima dan
Ha ditolak. Artinya variabel pengetahuan produk
konsumen tidak berpengaruh positif dan signifikan
pada skeptisme remaja terhadap iklan televisi. Dengan
demikian, pembuktian hipotesis keempat memberikan
hasil tidak signifikan. Hal ini sangat mungkin
disebabkan karena responden dalam penelitian ini hanya
memiliki rata-rata pengetahuan produk yang sedikit lebih
tinggi dari nilai tengah penilaian. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa responden tidak mengetahui
banyak hal mengenai produk yang diiklankan sehingga
tidak dapat menunjukkan sikap atau kecenderungan
tertentu terhadap iklan yang ditayangkan di televisi.
SIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN
PENELITIAN
Simpulan
Hasil pengujian hipotesis membuktikan bahwa
pengetahuan tentang taktik pemasang iklan tidak
berpengaruh positif dan signifikan pada skeptisme
remaja terhadap iklan televisi. Artinya, semakin tinggi
pengetahuan remaja tentang taktik pemasang iklan
maka tidak bisa dipastikan bahwa dia akan memiliki
kecenderungan yang tinggi pula untuk tidak meyakini
pesan iklan dan mencurigai maksud pemasang iklan.
Hal ini sangat mungkin disebabkan karena rata-rata
pengetahuan tentang taktik pemasang iklan yang
dimiliki responden dalam penelitian ini hanya sedikit
lebih tinggi dari nilai tengah penilaian. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa responden tidak banyak
mengetahui tentang adanya usaha persuasi yang
dilakukan oleh pemasang iklan melalui penggunaan
berbagai taktik iklan yang ditayangkan di televisi
sehingga responden tidak menunjukkan sikap atau
kecenderungan tertentu terhadap iklan televisi. Temuan
ini tidak mendukung hasil penelitian yang dilakukan
oleh Candra (2006) yang menyatakan bahwa
pengetahuan tentang taktik pemasang iklan terbukti
secara signifikan berpengaruh positif terhadap iklan
televisi.
Penghargaan diri terbukti berpengaruh positif
dan signifikan pada skeptisme remaja terhadap iklan
televisi. Dengan demikian, semakin tinggi penghargaan
remaja terhadap dirinya maka semakin tinggi pula
skeptisme atau kecenderungannya untuk tidak
meyakini pesan iklan dan mencurigai motif pemasang
iklan. Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil
penelitian sebelumnya yang menyimpulkan bahwa
penghargaan diri tidak terbukti secara signifikan
berpengaruh positif pada skeptisme remaja terhadap
iklan televisi (Candra, 2006). Kerentanan konsumen
terbukti berpengaruh negatif dan signifikan pada
skeptisme remaja terhadap iklan televisi. Artinya
semakin tinggi kerentanan remaja terhadap lingkungan
sosialnya, semakin rendah skeptismenya terhadap iklan
televisi. Dengan kata lain, semakin mudah dipengaruhi
oleh lingkungan di luar dirinya dalam mengambil
keputusan maka semakin rendah kecenderungan
remaja untuk tidak meyakini pesan iklan dan mencurigai
motif pemasang iklan. Temuan ini tidak mendukung
hasil penelitian Candra (2006) yang mengungkapkan
bahwa kerentanan konsumen tidak terbukti secara
signifikan berpengaruh negatif pada skeptisme remaja
terhadap iklan televisi.
Selain itu, dari hasil penelitian ini juga terbukti
bahwa pengetahuan produk konsumen tidak
berpengaruh positif dan signifikan pada skeptisme
remaja terhadap iklan televisi. Artinya sebanyak apapun
pengetahuan yang dimiliki remaja tentang produk yang
diiklankan, tidak dapat dipastikan bahwa dia akan
semakin skeptis atau semakin cenderung untuk tidak
meyakini pesan iklan dan mencurigai motif pemasang
iklan. Hal ini sangat mungkin disebabkan karena
responden dalam penelitian ini hanya memiliki rata-rata
pengetahuan produk yang sedikit lebih tinggi dari nilai
tengah penilaian. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa responden tidak mengetahui banyak hal
mengenai produk yang diiklankan sehingga tidak dapat
menunjukkan sikap atau kecenderungan tertentu
terhadap iklan yang ditayangkan di televisi.
Saran
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menyediakan
waktu yang lebih banyak agar dapat menjelaskan secara
lebih terperinci mengenai setiap item pernyataan
kuesioner yang kurang dipahami responden sehingga
jawaban responden menjadi lebih obyektif. Wilayah
21
PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG TAKTIK PEMASANG IKLAN,............... (Kurnia Dewi)
pengambilan sampel untuk penelitian selanjutnya
sebaiknya diperluas sehingga hasil penelitian memiliki
tingkat generalisasi yang lebih tinggi dan dapat
mewakili keseluruhan populasi. Peneliti selanjutnya
juga disarankan untuk menambahkan kategori produk
yang diteliti dan jika memungkinkan peneliti selanjutnya
dapat membuat iklan televisi yang sesuai dengan
kebutuhan penelitian.
Pemahaman mengenai konsumen berkaitan
dengan sikap dan perilakunya akan memberikan
sejumlah manfaat bagi berbagai pihak. Manfaat tersebut
di antaranya adalah memberikan pengetahuan dasar
bagi para peneliti pemasaran ketika melakukan analisis
konsumen, membantu manajer pemasaran dalam
pengambilan keputusan, membantu para pembuat
kebijakan untuk membuat peraturan dan landasan
hukum yang lebih baik mengenai kegiatan penawaran
dan pertukaran barang atau jasa, serta membantu
konsumen untuk dapat mengambil keputusan yang
lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
sebagian remaja pada usia 17 sampai dengan 21 tahun
memiliki skeptisme terhadap iklan televisi, pengetahuan
tentang taktik pemasang iklan, penghargaan diri, dan
pengetahuan produk namun tidak memiliki kerentanan
terhadap lingkungan sosialnya. Artinya, remaja pada
tahap ini telah mampu menentukan sikap terhadap
suatu obyek dan kejadian yang dihadapinya khususnya
iklan yang ditayangkan di televisi serta memiliki
kepercayaan diri untuk mengambil keputusan dan
menentukan sikap berdasarkan pengetahuan yang
dimiliki dan tidak mudah terpengaruh dengan
lingkungan sosial di luar dirinya.
Skeptisme remaja dalam penelitian ini diartikan
sebagai kecenderungan sikap tidak yakin pada pesan
iklan dan mencurigai motif pemasang iklan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penghargaan diri
berpengaruh pada skeptisme remaja terhadap iklan
televisi. Artinya seberapa tinggi penghargaan remaja
terhadap diri dan keputusannya mempengaruhi
seberapa besar kecenderungannya untuk menunjukkan
sikap tidak percaya dan curiga terhadap motif pemasang
iklan. Sehingga pemasar harus melakukan riset
pemasaran dan pengkajian yang lebih mendalam
mengenai penghargaan remaja terhadap diri sendiri dan
keputusan yang diambilnya. Dengan demikian,
pemasar dapat menentukan strategi pemasaran yang
lebih tepat seperti misalnya membuat iklan yang
menggambarkan citra diri remaja dengan menunjukkan
perilaku remaja sehari-hari agar pesan iklan dapat
diterima dengan lebih baik dan tidak memunculkan sikap
yang cenderung negatif terhadap iklan. Kerentanan
konsumen berpengaruh pada skeptisme remaja
terhadap iklan televisi. Hal ini menunjukkan seberapa
mudah remaja terpengaruh dengan lingkungan
sosialnya menentukan seberapa besar
kecenderungannya untuk tidak meyakini pesan iklan
dan mencurigai motif pemasang iklan. Terkait dengan
temuan tersebut, pemasang iklan hendaknya
memperhatikan sisi kerentanan remaja dalam
menentukan jenis iklan yang akan dibuat agar dapat
memunculkan sikap positif remaja terhadap iklan
maupun produknya.
Keterbatasan Penelitian
Pertama, adanya keterbatasan waktu membuat peneliti
tidak dapat memberikan penjelasan secara terperinci
mengenai setiap pernyataan kuesioner kepada
responden satu per satu. Hal ini mengakibatkan
jawaban sebagian responden yang kurang memahami
maksud pernyataan kuesioner menjadi kurang obyektif.
Kedua, dikarenakan keterbatasan dana yang dihadapi
peneliti maka pengambilan sampel hanya dilakukan
pada remaja di kota Yogyakarta dengan lingkup wilayah
pengambilan responden yang tidak terlalu besar
sehingga hasil penelitian memiliki tingkat generalisasi
yang rendah dan tidak dapat mewakili seluruh remaja
di Indonesia. Ketiga, penelitian ini hanya melibatkan
kategori produk minuman ringan saja sehingga hasilnya
tidak dapat digeneralisasi untuk kategori produk yang
lain. Hal ini berkaitan dengan terbatasnya ketersediaan
iklan televisi yang menggunakan keenam taktik
pemasang iklan dan terbatasnya dana untuk pembuatan
iklan yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Asri, M. (1986), Marketing, ed 1 Yogyakarta: Penerbit
BPFE dan LMP2M.
Astuti, Widhy T. (2002), Hubungan Skeptisme Remaja
terhadap Iklan Televisi dengan Pengetahuan
Remaja tentang Taktik Pemasang Iklan, Tesis
22
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 11-22
tidak dipublikasikan, Program Pasca Sarjana
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Bearden, William O., Richard G. Netemeyer, and J esse
E. Teel (1989), Measurement of Consumer Sus-
ceptibility to Interpersonal Influence, Journal
of Consumer Research, Vol 15 (March): 473-481.
Boush, David M., Marian Friestad, and Gregory M.
Rose (1994), Adolescent Skepticism toward TV
Advertising and Knowledge of Advertiser Tac-
tics, Journal of Consumer Research, Vol 21
(June): 165-175.
Brucks, Merrie, Gary M. Amstrong, and Marvin E.
Goldberg (1988), Childrens Use of Cognitive
Response Approach, Journal of Consumer
Research, 14 (March): 471-482.
Candra, Tirza L. (2006), Pengaruh Pengetahuan Remaja
tentang Taktik Pemasang Iklan, Self-Esteem
dan Consumer Susceptibility to Interpersonal
Influence Pada Skeptisme Remaja terhadap
Iklan Televisi, Tesis tidak dipublikasikan, Pro-
gram Magister Manajemen STIE YKPN,
Yogyakarta.
Chang, Chingching (2004), The Interplay of Product
Class Knowledge and Trial Experience in Atti-
tude Formation, Journal of Advertising, Vol.
33, No. 1 (Spring): 83-92.
Dharmmesta, B.S. dan Irawan (1990), Manajemen
Pemasaran Modern. Yogyakarta: Penerbit Lib-
erty.
Ghozali, Imam (2005), Aplikasi Analisis Multivariate
dengan Program SPSS, ed 3 Semarang: Penerbit
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Helm, Amanda (2004), Cynics and Skeptics: Consumer
Dispositional Trust, Advances in Consumer
Research, Vol. 31: 1-7.
Indriantoro, N. dan Supomo, B. (2002), Metodologi
Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan
Manajemen. Yogyakarta: Penerbit BPFE.
Kartono, Kartini (1995), Psikologi anak (Psikologi
Perkembangan). Bandung: Penerbit Mandar
Maju.
Kotler, P. and Keller, K.L. (2006), Marketing Manage-
ment, 12
th
ed. Upper Saddle River, N.J.: Pearson
Education, Inc.
Kuncoro, Mudrajad (2003), Metode Riset Untuk Bisnis
dan Ekonomi. J akarta: Penerbit Erlangga.
Macklin, M. Carole (1994), The Impact of Audiovisual
Information on Childrens Product Related Re-
call, Journal of Consumer Research, Vol 21
(June): 154-164.
Park, C. Whan and Lessig, V. Parker (1981), Familiarity
and Its Impact on Consumer Decision Biases
and Heuristics, Journal of Consumer Re-
search, Vol. 8 (September): 223-230.
Rao, Akhsay R. and Monroe, Kent B. (1988), The
Moderating Effect of Prior Knowledge on Cue
Utilization in Product Evaluations, Journal of
Consumer Research, 15 (September): 253-264.
Sabardini, Sri E. (1997), Hubungan antara Sikap Skeptis
Remaja terhadap Iklan dengan Pengetahuan
terhadap Produk yang Diiklankan dan
Kerentanan Konsumen, Tesis tidak
dipublikasikan, Program Pasca Sarjana Univer-
sitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Sekaran, U. (2000), Research Methods for Business: A
Skill Building Approach, 3
rd
ed. New York: John
Wiley & Sons, Inc.
Shin, Chieh Chuang and Chia, Ching Tsai (2005), The
Impact of Consumer Product Knowledge on the
Effect of Terminology in Advertising, The Jour-
nal of American Academy of Business, Vol. 7
(September): 223-227.
23
ANALISIS NILAI INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR)............... (Mufidhatul Khasanah)
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Hal. 23-31
ABSTRACT
The Sleman Regency Government is an organization
who hold the trust from the local area which would
make some resources allocation and resources reallo-
cation together with the central government in order to
coordinate the potent of local resources, both for tan-
gible and intangible for the welfare of Slemans resi-
dents. The given of authority from The Sleman Re-
gency Government to the investors for doing some
investment was one of the form of the reallocation and
redistribution of the potent of local resources in which
the rights of the lands purposed. By giving those per-
mission, the local government should concern about
the advantage for both of the investors and the wel-
fare of Slemans residents. This means the permission
which was permitted from the real estates developer
and others permission is not always have to be ac-
cepted by the Sleman Regency Governance, if those
things dont create some advantages for Slemans resi-
dents. The facility investment which come from for-
eign country (PMA) is more efficient in the using of
the capital productions factors from our country
(PMDN) and the quality of managerial skills and for-
eign facility investment organization (PMA) is better
than facility investment from our country (PMDN).
Facility investment (both PMA and PMDN) which us-
ing tax income facility is more efficient in using of the
capital productions factors than in non-facility invest-
ment, and the quality of managerial skills and foreign
facility investment organization (both PMA and PMDN)
is better than non-facility investment. The investment
ANALISIS NILAI INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO
(ICOR) PADA INVESTASI DI KABUPATEN SLEMAN,
TAHUN 2000-2004
Mufidhatul Khasanah
Fakultas Ekonomi Universitas Wangsa Manggala
J alan Wates KM. 10, Kemusuk, Yogyakarta 55753
Telepon +62 274 798212, Fax +62 274 798213
E-mail: mufidhatulkhasanah@yahoo.co.id
in Sleman from 2000 to 2004 is used to be efficiency in
using of the capital of productions factors, showing
the quality of managerial skills and a better organiza-
tional, and showing a better role of both local and cen-
tral government in giving many kinds of facilities to
the entrepreneurs so that the support could cause a
better business weather to be more conducive.
Keywords: resources allocation, resources reallocation,
PMA, PMDN, facility investment, non-facility invest-
ments.
PENDAHULUAN
Otonomi da-erah yang dilaksanakan per 1 Januari 2001
telah memberikan peran yang lebih besar kepada
pemerintah dan para pelaku ekonomi daerah untuk
menangani pembangunan di daerah. Tuntutan otonomi
daerah tersebut muncul karena proses pem-ba-ngunan
di I ndonesia sebelumnya telah mengakibatkan
terjadinya kesen-jangan pembangunan antarwilayah
J awa dan luar J awa serta Indonesia Barat dan Indone-
sia Timur. Kesenjangan tersebut terjadi karena adanya
ketidakmerataan dalam alokasi investasi antarwilayah
yang berpengaruh dalam memicu dan memacu
ketidakseimbangan dalam pertumbuhan antarwilayah
(Rudy Badrudin, 1992, hal. 2). Oleh karena itu,
pelaksanaan otonomi daerah merupakan moment yang
tepat untuk mem-beri peran yang lebih besar kepada
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
24
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 23-31

pemerintah dan para pelaku ekonomi daerah untuk


menangani pembangunan di daerah.
Pemerintah daerah dan pelaku ekonomi di daerah
sebagai komponen sumberdaya manusia dalam
pelaksanaan otonomi daerah dapat dijelaskan de-ngan
menggunakan circular flow diagram seperti yang
nampak pada gambar 1. Diagram tersebut menjelaskan
ba-gai-mana pemerintah daerah dan pelaku ekonomi di
daerah saling berinterakasi, dengan asumsi ada lima
pelaku yaitu masyarakat, perusahaan, lembaga
keuangan bank dan bukan bank, pemerintah daerah,
dan dewan perwakilan rakyat daerah.
Masyarakat diasumsikan sebagai pelaku
ekonomi yang memiliki faktor produksi dan kemudian
dijual kepada perusahaan yang oleh karena itu
masya-rakat akan memperoleh pendapatan. Di samping
itu, masyarakat merupakan pelaku ekonomi yang akan
mengkomsumsi barang dan jasa -pengeluaran
konsumsi masyarakat- yang dihasilkan perusahaan.
Perusahaan diasumsikan sebagai pelaku ekonomi yang
melakukan kegiatan produksi, yaitu mengha-silkan
barang dan jasa yang dijual kepada masyarakat.
Perusahaan dapat menghasilkan barang dan jasa
karena perusahaan membeli atau menyewa faktor
produksi yang ditawarkan masyarakat. Lembaga
keuangan bank dan bukan bank merupakan lembaga
yang mempunyai peran sebagai lembaga perantara (in-
termediation role) dan lembaga pelancar jalannya
interakasi ekonomi (transmission role). Sebagai lembaga
perantara, lembaga keuangan berperan sebagai
penghubung antara pelaku ekonomi yang memiliki
kelebihan dana (masyarakat) yang ditabung di lembaga
keuangan dengan pelaku ekonomi yang membutuhan
dana (perusahaan) yang digunakan untuk in-vestasi.
Sebagai lembaga pelancar jalannya interakasi ekonomi,
lembaga keuangan bank berperan sebagai lembaga
pencetak uang kartal dan uang giral yang digu-nakan
sebagai medium of exchange, unit of account, store of
value, standard deferred of payment, dan medium of
commodity. Pemerintah daerah beserta Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah mempunyai kekuasaan dalam
membuat kebijakan-kebijakan untuk melancarkan
interakasi ekonomi antarpelaku eko-nomi daerah.
Gambar 1 menunjukkan circular flow diagram.
Faktor Produksi/Input
Pendapatan
Masyarakat Perusahaan
Pengeluaran Konsumsi
Barang dan Jasa
Lembaga Keuangan
Tabungan Bank dan Bukan Bank Investasi
Pemerintah Daerah dan
Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD)
Gambar 1
Circular Flow Diagram
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Krisis moneter yang terjadi beberapa waktu yag lalu
berpe-ngaruh terhadap struktur perekonomian dan
pertumbuhan ekonomi daerah-daerah di Indonesia, tak
terkecuali Kabupaten Sleman. Nilai Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sleman tahun 1998
atas da-sar harga konstan tahun 1993 sebesar
Rp1.496,863 milyar. Kondisi tersebut mengakibatkan
laju pertumbuhan ekonomi Sleman pada tahun 1998
turun sebesar 7,99%, padahal tahun sebelumnya (1997)
mencapai 3,54%. Penurunan terjadi pada hampir semua
sektor, kecuali sektor listrik, gas, dan air bersih. (Selintas
Hasil Pem-bangunan Sleman 1999-2000, hal. 31).
Pemerintah Kabupaten Sleman pada tahun 2000
berencana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi
masyarakat Sleman dengan mengembangkan
perekonomian akar rumput, yakni kegiatan ekonomi
yang berbasis pada masyarakat dan untuk
pe-ning-katan kesejahteraan masyarakat. Agar usaha
pengembangan perekonomian tersebut dapat
te-rea-lisasi maka diperlukan sumber pembiayaan untuk
kebutuhan investasi. Pemerintah Kabupaten Sleman
berupaya menggali dana pem-bangunan secara opti-
25
ANALISIS NILAI INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR)............... (Mufidhatul Khasanah)
mal dari berbagai sumber, baik dari sumber pemerintah
daerah melalui APBD maupun dari sumber masyarakat
investor. J enis investasi yang dilakukan di Kabupaten
Sleman dikelompokkan ke dalam investasi fasilitas dan
invesatsi non-fasilitas. Nilai dan rincian investasi di
Kabupaten Sleman pada tahun 2000 sampai dengan
2003 ditunjukkan pada Tabel 1 berikut ini.
pembangunan ekonomi daerah adalah terletak pada
penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangu-
nan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang
bersangkutan (endogenous development) dengan
menggunakan potensi sumberdaya manu-sia,
kelembagaan, dan sumberdaya fisik secara lokal.
Orientasi ini mengarahkan pada inisiatif yang muncul
Tabel 1
Nilai dan Rincian Investasi di Kabupaten Sleman Tahun 2000-2003 (dalam Rp.)
