Anda di halaman 1dari 6

Peranan Desain Tempat Praktek Dokter Gigi dalam Mengurangi Rasa Takut Anak

ABSTRAK
Rasa takut merupakan emosi pertama yang diperoleh bayi setelah lahir dan merupakan suatu
mekanisme protektif untuk melindungi diri. Rasa takut anak saat berada di tempat praktek dokter gigi
dapat menimbulkan sugesti negatif terhadap dokter gigi dan akan mempengaruhi tingkah laku anak
dalam perawatan gigi. Desain tempat praktek dokter gigi dapat memberikan kontribusi dalam
mengurangi rasa lakut anak. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui peranan desain tempat
praktek dokter gigi dalam mengurangi rasa takut anak. Ruang tunggu dan ruang perawatan didesain
dengan penggunaan warna biru, hijau, ungu, pink atau peach, penempatan gambar kartun atau poster,
pencahayaan yang cukup dan AC. Ruang tunggu dapat ditambahkan furniture seperti meja dan kursi
ukuran anak-anak, dan pada ruang perawatan dapat dilempatkan sebuah akuarium. Kondisi ini dapat
mempengaruhi psikologi anak dengan, memberikan rasa nyaman dan hangat sehingga anak menjadi
kooperatif saat menerima perawatan gigi.
Kata Kunci: Rasa lakut anak, desain tempat praktek

PENDAHULUAN
Kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih mengkhawatirkan. Secara global gigi berlubang
atau karies masih merupakan penyakit kronis yang sering dilemui anak terutama pada anak. Hasil survey
WHO melaporkan, bahwa anak Indonesia berusia 12 tahun yang menderita karies mencapai angka 77%.
Pada umumnya perhatian orang tua pada anak lebih diberikan pada saat gigi permanen sudah erupsi,
padahal gigi sulung mempunyai peran penting, salah satunya adalah sebagai panduan erupsi bagi gigi
permanen agar dapat menempati posisi yang tepat pada lengkung rahang. Umur yang ideal untuk
memulai kunjungan ke dokter gigi adalah 2,5-3 tahun.
Kendala yang sering dihadapi oleh para orang tua pada saat anak melakukan kunjungan ke
dokter gigi adalah rasa takut. Rasa takut dapat mempengaruhi tingkah laku anak dan dalam tingkat yang
luas menentukan kesuksesan dari perawatan gigi. Beberapa metode dalam penanganan rasa takut anak
pada perawatan gigi antara lain sedasi, hypnosis, psikoterapi dan anestesi umum. Selain metode
tersebut, desain ruang praktek juga dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi rasa takut.
Menurut Moore dkk, keadaan tempat praktek yang menyenangkan cukup efektif dalam mengurangi
rasa takut anak, hal ini juga dilaporkan dalam penelitian Rice dkk, bahwa tempat praktek yang nyaman
dan dekoratif dapat mengurangi kecemasan pasien.
RASA TAKUT
Rasa takut adalah emosi pertama yang diperoleh bayi setelah lahir serta merupakan suatu
mekanisme protektif untuk melindungi diri dari bahaya dan pengrusakan diri. Menurut Brauer, rasa
takut ini dapat menjadi kekuatan utama yang akan diteruskan untuk mendorong tingkah laku manusia.
Pendapat lain mengatakan bahwa rasa takut bukan merupakan gejala abnormal, karena secara naluriah
seorang anak merasa takut terhadap sesuatu yang dianggap asing, hal ini dapat disebabkan karena
kurangnya pengetahuan, pengertian dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri serta sering
memutarbalikkan dan membesar-besarkan kenyataan, sehingga ia melihat bentuk-bentuk bahaya yang
sebenarnya tidak ada.
MACAM RASATAKUT
1. Rasa takut subyektif
Rasa takut subyektif merupakan rasa takut yang disugestikan oleh orang lain seperti teman atau
orang tua kepada anak, tanpa anak sendiri yang mengalaminya.
2. Rasa takut obyektif
Rasa takut obyektif merupakan hasil yang didapat dari pengalaman sebenarnya. Rasa Takut
obyektif merupakan respon terhadap rangsangan yang dirasakan, di 1 ihat, didengar dan dicium serta
merupakan sifat alami yang tidak menyenangkan.
