Anda di halaman 1dari 30

Problem Based Learning Imunologi

Modul II Sistem Bioetik


Skenario 2

Kelompok 5
Tutor : DR.dr.Prabowo Soemarto, Sp.PA
Ketua : Sari Azzahro Said (2013730175)
Sekretaris : Sabrina Qurrotaayun (2013730173)
Anggota : Afifah Qonita (2013730123)
Carissa Gayatri Putri (2013730131)
Deni Nelissa (2013730133)
Dinda Meladya (2013730137)
Fikri Akbar Alfarizi (2013730143)
Nabila Nitha Alifia (2013730158)
Putri Noviarin Irhamna (2013730166)
Rifky Fadillah N (2013730171)
Mohamad Himowo K (2010730145)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
JAKARTA 2014


KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena dengan rahmat
dan ridho-Nya sehingga kelompok 5 bisa menyelesaikan laporan PBL kedua untuk modul
HAM pada sistem bioetik.
Dalam penyusunan laporan ini, berdasarkan hasil brainstorming kelompok, dan
mengacu pada buku-buku serta website di internet.Masalah yang menyangkut pada skenario
dua pada modul HAM, kami kemukakan dalam pembahasan laporan yang telah disusun.
Dan tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada Dr. Prabowo sebagai
pembimbing kelompok 5 atas tutorial yang membantu pada saat diskusi kelompok kami,
sehingga dapat terselesaikannya laporan PBL modul HAM ini.
Akhir kata, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dengan suatu
harapan yang tinggi, semoga laporan yang sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi
semuanya.
Wassalam.wr.wb
Jakarta, 30 Juni 2014


Kelompok 5
3

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 3
DAFTAR ISI ............................................................................ Error! Bookmark not defined.
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................................... 4
1.1 LATAR BELAKANG................................................................................................. 4
1.2 TUJUAN ..................................................................................................................... 5
1.3 SASARAN PEMBELAJARAN .................................................................................. 6
BAB 2 PEMBAHASAN ....................................................................................................... 10
2.1 SKENARIO ............................................................................................................... 10
2.2 Kata / Kalimat Sulit ................................................................................................... 10
2.3 KATA / KALIMAT KUNCI..................................................................................... 10
2.4 PERTANYAAN ........................................................................................................ 10
BAB 3 JAWABAN ............................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 30
4

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Jaminan konstitusi terhadap hak atas kesehatan telah ada sejak masa Konstitusi Republik
Indonesia Serikat (RIS) tahun 1949. Dalam Pasal 40 Konstitusi RIS terdapat ketentuan yang
menyatakan, Penguasa senantiasa berusaha dengan sunguh-sungguh memajukan
kebersihan umum dan kesehatan rakyat. Setelah bentuk negara serikat kembali ke bentuk
negara kesatuan dan berlakunya Undang-Undang Dasar Sementara 1950 (UUDS), ketentuan
Pasal 40 Konstitusi RIS di adopsi ke dalam Pasal 42 UUDS.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1948 telah menetapkan Universal
Declaration of Human Rights, yang di dalamnya mengatur hak atas kesehatan. Dalam Pasal
25 dinyatakan:
Setiap orang berhak atas taraf hidup yang menjamin kesehatan dan kesejahteraan untuk
dirinya dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan
Sejalan dengan itu, Konstitusi World Health Organization (WHO) 1948 telah
menegaskan pula bahwa memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya adalah suatu
hak asasi bagi setiap orang (the enjoyment of the highest attainable standard of health is one
of the fundamental rights of every human being). Istilah yang digunakan bukan human
rights, tetapi fundamental rights, yang kalau kita terjemahkan langsung ke Bahasa
Indonesia menjadi Hak hak Dasar.
Gagasan hak atas kesehatan sebagai hak asasi manusia terus berkembang baik dalam
hukum nasional maupun hukum intenasional.Dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor 23 tahun
1992 Tentang Kesehatan dinyatakan, Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh derajat kesehatan yang optimal.Sementara itu dalam Hukum Internasional
telah dikembangkan berbagai instrumen hak asasi manusia, antara lain Kovenan Internasional
tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic, Social
and Cultural Rights) yang ditetapkan pada tahun 1966. Dalam Pasal 12 ayat (1) Kovenan
tersebut dinyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menikmati standar tertinggi
yang dapat dicapai atas kesehatan fisik dan mental.
1

Akhirnya pada tahun 2000, melalui Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945,
kesehatan ditegaskan sebagai bagian dari hak asasi manusia. Dalam Pasal 28H ayat (1)
dinyatakan, bahwa:

1
Kovenan tersebut telah diratifikasi dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005.
5

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapat
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Masuknya ketentuan tersebut ke dalam Undang-Undang Dasar 1945, menggambarkan
perubahan paradigma yang luar biasa. Kesehatan dipandang tidak lagi sekedar urusan pribadi
yang terkait dengan nasib atau karunia Tuhan yang tidak ada hubungannya dengan tanggung
jawab negara, melainkan suatu hak hukum (legal rights).
Memuat ketentuan jaminan hak asasi manusia, termasuk hak atas kesehatan, ke dalam
Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sebuah komitmen politik Negara, hal ini mungkin telah
menyelesaikan berbagai tuntutan politik dan harapan rakyat, tetapi dari perspektif hukum
tata negara, hal tersebut masih mengandung persoalan. Persoalan utama terkait dengan
beragamnya batasan atau definisi hak atas kesehatan, padahal batasan tersebut sangat penting
bagi kepastian hukum. Tanpa batasan yang jelas, akan sulit menentukan ruang lingkup
tanggung jawab negara sebagaimana yang ditegaskan dalam UUD 1945.

1.2 TUJUAN
Tujuan Intruksional Umum (TUI)
Agar mahasiswa setelah menyelesaikan modul ini lebih berperilaku professional dalam
praktik kedokteran serta mendukung kebijakan kesehatan sesuai Area Etika,Moral,
Medikolegal dan profesionalisme serta keselamatan pasien.

Tujuan Intruksional Khusus(TIK)
Setelah mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan dapat memintegrasikan pelajaran
Bioetik, Medikolegal dan HAM , dan mahasiswa diharapkan mampu :
a. Menunjukan sikap profesional
b. Berperilaku profesional dalam bekerja
c. Berperan sebagai anggota tim pelayanan kesehatan yang profesional
d. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia
e. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya, sejawat , masyarakat, dan
dengan anggota profesi lainnya.
f. Menjelaskan aspek medikolegal dalam praktik kedokteran
g. Menjelaskan aspek keselamatan pasien dalam praktek kedokteran dan Hak Asasi
Manusia






6


1.3 SASARAN PEMBELAJARAN

1.3.1 Menunjukan sikap profesional
Diharapkan mampu :
1.3.1.1 Menunjukan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Dokter Indonesia.
1.3.1.2 Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien
1.3.1.3 Menunjukan kepercayaan dan saling menghormati dalam hubungan dokter pasien
1.3.1.4 Menunjukan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh
1.3.1.5 Mempertimbangkan masalah pembiayaan dan hambatan lain dalam memberikan
pelayanan kesehatan serta dampaknya
1.3.1.6 Mempertimbangkan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai standart profesi
1.3.1.7 Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit
1.3.1.8 Menganalisis secara sistemik dan mempertahankan pilihan etik dalam pengobatan
setiap individu pasien.