Berdasarkan data pada Tabel 1 nampak rata-rata
pertumbuhan nilai investasi total sebesar 10,02% per
tahun, investasi fasilitas sebesar 7,76% per tahun, dan
investasi non-fasilitas sebesar 13,84% per tahun.
Berdasarkan jenis investasi, nampak jenis investasi
non-fasilitas di Kabupaten Sleman mempunyai rata-rata
pertumbuhan selama 3 tahun yang paling besar
daripada jenis investasi fasilitas. Peningkatan investasi
di atas harus diikuti dengan adanya peluang untuk
mendapatkan keuntungan bagi investor dan manfaat
bagi masyarakat Sleman, terutama golongan ekonomi
lemah. Hal ini sesuai dengan tujuan program
pembangunan Pemerintah Kabupaten Sleman untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat
Sleman dengan mengembangkan perekonomian akar
rumput.
Hakekat pembangunan ekonomi daerah adalah
suatu proses yang ditunjukkan dengan tindakan
pemerintah dan masyarakat dalam mengelola
sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk
suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan
masyarakat untuk menciptakan suatu lapangan kerja
baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi
dalam wilayah tersebut. Masalah pokok dalam
dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk
menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang
peningkatan kegiatan ekonomi.
Setiap usaha pembangunan ekonomi daerah
mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah
dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah.
Dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut,
pemerintah daerah beserta masyarakatnya harus secara
bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan
daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta
masyarakatnya dan dengan menggunakan sum-
berdaya-sumberdaya yang ada di daerah tersebut harus
mampu menaksir potensi sumberdaya-sumberdaya
yang diperlukan untuk merancang dan membangun
perekonomian daerah.
Pendekatan alternatif terhadap teori
pembangunan daerah telah dirumuskan untuk
kepentingan perencanaan pembangunan ekonomi
daerah. Pendekatan ini merupakan sistesis dan
perumusan kembali konsep-konsep yang telah ada.
Pendekatan ini memberikan dasar bagi kerangka pikir
dan rencana tindakan yang akan diambil dalam konteks
pembangunan ekonomi daerah. Paradigma baru
ditunjukkan pada tabel 2 berikut ini:
Jenis Investasi 2000 2001 2002 2003
IF PMA 611,272,176,425 745,469,897,326 676,599,243,750 911,587,481,000
IF PMDN 542,967,836,000 553,054,016,000 539,057,642,000 532,630,642,000
Inv.Fasilitas 1,154,240,012,425 1,298,523,913,326 1,215,656,885,750 1,444,218,123,000
Inv.Nonfasilitas 646,662,870,000 698,163,538,000 745,295,665,000 954,116,800,000
Investasi Total 1,800,902,882,425 1,996,687,451,326 1,960,952,550,750 2,398,334,923,000
Sumber: P2KPM Kabupaten Sleman.
26
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 23-31
Pemerintah Kabupaten Sleman merupakan
organisasi pemegang mandat daerah yang akan
melakukan resources allocation dan resources real-
location bersama-sama dengan pemerintah pusat dalam
rangka mengatur potensi kekayaan daerah baik tan-
gible maupun intangible bagi kemaslahatan
masyarakat Sleman. Allocation dan reallocation
potensi kekayaan daerah kepada pihak penerima
mencakup hak eksploitasi kekayaan alam; hak
melakukan distribusi barang/jasa; hak atas penguasaan
pasar; hak pemanfaatan potensi intellectual property
right; hak pemanfaatan tanah; dan hak produksi ((Ibnu
Subiyanto, 2005, hal. 2).
Allocation dan reallocation potensi kekayaan
daerah pada pihak penerima akan membentuk berbagai
perijinan kepada masyarakat. Di samping itu, dalam
melakukan allocation dan reallocation potensi
kekayaan daerah, Pemerintah Kabupaten Sleman
memandang perlu melakukan distribusi dan redistribusi
hasil-hasil pengelolaan potensi guna mewujudkan
kesejahteraan masyarakat Sleman. Allocation dan re-
allocation potensi kekayaan daerah dapat diberikan
kepada organisasi swasta dan perorangan, organisasi
pemerintahan yang dibentuk berdasarkan konstitusi
negara, dan organisasi pelaksana pemerintah pusat.
Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata
pertumbuhan jenis nilai investasi yang terbesar adalah
investasi non-fasilitas sebesar 13,84% per tahun. Salah
satu jenis investasi non-fasilitas di Kabupaten Sleman
adalah investasi dalam bidang perumahan yang
dilakukan oleh para pengembang real-estate. Pemberian
ijin kepada para pengembang real-estate pada
hakekatnya merupakan bentuk reallocation dan
redistribusi potensi kekayaan daerah yang berupa hak
pemanfaatan tanah. Dalam memberikan ijin tersebut,
pemerintah daerah perlu memperhatikan keuntungan
bagi investor dan kemaslahatan masyarakat Sleman.
Hal ini berarti, ijin yang diajukan oleh para pengembang
real-estate maupun perijinan lainnya tidak harus
disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sleman manakala
hal itu tidak menimbulkan kemaslahatan bagi
masyarakat Sleman.
Penolakan ijin oleh Pemerintah Kabupaten
Sleman dibenarkan pula dalam koridor perlindungan
kepada investor lama yang telah menjadi pioner
investasi di Kabupaten Sleman sehingga pasar tetap
stable. Investor pioner perlu dilindungi karena inves-
tor tersebut mempunyai risiko kegagalan investasi
yang lebih besar pada awal mereka melakukan investasi
daripada calon investor yang datangnya lebih akhir
yang tinggal menjalankan investasi dengan pasar yang
sudah terbentuk. Data yang diperoleh dari berbagai
sumber menunjukkan bahwa selama tahun 2000-2004,
Tabel 2
Paradigma Baru Teori Pembangunan Ekonomi Daerah
Sumber: Lincolin Arsyad, Ekonomi Pembangunan, Ed. 4, BP STIE YKPN.,
Yogyakarta, 1999, hal. 302.
27
ANALISIS NILAI INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR)............... (Mufidhatul Khasanah)
rata-rata jumlah pemohon Ijin Perubahan Peruntukan
Tanah (IPPT) non-pengeringan yang ditolak sebanyak
6,37% per tahun. Alasan penolakan karena tata ruang
tidak sesuai, kondisi calon lokasi tempat investasi
adalah lingkungan pertanian, dan tidak sesuai dengan
permohonan. Calon investor yang ingin berinvestasi
di Kabupaten Sleman seharusnya memperhatikan
kekhasan daerah tempat investasi. Hal ini
mempertimbangkan bahwa Kabupaten Sleman
merupakan daerah resapan, lumbung beras bagi
penduduk Propinsi DIY, daerah lindung bencana, dan
sebagai daerah cagar budaya. Berdasarkan data jumlah
pemohon IPPT yang ditolak hanya sebanyak 6,37%
menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman
mempunyai arah kebijakan dalam mengendalikan
kegiatan investasi di Kabupaten Sleman melalui real-
location dan redistribusi potensi kekayaan daerah
dengan memperhatikan kepentingan investor dan
kemaslahatan masyarakat Sleman.
I COR merupakan koefisien modal yang
menunjukkan hubungan antara besarnya perubahan
investasi dengan nilai output atau menunjukkan
hubungan antara jumlah kenaikan output (Y) yang
disebabkan oleh kenaikan tertentu pada stok modal
(K). ICOR digunakan oleh Evsey Domar dan Sir Roy
F. Harrod dalam menjelaskan teori pertumbuhan Harrod-
Domar dengan formulasi sebagai berikut:
r =s / k
keterangan:
r =Y / Y =pertumbuhan ekonomi
s =S / Y =MPS =marginal propensity to save
k =COR =capital output ratio
Berdasarkan formulasi Harrod-Domar nampak terdapat
hubungan yang searah antara MPS dengan
pertumbuhan ekonomi dan hubungan yang tidak
searah antara COR dengan pertumbuhan ekonomi.
Artinya apabila MPS naik maka pertumbuhan ekonomi
akan naik dan apabila MPS turun maka pertumbuhan
ekonomi juga akan turun. Sedangkan apabila apabila
COR naik maka pertumbuhan ekonomi akan turun dan
apabila MPS naik maka pertumbuhan ekonomi akan
turun. Ada 2 pengertian tentang COR, yaitu: (1) Aver-
age Capital Output Ratio (ACOR) yang menunjukkan
hubungan antara stok modal yang ada dengan aliran
output yang dihasilkan, menunjukkan hubungan antara
segala sesuatu yang telah diinvestasikan pada masa
lalu dengan keseluruhan pendapatan (hasil), dan statis;
(2) Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang
menunjukkan hubungan antara jumlah kenaikan out-
put (DY) yang disebabkan oleh kenaikan tertentu pada
stok modal DK , menunjukkan segala sesuatu yang
saat ini ditambahkan pada modal atau pendapatan
(hasil), dan dinamis.
Metodologi penghitungan nilai ICOR adalah (1)
menghitung nilai investasi atas dasar harga konstan
(I) yaitu nilai investasi atas dasar harga konstan
dihitung dengan metode langsung atau metode
penyusutan. Metode langsung adalah metode
penghitungan nilai investasi yang diperoleh langsung
dari publikasi dan laporan instansi atau perusahaan
atas dasar harga berlaku. Nilai investasi atas dasar harga
konstan diperoleh dengan cara mendeflasikan nilai
investasi atas dasar harga berlaku dengan Indeks Harga
Perdagangan Besar (IHPB). Metode penyusutan adalah
metode penghitungan nilai investasi yang diperoleh
dengan menghitung penyusutan barang modal tetap
yang terjadi pada tahun tertentu. Nilai penyusutan
barang modal tetap diperoleh dari penghitungan Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sleman;
(2) menghitung peningkatan nilai output (DY) yaitu
peningkatan nilai output merupakan nilai tambah bruto
(NTB). NTB diperoleh dengan cara menghitung selisih
NTB atas dasar harga konstan 1993 pada tahun t
dengan NTB tahun t-1; dan (3) menghitung ICOR tahun
2000-2004 yaitu koefisien ICOR dihitung dengan cara
28
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 23-31
Tabel 3
Penghitungan ICOR di Kabupaten Sleman, Tahun 2000-2004
Sumber: BPS Kabupaten Sleman, data diolah.
29
ANALISIS NILAI INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR)............... (Mufidhatul Khasanah)
membagi I dengan DY.
HASIL PENELITIAN
Menurut Lincolin Arsyad (1999), faktor-faktor yang
mempengaruhi besarnya nilai ICOR adalah apabila
ketersediaan sumberdaya alam terbatas dan
pertumbuhan penduduk rendah; inovasi hitech dan
sifat teknologi padat modal; laju investasi tinggi dan
komposisi investasi terbesar berupa proyek barang
publik; tingkat efisiensi faktor produksi modal rendah;
kualitas ketrampilan manajerial dan organisasional
rendah; tingginya suku bunga pinjaman dan tingkat
upah; kebijakan ketenagakerjaan pada penyerapan
tenaga kerja berupa investasi proyek barang publik;
cepatnya laju kemajuan industrialisasi; dan
pembangunan prasarana sosial dan ekonomi pada awal
pembangunan. Berdasarkan langkah 3 dan 4 dalam
penghitungan ICOR maka dapat diringkas menjadi tabel
berikut ini:
PEMBAHASAN
Berdasarkan penjelasan Tabel 3, 4, dan 5, maka ICOR
untuk masing-masing Investasi Fasilitas Penanamana
Modal Asing (IF PMA), Investasi Fasilitas Penanaman
Modal Dalam Negeri (IF PMDN), Investasi Fasilitas
(Jumlah IF PMA dan IF PMDN), Investasi Nonfasilitas,
dan Investasi Total (J umlah Investasi Fasilitas dan
Investasi Nonfasilitas) dapat dilakukan analisis. Nilai
ICOR Investasi Fasilitas PMA lebih rendah daripada
nilai I COR I nvestasi Fasilitas PMDN. Hal ini
menunjukkan bahwa investasi fasilitas yang berasal
dari luar negeri (PMA) lebih efisien dalam pemanfaatan
faktor produksi modal daripada dalam negeri (PMDN).
Di samping itu, juga menunjukkan kualitas ketrampilan
manajerial dan organisasional investasi fasilitas dari
luar negeri lebih baik daripada dalam negeri. Hal ini
Sumber: Tabel 4, data diolah.
Keterangan: *) ICOR tahun 2004 dianggap sama dengan ICOR tahun 2003.
Tabel 4
Ringkasan ICOR di Kabupaten Sleman, Tahun 2000-2004
Tabel 5
Arah Trend jenis Investasi di Kabupaten Sleman, tahun 2000-2004
30
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 23-31
ditunjukkan dengan uji statistik options uji beda dua
rata-rata satu sisi antara rata-rata ICOR IF PMA dan
PMDN yang signifikan pada t
tes
20,1503 dan
probabilitas 0,0000179 pada 5%.
Nilai ICOR Investasi Fasilitas daripada nilai ICOR
Investasi Nonfasilitas. Hal ini menunjukkan bahwa
investasi fasilitas (PMA dan PMDN) yang
menggunakan fasilitas bea masuk lebih efisien dalam
pemanfaatan faktor produksi modal daripada investasi
nonfasilitas. Di samping itu, juga menunjukkan kualitas
ketrampilan manajerial dan organisasional investasi
fasilitas (PMA dan PMDN) lebih baik daripada invetasi
nonfasilitas. Hal ini ditunjukkan dengan uji statistik
options uji beda dua rata-rata satu sisi antara rata-rata
ICOR Investasi Fasilitas dan Invetasi Nonfasilitas yang
signifikan pada t
tes
10,6069 dan probabilitas 0,0002236
pada a 5%.
Arah trend nilai ICOR untuk IF PMA, IF PMDN,
Investasi Fasilitas, Investasi Nonfasilitas, dan Investasi
Total selama tahun 2000-2004 cenderung menurun. Hal
ini menunjukkan bahwa investasi di Kabupaten Sleman
selama tahun 2000-2004 cenderung memiliki efisiensi
dalam pemanfaatan faktor produksi modal dan
menunjukkan kualitas ketrampilan manajerial dan
organisasional yang semakin baik. Di samping itu, juga
menunjukkan semakin baiknya peranan pemerintah
daerah dan pusat dalam memberikan berbagai fasilitas
bagi para pengusaha sehingga dukungan tersebut
mengakibatkan iklim usaha menjadi semakin kondusif.
Di antaranya, suku bunga pinjaman yang cenderung
semakin rendah berdampak terhadap cost of capital
yang semakin rendah pula sehingga mengakibatkan
kenaikan pada nilai investasi.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan analisis ICOR Kabupaten Sleman
diperoleh simpulan penelitian sebagai berikut:
pemerintah Kabupaten Sleman merupakan organisasi
pemegang mandat daerah yang akan melakukan re-
sources allocation dan resources reallocation
bersama-sama dengan pemerintah pusat dalam rangka
mengatur potensi kekayaan daerah baik tangible
maupun intangible bagi kemaslahatan masyarakat
Sleman. Pemberian ijin kepada para pengembang real-
estate pada hakekatnya merupakan salah satu bentuk
reallocation dan redistribusi potensi kekayaan daerah
yang berupa hak pemanfaatan tanah. Dalam memberikan
ijin tersebut, pemerintah daerah perlu memperhatikan
keuntungan bagi investor dan kemaslahatan masyarakat
Sleman. Hal ini berarti, ijin yang diajukan oleh para
pengembang real-estate maupun perijinan lainnya tidak
harus disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sleman
manakala hal itu tidak menimbulkan kemaslahatan bagi
masyarakat Sleman; investasi fasilitas yang berasal dari
luar negeri (PMA) lebih efisien dalam pemanfaatan
faktor produksi modal daripada dalam negeri (PMDN)
dan kualitas ketrampilan manajerial dan organisasional
investasi fasilitas dari luar negeri lebih baik daripada
investasi fasilitas dari dalam negeri; investasi fasilitas
(PMA dan PMDN) yang menggunakan fasilitas bea
masuk lebih efisien dalam pemanfaatan faktor produksi
modal daripada investasi nonfasilitas dan kualitas
ketrampilan manajerial dan organisasional investasi
fasilitas (PMA dan PMDN) lebih baik daripada invetasi
nonfasilitas; investasi di Kabupaten Sleman selama
tahun 2000-2004 cenderung memiliki efisiensi dalam
pemanfaatan faktor produksi modal, menunjukkan
kualitas ketrampilan manajerial dan organisasional yang
semakin baik, dan menunjukkan semakin baiknya
peranan pemerintah daerah dan pusat dalam
memberikan berbagai fasilitas bagi para pengusaha
sehingga dukungan tersebut mengakibatkan iklim
usaha menjadi semakin kondusif.
Saran
Berdasarkan simpulan tersebut dapat disampaikan sa-
ran sebagai berikut; investor dalam negeri (PMDN)
hendaknya melakukan prinsip-prinsip bisnis seperti
yang dilakukan investor asing (PMA), misalnya dalam
efisiensi pemanfaatan faktor produksi modal dan
peningkatan kualitas ketrampilan manajerial dan
organisasional perusahaan; pemerintah daerah dan
pusat hendaknya menyediakan berbagai fasilitas yang
membuat bikin hidup lebih hidup bagi para investor,
misalnya penyusunan peraturan daerah yang bukan
berakibat high cost economy bagi para investor
sehingga investor merasa lebih nyaman dan aman dalam
menjalankan bisnisnya; masyarakat perlu mendukung
para investor dalam menciptakan kegiatan-kegiatan
ekonomi, misalnya perannya dalam ikut menciptakan
keamanan di lingkungan tempat tinggal pada
khususnya dan lingkungan daerah pada umumnya.
31
ANALISIS NILAI INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR)............... (Mufidhatul Khasanah)
Rasa aman dan kestabilan politik merupakan syarat
mutlak bagi terciptanya kegiatan-kegiatan ekonomi dari
para investor dalam negeri maupun asing.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim. Akuntansi Keuangan Daerah. Salemba
4. Jakarta. 2002
Budiono. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No.
4: Teori Pertumbuhan Ekonomi.BPFE.
Yogyakarta. 1992.
Budiono Sri Handoko. Pembangunan Regional. PPE
FE UGM dan Deptan RI. Yogyakarta. 1984.
_________. Interaksi antara Desa dan Kota. PPE FE
UGM dan Deptan RI. Yogyakar-ta. 1985.
Ibnu Subiyanto. Kemampuan Keuangan Daerah
yang Terbatas: Strategi Pengembangan
Kapasitas dan Program Prioritas dalam
Lokakarya On Good Governance Best Prac-
tices in Kabupaten/Kota, Badan Pelaksana
Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BPRR) dan
United Nation Development Programme
(UNDP). Banda Aceh. 2005.
Lincolin Arsyad. Pengantar Perencanaan dan
Pembangunan: Ekonomi Daerah. BPFE
Yogyakarta. 1999.
_________. Ekonomi Pembangunan. Edisi 4. Bagian
Penerbitan STIE YKPN Yogyakarta. Yogyakarta.
1999.
Mardiasmo. Akuntansi Sektor Publik. Andi Offset.
Yogyakarta. 2002
Mudrajad Kuncoro. Ekonomi Pembangunan: Teori,
Masalah, dan Kebijakan. UPP AMP YKPN.
Yogyakarta. 1997.
Proceedings. Otonomi Daerah dan Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah dalam Rangka
Pemberdayaan Potensi Daerah. I SEI
Yogyakarta. 1999.
Rudy Badrudin. Pengembangan Wilayah Propinsi
DIY (Pendekatan Teoritis). Jurnal
Ekonomi Pembangunan FE UII. Yogyakarta.
2000.
________. Menggali Sumber Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Melalui Pengembangan I ndustri
Pariwisata. Jurnal Kompak STIE Yogyakarta.
Yogyakarta. 2001.
_________. Peluang dan Tantangan Pelaku Ekonomi
di Daerah Dalam Era Otonomi Daerah. Jurnal
Kajian Bisnis STIE Widya Wiwaha Yogyakarta.
Yogya-
karta. 2002.
Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-
Undang Otonomi Daerah 2004. Penerbit
Kuraiko Pratama. Bandung. 2004.
________. Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
18 Tahun 1997 tentang Pajak daerah dan
Retribusi Daerah dan Beberapa Peraturan
Pemerintah Bidang Dana Perimbangan Nomor
104, 105, 106, dan 107. Penerbit PT Mutiara
Sumber Widya. Jakarta. 2001.
Sukanto R. dan AR Karseno. Ekonomi Perkotaan. Ed.
3. BPFE. Yogyakarta. 1997.
Suwarjoko Warpani. Analisis Kota dan Daerah.
Penerbit ITB. Bandung. 1994.
32
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 23-31
33
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA ............... (Muhammad Yusuf)
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Hal. 33-48
ABSTRACT
Event study methodology has been one of the most
frequently used tools in economics and financial re-
search in recent years. In event studies, the objective
is to examine the markets response to some well de-
fined event through the observation of security prices
around such event. Example of event, such as an-
nouncement of right issue, stock split, and accounting
information. Event studies involve 5 steps: (1) identify
the event of interest, (2) identify the time of parameter,
(3) estimate the abnormal return, (4) organize and group
the abnormal return, and (5) analyze the result. Event
studies will continue making empirical contributions
to the understanding of information and secutity price.
