Anda di halaman 1dari 13

BATUBARA

Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada


kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah
dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat
pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank)
dan kerumitan struktur yang bervariasi.
Batubara adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk
dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk
melalui proses pembatubaraan. Potensi batubara Indonesia masih
memungkinkan untuk lebih ditingkatkan lagi dengan memberikan prioritas
yang lebih besar pada pengembangan dan pemanfaatannya untuk
meningkatkan peranan batubara.
Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di
cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk
Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batubara
ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batubara berumur Eosen
atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen
atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala
waktu geologi.
Di Indonesia produksi batubara pada tahun 1995 mencapai sebesar
44 juta ton. Sekitar 33 juta ton dieksport dan sisanya sebesar 11 juta ton
untuk konsumsi dalam negeri. Dari jumlah 11 juta ton tersebut 60 % atau
sekitar 6.5 juta ton digunakan untuk pembangkit listrik, 30 % untuk
industri semen dan sisanya digunakan untuk rumah tangga dan industri
kecil.
Materi Pembentuk Batubara
Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. J enis-
jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel
(1981) adalah sebagai berikut:
Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel
tunggal. Hasil endapan batubara dari periode ini sangat sedikit.
Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan
dari alga. Sedikit endapan batubara dari periode ini.
Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama
pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara.
Tumbuh-tumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan
spora dan tumbuh di iklim hangat.
Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga
Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah,
semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. J enis
Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah
penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan
Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. J enis tumbuhan
modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu
bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara
umum, kurang dapat terawetkan.
Potensi batubara di Indonsia masih memungkinkan untuk lebih
ditingkatkan lagi dengan memberikan prioritas yang lebih besar pada
pengembangan dan pemanfaatannya untuk meningkatkan peranan
batubara menjelang tinggal landas pada awal Pelita VI. Salah satu
dukungan yang disarankan adalah pemantapan perencanaan dan
pelaksanaan produksi secara terpadu, sehingga kapasitas produksi selalu
dapat memenuhi peningkatan permintaan batubara baik dari dalam negeri
maupun luar negeri.
Batubara terbentuk dengan cara yang sangat kompleks dan
memerlukan waktu yang lama (puluhan sampai ratusan juta tahun) di
bawah pengaruh fisika, kimia ataupun keadaan geologi. Untuk memahami
bagaimana batubara terbentuk dari tumbuh-tumbuhan perlu diketahui di
mana batubara terbentuk dan factor-faktor yang akan mempengaruhinya,
serta bentuk lapisan batubara.
Pembentukan Batubara
Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan mati dengan komposisi
utama dari cellulose. Proses pembentukan batubara atau coalification
yang dibantu oleh factor fisika, kimia alam akan mengubah cellulosa
menjadi lignit, subbitumine dan antrasite. Gas-gas yang terbentuk selama
proses pembentukan batubara akan masuk ke dalam celah-celah vein
batulempung dan ini sangat berbahaya. Gas metan yang sudah
terakumulasi di dalan celah vein, terlebih-lebih apabila terjadi kenaikan
temperature, karena tidak dapat keluar, sewaktu-waktu dapat meledak
dan terjadi kebakaran. Oleh karena itu, mengatahui bentuk deposit
batubara dapat menentukan cara penambangan yang akan dipilih dan
juga meningkatkan keselamatan kerja.
Tempat Terbentuknya Batubara
Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk
dari sisa tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah
bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan
tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar
fosil. Adapun proses yang mengubah tumbuhan menjadi batubara tadi
disebut dengan pembatubaraan (coalification).
Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan
jaman geologi dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah
dengan lokasi pengendapan (sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan
batuan dan panas bumi serta perubahan geologi yang berlangsung
kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang jenisnya
bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda
sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).
Gambar 1. Proses Terbentuknya Batubara
Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon
(Carboniferous Period) --dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang
berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas
dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta
lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'.
Proses awalnya, endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (peat),
yang selanjutnya berubah menjadi batu bara muda (lignite) atau disebut
pula batu bara coklat (brown coal). Batubara muda adalah batu bara
dengan jenis maturitas organik rendah.
Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus
selama jutaan tahun, maka batu bara muda akan mengalami perubahan
yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah
batubara muda menjadi batu bara sub-bituminus (sub-bituminous).
Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi
lebih keras dan warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus
(bituminous) atau antrasit (anthracite).
Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang
semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit. Dalam
proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan
perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara.
Berikut ini ditunjukkan contoh analisis dari masing --masing unsur yang
terdapat dalam setiap tahapan pembatubaraan.
Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan
jaman geologi dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah
dengan lokasi pengendapan (sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan
batuan dan panas bumi serta perubahan geologi yang berlangsung
kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang jenisnya
bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda
sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).
