Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TERNAK
ACARA I
STATUS FAALI









Disusun oleh:
Kelompok XVI
Winda Oryza PT/06481
Amir Latif PT/06534
Ray Rezky PT/06548
Rahmat Noor PT/06563
Nurus Sobah PT/06587
Sarah Silvani PT/06600
Abdul Jafar A. PT/06611

Asisten : Feby Nilasari


LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK
BAGIAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014


TINJAUAN PUSTAKA

Respirasi
Respirasi merupakan proses pengambilan oksigen dan pelepasan
karbondioksida. Kebanyakan hewan memiliki organ respirasi yang khusus
untuk mengambil oksigen. Pergerakan oksigen dari media eksternal ke
dalam sel terjadi secara difusi, dimana difusi adalah perpindahan suatu
substansi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah
(Schmidt Nielsen. 1997). Bersamaan dengan peningkatan suhu
lingkungan, respirasi pada ternak bereaksi melalui panting (terengah-
engah) dan sweating (berkeringat). Evaporasi adalah cara efektif untuk
menghilangkan beban panas tubuh, setiap gram uap air evaporasi dapat
menghilangkan 0,582 kalori panas tubuh pada suhu lebih dari 25
0
C
(Heratri, 2012).

Pulsus
Pulsus merupakan denyut nadi. Pulsus ternak dapat dihitung
dengan menempelkan tangan di bagian pangkal kaki, karena di daerah
tersebut terdapat arteri femuralis. Menghitung denyut nadi yang
merupakan peregangan arteri secara berirama yang disebabkan oleh
kontraksi ventrikel yang sangat kuat (Campbell, 2002). Pulsus pada ternak
besar dapat dirasakan pada arteri caudal di tengah dari permukaan
ventral ekor. Arteri femoralis pada sisi paha medial gampang diraba pada
anjing, kucing, domba dan kambing (Frandson, 1992).

Temperatur Rektal
Temperatur tubuh hewan merupakan hasil keseimbangan antara
produksi panas dan pelepasan panas tubuh. Temperatur tubuh hewan
yang normal besarnya sangat bervariasi. Temperatur tubuh sapi dapat di
ukur dengan cara memasukkan termometer ke dalam rektum. Temperatur
rektal tersebut menggambarkan temperatur tubuh bagian dalam (Soerono,
1995). Temperatur rektal digunakan sebagai ukuran suhu tubuh karena
suhu rektal digunakan sebagai media ukur yang merupakan suhu paling
optimal. Temperatur rektal dipengaruhi oleh temperatur lingkungan,
aktivitas, pakan, minuman, dan pencernaan produksi panas oleh tubuh
secara tidak langsung (Dukes, 1995).


























MATERI DAN METODE

Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah termometer
rektal, stetoskop, counter, arloji, dan probandus (sapi betina, domba
jantan, domba betina, kelinci jantan, kelinci betina, ayam jantan, dan ayam
betina).

Metode
Respirasi. Punggung telapak tangan didekatkan pada hidung
ternak sehingga terasa hembusannya atau dengan mengamati kembang
kempis perut. Dilakukan selama 1 menit, dan diulang sebanyak 3 kali
kemudian hasilnya di rata-rata.
Pulsus. Metode pengukuran pulsus pada sapi dilakukan dengan
meraba bagian pangkal ekor sehingga terasa denyut arteri caudalisnya.
Metode pengukuran pulsus pada domba dengan meraba pangkal paha
sehingga terasa denyut arteri femuralisnya. Metode pengukuran pulsus
pada kelinci dan ayam dengan menempelkan stetoskop pada bagian dada
sehingga terasa detak jantungnya. Masing-masing dilakukan selama 1
menit, dan diulang sebanyak 3 kali kemudian hasilnya dirata-rata.
Temperatur rektal. Skala termometer dinolkan dengan cara di
kibas-kibaskan. Kemudian dimasukkan termometer rektal ke dalam rektum
ternak selama 1 menit dan diulang sebanyak 3 kali, kemudian hasilnya
dirata-rata.