This article provides a review of the present state of
knowledge and practice with respect to event study
methodology. Many variations of this methodology
are discussed, as well as special issues and applica-
tions to research in capital market. Recommendations
for implementing an event study also are provided.
Keywords: event study, economics, finance.
PENDAHULUAN
Peneliti seringkali masih mengalami kebingungan
tentang bagaimana cara mengukur pengaruh peristiwa
(event) ekonomi tertentu yang bersifat unik terhadap
nilai suatu perusahaan. Awalnya hal itu merupakan
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA
DI BIDANG EKONOMI DAN KEUANGAN
Muhammad Yusuf
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank BPD Semarang
Jalan Pemuda 4A, Semarang
Telepon +62 24 3553834, Fax. +62 24 3553834
E-mail: myusuf@stiebankbpd.ac.id
suatu pekerjaan yang sulit dan rumit, tetapi sebenarnya
ide dasar untuk melihat pengaruh tersebut dapat
dibangun dengan menggunakan metodologi yang
cukup sederhana yang sering disebut dengan studi
peristiwa (event study). Metodologi studi peristiwa
(event study) merupakan salah satu metodologi yang
sering digunakan sebagai alat analisis dalam penelitian
di bidang ekonomi dan keuangan khususnya di pasar
modal akhir-akhir ini. Tujuan dari studi peristiwa adalah
mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa
(event) yang informasinya dipublikasikan sebagai
suatu pengumuman (sebagai contoh: pengumuman
laba, pemecahan saham, dan right issue). Reaksi pasar
ditunjukkan dengan adanya perubahan harga dari
sekuritas perusahaan yang bersangkutan (Peterson,
1989).
Reaksi pasar dapat diukur dengan
menggunakan return sebagai nilai perubahan harga
atau dengan menggunakan abnormal return atau ex-
cess return. Abnormal return adalah perbedaan atau
selisih antara return ekspektasi (return yang
diharapkan oleh investor) dengan return yang
sesungguhnya yang terjadi. J adi studi peristiwa akan
menganalisis abnormal return dari sekuritas yang
mungkin terjadi di sekitar pengumuman dari suatu
peristiwa. Peristiwa atau kejadian bisa dalam bentuk
informasi yang dipublikasikan atau diterbitkan oleh
lembaga tertentu, misalnya koran, majalah, jurnal pasar
modal, atau dalam bentuk informasi yang dipublikasikan
oleh perusahaan, misalnya pengumuman laba, dividen,
stock split, dan right issue.
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
34
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 33-48
Artikel ini akan memberikan petunjuk praktis dalam
melakukan desain penelitian dengan menggunakan
metodologi studi peristiwa. Makalah di mulai dengan
uraian mengenai prosedur standar dalam metodologi
studi peristiwa yang dapat dibagi menjadi lima tahap
analisis, yaitu: (1) identifikasi peristiwa atau kejadian
yang akan diteliti, (2) estimasi atau penaksiran terhadap
abnormal return, (3) pengelompokan abnormal return
(CAR), (4) analisis data, dan (5) interpretasi hasil.
Selanjutnya artikel ini akan ditutup dengan memberikan
ilustrasi studi peristiwa beserta dengan simpulan dan
rekomendasi.
Secara umum, studi peristiwa menganalisis ab-
normal return dari sekuritas yang terjadi di sekitar
tanggal pengumuman dari suatu peristiwa yang
informasinya dipublikasikan. Informasi ini umumnya
berhubungan dengan peristiwa yang terjadi di
perusahaan yang dapat mempengaruhi harga dari
sekuritas sejumlah perusahaan tertentu atau semua
perusahaan yang terdaftar di pasar saham. Jika peristiwa
tersebut memberikan informasi positif bagi pasar (good
news), maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu
pengumuman tersebut dipublikasikan. Reaksi pasar
ditunjukkan dengan adanya perubahan harga dari
sekuritas yang bersangkutan. Reaksi ini dapat diukur
dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan
harga atau dengan menggunakan abnormal return. Jadi
dapat dikatakan bahwa publikasi informasi dari
perusahaan yang direspon positif oleh pasar diharapkan
akan memberikan return atau abnormal return dari
sekuritas perusahaan yang bersangkutan kepada pasar.
Sebaliknya, publikasi informasi yang direspon negatif
(bad news) oleh pasar tidak akan memberikan return
atau abnormal return dari sekuritas perusahaan kepada
pasar.
Prosedur standar dalam metodologi studi
peristiwa dibagi menjadi lima tahap analisis, yaitu: (1)
identifikasi peristiwa atau kejadian yang akan diteliti,
(2) estimasi atau penaksiran terhadap abnormal return,
(3) pengelompokan abnormal return (CAR), (4) analisis
data, dan (5) interpretasi hasil. Identifikasi peristiwa
atau event, yaitu identifikasi terhadap suatu kejadian
atau peristiwa umumnya dapat dilihat atau diidentifikasi
dari tanggal terjadinya peristiwa atau kejadian tersebut.
Peristiwa atau kejadian dapat berhubungan dengan
satu perusahaan tertentu dalam waktu yang tertentu
pula, misalnya dalam kasus merger, tetapi juga dapat
berhubungan dengan banyak perusahaan dan industri,
misalnya pengumuman laba, stock split, right issue.
Biasanya bentuk penelitian studi peristiwa yang
berhubungan dengan banyak perusahaan atau industri
lebih baik dan reliable daripada bentuk penelitian yang
hanya mempunyai efek tunggal.
Dalam menentukan pengaruh dari suatu
peristiwa atau informasi yang dipublikasikan oleh
perusahaan, dapat muncul kebingungan dalam
menentukan tanggal yang tepat. Hal ini disebabkan
karena informasi tersebut dipublikasikan oleh
perusahaan pada hari terjadinya suatu peristiwa (H
t0
) ,
tetapi oleh media cetak baru dipublikasikan satu hari
berikutnya (H
t+1
). Sehingga terjadi ketidakjelasan
tentang tanggal yang tepat kapan informasi tersebut
sampai ke tangan para pelaku pasar, apakah pada hari
pengumuman dipublikasikan atau pada hari lain. Peneliti
perlu memperluas periode hari yang dicakup (windows
period) untuk melihat pengaruh pengumuman tersebut.
MASALAH DAN PEMBAHASAN
Terdapat suatu peristiwa yang informasinya
dipublikasikan karena diminta oleh badan atau otoritas
tertentu. Misalnya semua perusahaan yang sahamnya
diperdagangkan di Bursa Efek J akarta (BEJ ) harus
mempublikasikan informasi laporan keuangan kepada
publik setiap empat bulan (quarter) sekali melalui me-
dia masa. Dapat terjadi juga suatu peristiwa tidak
dipublikasikan kepada publik melalui media masa, tetapi
melalui jalur komunikasi lain (misalnya internet dan e-
mail). Biasanya informasi tersebut merupakan informasi
tambahan atau pengungkapan sukarela yang
dipandang oleh perusahaan bermanfaat bagi para
pelaku pasar. J adi kehati-hatian diperlukan dalam
menentukan tanggal dari suatu peristiwa yang
informasinya dipublikasikan untuk menentukan timing
yang tepat untuk melihat pengaruh yang terjadi atas
peristiwa tersebut.
Setelah suatu peristiwa dapat diidentifikasi
dengan tepat, langkah kedua adalah mengidentifikasi
parameter waktu yang digunakan sebagai periode
pengamatan. Periode pengamatan disebut juga dengan
periode jendela (windows period). Panjang atau
lamanya periode jendela dalam studi peristiwa sangat
bervariasi. Peterson (1994) memberi patokan umum
yang dapat digunakan yaitu berkisar 3 hari sampai 121
35
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA ............... (Muhammad Yusuf)
hari untuk data harian dan 3 bulan sampai 121 bulan
untuk data bulanan. Dalam periode pengamatan akan
dilihat pengaruh suatu peristiwa terhadap return suatu
saham. Return suatu saham yang diamati adalah re-
turn saham yang telah diestimasi. Estimasi diperlukan
sebagai acuan dalam analisis yang merupakan return
normal yaitu return yang diharapkan oleh pelaku pasar
atau investor atas peristiwa tersebut. Estimasi terhadap
return saham dibuat dalam periode sebelum tanggal
peristiwa dipublikasikan. Dalam studi peristiwa
penentuan lamanya periode estimasi tidak ada patokan
yang pasti. Peterson (1994) memberi patokan umum
yang dapat digunakan yang berkisar antara 100 sampai
200 hari untuk data harian dan 24 sampai 60 hari untuk
data bulanan. Plot periode estimasi (estimation period)
dan periode pengamatan (windows period)
digambarkan sebagai berikut:
Keterangan:
T
o-
T
1 =
Periode estimasi yaitu periode
yang digunakan untuk melakukan
estimasi terhadap return normal
suatu saham
T
sebelum-
T
sesudah =
Periode pengamatan yaitu
periode jendela untuk
menghitung abnormal return
sebelum dan sesudah peristiwa
T
peristiwa =
Periode Peristiwa
Misalkan suatu peristiwa diumumkan tanggal
17 September 2000, data untuk menghitung abnormal
return digunakan data harian dengan periode estimasi
100 hari dan periode jendela selama 11 hari (5 hari
sebelum hari peristiwa, 1 hari peristiwa dan 5 hari
sesudah hari peristiwa), maka estimasi terhadap return
saham dapat dilakukan sebagai berikut: Hari 0
merupakan hari terjadinya pengumuman peristiwa
(tanggal 17 September). Sebelas hari periode jendela
diambilkan mulai dari lima hari sebelumtanggal peristiwa
(hari ke-5) sampai lima hari sesudah tanggal peristiwa
(hari ke +5). Sebelas hari pada peristiwa ini dapat juga
dikatakan sebagai lima hari di sekitar tanggal
pengumuman peristiwa. Plot periode estimasi dan
periode pengamatan (windows period) digambarkan
sebagai berikut:
Dalam studi peristiwa, periode pengamatan
merupakan periode pengamatan yang akan dihitung
abnormal return-nya yang melibatkan hari sebelum
tanggal peristiwa untuk mengetahui adanya kebocoran
informasi, artinya apakah pasar sudah mendengar
informasinya sebelum informasi tersebut diumumkan
kepada publik, dan juga melibatkan hari setelah tanggal
peristiwa tersebut diumumkan untuk mengetahui
kecepatan reaksi pasar atas peristiwa tersebut. Abnor-
mal return untuk periode pengamatan sebelum tanggal
pengumuman peristiwa dihitung mulai hari 5, -4, -3, -
2, dan 1, pada hari ke 0 (tanggal peristiwa) dan setelah
tanggal peristiwa dihitung mulai hari +1, +2, +3, +4, dan
+5. Periode estimasi selama 100 hari dihitung dari hari
6 sampai hari 105 yang digunakan untuk menghitung
estimasi return normal untuk sekuritas ke-i selama
periode pengamatan (periode ke-t) berdasarkan lama
periode estimasi 100 hari.
Metodologi studi peristiwa menghendaki
pengujian terhadap return tidak normal (abnormal re-
turn) dari suatu saham di seputar hari peristiwa. Ab-
normal return adalah selisih dari return yang
sesungguhnya terjadi dengan return ekspektasi (re-
turn yang diharapkan oleh investor). Return
sesungguhnya merupakan return yang terjadi pada
waktu ke-t yang merupakan selisih harga saham
sekarang relatif terhadap harga saham sebelumnya
yang dihitung dengan rumus:
36
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 33-48
Notasi:
R
i,t
= Return sesungguhnya untuk saham ke-i pada
periode ke-t
P
i,t
= Harga saham sekarang ke-i pada periode ke-t
P
i,t-1
= Harga saham hari sebelumnya ke-i pada
periode ke-t
Return sesungguhnya seringkali berbeda dengan re-
turn ekspektasi yang diharapkan oleh investor karena
ada faktor-faktor yang unik dari suatu saham yang
hanya mempengaruhi return saham tersebut. Contoh
dari faktor-faktor unik tersebut adalah pengumuman
pembagian dividen, right issue, stock split, dan
pengumuman laba. Abnormal return mencerminkan
pengaruh faktor-faktor unik tersebut dan oleh
karenanya abnormal return-lah yang relevan untuk
mengukur reaksi pasar terhadap pengumuman suatu
informasi yang dipublikasikan seperti pengumuman
right issue, stock split, merger, akuisisi, deviden
saham, dan lain-lain. Seperti dikatakan di atas bahwa
abnormal return adalah selisih dari return
sesungguhnya terhadap return ekspektasi yang
dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
Notasi:
AR
i,t
= Abnormal return saham ke-i pada periode
ke-t
R
i,t
= Return sesungguhnya saham ke-i pada
periode ke-t
E(R
i,t)
= Return ekspektasi saham ke-i pada periode
ke-t
Return ekspektasi adalah return yang harus diestimasi.
Terdapat tiga teknik atau model yang dikembangkan
oleh Brown & Warner (1985) untuk mengestimasi re-
turn suatu saham yaitu: (1) model pasar (market
model), (2) model return rata-rata disesuaikan (mean
adjusted model), (3) model return pasar disesuaikan
(market-adjusted model). Ketiga model estimasi re-
turn di atas dapat dirangkum sebagai berikut:
Model Pasar =
Model return rata-rata disesuaikan=
Model return pasar disesuaikan =
Menghitung return ekspektasi (expected re-
turn). Tingkat pengembalian yang diharapkan
mencerminkan tingkat risiko saham yang bersangkutan.
Semakin tinggi risiko suatu saham, semakin tinggi
tingkat pengembalian yang diharapkan. J adi dapat
dikatakan bahwa suatu peristiwa yang mengandung
informasi bagi pelaku pasar akan berkolerasi positif
dengan nilai suatu saham jika informasi tersebut
mencerminkan besarnya arus kas yang diharapkan di
masa datang.
Model pasar (market model). Dalam pengujian
bentuk pasar setengah kuat (semi strong) umumnya
dilakukan dengan menggunakan model pasar. Model
ini menganggap bahwa tingkat pengembalian yang
diharapkan dan tingkat pengembalian portofolio pasar
mempunyai hubungan linier. Di samping itu juga model
ini mengasumsikan bahwa besarnya return ekspektasi
hanya tergantung pada risiko sistematis saham yang
bersangkutan. Risiko sistematis suatu saham, juga
dikenal dengan sebutan beta () yang menunjukkan
seberapa jauh fluktuasi tingkat pengembalian saham
dipengaruhi oleh fluktuasi tingkat pengembalian
portofolio pasar.
Perhitungan return ekspektasi dapat dilakukan
dengan dua tahap (Jogianto,1998), yaitu (1) membentuk
model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi
selama periode estimasi dan (2) menggunakan model
ekspektasi ini untuk mengestimasi return ekpektasi
dalam periode pengamatan. Model return ekspektasi
dapat dibentuk dengan menggunakan teknik regresi
OLS (Ordinary Least Square). Model OLS dapat
dibentuk dengan persamaan:
37
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA ............... (Muhammad Yusuf)
Untuk t=1,2,3,..,T
Notasi:
E(R
i,t
) = tingkat pengembalian yang diharapkan
untuk saham i periode t;
a
i
= intersep untuk saham ke-i
b
I
= koefisien slope yang merupakan Beta dari
saham ke-i
R
m,t
= tingkat pengembalian indeks pasar pada
periode t
e
i, t
= kesalahan residu saham ke-i pada periode
estimasi t
Persamaan di atas menunjukkan bahwa
besarnya tingkat return ekspektasi tergantung pada
koefisien alfa (a) dan beta (b), di mana beta menunjukkan
seberapa jauh tingkat pengembalian (return) saham i
tergantung pada pergerakan pasar. Contoh penggunaan
teknik regresi OLS dalam penelitian studi peristiwa dapat
ditemukan dalam beberapa tulisan (Peterson, 1989;
Brown & Warner, 1985; McKinlay, 1997). Seperti
dijelaskan di atas, abnormal return adalah selisih antara
return sesungguhnya dengan return ekspektasi. J ika
return ekspektasi digunakan model pasar, maka
perhitungan abnormal return dengan menggunakan
model pasar dapat dibuat sebagai berikut:
Sebagai contoh, misalnya terdapat n saham
yang terpengaruh oleh suatu peristiwa yang
dipublikasikan (misalnya stock split), pertama kali
diestimasi return saham tersebut dengan cara
membentuk model ekspektasinya yang dapat dilakukan
dengan menghitung return masing-masing saham dan
return indeks pasar selama periode estimasi. Misalnya
periode estimasi yang digunakan adalah 100 hari
dengan periode pengamatan 11 hari, maka, return
saham dapat dihitung sebagai berikut:
Tabel 1
Perhitungan Return Saham untuk
Membentuk Model Ekspektasi
Hari Return Return Return
ke t Saham Saham Indeks
Pasar (R
m,t
)
R
i, 1
R
i,,2
R
i, 3 ............
R
i,, n
R
m,t
-6 0,120 0,100 0,120 0,150 0,145
-7 0,123 0,110 0,125 0,150 0,146
-8 0,130 0,125 0,135 0,180 0,175
-9 0,135 0,138 0,125
............
0,175 0,170
. 0,128 0,122 0,140
............
0,165 0,164
. 0,137 0,130 0,145 0,145 0,144
. 0,120 0,127 0,148 0,166 0,161
+105 0,150 0,1153 0,138 0,158 0,157
Kemudian masing-masing return saham
tersebut (R
i, 1,2,3.
R
i, n
) mulai dari hari ke -6 sampai dengan
hari ke +105 dibuat persamaan model ekspektasi dengan
teknik regresi OLS (Ordinary Least Square). Misalnya
hasil persamaan regresi dari return saham di atas dapat
ditunjukkan sebagai berikut:
E(R
i, 1
)

=0,005 +1,20 . R
m,t
+
i, 1
E(R
i, 2
)

=0,020 +1,45 . R
m,t
+
i, 2
E(R
i, 3
)

=0,018 +1,39 . R
m,t
+
i, 3
..
E(R
i, n
)

=0,038 +1,23 . R
m,t
+
i, n
Setelah model ekspektasi dibuat, langkah
berikutnya adalah menghitung return saham dalam
periode pengamatan 11 hari sebagai berikut:
38
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 33-48
Tabel 2
Perhitungan Return Saham
dalam Periode Pengamatan
Hari Return Saham Return Saham
ke t R
i, 1
R
i,,2
R
i, 3 ............
R
i,, n
R
m,t
-5 0,174 0,225 0,223 0,230 0,14
-4 0,161 0,300 0,200 0,210 0,13
-3 0,211 0,280 0,260 0,260 0,17
-2 0,210 0,81 0,258 0,264 0,17
-1 0,200 0,258 0,250
............
0,240 0,16
0 0,205 0,240 0,220
............
0,220 0,14
+1 0,180 0,200 0,190 0,200 0,12
+2 0,190 0,240 0,240 0,235 0,15
+3 0,225 0,300 0,269 0,270 0,18
+4 0,237 0,310 0,290 0,295 0,19
+5 0,248 0,37 0,300 0,290 0,20
Return ekspektasi dapat dihitung untuk masing-masing
saham mulai dari hari ke-5 sampai dengan hari ke +5
dengan memasukkan nilai return indeks pasar ke dalam
model ekspektasinya dengan hasil pada Tabel 3).
Langkah terakhir adalah menghitung abnormal
return. Abnormal return adalah selisih antara return
sesungguhnya dengan return ekspektasi yang
dihitung untuk masing-masing saham selama periode
pengamatan atau periode jendela (misalnya 11 hari)
sebagai berikut: (lihat tabel 4 di halaman 11). Dalam
teknik regresi OLS, beta saham i berpotensi bias yang
disebabkan oleh adanya perdagangan saham yang tidak
sinkron (non-sysnchronous trading). Hal ini dapat
ditemukan dalam penelitian Dimson, (1970); Scholes &
William, (1977). Perdagangan saham yang tidak sinkron
dapat disebabkan karena transaksi perdagangan di
pasar sangat jarang terjadi atau beberapa saham tidak
mengalami perdagangan untuk beberapa waktu.
Ketidaksamaan waktu antara return saham dengan re-
turn pasar dalam perhitungan beta menyebabkan beta
menjadi bias. Uraian lebih lanjut tentang cara
menghitung bias dapat dirujuk dalam peneltian
tersebut.
