Anda di halaman 1dari 18

6

BAB II
PENGGUNAAN KANTONG PLASTIK UNTUK MENCEGAH HIPOTERMI
PADA NEONATUS DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DITINJAU
DARI KEDOKTERAN
2.1 Hipotermi Pada Neonatus
2.1.1 Definisi
Hipotermia adalah suatu keadaan ketika bayi diletakkan di lingkungan
yang lebih dingin dari suhu lingkungan netralnya, dan ketika bayi menggigil
dapat meningkatkan penggunaan oksigen dan penggunaan glukosa untuk proses
fisiologis (Ladewig, 2006).
Hipotermia adalah gangguan medis yang terjadi di dalam tubuh,
sehingga mengakibatkan penurunan suhu karena tubuh tidak mampu
memproduksi panas untuk menggantikan panas tubuh yang hilang dengan cepat.
Kehilangan panas karena pengaruh dari luar seperti air, angin, dan pengaruh dari
dalam seperti kondisi fisik. Suhu normal adalah suhu tubuh yang menjamin
kebutuhan oksigen bayi secara individual (dapat terpenuhi dengan suhu bayi
stabil dengan suhu aksila antara 36,50 C 37,50 C (Lestari, 2010)

2.1.2 Mekanisme terjadinya Hipotermia
7

BBLR dapat mengalami hipotermi melalui beberapa mekanisme, yang
berkaitan dengan kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan antara
produksi panas dan kehilangan panas (Yunanto, Ari. 2008).


Gambar 2.1 Mekanisme Kehilangan panas pada bayi baru lahir
Sumber : WHO, 2013
Menurut Ari Yunanto, BBLR mekanisme terjadinya hipotermi dapat
melalui tiga mekanisme berikut :
1. Penurunan produksi panas
Penurunan produksi panas ini dapat disebabkan oleh keagalan
dalam system endokrin dan terjadi penurunan basal metabolisme
tubuh, sehingga timbul proses penurunan produksi panas, misalnya
pada keadaan disfungsi kelenjar tiroid, adrenal ataupun pituitari.


8

2. Peningkatan panas yang hilang
Terjadi bila panas tubuh berpindah ke lingkungan sekitar, dan
tubuh kehilangan panas. Adaoun mekanisme tubuh kehilangan
panas dapat terjadi secara :
a. Konduksi
Adalah perpindahan panas yang terjadi sebagai akibat
perbedaan suhu antara kedua obyek. Kehilangan panas terjadi
saat terjadi kontak langsung antara kulit BBLR dengan
permukaan yang lebih dingin. Sumber kehilangan panas yang
terjadi pada BBLR yang berada pada permukaan/alas yang
dingin, seperti pada waktu proses penimbangan.
b. Konveksi
Transfer panas terjadi secara sederhana dari selisih suhu anatara
permukaan kulit bayi dan aliran udara yang dingin di
permukaan tubuh bayi BBLR. Sumber kehilangan panas disini
dapat berupa: inkubator dengan jendela yang terbuka, atau pada
waktu proses transportasi BBLR kerumah sakit.
c. Radiasi
Adalah perpindahan suhu dari suatu objek panas ke objek yang
dingin, misalnya dari bayi BBLR dengan suhu yang hangat
dikelilingi suhu lingkungan yang lebih dingin. Sumber
kehilangan panas dapat berupa suhu lingkungan yang dingin
atau suhu inkubator yang dingin.
9

d. Evaporasi
Panas terbuang akibat penguapan, melalui permukaan kulit dan
traktus respiratorius. Sumber kehilangan panas dapat berupa
BBLR yang basah setelah lahir, atau pada waktu dimandikan.
3. Kegagalan termoregulasi
Kegagalan termoregulasi secara umum disebabkan kegagalan
hipotalamus dalam menjalankan fungsinya dkarenakan berbagai
penyebab. Keadaan hipoksia intrauterine/saat persalinan/post
partum, defek neurologik da paparan obat prenatal
(analgesik/anastesi) dapat menekan respon neurologis bayi BBLR
dalam mempertahankan suhu tubuhnya. Bayi sepsis akan
mengalami masalah dalam pengaturan suhu dapat menjadi
hipotermi atau hipertermi.
Banyak faktor dari hipotermi, antara lain bayi baru lahir tidak segera
dikeringkan, terlalu cepat dimandikan, setelah dikeringkan tidak segera
diberi pakaian, tidak segera didekap pada tubuh ibu, bayi baru lahir
dipisahkan dari ibunya, tidak segera disusui ibunya, berat badan bayi baru
lahir rendah, bayi tidak segera dibungkus dan bayi sakit (Departemen
Kesehatan RI, 2008).