HASIL DAN PEMBAHASAN

Respirasi
Respirasi merupakan proses pertukaran udara antara tubuh
dengan lingkungan yang melibatkan senyawa O
2
dengan CO
2
, yang mana
O
2
masuk ke dalam tubuh dan CO
2
keluar dari dalam tubuh (Campbell,
2002). Praktikum respirasi ini digunakan probandus antar lain sapi,
domba, kelinci, dan ayam. Hasil pengukuran respirasi dapat dilihat pada
tabel 1 sebagai berikut.
Tabel 1. Pengukuran respirasi (kali/ menit)
Probandus
Pengukuran (kali/menit)
I II III Rata-rata
Sapi betina
Domba jantan
Domba betina
Kelinci jantan
Kelinci Betina
Ayam jantan
Ayam betina
42
105
36
241
83
41
29
49
75
39
251
90
52
55
41
80
38
258
95
33
40
44
86,7
37,7
250
89,3
42
41,3
Berdasarkan data yang terdapat dalam tabel diketahui rata-rata
respirasi pada sapi betina adalah 44 kali/menit. Menurut Swenson dan
Reece (1993), rata-rata respirasi sapi berdiri dan istirahat adalah 29
kali/menit sedangkan kisaran respirasinya adalah 26 sampai 35 kali/menit.
Diketahui dari hasil pengamatan bahwa respirasi sapi melebihi kisaran
normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi antara lain aktivitas,
suhu, lingkungan, kondisi fisik, dan ukuran tubuh ternak. Aktivitas sapi
yang berlebihan akan mempengaruhi kerja otot sehingga membutuhkan
O
2
yang lebih banyak dibandingkan dengan sapi yang beristirahat. Suhu
lingkungan yang sangat panas akan mempengaruhi kelenjar keringat sapi
yang akan keluar lebih banyak dibandingkan dengan di daerah yang
dingin. Lingkungan tempat tinggal yang yang tidak terlalu sesuai dengan
lingkungan aslinya menyebabkan sapi harus beradaptasi lagi yang
menyebabkan respirasi sapi meningkat. Kondisi tubuh ternak yang tidak
sehat akan berpengaruh pada respirasinya, karena ternak yang sakit
membutuhkan O
2
yang lebih banyak dibandingkan dengan ternak yang
sehat. Ukuran tubuh ternak yang besar maka membutuhkan O
2
yang lebih
banyak karena darah yang mengalir dalam tubuh ternak harus membawa
O
2
sehingga kisaran respirasinya lebih banyak.
Hasil rata-rata respirasi pada domba jantan dan domba betina
adalah 86,7 dan 37,7 kali/menit. Menurut Swenson dan Reece (1993),
rata-rata respirasi pada saat berdiri dan memamah biak adalah 25
kali/menit, sedangkan kisaran respirasinya adalah 20 sampai 34
kali/menit. Hal ini menunjukkkan respirasi domba jantan dan domba betina
tidak normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu umur, jenis kelamin,
suhu tubuh dan posisi tubuh. Umur domba yang semakin menua akan
mempengaruhi keseimbangan tubuhnya, karena domba yang semakin tua
akan mulai berkurang intensitas respirasi mengingat organ-organ dalam
tubuhnya mulai lemah. Jenis kelamin jantan dan betina juga
mempengaruhi karena organ dalam pada hewan jantan itu lebih
cenderung besar dibandingkan dengan organ dalam pada hewan betina,
sehingga volume respirasinya juga berbeda.
Pengukuran respirasi pada kelinci jantan dan kelinci betina
diketahui rata-rata respirasinya adalah 250 dan 89,3 kali/menit. Menurut
Sirosis (2005), respirasi normal pada kelinci 30 sampai 60 kali/menit.
Rata-rata respirasi kelinci pada praktikum berada diatas kisaran normal.
Faktor yang mempengaruhi yaitu ukuran tubuh, umur, aktivitas,
kegelisahan, suhu lingkungan, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan
hewan. Ukuran tubuh kelinci yang lebih kecil maka volume respirasinya
lebih sedikit karena sesuai kebutuhan tubuhnya. Umur ternak yang
semakin tua mengakibatkan respirasinya semakin meningkat mengingat
kebutuhan akan O
2
yang semakin banyak. Aktivitas kelinci yang
beristirahat maka volume O
2
yang dibutuhkan lebih sedikit karena darah
yang mengalir dalam tubuh kelinci lambat sehingga respirasinya juga
lambat. Kelinci yang sedang mengalami kegelisahan akan berpengaruh
pada volume respirasinya karena secara tidak langsung kelinci akan
banyak melakukan aktivitas yang berlebihan. Suhu lingkungan yang
ekstrim akan menyebabkan intensitas respirasi meningkat karena kelinci
membutuhkan O
2
yang lebih banyak untuk melakukan adaptasi pada
linkungan. Jenis kelamin jantan melakukan respirasi lebih banyak
dibandingkan dengan kelinci betina karena kelinci jantan lebih banyak
melakukan aktivitas. Kelinci yang sedang sakit membutuhkan suplay
darah segar yang lebih banyak sehingga intensitas respirasinya akan
meningkat.
Pengukuran respirasi pada ayam jantan dan ayam betina diperoleh
rata-rata 42 dan 41,3 kali/menit. Menurut Frandson (1992), kisaran
respirasi normal ayam adalah 18 sampai 23 kali/menit. Berdasarkan data
yang diperoleh menunjukkan bahwa respirasi ayam tidak berada dalam
kisaran normal. Faktor yang mempengaruhi antara lain umur ayam, jenis
ayam, aktivitas, temperatur lingkungan, sirkulasi udara, dan keadaan
kandang. Umur ayam yang semakin tua mengakibatkan respirasinya
semakin meningkat mengingat kebutuhan akan O
2
yang semakin banyak.
Jenis ayam sangat bervariasi dari yang ukurannya besar hingga kecil,
karena itu volume respirasinya berbeda-beda. Aktivitas ayam yang
beristirahat maka volume O
2
yang dibutuhkan lebih sedikit karena darah
yang mengalir dalam tubuh kelinci lambat sehingga respirasinya juga
lambat. Suhu lingkungan yang ekstrim akan menyebabkan intensitas
respirasi meningkat karena kelinci membutuhkan O
2
yang lebih banyak
untuk melakukan adaptasi pada lingkungan.
Peningkatan frekuensi respirasi dilakukan untuk mempertahankan
keseimbangan panas tubuh pada keadaan suhu udara dalam kandang
meningkat. Mekanisme dalam mempertahankan suhu tubuhnya agar tidak
naik dengan cara meningkatkan pembuangan panas tubuh melalui
penguapan air respirasi, sehingga frekuensi naik. Suhu rektal, pulsus, dan
frekuensi respirasi mempunyai hubungan yang erat (McDowell et al.,1990)