1.3.2 Berperilaku profesional dalam bekerjasama
1.3.2.1 menghormati setiap orang tanpa membedakan status sosial
1.3.2.2 menunjukkan pengakuan bahwa tiap individu mempunyai kontribusi dan peran yang
berharga tanpa memandang status sosial.
1.3.2.3 Berperan serta dalam kegiatan yang memerlukan kerjasama dengan para petugas
kesehatan lainnya.
1.3.2.4 Mengenali dan berusaha menjadi penengah kektika terjadi konflik
1.3.2.5 Memberikan tanggapan secara konstruktif terhadap masukan dari orang lain.
1.3.2.6 Mempertimbangkan aspek etis dan moral dalam berhubungan dengan petugas
kesehatan lain, serta bertindak secara professional
1.3.2.7 Mengenali dan bertindak sewajarnya saat kolega melakukan suatu tindakan yang tidak
profesional

1.3.3 Berperan sebagai anggota tim pelayanan kesehatan yang profesional
1.3.3.1 berperan dalam pengelolaaan masalah pasien dan menerapkan nilai-nilai
profesionalisme
1.3.3.2 bekerja dalam berbagai tim pelayanan kesehatan secara efektif
1.3.3.3 menghargai peran dan berpendapat berbagai profesi kesehatan
1.3.3.4 berperan sebagai manager baik dalam praktik pribadi maupun dalam sistem pelayanan
kesehatan
1.3.3.5 menyadari profesi medis yang mempunyai peran di masyarakat dan dapat melakukan
suatu perubahan
1.3.3.6 mampu mengatasi perilaku yang tidak profesional dari anggota tim pelayanan
kesehatan lain.

1.3.4 Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia
1.3.4.1 menghargai perbedaan karakter individu, gaya hidup, dan budaya dari pasien dan
sejawat
1.3.4.2 memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia, gender, orientasi
seksual, etnis, kecatatan dan status sosial ekonomi.
7


1.3.5 Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya, sejawat, masyarakat
dan dengan anggota profesi lain
1.3.5.1 Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya
1.3.5.1.A. Bersambung rasa dengan pasien dan keluarganya
1.3.5.1.A.a Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien
1.3.5.1.A.b Menunjukan sikap empati dan dapat dipercaya
1.3.5.1.A.c Menyimpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran, maupun harapannya
1.3.5.1.A.d Memelihara dan menjaga harga diri pasien, hal-hal yang bersifat pribadi, dan
kerahasiaan pasien sepanjang waktu
1.3.5.1.A.e Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya
dalam memutuskan suatu terapi dan tindakan
1.3.5.1.B Mengumpulkan Informasi
1.3.5.1.B.a Meminta penjelasan pada pasien pada pernyataan yang kurang dimengerti
1.3.5.1.B.b Tidak memperikan nasehat maupun penjelasan yang prematur saat masih
mengumpulkan data
1.3.5.1.C Memahami Perspektif Pasien
1.3.5.1.C.a Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut
penyakitnya.
1.3.5.1.C.b Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien, kekhawatirannya dan
harapannya.
1.3.5.1.C.c Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan emosi
pasien(marah,takut,malu, sedih, bingung, eforia, maupun dengan hambatan
komunikasi misalnya bisu-tuli, gangguan psikis)
1.3.5.1.C.d Memperhatikan faktor bio-psiko-sosialbudaya dan norma-norma setempat
untuk menetapkan dan mempertahankan terapi paripurna dan hubungan dokter
pasien yang profesional
1.3.5.1.C.e Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh pasien(termasuk
bahasa daerah setempat) sesuai dengan umur,tingkatan pendidikan ketika
menyampaikan hasil diagnosis, pilihan penanganan serta prognosis.
1.3.5.1.D Memberi Penjelasan dan Informasi
1.3.5.1.D.a Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stres
sebelum melakukan pemeriksaan fisik
1.3.5.1.D.b Memberi tahu adanya sakit atau tidak nyaman yang mungkin timbul selama
pemeriksaan fisik atau tindakannya
8

1.3.5.1.D.c Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap dan jujur tentang tujuan,
keperluan, manfaat, risiko prosedur diagnostik, dan tindakan
medis(terapi,operasi, prognosis, rujukan) sebelum dikerjakan
1.3.5.1.D.d Menjawab pertanyaan dengan jujur , memberi konsultasi, atau menganjurkan
rujukan untuk permasalahan yang sulit
1.3.5.1.D.e Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien maupun
keluarganya
1.3.5.1.D.f Memastikarmasin mengkonfirmasikan bahwa informasi dan pilihan-pilihan
tindakan telah dipahami oleh pasien
1.3.5.1.D.g Memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merenungkan kembali
serta berkonsultasi sebelum persetujuan
1.3.5.1.D.h Menyampaikan berita buruk secara profesional dengan menjunjung tinggi
etika kedokteran
1.3.5.1.D.i memastikan kesnimabungan pelayanan yang telah dibuat dan disepakati

1.3.5.2 Berkomunikasi dengan sejawat,masyarakat dan dengan anggota profesi lain
1.3.5.2.1 Memberi informasi yang tepat kepada teman sejawat tentang kondisi pasien
baik secara lisan, tertulis atau elektronik pada saat yang diperlukan demi
kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran
1.3.5.2.2 Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar, demi
kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran
1.3.5.2.3 Melakukan presentasi laporan kasus secara ekeftif dan jelas demi kepentingan
pasien maupun ilmu kedokteran
1.3.5.2.4 Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat
1.3.5.2.5 Menggali masalah kesehatan menurut persepsi masyarakat
1.3.5.2.6 Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat
memahami kesehatan sebagai kebutuhan
1.3.5.2.7 Memanfaatkan media dan kegiatan kemasyarakatan secara efektif ketika
melakukan promoasi kesehatan
1.3.5.2.8 Mellibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan secara
profesional
1.3.5.2.9 Mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberi waktu cukup kepada
profesi lain untuk menyampaikan pendapatnya
1.3.5.2.10 Memberikan informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi yang sebenarnya
ke perusahaan jasa asuransi kesehatan untuk memproses klaim
9