2.1.3 Klasifikasi
10

Hipotermia pada BBLR adalah suhu dibawah 36,5 oC, yang terbagi atas
hipotermia ringan (cold stress) yaitu suhu antara 36-36,5
o
C, hipotermia sedang
yaitu suhu antara 32-36
o
C, dan hipotermia berat yaitu suhu tubuh di bawah 32
o
C
Klasifikasi Hipotermia (Indarosi,2001) :
1) Hipotermia ringan, suhu <36,5
o
C
2) Hipotermia sedang, suhu antara 32
o
C-36
o
C
3) Hipotermia berat, suhu kurang dari 32
o
C

Tabel 1. Klasifikasi Hipotermia (Indarso,2001).
Anamnesis Pemeriksaan Klasifikasi
Bayi terpapar suhu
lingkungan yang
rendah
Waktu timbulnya
kurang dari 2 hari
Suhu tubuh 32-
36,4C
Gangguan nafas
Denyut jantung <
100 kali /menit
Malas minum
Letargi
Hipotermi sedang
Bayi terpapar suhu
lingkungan yang
rendah.
Waktu timbulnya
Suhu tubuh < 32C
Tanda hipotermia
sedang
Hipotermi berat
11

kurang dari 2 hari Kulit teraba keras
Nafas pelan dan
dalam
Tidak terpapar dengan
dingin atau panas yang
berlebihan
Suhu tubuh
berfluktuasi 36-39C
meskipun berada di
suhu lingkungan
yang stabil
Fluktuasi terjadi
setelah periode suhu
stabil
Suhu tidak stabil

II.1.1. Patofisiologi
Sewaktu kulit bayi menjadi dingin, saraf afferent menyampaikan pada
sentral pengatur panas di hipothalamus. Ketika mencapai brown fat
memacu pelepasan noreadrenalin lokal sehingga trigliserida menjadi
gliserol dan asam lemak. Blood gliserol level meningkat, tetapi asam lemak
secara lokal dikonsumsi untuk menghasilkan panas, kemudian didistribusi
ke beberapa bagian tubuh melalui aliran darah. Ini menunjukan bahwa bayi
akan memerlukan oksigen tambahan dan glukosa untuk memetabolisme
yang digunakan untuk menjaga tubuh tetap hangat (Indarso,2001)
Termogulasi metabolik yang efektif memerlukan integritas dari sistem
saraf sentral, kecukupan dari brown fat, dan tersedianya glukosa serta
12

oksigen. Perubahan fisiologis akibat hipotermia yang terjadi pada system
saraf pusat antara lain: depresi linier dari metabolisme otak, amnesia,
apatis, disartria, pertimbangan yang terganggu, adaptasi yang salah, EEG
yang abnormal, depresi kesadaran yang agresif, dilatasi pupil, dan
halusinasi. Dalam keadaan berat dapat terjadi kehilangan autoregulasi otak,
aliran darah menurun, koma, reflks okuli yang hilang, penurunan yang
prograsif dari aktivitas EEG. Pada jantung dapat terjadi takikardi,
kemudian bradikardi yang progresif, konstriksi pembuluh darah,
peningkatan cardiac output, dan tekanan darah (Indarso,2001)
Selanjutnya, peningkatan aritmia atrium dan ventrikel, perubahan EKG
dan sistol yang memanjang; penurunan tekanan darah yang progresif,
denyut jantung, dan cardiac output, disritmia, dan asistol. Takipneu,
bronkhorea, bronkhospasma, hipoventialsi, konsumsi oksigen yang
menurun sampai 50%, pada pernafasan dapat terjadi kongesti paru dan
edema, konsumsi oksigen yang menurun sampai 75%, dan apneu. Pada
ginjal dan sistem endokrin dapat terjadi cold diuresis, peningkatan
katekolamin, steroid adrenal, T3 dan T4, serta menggigil. Pada keadaan
berat dapat terjadi oliguri yang berat, poikilotermia, dan penurunan
metabolisme basal sampai 80%. Pada otot saraf dapat terjadi penurunan
tonus otot sebelum menggigil, termogenesis, ataksia, hiporefleksia, dan
rigiditas. Pada keadaan berat dapat terjadi arefleksia perifer (Indarso,2001)
II.1.2. Diagnosis
13