Pulsus
Pulsus merupakan denyut nadi yang menggambarkan detak
jantung suatu hewan. Pengukuran pulsus pada ternak dilakukan melalui
beberapa cara, tergantung pada besar kecilnya ukuran hewan tersebut.
Probandus yang digunakan dalam pengukuran pulsus antara lain sapi,
domba, kelinci, dan ayam. Hasil pengukuran pulsus untuk masing-masing
probandus dapat dilihat pada tabel:
Tabel 2. Pengukuran pulsus (kali/ menit)
Probandus
Pengukuran (kali/menit)
I II III Rata-rata
Sapi betina
Domba jantan
Domba betina
Kelinci jantan
Kelinci Betina
Ayam jantan
Ayam betina
30
80
67
253
271
269
34
56
90
50
251
227
311
300
45
88
45
258
212
300
310
43,7
86
54
254
236,7
293,3
307
Probandus yang digunakan adalah sapi betina. Pengukuran pulsus
mendapatkan hasil rata-rata 43,7 kali/menit. Menurut Kelly (1990),
frekuensi jantung normal pada sapi dewasa adalah 55 sampai 80
kali/menit. Frekuensi pulsus sapi betina yang sedang bunting dapat
meningkat hingga 15 sampai 40%. Frekuensi pulsus sapi pada saat
praktikum berada dibawah kisaran normal. Faktor yang menentukan
kisaran pulsus adalah pakan, temperatur lingkungan, aktifitas latihan otot,
dan tidur. Ternak yang sedang tidur tubuhnya relatif lebih lemas, sehingga
darah yang dipompa oleh jantung sedikit yang menyebabkan intensitas
pulsusnya menurun.
Pengukuran pulsus pada domba jantan dan domba betina
didapatkan hasil rata-rata sebesar 86 dan 54 kali/menit. Menurut
Oktameina (2011) menunjukkan pulsus domba garut pada pagi hari (73,92
tambah kurang 4,51kali/menit) lebih rendah daripada siang hari (79,92
tambah kurang 5,28 kali/menit) dan sore hari (83,98 tambah kurang 5,98
kali/menit), serta pulsus domba ekor tipis meningkat dari pagi hari sebesar
(88 tambah kurang 7,72 kali/menit), menjadi (89 tambah kurang 5,06
kali/menit) pada siang hari dan (94 tambah kurang 3,86 kali/menit) pada
sore hari. Perbedaan pulsus pagi, siang, dan sore disebabkan oleh
aktivitas yang dilakukan oleh ternak domba tersebut. Kisaran pulsus
domba adalah 60 sampai 120 kali per menit (Frandson, 1992). Frekuensi
rata-rata domba jantan berada pada kisaran normal dan domba betina
kurang dari kisaran normal. Faktor yang mempengaruhi kisaran pulsus
adalah pakan, temperatur lingkungan, aktifitas latihan otot, dan tidur.
Aktivitas latihan otot yang berlebihan menyebabkan domba membutuhkan
suplay darah yang lebih banyak sehingga jantung harus memompa
dengan intensitas tinggi.
Pengamatan pulsus pada kelinci jantan dan kelinci betina adalah
254 dan 236,7 kali/menit. Menurut Frandson (1992), kisaran normal pulsus
kelinci adalah 123 sampai 304 kali/menit. Hal ini menunjukkan bahwa
pulsus kelinci jantan maupun betina adalah normal. Faktor yang
mempengaruhi frekuensi pulsus adalah temperatur lingkungan, ukuran
tubuh, pakan, dan aktifitas latihan otot. Kelinci yang mempunyai ukuran
tubuh besar otomatis detak jantungnya lebih lambat karena peredaran
darahnya luas.
Pengamatan pulsus pada ayam jantan dan ayam betina adalah
293,3 dan 307 kali/menit. Menurut Frandson (1992), kisaran normal pulsus
ayam adalah 180 sampai 450 kali/menit. Pulsus pada ayam jantan dan
ayam betina yang diamati adalah normal. Faktor yang mempengaruhi
adalah temperatur lingkungan, pakan, aktivitas otot, dan tidur. Menurut
Yuwanta (2000), embrio 1 hari sampai 9 hari (230 kali/menit), DOC (300