Tabel 3
Perhitungan Return Ekspektasi dengan
Model Pasar ((Market-Model)
Hari Saham ke-1 Saham ke-n
ke-t E(R
i,1
) E(R
i,2,
) E(R
i,3
) ......... E(R
i,,n
)
-5 0,173
*
0,223
**
0,2126
***
0,2102
****
-4 0,161 0,2085 0,1987 0,1979
-3 0,209 0,2665 0,2543 0,2471
-2 0,209 0,2665 0,2543 0,2471
-1 0,197 0,252 0,2404 ......... 0,2348
0 0,173 0,223 0,2126 ......... 0,2102
+1 0,149 0,194 0,1848 0,1856
+2 0,185 0,2375 0,2265 0,2225
+3 0,221 0,281 0,2682 0,2594
+4 0,233 0,2955 0,2821 0,2717
+5 0,245 0,31 0,296 0,284
* E(R
i, 1
) = 0,005 + 1,20 . 0,14 = 0,173
( angka 0,14 merupakan return indeks pasar)
** E(R
i, 2)
= 0,020 + 1,45 . 0,14 = 0,223
( angka 0,14 merupakan return indeks pasar)
*** E(R
i, 3
) = 0,018 + 1,39 . 0,14 = 0,2126
( angka 0,14 merupakan return indeks pasar)
**** E(R
i, n
) = 0,038 + 1,23 . 0,14 = 0,2102
( angka 0,14 merupakan return indeks pasar)
Terdapat beberapa teknik untuk mengoreksi bias
yang terjadi akibat perdagangan yang tidak singkron.
Penelitian Brown dan Warner (1985) dalam menguji
spesifikasi dan kekuatan terhadap estimasi beta saham
i ternyata tidak menemukan pengaruh yang signifikan
terhadap model yang diusulkan oleh Dimson dan
Scholes dan William dalam pengujian terhadap bias
yang terjadi pada beta saham. Tetapi penelitian McInish
dan Wood (1986) menemukan bukti yang berbeda
dengan Brown dan Warner, dengan menyimpulkan
bahwa teknik yang diusulkan oleh Dimson dan Scholes
dan William untuk mengoreksi bias yang terjadi pada
beta saham dapat mengurangi bias sampai dengan 29%
akibat pola perdagangan yang sangat tipis (thin trad-
ing) atau akibat perdagangan yang tidak singkron.
Penjelasan secara rinci tentang penggunaan teknik
untuk mengoreksi bias yang terjadi dapat ditemui dalam
artikel yang ditulis oleh Peterson (1989).
39
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA ............... (Muhammad Yusuf)
Tabel 4
Perhitungan Abnormal Return dengan
Model Pasar ((Market-Model)
Hari Saham ke-i Saham ke-n
ke-t AR
i,1
AR
i,2,
AR
i,3 .............
AR
i,,n
-5 0,001
*
0,002** 0,0104*** 0,0198
****
-4 0,000 0,0915 0,013 0,0121
-3 0,002 0,0135 0,057 0,0129
-2 0,001 0,5435 0,037 0,0169
-1 0,003 0,006 0,096
..............
0,0052
0 0,032 0,017 0,074
.............
0,0098
+1 0,031 0,006 0,052 0,0144
+2 0.005 0,0025 0,0135 0,0125
+3 0,004 0,019 0,0008 0,0106
+4 0,004 0,0145 0,0079 0,0233
+5 0,003 0,06 0,004 0,006
* AR
i, 1
= 0,174 0,173 = 0,001
** AR
i, 2)
= 0,225 - 0,223 = 0,002
*** AR
i, 3
) =
**** AR
i, n
) =
Sebenarnya terdapat cara yang relatif mudah
untuk mengoreksi bias yang terjadi akibat pola
perdagangan yang tidak singkron tanpa menggunakan
berbagai teknik yang telah diusulkan, yaitu dengan
membuang sampel observasi yang menyebabkan bias.
Dengan demikian, cara koreksi ini dilakukan dengan
membuang sampel yang menunjukkan perdagangan
tidak aktif (sahamtidak aktif diperdagangkan alias saham
tidur). Dengan membuang sampel tersebut, maka
sampel yang digunakan hanya berisi sampel yang pola
perdagangannya singkron (saham aktif
diperdagangkan).
Model return rta-rata disesuaikan (Mean-Ad-
justed Return) adalah model yang menganggap bahwa
return ekspektasi dari suatu saham i adalah konstan/
tetap yang nilainya sama dengan rata-rata return
sesungguhnya sebelumnya selama periode estimasi.
Persamaan dalam model ini dapat dibuat sebagai
berikut:
Notasi:
E(R
i,t
) = return yang diharapkan untuk saham i pada
periode t;
R
i,j
= return sesungguhnya saham ke-i pada
periode estimasi ke-j
T = lamanya periode estimasi yaitu dari t1 sampai
dengan t2
Misalnya besarnya return ekspektasi adalah
11% untuk periode pengamatan (jendela) selama 11 hari,
maka return ekspektasi saham ini adalah dianggap tetap
sebesar 18% untuk hari 5 sampai dengan hari +5. J ika
return sesungguhnya yang terjadi pada hari periode
pengamatan berbeda dari return ekspektasi (lebih kecil
atau lebih besar dari 11%), maka selisih antara return
ekspektasi dengan return sesungguhnya disebut
dengan return tidak normal (abnormal return) yang
dapat dibuat persamaan sebagai berikut:
Penerapan model tersebut dapat diberikan
contoh sebagai berikut: misalnya terdapat n saham
yang terpengaruh oleh suatu peristiwa yang
dipublikasikan (misalnya stock split), maka perhitungan
abnormal return dapat dihitung untuk masing-masing
saham selama periode pengamatan atau periode jendela
(misalnya 11 hari) seperti yang disajikan pada Tabel 5.
Model return pasar disesuaikan (Market-Adjusted
Return) adalah model yang menganggap bahwa
prediktor terbaik dalam mengestimasi return suatu
saham adalah return indeks pasar pada saat tertentu.
Return indeks pasar yang biasanya digunakan dalam
penelitian studi peristiwa adalah return indeks pasar
yang dibuat atau dikeluarkan oleh badan otoritas bursa
efek pada suatu periode waktu tertentu, misalnya
indeks pasar IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)
dikeluarkan oleh Bursa Efek Jakarta (BEJ), CRSP (Cen-
ter For Reasearch in Security Center) yang
dikeluarkan oleh Bursa Efek Amerka, dan lain-lain.
Dengan demikian, dengan model ini, peneliti tidak perlu
membentuk model estimasi, karena return saham yang
akan diestimasi adalah sama dengan return indeks pasar
40
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 33-48
saham tersebut pada periode waktu tertentu. Model
estimasi return pasar disesuaikan dapat dibentuk
dengan persamaan sebagai berikut:
Notasi:
E(R
i,t
) = Return ekspektasi untuk saham i pada
periode ke-t;
R
m,t
= Return indeks pasar pada periode ke- t
Tabel 5
Perhitungan Abnormal Return dengan
Model Return Rata-Rata Disesuaikan (Mean-
Adjusted Return)
Misalnya pada hari pengumuman suatu peristiwa, re-
turn indeks pasar adalah sebesar 12%, maka dengan
model ini, dianggap bahwa return ekspektasi semua
saham pada hari yang sama adalah sama dengan re-
turn indek pasarnya, yaitu sebesar 12% tersebut. J ika
return sesungguhnya saham pada hari pengumuman
peristiwa adalah 32%, maka besarnya abnormal return
yang terjadi adalah 20% (32% - 12%). Dengan demikian,
abnormal return dengan model return pasar
disesuaikan dapat dibuat persamaan sebagai berikut:
Penerapan model tersebut dapat diberikan
contoh sebagai berikut: misalnya terdapat n saham
yang terpengaruh oleh suatu peristiwa yang
dipublikasikan (misalnya stock split), maka perhitungan
abnormal return dapat dihitung untuk masing-masing
saham selama periode pengamatan atau periode jendela
(misalnya 11 hari) sebagai berikut:
Tabel 6
Perhitungan Abnormal Return dengan
Model Return Pasar Disesuaikan ((Market-
Adjusted Return)
Menghitung akumulasi return tidak normal (Cu-
mulative Abnormal return/CAR) dilakukan setelah ab-
normal return diperoleh, kemudian dikelompokkan dan
dianalisis. Pengujian abnormal return dalam studi
peristiwa tidak dilakukan secara individual, melainkan
dilakukan secara keseluruhan (agregrat) terhadap ab-
normal return suatu saham secara cross-section.
Akumulasi abnormal return (cumulative abnormal re-
turn) adalah merupakan penjumlahan abnormal return
suatu saham ke-i selama periode pengamatan. CAR
dapat dibentuk dengan persamaan sebagai berikut:
Hari Saham ke-1 Saham ke-1
ke t R
i,t
*
R
m,t
*
AR
i,t
R
i,t
R
m,t
AR
i,t
-5
-4
-3
-2
-1
0
+1
+2
+3
+4
+5
0,12
0,15
0,13
0,14
0,16
0,17
0,20
0,19
0,12
0,13
0,15
0,10
0,11
0.10
0,12
0,12
0,15
0,16
0,13
0,10
0,11
0.11
0,02
0,04
0,03
0,02
0,04
0,02
0,04
0,06
0,02
0,02
0,04
0,10
0,15
0,18
0,11
0,14
0,16
0,20
0,12
0,15
0,13
0,18
0,9
0,13
0,15
0,8
0,10
0,15
0,18
0,9
0,13
0,11
0,14
0,01
0,02
0,03
0,03
0,04
0,01
0,02
0,03
0,02
0,02
0,04
.......
.......
*
R
i,j
adalah return sesungguhnya pada periode pengamatan yang
dihitung dari selisih harga sahamsekarang (to) relatif terhadap
harga saham hari sebelumnya (t
-1
).
*
Return indeks pasar (R
m,t
) adalah sama dengan return ekspektasi
E(R
i,t
) yang dihitung berdasarkan indeks pasar yang berlaku
pada setiap hari dalam periode pengamatan (contoh indek
pasar adalah IHSG yang di informasikan setiap hari oleh
BEJ).
Hari Saham ke-1 Saham ke-n
ke t R
i,t
E(R
i,t
) AR
i,t
R
i,t
E(R
i,t
) AR
i,t
-5
-4
-3
-2
-1
0
+1
+2
+3
+4
+5
0,120
0,123
0,130
0,135
0,128
0,137
0,120
0,150
0,145
0,126
0,133
0,110
0,110
0,110
0,110
0,110
0,110
0,110
0,110
0,110
0,110
0,110
0,01
0,013
0,020
0,025
0,018
0,027
0,010
0,040
0,035
0,016
0,023
0,150
0,150
0,180
0,175
0,165
0,145
0,166
0,158
0,135
0,180
0,158
0,145
0,146
0,175
0,170
0,164
0,144
0,161
0,157
0,133
0,179
0,155
0,005
0,004
0,005
0,005
0,001
0,001
0,005
0,001
0,002
0,001
0,003
.......
.......
41
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA ............... (Muhammad Yusuf)
Notasi:
CAR
i,t
= akumulasi abnormal return saham ke-i pada
hari ke-t yang diakumulasi selama periode
pengamatan (mulai hari Ke-5 sampai hari
Ke+5)
AR
i,n
= abnormal return untuk saham ke-I pada hari
ke-n, yaitu mulai t-5 sampai hari ke+5
Kemudian, jika terdapat n buah saham yang
terpengaruh suatu peristiwa yang dipublikasikan, maka
akumulasi abnormal return dibagi dengan n buah
saham tersebut akan diperoleh akumulasi rata-rata ab-
normal return (Cumulative Average Abnormal return
atau CAAR) yang dapat dihitung sebagai berikut:
Notasi:
CAAR
t
= akumulasi rata-rata abnormal return
pada hari ke-t
CAR
i,t
= akumulasi abnormal return saham ke-i
pada hari ke-t
N = jumlah saham yang terpengaruh oleh
peristiwa
Analisis terhadap abnormal return dapat
dilakukan dengan melihat pola pergerakan abnormal
return di seputar hari pengumuman suatu peristiwa.
J ika pasar mengantisipasi peristiwa tersebut, maka
terdapat dua respon yang dapat dijelaskan, yaitu respon
negatif untuk kabar buruk dan respon positif untuk
kabar baik. J ika pasar tidak mengantisipasi adanya
peristiwa yang dipublikasikan, maka akumulasi rata-
rata abnormal return (CAAR) seharusnya sama
dengan nol (tidak terdapat abnormal return). Untuk
memberikan gambaran yang lebih jelas dapat dibuat
dalam bentuk grafis (panel A dan B).
Panel A menunjukkan indikasi bahwa akumulasi
abnormal return cenderung menurun sebelum suatu
peristiwa dipublikasikan. Penurunan abnormal return
tersebut terus berlangsung sampai dengan hari setelah
peristiwa tersebut dipublikasikan. Hal ini berarti
pengumuman peristiwa tersebut dianggap sebagai
sinyal negatif oleh pasar, artinya pasar mengantisipasi
peristiwa tersebut yang mengindikasikan prospek masa
depan perusahaan yang buruk.
Panel B menunjukkan indikasi bahwa akumulasi
abnormal return cenderung meningkat sebelum suatu
peristiwa dipublikasikan. Peningkatan abnormal return
tersebut terus berlangsung sampai dengan hari setelah
peristiwa tersebut dipublikasikan. Hal ini berarti
pengumuman peristiwa tersebut dianggap sebagai
sinyal positif oleh pasar, artinya pasar mengantisipasi
peristiwa tersebut yang mengindikasikan prospek masa
depan perusahaan yang baik.
Panel A
Panel B
42
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 33-48
Tahap terakhir dalam metodologi studi peristiwa
adalah analisis dan interpretasi. Setelah mengetahui
pola pergerakan abnormal return di seputar hari
pengumuman suatu peristiwa, langkah terakhir adalah
menguji apakah pola pergerakan abnormal return
(menurun atau meningkat) secara statistik berpengaruh
signifikan atau hanya akibat perubahan yang bersifat
sementara (musiman). Artinya, abnormal return
tersebut secara statistik signifikan berbeda tidak sama
dengan nol (positif untuk kabar baik dan negatif untuk
kabar buruk). Pengujian statistik yang dapat digunakan
adalah pengujian t-test yang menguji hipotesis nol
bahwa rata-rata abnormal return adalah sama dengan
nol. Formulasi hipotesis nol dan hipotesis alternatif
dapat dibangun sebagai berikut:
Analisis statistik memerlukan standarisasi dari
nilai abnormal return yang merupakan kesalahan
standar pada waktu mengestimasi nilai abnormal re-
turn yang disebut dengan kesalahan standar estimasi
(standar error of forecast). J adi pengujian secara
statistik dimaksudkan untuk menguji signifikansi dari
kesalahan estimasi yang dibuat pada waktu
mengestimasi abnormal return. Pengujian statistik
terhadap abnormal return standarisasi (standardized
abnormal return) dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
Notasi:
var CAAR
ii,t
= Deviasi standar rata-rata akumulasi
abnormal return saham ke-i pada
periode ke-t di periode peristiwa
sebagai kesalahan standar estimasi
SAR
i,j
= Abnormal return standarisasi
(standardized abnormal return)
saham ke-i untuk hari ke-t
Peterson (1989) dan J ogianto (1998) membuat
tiga cara menghitung kesalahan standar estimasi.
Kesalahan standar estimasi ditentukan berdasarkan
deviasi standar untuk masing-masing return saham
secara individual pada waktu ke-i dengan nilai rata-
rata return saham dalam periode estimasi. Pengujian
statistik terhadap abnormal return standarisasi (stan-
dardized abnormal return) dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
Notasi:
CAAR
ii,t
= Rata-rata akumulasi abnormal return
saham ke-i pada periode ke-j
R
i,j
= Return saham ke-i untuk hari ke-j selama
periode estimasi
R
i
= Rata-rata return saham ke-i selama
periode estimasi
T1 = Jumlah hari di periode estimasi, yaitu dari
hari ke-t1 sampai dengan hari ke-t2.
Kesalahan standar estimasi ditentukan
berdasarkan deviasi standar untuk seluruh sampel re-
turn saham pada waktu ke-i dengan nilai estimasi re-
turn (predicted return) saham dalam periode estimasi.
Pengujian statistik terhadap abnormal return
standarisasi (standardized abnormal return) dihitung
dengan rumus sebagai berikut:
Notasi:
CAAR
ii,t
= Rata-rata akumulasi abnormal return
saham ke-i pada periode ke-j
R
i,j
= Return saham ke-i untuk hari ke-j selama
periode estimasi
E(R
i,j
) = Return ekspektasi saham ke-i selama
periode estimasi
43
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA ............... (Muhammad Yusuf)
T1 = Jumlah hari di periode estimasi, yaitu dari
hari ke-t1 sampai dengan hari ke-t2.
Kesalahan standar estimasi ditentukan
berdasarkan deviasi standar untuk seluruh sampel re-
turn saham pada waktu ke-t secara cross-section selama
periode pengamatan (periode jendela). Pengujian
statistik terhadap abnormal return standarisasi (stan-
dardized abnormal return) dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
Notasi:
CAAR
ii,t
= Rata-rata akumulasi abnormal return
saham ke-i pada periode ke-j
AR
i,j
= Abnormal return saham ke-i untuk hari
ke-t selama periode jendela
AR
t
= Rata-rata abnormal return saham ke-t
selama periode jendela yang dihitung
dengan rumus:
k = Jumlah sampel saham
Cara pertama dan kedua paling sesuai
diterapkan untuk model pasar (market model) dan
model rata-rata return disesuaikan (mean-adjusted re-
turn model) karena membutuhkan periode estimasi
dalam menghitung standar kesalahan estimasi.
Sedangkan cara ketiga dianggap cara yang paling
populer dan sederhana karena hanya membutuhkan
periode pengamatan atau periode jendela dan tidak
membutuhkan peridoe estimasi. Oleh karena itu, cara
ini paling tepat diterapkan untuk model return pasar
disesuaikan (market-adjusted return) di samping
cocok pula untuk dua model sebelumnya, yaitu model
pasar dan model rata-rata return disesuaikan.
Berikut ini akan diberikan contoh perhitungan
akumulasi abnormal return dalam peristiwa
pengumuman right issue. Pengumuman perusahaan
yang melakukan right issue, secara teoritis dan empiris
telah menyebabkan harga saham bereaksi secara
negatif, dan ini adalah kejadian yang diakibatkan oleh
systematic risk. Beberapa temuan empiris tersebut
diantaranya adalah: Scholes (1972), Marsh (1979),
Asquith dan Mullins (1986), Masulis dan Korwar (1986),
Myers dan Majluf (1984), Barclay dan Litzenberger
(1988), Mikkelson and Partch (1986) dan Kothare, (1997).
Temuan empiris tersebut menunjukkan bahwa nilai
pasar perusahaan turun sampai 3% pada saat
pengumuman penambahan saham baru.
Beberapa peneliti lain juga melakukan pengujian
di seputar hari pengumuman penambahan saham baru.
Hess dan Frost (1982), Mikkelson dan Partch (1986,
1988), Barclay dan Litzenberger (1988), Lease, Masulis,
dan Page (1991, 1992), dan Sheehan (1997) melakukan
pengujian terhadap perubahan harga di seputar hari
pengumuman, yang menghasilkan simpulan yang
berbeda-beda. Hess dan Frost menemukan bukti bahwa
terjadi perubahan harga saham yang tidak biasa (ab-
normal) di seputar hari pengumuman, walaupun
perubahan tersebut sangat kecil; Mikkelson dan Partch
menemukan bukti yang cukup kuat untuk meyakinkan
investor bahwa perubahan harga saham di seputar hari
pengumuman right issue disebabkan oleh perilaku
stratejik manajemen dalam keputusan penambahan
saham baru; Barclay dan Litzenberger menemukan
bahwa perubahan harga saham di seputar hari
pengumuman right issue kemungkinan merupakan hasil
dari manipulasi harga; Lease, Masulis dan Page
menyimpulkan dalam temuannya bahwa perubahan
harga saham di seputar hari pengumuman hanyalah
sebagai illusi statistik belaka yang disebabkan oleh
adanya gangguan dalam aktivitas perdagangan saham
dan Sheehan menemukan bukti yang lebih kuat bahwa
pola pergerakan return saham membentuk pola V (V-
shaped), di mana harga saham jatuh dalam minggu
pertama sebelum pengumuman dan kemudian terjadi
koreksi kenaikan ke tingkat harga sebelumnya.
Beberapa temuan empiris tersebut di atas
konsisten dengan model signalling theory yang
mengasumsikan adanya informasi asimetri di antara
berbagai partisipan di pasar modal. Model tersebut
menyatakan bahwa pasar akan bereaksi secara negatif
karena adanya pengumuman penambahan saham baru
yang mengindikasikan adanya informasi yang tidak
menguntungkan (bad news) tentang kondisi laba di
masa yang akan datang, khususnya jika dana dari right
issue akan digunakan untuk tujuan perluasan investasi
yang mempunyai NPV sama dengan 0 atau negatif.