Gambar 1. Proses Terbentuknya Batubara
Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon
(Carboniferous Period) --dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang
berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas
dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta
lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'.
Proses awalnya, endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (peat),
yang selanjutnya berubah menjadi batu bara muda (lignite) atau disebut
pula batu bara coklat (brown coal). Batubara muda adalah batu bara
dengan jenis maturitas organik rendah.
Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus
selama jutaan tahun, maka batu bara muda akan mengalami perubahan
yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah
batubara muda menjadi batu bara sub-bituminus (sub-bituminous).
Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi
lebih keras dan warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus
(bituminous) atau antrasit (anthracite).
Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang
semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit. Dalam
proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan
perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara.
Berikut ini ditunjukkan contoh analisis dari masing --masing unsur yang
terdapat dalam setiap tahapan pembatubaraan.
Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan
jaman geologi dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah
dengan lokasi pengendapan (sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan
batuan dan panas bumi serta perubahan geologi yang berlangsung
kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang jenisnya
bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda
sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).
Gambar 1. Proses Terbentuknya Batubara
Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon
(Carboniferous Period) --dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang
berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas
dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta
lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'.
Proses awalnya, endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (peat),
yang selanjutnya berubah menjadi batu bara muda (lignite) atau disebut
pula batu bara coklat (brown coal). Batubara muda adalah batu bara
dengan jenis maturitas organik rendah.
Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus
selama jutaan tahun, maka batu bara muda akan mengalami perubahan
yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah
batubara muda menjadi batu bara sub-bituminus (sub-bituminous).
Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi
lebih keras dan warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus
(bituminous) atau antrasit (anthracite).
Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang
semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit. Dalam
proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan
perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara.
Berikut ini ditunjukkan contoh analisis dari masing --masing unsur yang
terdapat dalam setiap tahapan pembatubaraan.
Tabel 1. Contoh Analisis Batubara (daf based)
Dalam pembentukan batubara, semakin tinggi tingkat
pembatubaraan,maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen
dan oksigen akan berkurang. Karena tingkat pembatubaraan secara umum
dapat diasosiasikan dengan mutu atau kualitas batubara, maka batubara
dengan tingkat pembatubaraan rendah disebut pula batubara bermutu
rendah-- seperti lignite dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan
materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah, memiliki tingkat
kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah,
sehingga kandungan energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu
batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya
akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan
berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga
kandungan energinya juga semakin besar.
Untuk menjelaskan tempat terbentuknya batubara, dikenal dua
macam teori yaitu :
a. Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan
batubara, terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu
berada. Dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati,
belum mengetahui proses transportasi segera tertutup oleh lapisan
sedimen dan mengalami proses coalification. J enis batubara yang
terebentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran luas dan merata,
kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relative kecil. Batubara
yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan di lapangan
batubara Muara Enir Sumatera Selatan.
b. Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan
batubara terjadinya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan
Tabel 1. Contoh Analisis Batubara (daf based)
Dalam pembentukan batubara, semakin tinggi tingkat
pembatubaraan,maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen
dan oksigen akan berkurang. Karena tingkat pembatubaraan secara umum
dapat diasosiasikan dengan mutu atau kualitas batubara, maka batubara
dengan tingkat pembatubaraan rendah disebut pula batubara bermutu
rendah-- seperti lignite dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan
materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah, memiliki tingkat
kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah,
sehingga kandungan energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu
batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya
akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan
berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga
kandungan energinya juga semakin besar.
Untuk menjelaskan tempat terbentuknya batubara, dikenal dua
macam teori yaitu :
a. Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan
batubara, terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu
berada. Dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati,
belum mengetahui proses transportasi segera tertutup oleh lapisan
sedimen dan mengalami proses coalification. J enis batubara yang
terebentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran luas dan merata,
kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relative kecil. Batubara
yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan di lapangan
batubara Muara Enir Sumatera Selatan.
b. Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan
batubara terjadinya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan
Tabel 1. Contoh Analisis Batubara (daf based)
Dalam pembentukan batubara, semakin tinggi tingkat
pembatubaraan,maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen
dan oksigen akan berkurang. Karena tingkat pembatubaraan secara umum
dapat diasosiasikan dengan mutu atau kualitas batubara, maka batubara
dengan tingkat pembatubaraan rendah disebut pula batubara bermutu
rendah-- seperti lignite dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan
materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah, memiliki tingkat
kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah,
sehingga kandungan energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu
batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya
akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan
berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga
kandungan energinya juga semakin besar.