1.3.5.2.11 Memberikan informasi yang relavan kepadapenegak hukum atau sebagai saksi
ahli di pengadilan(jika diperlukan)

1.3.6 Menjelaskan Aspek medikolegal dalam praktik kedokteran
1.3.6.1 menjelaskan tentang hak asasi manusia
1.3.6.2 menjelaskan aspek medikolegal pemberian resep obat
1.3.6.3 menjelaskan aspek medikolegal penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual
1.3.6.4 menjelaskan tentang Kode Etik Kedokteran Indonesia
1.3.6.5 menjelaskan aspek medikolegal pembuatan surat keterangan sehat, sakit atau surat
kematian
1.3.6.6 menjelaskan proses di pengadilan
1.3.6.7 menjelaskan tentang UU RI No.29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
1.3.6.8 Menjelaskan tentang peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai badan yang
mengatur praktik kedokteran
1.3.6.9 Menetukan , menyatakan dan menganalisis segi etika dalam kebijakan kesehatan

1.3.7 Menjelaskan Aspek keselamatann pasien dalam praktek kedoteran
1.3.7.1 Menerapkan Staandar keselamatan pasien
1.3.7.1.1 Hak pasien
1.3.7.1.2 Mendidik pasien dan keluarga
1.3.7.1.3 Keselamatan` dan kesinambungan pelayanan
1.3.7.1.4 Penggunaan metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien
1.3.7.1.5 Peran kepemimpinan dalam meningkatan keselamatan pasien
1.3.7.1.6 Mendidik staf tentang keselamatan pasien
1.3.7.1.7 Komunikasi yang merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien
1.3.7.2 Menerapkan 7(tujuh) langkah keselamatan pasien :
1.3.7.2.1 Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
1.3.7.2.2 Memimpin dan mendukung staf
1.3.7.2.3 Integrasikan aktifitas pengelolaan risiko
1.3.7.2.4 Kembangkan sistem pelaporan
1.3.7.2.5 Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien
1.3.7.2.6 Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
1.3.7.2.7 Cegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien

10


BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 SKENARIO
Wanita datang ke dokter puskesmas mnegatakan dirinya telah diperkosa dan tidak mau
melapor pada polisi dan hanya meminta pemeriksaan dokter. 3 hari kemudian polisi
datang dan meminta visum pada dokter berdasarkan pemeriksaan yang lalu dokter
memberikan hasil pemeriksaan yang dibutuhkan.
2.2 Kata / Kalimat Sulit
-
2.3 KATA / KALIMAT KUNCI
Wanita diperkosa
Tidak melapor polisi
Meminta pemeriksaan dokter
Tiga hari kemudian polisi meminta visum pada dokter, dan dokter memberikan hasil
pemeriksaannya.

2.4 PERTANYAAN
Menganalisa skenario 2 sesuai daftar tilik etika klinik(Jonsen Siegler and Winslade)!














11

BAB 3 PEMBAHASAN
Medical Indication
No Pertanyaan Etik Analisa Pro Analisa Kontra
1. Apakah masalah medis
pasien?Riwayat?Diagno
sis?dan Prognosis?
Masalah medis : Pasien telah
diperkosa, dokter memberikan hasil
pemeriksaan kepada polisi.
Riwayat : Seorang pasien wanita
diperkosa.
Diagnosis : Adanya trauma pada
tubuh pasien (mulut, anus, badan,
wajah, tungkai), vagina robek.
Prognosis : Pada keadaan seperti ini
pasien dewasa dapat kembali
menjalani kehidupan normal. Akan
tetapi jika pasien mengalami trauma
yang sangat berat, pasien akan
membutuhkan dokter jiwa untuk
masalah depresi, kecemasaan dan
trauma yang dialami.
Masalah medis: dokter memberikan
hasil pemeriksaan kepada polisi
Riwayat: pasien wanita yang telah
diperkosa
Diagnosis: vagina robek
Prognosis: -

2. Apakah masalah
tersebut
akut?Kronik?kritis?Ga
wat Darurat? Dan
masih dapat
disembuhkan?
Masalah pada kasus tersebut tidak
akut, kronik, kritis dan tidak gawat
darurat. Kejadian yang menimpa
pasien (adanya trauma dan vagina
robek) tidak dapat disembuhkan.
Masalah tersebut tidak akut, kronis,
kritis, gawat darurat, dan vagina
yang robek sudah tidak bisa
dikembalikan ke seperti semula.

3. Apakah tujuan akhir
pengobatan ?
Untuk mengetahui apakah adanya
kemungkinan kehamilan, stress
psikologis, trauma, adanya kerusakan
pada alat vital dan penyakit kelamin.

Tujuan akhir pengobatan adalah
untuk mengetahui apakah pasien
terkena penyakit menular seksual
maupun penyakit lainnya,
pemeriksaan kemungkinan
kehamilan, dan rusak/tidaknya alat
vital
4. Berapa besar
kemungkinan berhasil?
Tidak diketahui Tidak diketahui
5. Adakah rencana lain
bila tidak
berhasil?gagal?
Tidak diketahui Tidak diketahui
6. Sebagai tambahan,
bagaimana pasien inu
diuntungkan dengan
perawatan medis, dan
bagaimana kerugian
dari pengobatan?
Pasien tersebut diuntungkan jika
mendapatkan hasil pemeriksaan yang
memuaskan dan akan rugi bila hasil
pemeriksaan milik pasien tersebut
disebar luaskan tanpa izin dari sang
pasien. Pasal : 7a. seorang dokter harus
dalam setiap praktik medisnya
memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis
dan moral sepenuhnya, disertai rasa
kasih sayang dan penghormatan atas
martabat manusia.
Pasien tersebut diuntungkan apabila
mendapatkan hasil pemeriksaan
yang pasien inginkan. Pasien
tersebut juga dirugikan apabila hasil
pemeriksaan milik pasien tersebut di
sebar-luaskan kepada siapa saja
tanpa izin dari pasien tersebut.
Pasal 7c: Seorang dokter harus
menghormati hak-hak pasien, hak-
hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatan lainnya, dan harus
12

Pasal : 7c. seorang dokter harus
menghormati hak-hak pasien, hak-hak
sejawatnya dan hak tenaga kesehatan
lainnya dan harus menjaga kepercayaan
pasien.
Pasal : 12. Setiap dokter wajib
merahasiakan segala sesuatu yang di
ketahuinya tentang seorang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu
meninggal dunia.

menjaga kepercayaan pasien.
Pasal 12: Setiap dokter wajib
merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien
itu meninggal dunia.