Penegakan diagnosis hipotermia dapat dilakukan dengan mengukur suhu
tubuh. Pada instalasi gawat daryrat, suhu tubuh paling baik diukur dengan
menggunakan temperature suhu rendah yang diletakkan pada rectum
ataupun esofagus. Pada praktek sehari-hari, pengukuran menggunakan
thermometer seringkali tidak mencerminkan suhu inti tubuh. Pada
hipotermia ringan dapat ditemukan pasien berada pada suhu antara 32-
35
o
C. Seringkali pasien menggigil pada keempat ekstremitas. Pada suhu
dibawah 34
o
C, pasien akan mulai mengelama gangguan kesadaran dan
status mental. Pada suhu dibawah 33
o
C akan tampak ataksia dan apatis.
Pasien umumnya memiliki hemodinamik yang stabil dan masih dapat
mengkompensasi gejala yang timbul. Gejala lain pada hipotermia ringan
yang dapat ditemukan dapat berupa hiperventilasi, takipnea dan takikardia
(Li,2014)
Pada hipotermia sedang (28-32
o
C) akan terjadi penurunan konsumsi O
2

yang muncul dengan gejala gangguan sistem saraf pusat. Pasien dengan
suhu kurang dari 32
o
C akan memberikan gejala gangguan kesadaran
berupa stupor. Pada suhu kurang dari 31
o
C tubuh akan kehilangan
kemampuan menjaga suhu dengan menggigil. Pada suhu 28-30
o
C, pupil
akan tampak berdilatasi dengan respons cahaya minimal yang memiliki
kemiripan dengan gejala mati batang otak (Li, 2014).
Ketika memasuki derajat hipotermia berat (<28
o
C), tubuh akan menjadi
rentan mengalami fibrilasi ventrikel dan penurunan fungsi kontraktilitas
miokardium. Pada suhu dibawah 27% mayoritas pasien masuk kepada
14

tahap koma. Edema paru, oliguria, hipotensi, rigiditas, apnea, arefleksia,
serta penurunan aktivitas EEG dapat juga ditemukan (Li,2014)
II.1.3. Komplikasi
II.1.4. Tatalaksana
Berdasarkan klasifikasinya, tatalaksana hipotermi secara rinci dapat
dijelaskan sebagai berikut (Indarso,2001) :
A. Hipotermi berat (Indarso,2001)
1. Segera hangatkan bayi dibawah pemancar panas yang telah
dinyalakan sebelumnya, bila mungkin. Gunakan inkubator atau
ruangan hangat, bila perlu.
2. Ganti baju yang dingin dan basah bila perlu. Beri pakaian yang
hangat, pakai topi dan selimut dengan selimut hangat.
3. Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering diubah.
4. Bila bayi dengan gangguan nafas (frekuensi nafas lebih dari 60 atau
kurang dari30 kali/menit, tarikan dinding dada, merintih saat
ekspirasi ), lakukan manajemen gangguan nafas.
5. Pasang jalur IV dan beri cairan IV sesuai dengan dosis rumatan, dan
infus tetap terpasang dibawah pemancar panas, untuk
menghangatkan cairan
6. Periksa kadar glukosa darah, bila kadar glukosa darah kurang dari 45
mg/dl, tangani hipoglikemi.
15