Untuk menjelaskan tempat terbentuknya batubara, dikenal dua
macam teori yaitu :
a. Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan
batubara, terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu
berada. Dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati,
belum mengetahui proses transportasi segera tertutup oleh lapisan
sedimen dan mengalami proses coalification. J enis batubara yang
terebentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran luas dan merata,
kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relative kecil. Batubara
yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan di lapangan
batubara Muara Enir Sumatera Selatan.
b. Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan
batubara terjadinya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan
semula hidup dan berkembang. Dengan demikian tumbuhan yang
telah mati di angkut oleh media air dan berakumulasi disuatu tempat,
tertutupoleh batuan sedimen dan mengalami proses coalification. J enis
batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak
luas, tetapi di jumapi dibeberapa tempat, kualitas kurang baik karena
banyak mengandung material pengotor yang terangkut bersama
selama proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat
sedimentasi. Batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia
didapatkan dilapangan batubara delta Mahakam Purba Kalimantan
Timur.
Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Batubara
Cara terbentuknya batubara merupakan proses yang komples,
dalam asti harus dipelajari dari berbagai sudut yang berbeda. Terdapat
serangkaian factor yang diperlukan dalam pembentukan batubara yaitu
a. Posisi Geotektonik
Adalah suatu tempat yang keberadaannya dipengaruhi oleh gaya-
gaya tektonik lempeng. Dalam pembentukan cekungan batubara, posisi
geotektonik merupakan factor yang dominan. Posisi ini akan
mempengaruhi iklim local dan morfologi cekungan pengendapan batubara
maupun kecepatan penurunannya. Pada fase terakhir, posisi geotektonik
mempengaruhi proses metamorfosa organic dan struktur dari lapangan
batubara melalui masa sejarah setelah pengendapan akhir.
b. Topografi (Morfologi)
Morfologi dari cekungan pada saat pembentukan gambut sangat
penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di mana batubara
tersebut terbentuk. Topografi mungkin mempunyai efek yang terbatas
terhadap iklim dan keadaannya bergantung pada posisi geotektonik.
c. Iklim
Kelembaban memegang peranan penting dalam pembentukan
batubara dan merupakan factor pengontrol pertumbuhan flora dan kondisi
yang sesuai. Iklim tergantung pada posisi geografi dan lebih luas lagi
dipengaruhi oleh posisi geotektonik. Temperature yang lembab pada iklim
tropis dan sub tropis pada umumnya sesuai untuk pertumbuhan flora
dibandingkan wilayah yang lebih dingin. Hasil pengkajian menyatakan
bahwa hutan rawa tropis mempunyai siklus pertumbuhan setipa 7 9
tahun dengan ketinggian pohon sekitar 30 meter. Sedangkan pada iklim
yang lebih dingin, ketinggian pohon hanya mencapai 5 6 meter dalam
selang waktu yang sama.
d. Penurunan
Penurunan cekungan batubara dipengaruhi oleh gaya-gaya tekonik.
J ika penurunan dan pengandapan gambut seimbang akan dihasilkan
endapan batubara tebal. Pergantian transgresi dan regresi mempengaruhi
pertumbuhan flora dan pengendapannya. Hal ini menyebabkan adanya
infiltrasi material dan mineral yang mempengaruhi mutu dari batubara
yang terbantuk.
e. Umur Geologi
Proses geologi menentukan berkembangnya evolusi kehidupan
berbagai macam tumbuhan. Dalam masa perkembangan geologi secara
tidak langsung membahas sejaran pengendapan batubara dan
metamorfosa organic. Makin tua umur batuan makin dalam penimbunan
yang terjadi, sehingga terbentuk batubara yang bermutu tinggi. Tetapi
pada batubara yang mempunyai umur geologi lebih tua selalu ada resiko
mengalami deformasi tektonik yang membentuk struktur perlipatan atau
patahan pada lapisan batubara. Disamping itu factor erosi akan merusak
semua bagian dari endapan batubara.
f. Tumbuhan
Flora merupakan unsure utama pembentuk batubara. Pertumbuhan
dari flora terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisografi dengan
iklim dan topografi tertentu. Flora merupakan factor penentu terbentuknya
berbagai tipe batubara. Evolusi dari kehidupan menciptakan kondisi yang
berbeda selama masa sejarah geologi. Mulai dari Paleozoic hingga Devon
pertamakali terbentuk lapisan batubara di daerah lagon yang dangkal.