Quality of Life
No. Pertanyaan Etik Analisa Pro Analisa Kontra
1. Bagaimana
prospek,dengan atau
tanpa pengobatan untuk
kembali ke kehidupan
normal ?
Pasien dapat kembali ke kehidupan
normal dengan terapi psikologis
dan dukungan rohani serta
konseling yang benar untuk
pengobatan trauma psikologis
pasca terjadinya pemerkosaan dan
kemungkinan terjadinya kehamilan
yang tidak diinginkan
Prospek kedepannya buruk. Karena
pasien pasti sudah tidak
mempercayai dokter tersebut lagi
bahkan dia bisa trauma untuk
berkunjung kedokter. Padahal yang
pasien tersebut harapkan adalah dia
sembuh dari trauma dan berharap
tidak seorang pun tau mengenai
kasus pemerkosaan yang menimpa
dirinya. Hal ini bertentangan dengan
salah satu Lafal Sumpah Dokter
Indonesia berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 26 Tahun 1960,
berbunyi: saya akan merahasiakan
segala sesuatu yang saya ketahui
karena pekerjaan saya dan karena
keilmuan saya sebagai dokter
Apalagi jika pasien tersebut
menderita penyakit infeksi yang bias
tertular melalui hubungan seksual itu
akan memperburuk kondisinya.
2. Apakah gangguan
fisik,mental dan sosial
yang pasien alami bila
pengobatannya berhasil ?
Kemungkinan besar pengobatan
secara psikologis dan dukungan
rohani serta konseling yang baik
akan berhasil karena pasien
memerlukan pemulihan terhadap
trauma psikologis akibat
pemerkosaan.Pasien akan
mengalami depresi apabila kasus
tersebut diketahui oleh masyarakat
Pengobatan tidak akan berhasil
karena pada kasus dijelaskan pasien
hanya meminta pemeriksaan dan
beberapa hari kemudian polisi dating
dan meminta visum pada dokter dan
dokter tersebut pun memberikan
hasil pemeriksaan. Apabila pasien
tau jika dokter tersebut telah
memberikan hasil pemeriksaannya
13

atau lingkungan. kepada polisi, pasien tersebut pasti
akan sangat kecewa dan pengobatan
tidak akan terjadi .
3. Apakah ada prasangka
yang mungkin
menimbulkan kecurigaan
terhadap evaluasi
pemberi pelayanan
terhadap kualitas hidup
pasien ?
Kemungkinan ada prasangka
karena pasien akan mengalami
depresi dalam jangka panjang
apabila mengalami kehamilan yang
tidak diinginkan
Kemungkinan ada karena pasien
akan mengalami depresi
4. Bagaimana kondisi
pasien sekarang atau
masa depan,apakah
kehidupan pasien
selanjutnya dapat dinilai
seperti yang diharapkan ?
Apabila terapi psikologis berhasil
pasien akan menerima kenyataan
dan akan kembali hidup normal
Tidak dapat, karena dokter telah
melanggar kode etik yang mana
tercantum pada pasal 12 dalam
KODEKI : setiap dokter wajib
merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang seorag pasien,
bahkan juga setelah pasien itu
meninggal dunia. Dimana hubungan
dokter dengan pasien adalah bersifat
konfidensial, percaya-mempercayai
dan hormat-menghormati. Pada
kasus ini dapat disimpulkan bahwa
dokter tersebut tidak menghormati
pasien sehingga berpengaruh pada
kehidupan pasien yang mana tidak
sesuai seperti apa yang
diharapkannya.

5. Apakah ada rencana
alasan rasional untuk
pengobatan selanjutnya ?
Apabila terjadi kehamilan maka
harus dilakukan terapi lebih lanjut
sampai pasien dapat menerima
keadaan dan dapat kembali hidup
normal
Tidak ada. Karena dokter telah
melakukan hal yang sangat menentang
kode etik sesuai dengan pasal 12. Maka
dari itu, pasien tidak akan melanjutkan
pengobatan selanjutnya.

6. Apakah ada rencana
untuk kenyamanan dan
perawatan paliatif ?
Terapi psikologis depresi akibat
pemerkosaan dengan memberikan
dukungan rohani dan konseling
serta pemberian kontrasepsi darurat
(kondar)
Tidak ada. Karena dokter tersebut telah
menyalahgunakan kepercayaan pasien
sehingga pasien tersebut pun tidak mau
jika ada rencana kenyamanan dan
perawatan paliatif yang diberikan
dokter kepada dirinya.







14

Patient Preferrences
No Pertanyaan Etik Analisa Pro Analisa Kontra
1. Apakah secara mental
pasien mampu dan
kompeten secara legal?
Apakah ada keadaan yang
menimbulkan
ketidakmampuan?

Secara mental pasien mampu dan
kompeten dalam mengambil
keputusan untuk tidak melapor
kepolisi karena tidak ada keterangan
paksaan dari segimana pun dari segi
keluarga mau pun lingkungan.

Secara mental pasien tidak mampu
dan tidak kompeten secara legal
karena pasien tidak mengambil
keputusan untuk melapor kepolisi.
Disini dokter mempunyai hak
membela diri karena bertujuan untuk
menyelesaikan kasus tersebut kepada
pihak berwajib.

2. Bila berkompeten apa yang
pasien katakana mengenai
pilihan pengobatannya?

Pada pilihan apa yang dikatakan
pasien, pasien hanya meminta
pemeriksaan dokter tapi dokter
memberikan hasilpemeriksaan yang
dibutuhkan tanpa kesepakatan dari
pasien, disini seorang dokter telah
menyalahi aturan seorang dokter pada
pasal 1320 KUH Perdata yang isinya
untuk sahnya suatu perjanjian harus
dipenuhi 4 syarat, yaitu:
a. Adanya kesepakatan dari
kedua belah pihak yang bebas
dari paksaan, kekeliruan, salah
paham dan penipuan.
b. Kedua belah pihak telah cakap
untuk membuat suatu
perjanjian
c. Adanya suatu hal
tertentu/nyata yang
diperjanjikan
d. Perjanjian tersebut mengenai
suatu sebab yang halal, yang
dibenarkan dan tidak dilarang
oleh peratutan perundang
undangan, serta merupakan
suatu sebab yang masuk akal
untuk dipenuhi oleh pihak
pihak yang membuat
perjanjian.
Ditegaskan bahwa suatu pernyataan
persetujuan adalah sah, jika
sebelumnya diberikan informasi yang
cukup terlebih dahulu (voldoende
informative).Jadi perjanjian tidak sah
jika dokter tidak memberikan
informasi sebelumnya, atau informasi
yang diberikan tidak cukup dipahami
oleh pasien.

Dalam kasus ini pasien seharusnya
diberikan informasi yang jelas dan
memberikan persetujuan. Karena hak
seorang pasien yaitu memperoleh
penjelasan tantang diagnosis dan
terapi daridokter yang mengobatinya.