44
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 33-48
Harga saham setelah right issue secara teoritis
akan mengalami penurunan. Wajar saja, karena harga
pelaksanaan right issue selalu lebih rendah dari harga
pasar. Myers dan Majluf (1984) memprediksi bahwa
bahwa harga saham akan direspon secara tidak
menguntungkan oleh pasar terhadap adanya informasi
pengumuman right issue, karena pasar mengasumsikan
bahwa manajer akan mendapatkan insentif untuk
menerbitkan tambahan saham baru yang mereka
percaya overvalued.
Tabel 7 dan 8 menyajikan informasi abnormal
return yang dihitung secara agregrat dari 50 perusahaan
yang melakukan right issue selama tahun 1994-1996.
Agregrasi abnormal return dilakukan dalam tiga
kelompok pengumuman yaitu pengumuman yang
memberi sinyal negatif (bad news firm), pengumuman
yang tidak memberikan sinyal (No news firm), dan
pengumuman yang memberikan sinyal positif (good
news firm). Dua model perhitungan abnormal return
digunakan sebagai pembanding dalam analisis, yaitu
model pasar (market model) dan model rata-rata
disesuaikan (mean-adjusted return).Diagram abnor-
mal return juga dapat dilihat pada panel A untuk model
pasar dan panel B untuk metode rata-rata disesuaikan.
Hasil dari ilustrasi ini konsisten dengan penelitian
terdahulu tentang kandungan informasi dari right is-
sue. Hasil analisis mendukung hipotesis bahwa
pengumuman right issue merupakan informasi yang
cukup bermanfaat dalam menilai perusahaan. Dengan
berfokus pada tanggal pengumuman hari ke-(0) rata-
rata abnormal return dari sampel good news firm
menggunakan model pasar adalah 0.965 persen dengan
kesalahan standar estimasi 0.104 persen, sehingga
hipotesis nol yang mengatakan bahwa peristiwa
pengumuman right issue tidak memiliki pengaruh
terhadap return saham ditolak. Hal yang sama juga
terjadi untuk sampel bad news firm, pada hari peristiwa
tersebut dipublikasikan (H
0
) rata-rata abnormal return
-0.679 persen dengan kesalahan standar estimasi 0.098,
sehingga hipotesis nol yang mengatakan bahwa
peristiwa pengumuman right issue tidak memiliki
pengaruh terhadap return saham juga ditolak.
Hal yang sama juga terjadi pada penghitungan
abnormal return dengan model return rata-rata
disesuaikan. J adi kedua model perhitungan abnormal
return tersebut menghasilkan simpulan yang sama,
artinya keduanya secara konsisten dapat menjelaskan
pengaruh pengumuman right issue terhadap return
saham.
45
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA ............... (Muhammad Yusuf)
Tabel 7
Market Model untuk Periode di seputar Hari Pengumuman Right Issue
Panel A menyajikan hasil abnormal return saham untuk 20 hari di seputar tanggal pengumuman right issue, Abnor-
mal return dihitung secara agregrat dari 50 perusahaan yang melakukan right issue selama tahun 1994-1996. Agregrasi
abnormal return dilakukan dalam tiga kelompok yaitu pengumuman yang memberi sinyal negatif (bad news firm),
pengumuman yang tidak memberikan sinyal (No news firm) dan pengumuman yang memberikan sinyal positif (good
news firm). Abnormal return saham dihitung sebagai selisih dari return sesungguhnya dengan return ekspektasi
yang dihitung dengan model pasar.
46
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 33-48
Panel A menyajikan hasil abnormal return saham untuk 20 hari di seputar tanggal pengumuman right issue, Abnor-
mal return dihitung secara agregrat dari 50 perusahaan yang melakukan right issue selama tahun 1994-1996. Agregrasi
abnormal return dilakukan dalam tiga kelompok yaitu pengumuman yang memberi sinyal negatif (bad news firm),
pengumuman yang tidak memberikan sinyal (No news firm), dan pengumuman yang memberikan sinyal positif
(good news firm). Abnormal return saham dihitung sebagai selisih dari return sesungguhnya dengan return
ekspektasi yang dihitung dengan model rata-rata disesuaikan.
Tabel 8
Mean- Adjusted Model untuk Periode di Seputar Hari Pengumuman Right Issue
47
EVENT STUDY: TELAAH METODOLOGI DAN PENERAPANNYA ............... (Muhammad Yusuf)
Panel A: Plot akumulasi abnormal return selama periode pengamatan dari hari Ke-20 sampai hari ke-+20 dalam
peristiwa pengumuman right issues. Akumulasi abnormal return dihitung dengan menggunakan model pasar (mar-
ket model)
Panel B: Plot akumulasi abnormal return selama periode pengamatan dari hari Ke-20 sampai hari ke-+20 dalam
peristiwa pengumuman right issues. Akumulasi abnormal return dihitung dengan menggunakan model return rata-
rata disesuaikan (mean-adjusted return)
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Metodologi studi peristiwa yang telah dijelaskan dalam
artikel ini telah banyak dipakai sebagai acuan dalam
penelitian bidang ekonomi dan keuangan, khususnya
berkaitan dengan corporate event yang dipublikasikan
informasinya. Penggunaan metodologi studi peristiwa
khususnya dipakai untuk mendeteksi pengaruh
kemakmuran pemegang saham terhadap adanya
peristiwa perusahaan yang dipublikasikan. Dalam
banyak kasus penelitian studi peristiwa, tidak ada
satupun teknik atau prosedur standar yang dapat
dipakai sebagai acuan dalam penelitian, karena memang
banyak terdapat variasi dalam perhitungan return
suatu saham dan prosedur pengujian terhadap abnor-
48
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 33-48
mal return, sehingga tidak ada satu metode atau teknik
yang paling benar dalam semua situasi. Hal ini sudah
dilakukan oleh Brown dan Warner dalam simulasi
terhadap berbagai metode atau teknik perhitungan re-
turn saham.
Satu hal yang cukup menarik dari banyak studi
empiris yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya
adalah penjelasan tentang abnormal return. Terdapat
beberapa alat analisis yang digunakan, misalnya
dengan teknik regresi cross-sectional, analisis korelasi,
dan regresi berganda. Beberapa teknik analisis tersebut
masih menjadi acuan dalam penelitian di masa
mendatang dan menjadi jawaban empiris terhadap
berbagai hipotesis yang akan diuji.
Saran
Akhir dari artikel ini ditutup dengan beberapa saran.
Beberapa hal yang dianggap penulis penting untuk
diperhatikan dalam menerapkan metodologi studi
peristiwa dalam suatu penelitian dapat diberikan
sebagai berikut, yaitu secara umum, pengujian return
dengan menggunakan data return harian lebih baik/
kuat dibandingkan dengan data return bulanan atau
mingguan.Asumsi normalitas data return saham hanya
berpengaruh kecil terhadap model-model pengujian
statistik yang dilakukan. J adi data return saham yang
akan diuji secara statistik tidak harus berdistribusi nor-
mal. Untuk data return yang mempunyai tingkat
kompleksitas yang cukup rumit, misalnya data yang
besar, periode jendela yang panjang, pola perdagangan
yang tidak singkron atau tipis, maka penggunaan
prosedur alternatif yang diusulkan oleh Scholes-Will-
iam dan Dimson untuk mengurangi terjadinya bias
dalam menghitung Beta (b) dapat diterapkan dengan
hati-hati, sebab kadang-kadang tidak secara jelas
manfaat prosedur tersebut dibandingkan dengan teknik
regresi OLS (Ordinary Least Square) yang digunakan
dalam menghitung abnormal return yang digunakan
pertama kali oleh Fama, Fisher, dan J ensen
Penyesuaian data untuk autokorelasi terhadap
abnormal return dalam pengujian secaracross-sectional
dependence mungkin diperlukan untuk kasus yang
sangat khusus, dan mungkin dapat sangat fatal jika
digunakan dalam kondisi yang lain. Penentuan
ketepatan (precision) tanggal terjadinya suatu
peristiwa yang informasinya dipublikasikan sangat
penting untuk menjamin kekuatan pengujian yang
dilakukan serta untuk menghindari terjadinya efek
pengganggu (confounding effect). Prosedur penghi-
tungan kesalahan standar estimasi terhadap abnormal
return perlu dilakukan dalam pengujian secara cross-
sectional dependence sebagai variabel tergantung
(dependebce variable) untuk mengurangi masalah
heterosidastisity (heteroskedasticity).
DAFTAR PUSTAKA
Brown, Stephen J ., and J erold B. Warner. Measuring
Security Price Performance, Journal of Finan-
cial Economics, Vol. 8 (September 1980) pp. 205-
258.
Brown, Stephen J ., and J erold B. Warner. Using Daily
Stock Returns: The Case of Event Studies,
Journal of Financial Economics, Vol. 14 (March
1985) pp. 3-32.
Peterson, Pamela P. Event Studies: A Review of Is-
sues and Methodology, Quarterly Journal of
Business and Economics, Vol. 28 (Summer 1989)
pp. 36-66.
Fama, Eugene F. A Note on the Market Model and the
Two-Parameter Model, Journal of Finance, Vol.
28 (December 1973) pp. 328-332.
Bowman, Robert G. Understanding and Conducting
Event Studies, J ournal of Business Finance &
Accounting, Vol. 10 (Winter 1983) pp.561-580.
MacKinlay Craig A. Event Studies in Economics and
Finance, J ournal of Economics Literature,
Vol.XXXV (March 1997), pp.13-39.
49
PENGARUH IMAGE, KUALITAS YANG DIPERSEPSIKAN, ....................(Rini Kusumawati)
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Hal. 49-58
ABSTARCT
In making a decision, consumers based on their value.
By understanding the value and how far that value
influences the buying decision, a company as a pro-
vider of a services or goods, can develop the competi-
tive strategy. A company which oriented in consumers
always try to see consumers needs in order to get the
market chance. Itiis an important strategy. The research
of service quality tries to give an understanding about
consumers need. An emotional bond between the com-
pany and customers leads the customers to buy re-
peatedly, exclusively from that provider. This research
tries to explore some factors that can influence the loy-
alty on banking industry. Those factors are bank im-
age, perceived quality, customers expectations,
customers satisfactions, and brand switching. Qual-
ity and customer are two important factors for every
company. Good quality is usually followed by
customers loyalty. Therefore, company should enhance
their quality improvements. Quality has a strong rela-
tionship with customers satisfactions. Quality give a
reason to customers to give their loyalty to the com-
pany. In the long term, the kind of relationship will
gives a company the ability to determine what exactly
the customers needs. This research found that bank
image, perceived quality, and customers expectations
influences the loyalty positively and significantly. While
customers expectations negatively influences the
customers satisfaction. They are caused by the differ-
PENGARUH IMAGE, KUALITAS YANG DIPERSEPSIKAN,
HARAPAN NASABAH PADA KEPUASAN NASABAH DAN
PENGARUH KEPUASAN NASABAH PADA LOYALITAS
NASABAH DAN PERILAKU BERALIH MEREK
Rini Kusumawati
Magister Manajemen STIE YKPN Yogyakarta
Jalan Seturan, Yogyakarta 55281
Telepon +62 274 486160, 486321, Fax. +62 274 486155
E-mail: rinikusumawati@yahoo.com
ences of consumers factor and the high production.
Especially on finance and insurance, the expectation
negatively and significantly influences the customers
satisfactions.
Keywords: Bank image, perceived quality, customers
expectation, customers satisfaction, loyalty, and
switching behavior.
PENDAHULUAN
Dalam era ekonomi yang modern, organisasi jasa
menjadi sebuah organisasi yang berkembang dengan
pesat. J asa perbankan sebagai salah satu organisasi
jasa yang memegang peranan penting dalam
perekonomian juga terus berkembang. Hal ini dapat
dilihat dengan munculnya bank-bank yang baru, baik
berskala lokal (misalnya Bank Perkreditan Rakyat atau
BPR) maupun nasional.
Dengan adanya kondisi tersebut, maka
perbankan dewasa ini dituntut untuk semakin
mengoptimalkan layanan kepada nasabah agar
kepuasan nasabah tetap terjaga. Usaha untuk menjaga
kepuasan nasabah ini perlu dilakukan karena nasabah
akan merasa loyal kepada bank sehingga bank dapat
mempertahankan nasabahnya tidak beralih kepada bank
lainnya dan nasabah akan menceritakan mengenai
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
50
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 49-58
layanan bank yang memuaskan kepada orang lain
(publisitas) yang pada akhirnya merupakan sarana
promosi yang efektif, selain itu nasabah yang puas
dapat mendorong adanya pembelian ulang (Sunardi,
2003) sehingga manager harus mengembangkan
strategi agar mampu memuaskan nasabah potensial
maupun yang ada saat ini untuk kemudian menjadi loyal.
Loyalitas menjadi suatu tindakan untuk menghambat
perilaku beralih merek yang berdampak pada
pengembangan strategi bersaing yang berkelanjutan.
Dengan adanya nasabah yang loyal memungkinkan
sebuah organisasi untuk mengembangkan dan
mempertahankan hubungan jangka panjang. Loyalitas
juga menggambarkan nasabah yang tidak hanya puas
tetapi juga senang terhadap produk maupun
layanannya (Kandampully dan Suhartanto, 2000).
Dengan melihat pentingnya loyalitas dalam
suatu organisasi jasa, maka peneliti tertarik untuk
meneliti Analisis pengaruh image, kualitas yang
dipersepsikan, dan harapan nasabah pada kepuasan
nasabah dan pengaruh kepuasan nasabah pada
loyalitas nasabah dan perilaku beralih merek. Tujuan
penelitian ini untuk menguji pengaruh image, kualitas
yang dipersepsikan, dan harapan nasabah pada
kepuasan nasabah dan pengaruh kepuasan nasabah
pada loyalitas nasabah dan perilaku beralih merek.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Penelitian analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
loyalitas pada industri perbankan ini mengacu pada
kerangka pikir berikut ini.
Dalam persaingan antarbank yang semakin
ketat, faktor kepuasan nasabah menjadi perhatian yang
serius. Kepuasan merupakan evaluasi yang dilakukan
oleh konsumen setelah pembelian terhadap produk atau
jasa yang ditawarkan. Konsumen puas ketika kinerja
yang ditawarkan melebihi harapan dan tidak puas ketika
harapan konsumen lebih besar dari kinerja yang
ditawarkan (Hunt, 1997 dalam Bolton and Drew, 1991,
p. 2). Apabila terjadi ketidakpuasan, maka nasabah
memilih untuk keluar (memilih perusahaan lain) atau
mereka akan komplain dan berusaha untuk mendapat
ganti rugi. Sebaliknya apabila kepuasan nasabah
meningkat maka perilaku beralih merek akan semakin
kecil. Peningkatan kepuasan nasabah juga akan
meningkatkan loyalitas nasabah (Fornell et al, 1996, p.
9).
Menurut Kotler dan Keller (2006, p. 135),
loyalitas merupakan kedalaman komitmen yang
dipegang untuk melakukan pembelian kembali atau
berlangganan terhadap produk atau jasa di masa
mendatang meskipun terdapat pengaruh situasional
dan usaha pemasaran yang kuat yang menyebabkan
perilaku berpindah merek. Kandampully dan Suhartanto
(2000, p. 2) mengasumsikan bahwa loyalitas merupakan
loyal customer yaitu konsumen yang melakukan
pembelian ulang dari penyedia jasa yang sama, dan
merekomendasikan serta memelihara sikap positif
terhadap penyedia jasa. Loyalitas diakui sebagai faktor
yang penting dan merupakan prasyarat kelangsungan
hidup sebuah organisasi. Dalam kesuksesan sebuah
organisasi, loyalitas konsumen lebih penting daripada
kepuasan konsumen, hal ini dikarenakan bahwa
keberadaan kepuasan konsumen saja tidak cukup, tanpa
adanya jaminan bahwa dengan kepuasan konsumen
akan mengakibatkan pembelian ulang.
Menurut J ulendar et al (1997) dalam
(Kandampully dan Suhartanto, 2000, p. 3), dimensi
loyalitas dibagi menjadi dua yaitu (1) dimensi perilaku,
hal ini mengacu pada perilaku konsumen untuk
melakukan pembelian ulang serta menunjukkan
kesenangan pada satu merek atau jasa dan (2) dimensi
sikap, hal ini mengacu pada keinginan konsumen untuk
membeli kembali serta merekomendasikan. Ini
merupakan indikator yang baik dalam loyal customer.
Menurut Sambandan (1995) dalam Darpito (2005),
konsumen akan beralih merek karena adanya perilaku
yang keterlibatannya tinggi (high involvement).
Gambar 1
Model Penelitian
51
PENGARUH IMAGE, KUALITAS YANG DIPERSEPSIKAN, ....................(Rini Kusumawati)
Beberapa literatur lain juga menyebutkan bahwa
perilaku mencari variasi (variety seeking) juga akan
menimbulkan perilaku berpindah merek (brand switch-
ing behavior) konsumen. Menurut Moutinho dan
Smith (2000), perilaku beralih merek merupakan perilaku
nasabah yang berpindah dari satu bank ke bank lain
berdasar persepsi tingkat kepuasan yang dirasakan
oleh nasabah terhadap kualitas jasa yang ditawarkan.
Keaveney (1995), memperkenalkan suatu model dasar
mengapa konsumen beralih dalam suatu industri jasa,
sehingga diharapkan dapat membantu manager
memahami konsumen agar dapat mengurangi adanya
perilaku beralih merek (switching behavior) maupun
penyeberangan konsumen (customer defection). Hal
ini disebabkan karena ketidakpuasan interaksi antara
konsumen dengan pekerja yang dapat dikurangi
dengan mengajarkan pekerja untuk mendengarkan
konsumen, menghubungi (menelepon) kembali
konsumen, menjaga informasi konsumen, dan
menjelaskan prosedur serta aspek-aspek teknis yang
harus dimiliki pekerja untuk melayani konsumen.
Kepuasan menurut Kotler dan Keller (2006, p.
136) adalah perasaan senang atau kecewa seseorang
yang muncul setelah membandingkan antara persepsi
atau kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu
produk dan harapan-harapannya. Meskipun demikian,
tidak mudah untuk mewujudkan kepuasan nasabah
secara menyeluruh dan berkesinambungan, sebab
nasabah yang dihadapi saat ini berbeda dengan
nasabah pada beberapa dasawarsa yang lalu.
Harapan memegang peranan yang penting
karena kelangsungan hubungan di antara perusahaan
dan nasabah didasarkan pada kualitas (produk atau
jasa) yang diharapkan, atau dengan kata lain harapan
diharapkan berpengaruh positif pada kepuasan (Fornell
et al, 1996, p. 9). Nasabah memilih penyedia jasa
berdasarkan harapan dan setelah menikmati jasa mereka
akan membandingkan dengan apa yang diharapkan.
Bila kualitas jasa yang dinikmati ternyata berada jauh
di bawah yang diharapkan, maka nasabah akan
kehilangan minat terhadap pemberi jasa tersebut dan
sebaliknya apabila kualitas jasa yang dinikmati ternyata
berada jauh di atas yang diharapkan, maka nasabah
akan tetap menggunakan perusahaan tersebut. Oleh
karena itu, bank perlu menngidentifikasi keinginan
nasabah berkenaan dengan kualitas jasa tersebut
(Sunardi, 2003, p. 71). Harapan dianggap sebagai
perkiraan yang dibuat oleh konsumen mengenai apa
yang akan terjadi dimasa mendatang dalam suatu
transaksi atau pertukaran (Parasuraman et al, 1988, p.
17).
Kualitas yang dipersepsikan merupakan
penilaian konsumen terhadap keseluruhan keunggulan
ataupun superioritas suatu produk (Zeithaml, 1987
dalam Parasuraman et al, 1988, p. 15). Kualitas yang
dipersepsikan merupakan kemampuan untuk
memutuskan (evaluasi) tentang kesempurnaan dan
superioritas jasa. Semakin tinggi tingkat kualitas jasa
yang dipersepsikan, semakin besar kepuasan
konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2006, p. 299), citra
(image) didefinisikan sebagai persepsi masyarakat
terhadap perusahaan atau produknya. Ketika layanan
sulit untuk dievaluasi, image dipercaya menjadi faktor
penting yang dapat mempengaruhi kualitas yang
dipersepsikan, evaluasi konsumen terhadap kepuasan
layanan dan loyalitas konsumen. Sikap ini akan
menimbulkan kepuasan konsumen terhadap
perusahaan. Menurut Mardalis (2002, p. 9), citra (im-
age) dapat berarti sebagai suatu tanggapan atau
gambaran yang diperoleh dari sebuah perusahaan
melalui iklan, media, promosi, dan pemasaran. Hipotesis
dalam penelitian adalah:
H1: Ada pengaruh image secara positif pada
loyalitas.
H2: Ada pengaruh image secara positif pada
kepuasan nasabah.
H3: Ada pengaruh image secara positif pada kualitas
yang dipersepsikan.
H4: Ada pengaruh kualitas yang dipersepsikan
secara positif pada kepuasan nasabah.