Periode ini merupakan titik awal dari pertumbuhan flora secara besar-
besaran dalam waktu singkat pada setiap kontinen. Hutan tumbuh dengan
subur selama masa Karbon. Pada masa tersier merupakan perkembangan
yang sangat luas dari berbagai jenis tanaman.
g. Dekomposisi
Dekomposisi flora yang merupakan bagian dari transformasi
biokimia dari organic merupakan titik awal untuk seluruh alterasi. Dalam
pertumbuhan gambut, sisa tumbuhan akan mengalami perubahan, baik
secara fisik maupun kimiawi. Setelah tumbuhan mati, proses degradasi
biokimia lebih berperan. Proses pembusukan akan terjadi oleh kerja
mikrobiologi (bakteri anaerob). Kecepatan pertumbuhan gambut
bergantung pada kecepatan perkembangan tumbuhan dan proses
pembusukan. Bila tumbuhan tertutup oleh air dengan cepat, maka akan
terhindar oleh proses pembusukan, tetapi terjadi proses desintegrasi atau
penguraian oleh mikrobiologi. Bila tumbuhan yang telah mati terlalu lama
berada di udara terbuka, maka kecepatan pembusukan gambut akan
berkurang sehingga hanya bagian keras saja tertinggal yang menyulitkan
penguraian oleh mikribiologi.
h. Sejarah Sesudah Pengendapan
Searah cekungan batubara secara luas bergantung pada posisi
geotektonik yang mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan
batubara. Secara singkat terjadi proses geokimia dan metamorfosa
organic setelah pengendapan gambut. Di samping itu sejarah geologi
endapan batubara bertanggung jawab terhadap terbentuknya struktur
cekungan batubara, berupa perlipatan, persesaran, intrusi magmatic dan
sebagainya.
i. Struktur Cekungan Batubara
Terbentuknya batubara pada cekungan, umumnya mengalami
deformasi oleh gaya tektonik yang menghasilkan lapisan batubara dengan
bentuk-bentuk tertentu. Disamping itu adanya erosi yang intensif
menyebabkan bantuk lapisan batubara tidak menerus.
j. Metamorfosa Organik
Tingkat kedua dalam pembentukan batubara adalah penimbunan
atau pengaburan oleh sedimen baru. Pada tingkat ini proses degradasi
biokimia tidak berperan lagi tetapi lebih didominasi oleh proses
dinamokimia. Proses ini menyebabkan terjadninya perubahan gambut
menjadi batubara dalam berbagai mutu. Selama proses ini terjadi
pengurangan air lembab, oksigen dan zat terbang serta bertambahnya
prosentas karbon pada, belerang dan kandungan abu. Tekanan dapat
disebabkan oleh lapisan sedimen penutup yang sangat tebal atau karena
tektonik. Hal ini menyebabkan bertambahnya tekanan dan percepatan
proses metamorfosa organic. Proses ini akan dapat mengubah gambut
menjadi batubara sesuai dengan perubahan sifat kimia, fisik, dan
optiknya.
Terbentuknya Lapisan Batubara Tebal
Lapisan batubara tebal merupakan deposit batubara yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi. Salam satu syarat yang dapat
membentuk lapisan batubara tebal adalah apabila terdapat suatu
cekungan yang oleh karena adanya beban pengendapan bahan-bahan
pembentuk batubara di atasnya mengakibatkan dasar cekungan tersebut
turun secara perlahan-lahan.
Cekungan ini umumnya terdapat didaerah rawa-rawa (hutan
bahaku) di tepai pantai. Dasar cekungan yang turun secara perlahan-
lahan dengan pembentukan batubara memungkinkan permukaan air laut
akan tetap dan kondisi rawa stabil. Apabila karena proses geologi dasar
cekungan turun secara cepat, maka air laut akan masuk ke dalam
cekungan sehingga mengubah kondisi rawa menjadi kondisi laut.
Akibatnya di atas lapisan pembentuk batubara akan terendapkan
lapisan sedimen laut antara lain batugamping. Pada tahap selanjutnya
akan terjadi kembali pengendapan batulempung yang memungkinkan
untuk kembali terbentuk kondisi rawa. Proses selanjutnya akan terkumpul
dan terendapkan bahan-bahan pembentuk batubara (sisa tumbuhan) di
atas lapisan batulempung. Demikian seterusnya sehingga terbentuk
lapisan batubara dengan diselingi oleh lapisan antara yang berupa
batugamping dan batulempung. Tidak jarang dijumpau lapisan batubara
sering terbentuk lapisan antara yang berupa batulempung yang disebut
sebagai clay band atau clay parting.
Bentuk Lapisan Batubara
Bentuk cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan
sesudah proses pembentukan batubara akan menentukan bentuk lapisan
batubara. Mengetahui bentuk lapisan batubara sangat menentukan dalam
menghintung cadangan dan merencanakan cara penambangannya.