3. Apakah pasien telah
diinformasikan mengnai
Dalam konteks hasil pemeriksaan ini
pasien tidak diberikan atau
Disini pasien hanya meminta hasil
pemeriksaan dari dokter.Seharusnya
15

keuntungan danresikonya,
mengerti atau tidak
terhadap informasi yang
diberikan dan memberikan
persetujuan?

diinformasikan jika hasil pemeriksaan
akan diberitahukan kepada pihak
polisi. Disini tidak ada perjanjian atas
seorang dokter dengan seorang
pasien, disini pasien merasa dirugikan
karena tidak ada kesepakatan antara
kedua belah pihak. Maka disini
seorang dokter melanggar pasal 1320
KUH Perdata.

pasien melaporkan kasus ini kepada
pihak berwajib untuk ditindak lanjuti
dengan hasil visum berdasarkan
pemeriksaan yang lalu.

4 Apakah pasien tersebut
telah menunjukan sesuatu
yang lebih disukainya?

Disini pasien hanya ingin meminta
hasil pemeriksaan dokter tanpa ingin
melapornya kepada pihak berwajib.
Dokter telah memberikan hasil
pemeriksaan kepada polisi tanpa
persetujuan dari pasien dan ini
melanggar hak ikat rahasia yang
disebutkan dalam Permenkes No.
749a/19891 pasal 10 ayat 2 isi rekam
medis merupakan milik pasien

Pasien seharusnya ingin/mampu
untuk bekerja sama dengan
pengobatan yang diberikan. Karena
hak sebagai pasienya itu
memperoleh pengobatan atau terapi
yang diberikan oleh dokter.

5 Apakah pasien tidak
berkeinginan/tidak mampu
untuk bekerjasama
denganpengobatannya
yang diberikan?kalau ya,
kenapa?

Iya pasien tidak berkeinginan karena
disini pasien tidak ingin melapor polisi
dan hanya ingin mendapatkan hasil
pemeriksaan dokter tanpa ingin
melibatkan pihak berwajib.dalam hal
ini seorang dokter melanggar KODEKI
pasal7c : seorang dokter harus
menghormati hak-hak pasien, hak-
hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatanlain, dan harus menjaga
kepercayaan pasien.

-











16

Contextual Features
No. Pertanyaan Etik Analisa Pro Analisa Kontra
2. Apakah ada masalah
sumber data (klinisi dan
perawat) yang mungkin
mempengaruhi
pengambilan keputusan
pengobatan?

Tidak ada masalah sumber data
yang dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan pengobatan
karena dalam skenario dikatakan
bahwa wanita tersebut tidak mau
melapor ke polisi, tetapi 3 hari
kemudian polisi datang dan
meminta data visum dari dokter dan
dokter tersebut memberikan hasil
visumnya kepada polisi. Dengan
begitu data visum nya akan
ditangani oleh pihak yang berwajib
agar dapat dipergunakan dengan
sebaik-baiknya untuk penegakan
hukum dan tidak akan
mempengaruhi keputusan
pengobatan terhadap pasien.

Jelas terjadi masalah, karena pada
skenario wanita tersebut tidak ingin
polisi mengetahui hasil
pemeriksaan tersebut, tetapi dokter
memberikan hasil visum atau hasil
pemeriksaannya kepda polisi
setelah 3 hari dari pemeriksaan, dan
jelas bahwa dokter ituu melanggar
pasal 7b yaitu seorang dokter harus
bersikap jujur dalam berhubungan
dengan pasien dan sejawatnya, dan
berupaya untuk mengingatkan
sejawatnya yang dia ketahui
memiliki kekurangan dalam
karakter atau kompetensi, atau yang
melakukan penipuan atau
penggelapann, dalam menangani
pasien. Dan di dalam pasal 12
dalam kewajiban dokter terhadap
pasien yaitu setiap dokter wajib
merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien
itu meninggal dunia. Jelas tertera
bahwa dokter telah membohongi
pasiennya dan tidak menjaga
kerahasiaan pemerisaan yang telah
diminta oleh pasien karena polisi
yang meminta hasill pemeriksaan
tersebut meminta tanpa izin kaena
tidak ada surat dari pihak yang
berwajib atau dari lembaga yang
berwajib.

4. Apakah ada faktor
religius dan budaya?
Dalam skenario ini ada faktor
religius yaitu dokter tidak mau
berbohong terhadap dirinya sendiri
jadi dokter tersebut memberikan
visum kepada polisi karena dokter
percaya bahwa dalam keagamaan
ahli hukum akan bertindak dengan
sebenarnya kalo tidak ahli hukum
itu yang akan menanggung dosa
karena sudah di beri kepercayaan
dari dokternya. Dan sesuai dengan
Dalam skenario faktor budaya tidak
terkait dlam kasus ini tetapi faktor
religius terdapat dalam skenario
karenadari segi religius dokter
tersebut telah berbohong kepada
pasiennya dalam kode etik
kedokteran terdapat dalam pasal 7b
yang menjelaskan tentang kejujuran
seorangg dokter terhadap
pasiennya. Dalam agama terdapat
jelas bahwa seseorang tidak
berbohong tetapi yang telah
dilakukan oleh dokter terhadap
pasiennya ternyata dokter tersebut
17

pasal 9 ada faktor budaya saling
menghormati yaitu "Setiap dokter
dalam bekerja sama dengan para
pejabat di bidang kesehatan dan
bidang lainnya serta masyarakat,
harus saling menghormati" maka
dalam skenario dokter
menghormati pekerjaan polisi
sebagai penegak hukum dengan
membantunya mencari keadilan
untuk pasien itu sendiri.

berbohong terhadap pasiennya
sendiri dengan cara memberikan
hasil pemmereiksaan yang telah di
lakukan diberikan kepada pihak
kepolisian sedangkan pasien dalam
skenario ini tidka mau polisi
mengetahui kasus ini.