7. Nilai tanda kegawatan bayi (misalnya gangguan nafas, kejang atau
tidak sadar) setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap 4
jam sampai suhu tubuh kembali dalam batas normal.
8. Ambil sampel darah dan beri antibiotik sesuai dengan yang
disebutkan dalam penanganan kemungkinan besar sepsis.
9. Anjurkan ibu menyusui segera setelah bayi siap :
a. Bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI peras dengan
menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum
b. Bila bayi tidak dapat menyusu sama sekali, pasang pipa
lambung dan beri ASI peras begitu suhu bayi mencapai 35C.
10. Periksa suhu tubuh bayi setiap jam. Bila suhu naik paling tidak
0,5C/jam, berarti upaya menghangatkan berhasil, kemudian
lanjutkan dengan memeriksa suhu bayi setiap 2 jam.
11. Periksa juga suhu alat yang dipakai untuk menghangatkan dan suhu
ruangan setiap jam.
12. Setelah suhu bayi normal :
a. Lakukan perawatan lanjutan untuk bayi
b. Pantau bayi selama 12 jam kemudian dan ukur suhunya setiap
3 jam.
13. Pantau bayi selama 24 jam setelah penghentian antibiotika. Bila suhu
bayi tetap dalam batas normal dan bayi minum dengan baik dan tidak
ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi
16

dapat dipulangkan dan nasehati ibu bagaimana cara menjaga agar
bayi tetap hangat selama di rumah.
B. Hipotermi sedang (Indarso,2001)
1. Ganti pakaian yang dingin atau basah dengan pakaian yang hangat,
memkai topi dan selimuti dengan selimut hangat.
2. Bila ada ibu / pengganti ibu, anjurkan menghangatkan bayi dengan
melakukan kontak kulit dengan kulit atau perawatan bayi lekat
(Kangaroo Mother Care)
3. Bila ibu tidak ada :
a. Hangatkan kembali bayi dengan menggunakan alat pemancar
panas, gunakan inkubator dan ruangan hangat, bila perlu
b. Periksa suhu alat dan suhu ruangan, beri ASI peras dengan
menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum dan
sesuaikan pengatur suhu.
c. Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi lebih
sering diubah.
4. Anjurkan ibu untuk menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat
menyusu, berikan ASI peras menggunakan salah satu alternatif cara
pemberian minum.
5. Mintalah ibu untuk mengamati tanda kegawatan (misalnya gangguan
nafas, kejang, tidak sadar) dan segera mencari pertolongan bila
terjadi hal tersebut.
6. Periksa kadar glukosa darah, bila <45 mg/dl, tangani hipoglikemia.
17

7. Nilai tanda kegawatan, misalnya gangguan nafas, bila ada tangani
gangguan nafasnya
8. Periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik minimal
0,5C/jam, berarti usaha mengahangatkan berhasil, lanjutkan
memeriksa suhu tiap 2 jam.
9. Bila suhu tidak naik, atau naik terlalu pelan, kurang 0,5c/jam, cari
tanda sepsis.
10. Setelah suhu tubuh normal :
a. Lakukan perawatan lanjutan
b. Pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu tiap 3
jam.
11. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan
baik serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di
rumah sakit, bayi dapat dipulangkan. Nasihati ibu cara
menghangatkan bayi di rumah.

II.2. Penggunaan Selimut Plastik Untuk Mencegah Hipotermi Pada Neonatus
Dengan Berat Badan Lahir Rendah
II.2.1. Perkembangan Penggunaan Selimut Plastik Untuk Mencegah
Hipotermi Pada Neonatus Dengan Berat Badan Lahir Rendah
Menurut WHO(2009) ditemukan angka kematian pada neonatus
sebesar 37% diantara kematian balita di negara berkembang 75% angka
kematian neonatal terjadi selama minggu pertama kehidupan, dan terjadi
18