PERKEMBANGAN RASA TAKUT
Keterkaitan usia anak dengan penyebab rasa takut yang dihadapinya secara umum dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Bayi berusia 0-2 tahun takut terhadap suara gaduh, orang asing, takut dipisahkan dari orang tua, dan
objek yang memiliki ukuran besar. ini Anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) takut terhadap gambaran-
gambaran yang tidak nyata seperti hantu, monster, hal-hal yang bersifat supranatural, gelap, keributan,
tidur sendiri, petir dan banjir.
2. Anak usia sekolah atau remaja (7-16 tahun) lebih banyak mengalami rasa takut yang nyata seperti
injuri fisik, kesehatan, kemampuan di sekolah. kematian, guntur, petir, gempa bumi dan banjir.
PENANGANAN RASA TAKUT ANAK
Beberapa metode dalam penanganan rasa takut anak pada perawatan gigi anlara lain sedasi,
hipnosis, psikoterapi, dan anestesi umum. Desain tempat praktek dokter gigi juga memberikan
kontribusi dalam mengurangi rasa takut anak, bagian ini merupakan hal yang pertama kali dilihat oleh
pasien saat memasuki tempat praktek. Tempat praktek yang kaku, sempit, dan minim dekorasi dapat
mengurangi kenyamanan pasien sehingga menimbulkan kecemasan atau rasa takut. Peralatan khusus
untuk anak-anak dan ruangan yang dihias sedemikian rupa pada beberapa kasus dapat memberikan
keuntungan psikologis.
DESAIN TEMPAT PRAKTEK DOKTER GIGI
Kasus rasa takut anak terhadap dokter disebabkan ketidaknyamanan yang dirasakan saat berada
di tempat praktek. Beberapa tempat praktek dokter bergaya sangat formal seperti meja konsultasi yang
tampak kosong hanya berisi nota resep, dan dinding ruangan berwarna polos tanpa ornamen, kondisi
ruangan ini acapkali memicu ketidaknyamanan pasien anak sehingga menimbulkan rasa takut. Menurut
Rice dkk (2008), tempat praktek yang nyaman dan dekoratif dapat mengurangi kecemasan pasien.
DESAIN DAN DEKORASI INTERIOR
Desain interior merupakan tata ruang dan perancangan ruang di dalam bangunan. Hal yang
mencakup pada desain interior adalah pengorganisasian ruang sesuai dengan fungsinya. Dekorasi
interior merupakan sub bagian dari bidang desain interior yang terkait dengan kegiatan hias menghias.
Dalam merancang suatu ruang praktek, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: warna,
pencahayaan, furniture, aksesoris ruang, sirkulasi udara dalam ruang
DESAIN RUANG TUNGGU
Ruang tunggu merupakan faktor utama untuk menimbulkan rasa cemas. Pasien biasanya
mengatakan bahwa kecemasan atau rasa takut mereka sampai pada puncaknya ketika menunggu di
ruang tunggu. Cara yang efektif untuk menangani masalah tersebut adalah pembuatan ruang tunggu
yang nyaman dan hangat sehingga anak merasa tidak asing ketika memasukinya. Ruang tunggu dengan
dekorasi menarik, penyediaan mainan anak-anak pada area bermain di ruang tunggu dapat menghibur
anak sehingga mengurangi rasa takut.
DESAIN RUANG PERAWATAN
Ruang perawatan dapat keluar bertujuan untuk menghindari anak melihat pasien yang tadinya
menangis. Kursi gigi dapat didesain menarik dengan warna ceria sesuai dengan kondisi psikologis anak
sehingga dapat mengurangi rasa takut. Susunan alat kedokteran gigi seperti bur dan instrumen lain yang
dapat menimbulkan rasa takut sedapat mungkin diletakkan jauh dari pandangan anak agar anak tidak
berpikiran buruk sehingga menimbulkan rasa takut.