kali/menit), DOC berjalan (560 kali/menit), breed ringan misalnya White
Leghorn (330 kali/menit), dan breed berat misalnya Rhode Island Red
(250 sampai 300 kali/menit).
Frekuensi pulsus dapat menandai kondisi hewan, apakah hewan
dalam keadaan normal atau sakit. Perubahan frekuensi pulsus yang
terlalu besar pada ternak menandakan bahwa kondisi fisiologis ternak
pada saat itu tidak nyaman. Hewan kecil mempunyai pulsus yang lebih
cepat, hal ini berhubungan dengan kecepatan metabolisme per unit tubuh
pada hewan kecil yang lebih tinggi (Frandson, 1992).
Temperatur Rektal
Temperatur rektal adalah temperatur yang digunakan sebagai
ukuran suhu tubuh karena suhunya paling optimal. Praktikum ini
digunakan probandus antara lain sapi, domba, kelinci, dan ayam. Hasil
respirasi disajikan pada tabel berikut :
Tabel 3. Pengukuran temperatur rektal (kali/ menit)
Probandus
Pengukuran (
o
C)
I II III Rata-rata
Sapi betina
Domba jantan
Domba betina
Kelinci jantan
Kelinci Betina
Ayam jantan
Ayam betina
38
32
36
38
38,6
39
39
38
34
36
38,4
38,1
38
39,5
39
40
36
38,4
38,2
38
39
38,3
35,3
36
38,3
38,3
38,3
39,2
Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan pada sapi betina
diperoleh hasil pengukuran temperatur rektal sebesar 38,3
o
C. Menurut
Dukes (1995), temperatur rektal normal rata-rata sapi adalah 38,6
o
C. Dari
data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa temperatur tubuh sapi
pada praktikum normal. Faktor yang mempengaruhi antara lain temperatur
lingkungan, aktivitas, pakan, dan pencernaan.
Hasil pengukuran temperatur rektal pada domba jantan dan domba
betina adalah 35,3
o
C dan 36
o
C. Menurut Herarti (2012), suhu rektal
domba di daerah tropis adalah 38,2
o
C sampai 40
o
C. Temperatur rektal
domba pada praktikum berada dibawah kisaran normal. Faktor yang
mempengaruhi antara lain umur, jenis kelamin, lingkungan, konsumsi
pakan, minum, dan aktivitas. Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh pada
ternak, hal ini dikarenakan tubuh ternak harus selalu menyesuaikan suhu
tubuhnya dengan lingkungannya agar kondisi tubuh domba tidak
mengalami sakit. Aktivitas domba yang berlebihan mengakibatkan kerja
otot yang berlebih sehingga suhu tubuh domba akan mengalami kenaikan.
Hasil pengukuran temperatur rektal pada ayam jantan dan ayam
betina adalah 38,3
o
C dan 39,2
o
C. Menurut Yuwanta (2000), temperatur
rektal unggas berkisar 40
o
C sampai 41
o
C. Temperatur rektal ayam jantan
maupun betina berada dibawah kisaran normal. Faktor yang
mempengaruhi adalah temperatur lingkungan, aktivitas, pakan, minuman,
dan pencernaan. Produksi panas oleh tubuh secara tidak langsung ter
gantung pada makanan yang diperolehnya dan banyaknya persediaan
makanan dalam saluran pencernaan.
Hasil pengukuran temperatur rektal pada kelinci jantan dan kelinci
betina adalah 38,3
o
C dan 38,3
o
C. Menurut OMalley (2005), kelinci
memiliki temperatur tubuh 38,5C sampai 39,5C. Temperatur rektal pada
kelinci jantan dan betina dalam praktikum ini memiliki kisaran normal.
Faktor yang mempengaruhi adalah aktivitas, umur ternak, waktu
pengukuran, kondisi lingkungan dan fungsi reproduksi pada ternak betina.
Secara fisiologis, suhu tubuh akan meningkat hingga 1,5C pada saat
setelah makan, saat partus, terpapar suhu lingkungan yang tinggi, dan
ketika hewan banyak beraktifitas fisik maupun psikis (Mauladi, 2009).