kematian antara 25% sampai 45% dalam 24 jam pertama. Angka
Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator kualitas kesehatan
di suatu negara. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2008-2012, angka kematian bayi di Indonesia masih tergolong
tinggi yaitu 32 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab utama
kematian bayi adalah bayi berat lahir rendah sebanyak 29%
(Depkes,2009).
Hilangnya panas secara evaporasi adalah penyebab utama
kehilangan panas pada bayi baru lahir selama 30 menit pertama setelah
lahir. Insensible water loss dan barier kulit yang imatur berkontribusi
terhadap risiko peningkatan hipotermia pada bayi. Pembungkus
polyethylene atau kantong plastik yang digunakan pada saat lahir di
ruang bersalin mengurangi hipotermia pada bayi berat lahir rendah dan
sangat rendah. Diperkirakan bahwa kantong plastik ini dianggap dapat
mengurangi kehilangan panas evaporasi/konveksi, insensible water loss,
dan kebutuhan untuk metabolisme produksi panas. McCall, dkk dalam
review Cochrane (termasuk 3 studi pembungkus polyethylene digunakan
dalam waktu 10 menit dari kelahiran pada bayi dengan usia kehamilan
ibu 32 minggu), menyimpulkan bahwa penggunaan bahan pembungkus
plastik atau kantong plastik menurunkan hipotermia segera setelah lahir
dan penelitian masa depan disarankan untuk menentukan kelayakan
penggunaannya di negara-negara miskin. The Neonatal Resuscitation
Program merekomendasikan penggunaan kantong plastik sebagai sarana
19

untuk mencegah hipotermia pada bayi yang lahir pada usia gestasi
kurang dari 29 minggu. (Leadford,2013)
Kantong plastik dapat menjadi pilihan yang terjangkau bagi
negara-negara berkembang. Untuk mengetahui perbedaan metode
kantong plastik dalam mencegah hipotermi pada BBLR dibandingkan
dengan metode konvensional. Uji klinik dengan rancangan randomized
clinical trial. Dengan suatu strategi perawatan termoregulasi standar
(kelompok kontrol) dibandingkan dengan strategi termasuk perawatan
termoregulasi standar ditambah penempatan bayi baru lahir dalam
kantong poliethylen (kelompok intervensi) (Leadford,2013)
Analisis data menggunakan uji statistik Chi- square. Metode
kantong plastik bila difokuskan pada suhu lingkungan dapat mencegah
terjadi hipotermi. Peneitian menjunjukan penggunaan selimut plastik
dapat mengurangi hipotermia tanpa menyebabkan hipertermia pada 1 jam
setelah lahir pada bayi prematur dan bayi berat badan lahir rendah. Suhu
lingkungan menyebabkan efek bermakna secara statistik maupun klinik
dalam mencegah hipotermi pada BBLR saat dilahirkan (Leadford,2013)
II.2.2. Cara Penggunaan Selimut Plastik Untuk Mencegah Hipotermi Pada
Neonatus Dengan Berat Badan Lahir Rendah
Bayi tetap di selimut plastik selama setidaknya 1 jam setelah lahir, pada
saat suhu aksila diukur dan telah dipastikan normal. Selimut plastik
dibuka atau dengan kisaran suhu normal (36,5-37,5 C) atau lebih tinggi.
Bayi dengan suhu di bawah kisaran normal tetap di selimut plastik
20

sampai suhu normal diperoleh. Suhu diklasifikasikan berdasarkan WHO:
Normothermia didefinisikan dengan garis sebagai suhu ketiak dari 36,5-
37,5C (97,7-99,5F). Suhu diperoleh dengan termometer digital
ditempatkan di ketiak bayi. Sedangkan hipotermia didefinisikan sebagai
suhu, 36,5C (97,7F) (Leadford,2013)


Gambar 2. Penggunaan selimut plastik
Melalui sebuah penelitian sebanyak 104 bayi secara acak (Gambar 3).
Lebih dari 80% dari semua bayi dalam penelitian ini adalah hipotermia
pada 10 menit setelah lahir. Dari semua bayi 86 (83%) memiliki suhu
36.5
o
C pada 10 menit setelah lahir. Sepuluh bayi di kelompok intervensi,
32 minggu kehamilan (20%) dan 14 bayi dalam kelompok kontrol (29%)
adalah, 32 minggu kehamilan (leadford,2013)
21