Beberapa bentuk lapisan batu baru, yaitu :
a. Bentuk Horse Back
Bentuk ini dicirikan oleh perlapisan batubara dan batuan yang
menutupnya melengkung kea rah atas akibat gaya kompresi.
Ketebalan kea rah lateral lapisan batubara kemungkinan sama ataupun
menjadi lebih kecil atau menipis.
b. Bentuk Pinch
Bentuk ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis dibagian tengah.
Pada umumnya dasar dari lapisan natubara merupakan batuan yang
plastis, misalnya batulempung. Sedang di atas lapisan batubara secara
setempat ditutupi oleh batupasir yang secara lateral merupakan
pengisian suatu alur.
c. Bentuk Clay Vein
Bentuk itu terjadi apabila di antara dua bagian deposit batubara
terdapat urat lempung. Bentukan ini terjadi apabila pada satu seri
deposit batubara mengalami patahan, kemudian pada bidang patahan
yang merupakan rekahan terbuka terisi oleh material lempung ataupun
pasir.
d. Bentuk Burried Hill
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana batubara semula terbentuk
terdapat suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti terintrusi.
e. Bentuk Fault
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara
mengalami beberapa seri patahan. Keadaan ini akan mengacaukan di
dalam perhitungan cadangan, akibat adanya perpindahan perlapisan
akibat pergeseran kea rah vertical. Dalam melakukan eksplorasi
batubara di daerah yang banyak gejala patahan harus dilakukan
dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
f. Bentuk Fold
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara
mengalami perlipatan. Makin intensif gaya yang bekerja pembentuk
perlipatan akan makin komplek. Dalam melakukan eksplorasi batubara
di daerah tersebut juga terjadi patahan harus dilakukan dengan tingkat
ketilitian yang tinggi.
Klasifikasi Dan Kualitas Batubara
Mutu setiap batubara akan ditentukan oleh faktor suhu, tekanan,
serta lama waktu pembentukan. Semua faktor tersebut, kemudian dikenal
dengan istilah maturitas organik. Semakin tinggi maturitas organiknya,
maka semakin bagus mutu batubara yang dihasilkan, begitu juga
sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut, maka kita dapat mengidentifikasikan
batubara menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Batubara dengan mutu rendah.
Batubara pada golongan ini memiliki tingkat kelembaban yang tinggi,
serta kandungan karbon dan energi yang rendah. Biasanya batubara
pada golongan ini memiliki tekstur yang lembut, mudah rapuh, serta
berwarna suram seperti tanah. J enis batubara pada golongan ini
diantaranya lignite (batubara muda) dan sub-bitumen.
2. Batubara dengan mutu tinggi.
Batubara pada golongan ini memiliki tingkat kelembaban yang rendah,
serta kandungan karbon dan energi yang tinggi. Biasanya batubara
pada golongan ini memiliki tekstur yang keras, materi kuat, serta
berwarna hitam cemerlang. J enis batubara pada golongan ini
diantaranya bitumen dan antrasit.
dalam perhitungan cadangan, akibat adanya perpindahan perlapisan
akibat pergeseran kea rah vertical. Dalam melakukan eksplorasi
batubara di daerah yang banyak gejala patahan harus dilakukan
dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
f. Bentuk Fold
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara
mengalami perlipatan. Makin intensif gaya yang bekerja pembentuk
perlipatan akan makin komplek. Dalam melakukan eksplorasi batubara
di daerah tersebut juga terjadi patahan harus dilakukan dengan tingkat
ketilitian yang tinggi.
Klasifikasi Dan Kualitas Batubara
Mutu setiap batubara akan ditentukan oleh faktor suhu, tekanan,
serta lama waktu pembentukan. Semua faktor tersebut, kemudian dikenal
dengan istilah maturitas organik. Semakin tinggi maturitas organiknya,
maka semakin bagus mutu batubara yang dihasilkan, begitu juga
sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut, maka kita dapat mengidentifikasikan
batubara menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Batubara dengan mutu rendah.
Batubara pada golongan ini memiliki tingkat kelembaban yang tinggi,
serta kandungan karbon dan energi yang rendah. Biasanya batubara
pada golongan ini memiliki tekstur yang lembut, mudah rapuh, serta
berwarna suram seperti tanah. J enis batubara pada golongan ini
diantaranya lignite (batubara muda) dan sub-bitumen.