H5: Ada pengaruh harapan nasabah secara positif
pada kualitas yang dipersepsikan.
H6: Ada pengaruh harapan nasabah secara positif
pada kepuasan nasabah.
H7: Ada pengaruh kepuasan nasabah secara positif
pada loyalitas nasabah
H8: Ada pengaruh negatif kepuasan nasabah pada
perilaku beralih merek.
Populasi merupakan keseluruhan manusia,
peristiwa, atau hal-hal lain yang menjadi ketertarikan
dari peneliti untuk melakukan penelitian (Sekaran, 2003,
p. 266). Populasi dalam penelitian ini adalah nasabah
beberapa bank yang berstatus persero di kota
52
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 49-58
Yogyakarta, yaitu Bank BRI, Bank Mandiri, dan Bank
BNI. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive
sampling dengan subyek penelitian adalah nasabah
bank yang berada di kota Yogyakarta yang ditentukan
secara convenience sampling. Kriteria yang digunakan
adalah nasabah yang mempunyai simpanan karena
layanan simpanan merupakan layanan yang penting
bagi bank, karena salah satu fungsi bank adalah sebagai
lembaga intermediary, yaitu menghimpun dana dari
masyarakat dan menyalurkan dana kepada masyarakat
yang membutuhkan (Subagyo et al, 1999, p. 44).
Penelitian ini menggunakan metode survei dan
menggunakan data primer. Data primer berupa
kuesioner yang dibagikan pada nasabah Bank Mandiri,
Bank BNI, dan Bank BRI yang berlokasi di kota
Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan skalaLikert
untuk mengukur jawaban responden dengan lima
pilihan jawaban dari sangat tidak setuju sampai dengan
sangat setuju. Variabel penelitian merupakan konsep
abstrak yang dapat diukur (Ghozali, 2005, p. 7). Variabel
(exogen) independen dalam penelitian ini terdiri dari
image dan harapan nasabah, karena variabel ini tidak
dipengaruhi oleh variabel anteseden. Sedangkan
variabel (endogen) terdiri dari kualitas yang
dipersepsikan, kepuasan nasabah, loyalitas nasabah,
dan perilaku beralih merek. Variabel endogen dapat
berperan menjadi variabel dependen dan mediating
(Ferdinand, 2006, p. 16).
Menurut Ghiselli et al (1981) dalam Hartono
(2004/2005, p.120), validitas menunjukkan seberapa jauh
suatu tes atau satu set dari operasi-operasi mengukur
apa yang seharusnya diukur. Pengujian validitas
dilakukan dengan menggunakan analisis faktor dan
jenis validitas yang akan diuji adalah construct valid-
ity (menunjukkan seberapa baik hasil-hasil yang
diperoleh dari penggunaan suatu pengukur sesuai
dengan teori-teori yang digunakan untuk
mendefinisikan suatu konstruk) (Hartono, 2004/2005,
p. 128). Menurut Sekaran (2003, p. 203), reliabilitas suatu
pengukur menunjukkan stabilitas dan konsistensi dari
suatu instrumen yang mengukur suatu konsep dan
berguna untuk mengakses kebaikan dari suatu
pengukur.
Metode analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah SEM (structural equation model-
ing). Menurut Hair et al (1998), asumsi-asumsi yang
harus dipenuhi dalam prosedur pengumpulan dan
pengolahan data yang dianalisis dengan pemodelan
SEM adalah ukuran sampel, normalitas, dan outliers.
HASIL PENELITIAN
Uji validitas dan reliabilitas instrumen untuk sampel
kecil mengambil 69 responden, sedangkan untuk
sampel besar responden yang diambil sebanyak 250
responden.
53
PENGARUH IMAGE, KUALITAS YANG DIPERSEPSIKAN, ....................(Rini Kusumawati)
Tabel 1
Hasil Pengujian Validitas Sampel Besar
Berdasarkan hasil pengujian sampel besar diketahui bahwa nilai MSA sudah di atas 0.5 sehingga ke 32 indikator
tersebut dinyatakan valid.
Component
1 2 3 4 5 6
Konstruk Item Keterangan
HN1
HN2
HN3
HN4
HN5
HN6
HN7
HN8
HN9
KD1
KD2
KD3
KD4
KD5
KD6
KD7
KD8
KD9
KD11
LN3
LN5
KN3
KN4
KN5
KN6
KN9
PBM4
PBM5
PBM6
IB1
IB2
IB3
IB4
0.595
0.836
0.815
0.864
0.780
0.488
0.772
0.809
0.544
Harapan
Nasabah
Kualitas yang
Dipersepsikan
valid
0.775
0.809
0.833
0.832
0.831
0.786
0.804
0.783
0.799
0.828
0.811
0.799
0.847
0.701
0.606
0.782
0.804
0.825
0.889
0.912
0.820
0.813
0.884
0.850
valid
valid
valid
valid
valid
Loyalitas
Nasabah
Kepuasan
Nasabah
Perilaku
Beralih Merek
Image
Bank
54
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 49-58
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai
Cronbachs Alpha tiap variabel >0.6, yaitu berkisar
antara 0.765 sampai dengan 0.882, sehingga keenam
variabel tersebut dinyatakan reliabel ( Nunnally, 1967
dalam Ghozali, 2005, p. 42).
Setelah dilakukan analisis validitas dan
reliabilitas kemudian data dianalisis dengan SEM (Struc-
tural equation modeling). Berikut ini merupakan tabel
hasil analisis uji kausalitas.
Tabel 2
Hasil Pengujian Reliabilitas Sampel Besar
HN1
HN2
HN3
HN4
HN5
HN6
HN7
HN8
HN9
KD1
KD2
KD3
KD4
KD5
KD6
KD7
KD8
KD9
KD11
LN3
LN5
KN3
KN4
KN5
KN6
KN9
PBM4
PBM5
PBM6
IB1
IB2
IB3
IB4
0.771
0.711
0.713
0.704
0.726
0.706
0.706
0.690
0.757
0.869
0.867
0.864
0.863
0.866
0.865
0.879
0.867
0.865
0.860
0.666
0.652
0.843
0.848
0.845
0.852
0.856
0.812
0.834
0.830
0.862
0.855
0.823
0.841
Harapan
Nasabah
Kualitas yang
Dipersepsikan
Loyalitas
Nasabah
Kepuasan
Nasabah
Perilaku
Beralih Merek
Image
Bank
Item Alpha if item Deleted Cronbachs Alpha Konstruk
0.882
0.855
0.865
0.810
0.876
0.765
55
PENGARUH IMAGE, KUALITAS YANG DIPERSEPSIKAN, ....................(Rini Kusumawati)
PEMBAHASAN
Hipotesis 1: Hubungan Image pada Loyalitas
Nilai C.R. untuk parameter estimasi hubungan kausal
antara image pada loyalitas adalah 3.288 , atau C.R. e
2.326. H
a
yang menyatakan bahwa ada pengaruh im-
age secara positif pada loyalitas diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi image bank maka
semakin tinggi pula loyalitas nasabah.
Hipotesis 2: Hubungan Image pada Kualitas yang
Dipersepsikan
Nilai C.R. untuk parameter estimasi hubungan kausal
antara image pada kualitas yang dipersepsikan adalah
4.350 atau C.R. e 2.326. H
a
yang menyatakan bahwa
ada pengaruh image secara positif pada kualitas yang
dipersepsikan diterima. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi image bank maka semakin tinggi pula
kualitas yang dipersepsikan nasabah.
Hipotesis 3: Hubungan Image pada Kepuasan Nasabah
Nilai C.R. untuk parameter estimasi hubungan kausal
antara image pada kepuasan nasabah adalah 2.395,
atau C.R. e 2.326. H
a
yang menyatakan bahwa ada
pengaruh image secara positif pada kepuasan nasabah
diterima. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi
image bank maka semakin tinggi pula kepuasan
nasabah.
Hipotesis 4: Hubungan Kualitas yang Dipersepsikan
pada Kepuasan Nasabah.
Nilai C.R. untuk parameter estimasi hubungan kausal
antara kualitas yang dipersepsikan pada kepuasan
nasabah adalah 6.783, atau C.R. e 2.326. H
a
yang
menyatakan bahwa ada pengaruh kualitas yang
dipersepsikan secara positif pada kepuasan nasabah
diterima. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi
kualitas yang dipersepsikan maka semakin tinggi pula
kepuasan nasabah.
Hipotesis 5: Hubungan Harapan Nasabah pada
Kualitas yang Dipersepsikan
Nilai C.R. untuk parameter estimasi hubungan kausal
antara harapan nasabah pada kualitas yang
dipersepsikan adalah 2.553, atau C.R. e 2.326. H
a
yang menyatakan bahwa ada pengaruh harapan
nasabah secara positif pada kualitas yang
dipersepsikan diterima. Hal ini berarti bahwa apabila
harapan nasabah semakin tinggi maka semakin tinggi
pula kualitas yang dipersepsikan.
Hipotesis 6: Pengaruh Harapan Nasabah pada
Kepuasan Nasabah
Nilai C.R. untuk parameter estimasi hubungan kausal
antara harapan nasabah pada kepuasan nasabah adalah
-2.017 adalah, atau C.R. e 2.326, ini berarti bahwa
harapan berpengaruh secara negatif dan signifikan
Tabel 3
Regression Weight
56
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 49-58
pada kepuasan nasabah. Hal ini didasarkan pada
pernyataan bahwa harapan kurang mampu memprediksi
ketika perbedaan faktor konsumsi dan produksi tinggi.
Berdasarkan sisi produksi, apabila barang atau jasa sulit
untuk distandarisasi (berkaitan dengan kualitas) maka
perbedaan konsumsi dan produksi tinggi sehingga
harapan kurang berpengaruh pada kepuasan.
Berdasarkan sisi konsumsi, apabila konsumen lebih
memilih adanya perbedaan pada faktor produksi
dimungkinkan karena adanya keterlibatan atau keahlian
yang berdasarkan pada pengalaman sehingga
harapan kurang berpengaruh pada kepuasan. Harapan
nasabah akan menjadi prediktor yang baik untuk
kualitas yang dipersepsikan, nilai yang dipersepsikan,
dan kepuasan, yang dikarenakan adanya frekuensi, dan
rutinitas pembelian ulang yang sering, serta keputusan
untuk mengkonsumsi (Howard, 1977 dalam Fornell et
al, 1996, p. 14). Ketika frekuensi pembelian ulang relatif
jarang, dan pengetahuan konsumen yang relatif sedikit
maka harapan nasabah kurang mampu memprediksi
kepuasan.
Menurut Spreng dan Olshavsky (1996),
kepuasan didefinisikan sebagai pernyataan afektif
tentang reaksi emosional terhadap pengalaman atas
produk atau jasa, yang dipengaruhi oleh kepuasan
konsumen terhadap produk atau jasa tersebut (atribut
kepuasan) dan dengan informasi yang digunakan untuk
memilih produk atau jasa (informasi kepuasan). Hasil
penelitian Spreng dan Olshavsky (1996), menunjukkan
bahwa:
1. Keinginan (desire) mempunyai efek negatif pada
kesesuaian keinginan.
2. Harapan (expectation) mempunyai efek positif pada
kinerja yang dirasakan (perceived performance),
tetapi berpengaruh negatif pada kesesuain harapan.
Tse et al (1988) dalam Telagawati (2003)
menyatakan bahwa efek langsung perceived perfor-
mance yang dirasakan pada kepuasan mempunyai
pengaruh yang lebih kuat dibanding harapan dalam
menentukan kepuasan.
Hipotesis 7: Pengaruh Kepuasan Nasabah pada
Loyalitas Nasabah
Nilai C.R. untuk parameter estimasi hubungan kausal
antara kepuasan nasabah pada loyalitas nasabah
adalah 5.984, atau C.R. e 2.326. H
a
yang menyatakan
ada pengaruh kepuasan nasabah secara positif pada
loyalitas diterima. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
tinggi kepuasan nasabah maka semakin tinggi loyalitas
nasabah.
Hipotesis 8: Pengaruh Kepuasan Nasabah pada
Perilaku Beralih Merek
Nilai C.R. untuk parameter estimasi hubungan kausal
antara kepuasan nasabah pada perilaku beralih merek
adalah -2.494, atau C.R. e 1.645. sebaliknya H
a
yang
menyatakan ada pengaruh kepuasan nasabah secara
negatif pada perilaku beralih merek diterima. Hal ini
berarti bahwa kepuasan semakin tinggi tingkat
kepuasan nasabah maka semakin rendah perilaku
beralih merek dan sebaliknya semakin rendah tingkat
kepuasan nasabah maka semakin tinggi perilaku beralih
merek.
SIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas atau
kinerja jasa yang tinggi yang diterima oleh nasabah
bank secara signifikan dapat memberikan manfaat yang
besar, yaitu meningkatkan kepuasan nasabah dan juga
menimbulkan komitmen untuk loyal pada jasa
perbankan, dalam hal ini Bank Mandiri, Bank BRI, dan
Bank BNI. Kinerja jasa yang tinggi yang diberikan pihak
bank pada nasabahnya memiliki pengaruh positif dan
signifikan, sehingga kinerja jasa menjadi pertimbangan
konsumen ketika konsumen memutuskan untuk
melakukan pembelian ulang atau menabung.
Harapan terbukti berpengaruh positif pada
kualitas yang dipersepsikan setelah melakukan
pembelian ulang atau menabung. Harapan nasabah
berpengaruh negatif pada kepuasan. Harapan
berpengaruh secara negatif untuk sektor finance/in-
surance. Citra perusahaan berpengaruh postif pada
loyalitas, kualitas yang dipersepsikan, dan kepuasan
nasabah. Kepuasan nasabah berpengaruh positif pada
loyalitas. Kepuasan nasabah berpengaruh negatif pada
perilaku beralih merek.
57
PENGARUH IMAGE, KUALITAS YANG DIPERSEPSIKAN, ....................(Rini Kusumawati)
DAFTAR PUSTAKA
Fornell, Claes., J ohnson, Michael D., Anderson, Eu-
gene W., Cha, J aesung (1996), The American
Customer Satisfaction Index: Nature, Purpose,
And Finding, Journal of Marketing, Vol 60,
No 4: 7-18.
Bolton, Ruth N. and Drew, James H. (1991), A Longi-
tudinal Analysis of the Impact of Service
Changes on Customer Attitudes, Journal of
Consumer Research, Vol 55, No 1: 1-9.
Dharmmesta, B. Swastha (1999), Loyalitas Pelanggan:
Sebuah Kajian Konseptual sebagai Panduan
Bagi Peneliti, Jurnal Ekonomi dan Bisnis In-
donesia ,Vol 14, No 3: l 73-88.
Darpito, Surpiko Hapsoro (2005), Perilaku Beralih
Merek, Kualitas yang Dipersepsikan, dan
Kepuasan Konsumen Sebagai Mediator
Pengaruh Citra Hotel terhadap Loyalitas
Konsumen, Tesis Msi-Manajemen Universitas
Gadjah Mada, tidak dipublikasikan.
Ellitan (1999), Membangun Loyalitas Melalui Cus-
tomer Satisfaction dan Customer Oriented,
KOMPAK, Vol 1, No 19: 236-246.
Ferdinand, Augusty (2006), Structural Equation Mod-
eling Dalam Penelitian Manajemen: Aplikasi
Model-Model Rumit Dalam Penelitian Untuk
Tesis Magister dan Disertasi Doktor. 4
th
ed.
Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Ghozali, Imam (2005), Model Persamaan Struktural:
Konsep dan Aplikasi dengan Program AMOS
ver. 5.0. 2
th
ed. Semarang: Badan Penerbit Uni-
versitas Diponegoro.
Ghozali, Imam (2005), Aplikasi Analisis Multivariate
dengan program SPSS. 3
th
ed. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Hair, J. JR., Anderson, R.E., Tatham, R.L., Black, W.C.,
(1998), Multivariate Data Analysis with Read-
ings. 5
th
ed. Upper Saddle River, New J ersey:
Prentice-Hall International Inc.
Haryono, Subiyakto (1999), Ukuran Kualitas J asa:
GAP Antara Kinerja dan Harapan atau Kinerja,
Wahana, Vol 2, No 1: 19-30.
Hartono, Jogiyanto (2004/2005), Metodologi Penelitian
Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-
Pengalaman. Yogyakarta: BPFE.
Indrawati, Vinni (2002), Pengaruh Keefektifan
Komunikasi Dan Kualitas Layanan Terhadap
Komitmen Keterhubungan Nasabah BNI Di
Kota Yogyakarta. Tesis Msi-Manajemen Uni-
versitas Gadjah Mada, tidak dipublikasikan.
Indriantoro, Nur dan Supomo, Bambang (2003),
Metodologi Penelitian Bisnis: untuk
akuntansi dan manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Kaevany, S.M. (1995), Customer Switching Behavior
in Service Industries: an exploratory study,
Journal of Marketing, Vol 59, No 2: 71-82.
Kandampully, J ay dan Suhartanto, Dwi (2000), Cus-
tomer Loyalty in the Hotel Industry: the role of
customer satisfaction and image, International
Journal of Contemporary Hospitality Manage-
ment, Vol 12, No 6: 346-351.
Kotler, Philip dan Keller, Kevin Lane (2006), Marketing
Management. 12
th
ed. Upper Saddle River, New
J ersey: Prentice-Hall International Inc.
Kurnia, Riny (2006), Analisis Pengaruh Kualitas Inti,
Kualitas Hubungan, dan Harapan Mahasiswa
S-2 Terhadap Kepuasan Mahasiswa S-2 yang
Dimediasi oleh Nilai yang Dipersepsikan pada
Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta. Tesis
Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN Yogyakarta, tidak
dipublikasikan.
Lassar, Walfried M., Monalis, Chris, dan Winsor, Rob-
ert D. (2000), Service Quality Perspectives and
Satisfaction in Private Banking, The Journal
58
J EB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 49-58
of Service Marketing, Vol 14, No 3: 244.
Moutinho, L. dan Smith, A. (2000), Modeling Bank
Customer Satisfaction Through Mediation of
attitudes Towards Human and Automated Bank-
ing, The International Journal of Banking
Marketing, Vol 18, No 3: 124.
Mardalis, Ahmad (2002), Peran Citra Perusahaan dalam
Mempengaruhi Nasabah untuk Memilih Suatu
Bank, BENEFIT, Vol 6, No 1: 8-15.
Oliver, Richard (1981), Measurement and Evaluation
of Satisfaction Process in Retail Setting, Jour-
nal of Retailing, Vol 57, No 3: 25-48.
Parasuraman, A., Zeithaml, Valarie A. dan Berry, Leonard
L. (1985), A Conceptual Model of Serqual and
Its Implications for Future Research, Journal
of Marketing, Vol 49, Fall: 41-50.
Parasuraman, A., Zeithaml, Valerie A. dan Berry, Leonard
L. (1988), SERVQUAL: A Multiple-Item Scale
for Measuring Consumer Perceptions of Ser-
vice Quality, Journal of Retailing, Vol 64, No
1: 14-40.
Spreng, R.A. dan Mackoy, R.D. (1996), An empirical
examination of a model of perceived service
quality and satisfaction, Journal of retailing,
Vol 72, No 2: 201-14.
Subagyo, Fatmawati, Sri, Badrudin, Rudy, Purnamawati,
Astuti, dan Algifari (1999), Bank dan Lembaga
Keuangan Lainnya. Yogyakarta: Bagian
penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Sharma, Neeru dan Patterson, Paul G. (1999), The Im-
pact of Communication Effectiveness and Ser-
vice Quality on Relationship Commitment in
Consumer, Professional Service, The Journal
of Service Marketing, Vol 13, No 2: 151.
Sekaran, Uma (2003), Research Methods for Business:
A skill building approach. 4
th
ed. New York:
J ohn Wiley and Sons Inc.
Sunardi (2003), Analisis Faktor yang Dipertimbangkan
Nasabah dalam Mempersepsikan Kualitas
Layanan Bank Di Malang, Dian Ekonomi, Vol
IX, No 1: 69-80.
Sudarwati, Yuni (2003), Analisa Hubungan Kualitas
Inti, Kualitas Hubungan, Nilai yang
Dirasakan, dan Kepuasan Pelanggan, Niat
untuk Berpindah, dan Niat Untuk Loyal. Tesis
Msi-Manajemen Universitas Gadjah Mada,
tidak dipublikasikan.
Telagawati, Ni Luh Wayan Sayang (2003), Analisis
Pangaruh Harapan Pelanggan, Kualitas yang
dipersepsikan, Nilai yang Dipersepsikan
terhadap Kepuasan Pelanggan dan Pengaruh
Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas
Pelanggan pada Industri Jasa, tidak
dipublikasikan.
Zikmund, William G. (2003), Business Research Meth-
ods. 7
th
ed. Cincinnati, Ohio: South Western
College Publishing.
(http://www.deliveri.org).
(http://www.iiiee.org).