Gambar 3. Kurva perbandingan antara kantong plastik dengan kontrol
Dalam penelitian tersebut bayi secara acak dalam kelompok
intervensi menerima perawatan yang sama, kecuali mereka ditempatkan di
dalam selimut plastik seharga tiga puluh ribu rupiah ( selimut low-density
polyethylene linear berukuran 10x8x24 cm dengan ketebalan 1,2 mil)
meliputi ekstremitas atas dan ekstremitas bawah. Bayi diletakkan dalam
selimut plastik setelah dikeringkan dan diletakkan di atas perut ibu,
sementara dilakukan pemotongan tali pusat, kemudian bayi diserahkan
kepada dokter anak atau asisten selambat-lambatnya 10 menit setelah lahir.

II.2.3. Manfaat Penggunaan Selimut Plastik Untuk Mencegah Hipotermi
Pada Neonatus Dengan Berat Badan Lahir Rendah
Hasil utama adalah normotermia pada 1 jam. Suhu
diklasifikasikan per pedoman WHO. Normotermia didefinisikan per
22

pedoman WHO sebagai suhu ketiak dari 36,5-37,5C (97,7-99,5 F).
Suhu diperoleh dengan termometer digital ditempatkan di ketiak bayi.
Hipotermia didefinisikan sebagai suhu, 36,5C (97,7 F). Hipertermia
didefinisikan sebagai suhu lebih dari 38,0C (100,4 F). Suhu diperoleh
dengan termometer digital ditempatkan di ketiak (Leadford,2013)
Dari 49 bayi dalam intervensi (kantong plastik), 29 bayi (59%)
dibandingkan dengan 18 bayi (33%) dari 55 bayi dalam kelompok
kontrol memiliki temperatur dalam kisaran normal pada 1 jam setelah
lahir (risiko relatif 1,81 dengan 95 % confidence interval 1,16-2,81, P=
0,007). Suhu rata-rata pada 1 jam untuk bayi dalam kelompok intervensi
adalah 36,50,5
o
C dibandingkan dengan 36,10.6
o
C bayi dalam
kelompok kontrol (P, 001). Risiko hipotermia memiliki pengurangan
risiko absolut dari 26% ketika kantong plastik. Suhu pada 1 jam
berkorelasi dengan berat lahir, dengan hipotermia menjadi lebih umum
pada bayi-bayi kecil. Lamanya penggunaan kantong plastik pada bayi
hipotermia berkisar 80-120 menit. Tak satu pun dari bayi pada kedua
kelompok memiliki hipertermia. Tak satu pun dari bayi timbul efek
samping kulit yang disebabkan oleh kantong plastic (Leadford,2013)
Penggunaan kantong plastik atau pembungkus polyethilene pada
bayi- bayi dengan berat lahir rendah di ruang bersalin adalah hal yang
umum dilakukan di negara berkembang. Penempatan bayi prematur/berat
lahir rendah dalam kantong plastik saat lahir dibandingkan dengan
perawatan standar termoregulasi mengurangi hipotermia tanpa
23

mengakibatkan hipertermia, dengan biaya terjangkau, merupakan alat
teknologi yang mudah untuk sumber daya yang terbatas.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kantong plastik
atau pembungkus mengurangi hipotermia pada bayi dengan usia
kandungan 29 minggu. Meskipun bayi di bawah 26 minggu dan 1000
gram dimasukkan ke dalam percobaan ini, mereka merupakan bagian
kecil dari bayi yang terdaftar. Bayi yang lebih besar juga memiliki
kesulitan mempertahankan suhu normal di beberapa menit sampai jam
setelah lahir, dan penelitian saat ini menunjukkan bahwa kantong plastik
juga dapat mengurangi hipotermia pada bayi ini. Prevalensi relatif cukup
tinggi pada hipotermia, bahkan bayi yang cukup besar disarankan
didaftarkan pada percobaan saat ini memungkinkan bayi ini mendapat
manfaat dari penempatan dalam kantong plastik segera setelah lahir. The
Neonatal Resuscitation Program merekomendasikan penggunaan
kantong plastik sebagai sarana untuk mencegah hipotermia pada bayi
yang lahir pada usia gestasi kurang dari 29 minggu (Leadford,2013)