2. Batubara dengan mutu tinggi.
Batubara pada golongan ini memiliki tingkat kelembaban yang rendah,
serta kandungan karbon dan energi yang tinggi. Biasanya batubara
pada golongan ini memiliki tekstur yang keras, materi kuat, serta
berwarna hitam cemerlang. J enis batubara pada golongan ini
diantaranya bitumen dan antrasit.
dalam perhitungan cadangan, akibat adanya perpindahan perlapisan
akibat pergeseran kea rah vertical. Dalam melakukan eksplorasi
batubara di daerah yang banyak gejala patahan harus dilakukan
dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
f. Bentuk Fold
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara
mengalami perlipatan. Makin intensif gaya yang bekerja pembentuk
perlipatan akan makin komplek. Dalam melakukan eksplorasi batubara
di daerah tersebut juga terjadi patahan harus dilakukan dengan tingkat
ketilitian yang tinggi.
Klasifikasi Dan Kualitas Batubara
Mutu setiap batubara akan ditentukan oleh faktor suhu, tekanan,
serta lama waktu pembentukan. Semua faktor tersebut, kemudian dikenal
dengan istilah maturitas organik. Semakin tinggi maturitas organiknya,
maka semakin bagus mutu batubara yang dihasilkan, begitu juga
sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut, maka kita dapat mengidentifikasikan
batubara menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Batubara dengan mutu rendah.
Batubara pada golongan ini memiliki tingkat kelembaban yang tinggi,
serta kandungan karbon dan energi yang rendah. Biasanya batubara
pada golongan ini memiliki tekstur yang lembut, mudah rapuh, serta
berwarna suram seperti tanah. J enis batubara pada golongan ini
diantaranya lignite (batubara muda) dan sub-bitumen.
2. Batubara dengan mutu tinggi.
Batubara pada golongan ini memiliki tingkat kelembaban yang rendah,
serta kandungan karbon dan energi yang tinggi. Biasanya batubara
pada golongan ini memiliki tekstur yang keras, materi kuat, serta
berwarna hitam cemerlang. J enis batubara pada golongan ini
diantaranya bitumen dan antrasit.
Pembahasan masing-masing jenis batubara dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Lignite
Disebut juga batubara muda. Merupakan tingkat terendah dari
batubara, berupa batubara yang sangat lunak dan mengandung air 70%
dari beratnya. Batubara ini berwarna hitam, sangat rapuh dan seringkali
menunjukkan struktur serat kayu. Nilai kalor rendah karena kandungan air
yang sangat banyak (30-75 %), kandungan karbon sangat sedikit (60-
68&), kandungan abu dan sulfur yang banyak (52.5-62.5). Batubara jenis
ini dijual secara eksklusif sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik
tenaga uap (PLTU). Lignite dijumpai pada kondisi yang masih muda,
berkisar Cretaceous sampai Tersier.
2. Sub-Bituminous
Karakteristiknya berada di antara batubara lignite dan bituminous,
terutama digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU. Sub-bituminous
coal mengandung sedikit carbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang tidak efisien
Pembahasan masing-masing jenis batubara dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Lignite
Disebut juga batubara muda. Merupakan tingkat terendah dari
batubara, berupa batubara yang sangat lunak dan mengandung air 70%
dari beratnya. Batubara ini berwarna hitam, sangat rapuh dan seringkali
menunjukkan struktur serat kayu. Nilai kalor rendah karena kandungan air
yang sangat banyak (30-75 %), kandungan karbon sangat sedikit (60-
68&), kandungan abu dan sulfur yang banyak (52.5-62.5). Batubara jenis
ini dijual secara eksklusif sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik
tenaga uap (PLTU). Lignite dijumpai pada kondisi yang masih muda,
berkisar Cretaceous sampai Tersier.
2. Sub-Bituminous
Karakteristiknya berada di antara batubara lignite dan bituminous,
terutama digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU. Sub-bituminous
coal mengandung sedikit carbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang tidak efisien
Pembahasan masing-masing jenis batubara dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Lignite
Disebut juga batubara muda. Merupakan tingkat terendah dari
batubara, berupa batubara yang sangat lunak dan mengandung air 70%
dari beratnya. Batubara ini berwarna hitam, sangat rapuh dan seringkali
menunjukkan struktur serat kayu. Nilai kalor rendah karena kandungan air
yang sangat banyak (30-75 %), kandungan karbon sangat sedikit (60-
68&), kandungan abu dan sulfur yang banyak (52.5-62.5). Batubara jenis
ini dijual secara eksklusif sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik
tenaga uap (PLTU). Lignite dijumpai pada kondisi yang masih muda,
berkisar Cretaceous sampai Tersier.