7. Bagaimanakah hukum
mempengaruhi
pengambilan keputusan
pengobatan?
Hukum berpengaruh dalam
pengambilan keputusan
pengobatan. Karena dalam skenario
ini adalah kasus pemerkosaan yang
termasuk tindak kriminal ,makan
pihak berwajib harus turun tangan
dalam menangani pasien tersebut.
Pihak berwajib membutuhkan
visum dari dokter sebagai alat bukti
untuk menegakkan hukum, jika
terbukti itu adalah kasus
pemerkosaan maka dokter bisa
melanjutkan pengobatan baik
secara fisiknya mau pun keadaan
psikologi pasien yang mungkin
mengalami trauma.
Hukum mempengaruhi pengambila
keputusan dengan cara yang salah
karena dalam skenario setelah 3
hari dari pemeriksaan polisi datang
dengan cara yang salah dimana
polisi datang dengan cara tanpa
surat izin dari lembaga kepolisian
polisi tersebut meminta langsung
hasil visum atau hasil pemeriksaan
yang telah di lakukan, jels hal
tersebut melanggar pasal-pasal
yang menjelaskan tentang
kerahasiaan rekam medis.
Seharusnya polisi datang dengan
membawa surat dari lembaga
kepolisian untuk meminta hasil
visum atau pemeriksaan yang telah
dilakukan .
18

9. Apakah ada konflik
kepentingan didalam
bagian pengambilan
keputusan dalam satu
institusi?
Dalam pengambilan keputusan
suatu institusi dalam hal ini
kepolisian, pasti ada faktor
kepentingan. Diantaranya
kepentingan untuk menegakkan
hukum yang berlaku, dalam
skenario ini pihak berwajib
membutuhkan visum untuk
menegakkan hukum dan
membuktikan tindak kejahatan yg
terjadi. Sedangkan dokter juga
mempunyai kepentingan untuk
menjaga rahasia sang pasien, tetapi
dia juga berkewajiban membantu
pihak berwajib untuk menegakkan
kebenaran. Jadi dalam skenario ini
terjadi konflik kepentingan untuk
mengambil keputusan.

konflik kepentingan hanya terjadi
antara dokter dengan pasiennya saja
karena pasien wanita tersebut
datang sendiri tanpa di dampingi
dari pihak yang berwajib dan juga
karena sang pasien meminta kepada
dokter supaya pihak kepolisian
tidak mengetahui hasil pemeriksaan
yang telah di lakukan. Jadi dokter
penting untuk menjaga kerahasiaan
yang telah di dapatkan pada hasil
pemeriksaanya. Jika kerahasiaan
tersebut terbongkar maka sang
dokter telah melanggar kode etik
kedokteran dalam pasal 12 dan
pasal 7b.















Etika Islam
No. Pertanyaan Etik Analisa Pro Analisa Kontra
1. Prinsip Niat/intention
(qa,idat al qasd)
Sesuai dengan pasal 11 yaitu setiap
dokter harus memberikan
kesempatan kepada pasien agar
senantiasa dapat berhubungan
dengan keluarga dan penasihatnya
dalam beribadat dan atau dalam
masalah lainnya. Disini dokter
tersebut berniat baik ingin
meluruskan masalah dari wanita
tersebut dengan cara memberikan
hasil visum tersebut kepada polisi.
Dengan tujuan supaya polisi
tersebut bisa membantu
memecahkan masalah pemerkosaan
wanita itu,
Sesuai dengan pasal 12
setiap dokter wajib
merahasiakan segala
sesuatu yang diketahuinya
tentang seorang
pasien,bahkan juga setelah
pasien itu meninggal dunia,
nah disini harusnya dokter
berniat agar melaksanakan
pasal trsebut,tetapi dokter
dalam skenario ini telah
melanggar pasal itu karena
dokter memberikan hasil
pemeriksaan atau hasil
visum itu kepada polisi
19

sedangkan pasien yang
dokter periksa tidak mau
jika polisi mengetahui
pemeriksaan yang telah
dilakukan.

2. Prinsip
Kepastian/certainty
(qa,idat al yaqeen)
Sesuai dengan Pasal 7 Seorang
dokter hanya memberi surat
keterangan dan pendapat yang telah
diperiksa sendiri kebenarannya.
Jadi dokter harus menggunakan
prinsip kepastian, disini dokter
tersebut memberikan bukti visum
kepada pihak berwajib yang mana
visum tersebut sudah diperiksa
kebenarannya oleh dokter dan siap
untuk dijadikan bukti dalam kasus
tersebut
Seharusnya dokter bisa
memastikan bahwa
kerahasiaan ini dapat
terjaga kerahasiaannya
tetapi di dalam skenario ini
seorang dokter belum bisa
melaksanakan hal tersebut
yang dikarenakan hasil dari
pemeriksaan yang di dapat
di laporkan kepada polisi.
Jadi prinsip kepastian yang
di jalankan oleh seorang
dokter di dalam skenario
tersebut kepastiannya
belum kuat.

3. Prinsip Kerugian/do
harm (qa,idat al
dharat)
Pasien yang mengalami
pemerkosaan adalah pihak yang
dirugikan. Maka sebagai seorang
dokter harus mempertimbangkan
alasan untuk memberikan visum
kepada pihak kepolisian. Dalam
skenario ini dokter sudah bertindak
dengan benar dlm memberikan
visum tersebut karena itu bisa
membantu pasien yang dirugikan
akibat pemerkosaan

Dalam skenario ini sang
pasien pasti merasa di
rugikan karena kerahasiaan
yang harusnya terjaga
ternyata sebaliknya yang
terjadi. Maka sang pasien
merasa di rugikan
dikarenakan kerahasiaan
tersebut telah terungkap
karena dokter yang
memeriksanya memberikan
hasil pemeriksaan tersebut
kepada polisi yang
seharusnya hasil tersebut
pasien tidak mau jika polisi
mengetahui hasil
pemeriksaannya itu.







20

Elemen
Informed
Consent

No. Pertanyaan
Etik
Analisa Pro Analisa
Kontra
1. Threshold
elements / Yang
Memberi
Persetujuan

Dalam melakukan praktek, seorang dokter harus terlebih
dahulu menanyakan persetujuan kepada pasien. Dengan
tujuan supaya pasien lebih mengerti dan memahami apa
yang nantinya akan dilakukan dokter terhadap pasien.
Hal ini juga dapat membantu dokter bila terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan terjadi dalam praktet tersebut.
Dalam kasus ini dokter dari awal sudah meminta
persetujuan dengan pasien serta pasien pun mau untuk
menyetujuinya agar mau dibantu masalahnya.
Hal ini sesuai dengan kodeki pasal 7c & 12, yaitu
setiap dokter harus menghormati hak-hak pasien dan
harus menjaga kepercayaan pasien. dan Setiap dokter
wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
pasien tsb, bahkan sampai pasien tsb meninggal.