59
ASPEK VALUE ADDED RUMAH SAKIT SEBAGAI BADAN ................... (AM Vianey Norpatiwi)
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Hal. 59-65
ABSTRACT
This article is an opinion about changing of govern-
mental hospital organizational to a public services
board. The changing impacted governmental hospital
organizational to be a non profit oriented organization
like a foundation. The changing also give implication
that it used to financial accounting standard stamement
(PSAK) no: 45. It is standard for non profit organiza-
tion issued by IAI (accounting organization). The
changing have implication that governmental hospital
organizational used to compose budget and do cost
tracing based on performance to decide tariff. Taxa-
tion to governmental hospital organizational is not
different than before but value added taxation is charge
for medicines transaction for consumer who are not
needs stay at hospital.
Keywords: govermental hospital, financial accounting
standard stamement, taxaxion, value added.
PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan suatu unit usaha jasa yang
memberikan jasa layanan sosial di bidang medis klinis.
Pengelolaan unit usaha rumah sakit memiliki keunikan
tersendiri karena selain sebagai unit bisnis, usaha rumah
sakit juga memiliki misi sosial, di samping pengelolaan
rumah sakit juga sangat tergantung pada status
kepemilikan rumah sakit. Misi rumah sakit tidak terlepas
ASPEK VALUE ADDED RUMAH SAKIT SEBAGAI
BADAN LAYANAN UMUM
AM Vianey Norpatiwi
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta, Jalan Seturan Yogyakarta 55281
Telepon +62 274 486160, 486321, Fax. +62 274 486155
E-mail: norpratiwi@stieykpn.ac.id
dari misi layanan sosial, namun tidak dipungkiri bahwa
dalam pengelolaan rumah sakit tetap terjadi konflik
kepentingan dari berbagai pihak yang dapat bersumber
dari klasifikasi organisasi rumah sakit.
Klasifikasi organisasi dibedakan menjadi dua,
yaitu organisasi bisnis dan organisasi non bisnis.
Organisasi non bisnis di Indonesia terdiri dari dua
kelompok yaitu kelompok non kepemerintahan dan
kepemerintahan. Contoh organisasi non
kepemerintahan adalah universitas, lembaga swadaya
masyarakat, dan lain-lain. Sedangkan kepemerintahan
adalah pemerintah pusat/daerah, departemen, dan lain-
lain. Apabila ditinjau dari klasifikasi organisasi tersebut,
Rumah sakit pemerintah lebih tepat sebagai klasifikasi
non bisnis, namun rumah sakit swasta tidak seluruhnya
diklasifikasikan dalam kelompok non bisnis.
Beberapa rumah sakit masih memiliki kualitas
jasa layanan yang sangat memprihatinkan. Hal ini antara
lain disebabkan karena keterbatasan sumber daya baik
sumber daya finansial maupun sumber daya non
finansial. Tuntutan peningkatan kualitas jasa layanan
membutuhkan berbagai dana investasi yang tidak
sedikit. Kenaikan tuntutan kualitas jasa layanan rumah
sakit harus dibarengi dengan profesionalisme dalam
pengelolaannya.
Perkembangan pengelolaan rumah sakit, baik
dari aspek manajemen maupun operasional sangat
dipengaruhi oleh berbagai tuntutan lingkungan, yaitu
lingkungan eksternal dan internal. Tuntutan eksternal
antara lain adalah dari para stakeholder bahwa rumah
sakit dituntut untuk memberikan layanan kesehatan
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
60
JEB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 59-65
yang bermutu dengan biaya layanan kesehatan
terkendali sehingga akan berujung pada kepuasan
pasien. Tuntutan dari pihak internal antara lain adalah
pengendalian biaya. Pengendalian biaya merupakan
masalah yang kompleks karena dipengaruhi oleh
berbagai pihak yaitu mekanisme pasar, perilaku
ekonomis, sumber daya profesional, dan perkem-
bangan teknologi.
Rumah sakit kepemerintahan yang terdapat di
tingkat pusat dan daerah tidak lepas dari pengaruh
perkembangan tuntutan tersebut. Dipandang dari
segmentasi kelompok masyarakat, secara umum rumah
sakit pemerintah merupakan layanan jasa yang
menyediakan untuk kalangan menengah ke bawah,
sedangkan rumah sakit swasta melayani masyarakat
kelas menengah ke atas. Biaya kesehatan cenderung
terus meningkat, dan rumah sakit dituntut untuk secara
mandiri mengatasi masalah tersebut. Peningkatan biaya
kesehatan ini menyebabkan fenomena tersendiri bagi
rumah sakit pemerintahan karena rumah sakit
pemerintah memiliki segmen layanan kesehatan untuk
kalangan menengah ke bawah. Akibantnya rumah sakit
pemerintah diharapkan menjadi rumah sakit yang murah
dan bermutu.
Rumah sakit pemerintah menghadapi kondisi
dilematis antara misi melayani masyarakat kelas
menengah ke bawah dan adanya keterbatasan sumber
dana, berbagai aturan, dan birokrasi yang harus
dihadapi. Kondisi tersebut mengakibatkan rumah sakit
pemerintah mengalami kebingungan apakah rumah sakit
dijadikan sebagai lembaga birokrasi dalam sistem
kesehatan ataukah sebagai lembaga pelayanan
kesehatan yang tidak birokratis.
Berlatar belakang beberapa masalah tersebut
tentu saja rumah sakit pemerintah harus melakukan
banyak penyesuaian. Dalam artikel ini akan diuraikan
mengenai nilai tambah (value added) bagi rumah sakit
(pemerintah) yang telah diatur oleh pemerintah untuk
menjadi BLU (Badan Layanan Umum) ditinjau dari
berbagai aspek.
MASALAH DAN PEMBAHASAN
Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi di
lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk
memberikan layanan kepada masyarakat berupa
penyediaan barang dan atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dan dalam
melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip
efisiensi dan produktivitas. Berdasarkan PP. No.23
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum, tujuan BLU adalah meningkatkan
layanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam
pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip eknomi dan
produktivitas dan penerapan praktik bisnis yang sehat.
Praktik bisnis yang sehat artinya berdasarkan kaidah
manajemen yang baik mencakup perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan
pertanggungjawaban.
Secara umum, asas badan layanan umum adalah
layanan umum yang pengelolaannya berdasarkan
kewenangan yang didelegasikan, tidak terpisah secara
hukum dari instansi induknya. Asas BLU yang lainnya
adalah (1) Pejabat BLU bertanggungjawab atas
pelaksanaan kegiatan layanan umum kepada pimpinan
instansi induk; (2) BLU tidak mencari laba; (3) Rencana
kerja, anggaran, dan laporan BLU dan instansi induk
tidak terpisah; dan (4) Pengelolaan sejalan dengan
praktik bisnis yang sehat. BLU harus memenuhi
persyaratan adminsitratif sebagai berikut (1) Pernyataan
kesanggupan untuk meningkatkan kinerja layanan,
keuangan, dan manfaat bagi masyarakat; (2) Pola tata
kelola yang baik dan menyusun laporan keuangan; (3)
Standar pelayanan minimum; dan (4) Laporan audit atau
pernyataan bersedia diaudit secara independen.
Organisasi BLU cenderung sebagai organisasi
nirlaba kepemerintahan. Sesuai dengan PP No. 23 Tahun
2005 pasal 26 menyebutkan bahwa akuntansi dan
laporan keuangan diselenggarakan sesuai dengan
Standar Akuntansi keuangan (SAK) yang diterbitkan
oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia (Ikatan
Akuntan Indonesia atau IAI). Ketentuan ini
mengakibatkan ketidakkonsistensian yaitu bahwa
organisasi BLU yang cenderung sebagai organisasi
kepemerintahan tetapi pelaporan akuntansi
menggunakan PSAK IAI, bukan Standar Akuntansi
Pemerintahan (PSAP) yang disusun oleh Komite
Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP). Standar ini
digunakan untuk organisasi kepemerintahan dan
merupakan pedoman dalam penyusunan dan penyajian
laporan keuangan. SAP dinyatakan dalam PSAP.
Organisasi pemerintahan sebagai organisasi
61
ASPEK VALUE ADDED RUMAH SAKIT SEBAGAI BADAN ................... (AM Vianey Norpatiwi)
yang nirlaba semestinya menggunakan SAP bukan
SAK. Oleh karena itu, rumah sakit pemerintah sebagai
badan layanan umum semestinya menggunakan SAP
bukan SAK. Namun dalam PP No. 23 Tahun 2005
disebutkan badan layanan umum sebagai institusi
nirlaba menggunakan SAK. Dalam hal ini, SAK yang
tepat adalah PSAK No. 45 yaitu standar akuntansi
keuangan untuk organisasi nirlaba.
(disajikan dalam bentuk laporan aktivtias dan laporan
arus kas); (3) Mengetahui kontinuitas pemberian jasa
(disajikan dalam bentuk laporan posisi keuangan); dan
(4) Mengetahui perubahan aktiva bersih, (disajikan
dalam bentuk laporan aktivitas). Dengan demikian,
laporan keuangan rumah sakit pemerintahan mencakup
(1) Laporan posisi keuangan (aktiva, utang dan aktiva
Laporan keuangan rumah sakit merupakan
laporan yang disusun oleh manajemen sebagai media
penyampaian laporan keuangan suatu entitas. Laporan
keuangan rumah sakit merupakan penyampaian
informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap entitas tersebut. Nilai lebih dari rumah sakit
pemerintah menjadi badan layanan uumun ditinjau dari
isi pelaporan keuangan adalah rumah sakit harus
mengikuti ketentuan untuk pelaporan keuangan
organisasi nirlaba dan menyanggupi untuk laporan
keuangan tersebut diaudit oleh auditor independence.
Dengan kesanggupan tersebut tentu saja diharapkan
rumah sakit dapat mencapai tata kelola yang baik dan
pelaporan yang transparans.
Laporan keungan rumah sakit sebagai BLU yang
disusun harus menyediakan informasi, yaitu untuk (1)
Mengukur jasa atau manfaat entitas nirlaba; (2)
Pertanggungjawaban manajemen entitas rumah sakit,
bersih, tidak disebut neraca). Klasifikasi aktiva dan
kewajiban sesuai dengan perusahaan pada umumnya,
sedang aktiva bersih diklasifikasikan aktiva bersih tidak
terikat, terikat kontemporer, dan terikat permanen.
Pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan
sumber daya yang ditetapkan oleh penyumbang,
sedang pembatasan temporer adalah pembatasan
penggunaan sumber daya oleh penyumbang yang
menetapkan agar sumber daya tersebut dipertahankan
sampai pada periode tertentu atau sampai dengan
terpenuhinya keadaan tertentu; (2) Laporan aktivitas,
(yaitu penghasilan, beban, dan kerugian dan perubahan
dalan aktiva bersih); (3) Laporan arus kas yang
mencakup arus kas dari aktivtitas operasi, aktivtais
investasi, dan aktivtias pendanaan; dan (4) Catatan
atas laporan keuangan, antara lain sifat dan jumlah
pembatasan permanen atau temporer, dan perubahan
klasifikasi aktiva bersih.
PSAK 45 SAP
Badan penerbitnya IAI Badan Penerbit KSAP
Laporan keuangan: Laporan keuangan
1. Laporan aktivitas 1. Laporan realisasi anggaran
2. Laporan posisi keuangan 2. Neraca
3. Laporan arus kas 3. Laporan arus kas
4. Catatan atas 4. Catatan atas Laporan keuangan
Organisasi bisnis dan Organisais kepemerintahan
Organisasi non kepemerintahan
Pengguna: Pengguna:
1. Masyarakat 1. Masyarakat
2. Lembaga donor 2. Wakil rakyat/Pengawas/Pemeriksa
3. Pemerintah 3. Pemerintah
Tabel 1
Perbedaan PSAK 45 dan SAP
62
JEB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 59-65
Adanya isu desentralisasi dan perundangan
yang berlaku yaitu UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan
Daerah, serta Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang
Pedoman Umum Penyusunan APBD, UU No. 25 Tahun
2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional, PP No. 23 Tahun 2005 tentang Badan Layanan
Umum, PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standard
Akuntansi Pemerintah, membuat rumah sakit harus
melakukan banyak penyesuaian khusunya dalam hal
pengelolaan teknis keuangan maupun penganggaran-
nya, termasuk penentuan biaya. Rumah sakit
pemerintah dituntut untuk menjadi rumah sakit yang
murah dan bermutu. Dalam pengelolaannya, rumah sakit
pemerintah memiliki peraturan pendukung yang terkait
dengan pengelolaan keuangan yang fleksibel.
Berdasarkan PP No.23 Tahun 2005, rumah sakit
pemerintah telah mengalami perubahan sebagai badan
layanan umum. Perubahan kelembagaan ini berimbas
pada pertanggungjawaban keuangan bukan lagi
kepada departemen kesehatan tetapi kepada
departemen keuangan. Sebagaimana telah diuraikan
di atas dari aspek pelaporan keuangan yang harus
mengikuti standar akuntansi keuangan, maka dalam
pengelolaan teknis keuangan pun harus
diselenggarakan dengan mengacu pada prinsip-prinsip
akuntanbilitas, transparansi dan efisiensi. anggaran
yang disusun rumah sakit pemeritah juga harus disusun
dengan berbasis kinerja (sesuai dengan Kepmendagri
No. 29 tahun 2002).
Berdasar prinsip-prinsip tersebut, aspek teknis
keuangan perlu didukung adanya hubungan yang baik
dan berkelanjutan antara rumah sakit dengan
pemerintah dan para stakeholder, khususnya dalam
penentuan biaya layanan kesehatan yang mencakup
unit cost, efisiensi, dan kualitas pelayanan. Di samping
itu, perlu untuk mempertimbangankan adanya audit atau
pemeriksaan bukan saja dari pihak independen terhadap
pelaporan keuangan tetapi juga perlu audit klinik.
Dengan berubahnya kelembagaan sebagai BLU tentu
saja aspek teknis sangat berhubungan erat dengan basis
kinerja
Sesuai dengan syarat-syarat BLU bahwa yang
dimaksud dengan persyaratan substantif, persyaratan
teknis, dan persyaratan admnistratif adalah berkaitan
dengan standar layanan, penentuan tarif layanan,
pengelolaan keuangan, tata kelola maka semuanya
harus berbasis kinerja. Hal-hal yang harus dipersiapkan
bagi rumah sakit untuk menjadi BLU dalam aspek teknis
keuangan adalah (1) Penentuan tarif harus berdasar
unit cost dan mutu layanan. Dengan demikian, rumah
sakit pemerintah harus mampu melakukan penelusuran
(cost tracing) terhadap penentuan segala macam tarif
yang ditetapkan dalam layanan. Selama ini aspek
penentuan tarif masih berbasis anggaran atau subsidi
pemerintah sehingga masih terdapat suatu cost cul-
ture yang tidak mendukung untuk peningkatan kinerja
atau mutu layanan. Penyusunan tarif rumah sakit
seharusnya berbasis pada unit cost, pasar
(kesanggupan konsumen untuk membayar dan strategi
yang diipilih). Tarif tersebut diharapkan dapat menutup
semua biaya, di luar subsidi yang diharapkan. Perlu
untuk memperhatikan usulan tarif yang bukan berbasis
pada persentase tertentu namun berdasarkan kajian
yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara umum,
tahapan penentuan tarif harus melalui mekanisme
usulan dari setiap divisi dalam rumah sakit dan aspek
pasar dan dilanjutkan kepada pemilik. Pemilik rumah
sakit pemerintah adalah pemerintah daerah; (2)
Penyusunan anggaran harus berbasis akuntansi biaya
bukan hanya berbasis subsidi dari pemerintah. Dengan
demikian, penyusunan anggaran harus didasari dari
indikator input, proses, dan output; (3) Menyusun
laporan keuangan sesuai dengan PSAK 45 yang
disusun oleh organsisasi profesi akuntan dan siap
diaudit oleh Kantor Akuntan Independen bukan diaudit
oleh pemerintah; (4) Sistem remunerasi yang berbasis
indikator dan bersifat evidance based. Dalam
penyusunan sistem remunerasi rumah sakit perlu
memiliki dasar pemikiran bahwa tingkatan pemberian
remunerasi didasari pada tingkatan, yaitu tingkatan satu
adalah basic salary sebagai alat jaminan safety bagi
karyawan. Basic salary tidak dipengaruhi oleh
pendapatan rumah sakit. Tingkatan dua adalah incen-
tives yaitu sebagai alat pemberian motivasi bagi
karyawan. Pemberian incentives ini sangat dipengaruhi
oleh pendapatan rumah sakit. Tingkatan yang ketiga
adalah bonus sebagai alat pemberian reward kepada
karyawan.Pemberian bonus ini sangat dipengaruhi oleh
tingkat keuntungan rumah sakit.
Implementasi aspek teknis keuangan bagi rumah
sakit ini akan menjadi nilai plus dalam upayanya untuk
meningkatkan kualitas jasa layanan dan praktik tata
63
ASPEK VALUE ADDED RUMAH SAKIT SEBAGAI BADAN ................... (AM Vianey Norpatiwi)
kelola yang transparan. Perhitungan dan penelusuran
terhadap unit cost memerlukan persyaratan sebagai
berikut (1) Menuntut adanya dukungan dari para stake-
holder; (2) Memiliki keinginan yang kuat dari rumah
sakit untuk berbenah, tanpa meninggalkan misi layanan
sosial tetapi tetap harus mengunggulkan rumah sakit
sebagai alat bargaining position; (3) Kesanggupan
untuk mewujudkan desakan akuntabilitas dari publik
kepada rumah sakit, khususnya mengenai pola
penentuan tarif; dan (4) Dukungan dari seluruh tim ahli,
baik ahli medis, komite medis, sistem informasi rumah
sakit, akuntansi, dan costing. Dengan implementasi
perubahan kelembagaan menjadi badan layanan umum,
dalam aspek teknis keuangan diharapkan rumah sakit
akan memberi kepastian mutu dan kepastian biaya
menuju pada layanan kesehatan yang lebih baik.
Rumah sakit yang dimiliki oleh Pemerintah
(RSUP dan RSUD) yang didanai dari APBN dan APBD,
tidak memiliki kewajiban PPh terhadap diri sendiri.
Dengan kata lain, rumah sakit pemerintah tidak perlu
melaporkan PPh 25 (SPT Masa) maupun PPh 29 (SPT
Tahunan) karena bukan subyek pajak. Namun untuk
kategori sebagai unit pemerintah dan bukan subyek
pajak, dalam undang-undang pajak penghasilan
terdapat empat kriteria yang harus dipenuhi rumah sakit
yaitu (1) Dibentuk berdasar peraturan perundang-
undangan yang berlaku; (2) Dibiayai dengan dana yang
bersumber APBN dan APBD; (3) Penerimaan lembaga
tersebut dmasukkan dalam anggaran; dan (4)
Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan
fungsional negara. Dengan demikian, karena RSU/
RSUD mendapatkan pembiayaan dari luar APBN/APBD
atau tidak seluruh penerimaan dan pembiayaan tercatat
dalam APBN/APBD, maka kewajiban menghitung pajak
sendiri (PPh 25/29) disamakan dengan badan swasta
lain.
Berkaitan dengan PP No. 23 tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan BLU, apabila RSU atau RSUD
(rumah sakit pemerintah) sudah mendapat penetapan
sebagai BLU, karena seluruh penerimaan dan
pembelanjaan masuk APBN/APD, maka rumah sakit
pemerintah tersebut bukan merupakan subyek pajak
sehingga tidak memiliki kewajiban membayar PPh
Badan (pasal 25 dan PPh 29). Namun demikian, rumah
sakit pemerintah memiiliki kewajiban sebagai pemungut
pajak PPh pasal 21, 23, 26, dan pasal 4 ayat (2) berkaitan
dengan aktivitas pembayaran gaji, honor, jasa, sewa,
dan lain-lain kepada karyawan dan pihak ketiga.
Berkaitan dengan transaksi penyerahan obat kepada
pasien, rumah sakit juga berpotensi memiliki kewajiban
memungut PPN (pajak pertambahan nilai) dan
dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak.
Ketentuan khusus bagi organisasi sejenis
Yayasan yang bergerak di bidang rumah sakit berdasar
SE-34/PJ.4/1995) adalah (1) Obyek Pajak, yang
mmenjadi obyek pajak adalah semua penghasilan yang
diterima atau diperoleh sesuai dengan ketentuan dalam
UU No. 17 Tahun 2000, antara lain (a) Penghasilan yang
diterima atau diperoleh dari usaha, pekerjaan, kegiatan,
atau jasa; (b) Bunga deposito, bunga obligasi, diskontto
SBI, dan bunga lainnya; (c) Sewa dan imbalan lain
sehubungan dengan penggunaan harta; (d)
Keuntungan pengalihan harta; dan (e) Pembagian
keuntungan dari kerjasama usaha; dan (2) Jenis-jenis
penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan
dengan usaha/kegiatan yang dilakukan yayasan atau
organisasi sejenis yang bergerak di bidang layanan
rumah sakit meliputi (a) Uang pendaftaran untuk
layanan kesehatan; (b) Sewa kamar/ruangan di rumah
sakit, poliklinik, pusat layanan kesehatan; (c)
Penghasilan dari perawatan kesehatan seperti uang
pemeriksaan dokter, operasi, rontgen, scanning,
pemeriksaan laboratorium, dan lain-lain; (d) Uang
pemeriksaan kesehatan termasuk general check up;
(e) Penghasilan dari penyewaan alat kesehatan; (f)
Penghasilan dari penjualan obat; dan (g) Penghasilan
lainnya sehubungan dengan layanan kesehatan.