PEMBAHASAN
Kesehatan gigi anak Indonesia sudah seharusnya mendapat perhatian di kalangan masyarakat
maupun tenaga medis. Kendala yang masih sering dialami orang tua saat anak melakukan kunjungan ke
dokter gigi adalah rasa takut. Rasa takut merupakan emosi pertama yang diperoleh bayi setelah lahirdan
merupakan suatu mekanisme protektif untuk melindungi seseorang dari bahaya. Beberapa metode yang
digunakan untuk mengatasi rasa takut adalah sedasi, hipnosis, psikoterapi dan anestesi umum. Desain
tempat praktek dokter gigi dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi rasa takut anak.
Dalam merancang ruang praktek beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah warna,
pencahayaan, furniture, asesoris ruang dan sirkulasi udara dalam ruang. Warna hijau dapat memberikan
efek menenangkan, warna biru dapat menurunkan tekanan darah, warna kuning sangat membantu
dalam menghadapi rasa takut, memberi kehangatan dan pemulihan psikologis, warna ungu, pink, peach
dapat membuat pasien menjadi tenang dan nyaman, Pencahayaan dengan lampu meja dekoratif pada
ruang tunggu dapat menciptakan kesan akrab dalam ruangan/furniture seperti kursi dan meja yang
seukuran anak-anak dengan bentuk dan warna menarik dapat merefleksikan dunia anak dan
memberikan efek psikologis yang menyenangkan serta kesan hangat dan familiar. Penempatan aksesoris
ruang seperti lukisan, gambar atau poster menarik dan menyenangkan mempunyai daya pancar yang
akan mempengaruhi psikologis anak sehingga dapat mengurangi rasa takut. Penggunaan Air
Conditioning dapat memberikan kenyamanan dalam ruang.
Ruang tunggu merupakan faktor utama untuk menimbulkan rasa cemas. Cara yang efektif untuk
menangani masalah tesebut adalah pembuatan ruang tunggu yang nyaman dan hangat sehingga anak
merasa tidak asing ketika memasukinya. Ruang tunggu dengan perpustakaan kecil dengan buku untuk
anak-anak berbagai tingkat usia, menyediakan meja dan kursi anak-anak sehingga mereka dapat duduk
membaca, penyediaan mainan anak-anak pada areal bermain di ruang tunggu dapat menghibur anak
sehingga mengurangi rasa takut. Ruang perawatan dapat dibuat lebih menarik bagi anak-anak dengan
menempatkan beberapa gambar pada dinding ruangan seperti tokoh kartun, potret anak-anak yang
sedang bermain bebas dan tertawa. Gambar-gambar ini mempunyai daya pancar tersendiri dan
memberikan efek menyenangkan pada psikologis anak sehingga mengurangi rasa takut. Ruang
perawatan didesain agar memiliki dua pintu yang berbeda, pintu masuk dibedakan dengan pintu keluar
bertujuan untuk menghindari anak melihat pasien yang tadinya menangis. Kursi gigi dapat didesain
menarik dengan warna ceria sesuai dengan kondisi psikologis anak sehingga dapat mengurangi rasa
takut. Susunan alat kedokteran gigi seperti bur dan instrumen lain yang dapat menimbulkan rasa takut
sedapat mungkin diletakkan jauh dari pandangan anak agar anak tidak berpikiran buruk sehingga
menimbulkan rasa takut.
Desain tempat praktek sebenarnya bukan merupakan hal pokok dalam praktek dokter gigi,
namun desain tempat praktek ini dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi rasa takut anak
(Brauer dkk, 1959). Peranan desain tempat praktek dokter gigi dalam mengurangi rasa takut anak
dengan pembuatan ruang tunggu maupun ruang perawatan yang nyaman dan hangat dapat
mempengaruhi psikologi anak sehingga anak merasa tidak asing saat berada di tempat praktek dokter
gigi.
KESIMPULAN
Desain tempat praktek dokter gigi dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi rasa takut
anak. Ruang tunggu dan ruang perawatan yang terdapat pada tempat praktek dokter gigi didesain
dengan penggunaan warna dinding seperti biru, hijau, ungu, pink atau peach yang dapat memberikan
efek menenangkan dan menyenangkan. Penambahan asesoris gambar kartun atau poster yang dapat
memberikan efek yang menyenangkan pada anak. Pencahayaan yang cukup seperti penggunaan lampu
dekoratif dapat memberikan kesan akrab. Kenyamanan dalam ruangan dapat diciptakan dengan
penggunaan AC dengan penyediaan furniture seperti meja dan kursi ukuran anak-anak. Pada ruang
perawatan, penempatan akuarium dapat menjadi sumber hiburan anak. Kondisi ini dapat
mempengaruhi psikologi anak dengan memberikan rasa nyaman dan hangat sehingga anak bersikap
kooperatif saat menerima perawatan gigi.