2. Sub-Bituminous
Karakteristiknya berada di antara batubara lignite dan bituminous,
terutama digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU. Sub-bituminous
coal mengandung sedikit carbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang tidak efisien
3. Bituminous
Batubara yang tebal, biasanya berwarna hitam mengkilat,
terkadang cokelat tua. Bituminous coal mengandung 68 - 86% karbon dari
beratnya dengan kandungan abu dan sulfur yang sedikit. Umumnya
dipakai untuk PLTU, tapi dalam jumlah besar juga dipakai untuk pemanas
dan aplikasi sumber tenaga dalam industri dengan membentuknya
menjadi kokas-residu karbon berbentuk padat.
4. Antrasit
Peringkat teratas batubara, biasanya dipakai untuk bahan pemanas
ruangan di rumah dan perkantoran. Batubara antrasit berbentuk padat
(dense), batu-keras dengan warna jet-black berkilauan (luster) metalik
dengan struktur kristal dan konkoidal pecah. Mengandung antara 86% -
98% karbon dari beratnya, 9,3% abu, dan 3,6% bahan volatile. Antarasit
terbakar lambat, dengan batasan nyala api biru (pale blue flame) dengan
sedikit sekali asap. Antrasit terbentuk pada akhir Karbon oleh pergerakan
bumi yang menyebabkan pemanasan dan tekanan tinggi yang merubah
material berkarbon seperti yang terdapat saat ini.
3. Bituminous
Batubara yang tebal, biasanya berwarna hitam mengkilat,
terkadang cokelat tua. Bituminous coal mengandung 68 - 86% karbon dari
beratnya dengan kandungan abu dan sulfur yang sedikit. Umumnya
dipakai untuk PLTU, tapi dalam jumlah besar juga dipakai untuk pemanas
dan aplikasi sumber tenaga dalam industri dengan membentuknya
menjadi kokas-residu karbon berbentuk padat.
4. Antrasit
Peringkat teratas batubara, biasanya dipakai untuk bahan pemanas
ruangan di rumah dan perkantoran. Batubara antrasit berbentuk padat
(dense), batu-keras dengan warna jet-black berkilauan (luster) metalik
dengan struktur kristal dan konkoidal pecah. Mengandung antara 86% -
98% karbon dari beratnya, 9,3% abu, dan 3,6% bahan volatile. Antarasit
terbakar lambat, dengan batasan nyala api biru (pale blue flame) dengan
sedikit sekali asap. Antrasit terbentuk pada akhir Karbon oleh pergerakan
bumi yang menyebabkan pemanasan dan tekanan tinggi yang merubah
material berkarbon seperti yang terdapat saat ini.
3. Bituminous
Batubara yang tebal, biasanya berwarna hitam mengkilat,
terkadang cokelat tua. Bituminous coal mengandung 68 - 86% karbon dari
beratnya dengan kandungan abu dan sulfur yang sedikit. Umumnya
dipakai untuk PLTU, tapi dalam jumlah besar juga dipakai untuk pemanas
dan aplikasi sumber tenaga dalam industri dengan membentuknya
menjadi kokas-residu karbon berbentuk padat.
4. Antrasit
Peringkat teratas batubara, biasanya dipakai untuk bahan pemanas
ruangan di rumah dan perkantoran. Batubara antrasit berbentuk padat
(dense), batu-keras dengan warna jet-black berkilauan (luster) metalik
dengan struktur kristal dan konkoidal pecah. Mengandung antara 86% -
98% karbon dari beratnya, 9,3% abu, dan 3,6% bahan volatile. Antarasit
terbakar lambat, dengan batasan nyala api biru (pale blue flame) dengan
sedikit sekali asap. Antrasit terbentuk pada akhir Karbon oleh pergerakan
bumi yang menyebabkan pemanasan dan tekanan tinggi yang merubah
material berkarbon seperti yang terdapat saat ini.
Batubara menurut waktu pembentukannya di Indonesia terdapat
mulai skala waktu Tersier sampai Recent. Pembagiannya dapat dijelaskan
sebagai berkut:
1. Batubara paleogen, merupakan batubara yang terbentuk pada
cekungan intranmontain, contohnya yang terdapat di Ombilin, Bayah,
Kalimantan Tenggara serta Sulawesi Selatan.
2. Batubara neogen, yakni batubara yang terbentuk pada cekungan
foreland, contohnya terdapat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
3. Batubara delta, yakni endapan batubara yang terdapat di hampir
seluruh Kalimantan Timur
Brown Coal vs Hard Coal menurut SNI 1998
1. Batubara coklat (Brown coal)
Batubara coklat (Brown coal) adalah jenis batubara yang paling
rendah peringkatnya, bersifat lunak, mudah diremas, mengandung kadar
air yang tinggi (10-70%), terdiri atas batubara coklat muda lunak (soft
brown coal) dan batubara lignitik atau batubara cokelat keras (lignitik atau
hard brown coal) yang memperlihatkan struktur kayu. Nilai kalorinya <
5700 kal/gr (dry mineral matter free).