KESIMPULAN

Bedasarkan pratikum yang dilakukan pada percobaan respirasi,
semua probandus yang digunakan tidak ada yang memiliki kisaran
normal. Untuk percobaan pulsus, pulsus dari hewan percobaan sapi dan
domba tidak berada dalam kisaran normal, sedangkan pada kelinci dan
ayam berada pada kisaran normal. Untuk percobaan temperatur rektal,
temperatur suhu sapi dan kelinci pada kisaran normal, sedangkan pada
domba dan ayam tidak berada dalam kisaran normal. Faktor-faktor yang
mempengaruhi adalah lingkungan, kondisi ternak, aktivitas, dan pakan.





















DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A. 2002. Biologi jilid 2. Erlangga. Jakarta
Dukes, N.H. 1995. Physiology of Domestic Animals. Comstock
Publishing. New York.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi III. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta
Heratri, K. 2012. Evaluasi Morfologi dan Sistem Indeks Serta Respon
Fisiologis Domba Pada Umur Dan Ransum Yang Berbeda. Skripsi
S-1. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Kelly,W.R., 1990. Veterinary Clinical Diagnosis. Second ed. Bailliere
Tindall. London
Mauladi, A.H. 2009. Suhu Tubuh, Frekuensi Jantung Dan Nafas Induk
Sapi Friesian Holstein Bunting yang Divaksin dengan Vaksin Avian
Influenza H5N1. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor. Bogor
McDowell, R. E., R. G. Jones., H. G. Pant,. A. Roy., E. J. Siegenthaler & J.
R. Stouffer. 1990. Improvement of livestock production in worm
climates. W.H. Freeman and Company, San Francisco. p. 3-127.
OMalley B. 2005. Clinical Anatomy and Physiology of Exotic Species.
Elsiver Saunders. New York
Oktameina, W. Y. 2011. Respon Fisiologis Domba Garut Yang Dipelihara
Secara Semi Intensif Dengan Perlakuan Pencukuran Pada Musim
Kemarau. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Bogor
Schimdt Nielsen, K. 1997. Animal Physiology : Adaptation and
Environtment, Fifth Edition. Cambrige Press University. United
Kingdom
Sirois, Margi. 2005. Laboratory Animal Medicine: Principles and
Procedures. Elsevier Mosby. USA
Soerono. 1995. Animal Physiology. 3
rd
edition. Springers Verlay. New
York
Swenson, M.J. and W.O. Reece. 1993. Dukes Physiology of Domestic
Animal Cornell. University Press. Ithaca and London
Yuwanta, T. 2000. Dasar Ternak Unggas. Yogyakarta