Berkaitan dengan transaksi yang berhubungan
dengan PPh 21 di rumah sakit, terdapat ketentuan
khusus bagi rumah sakit, yaitu (1) Tenaga dokter
berdasar status hubungan kerja digolongkan menjadi
(a) Dokter yang menjabat sebagai pimpinan rumah sakit;
(b) Doker sebagai pegawai tetap atau honorer rumah
sakit; (c) Dokter tetap yaitu dokter yang mempunyai
jadwal praktik tetap tetap bukan sebagai pegawai tetap
rumah sakit; (d) Dokter tamu yaitu dokter yang merawat
atau menitipkan pasiennya untuk dirawat di rumah sakit;
dan (e) Dokter yang menyewa ruangan di rumah sakit
untuk praktik; dan (2) Penghasilan dokter dapat
dibedakan menjadi (a) Penghasilan yang bersumber dari
keuangan rumah sakit atau dari imbalan lain yang
diterima oleh para dokter dan (b) Penghasilan yang
berasal dari pasien yang diterima oleh para dokter.
Dalam ketentuan perhitungan pajak
64
JEB, Vol. 1, No. 1, Maret 2007: 59-65
penghasilan, yang dapat dikurangkan dari penghasilan
kena pajak adalah: (a) Biaya-biaya yang berhubungan
langsung dengan usaha, pekerjaan, kegiatan atau
pemberian jasa untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan atau biaya yang berhubungan
langsung dengan operasional penyelenggaraan rumah
sakit; (b) Penyusutan atau amortisasi atas pengeluaran
untuk memperoleh harta yang mempunyai manfaat lebih
dari 1 tahun; dan (c) Subsidi yang diberikan kepada
pasien yang tidak mampu ataupun biaya layanan
kesehatan yang kurang mampu yang dipikul oleh
yayasan atau organisasi yang sejenis yang tidak
bergerak di bidang layanan kesehatan.
Perlakukan pembukuan atas subsidi atau
pembebanan biaya bagi pasien yang tidak mampu
adalah (a) Sejumlah bagian yang benar-benar dibayar
oleh pasien merupakan penghasilan dan biaya yang
boleh dikurangkan dari penghasilan bruto adalah biaya-
biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan tagihan
kepada pasien atau (b) Sejumlah yang seharusnya
diterima atau diperoleh rumah sakit merupakan
penghasilan dan sejumlah subsidi (selisih antara yang
seharusnya diterima rumah sakit dengan yang benar-
benar dibayar oleh pasien) merupakan tambahan biaya.
Apabila yayasan atau organisasi yang sejenis
memberikan subsidi sebagian atau seluruh biaya
layanan kesehatan kepada pasien yang kurang mampu
yang dirawat di rumah sakit di bawah yayasan lain,
maka pengeluaran subsidi dimaksud dapat ditambahkan
sebagai biaya oleh yasayan atau rumah sakit yang
memberikan subsidi tersebut.
Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No.
SE-06/PJ.52/2000 tanggal 2 Maret 2000 telah ditegaskan
bahwa instalasi farmasi (kamar obat) merupakan suatu
tempat untuk mengadakan dan menyimpan obat-
obatan, gas medik, alat kesehatan serta bahan kimia
yang bukan berdiri sendiri tetapi merupakan satuan
organic yang tidak terpisah dari keseluruhan rumah
sakit. Selanjutnya, ditegaskan bahwa penyerahan obat-
obatan yang dilakukan instalasi farmasi (kamar obat)
tidak terutang PPN. Dalam kenyataannya, instalasi
farmasi melayani rumah sakit yang terdiri dari pasien
rawat inap, pasien rawat jalan, dan pasien gawat darurat.
Mengingat instalasi farmasi rumah sakit melakukan
layanan kepada pasien rawat jalan sebagaimana
lazimnya sebuah apotik, maka atas penyerahan obat-
obatan oleh instalasi farmasi kepada pasien rawat jalan
tetap terutang PPN. Menurut PP No. 50 tahun 1994,
pedagang eceran adalah pengusaha yang dalam
lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan
usaha perdagangan dengan cara (a) Tidak bertindak
sebagai penyalur kepada pedagang lain; (b)
Menyerahkan barang kena pajak melalui suatu tempat
penjualan eceran seperti tok, kios, atau dengan cara
penjualan langsung kepada konsumen akhir dari rumah
ke rumah; (c) Menyediakan barang kena pajak yang
diserahkan di tempat penjualan secara eceran; dan (d)
Melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa
didahului penawaran tertulis, penawaran, kontrak atau
lelang, dan umumnya bersifat tunai dan pembeli pada
umumnya datang ke tempat penjualan langsung
membawa sendiri barang kena pajak yang dibelinya.
Dengan demkian, apabila apotik atau instalasi
farmasi di rumah sakit bertindak sebagaimana lazimnya
apotik melakukan penyerahan obat-obatan kepada
pasien rawat jalan, maka rumah sakit yang mempunyai
instalasi farmasi/apotik tersebut merupakan pengusaha
kena pajak pedagang eceran. Selanjutnya, PPN harus
dibayar atas penyerahan obat obatan kepada pasien
rawat jalan oleh instalasi farmasi/apotik adalah sebesar
2% dari jumlah seluruh penyerahan barang dagangan.
Rumah sakit pemerintah sebagai badan hukum dalam
pemberlakuan pajak pertambahan nilai tetap mengacu
pada ketentuan obyek PPN pada barang kena pajak
pada umumnya tanpa melihat klasifikasi organisasi
sebagai BLU. Hal ini dapat ditegaskan bahwa
penyerahan obat-obatan oleh instalasi farmasi kepada
pasien rawat inap tidak dikenakan PPN, namun kepada
pasien selain rawat inap yang dilakukan oleh apotik
maupun instalasi farmasi terutang PPN. Sedangkan PPN
atas jasa pada rumah sakit, menurut pasal 4 ayat 3 UU
PPN jo Pasal 5 PP 144 tahun 2000, jasa layanan
kesehatan medis merupakan jasa yang tidak dikenakan
PPN
SIMPULAN
Rumah sakit yang mengalami perubahan kelembagaan
sebagai BLU apabila dipandang dari aspek pelaporan
keuangan dan teknis pengelolaan keuangan akan
berdampak sangat besar pada perubahan pengelolaan.
Hal ini dsebabkan karena BLU yang cenderung memiliki
persamaan karakteristik dengan perusahaan nirlaba,
serta adanya ketentuan bahwa BLU mengikuti standar
65
ASPEK VALUE ADDED RUMAH SAKIT SEBAGAI BADAN ................... (AM Vianey Norpatiwi)
akuntansi keuangan bukan standar akuntansi
pemerintahan. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa perubahan kelembagaan rumah sakit sebagai
BLU dalam pengelolaah keuangan dan pelaporannya
akan mengacu pada PSAK No. 45 yaitu untuk
perusahaan nirlaba. Konsekuensi yang lain dari
perubahan menjadi BLU adalah rumah sakit harus
melakukan penyesuian dalam penyusunan anggaran,
penetapan tarif, dan lain-lain yang harus berbasis pada
kinerja. Pelaporan harus memiliki akuntabilitas yang
tinggi dengan adanya tuntutan bahwa laporan
keuangan harus diaudit oleh audit independen. Dengan
menjadi BLI diharapkan rumah sakit menjadi suatu
organisasi yang memiliki tata kelola yang transparansi
dan auditable sehingga akan berujung pada
peningkatan kualitas layanan yang memberi kepuasan
kepada pasien.
Tinjauan dari aspek perpajakan, ketentuan
rumah sakit sebagai BLU tidak memiliki perbedaan
dengan perusahaan pada umumnya dalam hal
penetapan pemungutan pajak baik pajak penghasilan
maupun PPN. Namun, untuk ketentuan biaya
pengurangan pajak penghasilan penetapaannya
mengikuti ketentuan pemungutan pajak untuk
organisasi nirlaba. Sedangkan untuk pemungutan PPN,
rumah sakit sebagai BLU tidak memiliki perbedaan
apabila rumah sakit bukan sebagai BLU. Dalam hal
pemungutan PPN hanya dikenakan pada penyerahan
obat dari apotik atau instalasi farmasi rumah sakit
kepada pasien selain pasien rawat inap. Ketentuan tarif
PPN sesuai dengan SE-28/PJ.52/2000 adalah sebesar
2% dari jumlah seluruh penyerahan barang dagangan.
Tinjauan berbagai aspek dalam perubahan bentuk
kelembagaan rumah sakit pemerintah menjadi BLU
diharapkan akan memberi dampak yang positif sehingga
rumah sakit pemerintah bukan menjadi rumah sakit yang
memberi layanan medis yang penuh dengan birokrasi
tetapi menjadi rumah sakit yang memiliki kualitas
layanan yang unggul.
DAFTAR PUSTAKA
Alijoyo, Antonius dan Subarto Zaini. 2004. Komisaris
Independen. Penggerak Praktik GCG di
Perusahaan. Jakarta. PT Gramedia.
Direktur Jenderal Pajak, SE-06/PJ.52.2000. Pajak
Pertambahan Nilai atas Penggantian Obat di
Rumah Sakit.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi
Keuangan. Jakarta. Penerbit Salemba Empat.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. PSAK no 45:
Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba.
Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat.
Kepmendagri No.29 tahun 2002 dan Draft Perubahan
Kempendagri No.903 tahun 2005 tentang
Pedoman Umum Penyusunan APBD.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 23 tahun
2005 tentang Badan Layanan Umum.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No:24 tahun
2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.
Undang-undang no.32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.
Undang-undang no.33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Undang-undang no. 25 tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional.
INDEKS PENULIS DAN ARTIKEL
JURNAL EKONOMI & BISNIS (JEB)
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Harjanti, Theresia Tri dan Eduardus Tandelilin, pp. 1-10, Pengaruh Firm Size, Tangible Assets, Growth
Opportunity, Profitability, dan Business Risk pada Struktur Modal Perusahaan Manufaktur di Indonesia:
Studi Kasus di BEJ.
Dewi, Kurnia, pp. 11-24, Pengaruh Pengetahuan tentang Taktik Pemasang Iklan, Penghargaan Diri,
Kerentanan Konsumen, dan Pengetahuan Produk Konsumen pada Skeptisme Remaja terhadap Iklan
Televisi.
Khasanah, Mufidhatul, pp. 25-34, Analisis Nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) pada Investasi
di Kabupaten Sleman, Tahun 2000-2004.
Yusuf, Muhammad, pp. 35-52, Metodologi Event Study: Telaah Metodologi di Bidang Ekonomi dan
Keuangan.
Kusumawati, Rini, pp. 53-62, Analisis Pengaruh Image, Kualitas yang Dipersepsikan, Harapan Nasabah
pada Kepuasan Nasabah dan Pengaruh Kepuasan Nasabah pada Loyalitas Nasabah dan Perilaku Beralih
Merek
Norpratiwi, AM Vianey, pp. 63-70, Aspek Value Added Rumah Sakit sebagai Badan Layanan Umum.
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
PEDOMAN PENULISAN
JURNAL EKONOMI & BISNIS (JEB)
Ketentuan Umum
1. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris sesuai dengan format yang ditentukan.
2. Penulis mengirim tiga eksemplar naskah dan satu compact disk (CD) yang berisikan naskah tersebut
kepada redaksi. Satu eksemplar dilengkapi dengan nama dan alamat sedang dua lainnya tanpa nama
dan alamat yang akan dikirim kepada mitra bestari. Naskah dapat dikirim juga melalui e-mail.
3. Naskah yang dikirim belum pernah diterbitkan di media lain yang dibuktikan dengan pernyataan tertulis
yang ditandatangani oleh semua penulis bahwa naskah tersebut belum pernah dipublikasikan.
Pernyataan tersebut dilampirkan pada naskah.
4. Naskah dan CD dikirim kepada Editorial Secretary
Jurnal Akuntansi & Manajemen (JAM)
Jalan Seturan Yogyakarta 55281
Telpon (0274) 486160, 486321 ext. 1332 l Fax. (0274) 486155
e-mail: rudy@stieykpn.ac.id
Standar Penulisan
1. Naskah diketik menggunakan program Microsoft Word pada ukuran kertas A4 berat 80 gram, jarak 2
spasi, jenis huruf Times New Roman berukuran 12 point, margin kiri 4 cm, serta margin atas, kanan,
dan bawah masing-masing 3 cm.
2. Setiap halaman diberi nomor secara berurutan. Gambar dan tabel dikelompokkan bersama pada
lembar terpisah di bagian akhir naskah.
3. Angka dan huruf pada gambar, tabel, atau histogram menggunakan jenis huruf Times New Roman
berukuran 10 point.
4. Naskah ditulis maksimum sebanyak 15 halaman termasuk gambar dan tabel.
Urutan Penulisan Naskah
1. Naskah hasil penelitian terdiri atas Judul, Nama Penulis, Alamat Penulis, Abstrak, Pendahuluan,
Materi dan Metode, Hasil, Pembahasan, Ucapan Terima Kasih, dan Daftar Pustaka.
2. Naskah kajian pustaka terdiri atas Judul, Nama Penulis, Alamat Penulis, Abstrak, Pendahuluan,
Masalah dan Pembahasan, Ucapan Terima Kasih, dan Daftar Pustaka.
3. Judul ditulis singkat, spesifik, dan informatif yang menggambarkan isi naskah maksimal 15 kata.
Untuk kajian pustaka, di belakang judul harap ditulis Suatu Kajian Pustaka. Judul ditulis dengan huruf
kapital dengan jenis huruf Times New Roman berukuran 14 point, jarak satu spasi, dan terletak di
tengah-tengah tanpa titik.
4. Nama Penulis ditulis lengkap tanpa gelar akademis disertai alamat institusi penulis yang dilengkapi
dengan nomor kode pos, nomor telepon, fax, dan e-mail.
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
5. Abstrak ditulis dalam satu paragraf tidak lebih dari 200 kata menggunakan bahasa Inggris. Abstrak
mengandung uraian secara singkat tentang tujuan, materi, metode, hasil utama, dan simpulan yang
ditulis dalam satu spasi.
6. Kata Kunci (Keywords) ditulis miring, maksimal 5 (lima) kata, satu spasi setelah abstrak.
7. Pendahuluan berisi latar belakang, tujuan, dan pustaka yang mendukung. Dalam mengutip pendapat
orang lain dipakai sistem nama penulis dan tahun. Contoh: Badrudin (2006); Subagyo dkk. (2004).
8. Materi dan Metode ditulis lengkap.
9. Hasil menyajikan uraian hasil penelitian sendiri. Deskripsi hasil penelitian disajikan secara jelas.
10. Pembahasan memuat diskusi hasil penelitian sendiri yang dikaitkan dengan tujuan penelitian (pengujian
hipotesis). Diskusi diakhiri dengan simpulan dan pemberian saran jika dipandang perlu.
11. Pembahasan (review/kajian pustaka) memuat bahasan ringkas mencakup masalah yang dikaji.
12. Ucapan Terima Kasih disampaikan kepada berbagai pihak yang membantu sehingga penelitian dapat
dilangsungkan, misalnya pemberi gagasan dan penyandang dana.
13. Ilustrasi:
a. Judul tabel, grafik, histogram, sketsa, dan gambar (foto) diberi nomor urut. Judul singkat tetapi
jelas beserta satuan-satuan yang dipakai. Judul ilustrasi ditulis dengan jenis huruf Times New
Roman berukuran 10 point, masuk satu tab (5 ketukan) dari pinggir kiri, awal kata
menggunakan huruf kapital, dengan jarak 1 spasi
b. Keterangan tabel ditulis di sebelah kiri bawah menggunakan huruf Times New Roman
berukuran 10 point jarak satu spasi.
c. Penulisan angka desimal dalam tabel untuk bahasa Indonesia dipisahkan dengan koma (,) dan
untuk bahasa Inggris digunakan titik (.).
d. Gambar/Grafik dibuat dalam program Excel.
e. Nama Latin, Yunani, atau Daerah dicetak miring sedang istilah asing diberi tanda petik.
f. Satuan pengukuran menggunakan Sistem Internasional (SI).
14. Daftar Pustaka
a. Hanya memuat referensi yang diacu dalam naskah dan ditulis secara alfabetik berdasarkan huruf
awal dari nama penulis pertama. Jika dalam bentuk buku, dicantumkan nama semua penulis,
tahun, judul buku, edisi, penerbit, dan tempat. Jika dalam bentuk jurnal, dicantumkan nama
penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume, nomor publikasi, dan halaman. Jika mengambil
artikel dalam buku, cantumkan nama penulis, tahun, judul tulisan, editor, judul buku, penerbit,
dan tempat.
b. Diharapkan dirujuk referensi 10 tahun terakhir dengan proporsi pustaka primer (jurnal) minimal
80%.
c. Hendaknya diacu cara penulisan kepustakaan seperti yang dipakai pada JAM/JEB berikut ini:
Jurnal
Yetton, Philip W., Kim D. Johnston, and Jane F. Craig. Summer 1994. Computer-Aided Architects: A Case
Study of IT and Strategic Change.Sloan Management Review: 57-67.
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS
Buku
Paliwoda, Stan. 2004. The Essence of International Marketing. UK: Prentice-Hall, Ince.
Prosiding
Pujaningsih, R.I., Sutrisno, C.L., dan Sumarsih, S. 2006. Kajian kualitas produk kakao yang diamoniasi
dengan aras urea yang berbeda. Di dalam: Pengembangan Teknologi Inovatif untuk Mendukung
Pembangunan Peternakan Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional dalam Rangka HUT ke-40 (Lustrum
VIII) Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman; Purwokerto, 11 Pebruari 2006. Fakutas
Peternakan UNSOED, Purwokerto. Halaman 54-60.
Artikel dalam Buku
Leitzmann, C., Ploeger, A.M., and Huth, K. 1979. The Influence of Lignin on Lipid Metabolism of The Rat. In:
G.E. Inglett & S.I.Falkehag. Eds. Dietary Fibers Chemistry and Nutrition. Academic Press. INC., New York.
Skripsi/Tesis/Disertasi
Assih, P. 2004. Pengaruh Kesempatan Investasi terhadap Hubungan antara Faktor Faktor Motivasional dan
Tingkat Manajemen Laba. Disertasi. Sekolah Pascasarjana S-3 UGM. Yogyakarta.
Internet
Hargreaves, J. 2005. Manure Gases Can Be Dangerous. Department of Primary Industries and Fisheries,
Queensland Govermment. http://www.dpi.gld.gov.au/pigs/ 9760.html. Diakses 15 September 2005.
Dokumen
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman. 2006. Sleman Dalam Angka Tahun 2005.
Mekanisme Seleksi Naskah
1. Naskah harus mengikuti format/gaya penulisan yang telah ditetapkan.
2. Naskah yang tidak sesuai dengan format akan dikembalikan ke penulis untuk diperbaiki.
3. Naskah yang sesuai dengan format diteruskan ke Editorial Board Members untuk ditelaah diterima
atau ditolak.
4. Naskah yang diterima atau naskah yang formatnya sudah diperbaiki selanjutnya dicarikan penelaah
(MITRA BESTARI) tentang kelayakan terbit.
5. Naskah yang sudah diperiksa (ditelaah oleh MITRA BESTARI) dikembalikan ke Editorial Board Mem-
bers dengan empat kemungkinan (dapat diterima tanpa revisi, dapat diterima dengan revisi kecil
(minor revision), dapat diterima dengan revisi mayor (perlu direview lagi setelah revisi), dan tidak
diterima/ditolak).
6. Apabila ditolak, Editorial Board Members membuat keputusan diterima atau tidak seandainya terjadi
ketidaksesuaian di antara MITRA BESTARI.
7. Keputusan penolakan Editorial Board Members dikirimkan kepada penulis.
8. Naskah yang mengalami perbaikan dikirim kembali ke penulis untuk perbaikan.
9. Naskah yang sudah diperbaiki oleh penulis diserahkan oleh Editorial Board Members ke Managing
Editors.
10. Contoh cetak naskah sebelum terbit dikirimkan ke penulis untuk mendapatkan persetujuan.
11. Naskah siap dicetak dan cetak lepas (off print) dikirim ke penulis.
Vol. 1, No. 1, Maret 2007
Tahun 2007
ISSN: 1978-3116
J U R N A L
EKONOMI & BISNIS