SARAN
1. Dokter gigi sebaiknya memahami keadaan emosional anak dengan rasa takut, secara perlahan
membangun kembali kepercayaan anak terhadap dokter gigi dan perawatan gigi.
2. Dokter gigi sebaiknya memperhatikan kebutuhan anak akan ruangan sehingga dapat mengatur ruang
prakteknya serta menyediakan fasilitas yang nyaman untuk mengurangi rasa takut pasien anak sehingga
anak dapat bersikap kooperatif dalam menerima perawatan gigi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Wahyuningkintarsih V. Berani Unjuk Gigi. 2009. Available from: http ://www.ferninaonline.com/issue/
issue_detail.asp?id=507&cid=2&iews:=2. Accessed Desember28,2009
2. Pratiwi D. Gigi Sehat Merawat Gigi Sehari-hari. Jakarta: Kompas;2007. h. 10-11.
3. Srigupta AA. Perawatan Gigi & Mulut. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher; 2004. h. 23
4. McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the Children and Adolscent. 8,hed. Indiana: Mosby;
2004. p. 35-37.
5. Moore KA, Moore SJ, Moore JL. Reducing Fear. 2007. Available from:
http://moorepediatricdentistry.com/reducing_fear.htm. Accessed November 22nd, 2009.
6. Rice G Ingram J, Mizan J. Enhancing a primary care environtment: a case study of effects on patients
and staff in a single general pratice. Juli 1, 2008. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2441527/. Accessed Desember 31, 2009.
7. Soeparmin S, Suarjaya, Antara W. Rasa Takut Anak Dalam Perawatan Gigi. J Kedokteran Gigi
Mahasaraswati 2004;2(l):30-34.
8. Brauer JC, Denerit WW, Higley LB, Lindahl RL, Massler M, Schour I. Dentistry for children. New York:
McGraw-Hill Book Company; 1959. p. 9-12.
9. Finn SB. Clinical Pedodontic. 4,h ed. W.B. Saunders Company; 2003. p. 16-20.
10. Astuti M. Mengapa anak takut ke dokter gigi. Januari 4, 2008. [Homepage of swadaya-
122007], Available from: http://kotasantri.com. Accessed Agustus 5, 2009.
11. Ripa LW, Barenie JT. Management of dental behavior in children. England: PSG Publishing Company;
1982. p. 34-35.
12. Pincus D, Otis J. Fears, phobias and anxiety. Mei 29, 2008. [Homepage of The Children Anxiety
Network], [Online]. Available from: http://www.childanxiety.net/FearsPhobiasAnxiety.htm. Accessed
Agustus 5, 2009.
13. Hasuki I. Masih takut ke dokter. 2010. Available from: http://www.tabloid-nakita.com/
aitikel.php3?edisi=07333&rubrik=prasekolah. Accessed Maret 5, 2010.
14. Ambarwati DRS. Antara desain interior dan dekorasi interior. Desember 18,2008. Available from:
http://innagurasi.blogspot.com/200B/99/antara-desain-interior-dan-dekorasi.html.'Accessed Agustus 5,
2009.
15. Pertiwi ASP, Nonong Y, Sasmita IS. Desain ruang praktek bagi pasien anak. Mei, 2009. Available from:
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2005/05/disain ruang perawatan gigi pdf. Accessed Juli
20, 2009.
16. Lenggosari. Paduan warna menarik untuk rumah. Jakarta: Penebar Swadaya; 2008. h. 21-29.
17. Malkin J. Medical and dental space planning. 2002. Available from: http://books.google.co.id
/books?id=DinDxl9yKMsC&pg=PA30&dq=size+of+waiting+room+in+dental+office&client=firefoxa&cd=1
#v=onepage&q=first%20floor%20for%20pediatric&f=false. Accessed Maret 5, 2010.