(dijelaskan
dihalaman
berikutnya)
2. Information
element / Isi dari
penjelasan
a. Disclosure (pengungkapan penjelasan)
Dokter harus memberikan penjelasan tentang apa yang
nanti akan dilakukannya, bagaimana caranya, &
akibat dari tindakan tsb hingga kedepannya. Hal ini
semata-mata bukan untuk menakut-nakuti,tapi untuk
menegaskan pasien bahwa segala tindakan akan ada
efek samping serta bahaya nya.
b. Understanding (pemahaman)
Dokter harus menjelaskan prosedur-prosedur yang akan
dilakukannya harus dengan bahasa yang dimengerti
pasien dan bukan bahasa medis. Hai ini supaya pasien
paham. Kita harus bertanya juga apakah pasien memang
benar-benar mengerti.
Dalam kasus ini, dokter sudah memberikan penjelasan
tentang apa yang dilakukannya dan memberikan
pemahaman kepada pasien. Kedua elemen ini berkaitan
(dijelaskan
dihalaman
berikutnya)
21

dengan pasal 7b dan UU praktek kedokteran no.29 tahun
2004, yaitu Setiap dokter harus bersikap jujur dalam
berhubungan degan pasien. dan Dokter harus
memberikan informasi yang lengkap dan jujur
dalam menangani pasien.

3. Consents
Elements / Isi
dan
Persetujuan
a. Volunterness (Kesukarelaan)
Pasien dalam menyetujui informed consent harus
semata-mata karena keinginan pasien pribadi, bukan
dari orang lain termasuk dokter.
b. Autorization (persetujuan)
Jika memang pasien sudah benar-benar mengerti dan
paham, maka pasien harus menyetujui. Hal ini bisa
dalam bentuk lisan maupun tertulis. Jadi jika suatu saat
terjadi hal- hal yang tidak dinginkan dan pasien
menuntut, dokter sudah punya surat informed consent
yang berisi tandatangan persetujuan pasien. Hal tsb bisa
menjadi bukti otentik bahwa dokter tidak
bersalah.Kedua elemen ini berkaitan sekali dengan UU
praktek kedokteran no. 29 tahun 2004 pasal 39, pasal
45, & pasal 52 yaitu praktek kedokteran
diselenggarakan atas kesepakatan dokter dan pasien.
dan setiap tindakan harus mendapat persetujuan
pasien, pasien berhak mendapat penjelasan
lengkap tentang tindakan medis, meminta pendapat,
dan menolak tindakan tersebut.

(dijelaskan
dihalaman
berikutnya)






22

Malpraktek
No. Pertanyaan Etik Analisa Pro Analisa
Kontra
1. Duty of care
(kewajiban)

Dokter dalam praktek nya memiliki kewajiban untuk
menolong pasien yang membutuhkan baik darurat
maupun tidak. Dalam kasus ini, dokter sudah
membantu dengan baik pasien tsb. Hal ini sesuai
dengan pasal 7d dan pasal 13, yaitu setiap dokter
wajib melindungi hidup manusia. dan setiap dokter
wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu
tugas kemanusiaan.

(dijelaskan
dihalaman
berikutnya)
2. Deriliction of Duty
(pelanggaran
kewajiban)

Dalam kasus ini dokter tidak melakukan suatu
pelanggaran. Karena dokter memang sudah membantu
pasien tsb. Hal ini sesuai dengan pasal 7d diatas.

(dijelaskan
dihalaman
berikutnya)
3. Damage
(kompensasi
kerugian)
Dalam kasus ini, apa yang dilakukan dokter sama
sekali tidak menyebabkan dampak kerugian untuk
pasien atau orang lain. Hal ini sesuai dengan pasal 8
yaitu dokter harus memperhatikan kepentingan pasien
dan memperhatikan semua aspek kesehatan
menyeluruh baik fisik maupun psikososial.
(dijelaskan
dihalaman
berikutnya)
4. Direct Cause
(Sebab langsung)
Dalam kasus ini, dokter dari awal tidak melakukan
pelanggaran. Jadi dokter tidak menyebabkan pasien
mengalami kerugian secala langsung. Hal ini sesuai
dengan pasal 8 diatas.
(dijelaskan
dihalaman
berikutnya)

Penjelasan bagian Kontra
Tidak setuju dengan tindakan dokter tersebut yang memberikan rekam medis tersebut
kepada kepolisian tanpa ada persetujuan dari pihak pasien. Kenapa?
Berikut alasan yang diperkuat dengan pasal-pasal Hukum:


23

Infromed Consent
Informed consent diteguhkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.
585/Menkes/Per/IX/1989.
Dalam permenkes No. 589 tahun 1989 menjelaskan tentang pengertian
informed consent adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarga atas dasar
penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.
Bentuk informed consent terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Tersirat atau dianggap telah diberikan baik dalam keadaan normal maupun
dalam keadaan darurat
2. Dinyatakan baik secara lisan maupun tulisan

Implied consent bentuk lain adalah bila pasien dalam keadaan gawat darurat
sedangkan dokter memerlukan tindakan segera, sementara pasien dalam keadaan
tidak bisa memberikan persetujuan dan keluarganya pun tidak ada ditempat maka
dokter dapat melakukan tindakan medik terbaik menurut dokter 9Permenkes no 585
Tahun 1989, pasal 11). Jenis persetujuan ini disebut sebagai Presumed consent.
Dalam Permenkes No.585 tahun 1989 tentang Informed Consent, dinyatakan
bahwa dokter harus menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pasien atau
keluarga baik diminta ataupun tidak diminta.
Komponen Informasi Keterangan
What Tindakan apa yang dilakukan
Prosedur apa yang akan dijalani oleh
pasien
Tujuannya apa, apa resikonya, apa
manfaat dari terapinya
Kapan Bergantung pada waktu yang tersedia
setelah dokter memutuskan akan
melakukan tindakan.
24

Siapa Bergantung pada jenis tindakan yang
dilakukan.

Dalam UU tentang persetujuan tindakan kedokteran, informasi atau penjelasan ini
dinyatakan bahwa dalam memberikan penjelasan sekurang-kurangnya mencakup:
a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis
b. Tujuan tindakan medis
c. Alternatif tindakan lain dan risikonya
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan

Persetujuan
Yang berhak memberikan persetujuan adalah pasien yang sudah dewasa (diatas 21
tahun atau sudah menikah) dan dalam keadaan sehat mental.
Berdasarkan pasal 11 bab IV Permenkes No. 585:
Untuk pasien dibawah umur 21 tahun dan pasien dengan gangguan jiwa yang
menandatangani adalah orangtua atau wali atau keluarga terdekat. Untuk pasien
dalam keadaan tidak sadar, atau pingsan serta tidak didampingi oleh keluarga
terdekat dan secara medik berada dalam keadaan gawat darurat yang memerlukan
tindakan medik segera maka tidak memerlukan persetujuan dari siapapun.
Tidak selamanya pasien atau keluarga setuju dengan tindakan medik yang akan
dilakukan dokter. Dalam situasi demikian, kalangan dokter maupun kalangan
kesehatan lainnya harus memahami bahwa pasien atau keluarga mempunyai hak
untuk menolak usul tindakan yang akan dilakukan. Ini disebut Informed refusal.
Tidak ada hal dokter yang dapat memaksa pasien mengikuti anjurannya, walaupun
dokter menganggap penolakan bisa berakibat gawat atau kematian pada pasien.