2. Batubara keras (Hard coal)
Batubara keras (Hard coal) adalah semua jenis batubara
yangperingkatnya lebih tinggi dari brown coal, bersifat lebih keras, tidak
mudah diremas, kompak, mengandung kadar air yang relatif rendah,
umumnya struktur kayunya tidak tampak lagi, relative tahan terhadap
kerusakan fisik pada saat penanganan (coalhandling). Nilai kalorinya >
5700 kal/gr (dry mineral matter free).
Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang
mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh
maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat
Batubara menurut waktu pembentukannya di Indonesia terdapat
mulai skala waktu Tersier sampai Recent. Pembagiannya dapat dijelaskan
sebagai berkut:
1. Batubara paleogen, merupakan batubara yang terbentuk pada
cekungan intranmontain, contohnya yang terdapat di Ombilin, Bayah,
Kalimantan Tenggara serta Sulawesi Selatan.
2. Batubara neogen, yakni batubara yang terbentuk pada cekungan
foreland, contohnya terdapat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
3. Batubara delta, yakni endapan batubara yang terdapat di hampir
seluruh Kalimantan Timur
Brown Coal vs Hard Coal menurut SNI 1998
1. Batubara coklat (Brown coal)
Batubara coklat (Brown coal) adalah jenis batubara yang paling
rendah peringkatnya, bersifat lunak, mudah diremas, mengandung kadar
air yang tinggi (10-70%), terdiri atas batubara coklat muda lunak (soft
brown coal) dan batubara lignitik atau batubara cokelat keras (lignitik atau
hard brown coal) yang memperlihatkan struktur kayu. Nilai kalorinya <
5700 kal/gr (dry mineral matter free).
2. Batubara keras (Hard coal)
Batubara keras (Hard coal) adalah semua jenis batubara
yangperingkatnya lebih tinggi dari brown coal, bersifat lebih keras, tidak
mudah diremas, kompak, mengandung kadar air yang relatif rendah,
umumnya struktur kayunya tidak tampak lagi, relative tahan terhadap
kerusakan fisik pada saat penanganan (coalhandling). Nilai kalorinya >
5700 kal/gr (dry mineral matter free).
Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang
mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh
maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat
Batubara menurut waktu pembentukannya di Indonesia terdapat
mulai skala waktu Tersier sampai Recent. Pembagiannya dapat dijelaskan
sebagai berkut:
1. Batubara paleogen, merupakan batubara yang terbentuk pada
cekungan intranmontain, contohnya yang terdapat di Ombilin, Bayah,
Kalimantan Tenggara serta Sulawesi Selatan.
2. Batubara neogen, yakni batubara yang terbentuk pada cekungan
foreland, contohnya terdapat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
3. Batubara delta, yakni endapan batubara yang terdapat di hampir
seluruh Kalimantan Timur
Brown Coal vs Hard Coal menurut SNI 1998
1. Batubara coklat (Brown coal)
Batubara coklat (Brown coal) adalah jenis batubara yang paling
rendah peringkatnya, bersifat lunak, mudah diremas, mengandung kadar
air yang tinggi (10-70%), terdiri atas batubara coklat muda lunak (soft
brown coal) dan batubara lignitik atau batubara cokelat keras (lignitik atau
hard brown coal) yang memperlihatkan struktur kayu. Nilai kalorinya <
5700 kal/gr (dry mineral matter free).
2. Batubara keras (Hard coal)
Batubara keras (Hard coal) adalah semua jenis batubara
yangperingkatnya lebih tinggi dari brown coal, bersifat lebih keras, tidak
mudah diremas, kompak, mengandung kadar air yang relatif rendah,
umumnya struktur kayunya tidak tampak lagi, relative tahan terhadap
kerusakan fisik pada saat penanganan (coalhandling). Nilai kalorinya >
5700 kal/gr (dry mineral matter free).
Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang
mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh
maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat
pembatubaraan. Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara
dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis
proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk
menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon
padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan analisis ultimat
dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara
seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan
juga unsur jarang.
Kualitas batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah
batubara tersebut menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari
besarnya cadangan batubara di daerah penelitian. Untuk menentukan
jenis batubara, digunakan klasifikasi American Society for Testing and
Material (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983). Klasifikasi ini dibuat
berdasarkan jumlah karbon padat dan nilai kalori dalam basis dry, mineral
matter free (dmmf). Untuk mengubah basis air dried (adb) menjadi dry,
mineral matter free (dmmf) maka digunakan Parr Formulas (ASTM, 1981,
op cit Wood et al., 1983).