25

Malpraktek atau Lalai Medik
Setiap profesi pada dasarnya memiliki beranekaragam kewajiban. Salah satu
profesi yang kewajibannya diteguhkan dalam hukum negara adalah Dokter. Dokter
memiliki kewajiban yang diatur sedemikian detail baik dari peraturan pemerintah
berupa undang-undang maupun dari organisasi besar profesi dokter yaitu IDI.
Sejak zaman Hippokrates rahasia pekerjaan dokter menduduki tempat yang
penting dalam hubungan dokter dengan pasien. Apapun yang saya dengar atau lihat
tentang kehidupan seseorang yang tidak patut disebarluaskan, tidak akan saya
ungkapkan karena saya harus merahasiakannya. (Sumpah Hippokrates, butir 9)
Kewajiban sebagai seorang dokter tercantum pada UU No. 29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran Pasal 51, yaitu:
a. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan sop serta
kebutuhan medis pasien.
b. Merujuk pasien ke dokter atau ke dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan
atau pengobatan.
c. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia.
d. Melakukan pertolongan darurat atas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin pada
oranglain yang bertugas dan mampu melakukannya, dan
e. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
atau kedokteran gigi.
Kewajiban dokter terhadap pasien juga tercantum pada salah satu lafal sumpah
dokter indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No 26 tahun 1960, yang berbunyi
saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan
karena keilmuan saya sebagai dokter.
Kewajiban adalah sesuatu yang harus dipenuhi dan apabila dilanggar maka
orang tersebut akan terkena sanksi baik berupa pidana maupun perdata.
26

Seperti kasus yang tertera pada skenario, berarti dokter tersebut telah
melanggar kewajibannya, yaitu tidak menjaga kerahasiaan pasien yang berarti dokter
tersebut melakukan pelanggaran etikolegal. Untuk memahami soal rahasia jabatan
ditilik dari sudut hukum, tingkah laku seorang dokter dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Tingkah laku yang bersangkutan dengan pekerjaan sehari-hari
Dimana dalam hal ini yang diperhatikan adalah:
Pasal 322 KUHP yang berbunyi:
(1) Barang siapa dengan sengaja membuka sesuatu rahasia yang ia wajib
menyimpannya oleh karena jabatan atau pekerjaannya, baik yang
sekarang maupun yang dulu, dihukum dengan hukuman penjara selama-
lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya enam ratus
rupiah. (sesuai dengan keadaan moneter)
(2) Jika kejahatan ini dilakukan terhadap seorang yang tertentu, ia hanya
dituntut atas pengaduan orang itu.
Ayat (2) undang-undang ini terutama berkenaan dengan rahasia jabatan
dokter, saat dokter membuka rahasia tentang keadaan pasiennya, namun
tidak dengan sendirinya akan dituntut di muka pengadilan, melainkan
hanya sesudah terhadapnya diadakan pengaduan oleh pasien itu. Dalam
UU dikenal sebagai delik aduan.
Pasal 1365 KUH Perdata
Barang siapa yang berbuat salah sehingga orang lain menderita kerugian ,
berkewajiban mengganti kerugian itu.
2. Tingkah laku dalam keadaan khusus

Pasal 277 Reglemen Indonesia yang diperbarui (RIB):

(1) Barang siapa yang karena martabatnya, pekerjaannya atau jabatannya
yang sah, diwajibkan menyimpan rahasia, boleh minta mengundurkan diri
dari memberikan penyaksian, akan tetapi hanya dan terutama mengenai
hal yang diketahuinya dan dipercayakan kepadanya karena martabatnya,
pekerjaannya atau jabatannya itu.
27

(2) Pertimbangan, apakah permintaan untuk mengundurkan diri beralasan
atau tidak, diserahkan ke pengadilan negara atau jika yang dipanggil
untuk memberi penyaksian itu orang asing, pertimbangan itu diserahkan
kepada ketua pengadilan negara.
Pasal 48 Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
pada paragraf 4 mengenai Rahasia Kedokteran
Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib
menyimpan rahasia kedokteran. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya
untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur
penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri
atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan
Mal praktik berasal dari kata Yunani, yang berarti buruk. Malpraktik medik dapat
diartikan sebagai kelalaian atau kegagalan seorang dokter untuk mempergunakan
tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam
mengobati pasien atau orang cedera menurut ukuran dilingkungan yang sama.
Walaupun UU No. 6 Tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan sudah dicabut oleh UU
No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, namun perumusan malpraktik atau kelalaian
medik yang tercantum pada Pasal 11b masih dapat dipergunakan, yaitu:
Dengan tidak mengurangi ketentuan didalam KUHP dan peraturan dalam UU lain,
terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan-tindakan administratif dalam
hal sebagai berikut:
(a) Melalaikan kewajiban,
(b) Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang
tenaga kesehatan, baik mengingat sumpah jabatannya, maupun mengingat
sumpah sebagai tenaga kesehatan.

Penanganan dugaan Lalai Medik atau malpraktik tercantum dalam UU RI No.29
tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

28

Penanganan Dugaan Malpraktik



Tips agar terhindar dari tuntutan malpraktik:
(1) Senantiasa berpedoman pada standar pelayanan medik dan SOP
(2) Bekerjalah secara profesional, berlandaskan etik dan moral yang tinggi
(3) Ikutilah peraturan perundangan yang berlaku, terutama tentang kesehatan
dan praktik kedokteran
(4) Jalin komunikasi yang harmonis dengan pasien dan keluarganya dan jangan
enggan berbagi informasi baik tentang diagnosis, pencegahan dan terapi.
Pengaduan
MKDKI
Malpraktik Etik
MKEK
Bebas
Tuntunan lisan,
tertulis
Tindakan
Administratif
Gaji atau pangkat
Cabut SIP
Hukum Kepegawaian
Disiplin Kedokteran
Bebas Hukuman Disiplin
Malpraktik Medik
(Pidana)
Penegak Hukum
Pengadilan
Bebas Pidana
29

(5) Tingkatkan rasa kebersamaan, keakraban dan kekeluargaan sesama sejawat
dan tingkatkan kerjasama tim medik demi kepentingan pasien.
(6) Jangan berhenti belajar, selalu tingkatkan ilmu dan keterampilan dalam
bidang yang ditekuni.

























30

DAFTAR PUSTAKA

IDI.2013.Undang-Undang Pendidikan Dokter.Bandung : Fokus Media.
Hanafiah,Jusuf.2009.Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan.Jakarta;EGC.
Undang-Undang Pendidikan Kedokteran Fokus Media